Perbaikan Kopling dan Komponen-komponennya

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    DESKRIPSI

Modul OPKR-30-002B tentang “Perbaikan Kopling dan Komponen-komponennya” ini membahas beberapa hal penting yang perlu diketahui agar dapat melepas/membongkar, merakit/memasang unit kopling dan sistem pengoperasian kopling beserta komponen-komponennya secara efektif, efisien dan aman.

Modul ini terdiri atas dua cakupan materi yang akan dipelajari meliputi: Kegiatan belajar ke-1 membahas tentang jenis-jenis konstruksi, cara kerja, identifikasi kerusakan, metode perbaikan dan penyetelan unit kopling serta standar prosedur keselamatan kerja. Kegiatan belajar ke-2 membahas tentang jenis-jenis konstruksi, cara kerja, identifikasi kerusakan, metode perbaikan dan penyetelan sistem pengoperasian kopling serta standar prosedur keselamatan kerja. Setelah mempelajari modul ini siswa diharapkan dapat memahami konstruksi dan cara kerja unit kopling dan sistem pengoperasiannya.

B.    PRASYARAT

Sebelum memulai modul ini, peserta diklat pada Bidang Keahlian Mekanik Otomotif harus sudah menyelesaikan modul-modul prasyarat seperti terlihat dalam diagram pencapaian kompetensi maupun peta kedudukan modul. Prasyarat mempelajari modul OPKR-30-002B antara lain adalah OPKR-30-001B.

C.    PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

1.     Petunjuk Bagi Siswa

Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal, dalam menggunakan modul ini maka langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain :

a.     Bacalah dan pahami dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada masing-masing kegiatan belajar. Bila ada materi yang kurang jelas, siswa dapat bertanya pada guru yang mengajar kegiatan belajar tersebut.

b.     Kerjakan setiap tugas formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.

c.      Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikanlah hal-hal berikut ini :

1).   Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang berlaku.

2).   Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik.

3).   Sebelum melaksanakan praktikum, identifikasi (tentukan) peralatan dan bahan yang diperlukan dengan cermat.

4).   Gunakan alat sesuai prosedur pemakaian yang benar.

5).   Untuk melakukan kegiatan praktikum yang belum jelas, harus meminta ijin guru atau instruktur terlebih dahulu.

6).   Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

d.     Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada guru atau instruktur yang mengampu kegiatan pembelajaran yang bersangkutan.

2.     Petunjuk Bagi Guru

Dalam setiap kegiatan belajar guru atau instruktur berperan untuk:

a.     Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar

b.     Membimbing siswa melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar

c.      Membantu siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan siswa mengenai proses belajar siswa

d.     Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.

e.     Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan

f.      Merencanakan seorang ahli dari tempat kerja (DU/ DI) untuk membantu jika diperlukan

D.    TUJUAN AKHIR

Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini siswa diharapkan :

1.     Memahami jenis-jenis, prinsip kerja, dan konstruksi unit kopling dengan baik.

2.     Melakukan pembongkaran, pemeriksaan dan penggantian kerusakan unit kopling dan komponennya dengan prosedur yang tepat.

3.     Memahami jenis-jenis, prinsip kerja, dan konstruksi sistem pengoperasian kopling dengan baik.

4.     Melakukan pembongkaran, pemeriksaan dan penggantian kerusakan sistem pengoperasian kopling dan komponennya dengan prosedur yang tepat.


E.    KOMPETENSI

 

Modul OPKR-30-002B membentuk kompetensi perbaikan kopling dan komponen-komponennya, dengan sub-kompetensi melepas/ mengganti unit kopling dan komponen-komponennya serta membongkar/ memperbaiki komponen-komponen sistem pengoperasian kopling. Uraian kompetensi dan subkompetensi ini dijabarkan seperti di bawah ini.

KOMPETENSI                                           :        Perbaikan kopling dan komponen-komponennya

KODE                                                                         :        OPKR-30-002B

DURASI PEMELAJARAN         :        80 Jam @ 45 menit

Kompetensi

Sub Kompetensi

Kriteria Unjuk Kerja

Lingkup Belajar

Materi Pokok Pembelajaran

Sikap

Pengetahuan

Keterampilan

Perbaikan kopling dan komponen-komponennya 1.   Melepas/ mengganti unit kopling dan komponen-komponennya §  Pelepasan dan penggantian kopling dan komponennya dilaksanakan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen/ sistem lainnya

§  Informasi yang benar diakses dari spesifikasi pabrik dan dipahami

§  Semua prosedur pelepasan dan penggantian dilaksanakan berdasarkan spesifikasi pabrik

§  Seluruh kegiatan pelepasan dan penggantian dilaksanakan berdasarkan SOP (standard operation Procedures), undang-undang K-3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur kebijakan perusahaan.

§  Konstruksi dan prinsip kerja kopling

§  Identifikasi kerusakan dan metode perbaikan

§  Penyetelan kopling

§  Standar prosedur keselamatan kerja

§  Hati-hati bekerja di bawah mobil/ kendaran

§  Memperhatikan faktor-faktor keselamatan kerja dan lingkungan

§  Memahami konstruksi dan cara kerja kopling (sesuai dengan penggunaan)

§  Prosedur meleps/ mengganti dan penyetelan unit kopling dan komponen-komponennya

§  Persyaratan keamanan perlengkapan kerja

§  Persyaratan keamanan kendaraan

§  Kebijakan perusahaan

§  Persyaratan perlindungan diri

§  Membongkar, memeriksa dan mengganti kerusakan kopling dan komponennya

Kompetensi

Sub Kompetensi

Kriteria Unjuk Kerja

Lingkup Belajar

Materi Pokok Pembelajaran

Sikap

Pengetahuan

Keterampilan

2.   Membongkar/ memperbaiki komponen-komponen sistem pengoperasian kopling §  Pelepasan dan penggantian sistem pengoperasian kopling dan komponennya dilaksanakan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen/ sistem lainnya

§  Informasi yang benar diakses dari spesifikasi pabrik dan dipahami

§  Semua prosedur pelepasan dan penggantian dilaksanakan berdasarkan spesifikasi pabrik

§  Seluruh kegiatan pelepasan dan penggantian dilaksanakan berdasarkan SOP (standard operation Procedures), undang-undang K-3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur kebijakan perusahaan.

§  Konstruksi dan prinsip kerja sistem pengoperasian kopling

§  Identifikasi kerusakan dan metode perbaikan

§  Penyetelan sistem pengoperasian kopling

§  Standar prosedur keselamatan kerja

§  Teliti dan cermat  dalam mendiagnosis sistem kopling dan penggerak §  Prosedur perbaikan, pembongkaran dan penyetelan

§  Persyaratan keamanan perlengkapan kerja

§  Persyaratan keamanan kendaraan

§  Kebijakan perusahaan

§  Persyaratan perlindungan diri

§  Membongkar dan memperbaiki kerusakan sistem pengoperasian kopling dan komponennya


F.     CEK KEMAMPUAN

 

Sebelum mempelajari modul OPKR-30-002B, isilah dengan cek list (Ö) kemampuan yang telah dimiliki siswa dengan sikap jujur dan dapat dipertanggung jawabkan :

Sub Kompetensi

Pernyataan

 Jawaban

Bila jawaban ‘Ya’, kerjakan  

Ya

Tidak

1.  Melepas/ mengganti unit kopling dan komponen-komponennya Saya mampu melepas/ membongkar, mengganti dan merakit/ memasang unit kopling dan komponen-komponennya dengan baik Soal Tes Formatif 1.
2.  Membongkar/ memperbaiki komponen-komponen sistem pengoperasian kopling Saya mampu melepas/ membongkar, mengganti, memperbaki & merakit/ memasang sistem  pengoperasian kopling & komponen-komponennya dengan baik Soal Tes Formatif 2.

Apabila siswa menjawab Tidak,  pelajari modul ini


BAB II

PEMELAJARAN

A.    RENCANA BELAJAR SISWA

Rencanakan setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.     Melepas/ mengganti unit kopling dan komponen-komponennya
2.     Membongkar/ memperbaiki komponen-komponen sistem pengoperasian kopling

 

 

B. KEGIATAN BELAJAR

1.  Kegiatan Belajar 1 : Jenis-jenis dan Prinsip Kerja Kopling

a.  Tujuan Kegiatan Belajar 1

1)  Siswa dapat memahami jenis-jenis, prinsip kerja, dan konstruksi unit kopling dengan benar.

2)  Siswa dapat melepas/ mengganti unit kopling dan komponen-komponennya dengan benar.

b.  Uraian Materi 1

1)  Pengertian Kopling

Kopling (clutch) terletak di antara mesin dan transmisi. Kopling berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan putaran mesin ke transmisi.

Gambar 1.             Konstuksi letak unit kopling (clutch) pada kendaraan

Kopling dalam pemakaian dikendaraan, harus memiliki syarat-syarat minimal sebagai berikut :

a)  Harus dapat memutus dan menghubungkan putaran mesin ke transmisi dengan lembut.

Kenyamanan berkendara menuntut terjadinya pemutusan dan penghubungan tenaga mesin berlangsung dengan lembut. Lembut berarti terjadinya proses pemutusan dan penghubungan adalah secara bertahap.

b)  Harus dapat memindahkan tenaga mesin dengan tanpa slip

Jika kopling sudah menghubung penuh maka antara fly wheel dan plat koping tidak boleh terjadi slip sehingga daya dan putaran mesin terpindahkan 100%.

c)  Harus dapat memutuskan hubungan dengan sempurna dan cepat. Pada saat kita operasinalkan, kopling harus dapat memutuskan daya dan putaran dengan sempurna, yaitu daya dan putaran harus betul-betul tidak diteruskan, sedangkan pada saat kopling tidak dioperasionalkan, kopling harus menghubungkan daya dan putaran 100%. Kerja kopling dalam memutus dan menghubungkan daya dan putaran tersebut harus cepat atau tidak banyak membutuhkan waktu.

 

2)  Jenis-jenis kopling

a)  Kopling Gesek

Dinamakan kopling gesek karena untuk melakukan pemindahan daya adalah dengan memanfaatkan gaya gesek yang terjadi pada bidang gesek. Ditinjau dari bentuk bidang geseknya kopling dibedakan menjadi 2 yaitu :

(1) Kopling piringan (disc clutch)

Kopling piringan adalah unit kopling dengan bidang gesek berbentuk piringan atau disc.

(2) Kopling konis (cone clutch)

Kopling konis adalah unit kopling dengan bidang gesek berbentuk konis.

Ditinjau dari jumlah piringan/ plat yang digunakan kopling dibedakan menjadi 2 yaitu :

(1) Kopling plat tunggal

Kopling plat tunggal adalah unit kopling dengan jumlah piringan koplingnya hanya satu.

Gambar 2.          Konstruksi unit kopling plat tunggal

(2)  Kopling plat ganda/ banyak

Kopling plat banyak adalah unit kopling dengan jumlah piringan lebih dari satu.

Gambar 3.                Konstruksi unit kopling plat ganda

Gambar 4.          Konstruksi unit kopling plat banyak

Gambar 5.          Plat kopling pada unit kopling plat banyak

Gesekan antar bidang/ permukaan komponen tentu akan menimbulkan panas, sehingga  memerlukan media pendinginan. Ditinjau dari lingkungan/media kerja, kopling dibedakan menjadi :

(1) Kopling basah

Kopling basah adalah unit kopling dengan bidang gesek (piringan atau disc) terendam cairan/ minyak. Aplikasi kopling basah umumnya pada jenis atau tipe plat banyak, dimana kenyamanan berkendara yang diutamakan dengan proses kerja kopling tahapannya panjang, sehingga banyak terjadi gesekan/slip pada bidang gesek kopling dan perlu pendinginan.

(2) Kopling kering

Kopling kering adalah unit kopling dengan bidang gesek (piringan atau disc) tidak terendam cairan/ minyak (dan bahkan tidak boleh ada cairan/ minyak).

Untuk mendapatkan penekanan yang kuat saat bergesekan, sehingga saat meneruskan daya dan putaran tidak terjadi slip maka dipasangkan pegas penekan. Ditinjau dari pegas penekannya, kopling dibedakan menjadi :

(1). Kopling pegas spiral

Adalah unit kopling dengan pegas penekannya berbentuk spiral. Dalam pemakaiannya dikendaraan kopling dengan pegas coil memiliki kelebihan : penekanannya kuat dan kerjanya cepat/ spontan. Sedangkan kekurangannya : penekanan kopling berat, tekanan pada plat penekan kurang merata, jika kampas kopling aus maka daya tekan berkurang, terpengaruh oleh gaya sentrifugal pada kecepatan tinggi dan komponennya lebih banyak, sehingga kebanyakan kopling pegas spiral ini digunakan pada kendaraan menengah dan berat yang mengutamakan kekuatan dan bekerja pada putaran lambat.

Gambar 6.          Kopling gesek dengan pegas spiral

(2). Kopling pegas diaphragma

Adalah unit kopling dengan pegas penekannya berbentuk diaphragma. Penggunaan pegas diaphragma mengatasi kekurangan dari pegas spiral. Namun pegas diaphragma mempunyai kekurangan : kontruksinya tidak sekuat pegas spiral dan kurang responsive (kerjanya lebih lambat), sehingga kebanyakan kopling pegas diaphragm ini digunakan pada kendaraan ringan yang mengutamakan kenyamanan.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7.              Kopling gesek pegas diaphragma

Konstruksi kopling Gesek

 

 

 

Gambar 8.          Kopling gesek tipe plat tunggal

 

(1). Plat Kopling (Disc clutch)

Gambar 9.          Plat kopling

Plat kopling adalah komponen unit kopling yang berfungsi menerima dan meneruskan tenaga mesin dari roda penerus dan plat penekan ke input shaft transmisi. Bagian-bagian plat kopling terlihat pada gambar 3. Plat kopling dipasangkan pada alur-alur input shaft transmisi. Bagian plat kopling yang beralur dan berhubungan dengan input shaft transmisi dinamakan clutch hub. Kampas kopling (facing) dipasangkan pada plat kopling untuk memperbesar gesekan. Kampas kopling dipasangkan pada cushion plate dengan dikeling. Cushion plate  dipasangkan pada plat kopling juga dengan dikeling. Hentakan saat kopling mulai meneruskan putaran dan pada saat akselerasi dan deselerasi diredam oleh torsion dumper. Terdapat dua jenis torsion dumper yakni torsion rubber dumper dan torsion spring dumper.

(2). Rumah kopling, plat penekan dan pegas penekan

Gambar 10.       Rumah kopling tipe boss drive

Clutch cover unit terdiri dari plat penekan, pegas penekan, tuas penekan dan rumah kopling. Ditinjau dari konstruksinya clutch cover dibedakan menjadi tiga yakni: boss drive type clutch cover, radial strap type clutch cover dan corded strap drive tipe clutch cover. Pada tipe boss drive plat penekan dipasangkan pada rumah kopling dengan boss sehingga konstruksinya kuat, namun perpindahan tenaga tidak bisa lembut. Tipe radial strap type clutch cover dan corded strap drive tipe clutch cover. Pada tipe boss drive plat penekan dihubungkan ke rumah kopling oleh strap (plat baja) dalam arah radial dari boss. Tipe corded strap drive plat penekan ditahan oleh tiga buah plat pada rumah kopling sehingga daya elastisitas plat tersebut memungkinkan perpindahan tenaga terjadi dengan lembut.

 

 

 

 

 

 

Gambar 11.       Rumah kopling tipe radial strap drive dan chorded strap

 

 

Cara kerja kopling gesek

Kopling berfungsi untuk memindahkan tenaga secara halus dari mesin ke transmisi melalui adanya gesekan antara plat kopling dengan fly wheel dan plat penekan. Kekuatan gesekan diatur oleh pegas penekan yang dikontrol oleh pengemudi melalui mekanisme penggerak kopling.

Jika pedal kopling ditekan penuh, tekanan pedal tersebut akan diteruskan oleh mekanisme penggerak sehingga akan mendorong plat penekan melawan tekanan pegas penekan sehingga plat kopling tidak mendapat tekanan. Gesekan antara plat kopling dengan fly wheel dan plat penekan tidak terjadi sehingga putaran mesin tidak diteruskan.

Jika pedal kopling ditekan sebagian/ setengah, tekanan pedal tersebut akan diteruskan oleh mekanisme penggerak sehingga akan mendorong plat penekan melawan sebagain/ setengah tekanan pegas penekan sehingga tekanan plat penekan ke fly wheel berkurang, sehingga plat kopling akan slip. Gesekan antara plat kopling dengan fly wheel dan plat penekan kecil sehingga putaran dan daya mesin diteruskan sebagian.

Apabila pedal dilepaskan maka gaya pegas akan kembali mendorong dengan penuh plat penekan. Plat penekan menghimpit plat kopling ke fly wheel dengan kuat sehingga terjadi gesekan kuat dan berputar bersamaan. Dengan demikian putaran dan daya mesin diteruskan sepenuhnya (100%) tanpa slip.

Gambar 12.       Cara kerja kopling

b)  Kopling Magnet

Dinamakan kopling magnet karena untuk melakukan pemindahan daya dengan memanfaatkan gaya magnet. Magnet yang digunakan adalah magnet remanent yang dibangkitkan dengan mengalirkan arus listrik ke dalam sebuah lilitan kawat pada sebuah inti besi. Listrik yang dibangkitkan atau tersedia dikendaraan adalah listrik arus lemah sehingga magnet yang dibangkitkan tidak cukup kuat untuk dijadikan sebagai kopling pemindah daya utama. Kopling jenis ini kebanyakan hanya  digunakan sebagai kopling pada kompresor air conditioner (AC).

Gambar 13.       Konstuksi unit kopling magnet

c)  Kopling Satu Arah (one way clutch/ free wheeling clutch/ over runing clutch)

Kopling satu arah merupakan kopling otomatis yang memutus dan menghubungkan poros penggerak (driving shaft) dan yang digerakkan (driven shaft) tergantung pada perbandingan kecepatan putaran sudut dari poros-poros tersebut. Jika kecepatan driving lebih tinggi dari driven, kopling bekerja menghubungkan driving dan driven. Jika kecepatan driving lebih rendah dari driven, kopling bekerja memutuskan driving dan driven. Ada dua jenis one way clutch yakni sprag type dan roller type.

Gambar 14.       Kopling satu arah tipe sprag dan tipe roller

d)  Kopling Hidrolik

Dinamakan kopling hidrolik karena untuk melakukan pemindahan daya adalah dengan memanfaatkan tenaga hidrolis. Tenaga hidrolis didapat dengan menempatkan cairan/ minyak pada suatu wadah/ mekanisme yang diputar, sehingga cairan akan terlempar/ bersirkulasi oleh adanya gaya sentrifugal akibat putaran sehingga fluida mempunyai tenaga hidrolis. Fluida yang bertenaga inilah yang digunakan sebagai penerus/ pemindah tenaga.

Gambar 15.       Konstuksi unit kopling fluida

Komponen utama pada unit kopling hidrolik adalah : pump impeller, turbin runner dan stator. Pump impeller merupakan mekanisme pompa yang membangkitkan tenaga hidrolis pada fluida. Turbin runner adalah mekanisme penangkap tenaga hidrolis fluida yang dibangkitkan pump impeller. Stator adalah mekanisme pengatur arah aliran fluida agar tidak terjadi aliran yang merugikan tetapi justru aliran yang menguntungkan sehingga didapatkan peningkatan momen/ torsi.

3)  Pembongkaran, Pemeriksaan, Penggantian dan Pemasangan Kopling

Kegiatan/ uraian ini bertujuan mempelajari cara membongkar, memeriksa, memperbaiki dan memasang kembali unit kopling dan komponen-komponennya.

a) Pembongkaran

Pada kendaraan, sebelum dapat membongkar unit kopling haruslah terlebih dahulu melepas komponen-komponen lain yang terkait/ menghalangi, antara lain:

(1). Release cylinder unit (dengan pipa tetap terpasang)

(2). Propeller unit (kendaraan tipe RWD atau 4WD)

(3). Unit transmisi dan sistem pemindahnya

Pada umumnya jika unit transmisi sudah dilepas, maka unit release bearing dan release fork akan terbawa pada rumah transmisi, sehingga secara mudah dapat dilepaskan dengan melepas pengunci release fork terhadap porosnya, kemudian tarik keluar  porosnya dari rumah transmisi. Release fork dan release bearing akan terlepas.

Unit kopling segera dapat dilepas/ dibongkar setelah unit transmisi dilepas. Langkah-langkahnya adalah :

(1). Buatlah tanda pada rumah kopling dan fly wheel

(2). Pasangkan center clutch atau alat bantu yang lain untuk menahan plat kopling pada tempatnya

(3). Kendorkan baut-baut pengikat rumah kopling ke fly wheel dengan urutan menyilang secara bertahap dan merata, sampai tekanan tidak ada tekanan pegas

(4). Lepaskan baut pengikat satu persatu dan kemudian lepaskan clutch cover dan clutch disc

Gambar 16.       Pembongkaran unit kopling

Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah :

(1). Lepaskan clutch cover dengan hati-hati jangan sampai clutch disc terjatuh.

(2). Jagalah kebersihan permukaan clutch disc, pressure plate dan fly wheel. Jangan sampai terkena minyak atau gemuk.

(3). Bersihkanlah kotoran, debu dan beram-beram yang dapat mengganggu kinerja kopling.

Pada kopling dengan pegas spiral unit rumah kopling dan plat penekan dapat dengan mudah dibingkar, dengan langkah-langkah sebagai berikut :

(1). Gunakan alat penekan/ press untuk menekan clutch cover menahan tekanan pegas kopling.

Gambar 17.       Penekanan clutch cover unit kopling

(2). Lepaskan baut-baut pengikat rumah kopling ke fly wheel maupun baut penahan penyetel tinggi tuas pembebas

(3). Buatlah tanda pada fly wheel dan clutch cover

Gambar 18.       Pembuatan tanda pada clutch cover dan fly wheel

(4). Lepaskan secara pelan-pelan penekanan alat penekan.

(5). Lepaskan clutch cover

(6). Lepaskan pegas-pegas penekan

Gambar 19.       Melepas clutch cover unit kopling

(7). Lepaskan pin dan release lever

Gambar 20.       Melepas clutch cover unit kopling

b) Pemeriksaan, Perbaikan dan Penggantian Unit Kopling

(1) Release bearing

Release bearing umumnya merupakan unit bearing tertutup dengan tipe pelumasan permanen, sehingga tidak memerlukan pembersihan pada pelumasannya. Pemeriksaan pertama yang dapat dilakukan adalah secara fisual, adalah dengan melihat apakah ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan atau retak. Jika ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan itu hanya sedikit dapat dibersihkan dengan kertas amplas yang halus. Jika kerusakannya parah, ganti dengan unit yang baru.

Gambar 21.       Pengujian release bearing

Pemeriksaan release bearing dengan cara pengujian kerja sebagai berikut :

(a)   Putar bearing dengan tangan dan berilah tenaga pada arah axial. Jika putaran kasar dan atau terasa ada tahanan sebaiknya ganti!

(b)   Tahan hub dan case dengan tangan kemudian gerakkan pada semua arah untuk memastikan self-centering system agar tidak tersangkut.  Hub dab casae harus bergerak kira-kira 1 mm. Jika kekocakan berlebihan atau macet sebaiknya diganti dengan yang baru!

(2) Pegas Penekan dan Tuas Pembebas

Pemeriksaan pegas penekan dan tuas pembebas dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu :

(a)   Pemeriksaan secara fisual, adalah dengan melihat apakah ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan atau retak. Jika ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan itu hanya sedikit dapat dibersihkan dengan kertas amplas yang halus. Jika kerusakannya parah, sebainya diganti.

Gambar 22.       Pemeriksaan  keausan pegas

 

 

(b)   Lakukan pengukuran kedalaman dan lebar keausan bekas gesekan release bearing. Kedalaman maksimal adalah 0.6 mm dan lebar maksimal 5.0 mm. Jika keausan melebihi spesifikasi ganti dengan yang baru!

Gambar 23.              Pengukuran  keausan pegas

(c)   Pemeriksaan dengan SST dan filler gauge (thickness gauge).

Dengan bantuan SST dan Filler gauge, periksa kerataan permukaan ujung pegas diphragm atau ujung tuas pembebas. Selisih pengukuran atau ketidakrataan  maximal 0.5 mm.

Gambar 24.              Pemeriksaan kerataan tinggi pegas

(d)   Pemeriksaan dengan dial indikator

Dengan dial indikator dan alat pemutar juga dapat dilakukan pengukuran ketidakrataan permukaan ujung pegas diphragm atau ujung tuas pembebas. Untuk memudahkan pengukuran pasanglah dial dengan magnetik base pada mesin. Penyimpangan  maximal : 0.5 mm.

Gambar 25.     Pemeriksaan kerataan tinggi pegas

(e)   Pemeriksaan panjang dan kesikuan pegas penekan

Panjang bebas pegas penekan mempunyai limit yang bervariasi tergantung ukuran kopling unit. Demikian juga dengan ketidaksikuan pegas penekan (lihat buku manual). Semakin besar unit kopling biasanya limit/ tolerensi semakin besar.

Gambar 26.     Pengukuran panjang dan kesikuan pegas penekan

(f)    Pemeriksaan tegangan pegas penekan

Tegangan pegas penekan sangat berpengaruh pada kekuatan kerja kopling dalam meneruskan putaran dan daya mesin. Semakin berat suatu kendaraan maka akan semakin kuat/ besar tegangan pegas penekan yang digunakan. Spesifikasi tegangan pegas dapat dilihat pada buku manual kendaraan. Perbedaan antar pegas juga tidak boleh terlalu besar, karena akan membuat penekanan kopling tidak merata.

Gambar 27.     Pengukuran tegangan pegas penekan

(g)   Perbaikan/ penyetelan

Bila penyimpangan tidak masuk dalam spesifikasi, lakukan penyetelan kerataan :

o  Pegas diaphragm

Pada pegas diaphragm lakukan penyetelan ketinggian dan kerataan dengan SST seperti terlihat pada gb. berikut!

Gambar 28.  Penyetelan kerataan tinggi pegas

o  Tuas pembebas

Penyetelan tuas pembebas dilakukan dengan mengatur baut penyetel pada pengikat tuas pembebas dan plat penekan dengan bantuan SST pengukur kerataan. Setelah kerataan tepat, maka kunci dan keraskan mur penahan pengunci.

 

 

 

 

 

Gambar 29.              Penyetelan kerataan tinggi tuas pembebas

(3) Plat Penekan

Pemeriksaan plat penekan dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu :

(a)   Pemeriksaan secara fisual, adalah dengan melihat apakah ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan atau retak. Jika ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan itu hanya sedikit dapat dibersihkan dengan kertas amplas yang halus. Jika kerusakannya parah, perbaiki dengan menggunakan mesin bubut atau jika tidak memungkinkan, ganti dengan plat penekan baru.

(b)   Lakukan pengukuran kerataan plat kopling dengan straigh edge dan filler gauge. Ketidakrataan max. adalah 0.5 mm.

Gambar 30.              Pengukuran kerataan plat penekan

(c)   Jika ketidakrataannya melebihi spesifikasi, ratakan dengan menggunakan mesin bubut atau ganti dengan plat penekan yang baru.

 

(4) Plat Kopling

Pemeriksaan plat kopling dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu :

(a)   Pemeriksaan secara fisual, adalah dengan melihat apakah ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan atau retak. Jika ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan itu hanya sedikit dapat dibersihkan dengan kertas amplas yang halus. Jika kerusakannya parah, ganti kampas kopling atau ganti dengan plat kopling baru.

(b)   Pemeriksaan dan pengukuran kedalaman paku keling dengan jangka sorong. Batas kedalaman paku keling, minimal 0.3 mm. Jika kedalaman sudah melebihi spesifikasi, ganti kampas kopling atau ganti dengan plat kopling baru.

Gambar 31.     Pengukuran  kedalaman paku keling

Penggantian kampas kopling dilakukan dengan cara melepas kampas kopling lama dengan merusak paku kelingnya dengan bor, memasang kampas kopling baru dengan paku keling baru dengan urutan menyilang. Lakukan pengetesan kerataan dan keolengan plat kopling dengan bantuan roller instrumen dan dial indikator.

Gambar 32.       Penggantian kampas kopling

(c)   Pemeriksaan kekocakan atau kerusakan torsion dumper. Jika ditemukan kekocakan dan kerusakan pada torsion dumper, ganti dengan plat kopling unit baru.

(d)   Pemeriksaan keausan atau kerusakan alur-alur hub. Kaitkan/ pasangkan plat kopling pada input shaft transmisi, plat kopling harus bergerak dengan mudah tetapi tidak longgar. Jika macet atau longgar ganti dengan plat kopling baru.

(e)   Pemeriksaan run-out plat kopling. Dengan roller-instrumen (mesin/alat-pemutar) dan dial indikator periksalah run-out plat kopling! Bila run-out melebihi 0.8 mm, gantilah plat kopling dengan yang baru.

Gambar 33.     Pengukuran  run-out plat kopling

(5) Fly Wheel

Pemeriksaan plat kopling dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu :

(a)   Pemeriksaan secara fisual, adalah dengan melihat apakah ada kotoran, luka bekas gesekan, tergores dan atau retak pada bidang geseknya. Jika ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan itu hanya sedikit dapat dibersihkan dengan kertas amplas yang halus. Jika kerusakannya parah, ganti dengan plat kopling baru.

(b)   Pemeriksaaan keausan gigi-gigi ring gear dari keausan dan kerusakan. Jika terdapat kerusakan, ganti dengan ring gear yang baru. Penggantian ring gear adalah dengan cara dipanaskan pada suhu 80 s.d. 100oC, kemudian lepaskan ring gear lama dan pasangkan ring gear baru dengan menggunakan mesin press.  Pemanasan tidak boleh melebihi 120oC karena bisa mengubah sifat logam.

(c)   Pemeriksaan run-out fly wheel. Dengan dial indikator periksalah run-out fly wheel! Bila run-out melebihi 0.2 mm, gantilah fly wheel.

Gambar 34.       Pengukuran  run-out fly wheel

(d)   Pemeriksaan Pilot Bearing. Putarkan bearing dan beri tenaga pada arah axial. Jika putaran kasar dan terdapat kekocakan yang berlebihan, ganti dengan pilot bearing yang baru.

Gambar 35.     Pemeriksaan pilot bearing

Penggantian pilot bearing dilakukan dengan melepas pilot bearing lama dengan SSt sliding hamer dan kemudian memasangkan pilot bearing baru.

Gambar 36. Melepas dan Memasang pilot bearing

c) Pemasangan

Pemasangan unit kopling dengan pegas spiral adalah diawali dengan merakit unit plat penekan dan rumah kopling. Pemasangan adalah dengan urutan sebagai berikut :

(a)   Letakkan pressure plate pada dudukan alat penekan.

(b)   Pasangkan pegas penekan pada dudukannya di plat penekan.

(c)   Pasangkan clutch cover dibelakang pegas penekan dengan posisi yang tepat.

(d)   Pasangkan pressure lever pada dudukannya di clutch cover

(e)   Lakukan penekanan clutch cover dengan alat penekan sehingga pegas penekan tertekan sehingga baut pemegang/ penyetel pressure lever dapat dipasangkan.

Gambar 37.       Pemasangan unit kopling

(f)    Lepaskan tekanan mesin penekan, dan lakukan penyetelan tinggi pressure lever.

Setelah unit clutch cover terpasang, pemasangan kampas kopling dan unit kopling dapat dilakukan. Prosedur pemasangannya adalah sebagai berikut :

(a)   Berilah sedikit gemuk khusus pada alur plat kopling (clutch hub).

(b)   Masukkan center clutch pada clutch hub dan atur posisi plat kopling.

Gambar 38.       Pemasangan center clutch

(c)   Pasangkan plat kopling pada fly wheel dengan panduan center clutch dan atur posisinya supaya tepat di tengah.

(d)   Pasangkan clutch cover unit dengan memperhatikan tanda yang telah kita buat pada saat pembongkaran dan ketepatan knock pin.

(e)   Pasangkan baut-baut pengikat clutch cover

(f)    Lakukan pengerasan baut-baut pengikat secara bertahap. Mulailah pengerasan dari baut yang paling dekat dengan knock pin secara menyilang. Sebelum baut dikeraskan, pastikan lagi posisi plat kopling dengan mengatur posisi center clutch.

(g)   Keraskan baut pengikat sesuai momen spesifikasi pengencangan yaitu berkisar 195 kg cm atau 19 N-m.

Gambar 39.       Pemasangan unit kopling

Setelah unit kopling terpasang dengan baik, pasangkan release lever shaft, release lever dan release bearing pada dudukannya dengan sebelumnya diberikan sedikit gemuk/ grease khusus pada beberapa bagian yang bergesekan. Pastikan bahwa pengunci release fork terhadap porosnya dan release bearing terhadap release fork terpasang dengan baik.

Gambar 40.        Pelumasan bagian-bagian unit kopling

Setelah semua komponen unit kopling terpasang, rakitlah/ pasang unit transmisi, unit pemindah transmisi, propeller (kendaraan tipe FR dan FWD) dan release cylinder.

c.  Rangkuman 1

1).   Kopling berfungsi untuk menghubung dan memutuskan putaran mesin ke transmisi dengan lembut.

2).   Jenis-jenis kopling antara lain adalah kopling gesek, kopling satu arah, kopling magnet dan kopling fluida.

3).   Komponen utama sebuah unit kopling gesek, yaitu : rumah kopling, plat penekan, plat kopling, pegas penekan, tuas penekan, bantalan pembebas dan garpu pembebas.

4).   Pemeriksaan unit kopling secara visual meliputi kondisi plat kopling, plat penekan, pegas penekan dan alur-alur input shaft transmisi.

5).   Pemeriksaan dengan pengukuran meliputi pengukuran kerataan plat penekan; kedalaman paku keling dan kerataan/ run-out plat kopling; kesikuan dan panjang pegas penekan, tegangan pegas penekan; serta kerataan/ run-out fly wheel.

6).   Pemeriksaan dengan pengecekan fungsi/ kerja meliputi release bearing, back-lash input shaft transmisi dan hub plat kopling, torsin dumper dan hub serta pilot bearing.

7).   Penyetelan pada unit kopling adalah penyetelan tinggi diaphragm spring dan atau ketinggian tuas penekan.

d.  Tugas 1.

1).   Lakukan pengamatan unit kopling gesek plat banyak pada sepeda motor, buatlah gambar sederhana (sket)  dan jelaskan prinsip kerjanya!

e.  Tes Formatif 1

1).   Uraikan komponen konstruksi utama sebuah unit kopling gesek, dan jelaskan fungsi masing-masing komponen!

2).   Buatlah gambar sederhana (sket) plat kopling dan jelaskan bagian-bagian serta fungsinya!

3).   Buatlah gambar sederhana (sket) pemeriksaan release bearing dan jelaskan pemeriksaannya!

4).   Sebutkan pemeriksaan apa saja yang dilakukan pada plat kopling dan jelaskan cara pemeriksaannya!

5).   Jelaskan langkah-langkah merakit unit kopling yang telah terbongkar!


f.   Kunci Jawaban Formatif 1

1).   Komponen konstruksi utama sebuah unit kopling gesek adalah:

a). Plat kopling

Berfungsi untuk meneruskan tenaga mesin dari fly wheel dan plat penekan ke input shaft transmisi.

b). Plat penekan

Berfungsi untuk menekan plat kopling terhadap fly wheel dengan adanya tekanan pegas penekan.

c). Pegas penekan

Berfungsi untuk memberikan gaya tekan kepada plat penekan

d). Rumah kopling/ tutup kopling

Berfungsi untuk dudukan komponen-komponen unit kopling, sebagai tumpuan tuas penekan serta untuk memungkinkan terjadinya pemutusan dan penghubungan tenaga mesin dengan akurat dan cepat.

e).  Tuas penekan

Berfungsi untuk meneruskan gaya pedal kopling yang melalui bantalan pembebas untuk menekan pegas penekan

f).  Bantalan pembebas

Berfungsi untuk meneruskan gaya dorong dari release fork ke tuas pembebas/ pegas diaphragm pada saat pedal kopling ditekan.

g). Garpu pembebas

Berfungsi untuk meneruskan gaya dorong/ tarik dari pedal kopling untuk menekan bantalan pembebas.

2).   Bagian-bagian plat kopling meliputi :

a). Clutch hub

Berfungsi sebagai tempat perkaitan unit plat kopling dengan input shaft transmisi yang memungkinkan unit plat kopling dapat bergerak sedikit maju dan mundur.

b). Disc plate

Berfungsi sebagai rangka utama dari unit plat kopling untuk menahan beban kerja.

c).  Torsion dumper

Berfungsi untuk meredam hentakan/ puntiran saat kopling mulai menghubungkan/ meneruskan putaran dan pada saat akselerasi maupun deselerasi

d). Kampas kopling/ facing

Berfungsi untuk memperbesar gesekan, sehingga effisiensi pemindahan tenaga dan daya mesin optimal.

e). Cushion plate

Berfungsi untuk dudukan facing atau kampas kopling serta memperhalus kerja kopling.

f).  Paku keling/ rivet

Berfungsi untuk menyatukan kampas kopling dan cushion plate serta menyatukan cushion plate dan disc plate.

3).   Pemeriksaan Release bearing :

a)     Putar bearing dengan tangan dan berilah tenaga pada arah axial. Jika putaran kasar dan atau terasa ada tahanan sebaiknya ganti dengan yang baru!

b)     Tahan hub dan case dengan tangan kemudian gerakkan pada semua arah untuk memastikan self-centering system agar tidak tersangkut.  Hub dab casae harus bergerak kira-kira 1 mm. Jika kekocakan berlebihan atau macet sebaiknya diganti!

4).   Pemeriksaan pada plat kopling meliputi :

a)     Pemeriksaan secara fisual, adalah dengan melihat apakah ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan atau retak. Jika ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan itu hanya sedikit dapat dibersihkan dengan kertas amplas yang halus. Jika kerusakannya parah, ganti dengan yang baru.

b)     Pemeriksaan dan pengukuran kedalaman paku keling dengan jangka sorong. Batas kedalaman paku keling, minimal 0.3 mm. Jika kedalaman sudah melebihi spesifikasi, ganti dengan plat kopling baru.

c)     Pemeriksaan kekocakan atau kerusakan torsion dumper. Jika ditemukan kekocakan dan kerusakan pada torsion dumper, ganti dengan unit yang baru.

d)     Pemeriksaan keausan atau kerusakan alur-alur hub. Kaitkan/ pasangkan plat kopling pada input shaft transmisi, plat kopling harus bergerak dengan mudah tetapi tidak longgar. Jika macet atau longgar ganti dengan plat kopling baru.

e)     Pemeriksaan run-out plat kopling. Dengan roller-instrumen (mesin/alat-pemutar) dan dial indikator periksalah run-out plat kopling! Bila run-out melebihi 0.8 mm, gantilah plat kopling dengan yang baru.

5).   Langkah-langkah merakit unit kopling yang telah terbongkar adalah sebagai berikut :

Pemasangan diawali dengan merakit unit plat penekan dan rumah kopling, dengan urutan sebagai berikut :

a)     Letakkan pressure plate pada dudukan alat/ mesin penekan.

b)     Pasangkan pegas penekan pada dudukannya di plat penekan.

c)     Pasangkan clutch cover dibelakang pegas penekan dengan posisi yang tepat.

d)     Pasangkan pressure lever pada dudukannya di clutch cover

e)     Lakukan penekanan clutch cover dengan alat/ mesin penekan sehingga pegas penekan tertekan sehingga baut pemegang/ penyetel pressure lever dapat dipasangkan.

f)      Lepaskan tekanan mesin penekan, dan lakukan penyetelan tinggi pressure lever.

Setelah unit clutch cover terpasang, pemasangan kampas kopling dan unit kopling dapat dilakukan. Prosedur pemasangannya adalah sebagai berikut :

a)     Berilah sedikit gemuk khusus pada alur plat kopling

b)     Masukkan center clutch  pada clutch hub  dan atur posisi plat kopling.

c)     Pasangkan plat kopling pada fly wheel dengan panduan center clutch dan atur posisinya supaya tepat di tengah.

d)     Pasangkan clutch cover unit dengan memperhatikan tanda yang telah kita buat pada saat pembongkaran dan ketepatan knock pin.

e)     Pasangkan baut-baut pengikat clutch cover

f)      Lakukan pengerasan baut-baut pengikat secara bertahap. Mulailah pengerasan dari baut yang paling dekat dengan knock pin secara menyilang. Sebelum baut dikeraskan, pastikan lagi posisi plat kopling dengan mengatur posisi center clutch.

g)     Keraskan baut pengikat sesuai momen spesifikasi pengencangan yaitu berkisar 195 kg cm atau 19 N-m.

Setelah unit kopling terpasang dengan baik, pasangkan release lever shaft, release lever dan release bearing pada dudukannya dengan sebelumnya diberikan sedikit gemuk/ grease khusus pada beberapa bagian yang bergesekan. Pastikan bahwa pengunci release fork terhadap porosnya dan release bearing terhadap release fork terpasang dengan baik.

Setelah semua komponen unit kopling terpasang, rakitlah/ pasang unit transmisi, unit pemindah transmisi, propeller (kendaraan tipe FR dan FWD) dan unit release cylinder.

g.  Lembar Kerja 1

1)     Alat dan Bahan

a).   1 unit kopling gesek plat tunggal pegas spiral

b).   1 unit kopling gesek plat tunggal pegas diaphragm

c).    Peralatan tangan, kunci pas/ring (sesuai kebutuhan)

d).   Alat ukur yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan

e).   Grease/ gemuk

f).    Lap / majun.

2)     Keselamatan Kerja

a).   Gunakanlah peralatan tangan sesuai dengan fungsinya.

b).   Ikutilah instruksi dari instruktur/guru atau pun prosedur kerja yang tertera pada lembar kerja.

c).    Mintalah ijin dari instruktur anda bila hendak melakukan pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja.

d).   Bila perlu mintalah buku manual dari mesin yang digunakan.

e).   Jangan memukul poros, ulir atau bagian lainnya dengan palu besi secara langsung

f).    Pasanglah plat kopling dengan center clutch, sehingga posisi plat kopling betul-betul tepat ditengah.

3)     Langkah Kerja

a).   Persiapkan alat dan bahan praktikum secara cermat, efektif dan seefisien mungkin.

b).   Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh guru/instruktur.

c).    Lakukan pembongkaran unit kopling dengan langkah yang efektif dan sistematik! (perhatikan buku manual)

d).   Lakukan pemeriksaan dengan pengamatan dan pengukuran pada komponen-komponen kopling  yang sudah dilepas ( fly wheel, plat kopling, plat penekan, pegas penekan, tuas penekan dan bantalan pembebas)!

e).   Buatlah catatan-catatan penting kegiatan praktikum secara ringkas!

f).    Diskusikan mengenai kondisi komponen, kemungkinan penyebab kerusakan, kemungkinan perbaikan serta kemungkinan akibat jika kerusakan terjadi dan dibiarkan!

g).   Lakukan pemasangan kembali terhadap komponen-komponen yang dibongkar secara efektif dan efisien!

h).   Diskusikan inovasi usaha apa yang bisa dikembangkan setelah anda mengetahui tentang sistem kopling plat dengan pegas coil maupun pegas diaphragm!

i).     Setelah selesai, bereskan kembali peralatan dan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula serta bersihkan tempat kerja!

4)     Tugas

a).   Buatlah laporan praktikum secara ringkas dan jelas.

b).   Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan belajar 1.

2.     Kegiatan Belajar 2 : Jenis-jenis dan Prinsip kerja Sistem Pengoperasian Kopling

 

a.  Tujuan Kegiatan Belajar 2

1)  Siswa dapat memahami jenis-jenis, prinsip kerja, dan konstruksi sistem pengoperasian kopling dengan benar.

2)  Siswa dapat melepas/ mengganti sistem pengoperasian kopling dan komponen-komponennya dengan benar.

b.  Uraian Materi 2

1)  Sistem pengoperasian kopling

Sistem pengoperasian kopling adalah sebuah unit mekanisme untuk mengoperasionalkan kopling yaitu memutus dan menghubungkan putaran dan daya mesin ke unit pemindah daya selanjutnya (transmisi). Secara umum terdapat dua mekanisme penggerak kopling, yaitu : sistem mekanik dan sistem hidrolik. Pada perkembangan saat ini, pada kendaraan-kendaraan beban menengah dan beban berat menggunakan sistem pneumatik-hidrolik.

a)  Sistem pengoperasian kopling tipe mekanik

(1). Cable mechanism (mekanik kabel)

Menggunakan media sebuah kabel baja untuk meneruskan gerakan pedal ke garpu pembebas. Keuntungan dari mekanisme ini adalah konstruksinya sederhana dan karena sifat kabel yang fleksible maka penempatannya juga fleksible dan tidak memerlukan ruang gerak yang besar. Mekanisme ini mempunyai kerugian gesek yang besar antara kabel dan selongsongnya, apalagi jika banyak belokan/ tekukan. Elastisitas bahan kabel menyebabkan mekanisme ini tidak bekerja dengan spontan dan kurang kuat untuk beban berat.

(2). Linkage mechanism (mekanik batang)

Mekanisme batang mempunyai keuntungan elastisitas bahan lebih kecil sehingga kuat dan spontanitas kerja lebih baik. Kelemahan/ kekurangan sistem ini adalah karena media penerusnya adalah batang, maka untuk penempatannya menjadi lebih sulit dan perlu ruang gerak yang lebih besar.

Gambar 41.              Konstuksi cable mechanism

Gambar 42.              Konstuksi linkage mechanism

(3). Centrifugal mechanism (mekanik sentrifugal)

Gambar 43.              Konstuksi mekanisme penggerak centrifugal

Jika mesin berputar maka bandul sentrifugal akan terlempar keluar oleh gaya sentrifugal, sehingga centrifugal plate akan tertarik sehingga menekan plat kopling ke back plate/ fly wheel. Bila putaran mesin berkurang maka intensitas tekanan centrifugal plate juga berkurang.

b) Sistem pengoperasian kopling tipe hidrolik

Gambar 44.       Pengoperasian kopling tipe hidrolik

Pengoperasian kopling tipe hidrolik adalah merupakan sistem pemindahan tenaga melalui fluida cair/ minyak. Prinsip yang digunakan pada sistem hidrolik ini adalah pengaplikasian hukum Pascal, dimana jika ada fluida dalam ruang tertutup diberi tekanan maka tekanan tersebut akan diteruskan ke segala arah dengan sama besar. Dengan dibuat adanya perbandingan diameter (luas bidang) pada master cylinder lebih kecil dari release cylinder maka akan didapatkan peningkatan tenaga. Gaya/tenaga dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

Dimana :

P    =       gaya pada release cylinder

Q    =       gaya tekan pedal rem

K    =       perbandingan tuas pedal kopling

d1   =       diameter master cylinder

d2   =       diameter release cylinder

Komponen sistem hidrolik lebih banyak dibandingkan sistem mekanik, tetapi mempunyai keuntungan yang mampu mengatasi kekurangan sistem penggerak mekanik yaitu : kehilangan tenaga karena gesekan lebih kecil sehingga penekanan pedal kopling lebih ringan, memungkinkan diberikan perbandingan diameter master dan release silinder sehingga penekanan pedal kopling jauh lebih ringan, pemindahan tenaga lebih cepat dan lebih baik, penempatan fleksibel karena fluida dialirkan melalui fleksible hose.

Kekurangan dari sistem hidrolik adalah konstruksinya rumit dan dapat terjadi kegagalan fungsi jika terdapat udara di dalam sistem. Komponen utama dari sistem hidrolik ini adalah: master silinder dan release silinder.

(1). Master Silinder

Ada 2 tipe master silinder yang umum digunakan pada sistem pengoperasian kopling, yakni tipe girling dan tipe portlees.

Gambar 45.       Konstuksi master cylinder girling type

Gambar 46.       Konstuksi master cylinder portless type

(a). Tipe Girling

Cara kerja master silinder tipe girling adalah sebagai berikut :

Pada saat piston mulai bergerak menekan minyak di dalam silinder, tekanan minyak akan mengalir ke reservoir melalui lubang ujung piston, cylinder cup dan spacer, sehingga minyak akan mengalir ke reservoir dan ke release cylinder melalui flexible hose dengan tekanan yang kecil.

Gambar 47.        Kerja penekanan awal

Pada saat piston bergerak lebih maju, maka lubang pada ujung piston akan tertutup oleh adanya tekanan minyak yang menekan spacer, sehingga tekanan minyak yang ke release cylinder semakin tinggi dan mampu menekan piston release cylinder mendorong push rod.

Gambar 48.        Kerja efektif master silinder

Pada saat tekanan pedal hilang, maka compression spring akan mendorong piston bergerak mundur, yang menyebabkan kevakuman pada silinder, sehingga minyak reservoir mengalir ke dalam silinder.

Gambar 49.     Kerja pengembalian tekanan

Pada saat piston telah kembali pada posisi awal karena tekanan compression spring, maka minyak dari release cylinder akan mengalir kembali ke reservoir sampai tekanan minyak normal kembali.

Gambar 50.     Kerja akhir master

(b). Tipe Portless

Cara kerja master silinder tipe portless adalah sebagai berikut :

Chamber

A

Gambar 51.     Kerja efektif master silinder tipe portless

Pada saat pedal kita tekan, piston bergerak maju dan minyak melalui valve inlet mengalir ke reservoir dan release cylinder dengan tekanan yang rendah/ kecil. Jika pedal terus ditekan maju, gaya yang mempertahankan conecting rod akan hilang dan conecting rod akan bergerak maju oleh gaya conical spring, sehingga inlet valve akan menutup, yang mengakibatkan tekanan fluida yang ke release silinder naik.

Bila pedal kopling dibebaskan, piston akan kembali mundur oleh tekanan compression spring, maka tekanan fluida akan turun, sehingga spring retainer akan menarik conecting rod ke arah luar an in-let valve terbuka. Gaya balik conical spring maka minyak dari release cylinder kembali ke master cylinder dan recervoir.

Gambar 52.     Kerja akhir (normalisasi tekanan)

(2). Release Cylinder

Tipe release silinder yang umum digunakan ada tiga yakni adjustable type, non adjustable dan free adjustable type. Pada jenis adjustable type untuk menyesuaikan jarak bebas ujung release fork dilakukan dengan menyetel mur penyetelnya. Free edjustable type tidak memerlukan penyetelan karena penyetelan akan terjadi secara otomatis oleh pegas. Pada tipe ini release bearing selalu menempel pada pressure lever atau diaphragm spring. Non adjustable type menyempurnakan free adjustable type, dimana non-adjustable ini panjang push rodnya dapat distel sehingga dapat dijaga release bearing tidak selalu menempel pada pressure lever atau diaphragm spring.

Gambar 53.       Konstuksi release cylinder adjustable dan non-adjustable type

Gambar 54.       Konstuksi release cylinder free-adjustable type

 

(3). Kebebasan Kopling (free play)

Free play adalah kebebasan yang terdapat pada sistem kopling pada saat pedal kopling mulai ditekan sampai dengan release bearing mulai menyentuh diaphragm spring atau pressure lever. Dengan adanya kebebasan kopling maka sistem kopling tidak akan bekerja pada saat kopling tidak ditekan dan tidak lngsung bekerja saat pedal ditekan, tetapi memerlukan beberapa waktu untuk mencapai langkah efektif.

(a) Kebebasan master cylinder dan push-rod.

Merupakan jarak dari ujung push-rod sampai dengan piston pada saat pedal kopling tidak ditekan.

Gambar 55.       Kebebasan master cylinder dan push-rod

(b) Kebebasan minyak kopling

Merupakan jarak mulai dari push-rod master cylinder menekan piston sampai tertutupnya lubang ke recervoir.

Gambar 56.       Kebebasan minyak kopling

(c). Kebebasan release fork

Merupakan jarak mulai dari push-rod release cylinder bergerak sampai release bearing menyentuh diphragm spring atau pressure lever, pada saat pedal kopling bebas.

Gambar 57. Kebebasan release fork

c)  Sistem pengoperasian kopling tipe pneumatik – hidrolik/ servo – hidrolik

Gambar 58. Sistem penggerak kopling servo-hidrolik

Model sistem pengoperasian kopling tipe pneumatik hidrolik, antara lain yaitu : sistem pneumatik memicu sistem hidrolik, sistem hidrolik memicu sistem pneumatik, sistem hidrolik memicu sistem pneumatik kemudian sistem pneumatiknya memicu sistem hidrolik berikutnya, sistem pneumatik memicu sistem hidrolik kemudian sistem hidroliknya memicu sistem pneumatik berikutnya, serta sistem pneumatik murni.

Pada gambar di atas, dicontohkan sistem hidrolik mengaktifkan sistem pneumatik. Sistem pneumatik kemudian memicu sistem hidrolik berikutnya.

Booster merupakan salah satu komponen penting dalam sistem tersebut. Konstruksi booster adalah sebagai berikut :

 

 

 

 

 

Gambar 59. Konstruksi booster kopling servo-hidrolik

Piston booster langsung dihubungkan ke piston dan push-rod kemudian release fork, tidak melalui mekanisme hidrolik. Sedangkan pada tipe sistem hidrolik memicu sistem pneumatik kemudian sistem pneumatiknya memicu sistem hidrolik, piston booster dihubungkan ke piston sistem hidrolik berikutnya.

(1). Prinsip Kerja Sistem Pengoperasian Kopling Tipe Pneumatik – Hydraulic

Kopling tidak berhubungan

Tekan pedal kopling à Tekanan fluida di dalam master kopling naik à Relay valve bekerja à Poppet valve terbuka à Tekanan udara mengoperasikan power piston à Piston  hidrolik bergerak à Outer lever kopling beroperasi à  Release bearing beroperasi à Pressure plate tidak menekan disc clutch à disc clutch bebas

Kopling berhubungan

Lepas pedal kopling à tekanan fluida di dalam master kopling berkurang à Relay valve kembali à Poppet valve tertutup à Tekanan udara keluar dari lubang pernapasan à Power piston kembali à Hydrolik piston kembali à Release bearing kembali à Release lever kembali ke posisi semula oleh  tekanan pegas à Pressure plate menekan disc clutch à Disc  clutch berhubungan.

Kopling dibebaskan

Tekan pedal kopling setengah à Tekanan fluida timbul didalam master silinder à Relay valve beroperas à Poppet valve terbuka à Tekanan udara menggerakan power piston  à Timbul tekanan negatip dibelakang hidrolik piston à Fluida  kembali sedikit dari relay piston à Tekanan udara tertutup à Power piston berhenti beroperasi (tenaga kopling berkurang sebagai reaksi penekanan pedal)

Kekurangan tekanan udara

Tekan pedal kopling à Tekanan fluida timbul didalam master silinder à Hidrolik piston bergerak à Push rod kopling beroperasi à Clutch outer lever beroperasi à Release bearing beroperasi à Release lever beroperasi à Pressure plate  terpisah dari disc clutch à Disc clutch bebas (Relay valve piston, poppet valve dan power piston beroperasi, tetapi tidak dapat menggerakan power piston bila tekanan udara rendah).

(2). Booster Kopling (Clutch Booster)

Cara kerja clutch booster membebaskan kopling

Pedal kopling ditekan à Minyak mengalir masuk clutch booster, terbagi 2 yaitu :

à Hydraulc piston (bergerak kekanan) à Push rod  hydraulic cylinder (bergerak ke kanan)

à Relay valve piston (bergerak kekanan) à Poppet valve terbuka (tekanan udara langsung masuk ke ruang A) à Power piston bergerak ke kanan (udara dalam ruang B keluar melalui pernapasan) à Push rod booster bergerak kekanan à Hydraulc piston (bergerak kekanan) à Push rod  hydraulic cylinder (bergerak ke kanan)

Dengan demikian hydraulic piston didorong oleh dua tenaga yaitu tekanan master cylinder dan tekanan booster. Bila servo udara/ booster rusak maka sistem pengoperasian tetap bekerja tetapi membutuhkan tenaga penekanan pedal yang lebih besar.

Gambar 60.        Kerja booster pada saat membebaskan kopling

Urutan aliran tenaganya adalah sebagai berikut :

Pedal kopling ditekan à Minyak mengalir masuk clutch booster, terbagi 2 yaitu :

à Hydraulc piston (Hydraulic piston bergerak kekanan) à Push rod (bergerak kekanan oleh tekanan dari master cylinder saja).

à Relay valve piston (tidak bekerja)

Cara kerja clutch booster menghubungkan  kopling

Begitu pedal kopling dibebaskan, fluida akan kembali ke master cylinder, sehingga pegas pengembali mengembalikan seluruh bagian booster/ servo ke posisi semula, menyebabkan tekanan udara di dalam ruang A akan keluar melalui pernapasan

Gambar 61.        Kerja booster pada saat menghubungkan kopling

2)  Pembongkaran, Pemeriksaan, Penggantian dan Pemasangan Sistem Pengoperasian Kopling

a)  Clutch Pedal

Pedal kopling berada pada ruang pengemudi, sehingga ruang untuk bekerja melepasnya sangat terbatas.

Gambar 62.       Bagian-bagian mekanisme pedal kopling

Pembongkaran unit pedal kopling dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :

(1)   Lepaskan push-rod dengan melepas split pin (no. 1) dan melepas pin penahan push-rod (no. 2).

(2)   Lepaskan mur pengunci poros pedal (no. 4)

(3)   Lepaskan baut poros pedal (no. 8)

(4)   Lepaskan pegas pengembali pedal (no. 9)

(5)   Lepaskan pedal (no. 10)

(6)   Lepaskan bushing-bushing poros pedal (no. 11)

Komponen-komponen unit pedal kopling jarang mengalami kerusakan, kecuali karet stopper, bushing dan pegas pengembali. Setelah unit pedal kopling terbongkar maka periksalah secara visual kondisi stopper, bushing dan pegas pengembali. Jika ditemukan kondisinya aus/ rusak/ lemah maka gantilah dengan yang baru.

Setelah dilakukan pemeriksaan dan penggantian (bila diperlukan) lakukan pemasangan kembali dengan langkah-langkah sebagai berikut :

(1)   Pasangkan bushing-bushing baru pada poros pedal (no.11)

(2)   Pasangkan pedal pada frame dudukannya

(3)   Pasangkan pegas pengembali (no.9)

(4)   Pasangkan baut poros pedal (no.8)  dengan washer dan spring washernya

(5)   Pasangkan mur pengunci poros pedal (no.4) dengan washer dan spring washernya

(6)   Pasangkan push-rod (no. 3) pada pedal

(7)   Pasangkan pin penahan push-rod (no. 2)

(8)   Pasangkan split pin (no.1) pada pin penahan push rod

b) Clutch Master Cylinder

Gambar 63.       Urutan melepas master silinder  kopling

Clutch master cylinder pada umumnya berada di depan pedal kopling, ada yang berada di ruang pengemudi namun ada juga yang berada di ruang mesin depan, tergantung dari jenis kendaraan. Jumlah minyak pada recervoir harus selalu dijaga dalam jumlah yang cukup. Melepas master silinder dapat dilakukan dengan langkah–langkah sebagai berikut :

(1)   Lepaskan unit push rod dari unit pedal kopling dengan melepas pin penguncinya.

(2)   Lepaskan pipa minyak dari master cylinder

(3)   Lepaskan baut/ mur pengikat master cylinder ke body

(4)   Tarik keluar/ lepaskan master silinder

Gambar 64. Melepas pipa minyak pada master silinder kopling

Hal yang perlu diperhatikan dalam melepas master adalah karena minyak kopling merusak cat, maka berhati-hatilah jangan sampai minyak kopling mengenai cat. Bawalah master cylinder dengan wadah atau bungkuslah dengan kain lap. Jika minyak kopling mengenai cat bersihkan dengan segera dan hati-hati dengan kain lap yang menyerap cairan.

Setelah master cylinder berada di luar, bongkarlah dengan langkah-langkah sebagai berikut :

(1)   Tekan push rod maju/ ke dalam dan lepaskan snap ring dengan tang snap ring.

Gambar 65.              Melepas klip master silinder

(2)   Tarik keluar push-rod

(3)   Keluarkan piston unit dengan udara bertekanan

Gambar 66.              Mengeluarkan piston unit master silinder

(4)   Lakukan pembongkaran piston unit dengan meluruskan piston klip.

Gambar 67.              Membuka klip piston master silinder kopling

(5)   Lakukan pemeriksaan komponen-komponen yang sudah dibongkar, yang antara lain : Diameter master silinder, diamater piston, piston dan seal, valve assembly dan pegas.

Gambar 68.              Bagian-bagian master silinder kopling

Bagian-bagian master cylinder sebagaimana terlihat pada gambar di atas, yaitu :  1. Recevoir tank, 2. Snap ring, 3. Push rod, 4. Piston and piston seal, 5. Spring retainer, 6. Compression spring, 7. Valve stopper, 8. Conical spring, 9. Valve assembly

Setelah dilakukan pemeriksaan dan pengukuran serta dilakukan perbaikan maupun penggantian komponen yang tidak layak pakai maka pekerjaan selanjutnya adalah merangkai master cylinder unit. Langkah-langkah perakitannya adalah sebagai berikut :

(1)   Merangkai piston unit dan menguncinya dengan menekan dan membengkokkan klip piston

(2)   Memasukkan piston unit ke dalam silinder master dengan sebelumnya diberikan pelumasan dengan minyak kopling pada silinder, piston dan sealnya.

Gambar 69.              Mengunci klip piston master silinder kopling

(3)   Pasangkan push-rod

(4)   Tekan push rod maju/ ke dalam dan pasangkan snap ring dengan tang snap ring

Gambar 70.              Mengunci piston master silinder dengan snap ring

Setelah bagian-bagian master cylinder sudah terakit dengan baik, maka pasangkan master cylinder ke dudukannya dengan langkah-langkah sebagai berikut :

(1)   Pasangkan master silinder ke dudukannya

(2)   Pasangkan baut pengikat master cylinder ke body

(3)   Pasangkan unit push-rod ke unit pedal kopling

(4)   Pasangkan pipa minyak ke master cylinder

c)  Clutch Release Cylinder

Release cylinder terletak dekat pada unit kopling dan biasanya dibautkan pada rumah transmisi. Melepas Release Cylinder dapat dilakukan dengan langkah–langkah sebagai berikut :

(1)   Lepaskan pipa minyak dari release cylinder (tutup ujung pipa minyak supaya minyak tidak tumpah)

(2)   Lepaskan baut pengikat release cylinder

(3)   Lepaskan release cylinder dari dudukannya

Gambar 71.              Melepas clutch release cylinder

(4)   Keluarkan piston release cylinder dengan udara bertekanan.

Gambar 72.              Mengeluarkan piston master cylinder

Gambar 73.              Bagian-bagian release silinder kopling

(5)   Lakukan pemeriksaan komponen – komponen yang sudah dibongkar, yang antara lain : diameter release silinder, diamater piston, piston dan seal dan pegas.

(6)   Lakukan penggantian jika ada komponen yang rusak.

Setelah pemeriksaan dan penggantian dilakukan maka release cylinder dapat dirakit kembali dengan langkah kebalikan langkah pembongkaran, dengan sebelumnya pastikan semua komponen bersih dan pada piston dan silinder diberi minyak sebagai pelumasan saat memasang.

d)  Air Bleeding

Mekanisme penggerak kopling tipe hidrolik harus di-bleeding untuk mengeluarkan udara yang masuk ketika pipa-pipa dan atau komponen lain dilepas atau karena kebocoran sistem. Bleeding dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

(1)   Buka tutup bleeder screw dan pasangkan selang plastik transparan pada bleeder screw.

(2)   Letakkan ujung selang yang lain pada wadah untuk menampung limpahan minyak.

Gambar 74.              Pemasangan kelengkapan membleeding

(3)   Pompa pedal kopling dengan perlahan-lahan beberapa waktu.

(4)   Tahan pedal pada posisi menekan kemudian kendorkan bleeder screw untuk mengeluarkan udara yang tercampur minyak.

(5)   Lakukan langkah ke-3 dan ke-4 sampai tidak terdapat gelembung udara pada minyak.

(6)   Jika sudah tidak terdapat gelembung udara pada minyak, keraskan bleeding screw dan lepaskan selang dan lakukan pengecekan kerja kopling

c.  Rangkuman 2

1).   Sistem pengoperasian kopling adalah sebuah unit mekanisme untuk mengoperasionalkan kopling.

2).   Terdapat tiga mekanisme penggerak kopling, yaitu : mekanisme mekanik, hidrolik dan pneumatik-hidrolik.

3).   Mekanisme mekanik ada tiga jenis, yaitu : mekanik kabel, mekanik batang dan mekanik centrifugal

4).   Mekanisme penggerak kopling tipe hidrolik harus di-bleeding untuk mengeluarkan udara yang masuk ketika pipa-pipa dan atau komponen lain dilepas atau karena kebocoran sistem.

5).   Ada dua tipe master silinder kopling, yaitu girling dan portless.

6).   Ada tiga tipe release cylinder kopling, yaitu adjustable, non adjustable dan free adjustable type.

d.  Tugas 2.

1).   Buatlah gambar sederhana (sket) unit mekanisme penggerak kopling tipe mekanik pada sepeda motor dan jelaskan prinsip kerjanya!

e.  Tes Formatif 2

1).   Jelaskan apa yang dimaksud dengan sistem pengoperasian kopling!

2).   Sebut dan jelaskan jenis-jenis sistem pengoperasian kopling!

3).   Uraikan konsep menaikkan/ melipat gandakan tenaga/ gaya dorong pada sistem mekanisme penggerak kopling tipe hidrolis!

4).   Jelaskan dengan gambar cara kerja master silinder tipe portless!

5).   Sebutkan dan beri penjelasan singkat, jenis-jenis release silinder!


f.   Kunci Jawaban Formatif 2

1).   Sistem pengoperasian kopling adalah sebuah unit mekanisme untuk mengoperasionalkan kopling (yaitu memutus dan menghubungkan tenaga mesin ke unit pemidah tenaga selanjutnya/ transmisi).

2).   Terdapat tiga sistem pengoperasian kopling, yaitu :

a)  Mekanisme mekanik

Yaitu sistem pengoperasian kopling atau mekanisme penggerak kopling yang memanfaatkan sistem mekanis baik itu kabel, batang maupun centrifugal untuk mengoperasionalkan kopling.

b)  Mekanisme Hidrolik

Yaitu sistem pengoperasian kopling atau mekanisme penggerak kopling yang memanfaatkan sistem hidrolik (menggunakan fluida cair) untuk mengoperasionalkan kopling. Komponen utamanya meliputi master cylinder, flexible hose dn release cylinder.

c)  Mekanisme Pneumatik-hidrolik/ servo-hidrolik

Yaitu sistem pengoperasian kopling atau mekanisme penggerak kopling yang memanfaatkan kombinasi sistem hidrolik (menggunakan fluida cair) dan sistem pneumatik (menggunakan fluida gas) untuk mengoperasionalkan kopling.

3).   Konsep meningkatkan tenaga pada sistem pengoperasian kopling tipe hidrolik adalah dengan mengaplikasikan hukum Pascal. Untuk meningkatkan tenaga/ gaya dorong dilakukan dengan membuat diameter master cylinder lebih kecil daripada diameter release cylinder. Gaya/tenaga dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

Dimana :

P    =       gaya pada release cylinder

Q    =       gaya tekan pedal rem

K    =       perbandingan tuas pedal kopling

d1   =       diameter master cylinder

d2   =       diameter release cylinder

4).   Cara kerja master cylinder tipe portless adalah sebagai berikut :

Bila pedal kopling ditekan maka piston akan bergerak maju dan mendorong minyak mengalir melalui inlet valve ke recervoir dan ke release cylinder. Saat piston terus bergerak maju, tenaga spring retainer (yang ditahan oleh conecting rod) akan naik/ timbul dan mengkibatkan conecting rod bergerak maju dengan adanya tenaga conical spring, sehingga inlet valve menutup lubang ke recervoir. Ruang “A“ terpisah dari ruang “B“ sehingga tekanan hidrolis di ruang A naik dan tekanan ini diteruskan ke release cylinder.

Bila pedal dibebaskan piston akan terdorong mundur oleh tekanan pegas sehingga tekanan hidrolik berkurang. Setelah piston mundur, conecting rod tertarik ke dalam oleh retainer spring sehingga inlet valve membuka saluran ke recervoir dan minyak di ruang “A“ dan “B“ berhubungan kembali.

5).   Tipe release silinder yang umum digunakan ada tiga yakni adjustable type, non adjustable type dan free adjustable type. Pada jenis adjustable type untuk menyesuaikan jarak bebas ujung release fork dilakukan dengan menyetel mur penyetelnya. Free edjustable type tidak memerlukan penyetelan karena penyetelan akan terjadi secara otomatis oleh pegas. Pada tipe ini release bearing selalu menempel pada pressure lever atau diaphragm spring. Non adjustable type menyempurnakan free adjustable type, dimana non-adjustable ini panjang push rodnya dapat distel sehingga dapat dijaga release bearing tidak selalu menempel pada pressure lever atau diaphragm spring.

g.  Lembar Kerja 2

1)  Alat dan Bahan

a).   1 unit sistem penggerak kopling tipe mekanik kabel

b).   1 unit sistem penggeak kopling tipe mekanik batang

c).    1 unit sistem penggerak kopling tipe hidrolik

d).   1 unit sistem penggerak kopling tipe pneumatik-hidrolik

e).   Peralatan tangan, kunci pas/ring atau tang snap-ring (menyesuaikan kebutuhan).

f).    Lap / majun.

2)  Keselamatan Kerja

a).   Gunakanlah peralatan tangan sesuai dengan fungsinya.

b).   Ikutilah instruksi dari instruktur/guru atau pun prosedur kerja yang tertera pada lembar kerja.

c).    Mintalah ijin dari guru anda bila hendak melakukan pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja.

d).   Bila perlu mintalah buku manual dari mesin yang digunakan.

e).   Jangan memukul poros, ulir atau bagian lainnya dengan palu besi secara langsung

f).    Pasanglah plat kopling dengan center clutch, sehingga posisi plat kopling betul-betul tepat ditengah.

3)  Langkah Kerja

a).   Persiapkan alat dan bahan praktikum secara cermat, efektif dan seefisien mungkin.

b).   Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh guru/instruktur.

c).    Lakukan pembongkaran unit sistem pengoperasian kopling dengan langkah yang efektif, efisien dan sistematik! (perhatikan buku manual)

d).   Lakukan pemeriksaan dengan pengamatan dan pengukuran pada komponen-komponen sistem pengoperasian kopling yang sudah dilepas!

e).   Buatlah catatan-catatan penting kegiatan praktikum secara ringkas.

f).    Diskusikan mengenai kondisi komponen, kemungkinan penyebab kerusakan, kemungkinan perbaikan serta kemungkinan akibat jika kerusakan terjadi dan dibiarkan!

g).   Lakukan pemasangan kembali terhadap komponen-komponen yang dibongkar secara efektif dan efisien!

h).   Diskusikan inovasi usaha apa yang bisa dikembangkan setelah anda mengetahui tentang sistem pengoperasian kopling baik tipe mekanik, hidrolik maupun pneumatik-hidrolik!

i).     Setelah selesai, bereskan kembali peralatan dan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula serta bersihkan tempat kerja!

4)  Tugas

a).   Buatlah laporan praktikum secara ringkas dan jelas.

b).   Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan belajar 2.

About these ads

Posted on April 21, 2011, in ilmu, otomotif. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: