Daily Archives: April 21, 2011

Overhaul Komponen Sistem Pendingin

BAB. II

PEMELAJARAN

A.     RENCANA BELAJAR PESERTA DIKLAT

 

Rencanakan setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.    Memahami konstruksi dan cara kerja komponen sistem pendingin
2.    Melakukan overhaul komponen sistem pendingin

 


B.     KEGIATAN BELAJAR

 

Kegiatan Belajar 1. Konstruksi dan Cara Kerja Sistem Pendingin

                      

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

 

1.    Peserta diklat dapat menjelaskan fungsi sistem pendingin pada motor.

2.    Peserta diklat dapat menjelaskan kebaikan dan kelemahan sistem pendingin air dibanding sistem pendingin udara.

3.    Peserta diklat dapat menjelaskan cara kerja sistem pendingin air.

4.    Peserta diklat dapat menjelaskan cara kerja katup relief dan katup vacum pada tutup radiator.

5.    Peserta diklat dapat menjelaskan cara kerja thermostat

6.    Peserta diklat dapat menjelaskan cara kerja motor penggerak kipas pendingin.

b.   Uraian Materi

 

1.   Fungsi Sistem Pendingin

Panas yang dihasilkan oleh proses pembakaran di dalam motor dirubah menjadi tenaga gerak. Namun kenyataannya hanya sebagian dari panas tersebut yang dimanfaatkan secara efektif. Panas yang diserap motor harus dengan segera dibuang ke udara luar, sebab jika tidak maka motor akan terlalu panas dan komponen motor  cepat aus. Untuk itu pada motor dilengkapi dengan sistem pendingin yang berfungsi untuk mencegah panas yang berlebihan.

Pada motor bensin kira-kira hanya 23 %  energi panas  dari hasil pembakaran bahan bakar dalam silinder yang dimanfaatkan secara efektif sebagai tenaga. Sisanya terbuang dalam beberapa bentuk seperti diperlihatkan gambar pada halaman berikut.

 

Gambar 1.  Keseimbangan Panas

Pada gambar 17 di atas nampak bahwa dari total energi yang dihasilkan oleh proses pembakaran, hanya 25 % yang dimanfaatkan menjadi kerja efektif. Panas yang hilang bersama gas buang kira-kira 34 %, panas yang terbuang akibat proses pendinginan 32 %, akibat pemompaan 3 %, dan akibat gesekan 6 %.

Secara garis besar fungsi sistem pendingin pada motor adalah sebagai berikut:

a)    Untuk mengurangi panas motor. Panas yang dihasilkan oleh pembakaran campuran udara dan bahan bakar dapat mencapai sekitar 2500° C. Panas yang cukup tinggi ini dapat melelehkan logam atau komponen lain yang digunakan pada motor, sehingga apabila motor tidak dilengkapi dengan sistem pendingin dapat merusakkan komponen motor tersebut.

b)   Untuk mempertahankan agar temperatur motor selalu pada temperatur kerja yang paling efisien pada berbagai kondisi. Umumnya temperatur kerja motor antara 82 sampai 99° C. Pada saat komponen motor mencapai temperatur tersebut, komponen motor akan memuai sehingga celah (clearance) pada masing-masing komponen menjadi tepat.

Disamping itu kerja motor menjadi maksimum dan  emisi gas buang yang ditimbulkan menjadi minimum.

c)    Untuk mempercepat motor mencapai temperatur kerjanya dengan tujuan untuk mencegah terjadinya keausan yang berlebihan, kerja motor yang kurang baik, emisi gas buang yang berlebihan. Hal tersebut dapat terjadi karena pada saat motor bekerja pada temperatur yang dingin maka campuran bahan bakar dengan udara yang masuk ke dalam silinder tidak sesuai dengan campuran yang dapat menghasilkan kerja motor yang maksimum. Temperatur dinding silinder yang dingin mengakibatkan pembakaran menjadi tidak sempurna sehingga gas buang banyak mengandung emisi yang merugikan manusia. Oleh karena itu pada saat motor hidup temperatur kerja harus segera dicapai. Hal tersebut akan terpenuhi apabila pada motor terdapat sistem pendingin yang dilengkapi dengan komponen yang memungkinkan hal tersebut terjadi.

d)   Untuk memanaskan ruangan di dalam ruang penumpang, khusunya di negara-negara yang mengalami musim dingin.

2.   Macam Sistem Pendingin

Sistem pendingin yang biasa digunakan pada motor ada dua macam, yaitu sistem pendingin udara dan sistem pendingin air.

a)   Sistem Pendingin Udara

 

Pada sistem ini panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dan udara di dalam silinder sebagian dirambatkan keluar melalui sirip-sirip pendingin yang dipasang di luar silinder dan ruang bakar tersebut. Panas tersebut selanjutnya diserap oleh udara luar yang temperaturnya jauh lebih rendah dibanding temperatur sirip pendingin.

Untuk daerah mesin yang temperaturnya tinggi yaitu di sekitar ruang bakar diberi sirip pendingin yang lebih panjang dibanding di daerah sekitar silinder.

Udara yang menyerap panas dari sirip-sirip pendingin harus berbentuk aliran atau udaranya harus mengalir agar temperatur di sekitar sirip tetap rendah sehingga penyerapan panas tetap berlangsung secara sempurna. Aliran uadara ini kecepatannya harus sebanding dengan kecepatan putar  mesin agar temperatur ideal mesin dapat tercapai sehingga pendinginan dapat berlangsung dengan sempurna.

Untuk menciptakan aliran udara, ada dua cara yang dapat ditempuh yaitu menggerakkan udara atau siripnya. Apabila sirip pendinginnya yang digerakkan berarti mesinnya harus bergerak seperti mesin yang dipakai pada sepeda motor. Untuk mesin-mesin stasioner dan mesin-mesin yang penempatannya sedemikian rupa sehingga sulit untuk mendapatkan aliran udara, maka diperlukan blower yang fungsinya untuk menghembuskan udara. Penempatan blower yang digerakkan oleh poros engkol memungkinkan aliran udara yang sebanding dengan putaran mesin sehingga proses pendinginan dapat berlangsung sempurna.

b)   Sistem Pendingin Air

 

Pada sistem ini, panas dari hasil proses pembakaran bahan bakar dan udara dalam ruang bakar dan silinder sebagian diserap oleh air pendingin setelah melalui dinding silinder dan ruang bakar. Oleh karena itu di bagian luar dinding silinder dan ruang bakar dibuat mantel-mantel air (water jacket). Panas yang diserap oleh air pendingin pada water jacket selanjutnya akan menyebabkan naiknya temperatur air pendingin tersebut. Apabila air pendingin tersebut tetap berada pada mantel air, maka air akan cenderung mendidih dan menguap. Hal tersebut dapat dihindari dengan jalan mengganti air tersebut dengan air yang masih dingin sedangkan air yang telah panas harus dialirkan keluar dari mantelnya dengan kata lain harus bersirkulasi. Sirkulasi air tersebut ada dua macam yaitu sirkulasi alam atau thermo syphon dan sirkulasi dengan tekanan.

Kebanyakan mobil menggunakan sistem pendingin air dengan sirkulasi tekanan (forced circulation), sedangkan sepeda motor umumnya menggunakan sistem pendingin udara. Untuk selanjutnya pada modul ini akan dibahas sistem pendingin air dengan sirkulasi tekanan.

Konstruksi sistem pendingin air lebih rumit dibanding sistem pendingin udara sehingga biaya produksinya lebih mahal.  Secara rinci keunggulan sistem pendingin air antara lain: 1) Temperatur seluruh mesin lebih seragam sehingga kemungkinan distorsi kecil; 2)  Ukuran kipas relatif lebih kecil sehingga tenaga yang diperlukan kecil; 3) Mantel air dan air dapat meredam getaran; 4) Kemungkinan overheating kecil, walaupun dalam kerja yang  berat; 5) Jarak antar silinder dapat diperdekat sehingga mesin lebih ringkas. Di sisi lain sistem pendingin air mempunyai kerugian yaitu: 1) Bobot mesin lebih  berat (karena adanya air, radiator, dsb.); 2) Waktu pemanasan lebih lama; 3) Pada temperatur rendah diperlukan antifreeze; 4) Kemungkinan terjadinya kebocoran air sehingga mengakibatkan overheating; 5) Memerlukan kontrol yang lebih rutin.

Adapun konstruksi sistem pendingin air dengan sirkulasi tekanan dapat dilihat pada gambar 18. Sistem pendingin air dilengkapi dengan water jacket, pompa air, radiator, thermostat, kipas, dan selang karet. Masing-masing komponen sistem pendingin tersebut akan dibahas pada uraian tersendiri.

Gambar 2. Konstruksi Sistem Pendingin Air

Pada saat mesin masih dingin, air hanya bersirkulasi di sekitar mesin karena thermostat masih menutup. Dalam hal ini thermostat berfungsi untuk membuka dan menutup saluran air dari mesin ke radiator. Air mendapat tekanan dari pompa air, tetapi tekanan tersebut tidak mampu menekan thermostat menjadi terbuka. Untuk mencegah timbulnya tekanan yang berlebihan akibat proses pemompaan, maka pada sistem pendingin dilengkapi dengan saluran by pass, sehingga air yang bertekanan akan kembali melalui saluran by pass tersebut.

Gambar 3.  Sistem Pendingin Air Saat Mesin Dingin

Pada saat mesin panas, thermostat terbuka sehingga air yang telah panas di dalam water jacket (yang telah menyerap panas dari mesin), kemudian disalurkan ke radiator untuk didinginkan dengan kipas pendingin dan aliran udara dengan adanya gerakan maju dari kendaraan. Air pendingin yang sudah dingin kemudian ditekan kembali ke water jacket  oleh pompa air.

Gambar 4.  Sistem Pendingin Air Saat Mesin Panas

c)   Komponen Sistem Pendingin Air

Berbeda dengan sistem pendingin udara, pada sistem pendingin air jumlah komponennya lebih banyak. Pada umumnya komponen sistem pendingin air terdiri atas: radiator, pompa air, thermostat, kipas pendingin. Ada juga sistem pendingin air yang dilengkapi dengan kopling fluida.

1)   Radiator

 

Radiator berfungsi untuk mendinginkan cairan pendingin yang telah panas setelah melalui saluran water jacket. Bagian-bagian radiator antara lain: tangki air bagian atas (upper water tank), tangki air bagian bawah (lower water tank) dan inti radiator (radiator core). Cairan pendingin masuk ke tangki air bagian atas melalui selang atas. Pada tangki air bagian atas dilengkapi dengan lubang pengisian air dan saluran kecil yang menuju ke tangki cadangan. Pada tangki air bagian bawah dilengkapi dengan lubang penguras untuk mengeluarkan air pendingin pada saat mengganti cairan pendingin. Inti radiator terdiri atas pipa-pipa (tube) yang dapat dilalui air dari tangki atas ke tangki bawah. Disamping itu juga dilengkapi dengan sirip-sirip pendingin (fin) yang fungsinya untuk menyerap panas dari air pendingin. Biasanya radiator terletak di depan kendaraan sehingga radiator dapat didinginkan oleh gerakan kendaraan tersebut.

Gambar 5.  Konstruksi Radiator

Ada dua tipe inti radiator yang perbedaannya tergantung bentuk sirip-sirip pendinginnya, yaitu tipe plat (flat fin type) dan tipe lekukan (corrugated fin type) seperti terlihat pada gambar 6.

a.  Tipe plat                             b. Tipe lekukan

Gambar 6. Tipe Radiator

 

Beberapa kendaaraan modern menggunakan radiator versi terbaru yaitu tipe “SR“.

Gambar 7.  Tipe SR

Inti radiator tipe SR (single row) mempunyai susunan pipa tunggal sehingga bentuk radiator menjadi tipis dan ringan dibanding dengan radiator tipe lain.

Pada bagian atas tangki radiator dilengkapi dengan lubang pengisian dan tutup radiator. Dalam hal ini tutup radiator tidak hanya berfungsi untuk mencegah agar air pendingin tidak tumpah, tetapi berfungsi untuk mengatur arus lalu lintas air pendingin dari radiator ke tangki cadangan dan sebaliknya. Dengan demikian jika tutup radiator rusak, maka tidak dapat diganti dengan sembarang tutup. Pada tutup radiator dilengkapi dengan dua buah katup yaitu katup relief dan katup vacum.

 

Apabila volume air pendingin bertambah saat temperaturnya naik, maka tekanannya juga bertambah. Bila tekanan air pendingin mencapai 0,3–1,0 kg/cmpada 110-120° C, maka relief valve terbuka dan membebaskan kelebihan tekanan melalui pipa overflow sehingga sebagian air pendingin masuk ke dalam tangki cadangan.

       Gambar 8. Relief Valve             Gambar 9.  Air Pendingin Saat Panas

Pada saat temperatur air pendingin berkurang setelah mesin berhenti, maka dalam radiator terjadi kevacuman. Akibatnya vacum valve akan terbuka secara otomatis untuk menghisap udara segar mengganti kevacuman dalam radiator.

Kemudian diikuti dengancairan pendingin pada tekanan atmosfer apabila mesin sudah benar-benar dingin.

 

 

 

Gambar 10. Vacum Valve          Gambar 11.  Air Pendingin Saat Dingin


2)   Pompa air

 

Pompa air (water pump) berfungsi memompa air pendingin dari water jacket ke radiator yaitu dengan cara menekan cairan pendingin. Pada umumnya pompa air yang digunakan adalah jenis pompa sentrifugal (centrifugal pump). Pompa air ditempatkan di bagian depan blok silinder dan digerakkan oleh tali kipas atau fan belt.

 

Gambar 12.  Komponen Pompa Air

3)   Thermostat

 

Pada uraian terdahulu telah dijelaskan bahwa apabila air pendingin masih dalam keadaan dingin, maka air hanya bersirkulasi dalam water jacket. Apabila temperatur air pendingin telah panas maka air akan mengalir ke raditor untuk didinginkan. Komponen yang mengatur arus lalu lintas air dari water jacket  ke radiator dan sebaliknya adalah thermostat. Dalam hal ini thermostat berfungsi sebagai katup yang tugasnya membuka dan menutup saluran yang menghubungkan antara water jacket dan radiator.

Letak thermostat ada dua macam yaitu: thermostat yang letaknya di saluran air masuk (water inlet) dan thermostat yang letaknya di saluran air keluar (water outlet).

(1)   Thermostat  yang letaknya di saluran air keluar

Apabila temperatur air masih rendah, maka thermostat menutup aliran air pendingin ke radiator. Air pendingin dipompa oleh pompa air langsung ke blok mesin dan kepala silinder. Selanjutnya melalui sirkuit  by pass  kembali ke pompa air.

Gambar 13. Sistem Pendingin Dengan Thermostat di Saluran Air Keluar

Pada saat temperatur air pendingin telah panas, maka thermostat membuka sehingga cairan pendingin mengalir melalui thermostat ke radiator untuk didinginkan dan selanjutnya air kembali ke pompa air. Disamping itu air juga mengalir melalui sirkuit by pass.

(2)   Thermostat yang letaknya di saluran air masuk

Apabila temperatur air masih rendah, thermostat menutup saluran dan by pass valve membuka. Air pendingin dipompa ke blok silinder melalui kepala silinder, selanjutnya kembali ke pompa air melalui sirkuit by pass.

Gambar 14.   Sistem Pendingin dengan Letak Thermostat pada Saluran Air Masuk

 

 

Pada saat temperatur air pendingin menjadi tinggi, maka thermostat membuka saluran air dan by pass valve menutup. Air yang telah panas mengalir ke radiator untuk didinginkan, selanjutnya melalui thermostat dan kembali ke pompa air.

Thermostat dirancang untuk mempertahankan agar temperatur cairan pendingin dalam batas yang diijinkan. Pada umumnya efisiensi operasi mesin yang tertinggi apabila temperaturnya kira-kira pada 80°–90° C. Kerja thermostat tergantung oleh suhu, apabila suhunya naik maka thermostat membuka dan sebaliknya. Hal tersebut dapat terjadi karena didalam thermostat terdapat wax yang volumenya akan berubah apabila suhunya juga berubah. Perubahan volume akan menyebabkan silinder bergerak turun atau naik, mengakibatkan katup membuka atau menutup.

        

Gambar 15.  Cara Kerja Thermostat

Pada thermostat juga dilengkapi dengan jiggle valve yang digunakan untuk mengalirkan air pada saat menambahkan cairan pendingin ke dalam sistem.

a. Dengan katup bypass

b. Tanpa katup bypass

 

Gambar 16. Macam Thermostat

4)   Kipas pendingin

 

Kipas pada sistem pendingin digunakan untuk membantu proses pendinginan yang sudah dilakukan radiator. Pada proses pendinginan, radiator didinginkan oleh udara luar, tetapi pendinginannya belum cukup bila kendaraan tidak bergerak. Kipas pendingin ditempatkan di bagian belakang radiator. Penggerak kipas pendingin adalah mesin itu sendiri melalui sabuk (belt) atau motor listrik.

(1)   Kipas pendingin yang digerakkan poros engkol

Kipas pendingin jenis ini digerakkan terus menerus oleh poros engkol melalui tali kipas. Kecepatan kipas berubah sesuai dengan kecepatan mesin.

Gambar 17.  Kipas Pendingin yang Digerakkan Poros Engkol

Putaran kipas belum cukup besar apabila mesin masih berputar lambat, tetapi apabila mesin berputar dengan kecepatan tinggi, kipaspun berputar dengan kecepatan tinggi pula. Hal tersebut akan menambah tahanan sehingga kehilangan tenaga dan menimbulkan bunyi pada kipas. Untuk mencegah hal tersebut maka biasanya antara pompa air dan kipas pendingin dipasang sebuah kopling fluida.

(2)   Kipas pendingin yang digerakkan motor listrik

Berputarnya kipas pendingin yang digerakkan oleh motor listrik terjadi pada saat temperatur air pendingin panas. Temperatur air pendingin dikirimkan ke motor listrik melalui sinyal yang terdapat pada kepala silinder. Pada saat temperatur meningkat pada suatu tingkat yang ditetapkan, sinyal tersebut merangsang motor relay untuk menggerakkan motor listrik yang kemudian menggerakkan kipas pendingin. Dengan demikian kipas akan bekerja pada saat yang dibutuhkan, sehingga temperatur mesin dapat dicapai lebih cepat. Disamping itu juga membantu mengurangi suara bising yang ditimbulkan kipas pendingin.

Gambar  18. Kipas Pendingin yang digerakkan Motor Listrik

Berputarnya kipas pendingin apabila temperatur mesin melebihi 93° C. Hal tersebut diatur oleh coolant temperatur switch yang dipasang pada saluran air keluar dari mesin ke radiator dan relay dari motor listrik.

Apabila kunci kontak pada posisi ON, mesin berputar dan temperatur air pendingin di bawah 93° C seperti terlihat pada gambar 35, coolant temperatur switch pada keadaan ini titik kontaknya dalam keadaan tertutup sehingga arus listrik mengalir melalui kunci kontak, relay, titik kontak coolant temperatur switch dan ke massa. Arus listrik yang mengalir pada relay akan menyebabkan titik kontak pada relay terbuka sehingga arus listrik yang ke motor listrik tidak mengalir sehingga kipas tidak berputar.

Gambar 19. Cara Kerja Motor Penggerak Kipas saat Mesin Dingin

Apabila temperatur air pendingin melebihi 93° C, titik kontak pada coolant temperatur switch akan terbuka yang selanjutnya akan menyebabkan relay tidak bekerja dan titik kontaknya saling berhubungan. Pada keadaan ini arus listrik akan mengalir dari baterai ke motor listrik melalui kunci kontak dan titik kontak relay sehingga motor berputar bersama dengan kipas yang selanjutnya mengalirkan udara melalui inti radiator seperti terlihat pada gambar 36.

Gambar 20. Cara Kerja Motor Penggerak Kipas saat Mesin Panas


c.  Rangkuman

 

1.    Fungsi sistem pendingin pada motor adalah sebagai berikut:

a) Untuk mengurangi panas motor, karena panas yang dihasilkan oleh pembakaran campuran udara dan bahan bakar dapat mencapai sekitar 2500° C.

b) Untuk mempertahankan agar temperatur motor selalu pada temperatur kerja yang paling efisien pada berbagai kondisi.

c)  Untuk mempercepat motor mencapai temperatur kerjanya, karena untuk mencegah terjadinya keausan yang berlebihan, kerja motor yang kurang baik, emisi gas buang yang berlebihan.

d)  Untuk memanaskan ruangan di dalam ruang penumpang, khususnya di negara-negara yang mengalami musim dingin.

2.    Sistem pendingin yang digunakan pada motor pada umumnya ada dua macam yaitu:

a)    Sistem Pendingin Udara

Pada sistem ini panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dan udara di dalam silinder sebagian dirambatkan keluar melalui sirip-sirip pendingin yang dipasang di luar silinder dan ruang bakar tersebut. Panas tersebut selanjutnya diserap oleh udara luar yang temperaturnya jauh lebih rendah dibanding temperatur sirip pendingin. Untuk daerah mesin yang temperaturnya tinggi yaitu di sekitar ruang bakar diberi sirip pendingin yang lebih panjang dibanding di daerah sekitar silinder.

Udara yang menyerap panas dari sirip-sirip pendingin harus berbentuk aliran atau udaranya harus mengalir agar temperatur di sekitar sirip tetap rendah sehingga penyerapan panas tetap berlangsung secara sempurna. Untuk menciptakan aliran udara, ada dua cara yang dapat ditempuh yaitu menggerakkan udara atau siripnya.

b)   Sistem Pendingin Air

Pada sistem ini, panas dari hasil proses pembakaran bahan bakar dan udara dalam ruang bakar dan silinder sebagian diserap oleh air pendingin setelah melalui dinding silinder dan ruang bakar. Panas yang diserap oleh air pendingin pada water jacket selanjutnya akan menyebabkan naiknya temperatur air pendingin tersebut. Apabila air pendingin tersebut tetap berada pada mantel air, maka air akan cenderung mendidih dan menguap. Hal tersebut dapat dihindari dengan jalan mengganti air tersebut dengan air yang masih dingin sedangkan air yang telah panas harus dialirkan keluar dari mantelnya dengan kata lain harus bersirkulasi.

Konstruksi sistem pendingin air lebih rumit dibanding sistem pendingin udara sehingga biaya produksinya lebih mahal. Disisi lain sistem pendingin air mempunyai beberapa keunggulan antara lain: 1) Temperatur motor di beberapa tempat lebih merata, 2) Proses pemanasan motor lebih cepat, 3) Media pendingin yang berupa air dapat meredam suara mesin, 4) Media pendingin yang panas dapat digunakan sebagai sumber panas untuk memanaskan ruang penumpang.

3.    Pada sistem pendingin air dilengkapi dengan water jacket, pompa air, radiator, thermostat, kipas, dan selang karet. Apabila temperatur mesin masih dingin, air hanya bersirkulasi di sekitar mesin karena thermostat masih menutup. Dalam hal ini thermostat berfungsi untuk membuka dan menutup saluran air dari mesin ke radiator.

4.    Pada saat mesin panas, thermostat terbuka sehingga air yang telah panas di dalam water jacket (yang telah menyerap panas dari mesin), kemudian disalurkan ke radiator untuk didinginkan dengan kipas pendingin dan aliran udara dengan adanya gerakan maju dari kendaraan. Air pendingin yang sudah dingin kemudian ditekan kembali ke water jacket oleh pompa air.

5.     Pada umumnya komponen sistem pendingin air terdiri atas: radiator, pompa air, thermostat, kipas pendingin. Radiator berfungsi untuk mendinginkan air yang telah panas dari water jacket, sedang pompa air untuk menekan air dari water jacket ke radiator. Dalam hal ini yang mengatur arus lalu lintas air dari water jacket ke radiator adalah thermostat, sedang kipas pendingin berfungsi untuk mempercepat proses pendinginan dengan jalan mensirkulasikan udara yang ada di sekitar radiator agar proses pemindahan panas berlangsung dengan cepat.

6.     Kipas pendingin yang digerakkan dengan motor listrik mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya temperatur kerja mesin yang ideal dapat dicapai dengan cepat, suara mesin lebih halus selama kipas belum berputar, dan tenaga motor lebih besar karena putaran kipas tidak menyerap tenaga dari poros engkol.

d.   Tugas

 

1.    Seorang pengemudi mengeluh bahwa air pendingin yang ada di tangki cadangan tidak mau kembali ke radiator pada saat mesin dingin sehingga setiap saat harus mengisi air pendingin ke radiator. Bagaimana analisa anda terhadap gangguan tersebut dan bagaimana cara mengatasinya. Jelaskan dengan singkat dan jelas alasannya.

2.    Gambarlah sirkuit kelistrikan pada kipas pendingin yang digerakkan dengan motor listrik dan jelaskan pula kemungkinan gangguan yang terjadi jika kipas tidak mau berputar pada saat temperatur mesin telah panas (temperatur mesin telah melebihi  93° C).


e.   Tes Formatif

 

1.    Jelaskan apa fungsi sistem pendingin pada mesin dan bagaimana akibatnya apabila mesin tanpa pendingin?

2.    Jelaskan apa saja keuntungan dan kerugian sistem pendingin air dibanding dengan sistem pendingin udara?

3.    Jelaskan bagaimana cara kerja sistem pendingin air?

4.    Jelaskan dengan gambar bagaimana cara kerja katup relief dan katup vacum pada tutup radiator?

5.    Jelaskan dengan gambar bagaimana cara kerja thermostat ?


f.     Kunci Jawaban Tes  Formatif

 

1.    Fungsi sistem pendingin pada mesin adalah sebagai berikut:

a)    Untuk mengurangi panas motor, karena panas yang dihasilkan oleh pembakaran campuran udara dan bahan bakar dapat mencapai sekitar 2500° C.

b)   Untuk mempertahankan agar temperatur motor selalu pada temperatur kerja yang paling efisien pada berbagai kondisi.

c)    Untuk mempercepat motor mencapai temperatur kerjanya, karena untuk mencegah terjadinya keausan yang berlebihan, kerja motor yang kurang baik, emisi gas buang yang berlebihan.

d)   Untuk memanaskan ruangan di dalam ruang penumpang, khususnya di negara-negara yang mengalami musim dingin.

Apabila mesin tanpa pendingin maka panas yang dihasilkan motor dapat melelehkan logam atau komponen lain yang digunakan pada motor, sehingga  komponen motor tersebut akan rusak bahkan dapat berubah bentuk.

2.    Keuntungan sistem pendingin air dibanding sistem pendingin udara antara lain:

a)    Temperatur seluruh mesin lebih seragam sehingga   kemungkinan  distorsi kecil.

b)   Ukuran kipas relatif lebih kecil sehingga tenaga yang diperlukan kecil

c)    Mantel air dan air dapat meredam getaran

d)   Kemungkinan overheating kecil, walaupun dalam kerja yang  berat

e)    Jarak antar silinder dapat diperdekat sehingga mesin lebih ringkas.

Kerugiannya:

a)  Bobot mesin lebih  berat (air, radiator, dsb.)

b)  Waktu pemanasan lebih lama

c)  Pada temperatur rendah diperlukan antifreeze

d)  Kemungkinan terjadinya kebocoran air — > overheating

e)  Memerlukan kontrol yang lebih rutin

3.    Cara kerja sistem pendingin air adalah sebagai berikut:

a)    Pada saat mesin masih dingin, air hanya bersirkulasi di sekitar mesin karena thermostat masih menutup. Dalam hal ini thermostat berfungsi untuk membuka dan menutup saluran air dari mesin ke radiator. Air mendapat tekanan dari pompa air, tetapi tekanan tersebut tidak mampu menekan thermostat menjadi terbuka. Untuk mencegah timbulnya tekanan yang berlebihan akibat proses pemompaan, maka pada sistem pendingin dilengkapi dengan saluran by pass, sehingga air yang bertekanan akan kembali melalui saluran by pass tersebut.

b)   Pada saat mesin panas, thermostat terbuka sehingga air yang telah panas di dalam water jacket (yang telah menyerap panas dari mesin), kemudian disalurkan ke radiator untuk didinginkan dengan kipas pendingin dan aliran udara dengan adanya gerakan maju dari kendaraan. Air pendingin yang sudah dingin kemudian ditekan kembali ke water jacket  oleh pompa air.

4.    Cara kerja sistem pendingin air adalah sebagai berikut:

a)  Apabila volume air pendingin bertambah saat temperaturnya naik, maka tekanannya juga bertambah. Bila tekanan air pendingin mencapai 0,3–1,0 kg/cmpada 110-120° C, maka relief valve terbuka dan membebaskan kelebihan tekanan melalui pipa overflow sehingga sebagian air pendingin masuk ke dalam tangki cadangan.

        Gambar 21. Relief valve          Gambar 22. Air Pendingin Saat Panas

 

b)   Pada saat temperatur air pendingin berkurang setelah mesin berhenti, maka dalam radiator terjadi kevacuman. Akibatnya vacum valve akan terbuka secara otomatis untuk menghisap udara segar mengganti kevacuman dalam radiator. Kemudian diikuti dengan cairan pendingin pada tekanan atmosfer apabila mesin sudah benar-benar dingin.

      Gambar 23. Vacum Valve          Gambar 24.  Air Pendingin saat Dingin

5.    Cara kerja thermostat adalah sebagai berikut:

Thermostat dirancang untuk mempertahankan agar temperatur cairan pendingin dalam batas yang diijinkan. Pada umumnya efisiensi operasi mesin yang tertinggi apabila temperaturnya kira-kira pada 80°–90° C. Kerja thermostat tergantung oleh suhu, apabila suhunya naik maka thermostat membuka dan sebaliknya. Hal tersebut dapat terjadi karena didalam thermostat terdapat wax yang volumenya akan berubah apabila suhunya juga berubah. Perubahan volume akan menyebabkan silinder bergerak turun atau naik, mengakibatkan katup membuka atau menutup.

 

Gambar 25.  Cara Kerja Thermostat

g.     Lembar Kerja

 

1.    Alat dan Bahan

a)    1 Unit engine stand (live)

b)    Kunci sock, kunci momen

c)    Tool box

d)   Radiator cap tester

e)    Thermometer

f)     Panci air

g)   Kompor pemanas

h)   Lap/majun.

2.    Keselamatan Kerja

a)    Gunakanlah perlatan servis sesuai dengan fungsinya.

b)   Ikutilah instruksi dari instruktur/guru atau pun prosedur kerja yang tertera pada lembar kerja.

c)    Mintalah ijin kepada instruktur anda bila akan melakukan pekerjaan yang tidak tertulis pada lembar kerja.

d)   Bila perlu mintalah buku manual mesin yang dijadikan training object.

3.    Langkah Kerja

a)    Persiapkan alat dan bahan praktik secara cermat, efektif dan seefisien mungkin.

b)   Perhatikan instruksi praktik yang disampaikan oleh guru/ instruktur.

c)    Lakukan pemeriksaan pada komponen sistem pendingin!

d)   Lakukan diskusi tentang cara kerja sistem pendingin!

e)    Buatlah catatan-catatan penting kegiatan praktik secara ringkas.

f)     Setelah selesai, bereskan kembali peralatan dan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula.

4.    Tugas

a)    Buatlah laporan praktik secara ringkas dan jelas!

b)   Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan belajar!


Kegiatan Belajar 2. Overhoul Komponen Sistem Pendingin

 

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

 

1.    Peserta diklat dapat menjelaskan prosedur overhoul/pembongkaran komponen.

2.    Peserta diklat dapat menjelaskan prosedur penganalisaan gangguan.

3.    Peserta diklat dapat menjelaskan prosedur pemasangan kembali komponen.

b.   Uraian Materi

 

1.    Pemeriksaan dan Penggantian Media Pendingin

Pemeriksaan media pendingin meliputi pemeriksaan kapasitas dan kualitas media pendingin. Pemeriksaan kualitas pendingin meliputi pemeriksaan terhadap endapan karat atau kotoran di sekitar tutup radiator atau lubang pengisi radiator. Disamping itu media pendingin juga tidak boleh mengandung minyak pelumas. Adapun pemeriksaan kualitas dan kapasitas media pendingin dapat dilakukan sebagai berikut:

a)    Pemeriksaan kapasitas media pendingin

Kapasitas air pendingin dapat dilihat pada tangki cadangan (reservoir tank). Permukaan media pendingin harus berada diantara garis LOW dan FULL dalam keadaan mesin dingin. Apabila jumlah air pendingin kurang, periksa kebocoran dan tambahkan media pendingin sampai garis FULL.

 

b)     Pemeriksaan dan penggantian kualitas media pendingin

Endapan karat atau kotoran di sekitar tutup radiator atau lubang pengisi radiator harus sedikit. Apabila media pendingin terlalu kotor atau banyak mengandung karat (berwarna kuning) harus dilakukan penggantian dengan cara sebagai berikut:

(1)   Melepas tutup radiator. Pada saat membuka tutup radiator, mesin harus dalam keadaan dingin. Apabila tutup radiator dibuka dalam keadaan panas, cairan dan uap yang bertekanan akan menyembur keluar.

(2)   Mengeluarkan media pendingin melalui lubang penguras dengan cara mengendorkan atau melepas baut penguras.

(3)   Menutup lubang penguras, kemudian isilah dengan media pendingin berupa ethylene glycol base yang baik dan campurlah sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatnya. Pendingin yang dianjurkan ialah yang mengandung ethylene glycol base lebih dari 50 % tetapi tidak lebih dari 70 %). Media pendingin tipe alcohol tidak disarankan dan harus dicampur dengan air sulingan.

(4)   Memasang tutup radiator

(5)   Menghidupkan mesin dan periksa kebocoran

(6)   Memeriksa permukaan media pendingin dan tambahkan jika diperlukan.

2.     Pelepasan, Pemeriksaan dan Penggantian Pompa Air

Pompa air perlu diperiksa apabila air dalam sistem pendingin tidak bersirkulasi, karena fungsi pompa air adalah untuk menekan air pendingin sehingga dapat bersirkulasi didalam sistem. Gejala yang ditimbulkan apabila pompa air tidak bekerja adalah temperatur mesin naik dengan cepat pada saat mesin hidup. Pompa air juga perlu diganti apabila seal perapat telah aus atau sudah tidak mampu menahan tekanan air. Dalam kenyataannya seringkali seal pompa tidak tersedia di pasaran, sehingga apabila terjadi kebocoran air akibat seal pompa, maka harus mengganti unit pompa secara keseluruhan.

Untuk melepas pompa dari sistem pendingin sebaiknya mengikuti prosedur yang benar. Demikian pula pelepasan komonen-komponen pompa. Pelepasan dan pemasangan komponen yang tidak benar akan mengakibatkan kerja pompa tidak optimal. Selanjutnya dalam kegiatan belajar ini akan dibahas berturut-turut prosedur pelepasan, pemeriksaan dan pemasangan pompa air.

a)     Prosedur pelepasan pompa air dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(1)   Mengeluarkan media pendingin mesin

(2)   Melepas tali kipas, kipas, kopling fluida (jika ada) dan puli pompa air dengan prosedur sebagai berikut:

(a)   Merentangkan tali kipas dan mengendurkan mur pengikat tali kipas

(b)   Mengendorkan pivot dan baut penyetel, alternator, kemudian lepas tali kipas.

(c)   Melepas mur pengikat kipas dengan kopling fluida dan puli

(d)   Melepas mur pengikat kipas dari kopling fluida

Gambar  26. Urutan Pembongkaran Pompa Air

 

(3)   Melepas pompa air

b)     Pemeriksaan komponen pompa air:

(1)   Pemeriksaan pompa air dapat dilakukan dengan cara memutar dudukan puli dan mengamati bahwa bearing pompa air tidak kasar atau berisik. Apabila diperlukan, bearing pompa air harus diganti.

Gambar 27.  Bagan Pompa Air

(2)  Pemeriksaan kopling fluida dari kerusakan dan kebocoran minyak silicon.

Gambar 28.  Pemeriksaan Kopling Fluida, dan-

Gambar 29.   Konstruksi Kopling Fluida

c)    Prosedur pelepasan komponen pompa air:

Komponen pompa air terdiri atas: bodi pompa, dudukan puli, bearing, satuan seal, rotor, gasket dan plat (lihat gambar 3). Nama komponen yang diberi tanda  ◊ adalah komponen yang tidak dapat digunakan lagi setelah dilakukan pelepasan komponen.

Gambar 30.  Komponen Pompa Air

Adapun prosedur pelepasan komponen pompa air adalah sebagai berikut:

(1)  Melepas plat pompa dengan cara melepas baut pengikatnya (lihat gambar 4)

Gambar 31.  Cara Melepas Plat

(2)   Melepas dudukan puli dengan menggunakan SST dan pres, tekan poros bearing dan lepas dudukan puli

Gambar 32.     Cara Melepas

                        Dudukan Puli

(3) Melepas bearing pompa dengan cara sebagai berikut:

(a) Memanaskan bodi pompa secara bertahap sampai mencapai suhu 75° – 85°  C

(b)  Menekan poros bearing dan melepas bearing dan rotor dengan menggunakan SST dan mesin press

(4) Melepas rakitan seal dengan menggunakan SST dan mesin press

d)     Prosedur perakitan komponen pompa air:

(1)  Memasang bearing pompa dengan cara sebagai berikut:

(a) Memanaskan bodi pompa secara bertahap sampai mencapai suhu 75° – 85°  C

(b) Menggunakan SST dan mesin press, tekan poros bearing dan lepas bearing dan rotor. Permukaan bearing harus rata dengan bodi pompa.

(2)  Memasang seal pompa dengan cara sebagai berikut:

(a)  Oleskan seal pada seal baru dan bodi pompa

(b)  Menggunakan SST dan mesin press, pasang seal

(3) Memasang dudukan puli menggunakan SST dan mesin

press pada   poros bearing pompa.

(4)  Memasang rotor menggunakan mesin press pada poros bearing pompa. Permukaan rotor harus rata dengan permukaan poros bearing

(5)  Memasang plat pompa, periksa bahwa rotor tidak menyentuh plat pompa.

(6) Memeriksa bahwa pompa air berputar lembut.

3.     Pelepasan, Pemeriksaan dan Pemasangan Thermostat

a)     Prosedur pelepasan thermostat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(1)   Mengeluarkan media pendingin mesin

(2)   Melepas saluran air keluar (selang karet atas)

(3)   Melepas tutup rumah thermostat, kemudian mengeluarkan thermostat dari rumahnya.

Gambar 33.  Melepas Tutup Thermostat

 

b)  Pemeriksaan thermostat, dengan cara sebagai berikut:

(1)  Mencelupkan thermostat ke dalam air dan panaskan air secara bertahap, kemudian periksa temperatur pembukaan katup.

 

Gambar 34.  Memeriksa Kerja Thermostat

Temperatur pembukaan katup: 80° – 90° C. Jika temperatur pembukaan katup tidak sesuai dengan spesifikasi, thermostat perlu diganti.

(2)  Memeriksa tinggi kenaikan katup. Jika kenaikan katup tidak   sesuai dengan spesifikasi, maka termostat perlu diganti. Spesifikasi kenaikan katup pada 95° C: 8 mm atau lebih.

Gambar 35.  Pemeriksaan Tinggi Kenaikan Katup

c)  Prosedur pemasangan thermostat dengan cara sebagai berikut:

(1)  Memasang gasket baru pada thermostat

 

 

 

 

 

Gambar 36. Memasang Gasket Baru

(2)   Meluruskan jiggle valve pada thermostat dengan tanda di sisi kanan dan masukkan ke dalam rumah saluran. Posisi jiggle valve dapat digeser, 10° ke kiri atau ke kanan dari  tanda.

(3)   Memasang saluran air keluar.

 

 

 

 

Gambar 37. Pemasangan thermostat

4.    Pemeriksaan dan Pengujian  Sistem Pendingin

Pemeriksaan dan pengujian dalam sistem pendingin adalah pemeriksaan kebocoran pada sistem pendingin. Untuk memeriksa kebocoran sistem pendingin diperlukan alat yang disebut “Radiator Cap Tester“. Alat tersebut disamping dipakai untuk memeriksa kebocoran pada sistem pendingin juga dapat digunakan untuk menentukan kondisi tutup radiator.

a)  Pemeriksaan tutup radiator dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(1)  Melepas  tutup radiator, kemudian pasang tutup radiator pada radiator cap tester (alat uji tutup radiator). Untuk mencegah terjadinya bahaya panas, tidak diperkenankan membuka tutup radiator dalam keadaan mesin masih panas, karena cairan dan uap bertekanan akan menyembur keluar.

(2)  Memeriksa tutup radiator dengan alat uji tutup radiator.  Lakukan pemompaan dan ukurlah tekanan pembukaan katup vakum.

Gambar 38.  Pemeriksaan Tutup Radiator

Tekanan pembukaan standar:

0,75 – 1,05 kg/cm2   (10,7 – 14,9 psi)

Tekanan pembukaan minimum : 0,6 kg/cm2   (8,5 psi)

Untuk pemeriksaan tutup raditor sebaiknya menggunakan pembacaan maksimum sebagai tekanan pembukaan. Apabila tekanan pembukaan kurang dari minimum, maka tutup radiator perlu diganti.

b)   Pemeriksaan kebocoran sistem pendingin dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(1) Isilah radiator dengan media pendingin, kemudian pasanglah radiator cap tester pada lubang pengisian media pendingin pada radiator seperti pada gambar 39.

Gambar 39.  Pemeriksaan Kebocoran Pada Sistem Pendingin

 

(2)   Pompalah radiator cap tester sampai tekanan 1,2 kg/cm2   (17,1 psi), dan periksa bahwa tekanan tidak turun. Apabila tekanan turun berarti ada kebocoran pada sistem pendingin atau pada komponen sistem pendingin. Oleh karena itu perlu diperiksa kebocoran pada saluran pendingin, radiator, dan pompa air. Apabila tidak ditemukan kebocoran pada komponen tersebut, maka perlu diperiksa blok dan kepala.


c.     Rangkuman

 

1.      Pemeriksaan dan Penggantian Media Pendingin

Pemeriksaan media pendingin dalam hal ini adalah air pendingin mutlak diperlukan, karena apabila kapasitas dan kualitas air pendingin tidak pernah diperhatikan akan mengganggu proses pendinginan.  Kekurangan media pendingin akan menyebabkan mesin overheating, yaitu temperatur mesin berlebihan sehingga dapat mengakibatkan kerusakan pada komponen mesin. Hal tersebut dapat terjadi karena sistem pelumasan akan terganggu akibat kenaikan suhu yang berlebihan. Demikian juga kualitas pendingin sangat berpengaruh terhadap kinerja sistem pendingin. Air pendingin yang tidak pernah diganti akan menimbulkan kerak-kerak pada komponen yang dilalui media pendingin sehingga proses pendinginan tidak optimal.

2.      Pemeriksaan komponen pompa air meliputi pemeriksaan bearing pompa, seal pompa, dan rotor pompa. Bearing pompa yang sudah bersuara berisik mengindikasikan bahwa komponen telah rusak dan perlu segera diganti. Apabila kerusakan bearing tidak segera diperbaiki, dikhawatirkan pompa akan macet (tidak dapat berputar) sehingga proses pendinginan akan terhenti. Akibatnya mesin menjadi overheating yang pada gilirannya komponen mesin menjadi rusak.

Dalam melakukan pelepasan dan perakitan pompa air, harus memperhatikan prosedur atau langkah-langkah yang benar, karena kesalahan pemasangan akan mengakibatkan gangguan proses kerja pompa air. Setelah komponen pompa dilepas ada beberapa komponen yang tidak boleh dipasang lagi, artinya komponen tersebut harus diganti dengan yang baru. Komponen tersebut antara lain: bearing, rotor, satuan seal, dan gasket.

3.      Pemeriksaan thermostat diperlukan manakala air pendingin tidak dapat bersirkulasi. Namun demikian penyebab air tidak dapat bersirkulasi bukan semata-mata disebabkan kerusakan thermostat. Penyebab lain dari gejala tersebut adalah kerusakan pada pompa air, dimana rotor pompa aus atau keropos sehingga pompa air tidak dapat menekan medi pendingin tersebut. Prosedur pemeriksaan thermostat harus dilakukan dengan cermat mengingat cara kerjanya didasarkan atas perubahan suhu. Dengan demikian pada waktu melakukan pengamatan ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu saat membukanya katup dan pada suhu berapa thermostat tersebut membuka.

4.      Pemeriksaan kebocoran sistem pendingin diperlukan alat khusus yang disebut “Radiator cap tester“ (alat uji raditor) yaitu suatu alat yang dapat memberikan tekanan pada sistem pendingin. Alat tersebut diperlukan karena kadang-kadang pada saat mesin berhenti atau dalam keadaan dingin tidak nampak adanya kebocoran, tetapi pada saat mesin hidup sampai pada temperatur tertentu, baru nampak adanya kebocoran. Hal tersebut dapat terjadi karena pada temperatur tinggi tekanan media pendingin naik sehingga mampu menembus bagian tertentu dari sistem pendingin (selang air, radiator, pompa, dsb) yang sudah lama umur pemakaiannya. Dengan demikian pada saat mesin dingin tidak terjadi kebocoran, tetapi setelah mesin panas kebocoran baru nampak. Untuk itu diperlukan alat uji kebocoran dengan jalan memberi tekanan pada sistem pendingin.

d.     Tugas

1.     Terjadinya overheating dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain karena gangguan pada sistem pendingin.  Buatlah ringkasan beberapa penyebab mesin overheating dengan observasi di bengkel umum terhadap kasus-kasus mesin overheating yang masuk ke bengkel tersebut. Jelaskan juga  bagaimana cara mengatasi problem tersebut sehingga mesin dapat kembali normal!

2.     Seorang pemilik mobil mengeluh bahwa mobilnya cepat panas, padahal media pendingin dalam keadaan penuh. Bagaimana cara anda menentukan kerusakan yang terjadi pada sistem pendingin mobil tersebut ? Langkah-langkah apa yang harus anda lakukan mulai dari yang paling sederhana sampai pada kasus yang agak kompleks!

e.     Tes formatif

 

1.     Jelaskan bagaimana prosedur pemeriksaan dan penggantian media pendingin?

2.     Jelaskan mengapa pompa air perlu diperiksa?

3.     Jelaskan bagaimana prosedur pemeriksaan thermostat ?

4.     Jelaskan mengapa pemeriksaan kebocoran sistem pendingin harus dengan alat khusus yaitu radiator cap tester?

5.     Jelaskan bagaimana prosedur pemeriksaan kebocoran pada sistem pendingin?

6.     Jelaskan bagaimana prosedur pemeriksaan tutup radiator?


f.      Kunci jawaban tes formatif

 

1.     Pemeriksaan media pendingin meliputi pemeriksaan kapasitas dan kualitas air pendingin dengan cara sebagai berikut:

a)     Pemeriksaan kapasitas media pendingin

Kapasitas air pendingin dengan melihat jumlah air pada tangki cadangan (reservoir tank). Permukaan media pendingin harus berada diantara garis LOW dan FULL dalam keadaan mesin dingin. Apabila jumlah air pendingin kurang, periksa kebocoran dan tambahkan media pendingin sampai garis FULL.

b)     Pemeriksaan dan penggantian kualitas media pendingin

Pemeriksaan kualitas air pendingin meliputi pemeriksaan terhadap endapan karat atau kotoran di sekitar tutup radiator atau lubang pengisi radiator. Adapun prosedur pemeriksaan kualitas air pendingin dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(1)      Melepas tutup radiator. Pada saat membuka tutup radiator, mesin harus dalam keadaan dingin. Apabila tutup radiator dibuka dalam keadaan panas, cairan dan uap yang bertekanan akan menyembur keluar.

(2)      Mengeluarkan media pendingin melalui lubang penguras dengan cara mengendorkan atau melepas baut penguras.

(3)      Menutup lubang penguras, kemudian isilah dengan media pendingin berupa ethylene glycol base yang baik dan campurlah sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatnya. Pendingin yang dianjurkan ialah yang mengandung ethylene glycol base lebih dari 50 % tetapi tidak lebih dari 70 %). Media pendingin tipe alcohol tidak disarankan dan harus dicampur dengan air sulingan.

(4)      Memasang tutup radiator

(5)      Menghidupkan mesin dan periksa kebocoran

(6)      Memeriksa permukaan media pendingin dan tambahkan jika diperlukan.

2.    Pemeriksaan pompa air diperlukan apabila air dalam sistem pendingin tidak bersirkulasi, karena fungsi pompa air adalah untuk menekan air pendingin sehingga dapat bersirkulasi didalam sistem. Gejala yang ditimbulkan apabila pompa air tidak bekerja adalah temperatur mesin naik dengan cepat pada saat mesin hidup. Pompa air juga perlu diperiksa apabila terdengar suara berisik di sekitar popmpa. Hal tersebut dapat terjadi apabila bantalan pompa telah rusak. Adakalanya pompa air juga perlu diganti apabila seal perapat telah aus atau sudah tidak mampu menahan tekanan air. Dalam kenyataannya seringkali seal perapat pompa tidak tersedia di pasaran, sehingga apabila terjadi kebocoran air akibat seal pompa, maka harus mengganti unit pompa secara keseluruhan.

3.     Prosedur pemeriksaan thermostat adalah sebagai berikut:

a)     Mencelupkan thermostat ke dalam air dan panaskan air secara bertahap, kemudian periksa temperatur pembukaan katup.

Gambar 40.  Memeriksa Kerja Thermostat

Temperatur pembukaan katup: 80°-90° C. Jika temperatur pembukaan katup tidak sesuai dengan spesifikasi, thermostat perlu diganti.

b)     Memeriksa tinggi kenaikan katup. Jika kenaikan katup tidak   sesuai dengan spesifikasi, maka termostat perlu diganti. Spesifikasi kenaikan katup pada 95° C : 8 mm atau lebih.

Gambar 41Pemeriksaan Tinggi Kenaikan Katup

4.      Pemeriksaan kebocoran sistem pendingin diperlukan alat khusus yang disebut “Radiator cap tester“ (alat uji raditor) yaitu suatu alat yang dapat memberikan tekanan pada sistem pendingin. Alat tersebut diperlukan karena kadang-kadang pada saat mesin berhenti atau dalam keadaan dingin tidak nampak adanya kebocoran, tetapi pada saat mesin hidup sampai pada temperatur tertentu, baru nampak adanya kebocoran. Hal tersebut dapat terjadi karena pada temperatur tinggi tekanan media pendingin naik sehingga mampu menembus bagian tertentu dari sistem pendingin (selang air, radiator, pompa, dsb) yang sudah lama umur pemakaiannya. Dengan demikian pada saat mesin dingin tidak terjadi kebocoran, tetapi setelah mesin panas kebocoran baru nampak. Untuk itu diperlukan alat uji kebocoran dengan jalan memberi tekanan pada sistem pendingin.

5.      Prosedur pemeriksaan kebocoran pada sistem pendingin adalah:

a)     Isilah radiator dengan media pendingin, kemudian pasanglah radiator cap tester pada lubang pengisian media pendingin pada radiator seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 42.  Pemeriksaan Kebocoran pada Sistem Pendingin

b)     Pompalah radiator cap tester sampai tekanan 1,2 kg/cm2   (17,1 psi), dan periksa bahwa tekanan tidak turun. Apabila tekanan turun berarti ada kebocoran pada sistem pendingin atau pada komponen sistem pendingin. Oleh karena itu perlu diperiksa kebocoran pada saluran pendingin, radiator, dan pompa air. Apabila tidak ditemukan kebocoran pada komponen tersebut, maka perlu diperiksa blok dan kepala silinder.

6.      Prosedur pemeriksaan tutup radiator adalah sebagai berikut:

Melakukan pemompaan pada radiator cap tester dan mengukur tekanan pembukaan katup vakum.

Gambar 43.  Pemeriksaan Tutup Radiator

Tekanan pembukaan standar: 0,75 – 1,05 kg/cm2   (10,7–14,9 psi)

Tekanan pembukaan minimum: 0,6 kg/cm2   (8,5 psi)

Untuk pemeriksaan tutup raditor sebaiknya menggunakan pembacaan maksimum sebagai tekanan pembukaan. Apabila tekanan pembukaan kurang dari minimum, maka tutup radiator perlu diganti.

 

g.     Lembar Kerja

 

1.    Alat dan Bahan

a)    1 Unit engine stand (live)

b)   Peralatan tangan, kunci pas/ring atau tang

c)    Radiator cap tester

d)   Lap/majun.

2.    Keselamatan Kerja

a)    Gunakanlah perlatan tangan sesuai dengan fungsinya.

b)   Ikutilah instruksi dari instruktur/guru atau pun prosedur kerja yang tertera pada lembar kerja.

c)    Mintalah ijin dari instruktur anda bila hendak melakukan pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja.

d)   Bila perlu mintalah buku manual motor bensin yang menjadi training object.

3.    Langkah Kerja

a)    Persiapkan alat dan bahan praktikum secara cermat, efektif dan seefisien mungkin.

b)   Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh guru/instruktur.

c)    Lakukan pelepasan, pemeriksaan dan penggantian sistem pendingi.

d)   Buatlah catatan-catatan penting kegiatan praktikum secara ringkas.

e)    Setelah selesai, bereskan kembali peralatan dan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula.

4.    Tugas

 

a)    Buatlah laporan praktikum secara ringkas dan jelas!

b)   Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan belajar!


BAB. III

EVALUASI

A.   PERTANYAAN

1.     Jelaskan apa fungsi sistem pendingin pada kendaraan bermotor?

2.     Jelaskan kebaikan dan kerugian sistem pendingin air dibanding sistem pendingin udara?

3.     Jelaskan dengan gambar cara kerja katup relief dan katup vacum pada tutup radiator?

4.     Bagaimana prosedur pemeriksaan kebocoran pada sistem pendingin?

5.     Bagaimana prosedur pemeriksaan thermostat?

6.     Apa penyebab kipas pendingin yang digerakkan dengan motor tidak mau berputar meskipun mesin telah panas. Bagaimana analisa anda terhadap gangguan tersebut?

B.   KUNCI JAWABAN

 

1.     Fungsi sistem pendingin pada kendaraan bermotor adalah:

a)    Untuk mengurangi panas motor, karena panas yang dihasilkan oleh pembakaran campuran udara dan bahan bakar dapat mencapai sekitar 2500° C. Panas yang cukup tinggi ini dapat melelehkan logam atau komponen lain yang digunakan pada motor, sehingga apabila motor tidak dilengkapi dengan sistem pendingin dapat merusakkan komponen motor tersebut.

b)   Untuk mempertahankan agar temperatur motor selalu pada temperatur kerja yang paling efisien pada berbagai kondisi. Umumnya temperatur kerja motor antara 82 sampai 99° C. Pada saat komponen motor mencapai temperatur tersebut, komponen motor akan memuai sehingga celah (clearance) pada masing-masing komponen menjadi tepat. Disamping itu kerja motor menjadi maksimum dan  emisi gas buang yang ditimbulkan menjadi minimum.

c)    Untuk mempercepat motor mencapai temperatur kerjanya dengan tujuan untuk mencegah terjadinya keausan yang berlebihan, kerja motor yang kurang baik, emisi gas buang yang berlebihan. Hal tersebut dapat terjadi karena pada saat motor bekerja pada temperatur yang dingin maka campuran bahan bakar dengan udara yang masuk ke dalam silinder tidak sesuai dengan campuran yang dapat menghasilkan kerja motor yang maksimum. Temperatur dinding silinder yang dingin mengakibatkan pembakaran menjadi tidak sempurna sehingga gas buang banyak mengandung emisi yang merugikan manusia.

d)   Untuk memanaskan ruangan di dalam ruang penumpang, khususnya di negara-negara yang mengalami musim dingin.

2.     Kebaikan sistem pendingin air antara lain: 1) Temperatur seluruh mesin lebih seragam sehingga kemungkinan distorsi kecil; 2)  Ukuran kipas relatif lebih kecil sehingga tenaga yang diperlukan kecil; 3) Mantel air dan air dapat meredam getaran ; 4) Kemungkinan overheating kecil, walaupun dalam kerja yang  berat; 5) Jarak antar silinder dapat diperdekat sehingga mesin lebih ringkas. Kerugian sistem pendingin air antara lain: 1) Bobot mesin lebih  berat (karena adanya air, radiator, dsb.); 2) Waktu pemanasan lebih lama; 3) Pada temperatur rendah diperlukan antifreeze; 4) Kemungkinan terjadinya kebocoran air sehingga mengakibatkan overheating; 5) Memerlukan kontrol yang lebih rutin.

3.     Apabila volume air pendingin bertambah saat temperaturnya naik, maka tekanannya juga bertambah. Bila tekanan air pendingin mencapai 0,3–1,0 kg/cmpada 110-120° C, maka relief valve terbuka dan membebaskan kelebihan tekanan melalui pipa overflow sehingga sebagian air pendingin masuk ke dalam tangki cadangan.

 

Pada saat temperatur air pendingin berkurang setelah mesin berhenti, maka dalam radiator terjadi kevacuman. Akibatnya vacum valve akan terbuka secara otomatis untuk menghisap udara segar mengganti kevacuman dalam radiator. Kemudian diikuti dengan cairan pendingin pada tekanan atmosfer apabila mesin sudah benar-benar dingin.

4.     Prosedur pemeriksaan sistem pendingin adalah sebagai berikut:

a)    Isilah radiator dengan air  pendingin, kemudian  pasanglah radiator cap tester pada lubang pengisian media pendingin pada radiator seperti pada gambar di bawah.

b)   Pompalah radiator cap tester sampai tekanan 1,2 kg/cm2   (17,1 psi), dan periksa bahwa tekanan tidak turun. Apabila tekanan turun berarti ada kebocoran pada sistem pendingin atau pada komponen sistem pendingin. Oleh karena itu perlu diperiksa kebocoran pada saluran pendingin, radiator, dan pompa air. Apabila tidak ditemukan kebocoran pada komponen tersebut, maka perlu diperiksa blok dan kepala.

5.     Prosedur pemeriksaan thermostat adalah sebagai berikut:

a)    Mencelupkan thermostat ke dalam air dan panaskan air secara bertahap, kemudian periksa temperatur pembukaan katup.

Temperatur pembukaan katup: 80° – 90° C. Jika temperatur pembukaan katup tidak sesuai dengan spesifikasi, thermostat perlu diganti.

b)   Memeriksa tinggi kenaikan katup. Jika kenaikan katup tidak   sesuai dengan spesifikasi, maka termostat perlu diganti. Spesifikasi kenaikan katup pada 95° C: 8 mm atau lebih.

6.     Penyebab kipas pendingin yang digerakkan dengan motor tidak mau berputar meskipun mesin telah panas adalah:

a)    Coolant temperatur switch rusak/tidak bekerja

b)   Relay kipas rusak atau tidak bekerja

c)    Motor penggerak kipas rusak atau tidak bekerja

d)   Jaringan kabel penghubung putus atau hubung singkat.


C.      KRITERIA KELULUSAN

Kriteria Skor

(1-10)

Bobot Nilai:

Skor x Bobot

Keterangan

Kognitif (soal no 1 s.d 4)

5 Syarat lulus nilai minimal 70

Ketepatan prosedur pemeriksaan

1

Hasil pemeriksaan

2

Ketepatan waktu

1

Keselamatan kerja

1
Nilai Akhir

Keterangan:

Tidak              =       0 (nol)                   (tidak lulus)

Ya                  =       70 s.d. 100   (lulus)

70 s.d. 79       :        memenuhi kriteria minimal dengan bimbingan

80 s.d. 89       :        memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan

90 s.d. 100     :        di atas minimal tanpa bimbingan.

BAB. IV

PENUTUP

Peserta diklat yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke modul berikutnya. Sebaliknya, apabila peserta diklat dinyatakan tidak lulus, maka peserta diklat tersebut harus mengulang modul ini dan tidak diperkenankan untuk mengambil modul selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Anonim. (t.th.).  Materi Pelajaran Engine Group Step 1., Jakarta: PT Toyota  Astra Motor.

Anonim. (1995).  Materi Pelajaran Engine Group Step 2., Jakarta: PT Toyota–Astra Motor.

Anonim.  (1995).  New Step 1 Training Manual. Jakarta: PT Toyota–Astra Motor.

Anonim.  (1993).  Pedoman Reparasi Mesin 1E, 2E.  Jakarta: PT Toyota  Astra Motor.

Anonim.  (1995).  Pedoman Reparasi Mesin 7 K. Jakarta: PT Toyota–Astra Motor.

Crouse, William H, dan Anglin, Donald L (1986). Automotive Engines. New   York: Mc Graw Hill.

Toboldt, William K, dan Johnson, Larry. (1977). Automotive Encyclopedia. South Holland: The Goodheart Willcox.

Wardan Suyanto. (1986). Teori Motor Bensin. Jakarta: Depdikbud: Dirjen Dikti, Proyek Pengembangan LPTK.

 

PemeliharaanServis Engine dan Komponen-komponennya

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Deskripsi

Modul Pemeliharaan/servis Engine dan komponen-komponennya dengan kode OPKR. 20-001-1 B membahas tentang prinsip kerja motor,identifikasi jenis-jenis motor dan komponennya.

Materi kompetensi yang terdapat pada modul ini merupakan sub kompetensi dari kompetensi pemeliharaan/servis engine secara keseluruhan. Apabila siswa menguasai sub kompetensi ini, akan mudah mempelajari sub kompetensi berikutnya yaitu OPKR. 20-001-2 B tentang perawatan/servis engine dan komponen-komponennya secara berkala, yang di industri perotomotifan dikenal dengan sebutan Tune-up engine.

Setelah melaksanakan modul ini diharapkan siswa dapat memahami  prinsip kerja motor, jenis-jenis motor dan komponennya serta dapat mengidentifikasi jenis-jenis motor dan komponen-komponennya.

Kompetensi yang terdapat dalam modul ini akan membekali siswa pengetahuan dan ketrampilan serta sikap yang benar yang terkait dengan setiap pekerjaan overhaul dan perawatan motor, sehingga siswa memiliki kemampuan yang dapat diterapkan di dunia industri perotomotifan.

Modul ini dibagi menjadi 2 kegiatan belajar yaitu: kegiatan belajar 1  prinsip kerja engine dan jenis-jenis engine beserta komponen-komponennya, kegiatan belajar 2 melakukan identifikasi jenis-jenis engine dan komponennya.

B.   Prasyarat

Sebelum memulai modul ini, anda harus sudah menyelesaikan modul OPKR.10-016 B tentang K3,  OPKR. 10-017 B tentang penggunaan peralatan dan perlengkapan tempat kerja, OPKR. 10-018 tentang kontribusi, komunikasi di tempat kerja serta modul lainnya yang harus dipelajari lebih awal sesuai dengan peta kedudukan modul.

C.   Petunjuk Penggunaan Modul

1.    Petunjuk Bagi Siswa

Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal dalam  mempelajari materi modul ini, langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:

a.    Bacalah dan pahamilah dengan seksama uraian-uraian materi  yang ada pada kegiatan belajar.

b.    Bila ada  materi yang kurang jelas, siswa  dapat bertanya pada guru yang mengampu kegiatan belajar tersebut.

c.     Kerjakanlah setiap tugas formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.

d.    Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik perhatikanlah hal-hal berikut ini:

1)    Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang diberikan.

2)    Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik.

3)    Sebelum   melaksanakan   praktik,   siapkan   alat  dan   bahan yang diperlukan secara cermat (lihat lembar kerja).

4)    Gunakan alat sesuai prosedur yang   pemakaian  yang   benar Untuk melakukan kegiatan belajar praktik yang belum jelas, harus meminta ijin guru lebih dahulu.

5)    Setelah selesai praktik, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

e.    Siswa dinyatakan menguasai materi, bila  sudah dapat menjawab  seluruh soal dengan benar tanpa melihat buku atau kunci jawaban,     serta dapat menyelesaikan praktik sesuai standar minimal yang ditentukan. Bila belum berhasil siswa wajib mengulangi.

f.     Bila siswa sudah dinyatakan berhasil, siswa bersama guru dapat membuat rencana uji kompetensi dengan menghadirkan lembaga sertifikasi profesi setempat yang telah diakui keberadaannya, untuk mendapatkan pengakuan kompetensi dengan sertifikat.

g.    Konsultasikan dengan guru   pada saat merencanakan proses belajar, saat menemui   kesulitan dalam   menjawab   soal-soal   maupun   pada waktu melaksanakan praktik,ataupun bila memerlukan sumber belajar yang lain dapat mengkomunikasikan dengan guru bila        membutuhkan pendamping dari industri pada saat belajar,  juga  saat akan mengerjakan modul berikutnya.

2.    Petunjuk Bagi Guru

Dalam setiap kegiatan belajar guru berperan untuk:

a.    Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar.

b.    Membimbing siswa melalui  tugas-tugas  pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.

c.     Membantu siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan siswa mengenai proses belajarnya.

d.    Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.

e.    Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.

f.     Membantu siswa mencarikan pendamping dari industri bila diperlukan.

g.    Mencatat hasil kemajuan siswa.

h.    Melaksanakan penilaian internal

i.      Menjelaskan pada siswa apabila ada yang perlu dibenahi dan merundingkan pada siswa rencana pemelajaran berikutnya.

D.   Tujuan Akhir

Setelah mempelajari secara keseluruhan materi  kegiatan  belajar dalam modul ini siswa diharapkan:

1.    Memahami  prinsip kerja, jenis-jenis engine/motor dan komponennya.

2.    Dapat melakukan identifikasi, jenis-jenis engine/motor dan komponen-komponennya.


E.    KOMPETENSI

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETRAMPILAN

1.Memelihara/servis engine dan komponen-komponennya *Pemeliharaan/servis engine

dan komponen-komponennya

dilakukan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya

*Informasi yang benar diakses dari spesifikasi pabrik dan dipahami

*Data yang tepat dilengkapi sesuai hasil pemeliharaan/servis

*Seluruh kegiatan dilaksanakan berdasarkan SOP dan K3

*Prinsip kerja engine

*Komponen-komponen engine

*Data spesifikasi pabrik

*Menerapkan

SOP dalam mengidentifikasi komponen-komponen engine

*Menerapkan  K3

*Melaksanakan kegiatan yang kompleks dan tidak rutin,menjadi mandiri dan bertanggung jawab untuk pekerjaan yang lainnya.

*Prinsip kerja engine

*Jenis-jenis engine dan komponen-komponennya

*Persyaratan keamanan peralatan/ komponen dan keselamatan diri

*Melaksa

nakan identifikasi jenis-jenis engine dan komponennya

 

 

 

 

 


F.    Kemampuan

Sebelum siswa mempelajari modul ini,siswa dapat mencoba mengerjakan soal-soal yang ada pada lembar soal formatif tanpa melihat uraian materi atau kunci jawaban. Bila siswa sudah merasa bisa, guru pembimbing supaya melakukan pengetesan. Dan apabila siswa benar sudah menguasai materi sesuai standar minimal yang ditentukan, guru pembimbing menyediakan modul pemelajaran berikutnya untuk dipelajari siswa. Tetapi bila belum bisa, supaya siswa melanjutkan mempelajari modul ini.

BAB II

PEMELAJARAN

A.   Rencana Belajar Siswa

Rencanakanlah setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi table di bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.  Prinsip    kerja engine 2

langkah dan 4 langkah,

jenis-jenis engine dan

komponennya.

2.  Identifikasi jenis-jenis

engine dan

komponennya

B.   Kegiatan Belajar

Kegiatan Belajar 1: Prinsip Kerja Engine, jenis-jenis engine dan komponennya.

a.    Tujuan Kegiatan Belajar

Siswa dapat menjelaskan prinsip kerja engine 2 langkah dan 4 langkah. Jenis-jenis engine dan komponennya.

b.    Uraian Materi

1.    Prinsip Kerja Engine

Motor/engine /mesin adalah suatu  alat yang  merubah tenaga panas, listrik, air dan  sebagainya menjadi tenaga  mekanik.   Sedang  motor  yang merubah tenaga panas menjadi tenaga  mekanik  disebut motor bakar.  Motor  bakar   dibagi   menjadi   motor   pembakaran    dalam (internal combustion chamber) dan motor pembakaran luar (eksternal   combustion   chamber).  Sedang  motor  bensin dan disel termasuk motor pembakaran dalam  karena  tenaga panas  dihasilkan di dalam motor itu sendiri. Bila  ditinjau  dari  langkah  (Stroke)   pada   proses  pembakarannya, motor yang berkembang saat ini ada motor 2 langkah dan motor 4 langkah. Dan yang dimaksud langkah (Stroke)  adalah seperti berikut ini :

 Gambar 1. Langkah/stroke motor

TDC = Top Death Center atau Titik Mati Atas (TMA)

BDC = Bottom Death Centre atau Titik Mati Bawah (TMB)

Titik  mati  atas  adalah batasan  maksimal  gerakan  piston  ke atas, sedang titik mati bawah adalah batasan maksimal gerakan piston ke bawah.

a)   Prinsip Kerja motor bensin 2 langkah

Langkah kompresi,buang dan penghisapan:

Pada langkah ini piston 6 bergerak dari TMB ke TMA, di atas piston terjadi tekanan sehingga ketika piston belum menutup saluran buang 2, gas sisa pembakaran akan mengalir ke saluran  buang dan ketika piston menutup saluran buang, di dalam ruang bakar 5  terjadi kompresi. di bawah piston terjadi penghisapan, campuran bahan bakar dan udara masuk ke ruang engkol  9, melalui saluran  pemasukan 1 .

Langkah usaha, pemasukan  dan  buang:

Beberapa derajat sebelum piston mencapai TMA busi 4 meloncatkan api sehingga terjadi pembakaran, tenaga pembakaran akan mendorong piston ke bawah  dan  melalui connecting  rod 7  tenaga  tersebut dikirim menjadi tenaga mekanik pada crank shaft 8. Di  bawah  piston terjadi tekanan.  Pada  saat  saluran  buang  terbuka  dan saluran pemasukan tertutup,  pemasukan  campuran  baru ke ruang bakar sekaligus mendorong gas bekas keluar melalui saluran buang. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut:

Gambar 2. Prinsip kerja motor bensin 2 langkah

b)   Prinsip kerja motor bensin 4 langkah

Langkah hisap:

Piston bergerak dari TMA ke TMB, katup masuk membuka, campuran  bahan  bakar  dan  udara  masuk  ke  ruang bakar, katup buang menutup.

Langkah kompresi:

Piston  bergerak  dari  TMB  ke TMA,  katup   masuk  dan  katup  buang  tertutup,  campuran  bahan  bakar dan udara dikompresikan dengan tekanan antara 9 Kg/cm2-12 Kg/cm2.

 

 

Langkah usaha:

Beberapa derajad sebelum TMA busi meloncatkan api akan terjadilah pembakaran. Tenaga pembakaran kan  mendorong piston dari TMA ke TMB, tenaga tersebut  akan dikirim  oleh connecting rod menjadi tenaga putar pada crank shaft.dan   pada  saat ini kedua  katup  dalam keadaan tertutup.

Langkah buang:

Piston bergerak dari TMB ke TMA, katup masuk menutup dan katup buang membuka, gas sisa pembakaran akan terdorong keluar melalui saluran buang. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut:

Gambar 3. Prinsip kerja motor bensin 4 langkah

c)    Prinsip kerja motor disel 2 langkah

Langkah   usaha   dan    pemasukan:

Pada saat tejadi pembakaran di ruang bakar,tenaga panas akan   mendorong piston dari TMA ke TMB, tenaga tersebut oleh  connecting rod dikirim ke crank  shaft menjadi tenaga putar. Pada saat ini saluran buang  tertutup  (A).  Pada  saat  piston  melewati  lubang-lubang pemasukan pada didnding silinder, maka terjadilah pemasukan udara murni ke dalam silinder, saluran buang terbuka (B).

Langkah  buang dan  kompresi:

Piston  bergerak dari TMB ke TMA. Karena  saluran  buang   terbuka, maka udara murni akan mendorong gas bekas  keluar  dari  silinder  menuju saluran buang selama saluran buang membuka  (B). Pada saat saluran buang mulai menutup terjadilah  pengkompresian  udara  murni  di atas piston dengan tekanan   antara 16 Kg/cm–  22 Kg/cm2, dan beberapa derajad sebelum  piston  mencapai TMA, bahan bakar disemprotkan ke dalam  silinder  sehingga  terjadilah pembakaran (C). Untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut :

Gambar 4. Prinsip kerja motor disel 2 langkah

 

d)   Prinsip kerja motor disel 4 langkah

Langkah hisap:

Piston bergerak dari TMA ke TMB, katup masuk membuka dan  katup buang menutup, udara murni masuk ke ruang bakar (A).

Langkah kompresi:

Piston  bergerak  dari TMB ke TMA, katup masuk dan buang   menutup, udara  murni di ruang bakar terkompresikan (B).

 

 

Langkah usaha:

Beberapa  derajad sebelum TMA, bahan bakar disemprotkan   ke   ruang bakar, sehingga  terjadi pembakaran.Tenaga  pembakaran  akan  mendorong  piston dari TMA ke TMB, dan  melalui  connecting  rod  tenaga  tersebut   dirubah  menjadi tenaga putar pada crank shaft (C).

Langkah  buang:

Piston bergerak dari TMB  ke TMA, katup masuk tertutup dan katup buang membuka. Pada saat ini gas sisa pembakaran akan   terdorong keluar dari silinder ke saluran pembuangan (D)

Gambar 5. Prinsip kerja motor disel 4 langkah

 

e)   Perbedaan antara motor bensin dan disel

Dari  prinsip  kerja  engine dapat dilihihat perbedaan antara engine bensin  dengan disel.  Secara  garis  besar  komponen – komponen engine  bensin  dan  disel hampir sama, yang membedakan antara keduanya adalah seperti pada tabel berikut berikut:

Item

Motor Diesel

Motor Bensin

Siklus Pembakaran Siklus Sabathe Siklus Otto
Tekanan kompresi 16-22 Kg/cm2 9-12 Kg/cm2
Ruang bakar Rumit Sederhana
Percampuran bahan bakar Diinjeksikan pada akhir langkah Dicampur dalam karburator
Metode penyalaan Terbakar sendiri Percikan busi
Bahan bakar Solar Bensin
Getaran suara Besar Kecil
Efisiensi panas (%) 30-40 22-30

2.    Jenis-jenis engine

a)   Engine ditinjau dari jumlah silindernya

Bila  ditinjau  dari  jumlah  silindernya  ada  engine  dengan  silinder satu, dua, tiga, empat, enam, delapan dan seterusnya.

Gambar 6. Engine silinder 1

 

 

Gambar 7. Engine bersilinder 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8. Engine bersilinder 4

Gambar 9. Engine bersilinder 6

 

b)   Engine ditinjau dari susunan silindernya

Bila ditinjau dari susunan silindernya engine terbagi menjadi beberapa Tipe yaitu: tipe in-line, tipe V dan tipe horizontal berlawanan.

Gambar 10. Engine tipe In-line

Gambar 10. Engine tipe V

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 11. Engine tipe Horizontal berlawanan

c)    Engine ditinjau dari penempatan mekanisme katupnya

Bila ditinjau dari mekanisme katupnya engine  dibagi  menjadi: tipe Over Head Valve (OHV), tipe Over Head  Cam shaft  (OHC) dan tipe

Double Over Head Cam shaft (DOHC).

Gambar 12. Mekanisme katup tipe Over Head Valve (OHV)

Gambar 13. Mekanisme katup tipe Over Head Cam shaft (OHC)

 

 

 

 

 

Gambar 14. Mekanisme katup tipe Double Over Head Cam shaft (DOHC)

d)   Engine bila ditinjau dari penggerak mekanik katupnya

Bila  ditinjau  dari penggerak mekanik katupnya: dengan penggerak roda gigi, timing  chain dan timing belt.  Perhatikan gambar-gambar

berikut:

Gambar 15. Mekanik katup dengan penggerak roda gigi (timing gear)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

               Gambar 16. Mekanik katup dengan penggerak timing chain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 17. Mekanik katup dengan penggerak timing belt

e)   Engine bila ditinjau dari penggunaan bahan bakarnya

Bila ditinjau dari penggunaan bahan bakarnya engine dibagi:  Engine gasoline (motor bensin), engine diesel, engine cerosine (motor minyak tanah) dan engine LPG. Untuk keperluan kendaraan motor bensin dan disel relatif lebih banyak digunakan.

Gambar 18. Engine Gasoline (motor bensin)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 19. Engine Diesel (motor disel)

3.    Komponen-komponen Engine

Engine terdiri  dari  komponen-komponen  engine  dan   bagian-bagian pendukung kerja engine. Yang dimaksud  komponen-komponen  engine  meliputi: Blok silinder, kepala silinder, mekanik katup, kelengkapan  piston, poros engkol, poros nok dan roda penerus. Sedang bagian-bagian penunjang kerja engine meliputi: Sistem pendinginan, sistem pelumasan, sistem bahan bakar dan sistem pengapian.

a)   Blok silinder (cylinder block) 

Pada bagian linernya sebagai tempat terjadinya proses pembakaran. Selain itu juga sebagai tempat kerjanya komponen-komponen yang  lain seperti piston, poros engkol, poros nok. Pada bagian atas blok silinder dipasang kepala silinder dan pada bagian bawah dipasang panci oli.

Gambar 20. Blok silinder (Cylinder Block)

b)   Kepala silinder (Cylinder Head)   

Membentuk ruang bakar atau tempat ruang bakar tambahan. Pada kepala silinder juga digunakan untuk menempatkan kelengkapan   mekanik katup, saluran pemasukan dan juga saluran pembuangan.

                                                                   Gambar 21. Kepala silinder (cylinder head)

§  Keterangan gambar kepala silinder:

Spark plug (Busi): untuk meloncatkan api tegangan tinggi.

Adjusting shim: penyetel celah katup

Valve lifter: Sebagai pengangkat katup

Exaust valve: untuk membuka dan menutup saluran buang

Valve guide: Untuk penghantar gerakan katup

Gasket: sebagai perapat

Water jacket: untuk saluran air pendingin

Cylinder block: untuk tempat pembakaran/tempat bekerjanya Piston.

Piston : untuk merubah tenaga panas menjadi tenaga mekanik.

Combustion chamber : untuk tempat pembakaran                        Valve seat : sebagai tempat dudukan kepala katup                                    Oil seal : Sebagai perapat oli agar tidak masuk ke ruang bakar

Intake valve: untuk membuka dan menutup saluran pemasukan.

Valve keepers: sebagai pengunci antara katup dengan pegas katup.

To exhaust manifold : disambung dengan manifold buang

To intake manifold : disambung dengan manifold masuk

Pada kepala silinder juga diletakkan atau dibentuk ruang bakar (Combustion  Chamber). Ada beberapa jenis ruang bakar untuk motor bensin yaitu jenis: setengah  bulat, baji, bak mandi dan pent roof.

Gambar 22. Ruang bakar setengah bulat        Gambar 23. Ruang bakar Baji

 

 

 

                                                               

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 24. Ruang bakar Bak mandi      Gambar 25. Ruang bakar Pent Roof

Sedangkan jenis ruang bakar untuk motor disel Injeksi langsung (Direct Injection) ada: Multi Spherical, Hemispherical dan Spherical

Gambar 26. Ruang bakar Injeksi langsung

Ruang bakar untuk motor disel injeksi tidak langsung (indirect injection) ada: ruang bakar kamar depan (Pre combustion chamber, ruang bakar kamar pusar (Swirl chamber) dan model sel udara (Air cell)

Gambar 27. Ruang bakar kamar depan

Nozzle (injector): untuk menyemprotkan bahan bakar ke ruang Bakar.

Pre combustion chamber : untuk tempat pembakaran awal

Glow plug (Busi pijar) : untuk pemanas ruang bakar                          Combustion chamber : untuk tempat pembakaran utama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 28. Ruang bakar kamar pusar

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 29. Ruang bakar sel udara

c)    Mekanik katup (valve mekanism)

Katup pada umumnya diletakkan pada kepala silinder. Metode penggerak mekanik katup menggunakan: timing gear, timing chain   atau dengan timing belt. Adapun fungsi katup untuk membuka dan menutup ruang bakar sesuai proses yang terjadi di dalam silinder.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 30. Model Timing Gear

Model  timing  gear  digunakan  pada  motor jenis  OHV  (Over Head Valve) dan menggunakan lifter serta push rod.                                Timing gear : untuk  penghubung putaran  poros  engkol  dengan poros nok, sekaligus menepatkan posisi katup dengan piston.

Gambar 31. Model Timing Chain

Model timing chain digunakan  pada  motor  jenis  OHC  (Over Head Cam  shaft)  atau   DOHC  (Double  Over  Head  Cam  shaft).  Poros Noknya  terletak pada  kepala  silinder, digerakkan oleh rantai, serta Roda  gigi  sprocket sebagai pengganti timing gear. Tegangan rantai diatur oleh tensioner dan getarannya diredam oleh Vibration damper.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 32. Model Timing Belt

Pada model timing belt, poros nok digerakkan oleh sabuk yang Bergigi sebagai pengganti rantai. Jenis ini tidak memerlukan tensioner dan pelumasan. Cam shaft dan crank shaft timing pulley: untuk menepatkan posisi katup dengan piston.

d)   Kelengkapan Piston (Piston Assy)     

Piston berfungsi menghisap dan mengkompresi campuran bahan bakar dan udara pada motor bensin atau udara murni pada motor disel, juga sebagai pembentuk ruang bakar. Selain itu piston juga meneruskan tenaga panas hasil pembakaran menjadi tenaga mekanik pada poros engkol melalui batang piston. Kelengkapan piston terdiri dari: Piston, ring piston, pena piston dan batang piston.

Gambar 33. Konstruksi piston (Torak)

Compression ring grooves: untuk menempatkan ring kompresi

Oil ring grooves: untuk menempatkan ring oli

Piston pin boss: untuk bantalan dudukan pena piston

Piston pin hole: untuk menempatkan pena piston

Lands: sebagai pembatas ring piston

Skirt: sebagai penyerap panas.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 34. Ring piston dan alurnya pada piston

Ring piston terdiri dari ring kompresi (compression ring) dan ring Oli (oil ring). Ring kompresi sebagai perapat kompresi sekaligus Perapat agar pembakaran  tidak  merambat ke bawah  piston. Sedang ring oli untuk menyapu oli pelumas pada dinding silinder agar kembali ke panci oli. Untuk motor dua langkah tidak menggunakan ring oli karena panci oli terpisah dengan ruang  engkol.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 35. Pena piston (Piston Pin)

Pena piston berfungsi menyambung piston dengan batang piston agar dapat bergerak sesuai fungsinya masing-masing. Oleh sebab itu penyambungan pena piston ada beberapa tipe, antara lain: tipe Fixed, full floating dan semi floating

Gambar 36. Tipe penyambungan pena piston

Gambar 37. Batang piston (Conecting Rod)  Gambar 38. Conecting rod bearing

Batang piston berfungsi untuk merubah gerak lurus pada piston menjadi gerak putar pada poros engkol.

Small end : untuk menempatkan pena piston

Big end : untuk pemegang pin journal pada poros engkol

Conecting rod bearings : sebagai bantalan

Oil hole : untuk menyalurkan oli pendingin menuju piston

Conecting rod cap : sebagai penahan connecting rod dengan pin Journal.

e)   Poros engkol (Crank shaft)

Poros engkol menerima beban dari piston dan batang piston, akibat tenaga hasil pembakaran. Poros ini berfungsi untuk meneruskan tenaga/putaran ke roda penerus.

Gambar 39. Poros engkol (crank shaft)

Oil hole: Untuk saluran pelumasan

Crank pin: untuk tempat tumpuan big end batang piston

Crank journal: sebagai titik tumpu pada blok motor                                    Counter balance weight: sebagai bobot penyeimbang putaran

f)    Poros nok (Cam shaft)

Poros nok adalah sebuah poros yang dilengkapi dengan nok-nok sebagai penggerak mekanik katup. Poros nok sebagai penggerak mekanik katup ada yang hanya untuk katup buang atau katup  masuk saja, ada pula yang sekaligus menggerakkan katup masuk dan buang.

                             Gambar 40. Poros nok (Cam shaft)

Journal: sebagai titik tumpu putaran poros

Cam shaft drive gear: sebagai gigi pemutar

Cam shaft driven gear: sebagai gigi yang diputarkan

Intake cam shaft: penggerak mekanik katup masuk

Exhaust cam shaft: penggerak mekanik katup buang                      Cam shaft timing pulley: untuk menepatkan posisi katup dengan piston.

Cut-out groove: untuk menggerakkan didtributor

g)   Roda penerus (Fly wheel)                                  

Roda penerus   dipasang  pada  out put  poros engkol dan berfungsi sebagai  penerus  putaran/tenaga dari  mesin  ke  sistem  pemindah tenaga  kendaraan  (Power  train).  Kecual i itu  roda  penerus  juga untuk  meneruskan  putaran dari motor starter ke poros engkol agar mesin dapat distart.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 41. Roda penerus (Fly wheel)

 

h)   Panci oli (Oil punch)                                          

Panci oli dipasang pada blok motor paling bawah dan berfungsi sebagai penampung oli motor.

Gambar 42. Panci oli (Oil punch)

i)     Sistem pendinginan (Cooling System)

Secara umum sistem pendinginan engine bensin dan disel sama. Sedangkan fungsi utama sistem pendinginan adalah untuk mengontrol suhu kerja engine. Untuk dapat melaksanakan fungsinya, sistem pendinginan dilengkapi dengan komponen-komponen berikut:

Radiator: menampung air pendingin untuk didinginkan.

Slang bawah radiator: Untuk mengalirkan air ke engine.

Slang atas radiator: Untuk mengalirkan air panas dari engine.

Thermostaat: Sebagai pengontrol suhu kerja engine.

Pompa air/Water pump: untuk mensirkulasikan air.

Tali kipas/Fan belt: Untuk menggerakkan kipas pendingin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 43. Sistem Pendinginan air

 

j)    Sistem Pelumasan (Lubrycating System)

Sebagian besar mekanik engine yang bergerak memerlukan pelumasan, hal ini dimaksudkan agar komponen-komponen engine tidak cepat aus dan kinerja engine tetap terjaga. Adapun komponen sistem pelumasan meliputi: Saringan (strainer), pompa oli, saringan oli (Oil filter), saluran oli (hole).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                     Gambar 44. Sistem pelumasan (Lubrycating System)

k)   Sistem Bahan bakar (Fuel System)

Pada prinsipnya sistem  bahan bakar berfungsi menyuplai bahan bakar sesuai kebutuhan engine. Sistem  bahan  bakar engine bensin menggunakan karburator dan sistem bahan bakar engine disel menggunakan pompa injeksi dan nozel. Sistem bahan bakar engine bensin terdiri dari:

Tangki (Fuel tank): sebagai penampung bahan bakar

Pompa (Fuel pump): Menyuplai bahan bakar dari tangki ke Karburator.

Karburator: Untuk mencampur udara dan bahan bakar.

Saringan : Untuk menyaring bensin dari kotoran yang ada.

Gambar 45. Sistem bahan bakar engine bensin

Sedangkan sistem bahan bakar engine disel mempunyai komponen seperti berikut:

Tangki (Fuel pump): untuk menampung bahan bakar.

Pompa penyalur (Priming pump): Untuk menyalurkan bahan bakar ke dalam sistem saat membliding udara.

Pompa pemindah (Feed pump): menyuplai bahan bakar dari tangki ke pompa injeksi.

Pompa injeksi (Injection pump): untuk menyuplai bahan bakar ke nozel dengan tekanan tinggi.

Pengendap air (Water cendimeter): Untuk mengendapkan air yang ada pada bahan bakar.

Saringan (Fuel filter): menyaring bahan bakar.

Injektor (Nozzle): Menginjeksikan bahan bakar ke ruang bakar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

        Gambar 46. Sistem bahan bakar engine disel dengan Pompa In-line

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

         

 

Gambar 47. Sistem bahan bakar engine disel dengan pompa rotary

l)     Sistem Pengapian konvensional

Sistem pengapian digunakan pada engine bensin, adapun fungsinya memberikan api bertegangan tinggi ke dalam ruang bakar untuk pembakaran. Komponen-komponen sistem pengapian antara lain:

Baterai: sebagai penyimpan arus listrik.

Kunci kontak (Switch): Untuk memutus dan menghubungkan arus listrik dengan sistem.

Koil: Merubah arus primer menjadi arus skunder bertegangan Tinggi.

Distributor: Mendistribusikan/membagi arus tegangan tinggi ke busi-busi.

Kondensator: Menyimpan arus primer saat platina menutup, dan menyalurkan kembali saat platina membuka.

Busi: Meloncatkan api bertegangan tinggi ke dalam ruang bakar untuk pembakaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                    Gambar 48. Sistem pengapian engine bensin konvensional

 

c.    Rangkuman

1.    Motor bakar adalah motor yang merubah tenaga panas menjadi tenaga mekanik dengan proses pembakaran.

2.    Ditinjau dari tempat pembakarannya, motor terdiri dari motor pembakaran dalam dan motor pembakaran luar.

3.    Motor pembakaran dalam (internal combustion chamber) adalah motor yang proses pembakarannya terjadi di dalam motor itu sendiri.

4.    Ditinjau dari langkah (Stroke) motor terdiri dari motor 2 langkah dan motor 4 langkah.

5.    Yang dimaksud langkah piston (Stroke) adalah gerak piston dari TMA ke TMB atau sebaliknya.

6.    Motor 2 langkah adalah motor yang sekali usaha (menghasilkan tenaga) memerlukan 2 langkah piston sekali putaran crank shaft.

7.    Motor 4 langkah adalah motor yang sekali usaha (menghasilkan tenaga) memerlukan 4 langkah piston atau 2 putaran crank shaft.

8.    Ditinjau dari siklus pembakaran, metode pembakaran dan penggunaan bahan bakar motor terdiri dari motor bensin dan motor disel.

9.    Motor bensin menggunakan siklus otto sedang motor disel menggunakan siklus sabathe.

10. Bahan bakar motor bensin adalah bensin/premium/gasoline sedang motor disel menggunakan solar/light oil.

11. Metode pembakaran  motor  bensin dengan percikan api busi, sedang motor disel dengan kompresi tinggi (terbakar sendiri/self ignition).

12. Engine ditinjau dari jumlaah silindernya ada engine bersilinder Satu, dua,tiga,empat,enam,delapan dan seterusnyaa.

13. Engine bila ditinjau dari susunan silindernya: jenis in-line, jenis V dan jenis horizontal berlawanan.

14. Engine bila ditinjau dari mekanisme katupnya : tipe OHV, tipe OHC dan DOHC.

15. Engine bila ditinjau dari penggunaan bahan bakarnya: motor bensin, motor cerosine, motor LPG dan motor disel.

16. Komponen utama motor: Cylinder block, cylinder head, valve mekanism, piston  assy, crank shaft, fly wheel, cam shaft dan oil punch.

17. Cylinder block sebagai tempat bekerjanya piston, tempat pembakaran dan menopang komponen engine yang lainnya.

18. Cylinder head untuk menempatkan mekanik katup dan ruang bakar.

19. Jenis ruang bakar motor bensin: setengah bulat,baji, bak mandi dan pent roof.

20. Jenis ruang bakar motor disel: injeksi langsung dan tak langsung.

21. Ruang bakar injeksi langsung: model multi pherical, hemispherical dan pherical.

22. Ruang bakar injeksi tak langsung: model kamar depan, kamar pusar dan sel udara.

23. Metode penggerak katup: dengan timing gear, timing chain dan timing belt.

24. Kelengkapan piston:  piston,  piston ring,  connecting rod, piston pin, bearing cap dan insert bearing.

25. Piston berfungsi untuk mengkompresi  campuran gas atau udara murni, juga merubah tenaga panas menjadi tenaga mekanik.

26. Batang piston untuk meneruskan gerak lurus piston menjadi gerak putar pada poros engkol.

27. Piston ring kompresi untuk perapat kompresi, sedang oil ring untuk menyapu oli pada dinding silinder.

28. Pena piston untuk menyambung piston dengan connecting rod.

29. Macam  penyambungan  pena piston: Fixed, full floating dan semi floating.

30. Crank shaft untuk meneruskan putaran motor ke fly wheel.

31. Poros nok untuk menggerakkan mekanik katup

32. Roda penerus untuk  meneruskan putaran / tenaga motor ke power train dan putaran starter ke poros engkol.

33. Panci oli untuk menampung oli motor.

34. Sistem pendinginan terdari dari: radiator, slang radiator, tutup radiator, thermostaat, pompa air, mantel air, tali kipas dan kipas.

35. Sistem pelumasan terdiri dari: Pompa oli, strainer, saluran oli, saringan oli.

36. Sistem bahan bakar engine bensin terdiri dari: tangki, pompa, saringan dan karburator.

37. Sistem bahan bakar  engine disel terdiri dari: tangki, pompa priming, pompa pemindah, saringan, cendimeter, pompa injeksi dan injektor.

38. Sistem pengapian konvensional terdiri dari: baterai, kunci kontak, koil, kondensator, distributor dan busi.

d.    Tugas

1.    Siapkan model motor bensin dan disel 2 langkah dan 4 langkah, Pelajarilah  prinsip  kerjanya masing-masing secara cermat, catatlah perbedaan yang terlihat, dalam buku tugas. Diskusikan dengan teman atau minta penjelasan guru bila diperlukan.

2.    Carilah buku pada perpustakan bengkel yang sesuai dengan materi pada modul ini, pelajarilah dan catatlah hal-hal baru yang ditemukan, dalam buku tugas.

e.    Tes formatif

1.    Jelaskan secara singkat yang dimaksud dengan motor bakar.

2.    Jelaskan secara singkat yang dimaksud motor pembakaran luar dan motor pembakaran dalam.

3.    Jelaskan maksud motor 2 langkah dan motor 4 langkah

4.    Sebutkan 7 perbedaan motor bensin dengan disel

5.    Jelaskan yang terjadi di bawah dan diatas piston pada motor bensin dua langkah pada saat piston bergerak dari TMA ke TMB

6.    Jelaskan dua kemungkinan yang terjadii di dalam silinder motor bensin 4 langkah saat piston bergerak dari TMB ke TMA.

7.    Dengan gambar kerja motor disel 2 langkah berikut jelaskan proses  yang terjadi di dalam silinder

8.    Dengan gambar motor disel 4 langkah berikut jelaskan proses yang terjadi di dalam silinder

9.    Sebutkan 5 jumlah silinder motor yang paling banyak digunakan pada kendaraan.

10. Sebutkan 3 jenis engine ditinjau dari susunan silindernya.

11. Sebutkan 3 jenis engine ditinjau dari mekanisme katupnya.

12. Sebutkan 4 macam engine bila ditinjau dari penggunaan bahan bakarnya.

13. Sebutkan 8 komponen engine beserta fungsinya masing-masing.

14. Sebutkan 4 jenis ruang bakar motor bensin.

15. Sebutkan 3 jenis ruang bakar motor disel injeksi langsung.

16. Sebutkan 3 jenis ruang bakar motor disel injeksi tak langsung.

17. Sebutkan 3 jenis penggerak mekanik katup.

18. Sebutkan 6 komponen kelengkapan piston beserta fungsinya masing-masing.

19. Sebutkan 3 jenis penyambungan pena piston.

20. Sebutkan fungsi crank shaft dan cam shaft.

21. Sebutkan fungsi roda penerus.

22. Sebutkan 2 fungsi panci oli.

23. Sebutkan fungsi oil drain pada panci oli.

24. Sebutkan 5 komponen sistem pelumasan engine.

25. Sebutkan 7 komponen sistem pendinginan air

26. Sebutkan fungsi karburator pada engine bensin.

27. Sebutkan fungsi pompa priming pada pompa injeksi.

28. Sebutkan fungsi cendimeter pada sistem bahan bakar engine disel

29. Sebutkan fungsi nozel pada sistem bahan bakar engine disel

30. Sebutkan 7 komponen pada sistem pengapian konvensional engine bensin.

f.     Kunci jawaban

1.    Motor yang merubah tenaga  panas  menjadi  tenaga  mekanik  dengan proses pembakaran.

2.    Motor yang proses pembakarannya terjadi di luar motor tersebut dan Motor yang proses pembakarannya terjadi di dalam motor itu sendiri.

3.    Motor yang sekali usaha memerlukan 2 langkah piston atau sekali putaran crank shaft dan Motor yang sekali usaha memerlukan  4 langkah piston atau 2 kali putaran crank shaft.

4.    Item                        Motor bensin                 Motor disel

- Siklus                     Otto                              Sabathe

- Tekanan kompresi   9-12 Kg/cm2                          16-22 Kg/cm2

- Ruang bakar           sederhana                     rumit

- Percampuran          di karburator                 di ruang bakar

- Bahan bakar           Bensin                           Solar

- Suara                     halus                             kasar

- Efesiensi panas (%) s/d 30                           s/d 40

5.    Di bawah piston terjadi tekanan, campuran baru terkirim ke ruang bakar, karena diatas  piston  terjadi  isapan,  sebagian gas bekas akan terdorong keluar oleh gas baru saat lubang pembuangan mulai membuka.

6.    Kemungkinan pertama langkah buang apabila katup buang membuka, dan kemungkinan kedua  langkah kompresi apabila kedua katup menutup.

7.    A: langkah usaha dan pemasukan. Piston terdorong ke TMB akibat tekanan pembakaran, saat piston melewati lubang pemasukaqn, udara baru masuk.

B: Langkah buang. Saat piston bergerak ke atas dan saluran pembuangan membuka, maka gas bekas akan keluar melalui saluran buang.

C: Langkah kompresi.  Piston  bergerak semakin ke atas, saluran masuk buang tertutup, udara murni terkompresikan. Sebelum TMA bahan bakar disemprotkan, maka terjadi pembakaran

8.    A: piston bergerak ke  bawah, katup masuk membuka terjadilah pengisian udara murni

B: Piston bergerak ke atas, kedua katup menutup terjadilah pengkompresian udara murni

C: Sebelum TMA  bahan  bakar disemprotkan maka terjadi pembakaran dan piston terdorong ke bawah, maka terjadi langkah usaha

D:  Piston bergerak ke atas, katup buang membuka, maka gas bekas  terdorong keluar lewat saluran buang.

9.    1, 2, 3, 4 dan 6 silinder.

10. in-line, V dan horizontal berlawanan.

11. OHV, OHC dan DOHC.

12. Motor bensin, cerosine, LPG dan disel.

13. Blok motor: untuk tempat pembakaran, tempat kerja piston.

Kepala silinder: membentuk/menempatkan ruang bakar dan mekanik katup.

Kelengkapan piston: untuk mengkompresikan campuran gas atau udara murni, untuk merubah tenaga panas menjadi tenaga mekanik.

Mekanik katup: Membuka dan menutup ruang bakar sesuai posisi piston.

Poros engkol: Untuk meneruskan putaran motor ke fly wheel.

Poros nok: untuk menggerakkan mekanik katup

Fly whhel: untuk meneruskan putaran/tenaga ke power train, dan putaran starter ke poros engkol.

Panci oli: untuk menampung oli motor.

14. Setengah bulat, baji, bak mandi dan pint roof.

15. Multi spherical, hemispherical dan spherical.

16. Kamar depan, kamar pusar dan sel udara.

17. Dengan timing gear, timing chain dan timing belt.

18. Piston: untuk merubah tenaga panas menjadi tenaga mekanik, untuk mengkompresikan campuran gas/udara murni.

Ring piston: untuk perapat dan penyapu oli.

Conecting rod: untuk merubah gerak lurus piston menjadi gerak putar poros engkol.

Pena piston: untuk menyambung piston dan connecting rod.

Bearing cap: untuk menempatkan insert bearing dan untuk mengikat  connecting rod pada pin journal poros engkol.

Insert bearing : sebagai bantalan.

19. Fixed, full floating dan semi floating.

20. Penerus putaran ke fly wheel dan penggerak mekanik katup.

21. Untuk meneruskan tenaga ke power train,  dan putaran starter ke poros engkol.

22. Menampung oli motor, mengendapkan kotoran oli.

23. Untuk mengetap oli.

24. Panci oli,strainer,pompa oli,saringan oli, saluran oli pada engine.

25. Radiator, tutup radiator, slang radiator, thermostaat, pompa air, tali kipas dan kipas.

26. Untuk mencampur udara dan bahan bakar.

27. Untuk membliding udara.

28. Untuk mengendapkan air pada bahan bakar.

29. Untuk menginjeksikan bahan bakar ke ruang bakar.

30. Baterai, kunci kontak, koil, kondensator, distributor, kabel tegangan tinggi dan busi.

Kegiatan Belajar 2: Identifikasi jenis-jenis engine dan komponennya.

a.    Tujuan kegiatan belajar

Siswa dapat mengidentifikasi jenis-jenis engine dan komponennya.

b.    Uraian materi

1.    Identifikasi komponen engine bensin pada stand/unit kendaraan.

2.    Identifikasi komponen engine disel pompa rotary.

3.    Identifikasi komponen engine disel pompa in-line.

4.    Identifikasi komponen bongkaran engine bensin 2 langkah 1 silinder.

5.    Identifikasi komponen bongkaran engine bensin 4 langkah 4 silinder.

6.    Identifikasi komponen bongkaran engine disel 4 langkah 4/6 silinder.

c.    Rangkuman

d.    Tugas

1.    Siapkan engine stand/unit kendaraan engine bensin 4 langkah 4 silinder, tempelkan nomor urut pada komponen dan bagian utama engine secara acak.  Sebutkan nama komponen dan fungsinya masing-masing sesuai nomor urutnya dan catatlah dalam buku tugas.

2.    Siapkan  engine  stand / unit kendaraan  engine  disel dengan  pompa rotary, tempelkan nomor urut secara acak pada komponen dan bagian utama   engine  yang  nampak.  Catatlah   dalam  buku   tugas   nama komponen dan bagian utama engine   tersebut sesuai  nomor urutnya, dan jelaskan fungsunya masing-masing.

3.    Siapkan engine stand/unit kendaraan engine disel dengan pompa in-line, tempelkan nomor urut secara acak pada komponen sistem bahan bakarnya. Catatlah nama komponen beserta fungsinya masing-masing pada buku tugas.

4.    Siapkan   bongkaran  komponen  engine   bensin  2 langkah 1 silinder, tempelkan  nomor  urut  secara  acak    pada   komponen – komponen tersebut   dan  catatlah  nama  komponen   beserta fungsinya masing-masing sesuai nomornya dalam buku tugas.

5.    Siapkan  bongkaran  komponen  engine  bensin  4  langkah  4 silinder, tempelkan  nomor  secara  acak  pada  komponen-komponen tersebut. Catatlah  nama  komponen  beserta  fungsinya  masing-masing  sesuai nomornya dalam buku tugas.

6.    Siapkan bongkaran  komponen  engine  disel  4  langkah  4/6  silinder, tempelkan nomor   secara acak  pada  komponen-komponen  tersebut. Catatlah  nama  komponen  beserta  fungsinya  masing-masing  sesuai nomornya dalam buku tugas.

e.    Tes formatif (Guru menempelkan nomor urut sesuai kunci)

1.    Sebutkan  nama komponen  engine bensin berikut dan fungsinya sesuai nomor   urut   masing – masing.   (pada  engine  stand/unit kendaraan).

2.    Sebutkan  nama  komponen  engine  disel dengan pompa rotary berikutdan   fungsinya   sesuai   nomor  urut  masing – masing.   (pada engine stand/unit kendaraan).

3.    Sebutkan nama  komponen engine  disel  dengan pompa In-line berikut dan   fungsinya   sesuai   nomor   urut  masing – masing.  (pada engine stand/unit kendaraan).

4.    Sebutkan   nama   komponen   bongkaran  engine  bensin  2  langkah 1 silinder   berikut   beserta  fungsinya   masing – masing,   sesuai  nomor urutnya. (Bongkaran komponen lengkap).

5.    Sebutkan   nama   komponen   bongkaran   engine  bensin 4  langkah 4 silinder   berikut   beserta   fungsinya   masing – masing   sesuai  nomor urutnya.(Bongkaran komponen lengkap).

6.    Sebutkan  nama   komponen   bongkaran  engine   disel  4  langkah 4/6 silinder   berikut    beserta    fungsinya  masing – masing,  sesuai nomor urutnya. (Bongkaran komponen lengkap).

f.     Kunci jawaban

Soal praktik 1

1.    Kepala silinder  untuk  tempat ruang bakar dan  meletakkan komponen seperti mekanik  katup,  busi,   saluran pemasukan,  pembuangan dan lainnya.

2.    Blok  silinder:   tempat   terjadinya    proses    pembakaran,  kerjanya mekanik engine seperti piston, poros engkol, nok dan yang lainnya.

3.    Karter/panci oli: untuk menampung oli pelumasan.

4.    Radiator: menampung air pendingin untuk didinginkan.

5.    Tutup radiator: untuk mengontrol tekanan pada radiator.

6.    Tali kipas: untuk menggerakkan kipas pendingin

7.    Stik Oli: untuk memeriksa kondisi dan kapasitas oli pelumas.

8.    Oil filter: untuk menyaring oli.

9.    Saringan udara: untuk menyaring debu yang terdapat pada udara.

10. Karburator: untuk mencampur udara dan bahan bakar.

11. Baterai: untuk menyimpan arus listrik.

12. Kunci kontak: untuk memutus dan menghubungkan arus listri pada sistem pengapian.

13. Koil Untuk merubah arus primer menjadin arus skunder bertegangan tinggi.

14. Distributor: untuk membagi arus tegangan tinggi ke busi-busi.

15. Busi: untuk meloncatkan api ke ruang bakar.

Soal praktik 2

1.    Manifal pemasukan: Untuk memasukkan udara murni.

2.    Tutup katup: penutup katup.

3.    Saringan udara: menyaring udara.

4.    Saringan bahan bakar: menyaring bahan bakar.

5.    Pompa injeksi: untuk memompa bahan bakar dengan tekanan tinggi.

6.    Injektor/nozel: untuk menginjeksikan bahan bakar ke ruang bakar.

7.    Pipa tekanan tinggi: untuk mengalirkan bahan bakar bertekanan tinggi dari pompa injeksi ke nozel.

8.    Glow plug: untuk memanaskan ruang bakar.

Soal praktik 3

1.    Tangki: untuk menampung bahan bakar

2.    Pompa priming: untuk membliding udara

3.    Pompa pemindah: Untuk memindahkan bahan bakar dari tangki ke pompa injeksi.

4.    Sringan bahan bakar: untuk menyaring bahan bakar.

5.    Cendimeter: untuk mengendapkan air

6.    Pompa injeksi: untuk memompa bahan bakar dengan tekanan tinggi ke injektor/nozel.

7.    Nozel: untuk menginjeksikan bahan bakar ke ruang bakar.

8.    Reservoir: untuk menampung air pendingin kelebihan tekanan dari radiator, dan menyiapkan kembali saat radiator memerlukan.

9.    Pompa air: untuk Mensirkulasikan air ke sistem.

10. Stik oli: untuk memeriksa tinggi dan kondisi oli.

 

Soal praktik 4

1.    Sirip pendingin: untuk media pendinginan engine.

2.    Saluran pembilas: untuk mengalirkan gas baru ke ruang bakar.

3.    Saluran pemasukan: untuk memasukkan gas baru ke ruang engkol.

4.    Saluran pembuangan: untuk menyalurkan gas buang.

5.    Ruang bakar: untuk proses pembakaran.

6.    Lubang busi: untuk menempatkan busi.

7.    Piston: untuk menghisap dan mengompresikan campuran udara dan bahan bakar, dan merubah tenaga pembakaran menjadi tenaga mekanik.

8.    Batang piston: untuk merubah gerak lurus pada piston menjadi gerak putar pada poros engkol.

9.    Poros engkol: untuk memindahkan tenaga engine ke power train.

10. Blok motor: untuk tempat pembakaran dan kerja piston.

 

Soal praktik 5

1.    Valve seat: untuk dudukan kepala katup.

2.    Oil hole: Untuk saluran oli pelumas.

3.    Water jacket: untuk mengalirkan air pendingin.

4.    Valve guide: penghantar katup.

5.    Poros nok: untuk menggerakkan mekanik katup.

6.    Lifter: untuk menggerakkan psh rod.

7.    Push rod: untuk menggerakkan rokcer arm.

8.    Rocker arm: untuk menggerakkan katup.

9.    Roda gigi timing: untuk menepatkan timing katup dengan posisi piston.

10. Puli poros engkol: untuk meneruskan putara  ke puli pompa air dan alternator.

 

Soal praktik 6

1.    Ruang bakar muka: untuk pembakaran awal

2.    Lubang injektor: untuk menempatkan injektor/nozel.

3.    Lubang busi pijar: untuk menempatkan busi pijar.

4.    Timing belt : untuk penghubung putaran engkol ke poros nok.

5.    Sprocket : untuk menepatkan timing katup dengan posisi piston.

6.    Dudukan katup buang : untuk mendudukkan kepala katup buang.

7.    Saluran pemasukkan : untuk mengalirkan udara murni.

8.    Saluran pembuangan: untuk mengalirkan gas buang.

9.    Gasket: untuk perapat antara kepala dan blok silinder.

10. Pompa oli: untuk mensirkulasikan oli ke sistem.

 

 

 

 

 

 

 

 


LEMBAR KERJA

Kompetensi   : Pemeliharaan/servis engine dan komponennya

Sub kompetensi      : Identifikasi jenis engine dan komponennyal

TUJUAN:

1.    Siswa dapat mengidentifikasikan   perbedaan   komponen  engine    bensin dengan engine disel.

2.    Siswa dapat mengidentifikasi komponen engine bensin 2 langkah 1 silinder

3.    Siswa dapat mengidentifikasi komponen engine bensin 4 langkah 4 silinder

4.    Siswa dapat mengidentifikasi engine disel 4 langkah 4/6 silinder.

KESELAMATAN KERJA:

1.    Jangan menghidupkan motor tanpa seijin guru pembimbing

2.    Jangan merubah komponen pada engine tanpa seijin pembimbing.

3.    Pastikan hand rem aktif bila menggunakan unit kendaraan dalam belajar

ALAT:

1.    Alat-alat tulis

2.    Balok ganjal kendaraan

3.    Tempat komponen.

BAHAN:

1.    Model belahan motor bensin dan disel 2 langkah dan 4 langkah.

2.    Engine stand motor bensin atau unit kendaraan.

3.    Engine stand motor disel atau unit kendaraan.

4.    Bongkaran komponen engine bensin 2 langkah 1 silinder.

5.    Bongkaran engine bensin 4 langkah 4 silinder.

6.    Bongkaran engine disel 4 langkah 4/6 silinder.

LANGKAH KERJA:

1.    Siapkan peralatan dan bahan

2.    Pelajari model belahan motor secara cermat mengenai prinsip  kerja motor atau perbedaan komponennya.

3.    Mengidentifikasi perbedaan antara motor bensin dengan disel  pada engine stand atau pada unit kendaraan.

4.    Kembalikan  peralatan  dan  bahan    kerja seperti  serta  lingkungan  kerjaseperti semula.

5.    Buatlah laporan kerja pada buku tugas.

 

 

BAB III

EVALUASI

A.   Kriteria dan Instrumen Penilaian

1.    Kriteria Penilaian Pengetahuan (Tes formatif) :

a)    Siswa dapat skor 7 (tujuh) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 70 % s/d 80 %.

b)    Siswa dapat skor 8 (delapan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap  item soal antara 81 % s/d 90 %.

c)    Siswa dapat skor 9 (sembilan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 91 % s/d 100 %.

d)    Setiap item soal harus mendapat nilai minimal 7 (tujuh).

e)    Bila belum mencapai nilai tujuh siswa wajib belajar kembali dan mengulang pada item tersebut.

2.    Kriteria Penilaian Praktek

      

NO

ASPEK YANG DINILAI

INDIKATOR KEBERHASILAN

PENILAIAN

YA

TIDAK

7

8

9

 

1

2

3

4

5

6

7

1

 Engine bensin 4/6 silinder pada engine stand atau unit kendaraan. Dapat menyebutkan komponen utama engine yang nampak,                             komponen sistem pendinginan yang nampak, komponen sistem pelumasan yang nampak, komponen sistem bahan bakar dan komponen sistem pengapian.pengapian. sesuai nomor yang dipasangkan.

2

Engine disel dengan pompa rotary pada stand atau unit kendaraan Dapat menyebutkan komponen utama engine yang nampak, komponen sistem pendingin, komponen sistem pelumasan dan komponen sistem bahan bakar. Sesuai nomor yang dipasangkan.

3

Engine disel dengan pompa In-line pada stand atau unit kendaraan Dapat menyebutkan komponen sistem bahan bakar beserta fungsinya masing-masing. Sesuai nomor yang dipasangkan.

4

Bongkaran lengkap komponen utama engine bensin 2 langkah 1 silinder Dapat menyebutkan nama dan fungsi komponen utama. Sesuai nomor yang dipasangkan.

5

Bongkaran lengkap komponen engine bensin 4 langkah 4 silinder (OHC) Dapat menyebutkan nama dan fungsi bagian-bagian pada : kepala silinder, blok silinder,kelengkapan katup, kelengkapan piston,poros engkol, poros nok,roda penerus dan panci oli. Sesuai nomor yang dipasangkan.

6

Bongkaran lengkap komponen engine disel 4/6 silinder 4 langkah (OHV) Dapat menyebut nama dan fungsi bagian-bagian pada : kepala silinder, blok silinder, kelengkapan katup, kelengkapan piston, poros engkol, poros nok, roda penerus dan panci oli.

7

K3 dan SOP Dapat menerapkan K3 dan SOP.
JUMLAH :

 

CATATAN:

1.    Nilai 7,00 (lulus baik / YA), tepat waktu dan memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan.

2.    Nilai 8,00 (lulus amat baik / YA), waktu lebih cepat dan memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan.

3.    Nilai 9,00 (lulus istimewa / YA), waktu lebih cepat dan kwalitas melebihi standar minimal yang dipersyaratkan.


B.   DAFTAR KEMAJUAN SISWA        

NAMA SISWA  :

NIS                           :

NO TES FOR1 TES PRK1 TES PRK2 TES PRK3 TES PRK4 TES PRK5 TES PRK6 KETERANGAN
 

N1

N2

N3

N4

N5

N6

N7

N I =

(4xN1) +(N2+N3+N4+N5+N6+N7) dibagi 10

 

 

NI = Nilai akhir OPKR.20-001-1B

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   1                     
   2                     
   3                     
   4                     
   5                     
   6                     
   7                     
   8                     
   9                     
10                     
11                     
12                     
13                     
14                     
15                     
16                     
17                     
18                     
19                     
20                     
21                     
22                     
23                     
24                     
25                     
26                     
27                     
28                     
29                     
30                     
 

 

 

 

 

 

 

 

 

N I = ……….

 

CATATAN: Daftar kemajuan hanya diisi nilai materi yang sudah memenuhi standar minimal kelulusan.

BAB IV

PENUTUP

Bagi siswa yang belum memenuhi standar kelulusan yang ditentukan, wajib mengulangi belajar pada modul ini, terutama pada item-item soal yang belum memenuhi standar kelulusan. Bagi siswa yang sudah berhasil lulus akan mendapatkan nilai akhir minimal 7,00 (tujuh koma nol nol) dan dapat melanjutkan ke modul berikutnya Yaitu OPKR. 20-001-2 B dan OPKR. 20-001-3 B dimana modul tersebut merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari modul OPKR. 20. 001-1 B. Artinya siswa boleh mengajukan uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat apabila telah menyelesaikan modul OPKR. 20.001-1 B ,OPKR.20.001-2 B.

Dan OPKR. 20-001-3 B.

DAFTAR PUSTAKA

Abigain Pakpahan. (1998). Motor Otomotif jilid 1. Bandung: Angkasa

Anggiat Situmorang, Abigain P. (1999). Servis Kendaraan Ringan.    Bandung: Angkasa

Noname. (1995). New Step 1 Training Manual. Jakarta: PT Toyota Astra Motor.

Noname. (1984). GE Engine Servis Training Information: Toyota Motors Corporation

Noname. (1992). Training manual Motor bakar. Jakarta: PT United Tractor

Otim Suprapto. (1999). Motor Otomotif. Bandung: Angkasa

Yunan Ginting. (1999). Otomotif Dasar. Bandung: Angkasa

Pelaksanaan Operasi Penanganan Secara Manual

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Deskripsi

Modul Pelaksanaan operasi penanganan secara manual membahas tentang prosedur pengangkatan dan pemindahan material/komponen/part secara manual maupun mekanis dan penataan area tempat kerja.

Materi kompetensi yang terdapat pada modul ini merupakan pengetahuan dan keterampilan yang sangat menunjang pelaksanaan pekerjaan kompetensi yang lain di bengkel-bengkel industri, khususnya bengkel perotomotifan. Apabila siswa menguasai kompetensi ini, akan memberikan kemudahan bagi siswa dalam melaksanakan kompetensi yang lain yang membutuhkan teknik-teknik yang benar dan aman dalam pemindahan material/komponen ataupun part serta penyimpanannya.

Setelah melaksanakan modul ini diharapkan siswa dapat memahami  prosedur pengangkatan material secara manual, prosedur pengangkatan secara mekanis, prosedur pemindahan dan penyimpanan material/komponen/part yang aman, penanganan area tempat kerja.

Kompetensi yang terdapat dalam modul ini akan membekali siswa pengetahuan dan ketrampilan serta sikap yang benar yang terkait dengan setiap pekerjaan pengangkatan, pemindahan dan penyimpanan material yang terdapat di dunia industri perotomotifan.

Modul ini dibagi menjadi 2 kegiatan belajar yaitu: kegiatan belajar 1 pemahaman tentang prosedur pengangkatan dan pemindahan serta penyimpanan material/komponen ataupun part. Sedangkan kegiatan belajar 2: Melakukan pekerjaan pengangkatan dan pemindahan serta penyimpanan material/komponen atau part, sesuai prinsip penanganan area tempat kerja.

B.   Prasyarat

Sebelum memulai modul ini, siswa harus sudah menyelesaikan modul OPKR.10-016 B tentang Keselamatan dan kesehatan kerja,  serta modul lainnya yang harus dipelajari lebih awal sesuai dengan peta kedudukan modul.

C.   Petunjuk Penggunaan Modul

1.    Petunjuk Bagi Siswa

Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal dalam mempelajari materi modul ini, langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:

a.    Bacalah dan pahamilah dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada kegiatan belajar.

b.    Bila ada  materi yang kurang jelas, siswa dapat bertanya pada guru yang mengampu kegiatan belajar tersebut.

c.     Kerjakanlah setiap tugas formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatanbelajar.

d.    Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikanlah hal-hal berikut ini:

1)    Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang diberikan.

2)    Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik.

3)    Sebelum melaksanakan praktik, siapkan alat dan bahan yang diperlukan secara cermat (lihat lembar kerja).

4)    Gunakan alat sesuai prosedur dan pemakaian yang benar. Untuk melakukan kegiatan belajar praktik yang belum jelas, harus meminta ijin guru lebih dahulu.

5)    Setelah selesai praktik, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

e.    Siswa dinyatakan menguasai materi, bila sudah dapat menjawab seluruh soal dengan benar tanpa melihat buku atau kunci jawaban, serta dapat menyelesaikan praktik sesuai standar minimal yang ditentukan. Bila belum berhasil siswa wajib mengulangi.

f.     Bila siswa sudah dinyatakan berhasil, siswa bersama guru dapat membuat rencana uji kompetensi dengan menghadirkan lembaga sertifikasi profesi setempat yang telah diakui keberadaannya, untuk mendapatkan pengakuan kompetensi dengan sertifikat.

g.    Konsultasikan dengan guru pada saat merencanakan proses belajar, saat menemui kesulitan dalam menjawab soal-soal maupun pada waktu melaksanakan praktik, ataupun bila memerlukan sumber belajar yang lain. Dapat mengkomunikasikan dengan guru bila membutuhkan pendamping dari industri pada saat belajar, juga saat akan mengerjakan modul berikutnya.

2.    Petunjuk Bagi Guru

Dalam setiap kegiatan belajar guru berperan untuk:

a.    Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar.

b.    Membimbing siswa melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.

c.     Membantu siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan siswa mengenai proses belajarnya.

d.    Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.

e.    Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.

f.     Membantu siswa mencarikan pendamping dari industri bila diperlukan.

g.    Melaksanakan penilaian internal dan mencatat hasil kemajuan siswa.

h.    Menjelaskan pada siswa apabila ada yang perlu dibenahi dan merundingkan pada siswa rencana pemelajaran berikutnya.

D.   Tujuan Akhir

Setelah mempelajari secara keseluruhan  materi  kegiatan belajar dalam modul ini siswa diharapkan:

1.    Memahami prosedur pengangkatan secara manual, prosedur pengangkatan secara mekanis, prosedur  memuat  dan  menurunkan  material,  prosedur penyimpanan material/komponen/part secara aman.

2.    Dapat melakukan pekerjaan pemindahan, pemuatan dan penurunan Material/komponen atau part secara manual maupun mekanis dan Penyimpanan secara aman.


E.    KOMPETENSI

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETRAMPILAN

1.Mengangkat dan memindahkan material /

Komponen  /part.

*Pekerjaan dilaksanakan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem yang lain.

*Berat material ditentukan dengan benar dengan menggunakan teknik yang memadai.

*Perlengkapan yang tepat dipilih sesuai kebutuhsn.

*Material/part/komponen yang akan diangkat diperiksa dari kemungkinan bahaya yang timbul.

*Teknik pengangkatan dilakukan di bawah standar kerja Indonesia.

*Material/part/komponen ditempatkan dengan aman pada perlengkapan pemindahan dan penempatan kembali dengan memastikan keselamatan petugas dan keamanan dari material/part/komponen.

*Teknik penanganan secara manual yang benar dan aman.

*Teknik pemindahan dan pengangkatan material sesuai dengan standar tempat kerja.

*Cermat dan hati-hati dalam pelaksanaan pengangkatan dan pemindahan material/part/

Komponen.

*Mematuhi undang-undang keselamatan dan kesehatan kerja.

*Teknik-teknik penanganan secara manual yang benar/

Prosedur pengangkatan dan pemindahan yang aman.

*Persyaratan keamanan perlengkapan/material.

*Persyaratan keamanan diri.

*Melaksanakan pengangkatan dan pemindahan material/part/

Komponen.

*Menerapkan undang-undang keselamatan kerja.


F.    Cek Kemampuan

Sebelum siswa mempelajari modul ini, siswa dapat mencoba mengerjakan soal-soal yang ada pada lembar soal formatif tanpa melihat uraian materi atau kunci jawaban. Bila siswa sudah merasa bisa, guru pembimbing supaya melakukan pengetesan. Dan apabila siswa benar-benar sudah menguasai materi sesuai standar minimal yang ditentukan, guru pembimbing dapat menyediakan modul pemelajaran berikutnya untuk dipelajari siswa. Tetapi bila belum bisa, supaya siswa melanjutkan mempelajari modul ini.

BAB II

PEMELAJARAN

A.   Rencana Belajar Siswa

Rencanakanlah setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel dibawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.Teknik pengangkatan dan pemindahan material/komponen/part serta cara penyimpanannya.
2. Melakukan pengangkatan dan pemindahan material/ part / komponen dan penyimpanannya.

B.   Kegiatan Belajar

Kegiatan Belajar 1: Teknik pengangkatan dan pemindahan material / komponen / part dan penyimpanannya.

a.    Tujuan Kegiatan Belajar

1.    Siswa  dapat  memahami  prosedur  pengangkatan  dan  pemindahan material/komponen/part secara manual.

2.    Siswa dapat   memahami  prosedur  pengangkatan  dan  pemindahan material/komponen/part secara mekanis.

3.    Siswa dapat memahami prosedur penanganan area kerja,  dan teknik penyimpanan material/komponen atau part secara aman.

b.    Uraian Materi

1.    Pengangkatan dan pemindahan material/komponen/part secara manual.

Pengangkatan dan pemindahan material/komponen/part secara manual akan selalu melibatkan tenaga manusia. Dalam memindah material dari tempat yang satu ke tempat lain, seseorang akan mengeluarkan tenaga untuk mengangkat, membawa, menurunkan, mendorong, menarik,   menahan dan sebagainya. Untuk dapat melakukan pekerjaan tersebut   secara aman, seseorang harus memahami kekuatan tangan, kaki, badan  serta bagaimana cara mengambil posisi. Selain  itu seseorang juga harus   memahami pengetahuan tentang grafitasi bumi.

a)   Kekuatan badan/punggung saat mengangkat

Gaya tarik bumi yang sering disebut dengan grafitasi, akan cenderung menarik semua benda ke bawah. Apabila seseorang akan mengangkat material yang berupa komponen, part atau benda yang lain, posisi badan harus pada kekuatan maksimal untuk mengatasi gaya grafitasi. Hal tersebut dilakukan melalui tangan, punggung serta posisi kaki sebagai tumpuhan. Tangan sebagai tuas pemegang beban, punggung sebagai pusat tenaga penahan beban dan kaki sebagai tumpuhan.

Gaya Otot

Gambar 1. Kekuatan badan/punggung saat mengangkat

b)   Kekuatan pada tangan pada saat mengangkat

Sewaktu mengangkat beban, lengan tangan sebagai tuas mengandalkan kekuatan pada otot Bisep yang berkaitan dengan tulang hasta oleh ujung otot bisep yang disebut Tendon. Tenaga atau berat beban yang disangga akan disalurkan ke Tendon otot Bisep atas ke tulang belikat.

Gambar 2. Pusat kekuatan tangan saat mengangkat

c)   Kekuatan otot punggung saat tangan mengangkat

Pada saat tangan mengangkat beban, tenaga yang disangga oleh otot Bisep tangan akan disalurkan melalui tulang belikat ke otot punggung. Karena beban tersebut bekerja pada lengan yan cukup pendek, maka beban justru akan banyak disangga oleh otot punggung. Apabila beban terlalu berat, otot punggung dapat terkilir atau bahkan dapat merusakkan tulang belakang.

Gambar 3. Tulang belakang sebagai penyangga beban badan.

d)   Prinsip-prinsip pengangkatan secara manual:

a)    Upayakan beban sedekat mungkin dengan badan

b)    Upayakan kedua tangan dapat memegang kuat pada benda yang akan diangkat

c)    Hindarkan gerakan putar yang mendadak

d)    Upayakan konsentrasi beban berada pada kekuatan tumpuhan kaki

e)    Upayakan badan tetap lurus/tegap saat mengangkat

f)     Upayakan beban disekitar titik tengah badan

g)    Beban yang diangkat maksimal setengah berat badan.

Beban

Gambar 4. Pengangkatan secara manual

2.    Pengangkatan dan pemindahan material/komponen/part secara mekanis

Material/komponen/part dengan permukaan tidak rata dan berat yang tidak memungkinkan diangkat secara manual dapat diangkat ataupun dipindahkan dengan alat bantu.

a)    Prosedur pengangkatan secara mekanis

Dalam pengangkatan material dengan alat bantu, tetap harus diperhatikan titik pusat keseimbangan material atau benda tersebut atau yang sering disebut dengan pusat grafitasi benda. Hal tersebut dimaksudkan agar didapat keseimbangan saat benda tersebut diangkat dengan alat bantu pengangkatan. Material atau benda yang memiliki permukaan beraturan mudah ditemukan titik pusat keseimbangannya seperti: lingkaran, bujur sangkar, kotak dan sebagainya. Untuk material yang memiliki permukaan tidak beraturan memerlukan kecermatan dalam menentukan titik keseimbangannya, seperti: Engine, transmisi, unit kendaraan dan sebagainya. Khusus pada engine biasanya sudah disediakan tempat memasang tali atau seling sewaktu diperlukan pengangkatan.

Pusat grafitasi/keseimbangan

Gambar 5. Titik pusat keseimbangan lingkaran dan bujur  sangkar

 

 

 

 

 

 

                 

         Pusat grafitasi/keseimbangan

Gambar 6. Titik pusat keseimbangan kotak

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7. Titik pusat keseimbangan engine

b)    Alat bantu pengangkatan.

Material yang memiliki permukaan tidak beraturan dan berat yang berlebihan dimana tidak mungkin dapat diangkat secara manual dapat diangkat dengan peralatan bantu pengangkatan. Alat bantu pengangkatan yang digunakan pada bengkel perotomotifan antara lain: Pengungkit, forklift, tali/tambang, seling, hook, alat khusus pengangkat engine, kerek/kran, dongkrak, car lift dan sebagainya.

1)    Pengungkit.

Pengungkit adalah alat sederhana untuk memindahkan barang. Pengungkit dapat berupa kayu, bambu, besi atau bentuk lain yang dirancang secara khusus.

Gambar 8. Pemindahan material dengan pengungkit

2)    Forklift/garpu pembawa material

Forklift dapat berupa forklift dorong atau forklift kendaraan. Alat ini digunakan untuk membawa atau memindahkan material dari tempat satu ke tempat yang lain.

Gambar 9. Penggunaan forklift dorong

3)    Tali/tambang, seling dan hook.

Tali/tambang, seling dan hook digunakan untuk mengikat atau menahan material yang akan diangkat. Pemasangan tali/seling pada engine:

a)    Tali atau seling ditempatkan pada bagian bawah engine supaya tidak merusak engine saat diangkat.

b)    Upayakan tali/seling dapat menahan beban secara merata.

c)    Pusat pengangkatan sedekat mungkin dengan titik keseimbangan engine.

d)    Gunakan alat khusus bila ada.

 

 

Gambar 10. Pemasangan tali atau seling pada engine.

Pemasangan seling dan hook

Pada blok engine biasa dipasang pengait/hook untuk memasang tali atau seling sewaktu akan mengangkat engine guna perbaikan. Prosedur pemasangan hook:

a)    Bautkan hook pada sudut-sudut blok  paling  ujung   secara silang agar didapat keseimbangan.

b)    Kaitkan pengait  pada  seling  dengan  hook  secara   tepat, sehingga kaitan antara seling dan hook benar-benar kuat.

c)    Pastikan   bahwa   kaitan   benar – benar  mati / kuat, baru melakukan pengangkatan engine.

 

                 Seling

                  

 

 

                                                                 Hook

 

 

Gambar 11. Pemasangan seling dan hook

 

 

 

                                

 

 

 

 

Gambar 12. Pemasangan alat khusus pengangkat engine

4)    Kerek/kran dan Takel

Kerek/kran dan Takel adalah alat untuk mengangkat material/part atau komponen. Pada bengkel otomotif alat ini biasa digunakan untuk mengangkat engine, transmisi sewaktu akan diperbaiki dan memasangkan kembali sewaktu perbaikan sudah selesai. Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan Kran ataupun Takel:

a)    Memeriksa sumber tenaga yang digunakan untuk mengoperasikan peralatan pengangkat.

b)    Takel pengangkat harus benar-benar terpasang baik pada tempatnya.

c)    Jika pekerjaan tidak dapat dilakukan sendiri, perlu dilakukan secara tim.

d)    Upayakan jangan ada orang lalu-lalang dibawah alat  pengangkat.

e)    Upayakan material/komponen/part jangan sampai tergantung terlalu lama pada alat pengangkat.

f)     Upayakan perlahan-lahan dan berhati–hati sewaktu menurunkan material/komponen/part.

Gambar 13. Kran lantai dan kerek/takel

Gambar 14. Pengangkatan engine dengan kerek/takel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 15. Pengangkatan engine dengan Kran lantai

5)    Dongkrak

Dongkrak adalah alat pengangkat yang banyak digunakan dalam perawatan atau perbaikan bagian-bagian kendaraan misalanya: sewaktu mengganti oli engine, perbaikan roda,sistem rem dan bagian-bagian yang lain yang memerlukan pengangkatan kendaraan. Macam-macam dongkrak yang digunakan antara lain: Dongkrak botol, dongkrak troli/buaya, dongkrak pantograf, dongkrak samping, dongkrak bumper dan sebagainya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan dongkrak:

a)    Pastikan dongkrak benar-benar baik.

b)    Aktifkan rem parkir.

c)    Pasang ganjal pada bagian roda depan sebelah kiri bila akan mengangkat kendaraan dibagian belakang sebelah kanan atau sebaliknya.

d)    Pasang ganjal pada kedua roda belakang bila akan mengangkat kendaraan bagian depan dengan kedua roda terangkat atau sebaliknya.

e)    OFF kan kunci kontak.

f)     Jangan bekerja di bawah kendaraan saat kendaraan didongkrak.

g)    Turunkan kendaraan pelan-pelan bila pengangkatan sudah selesai.

Dongkrak botol dan penggunaannya.

Dongkrak botol adalah dongkrak yan paling banyak digunakan pada kendaraan karena bentuk fisiknya yang relatif kecil dan mudah dibawa atau disimpan pada kendaraan.

Gambar 16. Dongkrak botol

Penggunaan dongkrak botol:

a)    Pasang sadel   pada  titik  kendaraan  yang akan diangkat secara tepat dan kuat, jangan sampai tergelincir.

b)    Tepatkan sadel dengan sekrup penyetel.

c)    Pastikan klep pengontrol dalam keadaan tertutup rapat. Bila klep belum rapat putarlah klep searah jarum jam.

d)    Gerakkan handel dengan tuas dongkrak secara hati-hati.

e)    Bila akan menurunkan, kendorkan klep berlawanan arah jarum jam secara pelan, agar kendaraan tidak turun dengan keras.

Gambar 17. Pemasangan dongkrak botol pada kendaraan.

Dongkrak troli dan penggunaannya:

Dongkrak troli/dongkrak buaya adalah dongkrak yang dapat digeser-geser. Dongkrak ini selain digunakan untuk mengangkat kendaraan juga dapat digunakan sebagai alat bantu memindah material/komponen/part. Dongkrak Troli/buaya terdiri dari:

Handel: untuk menaikkan sadel/pengangkat pada pengangkatan beban berat.

Pompa kaki: untuk menaikkan sadel pengangkat pada pengangkatan beban ringan.

Klep pengontrol: untuk membocorkan tekanan saat menurunkan beban.

Sadel dudukan: untuk titik dukung beban yang akan diangkat.

Caster: untuk membelokkan dongkrak sewaktu menggeser beban/material.

Roda: untum memperingan dongkrak saat ditarik/digeser.

Gambar 18. Dongkrak Troli/dongkrak buaya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 19. Penggunaan dongkrak troli saat untuk

mengangkat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 20. Dongkrak troli saat untuk menggeser/membawa material/komponen/part

Dongkrak Pantograf dan penggunaannya:

Dongkrak pantograf digunakan untuk mengangkat beban ringan dan mudah dibawa di dalam kendaraan.

Gambar 21. Penggunaan dongkrak Pantograf

Dongkrak samping dan dongkrak bumper

Dongkrak samping dan dongkrak bumper digunakan untuk mengangkat kendaraan saat dilakukan perbaikan pada sistem rem, roda kendaraan yang hanya membutuhkan pengangkatan sebelah/pada sisi kendaraan.

Gambar 22. Penggunaan dongkrak samping

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 23. Penggunaan dongkrak bumper

6)    Car lift

Car lift adalah alat pengangkat khusus kendaraan. Mengangkat dengan car lift akan mempermudah mekanik dalam memperbaiki ataupun melakukan perawatan kendaraan terutama perbaikan di bawah kendaraan, karena mekanik dapat bergerak leluasa di bawah kendaraan. Jenis-jenis car lift: jenis penggerak mekanis, listrik dan hidrolis peneumatis.

Hal-hal yang perlu diperhatikan sewaktu mengangkat kendaraan dengan car lift:

a)    Pelajari petunjuk operasi alat pengangkat yang ada di bengkel sesuai jenisnya.

b)    Pastikan dudukan pengangkat benar-benar kering atau bebas dari minyak.

c)    Pastikan kendaraan tidak mempunyai beban yang tidak setabil.

d)    Pastikan alat pengangkat dapat bekerja normal.

Langkah pengangkatan:

a)    Tempatkan kendaraan tepat di tengah alat pengangkat.

b)    Aktifkan rem parkir.

c)    Tutup pintu kendaraan secara kuat.

d)    Operasikan alat pengangkat pelan-pelan sampai sadel dudukan bersentuhan dengan titik angkat kendaraan.

e)    Pastikan kendaraan tidak akan tergelincir.

f)     Operasikan alat pengangkat sampai ketinggian yang diinginkan.

Gambar 24. Penempatan kendaraan pada alat pengangkat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            Tempatkan telapak di bawah titik pengaman

Gambar 25. Penepatan sadeldudukan pada titik pengangkatan kendaraan

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 26. Pengangkatan kendaraan dengan Carlift

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 27. Pengangkatan dengan car lift 4 penopang

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 28. Pengangkatan kendaraan dengan Car lift hidrolis pneumatis.

3.    Penanganan Area kerja dan penyimpanan material / komponen / part secara aman.

Area  kerja  adalah  wilayah  atau  tempat  dimana  suatu  pekerjaan  dilakukan. Tempat kerja yang digunakan untuk melakukan pekerjaan perotomotifan   disebut  bengkel otomotif.   Bengkel  otomotif  sama seperti  bengkel – bengkel  yang lain memiliki resiko kecelakaan yang cukup  tinggi.   Oleh  sebab  itu  perlu  dilakukan  pemeliharaan  dan penataan agar resiko kecelakaan dapat ditekan menjadi sekecil mungkin.

Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait dengan area kerja :

a)    Area kerja harus ditata rapi dan bersih.

b)    Memiliki jalan yang memadai untuk lalu-lintas material atau kendaraan, juga untuk menghadapi resiko kebakaran.

c)    Bebas dari cairan licin oli, greas dan lainnya, juga bersih dari kotoran yang berserakan.

Gambar 29. Membersihkan oli dan cairan pada lantai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 30. Membersihkan kotoran pada lantai

d)    Simpan part-part bekas yang sudah tidak terpakai pada tempatnya.

e)    Bersihkan dan tempatkan kembali peralatan sehabis digunakan pada tempatnya.

Gambar 31. Penyimpanan part-part bekas

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 32. Penempatan peralatan sesudah digunakan

f)     Tempatkan material sesuai jenis pada tempat yang aman dengan selalu memperhatikan keselamatan barang dan pekerja.

Gambar 33. Penyimpanan material/part/komponen.

g)    Pastikan peralatan ventilasi udara dan penerangan semua bekerja dengan baik terutama pada area penggunaan atau penyimpanan material yang mengandung zat kimia berbahaya seperti: Bahan bakar, thiner, cat, bahan-bahan pelarut.

h)    Gunakan saluran gas buang secara kolektif bila pada ruang/bengkel kerja digunakan untuk menghidupkan kendaraan. Dalam hal ini paling tidak jendela, pintu dapat dibuka dan mememnuhi syarat sebagai media ventilasi.

i)     Memberikan tanda-tanda tulisan yang jelass pada gudang penyimpanan serta tulisan pada wadah penyimpanan terutama untuk material yang berbahaya.         

c.    Rangkuman

1.    Pengangkatan  dan   pemindahan  material / komponen / part  secara manual banyak mengandalkan tenaga manusia dalam penanganannya.

2.    Penanganan  secara  manual  meliputi:   mengangkat,    menurunkan, membawa, menarik, mendorong, menahan dan sebagainya.

3.    Grafitasi bumi adalah gaya tarik bumi yang akan menarik setiap  benda ke arah bawah.

4.    Beban yang diangkat oleh tangan  ditopang oleh otot bisep,  disalurkan ke tulang belikat oleh tandon dan  diteruskan ke  otot  punggung  atau tulang belakang.

5.    Prinsip-prinsip pengangkatan secara manual:

a)    Upayakan beban sedekat mungkin dengan badan

b)    Upayakan kedua tangan dapat memegang kuat pada benda yang akan diangkat

c)    Hindarkan gerakan putar yang mendadak

d)    Upayakan konsentrasi beban berada pada kekuatan tumpuhan kaki

e)    Upayakan badan tetap lurus/tegap saat mengangkat

f)     Upayakan beban disekitar titik tengah badan

g)    Beban yang diangkat maksimal setengah berat badan.

6.    Pengangkatan    secara    mekanis     menggunakan  alat – alat   bantu

pengangkatan antara lain: Pengungkit,  forklift, tali, seling,  hok, kran,

takel,alat bantu khusus, dongkrak, car lift dan sebagainya.

7.    Macam-macam dongkrak :  dongkrak  botol,  pantograf, dongkrak troli, dongkrak samping,dongkrak bumper, dongkrak ulur dan sebagainya.

8.    Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan Kran ataupun Takel:

a)    Memeriksa    sumber    tenaga    yang    digunakan    untuk mengoperasikan peralatan pengangkat.

b)    Takel pengangkat harus benar-benar  terpasang  baik pada tempatnya.

c)    Jika    pekerjaan   tidak   dapat   dilakukan   sendiri,   perlu dilakukan secara tim.

d)    Upayakan jangan   ada   orang   lalu – lalang  di bawah alat  pengangkat.

e)    Upayakan     material / komponen / part   jangan     sampai tergantung terlalu lama pada alat pengangkat.

f)     Upayakan     perlahan – lahan   dan  berhati – hati  sewaktu menurunkan material/komponen/part.

9.    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan dongkrak:

a)    Pastikan dongkrak benar-benar baik.

b)    Aktifkan rem parkir.

c)    Pasang ganjal pada bagian roda depan sebelah kiri bila akan mengangkat kendaraan dibagian belakang sebelah kanan atau sebaliknya.

d)    Pasang ganjal pada kedua roda belakang bila akan mengangkat kendaraan bagian depan dengan kedua roda terangkat atau sebaliknya.

e)    OFF kan kunci kontak.

f)     Jangan bekerja di bawah kendaraan saat kendaraan didongkrak.

g)    Turunkan kendaraan pelan-pelan bila pengangkatan sudah selesai.

10. Alat bantu untuk memindahkan material / komponen/part yang banyak digunakan pada bengkel otomotif adalah: dongkrak troli, kran beroda, forklift.

11. Hal-hal yang perlu diperhatikan sewaktu mengangkat kendaraan dengan car lift:

a)    Pelajari  petunjuk  operasi  alat  pengangkat  yang  ada  di bengkel sesuai jenisnya.

b)    Pastikan  dudukan   pengangkat  benar – benar kering atau bebas dari minyak.

c)    Pastikan  kendaraan  tidak  mempunyai  beban  yang  tidak setabil.

d)    Pastikan alat pengangkat dapat bekerja normal.

12. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan area kerja:

a)    Area kerja harus ditata rapi dan bersih

b)    Memiliki  jalan  yang  memadai  untuk  membawa  material, kendaraan dan jalan bila terjadi kebakaran.

c)    Bebas dari cairan oli, greas dan kotoran lainnya.

d)    Memiliki tempat penyimpanan part bekas yang memadai.

e)    Memiliki    tempat   penyimpanan   peralatan   servis   yang memadai.

f)     Memiliki tempat penyimpanan material sesuai jenisnya.

g)    Memiliki ventilasi dan penerangan yang memadai.

h)    Memiliki saluran gas buang secara kolektif.

i)     Memiliki    tanda – tanda    penyimpanan   material    sesuai jenisnya.

d.    Tugas             

1.    Siapkan    peralatan   pengangkat   yang  ada  di bengkel  sekolah  dan pelajarilah cara mengoperasikannya.

2.    Cermatilah material,    peralatan  dan   ruangan  yang  ada  di  bengkel Sekolah. Cobalah   membuat   lay-out  untuk   menempatkan / menata material,    peralatan   sesuai   ruangan   yang   ada   sesuai    dengan pengetahuan yang anda miliki.

e.    Tes formatif

1.    Jelaskan secara singkat yang dimaksud dengan pusat keseimbangan benda.

2.    Jelaskan secara singkat urutan anggota tubuh yang menahan beban pada waktu seseorang membawa beban pada kedua tangannya.

3.    Jelaskan secara singkat yang dimaksud gravitasi bumi.

4.    Sebutkan 7 hal yang perlu diperhatikan sewaktu seseorang akan mengangkat material secara manual.

5.    Sebutkan  10   macam  alat  bantu   pengangkatan   material   secara

mekanis.

6.    Sebutkan 6 macam jenis dongkrak.

7.    Sebutkan 6 hal yang perlu diperhatikan  sewaktu  menggunakan kran atau takel pengangkat.

8.    Sebutkan 6 hal yang perlu diperhatikan sewaktu  akan  menggunakan

dongkrak.

9.    Sebutkan 3 jenis alat  bantu untuk  menggeser  ataupun  memindah material yang banyak digunakan di bengkel otomotif.

10. Sebutkan 4 hal yang perlu diperhatikan saat akan menggunakan carlift.

11. Sebutkan 8 hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan area kerja.

12. Sebutkan 5 kemungkinan penyebab kecelakan yang dapat terjadi terkait dengan penanganan tempat kerja yang kurang baik.

f.     Kunci jawaban 

1.    Titik pusat gravitasi benda sebagai titik pusat atau titik berat benda saat diangkat.

2.    Beban di telapak tangan   akan disalurkan   melalui  tendon bawah, otot bisep, tendon otot bisep, tulang belikat ke otot punggung dan bermuara di tulang belakang.

3.    Gaya tarik bumi yang akan menarik setiap benda ke arah bawah.

4.    7 (tujuh) hal yang perlu diperhatikan:

a)    Upayakan beban sedekat mungkin dengan badan

b)    Upayakan kedua tangan dapat memegang kuat pada benda yang akan diangkat

c)    Hindarkan gerakan putar yang mendadak

d)    Upayakan konsentrasi beban berada pada kekuatan tumpuhan kaki

e)    Upayakan badan tetap lurus/tegap saat mengangkat

f)     Upayakan beban disekitar titik tengah badan

g)    Beban yang diangkat maksimal setengah berat badan.

5.    Pengungkit, forklift, tali, seling, hook,  kran, takel ,dongkrak, carlift dan alat khusus.

6.    Dongkrak botol, pantograf, ulir, troli, samping dan bumper

7.    6 (enam) hal yang perlu diperhatikan:

a)    Memeriksa  sumber  tenaga yang digunakan   untuk  mengoperasikan peralatan pengangkat.

b)    Takel pengangkat harus benar-benar terpasang baik pada tempatnya.

c)    Jika pekerjaan tidak dapat dilakukan sendiri,   perlu  dilakukan  secara tim.

d)    Upayakan jangan ada orang lalu-lalang di bawah alat   pengangkat.

e)    Upayakan material/komponen/part jangan sampai  tergantung  terlalu lama pada alat pengangkat.

f)     Upayakan perlahan-lahan dan berhati – hati sewaktu  menurunkan material/komponen/part.

8.    6 (enam) hal yang perlu diperhatikan:

a)    Pastikan dongkrak benar-benar baik.

b)    Aktifkan rem parkir.

c)    Pasang  ganjal  pada    bagian  roda  depan   sebelah   kiri   bila   akan mengangkat    kendaraan     dibagian    belakang  sebelah kanan  atau sebaliknya.

d)    Pasang ganjal pada kedua roda belakang bila akan mengangkat kendaraan bagian depan dengan kedua roda terangkat atau sebaliknya.

e)    OFF kan kunci kontak.

f)     Jangan bekerja di bawah kendaraan saat kendaraan didongkrak.

g)    Turunkan kendaraan pelan-pelan bila pengangkatan sudah selesai.

9.    Dongkrak troli, kran dan forklift.

10. 4 (empat) hal yang perlu diperhatikan:

a)    Pelajari petunjuk operasi alat pengangkat yang ada  di bengkel sesuai jenisnya.

b)    Pastikan dudukan pengangkat benar – benar  kering  atau  bebas  dari minyak.

c)    Pastikan kendaraan tidak mempunyai beban yang tidak setabil.

d)    Pastikan alat pengangkat dapat bekerja normal.

11. 8 (delapan) hal yang perlu diperhatikan:

a)    Area kerja harus ditata rapi dan bersih

b)    Memiliki jalan yang memadai untuk membawa  material,  kendaraan dan jalan bila terjadi kebakaran.

c)    Bebas dari cairan oli,greas dan kotoran lainnya.

d)    Memiliki tempat penyimpanan part bekas yang memadai.

e)    Memiliki tempat penyimpanan peralatan servis yang memadai.

f)     Memiliki tempat penyimpanan material sesuai jenisnya.

g)    Memiliki ventilasi dan penerangan yang memadai.

h)    Memiliki saluran gas buang secara kolektif.

i)     Memiliki tanda-tanda penyimpanan material sesuai jenisnya.

12. 5 (lima) kemungkinan penyebab kecelakaan:

a)    Adanya oli atau bahan licin yan tercecer dilantai.

b)    Penerangan yang kurang memadai.

c)    Tidak adanya tanda atau label pada penyimpanan bahan berbahaya.

d)    Peralatan pengangkat yang tidak pernah dirawat.

e)    Bahan mudah terbakar berceceran dilantai

f)     Penempatan peralatan pengangkat yang tidak standar.

Kegiatan Belajar 2: Melakukan pengangkatan/pemindahan material/komponen/part dan penataan area tempat kerja.

a.    Tujuan kegiatan belajar

1.    Siswa   dapat   melakukan   pekerjaan   pengangkatan /   pemindahan material/komponen/part secara manual.

2.    Siswa dapat melakukan pekerjaan pengangkatan pemindahan material/komponen/part secara mekanis.

3.    Siswa dapat melakukan penataan area   tempat  kerja   sesuai standar operasi kerja.

b.    Uraian materi

1.    Menata area tempat kerja dengan mengangkat dan memindahkan material/komponen/part secara manual.

2.    Menata area tempat kerja dengan mengangkat dan memindahkan material/komponen/part secara mekanis.

3.    Mengangkat kendaraan dengan alat-alat pengangkat.

4.    Menata material atau bahan-bahan berbahaya sesuai jenisnya.

c.    Rangkuman

 

d.    Tugas

1.    Tatalah material yang ada di bengkel sekolah sesuai tempat dan jenisnya dengan mengangkat dan memindahkan secara manual.

2.    Lakukan Pengangkatan material/komponen/part dengan peralatan pengangkat yang ada di bengkel sekolah.

3.    Lakukan pengangkatan kendaraan dengan macam-macam dongkrak yang ada di bengkel sekolah.

4.    Lakukan pengangkatankendaraan dengan carlift yang ada dibengkel sekolah.

5.    Tatalah material dan bahan – bahan  berbahaya yang ada di bengkel sekolah pada tempat yang sesuai dengan jenisnya.

6.    Infentarisaikan hal-hal yang kurang baik berkaitan denga penataan area tempat kerja di bengkel sekolah, lakukan perbaikan dan penataan bila diperlukan.

e.    Tes formatif            

f.     Kunci jawaban

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA 1

Kompetensi   : Pelaksanaan Operasi Penanganan secara manual.

Sub kompetensi      : Mengangkat dan memindahkan,menata material/komponen/part secara manual.

TUJUAN:

1.    Siswa dapat mengangkat dan memindah material / komponen / part secara manual.

2.    Siswa dapat menata material/komponen/part sesuai jenisnya.

KESELAMATAN KERJA:

1.    Jangan memaksakan diri sekiranya  material  tidak  dapat diangkat sendiri, angkat lah secara tim.

2.    Letakkan material/komponen/part yang paling berat di tempat yang paling bawah.

3.    Gunakan peralatan keselematan kerja sesuai jenis pekerjaan yang dilakukan.

ALAT:

1.    Kaos tangan.

2.    Rak/ meja untuk menempatkan material.

BAHAN:

1.    Macam-macam material/komponen/part otomotif.

2.    Kain majun/lap.

LANGKAH KERJA:

1.    Menyiapkan rak atau meja untuk menempatkan material.

2.    Membersihkan material/komponen/part yang akan diangkat atau dipindahkan.

3.    Melakukan pengangkatan/pemindahan material secara manual.

4.    Membuat laporan kerja berupa pencatan macam-macam material yang diangkat, dipindahkan atau disimpan, termasuk lokasi penyimpanannya.

LEMBAR KERJA 2

Kompetensi   : Pelaksanaan Operasi Penanganan secara manual.

Sub kompetensi      : Mengangkat dan memindahkan,menata material/komponen/part

secara mekanis.

TUJUAN:

1.    Siswa dapat mengangkat dan memindah material / komponen / part secara mekanis.

2.    Siswa dapat menata material/komponen/part sesuai jenisnya.

3.    Siswa dapat mengangkat kendaraan dengan macam-macam dongkrak.

4.    Siswa dapat mengangkat kendaraan dengan carlift.

KESELAMATAN KERJA:

1.    Pastikan alat pengangkat dapat bekerja normal.

2.    Hati-hati kendaraan jangan sampai tergelincir sewaktu diangkat.

3.    Jangan meninggalkan material/komponen/part tergantung pada alat pengangkat.

ALAT:

1.    Tali, seling, hook

2.    Rak/ meja untuk menempatkan material.

3.    Macam-macam jenis dongkrak.

4.    Alat pengungkit.

5.    Alat-alat pengangkat khusus.

6.    Forklift.

7.    Carlift.

BAHAN:

1.    Macam-macam material/komponen/part otomotif.

2.    Kain majun/lap.

3.    Unit kendaraan.

LANGKAH KERJA:

1.    Menyiapkan rak atau meja untuk menempatkan material.

2.    Membersihkan material/komponen/part yang akan diangkat atau dipindahkan.

3.    Melakukan pengangkatan/pemindahan material secara mekanis dengan tali,seling,hook, kran dan takel.

4.    Memindahkan barang dengan troli, forklift.

5.    Mengangkat unit kendaraan dengan carlift.

6.    Membuat laporan kerja berupa pencatan macam-macam material yang diangkat, dipindahkan atau disimpan, termasuk lokasi penyimpanannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA 3

Kompetensi   : Pelaksanaan Operasi Penanganan secara manual.

Sub kompetensi      : Mengangkat dan memindahkan,menata material/bahan berbahaya otomotif.

TUJUAN:

1.    Siswa dapat mengangkat, memindah material / bahan berbahaya otomotif sesuai jenisnya secara aman.

2.    Siswa dapat menata material/bahan berbahaya otomotif pada tempat yang sesuai standar operasi kerja.

KESELAMATAN KERJA:

1.    Hati-hati terhadap cairan berbahaya jangan mengenai kulit.

2.    Gunakan kaos tangan.

3.    Simpanlah material yang mudah terbakar menjadi satu dan berilah tulisan area bebas rokok.

4.    Pastikan tempat penyimpanan sesuai standar operasi kerja.

ALAT:

1.    Forklift dorong,kereta dorong.

2.    Rak/meja penyimpan material.

BAHAN:

1.    Macam-macam material/bahan berbahaya otomotif.

2.    Kain majun/lap.

LANGKAH KERJA:

1.    Menyiapkan rak atau meja untuk menempatkan material.

2.    Melakukan pengangkatan/pemindahan dan penataan material

3.    Membuatkan tulisan-tulisan pada jenis-jenis material berbahaya yang belum ada keterangannya.

4.    Membuatkan tulisan-tulisan peringatan di tempat atau gudang penyimpanan.

5.    Membuat laporan kerja berupa pencatan macam-macam material yang diangkat, dipindahkan atau disimpan, termasuk lokasi penyimpanannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

EVALUASI

A.   Kriteria dan Instrumen Penilaian

1.    Kriteria Penilaian Pengetahuan (Tes formatif):

a)    Siswa dapat skor 7 (tujuh) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 70 % s/d 80 %.

b)    Siswa dapat skor 8 (delapan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap  item soal antara 81 % s/d 90 %.

c)    Siswa dapat skor 9 (sembilan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 91 % s/d 100 %.

d)    Setiap item soal harus mendapat nilai minimal 7 (tujuh).

e)    Bila belum mencapai nilai tujuh siswa wajib belajar kembali dan mengulang pada item tersebut.

2.    Kriteria Penilaian Praktek

NO

ASPEK YANG DINILAI

INDIKATOR KEBERHASILAN

PENILAIAN

YA

TIDAK

7

8

9

 

1

2

3

4

5

6

7

1

Mengangkat,

memindahkan material/

komponen/part secara manual.

*  70 – 80 % Sesuai standar operasi kerja.

* 81-90 % sesuai standar operasi kerja.

* 91- 100 % sesuai standar operasi kerja.

2

Mengangkat,

memindahakan material/

komponen/part

memakai tali/

seling, hook,kran dan takel.

* 70-80 % sesuai standar operasi kerja.

* 81-90 % sesuai standar operasi kerja.

* 91-100 % sesuai standar operasi kerja.

3

Mengangkat,

memindahkan

material/

komponen/part

memakai pengungkit,

dongkrak troli dan forklift.

* 70-80 % sesuai standar operasi kerja.

* 81-90 % sesuai standar operasi kerja.

* 91-100 % sesuai standar operasi kerja.

4

Mengangkat kendaraan dengan macam-macam jenis dongkrak. * 70-80 % sesuai standar operasi kerja.

* 81-90 % sesuai standar operasi kerja.

* 91-100 % sesuai standar operasi kerja.

5

Mengangkat kendaraan dengan macam-macam jenis carlift. * 70-80 % sesuai dengan standar operasi kerja.

* 81-90 % sesuai standar operasi kerja.

* 91-100 % sesuai standar operasi kerja.

6

Memindahkan dan menyimpan material/bahan berbahaya otomotif pada area tempat kerja dan menata area tempat kerja. * 70-80 % sesuai standar operasi kerja.

* 81-90 % sesuai standar operasi kerja.

* 91-100 % sesuai standar operasi kerja.

7

K3 dan SOP Dapat menerapkan K3 dan SOP.
JUMLAH :

 

 

 

CATATAN :

1.    Nilai 7,00 (lulus baik / YA), tepat waktu dan 70-80 % memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan.

2.    Nilai 8,00 (lulus amat bai        k / YA), waktu lebih cepat dan 81-90 % memenuhi Standar minimal yang dipersyaratkan.

3.    Nilai 9,00 (lulus istimewa / YA), waktu lebih cepat dan 91-100 % memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan.

4.    Nilai Praktik = Jumlah perolehan nilai dibagi tujuh = ………………

B.   Tes Praktik : Berpedoman pada cek list kriteria penilaian Praktik yang ada pada modul ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR KEMAJUAN SISWA        

NAMA SISWA  :

NIS                           :

NO

NILAI FORMATIF 1

NILAI PRAKTIK

KETERANGAN

N1

N2

 

N= (4xN1)+(6xN2)

                        

                 10

1

   

2

   

3

   

4

   

5

   

6

   

7

   

8

   

9

   

10

   

11

   

12

   

Rata-rata

 

 

N = …………………………

 

CATATAN: Daftar kemajuan hanya diisi nilai materi yang sudah memenuhi standar minimal kelulusan.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

Bagi siswa yang belum memenuhi standar kelulusan yang ditentukan, wajib mengulangi belajar pada modul ini, terutama pada item-item soal yang belum memenuhi standar kelulusan.

Bagi siswa yang sudah berhasil lulus akan mendapatkan nilai akhir minimal 7,00 (tujuh koma nol nol) dan dapat melanjutkan ke modul berikutnya, atau bersama guru pengampu merencanakan uji eksternal untuk mendapatkan pengakuan kompetensi atau sertifikat kompetensi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (Th.   ). Perbaikan Kendaraan Ringan.  Bahan pelatihan Nasional.

Anonim. (2004). Modul Pelaksanaan Operasi Penanganan Secara Manual Jogyakarta : SMK N 2 Depok,

Daryanto. Drs. (2001). Keselamatan Kerja Bengkel Otomotif. Jakarta: Bumi Aksara.

Fatimah Sumanto,Noeraniah Akmaloedin. (1987). Biologi 2. Jakarta: Pustaka Ilmu.

PemeliharaanServis Engine dan Komponen-komponennya

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Deskripsi

Modul Pemeliharaan/servis Engine dan komponen-komponennya dengan kode OPKR. 20-001-2 B membahas tentang prosedur perawatan/servis engine gasoline/motor bensin secara berkala.

Materi kompetensi yang terdapat pada modul ini merupakan sub kompetensi dari kompetensi pemeliharaan/servis engine secara keseluruhan. Apabila siswa menguasai sub kompetensi ini, akan mudah mempelajari  kompetensi yang lainnya, terutama yang terkait dengan perbaikan engine. Dalam dunia perotomotifan, perawatan/servis engine secara berkala dikenal dengan sebutan Tune-up engine.

Setelah melaksanakan modul ini diharapkan siswa dapat memahami  prosedur perawatan/servis engine gasoline dan komponen-komponennya, serta dapat melakukan perawatan/servis engine dan komponen-komponennya secara berkala. Kompetensi yang terdapat dalam modul ini akan membekali siswa pengetahuan dan ketrampilan serta sikap yang benar yang terkait dengan setiap pekerjaan perawatan/servis engine secara berkala, sehingga siswa memiliki kemampuan yang dapat diterapkan di dunia industri perotomotifan.

Modul ini dibagi menjadi 2 kegiatan belajar yaitu: kegiatan belajar 1   prosedur perawatan/servis engine bensin dan komponen-komponennya secara berkala dan kegiatan belajar 2 prakteik perawatan/servis engine gasoline dan komponen-komponennya secara berkala.

 

B.   Prasyarat

Sebelum memulai modul ini, siswa harus sudah menyelesaikan modul OPKR.10-016 B tentang K3,  OPKR. 10-017 B tentang penggunaan peralatan dan perlengkapan tempat kerja, modul OPKR. 10-010 B Penggunaan dan pemeliharaan alat ukur modul OPKR. 20-001-1 B Prinsip kerja engine dan identifikasi komponen-komponen engine, serta modul lainnya yang harus dipelajari lebih awal sesuai dengan peta kedudukan modul.

C.   Petunjuk Penggunaan Modul

1.    Petunjuk Bagi Siswa

Untuk  memperoleh  hasil  belajar  secara  maksimal   dalam   mempelajari materi modul ini, langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:

a.    Bacalah dan pahamilah dengan seksama uraian-uraian  materi yang ada  pada  kegiatan  belajar.  Bila  ada   materi  yang  kurang jelas, siswa dapat bertanya pada guru yang  mengampu  kegiatan belajar tersebut. Kerjakanlah setiap  tugas  formatif  (soal  latihan)  untuk mengetahui   seberapa   besar   pemahaman   yang   telah  dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.

b.    Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikanlah hal-hal berikut ini:

1)    Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang diberikan.

2)    Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik.

3)    Sebelum melaksanakan praktik, siapkan alat dan bahan yang diperlukan secara cermat (lihat lembar kerja).

4)    Gunakan alat sesuai prosedur pemakaian yang benar

5)    Untuk melakukan kegiatan belajar praktik yang belum jelas, harus meminta ijin guru lebih dahulu.

6)    Setelah selesai praktik, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula.

c.     Siswa dinyatakan lulus,  bila  sudah  dapat  menjawab  seluruh  soal dengan benar tanpa melihat buku atau kunci jawaban, serta dapat melakukan praktik sesuai standar minimal  yang  ditentukan. Bila belum berhasil siswa wajib mengulang.

d.    Bila siswa sudah  dinyatakan  berhasil,  siswa  bersama  guru  dapat membuat rencana uji  kompetensi   dengan  menghadirkan  lembaga sertifikasi profesi setempat yang telah  diakui keberadaannya,  untuk mendapatkan pengakuan kompetensi dengan sertifikat.

e.    Konsultasikan dengan guru pada saat merencanakan proses belajar, saat menemui  kesulitan  dalam  menjawab  soal-soal  maupun saat  melakukan praktik,  ataupun  bila memerlukan sumber  belajar yang lain. Dapat mengkomunikasikan dengan guru bila membutuhkan pendamping dari industri pada saat belajar, juga saat akan mengerjakan modul berikutnya.

2.    Petunjuk Bagi Guru

Dalam setiap kegiatan belajar guru berperan untuk:

a.    Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar.

b.    Membimbing siswa melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.

c.     Membantu siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan siswa mengenai proses belajarnya.

d.    Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.

e.    Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.

f.     Membantu siswa mencarikan pendamping dari industri bila diperlukan.

g.    Mencatat hasil kemajuan belajar siswa.

h.    Melaksanakan penilaian internal.

i.      Menjelaskan pada siswa apabila ada yang perlu dibenahi dan merundingkan pada siswa rencana pemelajaran berikutnya.

 

D.   Tujuan Akhir

Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini siswa diharapkan:

1. Memahami prosedur perawatan/servis engine bensin dan komponennya.

2. Dapat melakukan pekerjaan perawatan/servis engine bensin secara berkala.

E.    KOMPETENSI

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETRAMPILAN

1.Memelihara/servis engine dan komponen-komponennya *Pemeliharaan/servis engine

dan komponen-komponennya

dilakukan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya.

*Informasi yang benar diakses dari spesifikasi pabrik.

*Seluruh kegiatan servise,baik proses,hasil data harus sesuai SOP,K3

*Komponen-komponen engine yang perlu diperiksa/ diservis.

*Data spesifikasi pabrik.

*Prosedur pemeliharaan/ servis.

*Menerapkan

SOP dalam pemeliharaan/servis engine dan komponennya.

*Menerapkan  K3.

*Melaksanakan kegiatan yang komplek dan tidak rutin, menjadi mandiri dan bertanggung jawab untuk pekerjaan yang lainnya.

*Prosedur pemeliharaan/

servis.

*Persyaratan keamanan peralatan/ komponen.

*Persyaratan keamanan  dan keselamatan diri.

*Melakukan perawatan/

servis engine dan komponennya.

 

F.    Cek Kemampuan AWAL

Sebelum siswa mempelajari modul ini, siswa dapat mencoba mengerjakan soal-soal yang ada pada lembar soal formatif. Bila siswa merasa dapat mengerjakan soal-soal formatif, guru pembimbing dapat melakukan tes kepada siswa yang bersangkutan dan bila hasilnya benar pembimbing dapat menyediakan bagi siswa tersebut modul berikutnya. Tetapi bila siswa belum bias, maka harus melanjutkan mempelajari modul ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMELAJARAN

A.   Rencana Belajar Siswa

Rencanakanlah setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.  Prosedur perawatan/servis engine bensin.
2.  Melakukan perawatan/servis engine bensin.

B.   Kegiatan Belajar

Kegiatan Belajar 1: Prosedur Perawatan/servis Engine Bensin

a.    Tujuan Kegiatan Belajar

Siswa dapat menjelaskan komponen-komponen yang memerlukan perawatan, serta prosedur perawatan engine bensin.

b.    Uraian Materi

Prosedur Perawatan Engine Bensin

Engine yang sudah  dioperasikan  akan  mengalami  perubahan fisik pada komponen-komponennya seperti pada: blok motor, kepala silinder, mekanik katup,  poros engkol,  kelengkapan piston,  poros nok dan  yang lainnya. Perubahan fisik tersebut  dapat mengganggu kinerja engine. Untuk mengatasi hal  tersebut perlu  dilakukan  perawatan  secara rutin/berkala, agar tingkat perubahan  yang  terjadi  dapat  ditekan   seminimal mungkin. Perawatan rutin komponen-komponen  engine  dilakukan  tidak secara langsung pada komponen-komponen tersebut di atas,  tetapi pada sistem-sistem   yang    mendukung    kinerja    engine.     Pada    industri perotomotifan perawatan  rutin  terhadap   komponen-komponen  engine disebut dengan Tune-up engine. Adapun perawatan yang dimaksud meliputi:

 

1.    Perawatan Sistem Pendinginan

Gangguan  pada  sistem  pendinginan  secara   umum  akan berakibat meningkatnya  suhu  kerja  engine  yang  akhirnya akan mengganggu kinerja engine. Gangguan langsung yang dirasakan antara lain: tenaga  berkurang, bahan bakar boros, komponen-komponen engine mengalami kerusakan pekerjaan perawatan berkala pada sistem pendinginan meliputi:

a)    Pemeriksaan tinggi permukaan air pendingin

Periksa ketinggian  air   pendingin   yang   terdapat   pada   tangki Penampungan (Reservoir). Jika tinggi air kurang isilah hingga garis FULL.

 

Gambar 1. Pemeriksaan tinggi air

 

 

 

b)    Memeriksa kondisi air pendingin

Periksalah air pendingin kemungkinan kotor terdapat karat atau tercemar oli.

Gambar 2. Pemeriksaan kondisi air pendingin

 

c)     Memeriksa sistem pendinginan

Periksalah kemungkinan terjadi:

1)    Kerusakan fisik pada radiator atau slang radiator.

2)    Kerusakan pada klem slang radiator.

3)    Kisi-kisi radiator berkarat.

4)    Kebocoran pada pompa air, pipa radiator (core),penguras.

Gambar 3. Pemeriksaan sistem pendinginan

 

d)    Memeriksa kerja tutup radiator

Dengan menggunakan alat tes tutup radiator (Radiator cap tester) periksalah kondisi pegas dan katup vakum dari tutup radiator. Tutup perlu diganti bila tekanan pembukaan dibawah angka spesifikasi pabrik, atau jika secara fisik rusak.

Tekanan pembukaan katup :

STD : 0,75 – 1,05 kg/cm2

Limit : 0,6 kg/cm2

(sesuaikan dengan ketentuan manual)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Pemeriksaan kerja tutup radiator

 

e)    Memeriksa tali kipas

1)    Tali kipas diperiksa secara visual kemungkinan terjadi: Retak, perubahan bentuk,  aus atau  terlalu keras. terkena oli atau paslin/grease.

2)    Persinggungan yang tidak sempurna antara tali dan puli.

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. Pemeriksaan tali kipas secara visual

f)     Memeriksa dan menyetel tegangan tali kipas

Dengan tekanan 10 kg/cm2, tekan tali seperti pada gambar defleksi/kelenturan tali :

Pompa air – Alternator : 7 – 11 mm

Engkol – Kompressor : 11 – 14 mm

Bila tidak memenuhi spesifikasi pabrik lakukan penyetelan tali kipas dengan SST penyetel tali kipas.

Tegangan tali kipas :

Baru : 100 – 150 Lbs

Lama          : 60 – 100 Lbs.

(sesuaikan dengan ketentuan manual)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6. Pemeriksaan tegangan tali kipas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7. Penyetelan tegangan tali kipas

 

2.    Membersihkan saringan udara/Air filter

Gangguan pada saringan udara akan berakibat tenaga engine berkurang dan bahan bakar boros. Adapun prosedur perawatannya seperti berikut:

a)    Melepas saringan udara dari engine. Jangan sampai ada benda yang masuk ke karburator.

b)    Hembuskan tekanan udara dari sisi dalam elemen.

c)    Bila elemen rusak atau terlalu kotor supaya diganti.

Gambar 8. Membersihkan elemen saringan udara

3.    Memeriksa Baterai

Kemampuan kerja baterai akan mengalami penurunan seiring dengan pemakaian. Kinerja baterai yang kurang baik akan menyebabkan: sulit untuk menstarter engine, gangguan pada sistem penerangan dan peralatan tambahan (assesoris).

Perawatan baterai meliputi:

a)    Pemeriksaan secara visual:

Periksa baterai kemungkinan:

1)    Penyangga baterai berkarat.

2)    Terminal longgar, berkarat atau rusak.

3)    Kotak baterai rusak atau bocor.

Gambar 9. Pemeriksaan baterai secara visual

 

b)    Mengukur berat jenis elektrolit

1)    Memeriksa berat jenis baterai dengan hydrometer

       Berat jenis : 1,25 – 1,27 pada suhu 200 C

2)    Periksa jumlah elektrolit pada setiap sel. Ketinggian elektrolit harus berada antara garis Uper level dan lower level.

 

 

 

Gambar 10. Pemeriksaan elektrolit baterai

 

4.    Memeriksa Sistem Pelumasan

Sistem pelumasan merupakan bagian vital pada engine. Gangguan pada sistem pelumasan akan berakibat: suhu engine meningkat berlebihan, komponen-komponen engine cepat aus dan tenaga mesin akan terasa berkurang. Perawatan pada sistem pelumasan meliputi:

a)    Memeriksa tinggi oli

Tinggi oli harus berada antara garis L dan F, bila kurang harus ditambah, periksalah kemungkinan ada kebocoran, dan   perbaikilah.

Gambar 11. Pemeriksaan tinggi oli

 

b)    Memeriksa kondisi oli

Periksa oli kemungkinan kotor, tercemar air atau sudah berubah warna karena terbakar.

Gambar 12. Pemeriksaan kondisi oli

 

c)     Mengganti saringan oli (oil filter)

1)    Membuka saringan oli dengan SST.

2)    Pasang saringan oli baru  dengan tangan sampai kencang.

3)    Hidupkan mesin dan periksa kebocoran.

4)    Matikan mesin dan periksa tinggi oli, bila kurang ditambah.

Gambar 13. Melepas saringan oli

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 14. Memasang saringan oli

5.    Memeriksa, membersihkan dan menyetel busi

Busi adalah komponen yang memberikan loncatan api untuk proses pembakaran. Bila busi kotor, rusak akan berakibat: tenaga engine kurang, engine tidak dapat idel, pincang dan sulit distarter. Perawatan busi meliputi:

a)    Pemeriksaan busi secara visual

1)    Kemungkinan retak, kerusakan pada ulir atau isolator.

2)    Keausan pada elektroda.

3)    Gasket rusak atau berubah bentuk.

4)    Elektroda terbakar atau kotor berlebihan.

 

 

 

Gambar 15. Pemeriksaan busi secara visual

b)    Membersihkan busi

1)    Jangan menggunakan pembersih busi terlalu lama.

2)    Hembuskan kompoun dan karbon pembersih dengan udara tekan

3)    Bersihkan ulir dan permukaan luar isolator.

 

Gambar 16. Membersihkan busi

 

c)    Menyetel celah busi

Memeriksa semua celah busi dengan alat pengukur celah. Jika diperlukan setelah celah busi dengan membengkokkan elektroda busi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 17. Penyetelan celah busi

6.    Memeriksa kabel tegangan tinggi

Gangguan kabel tegangan tinggi pengapian akan berakibat: engine sulit distarter, tidak dapat idel, pincang dan tenaga kurang. Hal ini dapat terjadi karena tahanan kabel menjadi sangat besar. Periksalah semua kabel tegangan tinggi tahanan kabel: kurang dari 25 kW.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 18. Cara melepas kabel busi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 19. Cara memeriksa tahanan kabel busi

 

7.    Distributor

Gangguan pada distributor akan berakibat kinerja sistem pengapian tidak sempurna, yang akhirnya akan mengganggu kinerja engine: engine sulit distart, tenaga kurang, panas berlebihan dan komponen-komponen utama engine cepat rusak. Adapun perawatannya meliputi:

a)    Memeriksa tutup distributor

Periksa tutup distributor serta rotor dari kemungkinan:

1)    Retak, berkarat, kotor atau terbakar.

2)    Terminal-terminal kotor atau terbakar.

3)    Pegas karbon terminal tengah lemah atau macet.

Gambar 20. Pemeriksaan tutup distributor

 

b)    Menyetel celah platina atau celah udara

1)    Jika platina aus, rusak atau terbakar ganti yang baru.

2)    Stel celah platina : celah blok : 0,45 mm

3)    Stel celah udara antara rotor dan proyeksi koil (pengapian elektronik). Celah udara : 0,2 – 0,4 mm

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 21. Cara penyetelan platina atau celah udara

 

c)     Memeriksa sudut Dwell

Periksa sudut dwell dengan Dwell tester.

Sudut dwell : 50 0 – 54 0

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 22. Pemeriksaan sudut dwell

d)    Memeriksa saat pengapian

Stel putaran mesin pada putaran idel, oktan selector pada posisi standar. Pada putaran maksimal 950 Rpm saat pengapian antara 50 –15 0 sebelum TMA (sesuaikan dengan spesifikasi pabrik).

Penyetelan pengapian dengan merubah posisi distributor serta menggunakan alat Timing light.

Jangan menyetel dengan Oktan selector.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 23. Penyetelan saat pengapian

 

e)    Memeriksa kerja governor advancer

1)    Rotor harus kembali dengan cepat setelah diputar searah putaran rotor dan dilepas.

2)    Rotor tidak boleh terlalu kendor.

 

Gambar 24. Pemeriksaan Governoor advancer

 

f)     Memeriksa governor advancer dengan engine hidup

Hidupkan engine dan lepaskan  slang  vakum  pada distributor. Saat pengapian berubah-ubah sesuai putaran engine.

Gambar 25. Pemeriksaan Governoor advancher dengan engine hidup

 

g)    Memeriksa kerja Vacum advancer

Hubungkan slang vakum pada distributor. Oktan selector akan berubah-ubah sesuai putaran engine.

Gambar 26. Pemeriksaan Vacum advancer

 

 

 

8.    Menyetel Celah Katup

Perubahan pada setelan celah katup akan berakibat pemasukan gas baru dan pengeluaran gas bekas terganggu dan akan menyebabkan tenaga engine berkurang, putaran idel terganggu dan suara berisik. Adapun prosedur penyetelannya sebagai berikut:

a)    Menepatkan tanda timing

1)    Panaskan engine kemudian matikan

2)    Tepatkan silinder no 1 pada TOP kompresi

b)    Mengencangkan baut-baut kepala silinder dan penumbuk katup.

1)    Baut kepala silinder: 5,4 – 6,6 kg.m

2)    Baut penumbuk katup: 1,8 – 6,6 kg.m

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 27. Pengencangan baut kepala silinder dan penumbuk katup.

 

c)     Menyetel Celah Katup

Celah katup diukur di antara batang katup dengan lengan penumbuk (Rocker arm).

Celah katup hisap: 0,20 mm, katup buang: 0,30 mm (sesuaikan dengan ketentuan manual)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 28. Penyetelan katup TOP kompresi silinder 1

 

Putar satu kali putaran (360 0), stel pada TOP kompresi silinder 4.

Gambar 29. Penyetelan katup TOP kompresi silinder 4

 

9.    Memeriksa Karburator

Untuk penyetelan karburator gunakan manual sesuai jenis karburator dan merek kendaraannya.

Gangguan pada sistem karburator akan berakibat: tenaga engine berkurang, putaran idel tidak baik dan bahan bakar boros. Perawatan pada sistem karburator meliputi:

a)    Memeriksa katup trotel

1)    Katup trotel harus membuka penuh saat pedal gas ditekan penuh.

2)    Penyetelan dilakukan melalui kabel gas atau baut penyetop pedal gas.

Gambar 30. Pemeriksaan katup trotel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 31. Penyetelan pembukaan katup trotel

 

b)    Memeriksa Pompa Akselerasi

Bensin harus menyemprot keluar dari Jet saat katup trotel terbuka.

Gambar 32. Pemeriksaan pompa akselerasi.

 

c)     Memeriksa Katup Cuk Konvensional

Katup cuk harus membuka penuh bila tombol cuk ditarik penuh dan menutup penuh bila tombol dilkembalikan.

Gambar 33. Pemeriksaan katup cuk saat tombol ditarik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 34. Pemeriksaan katup cuk saat tombol dilepas

d)    Memeriksa Pembuka Cuk Otomatis

1)    Memeriksa BVSV mesin dalam keadaan dingin, suhu air dibawah 30 0C, lepaskan slang vakum dari pembuka cuk.

Gambar 35. Pelepasan slang vakum penarik cuk

 

2)    Menarik tombol cuk, menekan pedal gas sekali dan menghidupkan engine.

Gambar 36. Penarikan tombol cuk engne hidup dan digas

 

3)    Pasang kembali slang vakum, penghubung cuk tidak bergerak.

 

Gambar 37. Pemeriksaan penghubung cuk

4)    Memeriksa BVSV keadaan engine panas. Hidupkan mesin sampai suhu kerja, matikan lalu lepaskan slang vakum dari pembuka cuk.

Gambar 38. Pelepasan slang vakum dari penghubung cuk

5)    Tarik tombol penuh, tekan pedal gas sekali, dan kembalikan tombol  posisi setengah.

Gambar 39. Tombol cuk posisi setengah

6)    Pastikan nok idel tinggi pada langkah kedua, dan hidupkan  engine.

 

 

 

 

 

Gambar 40. Pengecekkan nok idel tinggi pada langkah kedua

7)    Pasang kembali slang vakum, pastikan linkage cuk bergerak dan nok idel tinggi dibebaskan pada langkah ketiga. Pada saat tombolcuk ditekan habis, putaran engine kembal idel. Perhatikan gambar berikut:

 

 

 

Gambar 41. Nok idel tinggi pada langkah ketiga

10.         Penyetelan Putaran dan Campuran Idel (Gunakan selalu buku manual sesuai merek kendaraan dan Tahun pembuatannya).

Dalam penyetelan putaran dan campuran idel, perlu diperhatikan hal-hal berikut:

a)    Saringan udara dalam keadaan terpasang

b)    Suhu air pendingin normal (suhu kerja)

c)    Katup cuk terbuka penuh

d)    Semua perlengkapan tambahan dimatikan

e)    Semua saluran vakum terpasang

f)     Transmisi pada posisi netral

g)    Saat pengapian benar-benar tepat (sudah distel)

h)    Tachometer dan pengukur vakum terpasang

i)     Pengukur CO pada posisi NOL siap pakai.

a)   Lepaskan slang HIC dan sumbatlah ujung slangnya.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 42. Pelepasan slang HIC

 

b)   Membuka kap pembatas idel

Membuka kap pembatas idel pada skrup pengatur campuran idel jika terpasang seperti gambar berikut:

Gambar 43. Cara membuka kap pembatas idel

 

c)    Menyetel idel pada putaran spesifikasi

Menyetel putaran idel pada putaran spesifikasi (600-800 Rpm), dengan jalan menyetel sekrup pengatur seperti berikut:

Gambar 44. Penyetelan putaran idel

 

d)   Menyetel vakum maksimum

Stel hingga vakum maksimum dengan memutar sekrup pengatur campuran idel dengan SSTseperti berikut:

Gambar 45. Penyetelan vakum maksimum

e)   Menyetel putaran dan campuran idel

Ulangi penyetelan putaran dan campuran hingga vakum benar-benar maksimum seperti berikut:

Gambar 46. Penyetelan putaran dan campuran idel

 

f)    Cek putaran dan campuran idel

Pengecekan setelan putaran dan campuran idel dengan menarik link gas kemudian melepaskan kembali. Pastikan Rpm kembali ke posisi spesifikasi seperti berikut:

Gambar 47. Pengecekan setelan putaran dan campuran idel

11.    Mengukur Konsentrasi CO Pada Gas Buang

a)    Menaikkan putaran sekitar 200 Rpm selama 30 – 60 detik.

b)    Tunggu 1 menit, baru lakukan pengukuran. Pengukuran harus dilakukan selama 3 menit seperti berikut:

Gambar 48. Pengukuran konsentrasi CO

c)    Jika  seluruh  pekerjaan  penyetelan  sudah  selesai,   kembalikan slang katup HIC seperti semula dan pasang kap pembatas idel yang baru seperti berikut:

Gambar 49. Pemasangan slang katup HIC dan Kap pembatas idel.

 

12.    Memeriksa Tekanan Kompresi Engine

a)    Panaskan engine sampai suhu kerja

b)    Lepas semua busi

 

 

Gambar 50. Melepas busi

c)    Melepas kabel tegangan tinggi dari koil pengapian agar aliran skunder terputus.

 

Gambar 51. Pelepasan kabel tegangan tinggi koil

d)    Memasang kompresi tester pada  lubang busi, buka trotel penuh dan start engine pada putaran: 250 Rpm selama maksimal 3 detik. Baca hasil pengukuran antara 9 – 12 kg/cm2 (sesuaikan dengan manual merek kendaraan) yang diukur.

Gambar 52. Pemeriksaan tekanan kompresi

 

 

c.    Rangkuman

1.    Perawatan komponen-komponen engine dilaksanakan dengan pekerjaan Tune-up engine.

2.    Tune-up engine: mengembalikan kinerja engine secara maksimal dengan memelihara, menyetel dan mengganti komponen yang mendukung kinerja engine.

3.    Pekerjaan Tune-up meliputi:

a)        Sistem pendingin

b)        Tali kipas

c)        Saringan udara

d)        Baterai

e)        Oli mesin

f)         Busi

g)        Kabel tegangan tinggi

h)    Distributor

i)     Baut kepala silinder dan penumbuk katup

j)     Celah katup

k)    Karburator

l)     Putaran idel

m)  Konsentrasi CO

n)    Tekanan kompresi.

4.    Alat tes sistem pendinginan adalah Radiator tester.

5.    Pengukuran tegangan tali kipas antara pompa air dan alternator, antara engkol dan kompressor.

6.    Pengukuran baterai meliputi: kondisi terminal, kondisi kotak baterai dan berat jenis elektrolit.

7.    Perawatan sistem pelumasan: kondisi dan kapasitas oli, penggantian saringan oli.

8.    Perawatan busi: membersihkan , menyetel atau mengganti busi.

9.    Tahanan kabel tegangan tinggi kurang dari 25 kW.

10.     Pemeriksaan distributor meliputi: tutup dan terminal-terminal tutup distributor,rotor, governor advancer, vakum advancer, penyetelan celah platina dan sudut dwell.

11.     Prosedur menyetel pengapian: hidupkan engine, pasang timing light, lihat tanda penyesuai, tepatkan dengan menggerakkan distributor.

12.     Prosedur menyetel celah katup: Kencangkan baut kepalasilinder dan penunjang batang penumbuk, posisikan tanda timing pada TOP kompresi silinder 1, setel katup buang silinder 1 dan 3 dan katup masuk silinder 1 dan 2. Putar 360 0 Setel katup masuk dan buang yang belum disetel.

13.     Pemeriksaan Karburator meliputi: kerja trotel,pompa akselerasi, cuk,  pembuka cuk, putaran dan campuran idel.

14.     Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menyetel putaran dan campuran idel: air filter terpasang, suhu air normal, cuk membuka penuh, perlengkapan tambahan mati, semua slang vakum terpasang, transmisi netral, pengapian tepat, tacho dan pengukur vakum terpasang dan meteran CO posisi NOL siap pakai.

15.     Prosedur tes tekanan kompresi: Panaskan engine, membuka semua busi,  melepas kabel tegangan tinggi koil, memasang alat tes, menstarter engine dan membaca hasil pengukuran.

d.    Tugas

1.    Carilah dan pelajarilah minimal dua buku manual suatu kendaraan bermesin bensin, pelajarilah  pada  bagian  Tune-up engine.

2.    Catatlah dalam buku tugas merek kendaraan yang  dipelajari, dan bagian komponen yang memerlukan penyetelan serta spesifikasi penyetelannya.

e.    Tes formatif

1.    Jelaskan yang dimaksud dengan Tune-up engine.

2.    Sebutkan 15 pekerjaan Tune-up engine.

3.    Sebutkan 8 alat tester yang digunakan untuk pekerjaan Tune-upmotor bensin.

4.    Sebutkan 5 pekerjaan tune-up pada sistem pendingin.

5.    Sebutkan 4 pemeriksaan pada baterai.

6.    Apa akibatnya bila kapasitas oli kurang?

7.    Apa akibatnya bila busi kotor, tahanan kabel melebihi ketentuan?

8.    Sebutkan 8 pemeriksaan/penyetelan terkait dengan distributor.

9.    Engine 4 silinder FO 1342, pada  TOP  kompresi  silinder  4  katup mana saja yang bisa disetel?

10. Sebutkan 6 pemeriksaan pada karburator.

11. Sebutkan 9 ketentuan sebelum menyetel putaran dan  campuran idel.

12. Sebutkan 2 prasyarat pengetesan tekanan kompresi.

f.     Kunci Jawaban

1.    Mengembalikan kinerja engine secara maksimal dengan, memeriksa, menyetel, membersihkan dan mengganti komponen.

2.    Memeriksa kondisi air, kapasitas air, tali kipas, baterai, oli, saringan oli,  busi, kabel tegangan tinggi, tutup distributor, rotor, governor, vakum advancer, celah platina, pengapian, celah katup, karburator, putaran idel campuran idel dan tekanan kompresi.

3.    Radiator tester, Radiator   cap tester,  Hydro meter, Tacho meter, Dwell tester, Timing light, vakum meter, CO meter, Compression Tester.

4.    Memeriksa kondisi air, kapasitas air, sistem  pendingin, tutup radiator dan tali kipas.

5.    Terminal baterai, Berat jenis  elektrolit, tegangan dan kebocoran elektrolit.

6.    Engine panas, komponen engine cepat rusak.

7.    Engine sulit hidup, tenaga kurang.

8.    Kondisi tutup, terminal-terminal, rotor, vakum advancer, governoor, celah platina, pengapian dan pegas karbon.

9.    Katup masuk silinder 3 dan 4 serta katup buang silinder 2 dan 4.

10. Trotel, pompa akselerasi, cuk, pembuka cuk, putaran idel dan campuran idel.

11. Saringan udara terpasang, suhu air normal, cuk membuka penuh, perlengkapan tambahan mati, slang vakum terpasang, transmisi netral, pengapian tepat,Tacho dan pengukur vakum terpasang serta CO meter posisi NOL siap pakai.

12. Engine pada suhu kerja, Trotel membuka penuh.

Kegiatan belajar 2: Perawatan/servis Engine Bensin

 

a.            Tujuan Kegiatan Belajar

Siswa dapat melakukan perawatan/servis engine bensin sesuai ketentuan standar operasi kerja dan K3.

b.            Uraian Materi

1.    Melakukan praktik perawatan/servis engine bensin dengan engine yang ada di bengkel sekolah.

2.    Menggunakan buku manual sesuai engine  yang  digunakan untuk latihan.

3.    Menerapkan prosedur K3 dalam praktik.

4.    Gunakan lembar kerja yang ada pada modul  ini  untuk  pedoman praktik.

c.             Tugas

1.    Lakukan latihan  praktik   perawatan/servis  engine  bensin pada engine stand atau  pada unit  kendaraan  yang  ada pada bengkel sekolah berulang-ulang sampai benar-benar menguasai  materi/trampil.

2.    Catatlah   dalam   buku   tugas   setiap   hasil   pemeriksaan   dan perbaikan/penyetelan yang dilakukan serta kesimpulan hasilnya.

3.    Laporkan pada  guru pembimbing  bila  sudah  menguasai  materi untuk dilakukan tes praktik.

d.            Tes formatif

Lakukan   pekerjaan   Perawatan  engine   bensin   secara berkala sesuai prosedur standar dan prosedur Kesehatan dan keselamatan kerja.

e.            Kunci jawaban

Berpedoman pada kriteria penilaian praktik pada modul ini   dan pada buku manual sesuai yang digunakan untuk  praktikum, bila menggunakan buku manual.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA

Kompetensi             : Pemeliharaan/servis Engine dan Komponennya.                         

Sub kompetensi      : Perawatan Berkala Motor Bensin.

                  

TUJUAN:

1.    Siswa dapat melakukan pekerjaan perawatan berkala motor bensin.

KESELAMATAN KERJA:

1.    Pergunakan peralatan sesuai fungsinya.

2.    Elektrolit baterai jangan sampai kena anggota badan dan pakaian.

3.    Pastikan hand rem aktif bila menggunakan unit kendaraan dalam belajar.

ALAT:

1.    Peralatan tangan standar.

2.    Peralatan Tune-up motor bensin standar.

3.    SST untuk Tune-up.

4.    Fender cover.

5.    Tempat komponen.

6.    Kompresor udara.

7.    Buku manual sesuai jenis/merek engine yang digunakan.

BAHAN:

1.    Engine stand motor bensin atau unit kendaraan.

2.    Oli pelumas engine, Saringan oli, busi, baut-baut platina.

3.    Elektrolit baterai/air baterai.

4.    Air pendingin.

5.    Kertas gosok.

6.    Kain lap (majun).

7.    Tali kipas.

LANGKAH KERJA:

1.    Siapkan peralatan dan bahan.

2.    Pastikan hand rem aktif bila menggunakan unit kendaraan.

3.    Praktek Tune-up dengan langkah seperti pada manual.

4.    Diskusikan dengan teman atau Tanya pembimbing bila ada yang ragu.

5.    Catatlah hasil pemeriksaan dan penyetelan komponen pada buku tugas.

6.    Ulangi pekerjaan ini sampai benar-benar kompetensi.

7.    Kembalikan alat dan bahan seperti semula.

8.    Bersihkan lingkungan kerja seperti semula.

9.    Laporkan pada pembimbing bila sudah menguasai materi untuk bersama-sama merencanakan uji kompetensi internal.

                  

         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

EVALUASI

A.   Kriteria dan Instrumen Penilaian

1.                   Kriteria Penilaian Pengetahuan (Tes 1 dan Tes 2):

a.    Siswa dapat skor 7 (tujuh) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 70 % s/d 80 %.

b.    Siswa dapat skor 8 (delapan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap  item soal antara 81 % s/d 90 %.

c.     Siswa dapat skor 9 (sembilan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 91 % s/d 100 %.

d.    Setiap item soal harus mendapat nilai minimal 7 (tujuh). Bila belum mencapai nilai tujuh siswa wajib belajar kembali dan mengulang pada item tersebut.

 

2.    Kriteria Penilaian Praktik

      

NO

ASPEK YANG DINILAI

INDIKATOR KEBERHASILAN

PENILAIAN

YA

TIDAK

7

8

9

 

1

2

3

4

5

6

7

1

 Sistem Pendinginan Dapat memeriksa kondisi dan kapasitas air, kondisi radiator dan slang radiator, tes tekanan sistem dan kerja tutup radiator mengetes, serta dapat menguras dan mengganti air pendingin

Memeriksa dan menyetel tegangan tali kipas.

2

Saringan udara Dapat memeriksa kondisi dan membersihkan serta mengganti elemen saringan

3

Baterai Dapat memeriksa kondisi, penyangga, hubungan dan kondisi terminal, kebocoran, kapasitas dan berat jenis elektrolit

4

Sistem Pelumasan Dapat memeriksa kapasitas dan kondisi oli, mengganti oli, memeriksa dan mengganti saringan oli

5

Busi. Dapat memeriksa kondisi busi, membersihkan dan menyetel busi

6

Kabel tegangan tinggi. Dapat mengukur tahanan kabel tegangan tinggi.

7

Distributor Pengapian Dapat memeriksa kondisi tutup distributor,rotor, kerja governor dan vakum advancer, memeriksa dan menyetel celah platina, memeriksa dan menyetel sudut dwell, memeriksa dan menyetel saat pengapian.

8

Celah Ktup Dapat menepatkan timing katup,mengukur dan menyetel katup. Mengencangkan baut kepala silinder dan rocker arm.

9

Tekanan Kompresi Dapat mengukur tekanan kompresi serta menyimpulkan hasilnya

10

Karburator Dapat memeriksa dan menyetel trotel,pompa akselerasi, cuk, pembuka cuk dan menyetel campuran serta putaran idel.

11

K3 dan SOP Dapat menerapkan K3 dan SOP.

 

CATATAN:

1.    Nilai 7,00 (lulus baik/YA), tepat waktu dan memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan.

2.    Nilai 8,00 (lulus amat baik/YA), waktu lebih cepat dan memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan.

3.    Nilai 9,00 (lulus istimewa/YA), waktu lebih cepat dan kwalitas melebihi standar minimal yang dipersyaratkan.

DAFTAR KEMAJUAN SISWA   

NAMA SISWA :…………………………………

NIS                :…………………………………

 

NO SOAL

NILAI TES 1

NILAI TES PRAKTIK

KETERANGAN

 

N1

N2

 

Nilai = Rata-rata nilai Tes 1 (N1) dikalikan 4 ditambah nilai rata-rata tes praktik (N2) dikalikan 6 kemudian dibagi 10

 

         (4xN1) + (6xN2)

N II=      

                  10

NII= Nilai akhir

         OPKR.20-001-2 B

1      

   

2      

   

3      

   

4      

   

5      

   

6      

   

7      

   

8      

   

9      

   

10   

   

11   

   

12   

   

13   

   

14   

   

15   

   
RATA-RATA     N II = ………………

 

 

 

CATATAN:

Daftar kemajuan hanya diisi nilai materi yang sudah memenuhi standar minimal kelulusan.

 

B.   Kunci Jawaban

Tes 1

1.    Mengembalikan kinerja engine secara maksimal dengan, memeriksa,  menyetel, membersihkan dan mengganti komponen.

2.    Memeriksa kondisi air, kapasitas air, tali kipas, baterai, oli, saringan oli,  busi, kabel tegangan tinggi,  tutup distributor, rotor, governor, vakum advancer, celah platina, pengapian, celah katup, karburator, putaran idel campuran idel dan tekanan kompresi.

3.    Radiator tester, Radiator cap tester, Hydro meter, Tacho meter, Dwell tester, Timing light, vakum meter, CO meter, Compression Tester.

4.    Memeriksa kondisi air, kapasitas air, sistem pendingin, tutup radiator dan tali kipas.

5.    Terminal baterai, Berat jenis elektrolit, tegangan dan kebocoran elektrolit.

6.    Engine panas, komponen engine cepat rusak.

7.    Engine sulit hidup, tenaga kurang.

8.    Kondisi tutup, terminal-terminal, rotor, vakum advancer, governor, celah platina, pengapian dan pegas karbon.

9.    Katup masuk silinder 3 dan 4 serta katup buang silinder 2 dan 4.

10.     Trotel, pompa akselerasi, cuk, pembuka cuk, putaran idel dan campuran idel.

11.     Saringan udara terpasang, suhu air normal, cuk membuka penuh, perlengkapan tambahan mati, slang vakum terpasang, transmisi netral, pengapian tepat, Tacho  dan  pengukur  vakum  terpasang dan CO meter posisi NOL siap pakai.

12.     Engine pada suhu kerja, Trotel membuka penuh.

Tes 2

Berpedoman pada criteria penilaian praktik dan buku manual  sesuai  yang digunakan, bila menggunakan buku manual.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

Siswa yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke modul berikutnya. Sebaliknya bila siswa dinyatakan tidak lulus, maka siswa tersebut harus mengulang modul ini dan tidak diperkenankan untuk mengambil modul selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.  (t.th.). Pedoman Reparasi Toyota 2K,3K,4K,5K. Jakarta: PT. Toyota Astra  Motor.

Anonim.  (1995).   New Step 1 Training Manual.    Jakarta:    PT. Toyota Astra Motor.

Anonim.  (1983). 1 W Engine Service Training Information.   Jakarta: Toyota Motor Corporation

Anonim.  (2003). Job  Sheet Tune-up  Motor Bensin.    Yogyakarta:    SMKN 2 Depok

Perbaikan Sistem Rem

Bab. II

Pembelajaran

A.   Rencana Belajar Siswa

Sebelum anda melanjutkan mempelajari modul ini, sebaiknya anda membuat rencana belajar dan mendiskusikan dengan guru/ tutor yang berkaitan dengan modul pemelajaran ini. Untuk membuat perencanaan kegiatan belajar anda, maka isilah rencana kegiatan tersebut dalam format berikut ini.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Tanda Tangan Guru

Keg. Bel. 1
Keg. Bel. 2
Keg. Bel. 2
Evaluasi
Uji Komp.

B.   Kegiatan Belajar 1

1.   Kegiatan Belajar

a.    Tujuan Kegiatan Belajar

Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, diharapkan siswa dapat:

1)    Menjelaskan konstruksi dan cara kerja tangan.

2)    Mengidentifikasi macam-macam penyetel rem tangan.

3)    Memeriksa, memperbaiki dan menyetel rem tangan.

b.   Uraian Materi

1)  Rem Parkir

Rem parkir (parking brake) terutama digunakan untuk parkir kendaraan. Mobil penumpang dan kendaraan niaga yang kecil mempunyai rem parkir tipe roda belakang (rem kaki), atau rem parkir ekslusif yang dihubungkan dengan roda-roda belakang.

Kendaraan niaga yang besar menggunakan rem parkir tipe center brake yang dipasang antara propeller shaft dan transmisi. Sistem rem parkir terdiri dari tuas rem, stick atau pedal, kabel atau tipe mekanisme batang (rod) dan tromol rem dan sepatu yang membangkitkan daya pengereman.

fortuna

2) Cara Kerja

Mekanisme kerja (operating mechanism) pada rem parkir pada dasarnya sama untuk tipe rem parkir belakang dan tipe center brake. Tuas rem parkir ditempatkan berdekatan dengan tempat duduk pengemudi dengan menarik tuas rem parkir maka rem bekerja melalui kabel yang dihubungkan dengan tuas.

Ada beberapa tipe tuas rem parkir seperti diperlihatkan di bawah ini, yang digunakan bergantung pada design tempat duduk pengemudi dan sistem kerja yang dikehendaki.

Tuas rem parkir dilengkapi dengan ratchet utnuk mengatur tuas pada suatu posisi pengetesan. Pada beberapa tuas rem parkir mur penyetelannya dekat dengan tuas rem, dengan demikian penyetelan jarak tuas dapat dengan mudah distel.

Kabel rem parkir memindahkan gerakan tuas ke tromol rem sub-assembly. Pada rem parkir roda belakang, dibagian tengah kabel diberi equalizer untuk menyamakan daya kerjanya tuas pada kedua roda-roda. Tuas intermediate (intermediate lever) dipasang untuk menambah daya pengoperasian.

3) Body Rem Parkir

a)    Rem Parkir Tipe Roda Belakang

Bodi rem parkir dikelompokkan menjadi dua tipe structural bergantung pada andilnya tromol rem atau piringan rem (rem kaki) atau komponen rem yang terpisah.

  • Pelayanan Rem Tipe Sharing (Rem Kaki)

Tipe rem parkir ini digabungkan dengan rem kaki. Hubungannya dilakukan secara mekanik dihubungkan pada sepatu rem pada kendaraan yang mempunyai tromol rem, atau pada piston pada mobil yang menggunakan disc brake.

  • Kendaraan dengan tromol rem

Pada tipe rem parkir ini, sepatu rem akan mengembang oleh tuas sepatu rem dan shoe strut (lihat gambar). Kabel rem parkir dipasang pada tuas sepatu rem dan daya kerja dari tuas rem parkir dipindahkan melalui kabel rem parkir ke tuas sepatu rem.

  • Kendaraan dengan rem piringan

Dalam tipe rem parkir ini, mekanisme rem parkir disatukan dalam caliperr rem piringan. Seperti pada gambar di bawah, gerakan tuas menyebabkan poros tuas (lever shaft) berputar menyebabkan spindle menggerakkan piston. Hasilnya, pad terdorong menekan rotor piringan (disc rotor).

Pad menjadi aus dan langkah rem parkir akan bertambah dengan alasan ini, maka dilengkapi mekanisme penyetelan otomatis pada mekanisme rem parkir untuk menjaga langkah spindle agar tetap konstan setiap waktu.

  • Tipe rem parkir deveted

Pada tipe rem parkir ini, tromol rem parkir terpisah dari rem piringan belakang, seperti pada gambar. Cara kerjanya sama dengan tipe rem parkir seperti pada tromol rem.

b)   Tipe Center Brake

Tipe center brake ini banyak digunakan pada kendaraan komersil. Tipe ini salah satu dari tipe rem tromol tetapi dipasang antara bagian belakang transmisi dan bagian depan propeller shaft.

Pada rem parkir tipe center brake ini daya pengeremannya terjadi pada saat sepatu rem yang diam ditekan dari bagian dalam terhadap tromol yang berputar bersama out put shaft transmisi dan propeller shaft. Tipe rem ini bekerjanya sama dengan rem parkir tipe sharing pada kendaraan yang menggunakan rem tromol.

4)   Memperbaiki Rem Tangan
Masalah yang biasa terjadi pada rem tangan adalah ketika memarkir kendaraan. Pada tempat yang menurun, kendaraan masih juga bergerak. Hal umum sebagai penyebab masalah pengereman di antaranya adalah:
a)      Kawat penarik telah mulur/ kendor atau karat.
b)     Tempat sambungan kendor atau karat.
c)      Penyetelan kurang tepat.
d)     Jarak bidang pengereman antara kanvas rem/ pad dan tromol/ cakram terlalu besar.
Oleh karena itu, sebelum kegiatan perbaikan, pemeriksaan terhadap komponen dan cara kerjanya harus dilakukan, yaitu:
a.    Pastikan seluruh komponen berada pada kondisi normal dan dapat digunakan dengan baik.
b.    Periksa gerakan tuas rem dengan cara menarik sampai kedudukan pengerem, dan terdengar suara “klik” sesuai spesifikasi. Posisi tuas rem yang benar biasanya setengah dari keseluruhan gerakan tuas.
Apabila setelah dilakukan pemeriksaan, sedangkan kerja rem tidak memperoleh hasil yang memuaskan, lakukan perbaikan dan penyetelan.
a.    Bilamana tarikan kawat rem tidak lancar, berikanlah pelumasan jika masih memungkinkan.
b.    Bilamana tarikan kawat melebihi spesifikasi karena kawat mulur, gantilah kawat beserta kelengkapannya.
c.    Bila tarikan kawat melebihi spesifikasi karena setelan, lakukan penyetelan pada baut penyetel yang ada di tuas. Atau bilamana masih baik, dapat juga dilakukan penyetelan di bagian penyama (equalizer) di bagian bawah kendaraan.

Gambar tempat perbaikan rem tangan

 

d.    Untuk penyetelan jarak bidang pengereman pada rem tromol tanpa penyetel otomatis, melalui pemutaran bintang (star) penyetel yang ada dalam tromol. Sedangkan, pada rem tromol dengan penyetel otomatis, jarak bidang pengereman telah dijamin oleh penyetel otomatis.

1. Tuas penyetel

2. Silinder roda

3 dan 9: pegas pengembali

4. Mur penyetel dengan penghubung berulir

5 dan 11: Penahan

6. Tuas rem parkir

7  dan 10: Sepatu rem

8. Jangkar (Anchor)

12. Mur penahan sepatu rem

e.    Untuk penyetelan jarak bidang pengereman pada rem cakram, menggunakan sekrup penyetel (3) apabila dilakukan, pengereman, tuas rem (2) karena tarikan kabel rem akan menekan piston beserta padnya melawan cakram dengan baik.
Celah Sepatu Rem
Celah antara tromol dan kanvas yang besar akan menyebabkan kelambatan pada pengereman. Bila celah antara tromol dan kanvas terlalu kecil, rem akan terseret dan menyebabkan keausan pada tromol dan kanvas. Begitu juga, apabila celah sepatu pada keempat rodanya tidak sama pada semua roda-rodanya, maka kendaraan akan tertarik ke salah satu arah atau roda belakang kendaraan akan seperti ekor ikan (yang mengibas ke kanan dan ke kiri).
Untuk mencegah kejadian ini, penting sekali untuk menyetel secara tepat celah antara tromol dan kanvas sesuai spesifikasi yang dianjurkan dan melakukan perawatan setiap saat.
Pada beberapa tipe rem, penyetelannya bekerja secara otomatis, sedangkan untuk tipe lainnya celahnya harus dilakukan secara terbuka.

Penyetelan Rem Tangan

Stel pada bagian penyetel sampai tercapai keadaan sesuai dengan gambar-gambar di bawah ini;

Tarik penuh, gerak batang 10 – 20 gigi

Kontrol: tarik 3 gigi, roda masih harus dapat berputar bebas

Tarik penuh, gerak tuas harus 3 – 7 gigi

Kontrol: tarik 1 gigi, roda masih harus dapat berputar bebas

Kontrol Kesamaan Kerja Rem Kanan dan Kiri

Tarik tuas tangan, gigi per gigi, sampai rem tangan mulai berfungsi. Kalau kondisi rem baik, hambatan gesek sama pada kedua roda.

Tarik tuas rem tangan lagi, gigi per gigi, sampai roda tak dapat diputar. Kalau rem tangan berfungsi dengan baik, hal itu terjadi dalam waktu bersamaan pada kedua roda.

Ketidaksamaan kerja rem dapat berasal dari:

-          Nilai gesekan yang berbeda (tromol, kanvas)

-          Kelancaran jalan kabel rem tangan yang berbeda.

c.    Rangkuman

?  Rem parkir (parking brake) terutama digunakan untuk parkir kendaraan.

?  Sistem rem parkir terdiri dari tuas rem, stick atau pedal, kabel atau type mekanisme batang (rod), tromol rem dan sepatu rem.

?  Body rem parkir dikelompokkan menjadi 2 type:

§  Type sharing

§  Type deveted

?  Hal-hal yang menyebabkan masalah pada pengereman:

§  Kawat penarik molor/ kendur

§  Tempat sambungan kendur

§  Penyetelan kurang tepat

§  Jarak pengereman kanvas dan tromol/ cakram terlalu besar

d.    Tugas

Amati sistem rem parkir dan komponen pengoperasian yang dipergunakan pada salah satu mobil yang ada di bengkel otomotif. Jelaskan cara kerja sistem tersebut dengan disertai gambar!

e.    Test Formatif

1.    Jelaskan fungsi rem parkir pada mobil!

2.    Sebutkan hal-hal yang menyebabkan kendaraan masih bergerak pada waktu di parkir pada tempat yang menurun!

3.    Jelaskan fungsi tuas intermediate (intermediate lever)!

4.    Sebutkan komponen-komponen yang terdapat pada rem parkir!

5.    Sebutkan 3 type tuas rem parkir yang banyak dipergunakan pada mobil!

Perhatian

Sebelum melanjutkan pada kegiatan selanjutnya, cocokanlah jawaban anda dengan yang termuat pada halaman berikut.

 

 

 

 

 

 

 

f.     Kunci Jawaban Formatif

1.    Fungsi rem parkir untuk memarkir kendaraan agar tidak bergerak.

a)    Kawat penarik kendor

b)    Tempat sambungan kendor/ karat

c)    Penyetelan kurang tepat

d) Jarak bidang pengereman antara kanvas dan tromol/ cakram terlalu besar.

2.    Untuk menambah daya pengoperasian.

3.    Tuas rem, stick/pedal, kabel, tromol rem dan sepatu rem.

a)    Type Tuas

b)    Type Stick

c)    Type Pedal

Perhatian

1.    Apakah Anda puas dengan jawaban Anda, jika belum catat bagian yang Anda tidak puas. Diskusikan dengan Tutor Anda.

2.    Bila puas lanjutkan dengan kegiatan berikutnya.

g.    Lembar Kerja

1.    Memeriksa fungsi rem tangan

2.    Membedakan bermacam-macam sistem penyetel.

3.    Menyetel rem tangan

1.    Alat dan Bahan

a)        Alat pengangkat

b)        Penyangga

c)        Kotak alat

d)        Kunci roda

e)        Palu baja

f)         Kunci momen

g)        Mobil

h)        VET

i)     Kan oli/ Oil can

j)    Lap

2.    Keselamatan Kerja

§  Dilarang bekerja di bawah mobil yang diangkat tanpa penyangga yang baik.

§  Jangan menyetel rem yang panas, agar tidak terjadi kesalahan dalam penyetelan.

3.    Langkah Kerja

§  Siapkan alat dan bahan praktek.

§  Lakukan prosedur:

o   Memeriksa fungsi rem tangan

o   Membedakan bermacam-macam sistem penyetel

o   Menyetel rem tangan

§  Mintalah penjelasan pada instruktur hal yang belum jelas

§  Setelah selesai praktek bersihkan alat dan bahan serta kembalikan ke tempatnya semula.

4.    Tugas

§  Buat laporan praktek Anda secara ringkas dan jelas disertai gambar!

2.  Kegiatan Belajar 2

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

Setelah menyelesaikan kegiatan-kegiatan ini diharapkan siswa dapat:

1.    Menyebutkan komponen-komponen rem tromol

2.    Mengontrol fungsi penguat tenaga rem (booster)

3.    Memeriksa saluran dan slang rem

4.    Membongkar, memeriksa dan memperbaiki silinder master dan silinder roda

5.    Membongkar, memeriksa, memperbaiki dan menyetel sistem rem tromol.

b.   Uraian Materi 2

Rem Tromol

Pada tipe rem tromol kekuatan tenaga pengereman diperoleh dari sepatu rem yang diam menekan permukaan tromol bagian dalam yang berputar bersama-sama dengan roda.

Karena self – energizing efect ditimbulkan oleh tenaga putar tromol dan tenaga mengembangkan sepatu, kekuatan tenaga pengereman yang besar diakibatkan oleh usaha pedal yang relatif kecil.

Komponen-Komponen Rem Tromol

1.    Backing plate

2.    Silinder roda (Wheel cylinder)

3.    Sepatu rem dan kanvas (Brake shoe and lining)

4.    Tromol rem (Brake drum)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Backing Plate

Backing plate dibuat dari baja press yang dibaut pada axle housing atau axle carrier bagian belakang. Karena sepatu rem terkait pada backing plate maka aksi daya pengereman tertumpu pada backing plate.

  • Silinder Roda

Silinder roda (wheel cylinder) terdiri dari beberapa komponen seperti terlihat pada gambar di sebelah kanan. Setiap roda menggunakan satu atau dua buah silinder roda. Ada sistem yang menggunakan dua piston untuk menggerakkan kedua sepatu rem yaitu satu piston untuk setiap sisi silinder roda, sedangkan sistem yang lainnya hanya menggunakan satu piston untuk menggerakkan hanya satu sepatu rem.

Bila timbul tekanan hidraulis pada master cylinder maka akan menggerakkan piston cup. Piston akan menekan kearah sepatu rem kemudian bersama-sama menekan tromol rem.

Apabila rem tidak bekerja, maka piston akan kembali ke posisi semula dengan adanya kekuatan pegas pembalik sepatu rem .

Bleeder plug disediakan pada silinder roda gunanya untuk membuang udara dari minyak rem.

  • Sepatu Rem dan Kanvas Rem

Sepatu rem (brake shoes) seperti juga tromol (drum) memiliki bentuk setengah lingkaran.

Biasanya sepatu rem dibuat dari pelat baja. Kanvas rem dipasang dengan jalan dikeliling (pada kendaraan besar) atau dilem (pada kendaraan kecil) pada permukaan yang bergesekan dengan tromol.

Kanvas ini harus dapat menahan panas dan aus serta harus mempunyai koefisien gesek yang tinggi. Koefisien tersebut sedapat mungkin tidak mudah dipengaruhi oleh keadaan turun naiknya temperatur dan kelembaban yang silih berganti. Umumnya kanvas (lining) terbuat dari campuran fiber metalic dengan brass, lead, plastik dan sebagainya dan diproses dengan ketinggian panas tertentu.

  • Tromol Rem

Tromol rem (brake drum) umumnya terbuat dari besi tuang (gray cast iron) dan gambar penampangnya seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Tromol rem ini letaknya sangat dekat dengan sepatu rem tanpa bersentuhan dan berputar bersama roda.

Ketika kanvas menekan permukaan bagian dalam tromol bila rem bekerja, maka gesekan panas tersebut dapat mencapai suhu setinggi 200 0 C sampai 3000C.

Melepas dan Membongkar Silinder

-          Kosongkan tabung reservoir (dengan penyedot)

-          Lepaskan pipa-pipa tekanan

-          Lepaskan master dari booster

 

Lepaskan tabung reservoir dari silinder master (dengan menarik perlahan-lahan)

Lepaskan baut penyetop torak 2 sekunder piston (tekan torak dalam-dalam dan lepaskan baut penyetop)

Lepaskan ring penjamin (snap ring) dengan menekan torak dan melepas snap ring.

Keluarkan torak 1 dan 2 (ketok pada dua balok kayu beri alas kain, bila sudah menonjol dapat ditarik keluar)

Pemeriksaan

Bersihkan semua komponen dalam air

-          Jika korosi ringan dapat dihoning

-          Jika korosi berat harus diganti

Periksa ulir-ulir baut

Periksa sil

-          Jika keadaan rusak, sobek dan keras harus diganti

(Catatan: Pada setiap pembongkaran sebaiknya sil-sil diganti dengan yang baru)

Periksa torak dan pegas

-          Jika pegas korosi, kaku dan lemah harus diganti.

-          Jika torak korosi atau pecah harus diganti.

Perbaikan

Memperbaiki silinder master korosi

-          Dihoning dengan alat honing (menggunakan bor tangan)

-          Saat menghoning silinder dilumasi dengan air.

-          Setelah halus, bersihkan dengan udara kompresor.

Catatan:

-          Toleransi diamter silinder master + 1 mm.

-          Putaran honing = 1000 rpm

 

Awas….! Jangan  memutar honing di luar silinder master…!!!

 

 

 

 

 

Pemeriksaan Kebocoran pada Silinder Master

-          Periksa kebocoran pada sambungan pipa rem dan reservoir.

-          Periksa kebocoran pada sil sekunder. Jika ujung silinder dan kelilingnya basah oleh cakram rem, silinder harus dioverhaul atau diganti.

-          Jika mobil dilengkapi dengan penguat tenaga rem (booster), ujung silinder tidak dapat diperiksa tanpa melepas silinder. Untuk itu, lepas slang vakum penguat tenaga rem dan cium slang tersebut. Jika berbau cairan rem, lepas silinder pada flensnya untuk pemeriksaan pada sil sekundernya. Periksa juga di sekeliling flens silinder master pada penguat vakum. Jika basah oleh cairan rem, sil sekunder bocor. Jika ada cairan rem di dalam penguat tenaga rem, alat tersebut harus dibersihkan/dioverhaul.

Pemeriksaan Saluran dan Slang Rem

 

 

 

 

-          Periksa pipa-pipa rem. Apabila bocor atau berkarat keras, pipa rem harus diganti.

-          Periksa slang-slang rem. Jika permukaannya retak atau tergores, slang harus diganti. Perhatikan pada pemasangan slang rem, jangan bersinggungan dengan roda. Periksa hal tersebut. Juga sewaktu roda depan dalam posisi terbelok.

Kontrol Fungsi Penguat Tenaga Rem (Booster)

Kontrol ini harus dilaksanakan, kalau pedal rem harus ditekan keras sekali untuk mencapai perlambatan/ pengereman mobil yang cukup.

-          Tekan pedal rem beberapa kali, pada saat motor mati.

-          Hidupkan motor sewaktu pedal rem ditekan. Kalau penguat tenaga berfungsi, pedal akan menurun sedikit, selama tahap tersebut.

-          Matikan motor sewaktu pedal rem ditekan. Pada tahap ini pedal tidak boleh ada reaksi. Jika peda akan terdorong kembali, katup anti-balik pada penguat tenaga harus dibersihkan/diganti.

Pemeriksaan Fungsi Rem Tromol

Periksa apakah silinder rem macet. Lepas tromol hanya pada rem yang sedang diperiksa. Tromol roda-roda lain harus terpasang, agar torak-toraknya tidak tertekan keluar.

-          Minta tolong seseorang untuk menekan pedal rem, kedua kanvas ditahan dengan obeng. Torak-torak pada silinder rem yang diperiksa harus bergerak keluar tampa ada kebocoran di silinder roda. Jika terdapat kebocoran, semua silinder rem pada aksel yang diperiksa harus dioverhaul.

-          Periksa permukaan gesek pada tromol rem. Bila berwarna abu-abu sampai hitam, atau berkarat, nilai gesekannya kurang. Maka permukaan harus dibersihkan denga kertas gosok, atau lebih baik dengan dibubut/ digerinda.

Pemeriksaan/ Pembersihan Bagian-bagian Rem Tromol

-          Bersihkan bagian-bagian rem dengan kuas atau sikat. Dilarang menggunakan angin, pakai air sabun jika kotor keras.

-          Periksa kondisi dan pemasangan bagian pengikat sepatu rem:

1.    Kedudukan ujung sepatu

2.    Kedudukan pegas

3.    Pemasangan batang penghubung

4.    Pengunci sepatu

5.    Kedudukan pegas

6.    Kedudukan ujung sepatu

-          Periksa tebal kanvas. Jika kurang dari 1,5 mm atau keling kanvas sudah tercoret, kanvas harus diganti baru.

-          Periksa permukaan kanvas. Kalau permukaannya keras dan berkilat, nilai geseknya kurang. Kanvas harus digosok atau diganti baru agar tercapai efektifitas rem yang normal.

-          Permukaan kanvas yang kotor karena oli aksel atau cairan rem biasanya diganti baru.

-          Permukaan yang buram atau berkilat lemah menunjukkan kondisi kanvas yang normal. Tidak perlu digosok.

-          Periksa kebocoran pada sil poros aksel (hanya pada aksel rigid dengan penggerak roda). Kebocoran dapat dilihat pada piringan rem dan pada poros aksel yang basah karena oli. Sil yang bocor harus diganti baru.

-          Periksa kebocoran pada silinder rem. Jika ada, semua silinder rem pada aksel yang diperiksa harus dioverhaul atau diganti baru.

-          Untuk memeriksa kebocoran, lihat juga bagian dalam karet pelindung debu silinder rem.

 

Penyetelan Sepatu Rem

Pada sistem pengingkatan tromol dengan flens, roda harus dipasang untuk mendapat hasil penyetelan yang baik, (Jika roda tidak terpasang, tromol tertekan teratur pada flensnya)

Penyetelan rem biasanya dapat dilakukan melalui lobang paa piringan rem. Lubang-lubang tersebut biasanya tertutup dengan karet.

Juga ada mobil dengan lubang penyetel pada tromol (misal: VW, Suzuki). Pada sistem ini, roda harus terpasang dengan posisi lubang pelg pada lubang tromol.

Penyetelan dapat dilakukan dengan obeng, tetapi sering lebih sederhana dengan alat khusus atau obeng yang dibengkokkan sesuai dengan keperluan.

c.    Rangkuman

?  Komponen-komponen rem tromol:

§  Backing plate

§  Silinder roda

§  Sepatu rem dan kanvas

§  Tromol rem

?  Kanvas rem harus dapat menahan pana dan aus serta mempunyai koefisien gesek yang tinggi.

?  Pada waktu pemasangan selang rem, jangan sampai bersinggungan dengan roda.

d.    Tugas

Apa analisis Anda dan apa yang perlu Anda lakukan untuk mengatasi permasalahan di bawah ini:

Seorang pengemudi mengeluh saat kecepatan mobil tinggi kemudian direm, mobil selalu bergerak ke arah kiri.

e.    Test Formatif

1.    Sebutkan komponen-komponen yang terdapat pada rem tromol!

2.    Apa akibatnya apabila celah antara tromol dan kanvas terlalu besar dan terlalu kecil?

3.    Syarat-syarat apakah yang harus dipenuhi oleh kanvas rem?

4.    Apa fungsi bleeder plug pada silinder roda?

5.    Sebutkan bahan yang dipergunakan untuk membuat sepatu rem?

F.  Kunci Jawaban Formatif

1.    a. Backing plate

b. Silinder roda

c. Sepatu rem dan kanvas rem

d. Tromol rem

2.       Celah yang besar menyebabkan kelambatan pada pengereman. Celah yang kecil menyebabkan rem akan terseret dan menyebabkan keausan pada tromol dan kanvas.

3.       Tahan panas dan aus serta mempunyai koefisien gesek yang tinggi.

4.       Untuk membuang udara dari minyak rem.

5.       Pelat baja.

g.  Lembar Kerja

1)    Memeriksa kondisi dan fungsi rem tromol.

2)    Membersihkan rem tromol

3)    Menyetel rem tromol

1.   Alat dan Bahan

a)    Alat pengangkat

b)    Penyangga

c)    Kotak alat

d)    Kunci roda

e)    Palu baja

f)     Alat cuci (air)

g)    Sikat baja

h)    Pistol udara

i)     Kunci momen

j)     Mobil

k)    Kertas gosok

l)     Kan oli

m)  VET dan lap

2.   Keselamatan Kerja

a)    Dilarang bekerja di bawah mobil yang diangkat tanpa penyangga yang baik.

b)    Dilarang membersihkan rem dengan angin, debu asbes dari kanvas beracun.

3.   Langkah Kerja

a)    Siapkan Alat dan Bahan Praktek

b)    Lakukan prosedur:

1)   Memeriksa kondisi dan fungsi rem tromol

2)   Membersihkan rem tromol

3)   Menyetel rem tromol

c)    Mintalah penjelasan pada instruktur hal-hal yang belum jelas

d)    Setelah selesai praktek bersihkan alat dan bahan serta kembalikan ke tempatnya semula.

4.  Tugas

Buat laporan praktek Anda secara ringkas dan jelas disertai gambar!

2.   Kegiatan Belajar 3

a) Tujuan Kegiatan Belajar

Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini diharapkan siswa dapat:

6.    Menyebutkan komponen-komponen rem cakram.

7.    Menyebutkan jenis-jenis kaliper.

8.    Membongkar, memeriksa, memperbaiki dan menyetel rem cakram.

a.    Uraian Materi

Rem Cakram

Rem cakram (disc brake) pada dasarnya terdiri dari cakram yang terbuat besi tuang (disc rotor) yang berputar dengan roda dan bahan gesek (dalam hal ini disc pad) yang mendorong dan menjepit cakram. Daya pengereman dihasilkan oleh adanya gesekan antara  pad dan cakram (disc).

Karakteristik dari cakram hanya mempunyai sedikit aksi energi sendiri (self– energizing action), daya pengereman itu sedikit dipengaruhi oleh fluktuasi koefisien gesek yang menghasilkan ke stabilan tinggi. Selain itu karena permukaan bidang gesek selalu terkena udara, radiasi panasnya terjamin baik, ini dapat mengurangi dan menjamin dari terkena air.

Rem cakram mempunyai batasan pembuatan pada bentuk dan ukurannya. Ukuran disc pad agak terbatas, dan ini berkaitan dengan aksi self– energizing limited. Sehingga perlu tambahan tekanan hidraulis yang lebih besar untuk mendapatkan daya pengereman yang efisien. Juga pad akan lebih cepat aus dari pada sepatu rem tromol. Tetapi konstruksi yang sederhana mudah pada perawatannya serta penggantian pad.

 

 

 

 

 

 

Komponen-Komponen Rem Cakram

  • Piringan

Umumnya cakram atau piringan (disc rotor) dibuat dari besi tuang dalam bentuk biasa (solid) berlubang-lubang untuk ventilasi.

Tipe cakram lubang terdiri dari pasangan piringan yang berlubang untuk menjamin pendinginan yang baik, kedua-duanya untuk mencegah fading dan menjamin umur pad lebih panjang dan tahan lama.

  • Pad Rem

Pad (disc pad) biasanya dibuat campuran metalic fiber dan sedikit serbuk besi. Tipe ini disebut dengan “Semi Metalic disc pad”.

Pada pad diberi garis celah untuk menunjukkan tebal pad (batas yang diizinkan) dengan demikian dapat mempermudah pengecekan keausan pad.

Pada beberapa pad. Penggunaan metallic plate (disebut dengan anti-squel shim) dipasangkan pada sisi piston dari pad untuk mencegah bunyi saat berlaku pengereman.

Jenis-Jenis Kaliper

Caliper juga disebut dengan cylinder body, memegang piston-piston dan dilengkapi dengan saluran dimana minyak rem disalurkan ke silinder.

Caliper dikelompokkan sebagai berikut menurut jenis pemasangannya:

Ä  Tipe Fixed Caliper (Double Piston)

Caliper dipasangkan tepat pada axle atau strut. Seperti digambarkan di bawah ini, pemasangan caliper dilengkapi dengan sepasang piston. Daya pengereman didapat bila pad ditekan piston secara hidraulis pada kedua ujung piringan atau cakram.

Fixed caliper adalah dasar disain yang sangat baik dan dijamin dapat bekerja lebih akurat. Namun demikian radiasi panasnya terbatas karena silinder rem berada antara cakram dan velg,

menyebabkan sulit tercapainya pendinginan. Untuk ini membutuhkan penambahan komponen yang banyak. Untuk mengatasi hal tersebut jenis caliper fixed ini, sudah jarang digunakan.

 

Ä  Tipe Floating Caliper (Single Piston)

Seperti terlihat pada gambar piston hanya ditempatkan pada satu sisi kaliper saja. Tekanan hidraulis dari master silinder mendorong piston (A) dan selanjutnya menekan pada rotor disc (cakram). Pada saat yang sama tekanan hidraulis menekan sisi pad (reaksi B). ini menyebabkan kaliper bergerak ke kanan dan menjepit cakram dan terjadilah usaha tenaga pengereman.

Caliper tipe floating dapat digolongkan sebagai berikut:

1)    Tipe Semi-Floating à Tipe PS

2)    Tipe Full-Floating à (Tipe F, Tipe FS, Tipe AD dan Tipe PD)

Caliper tipe semi–floating menerima tenaga pengereman yang dibangkitkan pad bagian luar.

Pada caliper tipe full–floating, kemampuannya pengeremannya dibangkitkan oleh kedua pad dengan troque plate.

Caliper floating banyak digunakan pada kendaraan penumpang modern.

Susunan Rem Cakram Jenis Kaliper Luncur

1. Kaliper Luncur                             6. Tabung Pengantar

2. Rangka Tetap                              7. Baut Pengantar

3. Balok Rem (Pad)                          8. Karet Pelindung Kotoran

4. Batang Pengantar                         9. Klip

5. Busing Pengantar

Pembongkaran

-          Lepas baut pengunci kaliper

-          Angkat kaliper dan keluarkan balok-balok rem

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemeriksaan

-          Periksa kondisi balok rem. Jika kanvas mulai lepas dari plat dudukannya atau jika tebal kanvas kurang dari 2 mm, balok rem harus diganti baru.

-          Periksa kondisi cakram. Cakram yang berkarat atau hitam pada permukaan gesek, harus digerenda atau diganti baru. Permukaan gesek cakram yang beratur tidak mempengaruhi fungsi rem.

-          Cakram dengan tebal yang kurang harus diganti baru

-          Tebal baru = 7 – 12 mm, tebal minimal biasanya tebal baru dikurangi 1 mm.

-          Periksa fungsi torak. Minta tolong seseorang untuk menekan pedal rem. Pada waktu pedal ditekan, torak harus bergerak keluar. Jika torak macet, kaliper rem harus dioverhaul. Untuk mengembalikan posisi torak, pakai alat penekan khusus atau tang pompa air.

Pada waktu itu cairan rem yang penuh pada reservoir harus dikurangi, untuk menghindari tumpahan cairan rem. Jika menggunakan tang pompa air, perhatikan karet pelindung debu. Karet pelindung yang robek harus diganti baru.

-          Jangan menekan pedal beberapa kali, torak dapat keluar/ lepas. Kaliper kedua harus terpasang atau dipres dengan sebuah klem C.

-          Periksa busing batang dan tabung penghantar. Pasang

-          kaliper pada kerangka, keraskan baut pengikatnya. Kaliper harus dapat bergerak ke kanan dan ke kiri dengan baik.

-          Jika gerakannya berat atau macet, maka busing batang dan tabung pengantar harus diperbaiki.

Pembongkaran

Melepas rem luncur

-          Lepaskan kaliper dengan melepas batu pemegangnya.

-          Keluarkan pad dari dudukannya.

-          Lepaskan pemegang kaliper (Perhatikan pin pengunci pada baut pengantar)

Mengeluarkan piston dari kaliper

-          Keluarkan karet penutup. Awas ring pengunci penahan.

-          Keluarkan piston dengan udara tekan (kompresor)

-          Hadapkan piston ke lantai/ meja kerja agar tidak membahayakan.

-          Keluarkan sil piston dengan obeng. (Awas jangan sampai menggores silinder kaliper)

­

Bersihkan semua komponen kaliper rem luncur dengan air (bila perlu dengan sabun)

Awas jangan menggunakan oli, bensin atau solar.

 

 

Pemeriksaan

-          Periksa semua komponen kaliper rem luncur.

-          Periksa cakram kaliper rem luncur

A = Kerusakan kecil masih dapat diperbaiki (dibubut)

B = Kerusakan keras (sebaiknya diganti)

C = Kerusakan miring rusak (harus diganti)

Perbaikan

Silinder kaliper rem luincur

-          Silinder yang tergores dan korosi berat harus diganti!

-          Jika korosi ringan dapat dihoning hingga korosi hilang dari permukaan silinder.

(Gunakan air pada saat menghoning, Awas…! Jangan menghoning berlebihan. Alat honing tidak boleh diputar di luar silinder)

Piston kaliper rem luncur

-          Karet penutup yang rusak (keras mengembang atau sobek) harus diganti.

-          Seal piston harus diganti.

-          Piston yang rusak/ korosi berat harus diganti.

-          Jika korosi ringan dapat dibersihkan dengan amplas halus.

(Awas…! jangan mengamplas berlebihan. Batas limit 0,1 à lihat manual)

Pad kaliper rem luncur

-          Pad yang mengeras harus diganti dengan yang baru.

-          Ganti pad jika ketebalan di bawah batas limit (2 mm)

-          Pad yang berdebu dibersihkan dengan udara tekan

Pemegang kaliper

-          Jika pemegang kaliper rusak atau korosi berat harus diganti dengan yang baru.

Komponen lainnya yang rusak/ korosi berat juga harus diganti.

Cakram kaliper rem luncur

-          Cakram harus diganti jika tebal di bawah batas limit (kurang dari 1 mm) dari tebal stadart.

-          Run out cakram maksimum 0,1 mm jika lebih dapat dibubut kembali hingga batas limit ketebalan cakram.

-          Cakram tegak memanjang sebaiknya diganti.

à Dudukkan dial indikator pada bagian yang tetap (suspensi/ chasis)

b.   Rangkuman

?  Daya pengereman dihasilkan oleh adanya gesekan antara disc pad dan cakram (disc).

?  Untuk mencegah fading dan menjamin umur pad lebih panjang dan tahan lama maka pada piringan dibuat berlubang.

?  Pada pad diberi garis celah untuk menunjukkan tebal pad (batas yang diijinkan) dengan demikian dapat mempermudah pengecekan keausan pad.

c.    Tugas

Amati sistem rem cakram dan komponen pengoperasiannya pada mobil yang ada di bengkel otomotif kemudian jelaskan cara kerjanya.

d.    Test Formatif

1.    Sebutkan komponen utama rem cakram!

2.    Apa yang dimaksud dengan water fading?

3.    Jelaskan tujuan cakram dibuat berlubang!

4.    Sebutkan bahan yang dipergunakan untuk membuat pad rem!

5.    Sebutkan 3 type piringan yang digunakan pada mobil!

e.    Kunci Jawaban Formatif

1.    a. Piringan (Disc Rotor)

b. Pad rem

c. Calliper

2.    Berkurangnya koefisien gesek antara sepatu rem dan pad karena terkena air/ basah.

3.    Menjamin pendinginan yang baik, mencegah fading dan menjamin umur pad lebih panjang serta tahan lama.

4.    Campuran metalic fiber dan sedikit serbuk besi

5.    Type solid, type ventilasi dan type solid dengan tromol.

f.     Lembar Kerja

1.    Memeriksa fungsi rem cakram

2.    Memelihara kondisi balok rem, cakram dan kaliper.

3.    Membersihkan cakram

1.   Alat dan Bahan

a)   Pengangkat mobil

b)   Penyangga

c)    Kunci roda

d)   Kotak alat

e)   Sikat baja

f)    Mistar sorong

g)   Lampu kerja

h)   Kunci momen

i)     Mobil dengan rem cakram

j)    Cairan rem

k)   Kertas gosok

l)     VET temperatur tinggi

2.   Keselamatan Kerja

a)    Pemasangan penyangga mobil harus baik.

b)    Hindarkan cat mobil dari cairan rem, jika terjadi tumpah langsung dibersihkan dengan air.

3.   Langkah Kerja

a)    Siapkan alat dan bahan praktek

b)    Lakukan prosedur

1)   Memeriksa fungsi rem cakram

2)   Memeriksa kondisi balok rem, cakram dan kaliper

3)   Membersihkan cakram

c)    Mintalah penjelasan pada instruktur mengenai hal-hal yang belum jelas.

d)    Setelah selesai praktek bersihkan alat dan bahan serta kembalikan ke tempatnya semula.

4.  Tugas

Buat laporan praktek Anda secara ringkas dan jelas disertai gambar!

Perbaikan Ringan Pada Rangkaian_Sistem Kelistrikan

BAB. I

PENDAHULUAN

 

A. DESKRIPSI

 

Modul  Perbaikan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan dengan kode OPKR 50-002 B berisi  materi  dan informasi tentang dasar listrik, pemeriksaan kerusakan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan serta prosedur menghindari kerusakan ECU, penggantian sekering dan bohlam, perbaikan rangkaian kabel dan conector. Materi diuraikan dengan pendekatan praktis disertai ilustrasi yang cukup agar siswa mudah memahami bahasan yang disampaikan.

Modul ini disusun dalam 5 kegiatan belajar yaitu: Kegiatan belajar 1. Dasar listrik, kegiatan belajar 2. Memeriksa kerusakan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan dan prosedur menghindari kerusakan pada ECU,  kegiatan belajar 3. Mengganti sekering dan bohlam, Kegiatan belajar 4. Perbaikan rangkaian kabel, kegiatan belajar 5. Perbaikan conector.

Setiap kegiatan belajar berisi tujuan, materi, dan diakhir materi disampaikan rangkuman yang memuat intisari materi, dilanjutkan test formatif. Setiap siswa harus mengerjakan test tersebut sebagai indikator penguasaan materi, jawaban test kemudian diklarifikasi dengan kunci jawaban. Guna melatih keterampilan dan sikap kerja yang benar setiap siswa dapat berlatih dengan pedoman lembar kerja yang ada.

Diakhir modul terdapat evaluasi sebagai uji kompetensi siswa. Uji kompetensi dilakukan secara teroritis dan praktik. Uji teoritis siswa menjawab pertanyaan pada soal evaluasi, sedangkan uji praktik dengan meminta siswa mendemontrasikan kompetensi yang harus dimiliki dan guru/instruktur menilai berdasarkan lembar observasi yang ada. Melalui evaluasi tersebut dapat diketahui kompetensi siswa.

B. PRASYARAT

 

Sebelum mempelajari modul ini diharapkan siswa telah berhasil mencapai kompetensi tentang Pengujian, Pemeliharaan/Servis dan Penggantian Baterai  kode OPKR 50-001 B.

C. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

 

1.  Petunjuk Bagi Siswa

a.   Lakukan cek kemampuan untuk mengetahui kemampuan awal yang anda kuasai, sebelum membaca modul lebih lengkap.

b.   Bacalah modul secara seksama pada setiap kegiatan belajar,  bila ada uraian yang kurang tanyakan pada guru/instruktur.

c.   Kerjakan setiap tes formatif pada setiap kegiatan belajar, untuk mengetahui seberapa besar pemahaman anda terhadap materi yang disampaikan, klarifikasi hasil jawaban pada lembar jawaban yang ada.

d.   Lakukan latihan setiap sub kompetensi sesuai dengan lembar kerja yang ada.

e.   Perhatikan petunjuk keselamatan kerja dan pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan kerja yang termuat pada lembar kerja.

f.      Lakukan latihan dengan  cermat, teliti dan hati-hati. Jangan melakukan pekerjaan yang belum anda pahami dengan benar.

g.   Bila anda merasa siap mintalah guru/intruktur untuk menguji kompetensi anda.

2.  Petunjuk Bagi Guru/Istruktur

Guru/intruktur bertindak sebagai fasilitator, motivator, organisator dan evaluator. Jadi guru/intruktur  berperan:

a.  Fasititator yaitu menyediakan fasilitas berupa informasi, bahan, alat, training obyek dan media yang cukup bagi siswa sehingga kompetensi siswa cepat tercapai.

b.  Motivator yaitu memotivasi siswa untuk belajar dengan giat, dan mencapai kompetensi dengan sempurna

c.   Organisator yaitu bersama siswa menyusun  kegiatan belajar dalam mempelajari modul, berlatih keterampilan, memanfaatkan fasilitas dan sumber lain untuk mendukung terpenuhinya kompetensi siswa.

d.  Evaluator yaitu mengevaluasi kegiatan dan perkembangan kompetensi yang dicapai siswa, sehingga dapat menentukan kegiatan selanjutnya.

D. TUJUAN AKHIR

 

Tujuan akhir dari modul ini adalah siswa mempunyai kompetensi:

1.    Merangkai hubungan seri, parallel dan gabungan .

2.  Mengukur tegangan, tahanan dan arus

3.  Memeriksa kerusakan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan dan prosedur menghindari kerusakan ECU.

4.  Mengganti sekering dan bohlam

5.  Melakukan perbaikan pengkabelan

6.  Melakukan perbaikan konektor.


E.  KOMPETENSI

 

KOMPETENSI:  Melakukan  Perbaikan Ringan pada Rangkaian/Sistem Kelistrikan

KODE           :  OPKR 50-002B

B KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

1. Menguji dan mengiden-tifikasi kesalahan sistem/komponen.

§ Sistem/komponen diuji tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya.

§ Informasi yang benar di-akses dari spesifikasi pabrik dan dipahami.

§ Tes/pengujian dilakukan untuk menentukan kesalah-an/kerusakan dengan meng-gunakan peralatan dan teKnik yang sesuai.

§ Mengidentifikasi kesalahan dan menentukan langkah perbaikan yang diperlukan.

§ Seluruh kegiatan pengujian dilaksanakan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K 3 (Keselamatan dan Kese-hatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/kebijakan perusa-haan.

§ Prinsip kerja sistem ke-listrikan otomotif.

§ Prosedur pengukuran dan pengujian kelistrikan.

§ Jenis kerusakan sistem ke-listrikan dan metoda per-baikannya.

§ Standar prosedur keselamat-an kerja.

§ Cermat dan teliti dalam penggunaan alat ukur elektronik

§ Cermat dan teliti dalam proses penyambungan kabel

§ Undang-undang K 3

§ Prinsip-prinsip kelistrikan

§ Prosedur perbaikan.

§ Pengukuran kelistrikan dan prosedur pengujian.

§ Persyaratan keselamatan kendaraan.

§ Prosedur untuk menghindari kerusakan pada ECU (Electrical Control Unit) = unit pengontrol listrik.

§ Melepas, membongkar, memeriksa dan mengu-kur komponen sistem kelistrikan serta merakit kembali hingga sistem dapat berfungsi normal tanpa adanya kerusakan pada komponen

§ Melaksanakan pengujian sistem/komponen ke-listrikan

§ Mengidentifikasi kesalah-an/kerusakan sistem/ komponen untuk menen-tukan perbaikan yang di-perlukan

2. Perbaikan ringan pada rangkaian kabel.

§ Perbaikan ringan pada rang-kaian kabel dilaksanakan dengan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap kompo-nen atau sistem lainnya.

§ Informasi yang benar di-akses dari spesifikasi pabrik dan dipahami.

§ Perbaikan yang diperlukan, penggantian komponen dan penyetelan dilaksanakan dengan menggunakan per-alatan, tehnik dan material yang sesuai.

§ Seluruh kegiatan perbaikan dilaksanakan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K 3 (Keselamatan dan Kese-hatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/kebijakan perusa-haan.

§ Prinsip kerja sistem kelistrik-an otomotif.

§ Prosedur pengukuran dan pengujian kelistrikan.

§ Jenis kerusakan sistem ke-listrikan dan metoda per-baikannya.

§ Standart prosedur kesela-matan kerja

§ Cermat dan teliti dalam penggunaan alat ukur elektronik

§ Cermat dan teliti dalam proses penyambungan kabel

§ Undang-undang K 3

§ Prinsip-prinsip kelistrikan

§ Prosedur perbaikan.

§ Pengukuran kelistrikan dan prosedur pengujian.

§ Persyaratan keselamatan kendaraan.

§ Prosedur untuk menghindari kerusakan pada ECU (Electrical Control Unit) = unit pengontrol listrik.

§ Memperbaiki rangkaian kabel sistem kelistrikan serta merakit kembali hingga sistem dapat berfungsi normal tanpa adanya kerusakan pada komponen

 


F.    Cek Kemampuan

 

SubKompetensi

Pernyataan

Jawaban

Bila jawaban “Ya” kerjakan

Ya

Tidak

1.   Dasar Listrik

§ Mengukur tegangan, tahanan dan arus

1)     Saya dapat menggambarkan struktur benda dan electron bebas  dengan benar

2)     Saya dapat menjelaskan perbedaan listrik statis dengan listrik dinamis dengan benar

3)     Saya dapat menjelaskan teori aliran listrik dengan benar

4)     Saya dapat menjelaskan pengertian arus listrik dan cara mengukurnya dengan benar

5)     Saya dapat menjelaskan pengertian tegangan listrik dan cara mengukurnya dengan benar

6)     Saya dapat menjelaskan pengertian tahanan listrik dan cara mengukurnya dengan benar

7)     Saya dapat menjelaskan Hukum Ohm dengan benar

8)     Saya dapat menjelaskan daya listrik dengan benar

Test Formatif 1

2. Dasar Listrik

§ Merangkai hubungan seri, parallel dan gabungan

1)    Saya dapat merangkai seri dua atau lebih kompenen dan menentukan tahanan, arus dan tegangannya

2)    Saya dapat merangkai paralel dua atau lebih kompenen dan menentukan tahanan, arus dan tegangannya

3)    Saya dapat merangkai kombinasi tiga atau lebih kompenen dan menentukan tahanan, arus dan tegangannya

Test Formatif 2

4)    Saya dapat menjelaskan karakteristik rangkaian seri

5)    Saya dapat menjelaskan karakteristik rangkaian paralel

6)    Saya dapat menjelaskan karakteristik rangkaian kombinasi

3. Memeriksa kerusakan ringan pada rangkaian/system kelistrikan dan prosedur menghindari kerusakan ECU 1)   saya dapat menyebutkan tiga type gangguan   pada rangkaian/system kelistrikan

2)   Saya dapat menjelaskan penyebab nilai tahanan dalam rangkaian menjadi bertambah

3)   Saya dapat menyebutkan peralatan yang dapat digunakan untuk memeriksa gangguan pada rangkaian

4)    Saya dapat menggunakan jumper wires

5)    Saya dapat menggunakan tes lamp

6)    Saya dapat menyebutkan keuntungan menggunakan tes lamp disbanding jumper

7)    Saya dapat menjelaskan prosedur menghindari kerusakan ECU.

Test formatif 3

4. Penggantian sekering dan bohlam 1)    Saya dapat membedakan sekering type blade dan catridge

2)    Saya dapat menunjukkan kondisi sekering yang baik

3)    Saya dapat membaca kapasitas dari sekering

4)    Saya dapat mengganti sekering putus

5)    Saya dapat membedakan bohlam putus dan bohlam baik

6)    Saya dapat membaca daya dari bohlam

7)    Saya dapat mengganti bohlam

Test formatif 4

5. Perbaikan rangkaian kabel 1)     Saya dapat menyebutkan macam kabel yang digunakan pada kendaraan

2)     Saya dapat mengidentifikasi kode warna yang digunakan pada kabel

3)     Saya dapat menentukan ukuran kabel yang digunakan

4)     Saya dapat menjelaskan metode memperbaiki kabel

5)     Saya dapat menyambung kabel dengan benar

Test formatif 5

6. Perbaikan connector 1)      Saya dapat menyebutkan macam konnkctor

2)     Saya dapat melepas dan memasang  konnktor

3)     Saya dapat memelihara konnektor

4)     Saya dapat mengganti  konnektor

Test formatif 6

BAB. II

PEMBELAJARAN

 

A.  RENCANA BELAJAR

 

Rencanakan kegiatan belajar anda dengan baik, silakan konsultasi dengan guru/instruktur untuk menentukan jadwal sesuai tingkat kesulitan, berdasarkan hasil  cek kemampuan awal yang telah anda lakukan. Mintalah paraf guru/instruktur sebagai tanda persetujuan terhadap rencana belajar anda.

Jenis Kegiatan

Tgl

Waktu

Tempat

Alasan Perubahan

Paraf Guru

Dasar Listrik          
Memeriksa rangkaian kelistrikan serta prosedur menghindari kerusakan ECU          
Mengganti sekering dan bohlam          
Perbaikan rangkaian kabel          
Perbaikan konektor
Uji Kompetensi

B.   KEGIATAN BELAJAR

 

     Kegiatan Belajar 1.  Dasar Listrik

 

a. Tujuan Kegiatan Belajar

Setelah mempelajari modul ini siswa diharapkan dapat:

9)    Menjelaskan struktur benda dan electron bebas  dengan benar.

10) Menjelaskan perbedaan listrik statis dengan listrik dinamis dengan benar

11) Menjelaskan teori aliran listrik dengan benar

12) Menjelaskan arus listrik dan cara mengukurnya dengan benar

13) Menjelaskan tegangan listrik dan cara mengukurnya dengan benar

14) Menjelaskan tahanan listrik dan cara mengukurnya dengan benar

15) Menjelaskan Hukum Ohm dengan benar

16) Menjelaskan daya listrik dengan benar

17)   Merangkai seri dua atau lebih kompenen kelistrikan

18) Merangkai parallel dua atau lebih kompenen kelistrikan

19) Merangkai kombinasi  tiga atau lebih kompenen kelistrikan

20) Menjelaskan karakteristik rangkaian seri

21) Menjelaskan karakteristik rangkaian paralel

22) Menjelaskan karakteristik rangkaian kombinasi

 

b. Uraian Materi

 

Materi dan Atom

Semua benda yang mengisi dan membentuk dunia ini yang dapat dilihat dengan pancaindra disebut materi atau zat. Secara umum materi dikelompokkan menjadi tiga yaitu padat, cair dan gas.

 

 

Gambar 1.  Bentuk materi dan struktur

Suatu benda bila kita pecah tanpa meningggalkan sifat aslinya akan kita dapatkan partikel yang disebut molekul. Molekul kalau kita pecah lagi akan kita dapatkan beberapa atom. Jadi atom adalah bagian terkecil dari suatu partikel/benda.

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Struktur Atom

 

Atom terdiri dari inti (nucleus) yang dikelilingi oleh elektron yang berputar mengelilingi inti pada orbitnya masing-masing seperti susunan tata surya. Inti atom sendiri terdiri dari proton dan netron. Proton dan netron ternyata memiliki muatan listrik, dimana proton memiliki muatan (+) dan elektron memiliki muatan ( – ), sedangkan neutron tidak memiliki muatan atau netral. Atom yang memiliki jumlah proton dan elektron yang sama, dikatakan bermuatan netral. Sesuai dengan hukum alam, atom akan terjadi tarik menarik antara nucleus sehingga elektron akan tetap berada dalam orbitnya masing-masing.

 

Elektron Bebas

Elektron-elektron yang orbitnya paling jauh dari inti, memiliki daya tarik menarik yang lemah terhadap inti. Elektron-elektron ini bila terkena gaya dari luar, misalnya panas, gesekan atau reaksi kimia akan cenderung lepas dari ikatannya dan pindah ke atom lain. Elektron-elektron yang mudah berpindah ini disebut elektron bebas (free electron), gerakan dari elektron bebas inilah yang menghasilkan bermacam-macam fenomena kelistrikan (seperti loncatan bunga api, cahaya, pembangkitan panas, pembangkitan magnet dan reaksi kimia).

Gambar 3.   Elektron bebas

LISTRIK

Listrik merupakan salah satu energi yang banyak digunakan untuk menggerakkan berbagai peralatan atau mesin. Energi listrik tidak dapat dilihat secara langsung, namun dampak atau akibat dari energi listrik dapat dilihat seperti sinar atau cahaya bola lampu, dirasakan seperti saat orang tersengat listrik, dibauh seperti bauh dari kabel yang terbakar akibat hubung singkat, didengar seperti suara bel atau radio.                                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.  Efek listrik

Listrik merupakan sumber energi yang paling mudah dikonversi menjadi energi yang lain, sehingga sebagian besar komponen sistem kelistrikan otomotif merupakan konversi energi listrik menjadi energi yang dikehendaki. Contoh komponen kelistrikan:

1)  Baterai merubah energi listrik menjadi energi kimia

2)  Motor starter merubah energi listrik menjadi energi gerak

3)  Lampu merubah energi listrik menjadi cahaya dan panas

4)  Pematik rokok merubah energi listrik menjadi panas

5)  Solenoid merubah energi listrik menjadi magnet, dan sebagainya.

 

Jenis Listrik

Listrik dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu:

Listrik Statis

Listrik statis merupakan suatu keadaan dimana elektron bebas sudah terpisah dari atomnya masing-masing, tidak bergerak hanya berkumpul dipermukaan benda tersebut. Listrik statis dapat dibangkitkan dengan cara menggosokkan sebuah gelas kaca dengan kain sutra. Setelah digosok gelas kaca akan bermuatan positip dan kain sutra akan bermuatan negatip.

 

Gambar 5.  Listrik statis

Listrik Dinamis

Listrik dinamis merupakan suatu keadaan terjadinya aliran elektron bebas dimana elektron ini berasal dari elektron yang sudah terpisah dari inti masing-masing. Elektron bebas tersebut bergerak bolak-balik melewati suatu penghantar.

a).  Tipe DC

b).  Tipe AC

 

Gambar 6.    Listrik dinamis    a) Tipe DC    b). Tipe AC

Listrik dinamis dikelompokkan menjadi dua yaitu listrik arus searah (Direct Current) dan arus bolak-balik (Alternating Current). Listrik arus searah elektron bebas bergerak dengan arah tetap, sedangkan listrik arus bolak-balik elektron bergerak bolak-balik bervariasi secara  periodik terhadap waktu.  Baterai merupakan sumber listrik  arus searah, sedangkan alternator merupakan sumber arus bolak-balik.

 

 

 

 

 

Teori Aliran Listrik

Terdapat dua teori yang menjelaskan bagaimana listrik mengalir:

 

Teori Electron (Electron theory)

Teori ini menyatakan listrik mengalir dari negatip baterai ke positip baterai. Aliran listrik merupakan perpindahan elektron bebas dari atom satu ke atom yang lain.

Teori konvensional (Conventional theory)

Teori ini menyatakan listrik mengalir dari positip baterai ke negatip baterai. Teori ini banyak digunakan untuk kepentingan praktis, teori ini pula yang kita gunakan untuk pembahasan aliran listrik pada buku ini

A

B

 

Gambar 7.   Teori aliran listrik

 

Arus Listrik

Besar arus listrik yang mengalir melalui suatu konduktor adalah sama dengan jumlah muatan (elektron bebas) yang mengalir melalui suatu titik penampang konduktor dalam waktu satu detik. Arus listrik dinyatakan dengan simbol I (intensitas) dan besarnya diukur dengan satuan ampere (disingkat A). Bila dikaitkan dengan elektron bebas, 1 Ampere= Perpindahan elektron sebanyak 6,25 x 1018  suatu titik konduktor dalam waktu satu detik.

Gambar 8.     Aliran listrik

 

 

Tabel 1. Satuan arus listrik yang sangat kecil dan besar.

Satuan Dasar

Arus Kecil

Arus Besar

Simbol

A

µA

mA

kA

MA

  Dibaca

Ampere

Micro Ampere

Mili Ampere

Kilo Ampere

Mega Ampere

Perkalian

1

1 x 10-6

1 x 10 -3

1 x 103

1 x 106

1/ 1.000.000

1/1.000

1 x 1.000

1 x 1.000.000

 

Contoh Konversi:

1).  1.000. 000 µA =  1.000 mA =  1. A  =  0,001 kA

2).  0,5 MA = 500 kA  = 500. 000 A  =  500.000.000  mA

3).   5 A = 5.000 mA  = 5.000.000 µA

Gambar 9.  Mengukur arus listrik

 

Mengukur besarnya arus yang mengalir pada suatu rangkaian menggunakan amper meter, pemasangan amper meter dilakukan secara seri dengan beban.

 

Tegangan Listrik

Tabung A dan B berisi air, dimana permukaan air tabung A lebih tinggi dari permukaan air tabung B, dihubungkan melalui sebuah pipa maka air akan mengalir dari tabung A ke tabung B (gambar a). Besarnya aliran air ditentukan oleh perbedaan tinggi permukaan air kedua tabung, ini disebut dengan tekanan air.

Hal yang sama juga akan terjadi bila kutub listrik A  yang mempunyai muatan positip  dihubungkan dengan kutub B yang bermuatan negatif oleh kabel C (gambar b), maka arus listrik akan mengalir dari kutub A ke kutub B melalui kabel C. Hal ini terjadi karena adanya kelebihan muatan positip pada kutub A dan kelebihan muatan negatif pada  B yang menyebabkan terjadinya beda potensial (tegangan listrik). Perbedaan ini menyebabkan tekanan/tegangan  menyebabkan arus listrik mengalir. Beda tegangan ini biasa disebut Voltage.

Gambar (b)

 

 

Gambar 10.  Konsep Tegangan

Satuan tegangan listrik dinyatakan dengan Volt dengan simbol V.  1 Volt adalah tegangan listrik yang mampu mengalirkan arus listrik 1 A pada konduktor dengan hambatan 1 ohm. Tabel dibawah menunjukkan satuan tegangan listrik yang sangat besar dan kecil.

 

 

Tabel 2. Satuan Tegangan Listrik

Satuan Dasar

Tegangan Kecil

Tegangan  Besar

Simbol

V

µV

mV

kV

MV

Dibaca

Volt

Micro Volt

Mili Volt

Kilo Volt

Mega Volt

Perkalian

1

1 x 10-6

1 x 10 -3

1 x 103

1 x 106

1/ 1.000.000

1/1.000

1 x 1.000

1 x 1.000.000

 

Contoh Konversi:

1.700.000  µV =  1. 700 mV  = 1,7 V

0,78 MV           = 780 KV  = 780. 000 V = 780.000.000 mV

Mengukur besar tegangan listrik menggunakan volt meter, pengukuran dilakukan secara parallel, cara pemasangan alat ukur seperti gambar dibawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 11.   Mengukur tegangan baterai

 

Tahanan/Resistansi  Listrik

Air dengan tekanan yang sama akan mengalir lebih cepat bila dialirkan melalui pipa yang besar, pendek dan permukaan dalamnya halus dibandingkan dengan bila air dialirkan melalui pipa yang ukurannya kecil, panjang dan permukaan bagian dalamnya kasar. Hal ini karena kondisi dari pipa akan berpengaruh terhadap aliran air. Besarnya hambatan ini dikatakan sebagai tahanan pipa. Kejadian ini juga berlaku untuk listrik yang mengalir melalui suatu kabel, dimana listrik juga akan mengalami hambatan. Hambatan yang dialami listrik ini disebut tahanan/resistansi listrik.

 

 

 

 

Gambar 12. Konsep Tahanan

Satuan tahanan listrik dinyatakan dengan huruf R (Resistor) dan diukur dengan satuan OHM (W). Satu ohm adalah tahanan listrik yang mampu menahan arus listrik yang mengalir sebesar satu amper dengan tegangan 1 V.

 

Tabel 3. Satuan tahanan listrik yang sangat besar dan kecil.

 

Satuan Dasar

Tegangan Kecil

Tegangan  Besar

Simbol

W

µW

mW

kW

MW

Dibaca

Ohm

Micro Ohm

Mili Ohm

Kilo Ohm

Mega Ohm

Perkalian

1

1 x 10-6

1 x 10 -3

1 x 103

1 x 106

1/ 1.000.000

1/1.000

1 x 1.000

1 x 1.000.000

 

Contoh Konversi:

1.985 mW  = 1, 985 W

0,89 MW  = 890  kW  = 890.000 W

Mengukur tahanan suatu benda maupun rangkaian menggunakan Ohm meter. Amper meter, Volt meter dan Ohm meter merupakan besaran listrik yang sering diukur, untuk itu dibuat alat yang dapat mengukur ketiga parameter tersebut yaitu AVO meter atau multi meter.

Gambar 13. Mengukur tahanan relay

HUKUM OHM

Tahun 1827 seorang ahli fisika Jerman George Simon Ohm (1787-1854) meneliti tentang resistor. Hukum Ohm menjelaskan bagaimana hubungan antara besar tegangan listrik, besar tahanan dan besar arus yang mengalir. Hukum Ohm mengatakan bahwa besar arus mengalir berbanding lurus dengan besar tegangan dan berbanding terbalik dengan besar tahanan. Hukum ini dapat ditulis:

 ……….  (1)

V  =   I  x  R

Gambar 14.  Hukum Ohm

Contoh:

Tentukan besar arus (I) yang melewati  lampu  R= 2 W,  bila tegangan (V) berubah  dari 24 Volt menjadi 12 Volt, seperti gambar di bawah ini:

Gambar 15.   Hukum Ohm pada tahanan konstan

Gambar 16.   Hukum Ohm pada tahanan konstan

 

Solusi:

Gambar 15. Baterai dirangkai seri sehingga tegangan baterai 12 V + 12 V = 24 V , tahanan lampu tetap 2 Ohm, maka besar arus yang mengalir adalah  I = V/R = 24/2 = 12 Amper.

Gambar 16. Tegangan 12 V, tahanan lampu 2 Ohm, maka besar arus yang mengalir adalah I = V/R  = 12/ 2 =  6 Amper

 

Kesimpulan:

Bila tahanan tetap sedangkan  tegangan turun maka arus yang mengalir juga turun. Sebaliknya bila tahanan tetap tegangan naik maka arus juga naik.

Bila lampu untuk 24 V dipasang pada tegangan 12 V maka lampu redup karena arus yang melewati lampu menjadi kecil. Sebaliknya lampu 12 V dipasang pada sumber baterai 24 V, maka lampu akan putus kerena terbakar sebab arus yang mengalir terlalu besar.

DAYA LISTRIK

Hukum Joule menerangkan tentang daya listrik. Terdapat hubungan antara daya listrik dengan tegangan, arus maupun tahanan. Besar daya listrik diukur dalam watt. Satu watt merupakan besar arus mengalir sebesar 1 Amper dengan beda potensial 1 volt. Hukum Joule dapat ditulis

………………………………………… (2)

P        =  Daya listrik (watt)

V        =  Tegangan (Volt)

I         =  Arus listrik (Amper)

Bila di subtitusikan hukum Ohm dimana  V = I R , maka  daya listrik:

P =  Vx  I

=  IRx I

=  I 2 R

  P   = I 2 R

..……………………………………. (3)

 

 

Bila disubtitusikan hukum Ohm dimana  I  = V/R, maka:

P  = R x I 2

  P   = V 2 R

= R  x (V/R)2 =  V2 / R

……………………………  (4)

Dari ketiga rumusan tersebut daya listrik dapat dirumuskan:

P   =  V x I     P = I 2 R       P  =  V2 / R

Dalam banyak kasus pada komponen sistem kelistrikan hanya ditentukan tegangan dan daya.  Besar arus arus yang mengalir jarang ditentukan, misal bola lampu kepala tertulis 12 V  55/60 W.  Arti dari tulisan tersebut adalah bola lampu kepala menggunakan tegangan 12 V,  pada posisi jarak dekat daya yang diperlukan 55 watt, sedangkan saat jarak jauh daya yang diperlukan 60 watt.

Contoh:

Tentukan besar arus yang mengalir pada sebuah lampu kepala  12V  55/60 W, saat lampu jarak dekat maupun saat jarak jauh.

Solusi:

Dengan menggunakan rumus   I = P/ V     didapatkan besar arus

a. Jarak dekat       I dekat   =  Pdekat / V   =  55 / 12  =  4,58 A

b. Jarak jauh         I jauh   =  P jauh / V  =  60 / 12 = 5 A

 

   Rangkaian seri, paralel dan kombinasi

Rangkaian komponen dalam sistem kelistrikan ada tiga macam yaitu rangkaian seri, rangkaian paralel dan rangkaian seri paralel atau kombinasi.

Pemahaman jenis dan karakteristik rangkaian sangat penting sebagai dasar memeriksa dan menentukan sumber gangguan pada sistem kelistrikan.

1) Rangkaian Seri

Aplikasi rangkaian seri sangat banyak digunakan pada kelistrikan otomotif. Sistem starter, pengatur kecepatan motor kipas evaporator AC  merupakan beberapa contoh aplikasi rangkaian seri.

 

Gambar17.  Rangkaian seri

Karakteristik rangkaian seri:

a) Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan semua tahanan

(Rt )  =  R1 + R2            ………………………..     (1)

b) Arus yang mengalir  pada rangkaian sama besar

I  = I1  = I2           …………………………………    (2)

 

V

I   =

Rt

………………………………     (3)

c) Tegangan total (Vt)  merupakan penjumlahan tegangan :

V t  =  V1 + V2        ………………………………     (4)

Besar  V1dan V2 adalah:

R1

V1  =            x  V

Rt

…………………………………    (5)

R2

V2  =            x  V

Rt

……………………………….    (6)

Tentukan besar Rt,  I ,  I1 ,  I2,  V1 dan V2, pada rangkaian seri di atas bila diketahui  R1=10 W dan R2= 30 W, sedangkan sumber tegangan 12V.

Solusi:

a) Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan semua tahanan

(Rt )  =  R1 + R2

=  10 + 30

=  40 W

b)  Arus yang mengalir  pada rangkaian sama besar I  = I1  = I2

I  =  V / Rt

= 12/ 40 = 0,3 Amper

c) Tegangan   total merupakan penjumlahan dari tiap tegangan

V1  =  R1/ Rt x V  = 10/40 x 12  = 3 V

V2  =  R2/ Rt x V  =  30/40 x 12 = 9 V

V    =  V1 + V2      =  3 +9 = 12 V

Karena besar I sudah dicari maka besar V1 dan V2  dapat pula ditentukan dengan rumus:

V1  =  R1 x I  =  10 x 0,3  =  3 V

V2 =  R2 x I  = 30 x 0,3  =  9 V

V   =  V1 + V2 =  3 + 9 = 12 V

2) Rangkaian Paralel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 18.  Rangkaian parallel

Karakteristik rangkaian parallel:

a) Tegangan pada rangkaian sama yaitu :

V =     V1  =  V2        ……………………………………………      (7)

b) Besar arus mengalir adalah:

I  =   I1  + I               …………………………………………..     (8)

Besar arus mengalir pada rangkaian parallel mengikuti Hukum Kirchoff I, yang menyatakan  jumlah arus listrik yang masuk pada suatu titik cabang sama dengan jumlah arus yang keluar pada titik cabang tersebut.

c) Besar tahanan total  (Rt) adalah:

   V             V1          V2

=           +

Rt              R1         R2

karena  V =  V1 = V 2   maka

   1             1            1

=             +

Rt              R1         R2

Dengan menggunakan perhitungan aljabar  akan diperoleh persamaan ekuvalen:

R1  x R2

Rt  =                               ………………….      (9)

R1 + R2

Contoh 1:

Sistem kelistrikan mempunyai 2 klakson dengan daya berbeda. klakson LH  12V/ 60 W dan klakson RH  12V/ 36 W. Tentukan :

a)  Tahanan klakson LH dan RH

b)  Tahanan total

c)  Arus pada klakson LH dan RH

d)  Arus  yang melewati saklar klakson dan yang melalui sekering.

 

Gambar  19.   Sistem Klakson Tanpa Relay

Solusi:

a). Tahanan klakson adalah:

Klakson LH    R1 = V2 / P =   122 / 60  =   2,4 W

Klakson RH    R2 = V2 / P =   122 / 36  =   4 W

b). Besar tahanan total  (Rt) adalah:

Rt  = ( R1 x R2) : (R1 +R2)  =  (2,4 x 4) : (2,4 + 4)

=  9,6  : 6,4 = 1,5 W

c).  Besar arus yang mengalir melalui klakson

Horn  LH      I1 =  V/ R1  =  12 / 2,4  = 5 A

Horn RH       I2 =  V / R2 = 12 /  4     =  3 A

d).  Besar arus mengalir melalui saklar klakson maupun sekering merupakan total arus yang mengalir melalui kedua klakson, yaitu:

I  =   I1  + I2

=  5 +  3  =  8 A

atau

I  =  V / Rt  =  12 / 1,5  =  8 A

Arus yang mengalir pada saklar klakson sangat besar sehingga percikan api pada kontak saklar klakson  besar, saklar klakson  cepat kotor, tahanan kontak meningkat dan bunyi klakson lemah. Guna mengatasi permasalahan tersebut maka rangkaian klakson dipasang relay.  Bila diketahui tahanan lilitan relay sebesar 60 W, tentukan:

a)  Tahanan total

b)  Arus pada klakson LH dan RH

c)  Arus  yang melewati saklar klakson

d)  Arus  yang melalui sekering.

Gambar 20.    Sistem Klakson Dengan Relay

Solusi:

a)  Tahanan total  (Rt)

Tahanan  pada rangkaian terdiri dari:

R1 (tahanan klakson LH )  = 2, 4 W

R2 (tahanan klakson RH)   =  4 W

R3 (tahanan relay)         =   60 W

Dengan  rumus (14) besar Rt adalah

1/ Rt    =  1/R1 +  1/ R2  + 1/R3

1/Rt     =  1/2,4  +  1/ 4   + 1/ 60

=   25/ 60  + 15/ 60 + 1/ 60 =  41/60

Rt        =  60/ 41 = 1,463 W

b) Besar arus yang mengalir melalui klakson

Horn  LH      I1 =  V/ R1  =  12 /2, 4  = 5 A

Horn RH       I2 =  V / R2 = 12 / 4     =  3 A

c) Arus yang melalui saklar klakson merupakan arus yang melewati lilitan relay

I3  =   V/ R3  =  12/ 60  = 0,2 A

d) Arus melewati sekering merupakan total arus yang melewati   rangkaian

I    =   I1 + I2 + I 3  =  5 + 3 + 0,2  =  8,2 A

Atau

I  = V/ Rt   =  12 / 1,463 = 8,2 A

Tabel 5.    Perbandingan  besar arus yang melewati komponen dalam sistem                               klakson

No Parameter Tanpa relay Dengan relay Selisih
1 Klakson LH

  • Daya
  • Tahanan
  • Arus

60 W

2,4 W

5 A

60 W

2,4 W

5 A

0

0

0

2 Klakson RH

  • Daya
  • Tahanan
  • Arus

36 W

4 W

3 A

36 W

4 W

3 A

0

0

0

3 Horn switch 8 A 0,2 A 7,8 A
4 Fuse 8 A 8,2 0,2 A
5 Beban rangkaian 96 W 98,4 W 2,4 W

Dari pemasangan relay pada rangkaian tersebut mampu mengurangi arus yang melalui saklar klakson sebesar 7,8 A yaitu dari 8 A menjadi 0,2 A sehingga saklar klakson lebih awet. Dengan menambah relay arus listrik dari baterai bertambah  0,2 A atau beban listrik bertambah 2,4 W.

3). Rangkaian Seri–Paralel

Gambar 21. Rangkaian seri parallel

Tahanan total (Rt) :

Rt  =   R1  + Rp      ………………………………………………    (10)

Rp merupakan tahanan pengganti untuk R2 dan R3.

Rp  = ( R2 x R3) : (R2 +R3)   ………………………………..    (11)

Rt  =   R1  + ( R2 x R3) : (R2 +R3)

Tegangan pada rangkaian:

V  =   V1   +  VRp

V1  =  R1 / Rt  x V

VRp = Rp / Rt  x  V

Karena R2 dan R3 paralel maka

V2 = V3  =  Rp / Rt  x  V

Besar arus pada R1 = arus total

I   =  V/ Rt

Besar arus pada R2  adalah

I2    =  V2 /  R2

Besar arus pada R3  adalah

I3   = V3 / R3     ………………………………………………….   (12)

Contoh:

Tentukan besar tahanan total (Rt), tegangan pada R1, R2 dan R3 dan besar arus pada R1, R2 dan R3 pada rangkaian di bawah ini bila diketahui R1= 4,5 W  ,     R2=10 W    dan   R3= 30 W

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 22.  Menentukan arus dan tegangan pada rangkaian seri parallel

Solusi:

a)  Mencari tahanan total (Rt) ditentukan dahulu besar tahanan pengganti (Rp) untuk R2 dan R3.

Rp  = ( R2 x R3) : (R2 +R3)  =  (10 x 30) : (10 + 30)

=  300 : 40 = 7,5 W

Rt  =   R1  + Rp   =  4,5  + 7,5  =  12 W

b)  Mencari  V1 dengan rumus:

V1  =  R1 / Rt  x V  =  4,5 / 12  x 12  =  4,5 V

Karena R2 dan R3 paralel maka

V2 = V3  =  Rp/ Rt  x  V  =  7,5 / 12  x 12  = 7,5 V

c)  Besar arus pada R1 = arus total

I   =  V/ Rt  =  12/ 12         =  1 A

d)  Besar arus pada R2  adalah

I2    =  V2 /  R2  = 7,5 / 10 = 0,75 A

e)  Besar arus pada R3  adalah

I3   = V3/ R3    = 7,5 /  30 =  0,25 A

Jembatan Wheatstone merupakan rangkaian seri paralel yang sering digunakan. Penerapan rangkaian ini antara lain pada termometer, intensitas pengukur cahaya, air flow meter dan sebagainya.

Gambar 23.  Jembatan Wheatstone

Contoh:

Tentukan tegangan pada Volt meter pada gambar diatas.

Tegangan yang ditunjukkan volt meter merupakan selisih tegangan pada titik A dengan titik B.

Tegangan pada titik A adalah

Va =  R2/ (R1+R2)  x V  = 2/ (1+2)x 12=  8 V

Tegangan pada titik B adalah

Vb =  R4/ (R3+R4)  x V  = 4/ (4+4)x 12=  6 V

Tegangan pada Volt meter adalah

Va – Vb  =  8 – 6 = 2 V

Dengan konsep diatas bila salah satu nilai tahanan berubah maka tegangan pada Volt meter juga berubah.

 

 

c. Rangkuman

Semua benda yang mengisi dan membentuk dunia ini yang dapat dilihat dengan pancaindra disebut materi atau zat. Secara umum materi dikelompokkan menjadi tiga yaitu padat, cair dan gas.

Atom adalah bagian terkecil dari suatu benda/partikel. Atom terdiri dari inti (nucleus) yang dikelilingi oleh elektron yang berputar mengelilingi inti pada orbitnya masing-masing seperti susunan tata surya. Inti atom sendiri terdiri dari proton dan netron. Elektron-elektron yang mudah berpindah ini disebut elektron bebas (free electron).

Listrik dapat dikelompokkan menjadi listrik statis dan listrik dinamis, listrik dinamis sendiri terdiri dari listrik searah (DC) dan listrik bolak-balik (AC). Teori aliran listrik ada dua yaitu teori konvensional dan teori electron.

Arus listrik (I), tegangan (V) dan tahanan listrik (R) merupakan besaran utama pada listrik, Arus listrik diukur dengan amper meter, tegangan listrik dengan volt meter dan tahanan listrik dengan Ohm meter. Hubungan antara besar arus, tegangan dan tahanan  listrik digambarkan dalam hukum Ohm ,   dimana I =  V/R.  Daya listrik merupakan tehgangan kali arus listrik  P = V x I.

Dalam rangkaian kelistrikan terdapar 5 komponen utama, yaitu: Sumber, proteksi, beban, kontrol dan konduktor. Rangkaian komponen dalam sistem kelistrikan ada tiga macam yaitu: rangkaian seri, rangkaian paralel  dan rangkaian seri paralel atau kombinasi.

Rangkaian seri mempunyai karakteristik:

1)  Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan semua tahanan ( Rt = R1 + R2).

2)   Arus yang mengalir  pada rangkaian sama besar   (It = I1 = I2).

3)  Tegangan total (Vt)  merupakan penjumlahan tegangan  (Vt = V1 +V2).

Karakteristik rangkaian parallel:

1)  Tegangan pada rangkaian sama ,     V =  V1  =  V2

2)  Besar arus yang mengalir tergantung bebannya.

3)  Besar arus mengalir merupakan total arus yang mengalir setiap percabangannya       I  =   I1  + I

4)  Besar tahanan total  (Rt) atau tahanan pengganti adalah:

R1  x R2

Rt  =

R1 + R2

Karakteristik rangkaian Seri Paralel atau kombinasi

1)  Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan tahanan dengan tahanan pengganti.

Rt  =   R1  + Rp

2)  Tegangan total  pada rangkaian merupakan penjumlahan tegangan pada tahanan dan tahanan pengganti.

(V  =   V1   +  VRp)

3)  Besar arus pada rangkaian adalah tegangan dibagi tahanan total

(I   =  V/ Rt )

d. Tugas

§ Cari buku pedoman perawatan dan perbaikan salah satu mesin otomotip, buka bagian wiring diagramnya,  tentukan metode mengukur besar arus yang dibutuhkan untuk tiap sistem yang bekerja, tentukan titik-titik mengukur besar tegangan pada rangkaian.

§ Sebutkan contoh aplikasi rangkaian seri, parallel dan kombinasi pada sistem kelistrikan mobil. Gambarkan rangkaian sistem tersebut.

 

e. Test Formatif

1)  Apa yang dimaksud  electron bebas  berikan ilustrasi?

2)  Jelaskan apa perbedaan teori aliran listrik konvensional dengan electron!

3)  Jelaskan cara mengukur arus listrik, lengkap dengan nama alat ukurnya, satuan ukurannya,  serta jelaskan juga apa yang dimaksud dengan 1 amper?

4)  Jelaskan bagaimana mengukur tegangan listrik lengkap dengan nama alat ukurnya?, apa satuan ukurannya?,  apa yang dimaksud dengan 1 volt?

5)  Sebuah  lampu 12V/36W dirangkai seperti gambar dibawah ini,

a)  Tentukan berapa besar arus listrik secara teoritis?

b)  Bagaimana cara memasang amper meter untuk mengukur besar arus yang mengalir?

c)  Berapa tahanan lampu secara teoritis?

d)  Bagaiman cara mengukur tahanan lampunya?

e)  Bagaiman cara mengukur tegangan baterainya?

6.    Jelaskan karakteristik rangkaian seri, parallel dan kombinasi

7.    Dua resistor dirangkai secara seri. Harga R1= 60 Ω dan R2 = 180Ω, tentukan  besar arus  listrik yang mengalir dan besar tegangan pada masing masing resistor bila tegangan sumber sebesar 12V

8.        Tentukan besar arus listrik yang mengalir pada fuse bila diketahui tahanan lilitan relay 100 Ω, daya masing-masing horn 12V/36W  tegangan baterai 12V. Berapakah tegangan pada titik 5 pada saat horn switch atau tombol OFF dan saat ON?

9.        Tentukan besar tahanan total (Rt), tegangan pada R1, R2 dan R3 dan besar arus pada R1, R2 dan R3 pada rangkaian di bawah ini bila diketahui R1= 4 W,  R2=30 W  dan  R3= 60 W

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

f. Kunci Jawaban Formatif

1)  Elektron bebas yaitu electron yang orbitnya paling jauh dari inti, memiliki daya tarik menarik yang lemah terhadap inti. Elektron-elektron ini bila terkena gaya dari luar, misalnya panas, gesekan atau reaksi kimia akan cenderung lepas dari ikatannya dan pindah ke atom lain.

2)  Teori ini menyatakan listrik mengalir dari negatip baterai ke positip baterai. Aliran listrik merupakan perpindahan elektron bebas dari atom satu ke atom yang lain. Sedangkan teori ini menyatakan listrik mengalir dari positip baterai ke negatip baterai. Teori ini banyak digunakan untuk kepentingan praktis, teori ini pula yang kita gunakan untuk pembahasan aliran listrik pada buku ini

3)  Mengukur arus dengan merangkai secara seri, alat ukur arus listrik adalah Amper meter,  satuan amper, dan pengertian  1 Ampere adalah Perpindahan elektron sebanyak 6,25 x 1018  suatu titik konduktor dalam waktu satu detik.

4)  Mengukur tegangan dengan merangkai secara parallel, alat ukur dengan Volt meter,  satuan volt, pengertian 1 Volt adalah tegangan listrik yang mampu mengalirkan arus listrik 1 A pada konduktor dengan hambatan 1 ohm.

5)  Sebuah  lampu 12V/36W dirangkai seperti gambar dibawah ini,

a) Besar arus listrik adalah   I =  P/V  = 36/12 = 3 Amper

b) Cara memasang amper meter secara seri seperti gambar berikut ini:

c) Tahanan lampu sebesar R =  V/I  = 12/3 = 4 Ω?

d) Cara mengukur tahanan lampunya dengan melepas lampu, kemudian diukur menggunakan Ohm meter, posisi selector pada 1XΩ, kalibrasi Ohm meter, kemudian diukur seperti gambar berikut ini, besar tahanan seperti ditunjukkan pada Ohm meter.

e) Cara mengukur tegangan baterai adalah dengan menggunakan volt meter, bila menggunakan multi meter atur selector pada tegangan DC pada sekela pengukuran 50V, hubungkan colok ukur positip pada positip baterai dan colok negatip pada negatip baterai, baca hasil pengukuran.sebagai berikut:

6.        Rangkaian seri mempunyai karakteristik:

a)  Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan semua tahanan ( Rt = R1 + R2).

b)   Arus yang mengalir  pada rangkaian sama besar   (It = I1 = I2).

c)   Tegangan total (Vt)  merupakan penjumlahan tegangan  (Vt = V1 +V2).

Karakteristik rangkaian parallel:

a)  Tegangan pada rangkaian sama ,     V =  V1  =  V2

b)  Besar arus yang mengalir tergantung bebannya.

c)  Besar arus mengalir merupakan total arus yang mengalir setiap percabangannya       I  =   I1  + I

d)  Besar tahanan total  (Rt) atau tahanan pengganti adalah:

R1  x R2

Rt  =

R1 + R2

Karakteristik rangkaian Seri Paralel atau kombinasi

a)  Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan tahanan dengan tahanan pengganti.

Rt  =   R1  + Rp

b)  Tegangan total  pada rangkaian merupakan penjumlahan tegangan pada tahanan dan tahanan pengganti.

(V  =   V1   +  VRp)

c)  Besar arus pada rangkaian adalah tegangan dibagi tahanan total  (I   =  V/Rt )

7.    Besar arus yang mengalir

I =  V/Rt  = 12 / (60+180) = 0,05 A = 50 mA.

Tegangan pada  R1 yaitu

V1 = R1 x I  = 60 x 50 = 3000 mV =3 V

Tegangan pada R2 yaitu

V2 = R2 x I  = 180 x 50 = 9000 mV = 9 V.

8.  Besar arus yang mengalir pada fuse  merupakan total arus ke beban, dimana:

Beban 1 lilitan relay dengan

R= 100Ω berarti  I = V/R = 12/ 100 = 0,12 A

Beban 2 adalah horn dengan daya 36W, berarti

I = P/V = 36/12 = 3 A

Beban 3 sama dengan beban 2 yaitu horn 36 W jadi   I= 3 A.

Jadi besar arus yang mengalir adalah

It = 0,12 + 3 + 3 = 6,12 A

Tegangan titik 5 saat tombol OFF adalah 0 Volt, sedangkan saat tombol ON adalah 12Volt.

9. Mencari tahanan total (Rt) ditentukan dahulu besar tahanan    pengganti (Rp) untuk R2 dan R3.

Rp  = ( R2 x R3) : (R2 +R3) = (30 x 60) : (30 + 60) = 20

Rt  =   R1  + Rp   =  4  + 20  =  24 W

Mencari  V1 dengan rumus:

V1  =  R1 / Rt  x V  =  4 / 24  x 12  =  2 V

Karena R2 dan R3 paralel maka

V2 = V3  =  Rp/ Rt  x  V  =  20 / 12  x 12  = 10 V

Besar arus pada R1 = arus total

I   =  V/ Rt   =  12/ 24    =  0,5 A

Besar arus pada R2  adalah

I2    =  V2 /  R2  = 10/ 30 = 0,333 A

Besar arus pada R3  adalah

I3   = V3/ R3    = 10/  60 =  0,167 A

g. Lembar Kerja

Lembar Kerja 1a:  Mengukur Tegangan, Arus dan Tahanan

Tujuan:

Siswa dapat mengukur besar tegangan listrik, mengukur besar arus listrik dan mengukur besar tahanan.

Alat dan Bahan

1)  Papan percobaan yang dilengkapi bola lampu 12V/ 3 W,   bola lampu 12V/ 5W dan bola lampu 12V/ 8W.

2)  Papan percobaan yang dilengkapi resistor  1 K, 2 K dan 3 K

3)  Multimeter dan Amper meter 0-5 Amper

4)  Baterai

Keselamatan Kerja

Hati-hati dalam penggunaan multi meter, perhatikan hal-hal sebagai berikut:

1)  Mengukur arus pada posisi Amper dengan pengukuran maksimal 500 mA. Cara pemasangan secara seri.

2)  Mengukur tegangan pada posisi voltmeter, pastikan skala pengukuran diatas tegangan yang akan diukur, pastikan jenis tegangan yang diukur apakah tegangan AC ataui DC.

3)  Mengukur tahanan dengan Ohm meter, perhatikan skala tahanan yang akan diukur, kalibrasi alat sebelum digunakan

Langkah Kerja

1)   Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2)   Lakukan pengukuran tahanan pada komponen berikut ini:

Komponen Nilai Tahanan Komponen Nilai Tahanan
Bola lampu 12V/3W Tahanan   1KΩ
Bola lampu 12V/5W Tahanan   2KΩ
Bola lampu 12V/8W Tahanan   3KΩ

1)   Periksa tegangan baterai yang digunakan. Tegangan: V.

2)   Lakukan pengukuran arus listrik dengan memasang amper meter secara seri pada rangkaian lampu seperti gambar dibawah ini, baca hasil pengukuran, ganti bola lampu dengan ukuran yang berbeda.

3)   Lakukan pengukuran arus listrik dengan memasang amper meter secara seri, dengan mengganti lampu dengan resistor.

Beban

Arus

Beban

Arus

Bola lampu 12V/3W Tahanan   1KΩ
Bola lampu 12V/5W Tahanan   2KΩ
Bola lampu 12V/8W Tahanan   3KΩ

4)   Bersihkan tempat kerja dan Kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

Lembar Kerja 1b:  Merangkai Seri

Tujuan:

Setelah mencoba lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

1)  Merangkai 2 resistor  lebih secara seri

2)  Mengukur arus dan tegangan pada rangkaian seri

Alat dan Bahan

1)  Papan percobaan yang dilengkapi resistor  1 K, 2 K dan 3 K

2)  Multimeter dan Amper meter 0-1 Amper

3)  Power suplay

Keselamatan Kerja

Hati-hati dalam penggunaan multi meter maupun amper meter perhatikan hal-hal sebagai berikut:

1)  Mengukur arus pada posisi Amper dengan pengukuran maksimal 500 mA. Cara pemasangan secara seri.

2)  Mengukur tegangan pada posisi voltmeter, pastikan skala pengukuran diatas tegangan yang akan diukur, pastikan jenis tegangan yang diukur apakah tegangan AC ataui DC.

3)  Mengukur tahanan dengan Ohm meter, perhatikan skala tahanan yang akan diukur, kalibrasi alat sebelum digunakan

 

 

 

 

 

 

 

Langkah Kerja

1)  Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2)  Lakukan pengukuran tahanan pada komponen berikut ini:

Resistor

Hasil Pengukuran

R1 = 1KΩ
R2 = 2KΩ
R3 = 3KΩ

a)  Atur dan periksa tegangan power suplay yang digunakan pada tegangan 6 V.

b)  Hitung besar arus dan tegangan secara teoritis dari rangkaian percobaan

Hasil perhitungan

Tegangan Power Suplay

Arus

V1

V2

V3

6 V

3)  Buat rangkaian sebagai berikut, catat hasil pengukuran

Hasil Pengukuran

Tegangan Power Suplay

Arus

V1

V2

V3

Bersihkan tempat kerja dan Kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

Lembar Kerja 1c:  Merangkai Paralel

Tujuan:

Setelah mencobah lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

1)  Merangkai 2 resitor atau lebih secara paralel

2)  Mengukur arus dan tegangan pada rangkaian parallel

 

Alat dan Bahan

1)  Papan percobaan yang dilengkapi resistor  1 K, 2 K dan 3 K

2)  Multimeter dan Amper meter 0-1 Amper

3)  Power suplay

Keselamatan Kerja

Hati-hati dalam penggunaan multi meter maupun amper meter perhatikan hal-hal sebagai berikut:

1)  Mengukur arus pada posisi Amper dengan pengukuran maksimal 500 mA. Cara pemasangan secara seri.

2)  Mengukur tegangan pada posisi voltmeter, pastikan skala pengukuran diatas tegangan yang akan diukur, pastikan jenis tegangan yang diukur apakah tegangan AC ataui DC.

3)  Mengukur tahanan dengan Ohm meter, perhatikan skala tahanan yang akan diukur, kalibrasi alat sebelum digunakan

Langkah Kerja

1)  Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2)  Lakukan pengukuran tahanan pada komponen berikut ini:

Resistor

Hasil Pengukuran

R1 = 1KΩ

R2 = 2KΩ

R3 = 3KΩ

3)  Atur dan periksa tegangan power suplay yang digunakan pada tegangan 6 V.

4)  Hitung secara teoritis besar arus dan tegangan pada rangkian dibawah ini

Hasil perhitungan

Tegangan Power Suplay

V

A

A1

A2

A3

6 V

5)  Buat rangkaian seperti gambar diatas dengan skala Ampermeter dan volt meter diatas hasil perhitungan teoritis. Catat hasil pengukuran

Hasil pengukuran

Tegangan Power Suplay

V

A

A1

A2

A3

6)  Bersihkan tempat kerja dan Kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

 

Lembar Kerja 1d:  Merangkai Kombinasi

Tujuan:

Setelah mencobah lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

1)  Merangkai 3 resitor  lebih secara seri-paralel atau kombinasi

2)  Mengukur arus dan tegangan pada rangkaian seri-paralel

Alat dan Bahan

1)  Papan percobaan yang dilengkapi resistor  1 K, 2 K dan 3 K

2)  Multimeter dan Amper meter 0-1 Amper

3)  Power suplay

Keselamatan Kerja

Hati-hati dalam penggunaan multi meter maupun amper meter perhatikan hal-hal sebagai berikut:

1)  Mengukur arus pada posisi Amper dengan pengukuran maksimal 500 mA. Cara pemasangan secara seri.

2)  Mengukur tegangan pada posisi voltmeter, pastikan skala pengukuran diatas tegangan yang akan diukur, pastikan jenis tegangan yang diukur apakah tegangan AC ataui DC.

3)  Mengukur tahanan dengan Ohm meter, perhatikan skala tahanan yang akan diukur, kalibrasi alat sebelum digunakan

Langkah Kerja

1)  Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2)  Lakukan pengukuran tahanan pada komponen berikut ini:

Resistor

Hasil Pengukuran

R1 = 1KΩ
R2 = 2KΩ
R3 = 3KΩ

3) Atur dan periksa tegangan power suplay yang digunakan pada tegangan 6 V.

4) Hitung secara teoritis besar arus dan tegangan pada rangkian dibawah ini

Hasil perhitungan

 Tegangan Power Suplay

V1

V2

A1

A2

A3

6 V

4)   Buat rangkaian seperti gambar diatas dengan skala Ampermeter dan voltmeter diatas hasil perhitungan teoritis.

Hasil pengukuran

Tegangan Power Suplay

V1

V2

A1

A2

A3

6) Bersihkan tempat kerja dan Kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

 

    Kegiatan Belajar 2.  Prosedur menghindari kerusakan ECU dan     Memeriksa gangguan pada Rangkaian

 

 a. Tujuan kegiatan belajar

Setelah mempelajari modul ini, siswa dapat:

1)  Mengetahui prosedur menghindari kerusakan pada ECU.

2)  Menyebutkan penyebab terjadinya nilai tahanan membesar

3)  Menyebutkan penyebab terjadinya hubung singkat

4)  Menyebutkan peralatan yang biasa digunakan memeriksa gangguan pada rangkaian kelistrikan

5)  Menggunakan peralatan untuk memeriksa gangguan pada rangkaian kelistrikan

b. Uraian materi kegiatan belajar

 

Prosedur menghindari kerusakan ECU

 

ECU adalah rangkaian komputer yang dilengkapkan pada mobil-mobil modern untuk mengontrol kerja dari mesin agar optimal, sistem pengapian dan injeksi bahan bakar adalah bagian utama yang dikendalikan oleh ECU. Sensor-sensor memberikan sinyal pada ECU tentang keadaan atau kondisi dari mesin. Jika ada komponen yang mengalami gangguan secara cepat sensor akan memberikan sinyal pada ECU, sehingga ECU dapat memberikan peringatan dengan menyalakan lampu Indikator yang disediakan pada mobil sehingga pengemudi akan mengetahui bahwa ada gangguan pada mesin.

Pada umumnya ECU mempunyai program darurat yang dapat mengatasi masalah untuk sementara hingga mesin dibetulkan. Prosedur diagnosa dan pemeriksaan sistem yang dikendalikan oleh ECU menggunakan alat khusus yaitu scan tool, alat ini akan mendeteksi adanya ketidaknormalan kerja mesin dan memberikan informasi tentang bagian-bagian dari komponen yang memerlukan perbaikan atau penggantian.

Karena semua program dilakukan oleh ECU maka tidak diperkenankan mengutak-atik ECU tanpa petunjuk dari buku manual mesin yang bersangkutan.

Langkah-langkah menghindari kerusakan ECU:

a.     Jangan pernah melepas terminal baterei saat kunci kontak ON atau mesin hidup

b.     Jangan pernah memeriksa rangakaian ECU menggunakan alat yang tidak direkomendasikan oleh buku manual.

c.      Jangan pernah memberikan tegangan luar pada ECU.

d.     Jangan pernah menjumper pada pin-pin  ECU

e.     Hindari ECU dari tegangan induksi

f.      Hindari ECU dari terkena air.

g.     Jangan pernah melakukan pemeriksaan rangkaian ECU tanpa petunjuk buku manual.

Memeriksa gangguan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan

Gangguan pada rangkaian kelistrikan yang umum terjadi ada tiga macam yaitu:

1)   Gangguan pada rangkaian karena nilai tahanan membesar

2)   Gangguan karena hubung singkat

3)   Ganguan dari komponen-komponen kelistrikan itu sendiri.

Gangguan – gangguan ini jika tidak ditangani dengan benar, maka akan menyebabkan rangkaian kelistrikan tidak bekerja dengan normal atau bahkan akan berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih parah pada komponen–komponen rangkaian.

Agar rangkaian kelistrikan tersebut dapat bekerja secara normal kembali, maka diperlukan pemeriksaan pada komponen–komponen rangkaian. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan dimana gangguan itu terjadi dan penyebabnya. Jika letak dan penyebab gangguan sudah diketahui maka langkah berikutnya adalah melakukan perbaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan.

1). Gangguan rangkaian kelistrikan karena nilai tahanan membesar

Gangguan ini biasanya disebabkan Karena rangkaian terbuka atau terjadinya korosi pada bagian–bagian tertentu dari rangkaian,  dapat

juga disebabkan karena kontak saklar yang tidak baik/kotor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 24. Gangguan yang disebabkan nilai tahanan membesar

Gambar 24.a menunjukkan bahwa, lampu tidak menyala akibat rangkaian terputus atau terbuka, dan arus tidak dapat mengalir.

Sedangkan gambar b lampu tidak menyala/redup diakibatkan arus yang mengalir ke lampu terlalu kecil, karena nilai tahanan membesar. Nilai tahanan dapat membesar karena saklar kotor atau sambungan kabel berkarat/korosi.

 

Gangguan karena hubung singkat

Hubung singkat dapat terjadi apabila ada kabel penghantar yang berhubungan langsung dengan penghantar lain atau pada ground.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 25. Gangguan karena hubung singkat

Gambar 25.a  menunjukkan adanya hubung singkat diantara dua kabel penghantar. Lampu atas seharusnya tidak menyala, sedangkan lampu bawah menyala. Akibat adanya hubung singkat antara kabel lampu atas dan kabel lampu bawah, maka lampu atas ikut menyala.

Sedangkan gambar 25.b lampu pada rangkaian tidak menyala akibat adanya hubung singkat antara kabel dengan ground, sekering pada rangkaian dapat terputus karena arus yang mengalir terlalu besar.

Gangguan karena kerusakan komponen

Kerusakan pada komponen kelistrikan adalah penyebab utama rangkaian kelistrikan tidak dapat bekerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 26. Gangguan akibat kerusakan komponen

Gambar 26.a menerangkan lampu tidak menyala karena filamen lampu terputus.

Gambar 26.b menunjukan adanya kerusakan pada batere baik pada kotak batere ataupun korosi pada terminal–terminalnya dan ini menjadikan batere tidak dapat mensuplai kebutuhan energi pada rangkaian dan pada akhirnya rangkaian kelistrikan tidak dapat bekerja.

Peralatan untuk memeriksa gangguan pada rangkaian/ system kelistrikan.

Macam-macam peralatan yang dapat digunakan untuk memeriksa gangguan pada rangkaian kelistrikan seperti pada gambar dibawah. Peralatan ini biasa digunakan untuk memeriksa kontinuitas dari suatu rangkaian dan mengukur nilai tahanan, arus atau tegangan dari suatu rangkaian kelistrikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 27. Macam-macam peralatan pemeriksa rangkaian

 

Peralatan-peralatan yang biasa digunakan antara lain:

a)    Jumper wire

b)   Test lamp

c)    Self-Powered test light

d)   AVO Digital

e)    AVO Analog

f)     VOLT – AMP Tester

g)   Combination meter/Digital probe

 

Menggunakan Jumper wires untuk memeriksa kontinuitas rangkaian kelistrikan.

Sering kali rangkaian kelistrikan tidak dapat bekerja karena tidak adanya kontinuitas pada rangkaian tersebut, untuk memeriksa kontinutas dapat digunakan jumper wires seperti yang terlihat pada gambar 27.

Keselamatan kerja yang harus diperhatikan selama menggunakan jumper wires adalah:

Jangan pernah melakukan by-pass pada lampu, motor, coil atau beban kelistrikan lainnya. Karena hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada komponen lainnya.

Langkah pemeriksaan:

1). Pastikan saklar dalam posisi ON

2). Memby-pass rangkaian dari titik/bagian yang paling dekat dengan sumber

3).Jika dengan langkah ini rangkaian sudah bekerja, maka dapat dipastikan bahwa gangguan itu terjadi pada daerah yang kita periksa tadi (tidak ada kontinuitas pada posisi ini).

4). Jika pada langkah no.2 telah dikerjakan dan rangkaian tetap tidak bekerja maka, mulailah melakukan by-pass pada posisi selanjutnya. Begitu seterusnya sampai ditemukan dimana letak gangguannya.

Gambar 28. By-pass dengan Jumper wires

Menggunakan Tes lamp

Selain dengan jumper wires pemeriksaan kontinuitas dapat dilakukan dengan tes lamp, penggunaan tes lamp lebih menguntungkan dibandingkan jumper karena penggunaan tes lamp tidak menyebabkan terjadinya kerusakan pada komponen kelistrikan yang sedang diperiksa.

Gambar dibawah menunjukkan cara pemeriksaan kontinuitas pada rangkaian, jika tes lamp nyala berarti ada kontinuitas antara titik yang diperiksa dengan sumber arus/positip batere, sebaliknya jika tes lamp tidak nyala berarti tidak ada kontinuitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 29. Pemeriksaan kontinuitas dengan tes lamp

Langkah pemeriksaan :

1). Pastikan bahwa batere dalam kondisi baik

2). Pastikan saklar pada posisi ON

2). Hubungkan penjepit dari tes lamp dengan negatip batere/ground

3). Hubungkan colok tes lamp pada terminal sekring, jika lampu tes menyala berarti ada kontinuitas antara positip batere dengan kaki depan sekring jika lampu tidak nyala berarti jaringan kabel antara positip batere dengan kaki sekring terputus.

4). Lakukan pemeriksaan tahap berikutnya pada saklar, konektor seperti gambar 29. sampai menemukan tidak adanya kontinuitas dengan ditandai tes lamp tidak nyala.

c. Rangkuman kegiatan belajar

Tiga tipe gangguan yang sering terjadi pada rangkaian/system kelistrikan yaitu: Gangguan karena nilai tahanan naik, hubung singkat dan kerusakan komponen.

Ada beberapa alat yang dapat digunakan untuk memeriksa gangguan rangkaian diantaranya jumper wires, tes lamp, AVO digital ataupun analog. Pada saat pemeriksaan ganguan harus diperhatikan cara penggunaan alat yang digunakan sebab jika salah menggunakan alat dapat menyebabkan kerusakan pada komponen yang diperiksa.

d. Tugas kegiatan belajar

Buatlah tes lamp dari komponen-komponen yang mudah didapat

e. Test formatif kegiatan belajar

1)  Sebutkan prosedur menghindari kerusakan pada ECU

2)  Faktor apa saja yang menyebabkan nilai tahanan pada rangakaian kelistrikan bertambah.

3)  Jelaskan apa yang tidak boleh dilakukan saat pemeriksaan kontinuitas rangkaian menggunakan jumper wire.

4)  Bagamana cara menggunakan tes lamp untuk memeriksa kontinuitas rangkaian kelistrikan

5)  Jelaskan keuntungan menggunakan tes lamp disbanding jumper wire.

f. Kunci jawaban formatif kegiatan belajar

1)   Prosedur menghindari kerusakan ECU

a.     Jangan pernah melepas terminal baterei saat kunci kontak ON

b.     Jangan pernah memeriksa rangkaian ECU menggunakan alat yang tidak direkomendasikan oleh buku manual kendaraan

c.      Jangan pernah memberikan tegangan luar pada ECU

d.     Jangan pernah menjumper pada pin-pin  ECU

e.     Hindari ECU dari tegangan induksi

f.      Hindari ECU dari terkena air

g.     Jangan pernah melakukan pemeriksaan rangkaian ECU tanpa petunjuk buku manual.

2)  Faktor apa saja yang menyebabkan nilai tahanan pada rangakaian kelistrikan bertambah

a.    Gangguan karena nilai tahanan membesar

b.    Gangguan karena hubung singkat

c.    Gangguan karena kerusakan komponen

3)  Faktor penyebab nilai tahanan bertambah antara lain:

a)  Adanya rangkaian yang terbuka/terputus

b)  Timbulnya korosi/karatan pada sambungan

4)  Hal yang tidak diperbolehkan dalam pemerikaan kontinuitas dangan jumper wire adalah:

Membay-pass beban kelistrikan baik lampu,motor atau beban lain

5)  Cara menggunakan tes lamp untuk pemeriksaan kontinuitas rangkaian, adalah:

a)   Menghubungkan jepit tes lamp dengan negatip batere atau ground

b)   Menghubungkan colok tes lamp dengan titik pada rangkaian yang akan diperiksa.

5) Keuntungan menggunakan tes lamp dibandingkan jumper wire adalah: tes lamp tidak menyebabkan terjadinya kerusakan pada komponen rangkaian yang diperiksa.

g. Lembar kerja kegiatan belajar

Tujuan :

Setelah mencoba lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

1)  Menggunakan jumper wire

2)  Menggunakan tes lamp

3)  Menentukan letak gangguan dari hasil pemeriksaan.

4)  Menyimpulkan hasil pemeriksaan

Alat dan Bahan

4)  Trainer kelistrikan body standart

5)  Baterai 12V

6)  Jumper wire

7)  Tes lamp

Keselamatan Kerja

1)  Tidak diperkenankan Memby-pass batere karena dapat menyebakan kerusakan pada batere.

2)  Tidak diperkenankan memby-pass beban kelistrikan.

Langkah Kerja

4)  Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

5)  Lakukan pemeriksaan kontinuitas dengan jumper dan tes lamp.

Memeriksa kontinuitas dengan jumper:

1)  Rangkaikan kelistrikan body standart yang akan diperiksa

2)  By-pass dengan jumper pada bagian titik kabel yang terdekat dengan sumber arus.

3)  Perhatikan hasil pemeriksaan ada perubahan kerja atau tidak,

4)  Lanjutkan pemeriksaan pada titik–titik berikutnya.

Mengukur kontinuitas dengan tes lamp:

1)  Rangkaikan kelistrikan body standart yang akan diperiksa

2)  Hubungkan jepit tes lamp dengan negatip sumber arus.

3)  Hubungkan colok tes lamp pada titik yang terdekat dengan sumber arus positip.

4)  Perhatikan hasil pemeriksaan apakah lampu tes menyala atau tidak.

5)  Tarik kesimpulan dari hasil pemeriksaan

6)  Lanjutkan pemeriksaan pada titik berikutnya.

7)  Ambil kesimpulan akhir, tentukan letak gangguan rangkaian

8)Bersikah alat dan tempat kerja, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

Tugas:

Analisisa data hasil pemeriksaan, buatlah laporan

 

     Kegiatan Belajar 3.   Mengganti Sekering dan Bohlam

 

 a. Tujuan kegiatan belajar

Setelah mempelajari modul ini, siswa dapat:

6)   Mengerjakan penggantian fuse/sekering

7)   Memeriksa kondisi fuse/sekering

8)   Memeriksa ukuran fuse/sekering

4) Mengerjakan penggantian bohlam lampu kepala dengan  benar

9)   Memeriksa kerja lampu kepala

10)Mengerjakan penggantian lampu belakang, lampu rem dan lampu mundur dengan benar.

11)Memeriksa kerja lampu belakang, lampu rem dan lampu mundur.

b. Uraian materi kegiatan belajar

 

1)   Mengganti Sekering yang putus

 

Sekering melindungi semua alat elektrik di dalam mobil: Pada saat aliran arus berlebih, sekering akan “putus” sedemikian sehingga arus listrik yang berlebih tidak mengalir pada peralatan. Karena arus yang berlebih itu dapat merusakkan peralatan atau menimbulkan percikan api. Dengan mengganti sekering yang putus  akan mengembalikan kerja peralatan seperti semula (sebagai contoh sekering klakson putus akibatnya klakson tidak bunyi, setelah sekering diganti klakson kembali bunyi). Jika sekering putus berulangkali, itu menandakan adanya suatu masalah dalam rangkaian dan ini memerlukan penanganan lebih serius.

Ada dua jenis sekering dilihat dari bentuknya yaitu type blade/pipih dan cartridge/tabung. Pada umumnya kendaraan sekarang banyak menggunakan type blade.

Gambar 30. Macam sekering

Langkah-langkah mengganti sekering

1. Matikan mesin

2. Mencari kotak sekering.

Kotak sekering  umumnya berbentuk segi empat yang diletakkan di bawah dashboard sebelah kanan.

Gambar 31. Kotak sekering

3. Amati tutup kotak sekering Pada tutup kotak sekering dilengkapi dengan denah lokasi masing-masing sekering dan kapasitas dari sekering.

Gambar 32. Denah letak sekering

4. Pada kotak sekering juga dilengkapi dengan catut pelepas dan sekering cadangan.

   Gambar 33. Catut sekering

5. Lepas sekering yang akan diganti dengan menariknya menggunakan catut sekering.

  Gambar 34. Melepas sekering

6. Jika tidak ditemukan catut gunakan tang lancip untuk melepas sekering.

Gambar 35. Melepas sekering dengan tang

7. Periksa kondisi sekering

Gambar 36. Sekering baik dan putus

8. Pastikan kapasitas sekering yang dipakai.

Gambar 37. Kapasitas sekering 15 A

9. Pasang sekering baru dengan kapasitas yang sama dengan sekering yang diganti.

Tekan pelan-pelan hingga sekering duduk dengan tepat pada slotnya.

Gambar 38. Memasang sekering

10. Pasang tutup sekering.

Keselamatan kerja:

1.    Jangan pernah mengganti sekering dengan ukuran amper yang lebih besar. Ini dapat merusakan peralatan yang seharusnya diamankan oleh sekering itu.

2.    Pada jenis tabung sekering mudah pecah, hati-hati saat melepas atau memasangnya, karena pecahan kacanya dapat melukai tangan.

2)   Mengganti bohlam lampu kepala

 

Lampu kepala berfungsi sebagai penerangan jalan saat kendaraan digunakan pada malam hari, jika lampu kepala mati maka kemungkinan penyebab utamanya dalah bohlam putus. Mengganti bohlam lampu kepala yang putus relatif gampang. Mobil-mobil sekarang pada umumnya menggunakan bohlam type halogen yang dapat dengan mudah dilepas dari bagian belakang lampu kepala. Tetapi masih ada juga yang menggunakan model sealed beam (khususnya pada mobil-mobil tua), pada lampu jenis ini penggantiannya harus satu set antara bola lampu dan kaca biasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                       Gambar 39. Bohlam halogen

Langkah-langkah mengganti bohlam lampu kepala:

1.  Pastikan bola lampu yang akan diganti

Gambar 40. Periksa lampu kepala

2.   Matikan saklar lampu kepala

Gambar 41. Saklar lampu kepala

3.   Lepas soket lampu kepala, dan buka karet pelindung serta lepas klip pengunci

Gambar 42. Melepas klip

4.    Keluarkan bohlam dari dudukanya dan siapkan bohlam baru.

 

Gambar 43. Mengeluarkan bohlam

5.   Pasang bohlam halogen Yang baru, pastikan tepat pada dudukannya.

6.    Pasang kembali klip pengikat pada tempatnya

7.    Pasang karet pelindung  pada dudukannya

8.    Pasang soket lampu kepala (pastikan menancap dengan kuat).                                Gambar   44.     Pasang bohlam baru

9.    Nyalakanlah  lampu kepala untuk mengujinya.

Keselamatan kerja:

1.    Jangan pernah menyentuh kaca pada bohlam halogen.

2.    Daya pada bohlam baru harus sama dengan bohlam lama.

3.    Saat pemasangan bohlam baru pastikan bohlam duduk dengan tepat pada tempatnya, persinggungan yang tidak tepat mengakibatkan getaran yang menimbulkan panas sehingga bohlam mudah putus.

 

 

3) Mengganti bohlam lampu belakang, lampu rem dan   mundur

Lampu yang dipasang pada mobil mempunyai fungsi yang penting bagi keselamatan berkendaraan di jalan raya. Jika ada salah satu lampu yang mati, maka segera harus diganti.

Gambar 45. Bohlam mati karena terbakar

a.     Langkah-Langkah:

1.    Tentukan bagian bohlam yang akan diganti: Pada beberapa type lampu belakang, cover lampu dibuka dari luar dengan melepas sekerup  pengikatnya.

2.    Lepaskan  sekerup pengikat.

Gambar 46. Melepas baut pengikat

3.    Lepas bohlam dengan cara menekan dan diputar.

Gambar 47. Melepas bohlam

4.    Periksa bohlam berapa ukuran daya yang dipakai.

5.    Bersihkanlah konektor dengan sikat kawat atau lap dari kotoran atau karatan.

Gambar 48.  Membersihkan konektor

6.    Ambil bohlam baru dengan ukuran sama dengan bohlam lama.

7.    Pasang bohlam baru dengan cara menekan masuk lalu diputar.

Gambar 49. Pasang bohlam

8.    Pasang cover lampu belakang.

9.    Uji kerja lampu dengan menginjak pedal rem dan memutar saklar lampu kota.

                                                                          Gambar 50. Menguji lampu belakang

 

 

Keselamatan kerja:

1.    Selalu gunakan ukuran bohlam yang sama dengan aslinya saat penggantian.

2.    Hati saat melepas atau memasang bohlam, tekanan yang terlalu kuat dapat memecahkan lampu.

 

c. Rangkuman kegiatan belajar

Sekering berfungsi untuk mengamankan jaringan dari kerusakan akibat, aliran arus yang berlebih. Sekering yang rusak/putus harus diganti agar peralatan kelistrikan yang ada pada rangkaian bekerja kembali. Sekering mempunyai ukuran kapasita arus yang berbeda, apabila ukuran arus pada sekering diganti lebih besar maka hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan kelistrikan yang ada.

Rangkaian sistem kelistrikan diantaranya adalah lampu kepala, lampu rem, lampu mundur, lampu kota. Apabila bohlam putus maka lampu tidak menyala, dengan mengganti bohlam baru maka rangkaian lampu akan menyala kembali.

Pasanglah bohlam baru dengan ukuran yang sama dengan aslinya agar tidak mengakibatkan gangguan pada rangakaian kelistrikan yang ada.

d. Tugas kegiatan belajar

Mencari contoh bohlam type sealed-beam dan bohlam halogen yang digunakan pada lampu kepala.

e. Test formatif kegiatan belajar

6)  Sebutkan ciri-ciri sekering putus?

7)  Faktor apa saja yang perlu diperhatikan saat mengganti sekering.

8)  Sebutkan ciri-ciri bohlam mati?.

9)  Jelaskan langkah perbaikan bohlam lampu rem.

10)     Apa yang harus diperhatikan saat memegang bohlam halogen.

f. Kunci jawaban formatif kegiatan belajar

6)  Ciri sekering putus, filamen kelihatan putus dan apabila dilakukan pemeriksaan kontinuitas diantara ke dua ujung sekering tidak ada kontinuitas.

7)  Faktor yang perlu diperhatikan saat mengganti sekering:

c)  Ukuran sekering harus sama dengan sekering yang asli

d)  Pemasangan harus benar pada tempatnya.

8)  Ciri-ciri bohlam mati:

a)   Filament putus,

b)   Dari warna kelihatan hitam habis terbakar

9)  Langkah perbaikan lampu rem:

a)   Pastikan terminal batere terlepas

b)   Pastikan posisi bohlam lampu rem yang akan diganti.

c)    Buka cover penutup bohlam.

d)   Lepas bohlam

e)   Periksa ukuran bohlam

f)    Bersihkan dudukan bohlam dari karat/kotoran

g)   Pasang bohlam baru

h)   Pasang kembali cover bohlam

i)     Pasang terminal batere

j)    Cek kerja lampu rem dengan menginjak pedal rem

5) Yang harus diperhatikan saat memegang bohlam halogen adalah tidak boleh memegang pada kacanya karena dapat menyebabkan cepat putus.

g. Lembar kerja kegiatan belajar

Tujuan :

Setelah mencoba lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

5)  Menentukan kondisi sekering baik atau rusak

6)  Menentukan ukuran sekering

7)  Mengganti sekering

8)  Menentukan ukuran bohlam

9)  Mengganti bohlam

 

Alat dan Bahan

8)  Mobil instruksi

9)  Test lamp

Keselamatan Kerja

3)  Lepas terminal batere sebelum pekerjaan penggantian dilakukan.

4)  Pastikan kunci kontak OFF saat melepas terminal batere.

5)  Hati-hati waktu melepas sekering atau bohlam, karena mudah pecah.

6)  Selalu gunakan ukuran yang sama saat penggantian sekering dan bohlam.

7)  Selalu dilakukan pemeriksaan kerja, saat selesai penggantian.

Langkah Kerja

6)  Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

7)  Lakukan Penggantian sekering

8)  Lakukan penggantian bohlam

Mengganti sekering:

5)  Pastikan kunci kontak off dan lepas terminal batere

6)  Lepas sekering dengan hati.

7)  Periksa ukuran sekering

8)  Pasang sekering baru dengan ukuran yang sama

9)  Pasang kembali terminal batere, cek kerja sekering dengan test lamp

Mengganti bohlam lampu rem:

8)  Pastikan letak bohlam yang akan ganti

9)  Lepas terminal batere

10)     Pada kendaraan yang dilengkapi dengan ECU posisi kunci kontak harus OFF saat terminal batere dilepas

11)     Lepas cover lampu rem

12)     Lepas bohlam lampu rem

13)     Periksa ukuran daya lampu rem

14)     Bersihkan dudukan bohlam dari kotoran ataupun karat

15)     Pasang bohlam baru dengan ukuran sama dengan yang diganti

16)     Pasang cover lampu rem

17)     Pasang terminal batere

18)     Periksa kerja lampu rem dengan menginjak pedal rem

Tugas:

Cari jenis-jenis sekering dan analisa kapasitas ampere yang dipakai untuk masing-masing komponen kelistrikan.

 

    Kegiatan Belajar 4.   Perbaikan Rangkaian Kabel

 

a. Tujuan Kegiatan Belajar

Setelah mempelajari modul ini siswa dapat:

6)   Menyebutkan macam kabel yang digunakan pada kendaraan

7)   Mengidentifikasi kode warna yang digunakan pada kabel

8)   Menentukan ukuran kabel yang digunakan

9)   Memperbaiki rangkaian kabel

 

b. Uraian materi kegiatan belajar

Kabel (Wires)

Kabel merupakan  konduktor digunakan sebagai media mengalirkan listrik. Terdapat beberapa tipe kabel, diataranya:

1)  Kabel yang terbungkus isolator tipe pejal dan tipe serabut. Kabel tipe serabut yang paling banyak digunakan pada kelistrikan otomotif.

2)  Kabel tanpa isolator, kabel jenis ini digunakan sebagai kabel bodi/ ground. Kabel ini menghubungkan antara blok mesin dengan bodi/ rangka kendaraan.

 

Gambar 51.  Macam kabel

Berdasarkan besar arus mengalir kabel dikelompokkan menjadi 2 yaitu :

1)   Kabel diameter kecil   yaitui kabel yang digunakan untuk beban lampu dan asesoris lainnya.

2)   Kabel diameter besar  yaitu kabel yang digunakan untuk kabel baterai.

Kode Warna Kabel

Guna mempermudah identifikasi maupun penelusuran bila terjadi kerusakan pada rangkaian kelistrikan maka isolator kabel dibuat warna.  Pada wiring diagrams warna kabel ditunjukkan dalam kode abjad, karena terbatasnya warna maka warna isolator kabel ada yang model diberi garis strip. Pengkode kabel model ini warna kabel yang dominan diletakan depan sedangkan strip diletakkan dibelakang. Contoh: kabel satu warna dengan kode  “B” berarti warna  kabel adalah hitam (black), sedangkan kode “B-W”  berarti warna kabel adalah hitam strip putih (white).

 

Tabel 1    Kode Warna Kabel

Warna

Kode

Warna

Kode

Black (hitam)

Brown (coklat)

Green (hijau)

Gray  (abu-abu)

Blue  (biru)

Light Blue

(hijau muda)

B

BR

G

GR

L

LG

Orange (oranye)

Pink(merah muda)

Red (merah)

Violet (ungu)

White (putih)

Yellow (kuning)

O

P

R

V

W

Y

Hubungan Antara Diameter dan Panjang Kabel dengan Tahanan Listrik

 

Tahanan listrik berbanding lurus dengan panjang kabel tetapi berbanding terbalik dengan diameter kabel. Ini berarti semakin panjang kabel listrik, semakin besar pula tahanannya, tetapi semakin besar diameter kabel listrik semakin kecil tahanannya. Berdasarkan pengertian diatas tahanan  suatu kabel listrik dapat dihitung dengan rumus berikut:

R   =  Tahanan listrik  ……………….   W

r   =  Tahanan jenis   ……………….   Wm

l    =  Panjang kabel   ……………….    m

A   =  Luas penampang kabel  ……..  m2

Tabel  2.   Tahanan jenis pada temperature 20 ºC

Bahan r    W/m Bahan r    W/m
Almunium

Besi

Emas

Perak

Platina

Tembaga

2,75 x 10-8

9,68 x 10-8

2,44 x 10-8

1,62 x 10-8

10,6 x 10-8

1,69 x 10-8

Tungsten

Mangan

Karbon

Germanium

Silikon

Kaca

5,25 x 10-8

48,2 x 10-8

3  x 10-5

5 x 10-1

0,1 -  60

10- 1012

 

 

Menentukan Ukuran Kabel

Dari rumus di atas dapat dilihat bahwa semakin panjang kabel   semakin besar tahanan listriknya, dan semakin kecil kabel tahanan semakin besar. Guna memudahkan pemakaian maka SAE ( Society  of Automotive  Engineer) mengeluarkan pedoman  AWG (American Wire Gauge) seperti table berikut ini:

Tabel 3.  Ukuran Kabel

Metric (mm2) SAE AWG (gage) Ohm per 1000 feet
0,5

0,8

1,0

2,0

3,0

5,0

8,0

13,0

19,0

32,0

40,0

50,0

62,0

20

18

16

14

12

10

8

6

4

2

1

0

00

10,0

6,9

4,7

2,8

1,8

1,1

0,7

0,4

0,3

0,2

0,14

0,11

0,09

 

Contoh:

Tentukan besar tahanan untuk kabel 14 gage, dengan  panjang 18 feet.

Dari table diatas dapat diketahui tahanan kabel 14 gage adalah 2,8 Ohm tiap 1000 feet atau 0,0028 ohm per feet, sehingga besar tahanan =  0,0028 x 18 = 0,05 Ohm.

Pemilihan kabel yang digunakan pada sistem kelistrikan tergantung dari besar arus yang akan mengalir atau beban. Semakin besar arus yang mengalir atau semakin besar beban semakin kesar ukuran kabel yang digunakan. Selain besar arus dan beban juga dipengaruhi jarak antara sumber dengan beban. Guna mempermudah pemilihan SAE mengeluarkan pedoman pemilihan kabel seperti table berikut ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.  Pedoman Pemilihan Ukuran Kabel (Wire Gage)

Arus Daya Panjang Kabel (feet)
Amp Watt 3 5 7 10 15 20 25 30
1 12 20 20 20 20 20 20 20 20
1,5 18 20 20 20 20 20 20 20 20
2 24 20 20 20 20 20 20 20 20
3 36 20 20 20 20 20 20 20 20
4 48 20 20 20 20 20 20 20 18
5 60 20 20 20 20 20 20 18 18
6 72 20 20 20 20 20 18 18 18
7 84 20 20 20 20 18 18 18 16
8 96 20 20 20 18 18 18 16 16
10 120 20 20 20 18 18 16 16 16
11 132 20 20 20 18 16 16 16 14
12 144 20 20 20 18 16 16 14 14
15 180 20 20 20 18 16 14 14 12
18 216 20 20 18 16 14 14 12 12
20 240 20 20 18 16 14 12 12 10
22 264 20 18 16 14 12 12 10 10

 

Contoh:

Tentukan ukuran kabel untuk lampu penerangan dengan daya 200 W,  bila jarak lampu sampai sumber listrik sejauh 18 feet. Tentukan pula penurunan tegangan akibat panjang kabel.

Besar arus yang mengalir adalah I = P/V  = 200 /12 = 16,6 A

Ukuran kabel untuk daya 200W dengan jarak 18 feet dari table diatas adalah 14 gage atau luas penampang 2,0 mm2 .

Dari table diatas dapat diketahui tahanan kabel 14 gage adalah 2,8 Ohm tiap 1000 feet atau 0,0028 ohm per feet, sehingga besar tahanan =  0,0028 x 18 = 0,05 Ohm.  Dengan demikian besar voltage drop sebesar  V = I x R  =  16,6 x 0,05 = 0, 83 Volt.

 

Hubungan Antara Temperatur dan Tahanan Listrik

Tahanan listrik pada konduktor akan berubah dengan adanya perubahan temperatur konduktor/kabel. Biasanya tahanan listrik akan naik bila temperatur naik. Hal tersebut dapat dipahami dengan cara berikut. Bila sebuah lampu yang dihubungkan denga baterai dengan sebuah kawat tembaga, kemudian kawat tersebut dipanaskan dengan api maka lampu tersebut semakin lama akan semakin redup.

                    

 

Gambar 52.  Beberapa FaKtor Yang Mempengaruhi Nilai Tahanan

Tahanan Sambungan

Tahanan sambungan adalah tahanan yang diakibatkan oleh sambungan yang kendor atau kotor. Bila arus listrik melewati sambungan yang kendor akan menyebabkan sambungan menjadi panas. Panas ini akan memperbesar tahanan dan mempercepat timbulnya  korosi. Tahanan sambungan dapat diperkecil dengan membersihkan sambungan dan mengeraskan sambungan.

Terminal baterai merupakan terminal yang paling sering kendor dan kotor akibat korosi yang disebabkan asam sulfar dari uap elektrolit baterai. Akibat terminal kendor dan kotor menyebabkan tahanan meningkat sehingga menyebabkan gangguan suplai listrik terutama saat mesin distarter, oleh karena itu terminal ini harus sering diperiksa dan dibersihkan

Gambar 53.  Membersihkan terminal baterai

Tahanan Isolator

Seperti telah dijelaskan bahwa karet, vynil, plastik dan porselin  dapat digunakan untuk menghalangi arus listrik antara konduktor. Sifat dari bahan-bahan ini disebut kemampuan tahanan isolator dan dinyatakan dengan nilai tahanan. Dalam kondisi tertentu isolator dapat berubah menjadi penghantar listrik/konduktor, misalnya karena retak, bocoran arus listrik yang akan menimbulkan percikan bunga api dan menimbulkan kotoran, menempelnya air atau kotoran lain pada isolator.

 

Gambar 54.  Kerusakan isolator kabel listrik

Wire Harness

Wire harness merupakan sekumpulan kabel yang digunakan pada rangkaian kelistrikan, dimana sekumpulan kabel tersebut dijadikan satu dengan isolator, agar kabel lebih rapih. Pada ujung wire harness dipasang konektor sehingga pemasangan sistem perkabelan lebih mudah.

 

Gambar 55.  Wire Harnes

 

Memperbaiki Kabel

1)  Potong kabel yang rusak, kemudian kupas kabel dengan tang pengupas dengan panjang 10 mm

Gambar 56. Mengupas kabel

2)  Ukur diameter kabel untuk menentukan ukuran kabel penyambung yang akan digunakan.

Gambar 57.  Mengukur diameter

3)  Buat kabel penyambung yang akan digunakan, masukkan heat shrink tube ke kabel penyambung.

Gambar 58. Memasukkan heat shrink

4)  Sambung kedua kabel dengan Crimp mark, kemudian solder sambungan

Gambar 59.  Menyolder sambungan

5)  Geser heat shrink tube ke kabel yang disambung, kemudian panasi heat shrink tube dengan heater.

Gambar 60.  Memanaskan heat shrink

 

 

c. Rangkuman kegiatan belajar

Kabel merupakan  konduktor digunakan sebagai media mengalirkan listrik. Terdapat beberapa tipe kabel diantaranya :

1)  Kabel berisolator,  contoh kabel yang umum digunakan

2)  Kabel tanpa isolator, contoh kabel massa

3)  Kabel kecil, contoh kabel yang digunakan secara umum

4)  Kabel besar , contoh kabel baterai

Pada wiring diagrams warna kabel ditunjukkan dalam kode abjad, karena terbatasnya warna maka warna isolator kabel ada yang model diberi garis strip. Pengkode kabel model ini warna kabel yang dominan diletakan depan sedangkan strip diletakkan dibelakang. Contoh: kabel satu warna dengan kode  “B” berarti warna  kabel adalah hitam (black), sedangkan kode “B-W”  berarti warna kabel adalah hitam strip putih (white).

Guna memudahkan menentukan ukuran kabel yang akan digunakan  SAE ( Society  of Automotive  Engineer) mengeluarkan pedoman  AWG (American Wire Gauge) yang berisi nomor gage,  ukuran kabel dan tahanan tiap 1000 feet. Selain itu juga ada pedoman yang memuat hubungan arus, panjang kabel dan nomor gage yang digunakan.

Tiap ujung kabel dipasang konektor, bentuk konektor ada bebarapa macam diantara bentuk bulat maupun bentuk kotak. Jumlah kabel dalam satu konektor sangat bervariasi mulai dari satu kabel sampai puluhan kabel.

d. Tugas kegiatan belajar

Cari wiring diagram salah satu tipe kendaraan:

1)  Identifikasi ukuran dan warna kabel yang digunakan

2)  Identifikasi jenis konektor yang digunakan

e.  Test formatif kegiatan belajar

1)  Sebutkan macam kabel yang digunakan pada kendaraaan

2)  Tentukan ukuran kabel untuk horn, bila diketahui daya horn  12V/ 36 W dirangkai paralel, jarak antara horn dengan sumber 3 m.

3)  Sebutkan bahan yang sering digunakan untuk isolator kabel

4)  Dimana titik-titik yang menjadi sumber gangguan pada kabel

5)  Apa yang dimaksud heat shrink tube?

6)  Bagaimana cara menyambung kabel yang putus?

f. Kunci jawaban formatif kegiatan belajar

1)  Macam kabel yang digunakan pada kendaraan yaitu dilihat dari serabutnya ada dua yaitu kabel serabut dan kabel pejal, dari  penggunaan isolator yaitu kabel tanpa isolator dan kabel dengan isolator, dilihat dari ukurannya maka ada kabel kecil dan kabel besar.

2)  Ukuran kabel untuk horn, bila diketahui daya horn  12V/ 36 W dirangkai paralel, jarak antara horn dengan sumber 3 m.

Panjang kabel  :  1 meter= 3,28 feet   untuk 3 m = 3 x 3,28 =    9,84 feet

beban   :   12 V/36 W dirangkai paralel  sehingga beban 12 V/36 W +12 V/36 W = 12V/72 W . Dari data tersebut diklarifikasi dengan tabel diperoleh ukuran kabel 20, yaitu kabel dengan luasan 0,5 mm2

3)  Bahan yang sering digunakan untuk isolator kabel antara lain karet, vynil, atau plastik.

4)  Titik-titik yang menjadi sumber gangguan pada kabel antara lain pada sambungan, ujung konektor, klem kabel pada bodi dan terminal kabel

5)  Heat shrink tube merupakan salah satu model isolator sambungan kabel dengan metode pemanasan untuk menyusutkan isolator sehingga isolator dapat mengikat dengan kuat sambungan yang diisolasi.

6)  Cara menyambung kabel yang putus adalah :

a)  Putus bagian kabel yang rusak dan kupas isolator pada ujung kabel kurang lebih 10 mm.

b)  Ukur diameter kabel untuk menentukan diameter kabel penyambung.

c)  Ukur panjang kabel yang dibutuhkan dengan diameter sama dengan kabel yang disambung.

d)  Masukkan dua heat shrink tube pada kabel penyambung.

e)  Sambung kabel yang putus, dan solder sambungan kabel.

f)   Geser heat shrink pada sambungan kabel yang telah disolder dan panasi heat shrink tube.

 

g. Lembar kerja kegiatan belajar

Tujuan :

Setelah mencoba lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

3)  Menyambungkabel yang putus

4)  Memasang terminal kabel

 

Alat dan Bahan

10)     Solder

11)     Tang pengupas kabel

12)     Kabel, tenol, terminal kabel, heat shring tube

Keselamatan Kerja

Hati-hati terhadap ujung solder saat panas, tempatkan iujung solder pada tempatnya, hindari ujung solder mengenai kabel listrik.

Jangan memegang ujung solder untuk memastikan solder berfungsi atau tidak.

Langkah Kerja

9)  Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

10)     Latihan menyambung kabel

a)  Potong dua buah kabel dengan panjang 100 mm, kupas isolator pada ujung kabel kurang lebih 10 mm.

b)  Masukkan heat shrink tube pada salah satu kabel.

c)  Sambung kabel, kemudian  solder sambungan kabel.

d)  Geser heat shrink pada sambungan kabel yang telah disolder.

e)  Panasi heat shrink tube.

Menyolder sambungan

Memanasi heat shrink

11)     Latihan memasang terminal

a)  Potong kabel dengan panjang 100 mm, kupas isolator pada ujung kabel kurang lebih 10 mm.

b)  Masukkan heat shrink tube pada kabel.

c)  Pasang kabel pada terminal kabel, cepit dengan tang penjepit terminal,   solder sambungan kabel.

d)  Geser heat shrink pada sambungan kabel yang telah disolder.

e)  Panasi heat shrink tube.

4) Bersikan alat dan tempat kerja, kembalikan ketempat semula.

 

Tugas

Apa dampak kualitas sambungan kabel yang buruk pada sistem kelistrikan.

    Kegiatan 5.   Memperbaiki Konektor Kabel

 

a. Tujuan Kegiatan Belajar

Setelah membaca modul ini siswa dapat:

1)  Menyebutkan macam wire conector

2)  Menjelaskan model penguncian wire conector

3)  Melepas dan memasang wire conector

4)  Memperbaiki wire conector yang rusak

b. Uraian Materi                                      

Konektor kabel (Wire conector)

Konektor berfungsi tempat penyambungan kabel pada sistem kelistrikan, melindungi sambungan dari karat dan kotoran, dan memungkinkan sambungan dipisah lagi dengan mudah.

Konektor terdiri dari konektor laki-laki dan konektor perempuan, rumah konektor terbuat dari plastic, dalam rumah tersebut terdapat lubang untuk memasukkan terminal kabel. Jumlah terminal pada konektor sangat beragam mulai dari satu terminal sampai puluhan terminal.  Agar penyambungan konektor lebih mudah dan tidak salah maka pada konektor terdapat nok sehingga bila posisi tidak tepat maka konektor  tidak dapat masuk, sedangkan untuk menjamin agar sambungan  lebih kuat maka dipasang pengunci.

Bentuk Konektor

Bentuk konektor ada bebarapa macam diantara bentuk bulat maupun bentuk kotak. Jumlah kabel dalam satu konektor sangat bervariasi mulai dari satu kabel sampai puluhan terminal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 41.  Konektor

Saat melepas konektor harus  memperhatikan teknik penguncian yang digunakan, dan saat menarik  konektor tidak boleh menarik kabelnya. Bagian yang ditarik adalah bagian konektornya. Teknik melepas penguncian terminal ada beberapa macam diantaranya:

1)  Mengangkat pengunci kemudian rumah konektor ditarik

2)  Menekan pengunci kemudian rumah konektor ditarik

3)  Langsung menarik rumah konektor

Lokasi pengunci :

1)  Di tengah

2)  Disamping

 

Gambar 62. Bentuk dan Teknik Penguncian Pada Konektor Kabel.

 

 

Gambar 63. Macam Bentuk Konektor dan Jumlah Terminalnya

 

Melepas dan memasang konektor kabel

Melepas konektor harus hati-hati,  cara melepas yang salah dapat meyebabkan kabel putus. Perhatikan metode penguncian yang digunakan oleh konektor, jangan menarik kabel saat melepas.

Langkah melepas konektor kabel adalah sebagai berikut

1)  Tekan pengunci badan soket konektor dan pisahkan badan konektor laki dan perempuan (Male dan Famale)

2)  Jika sulit terlepas, angkat anti-back comb dari badan konektor dengan menggunakan obeng, lihat gambar 64.

3)  Menggunakan obeng, masukkan obeng ke dalam bagian depan badan konektor, angkat pengunci penahan dari terminal dan tarik kabelnya dari konektor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 64.  Melepas Terminal dari Konektor

Langkah memasang

1)  Perhatikan posisi pengunci maupun posisi nok

2)  Masukkan terminal konektor sampai pengunci bunyi  klik.

3)  Pastikan konektor telah terkunci dengan baik dengan cara  menarik konektor tanpa menekan pengunci, konektor tidak boleh terlepas.

Memperbaiki Kerusakan Konektor Kabel

Terminal konektor maupun kabel pada sambungan terminal sering mengalami gangguan. Gangguan pada terminal adalah karat dan terbakar, sedangkan pada sambungan sering kabelnya putus, untuk mengatasi hal tersebut maka perlu perbaikan konektor kabel.

Langkah perbaikan adalah sebagai berikut:

1)  Keluarkan terminal konektor dari rumah konenektor dengan cara menekan pengunci menggunakan kawat atau obeng (-)  ukuran kecil.

 

 

Gambar  65 . Melepas Terminal Konektor

2)  Dorong terminal konektor keluar.

3)  Potong kabel yang rusak, dan kupas isolatornya kurang lebih 10 mm.

4)  Ukur diameter kabel untuk menentukan ukuran kabel penyambung yang akan digunakan.
5)  Buat kabel penyambung dengan ukuran kabel yang sama, kupas ujung kabel, pasang terminal konektor.

 

Gambar 66. Menyambung Kabel Yang Putus

6)  Potong kabel penyambung dengan panjang sesuai kabel yang dibutuhkan, kupas isolator pada ujung kabel, sambung kedua kabel dengan Crimp mark, kemudian solder sambungan

7)  Geser heat shrink tube ke kabel yang disambung, kemudian panasi heat shrink tube dengan heater.

8)   Ungkit pengunci pada terminal konektor, masukkan terminal konektor ke rumah konektor sampai bunyi klik, kemudian tarik kabel untuk menguci apakah terminal konektor sudah terpasang dengan baik.

 

 

Gambar 67.  Memasang Terminal Konektor

c. Rangkuman

Sepasang konektor kabel terdiri dari dua buah, yaitu konektor laki-laki dan konektor perempuan. Bentuk konektor ada berberapa macam diantaranya bentuk  bulat dan persegi. Jumlah terminal mulai dari satu buah sampai puluhan buah. Teknik penguncian dengan  menekan maupun mengungkit.

Membuka konektor harus memperhatikan metode penguncianya, jangan menarik konektor pada kabelnya karena dapat menyebabkan kabel putus.

d. Tugas

Cari buku pedoman perawatan salah satu kendaraan, rangkum bentuk konektornya dan teknik penguncian yang diaplikasikan.

e. Test Formatif

1)  Sebutkan macam bentuk wire conector

2)  Jelaskan metode melepas penguncian pada wire conector

3)  Jelaskan yang harus diperhatikan saat melepas dan memasang wire conector.

4)  Bagaimana cara mengatasi bila terdapat satu atau lebih terminal konektor yang rusak?

f. Kunci Jawaban Formatif

1)  Bentuk konektor kabel ada berberapa macam diantaranya bentuk  bulat dan persegi. Jumlah terminal mulai dari satu buah sampai puluhan buah

2)  Metode melepas penguncian terminal ada beberapa macam diantaranya:

a)  Mengangkat pengunci kemudian rumah konektor ditarik

b)  Menekan pengunci kemudian rumah konektor ditarik

c)  Langsung menarik rumah konektor

Lokasi pengunci : Di tengah konektor dan disamping rumah konektor

3)  Yang harus diperhatikan saat melepas adalah melepas penguncian, menarik rumah konektor kabel dan tidak boleh menarik kabel. Sedangkan saat memasang perhatikan bentuk, posisi nok dan posisi pengunci.

4)  Mengatasi terminal konektor yang rusak adalah dengan mengganti terminal baru, dengan cara mengeluarkan terminal konektor lama, memotong kabel terminal yang rusak, membuat sambungan kabel dengan terminal konektor, menyambung kabel dan memasang terminal konektor pada rumahnya sampai bunyi klik.

g. Lembar Kerja

Tujuan :

Setelah mencobah lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

5)  Menyambung kabel yang putus

6)  Memasang terminal konektor

7)  Memperbaiki terminal kabel

Alat dan Bahan

13)     Solder

14)     Tang pengupas kabel

15)     Kabel, tenol, terminal kabel, heat shring tube

16)     Konektor kabel

Keselamatan Kerja

Hati-hati terhadap ujung solder saat panas, tempatkan iujung solder pada tempatnya, hindari ujung solder mengenai kabel listrik.

Jangan memegang ujung solder untuk memastikan solder berfungsi atau tidak.

Langkah Kerja

Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

1)  Keluarkan terminal konektor dari rumah konenektor dengan cara menekan pengunci menggunakan kawat atau obeng (-)  ukuran kecil dan dorong terminal konektor keluar.

2)  Potong kabel yang rusak, dan kupas isolatornya ± 10 mm.

3)  Buat kabel penyambung dengan ukuran kabel yang sama, kupas ujung kabel, pasang terminal konektor.

4)  Potong kabel penyambung dengan panjang sesuai kabel yang dibutuhkan, kupas isolator pada ujung kabel, sambung kedua kabel dengan Crimp mark, kemudian solder sambungan.

5)  Geser heat shrink tube ke kabel yang disambung, kemudian panasi heat shrink tube dengan heater.
6)  Ungkit pengunci pada terminal konektor, masukkan terminal konektor ke rumah konektor sampai bunyi klik, kemudian tarik kabel untuk memastikan apakah terminal konektor sudah terpasang dengan baik.

7)  Bersihkan tempat kerja, kembalikan alat yang digunakan ke tempat semula.

Tugas:

1)  Identifikasi jenis dan penyebab kerusakan pada konektor kabel.

2)  Buatlah laporan kerja.

BAB. III

EVALUASI

 

A. SOAL

 

 1. Soal Uji Kompetensi Pengetahuan (Waktu 120 menit)

11)            Sebutkan bunyi hukum Ohm dan tuliskan hukum Ohm tersebut!

12)            Sebuah bohlam 12 V/23 watt dirangkai seri dengan baterei 12 Volt.

a.    Hitunglah berapa besar arus listrik secara teoritis yang mengalir pada bohlam.

b.    Terangkan cara memasang ampere meter, untuk mengukur arus listrik yang mengalir ke bohlam.

c.    Berapa tahanan bohlam secara teoritis?

d.    Terangkan cara mengukur tegangan baterei dengan Volt meter.

13)    Jelaskan karakteristik rangkaian seri, parallel dan kombinasi

14)    Dua resistor dirangkai secara seri. Harga R1= 60 Ω dan R2 = 180Ω, tentukan  besar arus  listrik yang mengalir dan besar tegangan pada masing masing resistor bila tegangan sumber sebesar 12V

15)    Sebutkan tiga hal yang sering menjadi gangguan pada rangkaian/system kelistrikan?

16)    Sebutkan macam sekring yang biasa digunakan pada mobil

17)    Terangkan ciri-ciri bohlam putus

18)    Jelaskan titik-titik yang sering menjadi sumber gangguan pada rangkaian kabel

19)    Tentukan ukuran kabel untuk klakson, bila diketahui daya klakson  12V/60 W dirangkai paralel, jarak antara klakson dengan sumber 3 m.

20)    Sebutkan macam bentuk konektor kabel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Soal Uji Kompetensi Keterampilan

 

Demonstrasikan dihadapan guru/instruktur kompetensi saudara dalam waktu yang telah ditentukan

No Kompetensi Waktu
1 Mengukur arus, tahanan  dan tegangan pada rangkaian yang disediakan. 10 menit
2 Membuat rangkaian kombinasi 3 resistor 10 menit
3 Memeriksa kontinuitas pada rangkaian yang disediakan 10 menit
4 Mengganti sekering pada rangkaian klakson 10 menit
5 Mengganti bohlam Halogen pada rangkaian lampu kepala 10 menit
6 Membuat sambungan kabel 10 menit
7 Mengganti konektor kabel 10 menit
Total 70 menit

B. KUNCI JAWABAN

10)  Hukum Ohm mengatakan: besar arus yang mengalir berbanding lurus dengan besar tegangan dan berbanding terbalik dengan besar tahanan.   V = I x R

11)  Sebuah bohlam 12 V/23 Watt dirangkai seri dengan baterei 12 Volt.

a)    Besar arus listrik adalah I=P/V = 23/12 =1,92 Ampere

b)    Ampere meter dipasang seri terhadap beban

c)    Tahanan bohlam secara teoritis adalah  R= V/I = 12 / 1,92      = 6,25 Ohm

d)    Mengukur tegangan baterei dengan volt meter atau multi meter

§  Atur selector pada DC Volt skala 50

§  Kalibrasi alat ukur

§  Hubungkan colok positip/merah ke positi baterei

§  Hubungkan colok negatip/hitam ke negatip baterei

§  Baca hasil pengukuran dengan teliti

3)     Rangkaian seri mempunyai karakteristik

a)  Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan semua tahanan

( Rt = R1 + R2)

b)   Arus yang mengalir  pada rangkaian sama besar

(It = I1 = I2)

c)  Tegangan total (Vt)  merupakan penjumlahan tegangan

(Vt = V1 +V2)

Karakteristik rangkaian parallel:

a)  Tegangan pada rangkaian sama ,     V =  V1  =  V2

b)  Besar arus yang mengalir tergantung bebannya.

c)  Besar arus mengalir merupakan total arus yang mengalir setiap percabangannya       I  =   I1  + I

d)  Besar tahanan total  (Rt) atau tahanan pengganti adalah:

R1  x R2

Rt  =

R1 + R2

   Karakteristik rangkaian Seri Paralel atau kombinasi

a)  Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan tahanan dengan tahanan pengganti.

Rt  =   R1  + Rp

b)  Tegangan total  pada rangkaian merupakan penjumlahan tegangan pada tahanan dan tahanan pengganti.            (V  =   V1   +  VRp)

c)  Besar arus pada rangkaian adalah tegangan dibagi tahanan total  (I = V/ Rt )

4)     Besar arus yang mengalir  I =  V/Rt  = 12 / (60+180) = 0,05 A = 50 mA Tegangan pada  R1 yaitu  V1 = R1 x I  = 60 x 50 = 3000 mV =  3 V .Tegangan pada R2 yaitu   V2 = R2 x I  = 180 x 50 = 9000 mV = 9 V.

5)     Tiga hal yang sering menyebabkan gangguan pada rangkaian/system kelistrikan adalah:

a). Nilai tahanan dalam rangkaian membesar

b). Terjadinya hubung singkat

c). Kerusakan pada komponen kelistrikan.

6)     Sekering yang biasa digunakan pada mobil:

a)  Sekering type blade

b)  Sekering type cartridge

7)     Ciri-ciri bohlam putus.

a)  Jika diperiksa secara visual, maka pada vilamennya kelihatan terputus

b)  Jika dilakukan tes kontinuitas antara kutup positip dan negatip tidak ada.

8)     Titik-titik yang menjadi gangguan pada rangkaian kabel antara lain pada sambungan, ujung konektor, klem kabel pada bodi dan terminal kabel.

9)     Ukuran kabel untuk klakson, bila diketahui daya klakson  12V/ 36 W dirangkai paralel, jarak antara klakson dengan sumber 3 m. Panjang kabel  :  1 meter= 3,28 feet   untuk 3 m = 3 x 3,28 =    9,84 feet. Beban  klakson adalah   12 V/ 60 W dirangkai paralel  sehingga beban 12 V/ 60 W +12 V/ 60 W = 12V/ 120 W . Dari data tersebut diklarifikasi dengan tabel diperoleh ukuran kabel SAE 18, yaitu kabel dengan luasan 0,8 mm2

10)  Macam bentuk konektor kabel :

a)  Bentuk bulat

b)  Bentuk persegi


C. KISI-KISI SOAL PENGETAHUAN

 

NO

SUB KOMP.

INDIKATOR

SOAL

SKOR MAKS

SKOR PEROLEHAN

1

Dasar listrik

Dapat menjelaskan hukum Ohm Sebutkan bunyi hukum Ohm dan tuliskan hukum Ohm tersebut

0,5

2 Dapat mengukur dan menghitung secara teoritis besar Arus, Tahanan dan Tegangan Sebuah bohlam 12 V/23 watt dirangkai seri dengan baterei 12 Volt

a.Hitunglah berapa besar arus listrik secara teoritis yang mengalir pada bohlam

b. Terangkan cara memasang ampere meter, untuk mengukur arus listrik yang mengalir ke bohlam

c. Berapa tahanan bohlam secara teoritis?

d. Terangkan cara mengukur tegangan baterei dengan Volt meter

2

3 Dapat menjelaskan karakteristik rangkaian seri, parallel dan gubungan Jelaskan karakteristik rangkaian seri, parallel dan kombinasi

1

4 Dapat menghitung besar Arus dan tegangan pada rangkaian Dua resistor dirangkai secara seri. Harga R1= 60 Ω dan R2 = 180Ω, tentukan  besar arus  listrik yang mengalir dan besar tegangan pada masing masing resistor bila tegangan sumber sebesar 12V

1,5

5 Prosedur menghindari kerusakan ECU dan memeriksa gangguan pada rangkaian Dapat menyebutkan hal-hal yang sering menyebabkan gangguan pada ranagkaian Sebutkan tiga hal yang sering menjadi gangguan pada rangkaian/system kelistrikan

0,5

6 Mengganti sekering dan bohlam Dapat menyebutkan macam sekering Sebutkan macam sekring yang biasa digunakan pada mobil

0,5

7 Dapat menerangkan ciri bohlam putus Terangkan ciri-ciri bohlam putus

0,5

8 Rangkaian kabel Dapat menjelaskan titik-titik yang sering terjadi gangguan pada rangkaian kabel Jelaskan titik-titik yang sering menjadi sumber gangguan pada rangkaian kabel

1

9 Dapat menentukan ukuran kabel sesuai penggunaan Tentukan ukuran kabel untuk horn, bila diketahui daya horn  12V/60 Watt dirangkai paralel, jarak antara klakson dengan sumber 3 m.

2

10 Konektor Dapat menyebutkan bentuk konektor Sebutkan macam bentuk konektor kabell

0,5

 

 

Kisi-Kisi Penilaian Sikap

 

 

No

Komponen yang dinilai

Skor Maks

Skor Perolehan

1

Kelengkapan pakaian kerja

1

2

Penataan alat dan kelengkapan yang memperhatikan pekerja dan alat

2

3

Menggunakan alat sesuai fungsinya

6

4

Membersihkan alat dan tempat kerja

1

Nilai akhir

Kisi-Kisi Penilaian Keterampilan

 

 

No

Sub Kompetensi

Komponen yang dinilai

Skor Maks

Skor Perolehan

1

Dasar Listrik Mengukur arus, tahanan dan tegangan

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Mengkalibrasi alat ukur

§ Membaca hasil pengukuran

1,5

2

Dasar Listrik Membuat rangkaian kombinasi

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Rangkaian benar dan bekerja

1

3

Memeriksa kerusakan ringan pada rangkaian Memeriksa kontinuitas rangkaian

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Pemeriksaan dilakukan sesuai SOP

§ Menyimpulkan hasil pemeriksaan

1,5

4

Mengganti sekering dan bohlam Mengganti sekering

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Memeriksa kondisi sekering

§ Menentukan kapasitas sekering

§ Penggantian sekering sesuai SOP

1,5

5

Mengganti sekering dan bohlam Mengganti Bohlam

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Memeriksa kondisi Bohlam

§ Menentukan ukuran Bohlam

§ Penggantian Bohlam sesuai SOP

1,5

6

Rangkaian kabel Membuat sambungan kabel

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Memilih ukuran kabel

§ Menyolder kabel

1,5

7

Konektor Mengganti konektor

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Memilih konektor

§ Memasang pin kabel

1,5

 

C. KRITERIA KELULUSAN

 

 

Aspek

Skor Perolehan

Bobot

Nilai

Keterangan

Sikap

2

Syarat kelulusan nilai minimal 7, dengan skor setiap aspek minimal 7

Pengetahuan

2

Keterampilan

6

Nilai Akhir

BAB. IV

PENUTUP

 

Kompetensi perbaikan ringan pada rangkaian/system kelistrikan  dengan kode OPKR 50-002B terdiri dari 6 sub kompetensi dengan durasi 60 jam pelajaran @ 45 menit. Sub kompetensi tersebut, yaitu :

1)   Merangkai hubungan seri, parallel dan gabungan .

2)  Mengukur tegangan, tahanan dan arus

3)  Pemeriksaan kerusakan ringan pada rangkaian/system kelistrikan dan prosedur menghindari kerusakan ECU

4)  Mengganti sekering dan bohlam

5)  Perbaikan rangkaian kabel

6)  Perbaikan konektor

Kompetensi ini merupakan kompetensi dasar guna mempelajari sistem kelistrikan sehingga  harus dikuasai dengan baik.

Setelah siswa merasa menguasai sub kompetensi yang ada, siswa dapat melaksanakan uji kompetensi, uji kompetensi dilakukan secara teroritis dan praktik.  Uji teoritis dengan cara siswa menjawab pertanyaan  soal evaluasi, sedangkan uji praktik dengan mendemontrasikan kompetensi yang dimiliki pada guru/instruktur. Guru/instruktur akan menilai berdasarkan lembar observasi yang ada, dari sini kompetensi siswa dapat diketahui.

Bagi siswa yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke modul berikutnya, namun bila syarat minimal kelulusan belum tercapai maka harus mengulang modul ini, atau bagian yang tidak lulus dan karena tidak diperkenankan mengambil modul berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Sullivan`s Kalvin R. (2004),  Diagnosis & Testing,  WWW. Autoshop 101. com

Sullivan`s Kalvin R. (2004),  Electric Circuit,  WWW. Autoshop 101. com

Sullivan`s Kalvin R. (2004),  Wire and Conectors,  WWW. Autoshop 101. com

Sullivan`s Kalvin R. (2004),  Electric Fundamentals,  WWW. Autoshop 101. com

Sullivan`s Kalvin R. (2004),  Wiring  Diagrams,  WWW. Autoshop 101. com

an.Replacing fuse blown,  WWW. ehow. com

an.How to replace a car headlight,  WWW. ehow. com

an.How to replace a tail, brake or reverse light,  WWW. ehow. Com

an.Halogen head light,  WWW.autolamp.Com

Toyota Astra Motor (t.th). Materi engine group step 2,  Jakarta , Toyota Astra Motor

TEAM (1995), New Step 1 Training Manual, Jakarta, Toyota Astra Motor

TEAM (1996), Electrical Group Step 2, Jakarta, Toyota Astra Motor

Pemeriksaan Sistem Suspensi

BAB  II

PEMELAJARAN

 

A. Rencana Belajar Peserta Diklat

Rencana setiap kegiatan belajar anda, dengan mengikuti tabel di bawah ini dan mintalah  bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf  Guru

1.    Mempelajari konstruksi dan cara kerja system suspensi

2.   Memeriksa sistem/komponen  suspensi dan menentukan kondisinya.

B.  Kegiatan  Belajar

  1. Menjelaskan konstruksi dan cara kerja system suspensi

Tujuan kegiatan belajar :

Menjelaskan  konstruksi system suspensi

Menjelaskan cara kerja system suspensi

  1. Memeriksa system/ komponen system suspensi

Memeriksa sistem / komponen suspensi dan menentukan kondisinya.

  1. Tujuan kegiatan belajar

a.   Peserta diklat mampu melaksanakan pemeriksaan system suspensi

b.    Peserta diklat mampu melaksanakan pemeriksaan system suspensi sesuai dengan SOP

  1. Uraian materi

Kenyamanan berkendaraan merupakan faktor utama yang harus diperhatikan oleh pengendara maupun penumpang. Namun demikian, kendaraan akan selalu mengalami getaran atau goncangan yang disebabkan oleh mesin itu sendiri atau karena kondisi jalan yang tidak rata. Untuk mengurangi getaran dan goncangan tersebut setiap kendaraan perlu dilengkapi dengan sistem suspensi.

Apabila salah satu komponen system suspensi mengalami gangguan, maka akan terjadi hal yang tidak diharapkan. Sehingga kenyamanan pengendaraan tidak akan dapat dicapai.

Gambar 1. Penggunaan sistem suspensi

Pada umumnya system suspensi kendaraan dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu suspensi independent dan suspensi rigid

Konstruksi dan kerja jenis ini roda sebelah kanan dan roda sebelah kiri dipasangkan secara terpisah, sehingga kedua roda dapat bekerja sendiri bila menerima kejutan dari permukaan jalan

Ada dua macam konstruksi suspensi independent depan yaitu suspensi wishbone dan suspensi mac pherson :

1). Suspensi wishbone pegas coil

Suspensi jenis ini menggunakan pegas koil yang dipasangkan diantara lengan bawah (lower arm) dan lengan atas (upper arm)

   Bodi (frame)

Lengan atas

Penahan benturan

Sambungan peluru bawah

Gambar 2 :  Suspensi wishbone dengan pegas koil

Suspensi ini mempunyai sifat :

a)    Dengan desain yang kompak dari pegas hasil , sangat cocok digunakan untuk system suspensi roda depan.

b)    Kedua ujung luar lengan atas dan lengan bawah yang dipasangkan pada knuckle kemudi menggunakan sambungan peluru, sehingga memungkinkan arm dapat bergerak ke atas dank ke bawah mengikuti gerakan roda.

c)   Knuckle kemudi dan spindle yang terpasang dibagian ujung lengan atas dan bawah dipasang menggunakan sambungan peluru, sehingga memungkinkan knucklekemudi dapat diarahkan.

Kerjanya bila roda-roda depan menerima kejutan dari permukaan jalan maka pegas koil menerima gaya dari lower arm sehingga mengakibatkan pegas mengalami pemendekan dan pemanjangan sesuai dengan kemampuan pemegasan (konstanta pemegasan)

2).  Suspensi wishbone pegas torsi

Suspensi wishbone menggunakan pegas batang torsi yang dipasangkan diantara lengan bawah (lower arm ) dan kerangka kendaraan.

    Peredam getaran

Pegas torsi

       stabiliser

Suspensi ini mempunyai sifat :

a).  Pegas batang torsi (torsion bar) digunakan pada kendaraan yang tidak menggunakan pegas koil ataupun pegas atau pegas daun pada suspensi depan

b)   Pegas batang torsi (torsion bar) pada ujung belakangnya dipasang pada kerangka kendaraan , sedangkan ujung depannya dipasangkan pada lengan bawah (lower arm) dan kedua tempat pemasangannya dibuat mati.

c).  Pegas batang torsi (torsion bar) bekerja secara puntiran karena batang torsi dibuat dari baja yang mempunyai elastisitas tinggi

Kerjanya : bila roda-roda depan menerima kejutan dari permukaan jalan dan diteruskan ke lower arm maupun upper arm melalui knuckle kemudi. Gaya yang diterima lower arm ditahan dengan kemampuan puntiran pegas torsi yang dipasangkan antara lower arm dengan kerangka (frame). Untuk memperhalus proses pemegasan (puntiran) pegas torsi maka peredam getaran dipasangkan untuk memperhalus proses pemegasan yang dipasangkan antara lower arm dengan frame kendaraan

3).     Suspensi Mac pherson

Suspensi ini pegas koil dipasangkan menjadi satu kesatuan dengan shock absorber menggunakan lengan bawah ( lower arm ) sebagai dudukan komponennya

Ada dua macam konstruksi suspensi mac pherson yaitu dengan lengan “melintang” dan lengan “L”

a).  Suspensi mac pherson lengan “melintang”

Suspensi jenis ini mempunyai lengan bawah (lower arm) berbentuk lurus , salah satu ujung lengan bawah dipasang knuckle kemudi dengan sambungan peluru sedangkan ujung yang lain dipasangkan pada kerangka kendaraan.

Lengan melintang dan kelengkapannya berfungsi meneruskan beban kendaraan keroda dan mengontrol gerakan samping, lengan ini bersama-sama batang penahan (strut bar ) berfungsi mencegah perubahan jejak roda-roda depan

Bantalan atas

Penutup debu

Bodi ( frame)

Batang piston

Gambar 4 : Suspensi mac pherson dengan lengan melintang

Kerjanya : bila roda-roda depan menerima kejutan dari permukaan jalan akan diteruskan ke lower arm melintang sehingga mengakinatkan terjadinya pemendekan dan pemanjangan pegas koil yang dipasangkan antara peredam getaran dengan kerangka ( frame ). Untuk memperhalus proses pemegasan agar tidak terjadi oksilasi yang berlebihan maka peredam kejut dipasangkan bersama pegas koil antara lower arm dengan rangka ( frame)

b)   Suspensi mac pherson lengan “L”

Penopang atas

Dudukan pegas

Suspensi jenis ini mempunyai lengan bawah ( lower arm ) berbentuk “L” yang digunakan pada roda sebagai penggerak ( front wheel drive) dengan engine di depan ( front engine)

Peredam getaran

Lengan bawah

Gambar 5 : Suspensi mac pherson dengan lengan “L”

Lengan bawah “ L “ mempunyai dua tempat pemasangan pada kerangka yang masing-masing dipasangkan menggunakan bushing karet, dengan dua tempat pemasangan terpisah yang berfungsi untuk mencegah gerakan dari arah samping dan gerakan aksial roda. Oleh karena itu suspensi jenis ini tidak memerlukan lagi batang penahan (sturt bar)

Kerjanya : bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan maka akan diteruskan ke lower arm “L” mengakibatkan terjadinya pemendekan dan pemanjangan pada pegas koil yang dipasangkan antara peredam getaran dengan rangka (frame) kendaraan.

Untuk memperhalus proses pemegasan agar tidak terjadi oksilasi yang berlebihan peredam getaran dipasangkan bersaman pegas koil antara lower arm “L” dengan rangka (frame) kendaraan .

b.  Konstruksi jenis suspensi independen belakang.

Suspensi jenis ini roda sebelah kanan dan roda sebelah kiri dipasangkan secara terpisah, sehingga roda dapat bekerja sendiri bila menerima kejutan dari permukaan jalan.

Ada dua macam konstruksi suspensi independent belakang yaitu : Suspensi mac pherson penggerak roda depan dan suspensi mac pherson penggerak roda belakang.

1)  Suspensi mac pherson penggerak roda depan.

Suspensi jenis ini dilengkapi lengan bawah ( lower arm) dan lengan penopang (strut bar)

Lengan bawah

Stabilisator

         Strut bar

Tromol rem

Gambar 6 :  Suspensi mac pherson bagian belakang

Suspensi ini mempunyai sifat :

a)   Pemasangan ujung lengan bawah (lower arm) dengan

rangka silang kendaraan menggunakan bhusing karet

sedangkan ujung yang lainnya dipasangkan pada knuckle kemudi.

b)   Batang penopang (strut bar) dipasangkan antara kerangka dengan lengan control bawah yang berfungsi untuk mengurangi terjadinya gaya lateral yang berlebihan.

Kerjanya : bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan akan diteruskan ke lower arm yang mengakibatkan terjadinya pemendekan dan pemanjangan pegas koil yang dipasang antara peredam getaran dengan rangka (frame) kendaraan.

Untuk memperhalus proses pemegasan agar tidak terjadi oksilasi yang berlebihan peredam getaran dipasangkan bersama pegas antara lower arm dengan rangka (frame ) kendaraan.

2)   Suspensi kombinasi mac pherson dan batang torsi

Suspensi jenis ini menggunakan poros kaku ( rigid) berbentuk “ U “ yang didalamnya dipasangkan batang tiorsi akan bekerja secara puntiran saat terjadi gerakan    roda.

Batang lateral

Penguat poros

Gambar 7: Suspensi mac pherson dengan batang torsi

Suspensi ini mempunyai sifat :

a) Poros semi rigid bersama batang pegas torsi bekerja secara aktif sebagai suspensi

b) Pegas koil berfungsi menyempurnakan momen suspensi agar dapat mengurangi roling body, hingga menghasilkan pengemudian yang stabil

c) Gerakan puntiran dari ujung lengan-lengan suspensi diteruskan kedalam gerakan puntiran aksel belakang. Puntiran ini sangat menghasilkan gaya reaksi yang berlawanan dengan lengan-lengan suspensi

Kerjanya : bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan akan diteruskan ke rumah poros, lengan suspensi sehingga mengakibatkan bagian ini bersama pegas koil berayun terhadap rangka (frame) kendaraan.

Untuk memperhalus proses pemegasan dan ayunan (oksilasi) yang berlebihan pegas koil bersama dengan peredam getaran dipasang antara rumah poros roda belakang dengan rangka (frame) kendaraan

3)   Suspensi mac pherson penggerak roda belakang.

Suspensi jenis ini dilengkapi dengan lengan control bawah ( lower arm) dan  lengan control atas  (upper arm) hingga dapat berayun secara bebas bila roda menerima kejutan dari permukaan jalan. Suspensi ini juga disebut aksel berayam

    Penopang

Pegas atas

Deferensial

Peredam

getaran

Lengan

atas

     Rangka silang

Lengan

Bawah

Gambar 8 : Poros berayun pada bagian belakang

Suspensi ini mempunyai sifat :

a)    Poros ( aksel ) roda dibuat terpisah, hingga poros dapat barayun bebas , pertemuan kedua bagian poros bekerja sebagai tumpuan.

b)    Differensial ditempatkan pada bagian rangka silang body kendaraan. Berat body kendaraan dan komponen yang lain ditopang oleh pegas suspensi

c)    Ujung bawah mac pherson dipasang pada lengan kontrrol atas dan bawah juga lengan jejak.

d)    Ujung lengan jejak, lengan control atas dan control bawah yang lain dipasangkan pada kerangka body kendaraan

Kerjanya : bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan akan diteruskan ke lower arm dan upper arm sehinga pegas koil mac pherson mengalami memendekan dan pemanjangan .

Untuk memperhalus proses pemegasan pegas koil dan ayunan  (oksilasi) yang berlebihan pegas koil bersama dengan kejut dipasang antara lower arm dengan rangka (frame)

a.    Konstruksi jenis suspensi rigid

1). Jenis suspensi rigit roda depan

Suspensi jenis ini biasanya dipasangkan pada poros rigit ( kaku) yang terbuat dari baja tempa pejal berbentuk I   Roda sebelah kanan dan kiri dipasangkan pada ujung poros tunggal. Pada bagian tengah poros berfungsi menahan beban kendaraan,sedangkan pada ujung poros berfungsi menahan momen punter karena gaya pengereman

Bagian ujung poros ini juga dipasangkan knuckle kemudi dengan menggunakan poros kingpin . Ada empat jenis knuckle kemudi yang dipasangkan pada suspensi rigid roda depan yaitu :

a)   Jenis reverse eliot

Jenis ini ujung poros sangat sederhana konstruksinya dan mudah untuk pemasangan komponen rem

Gambar 10 : Jenis Reverse Eliot

b).  Jenis eliot

Jenis ini ujung porosnya dibuat sangat komplek , knuckle kemudi dipasangkan ditengah ujung poros dengan menggunakan poros kingpin

Gambar 11: Jenis Eliot

c).  Jenis Lemoine :

Jenis tidak memerlukan poros kingpin, karena knuckle kemudi dipasangkan pada ujung poros bagian atas sehingga poros menjadi tambah tinggi

e)    Jenis marmon

Jenis ini juga tidak memerlukan poros kingpin kare knuckle kemudi dipasangkan pada bagian bawah ujung poros sehingga daya kekuatannya agak berkurang bila dibandingkan dengan jenis yang lain.

Gambar 13: Jenis Marmon

Kerjanya : bila roda-roda depan menerima kejutan dari permukaan jalan akan diteruskan keporos depan rigit yang berbentuk “ I  “ hingga mengakibatkan pegas daun terjadi pemanjangan atau pegas berubah bentuk dari elip mendekati lurus ( pemegasan pegas daun)

Untuk memperhalus proses pemegasan pegas daun / ayunan pegas daun yang berlebihan maka dipasangkan peredam getaran antara poros depan dengan rangka (frame).

2).  Jenis suspensi rigit roda belakang

Suspensi jenis ini biasanya roda-roda dipasangkan pada satu poros. Ada dua jenis pegas yang digunakan pada jenis ini yaitu

a).     Pegas daun

Pada umumnya pegas daun dipasangkan secara parallel antara rangka dengan poros belakang, sehingga tenaga yang dihasilkan oleh motor dipindahkan ke roda-roda melalui poros yang berputar dalam rumah.

Sedangkan beban kendaraan yang didukung oleh rangka mobil diteruskan ke rumah poros melalui pegas daun

Kerjanya : bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan maka diteruskan kerumah poros belakang yang mengakibatkan pegas daun terjadi pemanjangan atau pegas berubah bentuk dari elip mendekati lurus ( pemegasan pegas daun) yang konstruksinya dilengkapi dengan ayunan pegas

Untuk memperhalus proses pemegasan pegas daun yang berlebihan maka suspensi ini dilengkapi peredan getaran yang dipasangkan antara penopang pegas daun dengan (frame)

Ayunan

Pegas

Gambar 15: Suspensi pegas daun

b).        Pegas koil

Poros kaku dengan pegas koil untuk mengadakan pemegasan dan menahan beban tegak lurus, tetapi tidak dapat menahan gaya samping atau tekanan samping.

Apabila pegas koil digunakan pada suspensi belakang, harus dilengkapi komponen yang lain seperti : laterar rod dan stabilisator.

Kerjanya : bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan akan diteruskan kerumah poros roda belakang yang mengakibatkan pegas koil mengalami pemendekan dan pemanjangan ( konstanta pegas) untuk mengurangi ayunan pegas (oksilasi) yang berlebihan pada suspensi ini dilangkapi peredam getaran yang dipasangkan antara rumah poros dengan kerangka (frame) kendaraan.

Pegas koil

Rumah poros

belakang

Lengan kontrol atas

Batang

kontrol

Gambar 16: Suspensi pegas koil

Ini uraian materi kegiatan belajar 2:

Fungsi dan prosedur pemeriksaan, pengujian dan menentuan komponen system suspensi :

1.    Upper arm dan lower arm

Komponen ini berfungsi untuk menyangga pegas coil, pemasangan knuckle kemudi dan memelihara letak geometris body dan roda-roda.

Pemeriksaan :  Dalam keadaan terlepas lower arm dan upper arm, dengan cara disemprot menggunakan penetrant warna untuk menyakinkan bahwa komponen ini masih dalam keadaan baik atau retak.

2.    knuckle kemudi

Komponen ini berfungsi untuk pemasangan roda-roda depan / sumbu roda, sehingga memungkinkan kendaraan membelok kekanan dan kekiri.

Pemeriksaan  : Dalam keadaan terlepas dan bersih knuckle kemudi disemprotkan menggunakan penetrant warna untuk meyakinkan bahwa komponen ini masih dalam keadaan baik atau retak.

Upper arm

Knuckle kemudi

Gb. 17 Pemeriksaan Lower, Upper arm dan knuckle kemudi

.

                        Pengujian lower arm dan upper arm : dalam keadaan lower

arm dan upper arm terpasang dalam kerangka (frame) kendaraan komponen ini digerakkan kearah atas atau kearah bawah .

Bila tidak timbul suara yang aneh maka bias dipastikan  lower arm dan upper arm dalam keadan baik.

Pengujian knuckle kemudi : dalam keadaan terpasang pada lower arm maupun upper arm komponen ini digerakkan kearah samping kiri, kanan, atas dan bawah .

Bila tidak timbul suara aneh maka bias dipastikan knuckle kemudi dalam kondisi baik

3.    Ball Joint

Komponen ini berfungsi sebagai sumbu roda-roda saat kendaraan membentuk, pemasangannya antara lower arm dengan steering knuck dan upper arm dengan steering knuekle.

a)    Pemeriksaan kekendoran ball joint bawah terhadap lower arm.

  • Dongkrak bagian depan kendaraan dan di topang dengan penyangga.
  • Pastikan kendaraan sudah disangga dengan aman
  • Pastikan bahwa roda depan telah lurus posisinya dan tekan pedal rem.
  • Gerakkan lengan suspensi bawah ke atas dan kebawah dan pastikan tidak ada gerak bebas ball joint (berlebihan)
  • Gerakkan roda samping kanan samping kiri dan pastikan tidak ada gerakan yang berlebihan.

Gambar 18 : Pemerikasan ball joint terhadap lower arm dan upper arm

Pengujian ball joint : dalam keadaan roda terpasang gerakkan roda bagian atas kedalam dan bagian bawah keluar atau sebaliknya bila terjadi kekocakan yang berlebihan maka ball joint perlu diganti bila tidak terjadi kekocakan dapat dipastikan ball joint dalam keadaan baik.

4.    Pegas Koil (Coil Spring)

Komponen ini berfungsi untuk menyerap kejutan/gaya yang diakibatkan dari permukaan jalan tidak rata, penempatannya diantara lower arm dan upperr arm. Pemeriksaan pegas koil dalam keadaan terlepas dan bersih pastikan tidak ada bagian yang retak atau aus, ukur tinggi bebas pegas sesuai dengan buku manual sesuai dengan jenis mobil yang diperiksa .batas limit = 273 mm.

Gambar 19: Pemeriksaan pegas koil

Pengujian pegas koil dalam keadaan pegas koil terlepas ukur tinggi bebas pegas, kemudian tekan pegas dengan beban tertentu.

Ukur kembali tinggi bebas pegas , bila ukuran kurang dari batas limit spesifikasi sesuai yang ditentukan maka pegas perlu diganti, dan sebaliknya

Catatan :

a.    Bila pegas lemah dapat dirasakan ada kejutan tidak normal saat kendaraan melewati jalan yang rata.

b.    Bila pegas lemah, maka keausan ban menjadi tidak normal

5.    Shock absorber (peredam getaran )

Komponen ini berfungsi untuk mengurangi oksilasai yang berlebihan pada pegas bila kendaraan berjalan dijalan tidak rata. Pemeriksaan peredam getaran dalam keadaan terlepas dan bersih, pastikan tidak ada kebocoran minyak dan gas.

Gb. 21a Pemeriksaan Shock absorber

Gb. 21b Pemeriksaan Shock absorber

Pengujian : Dalam keadaan terlepas dengan cara ditekan dan ditarik bila dengan tahanan yang tetap pastikan kondisi peredam gataran dalam keadaan baik . bila ada bushing peredam getaran yang rusak perlu dilakukan penggantian

Dalam keadaan terpasang:

a.    goyangkan mobil kearah samping, dan goyangan   kesamping harus cepat berhenti

b.    Pada mobil sedan tekan pada bagian depan mobil kemudian lepas maka getaran tambah setengah dari tekanan semula dan kembali pada posisi sebelumnya.

6.    Strut bar

Komponen ini berfungsi untuk menahan lower arm agar tidak maju atau mundur pada saat menerima kejutan dari permukaan jalan maupun dorongan akibat terjadinya pengereman, atau saat pemindaan tenaga dari motor, strut bar berupa batangan baja yang dipasang pada lower arm dan frame kendaraan. Pemeriksaan strut bar dalam keadaan terlepas dan bersih pastikan tidak ada bagian yang retak.

Pemeriksaan kebengkokan  :

  • Letakkan strut bar pada v blok.
  • Ukur run out bagian tengah strut bar menggunakan dial indikator magnetik.
  • Kebengkokan tidak boleh melebihi batas limit yang sudah ditentukan pada buku manual dari jenis kendaraan tersebut

Pengujian : Dalam keadaan terpasang dan mobil di jack stand dengan aman :

  • Dengan rem kendaraan diinjak dorong bagian roda yang diuji kedepan atau kebelakang
  • Pastikan tidak ada bagian bushing strutbar yang aus atau rusak.
  • Bila ada bagian bushing yang aus/rusak lakukan penggantian.

7.    Stabilizer bar

Komponen ini berfungsi untuk mengurangi terjadinya kemiringan kendaraan akibat gaya sentrifugal pada saat membelok atau saat lurus mengurangi tenaga guling. Stabilizer ini di pasangkan pada lower arm kiri dan kanan, bagian tengahnya diikatkan pada frame / body kendaraan, sehingga beban yang diterima komponen ini saat kendaraan membelok adalah beban puntiran.

Pemeriksaan stabilizer bar :

1. dalam keadaan terlepas dan bersih pastikan komponen ini tidak ada bagian yang retak, aus atau patah.

2.   Karet-karet pengikat dalam keadaan terpasang pastikan karet-karet pengikat pada frame tidak ada yang retak

Pengujian : Dalam keadaan stabilizer terpasang tekan bagian depan mobil sebelah kanan atau tekan bagian mobil sebelah kiri secara bergantian .bila tekanan dilepaskan maka kondisi mobil cepat kembali seperti posisi semula pastikan stabilizer masih dalam kedaan normal

Bila pengujian diatas timbul suara yang aneh maka bushing pengikat stabilizer dengan rangka perlu diganti.

b.    Prosedur pemeriksaan komponen sistem suspensi rigid

Baut “U”

Peredam getaran

Pegas daun

Fungsi dan prosedur pemeriksaan komponen

1.    Pegas daun

Komponen ini berfungsi untuk menyerap kejutan yang ditimbulkan permukaan jalan, pegas jenis ini mampu menerima beban yang lebih besar bila dibanding dengan pegas koil maupun pegas torsi oleh karena itu pegas daun banyak digunakan pada sistem suspensi bagian belakang kendaraan.

Pemeriksaan pegas daun :

a).  Dalam keadaan terlepas dan bersih lembaran pegas tidak retak atau pada ujung – ujungnya tidak terjadi keausan yang berlebihan.

b).  Ujung- ujung pegas daun tidak terjadi keausan yang berlebihan

Gb. 25. Pemeriksaan pegas daun

Pengujian : Dalam keadaan terlepas :

  • Ukur NIP pada masing-masing lembaran pegas daun
  • Beri beban pada masing-masing lembara pegas daun sesuai dengan spesifikasi jenis mobilnya.
  • Ukur kembali NIP pada masing-masing lembaran pegas daun
  • Bandingkan pengukuran NIP setelah pembebanan dengan spesifikasi jenis mobilnya.
  • Bila ukuran NIP setelah pembebanan kurang dari batas limit maka perlu diganti lembaran pegas daunnya dan sebaliknya.

2.    Baut “U”

Komponen ini berfungsi untuk mengikat tumpukan/ susunan pegas daun dengan poros roda belakang dengan kuat agar tidak terjadi pergeseran bila roda menerima kejutaan dari permukaan jalan.  Pemeriksaan baut “U”:

a)   Dalam keadaan terlepas dan bersih pastikan tidak ada bagian ulir yang aus, bengkok maupun kerusakan pada ulirnya.

b)   Tidak terjadi kebengkokan pada bagian yang lain

c)   Tidak terjadi keausan pada ulir mur pengikat

Baut “U”

Ring

Mur pengikat

Gb. 26. Pemeriksaan baut “U”

`                 Pengujian : Dalam keadaan terpasang kencangkan mur pengikat baut “U” dengan momen yang sesuai spesifikasinya pada buku manual.

Cek/periksa kembali mur-mur pengikat baut “U” bila masih dalam keadaan kendor maka baut U perlu diganti dan sebaliknya.

3.    Ayunan Pegas

Komponen ini berfungsi untuk memungkinkan pegas memanjang dan memendek bila roda menerima kejutan dari jalan. Pemasangannya diantara pegas dan frame (kerangka) kendaraan. Pemeriksaan ayunan pegas daun:

Dalam keadaan terlepas dan bersih pastikan tidak ada bagian ulir baut dan mur pengikat yang aus.

Pengujian : Dalam keadaan ayunan pegas daun terpasang pada rangka kendaraan keraskan mur-mur pengikat ayunan pegas sesuai dengan spesifikasi buku manual

Cek / periksa kembali mur-mur pengikat ayunan pegas bila masih dalam keadaan kendor maka ayunan pegas perlu diganti

4.    Bhusing karet

Komponen ini berfungsi untuk meredan suara hubungan antara ayunan pegas daun dengan frame bila roda menerima kejutan dari permukaan jalan. Pemeriksaan bushing karet : dalam keadaan terlepas pastikan bhusing karet tidak pecah atau berubah konstruksinya.

Kerusakan dan keausan

Gb. 27 Pemeriksaan ayunan pegas dan Bhusing karet.

.

Pengujian : Bushing dalam terpasang gerakan ayunan pegas keatas dan kebawah bila pada bagian ini timbul suara yang aneh maka perlu diganti. Sebab sudah terjadi pengerasan

5.    Bumper karet

Komponen ini berfungsi untuk membatasi ayunan pegas yang berlebihan dan tidak terjadi tumbukan antara poros roda dengan frame/kerangka kendaraan. Pemeriksaan bumper karet :dalam keadaan terpasang pastikan tidak ada bagian yang pecah atau berubah bentuk

    Bumper karet

      Pengujian : Dalam keadaan terpasang beri beban pada bagian belakang kendaraan yang diuji bumper kemudian lepaskan bebannya  lakukan beberapa kali . bila pada bagian ini timbul suara aneh maka perlu diganti bumper karet tersebut atau sebaliknya

C.  Rangkuman

1.    Sistem suspensi berfungsi

a.    Bersama-sama dengan roda menyerap kejutan dan oksilasi dari permukaan jalan.

b.    Memindahkan gaya pengereman dan gaya gerak ke body melalui gesekan antara jalan dengan roda-roda.

c.    Menopang body / kerangka pada poros dan memelihara letak geometri antara body dengan roda.

2.    Sistem suspensi dapat digolongkan menjadi dua jenis

a.    Suspensi Independen (suspensi bebas)

b.    Suspensi Rigid ( Suspensi kaku )

  1. Suspensi independen menggunakan dua macam pegas

Yaitu : Pegas koil dan pegas torsi

  1. Suspensi rigid menggunakan dua macam pegas yaitu

a.    Pegas daun

b.    Pegas koil

  1. Komponen utama suspensi independen

a.    Pegas koil / torsi

b.    Shock absorber (peredam kejut)

c.    Stabilizer bar

d.    Strut bar

e.    Upper arm

f.     Lower arm

g.    Ball joint

  1. Komponen utama suspensi rigid

a.    Pegas daun

b.    Pegas koil

c.    Shock absorber ( peredam kejut )

d.    Lateral rod

e.    Bumper karet

7.   Prosedur pemeriksaan komponen.

D.  Tugas

1.    Sebutkan dua macam konstruksi suspensi poros independent pada kendaraan

2.    Sebutkan dua macam konstruksi suspensi poros rigit

E.  Test Formatif

1.    Jelaskan kerja suspensi wishbone pegas koil

2.    Jelaskan kerja suspensi rigid pegas daun

F.   Kunci Jawaban Test Formatif

1.    Bila roda-roda depan menerima kejutan dari permukaan jalan maka pegas koil menerima gaya dari lower arm sehingga mengakibatkan pegas koil mengalami pemendekan sesuai dengan kemampuan pemegasan (konstanta pegas)

2.    Bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan dan diteruskan ke rumah poros belakang sehingga mengakibatkan pegas daun terjadi pemanjangan dari bentuk elip mendekati lurus

G.  Lembar Kerja

1.    Alat dan Bahan

a.    Dongkrak

b.    Jack stand

c.    Pengungkit

d.    Suspensi roda depan

e.    Suspensi roda belakang

f.     V blok

g.    Dial indicator magnetic

h.    Majun / kain lap

i.      Penetran warna

j.      Kuas

k.    Minyak pembersih

l.      Grease

  1. Keselamatan Kerja

a.    Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya.

b.    Ikuti intruksi dari instruktur / guru maupun prosedur kerja

c.    Jangan bekerja di bawah kendaraan yang tidak di jack stand dengan kuat.

  1. Langkah Kerja

a.    Persiapan alat dan bahan praktek secara cermat, efektif dan seefesien mungkin.

b.    Perhatikan instruksi praktek yang disampaikan oleh instruktur.

c.    Lakukan pemeriksaan sistem suspensi dan analisis kerusakan pada komponennya.

d.    Buatlah catatan penting kegiatan praktek secara ringkas.

e.    Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula.

  1. Tugas

a.    Buatlah laporan kegiatan praktek secara ringkas dan jelas.

b.    Buatlah ringkasan pengetahuan yang diperoleh setelah belajar / praktek.

BAB  III

EVALUASI

A.       TES TULIS

 

Jenis Pekerjaan       :

Nama Peserta          :

Nomor Induk             :

Program Keahlian   :

1.        Apa yang membedakan konstruksi suspensi wishbone dengan suspensi mac pherson ?

2.        Apa yang membedakan konstruksi suspensi independen dan suspensi rigid ?

3.        Jelaskan kerja suspensi independen wishbone roda depan dengan menggunakan pegas koil ?

4.        Jelaskan kerja suspensi poros rigid menggunakan pegas daun ?

B.       TES PRAKTIK

Lakukan prosedur pemeriksaan, pengujian dan penentuan kondisi komponen suspensi wishbone

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A.        Lembar penilaian Tes tulis

No

Pertanyaan

Kunci Jawaban

Skor

Maks

Skor

Perolehan

Keterangan
1 Apa yang membedakan konstruksi suspensi wishbone dengan suspensi mac pherson Independen :

Poros roda-rodanya bebas bergerak antara sebelah kiri dan sebelah kanan

Wishbone : pegas koil terpisah dengan peredam kejutnya

Mac pherson : pegas koil disatukan dengan peredam kejutnya

5

5

2 Apa yang membedakan konstruksi suspensi independen dan rigid Independen :

Poros roda-rodanya bebas bergerak antara roda sebelah kiri dan roda sebelah kanan

Rigid :

Poros roda sebelah kanan dan kiri satu rumah poros

5

5

3 Jelaskan kerja suspensi poros independen Bila roda berjalan dijalan tidak rata lower arm bebas bergerak bersama pegas koil

5

4. Jelaskan kerja suspensi poros rigid Bila roda berjalan dijalan tidak rata roda mendorong poros dan diteruskan ke pegas, maka pegas daun akan mengalami pemanjangan

5

                                                          Total Skor

30

 

B.     Lembar penilaian Tes Praktiks

No

Job praktik

Kunci Jawaban

Skor

Maks

Skor

Perolehan

Keterangan
1 Lakukan prosedur pemeriksaan , pengujian dan penentuan kondisi komponen sistem suspensi sesuai SOP 1 Persiapan :

a. Bahan

b. Alat

c. Tempat kerja

2.Cara menggu

nakan alat-alat tangan/ special tools dengan tepat dan benar

3.Cara menggunakan alat-angkat tepat dan benar

4.Penggunaan buku servis manual

Pemeriksaan dan pengujian

5.Pelaksanaan pemeriksaan, pengujian dan penentuan kondisi komponen sistem suspensi sesuai SOP

10

10

10

20

20

Total skor maksimal

70

BAB  IV

PENUTUP

 

Setelah menyelesaikan modul ini, maka Anda berhak untuk mengikuti tes paktik untuk menguji kompetensi yang telah dipelajari. Dan apabila Anda dinyatakan memenuhi syarat kelulusan dari hasil evalusi dalam modul ini, maka Anda berhak untuk melanjutkan ke topik/modul berikutnya. Mintalah pada pengajar/instruktur untuk melakukan uji kompetensi dengan sistem penilaiannya dilakukan langsung dari pihak dunia industri atau asosiasi profesi yang berkompeten apabila Anda telah menyelesaikan suatu kompetensi tertentu. Atau apabila Anda telah menyelesaikan seluruh evaluasi dari setiap modul, maka hasil yang berupa nilai dari instruktur atau berupa porto folio dapat dijadikan sebagai bahan verifikasi bagi pihak industri atau asosiasi profesi. Kemudian selanjutnya hasil tersebut dapat dijadikan sebagai penentu standard pemenuhan kompetensi tertentu dan bila memenuhi syarat Anda berhak mendapatkan sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh dunia industri atau asosiasi profesi.

DAFTAR  PUSTAKA

 

Anonim. (1987), Dasar-dasar Automotive, Jakarta : PT.Toyota–Astra – Motor.

Anonim. (1995), New Step 1 Training Manual, Jakarta : PT. Toyota – Astra- Motor.

Anonim. (1995), Materi Pelajaran chasis group step 2, Jakarta : PT. Toyota Astra-Motor.

Anonim, (1982), Mitsubishi L 300 Workshop Manual, Mitsubishi corporation.

Anonim, (1982), Mitsubishi Colt T120 Workshop Manual, Mitsubishi corporation.

Anonim, (1993), Servis Mobil, Pusat Pengembangan Guru Teknologi Malang

Perbaikan Poros Penggerak Roda

BAB. I

PENDAHULUAN

 

A.  DESKRIPSI

 

Modul ini mempelajari tentang “Perbaikan poros penggerak roda” yang meliputi perbaikan poros penggerak roda pada suspensi rigid maupun pada suspensi independent.

Macam-macam konstruksi poros penggerak roda yang dipelajari modul sebelumnya adalah sebagai penunjang untuk bisa menguasai modul ini. Setelah mempelajari modul ini siswa diharapkan dapat mengidentifikasi kerusakan, serta dapat mengganti poros penggerak roda beserta komponen-komponennya.

B.  PRASYARAT

 

Untuk menempuh kegiatan pembelajaran pada modul ini peserta diklat diharuskan menguasai OPKR-10-010B (penggunaan alat ukur) atau alat yang lain, serta telah menyelesaikan kompetensi sebelumnya yaitu OPKR-30-013B.

C.  PENUNJUK PENGGUNAAN MODUL

 

1.   Petunjuk  Bagi Siswa

Untuk mendapatkan hasil yang maksimum, maka perhatikan petunjuk-petunjuk berikut ini:

a.    Perhatikan arahan yang diberikan instruktor.

b.    Bacalah dengan teliti dan cermati modul ini secara keseluruhan.

c.    Konsultasikan pada instruktor hal-hal yang kurang jelas teori maupun praktek.

d.    Pada waktu praktek persiapkan hal-hal sebagai berikut:

1.    Siapkan alat dan bahan sesuai kebutuhan.

2.    Cermati langkah kerja dan perhatikan fungsi dan cara kerja masing-masing komponen.

3.    Setelah mendongkrak ganjal/topang mobil dengan jack stand atau kayu balok.

4.    Setelah selesai kembalikan alat dalam keadaan bersih.

2.   Petunjuk Bagi Guru

a.    Amati dan bantu setiap kegiatan siswa.

b.    Berikan tugas-tugas dalam pelatihan.

c.    Bimbing siswa dalam memahami konsep.

d.    Melaksanakan penilaian.

e.    Mencatat kemajuan siswa.

D.  TUJUAN AKHIR

 

Setelah mempelajari secara keseluruhan modul ini diharapkan:

1.    Siswa dapat membongkar, mengidentifikasi kerusakan, memperbaiki kerusakan, memasang kembali komponen poros penggerak roda sesuai dengan SOP (Standard Operasional Prosedur) yang berlaku pada akhir kegiatan evaluasi.

2.    Siswa terampil dalam memasang kembali komponen poros penggerak roda.


E.  KOMPETENSI

 

Modul OPKR-30-014B membentuk kompetensi memasang, menguji dan memperbaiki sistem penerangan dan wiring. Uraian kompetensi dan subkompetensi ini dijabarkan seperti di bawah ini.

KOMPETENSI               :    Perbaikan Poros Penggerak Roda

KODE                          :   OPKR-30-014 B

DURASI PEMELAJARAN:   40 Jam @ 45 menit

 

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

1. Memperbaiki poros penggerak roda/drive shafts dan komponen-komponennya.

§ Perbaikan poros penggerak roda/drive shafts, dan komponen-komponennya dilaksanakan tanpa menye-babkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lain-nya.

§ Informasi yang benar di-akses dari spesifikasi pabrik dan dipahami.

§ Perbaikan dan/atau peng-gantian pada poros peng-gerak roda/drive shafts dan komponen-komponennya dilaksanakan dengan menggunakan metode dan perlengkapan yang tepat, sesuai dengan spesifikasi dan toleransi terhadap pabrik/kendaraan.

§ Data yang tepat dilengkapi sesuai hasil pemeriksaan poros penggerak roda.

§ Konstruksi dan prinsip kerja poros penggerak.

§ Identifikasi kerusakan dan metoda perbaikan.

§ Pengukuran dan spesifikasi toleransi.

§ Standar prosedur keselamatan kerja.

§ Menerapkan prosedur kerja dalam proses pembongkaran dan pemasangan poros penggerak pada mobil

§ Penggunaan  alat dan perlengkapan  yang sesuai

§ Prosedur pembongkaran, penggantian dan perbaikan

§ Konstruksi dan kerja dari komponen/ sistem yang berhubungan pada final drive (sesuai pada penggunaan).

§ Prosedur pengujian.

§ Penilaian komponen .

§ Informasi teknik yang sesuai.

§ Persyaratan keamanan peralatan.

§ Persyaratan keamanan kendaraan/alat industri.

§ Kebijakan pabrik/ per-usahaan.

§ Persyaratan keselamatan diri.

§ Membongkar, memeriksa,  memperbaiki kerusakan pada poros penggerak roda/drive shaft dan komponen-nya

§ Menggunakan peralatan dan perlangkapan sesuai standar

§ Menguji kerja dari komponen/sistem yang berhubungan pada final drive

§ Seluruh kegiatan pemeliha-raan/servis poros penggerak roda/drive shafts dan komponen-komponennya dilaksanakan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K 3 (Keselamatan dan Kese-hatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/ kebijakan perusa-haan.

 


F.   CEK KEMAMPUAN

 

Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta diklat, maka jawablah pertanyaan pilihan ganda berikut ini dengan benar dan berikan tanda silang (X) pada jawaban yang betul:

1.    Bagian yang berfungsi menghubungkan putaran dari differential ke roda adalah:

a. Poros propelair.                                       c. Poros engkol.

b. Poros penggerak roda.                             d. Poros primair.

2.    Pada waktu bekerja dibawah mobil, seharusnya mobil ditumpu dengan:

a. Dongkrak hydrolik.                                  c. Garage jack.

b. Dongkrak ulir.                                         d. Jack stand.

3.    Untuk melepas poros roda mengunakan alat:

a. Sliding hamer.                                         c. Kunci roda.

b. Palu besar.                                              d. Kunci momen.

Catatan Pembimbing:

1.  Untuk soal nomor 1, apabila siswa menjawab ( b ) lanjutkan soal nomor

2

2.  Untuk soal nomor 2, apabila siswa menjawab ( d ) lanjutkan soal nomor

3

3.  Untuk soal nomor 3, apabila siswa menjawab ( a ) siswa telah mampu

mengerjakan test awal dengan benar.

Kesimpulan:

Karena siswa telah mampu mengerjakan test awal dengan benar, maka

siswa dapat mengerjakan modul ini.

BAB. II

PEMELAJARAN

A.   RENCANA BELAJAR SISWA

 

Kompetensi     : Perbaikan poros penggerak roda.

SubKompetensi: Perbaikan poros penggerak roda pada suspensi rigid (kaku) dan independent (bebas).

Mintalah bukti persetujuan guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

No.

Jenis Kegiatan

Hari

Tanggal

Waktu

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.

Perbaikan poros penggerak roda pada suspensi rigid

2.

Perbaikan poros penggerak roda pada suspensi independent

KEGIATAN BELAJAR

 

    Kegiatan Belajar 1.

 

Perbaikan poros penggerak roda pada suspensi rigid

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

 

1.    Siswa dapat memeriksa unit poros penggerak roda pada suspensi rigid apakah masih baik atau harus diganti.

2.    Siswa dapat melepas dan memasang kembali komponen-komponen yang rusak.

3.    Siswa dapat membongkar dan merakit kembali komponen-komponen poros penggerak roda pada suspensi rigid.

b.  Uraian Materi

 

Pada umumnya poros penggerak roda suspensi rigid yang dipaksa pada kendaraan ringan adalah jenis semi floating.

1.   Pembongkaran

Sebelum melakukan pembongkaran lakukan pemeriksaan awal dengan langkah-langkah sebagai berikut:

    1. Kendorkan mur roda
    2. Dongkrak mobil dan tumpu dengan jack stand
    3. Lepas roda dan tromol
    4. Pemeriksaan kebebasan arah aksial, Kebebasan maksimal adalah 1 mm. Dengan menggunakan alat dial indikator.

Gambar 1. Pemeriksaan Gerak Bebas Arsial Poros Roda Belakang.

Jika kebebasan terlalu besar ganti bantalan dan biasanya kebebasan bantalan yang terlalu besar akan terdengar suara gemuruh pada saat mobil berjalan.

Catatan:

Apabila bantalan roda rusak harus segera diganti, bila tidak

maka akan menyebabkan:

1. Bahaya terhadap pengereman

2. Bantalan roda bisa pecah atau terbakar

3. Boros pemakaian nahan bakar

Pembongkaran dan pemeriksaannya adalah sebagai berikut:

a.    Kendorkan mur roda.

b.    Angkat mobil dengan dongkrak dan tumpu dengan jack stand.

c.    Lepas roda dan tromol rem.

d.    Lepas baut pengikat backing plat dan pipa rem menggunakan SST.

Gambar 2. Melepas Baut Pengikat Backing Plat dan Pipa Rem.

e.    Dengan menggunakan SST lepas poros aksel belakang, hati-hati jangan sampai merusak perapat oli.

Gambar 3. Melepas Poros Aksel Belakang.

f.     Lepas gasket poros belakang.

2.   Pemeriksaan Dan Perbaikan Komponen Poros Roda Belakang

Periksalah dengan cermat dan teliti kemungkinan terjadi kerusakan pada komponen-komponen sebagai berikut:

a.    Periksa bantalan atau bearing terhadap keausan atau kerusakan, bila  bantalan aus atau rusak gantilah dengan yang baru.

Lepas bantalan dengan menggerinda penahan dalam, dengan menggunakan pahat dan palu potong penahan dan kepastian dari poros.

Gambar 4. Menggederenda Penahan Bantalan.

Dengan menggunakan SST dan hydrolik pres lepas bantalan dari poros.

Gambar 5. Melepas Bantalan Dengan Pres Hydrolis.

b.    Pemeriksaan Oli Seal

Kerusakan oli seal bisa menyebabkan kebocoran oli differensial/ gardan. Hal ini bisa dilihat sekitar backing plat terdapat tanda-tanda oli keluar.

Keausan oli seal bisa dilihat pada bagian yang berhubungan dengan poros, bila masih runcing berarti baik, bila sudah rata berarti aus, ganti oli seal dengan yang baru bila sudah aus.

Dengan menggunakan SST lepas oli seal.

Gambar 6. Melepas Perapat Oli Dari Rumah Poros.

              c.  Pemeriksaan Poros Roda Belakang

Periksa alur poros roda belakang dari kemungkinan aus, retak atau puntiran.

Periksa poros roda belakang pada bagian dudukan penahan dalam dan bantalan dari kemungkinan keausan.

Dengan menggunakan dial indikator periksa poros roda belakang dari kebengkokkan dan keolengan pada flensnya.

Kebengkokkan/kelengkungan poros maksimum 1,5 mm Keolengan flens maksimum 0,1 mm.

Gambar 6. Memeriksa Kebengkokan Poros & Flens.

Pada poros roda belakang dan komponennya bila terdapat kerusakan tidak dapat diperbaiki oleh karena itu harus kita ganti kecuali pada kebengkokkan ini bisa diperbaiki.

3.   Perakitan Dan Pemasangan Poros Roda Belakang

Persiapkan komponen-komponen yang telah diperiksa dari kerusakan dan yang baru.

Pemasangan kembali dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a.    Menggunakan SST dan pres hydrolik pasang penahan bantalan luar dan bantalan/bearing batu.

Gambar 7. Memasang Bantalan.

b.    Panaskan penahan bantalan dalam hingga kurang lebih 1500C didalam oli pemanas.

Gambar 8. Pemanas Penahan Bantalan.

c.    Menggunakan SST dan preshydrolik pasang penahan bantalan dalam saat masih panas.

Gambar 9. Pemasang Penahan Bantalan Dengan Pres Hydrolik.

d.    Menggunakan SST pasang oli seal yang telah diolesi gemuk pada kedalaman 6mm.

Gambar 10. Memasang Perapat Oli.

e.    Pasang poros penggerak roda pada housing axle beserta kelengkapannya yang telah diolesi perapat.

f.     Pasang dan kencangkan baud pengikat backing plat dengan momen pengencangan 670 Kg.cm.

g.    Pasang kembali pipa rem.

h.    Pasang tromol rem.

i.     Lakukan pembuangan udara pada sistem rem.

j.     Pasang roda kemudian turunkan mobil dan kencangkan baud-baud roda.

Catatan:

Pada saat memasukan poros roda belakang lakukan dengan hati-hati jangan sampai marusak oli seal maupun deflektor oli yang terdapat didalam housing axle.

c.   Rangkuman

 

1.    Poros jenis semi floating di pakai pada suspensi rigid penggerak roda belakang.

2.    Kegiatan ini meliputi bongkar, pemeriksaan dan pemasangan kembali.

3.    Komponen-komponen yang diperiksa dan diganti bila rusak adalah bearing, oli seal dan poros.

4.    Pemeriksaan poros penggerak roda meliputi alur poros yang berkaitan dengan side gear, kebengkokan poros, keolengan pada naf, keausan pada dudukan bantalan maupun penahan bantalan dalam.

d.  Tugas

 

1.    Pelajari uraian materi pada lembar kegiatan I tentang perbaikan poros penggerak roda.

2.    Lakukan pengamatan pada kendaraan/mobil yang supensi belakangnya sebagai penggerak roda jenis rigid.

3.    Gambarkan secara sederhana dan jelaskan cara kerjanya.

e.   Tes Formatif

 

1.    Gambarkan unit konstruksi poros roda belakang jenis semi floating dan sebutkan nama-nama komponennya.

2.    Pemeriksaan apa saja yang dilakukan pada unit poros penggerak roda belakang semi floating.

3.    Persyaratan apa saja yang diperlukan pada waktu bekerja dibawah mobil.

f.    Kunci Jawaban Formatif

 

1.

1. Gasket.                                      5. Bantalan.

2. Perabot oli.                                 6. Penahan bantalan luar.

3. Backing plat.                               7. Poros penggerak roda.

4. Penahan bantalan dalam.

2. Pemeriksaan yang dilakukan adalah:

a. Bearing/bantalan.

b. Oli seal.

c. Poros roda.

3.  Persyaratannya adalah sebagai berikut:

a. Lantai datar.

b. Mobil harus ditumpu dengan jack stand.

c. Lantai harus bersih dari minyak.

g.  Lembar Kerja

1. Alat dan Bahan

a. 1 unit mobil atau suspensi rigid jenis semi floaling.

b. Peralatan, dongkrak, kunci pas/ring (sesuai kebutuhan) SST (sesuai kebutuhan).

c. Alat ukur (jangka serong, dial indikator).

d. Alat pres (hydrolik pres).

e. Mesin gerinda

f. Gemuk, lem perapat, lap/ majun.

g. Pasir/serbuk gergaji.

2.  Keselamatan Kerja

a. Gunakan peralatan sesuai fungsinya.

b. Perhatikan dan ikuti petunjuk instruktur/guru.

c. Gunakan alat keselamatan kerja bila diperlukan.

d. Minta buku manual bila perlu.

e. Perhatikan bagian-bagian yang rawan terhadap benturan keras, oli dll.

3. Langkah Kerja

a. Persiapkan alat dan bahan.

b. Perhatikan petunjuk instruktur/guru.

c.  Lakukan pembongkaran unit poros penggerak roda secara cermat.

d.  Lakukan pemeriksaan dengan teliti komponen-komponen poros penggerak roda.

e.  Buat catatan penting kegiatan praktek secara ringkas.

f.   Diskusikan mengenai seluruh kondisi komponen, kemungkinan penyebab kerusakan, kemungkinan perbaikannya, kemungkinan yang terjadi bila kerusakan tidak diperbaiki.

g. Lakukan pemasangan kembali komponen-komponen yang telah dibongkar dengan baik dan benar.

h.  Diskusikan mengenai apa yang telah didapat tentang poros penggerak roda.

i.   Setelah selesai kegiatan bersihkan peralatan dan tempat kerja, kembalikan peralatan dan bahan ke posisi semula.

          4. Tugas

a. Buatlah laporan pratikum secara ringkas dan jelas, lengkapi dengan analisa dan kesimpulan.

b. Buatlah rangkuman tentang pengetahuan yang baru setelah mempelajari materi pada kegiatan ini.

     Kegiatan Belajar 2.

 

Perbaikan Poros Penggerak Roda Pada Suspensi Independent.    

a.   Tujuan Pemelajaran

 

1.    Siswa dapat memeriksa unit poros penggerak roda pada suspensi independent apakah masih baik atau harus diganti.

2.    Siswa dapat memperbaiki atau mengganti unit poros penggerak roda beserta komponen-komponennya pada suspensi independent.

b.  Uraian Materi

 

Kendaraan yang bersuspensi independent poros penggerak rodanya menggunakan jenis CV joint. CV joint bisa dipakai pada kendaraan tipe poros penggerak roda depan maupun poros penggerak roda belakang. Dalam pemelajaran ini kita menggunakan tipe poros penggerak roda depan. Service yang dilakukan sanggat jarang karena konstruksinya sangat sederhana.

1.   Pembongkaran

Untuk membongkar ikuti langkah-langkah sebagai berikut:

a.    Kendorkan mur roda.

b.    Angkat mobil dengan dongkrak dan tumpu dengan jack stand.

c.    Lepas roda.

d.    Lepas kaliper dan piringan rem.

Gambar 11. Pemeriksaan Kebebasan Bantalan.

e.    Periksa kebebasan bantalan dalam arah aksial dengan dial indikator. Kebebasan maksimum 0,05 mm.

Gambar 12. Melepas Mur Pengikat Bantalan.

f.     Lepas Conter pin dan mur pengikat bantalan.

Gambar 13. Melepas Tie-rod End.

g.    Lepas hubungan tie-rod dengan steering knucle SST.

Gambar 14. Melepas Steering Knucle Dari Lower Arm.

h.    Lepas steering knucle dari lower arm.

Gambar 15. Melepas Poros Penggerak Roda Dari Hub.

i.     Lepas poros penggerak roda dari hubungan.

2.   Pemeriksaan

Setelah unit poros penggerak roda terlepas lakukan pemeriksaan sebagai berikut:

a.    Pemeriksaan poros penggerak roda dari kemungkinan melengkung.

b.    Pemeriksaan out board tidak boleh ada kekocakan.

c.    Pemeriksaan inboard joint harus dapat meluncur dengan lembut arah aksial.

d.    Periksa kebebasan inboard joint kearah radial tidak terlalu besar.

e.    Periksa gigi alur dari kemungkinan kerusakan.

Gambar 16. Memeriksa Poros Penggerak.

Komponen-komponen dari CV joint tidak bisa diperbaiki bila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerusakan maka harus diganti 1 unit CV joint.

3.   Pemasangan Kembali/Perakitan

Pemasangan kembali/perakitan dapat dilakukan sebagai berikut:

a.    Masukkan poros penggerak roda secara pelan-pelan ujung yang satu ke transaxle ujung yang lain ke hub roda. Kencangkan mur pengikat bantalan dengan momen 800 kg cm.

b.    Pasang steering knucle pada lower arm dan kencangkan mur dengan momen 850 kg cm.

c.    Pasang tie-rod dengan momen 600 kg cm.

d.    Pasang kaliper dan piringan rem dengan momen pengencangan 200 kg cm.

e.    Pasang roda dan mur roda.

f.     Turunkan mobil dan kencangkan mur roda.

c.   Rangkuman  

 

1.    Suspensi independent menggunakan poros penggerak roda jenis Constan Velocity joint (CV joint).

2.    Unit CV joint sangat sederhana dan jarang dilakukan pemeriksaan atau perbaikkan.

3.    Bila CV joint rusak tidak bisa diperbaiki harus diganti.

d.  Tugas

 

1.    Lakukan pengamatan pada kendaraan dengan suspensi independent, buat gambar sederhana konstruksi dari poros penggerak rodanya!

2.    Jelaskan cara kerja secara singkat poros penggerak rodanya?

e.   Test Formatif

 

1.    Gambarkan konstruksi dari CV joint dan sebutkan komponen-komponen utamanya?

2.    Pemeriksaan apa saja yang dilakukan pada CV joint?

f.    Kunci Jawaban

 

1.

2.  Pemeriksaan pada CV joint adalah

a.  Kekocakan out board joint

b.  kelengkungan poros.

c.  Gerakan inboard

d.  Kebebasan inboard kearah radial.

e.  Alur-alur pada ujung poros.

g.  Lembar kerja

 

1.  Alat dan bahan:

a.    1 unit mobil dengan suspensi independent.

b.    Peralatan: dongkrak, kunci pas/ring(sesuai kebutuhan), SST (sesuai kebutuhan).

c.    Alat ukur (jangka sorong, dial indikator).

d.    Gemuk, lap/marjun, pasir serbuk gergaji.

2.   Keselamatan kerja:

a.    Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya.

b.    Perhatikan dan ikuti petunjuk instruktur/guru.

c.    Gunakan alat keselamatan kerja bila digunakan.

d.    Minta buku manual bila perlu.

e.    Perhatikan bagian-bagian yang rawan terhadap benturan keras.

f.     Jaga lantai dari genangan oli.

3.   Langkah kerja:

a.    Persiapkan alat dan bahan.

b.    Perhatikan petunjuk instruktur/guru.

c.    Lakukan pembongkaran unit poros penggerak roda secara cermat.

d.    Lakukan pemeriksaan dengan teliti komponen-komponen poros penggerak roda.

e.    Buat catatan penting kegiatan praktek secara ringkas.

f.     Diskusikan mengenai seluruh kondisi komponen, kemungkinan penyebab kerusakan, kemungkinan perbaikkannya, kemungkinan yang terjadi bila kerusakan tidak diperbaiki.

g.    Lakukan pemasangan kembali komponen-komponen yang telah diperbaiki atau diganti dengan baik dan benar.

h.    Diskusikan mengenai apa yang telah didapat tentang CV joint.

i.     Setelah selesai kegiatan dan tempat kerja, kembalikan peralatan dan bahan keposisi semula.

4.   Tugas

a.    Buatlah laporan pratikum secara ringkas dan jelas? Lengkapi dengan analisa dan kesimpulan!

b.    Buatlah rangkuman tentang pengetahuan yang baru setelah mengetahui kegiatan ini?

BAB. III

EVALUASI

    

A.  Pertanyaan

 

1.    Jelaskan pemakaian poros penggerak roda jenis semi floating dan jenis CV joint?

2.    Gambarkan dan sebutkan komponen-komponen dari poros penggerak roda jenis semi floating?

3.    Pada unit poros penggerak roda belakang pemeriksaan-pemeriksaan apa saja yang dilakukan?

4.    Gambarkan konstruksi dari CV joint dan sebutkan bagian-bagian utamanya?

B.  Kunci Jawaban

 

1.    Poros penggerak roda semi floating dipakai pada kendaraan bersuspensi rigid dan penggerak rodanya adalah roda belakang. Sedangkan CV joint biasanya dipakai pada kendaraan bersuspensi independent penggerak rodanya depan.

2.    Gambar poros penggerak roda jenis semi floating:

3.    Pemeriksaan yang dilakukan pada unit poros penggerak roda belakang semi floating adalah

a.    Bearing/bantalan roda.

b.    Oli seal.

c.    Poros roda meliputi perlengkungan, puntiran, keausan.

4.    Gambar konstruksi dari CV joint.

C.   Kriteria Kelulusan

Aspek

Skor (1-10)

Bobot

Nilai

Keterangan

Kognitif (soal no 1 s/d 4)

3

Syarat lulus, nilai minimal 70 dengan skor setiap aspek minimal 7

Ketelitian pemeriksaan pendahuluan

1

Ketepatan prosedur praktik

2

Ketepatan analisis hasil praktik

2

Ketepatan waktu

1

Keselamatan kerja

1

Nilai Akhir

Kriteria Kelulusan:

 

70 s.d 79  :   memenuhi kriteria minimal dengan bimbingan

80 s.d 89  :   memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan

90 s.d 100:   di atas minimal tanpa bimbingan

BAB. IV

PENUTUP

 

Setelah menyelesaikan modul ini diharapkan siswa mempunyai kemampuan dan ketrampilan mengenai perbaikan poros penggerak roda serta dapat melaksanakan tugas-tugas dalam modul ini.

Dengan menyelesaikan modul kompetensi dan melaksanakan tugas-tugas serta evaluasinya dengan kriteria yang telah ditentukan siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak lulus. Apabila siswa dinyatakan lulus maka siswa dapat melanjutkan modul berikutnya sesuai dengan peta kompetensi. Sedangkan siswa yang dinyatakan tidak lulus maka siswa harus mengulangi modul ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim (1994). Training Manual Drive Train Group, Jakarta: Penerbit PT. Toyota-Astra Motor.

Anonim (tt). Step 2 Materi Pelajaran Chassis Group, Jakarta: Penerbit PT. Toyota-Astra Motor.

Anonim (2003). N-Step Step 2 Chasis Training Materials Text, Jakarta: Penerbit PT. NISSAN.

Pemasangan, Pengujian dan Perbaikan Sistem Penerangan dan Wiring

                                       BAB. I

PENDAHULUAN

A.    DESKRIPSI

Pemasangan, pengujian dan perbaikan sistem penerangan dan wiring merupakan modul kompetensi yang berisi tentang materi jaringan kabel, saklar dan sistern penerangan.

Modul ini membahas tentang komponen kelistrikan yang terpasang pada body kendaraan (mobil) yang terdir dari tiga (3) kegiatan pemelajaran, yaitu:

Kegiatan 1:  berisi tentang pemasangan sistem penerangan dan wiring

Kegiatan 2:  berisi tentang pengujian sistem penerangan dan wiring

Kegiatan 3:  berisi tentang perbaikan sistem penerangan dan wiring

Dengan menguasai modul ini diharapkan Anda mampu menjelaskan prinsip pemasangan, pengujian dan perbaikan sistem penerangan dan wiring.

B.    PRASYARAT

Untuk menempuh kegiatan pemelajaran modul pemasangan, pengujian dan perbaikan sistem penerangan dan wiring Anda dipersyaratkan untuk mempelajari terlebih dahulu modul:

1.   Pengujian, pemeliharaan/servis dan penggantian battery Kode= OPKIR-50-001–B

2.   Perbaikan ringan pada rangkaian sistem kelistrikan Kode= OPKR- 50-002-B

C.    PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

 

1.   Petunjuk Bagi Peserta Diklat

Anda diharapkan mampu berperan aktif dan berinteraktif dengan sumber belajar yang digunakan oleh karena itu anda harus  melaksanakan hal-hal sebagai berikut:

a.     Langkah-langkah belajar yang ditempuh yaitu:

1)   Menyiapkan alat dan bahan

2)   Membaca dengan seksama uraian materi pada setiap kegiatan belajar

3)   Mencermati langkah-langkah kerja pada setiap kegiatan belajar dan apabila belum jelas benar ditanyakan pada instruktur

4)   Jangan menghubungkan alat/bahan ke sumber tegangan secara langsung sebelum disetujui oleh instruktur

5)   Mengembalikan semua peralatan yang digunakan pada tempat yang sudah disediakan

b.    MenyiapIkan perlengkapan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan sistem modul maka beberapa perangkat harus disiapkan supaya kegiatan proses belajar mengaiar berlangsung sesuai yang diharapkan oleh guru dan siswa.

2.   Petunjuk Bagi Guru

a.   Membantu siswa dalam merencanakan kegiatan belajar

b.   Membantu mempersiapkan kegiatan praktikum setelah melaksanakan kegiatan belajar

c.    Membantu siswa dalam mengkoordinasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.

d.   Membimbing siswa dengan tugas/kerja dan evaluasi setelah materi dijelaskan.

e.   Membantu siswa dalam memahami hasil evaluasi yang ditempuh dalam setiap kegiatan belajar.

f.    Membantu siswa supaya mampu mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan calambelajar

g.   Membantu siswa dalam menentukan perbedaan jenis-jenis penerapan dari hasil kegiatan belajar.

D.    TUJUAN AKHIR

Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini siswa diharapkan:

1.   Terampil memasang sistem penerangan dan wiring dengan baik.

2.   Menguji sistem penerangan dan wiring dengan baik.

3.   Memperbaiki sistem penerangan dan wiring dengan tepat.

E.    KOMPETENSI

 

Modul OPKR-50-007 B membentuk kompetensi memasang, menguji dan memperbaiki sistem penerangan dan wiring. Uraian kompetensi dan subkompetensi ini dijabarkan seperti di bawah ini.

KOMPETENSI                : Memasang, Menguji dan Memperbaiki Sistem Penerangan dan Wiring

KODE                           : OPKR-50-007B

DURASI PEMELAJARAN  : 60 Jam @ 45 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

1.  Memasang sistem penerangan dan wiring kelistrikan.

§ Pemasangan dilaksanakan tanpa menyebabkan keru-sakan terhadap komponen atau sistem lainnya.

§ Informasi yang benar di-akses dari spesifikasi pabrik dan dipahami.

§ Pemasangan/bahan yang sesuai.

§ Sistem kelistrikan dipasang dengan menggunakan per-alatan dan tehnik yang sesuai.

§ Seluruh kegiatan instalasi/ pemasangan dilaksanakan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K 3 (Kese-lamatan dan Kesehatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/ kebijakan perusa-haan.

§Wiring diagram sistem pene-rangan otomotif

§Prinsip kerja sistem pene-rangan

§Identifikasi kerusakan dan metoda perbaikan

§Standar prosedur keselamat-an kerja

§ Cermat dan teliti dalam penggunaan alat ukur elektronik

§  Cermat dan teliti dalam proses penyambungan kabel

§  Undang-undang K 3.

§  Pemahaman peratuan pemerintah.

§  Prosedur pemasangan

§  Cara kerja sistem kelistrikan dan komponen yang sesuai untuk penggunaan.

§  Prinsip-prinsip kelistrikan dan penerapan pada wiring/ penerangan.

§  Prosedur perbaikan sistem kelistrikan .

§  Memasang dan merangkai sistem penerangan dan wiring

§  Melaksanakan perbaikan sistem kelistrikan

2. Menguji sistem kelistrikan.

§ Sistem kelistrikan diuji tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem.

§ Informasi yang benar di-akses dari spesifikasi pabrik dan dipahami.

§ Tes/pengujian dilakukan untuk menentukan kesalah-an/kerusakan dengan menggunakan peralatan dan teknik yang sesuai.

§ Mengidentifikasi kesalahan dan menentukan tindakan perbaikan yang diperlukan.

§ Seluruh kegiatan pengujian dilaksanakan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K 3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/ kebijakan perusa-haan.

§ Prosedur pengujian sistem penerangan dan sistem kelistrikan

§ Prinsip kerja sistem penerangan

§ Identifikasi kerusakan dan metoda perbaikan

§ Standar prosedur keselamatan kerja

§ Cermat dan teliti dalam pengujian sistem kelistrikan §  Prinsip-prinsip kelistrikan dan penerapan pada wiring/ penerangan.

§  Memahami pengujian sistem kelistrikan

§ Melaksanakan pengujian sistem penerangan dan kelistrikan
3. Memperbaiki sistem kelistrikan

§ Sistem kelistrikan diperbaiki tanpa menyebabkan keru-sakan terhadap komponen atau sistem lainnya.

§ Informasi yang benar di-akses dari spesifikasi pabrik dan dipahami

§ Perbaikan yang perlu dilak-sanakan menggunakan per-alatan, teknik dan bahan yang sesuai.

§ Seluruh kegiatan perbaikan/ repair dilaksanakan berda-sarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K3 (Kesela-matan dan kesehatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/ kebijakan perusahaan

§ Prosedur pemeriksaan sistem kelistrikan

§ Prosedur perbaikan sistem kelistrikan.

§ Standar prosedur keselamat-an kerja.

§ Cermat dan teliti dalam pemeriksaan dan per-baikan sistem kelistrikan

§ Semangat tinggi dan bekerja keras untuk mencapai hasil terbaik

§ Penggunaan alat ukur kelistrikan

§ Identifikasi kerusakan

§ Prosedur pemeriksaan keru-sakan sistem kelistrikan

§ Prosedur perbaikan sistem kelistrikan

§  Memeriksa kerusakan sistem kelistrikan

§  Memperbaiki sistem kelistrikan


F.    CEK KEMAMPUAN

 

Sebelum mempelajari modul OPKR-50-007B, isilah dengan cek list (Ö) kemampuan yang telah dimiliki siswa dengan sikap jujur dan dapat dipertanggung jawabkan :

Sub Kompetensi

Pernyataan

 Jawaban

Bila jawaban ‘Ya’, kerjakan 

Ya

Tidak

Pemasangan ,pengujian dan perbaikan sistem penerangan dan wiring 1. Saya mampu memasang sistem penerangan dan wiring Soal Tes Formatif 1
2. Saya mampu menguji sistem penerangan dan wiring Soal Tes Formatif 2
3. Saya mampu memperbaiki sistem penerangan dan wiring Soal Tes Formatif 3

Apabila siswa menjawab Tidak,  pelajari modul ini

BAB. II

PEMELAJARAN

A.    RENCANA BELAJAR SISWA

Rencanakan setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.  Memasang sistem penerangan dan wiring
2.  Menguji   sistem penerangan dan wiring
3.  Memperbaiki sistem penerangan dan wiring

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.    KEGIATAN BELAJAR

Kegiatan Belajar 1. Memasang Sistem Penerangan dan Wiring

 

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

 

Siswa diharapkan mampu mengetahui dan memasang sistem penerangan dan wiring.

b.   Uraian Materi  

 

Sistem penerangan (lighting sistem) sangat diperlukan untuk keselamatan pengendara dimalam hari. Sistem ini dinagi 2 sistem penerangan:

a.   Sistem penerangan luar dan

b.   Sistem penerangan dalam

Untuk jenis-jenis lampu yang terdapat dibagian luar dan dalam sebuah kendaraan adalah sebagai berikut:

1.    Lampu Besar

Sistem lampu besar merupakan lampu penerangan untuk menerangi jalan dibagian depan kendaraan. Pada umumnya lampu besar ini dilengkapi dengan lampu jauh dan lampu dekat (high beam dan low beam) dan dapat dihidupkan dari salah satu switch oleh dimmer switch.

a.    Tipe lampu besar

Ada 2 (dua) tiPe lampu besar yang digunakan Pada kendaraan, yaitu:

1)  Lampu Besar Tipe Sealed Beam

Di dalam lampu besar tipe sealed beam, penggunaan bola lampunya tidak terpisah, keseluruhan terpasang menjadi satu seperti bola lampu dan filament terpasang di depan kaca pemantul untuk menerangi kaca lensa.

2)  Lampu Besar Tipe Semisealed Beam

Perbedaan antara semisealed beam dan sealed beam ialah pada konstruksinya, dimana pada sernisealed beam bola lampunya dapat diganti dengan mudah sehingga tidak di perlukan penggantian secara keseluruhan bila bola lampunya putus atau terbakar. Lagi pula bila menggantinya dapat langsung diganti dengan cepat. Bola lampu besar semi sealed beam tersedia dalam tipe seperti berikut:

¡ Bola lampu biasa dan

¡ Bola lampu Quartz–halogen

Gambar 1.3  Bola Lampu Jenis Biasa dan Halogen

Cara memasang pada seat mengganti bole lampu Quartz Halogen:

Bola lampu quartz halogen lebih panas dibandingkan dengan bola lampu biasa saat digunakan, umur lampu ini akan lebih pendek bila oli atau gemuk menempel pada permukaannnya. Lagi pula garam dalam keringat manusia dapat menodai kacanya (quartz). Untuk mencegah ini peganglah bagian flange bila mengganti bola lampu untuk mencegah jari-jari menyentuh quartz.

Gambar 1.4  Cara memasang bola lampu

2.    Lampu-lampu lainnya

a.   Lampu Jarak dan Lampu Belakang

Lampu kecil untuk dalam kota ini memberi isyarat adanya serta lebarnya dari sebuah kendaraan pada malam hari bagi kendaraan lainnya, baik yang ada di depan maupun di belakang. Lampu-lampu tersebut untuk yang bagian depan disebut dengan lampu jarak (clearence light) dan yang dibagian belakang disebut dengan lampu belakang (tail light).

Gambar 1.5  Letak lampu jarak dan lampu belakang beserta saklarnya

b.   Lampu Rem

Lampu rem (brake light) dilengkapi pada bagian belakang kendaraan  sebagai isyarat untuk mencegah terjadinya benturan dengan kendaman di bedakang yang mengikuti seat kendaraan mengerem.

Gambar 1.6 lampu rem

c.    Lampu tanda belok (turn sighal light)

Lampu tanda belok yang dipasang di bagian ujung kendaman sepert! pada fender depan, untuk memberi isyarat pada kendaraan yang ada di depan, belakang dan sisi kendaman bahwa pengendara bermaksud untuk membelok atau pindah jalur. Lampu tanda belok mengedip secara tetap antara 60 sampai 120 kaii setiap menitnya.

Gambar 1.7 lampu tanda belok

d.   Lampu hazard (hazard warning light)

Lampu hazard digunakan untuk memberi isyarat keberadaan kendaman dari bagian depan, belakang dan kedua sisi selama berhenti atau parkir dalam keadaan darurat. Yang digunakan adalah lampu tanda belok, tapi seluruh lampu mengedip serempak.

Gambar 1.8 Lampu Hazard

e.   Lampu Plat Nomor

Lampu ini menerangi plat nomor bagian belakang. Lampu plat nomor menyala bila lampu belakang menyala.

Gambar 1.9 Lampu Plat Nomor

f.    Lampu Mundur

Lampu mundur (back up light) dipasang pada bagian belakang kendaraan untuk memberikan penerangan tambahan untuk melihat kebelakang kendaman saat mundur di malam hari, dan memberikan isyarat untuk kendaman yang mengikutinya bahwa pengendara bermaksud untuk mundur/sedang mundur. Lampu mundur akan menyala bila Luas transmisi diposisikan mundur dengan kunci kontak ON.

Gambar 1.10 Lampu Mundur

g.   Lampu Kabut

Lampu kabut digunakan pada saat cuaca berkabut, jalanan berdebu atau hujan !ebat.

Penggunaan lampu harus mengikuti aturan yang         berlaku yakni:

Pemasangan kedua lampu harus berjarak sama baik yang kanan dari titik tengah kendaran. Lampu kabut dihubungkan bersama-sama lampu jarak dekat (pada saklar dim). Lampu kabut.tidak dihidupkan bersama-sama dengan lampu jarak dan hanya dihidupkan bersama lampu kota. Lampu kabut boleh menggunakan lensa wama putih atau warna kuning.

Gambar 1.11 Rangkaian lampu kabut

Bila lampu kabut akan diaktifkan maka saklar larnpu kepala harus pada posisi lampu jarak dekat. Saat saklar lampu basket diaktifkan, anus listrik dari saklar lampu kepala akan mengalir ke relay melalui saklar lampu kabut. Dengan aktifnya relay maka arus listrik dari baterai akan mengalir ke lampu kabut melalui sekering dan relay.

h.   Lampu Ruangan

Lampu ruangan (dome light) menerangi interior ruangan penumpang yang dirancang agar tidak menyilaukan pengemudi pada malam hari. Umumnya lampu ruangan (interior) letaknya dibagian tengah ruang penumpang kendaraan untuk menerangi interior dengan merata. Lampu ini disatukan dengan switchnya yang mempunyai 3 (tiga) posisi yaitu: ON, DOOR dan OFF. (untuk memberi kemudahan keluar masuk pada malam hari, lampu ruangan dapat disetel hanya menyala bila salah satu pintunya dibuka. Ini dapat dilakukan dengan menyetel switch pada posisi DOOR.

Gambar 1.12  Lampu ruangan

i.     Lampu Instrumen Panel (lampu meter)

Lampu instrumen panel digunakan untuk menerangi meter-meter pada instrumen panel pada malam hari dan memungkinkan pengemudi membaca meter-meter dan gauge dengan mudah dan cepat pada saat mengemudi. Lampu instrumen panel akan menyala bila lampu belakang (tail light) menyala.

Ada beberapa model yang dilengkapi dengan lampu pengontrol rheostat yang memungkinkan pengendara mengontrol terangnya lampu-lampu pada instrumen panel.

£ Flasher tanda belok (Lampu sein)

Flasher tanda belok adalah suatu alat yang menyebabkan lampu belok mengedip secara interval. Turn signal flasher bekela pada prinsip yang bervariasi. Pada umumnya menggunakan tipe semi – transistor yang kompak, ringan dan dapat diandalkan. Dalam flasher tanda belok tipe semi-transistor, bila bola lampunya putus, maka mengedipnya mulai cepat dari yang normal, dan ini merupakan tanda kepada pengemudi untuk menggantinya.

£ Flasher Lampu hazard

Flasher lampu hazard pada prinsipnya mirip dengan flasher lampu sein. sebab ia juga menyebabkan lampu berkedip-kedip secara teratur. Dan biasanya disatukan dengan flasher lampu sein.

3.    Macam-macam Bola Lampu dan Titik Pengunci dalam Mengganti Bola Lampu

Tipe bola lampu bervariasi yang digunakan pada sebuah kendaraan, dapat dikiasifikasikan dalam beberapa cara. Pada modul kompetensi ini dijelaskan beberapa titik pengund pada saat mengganti bola lampu, yang dapat dikiasifikasikan berdasarkan bentuk base capnya yaitu:

a.    Bola lampu model single-end

Tipe bola lampu ini hanya mempunyai satu base cap yang juga sebagai penghubung ke massa.

Bola lampu singie-end selanjutnya diklasifikasikan ke dalam dua jenis sesuai dengan jumlah dari filament. Single filament pada bola lampu model single-end dan double filament pada bo!a lampu  single end.

Gambar 1.13  Jenis bola lampu single-end

Bola lampu dipasang pada socket dengan menempatkan pin pada base cap.

1)   Mengganti bola lampu:

tekan bola lampu kedepan socket untuk melepas pin base cap tidak mengunci pada tarikan socket, putar bola lampu tersebut dan tarik keiuar untuk melepasnya.

2)   Memasang bola lampu

Dalam rnemasang bola lampu yang baru urutannya adalah kebalikan dari cara melepasnya.

Gambar 1. 14. Mengganti bola lampu

Pin pada bola lampu double filament single-end letaknya tidak segaris (offset) dalam pengaturan tingginya. Hal ini Untuk mencegah kesalahan posisi pernasangan lampu.

b.   Bola lampu widge-base (socket gepeng).

Tipe bole lampu ini mempunyai satu filament dan filamennya berhubungan langsung dengan socket terminal.

Gambar 1.15 Bola lampu wigde-base

1)    Mengganti bola lampu

tarik bola lampu keluar dengan menggunakan jari tangan

2)    Memasang bola lampu

Dorong/tekan bola lampu pada lubang socket.

Gambar 1.16 Memasang dan melepas bola lampu

c.    Bola lampu dengan ujung ganda

Tipe bola lampu ini mempunyai satu filament dan dua base-cap. Seperti pada gambar berikut:

Gambar 1.17 Bola lampu dengan ujung ganda

1.    Memperbaiki/mengganti bola lampu:

Tekan salah satu den terminal socket dam untuk membuka tarik keluar bola lampu tersebut.

2.    Memasang bola lampu

Tempatkan salah satu ujungnya ke dalarn lubang kemudian dorong/tekan yang           lainnya sehingga kedua ujung masuk pada lubangnya masing-masing.

Gambar 1. 18. Cara memasang bola lampu

c.    Rangkuman

Dengan mempelajari lembar kegiatan 1 diharapkan siswa dapat menyebutkan jenis-jenis lampu penerangan,dan cara memasang  jenis-jenis lampu pada sistem penerangan dalam kendaraan.

d.   Tugas

1.    Pelajarilah uraian materi pada lembar kegiatan 1 tentang sistem penerangan, jenis-jenis lampu sistem penerangan dan cara memasangnya.

2.    Lakukan survey ke bengkel, pelajari dan perhatikan cara pemasangan sistem penerang. Buatlah laporan survey tersebut.

e.   Test Formatif

 

1.   Sebutkan macam-macam lampu pada sistem penerangan yang terdapat pada kendaraan!

2.   Berfungsi untuk apakah lampu jarak dan lampu belakang?

3.   Apakah fungs! lampu Hazard (Hazard Warning Light)?

4.   Bagaimana cara mengganti bola lampu widge-base (socked gepeng)

f.    Kunci Jawaban Test Formatif

 

1.    ~  Penerangan luar meliputi:

a.    Lampu besar

b.   Lampu belakang

c.    Lampu rem

d.   Lampu jarak

e.    Lampu tanda belok

f.     Lampu hazard

g.   Lampu plat nomer

h.   Lampu mundur

~  Penerangan dalam meliputi:

a.    Lampu meter

b.   Lampu ruangan

2.    Untuk memberi isyarat adanya serta lebarnya dari sebuah kendaraan pada malam hari.

3.    Untuk memberi isyarat keberadaan kendaraan dari bagian depan, belakang dan kedua sisi selama berhenti atau parkir dalam keadaan darurat.

4.    Tarik bola lampu keluar dengan menggunakan jari tangan dan pada saat memasang tekan bola lampu pada lubang socket.

g.   Lembar kerja

 

1.    Alat dan Bahan

a.    Peralatan pemeliharaan system kelistrikan

b.   Peralatan tangan, kunci pas/ring atau tang

c.    Tester

d.   Teslamp

e.    Kabel

f.     Bolam / lampu

g.   Stand Kelistrikan

h.   Sekering

i.     Relay

2.    Keselamatan Kerja

a.    Hati-hati pada saat merangkai komponen

b.   Letakkan alat dan bahan praktek pada tempat yang aman

c.    Jangan menyalakan rangkaian kelistrikan sebelum disetujui oleh instruktur/pembirnbing/guru praktek

d.   Berikan ventilasi yang cukup dalam ruang praktek

e.    Ruang praktek harus bersih dan tidak berdebu dan tidak bermiyak

f.     Ruang praktek harus terang

g.   Setelah melakukan kegiatan praktik, kembalikan alat dan bahan pada tempat yang sudah disediakan

3.    Langkah Kerja

a.    Persiapkan alat dan bahan praktikum secara cermat, efektif dan seefisien mungkin.

b.   Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh guru/ instruktur.

c.    Lakukan pengamatan terhadap seluruh rangkaian listrikan pada masing-masing sistem penerangan

d.   Operasikan rangkaian lampu sesuai prosedur pengoperasian (SOP)

e.    Setelah selesai, bereskan kembali peralatan dan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula.

4.    Tugas

a.    Buatlah laporan praktikum secara ringkas dan jelas.

b.   Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan berlajar 1.

Kegiatan Belajar 2. Menguji Sistem Penerangan dan Wiring

 

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

 

Setelah mempelajari kegiatan belajar 2 ini diharapkan siswa mampu menguji pada sistem penerangan yaitu mengenai pengujian komponen-komponen  sistem penerangan dan wiring.

b.   Uraian Materi 

 

Selain pemasangan komponen-komponen sistem penerangan yang tidak kalah pentingnya itu pengujian sistem penerangan. Komponen-komponen yang perlu kita periksa pada sistem penerangan dan wiring adalah:baterai, saklar utama, sekering, lampu-lampu, relay, wiring atau pengkabelan.

1.    Baterai

Baterai dapat kita periksa dengan baterai checker, sehingga kita dapat mengetahui kondisi baterai apakah masih baik atau sudah jelek. Jika hasilnya masih baik berarti masih dapat kita gunakan sedangkan apabila kondisinya kurang baik maka perlu ditambah air accu atau perlu dicharger.

2.    Saklar utama

Dengan menggunakan avometer kita dapat mengidentifikasi dan sekaligus memeriksa kondisi saklar utama.

Apabila kerja dari saklar utama sudah benar  maka tugas selanjutnya tinggal menyambungkan dengan komponen-komponen sistem penerangan yang lain. Apabila hubungan-hubungannya tidak baik maka perlu adanya perbaikan.

3.    Fuse

Fuse berfungsi untuk menyalurkan dan membatasi arus listrik yang mengalir pada sustui rangkaian dalam suatu sistem. Untuk itu fuse perlu diuji kondisinya apakah masih dapat digunakan ataukah harus diganti. Kita dapat menguji kodisi fuse secara visual, kalau tidak dapat dengan cara visual, kita dapat menggunakan alat yaitu  avometer. Apabila kita lihat filamen pada fuse terputus berarti kondisi fuse jelek. Apabila terlihat tidak putus maka kita perlu memastikannya dengan bantuan avometer. Apabila kita hubungkan kedua ujung fuse dengan Ohmmeter jarum menunjuk berarti kondisi fuse masih baik dan apabila jarum tidak menunjuk (pada posisi hambatan terbesar) berarti kondisi fuse jelek. Maka perlu diadakan penggantian.

4.   Lampu

Pengujian lampu apabila dalam kondisi terpasang tidak menyala, maka terlebih dahulu lampu kita lepas dari dudukannya. Kemudian kita gunakan ohmmeter untuk memeriksanya. Kita hubungkan kedua colok ohmmeter dengan kedua kaki filamen lampu. Apabila jarum menunjuk berarti lampu tidak putus dan kita periksa komponen yang lain. Apabila jarum tidak menunjuk berarti lampu putus, maka harus diganti.

5.   Relay

Sistem penerangan tidak bekerja sakah satu penyebab diantaranya adalah relay rusak. Kerusakan relay ini biasa disebabkan oleh lamanya pemakaian. Untuk selang yang menggunakan 4 kaki, terminal-terminal yang ada yaitu terminal 30,85,86,87. Cara pengujian relay kita dapat menggunakan ohmmeter dan baterai. Pertama kita hubungkan kedua colok ohmmeter dengan terminal 85 dan 86. Apabila jarum menunjuk berarti kumparan penghasil medan magnet tidak putus. Untuk memastikan kerja dari relay kita bisa menggunakan baterai. Terminal 30 dan 86 kita hubungkan dengan terminal (+) baterai dan terminal 85 kita hubungkan dengan (-) baterai sementara tes lamp kita hubungkan antara (-) baterai dengan terminal 87 relay, bila tes lamp menyala berarti relay dalam keadaan baik, Bila tidak menyala berarti relay harus diganti.

6.   Wiring (Pengkabelan)

Kerusakan pada wiring ini biasanya disebabkan karena keteledoran mekanik dan usia mobil. Pemasangan pengkabelan yang tidak rapi setelah proses perbaikan mesin ataupun body sering menjadi penyebab kesalahan ataupun kerusakan wiring. Apabila pemasangan tidak rapi maka kabel-kabel akan mudah tersentuh oleh pengguna ataupun alat pada saat proses perbaikan, hal ini akan berakibat kabel putus atau hubungan singkat. Karena usia mobil juga dapat menimbulkan kerusakan pada kabel-kabelnya. Sebagai contoh mobil yang sudah tua maka pada pengkabelannya akan timbul kerak-kerak putih dan bila sering terjadi tekukan-tekukan maka kabel akan cepat putus. Untuk itu perlu diadakan pengecekan dan pengujian pada wiring jika terjadi sistem penerangan tidak bekerja dengan baik. Untuk melakukan pengujian wiring maka kita memerlukan alat bantu Avometer. Untuk mengetahui putus tidaknya suatu kabel dan untuk melihat ada tidaknya tegangan pada suatu kabel. Cara memeriksa / menguji suatu kabel yaitu dengan jalan menghubungkan kedua colok ohmmeter dengan kedua ujung kabel. Bila ada hubungan (jarum bergerak) berarti kabel putus, maka perlu kita perbaiki.

Setelah kita memahami cara pengujian atau memeriksa kerja atau tidaknya masing-masing komponen di dalam sistem penerangan. Selanjutnya kita harus bisa menguji kerja keseluruhan sistem penerangan. Cara menguji sistem penerangan pada setiap mobil yang ada tidak sama persis, tetapi pada prinsipnya sama hanya letaknya yang berbeda. Caranya yaitu dengan mengoperasikan saklar utama sistem penerangan. Pada saat saklar utama sebelah kanan kita putar sekali maka lampu kota harus hidup, dan bila kita putar dua kali maka lampu kota dan lampu kepala harus hidup. Pada saat lampu kota hidup maka lampu-lampu yang lain yang harus hidup diantaranya lampu pada meter kombinasi, lampu plat nomer, lampu kota belakang. Kalau saklar sebelah kanan kita geser ke belakang maka lampu tanda belok sebelah kanan harus menyala dan bila digeser ke depan maka lampu tanda belok sebelah kiri menyala. Apabila digeser ke atas maka lampu jarak jauh akan menyala sesaat sesuai lampunya kita geser ke atas. Apabila kita geser ke bawah, walaupun kita lepas maka lampu kepala yang menyala adalah lampu jarak jauh. Untuk menghidupkan lampu hazard biasanya disebelah depan saklar utama dilengkapi saklar untuk lampu hazard. Untuk saklar yang sebelah kiri biasanya digunakan untuk wiper dan washer. Pada saat posisi kunci kontak ON dan posisi transmisi pada kecepatan mundur maka lampu mundur akan menyala. Begitu juga pada saat pedal rem diinjak maka lampu rem akan menyala. Untuk lampu ruangan dapat menyala pada saat pintu terbuka atau memang saklarnya dihidupkan oleh penumpang ataupun sopir. Jika yang terjadi tidak seperti di atas atau lampu-lampu ad yang tidak bekerja maka kita harus cek per komponen dan kita perbaiki.

c.    Rangkuman

 

Setelah mempelajari lembar kerja belajar 2 ini diharapkan siswa mengetahui cara menguji sistem penerangan dan wiring diantaranya adalah pengujian:

1.   Baterai

Baterai dapat kita uji dengan menggunakan baterai checker, apabila baik maka dapat kita gunakan lagi, apabila jelek maka harus kita perbaiki dengan cara diisi air aki atau dicharger.

2.   Saklar utama

Dengan menggunakan avometer kita dapat menguji saklar utama, jika kondisinya masih baik maka dapat kita gunakan, namun jika kondisinya jelek dapat kita perbaiki atau diganti.

3.   Fuse

Dengan bantuan avometer kita juga bisa menguji fuse. Apabila jarum ohmmeter bergerak maka fuse baik.

4.   Lampu

Dengan menggunakan ohmmeter kita dapat memeriksa apakah lampu putus atau baik.

5.   Relay

Untuk mengecek relay kita perlu baterai dan teslamp, jika kondisi masih  baik maka bisa kita gunakan, tetapi kalau jelek harus kita ganti.

6.   Wiring (Pengkabelan)

Untuk memeriksa wiring kita bisa menggunakan ohmmeter ataupun teslamp. Dengan alat itu kita dapat mengetahui apakah kondisi pengkabelan baik atau tidak.

d.   Tugas

1.   Pelajarilah uraian materi kegiatan belajar 2

2.   Untuk rnemperdalam pengetahuan tentang pegujian sistem penerangan dan wiring, harus lebih banyak berlatih dan mempelajari sistem penerangan dan wiring pada bermacam–macam kendaraan.

e.   Tes Formatif                                                                           

1.   Jelaskan cara memeriksa lampu!

2.   Jelaskan cara memeriksa wiring!

f.    Kunci Jawaban Tes Formatif

1.    Kita hubungkan kedua colok ohmmeter dengan kedua kaki filamen lampu. Apabila jarum menunjuk berarti lampu tidak putus dan kita periksa komponen yang lain. Apabila jarum tidak menunjuk berarti lampu putus.

2.    Cara memeriksa/menguji suatu kabel yaitu dengan jalan menghubungkan kedua colok ohmmeter dengan kedua ujung kabel. Bila ada hubungan (jarum bergerak) berarti kabel putus

g.   Lembar kerja 2

a.   Alat dan Bahan

a.     Peralatan pemeliharaan system kelistrikan

b.     Peralatan tangan, kunci pas/ring atau tang

c.     Tester

d.     Teslamp

e.     Kabel

f.     Bolam/lampu

g.     Stand Kelistrikan

h.     Sekering

i.     Relay

b.   Keselamatan Kerja

a.     Hati-hati pada saat merangkai komponen

b.     Letakkan alat dan bahan praktek pada tempat yang aman

c.     Jangan menyalakan rangkaian kelistrikan sebelum disetujui oleh instruktur/pembirnbing/guru praktek

d.     Berikan ventilasi yang cukup dalam ruang praktek

e.     Ruang praktek harus bersih dan tidak berdebu dan tidak berminyak

f.      Ruang praktek harus terang

g.     Setelah melakukan kegiatan praktek, kembalikan alat dan bahan pada tempat yang sudah disediakan

c.    Langkah Kerja

a.     Persiapkan alat dan bahan praktikum secara cermat, efektif dan seefisien mungkin.

b.     Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh guru/ instruktur.

c.     Lakukan pengamatan terhadap seluruh rangkaian listrikan pada masing-masing sistem penerangan

d.     Operasikan rangkaian lampu sesuai prosedur pengoperasian (SOP)

e.     Setelah selesai, bereskan kembali peralatan dan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula.

d.  Tugas

a.     Buatlah laporan praktikum secara ringkas dan jelas.

b.     Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan berlajar 2.

Kegiatan Belajar 3. Memperbaiki Sistem Penerangan dan Wiring

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

 

Diharapkan siswa mempunyai ketrampilan dalam melakukan  perbaikan sistem penerangan dan wiring setiap gangguan-gangguan yang ada dalam kendaraan.

b.   Uraian Materi

 

Dalam melakukan perbaikan sistem penerangan dan wiring harus mengetahui sirkuit/diagram atau jaringan-jaringan kabel kelistrikannya, sehingga untuk melakukan perbaikan adanya gangguan-gangguan pada sistem penerangan dengan mudah dapat ditelusuri.

Adapun gangguan-gangguan pada sistem penerangan biasanya dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:

1.   Lampu tidak menyala

2.   Lampu menyala tidak terang

3.   Lampu menyala terang apabila mesin berputar cepat, dan tidak terang waktu mesin berputar lambat.

Gangguan-gangguan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal. Adapun bagaimana cara menguji dan mencari gangguan tersebut akan dijelaskan dalam uraian ini.

1.   Lampu Tidak menyala

Peristiwa ini dapat terjadi pada sernua lampu atau sebagian saja. Tidak menyalanya lampu dapat disebabkan oleh:

Ø  Putusnya filamen dari lampu tersebut

Ø  Tidak adanya aliran arus

a.     Semua lampu tidak menyala

Apabila semua lampu tidak menyala, maka kemungkinan besar yang dapat terjadi adalah tidak adanya aliran arus pada sakelar lampu (gambar 3.1). Untuk itu, maka lakukanlah hal-hal sebagai berikut:

1)   Periksalah sekering yang menghubungkan saklar lampu dengan baterai

a)    Apabila sekering putus, maka gantilah sekering. Hidupkan lampu-tampu. Kalau sekarang lampu menyala, berarti gangguan disebabkan oleh sakering yang putus

b)    Apabila sekering tidak putus, maka periksalah terminal sekering yang menuju ke lampu tester (gambar 3.2) kalau lampu tester tidak menyala berarti hubungan sekering ke bated lewat ammeter putus. Untuk itu, periksalah sambungannya dari kemungkinan kendor atau terlepas. Kemudlan keraskan dan betulkan.

Gambar 3.1 Instalasi penerangan pada mobil

Keterangan Gambar:

1. Lampu kepala      8. Lampu indikator jarah jauh

2. Lampu parkir       9. Ammeter

3. Regulator            10. Lampu dashboard

4. Baterai               11. Sakelar fampu

5. Kotak sekering    12. Lampu belakang den lampu parkir

6. Motor starter      13. Lampu plat nomer

7. Sakelar dim

c)     Apabila temyata pada terminal sekering ke baterai ada aliran listrik, maka selanjutnya periksa terminal sekering yang menuju ke sakelar lampu dengan menggunakan lampu tester. Apabila ternyata pada terminal tersebut tidak ada aliran, berarti kedudukan sekering kendor atau jepitannya berkarat. Untuk ini keraskan duduknya sekering dan bersihkan kotoran atau karat yang ada, hingga terminal dapat mengeluarkan arus listrik. Sekarang hidupkan lampu, apabila lampu menyala, berarti gangguan disebabkan oleh duduknya sekering tadi.

Gambar 3.2  Teslamp ( lampu tester )

2)   Periksalah terminal B pada sakelar lampu dengan menggunakan lampu tester

a)    Kalau lampu tester tidak menyala, berarti ada kebocoran atau hubungan putus di antara kotak sekering dengan sakelar lampu. Periksa hubungannya dari kemungkinan kendor berkarat, hubungan terbuka dan hubungan singkat. Jika demikian, maka perbaiki terlebih dahulu.

b)    Kalau lampu tester menyala, berarti pada terminal tersebut terdapat aliran arus. Selanjutnya hidupkan lampu. Bila lampu-lampu tetap tidak menyala, maka perbaiki atau ganti sakelar lampu.

b.     Lampu Besar Tidak Menyala

Kalau semua lampu besar tidak menyala, berarti tidak ada aliran arus pada sakelar dim. Untuk menentukan di manakah letak gangguan, maka lakukanlah pemeriksaan sebagai berikut:

1)   Hidupkan lampu parkir

a)    Kalau lampu parkir tidak menyala, berati gangguan terletak di antara baterai dengan sakelar lampu.

b)    Kalau lampu parkir menyala, berarti gangguan terletak di antara sakelar lampu dan sakelar lampu dan sakelar dim. Maka lanjutkan pemeriksaan.

2)   Periksa terminal L pada sakelar lampu yang menghubungkan sakelar dalam dengan sakelar lampu

Sakelar harus dalam posisi hidup dan hubungkan terminal tersebut dengan masa melalui lampu tester.

a)    Apabila lampu tester ticak menyala, berarti tidak ada aliran listrik. Maka bongkar dan perbaiki sakelar lampu atau ganti dengan sakelar baru.

b)    Apabila lampu tester menyala, maka lanjutkan dengan pemeriksaan sakelar dim.

3)   Periksa terminal L yang  masuk sakelar dim dengan menggunakan lampu tester

a)    Kalau lampu tester tidak menyala, berarti ada hubungan terbuka atau hubungan singkat di antara sakelar lampu dan sakelar dim. Periksa hubungannya dan kemungkinan putus, kendor, berkarat atau hubungan singkat. Jika demikian,  maka lakukanlah perbaikan.

b)    Kalau lampu tester menyala, berarti ada arus masuk. Selanjutnya periksa terminal ke lampu-lampu dengan menggunakan lampu tester. Apabila pada terminal tersebut tidak keluar arus, berarti sakelar dim rusak. Selanjutnya bongkar dan perbaiki atau ganti dengan yang baru. Apabila dari terminal keluar arus, maka periksa dan perbaiki hubungan antara sakelar dim dan lampu, hingga lampu menyala.

c.     Sebuah Lampu Tidak Menyala

Kalau sebuah lampu tidak menyala, maka kemungkinannya adalah putusnya hubungan antara lampu dengan sakelar dim. Untuk ini lakukan pemeriksaan sebagal berikut:

1)   Periksa bola lampu

a)    Kalau bola lampu putus, maka ganti dengan lampu yang baru.

b)    Kalau bola lampu tidak putus, maka periksa hubungan masa pada dudukan lampu dari kemungkinan longgar dan berkarat. Jika demikian, maka perbaiki terlebih dahulu, hingga hubungan masa lampu baik. Kalau sekarang lampu menyala, berarti gangguan terletak pada masa lampu tadi. Kalau lampu masih belum menyala, maka lanjutkan dengan pemeriksaan.

2)   Periksa hubungan antara lampu

Periksa hubungan antara lampu dengan sakelar dim, dari kemungkinan putus, sambungan kendor atau hubungan singkat. Jika demikian, maka perbaiki sambungan atau ganti kabel hingga lampu menyala.

Gb. 3.3.  (a) Rangkaian sistem lampu besar dengan relay

(b) Rangkaian sistem lampu besar tanpa relay

2.    Lampu Menyala Tidak Terang

a.    Semua Lampu Menyala Tidak Terang

Kalau semua lampu menyala tidak terang, berarti arus yang mengalir kelampu-lampu adalah kecil. Maka lakukanlah pemeriksaan sebagai berikut:

1)    Periksa lampu tanda pengisian atau jarum ammeter pada dashbord

a)   Kalau lampu tanda pengisian atau ammeter menunjukkan tidak ada pengisian (discharge), berarti tidak terangnya nyala lampu disebabkan oleh pemakaian arus yang tidak seimbang terhadap kapasitas sumber arus. Untuk ini, maka kurangi pemakaian alat-alat listrik atau percepat putaran mesin.

Apabila dengan mengurangi pemakaian alat atau penambahan putaran mesin, masih belum ada pengisian, maka perbaiki sistem pengisian terlebih dahulu, hingga terjadi pengisian.

b)   Kalau lampu tanda pengisian atau jarum ammeter menunjukkan adanya pengisian, maka gangguan terdapat pada sistem penerangan. Untuk ini, maka lanjutkan pemeriksaan pada sistem penerangan.

2)    Lepaskan semua bola lampu, memeriksa duduknya bola lampu dari kemungkinan kendor dan berkarat.

Jika ternyata demikian, maka perbaiki dudukannya bola lampu hingga baik hubungan masanya.

3)    Periksa dari kemungkinan terjadi hubungan singkat sebagai berikut:

a)   Setelah semua bola lampu terlepas, tempatnya sakelar lampu pada OFF. Periksa hubungan kabel lampu dengan masa dengan menggunakan ohmmeter atau multitester. Apabila jarum tester bergerak ke kanan, berarti terdapat hubungan pendek dan bila jarum tester, tidak bergerak, berarti tidak terdapat hubungan singkat.

b)   Apabila semua lampu menyala tidak terang, maka hubungan singkat terjadi antara sekering dengan ammeter.

c)   Apabila tidak terdapat hubungan pendek, maka periksa sambungan-sambungan. Bersihkan dan keraskan sambungan yang kotor dan longgar.

d)   Periksa pula sakelar lampu dan sakelar dim dari aus dan kotor. Perbaiki dan bersihkan kausan dan kotoran karena dapat menjadi hambatan yang besar.

b.    Salah satu lampu menyala tidak terang

Apabila terjadi keadaan seperti ini, maka lakukanlah pemeriksaan sebagai berikut:

1)   Periksa duduknya bola lampu dari kemungkinan kendor dan berkarat

Bila demikian, kokohkan duduknya bola lampu dan bersihkan karatnya. Apabila sekarang lampu menyala terang, berarti gangguan pada dudukan bola lampu tadi.

2)   Apabila dengan demikian nyala lampu masih tidak terang, maka periksalah hubungan kabel lampu tersebut yang menuju ke sakelarnya.

Keraskan hubungan yang longgar, bersihkan karat dan kotoran yang menempel pada sambungan. Bila dengan demikian lampu masih menyala tidak terang, maka periksalah kabel dan kemungkinan hampir putus. Gantilah kabel yang hampir putus, supaya lampu menyala terang kembali.

3.    Lampu menyala terang apabila mesin berputar cepat dan tidak terang apablia mesin berputar lambat

Pada peristiwa ini, besarnya aliran listirik pada lampu-lampu tergantung putaran mesin. Makin cepat putaran, makin besar arus yang mengalir ke alat-alat, dan sebaliknya. Jadi tidak stabil, berarti alat penyetabil arus yaitu baterai tidak bekerja. Baterai tidak dapat menampung kelebihan arus dari sistem pengisian dan tidak dapat menambah kekurangan arus ke alat-alat, sewaktu sistem pengisian menghasiikan arus kecil.

Untuk itu, maka periksa elektrolit dalam baterai. Kalau elektrolitnya habis, maka tambah accu. Kalau Jumlah elektrolit cukup, tetapi nyala lampu tidak terang, menandakan baterai tidak dapat menyimpan arus lagi. Pada sel-seinya sudah terjadi hubungan singkat. Oleh karenanya ganti baterai.

4.    Lampu-lampu lekas putus

Apabila terjadi umur lampu yang pendek, rnenandakan bahwa kekuatan lampu berada jauh di bawah kekuatan sumber arus. Jadi tegangan arus terlalu tinggi. Untuk ini, maka periksa regulator tegangannya, dan setelah hingga tegangan listrik pengeluaran dinamo/alternartor tidak lebih dari 14,8 volt. Kalau dengan menyetel regulator tegangan, tidak diperoleh penurunan tegangan, maka periksa dinamo/alternator.

Menguji dan memperbaiki lampu tanda belok (lampu sein)

Sistem lampu tanda belok, mempunyai komponen-komponen yang tersusun seperti pada, gambar berikut:

Gambar 3.4 Rangkaian sistem lampu tanda belok

1. Baterai                  6. Sakelar lampu tanda belok

2. Kunci kontak          7. Lampu tanda belok kanan depan

3. Kotak sekering       8. Lampu tanda belok kirl depan

4. Flaser                    9. Lampu tanda belok kanan belakang

5. Lampu indikator     10. Lampu tanda belok kiri belakang

Dalam kerjanya sistem ini dapat mengalami berbagai gangguan yang disebabkan oleh beberapa hal yaitu:

1.   Adanya kerusakan pada bagian-bagian sistem pada rangkaian tersebut, misalnya sekering putus, flaser rusak, saklar/switch rusak atau bola lampunya putus dan sebagainya.

2.   Adanya tahanan yang terialu tinggi, hal ini bisa terjadi pada jaringan kabel, sambungan berkarat atau connectornya juga mungkin berkarat dan longgar.

3.   Tegangan, listrik yang terlalu rendah.

Hal-hal tersebut dapat langsung kita saksikan dengan panca indera kita seperti:

a.    Lampu tidak menyala

b.   Lampu tidak berkedip.

Untuk mengatasi gangguan tersebut dengan cara yang mudah, perlu kita tinjau gangguan tersebut satu persatu terlebih dahulu dan juga harus mengetahui sirkuit atau diagram dari lampu tanda belok (lampu sein) itu sendiri. Sirkuit / diagram dari lampu tanda belok dapat dlihat pada gambar berikut:

Gambar 3.5 Rangkaian diagram lampu belok

1.   Gangguan pada bagian-bagian sistem lampu belok

a.    Menguji kunci kontak

Dalarn hal ini kunci kontak berfungsi sebagai penghubung antara batere dengan sekering untuk komponen pada rangkaian kelistrikan. Gangguan yang terjadi adalah kunci kontak tidak dapat menghubungkan arus dengan baik. Dari hal tersebut dapat menyebabkan:

1)    Adanya sambungan yang longgar antara kabel penyalur dengan terminal kunci kontak.

2)    Adanya kerusakan pada kunci kontak itu sendiri, misainya telah mengalami keausan yang banyak.

Sambungan yang kendor dapat langsung kita periksa dengan mudah menggunakan tangan. Kalau ternyata kendor maka perbaikan yang harus diiakukan yaitu dengan mengeraskan sekrup-sekrupnya.

Untuk kerusakan pada kunci itu sendiri tidak dapat diperiksa dengan panca indra namun harus menggunakan sebuah multitester atau Ohmeter. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur besarnya tahanan antara terminal B (AM) dengan, terminal St kunci kontak dalam keadaan starter den netral. Dalarn keadaan starter, tahanannya harus nol. Dan dalam keadaan netral, tahanan kedua terminal haruslah tak terhingga.

Gangguan-gangguan yang terjadi dalam kunci kontak maupun pada kunci sambungan selain kendor sebagian besar disebabkan oleh adanya karatan. Dengan membersihkan karat gangguan akan teratasi.

Gb. 3.6. (a) Mengukur tahanan kunci kontak sewaktu kunci     kontak dalam keadaan netral

(b) Mengukur tahanan kunci kontak sewaktu kunci kontak dalam keadaan starter.

b.   Gangguan Pada Sekering

Hal-hal pada sekering yang dapat merupakan gangguan ialah sekering putus, dudukannya sekering kurang kuat dan dudukan yang berkarat. Keadaan ini dapat mengakibatkan hal-hal sebagai berikut:

1)    Tidak mengalirkan arus listrik dari baterai ke alat-alat bantu listrik.

2)    Tegangan listrik yang bekerja pada alat-alat bantu menjadi terlalu rendah.

Apabila terjadi hal yang demikian, berarti alat-alat bantu tidak dapat bekerja dengan sempurna. Untuk itu, maka sekering yang putus harus segera diganti, dudukan yang longgar dan berkarat harus segora di kokohkan dan dibersihkan.

c.    Gangguan pada flaser

Kalau kita khat konstruksinya, maka flaser ada tiga macam yaitu:

  • Flaser Induksi
  • flaser bimetal
  • Flaser kawat pijar

Gambar 3.7 Tiga macam flaser

1)   Flaser Induksi

Ketiga jenis flaser tersebut, sama-sama mempunyai kontak platina. Pada jenis a dan b lampu indikator dihubungkan dengan sakelar tanda belok. Tetapi pada jenis c lampu indikator dihubungkan dengan flaser.

Kerusakan yang biasa terjadi ialah kumparan K atau K1 dan K2 terbakar maka medan magnet yang terjadi adalah kecil, sehingga tidak kuat untuk menarik kontak platina membuka. Akibatnya lampu tanda belok menyala terang tanpa berkedip. Apabila kumparan K2 terbakar, maka sewaktu kontak platina membuka, pada kumparan K2 tidak terjadi medan magnet yang berlawanan dengan medan K1, sehingga kontak platina agak lambat untuk membuka kembali. Akibatnya lampu berkedip pelan-pelan. Apabila kontak platina kotor, maka arus yang mengalir melalui kumparan K1 ke lampu-lampu menjadi kecil. Medan magnet yang kecil, membuka dan menutupnya kontak platina lambat, nyala lampu tidak terang, lampu berkedip pelan-pelan.

Pada flaser kawat pijar, bila kumparan K terbakar, maka tidak dapat timbul medan magnet lagi, sehingga kontak platina tidak menutup. Akibatnya lampu menyala tidak berkedip. Bila resistor R atau kawat pijar KP putus, maka flaser tidak dapat mengalirkan arus lagi. Lampu tanda belok tidak bekerja.

d.   Gangguan pada sakelar tanda belok

Kadang-kadang lampu tanda belok tidak dapat bekerja karena kerusakan pada sakelarnya. Hal ini dapat terjadi karena plat-plat kontak di dalam sakelar sudah aus, sehingga tidak dapat menempel dengan baik dan tidak dapat menghantarkan arus. Atau kadang-kadang disebabkan oleh karat/kotoran yang menempel pada plat kontak. Untuk kedua hai tersebut di atas, maka sakelar harus diganti atau dibersihkan.

e.    Gangguan pada lampu

Hal-hal pada lampu tanda belok yang dapat merupakan gangguan ialah:

  • Putusnya filamen lampu
  • Hubungan masa yang kurang bak

Apabila filamen lampu putus, maka    lampu itu sendiri tidak menyala, juga menyebabkan pasangan lampu yang searah tidak berkedip, karena arus yang mengalir pada flaser menjadi kecil.

Sedang hubungan masa yang kurang baik, akan menyebabkan kecilnya aliran arus, sehingga lampu menyala tidak terang dan tidak berkedip, adanya  hubungan masa yang tidak baik, dapat disebabkan oleh adanya karat atau duduknya lampu yang kurang kuat.

2.   Gangguan Arus

Apabila tegangan listrik yang  bekerja pada sstem lampu tanda belok rendah. Akibatnya lampu tidak, dapat bekerja dengan baik. Arus yang mengalir rendah pula. Lampu-lampu, menyala tidak terang dan tidak berkedip. Rendahnya tegangan ini disebabkan oleh dua faktor yaitu:

§  Sistem pengisian tidak bekerja.

§  Adanya tahanan yang besar pada sistem.

Selanjutnya tegangan, yang besar dapat disebabkan oleh tiga faktor yaitu:

  • Sambungan yang berkarat atau kotor.
  • Sambungan yang kurang sempurna.
  • Kabel hampir putus.

Apabila pada sambungan-sambungan, terdapat hal yang demikian, maka harus segera diperbaiki karena dapat menimbulkan kerugian tegangan yang besar, sehingga tegangan yang bekerja pada sistem lampu tanda belok menjadi kecil.

3.   Cara Menentukan Gangguan.

a.    Semua lampu tidak menyala

Kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan semua lampu tidak menyala ialah:

  • Kunci kontak rusak
  • Sekering putus atau kendor
  • Flaser rusak

Untuk ini, maka lakukanlah pemeriksaan sebagai berikut:

1)    Periksa sekering dari kemungkinan putus, duduk nya kendor dan berkarat.

a)   Apabila sekering putus, maka ganti sekering. Kemudian hidupkan lampu tanda belok. Bila lampu menyala berkedip, berarti kerusakan disebabkan oleh sekering. Apabila lampu tidak menyala, maka periksa terminal arus masuk, dan keluar sekering dari ada tidaknya aliran arus.

b)   Kalau pada terminal arus masuk sekering, tidak ada aliran listrik, berarti gangguan ada pada kunci kontak. Untuk ini, periksa sambungan kabel-kabel pada terminal AM dan ACC dari kemungkinan terlepas, kendor atau berkarat dan jika demikian maka perbaikilah. Kemudian periksa hubungan terminal AM-ACC kunci kontak dengan menggunakan lampu tester atau multitester. Dalam keadaan ON kedua terminal harus berhubungan dan dalam keadaan OFF harus tidak berhubungan. Kalau ternyata kunci kontak rusak, maka gantilah dengan kunci kontak yang baik. Kemudian hidupkan lampu-lampu tanda belok. Bila lampu-lampu menyala, berarti gangguan ada pada kunci kontak.

c)    Apabila pada terminal keluar sekering terdapat tegangan, tetapi lampu tidak menyala, berarti gangguan terletak pada flaser. Selanjutnya periksa sambungan-sambundan pada terminal flaser, dari kemungkinan lepas, kendor dan berkarat. Perbaiki jika ternyata demikian. Hidupkan lampu-lampu. Bila sekarang lampu-lampu menyala, berartl gangguan disebabkan oleh sambungan yang tidak baik. Bila lampu tetap tidak menyala, maka periksa hubungan terminal B dan L dari flaser dengan menggunakan multitester atau lampu tester. Bila lampu tester menyala, berarti ganguan terletak pada sakelar tanda belok. Bila lampu tester tidak menyala berarti gangguan pada flaser. Unituk ini gantilah fiaser.

2)    Periksa sambungan-sambungan pada terminal sakelar dari kemungkinan lepas, kendor dan berkarat.

Bila temyata demikian, perbaikilah. Bila setelah diperbaiki lampu menyala, berarti gangguan terletak pada sambungan. Tetapi bila sambungan baik dan lampu tetap tidak menyala, berarti sakelar rusak. Untuk ini, maka perbaiki atau ganti sakelar.

b.    Lampu sebelah tidak menyala

Apabila semua lampu sebelah tidak  menyala, maka kemungkinan besar gangguan terletak pada sakelar. Untulk ini, maka perbaiki atau.ganti sakelar.

c.    Sebuah lampu tidak menyala

Kejadian ini biasanya disebabkan oleh gangguan di dalarn lampu itu sendiri. Untuk ini, maka periksa bola lampu dari kemungkinan putus dan hubungan masanya yang tidak baik. Untuk ini, gantilah bola lampu yang putus dan perbaiki hubungan masa yang kurang baik, sehingga lampu menyala dan berkedip kembali dengan baik.

d.    Semua lampu menyala tidak berkedip

Kejadian ini dapat disebabkan oleh dua hal yaitu:

      • Tegangan masuk flaser rendah
      • Kerusakan di dalam flaser

Tegangen masuk flaser yang rendah dapat disebabkan oleh sambungan kendor dan berkarat, serta kunci kontak yang kurang baik. Untuk ini, maka perbaiki sambungan pada terminal AM dan ACC pada kunci kontak serta terminal B den L pada flaser. Bila sambungan-sambungan ternyata baik dan lampu-lampu masih tidak berkedip, maka untuk menyakinkan penyebab gangguannya, hubungan terminal B flaser langsung dengan baterai yang isi penuh. Hidupkan lampu-lampu. Bila lampu tanda belok menyala dan berkedip, berarti kerusakan ada pada kunci kontak. Bila lampu tanda belok tetap menyala tidak berkedip, berarti ganggguan di dalam flaser.

e.    Lampu sebelah menyala tidak berkedip

Apabila lampu sebelah menyala tidak berkedip, sedang lampu sebelah yang lain menyala dengan berkedip baik, maka gangguan dapat dipastikan ada pada sakelar tanda belok atau pada lampu-lampu itu sendiri.

Untuk ini, maka pertarna periksalah hubungan masa dari lampu-lampu terhadap kemungkinan kendor atau berkarat. Keraskan duduknya masa. Bila lampu-lampu sekarang menyala dan berkedip, berarti gangguan disebabkan oleh hubungan mesa yang kurang balk. Bila lampu-1ampu tidak berkedip, maka periksa kapasitas (watt) dari lampu-lampu tersebut, ada kemungkinan lebih kecil dari kapasitas yang telah ditentukan oleh flasernya. Gantilah bola lampu yang ternyata kapasitasnya lebih kecil dengan bola lampu yang sesuai besar kapasitasnya.

Bila hal-hal tersebut, di atas ternyata baik, lampu-lampu tetap tidak berkedip, maka gangguan ada  pada sakelar. Untuk memastikan rusak atau tidaknya sakelar, maka hubungkan langsung kabel masuk sakelar dengan kabel yang menuju ke lampu-lampu yang tidak berkedip. Bila sekarang lampu-lampu berkedip, berarti sakelar rusak. Untuk ini gantilah sakelar.

Gambar 3.8 Skema lampu flaser

Berikut tabel perbaikan untuk, mengatasi gangguan pada sistem penerangan dalam kendaraan

GANGGUAN

KEMUNGKINAN SEBAB

CARA MENGATASI

Hanya satu lampu tidak menyala (lampu luar) Bola lampu putus, soket rangkaian kabel atau masa rusak Ganti bola lampu Perbaiki seperlunya
Lampu besar tidak me-nyala Sekreing ”HEAW” putus

Relay kontrol lampu besar, rusak,

Swit kontrol lampu besar,rusak

Rangkaian kabel atau masa, rusak

Ganti sekring dan periksa

Hubungan singkat Periksa relay

Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Lampu besar jauh atau kilatan lampu besar tidak menyala Swit kontrol lampu rusak Rangkaian kabel, rusak Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Lampu belakang lampu parkir dan lampu plat nomor tidak menyala Sekering “TAIL”putus Relay kontrol lampu kecil rusak

Swit kontrol lampu, rusak

Rangkaian kabel atau masa, rusak

Ganti sekering dan periksa hubungan singkat

Periksa relay

Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Lampu rem tidak menyala Sekering “STOP” putus Swit lampu rem, rusak. Rangkaian kabel atau masa, rusak Ganti sekring dan periksa

hubungan singkat

Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Lampu rem tetap rnenyala Swit lampu rem, rusak Setel atau ganti swit
Lampu instrumen tidak menyala (lampu belakang menyala) Rangkaian kabel atau masa rusak Perbaiki seperlunya
Salah satu arah (lampu tanda belok tidak berkedip) Swit lampu tanda belok, rusak

Rangkaian kabel atau masa, putus

Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Lampu tanda belok tidak bekerja Sekering “ENGINE” putus

Flasher, rusak

Swit lampu tanda belok, rusak

Rangkaian kabel atau masa, rusak

Ganti sekring dan periksa

hubungan singkat

Periksa flasher

Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Lampu peringatan darurat tidak bekerja Sekering “Hazard” putus

Swit lampu peringatan darurat rusak, Flasher, rusak

Rangkalan kabel atau masa, rusak

Ganti sekering dan periksa

hubungan singkat

Periksa flasher

Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Tabel 3.1 Gangguan dan perbaikan pada sistem penerangan

c.    Rangkuman

Pada dasarnya dalam perbaikan suatu komponen pada sistem penerangan diperlukan pengetahuan tentang jaringan. kabel (sirkuit.) diagram dari rangkaian dan juga sirkuit diagram komponen itu sendiri, sehingga dengan model kompetensi ini diharapkan mampu melakukan perbaikan dengan melakukan pemeriksaan dan pengujian dari masing-masing kamponennya. Maka dengan dasar tersebut mampu melakukan perbaikan sistem penerangan dan wiring itu sendiri.

d.   Tugas

1.    Analisa dan telusuri jaringan kabel pada mobil/kendaraan yang ada dalann ruangan praktikum (stand penerangan)

2.    Buatlah dalam bentuk gambar diagram pada kertas A4 setelah mengetahui hasil pengamatan jaringan kabel dari (stand penerangan)

e.   Test Formatif

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan tepat!

1.    Sebutkan 3 gangguan pada sistem penerangan yang  biasanya sering terjadi!

2.    Sebutkan 2 cara pengujian apabila semua lampu tidak menyala!

3.    Bagaimana cara memeriksa apabila sebuah lampu besar tidak menyala?

4.    Apakah yang menyebabkan lampu hanya menyala terang apabila mesin berputar dengan cepat dan lampu tidak menyala terang apabila mesin berputar lambat?

5.    Jelaskan apa saja yang menyebabkan lampu tanda  belok mengalami gangguan!

f.    Kunci Jawaban Test Formatif

1.   3 gangguan pada sistem penerangan yang biasanya terjadi:

a.     Hanya satu lampu tidak menyala (lampu luar)

b.     Lampu besar tidak menyala

c.     Lampu rem tidak menyala

2.   2 cara pengujian apabila semua lampu tidak menyala:

a.     Periksa sekering dari kemungkinan putus, duduk nya kendor dan berkarat.

b.     Periksa sambungan-sambungan pada terminal sakelar darl kemungkinan lepas, kendor dan berkarat.

3.   Cara memeriksa sebuah lampu besar apabila tidak menyala:

a.     Ganti sekring dan periksa

b.     Hubungan singkat Periksa relay

c.     Periksa swit

d.     Perbaiki seperlunya

4.   Aki sudah swak (tekor)

5.   Sekering putus, hubungan singkat, flaser rusak, switch rusak

g.   Lembar Kerja

1)  Alat dan Bahan

a.     Peralatan pemeliharaan system kelistrikan

b.     Peralatan tangan, kunci pas/ring atau tang

c.     Tester

d.     Teslamp

e.     Kabel

f.     Bolam/lampu

g.     Stand Kelistrikan

h.     Sekering

i.     Relay

2)   Keselamatan Kerja

a.     Hati-hati pada saat merangkai komponen

b.     Letakkan alat dan bahan praktik pada tempat yang aman

c.      Jangan menyalakan rangkaian kelistrikkan sebelum disetujui oleh instruktur/pembimbing/guru praktik

d.     Berikan ventilasi yang cukup dalam ruang praktik

e.     Ruang praktik harus bersih, tidak berdebu dan tidak berminyak

f.      Ruang praktik harus terang

g.     Setelah melakukan kegiatan praktik, kembalikan alat dan bahan pada tempat yang sudah disediakan

3)   Langkah Kerja

a.     Persiapkan alat dan bahan praktikum secara cermat, efektif dan efisien

b.     Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh gur/instruktur

c.     Lakukan pengamatan terhadap seluruh rangkaian listrik pada masing-masing sistem penerangan

d.     Operasikan rangkaian lampu Sesuai Prosedur Pengoperasian (SOP)

e.     Setelah selesai, bereskan kembali peralatan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula

4)   Tugas

a.    Buatlah laporan praktikum secara singkat dan jelas

b.    Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang Anda peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan belajar 3

 

BAB. III

EVALUASI

A. PERTANYAAN

1. Sebutkan macam-macam lampu pada sistem penerangan yang terdapat pada kendaraan!

2. Berfungsi untuk apakah lampu jarak dan lampu belakang?

3. Apakah fungs! lampu Hazard (Hazard Warning Light)?

4. Bagaimana cara mengganti bola lampu widge-base (socked gepeng)

5. Jelaskan cara memeriksa lampu!

6. Jelaskan cara memeriksa wiring!

7. Sebutkan 3 gangguan pada sistem penerangan yang  biasanya sering terjadi!

8. Sebutkan 2 cara pengujian apabila semua lampu tidak menyala!

9. Bagaimana cara memeriksa apabila sebuah lampu besar tidak menyala?

10. Apakah yang menyebabkan lampu hanya menyala terang apabila mesin berputar dengan cepat dan lampu tidak menyala terang apabila mesin berputar lambat?

B. KUNCI JAWABAN

1. – Penerangan luar meliputi:

a) Lampu besar

b) Lampu belakang

c ) Lampu rem

d) Lampu jarak

e) Lampu tanda belok

f) Lampu hazard

g) Lampu plat nomer

h) Lampu mundur

-    Penerangan dalam meliputi:

g.   Lampu meter

h.   Lampu ruangan

2. Untuk memberi isyarat adanya serta lebarnya dari sebuah kendaraan pada malam hari.

3. Untuk memberi isyarat keberadaan kendaraan dari bagian depan, belakang dan kedua sisi selama berhenti atau parkir dalam keadaan darurat.

4. Tarik bola lampu keluar dengan menggunakan jari tangan dan pada saat memasang tekan bola lampu pada lubang socket.

5. Kita hubungkan kedua colok ohmmeter dengan kedua kaki filamen lampu. Apabila jarum menunjuk berarti lampu tidak putus dan kita periksa komponen yang lain. Apabila jarum tidak menunjuk berarti lampu putus.

6. Cara memeriksa/menguji suatu kabel yaitu dengan jalan menghubungkan kedua colok ohmmeter dengan kedua ujung kabel. Bila ada hubungan (jarum bergerak) berarti kabel putus.

7.    a. Hanya satu lampu tidak menyala (lampu luar)

b. Lampu besar tidak menyala

c. Lampu rem tidak menyala

8. a. Periksa sekering dari kemungkinan putus, duduk nya kendor dan berkarat.

b. Periksa sambungan-sambungan pada terminal sakelar darl kemungkinan lepas, kendor dan berkarat.

9.      - Ganti sekring dan periksa

- Hubungan singkat Periksa relay

- Periksa swit

- Perbaiki seperlunya

10.  Aki sudah swak ( tekor )

  1. KRITERIA KELULUSAN

 

Aspek Skor

(1-10)

Bobot Nilai Keterangan

Kognitif (soal no 1 s.d 10)

5 Syarat lulus nilai minimal 70 dengan skor setiap aspek minimal 7

Ketepatan prosedur perbaikan

2

Hasil pemeriksaan

1

Ketepatan waktu

1

Keselamatan kerja

1
Nilai Akhir

Keterangan:

Tidak             =       0 (nol)                             (tidak lulus)

Ya                 =       70 s.d. 100             (lulus)

Kategori kelulusan:

70 s.d. 79      :  memenuhi kriteria minimal dengan bimbingan

80 s.d. 89      :  memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan

90 s.d. 100    :  di atas minimal tanpa bimbingan

BAB. IV

PENUTUP

Peserta diklat yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke modul berikutnya. Sebaliknya, apabila peserta diklat dinyatakan tidak lulus, maka peserta diklat tersebut harus mengulang modul ini dan tidak diperkenankan untuk mengambil modul selanjutnya.


DAFTAR  PUSTAKA

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1979). Petunjuk Praktek Kelistrikan Dan Bahan Bakar Otomotif Jilid 1

Soemadi, Drs. Soejono B.Sc (1979). Sistem Kelistrikan dan Bahan Bakar Otomotif jilid 1 dan 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Step one

Toyota, Penerbit PT. Toyota Astra Internasional.

Yunan Ginting, (1998). Listrik Otomotif Jilid 1, Penerbit Angkasa Bandung.

Overhoul Komponen Sistem Rem

BAB. I

PENDAHULUAN

A.   DESKRIPSI

Dimasa kini kendaraan merupakan sarana transportasi yang sangat vital dibutuhkan dalam kehidupan manusia baik dikota maupun dipedesaan. Mekanisme sebuah kendaraan baik roda dua maupun roda empat dilengkapi oleh sistem rem yang berfungsi untuk mengatur lajunya kendaraan sesuai dengan yang diinginkan oleh pengemudi. Sistem rem ini bekerja melalui mekanisme gesekan antara tromol dan kanvas yang dihubungkan dengan roda yang berputar.

Modul ini membahas tentang overhoul sistem rem yang didalamnya meliputi antara lain: kontruksi  dan cara kerja sistem rem, macam-macam cairan minyak rem, overhoul sistem rem dan bagian-bagian serta peralatan yang digunakan dalam melaksanakan overhoul sistim rem tersebut.

Dalam kegiatan belajar modul ini diuraikan menjadi 2 (Dua) kegiatan belajar, yaitu:

  1. Kegiatan Belajar 1. Membahas tentang Sistem Rem. (Kontruksi dan cara kerja sistem Rem Tromol, Cakram, serta macam-macam Cairan Rem)
  2. Kegiatan Belajar 2. membahas tentang overhoul sistem rem dan bagian-bagiannya (pelaksanaan overhoul sistem rem dan peralatan yang digunakannya). Setelah mempelajari modul ini peserta diklat diharapkan dapat memahami dan melaksanakan cara Overhoul Sistem Rem dengan baik dan benar.

B.   PRASYARAT

Sebelum memasuki modul Overhoul komponen sistem ini peserta diklat/Siswa pada program keahlian mekanik otomotif harus sudah menyelesaikan modul-modul prasyarat seperti tertulis dalam diagram pencapaian kompetensi maupun peta kedudukan modul. Prasyarat mempelajari modul OPKR 40.004 B adalah antara lain OPKR 40.003B.

C.   PETUNJUK PENGGUNAN MODUL

1.   Petunjuk Bagi Siswa

Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal, dalam menggunakan modul ini maka langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:

a.    Bacalah dan pahami dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada masing-masing kegiatan belajar. Bila ada materi yang kurang jelas, peserta diklat dapat bertanya pada guru atau instruktur yang mengampu kegiatan belajar.

b.    Kerjakan setiap tugas formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan.

c.    Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikan hal-hal berikut:

1)   Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang berlaku.

2)   Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik.

3)   Sebelum melaksanakan praktikum, siapkan peralatan yang diperlukan dengan cermat.

4)   Gunakan alat sesuai prosedur pemakaian yang benar.

5)   Untuk melakukan kegitan praktikum yang belum jelas, harus meminta ijin guru atau instruktur terlebih dahulu.

6)   Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan ketempat semula.

d.    Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada guru atau instruktur yang mengampu kegiatan belajar yang bersangkutan.


2.   Petunjuk Bagi Guru

Dalam setiap kegiatan belajar guru atau instruktur berperan untuk:

a.    Membantu peserta diklat/Siswa dalam merencanakan proses belajar.

b.   Membimbing peserta diklat/Siswa melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.

c.    Membantu peserta diklat/Siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan peserta diklat/Siswa mengenai proses belajar peserta diklat.

d.   Membantu peserta diklat/Siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.

e.    Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.

f.     Merencanakan seorang ahli/pendamping guru dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan.

D.   TUJUAN AKHIR

Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini peserta diklat di harapkan:

1)   Menjelaskan sistem rem (konstruksi dan cara kerja) rem tromol, cakram.

2)   Menjelaskan macam-macam cairan rem.

3)   Melaksanakan overhoul sistem rem dan bagian-bagiannya.

4)   Menjelaskan peralatan yang digunakan dalam melaksanakan overhoul sistem rem.

E.   Kompetensi

KOMPETENSI                         : Overhoul Komponen Sistem Rem

KODE                                   : OPKR–40-004 B

DURASI PEMELAJARAN          : 40 Jam @ 45 Menit

Level Kompetensi Kunci

A

B

C

D

E

F

G

1

3

1

-

-

2

2

Kondisi Kerja 1.    Batasan konteks

-         Standar Kompetensi ini digunakan untuk kendaraan ringan

2.    Sumber informasi/dokumen dapat termasuk:

-         Spesifikasi pabrik kendaraan

-         SOP (Standar Operastion Procedur)

-         Kebutuhan Pelanggan

-         Kode area tempat area

-         Spesifikasi produk/komponen pabrik

-         Perundang–undangan pemerintah

-         Lembaga data keamanan bahan

3.    Pelaksanaan K3 harus memenuhi:

-         Undang–undang tentang K3

-         Penghargaan dibidang industri

4.    Sumber–sumber dapat termasuk:

-         Peralatan tangan/hand tools, peralatan bertenaga/hand power tools, peralatan khusus/special tools

-         Instrument pengukuran

-         Perlengkapan machining overhoul sistem rem

5.    Kegiatan

Kegiatan harus dilaksanakan dibawah kondisi kerja normal dan harus termasuk:

-         Penguji tekanan

-         Penilaian pendengaran, visual dan fungsi (meliputi: kebocoran oli keausan  dan korosi)

6.    Variabel lain dapat termasuk:

-         Pengoperasian rem dengan cairan, elektris dan mekanis, tenaga penguat, sistem ABS (Anti lock Brake System) sistem komputer

-         Sistem Rem ganda

-         Sistem kesetabilan

-         Brake pad, silinder, sepatu rem, kaliper rem, pipa/selang rem, perlengkapan penggerak mekanis rem

-         Surat izin mengemudi yang berlaku.

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELEJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

1.    Overhoul komponen sistem rem dan bagian- bagiannya Overhoul komponen/ bagian–bagian sistem rem dilaksanakan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya.

Informasi yang benar diakses dari sfesifikasi pabrik dan dipahami

Overhoul komponen sistem rem dilaksanakan dengan metode yang ditetapkan, perlengkapan dan bahan dan yang berdasarkan spesifikasi pabrik

Prosedur overhoul komponen sistem rem

Konstruksi dan cara kerja sistem rem

Macam –macam cairan rem

Data spesifikasi

Prosedur pengujian dan pengukuran komponen

Menerapkan prosedur kerja sesuai dengan SOP

Menerapkan keselamtan kerja dan lingkungan , semangat tinggi dan bekerja keras untuk mencapai hasil terbaik.

Prosedur overhoul

Prosedur pengujian dan pengukuran komponen

Tanda peringatan

Informasi teknik yang sesuai

Persyaratan keamanan perlengkapan kerja

Persyaratan keamana komponen

Persyaratan keselamatan diri

Kebijakan perusahaan/industri

Melaksanakan overhoul sistem rem dan komponen nya

Menggunakan peralatan dan perlengkapan standar

Melaksanakan pengujian dan pengukuaran komponen

Melaksanakan tes pengujian jalan.

F.    CEK KEMAMPUAN

Sebelum mempelajari modul OPKR-40-004B, isilah dengan cek list (Ö) kemampuan yang telah dimiliki peserta diklat dengan sikap jujur dan dapat dipertanggung jawabkan:

Sub Kompetensi

Pernyataan

Jawaban

Bila jawaban ‘Ya’, kerjakan

Ya

Tidak

Overhoul Komponen Sistem Rem dan bagaian–bagiannya 1.    Saya mampu menyebutkan peralatan yang digunakan pada waktu Overhoul Sistem Rem

2.    Saya mampu menjelaskan cara Overhoul Komponen Sistem Rem dan bagian–bagiannya

3.    Saya mampu menjelaskan cara Overhoul Sistem Rem Tromol dan bagian–bagiannya

4.    Saya mampu menjelaskan cara Overhoul Sistem Rem Piringan (Disc) dan bagian–bagiannya.

Soal Test Formatif 1

Soal Test Formatif 2

 

Apabila peserta diklat menjawab Tidak, maka pelajari kembali modul ini


BAB. II

PEMELAJARAN

A.   Rencana Belajar Siswa

Rencanakan setiap kegiatan belajar Anda dengan mengisi tabel dibawah ini dan mintalah buku belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

-          Pengujian komponen sistem rem

-          Overhoul komponen sistem rem

-          Overhoul rem tromol

-          Overhoul rem piringan


B.   Kegiatan Belajar

Kegiatan Belajar 1. Sistem Rem

a.   Tujuan Kegiatan Pemelajaran

1.    Peserta diklat/Siswa dapat menjelaskan konstruksi sistem rem tromol dengan benar

2.    Peserta diklat/Siswa dapat menjelaskan konstruksi sistem rem cakram dengan tepat

3.    Peserta diklat dapat menjelaskan cara kerja dari sistem rem

4.    Peserta diklat dapat menyebutkan macam–macam cairan rem/klasifikasi minyak rem

b.   Uraian Materi

1.   Sistem Rem

Rem merupakan salah satu bagian kendaraan yang sangat penting pada sebuah kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat dari perkotaan sampai pedesaaan. Rem ini dapat mengatur kecepatan ataupun menghentikan lajunya kendaraan sesuai dengan yang kita harapkan, pengaturan kecepatan ataupun diberhentikannya lajunya kendaraan ini diatur melalui suatu gesekan antara komponen rem dengan roda yang berputar.

Syarat–syarat sebuah rem adalah sebagai berikut:

1)   Dapat bekerja dengan cepat.

2)   Apabila beban pada semua roda sama, maka daya pengereman harus sama dengan atau gaya pengereman seimbang dengan beban yang di terima oleh masing-masing roda.

3)   Dapat dipercaya dan mempunyai daya tahan cukup.

4)   Mudah disetel dan diperbaiki pengemudi waktu pengereman.

Adapun jenis rem ditinjau dari:

1)   Pelayananya:

a)    Rem Tangan

b)   Rem Kaki

2)   Mekanismenya:

a)    Rem Mekanik

b)   Rem Hidrolik

c)    Rem Vacum

d)   Rem Booster

e)    Rem Udara

3)   Konstruksinya:

a)    Internal Ekspander Brake (rem pengembangan dari dalam)

b)   Eksternal Contrakting Brake

c)    Disc Brake (rem piringan)

4)   letaknya:

a)    Rem pada roda

b)   Rem pada propellershaft (poros penggerak belakang)

Cara kerja rem adalah pengubah tenaga mekanik menjadi tenaga gesekan dengan jalan menekan sepatu rem (kanvas) terhadap tromol yang berputar.Jenis rem jika ditinjau dari beberapa hal diatas ternyata begitu banyak tetapi pada kegiatan (1) di modul ini akan di jelaskan hanya sebagian saja (dalam hal ini pembahasan akan di batasi pada beberapa hal) antara lain:

§  Sistem Rem Tromol

§  Model Rem Tromol

§  Sistem Rem Cakram

§  Cairan Rem/Minyak Rem

§  SISTEM  REM TROMOL

Rem tromol adalah salah satu konstruksi rem yang cara pengereman kendaraan dengan menggunakan tromol rem  (brake drum), sepatu rem (brake shoe), dan silider roda (wheel cylinder). Pada dasarnya jenis rem tromol yang digunakan roda depan dan belakang tidak sama, hal ini dimaksudkan supaya system rem dapat berfungsi dengan baik dan sesuai dengan persyaratan. Adapun bagian–bagian utama rem tromol adalah sebagai berikut:

a)   Silinder Roda (Wheel cylinder)

Fungsi dari silinder roda adalah untuk menekan brake shoe (sepatu rem) ke brake drum (Tromol rem). Didalam silinder roda terpasang satu atau dua buah piston beserta seal tergantung dari konstruksi rem tromolnya.Bila brake pedal diinjak, tekanan minyak rem dari master silinder disalurkan kesemua wheel silinder, tekanan didalam wheel silinder menekan piston kearah luar dan selanjutnya piston menekan menekan brake shoe menggesek tromol sehingga roda berhenti. Bila brake pedal dilepas maka, brake shoe kembali keposisi semula oleh tarikan pegas, roda bebas.

b)   Sepatu Rem (Brake shoe)

Sepatu rem (brake shoe) berfungsi untuk menahan putaran brake drum melalui gesekan. Pada bagian luar brake shoe terbuat dari asbes dengan tembaga atau campuran plastik yang tahan panas.

c)   Pegas pengembali (Return Spring)

Pegas pengembali berfungsi untuk mengembalikan sepatu rem (Brake shoe) ke posisi semula pada saat tekanan silinder roda turun.

 

d)   Backing Plate

Backing  plate  berfungsi sebagai tumpuan untuk menahan putaran drum sekaligus sebagai dudukan silinder roda.

 

 

§  MODEL REM TROMOL

Rem tromol pada dasarnya terbagi dalam lima model, tiap model prinsipnya berbeda satu sama lain.

a)   Model leading trailling Shoe

Konstruksi–kontruksi sepatu primer dan sekunder dijamin oleh silinder yang mempunyai dua buah piston dan bagian bawahnya dijamin oleh pin. Pada saat tromol berputar sepatu trailling cenderung menahan putaran tromol. Pada saat sepatu leading mengerem baik sedangkan sepatu trailling cenderung menahan putaran tromol. Sepatu kiri disebut leading dan sepatu kanan disebut trailling.

Kedua leading trailing shoe menahan pengereman yang sama dimana saat tromol berputar kearah berlawanan maka leading shoe menjadi trailling shoe dan sebaliknya

b)   Model two–leading

Kontruksi model ini pada bagian atas sepatu primer dan sekunder di pasang sebuah silinder roda dengan penyetel sepatu rem menjadi leading jika berputar sebaliknya maka kedua sepatu rem menjadi trailling.

c)   Model dual two–leading

Kontruksi model ini dilengkapi dengan dua buah silinder roda yang dipasang di atas dan di bawah sepatu primer dan sekunder. Pada model ini baik maju maupun mundur kedua sepatu menjadi trailling.

d)   Model Uni Servo

Konstruksi model ini dilengkapi dengan dua buah silinder di bagian atas sepatu primer dan sekunder. Bila pedal rem ditekan maka piston bergerak mendorong sepatu rem searah putaran tromol. Akibatnya timbul gesekan dan diteruskan ke sepatu sekunder. Gerakan sepatu trailling dijaga silinder roda dan tenaga rem yang dihasilkan besar. Bila putaran tromol terbalik, maka kedua sepatu rem akan menjadi trailling dan efek pengereman jelek.

e)   Model Duo Servo

Kontruksi model ini dilengkapi sebuah silinder roda dengan dua buah piston. Tekanan dari silinder rem diseimbangkan oleh penyetel sepatu rem.

§  REM CAKRAM

Penggunaan rem cakram dewasa ini sangat banyak digunakan, pada umumnya dipasang pada roda depan dan sudah merupakan standar pada kendaran pada model baru. Konstruksi pada rem cakram hampir sama dengan rem tromol, dimana tromolnya ditiadakan dan sebagai gantinya dipasang sekeping cakram. Pada rem cakram terdapat sepatu-sepatu rem yang dilengkapi dengan pelapis sepatu rem, cara kerja rem ini secara hidrolik. Daya pengereman terjadi karena adanya gesekan antara cakram dengan pad, sehingga pengereman terjadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelebihan dari sistem rem ini adalah cakram yang merupakan pengganti tromol  rem secara langsung berhubungan dengan udara luar, sehingga pendingin  jauh lebih sempurna dan lebih efektif. Cakram yang tipis sangat mudah dan cepat meneruskan penyebaran panas yang timbul. Perawatan dan perbaikan sangat mudah. Keburukan jenis rem ini adalah  cakram dalam  keadaan terbuka dan berhubungan  langsung dengan udara luar menyebabkan mudah  sekali kena  kotoran, debu dan  Lumpur.

Adapun  komponen-komponen utama  rem cakram  adalah sebagai berikut:

a)   Cakram

Pada rem cakram komponen cakram atau piringan merupakan bagian yang secara langsung menghasilkan pegereman dengan adanya gesekan  dengan pad. Cakram atau piringan terbesar dari besi tuang yang mampu menahan panas akibat gesekan dan tahan korosi.

b)   Caliper

Bagian yang tidak bergerak dari rem pad cakram adalah caliper, dimana terdapat silinder–silinder rem berikut sepatu rem dan pirodonya. Apabila pedal rem diinjak maka silinder–silinder rem akan bekerja secara hidrolik sehingga sepatu–sepatu rem atau pad akan menjepit, manahan dan menghentikan cakram rem yang sedang berputar. Caliper terbagi dalam dua type fixed (type tetap) dan type floating caliper (type meluncur).

Ada 3 type beragam:

1.   Type Fixed caliper (type tetap)

Type caliper ini konstruksinya terpasang dua silinder yang bekerja secara hidroponik menekan pad dari dua arah.

Prinsip Kerjanya

Pada saat terjadi tekanan akibat hidropolik oil pres-sure maka piston akan mendorong

kedua pad dan pegas karet hingga pad menekan cakram. Pada saat tekanan hilang maka pegas karet akan mengembang (reaksi) dan kedudukan pad rem kembali pada keadaan semula.

2.   Type floating caliper dan cara kerjanya

Pada type ini hanya dilengkapi satu silinder yang terpasang pada slide pins yang bekerja secara hidrolik. Piston akan bergerak menekan dari sisi dalam, sedangkan caliper terpasang tetap pada knakel kemudi. Akibat tekanan ini maka pad akan terdorong dengan pegas karet. Ketika tekanan hilang maka pad akan kembali ke posisi semula.

3.   Pad rem

Pad rem dalam sistem rem cakram merupakan bagian yang secara langsung berhubungan atau bergesekan dengan cakram yang akhirnya menghasilkan pengereman. Pad terbuat dari metallic fiber dicampur serbuk tembaga yang mampu menahan panas akibat gesekan serta memiliki

kekerasan yang cukup tinggi. Untuk mengetahui Keausan maksimum suatu pad akibat gesekan maka pada pad diberi celah pembatas agar diketahui keausan pad.

Bila pedal sudah aus maka perlu diganti, hal ini untuk mengetahui pengereman kendaraan yang baik. Keausan pad menyababkan clearance antara pad dan rotor terlalu renggang sehingga saat rem bekerja melalui penekanan piston maka gesekan akan berkurang dan cakram akan kurang terjepit pad. Hal ini menyebabkan pengereman tidak berlangsung baik.

§  MINYAK REM

Diperlukan untuk menjamin kondisi kerja kendaraan dalam waktu yang lama tetapi yang utama dalam sistem rem diantaranya ialah harus dapat di percaya. Minyak rem adalah cairan yang tidak mengandung minyak bumi yang sebagian besar terdiri dari alkohol dan susunan kimia dan ester (zat yang membuat orang tidak sadar)

a)   Persyaratan Khusus Minyak Rem

 

Berikut ini persyaratan kualitas minyak rem yang diperlukan

 

1.    Titik didih yang rendah

Rem akan menjadi panas dengan adanya gesekan karena penggunaan yang berulangkali. Adakalanya minyak rem dapat menjadi uap menyebabkan fluida berbusa. Bila ini terjadi injakan yang berlaku pada pedal rem hanya menekan minyak rem yang sudah menjadi uap dan tidak ada tenaga yang bekerja pada silinder silinder roda. Kejadian ini disebut vapor load = terhalang uap untuk mencegah hal ini diperlukan titik didih yang tinggi.

2.    Mecegah karat pada logam dan karet

Kerapatan akan berkurang bila minyak rem merusak seal dan ini akan menyebabkan kebocoran, hal ini akan berlanjut dengan hilangnya tenaga hidraolis. Minyak rem dibuat dari bahan sintetis dengan maksud agar tidak merusak dan menghindari karat pada logam.

3.    Viscositas

Minyak rem harus memiliki kekentalan (viscositas) untuk  meneruskan tekanan dengan perubahan temperatur yang bervariasi.

b)   Tipe Minyak Rem

Minyak rem mempunyai 4 klasifikasi FMVSS (Federal Motor Vihicle Safety Standart). Kesemuanya ini didasarkan titik didih.

Klasifikasi dasar titik didih

Dot 3

(SAE J1703)

DOT 4

DOT 5

SAE J1702 (Extremely cold areas)

Boiling point (ERBP) 0

C (0 F)

205

(401) or greater

230

(446)or

Greater

260

(500)or

Greater

150

(302) or

Greater

Wet boiling point

0 C (0 F)

1400

(284) or

Greater

155

(311)or

Greater

180

(356) or

Greater

-


c)   Tindakan Pencegahan Penanganan Minyak Rem

1.   Jangan mencapur minyak rem

Mencapur minyak rem dengan kemampuan yang berbeda akan menurunkan titik didih minyak. Dan juga reaksi kimia suatu  saat akan terjadi, menyebabkan komposisinya berubah atau memburuknya minyak rem.

2.   Jangan tercemar oleh air

Bila minyak rem tercemar dengan air atau minyak lain yang tidak sejenis maka akan menurunkan titik didih dan memburuknya minyak rem.

3.   Jangan tercemar dengan oli atau pembersih oli

Mineral oli dan pembersih oli mempengaruhi komponen karet. Saat anda membongkar komponen rem, hati–hati membuka oli mesin atau pembersih oli pada tempatnya.

4.   Simpanlah minyak rem ditempat yang sesuai

Untuk mencegah minyak rem dari penyerapan air, ia harus ditempatkan dikaleng yang tertutup rapat selama penyimpanan. Hal ini juga mencagah tercemar dari debu dan kotoran.

c.    Rangkuman

SISTEM REM

1.    fungsi rem: mengurangi kecepatan kendaraan atau menghentikan kendaraan melalui suatu mekanisme gesekan antara komponen rem dengan roda yang berputar.

2.    Jenis rem ditinjau dari:

a.     Pelayanannya

b.     Mekanismenya

c.     Konstruksinya

d.     Letaknya

3.    Cara kerja rem: mengubah tenaga mekanik menjadi tenaga gesekan dengan jalan menekan sepatu rem (kanvas) terhadap tromol yang berputar.

4.    Rem Tromol: adalah salah satu konstruksi rem yang cara pengereman                      kendaraan dengan menggunakan tromol rem (Break Drum), sepatu rem (Break Shoe) dan silinder roda (Wheel silinder).

5.    Bagian–bagian utama rem Tromol:

a.    Silinder roda (Wheel silinder)

b.    Sepatu rem (Break Shoe)

c.    Pegas pengembali (Return Spring)

d.    Break Plate

6.    Model dari rem tromol:

a.    Model Leading Trailling

b.    Model Two Leading

c.    Model Dual Two Leading

d.    Model Uni Servo

e.    Model Duo Servo

7.    Rem cakram adalah salah satu konstruksi rem yang cara pengereman kendaraan terjadi karena ada gesekan antara cakram dengan pad.

8.    Bagian–bagian utama rem cakram:

a.    Cakram

b.    Caliper

c.    Pad Rem

9.    Type Caliper:

a.    Type Fixed Caliper (type berayun)

b.    Type Floating Calliper (type meluncur)

10. Minyak rem: adalah cairan yang tidak mengandung minyak bumi yang sebagian besar terdiri dari alkohol, susunan kimia dan ester (zat yang membuat orang tidak sadar).

11. Syarat kualitas minyak rem yang digunakan:

a.    Titik didih yang rendah

b.    Mencegah karat pada logam dan karet

c.    Viskositas

12. Tindakan pencegahan pada minyak rem:

a.    Jangan mencampur minyak rem

b.    Jangan tercemar dengan air

c.    Simpanlah minyak rem ditempat yang sesuai

d.   Tugas

1.    Jelaskan fungsi rem pada kendaraan!

2.    Sebutkan jenis–jenis rem ditinjau  dari konstruksinya?

3.    Jelaskan macam model rem tromol pada kendaraan?

4.    Terangkan cara kerja dari rem cakram?

5.    Sebutkan syarat kualitas minyak rem yang digunakan?

e.   Test formatif

1.    Jelaskan konstruksi dari sistem rem tromol?

2.    Jelaskan konstruksi dari sistem rem cakram?

3.    Jelaskan cara kerja dari sistem rem?

4.    Sebutkan persyaratan dari minyak rem?

f.     Kunci jawaban

1.    Rem Tromol merupakan salah satu konstruksi rem yang cara pengeremannya pada kendaraan dengan menggunakan tromol rem (Break Drum), Sepatu rem (Break Shoe), dan Silinder roda (Wheel Silinder).

Bagian–bagian dari rem tromol antara lain:

a.    Silinder roda (Wheel Silinder)

Berfungsi untuk menekan sepatu rem ke tromol rem.

b.    Sepatu rem (Break Shoe)

Berfunngsi untuk menahan putaran break drum melalui gesekan.

c.    Pegas kembali (Return Spring)

Berfungsi untuk mengembalikan sepatu rem keposisi semula pada saat tekanan silinder roda turun.

d.    Backing Plate

Berfungsi sebagai tumpuan untuk menahan putaran drum sekaligus sebagai dudukan roda.

2.    Rem cakram merupakan salah satu konstruksi yang cara kerjanya karena adanya gesekan antara cakram dengan pad sehingga pengereman terjadi.

Bagian–bagian rem cakram antara lain:

a.    Cakram/piringan (Disc Rotor)

Berfungsi menghasilkan penngereman dengan adanya gesekan pada pad.

b.    Caliper

Caliper yang di dalam terdapat silinder–silinder rem berikut sepatu rem  dan periodonya berfungsi untuk menahan dan menghentikan cakram rem yang sedang berputar.

c.    Pad rem

Berfungsi untuk menahan panas akibat gesekan.

3.    Cara kerja rem

Mengubah tenaga mekanik menjadi tenaga gesekan dengan jalan menekan sepatu rem (Kanvas) terhadap roda yang berputar.

4.    Syarat–Syarat kualitas minyak rem yang digunakan:

    1. Titik didih yang rendah

b.    Mencegah karat pada logam dan karet

c.    Viscositas/kekentalan

g.   Lembar Kerja

1.    Alat dan Bahan

a.    Kendaraan/Mobil lengkap

b.    Alat–alat tangan, kunci–kunci pas, ring (disesuaikan dengan     kebutuhan)

c.Minyak rem

d.    Gemuk

e.    Lap/Majun

f.   Dongkrak (Jack Stand)

g.    Tempat mur dan baut

2.    Keselamatan Kerja

1)   Gunakanlah peralatan yang sesuai dengan fungsinya

2)   Ikutilah instruktur ataupun prosedur kerja yang tertera pada    lembar kerja

3)   Mintalah ijin dari instruktur anda apabila hendak melakukan   pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja

4)   Bila perlu mintalah buku petunjuk yang sesuai dengan job pekerjaan

3.    Langkah Kerja

a)    Persiapkan alat dan bahan praktek secara cermat, efektif dan seefesien mungkin

b)   Perhatikan penjelasan prosedur penggunaan alat, baca lembar kerja dengan teliti

c)    Lakukan pemeriksaan dan penyetelan terhadap komponen sistem rem dan bagian–bagiannya

d)   Mintalah penjelasan pada instruktur mengenai hal yang belum jelas

e)    Buatlah catatan–catatan penting kegiatan praktek secara ringkas

f)     Setelah selesai, bersihkan dan kembalikan semua peralatan dan bahan yang telah digunakan kepada petugas

4.    Tugas

a.    Buatlah laporan praktek secara ringkas dan jelas!

b.    Buatlah rangkuman pengetahuan yang anda peroleh setelah mempelajari kegiatan 1!

 


Kegiatan Belajar 2. Overhoul Komponen Sistem Rem dan Bagian-Bagiannya

   

a.   Tujuan kegiatan Pemelajaran

1.    Peserta diklat dapat menjelaskan fungsi dari masing-masing alat yang digunakan pada overhoul komponen sistem rem dan bagian-bagiannya.

2.    Pesrta diklat dapat melakukan pemeriksaan dan penyetelan  komponen sistem rem.

3.    Peserta diklat dapat melaksanakan overhoul komponen sistem rem tromol  dan bagian – bagiannya dengan baik dan benar.

4.    Peserta  diklat  dapat  melaksanakan  overhoul komponen rem piringan dan bagian-bagiannya dengan  baik dan benar.

5.    Peserta diklat dapat melaksanakan overhoul  rem piringan dan bagian-bagiannya dengan baik dan benar.

6.    Peserta diklat dapat menguji dan mengetes komponen sistem rem dan bagian-bagianya dengan baik.

 

b.   Uraian materi

Pada saat ini kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat  merupakan alat transportasi yang sangat vital dalam kehidupan masyarakat kita, oleh karena itu komponen-komponen yang ada pada kendaraan tersebut pasti akan mengalami kerusakan. Hal ini pun akan terjadi pada komponen sistem rem dan bagian-bagiannya. Jika kerusakan pun terjadi maka kita harus segera melaksanakan overhoul terhadap kerusakan tersebut dengan menggunakan alat bantu yang tepat.

 

Peralatan yang digunakan pada overhoul komponen sistem rem dan bagian-bagiannya:

1.   SST (special service tool dan spesifikasi)

09704-10010            Alat penyetel sepatu rem

09709-29015            LSPV Gauge set

09717-20010            Pembuka pegas pembalik sepatu  rem

09718-00010            Pembuka pegas penegang sepatu rem

09718-20010            Pengganti pegas pembalik sepatu rem

09736-30020            Pembuka dan pengganti penahan diagram booster

09737-00010            Alat penyetel push rod booster rem

09738-20010            Alat untuk overhoul booster

09753-22011            Stand untuk overhoul booster

09738-22012            Alat untuk overhoul booster

09608-30011            Pengganti bantalan hub depan

Gambar 15. special service tool dan spesifikasi

2.   Alat–alat tangan

a.    Kunci-kunci

b.    Obeng

c.    Tang

d.    Pahat

e.    Penitik

f.     Klematra

a.    Kunci-kunci

Kunci-kunci yang digunakan dalam perbaikan rem Brake Disc yang berfungsi untuk membuka atau memasang baut atau mur.

Macam-macam kunci:

1)    Kunci Pas atau Ring

2)    Kunci Shock

3)    Kunci Inggris

4)    Kunci Momen

1)   Kunci Pas atau Ring: untuk memasang atau melepas baut dan mur sesuai dengan lebar kunci.

2)   Kunci Shock: Digunakan untuk melepas atau memasang baut dan mur yang letaknya tidak dapat dicapai dengan kunci pas atau ring.

3)   Kunci Inggris: Digunakan untuk melepas atau memasang baut atau mur dengan mulut kunci dapat disetel sesuai dengan ukuran.

4)   Kunci Momen: Digunakan untuk pengerasan baut atau mur sesuai dengan besar momen yang di tentukan.

b.    Obeng: Digunakan untuk membuka baut sekrup, dalam sistem rem obeng digunakan untuk mencongkel brake pad selain menggunakan alat khusus S.S.T.

c.    Tang: Digunakan untuk memotong atau menjepit suatu benda. Tang digunakan menurut fungsinya.

Macam-macam tang:

(1) Tang Potong

(2)  Tang Penggunting Sisi

(3)  Tang Kombinasi

(4)  Tang Pengupas

d.    Pahat: Digunakan untuk memotong benda kerja menjadi dua bagian atau lebih. Pahat dibagi menjadi dua bagian yaitu :

(1)   Pahat Ceper

(2)   Pahat tepi

e.    Penitik: Digunakan untuk membuat titik pada benda kerja

f.     Klematra: Digunakan untuk menghentikan aliran minyak rem yang mengalir pada selang rem.

3.   Alat Ukur

Alat ukur yang digunakan untuk pemeriksaan pada saat perbaikan sistem rem brake disc antara lain:

a.   Micrometer

Micrometer digunakan untuk pengukuran yang teliti, micrometer terbagi menjadi dua:

(1) Micrometer Luar (Outside micrometer)

Digunakan   untuk  mengukur bagian luar suatu benda kerja dari 0–25 mm.

(2)  Micrometer Dalam (Inside micrometer)

Digunakan untuk mengukur bagian dalam suatu benda kerja.

b.   Mistar Geser

Mistar geser adalah sutu alat ukur yang teliti digunakan mengukur diameter luar dan dalam serta mengukur kedalaman dari benda kerja.

PELAKSANAAN OVERHOUL KOMPONEN SISTEM REM DAN BAGIAN–BAGIANNYA

Setelah mepersiapkan seluruh peralatan untuk digunakan dalam overhoul sistem rem, maka langkah kerja berikutnya adalah:

1.   PEMERIKSAAN DAN PENYETELAN

A.   PEMERIKSAAN DAN PENYETELAN PEDAL REM

1.    Periksa tinggi pedal

Tinggi pedal dari lantai :  154,7–164,7 mm (6,091–6,484 In). bila perlu setel tinggi pedal

2.    Bila perlu, setel tinggi pedal

a.    Kendorkan swit lampu rem secukupnya

b.   Setel tinggi pedal dengan memutar batang pendorong pedal

c.    Kembalikan swit lampu rem sampai bodi swit menyinggung pembatas pedal

d.   Setelah penyetelan tinggi pedal, periksa dan setel gerak bebas pedal

3.    Periksa gerak bebas pedal

a.    Matikan mesin dan tekan pedal rem beberapa kali sampai tidak ada kevakuman di dalam booster rem

b.   Tekan pedal rem sampai pada awal hambatan terasa gerak bebas pedal: 3-6 mm (0,12-0,24 in)

4.    Bila perlu setel gerak bebas pedal

a.    Bila ada kerusakan/kesalahan setel gerak bebas pedal dengan memutar batang pendorong pedal

b.   Start mesin dan pastikan adanya gerak pedal

c.    Setelah penyetelan gerak bebas  pedal periksa tinggi pedal

5.    Periksa bahwa jarak cadangan pedal rem benar

Bebaskan rem parkir sambil mesin dihidupkan tekan pedal rem dan ukur jarak cadangan pedal. Jarak cadangan pedal dari lantai pada penekan 50 kg (110 lb, 490 N).

Rem sepan tromol        : lebih dari 70 mm (2,76 in)

Rem sepan piringan      : lebih dari 65 mm (2,56 in)

Bila ada kesalahan carilah kerusakan pada sistem rem.

 

B.   TES BEKERJANYA BOOSTER REM

1.    Pemeriksaan bekerjanya booster rem

a.    Tekan pedal rem beberapa kali saat mesin mati dan periksa tidak terjadinya perubahan jarak cadangan pedal rem

b.   Tekan pedal rem star mesin. Bila tinggi pedal sedikit menurun, booster rem bekerja normal

2.    Kekedapan udara

a.    Star mesin dan matikan setelah satu atau dua menit. Tekan pedal rem perlahan–lahan beberapa kali. Bila pada injakan pertama terasa dalam dan sedikit demi sedikit naik pada injakan kedua dan ketiga, berarti kekedapan udara dari booster rem baik.

b.    Tekan pedal rem sambil mesin hidup dan kemudian matikan mesin sambil pedal rem tetap ditekan. Bila tidak ada perubahan tinggi pedal dalam 30 detik, berarti kekedapan dari booster rem baik.

C.   PEMBUANGAN UDARA SISTEM REM

1.    Isilah tangki cadangan minyak rem

Periksa tangki cadangan sesudah pembuangan udara dari setiap silinder. Tambahkan minyak rem bila perlu.

2.    Lakukan pembuangan udara master silinder

a.    Lepas pipa rem dari master silinder

b.    Tekan pedal rem dan tahanlah pedal rem

c.    Sumbat lubang keluaran pada master silinder

d.    dengan jari dan bebaskan pedal rem

e.    Mengulangi kegiatan tersebut sampai tiga kali

3.    Pasang selang plastik pada nepel pembuangan udara silinder roda

Masukan ujung lain dari selang plastik kedalam kaleng atau sejenisnya yang berisi minyak rem setengah bagian.

4.    Buang udara saluran rem

a.    Pompalah pedal rem beberapa kali, perlahan–lahan.

b.    Sambil pedal rem ditekan, kendorkan nepel pembuangan udara sampai minyak rem keluar. Kencangkan kembali nepel pembuangan udara.

c.    Ulangi prosedur tersebut beberapa kali sampai tidak ada lagi gelembung udara didalam minyak rem.

d.    Pengencangan nepel pembuangan udara rem depan (rem tromol) 110 kg-cm (8 ft-11 N.m). Rem depan (rem piringan) 85 kg-cm (74 in-lb, 8,3 N.m). rem belakang 85 kg-cm (74 in-lb, 8,3N.m)

e.    Ulangi prosedur di atas, untuk setiap  roda.

D.   PEMERIKSAAN DAN PENYETELAN REM PARKIR

1.    Periksa langkah tuas rem parkir

Tarik sepenuhnya tuas rem parkir dan hitung jumlah suara “klik”. Langkah tuas rem parkir pada penariakn 20 kg (44 lb, 196 N) 10-18 klik.

2.    Bila perlu, setel langkah rem parkir

Setel langkah rem parkir dengan memutar penyetel rem.

E.   PENYETELAN CELAH SEPATU REM UNTUK TIPE REM TROMOL DEPAN

1.    Dongkrak dan topanglah kendaraan

2.    Lepas sumbat lubang penyetalan sepatu dari backing plat

3.    Menggunakan SST atau obeng putar mur penyetel sampai roda   terkunci, SST: 09704–30010

4.    Menggunakan SST atau obeng putar mur penyetel sampai roda bebas, SST: 09704–30010

5.    Pasang sumbat lubang penyetel sepatu rem

6.    Ulang step (b) sampai (e) untuk roda yang lain

7.    Periksa ulir terhadap kerusakan

F.    PERIKSA SELANG DAN PIPA REM

1.    Periksa selang rem

a.                        Periksa selang terhadap kerusakan, keretakan atau pembengkakan

b.                        Periksa ulir terhadap kerusakan

2.    Periksa pipa rem

a.    Periksa pipa terhadap, keretakan, lekukan atau karat

b.    Periksa ulir terhadap kerusakan

G.   PEMERIKSAAN DAN PENYETELAN TEKANAN MINYAK REM

1.    Beban belakang termasuk beban kendaraan

KF40R–MD650 kg (1.433 lb)

KF50R–MD650 kg (1.433 lb)

KF40R–MD7 700 kg (1.543 lb)

KF50R–D7 900 kg (1.984 lb)

2.    Pasang LSVP Gauge (SST) dan lakukan pembuangan udara SST: 09709–29017.

3.    Naikan tekanan rem depan sampai 50 kg/cm² (711 psi, 4.903 Kpa) dan periksa tekanan rem belakang. Tekanan rem belakang: 46,7 +  5 kg/cm² (664 + 71 psi, 4.580 + 490 Kpa)

4.    Naikan tekanan rem depan sampai 100 kg/cm² (1.422 psi, 9.807 Kpa) dan periksa tekanan rem belakang. Tekanan rem belakang : 65,2 + 7 kg/cm² (927 + 100 psi, 6.394 + 684 Kpa). Bila tekanan minyak rem tidak benar setel tekanan minyak rem.

5.    Bila perlu setel tekanan minyak rem.

6.    Bila perlu pewriksa bodi katup.

2.   OVERHOUL KOMPONEN  REM

A.                                                   MASTER  SILINDER

1.   Pelepasan Master Silinder

a.    Keluarkan minyak rem dengan penyedotnya

b.    Lepas kedua pipa rem.  Dengan

menggunakan SST, Lepas kedua   pipa   rem  dari master silinder SST 09751–  36011

c.    Lepas master silinder

1)                                                                                           Lepas dua atau empat mur

2)                                                                                           Lepas master silinder dan gasket dari  booster rem

2.   Pembongkaran master Silinder

a.    Jepitlah silinder pada ragum (vice)

b.    Lepas tangki cadangan dan selang, lepas tutup, pelampung dan saringan, baut  dan selang

c.    Lepas snap ring  dan elbaow

d.    Lepas baut penahan  piston menggunakan      obeng, tekan piston sepenuhnya dan lepas baut pembatas piston dan gasket

e.    Lepas piston dan pegas

3.   Pemeriksaan Komponen Master Silinder

a.                                                                                                            Pemeriksaan dinding silinder terhadap karat atau goresan

b.                                                                                                            Periksa silinder dari keausan atau rusak bila perlu ganti silinder

4.   Perakitan Master Silinder

a.    Oleskan gemuk lithium soap base glykol pada bagian karet

b.    Pasang dua pegas dan piston:

1)   Masukan dua pegas dan piston dengan lurus

2)   Tekan piston dengan obeng dan pasang snap ring dengan tang snap ring

c.    Pasang baut pembatas piston menggunakan obeng, tekan piston sepenuhnya dan pasang baut pembatas piston dengan gasketnya, kencangkan baut

Momen: 100 Kg-cm (7 ft-lb, 10 N-m)

d.    Pasang tangki cadangan

1)   Pasang tangki cadangan pada master silinder, pasang baut dengan gasketnya dan kencangkan.

2)   Momen:  250 Kg-cm (18 ft-lb, 25 N-m)

3)   Pasang saringan pelampung dan tutup

e.    Pasang elbow dan snap ring

f.     Pasang slang tangki cadangan

5.   Pemasangan Master silinder

a.     Bersihkan alur pada bagian bawah permukaan pemasangan master silinder

b.    Pastikan tanda “UP” (atas) pada boot master silinder benar posisinya

c.     Setel panjang batang pendorong booster sebelum memasang master silinder

d.    Pasang master silinder

e.     Pasang master silinder, gasket, dan dua bracket pada booster rem dengan empat atau dua mur

f.      Pasang dua pipa rem

g.    Isilah tangki cadangan dengan minyak rem dan lakukan pembuangan udara sistem rem

h.    Periksa kebocoran minyak rem

i.      Periksa dan stel pedal rem

B.                                                   BOOSTER  REM

1.   PEMBONGKARAN BOOSTER REM

a.                       Pembongkaran Booster Rem

1)   Lepas klevis dan mur pengunci

2)   Pisahkan bodi depan dan belakang

a.    Berilah tanda pada bodi depan dan belakang

b.    Pasang booster pada SST

c.    Putar roda depan searah jarum jam, sampai bodi depan dan belakang saling berpisah

d.    Kendorkan mur atas kiri dan kanan dari SST dan pasangkan balok kayu diantara bodi depan dan plat atas

e.    Kencangkan dengan merata empat mur pengikat booster untuk memisahkan bodi depan dan belakang

f.     Lepas pegas diafragma dan batang pendorong booster

3)   Lepas boot dari bodi belakang

4)   Lepas rakitan pegas diafragma dari bodi belakang

5)   Lepas perapat bodi dari bodi belakang menggunakan SST, lepas perapat bodi

6)   Lepas bodi katup (valve bodi) dan diafragma dari piston booster

a.    Jepitlah SST  pada ragum (vice)

SST: 09736-27010

b.    Letakkan rakitan diafragma pada SST dan putaralah untuk memisahkan bodi katup dan piston booster

c.Lepas diafragma dari piston booster

7)   Lepas batang pendorong pedal dari bodi katup

a.    Tekan batang pendorong pedal kedalam bodi katup dan lepas kunci pembatas

b.    Tarik batang pendorong pedal keluar dengan tiga elemen saringan

8)   Lepas plat reaksi dari bodi katup

9)   Lepas perapat dari bodi depan menggunakan obeng, ungkit ring strikuler keluar, dan lepas perapat bodi

10)Bila perlu, lepas katup cek

Lepas katup cek dan grommet

b.                       Pemeriksaan Komponen Booster Rem

Periksa bekerjanya katup

1)   Periksa, udara agar dapat mengalir dari sisi booster ke sisi mesin

2)   Periksa, udara agar udara tidak dapat mengalir dari sisi mesin ke sisi booster

3)   Bila perlu, ganti katup cek

Perakitan Booster Rem

1)   Oleskan gemuk silikon pada bagian yang dapat ditunjukan berikut

2)   Pasang bodi katup pada bodi depan

a)    Pasang perapat bodi pada posisinya

b)   Ikat perapat bodi dengan ring sirkular

3)   Bila perlu, pasang katup cek, pasang grommet dan katup cek

4)   Pasang batang pendorong pedal pada bodi katup

a)    Pasang batang pendorong pedal pada katup

b)   Tekan batang pendorong pedal kedalam bodi katup dan pasang      kunci pembatas

c)    Tarik batang pendorong pedal, untuk memastikan bahwa kunci pembatas bekerja

5)   Pasang plat reaksi pada bodi katup

6)   Pasang bodi katup pada diafragma pada piston booster

a)    Pasang diafragma pada piston booster

b)   Pasang bodi katup pada piston booster

c)    Jepitlah SST pada ragum (vice)

SST:  09376-27101

d)   Letakkan rakitan diafragma pada SST dan putarkan untuk memasangnya

7)   Pasang perapat bodi pada bodi belakang, menggunakan SST, pasang perapat bodi  SST  :  09515 – 30010 dan 09608 – 20012 (09608 – 00030, 09608 – 03020)

8)   Pasang rakitan diafragma pada bodi belakang

9)   Pasang komponen berikut pada bodi belakang

a.    Element serat

b.    Element spons

c.    Karet debu (boot)

10)Rakit bodi depan dan belakang

a)    Letakkan pegas dan batang pendorong pedal pada bodi depan

b)   Menggunakan SST, tekan pegas diantara bodi depan dan belakang

SST:  09753 – 00013

c)    Rakit bodi depan depan dan belakang dengan memutar bodi depan berlawanan arah jarum jam, sampai tandanya tepat

11)  Pasang mur pengunci dan klevis

3.   REM TROMOL (TYPE LEADING-TRAILLING SHOE)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

a.                                                                                                                   Pelepasan Rem Tromol

 

 

 

 

 

 

 

1.    Lepas roda

2.    Lepas tromol rem

Lepas skrup, dan kemudian lepas tromol rem

a.    Lepas penyumbat dari backing plat

b.    Masukkan SST atau obeng melalui lubang, dan kurangi penyetelan sepatu rem dengan memutar mur penyetel

3.    Lepas pegas pembalik

4.    Lepas sepatu rem

a.    Menggunakan SST, lepas pegas penahan sepatu rem atas, dua mangkuk mankuk dan pen, kemudian lepas sepatu rem

b.    Dengan cara yang sama, sepatu bawah

5.    Bila perlu, lepas silinder roda

Menggunakan SST, lepas pipa rem dari silinder roda

Lepas nepel pembuang udara dari silinder roda

Lepas tiga baut pengikat silinder roda

6.    Bila perlu, bongkar silinder roda

Lepas komponen berikut dari silinder

a.    Karet pelindung (boot)

b.    Piston

c.    Karet rem (cups)

d.    Sekrup dan pegas pengunci penyetel

e.    Baut dan mur penyetel

 


b.                                                                                                                   Pemeriksaan komponen

1.    Periksa komponen yang dibongkar

2.        Ukur pelapis sepatu rem

Ketebalan minimum: 1,0 mm (0,039 in)

Ketebalan standart: 6,0 mm (0,236 in)

Bila ketebalan pelapis sepatu kurang dari nilai minimum atau terlihat dari tanda-tanda keausan yang tidak merata, gantilah sepatu rem.

3.        Ukur diameter dalam tromol rem

Diameter Maksimum: 230,6 mm (9,079 in)

Diameter standart: 228,6 mm (9,000 in)

Bila tromol rem tergores atau aus, tromol rem di bubut sampai pada batas diameter maksimum.

4.    Periksa persinggungan pelapis sepatu rem dan tromol rem

5.    Periksa silinder roda terhadap karat atau kerusakan

6.    Periksa backing plat terhadap kerusakan atau keausan

c.                                                                                                                    PERAKITAN REM TROMOL

1.    Rakit silinder roda

a.    Oleskan gemuk lithium soap base glycol pada karet rem (cup) dan piston

b.    Oleskan gemuk temperatur tinggi pada baut dan mur penyetel

c.    Rakit silinder roda

d.    Pasang baut penyetel dan mur penyetel pada  silinder

e.    Pasang pegas pengunci penyetelan dengan skrup  pengikat

2.    Pasang nepel pembuangan udara pada silinder roda

Pasangkan untuk sementara, nepel pembuangan udara pada silinder roda

3.    Pasang silinder roda pada backing plat

a.    Pasang silinder roda depan dengan penyetel menghadap ke atas dan silinder roda belakang  dengan penyetel menghadap ke bawah

b.    Kencangkan tiga baut pengikat

c.    Momen: 175 kg-cm (13ft-lb 17 N.m)

4.    Pasang pipa rem pada silinder roda

a.    Setelah pengencangan dengan tegangan, kencangkan mur dengan SST

b.    SST   : 09751 – 36011

c.Momen: 155 kg-cm (11 ft-lb 69 N.m)

5.    Oleskan gemuk temperatur tinggi pada backing plat

6.    Pasang sepatu rem

a.    Letakkan sepatu rem atas pada posisinya dan menggunakan SST

b.    Pasang pegas penahan sepatu, dua mangkuk dan pen

c.    Dengan cara yang sama, pasang sepatu rem bawah

d.    Menggunakan SST, pasang pegas pembalik sepatu depan dan belakang

7.    Bersihkan pelapis sepatu dan bagian dalam tromolmenggunakan kertas amplas

8.    Pasang tromol rem

Pasang tromol rem dan kencang skrup

Momen: 70 kg-cm (61 in-lb 69 N.m)

9.    Isi tangki cadangan dengan minyak rem dan lakukan pembuangan udara

10.  Periksa kebocoran rem

11.  Stel celah sepatu rem

12.  Pasang roda depan

 

 

 

 

 

 

 

4.   REM TROMOL TYPE TWO LEADING SHOE

a.       Pelepasan Rem Tromol

1.    Lepas roda tromol

a.    Lepas penyumbat dari backing plat dan         masukan obeng melalui lubang pada backing plat, tekan tuas otomatis menjauhi baut penyetel

b.    Menggunakan SST atau obeng yang lain, kurangi tinggi penyetelan dengan memutar penyetel searah jarum jam

2.    Lepas sepatu depan

a.    Menggunakan SST, lepas pegas pembalik

b.    Menggunakan SST, lepas pegas penahan sepatu, dua mangkuk dan pen

c.    Lepas sepatu depan dan pegas angkur

3.    Lepas sepatu belakang

a.    Menggunakan SST, lepas pegas panahan sepatu, mangkuk dan pen

b.    Lepas sepatu belakang bersama dengan penyetel

c.    Lepas kabel rem parkir dari tuas

4.    Lepas penyetel dari sepatu belakang

a.    Lepas pegas tuas penyetel

b.    Lepas penyetel

5.    Bila perlu, lepas silinder roda

a.    Menggunakan SST, lepas pipa rem

b.    Lepas dua baut pengikat silinder roda

6.    Bongkar silinder roda

a.    Menggunakan kaleng untuk menyimpan rem

b.    Lepas komponen komponen-komponen  berikut dari silinder roda

  • Dua karet pelindung
  • Dua piston
  • Dua karet rem (piston cup)
  • Pegas

 

b.       Pemeriksaan dan Perbaikan Komponen

1.    Periksa komponen yang dibongkar

Periksa komponen yang dibongkar, yang terjadi keausan, karat, atau kerusakan

2.    Ukur ketebalan sepetu rem

Ketebalan   minimum: 1,0 mm (0,039 in)

Ketebalan standart: 5,0 mm (0,197 in)

3.    Ukur diameter dalam rem

Diameter maksimum: 230,6 mm (0,039 in)

Diameter standar: 228,6 mm (9,000 in)

4.    Periksa persinggungan pelapisan sepetu dan rem tromol

5.    Periksa silinder roda terhadap karat atau kerusakan

6.    Periksa backing plat terhadap keausan atau kerusakan

7.    Ukur celah antara sepatu rem dan tuas menggunakan feeler gauge ukur celah-celah standart kurang dari 0,35 mm (0,138 in). Bila celah diluar spesifikasi gantilah shim dengan ukuran yang tepat

8.    Bila perlu, gantilah shim

a.    Lepas cincin C dan sepatu belakang

b.    Pasang shim dengan ukuran yang tepat

c.    Pasang tuas rem parkir dengan cincin C yang baru


c.        Perakitan Rem Tromol

1.    Bila perlu rakit dan pasang silinder roda

a.    Oleskan emuk lithium soap bae glycol pada karet rem

b.    Pasang pegas dua karet rem didalam  silinder   pastikan bahwa flens karet menghadap kedalam

c.    Pasang dua piston, oleskan gemuk lithium soap base glycol dan pasang dua karet pelindung (boot)

d.    Pasang silinder roda pada backing plat dengan dua baut pengikat

Momen: 100 mm (7 ft-lb 10 N.m)

e.    Menggunakan SST, pasang pipa rem   Momen: 115 kg-cm (11 ft-lb 15 N.m)

2.    Oleskan gemuk pada backing plat seperti ditunjukan pada gambar

3.    Oleskan gemuk pada ulir baut penyetel dan kedua ujung penyetel

4.    Pasang penyetel pada sepatu belakang

5.    Pasang sepatu depan

6.    Pasang sepatu belakang

7.    Periksa mekanisme penyetel otomatis

a.    Periksa bahwa baut penyetel berputar bila tuas rem parkir diatrik

b.    Bila tuas tida berputar periksa kembali adanya kesalahan pemasangan pada rem belakang

8.    Periksa celah antara sepatu rem dan tromol rem

a.    Lepas tromol rem

b.    Ukur diameter dalam romol rem dan sepatu rem

9.    Bersihkan permukaan tromol dan sepatu rem menggunakan kertas amplas

10. Pasang tromol rem dan roda belakang

11. Isilah tangki cadangan minyak rem dan lakukan pembuangan udara sistem rem

12. Periksa kebocoran minyak rem

5.    REM PIRINGAN

a.   PENGGANTIAN PAD REM

1.    Periksa ketebalan pada rem

Ketebalan minimum: 1,0 mm

Ketebalan maksimum: 10,0 mm

2.    Lepas baut pengikat silinder

3.    Angkat silinder

4.    Lepas pad dan shim anti – cicit

5.    Lepas anti berisik plat pengantar pad dan plat penahan pad

6.    Pasang plat penahan pad, plat pengantar pad, dan pegas anti berisik

7.    Pasang pad yang baru dan pegas anti cicit

8.    Turunkan silinder

9.    Pasang baut pengikat

b.   PELEPASAN SILINDER

1.    Lepas slang dan pipa rem

2.    Lepas slang rem dari silinder rem

3.    Lepas silinder

4.    Lepas komponen-komponen berikut

a.    Shim anti-cicit

b.    Dua pad rem

c.    Dua pegas anti berisik

d.    Dua pengantar pad

e.    Plat penahan pad

c.    PEMBONGKARAN SILINDER REM

1.    Lepas bhusing peluncur karet pelindung (boot)

2.    Lepas Karet pelindung pen utama (boot)

3.    Lepas ring pengikat

4.    Lepas piston dari silinder

5.    Lepas karet dari pelindung piston

6.    Lepas perapat piston

d.   PEMERIKSAAN KOMPONEN REM PIRINGAN

1.    Ukur ketebalan pelapis pad

a.    Ketebalan minimum        : 1,0 mm

b.    Ketebalan maksimum      : 10,0 mm

2.    Ukur ketebalan piring rotor

a.    Ketebalan minimum        : 19,0 mm

b.    Ketebalan maksimum      : 20,0 mm

3.    Ukur keolengan piringan rotor

Keolengan maksimum : 0,15 mm

4.    Bila perlu ganti piringan rotor

e.   PERAKITAN SILINDER REM

1.    Oleskan gemuk lithium soap base glycol pada bagian-bagian yang berikut

a.    Karet pelindung pen utama

b.    Pen peluncur dan karet pelindung

c.    Perapat piston dan piston

d.    Karet pelindung silinder

2.    Pasang perapat piston dan piston kedalam silinder

3.    Pasang karet pelindung silinder dan ring pengikat pada silinder

4.    Pasang karet pelindung pen utama

5.    Pasang karet pelindung dan bushing peluncur

f.      PEMASANGAN SILINDER

1.    Pasang komponen-komponen silinder

2.    Pasang silinder

3.    Pasang baut pengikat silinder

4.    Pasang slang rem pada rem

5.    Pasang slang dan pipa rem

6.    Isi tangki cadangan minyak rem dan lakukan pembuangan udara sistem rem

7.    Periksa kebocoran minyak rem

6.   PENGETESAN KOMPONEN UTAMA

A.   PETUNJUK UMUM

Ada beberapa kondisi yang akan mempengaruhi gerakan rem, kondisi ini harus dicek sebelum tes secara intensif atau kontinyu dilakukan pada sistem rem.

1.   Ban

a.    Ban harus dipompa pada tekanan yang tepat

b.   Jenis dan kondisi ban harus sama

2.   Beban Kendaraan

a.    Beban harus tidak boleh melebihi batas sfesifikasi pabrik pembuatnya

b.   Beban harus didistribusikan sehingga poros dengan pengaruh pengereman harus membawa beban lebih

3.   Bantalan Roda Depan

Gerakan pedal rem yang berlebihan mungkin mengakibatkan kelonggaran bantalan roda

4.   Pengaruh Roda Depan

Ketidakrataan atau ketidaktepatan sudut Canber dan penyetelan infikasi kemudi akan memberikan pengaruh sama seperti tarikan rem.

Alasan untuk pengetesan sistem rem adalah:

a.    Untuk memenuhi peraturan penggunaan jalan raya dan untuk memberikan syarat keamanan

b.   Untuk  mendiagnosis masalah bagi pengendara kendaraan

c.    Untuk memastikan bahwa perbaikan telah dilakukan secara efektif

B.   TES KONDISI JALAN

Untuk tes sistem pengereman, prosesnya adalah sebagai berikut:

1.   Lakukan pemeriksaan rem, catat hasil pembacaan dalam keadaan yang tepat, jika menggunakan deselorometer untuk mengukur efek pengereman, maka yang harus dilakukan adalah dengan permukaan jalan harus kering dan kondisinya rata.

2.   Posisi pada netral harus dipilih sebelum rem digunakan.

3.   Kendaraan direm pada jalan yang lurus

4.   Pembacaan deselorometer harus memberikan dengan keadaan relevan

1.    Mengetes Rem Sistem Hidrolik

Untuk mengetes rem sistem hidrolik pada kendaraan caranya sebagai berikut:

a.    Gunakan gaya penekanan yang ringan pada pedal rem, suatu pedal rem yang ditekan dengan pelan akan menunjukan kebocoran pada sistem hidrolik, kelebihan udara dalam sistem kerusakan penutup primer dalam silinder master.

b.   Gunakan gaya penekanan yang tinggi pada pedal rem, gerakan pedal yang berlebihan menunjukan ketidaktepatan penyetelan rem, kerusakan pada sistem rem ganda, lampu tanda peringatan akan menyala. Pedal yang penekanannya akan menunjukan hal–hal berikut:

-         Ada udara dalam sistem

-         Cairan rem rendah

-         Cairan rem berkualitas rendah

-         Menyimpangnya sepatu rem

Pedal yang ditekan dengan cepat menunjukkan ada sistem hidrolik yang bocor.

2.    Mengetes Booster Rem

Untuk mengetes booster rem , prosesnya adalah sebagai berikut:

a.    Dengan motor putaran tekan pedal rem beberapa waktu untuk mengosongkan memberi kevakuman

b.    Gunakan tekanan vakum medium untuk pedal rem

c.    Star motor bila booster dioprasikan secara tepat pedal akan menekan dengan ringan.

3.    Mengetes Rakitan Unit Rem Roda

Untuk mengetes rakitan unit rem roda, prosesnya adalah sebagai berikut:

a.                        Pilih permukaan jalan yang kering dan kondisi yang baik

b.    Gunakan rem dengan baik ketika kendaraan pada kecepatan 35 Km/jam

c.    Kendaraan harus direm pada arah jalan yang lurus, jika kendaraan digerakan atau ditarik pada satu arah, kerusakan rem akan berlawanan pada sisi yang mana kendaraan akan tertarik, mengandalkan permukan jalan dan tekanan yang digunakan untuk mengerem, tanda–tanda ban dan sepatu rem yang mungkin akan terlihat.

d.    Setelah rem dilepas, pedal tidak ditekan kendaraan harus dapat meluncur dengan bebas (berjalan sendiri atau meluncur dijalan).

4.    Mengetes Rem Parkir

Untuk mengetes rem parkir, prosesnya adalah sebagai berikut:

a.    Hentikan kendaraan pada jalan yang menurun pada permukaan jalan yang kering.

b.    Gunakan rem parkir

c.    Lepaskan rem kaki tetapi rem parkir dipasang, kendaraan harus tetap ditempatnya

C.   MENGETES KOMPONEN PERALATAN KHUSUS

Komponen rem yang perlu dites, yaitu pengoprasian peralatan khusus adalah:

a.    Klep tambahan/klep pembanding

b.    Booster rem (dalam beberapa hal)

1.    Mengetes Klep Pembanding Silinder Master

Untuk mengetes suatu klep pembanding dikombinasikan dalam silinder master, prosesnya sebagai berikut:

a.    Lepaskan dua pipa dari silinder master

b.    Hubungkan pada suatu pengukur tekanan tinggi untuk masing–masing lubang saluran silinder master, penyumbat ketiga lubang dengan sekrup pelimpah.

c.    Kuras sistem rem.

d.    Perintahkan pada asisten/pembantu anda untuk menekan pedal rem sampai pengukur penghubung pada lubang saluran rem dengan mencapai nilai spesifikasi yang diinginkan.

e.    Ambil pembacaan dari pengukuran yang lain, pembacaan dapat terjadi 80 % dari pembacaan pengukur rem depan.

2.    Mengetes Klep Pembanding Standar

 

 

 

 

 

 

a.    Lepaskan hubungan pipa dari klep dan masukan dua buah penyambung T, masing–masing satu antar ujung klep dan pipa.

b.    Hubungkan ke suatu tekanan tinggi untuk masing–masing sambungan T.

c.    Kuras cairan rem dari sistem.

d.    Perintahkan pada asisten anda untuk menekan pedal rem sampai mengukur dihubungkan antara silinder master dan klep, mencapai batas nilai limit spesifikasi yang diijinkan.

e.    Ambil pembacaan dari pengukur yang lain, pembacaan dapat menjadi 80 % dari pembacaan pertama.

f.     Ganti komponen jika batas ukur tidak diperoleh.

g.    Tes tekan booster

h.    Gunakan kevakuman yang sama dan gaya pada booster dengan kran terbuka, catat pembacaan pada pengukur, ulangi tes ini beberapa kali untuk memperoleh hasil yang tetap/konsisten.

D.   MENGETES REM SETELAH DIPERBAIKI

Untuk mengets rem setelah diperbaiki/perbaikan caranya sebagai berikut:

a.    Pada waktu menggunakan penekanan rem dengan ringan dan dengarkan bunyi yang tidak normal.

b.    Gunakan beberapa tes penghentian/stop, rem harus dapat menghentikan kendaraan pada jalan yang lurus apakah bidang permukaan gesek panas atau dingin. Pedal rem harus tetap ditahan, rem harus lepas ketika pedal atau rem parkir dikembalikan pada posisi netral, jika bidang permukaan gesek dingin atau kedua rem dilepaskan, kendaraan harus bebas bergerak/dapat meluncur sendiri.

c.    Jangan mengulangi penyetelan rem jika permukaan bidang gesek menjadi panas karena tromol akan berlawanan sebagai penurun sehingga menjadi dingin jadi menghasilkan celah tromol pada kanvas rem, rem akan tertarik atau terkunci.

d.    Jangan menyetel kepala rakitan unit roda rem jika permukaan gesek menjadi panas karena akan membakar tangan anda.

e.    Terakhir, periksa kebocoran komponen bodi bawah atau cek cairan rem dalam silinder master.

c.    Rangkuman

1.    Peraturan yang digunakan pada pelaksanaan overhoul sistem rem dan bagian–bagiannya:

a.    Kunci–kunci

b.    Obeng

c.    Tang

d.    Pahat

e.    Penitik

f.     Dongkrak

g.    Micrometer

h.    Jangka sorong

2.    Langkah–langkah dalam pelaksanaan overhoul sistem rem:

a.    Membongkar atau melepas

b.    Melaksanakan pembongkaran atau melepas komponen–komponen sistem rem dan bagian–bagiannya dengan menggunakan peralatan yang sesuai.

c.    Pemeriksaan atau pengukuran

d.    Melaksanakan pemeriksaan atau pengukuran pada komponen yang mengalami kerusakan

e.    Perbaikan

f.     Melakukan perbaikan pada komponen yang mengalami kerusakan atau menggantinya dengan komponen yang baru.

g.    Penyetelan dan pemasangan

h.    Melaksanakan penyetelan atau pemasangan kembali komponen–komponen yang dilepas tadi

d.   Tugas

1.    Jelaskan fungsi dari alat berikut:

a.    Kunci momen

b.   Klematra

c.    Mikrometer

2.    Buatlah laporan hasil praktek secara ringkas dan jelas!

e.   Tes Formatif

1.    Jelaskan fungsi alat yang digunakan pada pelaksanaan overhoul komponen sistem rem dan bagian–bagiannya!

2.    Jelaskan langkah–langkah kita ketika melaksanakan overhoul sistem rem dan bagian–bagiannya!

f.     Kunci Jawaban

1.    Fungsi alat–alat:

Kunci            : untuk membuka atau memasang baut dan mur

Obeng          : untuk membuka baut sekrup

Tang            : untuk memotong atau menjepit suatu benda

Pahat           : untuk memotong benda kerja menjadi dua bagian atau lebih

Klematra       : untuk menghentikan aliran minyak rem yang mengalir pada selang rem

Micrometer   : untuk mengukur (sebagai alat ukur)

2.    Langkah–langkah pelaksanaan overhoul

a.    Pelepasan atau pembongkaran

b.    Pemeriksaan atau pengukuran

c.    Perbaikan atau penggantian

d.    Penyetelan atau pemasangan

g.   Lembar Kerja

1.    Alat dan Bahan

a.    Tool Box

b.   Alat ukur

c.    Jack Stand

d.   Dongkrak

e.    Lap/Majun

f.     Minyak pembersih

g.   Tempat mur dan baut

2.    Keselamatan Kerja

a.    Gunakan peralatan yang sesuai dengan fungsinya

b.   Ikutilah Instruktur ataupun prosedur kerja yang tertera pad lembar kerja.

c.    Mintalah ijin dari instruktur bila hendak melakukan pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja.

d.   Sediakan tempat baut dan mur

e.    Bila perlu gunakan buku petunjuk yang sesuai dengan job pekerjaan

3.    Langkah Kerja

a.    Persiapkan alat dan bahan praktek secara cermat, efektif dan seefesien mungkin

b.   Perhatikan penjelasan prosedur penggunaan alat, baca lembar kerja dengan teliti

c.    Lakukan pekerjaan mengoverhoul komponen sistem rem dan bagian–bagiannya sesuai dengan prosedur yang benar

d.   Mintalah penjelasan pada instruktur mengenai hal yang belum jelas

e.    Buatlah catatan–catatan penting kegiatan praktek secara ringkas

f.     Setelah selesai, bersihkan dan kembalikan semua peralatan dan bahan yang telah digunakan kepada petugas

4.    Tugas

a.    Buatlah laporan praktek secara ringkas dan jelas!

b.   Buatlah rangkuman pengetahuan yang anda peroleh setelah mempelajari kegiatan 2!


BAB. III

EVALUASI

A.   Pertanyaan Teori

No.

Pertanyaan

Skor

1.

Jelaskan rem ditinjau dari konstruksinya!

0.5

2.

Jelaskan perbedaan antara sistem rem tromol dan sistem rem cakram yang anda ketahui!

1

3.

Jelaskan prosedur membleeding/membuang udara!

1

4.

Sebutkan minimal 5 peralatan yang digunakan pada overhoul sistem rem!

0.5

Total

3

B.   Uji kompetensi

Peserta diklat melakukan demonstrasi/praktik dihadapan Guru/Instruktur dengan waktu yang sudah ditentukan.

Soal

Disediakan sebuah kendaraan bermotor roda empat, lakukanlah overhoul pada sistem rem bagian boster rem (Urutkanlah langkah–langkahnya dengan tepat).

Blangko Penilaian Praktik

No.

Kegiatan yang dinilai

Waktu

Nilai

Ket

1.

2.

3.

4.

Pembongkaran Pelepasan

Komponen

Pemeriksaan/Pengukuran

Perbaikan/Pengetesan

Pemasangan Komponen

201

201

301

201

1

2.5

2.5

1

Total

901

7


KUNCI JAWABAN

 

A.   Teori

1.   Jenis rem ditinjau dari konstruksinya adalah:

a.    Internal expander brake (Rem Pengembangan dari dalam)

b.    External Contracting Brake

c.    Disc Brake (Rem Piringan)

2.   Perbedaan rem tromol dan cakram

a.    Rem Tromol

Salah satu konstruksi rem yang cara kerja pengeremannya dengan menggunakan rem tromol breke drum, sepatu rem, brake shoe, dan silinder roda (Wheel Cylinder) pengunaanya diantara roda belakang tidak sama maksudnya agar system rem berfungsi dengan baik dan sesuai dengan persyaratanya

b.    Rem Cakram

Salah satu konstruksi rem yang cara kerjanya karena adanya gesekan antara cakram dengan pad sehingga pengereman terjadi. Mayoritas digunakan pada roda depan dimana tromol diganti dengan ckram/ piringan.

3.   Peralatan yang digunakan pada pelaksanaan overhoul:

a.    Kunci–kunci

b.    Dongkrak

c.    Tang

d.    Obeng

e.    Jangka sorong/mikro meter

 

B.   Praktik

1.    Langkah–langkah pelaksanaan overhoul antara lain:

a.    Pelepasan/pembongkaran komponen

b.    Pemeriksaan/pengukuran

c.    Perbaikan/pengetesan

d.    Pemasangan/penyetelan kembali

Þ    Pembongkaran/pelepasan komponen

Þ    Dengan dibantu peralatan dongkrak & kunci roda kita membongkar roda dari kendaraan.

Pemeriksaan/pengukuran

Þ    Melakukan pemeriksaan terhadap komponen–komponen utama dari system rem tersebut.

2.    Perbaikan/pengetesan.

Þ    Dengan motor putaran stationer tekan pedal rem beberapa saat untuk mengosongkan pemberi kevakuman.

Þ    Gunakan tekanan vakum medium untuk pedal rem

Þ    Start mesin bila booster dioperasikan secara tepat, pedal akan menekan dengan ringan.

C.   Kriteria kelulusan

Batas minimal kompetensi diberi nilai 7.0

Grade nilai adalah sebagai berikut:

7.00 (Baik)           : Dengan tepat waktu dapat mencapai kompetensi sesuai kualitas standar minimal

8.00 (Amat Baik)  : Lebih cepat dari ketentuan waktu dapat mencapai kompetensi sesuai kualitas standar minimal

9.00 (Istimewa)    : Lebih cepat dari ketentuan waktu dapat mencapai kompetensi melebihi kualitas standar minimal

BAB. IV

PENUTUP

Peserta diklat/Siswa yang telah menyelesaikan modul Overhoul Komponen Sistem Rem berhak mengikuti tes praktik untuk menguji kompetensi yang telah dipelajari dan apabila dinyatakan memenuhi syarat kelulusan dari hasil evaluasi dalam modul ini, maka berhak untuk melanjutkan ke topik modul berikutnya. Mintalah pada Pengajar atau Instruktur untuk melakukan uji kompetensi dengan sistem penilaiannya yang dilakukan langsung dari pihak Dunia Industri atau Asosiasi Profesi yang berkompetensi. Apabila peserta diklat telah menyelesaikan suatu kompetensi tertentu.

Apabila peserta diklat telah menyelesaikan seluruh evaluasi dari setiap modul, maka hasil yang berupa nilai dari instruktur atau berupa porto polio dapat dijadikan sebagai bahan verifikasi bagi pihak Industri atau Asosiasi Profesi. Kemudian hasil tersebut dapat dijadikan sebagai penentu standar pemenuhan kompetensi dan bila memenuhi syarat peserta diklat berhak mendapatkan sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh Dunia Industri atau Asosiasi Profesi.

DAFTAR PUSTAKA

 

1.    A.M. Saleh, 1984 Kamus Teknik Inggris. Indonesia Jakarta, CV Pajar Abadi.

2.    Bagyo Sucahyo .Drs, Darmanto Drs, Soemarsono, B.sc, 1997, Otomotif Mesin Tenaga, Surakarta, PT TIGA SERANGKAI

3.    Daryanto Drs. 2002 Teknik Merawat Auto Mobil lengkap, Bandung, CV YRAMA WIDYA.

4.    I. Solihin. Drs, Mulyadi. S.Pd., 2002 Perbaikan Chasis dan pemindahan tenaga, SMK. Tingkat 2, Bandung, CV. ARMICO.

5.    Standar kompetensi Guru, SMK. 2004 Bidang Keahlian Otomotif, Jakarta, Departemen Pendidkan Nasional.

6.    Toyota Astra Motor 1995, New Step I  Training Manual, Jakarta PT.  TAM Training Center.

7.    Toyota 1992. Pedoman Reparasi Chasis dan Body Kijang. Jakarta PT. Toyota Astra Motor.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.