Pemeliharaan servis unit Kopling dan komponen-komponen

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Deskripsi

Judul modul ini adalah Pemeliharaan/servis unit Kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasiannya, di dalamnya akan dibahas mengenai fungsi dan cara kerja kopling, komponen unit kopling, hingga pemeriksaan kerusakan komponen kopling. Hasil belajar modul ini, diharapkan siswa akan dapat:

1.  Menyebutkan peranan dan fungsi kopling pada suatu kendaraan.

2.  Mengetahui arti “kopling set” (Clutch Assembly) dan letak kopling pada kendaraan.

3.  Memahami cara kerja komponen pengoperasian kopling.

4.  Mengidentifiikasi Komponen-komponen utama dari kopling dan komponen pengoperasiannya.

5.  Menjelaskan dan melakukan proses pemeliharaan unit kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasiannya.

6.  Menerangkan/melakukan sistem perawatan berkala.

B. Prasyarat

Sebelum memulai modul ini, peserta diklat pada Bidang Keahlian Mekanik Otomotif harus sudah menyelesaikan modul-modul prasyarat seperti terlihat dalam diagram pencapaian kompetensi maupun peta kedudukan modul. Prasyarat mempelajari modul OPKR-30-001B antara lain adalah OPKR-10-018B.

C. Petunjuk penggunaan modul

Untuk mempermudah di dalam mempelajari modul ini, maka diharapkan siswa membaca dengan baik petunjuk penggunaan modul ini baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus, berikut ini:

1.  Petunjuk Bagi Siswa

Pertama, sebelum mempergunakan modul ini, terlebih dahulu sebaiknya anda mempelajari dan menguasai terlebih dahulu modul-modul prasyarat. Sebab untuk mencapai keberhasilan di dalam mempelajari modul ini diperlukan kemampuan atau kompetensi dalam bidang yang terkait dengan materi kegiatan. Seperti yang telah disampaikan pada pengantar modul ini, tanpa dikuasai materi prasyarat, maka akan terjadi kondisi yang diistilahkan sebagai beban berkelanjutan, dan kondisi ini akan menghambat proses pembelajaran melalui modul ini.

Kedua, untuk membantu kelancaran proses belajar, siswa dapat berhubungan dengan guru/tutor, yang bisa dimulai atas inisiatif dari siswa atau dari tutor. Sedangkan proses dan hasil kerja program ini, sepenuhnya menjadi tanggungjawab siswa. Masukan dapat diperoleh dari mana dan siapapun, namun apa yang masuk di dalam buku kerja menjadi tanggungjawab siswa secara mandiri, dan siap untuk dilakukan evaluasi pencapaiannya sebagai bentuk penampilan yang telah dikuasai.

Ketiga, untuk mencapai efisiensi dan efektivitas belajar, maka ikutilah petunjuk khusus, dan berbagai petunjuk yang terdapat di dalam setiap kegiatan belajar. Di samping itu, setiap kali menyelesaikan setiap kegiatan memberikan tanda Cek (V) pada kolom deskripsi kegiatan, sebagai tanda anda telah selesai mempelajari materi kegiatan belajar. Hal ini juga untuk menghindarkan terjadinya pengulangan/ pengabaian setiap aspek kegiatan di dalam buku modul ini.

Berikut ini petunjuk khusus yang perlu diperhatikan dalam pengerjaan modul ini, yaitu :

a.  Pelajarilah modul ini dengan baik terhadap sajian konsep yang diberikan pada setiap kegiatan belajar.

b.  Untuk memahami isi materi yang terdapat di dalam setiap kegiatan belajar, maka kerjakan semua pertanyaan yang diberikan pada setiap kegiatan belajar.

c.   Selain itu, diharapkan siswa dapat menyelesaikan tugas-tugas, dan bila diperlukan dapat dilakukan diskusi dengan 3–5 orang teman. Selanjutnya jawaban anda, tulis di dalam tempat yang telah disediakan.

d.  Bila anda telah selesai dan telah merasa menguasai modul ini, silahkan berhubungan dengan asesor/ guru/ tutor yang bersangkutan untuk mendapatkan pengujian atas kompetensi anda.

2.   Petunjuk Bagi Guru

Dalam penyelesaian modul ini, Guru bertindak sebagai tutor yang mendampingi siswa dalam menyelesaikan modul ini, beberapa hal yang perlu dilakukan ialah:

a.  Membantu siswa membuat perencanaan kegiatan belajar.

b.  Membantu siswa bila mengalami kesulitan/ hambatan dalam menyelesaikan modul ini.

c.   Membantu koordinasi siswa dalam mempergunakan fasilitas jurusan atau yang fasilitas lainnya.

d.  Sebagai tutor, guru jangan berlebihan dalam memberikan penjelasan, ingat kegiatan ini untuk mengarahkan  siswa dapat belajar mandiri. Penjelasan cenderung bersifat mengarahkan bukan menuntaskan sebagaimana saat mengajar.

e.  Setelah siswa selesai dan siap diuji, maka tugas Guru/Tutor adalah menguji kompetensi mahasiswa sebagai wujud pengusaan materi modul.

D. Tujuan akhir

Melalui proses pembelajaran modul ini, diharapkan siswa dapat mengusai pengetahuan dan cara permeliharaan unit kopling beserta komponen pengoperasiannya.


E.  Kompetensi

Modul OPKR-30-004B membentuk kompetensi pemeliharaan/ servis transmisi manual. Uraian kompetensi dan subkompetensi ini dijabarkan seperti di bawah ini.

KOMPETENSI           :   Pemeliharaan/servis unit kopling dankKomponen-komponen sistem pengoperasian

KODE                      :   OPKR-30-004B

JAM PEMBELAJARAN :   60 Jam

SUB KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMBELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

1.   Memelihara/ servis unit kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasian. § Pemeliharaan/servis unit kopling dan komponen-komponen sistem pengopera-sian dilaksanakan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen/sistem lainnya.

§ Informasi yang benar diakses dari spesifikasi pabrik dan dipahami.

§ Prinsip kerja kopling

§ Unit kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasian yang perlu dipelihara/di servis.

§ Data spesifikasi pabrik

§ Melaksanakan tugas rutin dengan prosedur yang ditetapkan dimana kemajuan ketrampilan seseorang di awasi secara berkala oleh pengawas.

§ Melaksanakan tugas yang lebih luas dan sulit dengan peningkatan kemandirian dan tanggung jawab individu. Hasil pekerjaan diperiksa oleh pengawas

§ Prinsip kerja kopling

§ Prosedur pemeliha-raan/servis yang sesuai

§ Persyaratan keamanan perlengkapan kerja

§ Persyaratan keamanan kendaraan

§ Mengumpulkan, menganalisa dan mengorganisasikan informasi

§ Mengkomunikasikan gagasan dan informasi

§ Merencanakan dan mengorganisir kegiatan

SUB KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMBELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

§ Semua prosedur pemelihara-an/servis dilaksanakan berdasarkan spesifikasi dan toleransi terhadap pabrik.

§ Seluruh kegiatan pemelihara-an/servis unit kopling dilaksa-nakan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K 3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/kebijakan perusahaan.

§ Langkah kerja pemeliharaan/servis unit kopling berdasarkan SOP, K3, peraturan dan prosedur/kebijakan perusahaan. § Melaksanakan kegiatan yang kompleks dan tidak rutin; menjadi mandiri dan bertanggung jawab untuk pekerjaan yang lainnya. § Kebijakan pabrik/ perusahaan yang sesuai

§ Persyaratan keselamatan diri.

§ Penggunaan gagasan matematis dan teknis

§ Pemecahan masalah

§ Penggunaan teknologi


F.     Cek kemampuan

Sebelum mempelajari modul OPKR-30-004B, isilah dengan cek list (Ö) kemampuan yang telah dimiliki siswa dengan sikap jujur dan dapat dipertanggung jawabkan :

Sub Kompetensi

Pernyataan

 Jawaban

Bila jawaban ‘Ya’, kerjakan 

Ya

Tidak

1.  Memelihara/ servis unit kopling dan komponen-komponennya Saya mampu menjelaskan konsep kerja unit kopling

Saya mampu menjelaskan konsep kerja sistem pengoperasian kopling

Saya mampu memelihara/ servis unit kopling dan sistem pengoperasiannya dengan baik

Soal Tes Formatif 1.

Soal Tes Formatif 2.

Soal Tes Formatif 3.

 

 

 

Apabila siswa menjawab Tidak,  pelajari modul ini

 


BAB II

PEMELAJARAN

 

A. Rencana Belajar Siswa

Sebelum anda melanjutkan mempelajari modul ini, sebaiknya anda membuat rencana belajar dan mendiskusikan dengan guru/tutor yang berkaitan dengan modul pembelajaran ini. Untuk membuat pe-rencanaan kegiatan belajar anda, maka isilah rencana kegiatan tersebut dalam format berikut ini.

Judul                     : Pemeliharaan/servis unit Kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasiannya

Kompetensi            : Pemeliharaan/servis unit Kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasiannya

Sub Kompetensi      :

1.  Menjelaskan konsep fungsi dan cara kerja kopling

2.  Menjelaskan mekanisme komponen penggerak kopling

3.  Mengidentifikasi kerusakan kopling dan komponennya

4.  Memelihara dan merawat unit Kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasiannya

5.  Menggunakan alat dan perlengkapan dengan benar

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat belajar

Alasan Perubahan

Tanda tangan Guru

Keg. Bel.1
Keg. Bel.2
Keg. Bel.3
Uji Komp.

 

 

 

 

B. Kegiatan Belajar

1.  Kegiatan Belajar 1 : Fungsi dan Cara Kerja unit Kopling dan Komponen pengoperasiannya

a.  Tujuan kegiatan belajar 1

Setelah menyelesaikan kegiatan belajar 1, diharapkan siswa dapat:

1). Menjelaskan konsep dasar fungsi dan kerja unit kopling

2). Menjelaskan macam-macam jenis  kopling dan komponenya

b.  Uraian Materi 1

1) Konsep dasar fungsi dan kerja unit kopling

Kopling dan komponen pengoperasiannya yang akan dibahas dalam modul ini adalah yang dipergunakan pada kendaraan bermotor khususnya untuk kendaraan ringan, yaitu sepeda motor, sedan dan mobil penumpang. Kopling dan komponen pengoperasiannya merupakan bagian dari sistem pemindah tenaga dari sebuah kendaraan, yaitu sistem yang berfungsi memindahkan tenaga dari sumber tenaga (mesin) ke roda ken-daraan (pemakai/penggunaan tenaga).

Pemindahan tenaga dari mesin kesistem penggerak pada kendaraan, tentunya diperlukan suatu proses yang halus tanpa adanya kejutan, yang menyebabkan ketidak nyamanan bagi pengendara dan penumpang. Di samping itu, kejutan juga dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada bagian mesin.

Sistem pemindah tenaga secara garis besar terdiri dari Unit kopling, transmisi, defrensial, poros dan roda kendaraan. Sementara Posisi unit kopling dan komponennya (Clutch Assembly), terletak pada ujung paling depan dari sistem pemindah tenaga pada kendaraan. Sesuai dengan fungsinya, yaitu untuk memutus dan menghubungkan, unit kopling memutus dan menghubungkan aliran daya/gerak/momen dari mesin ke sistem pemindah tenaga. Dengan adanya kopling, maka saat tidak diperlukan tenaga gerak, maka tidak perlu harus mematikan sumber gerak (mesin).

Posisi unit kopling pada kendaraan secara skema dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Posisi Kopling (Clutch) pada kendaraan

Rangkaian pemindahan tenaga berawal dari sumber tenaga (Engine) kesistem pemindah tenaga, yaitu masuk ke unit kopling (Clutch) diteruskan ketransmisi (Gear Box) ke propeller shaft dan keroda melalui differensial (Final Drive).

Jenis kopling paling tidak dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu kopling dengan menggunakan gigi, menggunakan gesekan, dan menggunakan tekanan hidrolis. Secara skema seperti terlihat pada gambar 2 berikut ini.

.

Gambar 2. Kopling jenis Dog, Friction dan Hidrolic.

Kopling jenis dog banyak dipergunakan pada mekanisme hubungan roda gigi transmisi. Untuk menyambungkan antara poros sumber tenaga dengan poros yang digerakan biasanya kopling ini mengalami kesulitan bila tidak dalam kondisi ber-henti. Untuk itu pada transmisi dilengkapi dengan komponen yang disebut dengan synchronmesh. Synchronmesh pada dasar nya adalah salah satu bentuk kopling gesek dengan bentuk konis. Kopling konis ini akan menyamakan gerak kedua gigi yang akan dihubungkan, sehingga kopling dog akan mudah disambungkan.

Kopling gesek (Friction Clutch) adalah proses pemindahan tenaga melalui gesekan antara bagian penggerak dengan yang akan digerakan. Konsep kopling ini banyak dipergunakan pada sistem pemindah tenaga kendaraan, khususnya pada kendara-an ringan, sepeda motor, sedan dan mobil penumpang lainnya.

Kopling hidrolis banyak dipergunakan pada kendaraan dengan transmisi otomatis. Proses kerjanya memanfaat-kan tekanan hidrolis, dan pemindahan dari satu kopling kekopling yang lainnya, dilakukan dengan mengatur aliran hidrolisnya.

Berikut ini akan dibahas Konsep kerja kopling gesek yang banyak digunakan dapat dijelaskan melalui gambar 3 dan 4.

Gambar 3. Saat Piringan pemutar (Drive Disc) tidak berhubungan

dengan piringan yang diputar (Driven disk)

Berdasarkan skema rangkaian tersebut, kini terlihat fungsi utama kopling adalah memutus dan menghubungkan jalur tenaga dari mesin ke roda kendaraan. Proses perpindahan tenaga, poros engkol (crank shaft) memutar drive disc dalam kopling. Selama piringan/disc yang lain (driven disc) tidak berhubungan dengan drive disc, maka tidak ada tenaga/torsi/ gerak yang ditransfer dari mesin ke pemindah daya. Atau kopling dalam kondisi bebas.

Pada saat drive disc dan driven disc bersinggungan, maka drive disc akan memutar driven disc yang berhubungan dengan poros input transmisi. Sebagai hasilnya, torsi/gaya putar dari mesin ditransfer melalui kopling ke komponen  pemindah daya yang lainnya hingga ke roda penggerak. Saat kedua disc bersinggungan, dan saling berputar bersama dapat diilustrasikan dalam gambar 3 berikut ini.

Gambar 4. Saat Kedua piringan berhubungan dan berputar bersama.

Pada prakteknya, saat menghubungkan kopling, yaitu disaat bersamaan melepas pedal kopling, tidak dilepas langsung namun sedikit demi sedikit hingga terhubung. Proses ini untuk menghindarkan terjadinya kejutan saat kedua berhubungan. Sebab bila kedua piringan tersebut, berhubungan secara langsung tentu akan terjadi kejutan gerak pada kendaraan, dan ini sering dialami oleh pengemudi pada pengalaman pertama-nya melepas pedal kopling, hingga mobilnya bergerak tersendat-sendat. Jadi dengan melepas kopling sedikit (kalau istilah masyarakat setengah kopling), terjadi perpindahan tenaga melalaui gesekan plat kopling. Dengan kata lain, perpindahan tidak terjadi sekaligus.

2) Macam-macam Kopling Gesek.

Seperti telah dijelaskan di atas, kopling gesek banyak digunakan pada kendaraan ringan. Pada kendaraan roda empat menggunakan jenis kering dengan plat tunggal. Sedangkan pada sepeda motor, menggunakan jenis basah dengan plat ganda. Perbedaan kopling basah dan kering, karena plat kopling tidak kena minyak pelumas untuk jenis kering, dan plat kopling bekerja dalam minyak pelumas untuk jenis basah.

a).Kopling gesek pelat tunggal.

Komponen-komponen kopling gesek pelat tunggal secara bersamaan membentuk rangkaian kopling/ kopling set (clutch assembly). Seperti terlihat pada gambar 5 berikut ini.

Gambar 5. Clutch Assembly

Komponen utama dari kopling gesek ini adalah sebagai berikut :

(1) Driven plate (juga dikenal sebagai piringan kopling, pelat kopling atau friction disc/piringan gesek, atau kanvas kopling). Plat kopling bagian tengahnya berhubungan slip dengan poros transmisi. Sementara ujung luarnya dilapisi kampas kopling yang pemasangannya di keling. Konstruksinya dapat dilihat pada gambar 6.

 

 

 

Gambar 6. Plat kopling tunggal.

Lapisan plat kopling disebut dengan kanvas kopling terbuat dari paduan bahan asbes dan logam. Paduan ini dibuat dengan tujuan agar plat kopling dapat memenuhi persyaratan, yaitu :

(a). Tahan terhadap panas. Panas dalam hal ini terjadi karena terjadi gesekan yang memang direncanakan saat kopling akan dihubungkan.

(b). Dapat menyerap panas dan membersihkan diri. Gesekan akan menyebabkan panas dan kotoran debu bahan yang aus. Kanvas kopling dilengkapi dengan alur yang berfungsi untuk ventilasi dan menampung dan membuang debu yang terjadi.

(c). Tahan terhadap gesekan. Kanvas kopling direncana-kan untuk bergesekan, maka perlu dibuat tahan terhadap keausan akibat gesekan.

(d). Dapat mencengkeram dengan baik.

Plat kopling dilengkapi dengan alat penahan kejutan baik dalam bentuk pegas ataupun karet. Alat ini dipasang secara radial, hingga disebut dengan pegas radial. Konstruksinya seperti terlihat pada gambar 7 berikut ini.

Gambar 7. Pegas Radial Plat Kopling

Pegas radial berfungsi untuk meredam getaran/kejutan saat kopling terhubung sehingga diperoleh proses penyambungan yang halus, dan juga getaran atau kejutan selama menghubungkan/bekerja. Untuk itu maka pegas radial harus mampu menerima gaya radial yang terjadi pada plat kopling memiliki elastisitas yang baik. Namun demikian karena penggunaan yang terus menerus, maka pegas radial dapat mengalami kerusakan. Untuk yang dalam bentuk karet, kemungkinan karetnya berkurang/tidak elastis lagi atau pecah. Sedangkan yang pegas ulir, kemungkinan berkurang panjang bebasnya, yang biasanya ditunjukan dengan ter-jadinya kelonggaran pegas dirumahnya dan menimbulkan suara.

Plat kopling di samping pegas radial juga dilengkapi dengan pegas aksial. Konstruksinya seperti terlihat pada gambar 8 berikut ini.

Gambar 8. Pegas Aksial Plat Kopling

Pegas aksial dipasang diantara kanvas kopling, dan bentuknya ada dua macam. Gambar 8 A pegas aksial berbentuk E dan Gambar B pegas aksial berbentuk W.

Fungsi pegas aksial adalah untuk mendapatkan senntuhan yang halus saat plat kopling mulai terjepit oleh plat tekan pada fly wheel. Dengan kata lain terjadi proses menggesek terlebih dahulu sebelum terjepit kuat oleh plat tekan pada fly wheel.

(2) Pressure plate (plat penekan) dan rumahnya, unit ini yang berfungsi untuk menekan/menjepit kampas kopling hingga terjadi perpindahan tenaga dari mesin ke poros transmisi.

Untuk kemampuan menjepitnya, plat tekan didukung oleh pegas kopling. Pegas kopling paling tidak ada dua macam, yaitu dalam bentuk pegas coil dan diafragma atau orang umum menyebutnya sebagai matahari. Kontruksinya seperti terlihat pada gambar 9 berikut ini.

 

 

 

Gambar 9. Clutch Asembly dengan pegas diafragma

dan pegas coil.

Clutch Asembly sebelah kiri menggunakan pegas diafragma dan yang sebelah kanan menggunakan pegas coil. Karena fungsi pegas adalah untuk menjepit plat kopling, ternyata keduanya mempunyai karateristik kemampuan kerja yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 10.  Perbandingan kemampuan pegas diafragma

dengan pegas coil.

Pada gambar 10, terdapat dua garis, garis yang penuh menggambarkan tekanan pegas diafragma, sedangkan garis terputus-putus menggambarkan tekanan pegas coil. Pada point a menunjukan posisi pada saat plat kopling sudah aus. Pada posisi ini terlihat bahwa pegas diafragma memberikan tekanan yang lebih besar dibandingkan dengan pegas coil. Besarnya tekanan yang diberikan ini akan menentukan tingkat kemungkinan terjadinya slip pada kopling. Sehingga saat plat kopling sudah aus, penggunaan pegaas coil kemungkinan akan terjadi sllip lebih besar dibandingkan dengan pegas diafragma. Hal ini karena tekanan yang diberikan oleh pegas coil lebih kecil

Pada saat plat koplingnya masih baru atau tebal keduanya memberikan kemampuan tekanan yang sama besarnya. Posisi ini digambarkan pada titik poin b. Pada titik poin c menggambarkan tekanan pegas saat pedal kopling diinjak penuh. Pegas coil memberikan tekanan yang lebih besar dibandingkan pegas diafragma. Hal ini berarti terkait dengan besarnya tenaga pengemudi untuk membebaskan kopling. Kalau pegasnya coil berarti tenaga injakan kopling lebih berat dibandingkan bila menggunakan pegas diafragma.

Pegas diafragma memberikan tekanan lebih merata dibandingkan pegas coil. Bentuk pegas diafragma bila dilihat dari depan seperti gambar 11 berikut ini.

Gambar 11. Pegas diafragma/matahari.

(3) Clutch release atau throwout bearing, unit ini berfungsi untuk memberikan tekanan yang bersamaan pada pressure plate Lever dan menghindarkan terjadinya gesekan antara pengungkit dengan pressure plate Lever untuk pegas coil. Sedangkan yang pakai pegas difragma langsung keujung pegas.

Bantalan tekan ini ada tiga macam. Seperti terlihat pada gambar 12 berikut ini.

Gambar 12. macam-macam bantalan tekan kopling

Gambar 12.1 adalah bantalan tekan yang mampu menerima beban aksial dan menyudut. Gambar 12.2 bantalan tekan yang hanya mampu menerima beban aksial. Keduanya memerlukan pelumasan, bila pelumasnya habis maka keduanya akan mengalami kerusakan. Sedangkan gambar 12.3 adalah bantalan tekan yang terbuat dari karbon yang tidak memerlukan  pelumasan.

(4) Throwout lever/Clutch Fork/plate Lever berfungsi untuk menyalurkan tenaga pembebas kopling.

Konstruksi di atas berarti plat tekan bersama rumahnya dipasang menggunakan baut pada fly wheel. Sementara plat kopling dipasang diantara fly wheel dengan pelat tekan, dan bagian tengahnya dihubungkan dengan poros transmisi dengan sistem sliding. Dengan demikian Prinsip dasar bekerjanya kopling gesek dengan plat tunggal yang banyak digunakan pada kendaraan roda empat ini seperti terlihat pada gambar 13 berikut ini.

Gambar 13. Prinsip kerja kopling plat tunggal

Pada posisi seperti gambar 13 berarti kopling sedang bekerja, dimana plat kopling terjepit oleh Fly wheel (6) dan Pressure plate (4) yang mendapat tekanan dari pegas kopling (7). Dengan demikian putaran mesin disalurkan melalui fly wheel ke plat kopling dan kemudian ke poros primer (2).

Sewaktu pedal kopling (9) diinjak, gerakan menarik sambungan pengatur (11) dan garpu kopling (10). Gerakan tersebut menyebabkan bearing (8) dan membawa pressure plate (4) bergerak kekanan melawan tegangan pegas kopling (7). Hal ini berarti menyebabkan plat kopling (3) terbebas dari jepitan. Sehingga putaran dari mesin terputus tidak tersalurkan ke sistem pemindah tenaga.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 14 berikut ini.

Gambar 14. Kopling Plat Tunggal Dengan Posisi Terhubung

Poros yang dihubungkan menggunakan kopling adalah poros engkol (Driver shaft) dengan poros kopling yang tidak lain adalah poros yang masuk ke transmisi (Driven Shaft). Pada gambar 14 plat kopling pada posisi terhubung terjepit diantara plat tekan dengan Fly wheel, kekuatan jepitnya diperoleh dari tegangan pegas kopling yang dalam hal ini dalam bentuk pegas diafragma. Dengan posisi demikian maka putaran poros transmisi akan sama dengan putaran mesin.

Gambar 15. Kopling Plat Tunggal Dengan Posisi bebas

Pada saat tuas pembebas ditekan maka gayanya diteruskan ke bantalan tekan dan menekan pegas diafragma. Pegas diafragma mengungkit plat penekan, sehingga plat kopling terbebas. Dengan kata lain, putaran poros engkol/mesin tidak tersalurkan ke sistem pemindah tenaga. Kondisi ini diperlukan saat memindah kecepatan transmisi, saat mengerem kendaraan, dan saat menghentikan kendaraan.

b).                Kopling gesek plat ganda.

Kopling gesek plat ganda banyak digunakan pada kendaraan ringan seperti sepeda motor dan dalam kerjanya tercelup di dalam oli mesin. Konstruksinya seperti terlihat pada gambar 16.

Gambar 16. Komponen kopling gesek plat ganda.

Konstruksi kopling gesek plat ganda menggunakan dua jenis plat, yaitu plat gesek dan plat kopling. Plat gesek tanpa lapisan kanvas, seluruhnya dari logam. Sedangkan plat kopling pada bagian yang bersentuhan dengan plat gesek dilapisi dengan kanvas pada kedua sisinya. Jumlah dan lebar plat sangat ditentukan besarnya tenaga yang akan dipindahkan.

Rangkaian komponen kopling gesek plat ganda dapat digambarkan sebagai berikut.

 

 

Gambar 17. Rangkaian kopling gesek plat ganda.

Rangkaian kopling tersebut terdiri dari satu plat tekan yang ditekan oleh 4 sampai 6 buah pegas kopling.Terdapat 4 buah plat gesek dan 4 buah plat kopling yang dijepit oleh plat tekan.

Plat kopling dipasang pada rumah yang disambungkan dengan roda gigi yang berhubungan dengan transmissi. Sementara plat gesek dipasang pada dudukan plat gesek yang disambungkan dengan roda gigi  primer yang berhubungan dengan poros engkol.

Pada saat batang pembebas tidak ada tekanan, maka plat tekan menekan/menjepit plat kopling dan plat gesek secara bersama, sehingga terjadi aliran tenaga dari mesin ke roda gigi primer, ke plat gesek, pindah ke plat kopling, dan keroda gigi yang berhubungan dengan transmisi. Dengan kata lain, kopling menghubungkan tenaga mesin kesistem pemindah tenaga.

Pada saat batang pembebas mendapat gaya dari mekanisme operasonal kopling, akan mendorong Plat tekan kearah kiri (gambar 17), melawan tegangan pegas kopling. Maka terjadi kelonggaran jepitan terhadap plat kopling dan plat gesek, sehingga keduanya tidak berhubungan lagi. Posisi ini berarti tenaga dari mesin tidak tersalurkan kesistem pemindah tenaga.

c.  Rangkuman 1

1)  Kopling dan komponen pengoperasiannya merupakan bagian dari sistem pemindah tenaga dari sebuah kendaraan, yaitu sistem yang berfungsi untuk memutus dan menghubungkan tenaga dari sumber tenaga (mesin) ke roda kendaraan (pemakai/penggunaan tenaga).

2)  Sistem pemindah tenaga secara garis besar terdiri dari Unit kopling, transmisi, differensial, poros dan roda kendaraan. Sementara Posisi unit kopling dan komponennya (Clutch Assembly), terletak pada ujung paling depan dari sistem pe-mindah tenaga pada kendaraan.

3)  Rangkaian pemindahan tenaga berawal dari sumber tenaga (Engine) kesistem pemindah tenaga, yaitu masuk ke unit kopling (Clutch) diteruskan ketransmisi (Gear Box) ke pro-peller shaft dan keroda melalui defrensial (Final Drive).

4)  Komponen utama dari kopling mulai dari roda gila (flywheel) adalah sebagai berikut :

a)    Driven plate (juga dikenal sebagai piringan kopling, pelat kopling atau friction disc/piringan gesek). Plat kopling bagian tengahnya berhubungan slip dengan poros transmisi. Sementara ujung luarnya dilapisi kampas kopling yang pemasangannya di keling.

b)   Pressure plate (plat penekan) dan rumahnya, unit ini yang berfungsi untuk menekan/menjepit kampas kopling hingga terjadi perpindahan tenaga dari mesin keporos transmisi.

c)    Pressure plate Lever, berfungsi untuk mengungkit pressure plate dalam upaya membebaskan/meng-hubungkan kampas kopling

d)   Clutch release atau throwout bearing, unit ini berfungsi untuk memberikan tekanan yang bersamaan pada pressure plate Lever dan menghindarkan terjadinya gesekan antara pengungkit dengan pressure plate Lever

e)    Throwout lever berfungsi untuk menyalurkan tenaga pembebas kopling

5)  Terdapat dua macam kopling gesek yaitu kopling plat tunggal dan kopling plat ganda. Kopling gesek plat tunggal banyak dipergunakan pada kendaraan roda empat. Sedangkan kopling gesek plat ganda banyak dipergunakan pada sepeda motor. Ukuran kopling sangat ditentukan oleh besarnya tenaga mesin yang akan disalurkan melalui kopling

d.  Tugas 1

1)  Amati sistem kopling yang dipergunakan pada salah satu mobil yang ada di bengkel otomotif. Jelaskan cara kerja sistem kopling tersebut dengan disertai gambar skemanya.

2)  Seorang pengemudi mengeluhkan injakan pedal koplingnya terlalu sedikit. Apa analisis anda dan apa yang perlu anda lakkukan untuk mengatasi permasalahan pengemudi tersebut?

e.  Tes formatif 1

1)  Apakah fungsi kopling pada kendaraan bermotor?

2)  Sebutkan komponen utama kopling gesek, dan jelaskan fungsi masing-masing komponen tersebut!

3)  Apakah fungsi pegas radial dan pegas aksial pada plat kopling tunggal?

4)  Pegas kopling plat tunggal ada dua macam yaitu pegas diafragma dan coil. Jelaskan perbedaan karakteristiknya, dan manakah yang lebih menguntungkan?

5)  Jelaskan cara kerja kopling gesek dengan plat ganda.

 

 

 

Perhatian:

Sebelum melanjutkan pada kegiatan selanjutnya, cocokanlah jawaban Anda dengan yang termuat pada halaman berikut ini.


f.   Kunci jawaban formatif 1

1)  Fungsi kopling pada kendaraan bermotor adalah memutus dan menghubungkan penyaluran tenaga mesin keroda penggerak.

2)  Plat kopling berfungsi untuk memungkinkan perpindahan tenaga melalui gesekan.

Plat tekan untuk menjepit plat kopling yang didukung oleh pegas kopling.

Bantalan tekan untukmemberikan landasan pengungkit saat menekan pegas kopling dalam proses pembebasan hubungan.

3)  Kedua pegas berada pada plat kopling, pegas radial untuk menahan kejutan saat kopling terhubung, sedangkan pegas aksial untuk memungkinkan hubungan yang halus saat plat kopling mulai terjepit oleh plat tekan.

4)  Pegas diafragma lebih menguntungkan, yaitu tenaga untuk menekannya lebih ringan khususnya saat pedal ditekan penuh. Saat kanvas plat kopling menipis karena aus, pegas diafragma memberikan tekanan yang lebih tinggi dibandingkan pegas coil.

5)  Pada saat batang pembebas tidak ada tekanan, maka plat tekan menekan/menjepit plat kopling dan plat gesek secara bersama, sehingga terjadi aliran tenaga dari mesin ke roda gigi primer, ke plat gesek, pindah ke plat kopling, dan keroda gigi yang berhubungan dengan transmisi.

Pada saat batang pembebas mendapat gaya dari mekanisme operasonal kopling, akan mendorong Plat tekan kearah kiri (gambar 17), melawan tegangan pegas kopling. Maka terjadi kelonggaran jepitan terhadap plat kopling dan plat gesek, sehingga keduanya tidak berhubungan lagi. Posisi ini berarti tenaga dari mesin tidak tersalurkan ke sistem pemindah tenaga.

 

Perhatian:

¨    Apakah anda puas dengan jawaban yang anda buat? Jika belum, maka catatlah bagian yang anda tidak/kurang puas tersebut dan diskusikan dengan tutor anda.

¨    Bila anda puas, lanjutkan dengan kegiatan berikutnya.


2. Kegiatan Belajar 2

1. Kegiatan Belajar   :   Fungsi dan Cara Kerja Komponen                         Pengoperasian Unit Kopling

a.  Tujuan kegiatan belajar 2

Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, diharapkan siswa dapat:

1).  Menjelaskan konsep dasar fungsi dan kerja Komponen pengoperasian unit kopling

2).  Menjelaskan macam-macam jenis Komponen pengoperasian unit kopling dan komponenya

b.  Uraian Materi 2

1). Konsep dasar fungsi dan kerja Komponen pengoperasian unit kopling

Seperti telah dijelaskan di depan kopling berfungsi untuk memutus dan menghubungkan penyaluran tenaga mesin ke roda penggerak. Untuk mengoperasikan fungsi tersebut, pada kendaraan ada dua macam yaitu sistem mekanik dan sistem hidrolik. Sistem mekanik untuk memindahkan tenaga kaki melalui pedal kopling disalurkan kabel baja ke pengungkit (Throwout lever). Sementara pengoperasian sistem hidolik tenaga disalurkan melalui minyak rem yang dirangkai sedemikkian rupa sehingga dapat mengoperasikan kopling. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar 18.

Pengoperasian unit kopling sistem mekanik menggunakan kabel baja yang menghubungkan pedal kopling dengan tuas pembebas kopling. Saat pedal kopling diinjak, maka akan menarik kabel kopling yang diteruskan dengan menggerakan tuas pembebas kearah menekan pegas kopling. Sehingga plat kopling bebas tak terjepit oleh plat tekan.

Saat pedal dilepas, maka pedal kopling akan dikembalikan pada posisi semula oleh pegas pengendali pedal (8). Sementara tuas kopling akan kembali pada posisi semula oleh pegas diafragma.

Gambar 18. Pedal Kopling Sistem Mekanik

Sistem yang kedua adalah pengoperasian secara hidrolis dapat dilihat seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 19. Pedal Kopling Sistem hidrolis.

Pengoperasian kopling sistem hidrolis ini memanfaatkan tekanan hidrolis minyak. Pedal kopling dalam hal ini berfungsi untuk menekan minyak yang ada pada master silinder dan selanjutnya disalurkan kesilinder kopling. Tekanan minyak selanjutnya mendorong tuas  pembebas dan bantalan tekan menekan pegas diafragma. Proses ini menyebabkan kopling memutuskan hubungan antara mesin dengan sistem pemindah tenaga.

Posisi saat pedal kopling dilepas, pedal akan dikembalikan keposisi semula oleh pegas pengembali. Sementara plunger master silinder akan kembali oleh pegas plunger yang ada di dalam master silinder. Karena tekanan sudah tidak ada, plunger dan tuas pembebas akan dikembalikan keposisi semula oleh pegas pengembali dan pegas diafragma.

Konstruksi master silinder kopling hidrolis seperti terlihat pada gambar 20 berikut ini.

Gambar 20. Master silinder kopling hidrolis.

Konstruksi master silinder dalam gambar tersebut, penampung minyak hidrolisnya (Reservoir) terpisah dan dihubungkan menggunakan pipa elastis. Minyak hidrolis dari reservoir melalui pipa ke master silinder melalui saluran penghubung (pipe joint).

Pada saat handel kopling diinjak, tenaganya dipindahkan ke push rod dan mendorong unit plunyer bergerak kearah kiri. Gerakan ini melawan pegas pengembaali plunger (return spring) dan menekan minyak hidrolis keluar dari master silinder melalui ujung sebelah kiri, masuk ke pipa penghubung menuju ke silinder kopling.

Karena sesuatu penyebab, jumlah minyak hidrolis tentu akan berkurang khususnya karena kebocoran atau katup check kotor atau macet. Untuk menjaga agar minyak hidrolis dalam sistem tetap jumlahnya, maka perlu penambahan. Penambahan minyak hidrolis ini diambil dari minyak persediaan direservoir. Caranya, saat unit plunger bergerak kekanan saat pedal kopling dilepas, maka minyak dari reservoir akan masuk kesistem melalui katup check (check valve). Dengan demikian minyak hidrolis pada sistem akan tetap terjaga kuantitasnya.

Berkurangnya minyak hidrolis dalam sistem operasional kopling hidrolis akan menyebabkan langkah tekan pedal kopling berkurang, atau kemungkinan gerakan pedal tidak tersalurkan hingga ke tuas pembebas kopling. Bila ini terjadi maka fungsi kopling tidak dapat dilaksanakan, berarti proses pemutusan hubungan tenaga dari mesin ke sistem pemindah tenaga tidak dapat dilaksanakan, dan tenaga mesin akan selalu terhubung tidak dapat diputuskan oleh kopling.

Silinder kopling kopling berfungsi merubah tenaga hidrolis pengoperasian kopling menjadi tenaga mekanik, untuk mendorong tuas pembebas kopling. Tekanan minyak hidrolis dari master silinder diteruskan melalui pipa dan masuk ke silinder kopling (dari ujung sebelah kanan) mendorong piston silinder kopling dan diteruskan ketuas pembebas kopling melalui push rod. Konstruksinya seperti terlihat pada gambar 21 berikut ini.

Gambar 21. Silinder kopling sistem hidrolis.

Pada silinder kopling dilengkapi dengan baut bleeding (bleeder plug) yang berfungsi untuk mengeluarkan udara dari sistem hidrolis. Seperti diketahui bila sistem hidrolis kemasukan udara, maka sistem akan terganggu kerjanya. Hal ini karena saat terjadi penekanan, maka tekanan tersebut mengkompresikan udara tersebut baru menekan minyak. Bila jumlah udaranya banyak maka terjadi penekanan dari master silinder, namun piston silnder kopling tidak bergerak. Oleh karena itu udara harus dikeluarkan dari sistem hidrolis.

Pada silinder kopling juga dilengkapi dengan boot, yaitu karet penutup yang elastis untuk mencegah kotoran masuk kesilinder kopling. Karet penutup ini sangat penting mengingat posisi silinder kopling berada dibawah kendaraan, yang tentunya sangat banyak berbagai kotoran dapat mengenainya. Kotoran tentu akan menyebabkan kerusakan, bila sampai masuk kesilinder kopling.

Sistem pengoperasian kopling untuk kendaraan berat seperti Bus, Truk, atau alat berat lainnya, sering dilengkapi dengan Boster. Boster adalah unit perlengkapan yang dipergunakan untuk meringankan tenaga untuk mengoperasi-kan kopling. Perlengkapan ini dioperasikan menggunakan kevacuman, pada mesin diesel biasanya diambil dari pompa vacum yang dipasang pada sisi belakang alternator.

Untuk membandingkan antara sistem yang pakai boster dengan sistem yang tidak menggunakan boster dapat dilihat pada gambar 22 berikut ini. Keduanya menggunakan sistem hidrolis, yang menggunakan boster, unit boster dipasang pada silinder slave.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 22. Perbandingan Unit Kopling Sistem Boster

Konstruksi boster yang dipasang pada silinder  kopling dapat dilihat pada gambar 23 berikut ini.

Gambar 23. Boster Kopling Hidrolis

c.  Rangkuman 2

1)  Kopling merupakan bagian dari sistem pemindah tenaga dari sebuah kendaraan, yaitu sistem yang berfungsi memutus dan menghubungkan tenaga dari sumber tenaga (mesin) ke roda kendaraan (pemakai/penggunaan tenaga).

2)  Sistem pengoperasian kopling merupakan mekanisme pengendalian fungsi kopling yang dilakukan oleh pengemudi. Sistem pengoperasian kopling memungkinkan pengemudi dengan mudah memutus dan  menghubungkan kopling sesuai dengan yang diinginkan.

3)  Terdapat dua macam sistem pengoperasian kopling yaitu sistem mekanik dan sistem hidrolis.

4)  Komponen pengoperasian kopling sistem mekanik adalah sebagai berikut :

a)  Pedal kopling berfungsi untuk menyalurkan tenaga pengemudi melalui injakan kakinya, dalam upaya mengendalikan kerja kopling.

b)  Kabel kopling berfungsi untuk memindahkan gerakan tenaga injakan kaki pengemudi pada pedal kopling, ke tuas pembebas kopling.

c)  Batang ulir pada ujung kabel kopling yang berhubungan dengan tuas pembebas berfungsi untuk mengatur gerak bebas tuas pembebas.

d)  Pegas pengendali pedal kopling, berfungsi untuk mengembalikan posisi pedal kopling setelah dipergunakan untuk mengoperasikan kopling.

5)  Komponen pengoperasian kopling sistem hidrolis adalah sebagai berikut :

a)  Master silinder kopling, berfungsi untuk merubah gerak mekanis dari pedal kopling menjadi tekanan minyak hidrolis.

b)  Pipa hidrolis berfungsi untuk menyalurkan tekanan hidrolis yang dihasilkan dari master silinder kopling.

c)  Silinder kopling berfungsi merubah tekanan hidrolis dari master silinder menjadi gerak mekanis yang disalurkan ke push rod dan diteruskan ke tuas pembebas kopling.

d)  Boster kopling berfungsi untuk meringankan tenaga injakan pedal kopling. Komponen ini hanya dipergunakan pada kedndaraan berat.

d.  Tugas 2

1)  Amati sistem pengoperasian kopling yang dipergunakan pada salah satu mobil yang ada di bengkel otomotif! Jelaskan cara kerja sistem tersebut dengan disertai gambar skemanya!

2)  Seorang pengemudi mengeluhkan injakan pedal koplingnya terlalu sedikit. Apa analisis anda dan apa yang perlu anda lakkukan untuk mengatasi permasalahan pengemudi tersebut?

e.  Tes formatif 2

1)  Apakah fungsi sistem pengoperasian kopling pada kendaraan bermotor?

2)  Sebutkan komponen utama pengoperasian kopling sistem mekanis, dan jelaskan fungsi masing-masing komponen tersebut!

3)  Sebutkan komponen utama pengoperasian kopling sistem hidrolis, dan jelaskan fungsi masing-masing komponen tersebut!

4)  Apakah fungsi boster pada sistem pengoperasian kopling? Jelaskan secara singkat prinsip kerjanya?

5)  Apakah fungsi bleeder plug pada pengoperasian kopling sistem hidrolis, dan kapan komponen tersebut dipergunakan?

Perhatian:

Sebelum melanjutkan pada kegiatan selanjutnya, cocokanlah jawaban Anda dengan yang termuat pada halaman berikut ini.


f.   Kunci jawaban formatif 2

1)  Fungsi sistem pengoperasian kopling pada kendaraan bermotor adalah mengendalikan fungsi kopling yaitu memutus dan menghubungkan penyaluran tenaga mesin keroda penggerak.

2)  Komponen pengoperasian kopling sistem mekanik adalah sebagai berikut :

a)  Pedal kopling berfungsi untuk menyalurkan tenaga pengemudi melalui injakan kakinya, dalam upaya mengendalikan kerja kopling.

b)  Kabel kopling berfungsi untuk memindahkan gerakan tenaga injakan kaki pengemudi pada pedal kopling, ke tuas pembebas kopling.

c)   Batang ulir pada ujung kabel kopling yang berhubungan dengan tuas pembebas berfungsi untuk mengatur gerak bebas tuas pembebas.

d)  Pegas pengendali pedal kopling, berfungsi untuk mengembalikan posisi pedal kopling setelah dipergunakan untuk mengoperasikan kopling.

3)  Komponen pengoperasian kopling sistem hidrolis adalah sebagai berikut :

a)  Master silinder kopling, berfungsi untuk merubah gerak mekanis dari pedal kopling menjadi tekanan minyak hidrolis.

b)  Pipa hidrolis berfungsi untuk menyalurkan tekanan hidrolis yang dihasilkan dari master silinder kopling.

c)  Silinder kopling berfungsi merubah tekanan hidrolis dari master silinder menjadi gerak mekanis yang disalurkan ke push rod dan diteruskan ke tuas pembebas kopling.

d)  Boster kopling berfungsi untuk meringankan tenaga injakan pedal kopling. Komponen ini hanya dipergunakan pada kedndaraan berat.

4)  Fungsi boster adalah untuk memperingan tenaga injak pedal kopling. Prinsip kerjanya memanfaatkan tekanan udara yang disalurkan pada piston boster kopling.

5)  Bleeder plug adalah sebuah baut bleeding, yang berfungsi untuk mengeluarkan udara dari sistem hidrolis.

 

Perhatian:

¨         Apakah anda puas dengan jawaban yang anda buat? Jika belum, maka catatlah bagian yang anda tidak/kurang puas tersebut dan diskusikan dengan tutor anda.

¨         Bila anda puas, lanjutkan dengan kegiatan berikutnya


3. Kegiatan Belajar 3 :   Pemeliharaan dan penyetelan unit Kopling dan Komponen pengoperasian

a.  Tujuan kegiatan belajar 3

Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, diharapkan siswa dapat:

1)  Menjelaskan prosedur pemeliharaan unit kopling dan komponen-komponen pengoperasiannya

2)  Menjelaskan prosedur penyetelan unit kopling dan komponen-komponen pengoperasiannya

3)  Mengidentifikasi kerusakan unit kopling dan komponen-komponen pengoperasiannya

b.  Uraian Materi 3

Pemeliharaan atau sering disebut dengan maintenace bertujuan untuk menjaga kinerja suatu komponen kendaraan tetap baik, dan mencegah atau menghindari terjadinya kerusakan pada komponen tersebut. Hal ini tentunya juga diperlukan terhadap unit kopling dan komponen pengoperasiannya. Hal ini mengingat fungsi dari unit kopling dan komponen pengoperasiannya sangat penting bagi lajunya kendaraan bermotor, dan terjadinya kerusakan pada sistem ini akan berpengaruh terhadap kinerja kendaraan secara menyeluruh.

Proses perawatan unit Kopling dan Komponen Pengoperasiannya sebenarnya tidak terlalu sulit, yaitu melakukan penyetelan dan mengidentifikasi beberapa gejala yang menunjukkan bahwa unit kopling dan komponen Pengoperasiannya mengalami permasalahan. Penyetelan merupakan prosedur agar suatu sistem dapat bekerja secara optimal.

1)  Proses perawatan dan penyetelan mekanisme Kopling sistem mekanis.

Proses penyetelan kopling yang perlu dilakukan adalah menyetel kebebasan pedal kopling, yaitu saat pedal tidak diinjak sampai mulai menekan. Fungsi kebebasan kopling ini dimaksudkan agar saat pedal kopling dilepas, unit pengoperasian kopling khususnya bantalan tekan tidak menyentuh unit kopling yang berputar bersama mesin. Sehingga akan mengurangi kerja bantalan tekan dan mengurangi kemungkinan terjadinya gesekan. Setiap kendaraan berbeda-beda, maka sebaiknya berapa besarnya kebebasan pedal kopling dilihat pada buku manualnya.

Perawatan dan penyetelan yang perlu dilakukan terhadap unit kopling sistem mekanik adalah memberi pelumasan dan melakukan penyetelan.

Gambar 24. Perawatan dan penyetelan kopling sistem mekanik.

Pada bagian kait perlu dilumasan menggunakan greeze, untuk menghindarkan keausan pada ujung-ujung kabel kopling. Pada bagian-bagian yang ditujunjuk pada gambar tersebut terjadi penggeseran dengan pembebanan, sehingga kemungkinan terjadi keausan cukup tinggi.

Penyetelan yang perlu dilakukan adalah menyetel kebebasan pedal kopling. Untuk berapa besar kebebasan pedal kopling, sangat bervariasi antar merk kendaraan. Oleh karena itu, perlu melihat spesifikasi kendaraan yang akan distel, dalam buku manual.

Cara penyetelannya untuk yang sistem mekanik, adalah sebagai berikut:

a).   Siapkan alat yang diperlukan

b).   Ukur kebebasan pedal kopling yang ada.

c).    Bandingkan dengan ukuran spesifikasi kendaraan tersebut.

d).   Bila tidak cocok, kendorkan mur pengunci pada ujung kabel kopling.

e).   Kendorkan mur penyetel bila jarak kebebasan lebih kecil. Atau keraskan mur penyetel bila jarak kebebasan lebih besar dari spesifikasi.

f).    Ulangi langkah 2 dan 3 sampai diperoleh ukuran kebebasan yang sesuai dengan spesifikasi.

g).   Uji hasil penyetelan dengan menjalankan kendaraan. Bila belum baik, ulangi langkah 5, 2 dan 3, hingga diperoleh hasil yang baik.

h).   Bersihkan kendaraan dan alat yang dipergunakan.

2)  Proses perawatan dan penyetelan mekanisme Kopling sistem hidrolis.

Unit kopling dan komponen operasional dengan sistem hidrolis pemeliharaannya agak lebih rumit dibandingkan yang sistem mekanik. Namun demikian masih tergolong sederhana dan mudah.

Dalam melakukan pemeliharaan, perlu memeriksa kondisi minyak hidrolis baik kualitas maupun kuantitasnya. Kualitas  terkait dengan berapa lama minyak tersebut telah digunakan, yaitu dengan melihat jumlah kilometer perjalanannya atau dapat juga dilihat dari warna minyak hidrolis. Bila sudah berwarna gelap, berarti minyak sudah waktunya diganti. Ini merupakan salah satu unsur pemeliharaan berkala. Bila sudah pada waktu pengantian, maka minyak perlu diganti dengan yang baru.

Prosedur penggantian minyak hidrolis koplingadalah sebagai berikut:

a).   Siapkan bahan dan alat yang diperlukan minyak hidrolis yang baru, kunci bleeding, slang elastis kecil, dan penampung minyak hidrolis.

b).   Kendorkan baut bleeder

c).    Pasang pipa elastis diujung baut bleeder dan ujung lainnya ke penampung minyak hidrolis.

d).   Tekan pedal kopling beberapa kali sampai dengan minyak yang direservoir habis.

e).   Tuangkan minyak hidrolis yang baru.

f).    Tekan kembali pedal kopling, hingga minyak yang keluar dari pipa elastis keluar minyak yang baru. Jaga minyak yang direservoir agar tidak kehabisan.

g).   Saat diketahui yang keluar pada pipa elastis sudah minyak yang baru, pedal kopling pertahankan pada posisi tertekan.

h).   Keraskan baut bleeder, dan pompalah padal kopling.

i).     Tunggu beberapa saat, dan coba tekan pedal kopling. Bila ringan tidak menggerakan tuas pembebas kopling, berarti sistem kemasukan udara.

j).    Maka lakukan pemblidingan terhadap sistem kopling sampai udara keluar dari sistem.

k).   Ulangi langkah 9). Hingga diperoleh penekanan yang baik.

l).     Tambahkan minyak hidrolis pada reservoir hingga batas maksimum, dan pasang tutup reservoir.

m).  Bersihkan alat dan perlengkapan yang telah dipergunakan.

Selanjutnya proses penyetelan kopling dengan pengoperasian sistem hidrolis, dengan langkah sebagai berikut:

a).   Siapkan alat dan perlengkapan yang diperlukan

b).   Menyetel kebebasan pedal kopling, seperti terlihat pada gambar 25 berikut ini.

Gambar 25. Penyetel Pedal kopling sistem hidrolis.

c).    Ukur kebebasan yang ada, sebelum distel.

d).   Hasilnya bandingkan dengan data pada buku service manual

e).   Bila sama, tidak perlu dilakukan penyetelan.

f).    Bila beda lakukan penyetelan pada push rod master silinder.

g).   Penyetelan kebebasan bantalan tekan, seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar 26. menyetel kebebasan bantalan tekan

h).   Ukur kebebasan yang ada, sebelum distel

i).     Hasilnya bandingkan dengan data pada buku service manual

j).    Bila sama, tidak perlu dilakukan penyetelan.

k).   Bila beda lakukan penyetelan pada push rod silinder kopling.

3)  Gejala Kerusakan kopling.

Gejala-gejala berikut ini menandakan bahwa terjadi kesalahan pada rangkaian kopling/kopling set (clutch assembly)

a).   Kopling selip

b).   Bergetar

c).    Gerakan kendaraan yang mengejut

d).   Suara berisik yang tidak lazim

e).   Tidak ada gerakan

Dari gejala-gejala di atas dapat dianalisis faktor penyebab, dan proses perawatan atau perbaikannya. Hasil analisis seperti terlihat pada tabel berikut ini.

Gejala-gejala

Penyebab

Perawatan

Perbaikan

1. Kopling Slip * Gerak bebas pedal kopling berlebihan Stel kebebasan pedal kopling
* Terdapat oli pada permuka-an disc Bongkar & bersihkan
*  Permukaan Disc bergelom-bang

Bongkar & gerinda/ ganti

*  Pegas kopling lemah Bongkar & ganti
*  Kabel kopling berkarat Lepas beri oli Lepas & ganti
*  Kapas kopling habis Bongkar & ganti
2. Kopling ber- getar *  Permukaan disc mengkilat Perbaiki/ganti
*  Terdapat oli pada plat kopling Bongkar & bersihkan atau ganti
*  Dreg Lager menggeser Bongkar & lumasi atau ganti
*  Pegas kopling lemah Bongkar & ganti
*  Kelingan kampas lepas Bongkar & ganti
*  Kontak permukaan disc rusak Bongkar & gerinda atau ganti
*  Dudukan mesin  atau trans-misi rusak Periksa & ganti
3.  Gerakan ken-daraan yang mengejut *  Kebebasan pedal kopling terlalu kecil Stel kebebasan pedal kopling
*  Keausan pada sambungan pengoperasian kopling Periksa & ganti
*  Kabel kopling memanjang Periksa & ganti
*  Minyak rem habis Periksa & isi
4. Suara berisik yang tidak lazim *  Dreg Lager rusak Bongkar & ganti
*  Pilot bearing rusak Bongkar & ganti
*  Kebebasan pedal kopling berlebihan Stel kebebasan pedal kopling
5. Tidak ada gerakan *  Plat kopling habis Bongkar & ganti
*  Kebebasan Pedal kopling Stel kebebasan pedal kopling
*  Baut pemegang unit rumah kopling kendor Bongkar & keraskan

 

 

c.  Rangkuman 3

1).  Kopling dan komponen pengoperasiannya merupakan bagian dari sistem pemindah tenaga dari sebuah kendaraan, yaitu sistem yang berfungsi memindahkan tenaga dari sumber tenaga (mesin) ke roda kendaraan (pemakai/penggunaan tenaga).

2).  Perawatan atau pemeliharaan terhadap suatu perlengkapan termasuk Unit Kopling dan Komponen Pengoperasiannya, dimaksudkan agar perlengkapan kendaraan tersebut dapat berfungsi dan bekerja sebagaimana seharusnya. Dengan proses perawatan yang baik, maka perlengkapan tersebut disamping akan dapat berfungsi dengan baik, juga memungkinkan diketahui terjadinya permasalahan lebih dini.

3).  Proses penyetelan kopling yang perlu dilakukan adalah menyetel kebebasan pedal kopling, yaitu saat pedal tidak diinjak sampai mulai menekan. Fungsi kebebasan kopling ini dimaksudkan agar saat pedal kopling dilepas, unit pengoperasian kopling khususnya bantalan tekan tidak menyentuh unit kopling yang berputar bersama mesin.

4)   Gejala-gejala kesalahan pada rangkaian kopling/kopling set (clutch assembly)

a).   Kopling selip

b).   Bergetar

c).    Gerakan kendaraan yang mengejut

d).   Suara berisik yang tidak lazim

e).   Tidak ada gerakan

d.  Tugas 3

1).  Amati sistem kopling dan komponen pengoperasiannya yang dipergunakan pada salah satu mobil yang ada di bengkel otomotif. Jelaskan cara kerja sistem kopling tersebut dengan disertai gambar skemanya.

2).  Seorang pengemudi mengeluhkan mobil bergetar saat pedal kopling dilepas. Apa analisis anda dan apa yang perlu anda lakkukan untuk mengatasi permasalahan pengemudi tersebut?

e.  Tes Formatif 3

1)  Apakah fungsi pemeliharaan dan perwatan unit kopling dan komponen pengoperasiannya?

2)  Apakah fungsi kebebasan pedal kopling, dan bagaimana cara melakukan penyetelannya?

3)  Bagaimana cara menyetel kopling sistem mekanik?

4)  Bagaimana cara menyetel kopling sistem hirolik, apa bedanya dengan cara untuk sistem mekanik?

5)  Apakah yang menjadi penyebab kopling tidak dapat melakukan fungsinya, dan bagaimana cara untuk mengetahui penyebabnya tersebut?

Perhatian:

Sebelum melanjutkan pada kegiatan selanjutnya, cocokanlah jawaban Anda dengan yang termuat pada halaman berikut ini.


f.   Kunci jawaban formatif 3

1).  Fungsi pemeliharaan dan perwatan unit kopling dan komponen pengoperasiannya adalah agar perlengkapan tersebut dapat berkeja secara optimal.

2).  Fungsi kebebasan pedal kopling adalah untuk menjamin bahwa pegas kopling dapat dapat menjepit plat kopling sepenuhnya, dan menghindarkan gesekan dreg lager saat tidak dipergunakan. Cara menyetelnya adalah dengan mengeraskan atau mengendorkan baut pengatur.

3). Cara menyetel kopling sistem mekanik adalah dengan mengatur baut yang ada pada ujung kabel yang terambung deng tuas pembebas kopling.

4).  Cara  menyetel kopling sistem hirolis adalah dengan menyetel kebebasan pedal kopling dan kebebasan bantalan tekan. Bedanya sistem mekanik hanya sekali stel.

5).  Kopling yang tidak berfungsi bisa tidak menghubungkan atau tidak bisa memutus hubungan. Permasalahan tidak bisa menghubungkan bisa disebabkan oleh kampas plat kopling habis, atau penyetelan pedal kopling yang terus menekan. Untuk mengetahuinya, stel pedal kopling, bila sudah tetep gak berfungsi maka penyebabnya plat kopling habis.

Perhatian:

¨         Apakah anda puas dengan jawaban yang anda buat? Jika belum, maka catatlah bagian yang anda tidak/kurang puas tersebut dan diskusikan dengan tutor anda.

¨         Bila anda puas, lanjutkan dengan kegiatan berikutnya.


g.  Lembar kerja 3

1)    Alat dan bahan :

a)  Sebuah kendaraan bermotor roda 4

b)  Buku manual kendaraan roda 4 tersebut

c)  Tool box

2)    Keselamatan Kerja :

Ikuti Prosedur Kesehatan dan Keselamatan Kerja

 

3)    Langkah Kerja :

a)     Siapkan alat dan perlengkapan praktek serta training obyek

b)     Perhatikan prosedur penyetelan yang terdapat di dalam buku manual

c)     Buat catatan penting yang diperlukan selama proses penyetelan

d)     Setelah selesai, kembalikan alat dan perlengkapan yang anda pergunakan.

 

4)    Tugas :

Buatlah laporan kegiatan praktiukum secara lengkap

 

 

 


BAB III

EVALUASI

 

A. Pertanyaan

1.  Apakah yang terjadi bila kopling dan komponen pengoperasiannya tidak ada pada kendaraan bermotor? Dan bagaimana cara kerjanya, jelaskan secara ringkas dan lengkap!

2.  Mengapa terdapat beberapa macam cara pengoperasian kopling pada kendaraan bermotor? Sebutkan keunggulan sistem pengoperasian yang menggunakan boster!

3.  Berdasarkan pengamatan anda baik pada kendaraan penggerak depan, belakang dan empat roda penggerak, apakah kesamaan posisi kopling pada kendaraan tersebut?

4.  Uraikan langkah-langkah proses penyetelan kebebasan pedal kopling!

5.  Bila sebuah kendaraan kopling dilepas namun kendaraan tidak bergerak, apa sajakah permasalahan yang terkait dengan unit kopling? Sebutkan dan jelaskan rasionalnya!

6.  Apakah prosedur keselamatan dan kesehatan kerja yang perlu diperhatikan di dalam memeriksa, memelihara, dan menyetel unit kopling dan komponen pengoperasiannya?


B. Kunci Jawaban

1.  Kendaraan tidak bisa jalan atau sulit dikendalikan. Prinsip kerja unit kopling dan komponen pengoperasiannya adalah memutus dan menghubungkan putaran mesin ke sistem pemindah tenaga. Untuk memutuskan hubungan adalah dengan menginjak pedal kopling.

2.  Disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi. Keunggulan penggunaan boster adalah tenaga untuk mengoperasikan kopling jadi lebih ringan.

3.  Kesamaannya adalah selalu berada pada rangkaian terdepan dari sistem pemindah tenaga.

4.  Langkah-langkah untuk menyetel kebebasan pedal kopling untuk yang sistem mekanik adalah:

a.  Ukur kebebasan pedal kopling yang ada.

b.  Bandingkan dengan ukuran spesifikasi kendaraan tersebut.

c.   Bila tidak cocok, kendorkan mur pengunci pada ujung kabel.

d.  Kendorkan mur penyetel bila jarak kebebasan lebih kecil. Atau keraskan mur penyetel bila jarak bebas melebihi spesifikasi.

e.  Ulangi langkah 2 dan 3 sampai diperoleh ukuran kebebasan yang sesuai dengan spesifikasi.

f.   Uji hasil penyetelan dengan menjalankan kendaraan. Bila belum baik, ulangi langkah 5, 2 dan 3, hingga diperoleh hasil yang baik.

5.  Terdapat dua kemungkinan, yaitu penyetelan yang terlalu keras. Hal ini menyebabkan plat tekan tidak menjepit plat kopling. Kemungkinan kedua plat kopling telah habis kanvasnya. Tanpa kanvas berarti tidak ada gesekan, sehingga kopling jadi slip.

6.  Keselamatan yang mengacu pada keselamatan manusia, dan kendaraan


C.    Kriteria Kelulusan

Aspek

Skor  (1-10)

Bobot

Nilai

Keterangan

Aspek Sikap:      

Syarat lulus, siswa minimal mencapai nilai 70 dengan skor setiap aspek minimal 7

1. Kebersihan alat dan perlengkapan  

5

 
2. Keselamatan dan kesehatan kerja  

10

 
3. Ketepatan perencanaan penyelesaian modul  

5

 
Aspek Kogntif:  

 

 
1. Kemampuan menjawab soal latihan  

5

 
2. Kemampuan menjawab soal evaluasi  

10

 
3. Kemampuan membuat kesimpulan  

5

 
Aspek Psikomotor:  

 

 
1. Kemampuan mnggunakan manual  

10

 
2. Kemampuan melakukan penyetelan  

20

 
3. Kemampuan menganalisis perma-salahan  

20

 
4. Kemampuan membuat laporan  

10

 

Jumlah

100

 

 

Kriteria Kelulusan :

70 s.d. 79        :  memenuhi kriteria minimal dengan bimbingan

80 s.d. 89        :  memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan

90 s.d. 100      :  di atas minimal tanpa bimbingan

 

 

 

 

 

 


BAB IV

PENUTUP

 

Siswa yang telah mencapai tingkat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke modul selanjutnya. Sementara mereka yang belum mencapai tingkat kelulusan minimal atau belum berhasil lulus, tidak diperkenankan untuk mengambil modul selanjutnya, dan harus mengulang kembali modul Pemeliharaan/servis Unit Kopling dan Komponen Pengoperasian ini.


Daftar Pustaka

Gill, Paul W. dkk.;Fundamentals of Internal Combustion Engine. New Delhi : Oxford & IBH Publishing CO., 1976.

Johnson, James A.V.. Automotive Diagnosis and Tune Up. New York : McGraw Hill Company, 1972.

Maleev, V.L., terjemahan oleh Bambang Priambodo; Operasi dan Pemeliharaan Mesin Diesel..Jakarta : Penerbit Erlangga, 1991.

Nakoela Soenarto  dan  Shoichi Furuhama,  Motor  Serba  Guna.  Jakarta : PT. Pradnya Paramita. 1985.

Toboldt, William. K dan Johnson, Larry; Automotive Encyclopedia, Illinois : The Good-heart – Willcox Company, inc. 1983.

Wardan Suyanto; Teori Motor Bensin, Jakarta : Depdikbud. 1989.

Wiranto Arismunandar  dan Osamu Hirao; Pedoman Untuk mencari Sumber Kerusakan, merawat, dan menjalankan kendaraan bermotor. Jakarta : PT. Pradnya Paramita, 1991.

Anonim, Suzuki SE416 Vitara, Service Manual.

 

Anonim, Hino Truck Chasis model FD3H, FF3H, FM3H, GD3H, GH3H, GT3H, Workshop Manual, Hino Motors, Ltd.

About these ads

Posted on April 21, 2011, in ilmu, otomotif. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: