Monthly Archives: April 2011

Overhaul Kopling dan Komponennya

BAB I

PENDAHULUAN

  1. DESKRIPSI

 

odul OPKR-30-003B tentang “Overhoul kopling dan komponen- komponennya” ini membahas tentang beberapa hal penting yang perlu diketahui agar peserta diklat dapat melakukan overhoul kopling  secara efektif, efisien dan aman.

Modul ini terdiri dari dua cakupan materi yang akan dipelajari , yaitu :  materi teori dan praktek.

Modul ini terdiri atas tiga kegiatan belajar yaitu 1 kegiatan belajar teori dan 2 kegiatan belajar praktik. Kegiatan belajar 1 membahas tentang Konstruksi dan cara kerja kopling, Kegiatan belajar 2 membahas tentang Overhoul mekanisme penggerak kopling, dan Kegiatan belajar 3 membahas Overhoul kopling dan komponen-komponennya.

Setelah mempelajari modul ini peserta diklat diharapkan dapat memahami cara melakukan overhoul kopling dan Komponen-komponennya.

B.   PRASYARAT

Sebelum memulai modul ini, peserta diklat pada Bidang Keahlian Mekanik Otomotif harus sudah menyelesaikan modul-modul prasyarat seperti terlihat dalam diagram pencapaian kompetensi maupun peta kedudukan modul. Prasyarat mempelajari modul OPKR-30-003B antara lain adalah OPKR-10-016B dan OPKR 10-018B

 

C.   PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

1.   Petunjuk Bagi Peserta Diklat

Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal, dalam menggunakan modul ini maka langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain :

a.    Bacalah dan pahami dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada masing-masing kegiatan belajar. Bila ada materi yang kurang jelas, peserta diklat dapat bertanya pada guru atau instruktur yang mengampu kegiatan belajar.

b.    Kerjakan setiap tugas formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.

c.    Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikanlah hal-hal berikut ini :

1)    Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang berlaku.

2)    Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik.

3)       Sebelum melaksanakan praktikum, identifikasi   (tentukan) peralatan dan bahan yang diperlukan dengan cermat.

4)       Gunakan alat sesuai prosedur pemakaian yang benar.

5)       Untuk melakukan kegiatan praktikum yang belum jelas, harus meminta ijin guru atau instruktur terlebih dahulu.

6)       Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula.

d.    Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada guru atau instruktur yang mengampu kegiatan pemelajaran yang bersangkutan.

2.   Petunjuk Bagi Guru

Dalam setiap kegiatan belajar guru atau instruktur berperan untuk:

a.    Membantu peserta diklat dalam merencanakan proses belajar.

b.    Membimbing peserta diklat melalui tugas-tugas pelatihan yang     dijelaskan dalam tahap belajar.

c.    Membantu peserta diklat dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan peserta diklat mengenai proses belajar peserta diklat.

d.    Membantu peserta diklat untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.

e.    Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.

f.     Merencanakan seorang ahli / pendamping guru dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan.

D.                                                       TUJUAN AKHIR

Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini peserta diklat diharapkan :

1.    Memahami konstruksi dan cara kerja kopling dengan baik.

2.    Memahami cara membongkar, memeriksa dan memasang mekanisme penggerak kopling dengan prosedur yang benar.

3.    Memahami cara membongkar, memeriksa dan memasang kembali mekanisme kopling dengan prosedur yang benar.

4.    Memahami cara memeriksa dan menyetel pedal kopling dengan prosedur yang benar .

E.                                                        KOMPETENSI

 

Modul OPKR-30-003B membentuk kompetensi Overhoul Kopling dan komponen-komponennya. Uraian kompetensi dan subkompetensi ini dijabarkan seperti di bawah ini.

KOMPETENSI                    :  Overhoul Kopling dan komponen-komponennya

KODE                               :  OPKR-30-003B

DURASI PEMELAJARAN     :  60 Jam @ 45 menit

L                  LEVEL KOMPETENSI KUNCI

A

B

C

D

E

F

G

1

1

2

1

1

2

1

KONDISI KINERJA 1.     Batasan konteks

  • Standart kompetensi ini digunakan untuk kopling/komponen-komponen pada kendaraan ringan.

2.     Sumber informasi /dokumen dapat termasuk.

  • Spesifikasi pabrik kendaraan.
  • SOP (Standart Operation Prosedures) perusahaan.
  • Kebutuhan pelanggan.
  • Kode area tempat kerja.
  • Spesifikasi produk/komponen pabrik.
  • Lembaran data keamanan bahan.

3.     Pelaksanaan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

  • Undang-undang tentang K3 (Keselamatan dan Kesehatan kerja)
  • Penghargaan di bidang industri.

4.     Sumber-sumber dapat termasuk :

  • Peralatan tangan/hand tools, peralatan khusus/special tools, perlengkapan pengujian, peralatan pengangkat, perlindungan diri yang sesuai.

5.     Kegiatan

Kegiatan harus dilaksanakan dibawah kondisi kerja normal dan harus meliputi :

  • Pengujian, pembongkaran, perakitan, pengelingan dengan mesin, penyetelan kembali.

6.     Persyaratan Khusus

  • Unit kopling plat tunggal /single plate dan plat banyak/multi plate, konstruksi tipe basah atau tipe kering, tipe kerja standar dan berat. Mekanisme penggerak termasuk mekains, hidraulis dan pneumatik.
    • Kanvas kopling/disc clutch, plat tekan/Pressure plate.

7.     Variabel lain dapat berbentuk :

  • Sentrifugal, semi sentrifugal, dog clutch. One way clutch, cone.
  • Pendukung fleksibel clutch.

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

1.  Overhaul kopling dan komponen-komponennya.

§  Overhaul dilaksanakan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya.

§  Informasi yang benar di-akses dari spesifikasi pabrik dan dipahami.

§  Prosedur overhaul dilaksana-kan dengan menggunakan metode dan perlengkapan sesuai  spesifikasi dan tole-ransi terhadap kendaran/ sistem.

§  Seluruh kegiatan overhaul dilaksanakan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K 3 (Keselamatan dan Kese-hatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/ kebijakan perusa-haan.

§  Peralatan  tangan dan khusus  overhaul kopling

§  Prosedur overhaul kopling dan perlengkapannya

§  Spesifikasi pabrik

§  Menerapkan prosedur overhaul kopling sesuai SOP

§  Menerapkan keselamatan kerja dan lingkungan

§  Konstruksi dan cara kerja kopling

§  Prosedur overhaul

§  Prosedur pengujian dan pengukuran

§  Informasi teknik yang sesuai

§  Penilaian komponen

§  Persyaratan keamanan dan perlengkapan kerja

§  Persyaratan keamanan komponen

§  Kebijakan perusahaan

§  Persyaratan keselamatan diri

§  Teknik penanganan secara manual

§ Menggunakan alat dan perlengkapan over-

haul kopling

§ Melaksanakan overhaul kopling dan komponen-komponennya

§ Menguji dan memerik-

sa komponen

§ Merakit dan menyetel kembali unit kopling

F.    CEK KEMAMPUAN

 

Sebelum mempelajari modul OPKR-30-003B, isilah dengan cek list (Ö) kemampuan yang telah dimiliki peserta diklat dengan sikap jujur dan dapat dipertanggung jawabkan :

Sub Kompetensi

Pernyataan

 Jawaban

Bila jawaban ‘Ya’, kerjakan 

Ya

Tidak

1.  Overhoul Pembebas kopling hidraulik Saya mampu membongkar, memeriksa, menyetel dan memasang pembebas kopling hidraulik dan komponen-komponennya dengan baik Materi Praktek 1.
2.  Overhoul kopling dan komponen-komponennya Saya mampu melepas/ membongkar, mengganti, memperbaki & merakit/ memasang kopling & komponen-komponennya dengan baik Materi Praktek 2.

Apabila Peserta diklat menjawab Tidak,  pelajari modul ini


BAB II

PEMELAJARAN

A.     RENCANA BELAJAR SISWA

encanakan setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.  Mempelajari konstruksi dan cara kerja kopling
2.  Overhoul Pembebas Kopling Tipe Hidraulik
3.  Overhoul Kopling dan Komponen-komponennya

 

B.   KEGIATAN BELAJAR

1.  Kegiatan Belajar 1 : KONSTRUKSI DAN CARA KERJA  KOPLING 

a.   Tujuan Kegiatan Belajar 1

1)       Peserta diklat dapat memahami fungsi dan syarat-syarat kopling dengan benar.

2)       Peserta diklat dapat memahami konstruksi dan cara kerja kopling dengan benar.

3)       Peserta diklat dapat menyebutkan jenis-jenis kopling yang digunakan pada kendaraan.

4)       Peserta diklat dapat memahami cara kerja dan mekanisme penggerak kopling dengan benar.

5)       Peserta diklat dapat memahami prosedur trouble shooting kopling dengan benar.

b.   Uraian Materi 1

 

               SISTEM KOPLING

 

Kopling (clutch) terletak di antara motor dan transmisi, dan berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan putaran motor ke transmisi.

Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh kopling adalah :

1)   Harus dapat menghubungan putaran motor ke transmisi dengan lembut.

2)   Harus dapat memindahkan tenaga motor ke transmisi tanpa slip.

3)   Harus dapat memutuskan hubungan dengan sempurna dan cepat.

              KONSTRUKSI KOPLING

Kopling terdiri dari :

1.    Clutch dish (plat kopling)

2.    Pressure plat (plat penekan)

3.    Diapragma spring

4.    Release bearing

5.    Clutch cover

6.    Release fork

7.    Release cylinder

 

                          

1)   Tutup kopling (clutch cover)

Clutch cover terikat pada flywheel. Ini berarti bahwa saat motor berputar clutch cover juga berputar.

Syarat utama yang harus dimiliki oleh clutch cover adalah balance (seimbang) dan mampu memindahkan panas dengan baik.

a)    Clutch Cover Tipe Coil Spring

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar Clutch Cover Tipe Coil Spring

 

                       Tipe Coil spring ini mempunyai keuntungan :

ü  Penekanan terhadap plat kopling lebih kuat.

ü  Penekanan Plat kopling dapat disetel.

Kerugiannya :

ü  Tenaga untuk menekan pedal kopling besar.

ü  Konstruksi rumit sehingga harganya mahal.

ü  Penekanan Coil Spring tidak merata, akibatnya menimbulkan getaran

Cara kerja Clutch Cover Tipe Coil Spring:

(1)                      Saat pedal ditekan

Release fork menekan release bearing, release bearing menekan release lever  sehingga release lever mengangkat pressure plate melalui pivot pin melawan tekanan pressure spring dan menyebabkan plat kopling terbebas (tidak lagi terjepit di antara flywheel dan pressure plate) dan putaran motor tidak dapat diteruskan ke input shaft  transmisi.

(2)                      Saat pedal dilepas

Release fork tidak menekan release bearing, release bearing tidak menekan release lever sehingga pressure spring menekan pressure plate dan pressure plate menekan clutch disc ke flywheel. Sehingga terjadi perpindahan tenaga sebagai berikut :

Motor (flywheel) > clutch cover > pivot pin > release lever > pressure plate > clutch dish > spline > input shaft transmisi.

b)   Clutch Cover Tipe Diapragma Spring

Gambar Clutch Cover Tipe Diapragma Spring

                       Tipe Diapragma Spring ini mempunyai keuntungan :

ü  Tenaga penekanan pedal kopling lebih ringan.

ü  Penekanan terhadap plat kopling lebih merata.

ü  Tenaga pegas tidak akan berkurang karena gaya sentrifugal saat kecepatan tinggi.

Kerugiannya :

ü  Harga Lebih mahal.

c)    Cara kerja Clutch Cover Tipe Diapragma Spring

(1)                      Saat pedal ditekan

Release fork menekan release bearing, release bearing menekan diapragma spring sehingga diapragma spring mengangkat pressure plate melalui pivot ring  menyebabkan plat kopling terbebas (tidak lagi terjepit di antara flywheel dan pressure plate) dan putaran motor tidak dapat diteruskan ke input shaft transmisi.

(2)                      Saat pedal dilepas

Release fork tidak menekan release bearing, release bearing tidak menekan diapragma spring  sehingga diapragma  spring  menekan pressure plate dan pressure plate menekan clutch disc ke flywheel. Sehingga terjadi perpindahan tenaga sebagai berikut :

Motor (flywheel) > clutch cover > pivot ring > diapragma spring  > pressure plate > clutch dish > spline > input shaft transmisi.

2)   Plat kopling (Clutch Disc)

Plat kopling berfungsi untuk memindahkan tenaga putar dari motor ke transmisi dengan lembut tanpa terjadi selip.

Plat kopling terdiri dari facing yang berfungsi sebagai bidang gesek yang dikeling pada cushion plate yang berfungsi untuk memperlembut saat kopling berhubungan dan cushion plate dikeling pada disc plate.

Pada plat kopling juga terdapat torsion damper/torsion rubber yang berfungsi untuk meredam kejutan saat mulai kopling berhubungan dalam arah aksial.

MEKANISME PENGGERAK KOPLING

1)   Kopling Mekanis (Mechanical Clutch)

Pada sistem ini, tenaga penginjakan pedal untuk membebaskan kopling diteruskan ke release fork melelui release cable (kabel pembebas).

Mechanical clutch terdiri dari :

1.  Clutch pedal.

2.    Clutch release lever.

3.    Clutch release cable.

4.    Release fork.

5.    Clutch cover.

2)Kopling Hidraulis (Hydraulic Clutch)

Pada tipe ini, gerakan pedal kopling  dirubah menjadi tenaga hidraulis  oleh master cylinder yang kemudian diteruskan ke release fork melalui release cylinder.

Tipe ini terdiri dari :

1.  Clutch pedal.

2.    Master Cylinder.

3.    Flexible hose.

4.    Release cylinder.

5.    Release fork.

6.    Clutch cover.                                

 

(a) Master Silinder kopling

Master silinder kopling berfungsi untuk  menghasilkan tekanan hidraulis. Dan terdiri dari :

1.    Reservoir tank.

2.    Piston.

3.    Push rod.

4.    Inlet valve.

5.    Conical spring.

6.    Connecting rod.

7.    Compression spring.

8.    Spring retainer.

      Cara kerja master silinder:

ü  Saat Pedal Kopling Di Tekan

Connecting rod bergerak ke kiiri karena tenaga dari conical spring dan mengakibatkan reservoir tertutup oleh inlet valve. Chamber A terpisah dari chamber B, tekanan hidraulis pada chamber A naik, kemudian tekanan diteruskan ke pipa dan reservoir cylinder.

Chamber

ü  Saat Pedal Kopling Di Lepas

Piston akan kembali ke kanan oleh tekanan compression spring, connecting rod tertarik oleh spring retainer melawan tekanan conical spring, sehingga inlet valve terbuka dan chamber A berhubungan dengan chamber B.

(b) Silinder Pembebas Kopling

Silinder pembebas kopling berfungsi untuk mendorong release fork (meneruskan tekanan hidraulis dari master silinder).

Terdiri dari :

1.    Push rod

2.    Cylinder cup

3.    Cylinder body

4.    Conical spring

5.    Piston

  REFERENSI

Jenis-jenis Silinder Pembebas Kopling

  Silinder Pembebas Yang dapat Disetel                     Silinder Pembebas Yang Dapat Menyetel Sendiri

TROUBLE SHOOTING

1.   Kopling Sulit Bebas (Susah Pindah Gigi)

Kurang tinggi

1. Periksa tinggi pedal kopling                                          Stel

Oke

Terlalu besar

2. Periksa freeplay pedal kopling                                      Stel

Oke

3. Periksa udara dalam sistem kopling

Bocor

4. Periksa pipa kopling                          Ganti

Oke

Bocor

Oke          5. Periksa master cylinder                      Ganti

     Oke

                                                        Bocor

6. Periksa release cylinder                       Ganti

Aus,rusak

7. Periksa plat kopling                                                      Ganti

2.                                   Kopling Selip

Tidak ada

1. Periksa freeplay pedal kopling                                  Stel

Oke

Aus,berminyak,

2. Periksa permukaan kopling                  terbakar          Ganti

 Aus

Periksa seal transmisi/crankshaft             Ganti

Oke

Aus

3. Periksa pegas diapragma/penekan                          Ganti unit kopling

c.    Rangkuman 1

 

1)   Kopling berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan putaran motor ke transmisi.

2)   Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh kopling adalah :

a)    Harus dapat menghubungan putaran motor ke transmisi dengan lembut.

b)   Harus dapat memindahkan tenaga motor ke transmisi tanpa slip.

c)    Harus dapat memutuskan hubungan dengan sempurna dan cepat.

3)   Kopling terdiri dari clutch disc, pressure plate, diapragma spring, release bearing, clutch cover dan release fork.

 

d.   Tugas 1   

     Buatlah diagram prosedur trouble shooting  pada selembar kertas gambar A2 tentang :

ü  Kopling bergetar

ü  Kopling bunyi/berisik

Setelah selesai presentasikan didepan kelas/instruktur.

 

e.   Tes Formatif 1

 

1)   Sebutkan fungsi dan syarat-syarat kopling !

2)   Sebutkan komponen-komponen kopling !

3)   Sebutkan keuntungan dan kerugian kopling tipe coil spring !

4)   Jelaskan cara kerja kopling tipe coil spring !

5)   Sebutkan keuntungan dan kerugian kopling tipe diapragma spring !

6)   Jelaskan Jelaskan cara kerja kopling tipe diapragma !

7)   Jelaskan fungsi cushion plate dan torsion dumper !

8)   Jelaskan cara kerja master cylinder !

9)   Jelaskan prosedur trouble shooting

a)    Kopling sulit bebas

b)   Kopling selip

f.     Kunci Jawaban 1

1)   Kopling berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan putaran motor ke transmisi.

Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh kopling adalah :

a)    Harus dapat menghubungan putaran motor ke transmisi dengan lembut.

b)   Harus dapat memindahkan tenaga motor ke transmisi tanpa slip.

c)    Harus dapat memutuskan hubungan dengan sempurna dan cepat.

2)   Kopling terdiri dari clutch disc, pressure plate, diapragma spring, release bearing, clutch cover dan release fork.

              3) Keuntungan dan kerugian kopling tipe coil spring adalah

                   Keuntungannya :

ü  Penekanan terhadap plat kopling lebih kuat.

ü  Penekanan plat kopling dapat disetel.

Kerugiannya :

ü  Tenaga untuk menekan pedal kopling besar.

ü  Konstruksi rumit sehingga harganya mahal.

ü  Penekanan Coil spring tidak merata.

4) Cara kerja kopling tipe coil spring adalah sebagai berikut

a)                                    Saat pedal ditekan

Release fork menekan release bearing, release bearing menekan release lever  sehingga release lever mengangkat pressure plate melalui pivot pin melawan tekanan pressure spring dan menyebabkan plat kopling terbebas (tidak lagi terjepit di antara fly wheel dan pressure plate) dan putaran motor tidak dapat diteruskan ke input shaft transmisi.

b).      Saat pedal dilepas

Release fork tidak menekan release bearing, release bearing tidak menekan release lever sehingga pressure spring menekan pressure plate dan pressure plate menekan clutch disc ke flywheel. Sehingga terjadi perpindahan tenaga sebagai berikut :

Motor (flywheel) > clutch cover > pivot pin > release lever > pressure plate > clutch dish > spline > input shaft transmisi.

5)  Keuntungan dan kerugian kopling tipe diapragma spring Tipe adalah keuntungan :

ü  Tenaga penekanan pedal kopling lebih ringan.

ü  Penekanan terhadap plat kopling lebih merata.

ü  Tenaga pegas tidak akan berkurang karena gaya sentrifugal saat kecepatan tinggi.

Kerugiannya :

ü  Harganya lebih mahal.

6)  Cara kerja kopling tipe diapragma adalah

a)    Saat pedal ditekan

Release fork menekan release bearing, release bearing menekan menekan diapragma spring sehingga diapragma spring mengangkat pressure plate melalui pivot ring  menyebabkan plat kopling terbebas (tidak lagi terjepit di antara fly wheel dan pressure plate) dan putaran motor tidak dapat diteruskan ke input shaft  transmisi.

b)   Saat pedal dilepas

Release fork tidak menekan release bearing, release bearing tidak menekan diapragma spring  sehingga diapragma  spring  menekan pressure plate dan pressure plat menekan clutch disc ke flywheel. Sehingga terjadi perpindahan tenaga sebagai berikut :

Motor (flywheel) > clutch cover > pivot ring > diapragma spring    > pressure plate > clutch dish > spline > input shaft transmisi.

7) Cushion plate berfungsi untuk memperlembut saat kopling    berhubungan dan torsion damper/torsion rubber berfungsi untuk meredam kejutan saat kopling berhubungan.

8)   Cara kerja master cylinder:

ü  Saat Pedal Kopling Di Tekan

Connecting rod bergerak ke kiiri karena tenaga dari conical spring dan mengakibatkan reservoir tertutup oleh inlet valve. Chamber A terpisah dari chamber B, tekanan hidraulis pada chamber A naik, kemudian tekanan diteruskan ke pipa dan reservoir cylinder.

ü  Saat Pedal Kopling Di Lepas

Piston akan kembali ke kanan oleh tekanan compression spring, connecting rod tertarik oleh spring retainer melawan tekanan conical spring,sehingga inlet valve terbuka dan chamber A berhubungan dengan chamber B.

9)    Prosedur trouble shooting :

                    a) Kopling Sulit Bebas (Susah Pindah Gigi)

Kurang tinggi

1. Periksa tinggi pedal kopling                                          Stel

Oke

Terlalu besar

2. Periksa freeplay pedal kopling                                      Stel

Oke

3. Periksa udara dalam sistem kopling

Bocor

4. Periksa pipa kopling                          Ganti

Oke

Bocor

Oke          5. Periksa master cylinder                      Ganti

     Oke

                                                        Bocor

6. Periksa release cylinder                       Ganti

Aus,rusak

7. Periksa plat kopling                                                      Ganti

b.   Kopling Selip

Tidak ada

1. Periksa freeplay pedal kopling                                  Stel

Oke

Aus,berminyak,

2. Periksa permukaan kopling                  terbakar          Ganti

 Aus

Periksa seal transmisi/crankshaft             Ganti

Oke

Aus

3. Periksa pegas diapragma/penekan                          Ganti unit kopling

      2. Kegiatan Belajar 2 :

          OVERHOUL PEMBEBAS KOPLING TIPE HIDRAULIK

a.   Tujuan Kegiatan Belajar 2

1)   Peserta diklat dapat menggunakan alat dan perlengkapan overhoul pembebas kopling tipe hidraulik.

2)   Peserta diklat dapat melaksanakan overhoul pembebas kopling tipe hidraulik berdasarkan SOP (Standart Operation Procedures) dan K3.

3)   Peserta diklat dapat menguji dan memeriksa komponen pembebas kopling tipe hidraulik.

4)   Peserta diklat dapat merakit kembali komponen pembebas kopling tipe hidraulik.

5)   Peserta diklat dapat melakukan pembuangan udara (bleeding) pada pembebas kopling tipe hidraulik.

          b.  MATERI PRAKTEK 1

OVERHOUL PEMBEBAS KOPLING TIPE HIDRAULIK

Untuk melaksanakan kegiatan praktek overhoul pembebas kopling tipe     hidraulik memerlukan peralatan dan bahan sebagai berikut :

1)   Mobil lengkap dengan pembebas kopling tipe hidraulik.

2)   Peralatan tangan, kunci pas/ring atau tang (menyesuaikan kebutuhan).

3)   Pipet/penyedot.

4)   Grease/gemuk karet.

5)   Minyak kopling.

6)   Lap/majun.

KESELAMATAN KERJA

1)   Gunakan tutup fender, tutup kursi dan lantai agar kendaraan tetap bersih dan tidak rusak.

2)   Selama membongkar, tempatkan komponen secara berurutan untuk mempermudah pemasangan.

3)   Gunakan peralatan tangan sesuai dengan fungsinya.

4)   Apabila kendaraan harus diangkat hanya bagian depan atau belakang saja, jangan lupa mengganjal kendaraan demi keselamatan.

5)   Ikutilah instruksi dari instruktur/guru atau prosedur kerja yang tertera pada lembar kerja.

6)   Bila perlu mintalah buku manual dari  kendaraan tersebut.

 LANGKAH KERJA

1)   MASTER SILINDER KOPLING

 Momen pengencangan : kg-cm

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.     Pen Push rod

2.     Mur union pipa

3.     Mur

4.     Master silinder

5.     Tangki reservoir

6.     Push rod,Boot & Snap ring

7.     Piston

Gambar  : Komponen-komponen Silinder Master Kopling

MELEPAS MASTER SILINDER KOPLING

a)    Buang minyak rem dengan pipet.

Perhatikan :

Saat mengeluarkan Minyak rem  dari reservoir jangan sampai mengenai cat mobil . Apabila mengenai bagian yang bercat segera basuhlah dengan air.

b)   Lepaskan hubungan pipa saluran kopling .  Gunakan SST, lepaskan pipa saluran kopling. SST : 09751 – 36011

c)    Lepaskan selang saluran k opling.

(1) Lepaskan klip dan selangnya.

(2) Lepaskan selangnya.

d)   Lepaskan pen klevis.

Lepaskan klip dan pen klevis.

e)    Lepaskan master silinder.

Lepaskan mur dan baut pengikat nya, kemudian  lepaskan  master silinder.

         Master sxilinder rem

    Master silinder kopling

                                                                       

MEMBONGKAR MASTER SILINDER KOPLING

a)    Lepas tangki cadangan.

Lepas baut pengikat, cincin dan tangki cadangan (recervoir).

                                 Master silinder 

                                                                        Ragum

b)   Lepas rakitan batang pendorong (push rod).

(1)Tarik karet penutup debu dengan menggunakan obeng dan lepaskan snap ring.

(2) Tarik rakitan batang pendorong keluar.

c)    Lepaskan piston

Menggunakan udara kompresor, keluarkan piston dari silinder.

                                                                    Majun/kain

 

                   master silinder

                                                                              Pistol udara

 

PEMERIKSAAN MASTER SILINDER 

Setelah semua bagian dibersihkan, periksa dan gantilah bagian-bagian yang rusak.

a)    Kerusakan atau keausan pada lubang silinder utama dan permukaan luar piston.

b)   Pegas penekan lemah.

c)    Kerusakan pada reservoir.

d)   Kerusakan pada tutup reservoir, lubang angin tersubat.

e)    Pelampung reservoir rusak.

f)     Mangkuk silinder, spacer mangkuk piston dan gasket rusak atau aus.

Catatan : Bagian-bagian sebaiknya diganti pada waktu membongkar karena sukar diketahui cacat tidaknya, terutama karet-karet yang kualitasnya dapat berubah setiap waktu.

Hasil Pemeriksaan : ………………………………………………………………

……………………………………………………………………………………………

Kesimpulan : ………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………

 

MERAKIT MASTER SILINDER

a)    Pasang piston

(1) Oleskan gemuk karet pada piston.

(2) Masukkan piston ke dalam silinder.

b)   Pasang rakitan batang pendorong (push rod)

(1) Tekan piston dengan menggunakan rakitan batang pendorong dan pasanglah snap ring.

(2) Pasang karet penutup debu (boot) pada silinder.

Master silinder

c)    Pasang tangki cadangan (recervoir)

Pasang tangki cadangan dengan cincin dan baut pengikat

Momen pengencangan : 25 N.m (250 kg-cm, 1q8 ft-lb)

                                    Master silinder 

                                                                        Ragum

                    PEMASANGAN MASTER SILINDER  KOPLING

a)    Pasang master silinder dengan baut dan mur pengikat.

         Master sxilinder rem

    Master silinder kopling

                                                                       

b)   Pasang klevis, pen klevis dan klip.

Amankan pen klevis dengan klip.

c)    Pasang selang dan pipa saluran kopling.

(1)     Pasang selang pada master silinder

Momen : 24 N.m ( 240 kg-cm, 17 ft-lb).

(2)     Pasang selang dan pipa dengan tangan.

(3)     Pasang klip.

(4)     Kencangkan mur union dengan SST

SST : 09751-36011

Momen : 15 N.m ( 155 kg-cm, 11 ft-lb)

2) SILINDER PEMBEBAS KOPLING ( RELEASE CYLINDER )

Gambar : Komponen-komponen Silinder Pembebas Kopling

 

 

                   MEMBONGKAR SILINDER PEMBEBAS KOPLING

a)    Lepaskan pipa saluran kopling

Gunakan SST, lepaskan pipa kopling. Tempatkan penampung minyak kopling. (SST 09751-36011)

b)   Lepaskan silinder pembebas.

Lepaskan 2 baut pengikatnya dan lepaskan pula silinder pembebasnya.

c)    Membongkar silinder pembebas.

(1)Lepas batang pendorong.

(2)Lepas karet penutup debu (boot).

(3)Lepas piston dengan menggunakan udara kompresor.

                                                                                                                   Pistol udara

d)   Pemeriksaan silinder pembebas.

Setelah semua bagian dibersihkan, Periksalah bagian-bagian yang dibongkar terhadap keausan, karat atau kerusakan.

Hasil Pemeriksaan : ………………………………………………………………

……………………………………………………………………………………………

Kesimpulan : ………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………

e)    Merakit silinder pembebas.

(1)  Pasang piston

(a)      Oleskan gemuk karet pada piston.

(b)     Rakit piston dan pegas.

(c)      Pasang piston dan pegas pada silinder pembebas.

(2) Pasang karet penutup debu dan batang pendorong.

d)   Pemasangan silinder pembebas.

(1)                                           Pasang silinder pembebas dengan 2 baut pengikatnya.

e)  Pasang pipa saluran kopling.

(1)     pasang pipa dengan tangan.

(2)     Kencangkan mur union dengan SST.

f)     Memeriksa dan Menyetel Pedal Kopling.

(1)  Periksa Bahwa tinggi pedal kopling benar.

Tinggi pedal dari lantai : 156 – 166 mm

Hasil Pemeriksaan : ……………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………

Kesimpulan : ……………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………..

(2)      Bila perlu, setel Tinggi Pedal Kopling.

(a)  Kendorkan mur pengunci (1) dan setel tinggi pedal dengan memutar baut penyetop (2).

(b) Kencangkan mur pengunci.

Momen pengencangan : 24 Nm (240 kg-cm, 17 ft-lb)

(3)     Periksa bahwa Gerak Bebas Pedal dan Batang Pendorong (push rod) Benar.

(a)  Gerak Bebas Pedal

Tekan Pedal perlahan-lahan, sampai permukaan hambatan terasa.

Gerak Bebas Pedal : 5 – 15 mm (0,197 – 0,591 in)

(b)  Gerak Bebas Batang Pendorong

Tekan pedal dengan jari perlahan-lahan, sampai terasa adanya sedikit pertambahan hambatan.

Gerak Bebas Batang Pendorong pada ujung Pedal :

1,0 – 5,0 mm (0,039 – 0197 in)

 

Hasil Pemeriksaan :

Gerak Bebas Pedal :……………………………………………………………….

Gerak Bebas Batang Pendorong :…………………………………………….

Kesimpulan : …………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………….

 

(4) Bila Perlu, Setel Gerak Bebas Pedal dan Batang Pendorong (push  rod)

(a)      Kendorkan mur pengunci (3) dan setel kebebasan pedal  dengan memutar push rod (4)

Kebebasan push rod pada bagian atas : 

       1 – 5 mm

 

(b)     Tekan pedal kopling beberapa kali dan cek apakah kebebasan pedal keseluruhan masih dalam limit.

       Total : 5 – 15 mm

g)   Isi tangki cadangan (reservoir) dengan minyak rem dan lakukan pembuangan udara sistem pembebas kopling. Periksalah selalu tangki cadangan. Bila perlu tambahkan minyak rem.

Cara membuang udara pada sistem pembebas kopling

(1)     Pasangkan ujung selang plastik pada ujung nepel pembuang udara silinder pembebas dan ujung yang lain pada kaleng yang berisi minyak rem setengah  bagian.

(2)     Keluarkan udara dari saluran kopling.

Caranya :

(a)Pompalah pedal kopling beberapa kali.

(b)Sementara   pedal    ditekan, kendorkan nepel pembuang udara  sampai  minyak   rem  keluar.    Kencangkan    nepel

kembali.

(c)Ulangi  prosedur  di       atas

beberapa    kali, sampai tidak

ada     lagi  gelembung udara

di  dalam minyak  rem   yang

keluar.

(c)  Kencangkan nepel pembuang udara.

     Momen : 11 Nm (110 kg-cm, 8 ft-lb)

 

(3) Periksa ada tidaknya kebocoran minyak kopling pada    sambungan dari master silinder ke silinder pembebas.

Hasil Pemeriksaan : ……………………………………………………………………

……………………………………………………………………………………………..….

Kesimpulan : ……………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………

         c. Tugas 2

 

Setelah selesai melaksanakan praktek  Overhoul Mekanisme pembebas kopling tipe Hidraulik, buatlah laporan kerjanya dan presentasikan pada guru/instruktur. Kemudian buatlah kesimpulan mengenai keadaannya.

d.   LEMBAR PENILAIAN OVERHOUL PEMBEBAS KOPLING TIPE HIDRAULIK

Aspek Penilaian

Skor  (1-10)

Keterangan

Bobot

Nilai

Proses

(Sistematika dan Cara Kerja)

 

   

Syarat lulus, peserta diklat, minimal mencapai nilai 70 dengan skor setiap aspek minimal

1. Master silinder

 

 
    1.1. Melepas master silinder

5

 
    1.2. Membongkar master silider

5

 
    1.3. Memeriksa master silinder

5

 
    1.4. Merakit master silinder

5

 
     1.5. Memasang master silinder

5

 
2. Silinder Pembebas

 

 
    2.1. Melepas silinder pembebas

5

 
    2.2. Membongkar silinder pembebas

5

 
    2.3. Memeriksa silinder pembebas

5

 
    2.4. Merakit silinder pembebas

5

 
    2.5. Memasang silinder pembebas

5

 

Sub Total

50

 
Hasil Kerja    
1. Penyetelan pedal kopling

10

 
2. Pembuangan udara

10

 
3. Kebocoran minyak

5

 
4. Pembuatan laporan

5

 

Sub Total

30

 
Sikap/Etos Kerja

 

 
1. Penggunaan alat

5

 
2. Keselamatan Kerja

10

 

Sub Total

15

 
Kecepatan Kerja (Waktu Penyelesaian)

 

 
1. Waktu Penyelesaian

5

 

Sub Total

5

   

TOTAL

100

   

Tanda Tangan Instruktur       : …………………………………………..

Tanda Tangan Peserta diklat   : …………………………………………..

      3.  Kegiatan Belajar 3 : OVERHOUL KOPLING DAN KOMPONENNYA

 a. Tujuan Kegiatan Belajar 3

1)   Peserta diklat dapat menyiapkan alat yang akan digunakan .

2)   Peserta diklat dapat menggunakan alat dan perlengkapan overhoul kopling dan kelengkapannya.

3)   Peserta diklat dapat melaksanakan overhoul kopling berdasarkan SOP (Standart Operation Procedures) dan K3.

4)   Peserta diklat dapat menguji dan memeriksa komponen-komponen kopling yang telah dibongkar.

5)   Peserta diklat dapat Merakit dan menyetel kembali unit kopling.

b. MATERI PRAKTEK  2

OVERHOUL KOPLING DAN KOMPONENNYA

Untuk melaksanakan kegiatan praktek overhoul kopling dan komponen-komponennya memerlukan peralatan dan bahan sebagai berikut :

1)   Kendaraan/mobil  1 unit

2)   Alat-alat tangan, kunci pas, kunci ring, kunci sock dan tang (menyesuaikan kebutuhannya)

3)   Vernier Caliper (jangka sorong)

4)   Center clutch

5)   Dial indikator

6)   Gemuk

7)   Lap/majun

8)   Amplas

9)   Fender cover

10)Dongkrak

KESELAMATAN KERJA

1)   Gunakan tutup fender, tutup kursi dan lantai agar kendaraan tetap bersih dan tidak rusak.

2)   Selama membongkar, tempatkan komponen secara berurutan untuk mempermudah pemasangan.

3)   Gunakan peralatan tangan sesuai dengan fungsinya.

4)   Apabila kendaraan harus diangkat hanya bagian depan atau belakang saja, jangan lupa mengganjal kendaraan demi keselamatan.

5)   Ikutilah instruksi dari instruktur/guru atau prosedur kerja yang tertera pada lembar kerja.

6)   Bila perlu mintalah buku manual dari  kendaraan tersebut.

     LANGKAH KERJA

1)   MELEPAS TRANSMISI

Untuk Kedaraan Mesin Dibelakang Penggerak Roda Belakang (Front Engine Rear Drive)

a)    Melepas kabel negatif batere.

b)   Melepas braket pipa clucth release cylinder.

c)    Melepas karet penutup tuas pemindah transmisi.

                                                        Tuas pemindah transmisi

                                                     Karet penutup tuas (boot)

d)   Melepas tuas pemindah transmisi.

e)    Melepas propeller shaft.

f)     Melepas pipa knalpot.

(1)Lepas klem pipa knalpot dari braket.

(2)Buka tiga baut exhaust manifold.

(3)Lepas dua baut, mur, gasket dan pipa knalpot.

Pipa knalpot

g)   Melepas kabel speedometer dan konektor swit lampu mundur.

Kabel speedometer

 

h)   Melepas clutch release cylinder untuk pengontrolan tipe hidraulik.

Silinder pembebas                                                                                                     

i)     Melepas support member belakang (penyangga belakang transmisi).

Penyangga

j)     Melepas motor starter dari mesin.

k)    Melepas baut-baut transmisi.

l)     Melepas transmisi.

m)  Tarik keluar transmisi kearah belakang.

n)   Lepaskan transmisi dari kendaraan.

Perhatikan :

Berhati-hati jangan sampai merusak swit lampu mundur.

Untuk Kendaraan  Mesin Didepan Penggerak Roda Depan  (Front Engine Front Drive)

a)    Lepas terminal kabel negatif.

b)   Kuras oli roda gigi trans axle.

c)    Lepas kabel tegangan tinggi dari distributor.

d)   Lepas kabel speedometer.

e)    Lepaskan soket swit lampu mundur.

f)     Lepas kabel kontrol transmisi.

(1)     Lepaskan klip dan cincin.

(2)     Lepaskan penahan dari kabel.

g)   Lepas silinder pembebas kopling (clutch release cylinder).

(1)     Lepas baut pengikat silinder pembebas.

(2)     Lepas klip dari bracket pipa kopling.

(3)     Lepas bracket dari trans axle.

                                                                Silinder pembebas

h)   Lepas tutup bawah.

i)     Lepas poros penggerak kiri dan kanan.

(1)     Lepas ball joint dari lengan suspensi bawah.

(2)     Menggunakan SST, tarik poros penggerak keluar dari transaxle. (SST : 09520-10020)

                         Poros penggerak

j)     Lepas dudukan mesin belakang.

Lepas baut dudukan mesin belakang.

k)    Lepas motor starter.

(1)     Lepaskan kabel dan soketnya.

(2)     Lepaskan motor starter dengan melepas dua bautnya.

                          Motor starter

l)     Lepas dudukan mesin kiri.

(1)     Dongkraklah sedikit trans axle dan mesin.

Catatan : Pasang balok kayu  antara trans axle dongkrak.

(2)     Lepaskan dudukan mesin kiri.

m)  Lepas Trans Axle.

(1)     Lepas baut-baut trans axle.

(2)     Turunkan bagian belakang mesin dan lepaskan trans axle dari mesin.

dongkrak      

2)   PELEPASAN UNIT TRANSMISI

 

 

                                                            1. Rakitan transmisi

2. Clip hub bantalan pembebas

3. Bantalan pembebas & hub

4.  Garpu pembebas

5.  Tutup kopling

6.  Plat kopling

 

 

                            

                  

Gambar :  Komponen-komponen Kopling

a)    Lepas penutup kopling dan kopling.

(1) Buatlah tanda pada penutup kopling dan roda penerus.

(2) Kendorkan setiap baut satu putaran pada suatu saat hingga pegas penegang menjadi bebas.

(3) Lepaskan baut pengikat dan tarik penutup kopling bersama dengan plat kopling.

Petunjuk : Hati-hati, agar plat kopling tidak terjatuh.

b)   Lepas bantalan pembebas bersama hub, garpu dan boot dari transmisi.

(1)                      Lepas klip dan lepas bantalan bersama hub.

(2)                      Lepas pegas penegang (tipe kontrol kabel).

(3)                      Lepas garpu dan boot.

                                    Release Bearing

3)   PEMERIKSAAN DAN PERBAIKAN KOMPONEN KOPLING.

a)    Pemeriksaan plat kopling terhadap keausan atau kerusakan.

Menggunakan vernier caliper (jangka sorong), ukur kedalaman kepala paku keling.

Kedalaman kepala paku keling minimum : 0,3 mm (0,012 in), bila diketahui ada kelainan, ganti plat kopling.

Hasil Pemeriksaan : ………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………

Kesimpulan : ……………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………

b)   Periksa keolengan (Run-Out) plat kopling.

Menggunakan dial gauge, ukur keolengan plat kopling.

Keolengan maksimum : 0,8 mm (0,031 in), bila berlebihan, gantilah plat kopling dengan yang baru.

Hasil Pemeriksaan: ………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………..

Kesimpulan : ……………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………..

c)    Periksa keolengan (run- out) roda penerus.

Menggunakan dial gauge, ukur keolengan roda penerus.

Keolengan maksimum : 0,1 mm (0,004 in).

Hasil Pemeriksaan: …………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………

Kesimpulan : ……………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………

d)   Periksa bantalan pilot (Pilot Bearing).

Putar bantalan dengan tangan, sambil memberikan tekanan pada arah aksial.

Bila bantalan macet atau terlampau besar tahanannya, gantilah bantalan pilot.

Petunjuk :  Bantalan telah dilumasi secara permanen dari pabrik, dan tidak memerlukan pembersihan atau pelumasan kembal

Hasil Pemeriksaan: ………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………..

Kesimpulan : ……………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………..

e)    Mengganti Bantalan Pilot.

(1)   Lepaskan bantalan pilot dengan SST (09303 – 35010).

Catatan : Jangan melepas bantalan kecuali perlu.

(2)     Pasang pilot bearing yang baru menggunakan SST (09307-12010).

Catatan : Sebelum dipasang, berilah gemuk Serba guna pada bantalan.

 

f)     Periksa Pegas diaphragma terhadap keausan.

Menggunakan Vernier caliper (jangka sorong), ukur kedalaman dan lebar keausan pegas diaphragma.

Limit kedalaman        : 0,6 mm (0,024 in)

Limit lebar                : 5,0 mm (0,197 in)

Hasil Pemeriksaan: ……………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………

Kesimpulan : ……………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………

g)   Periksa bantalan Pembebas (Release bearing).

Putar bantalan dengan tangan, sambil memberikan tekanan pada arah aksial.

Bila bantalan macet atau terlampau besar tahanannya, gantilah bantalan pilot.

Petunjuk :  Bantalan telah dilumasi secara permanen dari pabrik, dan tidak memerlukan pembersihan atau pelumasan kembali.

Hasil Pemeriksaan: …………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………

Kesimpulan : ……………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………

h)   Mengganti Bantalan Pembebas (Release bearing).

(1)     Lepaskan bantalan pembebas dari hub nya dengan menggunakan SST (09315 – 00010).

Catatan : Jangan melepas bantalan kecuali perlu.

                                                                      Mesin Pres

                                                                                  Realease bearing

                                                                   

(2)     Pasang bantalan pembebas yang baru pada hub, dengan menggunakan SST (09315 – 00010).

Catatan : Periksalah bahwa bantalan berputar lembut (Tidak ada tahanan) diwaktu diputar dengan tekanan.

                                                        Mesin pres

                                                              Release bearing

4)   PEMASANGAN UNIT KOPLING

Perhatian : Pasang semua bagian-bagian menurut kebalikan dari urutan pada waktu melepas.

a)    Bersihkan flywheel dan plat penekan (pressure plate) dengan kertas amplas.

b)   Pasangkan Piringan kopling (clutch disc) pada flywheel menggunakan center clutch/SST (09301-20020).

c)    Pasangkan Tutup Kopling (Clutch Cover).

(1)  Tepatkan tanda pada tutup kopling dari roda penerus (fly wheel)

(2)   Kencangkan baut pengikat dengan rata dalam beberapa     tahap, sampai tutup kopling terduduk dengan baik.

Momen Pengencangan : 19 N.m (195 kg.cm, 14 ft-lb)

d)   Periksa/cek ujung-ujung pegas diaphragma mengenai ketepatan pemasangannya dengan menggunakan alat ukur ketebalan (feeler gauge) dan SST (09302-30031).

Limit penyimpangan : 0,5 mm (0,020 in)

           Feeler gauge

Hasil Pemeriksaan: …………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………

Kesimpulan : ……………………………………………………………………………..

                       …………………………………………………………………………………………………

e)    Jika melebihi limit penyimpangan, lakukan penyetelan dengan SST : (09333-00011) dari set (09301-00012).

f)     Lumasi dengan gemuk (Gemuk Molybdenum Dislphide Lithium) pada ujung garpu dan permukaan persinggungan hub pembebas.

g)   Lumasi gemuk (Gemuk Molybdenum Dislphide Lithium) pada alur hub pembebas dan gemuk MP pada permukaan persinggungan pegas diaphragma.

h)   Lumasi dengan gemuk (Gemuk Molybdenum Dislphide Lithium) pada ulir-ulir piringan dan gemuk MP pada pegas diaphragma.

i)     Pasang boot, garpu dan bantalan pembebas dengan hub pada transmisi.

(1)                       Pasang boot dan garpu pembebas.

(2)                       Pasang pegas penegang (tipe kontrol kabel).

(3)                       Klip, amankan bantalan dan hub terhadap transmisi.

release fork

5)   Pasang Unit Transmisi

Pasang semua bagian-bagian menurut kebalikan dari urutan pada waktu melepas.

         c. Tugas 3

 

Setelah selesai melaksanakan praktek  Overhoul Mekanisme pembebas tipe Hidraulik, buatlah laporan kerjanya dan presentasikan pada guru/instruktur. Kemudian buatlah kesimpulan mengenai keadaannya.

d. LEMBAR PENILAIAN OVERHOUL KOPLING DAN KOMPONENNYA

Aspek Penilaian

Skor  (1-10)

Keterangan

Bobot

Nilai

Proses

(Sistematika dan Cara Kerja)

 

   

Syarat lulus, peserta diklat, minimal mencapai nilai 70 dengan skor setiap aspek minimal 7

 1. Melepas transmisi

5

 
 2. Melepas unit kopling

5

 
 3. Memeriksa bagian kopling

5

 
 4. Perbaikan bagian kopling

5

 
 5. Memasang bagian kopling

5

 
 6. Memasang transmisi

5

 

Sub Total

30

 
Hasil Kerja    
 1. Melepas transmisi

5

 
 2. Melepas unit kopling

5

 
 3. Memeriksa bagian kopling

8

 
 4. Perbaikan bagian kopling

7

 
 5. Memasang bagian kopling

5

 
 6. Memasang transmisi

5

 
 7. Pembuatan laporan

5

 

Sub Total

40

 
Sikap/Etos Kerja

 

 
1. Penggunaan alat

10

 
2. Keselamatan Kerja

10

 

Sub Total

20

 
Kecepatan Kerja (Waktu Penyelesaian)

 

 
1. Waktu Penyelesaian

10

 

Sub Total

10

 

TOTAL

100

   

Tanda Tangan Instruktur       : …………………………………………..

Tanda Tangan Peserta diklat   : …………………………………………..

BAB III

EVALUASI

 

A.   PERTANYAAN

Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini dengan tepat !

1.    Sebutkan fungsi dan syarat-syarat kopling !

2.    Sebutkan keuntungan dan kerugian kopling tipe diapragma spring !

3.    Jelaskan Jelaskan cara kerja kopling tipe diapragma !

4.    Apakah yang terjadi bila permukaan cat pada kendaraan terkena minyak rem ? dan  tindakan apa yang diambil bila hal itu terjadi ?

5.    Apakah yang terjadi bila plat kopling aus tetap digunakan ?

6.    Berapakah gerak bebas pedal kopling yang diijinkan ?

7.    Lengkapi gambar dibawah ini dengan nama-nama bagiannya disampingnya !

8. Jodohkan nama-nama komponen sistem pembebas kopling dibawah ini

1.    Clutch pedal

2.    Clutch release

3.    Clutch cable

4.    Release fork

5.    Clutch cover

1.    Clutch Pedal

2.    Master cylinder

3.    Flexible hose

4.    Release cylinder

5.    Release fork

6.      Clutch cover

B.     KUNCI JAWABAN

1.    Kopling berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan putaran motor ke transmisi.

Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh kopling adalah :

b.    Harus dapat menghubungan putaran motor ke transmisi dengan lembut.

c.    Harus dapat memindahkan tenaga motor ke transmisi tanpa slip.

d.      Harus dapat memutuskan hubungan dengan sempurna dan cepat.

2.    Keuntungan dan kerugian kopling tipe diapragma spring  adalah

Keuntungan :

ü  Tenaga penekanan pedal kopling lebih ringan.

ü  Penekanan terhadap plat kopling lebih merata.

ü  Tenaga pegas tidak akan berkurang karena gaya sentrifugal saat kecepatan tinggi.

Kerugiannya :

ü  Harganya lebih mahal.

3.  Cara kerja kopling tipe diapragma adalah

a.    Saat pedal ditekan

Release fork menekan release bearing, release bearing menekan  diapragma spring sehingga diapragma spring mengangkat pressure plate melalui pivot ring  menyebabkan plat kopling terbebas (tidak lagi terjepit di antara fly wheel dan pressure plate) dan putaran motor tidak dapat diteruskan ke input shaft transmisi.

b.    Saat pedal dilepas

Release fork tidak menekan release bearing, release bearing tidak menekan diapragma spring  sehingga diapragma  spring  menekan pressure plate dan pressure plat menekan clutch disc ke flywheel. Sehingga terjadi perpindahan tenaga sebagai berikut :

Motor (flywheel) > clutch cover > pivot ring > diapragma spring           > pressure plate > clutch dish > spline > input shaft transmisi.

4. Yang terjadi apabila permukaan cat pada kendaraan terkena minyak rem adalah permukaan cat akan rusak dan cara mengatasinya adalah dengan membasuh permukaan yang terkena minyak dengan air.

5. Yang terjadi apabila plat kopling telah aus tetap digunakan adalah putaran mesin tidak dapat diteruskan ke transmisi dengan baik yang biasa disebut kopling selip.

6. Gerak bebas pedal kopling yang diijinkan adalah 5 – 15 mm

7.  Nama-nama bagian kopling adalah sebagai berikut

8.Nama-nama bagian sistem pembebas kopling adalah sebagai berikut

1.    Clutch pedal

2.    Clutch release

3.    Clutch cable

4.    Release fork

5.      Clutch cover

1.Clutch Pedal

2.Master cylinder

3.Flexible hose

4.Release cylinder

5.Release fork

6.Clutch cover

C.                                   LEMBAR KERJA UJI KOMPETENSI

MEMERIKSA MEKANISME PENGGERAK KOPLING HIDRAULIK

TUJUAN :

Peserta diklat dapat memeriksa dan Penyetelan Mekanisme Penggerak Kopling Hidraulik.

ALAT DAN BAHAN YANG DIPERLUKAN :

1.  Kendaraan Lengkap dengan Pembebas Kopling Hidraulik.

2. Tool Set.

3.            Mistar Baja

4.            Liquid Master Cylinder kopling (Minyak rem)

5.            Gemuk

6.            Lap

KESELAMATAN KERJA :

1.    Jangan memberi pelumas pada plat kopling.

2.    Hindari Cairan Kopling (minyak rem) jangan sampai kena mata.

3.    Pasang rem tangan kendaraan yang dikerjakan.

LANGKAH KERJA :

1.    Siapkan/tempatkan Kendaraan pada tempat yang aman.

2.    Periksa urutan mekanik pembebas kopling mulai dari pedal sampai garpu pembebas (release fork).

3.    Periksa Cairan Kopling (minyak rem), tambah bila perlu dan periksa kebocoran salurannya.

4.    Bersihkan dan beri gemuk sendi-sendi putarnya.

5.    Periksa free play pedal kopling. Setel menurut buku Pedoman  Reparasi.

6.    Laporkan hasil pemeriksaan dan penyetelan kepada instruktur.

7.    Bersihkan dan kembalikan alat-alat yang digunakan.

TUGAS :

Buatlah laporan mengenai kondisi Mekanisme Penggerak Kopling Hidraulik yang anda periksa.

D. Kriteria Kelulusan

 

Aspek

Skor  (1-10)

Bobot

Nilai

Keterangan

Aspek Sikap:      

Syarat lulus, siswa minimal mencapai nilai 70 dengan skor setiap aspek minimal 7

1. Kebersihan alat dan perlengkapan  

5

 
2. Keselamatan dan kesehatan kerja  

10

 
3. Ketepatan perencanaan penyelesaian modul  

5

 
Aspek Kogntif:  

 

 
1. Kemampuan menjawab soal latihan  

5

 
2. Kemampuan menjawab soal evaluasi  

10

 
3. Kemampuan membuat kesimpulan  

5

 
Aspek Psikomotor:  

 

 
1. Kemampuan menggunakan manual  

10

 
2. Kemampuan melakukan dan penggunaan peralatan  

20

 
3. Kemampuan menganalisis perma-salahan  

20

 
4. Kemampuan membuat laporan  

10

 

Jumlah

100

 

 

Kriteria Kelulusan :

70 s.d. 79        :  memenuhi kriteria minimal dengan bimbingan

80 s.d. 89        :  memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan

90 s.d. 100      :  di atas minimal tanpa bimbingan

 

No

Tanda Tangan

Tanggal Kelulusan

1 Instruktur        : ……………………………………
2 Peserta Diklat   : …………………………………..

BAB IV

PENUTUP

 

 

eserta diklat yang telah mencapai tingkat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke modul selanjutnya. Sementara mereka yang belum mencapai tingkat kelulusan minimal atau belum berhasil lulus, tidak diperkenankan untuk mengambil atau mempelajari modul selanjutnya, dan harus mengulang kembali modul Overhoul Kopling dan komponen-komponennya ini .

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

Astra Internasional,tt, Basic Mechanic Training, Astra Internasional, Jakarta

Anonim (1994). Training Manual Drive Train Group, Jakarta : Penerbit PT. Toyota-Astra Motor.

Anonim (tt). Step 2 Materi Pelajaran Chassis Group, Jakarta : Penerbit PT. Toyota-Astra Motor.

Pedoman Reparasi. Corona Mark II “CHASSIS & BODY” seri              RX 60, September 1981 PT. TOYOTA ASTRA MOTOR

Pedoman Reparasi    “CHASSIS & BODY”    KIJANG Seri KF 40,50           PT. TOYOTA ASTRA MOTOR

Pedoman Reparasi    “CHASSIS & BODY”    STARLET EP 70, 71     series Oct. 1985   PT. TOYOTA ASTRA MOTOR

Reinforcement Basic Competencies Mechanical Training                         “ POWER TRAIN & CHASSIS GROUP” Astra Mobil Training Center.

Memelihara_Servis Sistem AC (Air Conditioner)

BAB. I

PENDAHULUAN

A.   DESKRIPSI

Modul ini berjudul “Memelihara/Servis Sistem AC (Air Conditioners)” yang disusun berlandaskan pelatihan yang berbasis kompetensi sebagai konsekwensi dari pemakaian Kurikulum 2004 dengan standar Nasional.

Penguasaan materi modul ini akan dapat lebih cepat dikuasai apabila siswa sebelumnya telah menyelesaikan materi penunjang yang mendasarinya yaitu modul OPKR-50-016B.

Materi yang akan diberikan dikemas dalam bentuk kegiatan belajar baik teori maupun praktIk, yang mana pemelajaran teori merupakan landasan dasar yang akan menunjang ketrampilan praktek siswa sehingga setelah siswa selesai melaksanakan kegiatan pada modul ini diharapkan siswa akan menguasai ketrampilan tentang Pemeliharaan/Servis Sistem Air Condition pada mobil seperti yang dilakukan di bengkel-bengkel.

Setelah siswa menguasai ketrampilan dari modul ini, siswa dapat bekerja dibengkel-bengkel spesialis AC atau membuka usaha bengkel sendiri, yang mana peluangnya kedepan sangat luas dan menjanjikan.

 

 

B.   PRASYARAT

        Sebelum memulai modul ini, peserta diklat pada Bidang Keahlian Mekanik Otomotif harus sudah menyelesaikan modul-modul prasyarat seperti terlihat dalam diagram pencapaian kompetensi maupun peta kedudukan modul. Prasyarat mempelajari modul OPKR-50-019B antara lain adalah OPKR-50-016B.

C.     PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

1.  Rambu-rambu Belajar bagi Peserta Diklat

Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal, dalam menggunakan modul ini maka langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:

a.      Bacalah dan pahami dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada masing-masing kegiatan belajar. Bila ada materi yang kurang jelas, peserta diklat dapat bertanya pada guru atau instruktur yang mengampu kegiatan belajar.

b.     Kerjakan tugas test formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.

c.      Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikanlah hal-hal berikut ini:

1)    Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang berlaku

2)    Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik

3)    Sebelum melaksanakan praktikum, identifikasi (tentukan) peralatan dan bahan yang diperlukan dengan cermat

4)    Gunakan alat sesuai prosedur pemakaian yang benar

5)    Untuk melakukan kegiatan praktikum yang belum jelas, harus meminta ijin guru atau instruktur terlebih dahulu

6)    Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan ke tempatnya

d.     Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada guru atau instruktur yang mengampu kegiatan pembelajaran yang bersangkutan.

2.     Peran bagi Guru/Instruktur Pengampu

1.     Membantu peserta diklat dalam merencanakan proses belajar

2.     Membimbing peserta diklat melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar

3.     Membantu peserta diklat dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan peserta diklat mengenai proses belajar peserta diklat

4.     Membantu peserta diklat untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar

5.     Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok

6.     Merencanakan seorang ahli/pendamping guru dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan

7.     Mencatat kemajuan belajar siswa

8.     Melakukan penilaian

9.      Menjelaskan kepada siswa, bagian-bagian yang perlu diulang/diperbaiki  dan merundingkan rencana pemelajaran selanjutnya.

D.   Tujuan Akhir

Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar baik teori maupun praktik dari modul ini peserta diklat diharapkan memiliki kemampuan:

1.     Mengetahui nama, fungsi dan cara kerja dari komponen Air Coditioners

2.     Memahami rangkaian/siklus pendinginan AC mobil

3.     Memiliki kemampuan melakukan Servis AC Mobil.


E. KOMPETENSI

Modul OPKR-50-019B membentuk subkompetensi melaksanakan pemeliharaan/servis sistem AC. Uraian subkompetensi ini dijabarkan seperti di bawah ini.

KOMPETENSI                     :   Memelihara/Servis Sistem AC (Air Conditioner)

KODE                                         :   OPKR-50-019 B

DURASI PEMELAJARAN      :   60 Jam @ 45 menit

LEVEL KOMPETENSI KUNCI

A

B

C

D

E

F

G

2

1

1

1

-

2

2

KONDISI KINERJA

1.        Batasan konteks

§   Standar kompetensi ini digunakan untuk sistem A/C yang dipasang pada kendaraan ringan

2.        Sumber informasi/dokumen dapat termasuk:

§  Spesifikasi pabrik kendaraan

§  SOP (Standard Operation Procedures) perusahaan

§  Kebutuhan pelanggan

§  Kode area tempat kerja

§  Peraturan pemerintah mengenai kelaikan kendaraan

§  Lembaran data keamanan bahan

3.        Pelaksanaan K3 harus memenuhi:

§   Undang-undang tentang K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

§   Penghargaan di bidang industri

4.        Sumber-sumber dapat termasuk:

§   Peralatan tangan, perlengkapan pendeteksi kebocoran refrigerant, suku cadang, thermometer, evakuasi, perlengkapan recovery refrigerant dan recycling, perlengkapan pengisian refrigerant, refrigerant, oli refrigerant

5.        Kegiatan

Kegiatan harus dilaksanakan di bawah kondisi kerja normal dan harus meliputi:

§   Penyetelan

§   Mendeteksi kebocoran refrigerant

§   Pengujian kemampuan

6.        Variabel terapan lainnya termasuk:

Sistem pengontrol temperatur

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

1. Memelihara/Servis Sistem AC  (Air Conditioners) §  Pemeliraan /servis sistem AC dilaksanakan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya

§  Informasi yang benar di-akses darin spesifikasi pabrik dan dipahami

§  Sistem diuji kemampuannya dan menentukan prosedur pemeliharaannya/servis AC yang sesuai

§  Pemeliharaan /servis sistem dan komponen dilaksana-kan sesuai dengan spesifi-kasi pabrik kendaraan.

§  Seluruh kegiatan perbaikan dilaksanakan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K 3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/kebijakan perusahaan.

§  Sistem diuji dan hasilnya dicatat sesuai dengan prosedur dan kebijakan perusahaan

§  Konstruksi dan prinsip kerja sistem AC/Air Conditioners.

§  Prosedur pemeliharaan sistem AC.

§  Standar prosedur keselamatan kerja.

§  Cermat dan teliti dalam penggunaan alat ukur elektronik

§  Melaksanakan prosedur pemeliharaan dengan mengacu pada SOP

§  Memperhatikan kesela-matan kerja dan lingkungan

§  Konstruksi dan cara kerja sistem AC/Air Conditioners

§  Prosedur pemeliharaan  dan pengujian AC

§  Persyaratan keselamatan kerja dan lingkungan

§  Melaksanakan pemeriksaan kondisi AC/Air Conditoners

§  Melakukan proses pengosongan dan pengisian cairan AC

§  Melakukan proses pengujian kebocoran

§  Melakukan tes kemampuan AC


F.        CEK KEMAMPUAN

Sebelum mempelajari modul OPKR-50-019B, isilah dengan cek list (Ö) kemampuan yang telah dimiliki peserta diklat dengan sikap jujur dan dapat dipertanggungjawabkan:

KOMPETENSI/SUB KOMPETENSI

PERNYATAAN

 JAWABAN

BILA JAWABAN ‘YA’, KERJAKAN

YA

TIDAK

Memelihara/Servis

    Sistem AC

1.   Saya dapat menjelaskan Tentang aspek Keselamatan Kerja untuk pekerjaan servis AC, nama, fungsi dan cara kerja komponen-komponen utama AC pada mobil.

Soal Tes Formatif 1.

2.   Saya dapat menjelaskan nama dan fungsi perlengkapan tambahan serta siklus kerja sistem pendinginan AC mobil.

Soal Tes Formatif  2

3.    Saya dapat menjelaskan dan mengerjakan prosedur servis AC mobil, Prosedur mencari kebocoran sistem AC dan melakukan test kemampuan AC.

Soal Tes Formatif 3.

Apabila peserta diklat menjawab Tidak, pelajari modul ini.


BAB. II

PEMELAJARAN

A.  Rencana Belajar Peserta Diklat

Oleh karena kegiatan belajar pada modul ini harus dilakukan secara berurutan maka kartu kegiatan belajar dibawah ini akan dapat membantu ketercapaian tujuan yang diharapkan dari modul ini. Kartu kegiatan ini harus diisi oleh siswa setelah menyelesaikan kegiatan yang diikutinya dan disyahkan oleh Guru/Instruktur yang membimbing.

Jenis Kegiatan

Tgl

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.   Mempelajari Aspek Keselamatan Kerja, Nama-nama dan fungsi komponen utama AC
2.   Mempelajari cara kerja komponen utama AC
3.   Mempelajari nama dan fungsi perlengkapan tambahan yang  terdapat pada AC mobil.
4.   Mempelajari siklus pen dinginan (AC) pada mobil
5.   Membongkar, membersih kan, memasang kembali komponen AC mobil
6.   Mengisi refrigerant
7.   mengetest kebocoran siklus pendinginan
8.   Melakukan servis AC dengan mempelajari ber bagai kerusakan yang mungkin terjadi pada siklus
9.   Melakukan test kebocoran sistem AC
10. Melakukan uji kemampuan AC
11. Bongkar pasang magnetic Clutch.
12. Bongkar pasang kompresor tipe Swash plate
13. Bongkar pasang Kompresor tipe Through vane

14. Evaluasi

B.  Kegiatan Belajar

 

Kegiatan Belajar 1.  Aspek Keselamatan Kerja, nama, fungsi dan cara kerja komponen AC Mobil (Kendaraan Ringan)

 

a.    Tujuan kegiatan belajar

 

§  Peserta Diklat dapat melaksanakan aspek keselamatan kerja yang harus diikuti pada waktu mengerjakan pekerjaan servis AC

§  Peserta diklat dapat menyebutkan  nama-nama dan fungsi  komponen utama AC

§  Peserta diklat dapat menjelaskan cara kerja komponen utama AC

b.    Uraian Materi

1)   Aspek Keselamatan Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan aspek yang penting dalam pekerjaan yang berhubungan dengan mesin untuk itu sebaiknya berhati-hati dari segala kemungkinan bahaya yang mungkin timbul dari pekerjaan tersebut. Servis AC merupakan salah satu pekerjaan yang berhubungan dengan mesin, disana ada unsur listrik, bahan kimia, api, benda tajam, dan masih banyak lagi hal-hal yang dapat mendatangkan bahaya sehingga peserta diklat sebaiknya mengikuti petunjuk yang akan diberikan dibawah ini.

Keselamatan kerja pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga kelompok yang satu dengan lainnya sangat berkaitan dengan erat:

a.Keselamatan lingkungan

b.    Keselamatan diri

c.     Keselamatan benda kerja

Pekerjaan akan sangat dinilai berhasil kalau ketiga unsur diatas diperhatikan dan dijaga, salah satu dari ketiga unsur gagal terlaksana maka kita akan memperoleh predikat yang kurang baik yang diberikan baik oleh masyarakat, perusahaan maupun konsumen pengguna jasa kita. Sebagai contoh: Kendaraan yang kita servis AC nya berhasil mendapatkan pujian dari konsumen, karena konsumen puas dengan kenyamanan yang didapatkannya, diri kita juga terhindar dari kecelakan kerja namun apabila dalam membuang gas sisa refrigerant kita kurang hati-hati, sehingga kita ikut andil dalam menggerogoti lapisan ozon bumi kita, hal ini tentu akan menimbulkan cerca masyarakat kepada bengkel kita.

Disarankan peserta diklat memperhatikan ketiga unsur keselamatan tersebut dengan mengikuti petunjuk keselamatan kerja sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku.

Pada aspek keselamatan diri disarankan untuk selalu menggunakan peralatan keselamatan dan kesehatan kerja yang disediakan oleh perusahaan dan jangan sekali-kali mengabaikannya, seperti:

Pakaian kerja

Kacamata pelindung

Sarung tangan

Sepatu kerja

Masker hidung dll.

Pada aspek keselamatan bahan atau benda kerja ikuti petunjuk dibawah:

Sebelum membongkar komponen AC selalu lepaslah battery terlebih dahulu

Gunakan cover pelindung cat pada bagian yang akan dikerjakan

Aktifkan rem tangan agar kendaraan tidak bergerak sendiri

Gunakan tabung penampung saat membuang zat Refrigerant

Singkirkan zat-zat yang mudah terbakar dari sekitar pekerjaan

Gunakan alat sesuai dengan penggunaannya

Berhati-hatilah dalam menggunakan peralatan listrik/elektronik.

Prosedur Pertolongan Pertama

Apabila peserta diklat terkena zat Refrigerant secara langsung, maka yang harus dilakukan adalah:

Siram bagian luka dengan menggunakan air dingin beberapa menit hingga terasa nyaman, hal ini dimaksudkan untuk mencegah naiknya temperatur pada bagian luka tersebut. Jika yang terkena bagian mata hindari menggosok baik dengan telapak tangan ataupun dengan benda yang lain untuk menghindari syaraf mata menjadi beku. Akan tetapi lakukanlah hal yang sama yaitu dengan menyiram dengan air dingin, kemudian balut dengan kassa bersih agar kotoran tidak masuk.

Setelah prosedur petolongan pertama sudah dilakukan, segeralah dibawa ke puskesmas atau rumah sakit untuk memperoleh pelayanan medis yang lebih baik.

2)   Nama-nama dan Fungsi Komponen Utama AC (Air Conditioners)

 

AC atau Air Conditioners, adalah suatu rangkaian peralatan (komponen) yang berfungsi untuk mendinginkan udara didalam kabin agar penumpang dapat merasa segar dan nyaman.  Rangkaian peralatan (komponen) tersebut adalah:

a.    Compressor     

Berfungsi untuk memompakan Refrigrant yang berbentuk gas agar tekanannya meningkat sehingga juga akan mengakibatkan temperaturnya meningkat.

b.    Condenser                                              

Berfungsi untuk menyerap panas pada Refrigerant yang telah dikompresikan oleh kompresor dan mengubah refrigrant yang berbentuk gas menjadi cair (dingin).

c.     Dryer/Receifer

Berfungsi untuk menampung Refrigerant cair untuk sementara, yang untuk selanjutnya mengalirkan ke Evaporator melalui Expansion Valve, sesuai dengan beban pendinginan yang dibutuhkan. Selain itu Dryer/Receifer juga berfungsi sebagai Filter untuk menyaring uap air dan kotoran yang dapat merugikan bagi siklus Refrigerant.

d.    Expansion Valve                                              

Berfungsi Mengabutkan Refrigrant kedalam Evaporator, agar Refrigerant cair dapat segera berubah menjadi gas.

e.    Evaporator                

Merupakan kebalikan dari Condenser Berfungsi untuk menyerap panas dari udara yang melalui sirip-sirip pendingin Evaporator, sehingga udara tersebut menjadi dingin

3)   Cara Kerja Komponen AC

 

a.    Compressor

 

Compressor terbagi menjadi  dua bagian, yaitu:

1)   Compressor

Kompresor di gerakkan oleh tali kipas dari puli engine. Perputaran kompresor ini akan menggerakkan Piston/Vane dan gerakan piston/vane ini akan menimbulkan tekanan bagi Refrigerant yang berbentuk gas sehingga tekanannya meningkat yang dengan sendirinya juga akan meningkatkan temperaturnya.

Jenis kompresor dapat dipisahkan seperti dibawah ini:

   Tipe Crank

Tipe Reciprocating

   Tipe Swash Plate

                            

Tipe Rotary                                Tipe Through Vane

 

Tipe Reciprocating mengubah putaran Crankshaft menjadi gerakan bolak-balik pada piston.

Tipe Crank:          

Pada tipe ini sisi piston yang ber- fungsi hanya satu sisi saja, yaitu bagian atas. Oleh sebab itu pada kepala silinder   (Valve Plate) ter- dapat dua katup yaitu katup isap (Suction) dan katup penyalur (Discharge). Lihat gambar mekanis kompresi.

 

 

 

 

Pada langkah turun, Refrigerant masuk kedalam ruang silinder dari Evaporator, dan pada langkah naik Refrigerant keluar dari ruang silinder menuju ke Condenser dengan tekanan meningkat dari 2,1 kg/cm2 menjadi 15 kg/cm2 yang mengubah temperatur dari 0oC menjadi 70oC.

Tipe Swash Plate:

 

Terdiri dari sejumlah piston dengan interval 72o untuk kompresor 10 silinder dan interval 120o untuk kompresor 6 silinder. Kedua sisi ujung piston pada tipe ini berfungsi, yaitu apabila salah satu sisi melakukan langkah kompresi maka sisi lainnya melakukan langkah isap  (lihat bagan gambar mekanis kompresi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tipe Through Vane:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tipe Through Vane ini terdiri atas dua vane yang integral dan saling tegak lurus. Dan bila rotor berputar vane akan bergeser pada arah radial sehingga ujung-ujung vane akan selalu bersinggungan dengan permukaan dalam silinder. (lihat bagan gambar mekanis kompresi).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1:

Gambar 6

Gambar 5

Gambar 4

 

 

Gambar 1.

Adalah langkah awal isap dimana refrigerant masuk melalui lubang isap.

Gambar 2.

Akhir langkah isap dimana lubang pengisapan telah tertutup.

            Gambar 3.

Awal langkah kompresi dimana refrigerant mulai dikompresi kan untuk menaikkan tekanan.

Gambar 4.

Langkah kompresi penuh.

Gambar 5.

Langkah penyaluran/pengosongan refrigerant dari silinder ke saluran keluar menuju ke condenser melalui katup tekan (Discharge Valve).

Gambar 6.

Penyaluran Refrigerant selesai, ruang vane akan memulai dengan awal langkah isap lagi. Pada aktualnya Through Vane yang membentuk empat ruang, bekerja secara bergantian, sehingga proses diatas akan berjalan terus menerus secara berkesinambungan.

c.    Kopling Magnet (Magnetic Clutch)

Kopling magnet adalah perlengkapan kompresor yaitu suatu alat yang dipergunakan untuk melepas dan menghubungkan kompresor dengan putaran mesin. Peralatan intinya adalah: Stator, Rotor dan Pressure Plate. Sistem kerja dari alat ini adalah Elektro Magnetic.

Cara kerjanya:

Puli kompressor selalu berputar oleh perputaran mesin melalui tali kipas pada saat mesin hidup. Dalam posisi Switch AC Off, kompresor tidak akan berputar, dan kompresor hanya akan berputar apabila Switch AC dalam posisi hidup (on) hal ini disebabkan oleh arus listrik yang mengalir ke Stator Coil akan mengubah Stator Coil menjadi magnet listrik yang akan menarik Pressure Plate dan bidang singgungnya akan bergesekan dan saling melekat dalam satu unit (Clutch Assembly) memutar kompresor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Konstruksi:

Puli terpasang pada poros kompressor dengan bantalan diantaranya menyebabkan puli dapat bergerak dengan bebas. Sedang stator terikat dengan kompressor housing, pressure plate terpasang mati pada poros kompressor (lihat gambar).

Tipe Kopling Magnet

                         Tipe F             Tipe G              Tipe R              Tipe P       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b.   Condenser

Refrigerant yang masuk kedalam Condenser oleh karena tekanan kompresor masih dalam bentuk gas dengan temperatur yang cukup tinggi (80oC).

Temperatur yang tinggi dari Refrigerant yang berada dalam Condenser yang bentuknya berliku-liku akan mengakibat kan terjadinya pelepasan panas oleh Refrigerant. Proses pelepasan panas ini di permudah dengan adanya aliran udara baik dari gerakan  mobil maupun isapan Fan yang terpasang dibelakang Condenser. Semakin baik pelepasan panas yang di hasilkan oleh Condenser makin baik pula pendinginan yang akan dilakukan oleh Evaporator.

Pada ujung pipa keluar Condenser Refrigerant sudah tidak berbentuk gas lagi akan tetapi sudah berubah menjadi Refrigerant cair dengan temperatur 57oC   (cooled liquid).

c.   Receifer/Dryer

Refrigerant dari Condenser masuk ke tabung Receifer melalui lubang masuk (inlet port), kemudian melalui Dryer, Desiccant dan Filter Refrigerant cair naik

dan keluar melalui lubang keluar (Outlet Port) menuju ke  Expansion Valve.

Dryer, Desiccant maupun Filter berfungsi untuk mencegah kotoran yang dapat menimbulkan karat maupun pembekuan Refrigerant terutama pada Expansion Valve yang mana akan mengganggu siklus dari Refrigerant.

Bagian atas dari Receifer/Dryer disediakan gelas kaca (Sight Glass) yang berfungsi untuk melihat sirkulasi Refrigerant.

d.  Expansion Valve

Oleh karena fungsi dari Expansion Valve ini untuk mengabutkan Refrigerant kedalam Evaporator, maka lubang keluar pada alat ini berbentuk lubang kecil (Orifice) konstan atau dapat diatur melalui katup (Valve) yang pengaturannya menggunakan perubahan temperatur yang dideteksi oleh sebuah sensor panas.

Berdasarkan pengaturan pengabutan ini expansion valve dibedakan menjadi:

v Expansion Valve tekanan konstan

v Expansion Valve tipe thermal

Pada gambar disamping adalah cara kerja Expansion Valve tipe thermal.

Pembukaan Valve sangat bergantung dari besar kecilnya tekanan Pf dari Heat Sensitizing Tube. Bila temperatur lubang keluar (Out Let) Evaporator dimana alat ini ditempelkan meningkat, maka tekanan Pf > dari tekanan Ps + Pe, maka Refrigerant yang disemprotkan akan lebih banyak. Sebaliknya bila temperatur lubang keluar (Out Let) Evaporator menurun maka tekanan Pf < Ps + Pe, maka Refrigerant yang disemprotkan akan lebih sedikit.

  • Ps: tekanan pegas
  • Ps: tekanan uap didalam evaporator

e.  Evaporator

Perubahan zat cair dari refrigerant menjadi gas yang terjadi pada evaporator akan berakibat terjadi penyerapan panas pada daerah sekelilingnya, udara yang melewati kisi-kisi evaporator panasnya akan terserap sehingga dengan hembusan Blower udara yang keluar keruang kabin mobil akan menjadi dingin.

Ada tiga tipe Evaporator yang terbuat dari aluminium  yaitu:

                             Tipe Plate Fin                       Tipe Serpentine fin

 

 

      

                                                Tipe Drwan Cup

c.  Rangkuman

d.    Tugas 

1.    Hafalkanlah nama komponen-komponen utama AC mobil dan lihatlah letak masing-masing komponen pada berbagai jenis mobil!

2.    Pelajari fungsi dan cara kerja masing-masing komponen utama AC!

 

 

e.  Tes Formatif 

1.    Sebutkan tiga aspek keselamatan kerja yang harus diperhatikan!

2.    Sebutkan nama komponen-komponen utama AC pada mobil!

3.    Sebutkan fungsi komponen-komponen utama AC pada mobil!

4.    Jelaskan cara kerja komponen-komponen utama AC pada mobil!

f.     Kunci Jawaban 

1.   Jawab: Aspek Keselamatan lingkungan

Aspek keselamatan diri

Aspek Keselamatan benda kerja

2.    Jawab: Kompresor, Condenser, Receifer/Dryer, Expantion Valve dan Evaporator.

3.   Jawab:

a.    Compressor

Berfungsi untuk memompakan Refrigrant yang berbentuk gas agar tekanannya meningkat sehingga juga akan mengakibatkan temperaturnya meningkat.

b. Condenser

Berfungsi untuk menyerap panas pada Refrigerant yang telah dikompresikan oleh kompresor dan mengubah Refrigrant yang berbentuk gas menjadi cair (dingin).

c.  Dryer/receifer

Berfungsi untuk menampung Refrigerant cair untuk sementara, yang untuk selanjutnya mengalirkan ke Evaporator melalui Expansion Valve, sesuai dengan beban pendinginan yang dibutuhkan. Selain itu Dryer/Receifer juga berfungsi sebagai filter untuk menyaring uap air dan kotoran yang dapat merugikan bagi siklus Refrigerant.

d.    Expansion valve

Berfungsi Mengabutkan Refrigrant kedalam Evaporator, agar Eefrigerant cair dapat segera berubah menjadi gas.

e.    Evaporator

Merupakan kebalikan dari Condenser Berfungsi untuk menyerap panas dari udara yang melalui sirip-sirip pendingin Evaporator, sehingga udara tersebut menjadi dingin

4.   Jawab:

a.  Compressor

Compressor ada dua jenis yaitu tipe Reciprocating dan tipe Through Vane. Tipe Reciprocating ada dua jenis yaitu Crank dan Swash Plate. Pada dasarnya tipe Reciprocating (gerak bolak-balik) menggunakan piston untuk menimbulkan tekanan. Pada tipe Crank hanya satu sisi yang berfungsi untuk menyalurkan tekanan Refrigerant karena sisi yang lain ditempatkan Conectingrod dan Crank sebagai sarana penerus penggerak dari putaran puli. Pada tipe Swash Plate, pendorong pistonnya menggunakan Plate yang berputar secara Conical sehingga dua sisinya dapat digunakan untuk meneruskan tekanan Refrigerant. Sedang pada tipe Through Vane prinsip yang digunakan adalah Rotary yaitu sistem rotor dengan lingkaran planet yang pada keempat sisinya dipasang Vane, pada tipe ini tidak menggunakan katup tetapi menggunakan lubang isap dan lubang penyalur (Discharge), sedang pada tipe Reciprocating menggunakan katup (Valve).

b.    Condenser

Gas Rerfrigerant yang masuk kedalam Condenser, oleh karena bentuknya yang berliku-liku dan dibantu adanya aliran udara fan pada engine akan mempermudah pelepasan panas Refrigerant, sehingga pada Refrigerant terjadilah perubahan bentuk dari gas ke zat cair.

c.    Receifer/Dryer

Refrigerant dari Condenser masuk ke tabung Receifer melalui lubang masuk (Inlet port), kemudian melalui Dryer, Desiccant dan Filter Refrigerant cair naik dan keluar melalui lubang keluar (Outlet Port) menuju ke Expansion Valve.

d.    Expansion valve

Zat cair Refrigerant oleh karena tekanan Compresor dan harus melalui Orifice Expansion Valve, maka Refrigerant cair keluar ke Evaporator dalam bentuk kabut. Sedang besar kecilnya Orifice ditentukan oleh heat sensitizing tube yang berfungsi sebagai sensor panas.

e.    Evaporator

Refrigerant yang keluar dari Expansion Valve masih dalam bentuk setengah cair setengah gas dan masuk ke dalam Evaporator dan oleh karena bentuknya yang sedemikian rupa menyebabkan terjadinya perubahan ke wujud gas dengan sangat cepat. Hal ini berpengaruh pada penyerapan panas udara sekelingnya dengan cepat pula. Dan oleh kerja dari Blower udara dingin disemburkan kedalam ruang kabin mobil.

g.    Lembar kerja

Tujuan:

Peserta diklat mengenal bahan ajar yang sesungguhnya yang digunakan didalam mobil.

Peralatan:

  • Kunci Ring/pas set
  • Obeng +/-
  • Kain lap
  • Meja Kerja

Bahan:

  • Kompressor berbagai tipe
  • Condenser
  • Receifer/Dryer
  • Expansion Valve
  • Evaporator+Blower

Keselamatan Kerja:

1.    Letakkan alat dan bahan yang dipergunakan pada meja kerja

2.    Hati-hati terhadap zat/gas Refrigerant

3.    Hati-hati terhadap ceceran oli

4.    Gunakan alat-alat keselamatan kerja yang seharusnya dipakai

5.    Ikuti petunjuk yang diberikan oleh Guru/Instruktur dalam   melaksanakan pekerjaan.

Langkah Kerja:

1.    Persiapkan alat dan bahan praktik dan letakkan pada meja kerja

2.    Buatlah gambar sketsa masing-masing komponen utama sistem air Conditioning pada mobil

3.    Perhatikan Instruksi praktik yang disampaikan oleh guru

4.    Buatlah laporan praktik secara ringkas dan serahkan kepada Guru/Instruktur untuk diperiksa

5.    Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan yang telah digunakan ke tempat semula

6.    Bersihkan tempat kerja.

Kegiatan Belajar 2.  Rangkaian/Siklus  Sistem AC pada Mobil

 

a.    Tujuan Kegiatan Belajar

1.     Peserta diklat dapat menyebutkan kegunaan peralatan tambahan pada Rangkaian Sistem AC pada Mobil

2.     Peserta diklat dapat menggambarkan letak komponen utama maupun perlengkapan tambahan pada Rangkaian Sistem AC Mobil

3.     Peserta diklat dapat menjelaskan Siklus Pendinginan AC Mobil

4.     Peserta diklat dapat menggunakan Manifold Gauge

5.     Peserta diklat dapat mengisi Refrigerant pada Sistem Rangkaian AC

6.     Peserta diklat dapat memahami Rangkaian Sistem Kelistrikan AC

b.     Uraian Materi 

1.     Peralatan Tambahan yang Terdapat Pada Rangkaian Sistem AC Mobil

Peralatan tambahan yang menunjang terlaksananya proses sistem pendinginan, dan juga merupakan peralatan pokok yang harus ada meskipun tidak termasuk komponen utama, adalah:

a.     Pressure Switch

Presure Switch ini berfungsi untuk mengontrol tekanan yang terjadi pada sisi tekanan tinggi, bila tekanan siklus Refrigerant terlalu berlebihan, baik terlalu tinggi (27 kg/cm2) maupun terlalu rendah (2,1 kg/cm2) maka secara otomatis akan menyetop Switch  sehingga Magnetic Clutch menjadi Off.

Kondisi tekanan yang tidak normal ini akan menyebabkan terjadinya kerusakan pada berbagai komponen yang lain.

Letak Pressure Switch ada diantara Receifer dan Expansion Valve (lihat gambar dibawah)

                                                               Gambar: Letak Pressure switch

Tipe Pressure Switch ini ada dua macam yaitu:

    Tipe dual, yang meng gunakan satu Switch untuk dua keadaan yaitu terlalu tinggi atau terlalu rendah

Tipe single, dengan Switch terpisah.

                         Gambar tipe dual

b.     Alat Pencegah Pembekuan (Anti Frosting Devices)

Untuk menghidari berkurangnya efek pendinginan yang disebabkan pembekuan air yang ada di fin pada Evaporator yang terlalu dingin < 0oC,  dapat dipasangkan peralatan ini yang terdiri atas dua jenis, yaitu:

      Tipe Thermistor

Yang dipasangkan pada fin Evaporator, dan bekerja berdasarkan sinyal Thermistor yang mengontrol temperatur fin. Bila temperatur fin menurun < 0oC, maka Magnetic Clutch akan mati dan kompresor akan berhenti berputar.

      Tipe EPR (Evaporator Pressure Regulator)

di pasangkan diantara Eva porator dan kompresor,  (lihat gambar) Tipe ini mengatur jumlah Refrigerant yang mengalir dari evapo rator ke kompresor, dan menjaga agar tekanannya tidak kurang dari 1,9 kg/cm2, sehingga akan menjaga temperatur fin eva porator tidak turun < 0oC.

c.     Stabilizer Putaran Mesin

Peralatan ini berfungsi untuk menstabilkan putaran mesin melalui sensor pendeteksi RPM mesin yang dipasangkan pada arus primer Ignition Coil sehingga putaran Idle mesin menjadi lebih baik dan tidak mudah mati.

Prinsip kerja dari mekanis peralatan ini adalah ketika RPM mesin drop hingga mencapai batas minimum, akan menghentikan magnetic clutch, sehingga kompresor berhenti bekerja dan RPM mesin akan normal kembali.

d.     Peralatan Idle Up

Digunakan untuk meningkatkan RPM mesin pada kondisi Idle dan AC dalam keadaan hidup. Tanpa alat ini mesin akan menjadi sangat berat karena harus mengangkat beban kompresor sehingga mesin akan sering mati dan kenyamanan berkendaraan akan menjadi terganggu. Alat ini penggunaannya tergantung dari tipe dan jenis bahan bakarnya.

Untuk jenis mobil konvensional (menggunakan karburator)

di gunakan Vacuum Switching Valve (VSV) serta sebuah Actuator untuk membuka Throttle, sehingga putaran mesin akan meningkat pada putaran idle dan AC dalam keadaan hidup. (Lihat gambar)

     Untuk mobil EFI, digunakan VSV yang dilengkapi diapraghma yang menyebabkan udara akan melalui surge tank, dan ECU akan

menginjeksikan sejumlah tambahan bahan bakar sesuai dengan udara bypass, sehingga idling mesin akan meningkat.

e.     Sistem Pelindung Tali Penggerak Kompressor

Alat ini digunakan untuk melindungi tali penggerak kompresor, yaitu pada saat kompresor mengalami kemacetan. Bila hal ini terjadi maka magnetic clutch dan VSV idle up akan off secara otomatis dan indikator lampu AC akan berkedip untuk memberitahukan kerusakan yang terjadi pada sistem pendingin.

        Alur kerja sistem pelindung tali penggerak kompresor

Letak dan prinsip kerja pelindung tali penggerak kompresor.

f.      Sistem Kontrol Kompressor Dua Tingkat (Mode Ekonomi)

AC tipe airmix, dengan kompresor berputar pada beban penuh yang temperaturnya mencapai batas limit hingga terjadi pembekuan pada fin evaporator (3oC), hal ini akan banyak menyerap tenaga mesin. Dengan menggunakan peralatan ini dan diset pada switch ekonomi akan menghemat banyak pemakaian karena kompresor akan off pada 10oC temperatur fin bukan 3oC seperti pada keadaan normal.


g.     Magnetic Valve

Terletak antara Receifer dan Expansion Valve dan dipakai pada sistem pendingin tipe dual. Pengontrol temperatur ini bekerja dengan cara membuka dan menutup Magnetic Valve yang secara paralel akan bekerja membuka dan menutup siklus pendingin.

2.    Letak Komponen Utama Dan Perlengkapan Tambahan AC Mobil

Letak komponen pada AC mobil sangat bergantung dari jenis mobilnya, namun demikian perbedaan letak ini tidaklah mempengaruhi urutan dari komponen tersebut, contoh gambar dibawah menunjukkan letak masing-masing komponen baik utama maupun tambahan pada mobil jenis sedan maupun minibus yang memiliki ruang mesin dibagian depan.

3.    Siklus Pendinginan AC Mobil

Siklus Pendinginan Air Conditioners  merupakan suatu rangkaian yang tertutup. Siklus pendinginan yang terjadi dapat digambarkan sebagai berikut:

a.    Kompresor berputar menekan gas Refrigerant dari Evaporator yang bertemparatur tinggi, dengan bertambahnya tekanan maka temperaturnya juga semakin meningkat, hal ini diperlukan untuk mempermudah pelepasan panas refrigerant

b.    Gas Refrigerant yang bertekanan dan bertemperatur tinggi masuk kedalam kondenser. Di dalam kondenser ini panas Refrigerant dilepaskan dan terjadilah pengembunan sehingga Refrigerant berubah dari bentuk gas menjadi cair

c.     Cairan Refrigerant diatampung oleh Receifer untuk disaring sampai Evaporator membutuhkan Refrigerant

d.    Expansion Valve memancarkan Refrigerant cair ini sehingga berbentuk kabut dan cairan yang bertemperatur rendah dan bertekanan rendah

e.    Gas Refrigerant yang dingin dan berembun ini mengalir kedalam Evaporator  untuk mendinginkan udara yang mengalir melalui sela-sela fin Evaporator, sehingga udara tersebut menjadi dingin yang akan ditekan oleh BLower keruang kendaraan

f.     Gas Refrigerant kembali kekompresor untuk dicairkan kembali di kondenser.

4.    Manifold Gauge

 

Manipol pengukur adalah alat yang berfungsi selain untuk mengosongkan/mengisi Refrigerant juga sebagai alat untuk mengidentifikasi gangguan. Konstruksi yang istimewa dari alat ini harus dipelajari secara seksama agar penggunaannya menjadi optimal dan terhindar dari kesalahan pemakaian. Penjelasan berikut menggunakan manipol pengukur model keran seperti pada gambar dibawah dengan 4 nipel penghubung (ada yang hanya menggunakan 3 niple penghubung, yang perbedaannya pada niple no 4 tidak ada)

a.    Kondisi Hubungan Saluran Manifold Gauge

1)   Keran Katup Tekanan Rendah Terbuka Dan Keran Katup Tekanan Tinggi Menutup

 

 

        Dalam kondisi ini:

Niple 2,3,4 dan pengukur tekanan rendah  saling berhubungan.

Niple 1 hanya terhubung dengan pengukur tekanan tinggi.

2)   Keran Katup Tekanan Rendah Tertutup Dan Keran Katup Tekanan Tinggi Membuka

 

 

 

Dalam kondisi ini:

Niple 1,2,4 dan pengukur tekanan tinggi saling berhubungan.

Niple 3 hanya terhubung dengan pengukur tekanan rendah.

 

 

 

3)   Kedua Keran Katup Terbuka

 

 

Dalam Kondisi ini:

Semua niple penghubung dan pengukur saling berhubungan.

 

 

 

 

 

 

 

4)   Kedua Keran Katup Tertutup

 

Dalam kondisi ini:

Niple 1 berhubungan dengan pengukur tekanan tinggi.

Niple 3 berhubungan dengan pengukur tekanan rendah.

 

 

 

 

5.    Mengisi Refrigerant Pada Sistem AC Mobil

a.    Mengenal Refrigerant (Zat Pendingin)

           R 12

Refrigerant atau zat pendingin mempunyai kemampuan menyerap panas dalam jumlah yang besar dan pada proses itu disertai dengan perubahan                                       wujud yaitu dari cair menjadi gas.    Zat                                       pendingin   yang sering    digunakan                                       pada    sistem    AC mobil adalah  R 12                                       atau  juga    dikenal dengan      CFC 12                                       (Fluorinated Hydrocarbon). Kele                                       bihan zat  pendingin ini antara lain:

 

mendidih pada–29,8oC dalam tekanan atmosfir

Stabil pada temperatur baik tinggi maupun rendah

Tidak menimbulkan reaksi terhadap logam

dapat larut bila dicampur dengan minyak

kurang bereaksi terhadap karet

tidak berwarna dan tidak berbau

Kekurangannya adalah dapat mempengaruhi penipisan lapisan ozon pada atmosfir bumi yang menjaga terjadinya radiasi sinar ultra Violet dari matahari dan menimbulkan efek rumah kaca.

Refrigerant (Zat Pendingin) lain  yang sekarang banyak dijumpai dan lebih ramah terhadap ozon serta memiliki efektifitas pendinginan lebih baik adalah HFC 134a.

        Refrigerant yang dipakai sebagai alternatif pengganti lainnya adalah:

ternary blend yang merupakan campuran dari zat pendingin yang berbeda seperti: HCF22,HFC152a dan HCFC134a dan yang sudah sangat kita kenal yaitu gas alam cair (LPG) meskipun zat ini sangat mudah terbakar, sehingga pada beberapa negara tertentu penggunaan LPG ini tidak diijinkan lagi.

 

 

b.    Mengenal Pelumas Kompressor

 

Pelumas kompresor diperlukan untuk melumasi bantalan-bantalan serta bidang permukaan yang saling bergesekan. Oleh karena pelumas pada kompresor ikut bersirkulasi dengan Refrigerant, maka dibutuhkan oli khusus untuk kompresor.

Salah satu contoh oli khusus untuk kompresor

Oli kompresor terdiri dari berbagai tingkatan dan jenis yang diolah sedemikian rupa sehingga menghindari timbulnya busa dan belerang. Selain itu oli kompresor sangat bergantung dengan jenis refrigerant yang digunakan dan secara spesifik dapat diuraikan:

untuk Refrigerant R12: digunakan pelumas mineral

untuk CFC 134a: digunakan PAG (Poly Alkylene Glycol ) atau pelumas Ester.

Jumlah oli kompresor baik dalam keadaan kosong maupun sebagai tambahan karena penggantian komponen.

kosong (pemasangan baru)….. 100 cc

ganti receifer…………………….. 20 cc

ganti condenser ………………… 40–50 cc

ganti evaporator ……………….. 40–50 cc

c.    Cara Mengisi Refrigerant

Sebelum mengisi Refrigerant sistem rangkaian harus dalam keadaan kosong, tidak ada udara ataupun uap air yang tersisa didalamnya. Untuk mengosongkan sistem rangkaian ini lakukanlah langkah pengosongan dengan menggunakan alat Vacuum pump.

 

Prosedur Pengosongan

Tutup kedua katup Manifold Gauge.

pasang Manifold Gauge ke kompresor dengan selang merah ke nipel tekanan tinggi dan selang biru ke nipel tekanan rendah serta selang hijau ke pompa Vakum.

(lihat gambar)

Bukalah salah satu katup manifold dan hidupkan pompa vakum.

Bacalah ukuran pada vakum gauge, hingga menunjukkan angka-600 mmHg (23,62 inHg; 80 kPa)

Bukalah sisi katup manifold yang lain agar vakum bekerja dari dua sisi untuk lebih mengefisienkan kerja pompa vakum.

Baca kembali ukuran pada vakum gauge dan pastikan sistem telah bersih dari udara maupun uap air dengan angka penunjuk berada pada angka 750 mmHg (29,53 in Hg; 99,98 kPa)

Biarkan pompa vakum tetap hidup kurang lebih selama 30 menit.

Tutup kedua katup manifold sebelum mematikan pompa vakum.

Tunggu kurang lebih 15 menit dan amati angka penunjuk meteran. Bila terjadi penurunan maka berarti dalam sistem rangkaian masih terjadi kebocoran.

Cari kebocoran dengan alat deteksi kebocoran sampai ditemukan dan perbaiki.

Pengisian Refrigerant

Sebelum memulai pengisian Refrigerant pastikan langkah-langkah berikut sudah dilakukan:

Rangkaian sistem masih terpasang dengan benar

Selang masih terpasang dengan Manifold Gauge warna merah ke nipel tekanan tinggi, warna biru ke nipel tekanan rendah dan warna hijau ke tangki refrigerant atau alat pengisi

Refrigerant yang akan digunakan tersedia dengan cukup

singkirkan alat-alat yang masih ada di sekitar mesin untuk menghindari terjadinya kecelakaan

 Langkah pengisian

  Pemasangan selang pada tabung Refrigerant

o  Sebelum memasang selang, putarlah handle berlawanan arah jarum jam sampai jarum katupnya tertarik penuh

o  Putarlah disc berlawanan arah jarum jam, sampai posisi habis

o  Hubungan selang warna hijau ke tabung Refrigerant

o  Putarlah disch searah jarum jam dengan tangan

o  Putarlah Handle searah jarum jam untuk membuat lubang, dan putarlah kembali berlawanan arah jarum jam agar gas dapat mengalir ke selang

o  Tekanlah niple no 4 pada Manifold Gauge dengan jari tangan sampai udara keluar dari selang tengah

o  Bila udara sudah keluar (ditandai dengan keluarnya Refrigerant) tutuplah niple no 4 dengan tutup niple.

  Pemeriksaan kebocoran awal

o  Bukalah keran katup tekanan tinggi pada Manifold Gauge agar gas masuk kedalam sistem. (tabung menghadap keatas)

o  Bila pengukur tekanan rendah sudah menunjukkan 1 kg/cm2 (14 psi; 98 kPa) tutup keran manifold tekanan tinggi

o  Periksalah kebocoran pada sistem dengan menggunakan detektor

  Pengisian Refrigerant dalam bentuk cair

o  Balikkanlah tabung refrigerant menghadap kebawah agar isi refrigerant yang keluar dalam bentuk cair

o  Buka katup tekanan tinggi

o  Periksalah kaca pengintai sampai aliran refrigerant berhenti mengalir dan tutuplah keran

o  Amati kedua pengukur, tekanan tinggi maupun tekanan rendah. Keduanya harus menunjukkan tekanan yang sama

Pengisian Lanjutan

o  Baliklah tabung refrigerant menghadap keatas agar isi refrigerant keluar dalam bentuk gas

o  Hidupkan mesin dan biarkan beberapa menit untuk pemanasan

o  Hidupkan switch AC, dan amati pengukur tekanan manifold gauge tanda merah harus terlihat pada tekanan tinggi dan tanda biru pada tekanan rendah tetapi tidak vakum

o  Buka sedikit demi sedikit katup manifold gauge warna biru. (besar kecilnya  pembukaan akan mempengaruhi jumlah refrigerant yang mengalir dalam sistem

o  Amati gelas pantau dan bila jumlah gelembung menjadi semakin sedikit dan lembut menunjukkan bahwa pengisian sudah cukup

o  Tutup katup manifold gauge, dan baca pengukur tekanan rendah 1,5–2,0 kg/cm2 dan tekanan tinggi 14,5–15 kg/cm2

6. Penjelasan Cara Kerja Rangkaian Kelistrikan Pada Sistem AC

C.  Rangkuman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

d.        Tugas 

1.        Pelajari peralatan tambahan pada sistem AC Mobil.

2.        Lakukanlah observasi letak komponen AC pada berbagai mobil.

3.        Hafalkan fungsi dan cara kerja Manifold Gauge.

4.        Praktekkan cara mengisi refrigerant dengan urutan yang benar.

5.        Lakukanlah test kebocoran dengan ketiga cara bila peralatan memungkinkan.

 

e.        Test Formatif 

1.        Sebutkan nama-nama dan kegunaan peralatan tambahan pada AC mobil

2.        Buatlah gambar skema letak komponen baik Utama maupun tambahan pada AC Mobil

3.        Jelaskan Proses Sirkulasi sistem Pendingin AC pada Mobil

4.        Jelaskan cara menggunakan manifold Gauge

5.        Jelaskan cara pengisian Refrigerant pada sistem AC Mobil

6.        Jelaskan cara pemeriksaan test kebocoran pada sistem AC Mobil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

f.      Kunci Jawaban 

 

1.     Jawab: peralatan tambahan yang terdapat pada rangkaian sistem AC mobil dan fungsinya

a.     Pressure Switch

      Fungsinya untuk mengontrol tekanan pada sisi tekanan tinggi. Apabila pada sisi tekanan tinggi terjadi tekanan berlebih atau terlalu rendah, maka  secara otomatis akan menyetop switch  sehingga magnetic clutch menjadi off.

b.     Alat Pencegah Pembekuan (Anti Frosting Devices)

      Fungsinya untuk menghidari berkurangnya efek pendinginan yang disebabkan pembekuan air yang ada di fin pada evaporator yang terlalu dingin < 0oC,

c.      Stabilizer putaran mesin

      Berfungsi untuk menstabilkan putaran mesin melalui sensor pendeteksi RPM mesin yang dipasangkan pada arus primer ignition coil sehingga putaran idle mesin menjadi lebih baik dan tidak mudah mati.

d.     Peralatan Idle Up

      Berfungsi untuk meningkatkan RPM mesin pada kondisi idle dan AC dalam keadaan hidup. Tanpa alat ini mesin akan menjadi sangat berat karena harus mengangkat beban kompresor sehingga mesin akan sering mati dan kenyamanan berkendaraan akan menjadi terganggu. Alat ini penggunaannya tergantung dari tipe dan jenis bahan bakarnya.

e.     Sistem Pelindung Tali Penggerak Kompressor

Berfungsi melindungi tali penggerak kompresor, yaitu pada saat kompresor mengalami kemacetan. Bila hal ini terjadi maka magnetic clutch dan VSV idle up akan off secara otomatis dan indikator lampu AC akan berkedip untuk memberitahukan kerusakan yang terjadi pada sistem pendingin.

f.      Sistem Kontrol Kompressor Dua Tingkat (Mode Ekonomi)

      AC tipe airmix, dengan kompresor berputar pada beban penuh yang temperaturnya mencapai batas limit hingga terjadi pembekuan pada fin evaporator (3oC), hal ini akan banyak menyerap tenaga mesin. Dengan menggunakan peralatan ini dan diset pada switch ekonomi akan menghemat banyak pemakaian karena kompresor akan off pada 10oC temperatur fin bukan 3oC seperti pada keadaan normal.

g.     Magnetic Valve

      Fungsinya untuk mengontrol temperatur yang letaknya antara receifer dan expansion valve dan dipakai pada sistem pendingin tipe dual. sistem bekerjanya dengan cara membuka dan menutup magnetic valve yang secara paralel akan bekerja membuka dan menutup siklus pendingin.

2.     Jawab: letak komponen utama dan perlengkapan tambahan AC Mobil

Contoh untuk mobil dengan mesin berada didepan

3.     Jawab: siklus Pendinginan pada AC Mobil

Siklus pendingin pada sistem air condition mobil pada hakekatnya merupakan suatu sistem dengan rangkaian tertutup. Diawali dengan pergerakan refrigerant oleh tekanan  compressor dalam bentuk gas menuju ke condenser, dicondenser ini refrigerant berubah wujud menjadi cair yang terus bergerak menuju Receifer/Dryer. Disini refrigerant ditampung dan disaring kemudian diteruskan menuju ke expansion valve yang berfungsi menyemprotkan ke evaporator. Di evaporator refrigrerant diubah lagi wujudnya menjadi gas agar dapat menyerap panas dari udara yang ditiupkan blower (terjadi penurunan temperatur di kabin mobil), kemudian gas refrigerant kembali menuju ke compressor.

4.     Jawab:  Fungsi Dan Cara Kerja Manifold Gauge

Selain sebagai alat pengisi, manifold gauge ini juga berfungsi sebagai pengukur dan terutama untuk menentukan kesalahan yang terjadi pada sistem pendingin.

Gambar skema hubungan niple penghubung dengan pengukur.

        4                                                4

                      3     2     1                                            3     2       1

Keran katup tekanan                              Keran katup tekanan

Rendah terbuka                                    Tinggi terbuka

                 4                                                    4

                             3    2      1                                   3      2       1

 

Kedua keran terbuka                               Kedua keran tertutup

5.       Jawab: Cara mengisi Refrigerant pada sistem AC Mobil

Sebelum pengisian dilaksanakan, perlu mengenal hal-hal sebagai berikut:

a. Mengenal zat refrigerant yang ramah lingkungan

R 12, R 134a, R 22, Gas LPG dlsb.

b. Mengenal Pelumas khusus untuk AC

Pelumas mineral untuk R12

Pelumas PAG atau ester untuk R 134a.

c.  Pengisian Refrigerant.

o   Pemasangan manifold gauge

o   Penggunaan pompa vacuum

o   Pengisisan awal (cair)

o   Pengisisan lanjut (Gas)

6.   Jawab: Beberapa prosedur pemeriksaan kebocoran yaitu

a.   Untuk kebocoran yang cukup besar bisa dilakukan menggunakan larutan air sabun

b.   Untuk kebocoran yang baru dirasakan kurang dingin dapat menggunakan alat deteksi kebocoran Halide torch atau kompor nyala api

c.   Untuk tingkat kebocoran yang lebih kecil lagi dapat menggunakan detektor electronik

7.   Jawab: Uji kemampuan AC dilakukan dengan

a.    Mengukur temperatur pada kedua sisi wet dan dry bulb pada inlet dan outlet evaporator

b.    Menghitung kelembaban relatif dengan menggunakan grafik 1

c.     Membaca perbedaan temperatur anatara inlet dan outlet dengan menggunakan grafik 2

g.     Lembar Kerja 

Tujuan:

Peserta diklat mengenal bahan ajar yang sesungguhnya yang digunakan didalam mobil.

Peralatan:

1.    Kunci Ring/pas set

2.    Obeng +/-

3.    Alat-alat khusus (Spesial Service Tool) untuk AC

4.    Tang kombinasi

5.    Palu Plastik

6.    Manifold Gauge

7.    Refrigerant R 12

8.    Refrigerant R 134a

9.    Pompa Vacuum

10. Kain lap

11. Meja Kerja

Bahan:

1.    Alat-alat tambahan dalam sistem AC

2.    Manifold Gauge

3.    Mobil berAC

Keselamatan Kerja:

1.    Letakkan alat dan bahan yang dipergunakan pada meja kerja

2.    Hati-hati terhadap zat/gas refrigerant

3.    Hati-hati terhadap ceceran oli

4.    Gunakan alat-alat keselamatan kerja yang seharusnya dipakai

5.    Ikuti petunjuk yang diberikan oleh guru/instruktur dalam melaksanakan pekerjaan

Langkah Kerja:

1.    Persiapkan alat dan bahan praktik dan letakkan pada posisi yang aman

2.    Gunakan alat ukur dengan semestinya sesuai dengan standar operasional prosedur industri

3.    Perhatikan instruksi praktik yang disampaikan oleh guru

4.    Buatlah laporan praktek secara ringkas dan serahkan kepada Guru/Instruktur untuk diperiksa

5.    Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan yang telah digunakan ke tempat semula

6.    Bersihkan tempat kerja

 

 

 

Kegiatan Belajar 3.  Servis/Repair AC Mobil

 

a.    Tujuan Kegiatan Belajar

1)    Peserta diklat dapat menyebutkan ciri-ciri siklus pendingin yang tidak normal, penyebab dan pemecahannya.

2)    Peserta diklat dapat membongkar, memperbaiki/mengganti kerusakan dan memasang kembali komponen.

3)    Peserta diklat dapat mengetest kemungkinan kebocoran yang terjadi pada rangkaian sistem AC.

4)    Peserta diklat dapat menguji kemampuan sistem AC.

b.    Uraian Materi 

 

1)   Ciri-ciri siklus pendingin tidak normal, penyebab dan pemecahannya

1.    Refrigerant kurang

Pada kondisi ini, terlihat gejala sebagai berikut:

Udara yang keluar dari sistem pendingin tidak terlalu dingin

Pada kaca pengintai terlihat banyak gelembung

Pemeriksaan pada manifold gauge:

pengukur tekanan rendah: 0,8 kg/cm2

(11 psi, 78 kPa)

Pengukur tekanan tinggi: 8-0 kg/cm2

(114 psi, 882 kPa)

Kemungkinan penyebabnya:

terdapat kebocoran pada siklus Pendinginan.

Pemecahannya:

Periksa kebocoran dengan menggunakan detektor kebocoran dan perbaiki.

2.    Pengisian Refrigerant Berlebihan

 

Pada kondisi ini, terlihat gejala sebagai berikut:

pendinginan tidak maksimum

Pemeriksaan pada Manifold Gauge :

Pengukur tekanan rendah: 2.5 kg/cm2

(36 psi, 245 kPa)

Pengukur tekanan tinggi: 20 kg/cm2

(248 psi, 1.961 kPa)

Kemungkinan penyebabnya:

Dalam pengisian refrigerant terlalu berlebihan

Kondenser tidak bekerja dengan baik

Kopling fluida kipas radiator slip

Tali kipas kompresor kendor

Pemecahannya:

Kurangi jumlah refrigerant

Bersihkan kondenser

Periksa kopling fluida kipas radiator, bila rusak ganti

Stel tali kipas

3.    Terdapat Udara Didalam Siklus

 

Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut:

AC tidak terlalu dingin

Pemeriksaan pada Manifold Gauge:

Pengukur tekanan rendah: 2.5 kg/cm2

(36 psi, 245 kPa)

Pengukur tekanan tinggi: 23 kg/cm2

(327 psi, 2.256 kPa)

kemungkinan penyebabnya:

Ada udara didalam siklus pendingin

Pemecahannya:

Periksa kotoran oli dan jumlahnya

Bila oli berwarna hitam (kotor), bersihkan dengan minyak tanah dan semprot dengan kompresor angin

lakukan penyedotan kevakuman kembali

Ganti receifer

4.    Terdapat Uap Air Didalam Siklus

 

Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut:

Kadang dingin kadang tidak

Pemeriksaan pada Manifold Gauge:

Pengukur tekanan rendah: 50 cmHg (1,5 kg/cm2)

Pengukur tekanan tinggi: 7=15 kg/cm2

Kemungkinan penyebabnya:

Pada Expansion Valve terjadi penyumbatan oleh gumpalan es

Pemecahannya:

Ganti Receifer/Dryer

lakukan pemompaan kevakuman, untuk membuang uap air

perhatikan jumlah Refrigerant yang sesuai dalam pengisian

5.    Refrigerant Tidak Bersirkulasi

 

Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut:

AC tidak dingin

Pemeriksaan pada Manifold Gauge:

Pengukur tekanan rendah: 76 cmHg

(angat rendah)

Pengukur tekanan tinggi: 6 kg/cm2

(85 psi/588 kPa)

Kemungkinan penyebabnya:

Pada Expansion Valve terjadi penyumbatan

Pemecahannya:

Lepas Expansion Valve, bersihkan dan tes. Bila sudah rusak ganti

Ganti Receifer/Dryer

perhatikan jumlah refrigerant yang sesuai dalam pengisian

6.    Ekspansion Valve Tidak Bekerja Dengan Baik

 

Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut:

AC kurang dingin

Pemeriksaan pada Manifold Gauge:

Pengukur tekanan rendah: 2,5 kg/cm2

(36 psi/245 kPa)

Pengukur tekanan tinggi: 19-20 kg/cm2

(70–264 psi/1.863–1.961 kPa)

Kemungkinan penyebabnya:

Expansion Valve rusak atau pemasangan Heat Sensitizing salah

Penyetelan aliran tidak baik

pada Evaporator terlalu banyak Refrigerant dalam bentuk cair

Pemecahannya:

Periksa pemasangan Heat Sensitizing

Periksa Expansion Valve, bila rusak ganti

7.    Tidak ada kompresi pada kompresor. Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut:    

 

AC tidak dingin

Pemeriksaan pada Manifold Gauge:

Pengukur tekanan rendah : terlalu tinggi

Pengukur tekanan tinggi   : terlalu rendah

Kemungkinan penyebabnya:

Kompresor rusak

katup kompresor rusak

Pemecahannya:

Bongkar dan perbaiki kompresor

Ganti kompresor dengan type dan kapasitas yang sama

2)   Membongkar, Memperbaiki/Mengganti Kerusakan Dan Memasang Kembali Komponen

Pekerjaan ini memerlukan urutan langkah yang benar serta ketelitian, untuk mempermudah pemahaman siswa pekerjaan ini akan disajikan dalam bentuk lembar kerja yang dilengkapi dengan gambar-gambar penjelas.

Tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk penggantian dan atau perbaikan komponen yang mengalami gangguan atau kerusakan, dan seluruh tahapan latihan pekerjaan ini benar-benar harus dialami oleh siswa, agar ketercapaian kompetence

Dari modul dapat terlaksana.

Kompetensi: Memelihara/Servis Sistem AC
Bongkar pasang:

MAGNETIC CLUTH

(SWASH PLATE & THROUGH VANE)

Tujuan:

Siswa dapat  melakukan pembongkaran, penggantian komponen yang rusak dan melakukan pemasangan kembali dengan prosedur yang benar magnetic clutch jenis swash plate dan Through Vane.

Peralatan:

1.    Treker kaki tiga

2.    Tang buka dan tang tutup

3.    Kunci momen

4.    Dial indikator dan landasan bermagnet

5.    Feeler Gauge

Bahan:

Compresor tipe swash plate dan through vane.

Keselamatan Kerja:

1.    Perhatikan urutan kerja sesuai standard operasional prosedur

2.    Kerjakan di Meja kerja

3.    Hati-hati terhadap ceceran oli

5.    Gunakan oli standard. (Sesuai petunjuk pabrik)

6.    Gunakan alat-alat keselamatan kerja

7.    Hati-hati terhadap cairan/gas Refrigerant

Langkah Kerja:

Sebelum membongkar Compressor, lakukan dahulu:

Langkah Melepas Compressor dari Engine.

1.    Hidupkan mesin +/- 10 menit dalam keadaan Idle dan AC “ON”

2.    Matikan AC, matikan Mesin

3.    Lepaskan kabel negatif Batery

4.    Lepaskan Conektor untuk magnetic clutch dan temperatur Switch

5.    Keluarkan Refrigerant. (Hati-hati terhadap cairan/gas Refrigerant, sebaiknya pakai alat-alat keselamatan   kerja)

6.    Lepas selang yang menghubungkan Compressor

7.    Lepas Compressor

Membongkar

1.        Melepas Pressure Plate:

a.     Lepas baut poros (guna kan Spesial servis tool dan kunci Sock)

b.     Pasang SST (lihat gambar) ke Pressure Plate

c.      Lepaskan Pressure Plate:

untuk Tipe Swash Plate

d.     Melepas Pressure Plate untuk Tipe Through Vane

e.     Lepaskan Shim

2.        Melepas Rotor

a.  Lepaskan Snap Ring

(menggunakan tang tutup)

b.    Keluarkan rotor

(Gunakan palu plastik)

3.        Melepas Stator:

a.  Lepas kabel Stator

dari  rumah  Compressor

 (Tipe Swash Plate)

Lepas kabel Stator

dari rumah Compressor

(Tipe Through vane)

b.        Lepaskan Snap Ring

c.         Lepaskan Stator

Memasang

 

3.        Pasang Stator

a.     Pasang stator

b.     Pasang Snap Ring    

c.      Sambungkan kabel stator.

(Tipe Swash Plate)

Sambungkan kabel stator.

(Tipe Through Vane)

4.        Pasang Rotor

a.     Pasang rotor pada poros

      Compressor

b.     Gunakan Snap Ring baru

5.        Pasang Pressure Plate

a.     Pasang Shim

b.     Pasang baut poros

(Tipe Swash Plate)

                   Pasang baut poros

                   (Tipe Through Vane)

6.        Ukur Celah Magnetic Clutch.

Tipe Swash Plate  

Gunakan Feeler Gauge

Tipe Through Vane

a.     pasang Dial Gauge pada Pressure Plate

b.     hubungkan kabel Magnetic Clutch ke batery+(lihat gam- bar).

c.      Periksa antara Pressure Plate dan rotor kemudian hubungkan terminal negatif batery

Kompetensi : Memelihara/Servis Sistem AC
Bongkar pasang:

COMPRESSOR

(TIPE SWASH PLATE)

Tujuan:

Siswa dapat  melakukan pembongkaran, penggantian komponen yang rusak dan melakukan pemasangan kembali dengan prosedur yang benar compresor jenis swash plate.

Peralatan:

1.    Treker kaki tiga

2.    Tang buka dan tang tutup

3.    Kunci set pas dan ring

4.    Pelepas dan penekan seal

5.    Penahan seal

6.    Kunci Momen

7.    Palu Plastik.

Bahan: Compresor tipe swash plate.

Keselamatan Kerja:

1.    Perhatikan urutan kerja sesuai standard operasional prosedur

2.    Kerjakan di Meja kerja

3.    Hati-hati terhadap ceceran oli

4.    Gunakan oli standard (Sesuai petunjuk pabrik).

5.    Gunakan alat-alat keselamatan kerja

6.    Hati-hati terhadap cairan/gas refrigerant.

Langkah Kerja:

Sebelum membongkar compressor, lakukan dahulu:

Langkah Melepas Compressor dari Engine.

1.    Hidupkan mesin +/- 10 menit dalam keadaan idle dan AC “ON”.

2.    Matikan AC, matikan Mesin.

3.    Lepaskan kabel negatif Batery.

4.    Lepaskan Conektor untuk Magnetic Clutch dan temperatur Switch

5.    Keluarkan Refrigerant. (Hati-hati terhadap cairan/gas Refrigerant, sebaiknya pakai alat-alat keselamatan   kerja)

6.    Lepas selang yang menghubungkan Compressor

7.    Lepas Compressor.

 

Membongkar 

1.    Melepas Servis Valve

a. Lepas baut Servis Plate

b. Lepas Seal Ring (ganti)

2.  Mengukur oli

Ukur oli yang ada didalam Compressor sebagai patokan pengsisian oli baru.

3.   Melepas Tutup depan

Lepas baut pengunci tutup depan dengan menggunakan obeng ketok +

a.    Lepas tutup rumahnya gunakan obeng (-) hati-hati jangan sampai melukai seal maupun rumah compressor.

4.    Melepas plat katup depan

a.    Lepaskan pin dari tutup depan

b.    Lepas pelat katup

5.    Melepas gasket

6.    Melepas seal poros

a.    Lepas snap ring.

b.    Dengan menggunakan busing (SST) dorong seal poros keluar.

Memasang

 

1.    Pemasangan seal

a.    Atur seal poros tepat ditengah

b.    Dorong seal dengan busing

c.     Pasang snap ring

2.  Pemasangan pelat rumah depan

a.     Pasang pin (2 buah)

b.     Lumasi O ring dengan oli

c.      Pasang katup isap depan melalui pin pada bagian depan silinder.

d.     Pasang pelat depan bersama sama dengan katup penyalur melalui pin pada silinder depan.

e.     Lumasi gasket dengan oli, dan pasang pada silinder depan.

3.    pemasangan dudukan center

Pasang dudukan center pada poros

(SST).

4.    pemasangan tutup depan.

5.    pengerasan baut-baut.

6.    Pengisian Oli.

(Jumlah oli harus sama dengan oli yang terbuang saat pem bongkaran).

Gunakan Oli yang standard.

7.    Pemasangan katup servis

a.    Lumasi dulu dengan oli.

b.    Pasang katup servis pada compressor dan keraskan bautnya.

Momen kekencangan:

250 kg-cm.

8.    Pengukuran Momen Putar Poros

Momen: 50 kg-cm.

 

Kompetensi: Memelihara/Servis Sistem AC

Bongkar pasang:

COMPRESSOR

(TIPE THROUGH VANE)

Tujuan:

Siswa dapat  melakukan pembongkaran, penggantian komponen yang rusak dan melakukan pemasangan kembali dengan prosedur yang benar compresor Tipe Through Vane.

Peralatan:

1.    Treker kaki tiga

2.    Tang buka dan tang tutup

3.    Kunci set pas dan ring

4.    Pelepas dan penekan seal

5.    Penahan seal

6.    Kunci Momen

7.    Palu Plastik.

Bahan:  Compresor tipe Through Vane.

Keselamatan Kerja:

1.    Perhatikan urutan kerja sesuai standard operasional prosedur.

2.    Kerjakan di Meja kerja.

3.    Hati-hati terhadap ceceran oli.

4.    Gunakan oli standard. (Sesuai petunjuk pabrik)

5.    Gunakan alat-alat keselamatan kerja

6.    Hati-hati terhadap cairan/gas refrigerant

Langkah Kerja:            

Sebelum membongkar Compressor, lakukan dahulu:

Langkah Melepas Compressor dari Engine.

1.    Hidupkan mesin +/- 10 menit dalam keadaan idle dan AC “ON”

2.    Matikan AC, matikan Mesin

3.    Lepaskan kabel negatif Batery

4.    Lepaskan conektor untuk magnetic clutch dan temperatur switch

5.    Keluarkan Refrigerant. (Hati-hati terhadap cairan/gas refrigerant, sebaiknya pakai alat-alat keselamatan   kerja)

6.    Lepas selang yang menghubungkan compressor

7.    Lepas compressor.

Membongkar

1.        Lepas katup servis pengisap.

2.        Lepas katup servis penyalur.

3.        Mengukur oli :

Ukur oli yang ada didalam Compressor sebagai patokan pengsisian oli baru.

4.       Melepas pelat katup depan.

a.     Lepas bautnya.

b.     Lepas tutup depan.

c.      Lepas tutup belakang.

5.        Melepas pin dan gasket.

6.        Melepas seal poros.

Memasang

1.        Pasang seal poros baru

a.     Pasang Gasket baru

b.     Pasang tutup rumah.

c.                                                                  Pemasangan baut-baut pe-ngikat.

2.        Pemasangan Kompresor

pada Bracket.

3.        Pengerasan baut pengikat

Momen pengencangan:

250 kg-cm.

4.        Pengisian oli

(Jumlah oli sama dengan oli yang terbuang saat pem bongkaran ditambah 20 cc).

Gunakan Oli yang standard.

5.        Pemasangan katup isap dan penyalur

a.     Lumasi O ring dengan oli kemudian pasang pada tempatnya.

b.     Pasang katup servis (gunakan center dan kunci momen) kemudian keraskan baut-bautnya.

 


3)       Test Kebocoran Pada Sistem AC Mobil

 

Siklus pendingin AC merupakan suatu rangkaian tertutup, oleh sebab itu kebocoran sekecil apapun akan dapat mengurangi kinerja dari sistem tersebut. Pengetesan kebocoran paska pengisian merupakan prosedur yang sangat lazim dilakukan untuk memberikan pelayanan yang optimal bagi pelanggan.

Ada beberapa prosedur pemeriksaan kebocoran yaitu:

a)    Untuk kebocoran yang cukup besar bisa dilakukan menggunakan larutan air sabun, yaitu dengan memberi air sabun pada bagian-bagian sambungan atau bagian yang diperkirakan mengalami kebocoran. Apabila pada bagian trsebut terjadi kebocoran maka akan terlihat gelembung-gelembung yang keluar dari titik kebocoran.

b)    Untuk kebocoran yang baru dirasakan kurang dingin dapat menggunakan alat deteksi kebocoran Halide torch atau menggunakan kompor nyala api yang cara kerjanya adalah sebagai berikut:

c)       Letakkan secara vertical alat pemeriksa kebocoran, kemudian dekatkan selang kontrol (Suction Tube) ke bagian yang diperkirakan mengalami kebocoran dari arah bawah. Apabila pada daerah tersebut betul mengalami kebocoran, maka warna api kompor akan mengalami perubahan dari biru menjadi kuning kemerah-merahan dan sedikit agak membesar.

Gambar: Deteksi kebocoran  

                                                                                      kompor nyala api

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.    Untuk tingkat kebocoran yang lebih kecil lagi dapat menggunakan detektor Elektronik. Dan jenis dari detector elektronik ini sangat banyak. Pada gambar dibawah adalah salah satu contoh detector electronik dengan cara penggunaannya.

                                                Gambar  : Detektor kebocoran elektronik

a.    Stel saklar pengatur sensitifity keposisi medium

b.  Carilah letak kebocoran dengan mendekatkan dan menggerakkan antene deteksi ke daerah kebocoran perlahan-lahan.

c.     Ran yang terjadi ditandai dengan bunyi alarm yang makin lama makin cepat, yang menunjukkan daerah terjadinya kebocoran.

d.    Apabila kebocoran sulit untuk ditemukan rubahlah saklar pengatur sensitifity ke posisi large.

e.    Saklar pengatur sensitifity small digunakan apabila area kemungkinan kebocoran sudah ditemukan, yaitu untuk mempersempit area sehingga titik kebocoran dapat ditemukan.


4)       Uji Kemampuan Sistem AC

Uji kemampuan AC diperlukan untuk mengetahui apakah hasil servis atau pemeliharaan atau bahkan perbaikan yang dilakukan berhasil dilaksanakan. Prosedur pelaksanaan uji kemampuan ini harus diikuti secara runtut sehingga pengujian dapat menunjukkan validitas yang tinggi.

a)    Langkah persiapan: Siapkan peralatan uji

Service tool set AC

Thermometer

Psychrometer

Tachometer

b)    Pasang manifold gauge

c)    Hidupkan mesin dengan AC pad posisi   ON

Atur putaran mesin pada 2000 RPM

Atur saklar blower pada posisi (HI) dan temperatur control di (Cool) serta air flow control di (Vent)

Buka jendela kendaraan

d)    Posisikan thermometerDry bulb di outlet udara dingin

e)    Posisikan Psychrometer dekat inlet unit pendingin (lihat gambar)

                    Gambar : penempatan Thermometer dan psychrometer

f)     Stabilkan AC

Periksa tekanan pengukur takanan tinggi 14,0-15,5 kg/cm2       Bila pembacaan terlalu tinggi, siram condenser dengn air dan bila pembacaan terlalu rendah tutuplah bagian depan condenser

Periksa suhu pada thermometer inlet 25o C–35o C

g)    Pemeriksaan Pengujian

Bacalah kelembaban relatif dari grafik psychrometrik dengan membandingkan sisi wet dan dry bulb psychometer pada air inlet

                                               Gambar : Grafik 1

Contoh cara membaca grafik:

Pembacaan dry bulb pada air inlet evaporator:25o C Pembacaan wet bulb pada air inlet evaporator:19,5o C

Pembacaan pada grafik 1: perpotongan antara keduanya menunjuk pada angka 60%

Ukur temperatur dry bulb pada outlet udara dingin dan hitung perbedaan antara inlet dry bulb dan outlet dry bulb

Pastikan hasil pembacaan antara kelembaban relatif dan perbedaan kedua temperatur ada pada dua garis berarsir yang menunjukkan bahwa kemampuan pendinginan cukup baik



c.  Rangkuman



d. Tugas

 

a.    lakukan pelatihan praktek ini beberapa kali hingga anda terampil didalam melakukan bongkar/pasang!

b.    Hafalkan urutan cara bongkar dan pasang sesuai satandard Operasional Prosedur yang telah dipelajari!

e. Tes Formatif

a. Sebutkan ciri-ciri siklus pendingin yang tidak normal, penyebab dan cara pemecahannya.

b. Sebutkan urutan kerja membongkar dan memasang magnetic clutch, dan compressor baik tipe swash plate maupun tipe through vane.

c.   Jelaskan cara melakukan test kebocoran dengan menggunakan baik air sabun, kompor nyala api maupun detector Elektronik.

d.    askan cara melakukan uji kemampuan AC pada kendaraan ringan.


f.     Kunci jawaban 

 

1.     Ciri-ciri siklus pendingin yang tidak normal

 

a.    Refrigerant kurang

Pada kondisi ini, terlihat gejala sebagai berikut:

udara yang keluar dari sistem pendingin tidak terlalu dingin.

Pada kaca pengintai terlihat banyak gelembung.

Pemeriksaan pada manifold gauge:

pengukur tekanan rendah: 0,8 kg/cm2

(11 psi, 78 kPa)

Pengukur tekanan tinggi: 8-0 kg/cm2

(114 psi, 882 kPa)

Kemungkinan penyebabnya:

terdapat kebocoran pada siklus Pendinginan.

Pemecahannya:

Periksa kebocoran dengan menggunakan detektor kebocoran dan perbaiki.

b.    Pengisian refrigerant berlebihan

Pada kondisi ini, terlihat gejala sebagai berikut:

pendinginan tidak maksimum.

Pemeriksaan pada manifold gauge:

Pengukur tekanan rendah: 2.5 kg/cm2

(36 psi, 245 kPa)

Pengukur tekanan tinggi: 20 kg/cm2

(248 psi, 1.961 kPa)

Kemungkinan penyebabnya:

Dalam pengisian refrigerant terlalu berlebihan.

kondenser tidak bekerja dengan baik.

kopling fluida kipas radiator slip.

tali kipas kompresor kendor.


c.    Terdapat udara didalam siklus.

Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut :

AC tidak terlalu dingin.

Pemeriksaan pada manifold gauge:

Pengukur tekanan rendah: 2.5 kg/cm2

(36 psi, 245 kPa)

Pengukur tekanan tinggi: 23 kg/cm2

(327 psi, 2.256 kPa)

Kemungkinan penyebabnya:

Ada udara didalam siklus pendingin.

Pemecahannya:

Periksa kotoran oli dan jumlahnya.

Bila oli berwarna hitam (kotor), bersihkan dengan minyak tanah dan semprot dengan kompresor angin.

lakukan penyedotan kevakuman kembali.

Ganti receifer.

d.    Terdapat uap air didalam siklus

Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut :

Kadang dingin kadang tidak

Pemeriksaan pada manifold gauge:

Pengukur tekanan rendah: 50 cmHg (1,5 kg/cm2)

Pengukur tekanan tinggi: 7 = 15 kg/cm2

Kemungkinan penyebabnya:

Pada expansion valve terjadi penyumbatan oleh gumpalan es.

Pemecahannya :

Ganti Receifer/Dryer

lakukan pemompaan kevakuman, untuk membuang uap air.

perhatikan jumlah refrigerant yang sesuai dalam pengisian.

e.    Refrigerant tidak bersirkulasi

Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut:

AC tidak dingin

Pemeriksaan pada manifold gauge:

Pengukur tekanan rendah: 76 cmHg

(sangat rendah)

Pengukur tekanan tinggi: 6 kg/cm2

(85 psi/588 kPa)

Kemungkinan penyebabnya:

Pada expansion valve terjadi penyumbatan.

Pemecahannya:

Lepas expansion valve, bersihkan dan tes. Bila sudah rusak ganti.

Ganti Receifer/Dryer.

perhatikan jumlah refrigerant yang sesuai dalam pengisian.

f.     Ekspansion valve tidak bekerja dengan baik

Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut:

AC kurang dingin

Pemeriksaan pada manifold gauge:

Pengukur tekanan rendah: 2,5 kg/cm2

(36 psi/245 kPa)

Pengukur tekanan tinggi: 19-20 kg/cm2

(270–264 psi/1.863–1.961 kPa)

Kemungkinan penyebabnya:

Expansion valve rusak atau pemasangan Heat sensitizing salah.

Penyetelan aliran tidak baik

pada evaporator terlalu banyak refrigerant dalam bentuk cair.

Pemecahannya:

Periksa pemasangan heat sensitizing.

Periksa expansion valve, bila rusak ganti.

g.    Tidak ada kompresi pada kompresor

Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut:

AC tidak dingin

Pemeriksaan pada manifold gauge:

Pengukur tekanan rendah: terlalu tinggi

Pengukur tekanan tinggi: terlalu rendah

Kemungkinan penyebabnya:

Kompresor rusak.

katup kompresor rusak.

Pemecahannya:

Bongkar dan perbaiki kompresor

Ganti kompresor dengan type dan kapasitas yang sama.

3.        Jawaban

A.   Magnetic Clutch:

 

Membongkar

1.    Melepas Pressure Plate:

a.    Lepas baut poros (guna kan Spesial servis tool dan kunci Sock)

b.    Pasang SST (lihat gambar) ke pressure plate

c.    Lepaskan pressure plate:

d.    Lepaskan shim

2.    Melepas Stator:

a.  Lepaskan snap ring (menggunakan tang tutup)

b.    Keluarkan rotor   (gunakan palu plastik)

3.    Melepas Stator

a.  Lepas kabel Stator dari rumah Compressor.

b.     Lepaskan snap ring

c.     Lepaskan stator

 

Memasang:

1.    Pasang Stator

a.  Pasang stator

b.  Pasang snap ring

c.    Menyambungkan kabel stator

2.   Pasang Rotor

a.  Pasang rotor pada poros compressor.

b.  Gunakan snap ring baru

3.    Pasang Pressure plate.

a.    Pasang shim

b.    Pasang baut poros

4.    Ukur celah Magnetic Clutch.

a. Tipe swash plate gunakan feeler gauge

b.  Tipe Through vane

  • pasang dial gauge pada pressure plate
  •   hubungkan kabel magnetic clutch ke batery+

(lihat gambar)

  •   Periksa antara pressure plate dan rotor

kemudian hubungkan terminal negatif battery

B.  Compressor Tipe Swash Plate

 

Membongkar

1.    Melepas Servis valve:

a.    lepas baut servis plate

b.    Lepas seal ring (ganti)

2.    Mengukur oli

Ukur oli yang ada didalam Compressor sebagai patokan pengsisian oli baru.

3.    Melepas Tutup depan

a.    Lepas baut pengunci tutup depan dengan menggunakan obeng ketok+(spesial servis tool)

b.    Lepas tutup rumahnya gunakan obeng (-) hati-hati jangan sampai melukai seal maupun rumah compressor.

4.    Melepas tutup katup depan

a.    Lepaskan pin dari tutup depan

b.    Lepas pelat katup

a.    Melepas gasket.

5.    Melepas seal poros

a.    Lepas snap ring

b.    Lepas seal poros.

Memasang

1.  Pemasangan seal

a.  atur seal poros tepat ditengah

b.  Dorong seal dengan busing

c.    Pasang snap ring.

2.  Pemasangan pelat rumah depan

a.    Pasang pin (2 buah)

b.    Lumasi O ring dengan oli dan pasang pada rumah depan compressor.

c.    Pasang katup isap depan melalui pin pada bagian depan silinder.

d.    Pasang pelat depan bersama sama dengan katup penyalur melalui pin pada silinder depan.

e.    Lumasi gasket dengan oli, dan pasang pada silinder depan.
Pemasangan dudukan center.

3.  pemasangan tutup depan

4.  pengerasan baut-baut

5.  Pengisian Oli.

(Jumlah oli harus sama dengan oli yang terbuang saat

pem bongkaran). Gunakan Oli yang standard.

6.    Pemasangan katup servis.

a.    Lumasi dulu dengan oli.

b.    Pasang katup servis pada compressor dan keraskan bautnya.

Momen kekencangan: 250 kg-cm.

7.      Pengukuran Momen Putar Poros.

Momen : 50 kg-cm.

 

C.   Compressor Tipe Through vane

 

Membongkar

1.        Lepas katup servis pengisap

2.        Lepas katup servis penyalur

3.        Mengukur oli:

Ukur oli yang ada didalam Compressor sebagai patokan pengi isian oli baru.

4.        Melepas pelat katup depan.

a.        Lepas bautnya.

b.        Lepas tutup depan.

c.         Lepas tutup belakang.

5.        Melepas pin dan gasket.

6.        Melepas seal poros.

Memasang

1.        Pasang seal poros baru

a.        Pasang Gasket baru

b.        Pasang tutup rumah

c.         Pemasangan baut-baut pe-ngikat.

2.        Pemasangan Kompresor pada Bracket

3.        Pengerasan baut pengikat

Momen pengencangan: 250 kg-cm.

4.        Pengisian oli

(Jumlah oli sama dengan oli yang terbuang saat pem bongkaran ditambah 20 cc). Gunakan Oli yang standard.

5.        Pemasangan katup isap dan penyalur

a.        Lumasi O ring dengan oli kemudian pasang pada tempatnya.

b.        Pasang katup servis (gunakan center dan kunci momen) kemudian keraskan baut-bautnya.

4.     Jawab:

 

Pemeriksan kebocoran dengan menggunakan air sabun.

  • hidupkan mesin dan aktifkan AC.
  • dengn menggunakan kain lap basahi bagian-bagian sambungan atau yng diduga mengalami kebocoran dengan air sabun.
  • apabila pada daerah yang diduga terdapat gelembung-gelembung, maka daerah itulah yang mengalami kebocoran

Pemeriksaan kebocoran dengan menggunakan kompor

nyala api:

Letakkan secara vertical alat pemeriksa kebocoran, kemudian dekatkan selang kontrol (Suction tube) ke bagian yang diperkirakan mengalami kebocoran dari arah bawah. Apabila pada daerah tersebut betul mengalami kebocoran, maka warna api kompor akan mengalami perubahan dari biru menjadi kuning kemerah-merahan dan sedikit agak membesar.

Pemeriksaan kebocoran dengan menggunakan detektor Elektronik.

                                                     Gambar  : Detektor kebocoran elektronik

o   Stel saklar pengatur sensitifity keposisi medium

a. Carilah letak kebocoran dengan mendekatkan dan menggerakkan antene deteksi ke daerah kebocoran perlahan-lahan.

b.    Kebocoran yang terjadi ditandai dengan bunyi alarm yang makin lama makin cepat, yang menunjukkan daerah terjadinya kebocoran.

c.    Apabila kebocoran sulit untuk ditemukan rubahlah saklar pengatur sensitifity ke posisi large.

d.    Saklar pengatur sensitifity small digunakan apabila area kemungkinan kebocoran sudah ditemukan, yaitu untuk mempersempit area sehingga titik kebocoran dapat ditemukan

5.     Jawab

(1)      Langkah persiapan: Siapkan peralatan uji

Service tool set AC

Thermometer

Psychrometer

Tachometer

(2)      Pasang manifold gauge

(3)      Hidupkan mesin dengan AC pad posisi   ON

Atur putaran mesin pada 2000 RPM

Atur saklar blower pada posisi (HI) dan temperatur control di (Cool) serta air flow control di (Vent)

Buka jendela kendaraan

(4)      Posisikan thermometer Dry bulb di outlet udara dingin

(5)      Posisikan Psychrometer dekat inlet unit pendingin (lihat gambar)

                             Gambar : penempatan Thermometer dan psychrometer

(6)      Stabilkan AC

Periksa tekanan pengukur takanan tinggi 14,0 -15,5 kg/cm2       Bila pembacaan terlalu tinggi, siram condenser dengn air dan bila pembacaan terlalu rendah tutuplah bagian depan condenser

Periksa suhu pada thermometer inlet 25o C–35o C

(7)      Pemeriksaan Pengujian

Bacalah kelembaban relatif dari grafik psychrometrik dengan membandingkan sisi wet dan dry bulb psychometer pada air inlet

                                               Gambar : Grafik 1

Contoh cara membaca grafik:

Pembacaan dry bulb pada air inlet evaporator: 25o C Pembacaan wet bulb pada air inlet evaporator: 19,5o C

Pembacaan pada grafik 1: perpotongan antara keduanya menunjuk pada angka 60%

Ukur temperatur dry bulb pada outlet udara dingin dan hitung perbedaan antara inlet dry bulb dan outlet dry bulb

Pastikan hasil pembacaan antara kelembaban relatif dan perbedaan kedua temperatur ada pada dua garis berarsir yang menunjukkan bahwa kemampuan pendinginan cukup baik

 


BAB. III

EVALUASI

A.  PERTANYAAN

 

  Uji Kompetensi Pengetahuan

 

I.  Jodohkanlah gambar pada kolom I dengan nama-nama pada kolom yang sesuai menurut pendapatmu!

 

1.                                                          A.  Receifer/Dryer

 

 

 

 

 

 

 

2.                                                                                                                    B.  Expansion valve

 

 

 

 

3.                                                          C.  Blower

 

 

 

 

 

 

 

4.                                                          D.  Stabilizer RPM

 

 

 

 

5.                                                          E.  Condenser

 

 

 

 

 

 

 

6.                                                          F.  Pressure switch

 

 

 

Tekanan terlalu tinggi atau terlalu rendah pada sisi tekanan tinggi alat ini akan secara otomatis memutus magnetic clutch

 

 

7.                                                          G.  Idle Up

 

 

Untuk menghindari terjadi nya pembekuan air pada fin evaporator

 

 

8.                                                                                                                    H.  Sistem control

kompresor dua  

tingkat

Swich AC di “ON” RPM Mesin akan meningkat secara Otomatis

 

 

9.                                                                      I.  Evaporator

 

 

 

 

10.

Sensor pendeteksi yang dipasang pada arus primer ignition coil untuk menstabilkan RPM

                                                        J. Sistem pelindung

    tali kompressor

Pada saat kompresor macet, magnetic clutch dan idle up akan “off” secara otomatis

 

 

 

 

11.                                                        K.  Anti Frosting

                                                                  Device

 

Untuk menghindari ter jadinya pembekuan air pada fin evaporator dalam suhu yang lebih rendah

 

12.                                                        L.  Compressor

 

 

 

 


II.  Pilihlah jawaban yang paling tepat dengan memberi tanda silang pada huruf A, B, C, D atau E pada lembar jawab yang disediakan.

 

 

1. Fungsi Compressor pada air conditioners adalah:

a.    memompakan udara kedalam condenser agar tekanannya meningkat

b.    Memompakan refrigerant cair kedalam evaporator agar berubah wujud menjadi gas

c.     Memompakan refrigerant kedalam condenser agar tekanannya menurun

d.    Memompakan refrigerant gas kedalam condenser agar berubah wujud menjaddi cair

e.    Memompakan refrigerant cair agar dapat bersirkulasi kedalam sistem.

2. Udara sejuk yang keluar dari evaporator, dihembuskan oleh:

a.    Kipas angin

b.    Kompressor

c.     Blower

d.    Angin

e.    Kipas mesin

3. Refrigerant yang berada di condenser berbentuk:

a.    Gas

b.    Setengah cair setengah gas

c.     Cair

d.    Uap

e.    Semua benar

4. Pernyatan dibawah adalah benar, kecuali:

a.    Magnetic Clutch adalah bagian dari Componen AC.

b.    Magnetic clutch memutus dan menghubung dengan putaran mesin secara otomatis pada sat switch AC posisi “ON”

c.     Magnetic clutch terpasang pada bagian depan dari compressor.

d.    Magnetic clutch adalah kopling magnet yang bekerjanya berdasarkan aliran listrik yang mengalir.

e.    Magnetic clutch selalu berputar karena menjadi satu dengan pully Compressor

5. Compressor diputar oleh:

a.    Mesin yang dihubungkan dengan fanbelt melalui pully

b.    Pully poros engkol, pully alternator dan pully waterpump

c.     Roda gigi timing

d.    Kipas melalui pully poros engkol

e.    Motor starter dengan menggunakan roda gigi

6. Fungsi kaca pengintai adalah:

a.    Untuk melihat aliran sistem pendingin

b.    Untuk melihat jumlah udara

c.     Untuk melihat jumlah pelumas

d.    Untuk melihat aliran udara

e.    Keempat pernyataan diatas benar

7.    Panas udara yang ada disekeliling diserap sehingga udara menjadi dingin, merupakan cara kerja dari alat:

a.    Condenser

b.    Compressor

c.     Expansion valve

d.    Blower

e.    Evaporator

8. Urutan siklus pendinginan yang benar adalah :

a.    Compresor –> Evaporator -à Dryer -à Condenser -à Exp.Valve

b.    Compresor -à Condenser -à Dryer -à Evaporator -à Exp.valve

c.     Compresor -à Condenser -à Dryer -à Exp.Valve -à Evaporator

d.    Compresor -à Dryer -à Condenser -à Exp.valve -à Evaporator

e.    Compresor -à Exp.valve -à dryer -à Evaporator -à Condenserr

9. Gambar dibawah menunjukkan posisi keran:

A.       Keran katup tekanan tinggi

terbuka

B.       Kedua katup tertutup

C.       Kedua katup terbuka

4.

                                                          D.      Keran katup

tekanan rendah terbuka

                  3     2         1

E.       kedua katup setengah

terbuka

                                                            

                     

10. Gambar disamping menunjukkan posisi keran:

 

a.    Keran katup tekanan tinggi terbuka

b.    Kedua katup tertutup

c.     Keran katup tekanan  rendah terbuka

d.    Kedua katup terbuka

e.    Kedua katup setengah terbuka

    1        2        3           

11. Alat penampung refrigerant cair sekaligus untuk menyaring uap air dan kotoran:

a.    Condenser

b.    Anti Frosting Devices

c.     Dryer

d.    Peralatan Idle Up

e.    Pressure Switch

12.     Dibawah ini adalah cirri-ciri Compressor type swash plate, kecuali:

a.    Memiliki 10 piston dengan interval 72o

b.    Terdiri dari dua vane yang integral dan saling tegak lurus

c.     Memiliki  6 piston dengan interval 120o

d.    Kedua sisi piston bekerja, dalam gerak bolak balik

e.    Ke empat pernyataan diatas benar

13.  Compressor type Through vane, termasuk compressor jenis:

a.    Resiprocating

b.    Crank

c.     Swash plate

d.    Rotary

e.    Torak

14.  Kerja dari magneting Clutch:

a.    Saat mesin hidup, switch AC “ON”, stator coil berubah menjadi magnet, menarik pressure plate dan kompresor berputar

b.    Saat mesin hidup, switch AC “OFF”, stator coil berubah menjadi magnet, menarik pressure plate dan kompresor berputar

c.     Saat mesin mati, switch AC “OFF”, stator coil berubah menjadi magnet, menarik pressure plate dan kompresor berputar

d.    Saat mesin mati, switch AC “ON”, stator coil berubah menjadi magnet, menarik pressure plate dan kompresor berputar

e.    Saat mesin hidup, Kunci kontak “ON”, stator coil berubah menjadi magnet, menarik pressure plate dan kompresor berputar

15.     Gambar dibawah adalah Exp. Valve Type thermal, besar kecilnya pengabutan yang terjadi sangat bergantung dari:

                                                         

                                                   

 

 

 

 

 

a.    Tekanan pegas yang ada pada Expansion valve

b.    Perubahan tekanan uap dari evaporator

c.     Perubahan tekanan keluar yang ke Compressor

d.    Perubahan tekanan pada condenser

e.    Perubahan tekanan pada heat sensitizing tube, oleh karena perubahan temperature fin.

 

16.     Bila tekanan refrigerant terlalu berlebihan (> 27 kg/cm2 atau < 2,1 kg/cm2) maka alat ini akan berfungsi menghentikan magnetic clutch:

a.    Anti Frosting Devices

b.    Stabilizer RPM

c.     Idle Up

d.    Pressure switch

e.    Sistem pelindung tali penggerak Compressor

17.  Fungsi sistem control compressor dua tingkat, yaitu:

a.    Untuk mencegah pembekuan air pada fin

b.    Untuk menghentikan kerja kompresor pada tingkat pembekuan air pada fin evaporator lebih rendah

c.     Untuk menghentikan kerja kompresor pada tingkat pembekuan air pada fin evaporator lebih tinggi

d.    Untuk membersihkan pembekuan air yang terjadi pada fin evaporator

e.    Untuk menghambat terjadinya pembekuan air pada fin evaporator

18.     Letak peralatan idle up pada gambar dibawah adalah:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

19.   Dibawah adalah termasuk Zat Pendingin (Refrigerant), kecuali:

a.    R 12

b.    R 134a

c.     Zat Asam

d.    HFC 22

e.    Liquid Petrolium Gas

20.      Untuk penggunaan refrigerant R 134a, sebaiknya pelumas yang digunakan adalah:

a. Jenis pelumas mineral

b.    Jenis pelumas ester

c.     Jnis pelumas sintetic

d.    SAE 20-50W

e.    Sembarang munyak pelumas

21.     Setelah selesai proses pengosongan, tutup kedua katup dan tunggu kurang lebih 15 menit, hal ini diperlukan untuk:

a.    Agar sistem tetap dalam keadan vacuum

b.    Untuk melihat apakan masih ada kebocoran dalam system

c.     Untuk memastikan bahwa sistem bekerja dengan baik

d.    Agar mudah dalam memasukkan refrigerant

e.    Untuk menjaga agar sistem tetap bersih

22.     Pada gambar disamping, agar refrigerant dapat mengalir masuk ke dalam sistem, yang harus dilakukan adalah:

a.    Putar handle searah jarum jam, disc berlawanan arah jarum jam

b.    Putar handle berlawanan arah jarum jam, disc searah jarum jam

c.     Putar handle dan disc searah jarum jam, kemudian berlawanan arah

d.    Putarlah handle dan disc berlawanan arah jarum, kemudian putar disc dan handle searah jarum jamkemudian putar kembali handle berlawanan arah jarum jam

e.    Putar langusng handle dan disc searah jarum jam

23.     Pada pengisian refrigerant dalam bentuk cair, katup yang harus dibuka adalah:

a.    Kedua katup

b.    Katup isap saja

c.     Katup isap ½ katup tekanan tinggi ½

d.    Tidak ada yang terbuka

e.    Katup tekanan tinggi saja

24.     Pada pengisian refrigerant dalam bentuk cair, setelah kedua katup ditutup tekanan kedua pengukur tekanan harus:

a.    Sama

b.    Tekanan tinggi > tekanan rendah

c.     Tekanan tinggi < tekanan rendah

d.    Tekanan tinggi lebih besar sedikit dari tekanan rendah

e.    Tekanan tinggi lebih rendah sedikit dari tekanan rendah

25.     Pada proses pengisian lanjut, tabung refrigerant harus dibalik, agar:

a.    Refrigerant yang keluar tetap berbentuk cair

b.    Refrigerant yang keluar dalam bentuk antara gas dan cair

c.     Refrigerant yang keluar dalam bentuk gas

d.    Refrigerant yang keluar lebih lancar

e.    Tidak mengganggu kerja kompresor

26.     Dalam proses pengosongan maupun pengisian Refrigerant, peserta diklat harus memakai kacamata pengaman, karena:

a.    Agar dalam pengerjaan menjadi lebih jelas

b.    Agar tidak terkena debu atau kotoran

c.     Gas refrigerant tidak boleh terkena mata

d.    Melindungi mata dari gas refrigerant yang mungkin menyembur keluar

e.    Gas refrigerant sangat berbahaya jika terkena mata

27.     Apabila bagian tubuh kita terkena gas refrigerant, cara yang paling tepat untuk membersihkannya adalah:

a.    Bersihkan dengan menggunakan bensin

b.    Bersihkan dengan menggunakan air hangat

c.     Bersihkan dengan air dan sabun

d.    Bersihkan dengan menggunakan lap basah

e.    Bersihkan dengan menggunakan air dingin

28.     Kontrol kebocoran dengan menggunakan nyala api spritus, akan mengubah warna api:

a.    Dari merah menjadi kebiru-biruan

b.    Dari biru menjadi kemerah-merahan

c.     Dari biru menjadi agak kehijau-hijauan

d.    Dari merah menjadi agak kehijau-hijauan

e.    Apinya membesar dan berwarna ke biru-biruan

29.     Kebocoran yang lebih halus dapat dideteksi dengan menggunakan detector elektronik, tanda yang dapat ditangkap jika ada kebocoran berbentuk:

a.    Cahaya

b.    Api

c.     Suara

d.    Warna

e.    Gambar

30.     Ciri-ciri jumlah refrigerant kurang adalah, kecuali:

a.    Pada kaca pengintai terlihat banyak gelembung

b.    Tekanan pada sisi tekanan rendah < 2,1 kg/cm2

c.     Semburan dari blower AC tidak terlalu dingin

d.    Tekanan pada sisi tekanan tinggi < 14,5 kg/cm2

e.    Udara yang keluar dari evaporator terlalu dingin

31.     Pendinginan yang terjadi tidak maksimum, pengukuran tekanan rendah 2,5 kg/cm2 dan tekanan tinggi 20 kg/cm2, kemungkinan penyebabnya adalah:

a.    Refrigerant dalam sistem kurang

b.    Refrigerant tidak bersirkulasi dengan baik

c.     Ada kebocoran pada selang-selangnya

d.    Pengisian refrigerant terlalu berlebihan

e.    Tali kipas AC agak terlalu kencang

32.     Bila didalam siklus terdapat udara, maka langkah yang harus dilakukan adalah:

a.    Periksa kualitas dan kwantitas oli

b.    Jika oli kotor bersihkan dengan menyemprotkan minyak tanah

c.     Lakukan langkah penyedotan dengan pompa vacuum

d.    Mengganti receifer atau dryer

e.    Semua langkah diatas benar

33.     kondisi pendingin kadang dingin kadang tidak, hal ini menunjukkan terjadi problem pada sistem, yaitu:

a.    Terdapat udara didalam siklus

b.    Terdapat uap air dalam siklus

c.     Refriogerant tidak bersirkulasi

d.    Refrigerant kurang

e.    Refrigerant terlalu banyak

34.      Jika Expansion valve tersumbat, maka akibat yang terjadi adalah:

a.    Sistem tidak bersirkulasi dan AC tidak dingin

b.    Sistem tetap bersirkulasi tetapi AC tidak dingin

c.     Sistem tetap bersirkulasi dan AC tetap dingin

d.    Sistem bersirkulasi dan AC tidak menyembur

e.    AC tidak berjalan sama sekali

35.     Heat sensitizing tidak terpasang pada tempat yang benar, akibatnya:

a.    AC tidak dingin sama sekali

b.    Pengukur pada tekanan tinggi > dari 20 kg/cm2

c.     AC kurang dingin

d.    AC menjadi sangat dingin

e.    Pengukur pada tekanan rendah > dari 2,5 kg/cm2

36.     AC tidfak dingin, dan pengukur tekanan rendahnya terlalu tinggi sedang pengukur tekanan tingginya terlalu rendah, gejala ini menunjukkan kerusakan pada:

a.    Condenser

b.    Evaporator

c.     Receifer/Dryer

d.    Compressor

e.    Expansion valve

37.     Keadaan AC: Tekanan dalam pipa tekanan tinggi terlalu besar. Dan drop pada saat Compressor berhenti. Langkah perbaikannya adalah:

a.    Buang refrigerant, lakukan pemompaan vacuum, isi kembali refrigerant

b.    Kurangi refrigerant hingga terlihat gelembung pada kaca pengintai

c.     Ganti dryer/receifer

d.    Siram condenser dengan air

e.    Perbaiki pemasangan heat sensitizing valve

38.     Keadaan AC: Ketika condenser didinginkan tekanan pada pipa tekanan tinggi terlalu besar tetapi tekanan disaluran hisap kecil, hal ini disebabkan oleh:

a.    Ada udara pada siklus pendinginan

b.    Condenser tersumbat oleh kotoran

c.     Pengisian refrigerant terlalu banyak

d.    Blower tidak bekerja dengan sempurna

e.    Expansion valve membuka terlalu lebar

39.      Keadaan AC: tekanan pada katup penyalur terlalu rendah dan gelembung pada kaca pengintai terlihat deras sedang condenser tidak panas. Untuk memperbaiki keadaan ini:

a.    Kurangi refrigerant

b.    Siram condenser dengan air

c.     Buang refrigerant, lakukan pemompaan vacuum, dan isi kembali refrigerant

d.    Ganti dryer/receifer

e.    Tambahkan refrigerant

40.     Tekanan pada katup isap dan katup penyalur terlalu rendah, dan udara tidak keluar dari evaporator, penyebab keadaan ini adalah:

a.    Ada air pada evaporator

b.    Evaporator membeku

c.     Jumlah refrigerant berlebih

d.    Condenser tersumbat kotoran

e.    Jumlah refrigerant kurang


A.    Uji Kompetensi Keterampilan

Lakukanlah pekerjaan–pekerjaan dibawah dengan mengikuti standar prosedur yang telah ditentukan oleh industri dan  dalam waktu yang telah ditentukan dengan baik.

No.

 Sub Kompetensi

Waktu

1.

Mengisi Refrigeran R 12 pada sistem AC Mobil 30 menit

2.

Mengetes kebocoran pada sistem AC Mobil 10 menit

3.

Melakukan Pengukuran tekanan dengan Manifold Gauge untuk memeriksa kesalahan sistem. 20 menit

4.

Melakukan Bongkar pasang magnetic Clutch tipe swash plate 30 menit

5.

Melakukan Bongkar Pasang Magnetic clutch tipe Through vane 30 menit

6.

Melakukan Bongkar Pasang Compressor Tipe swash plate 30 menit

7.

Melakukan Bongkar pasang Compressor Tipe Through vane 30 menit

8.

Merangkai Rangkaian Sistem Kelistrikan AC 30 menit

Total

210 menit

 

B.       LEMBAR JAWABAN

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

                       

 

1

A

B

C

D

E

 

21

A

B

C

D

E

2

A

B

C

D

E

22

A

B

C

D

E

3

A

B

C

D

E

23

A

B

C

D

E

4

A

B

C

D

E

24

A

B

C

D

E

5

A

B

C

D

E

25

A

B

C

D

E

6

A

B

C

D

E

26

A

B

C

D

E

7

A

B

C

D

E

27

A

B

C

D

E

8

A

B

C

D

E

28

A

B

C

D

E

9

A

B

C

D

E

29

A

B

C

D

E

10

A

B

C

D

E

30

A

B

C

D

E

11

A

B

C

D

E

31

A

B

C

D

E

12

A

B

C

D

E

32

A

B

C

D

E

13

A

B

C

D

E

33

A

B

C

D

E

14

A

B

C

D

E

34

A

B

C

D

E

15

A

B

C

D

E

35

A

B

C

D

E

16

A

B

C

D

E

36

A

B

C

D

E

17

A

B

C

D

E

37

A

B

C

D

E

18

A

B

C

D

E

38

A

B

C

D

E

19

A

B

C

D

E

39

A

B

C

D

E

20

A

B

C

D

E

40

A

B

C

D

E

    

 

C.       KUNCI JAWABAN

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

L

A

E

I

B

C

F

K

G

D

J

H

 

1

A

B

C

D

E

 

21

A

B

C

D

E

2

A

B

C

D

E

22

A

B

C

D

E

3

A

B

C

D

E

23

A

B

C

D

E

4

A

B

C

D

E

24

A

B

C

D

E

5

A

B

C

D

E

25

A

B

C

D

E

6

A

B

C

D

E

26

A

B

C

D

E

7

A

B

C

D

E

27

A

B

C

D

E

8

A

B

C

D

E

28

A

B

C

D

E

9

A

B

C

D

E

29

A

B

C

D

E

10

A

B

C

D

E

30

A

B

C

D

E

11

A

B

C

D

E

31

A

B

C

D

E

12

A

B

C

D

E

32

A

B

C

D

E

13

A

B

C

D

E

33

A

B

C

D

E

14

A

B

C

D

E

34

A

B

C

D

E

15

A

B

C

D

E

35

A

B

C

D

E

16

A

B

C

D

E

36

A

B

C

D

E

17

A

B

C

D

E

37

A

B

C

D

E

18

A

B

C

D

E

38

A

B

C

D

E

19

A

B

C

D

E

39

A

B

C

D

E

20

A

B

C

D

E

40

A

B

C

D

E

 

 

 

 

 

 

D.       KRITERIA PENILAIAN

 

1.    Aspek Penilaian Uji Kompetensi Teori: (Cognitif)

NO.

ASPEK PENILAIAN

SCORE

(1-10)

BOBOT

NILAI

KET

1.

Soal no 1-12

1,2

Score minimal 70

2.

Soal no 1-40

8.8

Score minimal 70

Jumlah

10

Nilai minimal 70

2.    Aspek Penilaian Uji Kompetensi Praktek (Affective dan Psikomotoric)

 

NO.

ASPEK PENILAIAN

SCORE

(1-10)

BOBOT

NILAI

KET

1.

Sikap:

1.   Kerapian

1.     Persiapan alat

2.     Sikap kerja

3.     Disiplin kerja

4.     Kepatuhan

5.     Taat Azas

6.     Keselamatan kerja

2

3

5

5

5

5

5

Affective

Score minimal 70

2.

Ketrampilan Praktek:

1.      Penggunaan alat

2.      Urutan langkah kerja   pembogkaran

3.      Urutan langkah kerja pemasangan

4.    Ketelitian kerja

10

15

15

10

Psychomotoric

Score minimal 70

3.

Hasil Kerja

2.0

Psychomotoric

Score minimal 70

Jumlah

10

Nilai minimal 70

3.  Rumus Penilaian:

 

                                                                       

                        N akhir    =       0.3Nt + 0.7 Np                 

                                                                            

    

 

 

Keterangan:

 

        N akhir    : Nilai akhir

        Nt            : Nilai Teori

        Np            : Nilai Praktek

Catatan:

 

Np diambil dari nilai praktek yang terkecil

 

 

 

 

 

 

 

                                 

   4.  PREDIKAT KELULUSAN

 

70 s.d. 79  :  Lulus kriteria minimal dengan bimbingan

80 s.d. 89  :  Lulus kriteria sedang dengan bimbingan

90 s.d. 100          :  Lulus diatas rata-rata tanpa bimbingan

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB. IV

PENUTUP

Setelah menyelesaikan Modul ini peserta diklat berhak untuk mengikuti uji kompetensi baik secara teori maupun praktek yang sebaiknya dilakukan oleh dunia industri atau assosiasi profesi dan yang berhasil mencapai syarat kelulusan minimal kepada yang bersangkutan berhak memperoleh sertifikat teknisi unior yang memiliki kompetensi dibidang pemeliharaan/servis Air Coditioners yang dikeluarkan oleh dunia industri ataupun assosiasi profesi yang memberikan penilaian. Sebaliknya, apabila peserta diklat dinyatakan tidak lulus, maka peserta diklat tersebut harus mengulang modul ini hingga dapat mencapai syarat kelulusan minimal yang telah ditetapkan.

DAFTAR  PUSTAKA

 

Anonim. (1993).  Materi Pelajaran Engine Group Step 1., Jakarta: PT Toyota  Astra Motor.

Anonim. (1993).  Materi Pelajaran Engine Group Step 2., Jakarta: PT Toyota– Astra Motor.

Anonim.  (1993).  New Step 2 Training Manual, Heater & Air Conditioning system Jakarta: PT Toyota–Astra Motor.

Anonim. (       ). Service Manual Toyota seri K

Crouse, William H, dan Anglin, Donald L (1986). Automotive Engines. New   York: Mc Graw Hill.

Toboldt, William K, dan Johnson, Larry. (1977). Automotive Encyclopedia. South Holland: The Goodheart Willcox.

Suharsimi Arikunto. (1988). Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan kejuruan . Jakarta: Depdikbud: Dirjen Dikti, Proyek Pengembangan LPTK.

Anonim. (        ). Buku Pedoman Dasar AC Suzuki.

Pemasangan, Pengujian dan Perbaikan Sistem Pengaman Kelistrikan dan Komponennya

BAB. II

PEMELAJARAN

 

A.  RENCANA BELAJAR

 

Rencanakan kegiatan belajar dengan baik, silakan konsultasi dengan guru/instruktur untuk menentukan jadwal sesuai tingkat kesulitan berdasarkan hasil  cek kemampuan awal yang telah anda lakukan. Mintalah paraf guru/instruktur sebagai tanda persetujuan terhadap rencana belajar anda.

Jenis Kegiatan

Tgl

Waktu

Tempat

Alasan Perubahan

Paraf Guru

Memasang sistem pengaman kelistrikan

         

Menguji sistem pengaman kelistrikan

         

Memperbaiki sistem pengaman kelistrikan

         
    Uji Kompetensi          

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.  KEGIATAN BELAJAR

 

Kegiatan Belajar 1. Memasang Sistem Pengaman Kelistrikan

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

 

Setelah mempelajari modul ini siswa harus dapat:

1)    Mengidentifikasi fungsi pengaman kelistrikan

2)    Menjelaskan sistem pengaman kelistrikan

3)    Mengidentifikasi tipe dan cara kerja pengaman kelistrikan

4)    Melakukan pemasangan sistem pengaman kelistrikan

5)   Menjelaskan keselamatan kerja saat pemasangan pengaman kelistrikan.

b.   Uraian Materi

 

 

Jenis–Jenis Pengaman Kelistrikan

 

Sirkuit  kelistrikan kendaraan terdiri atas bebarapa sistem yang terbagi dalam bebepa sistem kelistrikan. Karena beberapa faktor sering terjadi kerusakan pada sirkuit kelistrikan, misal: hubungan singkat yang dapat menyebabkan kerusakan pada komponen sistem kelistrikan tertentu. Untuk itu diperlukan suatu komponen yang dapat melindungi (pengaman) sirkuit kelistrikan pada kendaraan.

Sekring, fusible link dan circuit breaker digunakan sebagai komponen komponen yang meliondungi sirkuit. Barang-barang ini disisipkan kedalam sirkuit kelistrikan dan sistem kelistrikan untuk melindungi kabel-kabel dan conector yang digunakan dalam sirkuit untuk mencegah timbulnya kebakaran oleh arus yang berlebihan atau hubungan singkat.

1)   Sekring

 

a.    Fungsi

Sekring (fuse) ditempatkan pada bagian  tengah sirkuit kelistrikan. Bila arus yang berlebihan melalui sirkuit, maka sekring akan berasap atau terbakar yang menandakan elemen dalam sekring mencair sehingga sistem sirkuit terbuka dan mencegah komponen-komponen lain dari kerusakan yang disebabkan oleh arus yang berlebihan.

b.    Tipe Sekring

Tipe sekring dikelompokan kedalam tipe sekring blade dan tipe sekring cartridge.


 

 

 

 

 

Gambar 1.       Sekring Tipe Blade

                  

Tipe sekring blade paling banyak digunakan  pada saat ini, tipe ini dirancang lebih kompak dengan elemen metal dan rumah pelindung yang tembus pandang yang diberi kode warna untuk masing-masing tingkatan arus.

                                    dan Tipe Cartridge

 

Tipe sekring cartridge terdiri atas rumah pelindung kaca tembus pandang, terminal dan elemen penghubung arus, elemen penghubung arus ini akan mencair (terbakar) jika arus yang melewatinya melebihi kapasitas elemen.

c.    Identifikasi Sekring

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Sekring Tipe Blade Maxi,

 Standart dan Mini dan

 Tipe Cartridge

Sekring diidentifikasikan berdasarkan kapasitas masing masing jenis, untuk tipe cartridge dapat dilihat pada ujung logam penutup tabung kaca yang tertera angka penunjuk kapasitas sekring.

Sedangkan untuk sekring tipe blade dapat dilihat berdasarkan warna rumah (housing), pengkodean  warna tersebut dapat dilihat dibawah ini:

Kapasitas sekring dan warna tipe blade jenis Standart dan Mini

 

Kapasitas Sekring (A)

Identifikasi Warna

3

5

7,5

10

15

20

25

30

Violet

Coklat kekuning-kuningan

Coklat

Merah

Biru

Kuning

Tidak berwarna

Hijau

             Sumber: Circuit Protection, Kevin@autoshop101.com

Kapasitas sekring dan warna tipe blade jenis Maxi

 

Kapasitas Sekring (A)

Identifikasi Warna

20

30

40

50

60

70

80

Kuning

Hijau

Coklat kekuning-kuningan

Merah

Biru

Coklat

Tidak berwarna

                       Sumber: Circuit Protection, Kevin@autoshop101.com

2)   Fusible link

a.    Fungsi Fusible link

Secara umum fungsi dan konstruksi fusible link sama dengan sekring. Perbedaan utamanya adalah fusible link dapat digunakan untuk arus yang lebih besar karena ukurannya lebih besar dan mempunyai elemen yang lebih tebal (New step, 6-43). Seperti sekring fusible link dapat terbakar atau putus jika arusnya melebihi kapasitasnya dan harus diganti dengan yang baru.

b.    Tipe Fusible link

Menurut tipenya fusible link dapat diklasifikasikan kedalam dua tipe, yaitu: tipe cartridge dan tipe link. Fusible link tipe cartridge dilengkapi dengan terminal dan bagian sekring dalam satu unit. Rumahnya diberi kode warna untuk masing-masing tingkatan arus.

 

 

 

 Gambar 3.  Fusible Link Tipe Cartridge dan Tipe Links


c.    Idenstifikasi Fusible link

Fusible link dapat diidentifikasikan berdasarkan kapasitasnya yang ditunjukkan dengan kode warna untuk masing–masing kapasitas. Dibawah ini dicontohkan dari masing–masing kode warna fusible link.

 

Gambar 4.  Fusible Link Dengan Berbagai Kode Warna

 

Kapasitas

Fusible Link (A)

Persamaan Luas Penampang Pada Fusible Link

 

Identifikasi

Warna

30

40

50

60

80

100

0,3

0,5

0,85

1,0

1,25

2,0

Merah muda

Hijau

Merah

Kuning

Hitam

Biru

Sumber: New Step training manual, Toyota

3)   Circuit Breaker

Circuit breaker digunakan sebagai pengganti sekring untuk melindungi dari kesulitan pengiriman tenaga dalam sirkuit, seperti power windows dan sirkuit pemanas (heater).

a.    Tipe Circuit Breaker

Circuit breaker menurut tipenya dapat digolongkan dalam 3 (tiga) tipe, yaitu: Manual reset type Mechanical, Automatic  resetting  type Mechanical dan Automatically reset solid state type.

 

 

 

               

 

 

 

     Gambar 5.  Tipe–Tipe Circuit Breaker

 

b.    Konstruksi

Prinsip dasar dari circuit breaker tipe Manual reset type Mechanical dan Automatic  resetting  type Mechanical terdiri dari sebuah lempengan bimetal yang dihubungkan pada kedua terminal dan satu diantaranya bersentuhan.

 

Gambar 6. Konstruksi Circuit breaker Manual reset type Mechanical dan  Automatic  resetting  type Mechanical

(sumber: Circuit Protection, Kevin@autoshop101.com)

 

 

c.    Cara kerja

Bila sejumlah arus yang berlebihan mengalir melalui circuit breaker, maka bimetal menjadi panas. Dan ini menyebabkan lempengan membengkok, circuit breaker hubungannya terbuka dan memutuskan aliran arus.

d.    Tipe penyetelan

Circuit breaker dapat disetel. Penyetelannya ada tipe otomatis dan tipe biasa.

ü  Tipe penyetelan otomatis

Circuit yang menyetel secara otomatis (rating 7,5 A) digunakan khusus untuk melindungi sirkuit dari selenoid door lock (sistem 12V) yang membuka karena arus yang berlebihan tetapi akan menyetel secara otomatis ketika temperatur dari lempengan bimetal turun.

ü  Tipe penyetelan biasa

Circuit breaker penyetelan biasa (manually-reset type mechanical) dilengkapi untuk system 12 v dan 24 V. Ukuran arusnya adalah 10A, 14A, 20A dan 30A.

 

 

 

 

 

Gambar 7.  Sistem Bimetal pada Circuit Breaker

(sumber: Circuit Protection, Kevin@autoshop 101.com)

Circuit breaker ada didalam junction block atau kotak sekring. Saat circuit breaker terbuka disebabkan adanya arus yang berlebihan, circuit breaker disetel kembali seperti yang diperlihatkan dibawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.  Circuit Breaker Penyetelan Biasa (Manually Reset Type Mechanical)

(sumber: Circuit Protection, Kevin@autoshop101.com)

 

 

4)   Circuit Breaker tipe Automatic Resetting Solid State Type PTC

Polimer PTC (Positive Temperature Coefficient) merupakan Circuit breaker yang juga sering disebut thermistor atau thermal resistor. PTC terbuat dari bahan polimer konduksi yang akan berubah menjadi tahanan ketika temperaturnya menjadi naik. Circuit breaker tipe ini sering dipakai untuk melindungi sistem power windows dan sirkuit power door lock.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 9.  Circuit Breaker Tipe Automatic Resetting Solid State Type PTC


Cara kerja:

Ketika temperatur normal, karbon akan berfungsi sebagai konduktor yang akan mengalirkan arus listrik. Pada saat ini nilai tahanan sangat rendah. Jika materi PTC temperaturnya naik yang sering disebabkan oleh arus yang berlebihan, maka atom karbon akan merenggang sehingga nilai tahanan  menjadi naik hingga pada saat tertentu PTC akan memutuskan sistem sirkuit. Circuit breaker tipe Automatic Resettting Solid State type PTC akan berfungsi sebagai konduktor lagi apabila temperatur menjadi dingin kembali.

Kondisi kerja atom karbon pada Circuit breaker tipe Automatic Resettting Solid State type PTC dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

           A                                                                                            B

 

Gambar 10.  Cara Kerja Circuit Breaker Tipe Automatic Resetting Solid State type PTC. Kondisi Atom Karbon pada saat Temperatur Normal (A) dan Temperatur Naik (B)

 (sumber: Circuit Protection , Kevin@autoshop101.com)

 

 

 

 

d.  Tugas

 

Isilah tabel berikut ini dengan cara  observasi pada bengkel atau membaca buku pedoman kendaraan:

No.

Merk Dan Tipe Kendaraan

Jenis Dan Jumlah Pengaman Yang Dipakai

Sumber Informasi

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

e.  Tes Formatif

Jawablah pertanyaan dibawah ini:

1)   Jelaskan fungsi pengaman sirkuit pada kendaraan!

2)   Jelaskan jenis jenis pengaman sirkuit dan perbedaan konstruksi dari masing–masing jenis pengaman!

3)   Sebutkan jenis dan tipe pengaman sirkuit  pada gambar berikut ini:

1           2

3            4

1. ………………………………………

2. ………………………………………

3. .……………………………………..

4.  ……………………………………..

4)   Jelaskan perbedaan sekring  dan fusible link !

5)   Sebutkan komponen sekring tipe blade!

6)   Sebutkan kapasitas (A) dan identifikasi warna pada sekring!

7)   Sebutkan kapasitas (A) dan identifikasi warna pada fusible link!

8)   Jelaskan cara kerja pengaman jenis circuit breaker!


f.     Kunci Jawaban Tes Formatif

 

1)   Fungsi pengaman sirkuit adalah melindungi komponen kelistrikan, kabel-kabel dan connector yang digunakan dalam sirkuit untuk mencegah timbulnya kebakaran oleh arus yang berlebihan atau hubungan singkat.

2)   Jenis-jenis pengaman meliputi: sekring,fusible link dan circuit breaker. Pada dasarnya ketiga jenis ini mempunyai fungsi yang sama sebagai pelindung bagi sirkuit kelistrikan. Sekring dan fusible link mempunyai persamaan fungsi dan konstruksi tetapi fusible link dapat digunakan untuk arus yang lebih besar karena ukurannya lebih besar dan mempunyai elemen yang lebih tebal, sedang pengaman  jenis circuit breaker konstruksinya terdiri atas lempengan bimetal yang akan membengkok jika arus yang mengalir berlebihan. Dengan demikian bimetal membuka hubungan dan memutuskan aliran arus.

3)   Sebutkan jenis dan tipe pengaman sirkuit  pada gambar berikut ini:

1               2

3            4

1. Sekring tipe  blade

2. Sekring tipe cartridge

3. Fusible link tipe cartridge

4.  Fusible link tipe link

 

4)   Perbedaan utama sekring dan fusible link adalah fusible link dapat digunakan untuk arus yang lebih besar karena ukuranya lebih besar dan mempunyai elemen yang lebig tebal dibandingkan dengan sekring.

5)   Komponen sekring tipe blade meliputi Housing yang berfungsi sebagai tempat terminal dan fusing portion, Terminal berfungsi sebagai penghubung arus  dan Fusing portion berfungsi sebagai pengaman yang akan meleleh/terbakar jika dialiri oleh arus yang berlebihan.

c.    Kapasitas (A) dan identifikasi warna pada sekring

Kapasitas sekring dan warna tipe blade jenis Standart dan Mini

 

Kapasitas Sekring (A)

Identifikasi Warna

3

5

7,5

10

15

20

25

30

Violet

Coklat kekuning-kuningan

Coklat

Merah

Biru

Kuning

Tidak berwarna

Hijau

Kapasitas sekring dan warna tipe Blade jenis Maxi

 

Kapasitas Sekring (A)

Identifikasi Warna

20

30

40

50

60

70

80

Kuning

Hijau

Amber

Merah

Biru

Coklat

Tidak berwarna

d.  Kapasitas  (A) dan identifikasi warna pada Fusible Link

Kapasitas

Fusible Link (A)

Persamaan Luas Penampang Pada Fusible Link

Identifikasi

Warna

          30

40

50

60

80

100

     0,3

0,5

0,85

1,0

1,25

2,0

Merah muda

Hijau

Merah

Kuning

Hitam

Biru

e.    Cara kerja Circuit Breaker: Bila sejumlah arus yang berlebihan mengalir melalui circuit breaker, maka bimetal menjadi panas. Dan ini menyebabkan lempengan membengkok, circuit breaker hubungannya terbuka dan memutuskan aliran arus.

 

 

 

 

 

 

 

g.  Lembar Kerja

 

Lembar Kerja 1. Memasang Pengaman Kelistrikan

 

Tujuan: Siswa dapat mengidentifikasi dan memasang pengaman kelistrikan jenis sekring, fusible link dan circuit breaker.

Alat dan Bahan

1.    Panel sirkuit kelistrikan (simulator)

2.    Perlengkapan solder

3.    Lembar kerja

4.    Wiring diagram kelistrikan

5.    Kelengkapan keselamatan kerja.

Keselamatan Kerja

1.  Perhatikan posisi badan ketika melakukan pekerjaan penyolderan

2.  Hindari menghisap asap timah solder

3.  Gunakan alat keselamatan kerja seperti kacamata dan sarung tangan.

Langkah Kerja

1.    Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2.    Identifikasi arus pada masing–masing sirkuit sistem

3.    Gunakan dan pasang  jenis pengaman yang sesuai dengan kapasitas arus sirkuit.

Tugas

1.    Jelaskan cara memasang pengaman sirkuit sistem kelistrikan

2.    Faktor–faktor apa yang harus perhatikan  saat  memasang pengaman sirkuit sistem kelistrikan

3.    Buat laporan praktek memasang pengaman sirkuit sistem kelistrikan

 


Kegiatan Belajar 2. Menguji Sistem Pengaman Kelistrikan

 

a.  Tujuan Kegiatan Belajar

 

Setelah mempelajari modul pada kegiatan belajar 2 ini, siswa harus dapat:

1)   Melakukan pengukuran menggunakan multitester dengan prosedur yang benar

2)   Membaca wiring diagram kelistrikan dengan benar

3)   Melakukan pengujian sistem pengaman kelistrikan secara visual dan menggunakan alat multitester dengan prosedur yang benar.

 

b.  Uraian Materi

  

Pengujian Visual

 

Pengaman sirkuit kelistrikan merupakan suatu komponen yang berfungsi melindungi komponen kelistrikan, kabel-kabel dan connector yang digunakan dalam sirkuit untuk mencegah timbulnya kebakaran oleh arus yang berlebihan atau hubungan singkat. Komponen pengaman secara umum akan memutuskan sirkuit apabila arus yang mengalir melebihi kapasitas komponen tersebut. Untuk jenis sekring dan fusible link pemutusan sirkuit akan terjadi karena kawat konduktor pada sekring dan fusible link akan meleleh atau terbakar sehingga sirkuit menjadi terbuka, sedangkan pada jenis circuit breaker: Bila sejumlah arus yang berlebihan mengalir melalui circuit breaker, maka bimetal menjadi panas. Dan ini menyebabkan lempengan membengkok, circuit breaker hubungannya terbuka dan memutuskan aliran arus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 11.   Pemeriksaan Visual Sekring Dan Circuit Breaker

(sumber: Circuit Protection, Kevin@autoshop101.com)

Dengan demikian pengujian visual kerusakan pengaman dapat dilakukan secara visual dengan melihat kondisi konduktor pada jenis sekering dan fusible link dan kondisi bimetal pada jenis circuit breaker.

 

Pengujian Dengan Multitester

Multitester merupakan alat pengetes kelistrikan dengan fungsi penggunaan sangat luas yang meliputi: pengukur tegangan AC dan DC, Kuat arus (A) dan Tahanan  (resistor) serta dapat digunakan untuk memeriksa hubungan kelistrikan suatu komponen. Ada beberepa jenis multitester yang lazim digunakan, diantaranya: Multitester model digital  yang penunjukan hasil pengukurannya langsung dengan angka–angka dan multitester model manual yang hasil pengukuran ditunjukan oleh jarum (New step training manual; 1-27).

Multitester manual dengan bagian-bagiannya:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 12.  Multitester Manual
                  (sumber: New Step, Training Manual Toyota Astra Motor)

 

Metode Pengukuran

 

1.    Pemeriksaan dan Penyetelan Skala Nol (0)

Sebelum menggunakan Multitester harus dipastikan bahwa jarum penunjuk ada dibagian garis ujung sebelah kiri pada skala. Apabila tidak, putar sekrup penyetel jarum penunjuk dengan sebuah obeng sampai  jarum  penunjuk tersebut berada tepat pada garis ujung sebelah kiri. Penyetelan dan pengecekan skala  nol  ini cukup dilakukan sekali dan tidak memerlukan pengecekan yang terlalu sering.

2.    Pengetesan Hubungan

Untuk memeriksa hubungan kelistrikan, letakan range selector pada W X 1 dan kalibrasi skalanya. Kemudian hubungkan kabel pengetesan pada kedua ujung (terminal) komponen sistem pengaman. Hubungannya normal bila jarum menunjuk selalu kekiri. Demikian juga untuk menguji kondisi komponen system pengaman kelistrikan yang meliputi: Sekring, fusible link dan circuit breaker. Sebelum pengujian komponen pengaman dilakukan, pastikan bahwa sistem kelistrikan yang akan diperiksa dalam kondisi tidak bekerja (New step training manual; 1-27).

 

 

         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

d.   Tugas

 

Lakukan observasi dibengkel yang relevan, amati cara pengujian komponen sistem pengaman!

e.  Tes Formatif

 

1)   Bagaimana cara kerja komponen pengaman jenis sekring dan fusible link?

2)   Jelaskan cara melakukan pengujian komponen sistem pengaman secara visual!

3)   Jelaskan apa yang yang harus dilakukan sebelum menggunakan multitester untuk pemeriksaan komponen sistem pengaman!

4)   Jelaskan cara melakukan pengujian sistem pengaman dengan menggunakan multitester!

f.     Kunci Jawaban Tes Formatif

 

1.    Komponen pengaman secara umum akan memutuskan sirkuit apabila arus yang mengalir melebihi kapasitas komponen tersebut Untuk jenis sekring dan fusible link pemutusan sirkuit akan terjadi karena kawat konduktor pada sekring dan fusible link akan meleleh atau terbakar sehingga sirkuit menjadi terbuka.

2.    Karena fungsi pengaman untuk melindungi sirkuit kelistrikan dan  memutuskan arus listrik yang melebihi kapasitas dengan melelehkan kawat konduktor untuk jenis sekring dan fusible link, maka secara visual hal ini akan terlihat secara jelas Karena biasanya housing sekring dan fusible link terbuat dari bahan yang transparan, sedangkan untuk jenis circuit breaker dengan melihat kondisi bimetalnya.

3.    Sebelum menggunakan Multitester harus dipastikan bahwa jarum penunjuk ada dibagian garis ujung sebelah kiri pada skala. Apabila tidak, putar sekrup penyetel jarum penunjuk dengan sebuah obeng sampai  jarum  penunjuk tersebut berada tepat pada garis ujung sebelah kiri. Penyetelan dan pengecekan skala  nol  ini cukup dilakukan sekali dan tidak memerlukan pengecekan yang terlalu sering.

4.    Cara  melakukan pengujian sistem pengaman menggunakan multitester adalah dengan memeriksa hubungan komponen pengaman kelistrikan dan memeriksa terminal pada masing– masing jenis komponen sistem pengaman. Hubungan normal bila jarum menunjuk selalu kekiri yang berarti menunjukan komponen system pengaman dalam kondisi baik, begitu juga sebaliknya jika jarum tidak bergerak berarti komponen sistem pengaman dalam kondisi tidak berfungsi.

 

g.   Lembar kerja

 

Lembar Kerja 2. Menguji Pengaman Sistem Kelistrikan

 

Tujuan: Siswa dapat menguji  pengaman sistem kelistrikan jenis sekring, fusible link dan circuit breaker.

 

Alat dan Bahan

1.    Panel sirkuit kelistrikan (simulator)

2.    Multitester

3.    Lembar kerja

4.    Wiring diagram kelistrikan

5.    Kelengkapan keselamatan kerja.

Keselamatan Kerja

1.    Perhatikan posisi Saklar pada multitester ketika melakukan pemeriksaan sirkuit dan komponen sistem pengaman

2.    Pastikan sirkuit tidak dalam kondisi kerja ketika melakukan pemeriksaan sirkuit

3.    Gunakan alat sesuai dengan fungsi dan peruntukannya.

Langkah Kerja

1.    Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2.    Identifikasi arus pada masing–masing sirkuit sistem

3.    Periksa masing–masing sistem pada sirkuit kelistrikan

4.    Periksa secara visual kondisi komponen sistem pengaman kelistrikan, bila diperlukan lakukan pemeriksaan ulang dengan multitester

Tugas

1.    Jelaskan cara menguji  pengaman sirkuit sistem kelistrikan

2.    Faktor–faktor apa yang harus perhatikan  saat  melakukan pengujian sistem pengaman sirkuit sistem kelistrikan

3.    Buat laporan praktek memasang pengaman sirkuit sistem kelistrikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan Belajar 3. Memperbaiki Sistem Pengaman Kelistrikan

a.  Tujuan Kegiatan Belajar

 

Setelah mempelajari modul ini siswa harus dapat:

1.    Mengidentifikasi kerusakan fungsi sistem pengaman kelistrikan

2.    Menjelaskan cara memeperbaiki sistem pengaman kelistrikan

3.    Melakukan perbaikan  sistem pengaman kelistrikan.

b.  Uraian Materi

 

Identifikasi Kerusakan Sistem  Pengaman Kelistrikan

 

Sistem kelistrikan kendaraan terdiri dari beberapa macam, sistem starter, sistem pengapian, sistem pengisian, sistem accessories dan kelistrikan bodi. Masing–masing biasanya dilengkapi dengan sistem dan jenis pengaman tersendiri sesuai dengan besaran arus yang bekerja pada sistem. Hal ini yang memungkinkan perbedaan jenis dan kapasitas pengaman yang digunakan pada masing–masing sistem kelistrikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 13.  Contoh          Sistem Pengisian Dan Jenis Pengaman Yang Dipakai, Perhatikan Posisi Pengaman Yang Digunakan

(sumber: New Step, training manual Toyota Astra Motor)

 

Untuk mengidentifikasi kerusakan sistem pengaman kelistrikan diperlukan pengetahuan tentang prinsip, cara kerja sistem kelistrikan dan diagnosa kerusakan sistem kelistrikan. Selanjutnya kerusakan dapat diidentifikasi dengan memeriksa komponen sistem pengaman pada junction block dengan visual maupun dengan alat ukur pada sistem kelistrikan yang tidak bekerja.  Pada jenis sekring dan fusible link kerusakan dapat diperiksa secara visual dengan melihat kondisi konduktor, tetapi untuk jenis circuit breaker  dapat diperiksa dengan menggunakan alat ukur.

Simbol, Wiring Diagram dan Perbaikan Pengaman Kelistrikan

Apabila rangkaian kelistrikan digambarkan dengan gambar benda aslinya, maka ilustrasinya akan menjadi sulit dan rumit untuk dimengerti oleh karena itu maka diagram sirkuit digambarkan dengan simbol yang menunjukkan komponen kelistrikan dan kabel-kabel.

Gambar 14.  Simbol–Simbol Kelistrikan
(sumber: New Step, training manual Toyota Astra Motor)

Sebagai contoh, diagram rangkaian yang termasuk baterai, sekring dan klakson (horn) adalah seperti yang ditunjukkan di bawah ini:

Gambar 15.  Rangkaian Klakson

Apabila melakukan pemeriksaan sistem kelistrikan adalah mudah untuk menemukan baterai, macam-macam komponen lampu, klakson dan lainnya, tetapi sulit untuk mengidentifikasi sekring, junction block (J/B), relay block (R/B), konektor dan kabel-kabel demikian juga untuk menemukan lokasinya dikendaraan.

Oleh karena itu maka dilengkapilah dengan Electrical Wiring Diagram (EWDs) yang menunjukkan tidak hanya komponen utama tetapi juga junction block, connector, kabel-kabel semua wiring diagram.

\\\\\\\\\kelistrikan untuk model kendaraan tertentu disatukan dalam satu buku khusus yang disebut Electrical Wiring Diagram Manual.

  Gambar 16.  Wiring Diagram Kelistrikan Kendaraan
(sumber: New Step, training manual Toyota Astra Motor)

Berdasarkan analisa wiring diagram ini pemasangan, pengujian dan perbaikan sistem pengaman lebih mudah untuk lakukan, karena letak dan posisi komponen pengaman telah diketahui.

Lokasi penempatan sistem pengaman untuk masing–masing kendaraan tidak sama antara satu merek kendaraan dengan merek lainnya, untuk itu pemahaman wiring diagram sangat diperlukan.

Dibawah ini gambar contoh peletakan sistem pengaman pada kendaraan.

 

 

 

 

Gambar 17.  Posisi Komponen Sistem Pengaman


 

Untuk pemasangan dan perbaikan jenis dan kapasitas sistem pengaman pada masing–masing sirkuit kelistrikan dapat dilihat skema sistem pengaman pada tutup kotak pengaman kelistrikan.

 

 

 

 

 

 

Gambar 18.  Skema Sistem Pengaman

(sumber: Circuit Protection , Kevin@autoshop101.com)

 

d.  Tugas

 

            Lakukan survey pada bengkel yang relevan, amati bagaimana cara penempatan junction block pada merk dan tipe kendaraan tertentu.

e.   Tes Formatif

1.  Jelaskan cara mengidentifikasi kerusakan sistem pengaman kelistrikan!

2.  Jelaskan manfaat symbol kelistrikan pada wiring diagram!

3.  Jelaskan guna wiring diagram pada perbaikan sistem pengaman kelistrikan!

f.   Kunci Jawaban Tes Formatif

 

1.    Untuk mengidentifikasi kerusakan sistem pengaman kelistrikan diperlukan pengetahuan tentang prinsip, cara kerja sistem kelistrikan dan diagnosa kerusakan sistem kelistrikan. Selanjutnya kerusakan dapat diidentifikasi dengan memeriksa komponen sistem pengaman pada junction block dengan visual maupun dengan alat ukur pada sistem kelistrikan yang tidak bekerja.  Pada jenis sekring dan fusible link kerusakan dapat diperiksa secara visual dengan melihat kondisi konduktor, tetapi untuk jenis circuit breaker  dapat diperiksa dengan menggunakan alat ukur.

2.    Apabila rangkaian kelistrikan digambarkan dengan gambar benda aslinya, maka ilustrasinya akan menjadi sulit dan rumit untuk dimengerti oleh karena itu maka diagram sirkuit digambarkan dengan simbol yang menunjukkan komponen kelistrikan dan kabel-kabel.

3.    Apabila melakukan pemeriksaan sistem kelistrikan adalah mudah untuk menemukan baterai, macam-macam komponen lampu,klakson dan lainnya, tetapi sulit untuk mengidentifikasi sekring, junction block (J/B),relay block (R/B), konektor dan kabel-kabel demikian juga untuk menemukan lokasinya dikendaraan. Oleh karena itu maka dilengkapilah dengan Electrical Wiring Diagram (EWDs) yang menunjukkan tidak hanya komponen utama tetapi juga junction block , connector, kabel-kabel semua wiring diagram kelistrikan untuk model kendaraan tertentu disatukan dalam satu buku khusus yang disebut Electrical Wiring Diagram Manual.

g.  Lembar Kerja

 

Lembar Kerja 3. Memperbaiki Pengaman Kelistrikan

 

Tujuan: Siswa dapat mengidentifikasi kerusakan dan memperbaiki sistem pengaman kelistrikan jenis sekring, fusible link dan circuit breaker.

Alat dan Bahan

1.    Panel sirkuit kelistrikan (simulator)

2.    Perlengkapan solder

3.    Berbagai jenis dan tipe komponen pengaman

4.    Lembar kerja

5.    Wiring diagram kelistrikan

6.    Kelengkapan keselamatan kerja.

Keselamatan Kerja

1.    Perhatikan posisi badan ketika melakukan pekerjaan perbaikan dan penyolderan

2.    Hindari menghisap asap timah solder

3.    Perhatikan dengan seksama ketika menggunakan alat ukur multitester

4.    Gunakan alat keselamatan kerja seperti sarung tangan.

Langkah Kerja

1.    Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2.     Identifikasi arus dan kerusakan  pada masing–masing sirkuit sistem kelistrikan

3.    Klasifikasikan kondisi komponen sistem pengaman sesuai dengan tipe, jenis dan kapasitasnya

4.    Gunakan dan pasang  jenis pengaman yang sesuai dengan kapasitas arus sirkuit.

5.    Lakukan perbaikan dan penggantian komponen pengaman sistem kelistrikan.

Tugas

1.    Jelaskan cara memperbaiki pengaman sirkuit sistem kelistrikan

2.    Faktor–faktor apa yang harus perhatikan  saat  memperbaiki dan mengganti komponen pengaman sirkuit sistem kelistrikan

3.    Buat laporan praktek memasang pengaman sirkuit sistem kelistrikan

BAB. III

EVALUASI

 

A. PERTANYAAN

 

1. Uji Kompetensi Pengetahuan

 

Jawablah pertanyaan dibawah ini dalam waktu 90 menit

 

1)     Jelaskan fungsi pengaman sirkuit pada kendaraan!

2)     Jelaskan jenis-jenis pengaman sirkuit dan perbedaan konstruksi dari masing–masing jenis pengaman!

3)     Jelaskan cara kerja pengaman jenis circuit breaker!

4)     Bagaimana cara kerja komponen pengaman jenis sekring dan fusible link?

5)     Jelaskan cara melakukan pengujian komponen sistem pengaman secara visual!

6)     Jelaskan apa yang yang harus dilakukan sebelum menggunakan multitester untuk pemeriksaan komponen sistem pengaman!

7)     Jelaskan cara melakukan pengujian sistem pengaman dengan menggunakan multitester!

8)     Jelaskan cara mengidentifikasi kerusakan sistem pengaman kelistrikan!

9)     Jelaskan manfaat simbol kelistrikan pada wiring diagram!

10)      Jelaskan guna wiring diagram pada perbaikan sistem pengaman kelistrikan!

 

 

 

 

 

 

2.  Uji Kompetensi Keterampilan

Demonstrasikan dihadapan guru/ instruktur kompetensi saudara dalam waktu yang telah ditentukan

No.

Kompetensi

Waktu

1.

Mengidentifikasi tipe, jenis dan kapasitas komponen pengaman sistem kelistrikan

10 menit

2.

Memasang komponen pengaman sistem kelistrikan

20 menit

3.

Melakukan pengujian pengaman sistem kelistrikan

10 menit

4.

Melakukan perbaikan dan penggantian komponen pengaman sistem kelistrikan

20 menit

Total

60 menit

 

Kisi-Kisi Penilaian Keterampilan

 

Komponen yang dinilai

Skor (0-10)

Bobot

Nilai

Ketepatan Alat

0,1

Ketepatan Prosedur Kerja

0,3

Ketepatan Hasil Kerja

0,4

Ketepatan waktu

0,2

Nilai Akhir

 

3.  Uji Kompetensi Sikap

Penilaian sikap diperoleh dari pengamatan selama ujian kompetensi keterampilan dan aktivitas yang lain.

Kisi-Kisi Penilaian Sikap

 

Komponen yang dinilai

Skor (0-10)

Bobot

Nilai

Kelengkapan pakaian kerja

0,1

Penataan alat dan kelengkapan yang memperhatikan pekerja dan alat

0,2

Penggunaan timah dan cairan solder yang efisien ketika melakukan penyolderan

0,2

Prosedur  penggunaan alat ukur yang tepat ketika melakukan pemeriksaan dengan alat

0,1

Tidak terjadi kesalahan dalam pemilihan jenis, tipe dan kapasitas komponen pengaman

0,2

Tidak terjadi kesalahan dalam melakukan penyambungan kabel sistem kelistrikan

0,2

Nilai akhir

B. KUNCI JAWABAN

 

a.    Fungsi pengaman sirkuit adalah melindungi komponen kelistrikan, kabel-kabel dan konektor yang digunakan dalam sirkuit untuk mencegah timbulnya kebakaran oleh arus yang berlebihan atau hubungan singkat.

b.    Jenis-jenis pengaman meliputi: sekring, fusible link dan circuit breaker. Pada dasarnya ketiga jenis ini mempunyai fungsi yang sama sebagai pelindung bagi sirkuit kelistrikan. Sekring dan fusible link mempunyai persamaan fungsi dan konstruksi tetapi fusible link dapat digunakan untuk arus yang lebih besar karena ukurannya lebih besar dan mempunyai elemen yang lebih tebal, sedang pengaman  jenis circuit breaker konstruksinya terdiri atas lempengan bimetal yang akan membengkok jika arus yang mengalir berlebihan. Dengan demikian bimetal membuka hubungan dan memutuskan aliran arus.

c.    Cara kerja circuit breaker: Bila sejumlah arus yang berlebihan mengalir melalui circuit breaker, maka bimetal menjadi panas. Dan ini menyebabkan lempengan membengkok, circuit breaker hubungannya terbuka dan memutuskan aliran arus.

d.    Komponen pengaman secara umum akan memutuskan sirkuit  apabila arus yang mengalir melebihi kapasitas komponen tersebut Untuk jenis sekering dan fusible link pemutusan sirkuit akan terjadi karena kawat konduktor pada sekring dan fusible link akan meleleh atau terbakar sehingga sirkuit menjadi terbuka.

e.    Karena fungsi pengaman untuk melindungi sirkuit kelistrikan dan  memutuskan arus listrik yang melebihi kapasitas dengan melelehkan kawat konduktor untuk jenis sekring dan fusible link, maka secara visual hal ini akan terlihat secara jelas Karena biasanya housing sekring dan fusible link terbuat dari bahan yang transparan, sedangkan untuk jenis circuit breaker dengan melihat kondisi bimetalnya.

f.     Sebelum menggunakan multitester harus dipastikan bahwa jarum penunjuk ada dibagian garis ujung sebelah kiri pada skala. Apabila tidak, putar sekrup penyetel jarum penunjuk dengan sebuah obeng sampai  jarum  penunjuk tersebut berada tepat pada garis ujung sebelah kiri. Penyetelan dan pengecekan skala  nol  ini cukup dilakukan sekali dan tidak memerlukan pengecekan yang terlalu sering.

g.    Cara  melakukan pengujian sistem pengaman menggunakan multitester adalah dengan memeriksa hubungan komponen pengaman kelistrikan dan memeriksa terminal pada masing–masing jenis komponen sistem pengaman. Hubungan normal bila jarum menunjuk selalu kekiri yang berarti menunjukan komponen sistem pengaman dalam kondisi baik, begitu juga sebaliknya jika jarum tidak bergerak berarti komponen sistem pengaman dalam kondisi tidak berfungsi.

h.   Untuk mengidentifikasi kerusakan sistem pengaman kelistrikan diperlukan pengetahuan tentang prinsip, cara kerja sistem kelistrikan dan diagnosa kerusakan sistem kelistrikan. Selanjutnya kerusakan dapat diidentifikasi dengan memeriksa komponen sistem pengaman pada junction block dengan visual maupun dengan alat ukur pada sistem kelistrikan yang tidak bekerja.  Pada jenis sekring dan fusible link kerusakan dapat diperiksa secara visual dengan melihat kondisi konduktor, tetapi untuk jenis circuit breaker  dapat diperiksa dengan menggunakan alat ukur.

i.     Apabila rangkaian kelistrikan digambarkan dengan gambar benda aslinya, maka ilustrasinya akan menjadi sulit dan rumit untuk dimengerti oleh karena itu maka diagram sirkuit digambarkan dengan simbol yang menunjukkan komponen kelistrikan dan kabel-kabel.

j.     Apabila melakukan pemeriksaan sistem kelistrikan adalah mudah untuk menemukan baterai, macam-macam komponen lampu, klakson dan lainnya, tetapi sulit untuk mengidentifikasi sekring, junction block (J/B), relay block (R/B), konektor dan kabel-kabel demikian juga untuk menemukan lokasinya dikendaraan. Oleh karena itu maka dilengkapilah dengan Electrical Wiring Diagram (EWDs) yang menunjukkan tidak hanya komponen utama tetapi juga junction block, connector, kabel-kabel semua wiring diagram kelistrikan untuk model kendaraan tertentu disatukan dalam satu buku khusus yang disebut Electrical Wiring Diagram Manual.

C. KRITERIA KELULUSAN

Aspek

Skor (0-10)

Bobot

Nilai

Keterangan

Sikap

2

Syarat kelulusan, nilai minimal 70 dengan nilai setiap aspek, minimal 7

Pengetahuan

3

Keterampilan/praktik

5

Nilai Akhir

BAB. IV

PENUTUP

 

Kompetensi Pemasangan, Pengujian, dan Perbaikan Sistem Pengaman Kelistrikan dan Komponennya merupakan kompetensi yang harus dikuasai dengan baik sebelum mempelajari sistem kelistrikan kendaraan yang lainnya.  Setelah peserta diklat merasa menguasai sub kompetensi yang ada, peserta diklat dapat memohon uji kompetensi, uji kompetensi dilakukan secara teroritis dan praktik.  Uji teoritis dengan cara menjawab pertanyaan pada soal evaluasi, sedangkan uji praktik dengan mendemontrasikan kompetensi yang dimiliki pada guru/instruktur. Guru/instruktur akan menilai berdasarkan lembar observasi yang ada, dari sini kompetensi peserta diklat dapat diketahui.

Bagi peserta diklat yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke modul berikutnya, namun bila syarat minimal kelulusan belum tercapai maka harus mengulang modul ini, atau bagian yang tidak lulus dan karena tidak diperkenankan mengambil modul berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim (2003), Bahan Pelatihan Nasional Otomotif, Perbaikan Kendaraan Ringan, Electrical, Pengaman sirkuit kelistrikan, Jakarta.

Brady, Robert N. (1983), Electrik and Electronic System for Automobiles and Truck,  Virginia, Reston Publishig Company, Inc.

Bosch (1995), Automotive Electric/Electronic System, Germany, Robert Bosch GmBh.

Sullivan Kevin R,.(2005), Circuit Protection , Kevin@autoshop101.com

Toyota Astra Motor (t.th). Materi engine group step 2, Jakarta, Toyota Astra Motor.

TEAM (1995), New Step 1 Training Manual, Jakarta, Toyota Astra Motor.

TEAM (1996), Electrical Group Step 2, Jakarta, Toyota

Balans Roda_Ban

BAB I

PENDAHULUAN

A.  DESKRIPSI

 

Modul Balans roda / ban ini membahas tentang beberapa hal penting yang perlu diketahui agar dapat mengatasi gangguan ban akibat roda yang tidak balans. Cakupan materi yang akan dipelajari dalam modul ini meliput:          (a) mengidentifikasi gangguan pada roda/ ban, (b) memahami pengertian balans static dan balans dinamik, dan (c) membalans roda pada mesin balans.

Modul ini terdiri atas tiga kegiatan belajar. Kegiatan belajar 1 membahas tentang identifikasi gangguan pada roda. Kegiatan belajar 2 membahas tentang pengertian balans static dan balans dinamik, dan kegiatan belajar 3 membahas tentang membalans roda pada mesin balans. Setelah mempelajari modul ini peserta diklat diharapkan dapat memahami cara membalans roda / ban.

 

B.  PRASYARAT

Sebelum memulai modul ini, peserta diklat pada Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif harus sudah menyelesaikan modul-modul prasyarat seperti terlihat dalam diagram pencapaian kompetensi maupun peta kedudukan modul. Prasyarat mempelajari modul OPKR-40-016B antara lain adalah OPKR-10-017B dan OPKR-10-019B.

C.  PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

 

1.    Petunjuk Bagi Peserta diklat

Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal, dalam menggunakan modul ini maka langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain :

a.    Bacalah dan pahami dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada masing-masing kegiatan belajar. Bila ada materi yang kurang jelas, peserta diklat dapat bertanya pada guru atau instruktur yang mengampu kegiatan belajar.

b.    Kerjakan setiap tugas formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.

c.     Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikanlah hal-hal berikut ini :

1).  Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang berlaku.

2).  Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik.

3).  Sebelum melaksanakan praktikum, identifikasi (tentukan) peralatan dan bahan yang diperlukan dengan cermat.

4).  Gunakan alat sesuai prosedur pemakaian yang benar.

5).  Untuk melakukan kegiatan praktikum yang belum jelas, harus meminta ijin guru atau instruktur terlebih dahulu.

6).  Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

d.    Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada guru atau instruktur yang mengampu kegiatan pembelajaran yang bersangkutan.

2.    Petunjuk Bagi Guru

Dalam setiap kegiatan belajar guru atau instruktur berperan untuk :

a.    Membantu peserta diklat dalam merencanakan proses belajar

b.    Membimbing peserta diklat melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar

c.     Membantu peserta diklat dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan peserta diklat mengenai proses belajar peserta diklat

d.    Membantu peserta diklat untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.

e.    Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan

f.     Merencanakan seorang ahli / pendamping guru dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan

D.  TUJUAN AKHIR

Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini peserta diklat diharapkan :

1.    Mampu mengidentifikasi gangguan roda dengan baik.

2.    Memahami pengertian balans static dan balans dinamik dengan baik.

3.    Mampu membalans roda pada mesin balans dengan baik.

E.   KOMPETENSI

Uraian subkompetensi ini dijabarkan seperti di bawah ini.

KOMPETENSI                        : Balans roda / ban

KODE                                   : OPKR-40-016B

DURASI PEMELAJARAN                   : 20 Jam @ 45 menit

LEVEL KOMPETENSI KUNCI

A

B

C

D

E

F

G

1

1

-

1

-

1

1

KONDISI KERJA 1.    Batasan konteks

Standar kompetensi ini digunakan untuk jasa pelayanan pemeliharaan/servis dan perbaikan di bidang perbengkelan

2.    Sumber informasi/dokumen dapat termasuk :

  • Spesialisasi pabrik kendaraan
  • SOP (Standard Operation Procedures) perusahaan
  • Kebutuhan pelanggan
  • Kode area tempat kerja
  • Spesifikasi produk/komponen pabrik

3.    Pelaksanan K3 harus memenuhi :

  • Undang-undang tentang K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
  • Penghargaan di bidang industri

4.    Sumber-sumber dapat termasuk :

  • Peralatan tangan/hand tools, balans roda/ban

5.    Kegiatan

Kegiatan harus dilaksanakan di bawah kondisi kerja normal dan harus termasuk:

  • Penilaian, visual, balans statik, dinamik dan kombinasi
Sub Kompetensi Kriteria Unjuk Kerja Lingkup Belajar Materi Pokok Pembelajaran
Sikap Pengetahuan Ketrampilan
1.  Membalans   roda/ban.

1. Roda dibalans tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya

2. Informasi yang benar diakses dari spesifikasi pabrik dan dipahami

3. Balans dilaksanakan sesuai panduan industri yang telah ditetapkan.

4. Seluruh kegiatan membalans roda/ban dilakukan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedure), Undang-undang K 3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), peraturan perundangan dan prosedur/kebijakan perusahaan.

5. Identifikasi balans statis dan dinamis

1. Prosedur pengoperasian pembalans roda.

2. Spesifikasi roda

1. Menerapkan prosedur kerja sesuai dengan SOP.

2. Menerapkan keselamatan kerja.

1. Informasi teknik yang sesuai

2. Persyaratan keamanan perlengkapan.

3. Persyaratan keamanan kendaraan.

4. Kebijakan perusahaan/pabrik yang sesuai.

5. Prinsip balans secara dinamik

6. Prosedur balans secara statik.

7. Prosedur kombinasi balans secara statik dan dinamik.

1. Mengidentifikasi gangguan pada roda

2. Membalans roda pada mesin balans.

3. Penggunaan perlengkapan balans.

F.  CEK KEMAMPUAN

 

Sebelum mempelajari modul OPKR-40-016B, isilah dengan cek list (Ö) kemampuan yang telah dimiliki peserta diklat dengan sikap jujur dan dapat dipertanggung jawabkan :

Sub Kompetensi

Pernyataan

Jawaban

Bila jawaban ‘Ya’, kerjakan

Ya Tidak
1. Membalans     roda / ban. 1.     Saya mampu mengidentifikasi gangguan roda/ ban    dengan baik. Soal Tes Formatif 1
2.     Saya dapat memahami pengertian balans static dan balans dinamik dengan baik. Soal Tes Formatif 2
3.     Saya mampu membalans roda pada mesin pembalans  dengan baik. Soal Tes Formatif 3

Apabila peserta diklat menjawab Tidak,  pelajari modul ini.

BAB II

PEMBELAJARAN

A.  RENCANA BELAJAR PESERTA DIKLAT

 

Rencanakan setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan Tanggal Waktu Tempat Belajar Alasan Perubahan Paraf Guru
1.     Mengidentifikasi ganguan ban/ roda.
2.     Memahami balans static dan balans dinamik
3.     Membalans ban/ roda.

 

 

B. KEGIATAN BELAJAR

 

KEGIATAN BELAJAR  1 : Mengidentifikasi gangguan pada roda / ban yang diakbatkan oleh roda / ban tidak balans

 

a.    Tujuan Kegiatan Belajar 

 

Pada akhir kegiatan belajar, Peserta diklat memiliki kemampuan :

1.    Menjelaskan tentang penyebab terjadinya ganguan pada roda / ban

2.    Menjelaskan jenis keausan ban yang tidak wajar

3.    Menjelaskan terjadinya getaran pada ban / roda.

4.    Menjelaskan analisa gangguan dan cara mengatasinya


 

b.    Uraian Materi

 

1. GANGGUAN PADA RODA / BAN

Mesin rnemutarkan axle shaft atau drive shaft, dan selanjutnya memutar ban. Hal ini rnenunjukkan bahwa ban adalah bagian dari pemindah tenaga. Ban juga mengubah arah gerak kendaraan mengikuti putaran roda kemudi, dari sini dikatakan juga bahwa ban merupakan bagian dari system kemudi. Ditambah lagi karena ban juga menopang berat kendaraan dan meredam getaran dari jalan, ban juga merupakan bagian dari system suspensi. Oleh karena itu, pada saat melakukan troubleshooting pada masalah ban, ketiga system tersebut yaitu ban dan peiek, kemudi, dan suspensi harus juga diperhatikan. Sama pentingnya, kesalahan perawatan ban juga akan menyebabkan gangguan pada ban dan system lainnya yang terkait. Oleh karena itu, langkah pertama pada troubleshooting ban adalah memeriksa apakah ban dipakai dan dirawat dengan baik. Apabila ban/ roda tidak balans, maka akan terjadi keolengan atau getaran pada kendaraan. Getaran yang dipindahkan ke badan mobil, dalam kecepatan tertentu, akan dapat merusak komponen-komponen kendaraan, antara lain : pegas rusak/patah, peredam getaran rusak, bantalan-bantalan roda rusak, kerusakan  pada ball joint, dan kerusakan pada lengan-lengan kemudi.  Jadi ban/ roda yang balans dapat : menjamin keselamatan di jalan, menambah rasa aman berkendaraan dan menambah umur kendaraan.

2.   KEAUSAN YANG TIDAK WAJAR

KEAUSAN SPOT [SPOT WEAR (CUPPING)]

Gambar 1  Keausan Spot

Keausan spot membentuk lekukan seperti mangkok pada beberapa bagian tread roda dan terjadi jika kendaraan berjalan pada kecepatan tinggi. Keausan semacam ini terjadi karena tread roda mengalami slip pada interval yang teratur, seperti diterangkan di bawah. Kalau bearing roda, ball joint, tie rod end, dan lain-lain mengalami keausan yang berlebihan, atau kalau spindle bengkok, ban akan bergoyang pada titik tertentu di saat berputar dengan

kecepatan tinggi, sehingga mengakibatkan gesekan yang kuat dan menyebabkan terjadinya keausan spot. Teromol rem yang telah berubah bentuk atau aus tidak merata menyebabkan terjadinya pengereman pada interval yang teratur, dan ini mengakibatkan terjadinya keausan spot dengan ukuran yang cukup besar melingkar pada ban.

 

Adapun analisa gangguan keausan spot dan cara mengatasinya dapa dilihat pada flow chart di bawah ini,

Periksa bantalan roda

Ganti atau setel

Aus atau longgar

                   baik

Periksa ball joint & tie rod end

Ganti

Aus

                   baik

Perbaiki atau ganti

Periksa rem

menyeret

 

                   baik

Setel kelurusan roda

Periksa wheel alignment

                                                tidak tepat

 

                                     

                   baik                      

Ganti

Periksa spindle

                                                bengkok

 

                  

                   baik                      

Lakukan balans static dan dinamik

Periksa balans roda

                                               

                                                tidak tepat

 

                  

                   baik                      

Periksa run-out roda

Perbaiki / ganti pelek dan / atau ban

 

                                                berlebihan

 

 

 

3. GETARAN

Masalah getaran ban dibagi dalam : Body shake, steering flutter, dan steering shimmy.

a). BODY SHAKE (Body Bergoncang)

 

Gambar 2 Body bergoncang

Yang dimaksud dengan goncangan disini adalah getaran vertikal atau lateral yang terjadi pada body kendaraan dan roda kemudi, bersama-sama dengan getaran tempat duduk. Penyebab utama goncangan adalah roda yang tidak balans, run-out yang berlebihan, dan rigiditas ban yang tidak seragam. Jika masalah tersebut diperbaiki, maka goncangan biasanya akan hilang.

Goncangan biasanya tidak dapat dirasakan pada kecepatan di bawah 80 km/jam. Di atas kecepatan ini, goncangan akan semakin terasa, tetapi kemudian menurun pada kecepatan tertentu. Jika goncangan terjadi pada kecepatan 40-60 km/jam, penyebabnya biasanya run-out roda yang berlebihan atau ban yang kurang seragam. Goncangan pada kecepatan rendah biasanya tidak banyak disebabkan oleh roda yang tidak balans.

 

 

b). STEERING SHIMMY  DAN FLUTTER

Shimmy adalah getaran roda kemudi pada arah memutar. Penyebab utama shimmy adalah roda yang tidak balance, run-out yang berlebihan dan/ atau rigiditas ban yang tidak seragam. Bila masalah ini diperbaiki maka shimmy akan hilang. Kemungkinan penyebab lainnya adalah steering linkage rusak, keausan suspensi yang berlebihan dan kesalahan wheel alignment.

Shimmy dibagi menjadi dua tipe yaitu : getaran yang terjadi pada kecepatan yang relatif rendah (20-60 km/jam) dan getaran (yang disebut “flutter“) yang terjadi pada kecepatan tertentu di alas 80 km/jam.

Gambar 3. Steering shimmy

Untuk menganalisa gangguan getaran ban diatas dapat dilihat pada flow chart dibawah ini;

ganti

Periksa keausan ban

Tidak rata

     baik

Periksa tekanan ban

Setel tekanan angin ban

Terlalu tinggi atau terlalu rendah

      baik

Periksa steering linkage

Perbaiki atau ganti

Aus atau bergerak berlebihan/bergesekan

baik

Periksa ball joint & bantalan roda

ganti

aus

     baik

Periksa peredam kejut

ganti

rusak

     baik

Periksa hub-to-wheel centering

Centerkan kembali

off center berlebihan

Periksa run-out ban

baik

   baik         run-out berlebihan

Periksa run-out pelek

                             run-out berlebihan

Ganti hub

run-out berlebihan

perbaiki

Periksa balance off-the car

Tidak balans

perbaiki

Periksa balance on-the-car

Tidak balas

Adapun rincian langkah analisa trouble-shooting dapat diuraikan sebagai berikut :

1) Bicarakan gejalanya

Sebelum mengatasi segala bentuk getaran, dianjurkan agar membicarakan dahulu sifat ganggungan dengan pengemudi kendaraan. Tentukan pada tingkat kecepatan berapa getaran terjadi dan dapatkan akibat dari gangguan tersebut, apakah terjadi pada roda kemudi, apakah tempat duduk bergoncang, apakah kaca spion bergetar, atau apakah masih terjadi meskipun mobil sudah diperbaiki dan roda sudah dibalans ?

2) Lakukan test jalan untuk diagnosa.

Lakukan test jalan untuk memastikan keluhan customer kalau memungkinkan. Jalur yang dipakai test jalan harus mempunyai permukaan yang baik dimana kecepatan tertentu dapat dipertahankan. Jalankan kendaraan beberapa kilometer untuk memanaskan ban hingga tercapai temperatur kerja dan menghilangkan “standing flats“, dan kemudian catat gejala yang disampaikan oleh pengemudi (misalnya kecepatan kritis, jenis getaran, dan lain-lain). Pada saat getaran maksimum terjadi, biarkan kendaraan pada kecepatan ini untuk melihat apakah getarannya tetap. Kalau getarannya tidak nyata pada saat meluncur dengan kecepatan kritis, kemungkinan penyebabnya adalah getaran mesin. Bila getarannya berlangsung pada saat kendaraan sedang meluncur, kemudian jalankan dijalan yang halus pada kecepatan kritis sambil memegang roda kemudi dengan ringan dan arahkan ke kiri-kanan. Kalau tidak ada getaran yang terasa pada steering wheel, tetapi terasa pada body. Lantai atau tempat duduk, maka penyebabnya mungkin ban belakang atau pemindah tenaga.

3) Memeriksa Hub-to-wheel centering

Thickness gauge

0,1 mm

1).   Periksa hub-to-wheel centering clearance. Periksalah clearance disepanjang keliling hub. Nilainya tidak boleh melebihi batas maksimum. Nilai maksimium : 0,1 mm (0,04 in).

 

 

 

Gambar 4. Memeriksa clearance hub

4) Perbaiki hub-to-wheel centering clearance

a). Rubahlah posisi peiek pada hub dan pasang kan kembali pada posisi yang   lerkecil perbedaan sekelilingnya.

b). Kalau tidak ada penurunan terhadap perbedaan sekeliling walaupun posisi pemasangannya telah dirubah, periksa hub run-out, dan pastikan apakah peiek baik atau tidak.

c). Periksa Run-out ban

d). Periksa Run-out pelek

e). Periksa Run-out hub

Nilai batas :

Radial run-out   0,05 mm (0,002 in) atau kurang

Lateral run-out 0,05 mm (0,002 in) atau kurang

Gambar 5. Mengukur run-out  hub

f). Perbaiki Run-out  ban

g). Periksa balance off-the-car

1). Cobalah untuk melakukan penyetelan static balance dan dynamic balance ke 0 gram.

2). Gunakan balancing weight yang sesuai dengan pelek, dan tempelkan dengan kuat agar tidak jatuh pada saat berjalan.

h). Perbaiki kembali Run-out Ban

1)  Periksa run-out  ban

▪ Pasangkan ban pada mobil sesuai dengan tanda pemasangannya

▪ Ukur radial run-out ban dengan menggunakan dial gauge

2) Perbaiki run-out ban

▪ Pasangkan mur hub untuk sementara (kencangkan dengan tangan) dan tempatkan bagian yang mempunyai radial run-out lebih besar di bagian bawah.

▪ Turunkan kendaraan sampai ban sedikit menyentuh tanah, dan kencangkan kembali mur hub secara merata dengan menggunakan kunci mur hub. (Lakukan penyetelan yang teliti pada hub dan wheel centering clearance).

▪  Ukur vertical run-out pada ban sekali lagi, dan cocokan hasilnya.

Largest run-out

i).  Periksa balance on-the-car

1)  Lakukan pemeriksaan sesuai dengan petunjuk untuk balancer.

2)  Pemeriksaan balance off-the-car dan perbaikannya harus sudah dilakukan sebelum pemeriksaan balance on-the-car.

3)  Pemeriksaan dilakukan dengan wheel cap, valve cap, center ornament dan magnet lock-nut terpasang.

Gambar 6 Memeriksa run-out ban

4) Untuk kendaraan dengan full-time four-wheel drive, ikuti repair manual yang sesuai.

5) Pada saat memeriksa balance pada drive wheel, putarkan roda dengan tenaga mesin, tambah kecepatan secara bertahap.

Gambar 7. Mengukur balance on-the-car

j) Periksa wheel alignment

 

c.  Rangkuman:

GANGGUAN PADA RODA / BAN

 

1. KEAUSAN YANG TIDAK WAJAR : KEAUSAN SPOT [SPOT WEAR  (CUPPING)]

Gambar 8. Keausan spot

Keausan spot membentuk lekukan seperti mangkok pada beberapa bagian tread roda dan terjadi jika kendaraan berjalan pada kecepatan tinggi. Keausan semacam ini terjadi karena tread roda mengalami slip pada interval yang teratur, seperti diterangkan di bawah. Kalau bearing roda, ball joint, tie rod end, dan lain-lain mengalami keausan yang berlebihan, atau kalau spindle bengkok, ban akan bergoyang pada titik tertentu di saat berputar dengan

kecepatan tinggi, sehingga mengakibatkan gesekan yang kuat dan menyebabkan terjadinya keausan spot. Teromol rem yang telah berubah bentuk atau aus tidak merata menyebabkan terjadinya pengereman pada interval yang teratur, dan ini mengakibatkan terjadinya keausan spot dengan ukuran yang cukup besar melingkar pada ban.

 

Adapun analisa gangguan keausan spot dan cara mengatasinya dapa dilihat pada flow chart di bawah ini,

Periksa bantalan roda

Ganti atau setel

Aus atau longgar

                   baik

Periksa ball joint & tie rod end

Ganti

Aus

baik

Periksa rem

Perbaiki atau ganti

                                                menyeret

 

 

                   baik

 

Periksa wheel alignment

                                     

Setel kelurusan roda

                                                tidak tepat

 

 

                   baik

 

Ganti

Periksa spindle

                                                bengkok

 

 

 

                   baik

Lakukan balans static dan dinamik

 

Periksa balans roda

                                                tidak tepat

 

 

 

                   baik

Perbaiki / ganti pelek dan / atau ban

Periksa run-out roda

 

                                                berlebihan

 

 

 

 

 

 

 

2. GETARAN

Masalah getaran ban dibagi dalam : Body shake, steering flutter, dan steering shimmy.

BODY SHAKE (Body Bergoncang)

 

Gambar 9. Bodi bergoncang

Yang dimaksud dengan goncangan disini adalah getaran vertikal atau lateral yang terjadi pada body kendaraan dan roda kemudi, bersama-sama dengan getaran tempat duduk. Penyebab utama goncangan adalah roda yang tidak balans, run-out yang berlebihan, dan rigiditas ban yang tidak seragam. Jika masalah tersebut diperbaiki, maka goncangan biasanya akan hilang.

Goncangan biasanya tidak dapat dirasakan pada kecepatan di bawah 80 km/jam. Di atas kecepatan ini, goncangan akan semakin terasa, tetapi kemudian menurun pada kecepatan tertentu. Jika goncangan terjadi pada kecepatan 40-60 km/jam, penyebabnya biasanya run-out roda yang berlebihan atau ban yang kurang seragam. Goncangan pada kecepatan rendah biasanya tidak banyak disebabkan oleh roda yang tidak balans.

 

STEERING SHIMMY  DAN FLUTTER

Shimmy adalah getaran roda kemudi pada arah memutar. Penyebab utama shimmy adalah roda yang tidak balance, run-out yang berlebihan dan/ atau rigiditas ban yang tidak seragam. Bila masalah ini diperbaiki maka shimmy akan hilang. Kemungkinan penyebab lainnya adalah steering linkage rusak, keausan suspensi yang berlebihan dan kesalahan wheel alignment.

Shimmy dibagi menjadi dua tipe yaitu : getaran yang terjadi pada kecepatan yang relatif rendah (20-60 km/jam) dan getaran (yang disebut “flutter“) yang terjadi pada kecepatan tertentu di atas 80 km/jam.

Gambar 10. Steering shimmy

Untuk menganalisa gangguan getaran ban diatas dapat dilihat pada flow chart dibawah ini;

ganti

Periksa keausan ban

Tidak rata

     baik

Periksa tekanan ban

Setel tekanan angin ban

Terlalu tinggi atau terlalu rendah

      baik

Periksa steering linkage

Perbaiki atau ganti

Aus atau bergerak berlebihan/bergesekan

baik

Periksa ball joint & bantalan roda

ganti

aus

     baik

Periksa peredam kejut

ganti

rusak

Centerkan kembali

baik

Periksa hub-to-wheel centering

off center berlebihan

Periksa run-out ban

baik

Periksa run-out pelek

baik         run-out berlebihan

Periksa run-out hub

run-out berlebihan

                                                run-out berlebihan

Ganti hub

perbaiki

Periksa balance off-the car

Tiak balans

perbaiki

Periksa balance on-the-car

Tidak balans

d. Tugas :

Analisalah kerusakan komponen kendaraan jika roda / ban tidak balans?

e. Tes Formatif :

1).      Jelaskan jenis-jenis kerusakan komponen kendaraan jika roda / ban tidak balans?

2).      Jelaskan keausan ban yang tidak wajar, yang diakibatkan oleh ban / roda tidak balans?

3).      Jelaskan macam-macam getaran ban yang diakibatkan oleh roda/ ban tidak balans?

f.  Kunci Jawaban Formatif :

1. Jenis-jenis kerusakan komponen kendaraan akibat ban / roda tidak balans.

a).      Pegas rusak / patah

b).      Peredam getaran rusak ( seal bocor)

c).       Bantalan roda rusak

d).      Kerusakan pada ball joint

e).      Keausan ban tidak wajar.

2. Keausan yang tidak wajar yang terjadi pada ban:

Keausan Spot/Spot Wear (Cupping). Keausan spot membentuk lekukan seperti mangkok pada beberapa bagian tread roda dan terjadi jika kendaraan berjalan pada kecepatan tinggi. Keausan semacam ini terjadi karena tread roda mengalami slip pada interval yang teratur, seperti : bearing roda, ball joint, tie rod end mengalami keausan yang berlebihan, teromol rem yang telah berubah bentuk atau aus tidak merata menyebabkan terjadinya keausan spot dengan ukuran yang cukup besar melingkar pada ban.

Gambar 11. Keausan Spot

3. Getaran pada kendaraan akibat ban/roda tidak balans :

   a). BODY SHAKE (Body Bergoncang)

Yang dimaksud dengan goncangan dteini adalah getaran ertical atau lateral yang terjadi pada body kendaraan dan roda kemudi, bersama-sama dengan getaran tempat duduk. Penyebab utama goncangan adalah roda yang tidak balance, run-out yang berlebihan, dan rigiditas ban yang tidak seragam. Jika masalah tersebut diperbaiki, maka goncangan biasanya akan hilang. Goncangan biasanya tidak dapat dirasakan pada kecepatan di bawah 80 km/jam. Di atas kecepatan ini, goncangan akan semakin terasa, tetapi kemudian menurun pada kecepatan tertentu. Jika goncangan terjadi pada kecepatan 40-60 km/jam, penyebabnya biasanya run-out roda yang berlebihan atau ban yang kurang seragam. Goncangan pada kecepatan rendah biasanya tidak banyak disebabkan oleh roda yang tidak balance).

 

 

Gambar 12. Bodi bergoncang

   b).   STEERING SHIMMY DAN FLUTTER

Shimmy adalah getaran roda kemudi pada arah memutar. Penyebab utama shimmy adalah roda yang tidak balance, run-out yang berlebihan dan/ atau rigiditas ban yang tidak seragam. Bila masalah ini diperbaiki maka shimmy akan hilang. Kemungkinan penyebab lainnya adalah steering linkage rusak, keausan suspensi yang berlebihan dan kesalahan wheel alignment.

Shimmy dibagi menjadi dua tipe yaitu : getaran yang terjadi pada kecepatan yang relatif rendah (20-60 km/jam) dan getaran (yang disebut “flutter“) yang terjadi pada kecepatan tertentu di alas 80 km/jam.

 

Gambar 13. Steering shimmy

 

g. Lembar Kerja :

 

1.    Alat dan Bahan

a).  Satu unit mobil praktek

b).  Roda dengan rim 13 “

c).   Ban yang sudah dibongkar

d).  Lap/majun

2.    Keselamatan Kerja

a).  Gunakanlah peralatan yang sesuai dengan fungsinya.

b).  Ikutilah instruksi dari instruktur ataupun prosedur kerja yang tertera pada lembar kerja.

c).   Mintalah ijin dari instruktur anda bila hendak melakukan pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja.

d).  Gunakan tekanan kompresor sesuai tekanan yang diizinkan.

3.    Langkah Kerja

a).  Persiapkan alat dan bahan praktek secara cermat, efektif dan seefisien mungkin.

b).  Perhatikan penjelasan prosedur penggunaan alat, baca lembar kerja dengan teliti.

c).   Lakukan pemeriksaan komponen yang rusak akibat ban / roda tidak balans

d).  Mintalah penjelasan pada instruktur, hal yang belum jelas.

e).  Buatlah catatan penting kegiatan praktek secara ringkas.

f).   Setelah selesai, bersihkan dan kembalikan semua peralatan dan bahan yang telah digunakan kepada petugas.

4.    Tugas

a).  Buatlah laporan kegiatan praktik saudara secara ringkas dan jelas !

b).  Buatlah rangkuman pengetahuan yang anda peroleh setelah mempelajari kegiatan belajar 1?

KEGIATAN BELAJAR  2 :

Mengidentifikasi balans statik dan balans dinamik

 

a.    Tujuan Kegiatan Belajar 

Setelah melaksanakan kegiatan belajar ini peserta diklat memiliki kemampuan:

1). Menjelaskan definisi keseragaman ban

2). Menjelaskan balans statik dan balans dinamik

3). Menjelaskan akibat yang ditimbulkan ban / roda tidak balans

b.    Uraian Materi :

 

1.  KESERAGAMAN BAN

Keseragaman ban juga berarti keseragaman berat, dimensi, maupun rigiditasnya. Akan tetapi, karena keseragaman berat biasanya disebut wheel balance, dan keseragaman dimensi disebut run-out, maka keseragaman berarti juga keseragaman rigiditas.

Keseragaman dalam distribusi beban

wheel balance

Keseragaman dimensi

                                                                                                run-out

                                             

 

                                                                                                  keseragaman

                                                                            

 

Apabila roda tidak seimbang putarannya, maka dapat menimbulkan ketidak seimbangan pada roda. Ketidak seimbangan roda yang berlebihan dapat mengakibatkan getaran yang dapat mempengaruhi kontrol terhadap kemudi kendaraan. Oleh karena itu, roda dan ban biasanya diperiksa terhadap keseimbangannya sebelum meninggalkan pabrik. Akan tetapi keseimbangan roda dapat berubah karena kerusakan atau karena keausan, terutama pada mobil berkecepatan tinggi.

Roda dan ban yang tidak seimbang disamping membuat kendaraan tidak nyaman, juga menimbulkan keausan-keausan tidak normal pada ban (flat sporwear) dan sistem suspensi. Dua efek penting dari keadaan tidak seimbang adalah “wheel tramp” (roda bergetar pada arah vertikal) dan “wheel shimmy” (getaran pada arah samping).

2.       WHEEL BALANCE

Dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mesin, handling  dan kemampuan pengereman, juga aerodinamik body, ini memungkinkan kendaraan dapat berjalan dengan kecepatan yang semakin tinggi. Pada kecepatan tinggi. wheel assembly (ban dan peiek) yang tidak balans dapat menimbulkan getaran yang diteruskan ke body melalui komponen suspensi, dan ini tidak nyaman bagi pengemudi maupun penumpang. Untuk itu, wheel balance perlu diperhatikan benar untuk mencegah timbulnya getaran seperti tersebut di atas. Pekerjaan yang berhubungan dengan ini disebut dengan wheel balancing. Wheel balancing dilakukan dengan menggunakan balancing weight  bagi keseluruhan wheel assembly, yaitu pelek dengan ban yang terpasang. Wheel balance dibagi menjadi dua : static balance (jika roda diam ditempat) dan dynamic balance (pada saat roda berputar) .

 

 

3.       STATIC BALANCE

Untuk mengetahui static balance, gambarkan sebuah roda yang setimbang berputar bebas pada porosnya. Kalau berat roda didistribusikan merata pada poros roda, titik tertentu dari roda akan dapat berhenti pada segala posisi. Dalam kondisi semacam ini roda dikatakan static balance.

Heavy spot

Berat A =  berat B

Weight heavy

                  

Gambar 14. Roda dalam keadaan balans statik

 

Spindle centerline

                                                                       

 

 

Gambar 15. Roda tidak  Balans Statik

 

 

 

Add balance weights here

 

 

Corrective weights

 

 

 

 

Gamba 16. Membalans statik

 

 

 

Radial vibration

                    

Gambar 17. Gaya sentrifugal pada roda yang tidak balans statik

Akan tetapi, kalau ban selalu berhenti dengan titik (A) berada di bawah, berarti bagian tersebut jelas-jelas lebih berat dari sisi lawannya, yaitu titik (B). Jika berat ban tidak terbagi secara merata pada poros roda, berarti roda dapat dikatakan static yang tidak balance (statically unbalanced).

Jika roda yang dalam keadaan static unbalance berputar, maka gaya centrifugal yang bekerja pada titik A akan lebih besar dari gaya pada titik-titik lainnya, sehingga A akan cenderung menarik keluar dari poros roda yang akan mengakibatkan bengkoknya poros dan getaran radial pada saat roda berputar. Pada kendaraan yang sebenarnya, getaran radial ini diubah menjadi getaran vertikal oleh suspensi, dan diteruskan melalui body ke steering wheel.

Balance weight

Balance weight

Dengan menempelkan bobot (W,) yang sama dengan bobot ekstra A (W,) pada titik B yang posisinya 1800 berhadapan dengan A dan jaraknya sama dan poros, maka getaran ini akan dapat dihilangkan karena W akan bekerja sebagai bobot lawan dari W, Gaya centrifugal yang bekerja pada titik B akan mencegah aksi pada A, sehingga getaran poros dan roda dapat dicegah pada saat roda berputar. Dengan kata lain, static balance disebut sebagai centrifugal balance pada saat roda berputar. Karena penempelan bobot pada tread  ban tidaklah memungkinkan, maka dipakai dua counter balance weight dengan ukuran yang sama pada pelek sebelah dalam dan luar dengan posisi berhadapan dengan titik A.

 

Gambar 18. Membalans gaya sentrifugal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DYNAMIC BALANCE

 

Dynamic balance balance

Static balance

Kalau static balance diartikan sebagai keseimbangan bobot dalam arah radial pada kondisi statis, dynamic balance diartikan sebagai keseimbangan bobot dalam arah aksial pada saat roda berputar. Dengan difinisi ini diterangkan bahwa dynamic unbalance tidak terlihat pada saat roda berhenti.

Gambar 19. Roda yang balans statik dan dinamik

Sebagai umpama, bobot ekstra A dan B yang sama ditempel pada roda seperti gambar di bawah. Bobot ini akan menyebabkan roda menjadi static balance.

A = B

 

 

Gambar 20 Roda dengan bobot A dan B dalam keadaan balans statik

Akan tetapi, garis yang menghubungkan pusat bobot dari gaya berat G1, dan G2, tidak berada pada sekeliling garis pusat roda. Akibatnya, pada saat roda berputar titik G1, dan G2 cenderung mendekati garis pusat roda karena momen FA dan FB yang bekerja di sekitar titik pusat gaya berat roda (Go). Momen ini terbentuk oleh gaya centrifugal (FA, dan FB;) yang bekerja pada G1, dan G2,

Gambar 21. Roda dengan bobot G1 dan G2 tidak balans dinamik

Gambar 22. Roda tidak balans dinamik menyebabkan ayunan melingkar

Setiap roda berputar 180°, seluruh momen gaya yang ditimbulkan oleh perubahan arah ini membuat getaran lateral mengikuti ayunan putaran roda. Getaran lateral ini mengakibatkan kondisi pada steering wheel yang disebut shimmy yaitu ayunan melingkar dari steering wheel.

Dynamic balance yang tidak tepat diperbaiki dengan jalan menempelkan dua buah bobot pada roda satu dengan bobot yang sama dengan A pada posisi C dan yang lain dengan bobot yang sama dengan B pada posisi D. Penempclan bobot ini akan mencegah momen di sekitar pusat GO, sehingga getaran hilang. Pada mobil yang sebenarnya, bobot balance dengan ukuran yang benar dipasang pada wheel rim, pada titik C’ dan D.’

Balance weight

Balance weight

                                        

Gambar 23. Balance weight  menjadikan balans dinamik

c.  Rangkuman :

1.  Keseragaman ban juga berarti keseragaman berat, dimensi, maupun rigiditasnya. Akan tetapi, karena keseragaman berat biasanya disebut wheel balance, dan keseragaman dimensi disebut run-out, maka keseragaman berarti juga keseragaman rigiditas.

2. Ban dan pelek yang tidak balans dapat menimbulkan getaran yang diteruskan ke body melalui komponen suspensi, dan ini tidak nyaman bagi pengemudi maupun penumpang. Untuk itu, wheel balance perlu diperhatikan benar untuk mencegah timbulnya getaran seperti tersebut di atas. Wheel balance dibagi menjadi dua : static balance (jika roda diam ditempat) dan dynamic balance (pada saat roda berputar) .

 

3. Balans statik, roda / ban dalam keadaan balans statik bila :

a)    Semua titik disekeliling lingkaran ban sama berat.

b)   Gaya sentrifugal yang terjadi disekeliling lingkaran ban sama besar.

c)    Pada kendaraan tidak terjadi getaran naik – turun.

Heavy spot

Berat A =  berat B

Weight heavy

                  

Gambar 24. Roda dalam keadaan balans statik

Jika roda yang dalam keadaan static unbalance berputar, maka gaya centrifugal yang bekerja pada titik A akan lebih besar dari gaya pada titik-titik lainnya, sehingga A akan cenderung menarik keluar dari poros roda yang akan mengakibatkan bengkoknya poros dan getaran radial pada saat roda berputar.

4. Balans dinamik  diartikan sebagai keseimbangan bobot dalam arah aksial pada saat roda berputar.

Dynamic balance balance

Static balance

Gambar 25. Roda yang balans statik dan dinamik

Dynamic balance yang tidak tepat diperbaiki dengan jalan menempelkan dua buah bobot pada roda satu dengan bobot yang sama dengan A pada posisi C dan yang lain dengan bobot yang sama dengan B pada posisi D. Penempclen bobot ini akan mencegah momen di sekitar pusat GO, sehingga getaran hilang. Pada mobil yang sebenarnya, bobot balance dengan ukuran yang benar dipasang pada wheel rim, pada titik C’ dan D.’

D’

Balance weight

Balance weight

                                        

Gambar 26. Balance weight  menjadikan balans dinamik

d.    Tugas

Amati akibat yang terjadi pada kendaraan bila roda / ban tidak balans statik   dan dinamik?

e.    Tes Formatif

  1. Jelaskan pengertian balans statik pada ban / roda?
  2. Apa yang dimaksud dengan balans dinamik dan jelaskan bagaimana caranya mengatasi roda yang tidak  balans dinamik ?

f.   Kunci Jawaban Formatif 2

1. Roda / ban dikatakan dalam keadaan balans statik bila :

a)    semua titik disekeliling lingkaran ban sama berat.

b)    Gaya sentrifugal yang terjadi disekeliling lingkaran ban sama besar.

c)    Pada kendaraan tidak terjadi getaran naik – turun.

Heavy spot

Berat A =  berat B

Weight heavy

                  

Gambar 27. Roda dalam keadaan balans statik

                

2.  Balans dinamik diartikan sebagai keseimbangan bobot dalam arah aksial pada saat roda berputar. Dengan difinisi ini diterangkan bahwa dynamic unbalance tidak terlihat pada saat roda berhenti.

Dynamic  balance

 

 

 

 

 

Static balance

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 28 . Balans statik dan dinamik pada sebuah roda

Dynamic balance yang tidak tepat diperbaiki dengan jalan menempelkan dua buah bobot pada roda satu dengan bobot yang sama dengan A pada posisi C dan yang lain dengan bobot yang sama dengan B pada posisi D. Penempclan bobot ini akan mencegah momen di sekitar pusat GO, sehingga getaran hilang. Pada mobil yang sebenarnya, bobot balance dengan ukuran yang benar dipasang pada wheel rim, pada titik C’ dan D.’

Balance weight

Balance weight

                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                       

Gambar 29. Balance weight untuk mengatasi  balans dinamik

g.   Lembar Kerja

1.   Alat dan Bahan

a).  Dongkrak

b).  Jack Stand

c).  Kunci Roda

d).  Lap / majun

e).  Alat pengukur tekanan udara ban

f).   Satu unit mobil praktek

2.   Keselamatan Kerja

a).  Gunakanlah peralatan tangan sesuai dengan fungsinya.

b).  Ikutilah instruksi dari guru atau pun prosedur kerja yang tertera pada lembar kerja.

c).   Mintalah ijin dari instruktur anda bila hendak melakukan pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja.

d).  Pastikan kendaraan dalam keadaan kuat ditahan jack stand.

3.   Langkah Kerja:

a).  Persiapkan alat dan bahan praktikum secara cermat, efektif dan seefisien mungkin.

b).  Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh guru.

c).   Lakukan pelepasan roda-roda dengan langkah yang efektif!

d).  Identifikasi roda / ban yang tidak balans statik dan dinamik

e).  Buatlah catatan-catatan penting kegiatan praktikum secara ringkas.

f).   Setelah selesai, bereskan kembali peralatan dan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula.

4.    Tugas :

a).  Buatlah laporan praktik anda secara ringkas dan jelas!

b).  Buatlah rangkuman pengetahuan yang anda peroleh setelah mempelajari kegiatan belajar 2!

KEGIATAN BELAJAR  3  :

Membalans ban/ roda dengan alat pembalans

 

a.    Tujuan Kegiatan Belajar

Peserta diklat memiliki kemampuan :

  1. Menjelaskan penggunaan peralatan pembalans roda / ban.
  2. Melaksanakan pekerjaan membalans statik roda sesuai spesifikasi.
  3. Melaksanakan pekerjaan membalans dinamik roda sesuai spesifikasi.
  4. Membalans roda secara off-the-car balancer

b.    Uraian Materi 3.

1.  Penggunaan peralatan pembalans roda / ban

Ada dua tipe wheel balancer yaitu off-the-car balancer yang dalam pengoperasiannya perlu melepaskan ban dan mobil, balancing dilakukan secara independent, dan on-the-car balancer yang dalam pengoperasiannya, balancing melibatkan semua bagian yang berputar (pelek, teromol rem dan axle hub, dan lain-lain) sementara roda masih terpasang di kendaraan.

Kedua balancer tersebut mempunyai keistimewaan sebagai berikut:

 

Item Tipe Off-the-car balance On-the-car balance
 

Ketelitian

Static balance Tinggi Tinggi
Dynamic balance Tinggi Tidak terlalu tinggi
Kemudahan

balancing

Static balance Mudah Cukup mudah
Dynamic balance Mudah Cukup sulit (beberapa balancer tidak dapat mengukur dynamic balance dengan tepat)

 

Gambar 30. Wheel balancer OFF-THE-CAR TYPE

 

 

 

 

Gambar  31. Wheel balancer ON-THE-CAR TYPE

 

Dahulu, off-the-car type balancer dan on-the-car type balancer dipakai sendiri-sendiri untuk memperbaiki balance roda. Tetapi sekarang, untuk memperbaiki getaran yang keras (goncangan body, getaran kemudi, dan lain-lain) yang terjadi pada kecepatan tinggi, yang tidak dapat diperbaiki dengan cara terdahulu ; pertama, lakukan static balance secara tersendiri dengan menggunakan off-the-car balancer, dan kemudian lakukan dynamic balance dengan ban terpasang pada kendaraan (on-the-car balancer). Pada akhirnya, ban diperiksa deviasinya dari tengah ban dan masalah lain yang mungkin muncul sebagai deviasi pada static balance, serta yang lain-lain diperbaiki dengan menggunakan on-the-car balancer.

2.  Perhatian Pada Saat Membalans  Roda

 

a.  Perhatian sebelum membalans roda

Bila membalans roda, pertama periksalah kondisi ban :

1). Periksalah kemungkinan ada potongan logam atau batu dan lain-latn yang terselip pada alur tread, dan periksalah juga kemungkinan bagian tread pecah atau rusak.

2). Periksalah kemungkinan ada lumpur atau pasir yang melekat pada bagian dalam pelek.

3). Periksalah apakah getaran ban jelas terlihat.

4). Periksalah kalau-kalau ada benda asing yang masuk di dalam ban (Dengarkan suara di dalam ban).

b.  Perhatian untuk off-the-car balancing

1). Membalans roda dilakukan setelah run-out ban diperbaiki.

2).  Membalans roda sampai diperoleh harga O g.

3). Pakailah selalu wheel balancer yang terawat dengan baik dan   mempunyai ketelitian yang tinggi. Wheel balancer yang tidak bekerja dengan baik harus diperbaiki terlebih dahulu.

c. Perhatian untuk on-the-car balancing

1). Pada saat membalans roda penggerak (drive wheel), gerakkan roda dengan tenaga mesin dan kecepatan ditambah atau dikurangi secara bertahap. Perhatikan agar kendaraan jangan sampai berjalan.

2).  Pada kendaraan dengan wheel cap, lakukan perbaikan dengan wheel cap terpasang.

3). Setelah membalans roda, buatlah tanda pemasangan pada hub dan roda sehingga pada waktu pembongkaran dan pemasangan ban dari pelek untuk selanjutnya tidak berubah posisi.

d. Membalans statik

1). Melepaskan roda dari kendaraan

2). Melepaskan seluruh masa bobot yang ada pada peiek sebelum dilakukan penyeimbangan

3).  Memperbaiki keseimbangan statis roda, yaitu dengan cara menjepitkan bobot timah pada pelek, berlawanan dengan posisi bagian yang berat.

4). Memeriksa kembali (menyeimbangkan roda) untuk memastikan hasil yang diinginkan

5). Memeriksa roda dengan keseimbangan dinamik, apabila keseimbangan statis tidak baik.

e. Membalans dinamik

1). Mengangkat mobil pada bagian yang akan dilepas rodanya

2). Menyangga dengan jack stand untuk pengaman

3). Melepas roda dari hubungan porosnya dengan membuka mur-murnya secara menyilang

4). Membersihkan kotoran atau bobot penyeimbang dari roda dengan wheel plier (penjepit khusus)

5). Memeriksa tekanan ban supaya sesuai dengan spesifikasi

6). Memeriksa keadaan pelek dan ban (bagian yang aus)

7). Mencatat ukuran ban dan ukuran pelek

8). Melepas adaptor dari poros utama dinamik  wheel balancer dengan memutarkan mur pengikat

9). Setellah jumlah pemegang universal pada adaptor sesuai dengan jumlah lubang baut dari roda (misalnya : 4,5 atau 3 lubang). Roda gigi 1 tepat pada 0, roda gigi yang lain tepat pada tanda panah (sesuai dengan jumlah lubang yang diperlukan)

10)   Menempatkan adaptor pada penyanggah roda

11) Menyetel tangkai universal dengan jalan memutarkan salah satu gigi universal sesuai dengan lubang-lubang baut roda dan roda gigi yang akan ikut berputar

12)   Memasang roda pada adaptor dilaksanakan di atas penyangga roda Catatan : Bila lubang baut pada roda mempunyai garis tengah lebih besar dari universal dapat dipergunakan selongsong yang tersedia.

13)   Mengeraskan Flens pengikat dengan menggunakan palu kayu/plastik

14)   Mengeset gram meter dalam keadaan mesin berjalan pada kedudukan “O”.

15)   Mengeset phase meter dalam keadaan berjalan pada kedudukan “0”

16)   Memasang roda yang telah terpasang pada adaptor ke sumbu utama dari mesin penyeimbang

17)   Mengeraskan mur pengikat pada sumbu utama dengan kekuatan tangan (tidak boleh dengan alat-alat lain) dengan memutar roda dengan tangan

18)   Memberi tanda pada roda dengan kapur sesuai dengan pembagian skala yang terdapat pada poros utama

19)   Mengatur rim diameter selector sesuai dengan garis tengah  ban/roda

20)   Mengatur rim width selector sesuai dengan ukuran lebar dari ban/roda

21)   Mengatur plane selector untuk menentukan pembebanan.

Catatan :     Pada angka 1 untuk penyeimbang roda bagian luar

Pada angka 2 untuk penyeimbang roda bagian dalam.

22)   Menekan tombol on alat penyeimbang setelah steker dipasangkan

23)   Membaca jumlah gram bobot penyeimbang pada gram meter

24)   Membaca tempat kedudukan penyeimbang pada phase meter

25)   Menekan tombol off alat penyeimbang dan mengerem sampai roda berhenti

26). Mencocokkan angka dari phase meter dengan angka pada sumbu utama, roda diputar dengan tangan.

(aa) Memasang bobot penyeimbang pada roda sesuai dengan berat dan tempat dari pembacaan gram meter/phase meter. Setellah adaptor dan roda dilepas dari poros utama.

(ab) Mengecek pembebanan balancing dengan menghidupkan kembali pesawat penyeimbang, sampai jarum gram meter harus berada pada daerah hijau.

Catatan : Apabila jarum gram meter tidak berada pada daerah hijau maka pengukuran harus dimulai kembali seperti semula.

(ac) Melepaskan adaptor dari poros utama pesawat penyeimbang roda

(ad)  Melepaskan roda dari adaptor dengan meletakkan di atas penyangga  roda/standart

(ae) Memasang kembali roda pada mobil

c.  Rangkuman :

 

1. Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum membalans roda/ban

Bila membalans roda, pertama periksalah kondisi ban :

a). Periksalah kemungkinan ada potongan logam atau batu dan lain-lain yang terselip pada alur tread, dan periksalah juga kemungkinan bagian tread pecah atau rusak.

b). Periksalah kemungkinan ada lumpur atau pasir yang melekat pada bagian dalam pelek.

c). Periksalah apakah getaran ban jelas terlihat.

d). Periksalah kalau-kalau ada benda asing yang masuk di dalam ban (Dengarkan suara di dalam ban).

2. Perhatian untuk off-the-car balancing

a). Membalans roda dilakukan setelah run-out ban diperbaiki.

b). Membalans roda sampai diperoleh harga O g.

c). Pakailah selalu wheel balancer yang terawat dengan baik dan mempunyai ketelitian yang tinggi. Wheel balancer yang tidak bekerja dengan baik harus diperbaiki terlebih dahulu.

3. Perhatian untuk on-the-car balancing

a) Pada saat membalans roda penggerak (drive wheel), gerakkan roda dengan tenaga mesin dan kecepatan ditambah atau dikurangi secara bertahap. Perhatikan agar kendaraan jangan sampai berjalan.

b) Pada kendaraan dengan wheel cap, lakukan perbaikan dengan wheel cap terpasang.

c) Setelah membalans roda, buatlah tanda pemasangan pada hub dan roda sehingga pada waktu pembongkaran dan pemasangan ban dari pelek untuk selanjutnya tidak berubah posisi.

4. Prosedur membalans static

 

Ada dua tipe wheel balancer yaitu off-the-car balancer yang dalam pengoperasiannya perlu melepaskan ban dan mobil, balancing dilakukan secara independent, dan on-the-car balancer yang dalam pengoperasiannya, balancing melibatkan semua bagian yang berputar (pelek, teromol rem dan axle hub, dan lain-lain) sementara roda masih terpasang di kendaraan.

a). Melepaskan roda dari kendaraan

b).  Melepaskan seluruh masa bobot yang ada pada peiek sebelum dilakukan penyeimbangan

c).  Memperbaiki keseimbangan statis roda, yaitu dengan cara menjepitkan bobot timah pada pelek, berlawanan dengan posisi bagian yang berat.

d). Memeriksa kembali (menyeimbangkan roda) untuk memastikan hasil yang diinginkan

e). Memeriksa roda dengan keseimbangan dinamik, apabila keseimbangan statis tidak baik.

      

d.  Tugas

Lakukan balans roda / ban menggunakan off-the car balancer?

e.  Tes Formatif

1.    Jelaskan prosedur yang perlu dilakukan sebelum membalans roda/ban ?

2.    Jelaskan langkah-langkah membalans statik pada ban/roda ?

f.  Kunci Jawaban Formatif

1. Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum membalans roda/ban

Bila membalans roda, pertama periksalah kondisi ban :

a) Periksalah kemungkinan ada potongan logam atau batu dan lain-latn yang terselip pada alur tread, dan periksalah juga kemungkinan bagian tread pecah atau rusak.

b) Periksalah kemungkinan ada lumpur atau pasir yang melekat pada bagian dalam pelek.

c) Periksalah apakah getaran ban jelas terlihat.

d) Periksalah kalau-kalau ada benda asing yang masuk di dalam ban (Dengarkan suara di dalam ban).

2. Perhatian untuk off-the-car balancing

a) Membalans roda dilakukan setelah run-out ban diperbaiki.

b) Membalans roda sampai diperoleh harga o g.

c) Pakailah selalu wheel balancer yang terawat dengan baik dan mempunyai ketelitian yang tinggi. Wheel balancer yang tidak bekerja dengan baik harus diperbaiki terlebih dahulu.

3. Perhatian untuk on-the-car balancing

a) Pada saat membalans roda penggerak (drive wheel), gerakkan roda dengan tenaga mesin dan kecepatan ditambah atau dikurangi secara bertahap. Perhatikan agar kendaraan jangan sampai berjalan.

b) Pada kendaraan dengan wheel cap, lakukan perbaikan dengan wheel cap terpasang.

c) Setelah membalans roda, buatlah tanda pemasangan pada hub dan roda sehingga pada waktu pembongkaran dan pemasangan ban dari pelek untuk selanjutnya tidak berubah posisi.

4. Membalans statik

a). Melepaskan roda dari kendaraan

b).  Melepaskan seluruh masa bobot yang ada pada pelek sebelum dilakukan penyeimbangan

c).  Memperbaiki keseimbangan statis roda, yaitu dengan cara menjepitkan bobot timah pada peiek, berlawanan dengan posisi bagian yang berat.

d). Memeriksa kembali (menyeimbangkan roda) untuk memastikan hasil yang diinginkan

e). Memeriksa roda dengan keseimbangan dinamik, apabila keseimbangan statis tidak baik.

g.  Lembar Kerja

1.  Alat dan Bahan

a).  Mobil lengkap dengan roda ban dalam dan peleknya

b).  Alat pembalans ban/roda dan bobot pembalans

c).   Kunci ban

d).  Dongkrak

e).  Buku manual penggunaan alat pembalans roda

2. Keselamatan Kerja

a).  Gunakanlah peralatan yang sesuai dengan fungsinya.

b).  Ikutilah instruksi dari instruktur ataupun prosedur kerja yang tertera pada lembar kerja.

c).   Mintalah ijin dari instruktur anda bila hendak melakukan pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja.

d).  Gunakan tekanan kompresor sesuai tekanan yang diizinkan.

e).  Bila perlu mintalah buku manual dari ban yang menjadi training object.

f).   Gunakanlah jack stand untuk menyangga kendaraan.

3.    Langkah Kerja

a).  Persiapkan alat dan bahan praktek secara cermat, efektif dan efisien.

b).  Perhatikan penjelasan prosedur penggunaan alat, baca lembar kerja dengan teliti.

c).  Lakukan balans ban/ roda sesuai prosedur yang benar!

d). Mintalah penjelasan pada instruktur mengenai hal yang belum jelas.

e).  Buatlah catatan penting kegiatan praktek secara ringkas.

4.    Tugas

a).  Buatlah rangkuman pengetahuan yang anda peroleh setelah mempelajari kegiatan belajar 3!

b). Buatlah laporan kegiatan praktik saudara secara ringkas dan jelas!

BAB III

EVALUASI

A.  PERTANYAAN

1.  Jelaskan gangguan pada kendaraan yang diakibatkan oleh roda/ban yang tidak balans?

2.   Jelaskan pengertian roda/ban yang tidak balans dinamik dan akibat yang ditimbulkannya?

3.   Lakukan balans roda secara off-the-car balancer pada sebuah mobil!

B.  KUNCI JAWABAN

Gangguan pada kendaraan yang diakibatkan oleh roda/ban yang tidak balans :

1. Jenis-jenis kerusakan komponen kendaraan akibat ban / roda tidak balans.

a). Pegas rusak / patah

b). Peredam getaran rusak ( seal  bocor)

c). Bantalan roda rusak

d). Kerusakan pada ball joint

e). Keausan ban tidak wajar.

2. Keausan yang tidak wajar yang terjadi pada ban:

Keausan Spot/Spot Wear (Cupping). Keausan spot membentuk lekukan seperti mangkok pada beberapa bagian tread roda dan terjadi jika kendaraan berjalan pada kecepatan tinggi. Keausan semacam ini terjadi karena tread roda mengalami slip pada interval yang teratur, seperti : bearing roda, ball joint, tie rod end mengalami keausan yang berlebihan, teromol rem yang telah berubah bentuk atau aus tidak merata menyebabkan terjadinya keausan spot dengan ukuran yang cukup besar melingkar pada ban.

Gambar 32. Keausan Spot

Apabila ban/ roda tidak balans, maka akan terjadi keolengan atau getaran pada kendaraan. Getaran yang dipindahkan ke badan mobil, dalam kecepatan tertentu, akan dapat merusak komponen-komponen kendaraan, antara lain : pegas rusak/patah, peredam getaran rusak, bantalan-bantalan roda rusak, kerusakan  pada ball joint, dan kerusakan pada lengan-lengan kemudi.  Jadi ban/ roda yang balans dapat : menjamin keselamatan di jalan, menambah rasa aman berkendaraan dan menambah umur kendaraan.

3.  Getaran

Masalah getaran ban dibagi dalam : Body shake, ‘steering flutter, dan steering shimmy.

a). BODY SHAKE (Body Bergoncang)

Yang dimaksud dengan goncangan disini adalah getaran vertikal atau lateral yang terjadi pada body kendaraan dan roda kemudi, bersama-sama dengan getaran tempat duduk. Penyebab utama goncangan adalah roda yang tidak balance, run-out yang berlebihan, dan rigiditas ban yang tidak seragam. Jika masalah tersebut diperbaiki, maka goncangan biasanya akan hilang. Goncangan biasanya tidak dapat dirasakan pada kecepatan di bawah 80 km/jam. Di atas kecepatan ini, goncangan akan semakin terasa, tetapi kemudian menurun pada kecepatan tertentu. Jika goncangan terjadi pada kecepatan 40-60 km/jam, penyebabnya biasanya run-out roda yang berlebihan atau ban yang kurang seragam. Goncangan pada kecepatan rendah biasanya tidak banyak disebabkan oleh roda yang tidak balance).

 

 

Gambar 33. Bodi bergoncang akibat roda tida balans

 

b). STEERING SHIMMY DAN FLUTTER

Shimmy adalah getaran roda kemudi pada arah memutar. Penyebab utama shimmy adalah roda yang tidak balance, run-out yang berlebihan dan/ atau rigiditas ban yang tidak seragam. Bila masalah ini diperbaiki maka shimmy akan hilang. Kemungkinan penyebab lainnya adalah steering linkage rusak, keausan suspensi yang berlebihan dan kesalahan wheel alignment.

Shimmy dibagi menjadi dua tipe yaitu : getaran yang terjadi pada kecepatan yang relatif rendah (20-60 km/jam) dan getaran (yang disebut “flutter“) yang terjadi pada kecepatan tertentu di atas 80 km/jam.

Gambar 34. Goncangan shimmy akibat roda tidak balans

 

 

c)  Pengertian tidak balans dinamik

1)   Roda tidak sama berat disekeliling penampang lingkaran ban/roda

2)   Titik-titik yang lebih berat terletak tidak ditengah-tengah penampang ban/roda

Akibat yang ditimbulkan pada kendaraan :

1)    Saat roda berputar, titik-titik yang lebih berat akan tertarik ke garis tengah roda.

2)    Akibat pada roda, roda akan bergetar kearah samping

3)    Pada roda kemudi akan terasa shimmy

 

C.   KRITERIA KELULUSAN

Aspek Skor

(1-10)

Bobot Nilai Keterangan
Kognitif (soal no 1 dan 2) 3 Syarat lulus, nilai minimal 70 dengan skor setiap aspek minimal 7
Ketelitian pemeriksaan gangguan tidak balans 2
Ketepatan prosedur membalans ban/ roda 3
Ketepatan waktu 1
Keselamatan kerja 1
Nilai Akhir

Kriteria Kelulusan :

70 s.d. 79                   :        memenuhi kriteria minimal dengan bimbingan

80 s.d. 89                   :        memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan

90 s.d. 100        :        di atas minimal tanpa bimbingan.


BAB IV

PENUTUP

Modul ini hanyalah salah satu pengantar agar peserta diklat memiliki kemampuan membalans roda. Agar peserta diklat menguasai ketrampilan ini dengan baik, disarankan membaca buku manual tentang alat pembalans roda dan juga buku-buku referensi tentang balans roda serta mengikuti latihan dengan disiplin dan tekun.

Peserta diklat yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke modul berikutnya. Sebaliknya, apabila peserta diklat dinyatakan tidak lulus, maka peserta diklat harus mengulang modul ini dan tidak diperkenankan untuk mengambil modul selanjutnya.

Jika peserta diklat telah lulus menempuh modul ini, maka peserta diklat berhak memperoleh serfikat kompetensi membalans roda / ban.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. (1995). Materi Pelajaran Chassis Group Step 2. Jakarta : PT. Toyota – Astra Motor.

Anonim. (1995). New Step 1 Training Manual. Jakarta : PT. Toyota – Astra Motor.

Anonim. (1995). Wheel alignment and tires Step 2. Jakarta : PT. Toyota Service Training

Crouse, William Harry and Donald L. Anglin. (1993). Automotive mechanics. Singapore : McGraw-Hill

William K. Tobold & Larry Johnson. (1977). Automotive Encyyclopedia. South Holland : The Good Heart – Wilcox Company Inc. Publisher.

 

Kontribusi Komunikasi di Tempat Kerja

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Deskripsi

Modul Kontribusi Komunikasi di Tempat Kerja dengan kode OPKR. 10-018 B membahas tentang pemahaman berkomunikasi di tempat kerja serta bagaimana cara berkomunikasi yang baik untuk mempertahankan prestasi tempat kerja.

Materi kompetensi yang terdapat pada modul ini merupakan penunjang dalam menyelesaikan  kompetensi-kompetensi yang lain bagi para siswa SMK. Karena modul ini diperuntukkan bagi siswa SMK Otomotif, maka materi akan terkait langsung dengan tempat kerja di bidang perotomotifan. Apabila siswa menguasai kompetensi ini, akan mudah mempelajari kompetensi-kompetensi  berikutnya. Setelah melaksanakan modul ini diharapkan siswa dapat memahami  berbagai macam komunikasi, peralatan komunikasi dan trampil berkomunikasi dengan benar dan baik. Kompetensi yang terdapat dalam modul ini akan membekali siswa pengetahuan dan ketrampilan serta sikap yang benar dalam berkomunikasi terkait dengan setiap pekerjaan di tempat kerja, sehingga siswa memiliki kemampuan berkomunikasi yang dapat diterapkan di dunia industri perotomotifan.

Modul ini dibagi menjadi 2 kegiatan belajar yaitu: kegiatan belajar 1  Memelihara, memahami dan menyampaikan informasi tempat kerja/bengkel, dan kegiatan belajar 2 Mempertahankan prestasi tempat kerja.

B.   Prasyarat

Sebelum memulai modul ini, anda harus sudah menyelesaikan modul OPKR.10-016 B tentang K3,  OPKR. 10-017 B tentang penggunaan peralatan dan perlengkapan tempat kerja, sesuai dengan peta kedudukan modul.

C.   Petunjuk Penggunaan Modul

 

1.    Petunjuk Bagi Siswa

Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal dalam mempelajari materi modul ini, langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:

a.    Bacalah dan pahamilah dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada kegiatan belajar

b.    Bila ada materi yang kurang jelas, siswa dapat bertanya pada guru yang mengampu kegiatan belajar tersebut

c.     Kerjakanlah setiap tugas formatif (soal latihan)untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar

d.    Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikanlah hal-hal berikut ini:

1)    Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang diberikan

2)    Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik

3)    Sebelum melaksanakan praktik, siapkan alat dan bahan yang

4)    diperlukan secara cermat (lihat lembar kerja)

5)    Gunakan alat sesuai prosedur  pemakaian yang benar, dan bertanya

6)    kepada guru apabila ada yang kurang jelas

7)    Setelah selesai praktik, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula.

e.    Siswa dinyatakan menguasai materi, bila sudah dapat menjawab seluruh soal dengan benar tanpa melihat buku atau kunci jawaban, serta dapat menyelesaikan praktik sesuai standar minimal yang ditentukan. Bila belum berhasil siswa wajib mengulangi.

f.     Bila siswa sudah dinyatakan berhasil, siswa bersama guru dapat membuat rencana uji kompetensi dengan menghadirkan lembaga sertifikasi profesi setempat yang telah diakui keberadaannya, untuk mendapatkan pengakuan kompetensi dengan sertifikat.

g.    Konsultasikan dengan guru pada saat merencanakan proses belajar, saat menemui kesulitan dalam menjawab soal-soal maupun pada waktu melaksanakan praktik, ataupun bila memerlukan sumber belajar yang lain. Dapat mengkomunikasikan dengan guru bila membutuhkan pendamping dari industri pada saat belajar, juga saat akan mengerjakan modul berikutnya.

2.    Petunjuk Bagi Guru

Dalam setiap kegiatan belajar guru berperan untuk:

a.    Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar

b.    Membimbing siswa melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.

c.     Membantu siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan siswa mengenai proses belajarnya.

d.    Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.

e.    Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.

f.     Membantu siswa mencarikan pendamping dari industri bila diperlukan.

g.    Mencatat hasil kemajuan siswa

h.    Melaksanakan penilaian internal

i.      Menjelaskan pada siswa apabila ada yang perlu dibenahi dan merundingkan pada siswa rencana pemelajaran berikutnya.

D.   Tujuan Akhir

Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini siswa diharapkan:

1.    Memahami, memelihara dan mengkomunikasikan informasi tempat kerja secara efektif dan baik

2.    Dapat mempertahankan prestasi tempat kerja.

E.    KOMPETENSI

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

1. Memelihara,

memahami

dan

menyampai

kan informasi

tempat kerja.

2. Memper-  tahan

kan prestasi

tempat kerja.

*Informasi diakses dari sumber yang terpercaya untuk memastikan ketramoilan komunikasi yang efektif ketika mengirim maupun menerima informasi.

*Bantuan dibuat untuk menyamakan pengertian di tempat kerja. *Permintaan dari rekan kerja dipenuhi dengan senang hati.

*Tujuan tempat kerja diidentifikasi dan dipenuhi.

*Data disimpan sesuai prosedur tempat kerja dan K3.

*Berbagai macam komunikasi dan peralatan komunikasi.

*Proses komunikasi yang efektif.

*Proses menerima dan menindak lanjuti informasi.

*SOP

Penggunaan dan pemeliharaan data tempat kerja.

*Cermat dan teliti dalam menerima dan menindak lanjuti informasi,

* Efektif dalam berkomunikasi.

*Menerapkan  K3 dan SOP.

*Cermat dan teliti dalam menerima,meng-elola dan menyimpan data.

*Macam-macam jenis komunikasi dan alat komunikasi.

*Prosedur komunikasi.

Prosedur pengoperasian dan penyimpanan data.

*Berkomunikasi yang efektif dalam menerima dan menindak lanjuti informasi.

*Melaksanakan pengoperasian dan penyimpanan data.

F.    Cek Kemampuan

Sebelum siswa mempelajari modul ini, siswa dapat mencoba mengerjakan soal-soal yang ada pada lembar soal formatif tanpa melihat uraian materi atau kunci jawaban. Bila siswa sudah merasa bisa, guru pembimbing supaya melakukan pengetesan. Dan apabila siswa benar sudah menguasai materi sesuai standar minimal yang ditentukan, guru pembimbing menyediakan modul pemelajaran berikutnya untuk dipelajari siswa. Tetapi bila belum bisa, supaya siswa melanjutkan mempelajari modul ini.

BAB II

 PEMELAJARAN

A.   Rencana Belajar Siswa

 

Rencanakanlah setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.  Memahami, memelihara

dan menyampaikan

informasi tempat kerja

2.  Mempertahankan

prestasi tempat kerja.

B.   Kegiatan Belajar

 

Kegiatan Belajar 1.  Memahami, Memelihara dan Menyampaikan Informasi Tempat Kerja.

a.    Tujuan Kegiatan Belajar

 

1.    Siswa dapat menjelaskan berbagai jenis komunikasi, macam-macam peralatan komunikasi tempat kerja, serta cara berkomunikasi yang tepat.

2.    Siswa dapat melakukan pemeliharaan

b.    Uraian Materi

 

1.    Pengertian Komunikasi

Komunikasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, terlebih manusia yang melakukan aktifitas ataupun pekerjaan tertentu.

Menurut kamus Bahasa Indonesia komunikasi adalah penyampaian dan penerimaan pesan antara dua orang atau lebih secara benar, sehingga tujuan berkomunikasi tercapai.

Orang yang menyampaikan informasi disebut komunikator sedang penerima informasi disebut komunikan. Komunikator dapat menyampaikan informasi atau pesan secara lisan, tertulis maupun dengan isyarat.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi keberhasilan suatu komunikasi, antara lain:

a.    Komunikator dapat berperan baik

b.    Tujuan komunikasi harus jelas

c.     Isi komunikasi dikemas secara jelas dan mudah dipahami

d.    Alat komunikasi yang tepat dan baik

e.    Komunikasi harus menarik

 

2.    Macam-macam Jenis Komunikasi

Komunikasi ada beberapa macam atau jenis. Masing-masing jenis komunikasi mempunyai kekurangan dan kelebihan.

 

Macam-macam komunikasi yang dimaksud antara lain:

a.    Komunikasi secara lisan

Komunikasi lisan adalah komunikasi yang bersifat langsung, yaitu dalam bentuk pembicaraan. Komunikasi dalam bentuk pembicaraan, diperlukan pembicara yang baik.

b.    Komunikasi tertulis

Komunikasi tertulis adalah penyampaian informasi dengan tujuan etrtentu dengan cara ditulis, baik ditujukan pada seseorang maupun kepada kelompok orang. Komunikasi tertulis biasanya berupa surat, kartu, tulisan dinding/poster dan sebagainya.

c.     Komunikasi dengan gambar

Komunikasi atau informasi kadangkala lebih tepat dengan menggunakan gambar. Misalkan tanda-tanda penyimpanan bahan berbahaya, larangan atau perintah terkait dengan keselamatan kerj, gambar teknik dan sebagainya.

d.    Komunikasi dengan isyarat

Komunikasi dengan isyarat kadangkala lebih efektif, manakala pada suatau tempat atau tempat kerja dengan mobilitas tinggi. Misalnya isyarat tangan untuk mengatur lalu lintas, lampu tanda lalu lintas dan sebagainya.

3.    Macam-Macam Peralatan/Media Komunikasi

Pemilihan dan penggunaan peralatan komunikasi adalah hal yang tidak dapat dihindarkan, bahkan menjadi sebuah kebutuhan pada jaman moderen ini. Seseorang akan mudah berkomunikasi dengan orang lain yang bertempat tinggal jauh dari komunikator dengan peralatan tertentu.

Berdasarkan cara menggunakan, alat komunikasi ada beberapa macam, antara lain:

a.    Alat komunikasi penglihatan (Visual)

Visual berarti dapat dilihat. Jadi alat komunikasi visual adalah alat   bantu komunikasi yang dapat dilihat, dibaca sehingga tujuan komunikasi dapat tercapai.

Alat komunikasi visual antara lain: surat, kartu, poster,gambar teknik, lampu isyarat dan sebagainya.

b.    Alat komunikasi pendengaran (Audio)

Audio artinya dapat didengar. Alat komunikasi audio adalah suatu alat bantu berkomunikasi yang dapat menyiarkan suara sehingga komunikator dapat berbicara dengan komunikan dari jarak jauh.

Misalnya: Telphon, hand phone, Mikrophone, radio, tape dan sebagainya.

c.    Alat komunikasi pendengaran dan penglihatan (audio visual)

Audio visual artinya dapat didengar dan dilihat. Jadi alat komunikasi audio visual adalah alat bantu komunikasi dimana komunikator dapat berkomunikasi dengan komunikan dari jarak jauh dengan masing-masing dapat berbicara,mendengar dan melihat secara langsung. Contohnya: Televisi, Hand phone dan sebagainya.

4.    Memilih dan Menggunakan Alat Komunikasi

Penggunaan alat atau media komunikasi di tempat kerja khususnya tempat kerja yang terkait dengan perotomotifan, juga tidak terlepas dari tujuan dari komunikasi itu sendiri.

a.    Media Penglihatan (visual)

Media visual adalah alat bantu komunikasi yang paling banyak digunakan baik untuk kepentingan manajemen, pekerja/mekanik, pelanggan/customer atau setiap orang yang melakukan aktifitas pada tempat kerja tersebut.

Untuk memberikan informasi kondisi disekitar tempat kerja dan apa yang harus dilakukan oleh setiap orang yang terkait dengan kondisi serta aktifitas tempat kerja tersebut, maka media visual adalah pilihan yang paling tepat.

  • Surat

Surat adalah media komunikasi visual yang selalu digunakan pada suatu tempat kerja, dan biasa dikelola oleh bagian administrasi atau Tata usaha.

Administrasi yang baik, bila mana setiap surat yang masuk  maupun keluar dicatat serta disimpan secara benar, sehingga sewaktu-waktu diperlukan mudah dicari.

Cara penyimpanan surat yang baik:

-          Surat diberi nomor urut

-          Surat diberi kode tanggal, bulan dan tahun

-          Surat dikelompokkan sewsuai jenisnya dan diberi kode

-          Surat disimpan di tempat penyimpanan khusus/filing cabinet yang mempunyai beberapa laci

-          Tidak memakan tempat

-          Penyimpana dalam laci sesuai dengan kode jenis surat, kode penomoran, kode tanggal, bulan dan tahun

-          Mudah dicari bila diperlukan

-          Mudah dipindah bila ada pengembangan.

Macam-macam surat yang dibuat atau digunakan pada tempat kerja, khususnya pada perusahaan atau perbengkelan otomotif antara lain: Surat perjanjian jual beli, surat penerimaan dan pengiriman barang, surat pembayaran, surat tagihan, surat pesanan/order, Surat pengenalan produk, faktur dan rekening, surat pengaduan, surat-surat perijinan dan sebagainya.

Contoh salah satu jenis surat (Surat Perjanjian Kerja)

 

  • Buku Petunjuk Pemilik

Buku petunjuk pemilik biasanya diberikan kepada pembeli produk tertentu oleh manajemen perusahaan. Buku ini biasanya berisi petunjuk pengoperasian, ketentuan perawatan, garansi dan informasi tentang peralatan pada produk tersebut. Buku ini dimaksudkan agar pembeli produk cepat dapat menguasai/mengoperasikan produk yang dibelinya.

                    Contoh Buku Petunjuk Pemilik

 

  • Kartu Perawatan/Servis

Kartu perawatan atau kartu servis digunakan untuk mengkomunikasikan ketentuan dan waktu servis untuk kendaraan tertentu supaya komunikan/customer mengetahui kapan kendaraan miliknya harus diservis, dan apa saja yang perlu diservis.

 

 

 

 

Contoh Kartu Servis

 

  • Kartu Peminjaman Alat

Kartu peminjaman alat berguna untuk ketertiban penggunaan alat, sekaligus menjaga keutuhan  peralatan sehingga peralatan tidak mudah hilang.

 

NO.

 

NAMA ALAT

SPESIFIKASI

JUMLAH

KETERANGAN

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

Jogyakarta…………2005

Peminjam

(………………………….)

         Contoh Kartu Peminjaman Alat

 

  • Kartu Bon Bahan/Komponen/Spart Part

Kartu Bon bahan/komponen/part berfungsi untuk mengontrol penggunaan bahan/komponen/part, sehingga dapat digunakan untuk perhitungan beaya servis ataupun biaya pengadaannya kembali.

 

NO.

 

NAMA ALAT

SPESIFIKASI

JUMLAH

KETERANGAN

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Jogyakarta…………2005

Pengebon

(………………………….)

 

         Contoh Kartu Bon Bahan/Komponen/Part

  • Poster/Spanduk

Poster atau sepanduk biasa digunakan pada tempat kerja untuk menjaga keselamatan,ketertiban, kelancaran, kebersihan dan kenyamanan tempat kerja dalam bentuk ajakan, larangan dan penjelasan bagian-bagian lokasi bengkel tempat kerja. Poster atau spanduk yang berisi tulisan atau gambar.

Adapun macam isi tulisan antara lain: Nama lokasi sesuai jenis aktifitasnya, larangan parkir, kecepatan kendaraan yang diijinkan, peringatan tentang kebersihan,tulisan atau gambar kode  penyimpanan material berbahaya, larangan tidak merokok atau gambar jenis material yang berbahaya seperti tegangan listrik dan sebagainya.

DEPT.CHASIS              DEPT.ENGINE

 

DEPT.ELECTRICAL        DEPT.BODY

        Contoh Spanduk Informasi Lokasi

 

                                                                                                                                               

P                                                 10 km

 

 

 

Contoh Tempat Parkir Dan Informasi Kecepatan Kendaraan

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                      

 

 

KEBERSIHAN TERMASUK SEBAGIAN DARI IMAN

 

    Contoh Himbauan Menjaga Kebersihan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

             AWAS ! ! TEMPAT MENYIMPAN BAHAN MUDAH TERBAKAR

                                                         

Contoh Informasi Penyimpanan Bahan Mudah Terbakar

 

 

 

                                AWAS

                                TEGANGAN TINGGI

 

 

 

 

 

 

 

  Contoh Peringatan bahaya tegangan tinggi

 

  • Lampu Isyarat

Lampu isyarat biasa digunakan pada tempat kerja/bengkel yang mobilitas kendaraan yang lewat cukup tinggi. Hal tersebut dimaksudkan agar aktifitas lancar dan mengurangi bahaya kecelakaan.

 

 

 

 

 

 

 

                         Contoh Lampu Isyarat

 

b.    Media Pendengaran (Audio)

Media pendengaran/audio kadangkala menjadi pilihan yang paling tepat pada suatu tempat kerja, misalkan untuk menghubungi seseorang yang lokasinya jauh dari tempat kerja,memanggil atau menginformasikan sesuatu kepada customer, mekanik atau pekerja yang lain, peringatan jam masuk,istirahat maupun akhir jam kerja dan sebagainya.

Alat komunikasi audio yang paling banyak digunakan pada tempat kerja/bengkel otomotif antara lain:

  • Telphone atau Handphone

Telephone atau handphone adalah alat komunikasi jarak jauh di mana komunikator dapat berbicara langsung dengan komunikan, sehingga beaya dan waktu dapat dihemat dengan menggunakan peralatan ini.

 

                 Contoh Telphone/Handphone

  • Speaker

Speaker dapat berupa Radio, Mikrophone atau Los Speaker. Alat ini biasa digunakan untuk menginformasikan, memanggil antrian kustomer bila sudah sampai pada urutannya, atau pemanggilan pekerja/mekanik dan orang-orang yang dibutuhkan saat itu disuatu tempat kerja/bengkel.

                    Contoh Speaker

 

  • Bel Tanda/Alarm

Bel tanda banyak digunakan pada tempat kerja untuk menginformasikan waktu masuk kerja, istirahat atau berakhirnya jam kerja.

                                                                                        Contoh Bel Tanda

c.    Media Audio Visual

Media audio visual juga banyak digunakan pada tempat kerja/bengkel. Media ini dapat berupa Televisi atau handphone.

  • Televisi

Pada tempat kerja atau bengkel, alat ini biasa digunakan untuk menginformasikan atau memanggil kustomer yang melakukan antrian menunggu dan sudah sampai pada gilirannya, informasi berupa tulisan pada monitor disertai suara panggilan dan sebagainya. Selain itu Televisi juga menjadi sarana hiburan bagi kustomer yang menunggu, agar tidak mengalami kejenuhan.

                  Contoh Televisi

 

  • Handphone

Handphone selain untuk berkomunikasi ada juga yang dapat menampilkan komunikator kepada komunikan, dimana komunikator dan komunikan dapat berbicara secara langsung dan saling melihat.

                      Contoh Handphone

 

 

c. Rangkuman

 

1.    Komunikasi adalah penyampaian dan penerimaan informasi secara perorangan atau kelompok dengan benar, sehingga tujuan  komunikasi dapat tercapai.

2.    Hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan komunikasi:

a.    Komunikator dapat berperan dengan baik

b.    Tujuan komunikasi jelas

c.    Isi komunikasi jelas

d.    Alat komunikasi tepat

e.    Komunikasi menarik

3.    Jenis-jenis komunikasi:

a.    Komunikasi secara lisan

b.    Komunikasi dengan tulisan

c.    Komunikasi dengan gambar

d.    Komunikasi dengan isyarat

4.    Macam-macam jenis alat/media komunikasi:

a)    Media penglihatan (visual)

b)    Media pendengaran (Audio)

c)    Media Audio visual

5.    Alat komunikasi visual antara lain:

a.    Macam-macam surat

b.    Buku pemilik

c.    Kartu perawatan/servis

d.    Kartu peminjaman alat

e.    Kartu bon barang/komponen/part

f.     Poster/spanduk

g.    Lampu isyarat

6.    Alat komunikasi Audio:

a.    Telphone/hand phone

b.    Speaker

c.    Bel tanda atau sirine

d.    Radio/Tape

7.    Alat komunikasi Audio visual:

a.    Televisi

b.    Handphone

8.    Cara penyimpanan surat yang baik:

a.    Surat diberi nomor urut

b.    Surat diberi kode tanggal, bulan dan tahun

c.     Surat dikelompokkan sewsuai jenisnya dan diberi kode

d.    Surat disimpan di tempat penyimpanan khusus/filing cabinet yang mempunyai beberapa laci

e.    Tidak memakan tempat

f.     Penyimpana dalam laci sesuai dengan kode jenis surat, kode penomoran, kode tanggal, bulan dan tahun.

g.    Mudah dicari bila diperlukan

h.    Mudah dipindah bila ada pengembangan.

d. Tugas

 

1.    Infentarisasikan alat/media komunikasi yang ada pada bengkel sekolah, catatlah jenis yang ada beserta kondisinya dalam buku laporan.

2.    Belajarlah membuat media komunikasi untuk menginformasikan tempat kerja/bengkel sekolah dalam rangka kelancaran pekerjaan di tempat kerja/bengkel.

e. Tes Formatif

 

1.    Apa yang dimaksud dengan komunikasi?

2.    Sebutkan 5 hal yang dapat mempengaruhi keberhasilan berkomunikasi!

3.    Sebutkan 4 jenis komunikasi dan berikan contoh masing-masing sebuah!

4.    Sebutkan 11 contoh alat komunikasi visual!

5.    Sebutkan 4 contoh alat komunikasi Audio, dan 2 contoh audio visual!

6.    Sebutkan 8 cara penyimpanan arsip/surat yang baik!

7.    Sebutkan 8 isi pokok buku petunjuk pemilik!

8.    Sebutkan 8 isi pokok kartu servis kendaraan yang paling sederhana!

9.    Sebutkan  8 isi pokok nota/kwitansi pembayaran servis kendaraan!

10. Sebutkan 8 isi pokok kartu bon komponen/part!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

f. Kunci Jawaban

 

1.    Komunikasi adalah penyampaian dan penerimaan informasi secara perorangan atau kelompok dengan benar, sehingga tujuan komunikasi dapat tercapai.

2.    5 hal yang dapat mempengaruhi keberhasilan berkomunikasi:

a.    Komunikator dapat berperan dengan baik.

b.    Tujuan komunikasi jelas.

c.     Isi komunikasi jelas.

d.    Alat komunikasi tepat.

e.    Komunikasi menarik

3.    4 jenis komunikasi:

a.    Komunikasi lisan

b.    komunikasi tertulis

c.     komunikasi dengan gambar

d.    komunikasi dengan isyarat

4.    11 contoh alat komunikasi visual:

a.    kartu pemilik

b.    kartu servis

c.     kartu peminjaman alat

d.    kartu bon part

e.    spanduk

f.     Poster

g.    Rambu peringatan

h.    surat perjanjian kerja

i.      surat jual beli

j.     faktur

k.    lampu isyarat

5.    Telphone, handphone, radio, tape, speaker dan Televisi serta berlayar monitor.

6.    Penyimpanan surat:

a.    Surat diberi kode nomor atau huruf.

b.    Surat diberi kode Tanggal,bulan dan Tahun.

c.     Surat dikelompokkan sesuai jenisnya dan diberi kode.

d.    Surat disimpan di tempat penyimpanan khusus/filing cabinet yang mempunyai beberapa laci.

e.    Tidak memakan tempat.

f.     Penyimpan dalam laci sesuai dengan kode jenis surat, kode penomoran, kode tanggal, bulan dan Tahun.

g.    Mudah dicari bila diperlukan.

h.    Mudah dipindah bila ada pengembangan.

7.    Merek produk, pengenalan bagian-bagian produk, Petunjuk pengoperasian, petunjuk pemeriksaan sebelum jalan, perawatan berkala, spesifikasi, cara penyimpanan dan masa pemakaian awal.

8.    Jenis/merek, Nomor, Tanggalservis, jaraktempuh, identitas pemilik, identitas kendaraan, tanggal pembelian,data servis/penggantian part, tanda tangan mekanik dan tanda tangan pemilik.

9.    Identitas tempat kerja/bengkel, identitas pemilik, tanggal servis, identitas kendaraan, jenis servis dan biaya, penggantian part dan biaya, jumlah beaya total dan tanda tangan mekanik.

10. Identitas tempat kerja, nomor nota, Tanggal, no urut nota, nama

komponen/part, spesifikasi, jumlah, harga dan tanda tangan bagian part.

Kegiatan Belajar 2.  Mempertahankan Prestasi Tempat Kerja

 

a. Tujuan Kegiatan Belajar

 

1.    Siswa memahami cara mempertahankan prestasi tempat kerja.

2.    Siswa dapat mengelola dan menerapkan berbagai informasi untuk mempertahankan prestasi tempat kerja.

 

b. Uraian Materi

 

1.    Prestasi Tempat Kerja

Prestasi tempat kerja adalah situasi dan kondisi dimana seluruh pekerja, pelanggan dan semua orang yang terlibat dalam aktifitas pada tempat kerja tersebut merasa nyaman sehingga tujuan masing-masing ataupun kelompok pada tempat kerja tersebut dapat tercapai.

Prestasi tempat kerja dapat diwujudkan dan dipertahankan dengan pengelolaan, penerapan komunikasi yang benar. Untuk dapat menerapkan komunikasi yang benar, seluruh personil yang terlibat di dalam tempat kerja tersebut harus mampu menerapkan berbagai peralatan komunikasi yang ada dengan tepat.

2.    Mempertahankan Prestasi Tempat Kerja

Untuk dapat mempertahankan atau menjaga prestasi tempat kerja, seluruh personil/pekerja harus dapat menggunakan berbagai jenis media informasi secara baik dan tepat sesuai dengan jenis atau lingkup kerja masing-masing.

a.    Dengan Pengelolaan Surat

Surat menyurat adalah bagian yang tak terpisahkan dari suatu    tempat kerja. Personil/pekerja dibagian ini harus dipilih orang-orang yang terampil dibidang administrasi.

Syarat Pegawai Bagian Persuratan

  • Harus cerdas dan cekatan
  • Memahami struktur organesasi tempat kerja
  • Berpandangan luas, teliti dan tekun
  • Daya ingat kuat
  • Dapat menulis cepat, tepat dan rapi
  • Menguasai berbagai jenis media pengarsipan
  • Disiplin dan jujur

Karena surat merupakan alat komunikasi yang penting, maka perlu dihindari hal-hal yang dapat menimbulkan kesalah pahaman yang dapat berakibat putusnya sebuah hubungan kerja.

Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pembuatan Surat

  • Gaya penulisan menarik
  • Tujuan jelas
  • Gaya bahasa mudah dipahami
  • Tidak bertele-tele, singkat dan jelas
  • Terkait langsung dengan masalah si penerima
  • Bahasa tegas dan berwibawa

Melalui proses penanganan surat menyurat yang tepat dan baik akan dapat membantu mempertahankan atau menjaga prestasi tempat kerja. Oleh sebab itu manajemen suatu tempat kerja harus benar-benar memahami dan memperhatikan hal berikut:

  • Surat dapat menjaga hubungan kerja dengan pihak lain
  • Surat dapat mengendalikan kegiatan di tempat kerja baik

secara intern maupun ekstern

  • Pengurusan surat tepat menunjukkan profesionalisme tempat

kerja, yang dapat memuaskan semua pihak

  • Ketertiban penanganan surat akan menjaga efektifitas kerja
  • Surat adalah bukti autentik yang sewaktu-waktu akan

diperlukan.

b.    Dengan Penggunaan Macam-Macam Kartu

Untuk pelayanan/servis, penggunaan komponen/part, peminjaman alat dan lainnya, kartu adalah media yang paling tepat untuk saling memberikan informasi, baik kepada kustomer atau dari bagian yang satu kepada bagian-bagian yang lain pada tempat kerja. Penggunaan kartu secara tepat sesuai prosedur dan jenis aktifitasnya akan mengefektifkan kinerja perusahaan, dan ketepatan jenis pekerjaan yang dilakukan yang pada akhirnya akan memberikan kepuasan kepada semua pihak yang terlibat pada suatu pekerjaan.

Syarat  Penggunaan Kartu Yang Baik

  • Seorang pekerja harus mengetahui benar kegunaan kartu

sesuai dengan jenis aktifitasnya. sewaktu-waktu akan

  • Setiap identitas yang ada pada kartu harus ditulis secara

lengkap dan jelas

  • Seuai aktifitas kartu harus diisi dengan macam pekerjaan yang

Dilakukan secara jelas

  • Sesuai aktifitasnya kartu diisi dengan macam komponen/prt

atau alat yang digunakan

  • Kartu harus ditandatangani secara jelas oleh pihak yang

menggunakan atau yang berwenang

  • Tembusan kartu harus diberikan atau dibagikan kepada pihak-

pihak yang seharusnya menerima

  • Arsip harus disimpan secara baik sesuai prosedur, agar bila

diperlukan akan segera dapat tersedia.

c.     Informasi Umum Tempat Kerja

Untuk menjaga ketertiban, kenyamanan, dan keselamatan tempat  kerja informasi berupa tulisan, spanduk, poster, tanda peringatan dan lampu isyarat adalah media yang paling efektif yang perlu diterapkan ditempat kerja.

Persyaratan Penempatan Tulisan, Spanduk, Poster, Tanda

Peringatan dan Lampu Isyarat

  • Pada tempat yang mudah dilihat atau dibaca
  • Pada tempat yang sesuai dengan jenis aktifitasnya
  • Media harus sesuai dengan jenis aktifitas atau kondisi yang

perlu diinformasikan

  • Informasi harus singkat, padatas dan jelas
  • Ilustrasi gambar, karikatur kadangkala lebih efektif.

d.    Penggunaan Telephone, Handphone atau Aiphone

Pembicaraan langsung jarak jauh menggunakan peralatan

Telephone, Handphone atau Aiphone. Cara penggunaan yang benar dan tepat akan mempengaruhi lawan bicara sehingga dapat membuat relasi lebih tertarik pada instansi atau tempat kerja yang bersangkutan, sehingga akan membantu keberhasilan pembicaraan yang pada akhirnya akan berpengaruh pula terhadap kinerja perusahaan atau tempat kerja secara keseluruhan.

Cara Penggunaan Telephone, Handphone  dan Aiphone Yang Benar

  • Angkatlah telephone saat berdiring, jangan lebih dari tiga kali
  • Telephone diangkat dengan tangan kiri dan yang kanan

menulis

  • Ucapkan salam dan beritahukan identitas secara singkat dan

jelas

  • Hindarkan sapaan atau jawaban “Hallo“
  • Catat setiap pesan secara teliti
  • Bila ada yang kurang jelas memohon untuk diulang
  • Pesan-pesan penting supaya dikatakan ulang sehingga pihak

penelpon dapat ikut mengecek.

  • Menutup Telpon setelah lawan bicara lebih dahulu menutup.

 

KARTU PENERIMAAN TELPON         

Untuk   : …………………………………..

Dari      : …………………………………..

Alamat  : …………………………………..

No.TLP  : ………………………………….

PESAN:

                 1. ………………………………………

                 2. ………………………………………

                 3. ………………………………………

                 4. ………………………………………

                 5. ………………………………………

                                 

                                   …………………., 2005

                                   JAM: …………………..

                                                Penerima

 

                                         (…………………….)

 

            Contoh Kartu Pencatatan Telephone

 

e.    Penggunaan Speaker

Untuk memberikan informasi atau memanggil orang di wilayah tempat kerja, terlebih bila wilayah tempat kerja tersebut cukup luas,  penggunaan speaker adalah langkah yang paling tepat.

Alat ini akan membantu komunikator menyampaikan pesan atau panggilan lebih cepat dan tanpa harus mendatangi komunikan, sehingga akan menghemat tenaga maupun waktu.

Penggunaan Speaker Yang Baik

  • Speaker dipasang menghadap pada daerah

komunikan

  • Informasi seyogyanya singkat dan jelas
  • Informasi atau panggilan diulang dua sampai tiga kali
  • Bila informasi atau panggilan belum mendapat respon

seyogyanya memanggil pekerja yang lain untuk melakukan cek

di lapangan.

  • Informasi atau panggilan sebaiknya ditulis terlebih dahulu

sebelum disampaikan.

f.     Penggunaan Televisi

Penyampaian informasi atau panggilan dengan media Televisi lebih menarik respon komunikan, selain itu Televisi juga dapat menjadi sarana hiburan ketika sorang kustomer harus menunggu di wilayah tempat kerja.

Pemasangan Televisi Di Tempat Kerja sebaiknya:

  • Di ruang tunggu wilayah tempat kerja
  • Di ruang yang tidak kena sinar matahari secara langsung
  • Di tempelkan pada dinding yang tidak terjangkau oleh orang dewasa yang berdiri
  • Ukuran disesuaikan dengan luas ruangan.

c. Rangkuman

 

1.    Prestasi Tempat Kerja

Prestasi tempat kerja adalah situasi dan kondisi dimana seluruh pekerja, pelanggan dan semua orang yang terlibat dalam aktifitas pada tempat kerja tersebut merasa nyaman sehingga tujuan masing-masing ataupun kelompok pada tempat kerja tersebut dapat tercapai.

2.    Syarat Pegawai Bagian Persuratan

  • Harus cerdas dan cekatan
  • Memahami struktur organesasi tempat kerja
  • Berpandangan luas, teliti dan tekun
  • Daya ingat kuat
  • Dapat menulis cepat, tepat dan rapi
  • Menguasai berbagai jenis media pengarsipan
  • Disiplin dan jujur.

3.    Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pembuatan Surat

  • Gaya penulisan menarik
  • Tujuan jelas
  • Gaya bahasa mudah dipahami
  • Tidak bertel-tele,singkat dan jelas
  • Terkait langsung dengan masalah si penerima
  • Bahasa tegas dan berwibawa.

4.    Manajemen Suatu Tempat Kerja Harus Benar-Benar Memahami    Dan Memperhatikan hal berikut:

  • Surat dapat menjaga hubungan kerja dengan pihak lain
  • Surat dapat mengendalikan kegiatan di tempat kerja baik secara intern maupun ekstern
  • Pengurusan surat tepat menunjukkan profesionalisme tempat kerja, yang dapat memuaskan semua pihak
  • Ketertiban penanganan surat akan menjaga efektifitas kerja
  • Surat adalah bukti autentik yang sewaktu-waktu  akan diperlukan.

5.    Syarat  Penggunaan Kartu Yang Baik

  • Seorang pekerja harus mengetahui benar kegunaan kartu sesuai dengan jenis aktifitasnya. sewaktu-waktu akan
  • Setiap identitas yang ada pada kartu harus ditulis secara lengkap dan jelas.
  • Seuai aktifitas kartu harus diisi dengan macam pekerjaan yang dilakukan secara jelas.
  • Sesuai aktifitasnya kartu diisi dengan macam komponen/prt atau alat yang digunakan.
  • Kartu harus ditandatangani secara jelas oleh pihak yang  menggunakan atau yang berwenang.
  • Tembusan kartu harus diberikan atau dibagikan kepada pihak-pihak yang seharusnya menerima.
  • Arsip harus disimpan secara baik sesuai prosedur, agar bila diperlukan akan segera dapat tersedia.

6.    Persyaratan Penempatan Tulisan, Spanduk, Poster, Tanda Peringatan dan Lampu Isyarat

  • Pada tempat yang mudah dilihat atau dibaca
  • Pada tempat yang sesuai dengan jenis aktifitasnya
  • Media harus sesuai dengan jenis aktifitas atau kondisi yang perlu diinformasikan.
  • Informasi harus singkat, padat dan jelas
  • Ilustrasi gambar,karikatur kadangkala lebih efektif.

7.    Cara Penggunaan Telephone, Handphone dan Aiphone Yang Benar

  • Angkatlah telephone saat berdiring, jangan lebih dari tiga kali
  • Telephone diangkat dengan tangan kiri dan yang kanan menulis
  • Ucapkan salam dan beritahukan identitas secara singkat dan jelas
  • Hindarkan sapaan atau jawaban “Hallo“
  • Catat setiap pesan secara teliti
  • Bila ada yang kurang jelas memohon untuk diulang
  • Pesan-pesan penting supaya dikatakan ulang sehingga pihak penelpon dapat ikut mengecek
  • Menutup Telpon setelah lawan bicara lebih dahulu menutup.

8.    Penggunaan Speaker Yang Baik

  • Speaker dipasang menghadap pada daerah komunikan
  • Informasi seyogyanya singkat dan jelas
  • Informasi atau panggilan diulang dua sampai tiga kali
  • Bila informasi atau panggilan belum mendapat respon seyogyanya memanggil pekerja yang lain untuk melakukan cek di lapangan
  • Informasi atau panggilan sebaiknya ditulis terlebih dahulu sebelum disampaikan.

9.    Pemasangan Televisi Di Tempat Kerja Sebaiknya:

  • Di ruang tunggu wilayah tempat kerja
  • Di ruang yang tidak kena sinar matahari secara langsung
  • Di tempelkan pada dinding yang tidak terjangkau oleh orang dewasa yang berdiri
  • Ukuran disesuaikan dengan luas ruangan.

d. Tugas

 

1.    Buatlaah kartu infentarisasi peralatan dan part,lakukan infentarisasi peralatan dan part yang ada pada bengkel sekolah secara teliti.

2.    Lengkapi bengkel sekolah dengan macam-macam tulisan atau poster peringatan dalam rangka kelancaran, ketertiban,  kebersihan dan keselamatan, sehingga akan meningkatkan atau mempertahankan prestasi tempat kerja.

3.    Lengkapilah bengkel sekolah dengan tanda-tanda isyarat yang diperlukan seperti bel tanda masuk, istirahat atau selesai praktek. Atau dengan speaker untuk memanggil/menginformasikan sesuatu.

4.    Berkunjunglah ke bengkel-bengkel servis, suku cadang atau sales kendaraan untuk mendapatkan contoh macam-macam surat dan macam-macam kartu, masing-masing 5 buah.

e. Tes Formatif

 

1.        Apa yang dimaksud dengan prestasi tempat kerja?

2.        Sebutkan 6 syarat pekerja pada bagian persuratan!

3.        Sebutkan 6 hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan surat!

4.        Sebutkan 5 hal yang perlu dipahami oleh manager tentang manfaat

surat!

5.        Sebutka 6 hal yang harus dimengerti oleh seorang mekanik sewaktu mengisi kartu servis!

6.        Sebutkan 5 hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan sepanduk, poster, tulisan peringatan atau tanda isyarat dalam rangka mempertahankan prestasi kerja di tempat kerja.

7.        Sebutkan 8 cara penggunaan telephone yang baik.

8.        Sebutkan 5 hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan speaker di tempat kerja.

9.        Sebutkan 4 cara pemasangan televisi yang tepat pada tempat kerja.

f. Kunci Jawaban

1.    Situasi dan kondisi dimana seluruh pekerja, pelanggan dan semua orang yang terlibat dalam aktifitas pada tempat kerja tersebut merasa nyaman sehingga tujuan masing-masing ataupun kelompok pada tempat kerja tersebut dapat tercapai.

 

2.    Harus cerdas dan cekatan, memahami struktur organisasi tempat kerja, berpandangan luas, teliti, dan tekun, daya ingat kuat, dapat menulis cepat, tepat dan rapi, menguasai berbagai jenis media pengarsipan, disiplin dan jujur.

 

3.    Gaya penulisan menarik, tujuan jelas, gaya bahasa mudah dipahami, tidak bertele-tele, singkat dan jelas, terkait langsung dengan masalah si penerima, bahasa tegas dan berwibawa.

 

4.    5 hal yang perlu dipahami oleh manager tentang manfaat surat:

a.    Surat dapat menjaga hubungan kerja dengan pihak lain

b.    Surat dapat mengendalikan kegiatan di tempat kerja baik secara intern maupun ekstern

c.     Pengurusan surat tepat menunjukkan profesionalisme tempat kerja, yang dapat memuaskan semua pihak

d.    Ketertiban penanganan surat akan menjaga efektifitas kerja

e.    Surat adalah bukti autentik yang sewaktu-waktu akan diperlukan

5.    6 hal yang harus dimengerti seorang mekanik pada saat mengisi kartu servis:

a.    Seorang pekerja harus mengetahui benar kegunaan kartu sesuai dengan jenis aktifitasnya

b.    Setiap identitas yang ada pada kartu harus ditulis secara lengkap dan jelas

c.     Sesuai aktifitas kartu harus diisi dengan macam pekerjaan yang dilakukan secara jelas

d.    Sesuai aktifitasnya kartu diisi dengan macam komponen/ prt atau alat yang digunakan

e.    Kartu harus ditandatangani secara jelas oleh pihak yang menggunakan atau yang berwenang

f.     Tembusan kartu harus diberikan atau dibagikan kepada pihak-pihak yang seharusnya menerima

g.    Arsip harus disimpan secara baik sesuai prosedur, agar segera dapat tersedia

6.    5 hal yang harus diperhatikan dalam pemasnagn spanduk:

a.    Pada tempat yang mudah dilihat atau dibaca

b.    Pada tempat yang sesuai denga jenis aktifitasnya

c.     Media harus sesuai dengan jenis aktifitas atau kondisi yang perlu diinformasikan

d.    Informasi harus singkat, padat dan jelas

e.    Ilustrasi gambar, karikatur kadangkala lebih efektif

7.    8 cara penggunaan telepon yang baik:

a.    Angkatlah telepon saat berdering, jangan lebih dari tiga kali

b.    Telepon diangkat dengan tangan kiri dan yang kanan menulis

c.     Ucapkan salam dan beritahukan identitas secara singkat dan jelas

d.    Hindarkan sapaan atau jawaban “hallo”

e.    Catat setiap pesan secara teliti

f.     Bila ada yang kurang jelas memohon untuk diulang

g.    Pesan-pesan penting supaya dikatakan ulang sehingga pihak penelpon dapat ikut mengecek

h.    Menutup telepon setelah lawan bicara lebih dahulu menutup

8.    5 hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan speaker:

a.    Speaker dipasang menghadap pada daerah komunikan.

b.    Informasi seyogyanya singkat dan jelas.

c.     Informasi atau panggilan diulang dua sampai tiga kali.

d.    Bila informasi panggilan belum mendapat respon seyogyanya memanggil pekerja yang lain untuk melakukan cek di lapangan.

e.    Informasi atau panggilan sebaiknya ditulis terlebih dahulu sebelum disampaikan.

9.    4 cara pemasangan televisi yang tepat di tempat kerja:

a.    Di ruang tunggu wilayah tempat kerja.

b.    Di ruang yang tidak kena sinar matahari secara langsung.

c.     Di tempelkan pada dinding yang tidak terjangkau oleh orang dewasa yang berdiri.

d.    Ukuran disesuaikan dengan luas ruangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA

Kompetensi    :  Kontribusi dan Komunikasi di Tempat Kerja

Sub kompetensi:  Menerapkan Komunikasi di Tempat Kerja

Tujuan

1.    Siswa dapat mengidentifikasi macam-macam media informasi di tempat

kerja

2.    Siswa dapat membuat media informasi visual untuk diterapkan di tempat

kerja/bengkel sekolah.

Keselamatan Kerja

1.    Pergunakan peralatan sesuai fungsinya

2.    Sewaktu menggunakan peralatan tenaga, komunikasikan dengan guru apa

bila ragu-ragu

3.    Gunakan peralatan keselamatan kerja sesuai SOP saat menggunakan peralatan bengkel.

Alat

1.    Alat-alat tulis dan gambar

2.    Gergaji besi, mistar baja, gergaji dan gunting plat

3.    Tangga

4.    Obeng, Tes pen

5.    Peralatan pengecatan.

Bahan

1.    Plat baja 0,3 mm atau bahan pengganti yang sesuai

2.    Paku beton.

Langkah Kerja

1.    Siapkan peralatan dan bahan

2.    Infentarisasikan peralatan komunikasi ataupun media informasi yang ada

pada bengkel sekolah, dengan mencatat nama, fungsi dan kondisinya.

3.    Buatlah beberapa media visual yang bermanfaat bagi bengkel sekolah

(konsultasikan dengan guru).

4.    Buatlah alat informasi tanda/isyarat yang sekiranya diperlukan di bengkel

sekolah (konsultasikan pada guru)

5.    Kembalikan peralatan dan bersihkan tempat kerja bila sudah selesai

praktik.

6.    Buatlah laporan kerja pada buku tugas.

 

LEMBAR KERJA

 

Kompetensi    :  Kontribusi dan Komunikasi di Tempat Kerja

Sub kompetensi:  Mempertahankan Prestasi di Tempat Kerja

Tujuan

1.    Siswa dapat menempatkan alat komunikasi pada tempat kerja secara tepat

2.    Siswa dapat menggunakan alat komunikasi yang ada pada bengkel sekolah

dengan benar

3.    Siswa dapat merawat/memelihara media informasi sesuai SOP.

Keselamatan Kerja

1.    Pergunakan peralatan sesuai fungsinya

2.    Bertanyalah kepada guru apa bila ragu-ragu/kurang jelas sewaktu akan

menggunakan peralatan

3.    Gunakan peralatan keselamatan kerja sesuai SOP saat menggunakan

peralatan bengkel.

Alat

1.  Paku  dan kawat baja

2.  Tangga

3.  Obeng, tes pen dan soldir

4.  Peralatan pengecatan.

Bahan

1.  Macam-macam media visual untuk tempat kerja/bengkel

2.  Paku beton

3.  Perangkat bel/alrm atau speaker

4.  Telephone, handphone, atau Aiphone

5.  Macam-macam kartu dan surat yang sesuai dengan aktifitas perotomotifan.

Langkah Kerja

1.  Siapkan peralatan dan bahan

2.  Dengan macam kartu yang ada infentarisasikan peralatan dan bahan yang

ada pada bengkel sekolah secara teliti.

3.  Pasanglah alat informasi fisual yang ada pada bengkel sekolah sesuai tempat

dan jenisnya secara benar.

4.  Operasikan Telphone,hand phone atau Aiphone yang ada pada bengkel

sekolah secara benar.

5.  Tanyakan pada petugas bengkel sekolah tentang penservisan kendaraan atau

engine yang ada kemudian isilah data pada kartu servis yang ada dan

gantungkan kartu pada kendaraan/engine yang dimaksud.

6.  Buatlah laporan kerja pada buku tugas.

BAB III

EVALUASI

A. Kriteria dan Instrumen Penilaian

 

    1. Kriteria Penilaian Pengetahuan  (Tes Formatif)

       a. Siswa dapat skor 7 (tujuh) bila tingkat kebenaran jawaban tiap

            item soal antara 70 % s/d 80 %.

       b. Siswa dapat skor 8 (delapan) bila tingkat kebenaran jawaban

             tiap  item soal antara 81 % s/d 90 %.

       c. Siswa dapat skor 9 (sembilan) bila tingkat kebenaran jawaban

             tiap item soal antara 91 % s/d 100 %.

       d. Setiap item soal harus mendapat nilai minimal 7 (tujuh).

            Bila belum mencapai nilai tujuh siswa wajib belajar kembali dan

            mengulang pada item tersebut.

 

     2. Kriteria Penilaian Praktik

      

NO.

ASPEK YANG DINILAI

INDIKATOR KEBERHASILAN

PENILAIAN

YA

TIDAK

7

8

9

 

1

2

3

4

5

6

7

1.

Inventarisasi media informasi pada tempat kerja Dapat mendata alat informasi yang ada pada tempat kerja secara maksimal.

2.

Dapat membuat alat informasi sederhana untuk tempat kerja Dapat membuat alat komunikasi yang ditentukan dengan benar.

3.

Menerapkan penggunaan alat komunikasi. * Dapat memasang

peralatan informasi di

tempat kerja.

* Menggunakan kartu

servis,pencatatan alat

dan barang,kartu

peminjaman alat dan

sebagainya.

* Dapat mengisi surat

perjanjian kerja,

pengiriman dan

penerimaan barang

dll.

* Dapat menggunakan

Speaker dengan

benar.

* Dapat menggunakan

Telephone, Hand

phone, atau Aiphone

dengan benar.

4.

K3 dan SOP Dapat menerapkan K3 dan SOP.
JUMLAH:

 

CATATAN:

1.  Nilai 7,00 (Lulus Baik/YA), tepat waktu dan memenuhi standar minimal

yang dipersyaratkan.

2.  Nilai 8,00 (Lulus Amat Bai k/YA), waktu lebih cepat dan memenuhi standar

minimal yang dipersyaratkan.

3.  Nilai 9,00 (Lulus Istimewa/YA), waktu lebih cepat dan kualitas melebihi

standar minimal yang dipersyaratkan.

DAFTAR KEMAJUAN SISWA

NAMA SISWA :  …………………………………………………………..

NIS                :   ………………………………………………………….

 

NO

TES FOR 1

TES

FOR 2

TES PRK 1

TES PRK 2

KETERANGAN

 

N1

N2

N3

N4

N =

 

(2xN1)+(2xN2)+(3xN3)+(3xN4)

     

                          10

 

1.

       

2.

       

3.

       

4.

       

5.

       

6.

       

7.

       

8.

       

9.

       

10.

       

     

 

 

 

 

N = ……………..

 

 

 

CATATAN:  Daftar kemajuan hanya diisi nilai materi yang sudah   

                   memenuhi standar minimal kelulusan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

Bagi Anda yang belum memenuhi standar kelulusan yang ditentukan, wajib mengulangi belajar pada modul ini, terutama pada item-item soal yang belum memenuhi standar kelulusan. Bagi Anda yang sudah berhasil lulus mendapatkan nilai akhir minimal 7,00 (tujuh koma nol nol) dapat melanjutkan ke modul berikutnya. Artinya Anda boleh mengajukan ‘Uji Kompetensi’ untuk mendapatkan sertifikat bahwa telah menyelesaikan modul ini!.

DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. Drs. (Tahun 2001). Keselamatan Kerja Bengkel Otomotif.

Jakarta : Bumi Aksara.

Noname. (Tahun 2004). Buku Garansi dan Servis. Jogyakarta : PT Sumber

Baru Motor

Noname. (Tahun 2004). Buku Petunjuk Pemilik. Jogyakarta : PT Sumber Baru

Motor

PPM ITB. (Tahun 2004). Kontribusi Komunikasi Tempat Kerja.

Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Dirjen Pendidikan Dasar dan

Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

Overhaul Komponen Sistem Pendingin

BAB. II

PEMELAJARAN

A.     RENCANA BELAJAR PESERTA DIKLAT

 

Rencanakan setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.    Memahami konstruksi dan cara kerja komponen sistem pendingin
2.    Melakukan overhaul komponen sistem pendingin

 


B.     KEGIATAN BELAJAR

 

Kegiatan Belajar 1. Konstruksi dan Cara Kerja Sistem Pendingin

                      

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

 

1.    Peserta diklat dapat menjelaskan fungsi sistem pendingin pada motor.

2.    Peserta diklat dapat menjelaskan kebaikan dan kelemahan sistem pendingin air dibanding sistem pendingin udara.

3.    Peserta diklat dapat menjelaskan cara kerja sistem pendingin air.

4.    Peserta diklat dapat menjelaskan cara kerja katup relief dan katup vacum pada tutup radiator.

5.    Peserta diklat dapat menjelaskan cara kerja thermostat

6.    Peserta diklat dapat menjelaskan cara kerja motor penggerak kipas pendingin.

b.   Uraian Materi

 

1.   Fungsi Sistem Pendingin

Panas yang dihasilkan oleh proses pembakaran di dalam motor dirubah menjadi tenaga gerak. Namun kenyataannya hanya sebagian dari panas tersebut yang dimanfaatkan secara efektif. Panas yang diserap motor harus dengan segera dibuang ke udara luar, sebab jika tidak maka motor akan terlalu panas dan komponen motor  cepat aus. Untuk itu pada motor dilengkapi dengan sistem pendingin yang berfungsi untuk mencegah panas yang berlebihan.

Pada motor bensin kira-kira hanya 23 %  energi panas  dari hasil pembakaran bahan bakar dalam silinder yang dimanfaatkan secara efektif sebagai tenaga. Sisanya terbuang dalam beberapa bentuk seperti diperlihatkan gambar pada halaman berikut.

 

Gambar 1.  Keseimbangan Panas

Pada gambar 17 di atas nampak bahwa dari total energi yang dihasilkan oleh proses pembakaran, hanya 25 % yang dimanfaatkan menjadi kerja efektif. Panas yang hilang bersama gas buang kira-kira 34 %, panas yang terbuang akibat proses pendinginan 32 %, akibat pemompaan 3 %, dan akibat gesekan 6 %.

Secara garis besar fungsi sistem pendingin pada motor adalah sebagai berikut:

a)    Untuk mengurangi panas motor. Panas yang dihasilkan oleh pembakaran campuran udara dan bahan bakar dapat mencapai sekitar 2500° C. Panas yang cukup tinggi ini dapat melelehkan logam atau komponen lain yang digunakan pada motor, sehingga apabila motor tidak dilengkapi dengan sistem pendingin dapat merusakkan komponen motor tersebut.

b)   Untuk mempertahankan agar temperatur motor selalu pada temperatur kerja yang paling efisien pada berbagai kondisi. Umumnya temperatur kerja motor antara 82 sampai 99° C. Pada saat komponen motor mencapai temperatur tersebut, komponen motor akan memuai sehingga celah (clearance) pada masing-masing komponen menjadi tepat.

Disamping itu kerja motor menjadi maksimum dan  emisi gas buang yang ditimbulkan menjadi minimum.

c)    Untuk mempercepat motor mencapai temperatur kerjanya dengan tujuan untuk mencegah terjadinya keausan yang berlebihan, kerja motor yang kurang baik, emisi gas buang yang berlebihan. Hal tersebut dapat terjadi karena pada saat motor bekerja pada temperatur yang dingin maka campuran bahan bakar dengan udara yang masuk ke dalam silinder tidak sesuai dengan campuran yang dapat menghasilkan kerja motor yang maksimum. Temperatur dinding silinder yang dingin mengakibatkan pembakaran menjadi tidak sempurna sehingga gas buang banyak mengandung emisi yang merugikan manusia. Oleh karena itu pada saat motor hidup temperatur kerja harus segera dicapai. Hal tersebut akan terpenuhi apabila pada motor terdapat sistem pendingin yang dilengkapi dengan komponen yang memungkinkan hal tersebut terjadi.

d)   Untuk memanaskan ruangan di dalam ruang penumpang, khusunya di negara-negara yang mengalami musim dingin.

2.   Macam Sistem Pendingin

Sistem pendingin yang biasa digunakan pada motor ada dua macam, yaitu sistem pendingin udara dan sistem pendingin air.

a)   Sistem Pendingin Udara

 

Pada sistem ini panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dan udara di dalam silinder sebagian dirambatkan keluar melalui sirip-sirip pendingin yang dipasang di luar silinder dan ruang bakar tersebut. Panas tersebut selanjutnya diserap oleh udara luar yang temperaturnya jauh lebih rendah dibanding temperatur sirip pendingin.

Untuk daerah mesin yang temperaturnya tinggi yaitu di sekitar ruang bakar diberi sirip pendingin yang lebih panjang dibanding di daerah sekitar silinder.

Udara yang menyerap panas dari sirip-sirip pendingin harus berbentuk aliran atau udaranya harus mengalir agar temperatur di sekitar sirip tetap rendah sehingga penyerapan panas tetap berlangsung secara sempurna. Aliran uadara ini kecepatannya harus sebanding dengan kecepatan putar  mesin agar temperatur ideal mesin dapat tercapai sehingga pendinginan dapat berlangsung dengan sempurna.

Untuk menciptakan aliran udara, ada dua cara yang dapat ditempuh yaitu menggerakkan udara atau siripnya. Apabila sirip pendinginnya yang digerakkan berarti mesinnya harus bergerak seperti mesin yang dipakai pada sepeda motor. Untuk mesin-mesin stasioner dan mesin-mesin yang penempatannya sedemikian rupa sehingga sulit untuk mendapatkan aliran udara, maka diperlukan blower yang fungsinya untuk menghembuskan udara. Penempatan blower yang digerakkan oleh poros engkol memungkinkan aliran udara yang sebanding dengan putaran mesin sehingga proses pendinginan dapat berlangsung sempurna.

b)   Sistem Pendingin Air

 

Pada sistem ini, panas dari hasil proses pembakaran bahan bakar dan udara dalam ruang bakar dan silinder sebagian diserap oleh air pendingin setelah melalui dinding silinder dan ruang bakar. Oleh karena itu di bagian luar dinding silinder dan ruang bakar dibuat mantel-mantel air (water jacket). Panas yang diserap oleh air pendingin pada water jacket selanjutnya akan menyebabkan naiknya temperatur air pendingin tersebut. Apabila air pendingin tersebut tetap berada pada mantel air, maka air akan cenderung mendidih dan menguap. Hal tersebut dapat dihindari dengan jalan mengganti air tersebut dengan air yang masih dingin sedangkan air yang telah panas harus dialirkan keluar dari mantelnya dengan kata lain harus bersirkulasi. Sirkulasi air tersebut ada dua macam yaitu sirkulasi alam atau thermo syphon dan sirkulasi dengan tekanan.

Kebanyakan mobil menggunakan sistem pendingin air dengan sirkulasi tekanan (forced circulation), sedangkan sepeda motor umumnya menggunakan sistem pendingin udara. Untuk selanjutnya pada modul ini akan dibahas sistem pendingin air dengan sirkulasi tekanan.

Konstruksi sistem pendingin air lebih rumit dibanding sistem pendingin udara sehingga biaya produksinya lebih mahal.  Secara rinci keunggulan sistem pendingin air antara lain: 1) Temperatur seluruh mesin lebih seragam sehingga kemungkinan distorsi kecil; 2)  Ukuran kipas relatif lebih kecil sehingga tenaga yang diperlukan kecil; 3) Mantel air dan air dapat meredam getaran; 4) Kemungkinan overheating kecil, walaupun dalam kerja yang  berat; 5) Jarak antar silinder dapat diperdekat sehingga mesin lebih ringkas. Di sisi lain sistem pendingin air mempunyai kerugian yaitu: 1) Bobot mesin lebih  berat (karena adanya air, radiator, dsb.); 2) Waktu pemanasan lebih lama; 3) Pada temperatur rendah diperlukan antifreeze; 4) Kemungkinan terjadinya kebocoran air sehingga mengakibatkan overheating; 5) Memerlukan kontrol yang lebih rutin.

Adapun konstruksi sistem pendingin air dengan sirkulasi tekanan dapat dilihat pada gambar 18. Sistem pendingin air dilengkapi dengan water jacket, pompa air, radiator, thermostat, kipas, dan selang karet. Masing-masing komponen sistem pendingin tersebut akan dibahas pada uraian tersendiri.

Gambar 2. Konstruksi Sistem Pendingin Air

Pada saat mesin masih dingin, air hanya bersirkulasi di sekitar mesin karena thermostat masih menutup. Dalam hal ini thermostat berfungsi untuk membuka dan menutup saluran air dari mesin ke radiator. Air mendapat tekanan dari pompa air, tetapi tekanan tersebut tidak mampu menekan thermostat menjadi terbuka. Untuk mencegah timbulnya tekanan yang berlebihan akibat proses pemompaan, maka pada sistem pendingin dilengkapi dengan saluran by pass, sehingga air yang bertekanan akan kembali melalui saluran by pass tersebut.

Gambar 3.  Sistem Pendingin Air Saat Mesin Dingin

Pada saat mesin panas, thermostat terbuka sehingga air yang telah panas di dalam water jacket (yang telah menyerap panas dari mesin), kemudian disalurkan ke radiator untuk didinginkan dengan kipas pendingin dan aliran udara dengan adanya gerakan maju dari kendaraan. Air pendingin yang sudah dingin kemudian ditekan kembali ke water jacket  oleh pompa air.

Gambar 4.  Sistem Pendingin Air Saat Mesin Panas

c)   Komponen Sistem Pendingin Air

Berbeda dengan sistem pendingin udara, pada sistem pendingin air jumlah komponennya lebih banyak. Pada umumnya komponen sistem pendingin air terdiri atas: radiator, pompa air, thermostat, kipas pendingin. Ada juga sistem pendingin air yang dilengkapi dengan kopling fluida.

1)   Radiator

 

Radiator berfungsi untuk mendinginkan cairan pendingin yang telah panas setelah melalui saluran water jacket. Bagian-bagian radiator antara lain: tangki air bagian atas (upper water tank), tangki air bagian bawah (lower water tank) dan inti radiator (radiator core). Cairan pendingin masuk ke tangki air bagian atas melalui selang atas. Pada tangki air bagian atas dilengkapi dengan lubang pengisian air dan saluran kecil yang menuju ke tangki cadangan. Pada tangki air bagian bawah dilengkapi dengan lubang penguras untuk mengeluarkan air pendingin pada saat mengganti cairan pendingin. Inti radiator terdiri atas pipa-pipa (tube) yang dapat dilalui air dari tangki atas ke tangki bawah. Disamping itu juga dilengkapi dengan sirip-sirip pendingin (fin) yang fungsinya untuk menyerap panas dari air pendingin. Biasanya radiator terletak di depan kendaraan sehingga radiator dapat didinginkan oleh gerakan kendaraan tersebut.

Gambar 5.  Konstruksi Radiator

Ada dua tipe inti radiator yang perbedaannya tergantung bentuk sirip-sirip pendinginnya, yaitu tipe plat (flat fin type) dan tipe lekukan (corrugated fin type) seperti terlihat pada gambar 6.

a.  Tipe plat                             b. Tipe lekukan

Gambar 6. Tipe Radiator

 

Beberapa kendaaraan modern menggunakan radiator versi terbaru yaitu tipe “SR“.

Gambar 7.  Tipe SR

Inti radiator tipe SR (single row) mempunyai susunan pipa tunggal sehingga bentuk radiator menjadi tipis dan ringan dibanding dengan radiator tipe lain.

Pada bagian atas tangki radiator dilengkapi dengan lubang pengisian dan tutup radiator. Dalam hal ini tutup radiator tidak hanya berfungsi untuk mencegah agar air pendingin tidak tumpah, tetapi berfungsi untuk mengatur arus lalu lintas air pendingin dari radiator ke tangki cadangan dan sebaliknya. Dengan demikian jika tutup radiator rusak, maka tidak dapat diganti dengan sembarang tutup. Pada tutup radiator dilengkapi dengan dua buah katup yaitu katup relief dan katup vacum.

 

Apabila volume air pendingin bertambah saat temperaturnya naik, maka tekanannya juga bertambah. Bila tekanan air pendingin mencapai 0,3–1,0 kg/cmpada 110-120° C, maka relief valve terbuka dan membebaskan kelebihan tekanan melalui pipa overflow sehingga sebagian air pendingin masuk ke dalam tangki cadangan.

       Gambar 8. Relief Valve             Gambar 9.  Air Pendingin Saat Panas

Pada saat temperatur air pendingin berkurang setelah mesin berhenti, maka dalam radiator terjadi kevacuman. Akibatnya vacum valve akan terbuka secara otomatis untuk menghisap udara segar mengganti kevacuman dalam radiator.

Kemudian diikuti dengancairan pendingin pada tekanan atmosfer apabila mesin sudah benar-benar dingin.

 

 

 

Gambar 10. Vacum Valve          Gambar 11.  Air Pendingin Saat Dingin


2)   Pompa air

 

Pompa air (water pump) berfungsi memompa air pendingin dari water jacket ke radiator yaitu dengan cara menekan cairan pendingin. Pada umumnya pompa air yang digunakan adalah jenis pompa sentrifugal (centrifugal pump). Pompa air ditempatkan di bagian depan blok silinder dan digerakkan oleh tali kipas atau fan belt.

 

Gambar 12.  Komponen Pompa Air

3)   Thermostat

 

Pada uraian terdahulu telah dijelaskan bahwa apabila air pendingin masih dalam keadaan dingin, maka air hanya bersirkulasi dalam water jacket. Apabila temperatur air pendingin telah panas maka air akan mengalir ke raditor untuk didinginkan. Komponen yang mengatur arus lalu lintas air dari water jacket  ke radiator dan sebaliknya adalah thermostat. Dalam hal ini thermostat berfungsi sebagai katup yang tugasnya membuka dan menutup saluran yang menghubungkan antara water jacket dan radiator.

Letak thermostat ada dua macam yaitu: thermostat yang letaknya di saluran air masuk (water inlet) dan thermostat yang letaknya di saluran air keluar (water outlet).

(1)   Thermostat  yang letaknya di saluran air keluar

Apabila temperatur air masih rendah, maka thermostat menutup aliran air pendingin ke radiator. Air pendingin dipompa oleh pompa air langsung ke blok mesin dan kepala silinder. Selanjutnya melalui sirkuit  by pass  kembali ke pompa air.

Gambar 13. Sistem Pendingin Dengan Thermostat di Saluran Air Keluar

Pada saat temperatur air pendingin telah panas, maka thermostat membuka sehingga cairan pendingin mengalir melalui thermostat ke radiator untuk didinginkan dan selanjutnya air kembali ke pompa air. Disamping itu air juga mengalir melalui sirkuit by pass.

(2)   Thermostat yang letaknya di saluran air masuk

Apabila temperatur air masih rendah, thermostat menutup saluran dan by pass valve membuka. Air pendingin dipompa ke blok silinder melalui kepala silinder, selanjutnya kembali ke pompa air melalui sirkuit by pass.

Gambar 14.   Sistem Pendingin dengan Letak Thermostat pada Saluran Air Masuk

 

 

Pada saat temperatur air pendingin menjadi tinggi, maka thermostat membuka saluran air dan by pass valve menutup. Air yang telah panas mengalir ke radiator untuk didinginkan, selanjutnya melalui thermostat dan kembali ke pompa air.

Thermostat dirancang untuk mempertahankan agar temperatur cairan pendingin dalam batas yang diijinkan. Pada umumnya efisiensi operasi mesin yang tertinggi apabila temperaturnya kira-kira pada 80°–90° C. Kerja thermostat tergantung oleh suhu, apabila suhunya naik maka thermostat membuka dan sebaliknya. Hal tersebut dapat terjadi karena didalam thermostat terdapat wax yang volumenya akan berubah apabila suhunya juga berubah. Perubahan volume akan menyebabkan silinder bergerak turun atau naik, mengakibatkan katup membuka atau menutup.

        

Gambar 15.  Cara Kerja Thermostat

Pada thermostat juga dilengkapi dengan jiggle valve yang digunakan untuk mengalirkan air pada saat menambahkan cairan pendingin ke dalam sistem.

a. Dengan katup bypass

b. Tanpa katup bypass

 

Gambar 16. Macam Thermostat

4)   Kipas pendingin

 

Kipas pada sistem pendingin digunakan untuk membantu proses pendinginan yang sudah dilakukan radiator. Pada proses pendinginan, radiator didinginkan oleh udara luar, tetapi pendinginannya belum cukup bila kendaraan tidak bergerak. Kipas pendingin ditempatkan di bagian belakang radiator. Penggerak kipas pendingin adalah mesin itu sendiri melalui sabuk (belt) atau motor listrik.

(1)   Kipas pendingin yang digerakkan poros engkol

Kipas pendingin jenis ini digerakkan terus menerus oleh poros engkol melalui tali kipas. Kecepatan kipas berubah sesuai dengan kecepatan mesin.

Gambar 17.  Kipas Pendingin yang Digerakkan Poros Engkol

Putaran kipas belum cukup besar apabila mesin masih berputar lambat, tetapi apabila mesin berputar dengan kecepatan tinggi, kipaspun berputar dengan kecepatan tinggi pula. Hal tersebut akan menambah tahanan sehingga kehilangan tenaga dan menimbulkan bunyi pada kipas. Untuk mencegah hal tersebut maka biasanya antara pompa air dan kipas pendingin dipasang sebuah kopling fluida.

(2)   Kipas pendingin yang digerakkan motor listrik

Berputarnya kipas pendingin yang digerakkan oleh motor listrik terjadi pada saat temperatur air pendingin panas. Temperatur air pendingin dikirimkan ke motor listrik melalui sinyal yang terdapat pada kepala silinder. Pada saat temperatur meningkat pada suatu tingkat yang ditetapkan, sinyal tersebut merangsang motor relay untuk menggerakkan motor listrik yang kemudian menggerakkan kipas pendingin. Dengan demikian kipas akan bekerja pada saat yang dibutuhkan, sehingga temperatur mesin dapat dicapai lebih cepat. Disamping itu juga membantu mengurangi suara bising yang ditimbulkan kipas pendingin.

Gambar  18. Kipas Pendingin yang digerakkan Motor Listrik

Berputarnya kipas pendingin apabila temperatur mesin melebihi 93° C. Hal tersebut diatur oleh coolant temperatur switch yang dipasang pada saluran air keluar dari mesin ke radiator dan relay dari motor listrik.

Apabila kunci kontak pada posisi ON, mesin berputar dan temperatur air pendingin di bawah 93° C seperti terlihat pada gambar 35, coolant temperatur switch pada keadaan ini titik kontaknya dalam keadaan tertutup sehingga arus listrik mengalir melalui kunci kontak, relay, titik kontak coolant temperatur switch dan ke massa. Arus listrik yang mengalir pada relay akan menyebabkan titik kontak pada relay terbuka sehingga arus listrik yang ke motor listrik tidak mengalir sehingga kipas tidak berputar.

Gambar 19. Cara Kerja Motor Penggerak Kipas saat Mesin Dingin

Apabila temperatur air pendingin melebihi 93° C, titik kontak pada coolant temperatur switch akan terbuka yang selanjutnya akan menyebabkan relay tidak bekerja dan titik kontaknya saling berhubungan. Pada keadaan ini arus listrik akan mengalir dari baterai ke motor listrik melalui kunci kontak dan titik kontak relay sehingga motor berputar bersama dengan kipas yang selanjutnya mengalirkan udara melalui inti radiator seperti terlihat pada gambar 36.

Gambar 20. Cara Kerja Motor Penggerak Kipas saat Mesin Panas


c.  Rangkuman

 

1.    Fungsi sistem pendingin pada motor adalah sebagai berikut:

a) Untuk mengurangi panas motor, karena panas yang dihasilkan oleh pembakaran campuran udara dan bahan bakar dapat mencapai sekitar 2500° C.

b) Untuk mempertahankan agar temperatur motor selalu pada temperatur kerja yang paling efisien pada berbagai kondisi.

c)  Untuk mempercepat motor mencapai temperatur kerjanya, karena untuk mencegah terjadinya keausan yang berlebihan, kerja motor yang kurang baik, emisi gas buang yang berlebihan.

d)  Untuk memanaskan ruangan di dalam ruang penumpang, khususnya di negara-negara yang mengalami musim dingin.

2.    Sistem pendingin yang digunakan pada motor pada umumnya ada dua macam yaitu:

a)    Sistem Pendingin Udara

Pada sistem ini panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dan udara di dalam silinder sebagian dirambatkan keluar melalui sirip-sirip pendingin yang dipasang di luar silinder dan ruang bakar tersebut. Panas tersebut selanjutnya diserap oleh udara luar yang temperaturnya jauh lebih rendah dibanding temperatur sirip pendingin. Untuk daerah mesin yang temperaturnya tinggi yaitu di sekitar ruang bakar diberi sirip pendingin yang lebih panjang dibanding di daerah sekitar silinder.

Udara yang menyerap panas dari sirip-sirip pendingin harus berbentuk aliran atau udaranya harus mengalir agar temperatur di sekitar sirip tetap rendah sehingga penyerapan panas tetap berlangsung secara sempurna. Untuk menciptakan aliran udara, ada dua cara yang dapat ditempuh yaitu menggerakkan udara atau siripnya.

b)   Sistem Pendingin Air

Pada sistem ini, panas dari hasil proses pembakaran bahan bakar dan udara dalam ruang bakar dan silinder sebagian diserap oleh air pendingin setelah melalui dinding silinder dan ruang bakar. Panas yang diserap oleh air pendingin pada water jacket selanjutnya akan menyebabkan naiknya temperatur air pendingin tersebut. Apabila air pendingin tersebut tetap berada pada mantel air, maka air akan cenderung mendidih dan menguap. Hal tersebut dapat dihindari dengan jalan mengganti air tersebut dengan air yang masih dingin sedangkan air yang telah panas harus dialirkan keluar dari mantelnya dengan kata lain harus bersirkulasi.

Konstruksi sistem pendingin air lebih rumit dibanding sistem pendingin udara sehingga biaya produksinya lebih mahal. Disisi lain sistem pendingin air mempunyai beberapa keunggulan antara lain: 1) Temperatur motor di beberapa tempat lebih merata, 2) Proses pemanasan motor lebih cepat, 3) Media pendingin yang berupa air dapat meredam suara mesin, 4) Media pendingin yang panas dapat digunakan sebagai sumber panas untuk memanaskan ruang penumpang.

3.    Pada sistem pendingin air dilengkapi dengan water jacket, pompa air, radiator, thermostat, kipas, dan selang karet. Apabila temperatur mesin masih dingin, air hanya bersirkulasi di sekitar mesin karena thermostat masih menutup. Dalam hal ini thermostat berfungsi untuk membuka dan menutup saluran air dari mesin ke radiator.

4.    Pada saat mesin panas, thermostat terbuka sehingga air yang telah panas di dalam water jacket (yang telah menyerap panas dari mesin), kemudian disalurkan ke radiator untuk didinginkan dengan kipas pendingin dan aliran udara dengan adanya gerakan maju dari kendaraan. Air pendingin yang sudah dingin kemudian ditekan kembali ke water jacket oleh pompa air.

5.     Pada umumnya komponen sistem pendingin air terdiri atas: radiator, pompa air, thermostat, kipas pendingin. Radiator berfungsi untuk mendinginkan air yang telah panas dari water jacket, sedang pompa air untuk menekan air dari water jacket ke radiator. Dalam hal ini yang mengatur arus lalu lintas air dari water jacket ke radiator adalah thermostat, sedang kipas pendingin berfungsi untuk mempercepat proses pendinginan dengan jalan mensirkulasikan udara yang ada di sekitar radiator agar proses pemindahan panas berlangsung dengan cepat.

6.     Kipas pendingin yang digerakkan dengan motor listrik mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya temperatur kerja mesin yang ideal dapat dicapai dengan cepat, suara mesin lebih halus selama kipas belum berputar, dan tenaga motor lebih besar karena putaran kipas tidak menyerap tenaga dari poros engkol.

d.   Tugas

 

1.    Seorang pengemudi mengeluh bahwa air pendingin yang ada di tangki cadangan tidak mau kembali ke radiator pada saat mesin dingin sehingga setiap saat harus mengisi air pendingin ke radiator. Bagaimana analisa anda terhadap gangguan tersebut dan bagaimana cara mengatasinya. Jelaskan dengan singkat dan jelas alasannya.

2.    Gambarlah sirkuit kelistrikan pada kipas pendingin yang digerakkan dengan motor listrik dan jelaskan pula kemungkinan gangguan yang terjadi jika kipas tidak mau berputar pada saat temperatur mesin telah panas (temperatur mesin telah melebihi  93° C).


e.   Tes Formatif

 

1.    Jelaskan apa fungsi sistem pendingin pada mesin dan bagaimana akibatnya apabila mesin tanpa pendingin?

2.    Jelaskan apa saja keuntungan dan kerugian sistem pendingin air dibanding dengan sistem pendingin udara?

3.    Jelaskan bagaimana cara kerja sistem pendingin air?

4.    Jelaskan dengan gambar bagaimana cara kerja katup relief dan katup vacum pada tutup radiator?

5.    Jelaskan dengan gambar bagaimana cara kerja thermostat ?


f.     Kunci Jawaban Tes  Formatif

 

1.    Fungsi sistem pendingin pada mesin adalah sebagai berikut:

a)    Untuk mengurangi panas motor, karena panas yang dihasilkan oleh pembakaran campuran udara dan bahan bakar dapat mencapai sekitar 2500° C.

b)   Untuk mempertahankan agar temperatur motor selalu pada temperatur kerja yang paling efisien pada berbagai kondisi.

c)    Untuk mempercepat motor mencapai temperatur kerjanya, karena untuk mencegah terjadinya keausan yang berlebihan, kerja motor yang kurang baik, emisi gas buang yang berlebihan.

d)   Untuk memanaskan ruangan di dalam ruang penumpang, khususnya di negara-negara yang mengalami musim dingin.

Apabila mesin tanpa pendingin maka panas yang dihasilkan motor dapat melelehkan logam atau komponen lain yang digunakan pada motor, sehingga  komponen motor tersebut akan rusak bahkan dapat berubah bentuk.

2.    Keuntungan sistem pendingin air dibanding sistem pendingin udara antara lain:

a)    Temperatur seluruh mesin lebih seragam sehingga   kemungkinan  distorsi kecil.

b)   Ukuran kipas relatif lebih kecil sehingga tenaga yang diperlukan kecil

c)    Mantel air dan air dapat meredam getaran

d)   Kemungkinan overheating kecil, walaupun dalam kerja yang  berat

e)    Jarak antar silinder dapat diperdekat sehingga mesin lebih ringkas.

Kerugiannya:

a)  Bobot mesin lebih  berat (air, radiator, dsb.)

b)  Waktu pemanasan lebih lama

c)  Pada temperatur rendah diperlukan antifreeze

d)  Kemungkinan terjadinya kebocoran air — > overheating

e)  Memerlukan kontrol yang lebih rutin

3.    Cara kerja sistem pendingin air adalah sebagai berikut:

a)    Pada saat mesin masih dingin, air hanya bersirkulasi di sekitar mesin karena thermostat masih menutup. Dalam hal ini thermostat berfungsi untuk membuka dan menutup saluran air dari mesin ke radiator. Air mendapat tekanan dari pompa air, tetapi tekanan tersebut tidak mampu menekan thermostat menjadi terbuka. Untuk mencegah timbulnya tekanan yang berlebihan akibat proses pemompaan, maka pada sistem pendingin dilengkapi dengan saluran by pass, sehingga air yang bertekanan akan kembali melalui saluran by pass tersebut.

b)   Pada saat mesin panas, thermostat terbuka sehingga air yang telah panas di dalam water jacket (yang telah menyerap panas dari mesin), kemudian disalurkan ke radiator untuk didinginkan dengan kipas pendingin dan aliran udara dengan adanya gerakan maju dari kendaraan. Air pendingin yang sudah dingin kemudian ditekan kembali ke water jacket  oleh pompa air.

4.    Cara kerja sistem pendingin air adalah sebagai berikut:

a)  Apabila volume air pendingin bertambah saat temperaturnya naik, maka tekanannya juga bertambah. Bila tekanan air pendingin mencapai 0,3–1,0 kg/cmpada 110-120° C, maka relief valve terbuka dan membebaskan kelebihan tekanan melalui pipa overflow sehingga sebagian air pendingin masuk ke dalam tangki cadangan.

        Gambar 21. Relief valve          Gambar 22. Air Pendingin Saat Panas

 

b)   Pada saat temperatur air pendingin berkurang setelah mesin berhenti, maka dalam radiator terjadi kevacuman. Akibatnya vacum valve akan terbuka secara otomatis untuk menghisap udara segar mengganti kevacuman dalam radiator. Kemudian diikuti dengan cairan pendingin pada tekanan atmosfer apabila mesin sudah benar-benar dingin.

      Gambar 23. Vacum Valve          Gambar 24.  Air Pendingin saat Dingin

5.    Cara kerja thermostat adalah sebagai berikut:

Thermostat dirancang untuk mempertahankan agar temperatur cairan pendingin dalam batas yang diijinkan. Pada umumnya efisiensi operasi mesin yang tertinggi apabila temperaturnya kira-kira pada 80°–90° C. Kerja thermostat tergantung oleh suhu, apabila suhunya naik maka thermostat membuka dan sebaliknya. Hal tersebut dapat terjadi karena didalam thermostat terdapat wax yang volumenya akan berubah apabila suhunya juga berubah. Perubahan volume akan menyebabkan silinder bergerak turun atau naik, mengakibatkan katup membuka atau menutup.

 

Gambar 25.  Cara Kerja Thermostat

g.     Lembar Kerja

 

1.    Alat dan Bahan

a)    1 Unit engine stand (live)

b)    Kunci sock, kunci momen

c)    Tool box

d)   Radiator cap tester

e)    Thermometer

f)     Panci air

g)   Kompor pemanas

h)   Lap/majun.

2.    Keselamatan Kerja

a)    Gunakanlah perlatan servis sesuai dengan fungsinya.

b)   Ikutilah instruksi dari instruktur/guru atau pun prosedur kerja yang tertera pada lembar kerja.

c)    Mintalah ijin kepada instruktur anda bila akan melakukan pekerjaan yang tidak tertulis pada lembar kerja.

d)   Bila perlu mintalah buku manual mesin yang dijadikan training object.

3.    Langkah Kerja

a)    Persiapkan alat dan bahan praktik secara cermat, efektif dan seefisien mungkin.

b)   Perhatikan instruksi praktik yang disampaikan oleh guru/ instruktur.

c)    Lakukan pemeriksaan pada komponen sistem pendingin!

d)   Lakukan diskusi tentang cara kerja sistem pendingin!

e)    Buatlah catatan-catatan penting kegiatan praktik secara ringkas.

f)     Setelah selesai, bereskan kembali peralatan dan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula.

4.    Tugas

a)    Buatlah laporan praktik secara ringkas dan jelas!

b)   Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan belajar!


Kegiatan Belajar 2. Overhoul Komponen Sistem Pendingin

 

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

 

1.    Peserta diklat dapat menjelaskan prosedur overhoul/pembongkaran komponen.

2.    Peserta diklat dapat menjelaskan prosedur penganalisaan gangguan.

3.    Peserta diklat dapat menjelaskan prosedur pemasangan kembali komponen.

b.   Uraian Materi

 

1.    Pemeriksaan dan Penggantian Media Pendingin

Pemeriksaan media pendingin meliputi pemeriksaan kapasitas dan kualitas media pendingin. Pemeriksaan kualitas pendingin meliputi pemeriksaan terhadap endapan karat atau kotoran di sekitar tutup radiator atau lubang pengisi radiator. Disamping itu media pendingin juga tidak boleh mengandung minyak pelumas. Adapun pemeriksaan kualitas dan kapasitas media pendingin dapat dilakukan sebagai berikut:

a)    Pemeriksaan kapasitas media pendingin

Kapasitas air pendingin dapat dilihat pada tangki cadangan (reservoir tank). Permukaan media pendingin harus berada diantara garis LOW dan FULL dalam keadaan mesin dingin. Apabila jumlah air pendingin kurang, periksa kebocoran dan tambahkan media pendingin sampai garis FULL.

 

b)     Pemeriksaan dan penggantian kualitas media pendingin

Endapan karat atau kotoran di sekitar tutup radiator atau lubang pengisi radiator harus sedikit. Apabila media pendingin terlalu kotor atau banyak mengandung karat (berwarna kuning) harus dilakukan penggantian dengan cara sebagai berikut:

(1)   Melepas tutup radiator. Pada saat membuka tutup radiator, mesin harus dalam keadaan dingin. Apabila tutup radiator dibuka dalam keadaan panas, cairan dan uap yang bertekanan akan menyembur keluar.

(2)   Mengeluarkan media pendingin melalui lubang penguras dengan cara mengendorkan atau melepas baut penguras.

(3)   Menutup lubang penguras, kemudian isilah dengan media pendingin berupa ethylene glycol base yang baik dan campurlah sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatnya. Pendingin yang dianjurkan ialah yang mengandung ethylene glycol base lebih dari 50 % tetapi tidak lebih dari 70 %). Media pendingin tipe alcohol tidak disarankan dan harus dicampur dengan air sulingan.

(4)   Memasang tutup radiator

(5)   Menghidupkan mesin dan periksa kebocoran

(6)   Memeriksa permukaan media pendingin dan tambahkan jika diperlukan.

2.     Pelepasan, Pemeriksaan dan Penggantian Pompa Air

Pompa air perlu diperiksa apabila air dalam sistem pendingin tidak bersirkulasi, karena fungsi pompa air adalah untuk menekan air pendingin sehingga dapat bersirkulasi didalam sistem. Gejala yang ditimbulkan apabila pompa air tidak bekerja adalah temperatur mesin naik dengan cepat pada saat mesin hidup. Pompa air juga perlu diganti apabila seal perapat telah aus atau sudah tidak mampu menahan tekanan air. Dalam kenyataannya seringkali seal pompa tidak tersedia di pasaran, sehingga apabila terjadi kebocoran air akibat seal pompa, maka harus mengganti unit pompa secara keseluruhan.

Untuk melepas pompa dari sistem pendingin sebaiknya mengikuti prosedur yang benar. Demikian pula pelepasan komonen-komponen pompa. Pelepasan dan pemasangan komponen yang tidak benar akan mengakibatkan kerja pompa tidak optimal. Selanjutnya dalam kegiatan belajar ini akan dibahas berturut-turut prosedur pelepasan, pemeriksaan dan pemasangan pompa air.

a)     Prosedur pelepasan pompa air dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(1)   Mengeluarkan media pendingin mesin

(2)   Melepas tali kipas, kipas, kopling fluida (jika ada) dan puli pompa air dengan prosedur sebagai berikut:

(a)   Merentangkan tali kipas dan mengendurkan mur pengikat tali kipas

(b)   Mengendorkan pivot dan baut penyetel, alternator, kemudian lepas tali kipas.

(c)   Melepas mur pengikat kipas dengan kopling fluida dan puli

(d)   Melepas mur pengikat kipas dari kopling fluida

Gambar  26. Urutan Pembongkaran Pompa Air

 

(3)   Melepas pompa air

b)     Pemeriksaan komponen pompa air:

(1)   Pemeriksaan pompa air dapat dilakukan dengan cara memutar dudukan puli dan mengamati bahwa bearing pompa air tidak kasar atau berisik. Apabila diperlukan, bearing pompa air harus diganti.

Gambar 27.  Bagan Pompa Air

(2)  Pemeriksaan kopling fluida dari kerusakan dan kebocoran minyak silicon.

Gambar 28.  Pemeriksaan Kopling Fluida, dan-

Gambar 29.   Konstruksi Kopling Fluida

c)    Prosedur pelepasan komponen pompa air:

Komponen pompa air terdiri atas: bodi pompa, dudukan puli, bearing, satuan seal, rotor, gasket dan plat (lihat gambar 3). Nama komponen yang diberi tanda  ◊ adalah komponen yang tidak dapat digunakan lagi setelah dilakukan pelepasan komponen.

Gambar 30.  Komponen Pompa Air

Adapun prosedur pelepasan komponen pompa air adalah sebagai berikut:

(1)  Melepas plat pompa dengan cara melepas baut pengikatnya (lihat gambar 4)

Gambar 31.  Cara Melepas Plat

(2)   Melepas dudukan puli dengan menggunakan SST dan pres, tekan poros bearing dan lepas dudukan puli

Gambar 32.     Cara Melepas

                        Dudukan Puli

(3) Melepas bearing pompa dengan cara sebagai berikut:

(a) Memanaskan bodi pompa secara bertahap sampai mencapai suhu 75° – 85°  C

(b)  Menekan poros bearing dan melepas bearing dan rotor dengan menggunakan SST dan mesin press

(4) Melepas rakitan seal dengan menggunakan SST dan mesin press

d)     Prosedur perakitan komponen pompa air:

(1)  Memasang bearing pompa dengan cara sebagai berikut:

(a) Memanaskan bodi pompa secara bertahap sampai mencapai suhu 75° – 85°  C

(b) Menggunakan SST dan mesin press, tekan poros bearing dan lepas bearing dan rotor. Permukaan bearing harus rata dengan bodi pompa.

(2)  Memasang seal pompa dengan cara sebagai berikut:

(a)  Oleskan seal pada seal baru dan bodi pompa

(b)  Menggunakan SST dan mesin press, pasang seal

(3) Memasang dudukan puli menggunakan SST dan mesin

press pada   poros bearing pompa.

(4)  Memasang rotor menggunakan mesin press pada poros bearing pompa. Permukaan rotor harus rata dengan permukaan poros bearing

(5)  Memasang plat pompa, periksa bahwa rotor tidak menyentuh plat pompa.

(6) Memeriksa bahwa pompa air berputar lembut.

3.     Pelepasan, Pemeriksaan dan Pemasangan Thermostat

a)     Prosedur pelepasan thermostat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(1)   Mengeluarkan media pendingin mesin

(2)   Melepas saluran air keluar (selang karet atas)

(3)   Melepas tutup rumah thermostat, kemudian mengeluarkan thermostat dari rumahnya.

Gambar 33.  Melepas Tutup Thermostat

 

b)  Pemeriksaan thermostat, dengan cara sebagai berikut:

(1)  Mencelupkan thermostat ke dalam air dan panaskan air secara bertahap, kemudian periksa temperatur pembukaan katup.

 

Gambar 34.  Memeriksa Kerja Thermostat

Temperatur pembukaan katup: 80° – 90° C. Jika temperatur pembukaan katup tidak sesuai dengan spesifikasi, thermostat perlu diganti.

(2)  Memeriksa tinggi kenaikan katup. Jika kenaikan katup tidak   sesuai dengan spesifikasi, maka termostat perlu diganti. Spesifikasi kenaikan katup pada 95° C: 8 mm atau lebih.

Gambar 35.  Pemeriksaan Tinggi Kenaikan Katup

c)  Prosedur pemasangan thermostat dengan cara sebagai berikut:

(1)  Memasang gasket baru pada thermostat

 

 

 

 

 

Gambar 36. Memasang Gasket Baru

(2)   Meluruskan jiggle valve pada thermostat dengan tanda di sisi kanan dan masukkan ke dalam rumah saluran. Posisi jiggle valve dapat digeser, 10° ke kiri atau ke kanan dari  tanda.

(3)   Memasang saluran air keluar.

 

 

 

 

Gambar 37. Pemasangan thermostat

4.    Pemeriksaan dan Pengujian  Sistem Pendingin

Pemeriksaan dan pengujian dalam sistem pendingin adalah pemeriksaan kebocoran pada sistem pendingin. Untuk memeriksa kebocoran sistem pendingin diperlukan alat yang disebut “Radiator Cap Tester“. Alat tersebut disamping dipakai untuk memeriksa kebocoran pada sistem pendingin juga dapat digunakan untuk menentukan kondisi tutup radiator.

a)  Pemeriksaan tutup radiator dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(1)  Melepas  tutup radiator, kemudian pasang tutup radiator pada radiator cap tester (alat uji tutup radiator). Untuk mencegah terjadinya bahaya panas, tidak diperkenankan membuka tutup radiator dalam keadaan mesin masih panas, karena cairan dan uap bertekanan akan menyembur keluar.

(2)  Memeriksa tutup radiator dengan alat uji tutup radiator.  Lakukan pemompaan dan ukurlah tekanan pembukaan katup vakum.

Gambar 38.  Pemeriksaan Tutup Radiator

Tekanan pembukaan standar:

0,75 – 1,05 kg/cm2   (10,7 – 14,9 psi)

Tekanan pembukaan minimum : 0,6 kg/cm2   (8,5 psi)

Untuk pemeriksaan tutup raditor sebaiknya menggunakan pembacaan maksimum sebagai tekanan pembukaan. Apabila tekanan pembukaan kurang dari minimum, maka tutup radiator perlu diganti.

b)   Pemeriksaan kebocoran sistem pendingin dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(1) Isilah radiator dengan media pendingin, kemudian pasanglah radiator cap tester pada lubang pengisian media pendingin pada radiator seperti pada gambar 39.

Gambar 39.  Pemeriksaan Kebocoran Pada Sistem Pendingin

 

(2)   Pompalah radiator cap tester sampai tekanan 1,2 kg/cm2   (17,1 psi), dan periksa bahwa tekanan tidak turun. Apabila tekanan turun berarti ada kebocoran pada sistem pendingin atau pada komponen sistem pendingin. Oleh karena itu perlu diperiksa kebocoran pada saluran pendingin, radiator, dan pompa air. Apabila tidak ditemukan kebocoran pada komponen tersebut, maka perlu diperiksa blok dan kepala.


c.     Rangkuman

 

1.      Pemeriksaan dan Penggantian Media Pendingin

Pemeriksaan media pendingin dalam hal ini adalah air pendingin mutlak diperlukan, karena apabila kapasitas dan kualitas air pendingin tidak pernah diperhatikan akan mengganggu proses pendinginan.  Kekurangan media pendingin akan menyebabkan mesin overheating, yaitu temperatur mesin berlebihan sehingga dapat mengakibatkan kerusakan pada komponen mesin. Hal tersebut dapat terjadi karena sistem pelumasan akan terganggu akibat kenaikan suhu yang berlebihan. Demikian juga kualitas pendingin sangat berpengaruh terhadap kinerja sistem pendingin. Air pendingin yang tidak pernah diganti akan menimbulkan kerak-kerak pada komponen yang dilalui media pendingin sehingga proses pendinginan tidak optimal.

2.      Pemeriksaan komponen pompa air meliputi pemeriksaan bearing pompa, seal pompa, dan rotor pompa. Bearing pompa yang sudah bersuara berisik mengindikasikan bahwa komponen telah rusak dan perlu segera diganti. Apabila kerusakan bearing tidak segera diperbaiki, dikhawatirkan pompa akan macet (tidak dapat berputar) sehingga proses pendinginan akan terhenti. Akibatnya mesin menjadi overheating yang pada gilirannya komponen mesin menjadi rusak.

Dalam melakukan pelepasan dan perakitan pompa air, harus memperhatikan prosedur atau langkah-langkah yang benar, karena kesalahan pemasangan akan mengakibatkan gangguan proses kerja pompa air. Setelah komponen pompa dilepas ada beberapa komponen yang tidak boleh dipasang lagi, artinya komponen tersebut harus diganti dengan yang baru. Komponen tersebut antara lain: bearing, rotor, satuan seal, dan gasket.

3.      Pemeriksaan thermostat diperlukan manakala air pendingin tidak dapat bersirkulasi. Namun demikian penyebab air tidak dapat bersirkulasi bukan semata-mata disebabkan kerusakan thermostat. Penyebab lain dari gejala tersebut adalah kerusakan pada pompa air, dimana rotor pompa aus atau keropos sehingga pompa air tidak dapat menekan medi pendingin tersebut. Prosedur pemeriksaan thermostat harus dilakukan dengan cermat mengingat cara kerjanya didasarkan atas perubahan suhu. Dengan demikian pada waktu melakukan pengamatan ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu saat membukanya katup dan pada suhu berapa thermostat tersebut membuka.

4.      Pemeriksaan kebocoran sistem pendingin diperlukan alat khusus yang disebut “Radiator cap tester“ (alat uji raditor) yaitu suatu alat yang dapat memberikan tekanan pada sistem pendingin. Alat tersebut diperlukan karena kadang-kadang pada saat mesin berhenti atau dalam keadaan dingin tidak nampak adanya kebocoran, tetapi pada saat mesin hidup sampai pada temperatur tertentu, baru nampak adanya kebocoran. Hal tersebut dapat terjadi karena pada temperatur tinggi tekanan media pendingin naik sehingga mampu menembus bagian tertentu dari sistem pendingin (selang air, radiator, pompa, dsb) yang sudah lama umur pemakaiannya. Dengan demikian pada saat mesin dingin tidak terjadi kebocoran, tetapi setelah mesin panas kebocoran baru nampak. Untuk itu diperlukan alat uji kebocoran dengan jalan memberi tekanan pada sistem pendingin.

d.     Tugas

1.     Terjadinya overheating dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain karena gangguan pada sistem pendingin.  Buatlah ringkasan beberapa penyebab mesin overheating dengan observasi di bengkel umum terhadap kasus-kasus mesin overheating yang masuk ke bengkel tersebut. Jelaskan juga  bagaimana cara mengatasi problem tersebut sehingga mesin dapat kembali normal!

2.     Seorang pemilik mobil mengeluh bahwa mobilnya cepat panas, padahal media pendingin dalam keadaan penuh. Bagaimana cara anda menentukan kerusakan yang terjadi pada sistem pendingin mobil tersebut ? Langkah-langkah apa yang harus anda lakukan mulai dari yang paling sederhana sampai pada kasus yang agak kompleks!

e.     Tes formatif

 

1.     Jelaskan bagaimana prosedur pemeriksaan dan penggantian media pendingin?

2.     Jelaskan mengapa pompa air perlu diperiksa?

3.     Jelaskan bagaimana prosedur pemeriksaan thermostat ?

4.     Jelaskan mengapa pemeriksaan kebocoran sistem pendingin harus dengan alat khusus yaitu radiator cap tester?

5.     Jelaskan bagaimana prosedur pemeriksaan kebocoran pada sistem pendingin?

6.     Jelaskan bagaimana prosedur pemeriksaan tutup radiator?


f.      Kunci jawaban tes formatif

 

1.     Pemeriksaan media pendingin meliputi pemeriksaan kapasitas dan kualitas air pendingin dengan cara sebagai berikut:

a)     Pemeriksaan kapasitas media pendingin

Kapasitas air pendingin dengan melihat jumlah air pada tangki cadangan (reservoir tank). Permukaan media pendingin harus berada diantara garis LOW dan FULL dalam keadaan mesin dingin. Apabila jumlah air pendingin kurang, periksa kebocoran dan tambahkan media pendingin sampai garis FULL.

b)     Pemeriksaan dan penggantian kualitas media pendingin

Pemeriksaan kualitas air pendingin meliputi pemeriksaan terhadap endapan karat atau kotoran di sekitar tutup radiator atau lubang pengisi radiator. Adapun prosedur pemeriksaan kualitas air pendingin dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(1)      Melepas tutup radiator. Pada saat membuka tutup radiator, mesin harus dalam keadaan dingin. Apabila tutup radiator dibuka dalam keadaan panas, cairan dan uap yang bertekanan akan menyembur keluar.

(2)      Mengeluarkan media pendingin melalui lubang penguras dengan cara mengendorkan atau melepas baut penguras.

(3)      Menutup lubang penguras, kemudian isilah dengan media pendingin berupa ethylene glycol base yang baik dan campurlah sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatnya. Pendingin yang dianjurkan ialah yang mengandung ethylene glycol base lebih dari 50 % tetapi tidak lebih dari 70 %). Media pendingin tipe alcohol tidak disarankan dan harus dicampur dengan air sulingan.

(4)      Memasang tutup radiator

(5)      Menghidupkan mesin dan periksa kebocoran

(6)      Memeriksa permukaan media pendingin dan tambahkan jika diperlukan.

2.    Pemeriksaan pompa air diperlukan apabila air dalam sistem pendingin tidak bersirkulasi, karena fungsi pompa air adalah untuk menekan air pendingin sehingga dapat bersirkulasi didalam sistem. Gejala yang ditimbulkan apabila pompa air tidak bekerja adalah temperatur mesin naik dengan cepat pada saat mesin hidup. Pompa air juga perlu diperiksa apabila terdengar suara berisik di sekitar popmpa. Hal tersebut dapat terjadi apabila bantalan pompa telah rusak. Adakalanya pompa air juga perlu diganti apabila seal perapat telah aus atau sudah tidak mampu menahan tekanan air. Dalam kenyataannya seringkali seal perapat pompa tidak tersedia di pasaran, sehingga apabila terjadi kebocoran air akibat seal pompa, maka harus mengganti unit pompa secara keseluruhan.

3.     Prosedur pemeriksaan thermostat adalah sebagai berikut:

a)     Mencelupkan thermostat ke dalam air dan panaskan air secara bertahap, kemudian periksa temperatur pembukaan katup.

Gambar 40.  Memeriksa Kerja Thermostat

Temperatur pembukaan katup: 80°-90° C. Jika temperatur pembukaan katup tidak sesuai dengan spesifikasi, thermostat perlu diganti.

b)     Memeriksa tinggi kenaikan katup. Jika kenaikan katup tidak   sesuai dengan spesifikasi, maka termostat perlu diganti. Spesifikasi kenaikan katup pada 95° C : 8 mm atau lebih.

Gambar 41Pemeriksaan Tinggi Kenaikan Katup

4.      Pemeriksaan kebocoran sistem pendingin diperlukan alat khusus yang disebut “Radiator cap tester“ (alat uji raditor) yaitu suatu alat yang dapat memberikan tekanan pada sistem pendingin. Alat tersebut diperlukan karena kadang-kadang pada saat mesin berhenti atau dalam keadaan dingin tidak nampak adanya kebocoran, tetapi pada saat mesin hidup sampai pada temperatur tertentu, baru nampak adanya kebocoran. Hal tersebut dapat terjadi karena pada temperatur tinggi tekanan media pendingin naik sehingga mampu menembus bagian tertentu dari sistem pendingin (selang air, radiator, pompa, dsb) yang sudah lama umur pemakaiannya. Dengan demikian pada saat mesin dingin tidak terjadi kebocoran, tetapi setelah mesin panas kebocoran baru nampak. Untuk itu diperlukan alat uji kebocoran dengan jalan memberi tekanan pada sistem pendingin.

5.      Prosedur pemeriksaan kebocoran pada sistem pendingin adalah:

a)     Isilah radiator dengan media pendingin, kemudian pasanglah radiator cap tester pada lubang pengisian media pendingin pada radiator seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 42.  Pemeriksaan Kebocoran pada Sistem Pendingin

b)     Pompalah radiator cap tester sampai tekanan 1,2 kg/cm2   (17,1 psi), dan periksa bahwa tekanan tidak turun. Apabila tekanan turun berarti ada kebocoran pada sistem pendingin atau pada komponen sistem pendingin. Oleh karena itu perlu diperiksa kebocoran pada saluran pendingin, radiator, dan pompa air. Apabila tidak ditemukan kebocoran pada komponen tersebut, maka perlu diperiksa blok dan kepala silinder.

6.      Prosedur pemeriksaan tutup radiator adalah sebagai berikut:

Melakukan pemompaan pada radiator cap tester dan mengukur tekanan pembukaan katup vakum.

Gambar 43.  Pemeriksaan Tutup Radiator

Tekanan pembukaan standar: 0,75 – 1,05 kg/cm2   (10,7–14,9 psi)

Tekanan pembukaan minimum: 0,6 kg/cm2   (8,5 psi)

Untuk pemeriksaan tutup raditor sebaiknya menggunakan pembacaan maksimum sebagai tekanan pembukaan. Apabila tekanan pembukaan kurang dari minimum, maka tutup radiator perlu diganti.

 

g.     Lembar Kerja

 

1.    Alat dan Bahan

a)    1 Unit engine stand (live)

b)   Peralatan tangan, kunci pas/ring atau tang

c)    Radiator cap tester

d)   Lap/majun.

2.    Keselamatan Kerja

a)    Gunakanlah perlatan tangan sesuai dengan fungsinya.

b)   Ikutilah instruksi dari instruktur/guru atau pun prosedur kerja yang tertera pada lembar kerja.

c)    Mintalah ijin dari instruktur anda bila hendak melakukan pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja.

d)   Bila perlu mintalah buku manual motor bensin yang menjadi training object.

3.    Langkah Kerja

a)    Persiapkan alat dan bahan praktikum secara cermat, efektif dan seefisien mungkin.

b)   Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh guru/instruktur.

c)    Lakukan pelepasan, pemeriksaan dan penggantian sistem pendingi.

d)   Buatlah catatan-catatan penting kegiatan praktikum secara ringkas.

e)    Setelah selesai, bereskan kembali peralatan dan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula.

4.    Tugas

 

a)    Buatlah laporan praktikum secara ringkas dan jelas!

b)   Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan belajar!


BAB. III

EVALUASI

A.   PERTANYAAN

1.     Jelaskan apa fungsi sistem pendingin pada kendaraan bermotor?

2.     Jelaskan kebaikan dan kerugian sistem pendingin air dibanding sistem pendingin udara?

3.     Jelaskan dengan gambar cara kerja katup relief dan katup vacum pada tutup radiator?

4.     Bagaimana prosedur pemeriksaan kebocoran pada sistem pendingin?

5.     Bagaimana prosedur pemeriksaan thermostat?

6.     Apa penyebab kipas pendingin yang digerakkan dengan motor tidak mau berputar meskipun mesin telah panas. Bagaimana analisa anda terhadap gangguan tersebut?

B.   KUNCI JAWABAN

 

1.     Fungsi sistem pendingin pada kendaraan bermotor adalah:

a)    Untuk mengurangi panas motor, karena panas yang dihasilkan oleh pembakaran campuran udara dan bahan bakar dapat mencapai sekitar 2500° C. Panas yang cukup tinggi ini dapat melelehkan logam atau komponen lain yang digunakan pada motor, sehingga apabila motor tidak dilengkapi dengan sistem pendingin dapat merusakkan komponen motor tersebut.

b)   Untuk mempertahankan agar temperatur motor selalu pada temperatur kerja yang paling efisien pada berbagai kondisi. Umumnya temperatur kerja motor antara 82 sampai 99° C. Pada saat komponen motor mencapai temperatur tersebut, komponen motor akan memuai sehingga celah (clearance) pada masing-masing komponen menjadi tepat. Disamping itu kerja motor menjadi maksimum dan  emisi gas buang yang ditimbulkan menjadi minimum.

c)    Untuk mempercepat motor mencapai temperatur kerjanya dengan tujuan untuk mencegah terjadinya keausan yang berlebihan, kerja motor yang kurang baik, emisi gas buang yang berlebihan. Hal tersebut dapat terjadi karena pada saat motor bekerja pada temperatur yang dingin maka campuran bahan bakar dengan udara yang masuk ke dalam silinder tidak sesuai dengan campuran yang dapat menghasilkan kerja motor yang maksimum. Temperatur dinding silinder yang dingin mengakibatkan pembakaran menjadi tidak sempurna sehingga gas buang banyak mengandung emisi yang merugikan manusia.

d)   Untuk memanaskan ruangan di dalam ruang penumpang, khususnya di negara-negara yang mengalami musim dingin.

2.     Kebaikan sistem pendingin air antara lain: 1) Temperatur seluruh mesin lebih seragam sehingga kemungkinan distorsi kecil; 2)  Ukuran kipas relatif lebih kecil sehingga tenaga yang diperlukan kecil; 3) Mantel air dan air dapat meredam getaran ; 4) Kemungkinan overheating kecil, walaupun dalam kerja yang  berat; 5) Jarak antar silinder dapat diperdekat sehingga mesin lebih ringkas. Kerugian sistem pendingin air antara lain: 1) Bobot mesin lebih  berat (karena adanya air, radiator, dsb.); 2) Waktu pemanasan lebih lama; 3) Pada temperatur rendah diperlukan antifreeze; 4) Kemungkinan terjadinya kebocoran air sehingga mengakibatkan overheating; 5) Memerlukan kontrol yang lebih rutin.

3.     Apabila volume air pendingin bertambah saat temperaturnya naik, maka tekanannya juga bertambah. Bila tekanan air pendingin mencapai 0,3–1,0 kg/cmpada 110-120° C, maka relief valve terbuka dan membebaskan kelebihan tekanan melalui pipa overflow sehingga sebagian air pendingin masuk ke dalam tangki cadangan.

 

Pada saat temperatur air pendingin berkurang setelah mesin berhenti, maka dalam radiator terjadi kevacuman. Akibatnya vacum valve akan terbuka secara otomatis untuk menghisap udara segar mengganti kevacuman dalam radiator. Kemudian diikuti dengan cairan pendingin pada tekanan atmosfer apabila mesin sudah benar-benar dingin.

4.     Prosedur pemeriksaan sistem pendingin adalah sebagai berikut:

a)    Isilah radiator dengan air  pendingin, kemudian  pasanglah radiator cap tester pada lubang pengisian media pendingin pada radiator seperti pada gambar di bawah.

b)   Pompalah radiator cap tester sampai tekanan 1,2 kg/cm2   (17,1 psi), dan periksa bahwa tekanan tidak turun. Apabila tekanan turun berarti ada kebocoran pada sistem pendingin atau pada komponen sistem pendingin. Oleh karena itu perlu diperiksa kebocoran pada saluran pendingin, radiator, dan pompa air. Apabila tidak ditemukan kebocoran pada komponen tersebut, maka perlu diperiksa blok dan kepala.

5.     Prosedur pemeriksaan thermostat adalah sebagai berikut:

a)    Mencelupkan thermostat ke dalam air dan panaskan air secara bertahap, kemudian periksa temperatur pembukaan katup.

Temperatur pembukaan katup: 80° – 90° C. Jika temperatur pembukaan katup tidak sesuai dengan spesifikasi, thermostat perlu diganti.

b)   Memeriksa tinggi kenaikan katup. Jika kenaikan katup tidak   sesuai dengan spesifikasi, maka termostat perlu diganti. Spesifikasi kenaikan katup pada 95° C: 8 mm atau lebih.

6.     Penyebab kipas pendingin yang digerakkan dengan motor tidak mau berputar meskipun mesin telah panas adalah:

a)    Coolant temperatur switch rusak/tidak bekerja

b)   Relay kipas rusak atau tidak bekerja

c)    Motor penggerak kipas rusak atau tidak bekerja

d)   Jaringan kabel penghubung putus atau hubung singkat.


C.      KRITERIA KELULUSAN

Kriteria Skor

(1-10)

Bobot Nilai:

Skor x Bobot

Keterangan

Kognitif (soal no 1 s.d 4)

5 Syarat lulus nilai minimal 70

Ketepatan prosedur pemeriksaan

1

Hasil pemeriksaan

2

Ketepatan waktu

1

Keselamatan kerja

1
Nilai Akhir

Keterangan:

Tidak              =       0 (nol)                   (tidak lulus)

Ya                  =       70 s.d. 100   (lulus)

70 s.d. 79       :        memenuhi kriteria minimal dengan bimbingan

80 s.d. 89       :        memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan

90 s.d. 100     :        di atas minimal tanpa bimbingan.

BAB. IV

PENUTUP

Peserta diklat yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke modul berikutnya. Sebaliknya, apabila peserta diklat dinyatakan tidak lulus, maka peserta diklat tersebut harus mengulang modul ini dan tidak diperkenankan untuk mengambil modul selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Anonim. (t.th.).  Materi Pelajaran Engine Group Step 1., Jakarta: PT Toyota  Astra Motor.

Anonim. (1995).  Materi Pelajaran Engine Group Step 2., Jakarta: PT Toyota–Astra Motor.

Anonim.  (1995).  New Step 1 Training Manual. Jakarta: PT Toyota–Astra Motor.

Anonim.  (1993).  Pedoman Reparasi Mesin 1E, 2E.  Jakarta: PT Toyota  Astra Motor.

Anonim.  (1995).  Pedoman Reparasi Mesin 7 K. Jakarta: PT Toyota–Astra Motor.

Crouse, William H, dan Anglin, Donald L (1986). Automotive Engines. New   York: Mc Graw Hill.

Toboldt, William K, dan Johnson, Larry. (1977). Automotive Encyclopedia. South Holland: The Goodheart Willcox.

Wardan Suyanto. (1986). Teori Motor Bensin. Jakarta: Depdikbud: Dirjen Dikti, Proyek Pengembangan LPTK.

 

PemeliharaanServis Engine dan Komponen-komponennya

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Deskripsi

Modul Pemeliharaan/servis Engine dan komponen-komponennya dengan kode OPKR. 20-001-1 B membahas tentang prinsip kerja motor,identifikasi jenis-jenis motor dan komponennya.

Materi kompetensi yang terdapat pada modul ini merupakan sub kompetensi dari kompetensi pemeliharaan/servis engine secara keseluruhan. Apabila siswa menguasai sub kompetensi ini, akan mudah mempelajari sub kompetensi berikutnya yaitu OPKR. 20-001-2 B tentang perawatan/servis engine dan komponen-komponennya secara berkala, yang di industri perotomotifan dikenal dengan sebutan Tune-up engine.

Setelah melaksanakan modul ini diharapkan siswa dapat memahami  prinsip kerja motor, jenis-jenis motor dan komponennya serta dapat mengidentifikasi jenis-jenis motor dan komponen-komponennya.

Kompetensi yang terdapat dalam modul ini akan membekali siswa pengetahuan dan ketrampilan serta sikap yang benar yang terkait dengan setiap pekerjaan overhaul dan perawatan motor, sehingga siswa memiliki kemampuan yang dapat diterapkan di dunia industri perotomotifan.

Modul ini dibagi menjadi 2 kegiatan belajar yaitu: kegiatan belajar 1  prinsip kerja engine dan jenis-jenis engine beserta komponen-komponennya, kegiatan belajar 2 melakukan identifikasi jenis-jenis engine dan komponennya.

B.   Prasyarat

Sebelum memulai modul ini, anda harus sudah menyelesaikan modul OPKR.10-016 B tentang K3,  OPKR. 10-017 B tentang penggunaan peralatan dan perlengkapan tempat kerja, OPKR. 10-018 tentang kontribusi, komunikasi di tempat kerja serta modul lainnya yang harus dipelajari lebih awal sesuai dengan peta kedudukan modul.

C.   Petunjuk Penggunaan Modul

1.    Petunjuk Bagi Siswa

Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal dalam  mempelajari materi modul ini, langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:

a.    Bacalah dan pahamilah dengan seksama uraian-uraian materi  yang ada pada kegiatan belajar.

b.    Bila ada  materi yang kurang jelas, siswa  dapat bertanya pada guru yang mengampu kegiatan belajar tersebut.

c.     Kerjakanlah setiap tugas formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.

d.    Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik perhatikanlah hal-hal berikut ini:

1)    Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang diberikan.

2)    Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik.

3)    Sebelum   melaksanakan   praktik,   siapkan   alat  dan   bahan yang diperlukan secara cermat (lihat lembar kerja).

4)    Gunakan alat sesuai prosedur yang   pemakaian  yang   benar Untuk melakukan kegiatan belajar praktik yang belum jelas, harus meminta ijin guru lebih dahulu.

5)    Setelah selesai praktik, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

e.    Siswa dinyatakan menguasai materi, bila  sudah dapat menjawab  seluruh soal dengan benar tanpa melihat buku atau kunci jawaban,     serta dapat menyelesaikan praktik sesuai standar minimal yang ditentukan. Bila belum berhasil siswa wajib mengulangi.

f.     Bila siswa sudah dinyatakan berhasil, siswa bersama guru dapat membuat rencana uji kompetensi dengan menghadirkan lembaga sertifikasi profesi setempat yang telah diakui keberadaannya, untuk mendapatkan pengakuan kompetensi dengan sertifikat.

g.    Konsultasikan dengan guru   pada saat merencanakan proses belajar, saat menemui   kesulitan dalam   menjawab   soal-soal   maupun   pada waktu melaksanakan praktik,ataupun bila memerlukan sumber belajar yang lain dapat mengkomunikasikan dengan guru bila        membutuhkan pendamping dari industri pada saat belajar,  juga  saat akan mengerjakan modul berikutnya.

2.    Petunjuk Bagi Guru

Dalam setiap kegiatan belajar guru berperan untuk:

a.    Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar.

b.    Membimbing siswa melalui  tugas-tugas  pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.

c.     Membantu siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan siswa mengenai proses belajarnya.

d.    Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.

e.    Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.

f.     Membantu siswa mencarikan pendamping dari industri bila diperlukan.

g.    Mencatat hasil kemajuan siswa.

h.    Melaksanakan penilaian internal

i.      Menjelaskan pada siswa apabila ada yang perlu dibenahi dan merundingkan pada siswa rencana pemelajaran berikutnya.

D.   Tujuan Akhir

Setelah mempelajari secara keseluruhan materi  kegiatan  belajar dalam modul ini siswa diharapkan:

1.    Memahami  prinsip kerja, jenis-jenis engine/motor dan komponennya.

2.    Dapat melakukan identifikasi, jenis-jenis engine/motor dan komponen-komponennya.


E.    KOMPETENSI

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETRAMPILAN

1.Memelihara/servis engine dan komponen-komponennya *Pemeliharaan/servis engine

dan komponen-komponennya

dilakukan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya

*Informasi yang benar diakses dari spesifikasi pabrik dan dipahami

*Data yang tepat dilengkapi sesuai hasil pemeliharaan/servis

*Seluruh kegiatan dilaksanakan berdasarkan SOP dan K3

*Prinsip kerja engine

*Komponen-komponen engine

*Data spesifikasi pabrik

*Menerapkan

SOP dalam mengidentifikasi komponen-komponen engine

*Menerapkan  K3

*Melaksanakan kegiatan yang kompleks dan tidak rutin,menjadi mandiri dan bertanggung jawab untuk pekerjaan yang lainnya.

*Prinsip kerja engine

*Jenis-jenis engine dan komponen-komponennya

*Persyaratan keamanan peralatan/ komponen dan keselamatan diri

*Melaksa

nakan identifikasi jenis-jenis engine dan komponennya

 

 

 

 

 


F.    Kemampuan

Sebelum siswa mempelajari modul ini,siswa dapat mencoba mengerjakan soal-soal yang ada pada lembar soal formatif tanpa melihat uraian materi atau kunci jawaban. Bila siswa sudah merasa bisa, guru pembimbing supaya melakukan pengetesan. Dan apabila siswa benar sudah menguasai materi sesuai standar minimal yang ditentukan, guru pembimbing menyediakan modul pemelajaran berikutnya untuk dipelajari siswa. Tetapi bila belum bisa, supaya siswa melanjutkan mempelajari modul ini.

BAB II

PEMELAJARAN

A.   Rencana Belajar Siswa

Rencanakanlah setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi table di bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.  Prinsip    kerja engine 2

langkah dan 4 langkah,

jenis-jenis engine dan

komponennya.

2.  Identifikasi jenis-jenis

engine dan

komponennya

B.   Kegiatan Belajar

Kegiatan Belajar 1: Prinsip Kerja Engine, jenis-jenis engine dan komponennya.

a.    Tujuan Kegiatan Belajar

Siswa dapat menjelaskan prinsip kerja engine 2 langkah dan 4 langkah. Jenis-jenis engine dan komponennya.

b.    Uraian Materi

1.    Prinsip Kerja Engine

Motor/engine /mesin adalah suatu  alat yang  merubah tenaga panas, listrik, air dan  sebagainya menjadi tenaga  mekanik.   Sedang  motor  yang merubah tenaga panas menjadi tenaga  mekanik  disebut motor bakar.  Motor  bakar   dibagi   menjadi   motor   pembakaran    dalam (internal combustion chamber) dan motor pembakaran luar (eksternal   combustion   chamber).  Sedang  motor  bensin dan disel termasuk motor pembakaran dalam  karena  tenaga panas  dihasilkan di dalam motor itu sendiri. Bila  ditinjau  dari  langkah  (Stroke)   pada   proses  pembakarannya, motor yang berkembang saat ini ada motor 2 langkah dan motor 4 langkah. Dan yang dimaksud langkah (Stroke)  adalah seperti berikut ini :

 Gambar 1. Langkah/stroke motor

TDC = Top Death Center atau Titik Mati Atas (TMA)

BDC = Bottom Death Centre atau Titik Mati Bawah (TMB)

Titik  mati  atas  adalah batasan  maksimal  gerakan  piston  ke atas, sedang titik mati bawah adalah batasan maksimal gerakan piston ke bawah.

a)   Prinsip Kerja motor bensin 2 langkah

Langkah kompresi,buang dan penghisapan:

Pada langkah ini piston 6 bergerak dari TMB ke TMA, di atas piston terjadi tekanan sehingga ketika piston belum menutup saluran buang 2, gas sisa pembakaran akan mengalir ke saluran  buang dan ketika piston menutup saluran buang, di dalam ruang bakar 5  terjadi kompresi. di bawah piston terjadi penghisapan, campuran bahan bakar dan udara masuk ke ruang engkol  9, melalui saluran  pemasukan 1 .

Langkah usaha, pemasukan  dan  buang:

Beberapa derajat sebelum piston mencapai TMA busi 4 meloncatkan api sehingga terjadi pembakaran, tenaga pembakaran akan mendorong piston ke bawah  dan  melalui connecting  rod 7  tenaga  tersebut dikirim menjadi tenaga mekanik pada crank shaft 8. Di  bawah  piston terjadi tekanan.  Pada  saat  saluran  buang  terbuka  dan saluran pemasukan tertutup,  pemasukan  campuran  baru ke ruang bakar sekaligus mendorong gas bekas keluar melalui saluran buang. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut:

Gambar 2. Prinsip kerja motor bensin 2 langkah

b)   Prinsip kerja motor bensin 4 langkah

Langkah hisap:

Piston bergerak dari TMA ke TMB, katup masuk membuka, campuran  bahan  bakar  dan  udara  masuk  ke  ruang bakar, katup buang menutup.

Langkah kompresi:

Piston  bergerak  dari  TMB  ke TMA,  katup   masuk  dan  katup  buang  tertutup,  campuran  bahan  bakar dan udara dikompresikan dengan tekanan antara 9 Kg/cm2-12 Kg/cm2.

 

 

Langkah usaha:

Beberapa derajad sebelum TMA busi meloncatkan api akan terjadilah pembakaran. Tenaga pembakaran kan  mendorong piston dari TMA ke TMB, tenaga tersebut  akan dikirim  oleh connecting rod menjadi tenaga putar pada crank shaft.dan   pada  saat ini kedua  katup  dalam keadaan tertutup.

Langkah buang:

Piston bergerak dari TMB ke TMA, katup masuk menutup dan katup buang membuka, gas sisa pembakaran akan terdorong keluar melalui saluran buang. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut:

Gambar 3. Prinsip kerja motor bensin 4 langkah

c)    Prinsip kerja motor disel 2 langkah

Langkah   usaha   dan    pemasukan:

Pada saat tejadi pembakaran di ruang bakar,tenaga panas akan   mendorong piston dari TMA ke TMB, tenaga tersebut oleh  connecting rod dikirim ke crank  shaft menjadi tenaga putar. Pada saat ini saluran buang  tertutup  (A).  Pada  saat  piston  melewati  lubang-lubang pemasukan pada didnding silinder, maka terjadilah pemasukan udara murni ke dalam silinder, saluran buang terbuka (B).

Langkah  buang dan  kompresi:

Piston  bergerak dari TMB ke TMA. Karena  saluran  buang   terbuka, maka udara murni akan mendorong gas bekas  keluar  dari  silinder  menuju saluran buang selama saluran buang membuka  (B). Pada saat saluran buang mulai menutup terjadilah  pengkompresian  udara  murni  di atas piston dengan tekanan   antara 16 Kg/cm–  22 Kg/cm2, dan beberapa derajad sebelum  piston  mencapai TMA, bahan bakar disemprotkan ke dalam  silinder  sehingga  terjadilah pembakaran (C). Untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut :

Gambar 4. Prinsip kerja motor disel 2 langkah

 

d)   Prinsip kerja motor disel 4 langkah

Langkah hisap:

Piston bergerak dari TMA ke TMB, katup masuk membuka dan  katup buang menutup, udara murni masuk ke ruang bakar (A).

Langkah kompresi:

Piston  bergerak  dari TMB ke TMA, katup masuk dan buang   menutup, udara  murni di ruang bakar terkompresikan (B).

 

 

Langkah usaha:

Beberapa  derajad sebelum TMA, bahan bakar disemprotkan   ke   ruang bakar, sehingga  terjadi pembakaran.Tenaga  pembakaran  akan  mendorong  piston dari TMA ke TMB, dan  melalui  connecting  rod  tenaga  tersebut   dirubah  menjadi tenaga putar pada crank shaft (C).

Langkah  buang:

Piston bergerak dari TMB  ke TMA, katup masuk tertutup dan katup buang membuka. Pada saat ini gas sisa pembakaran akan   terdorong keluar dari silinder ke saluran pembuangan (D)

Gambar 5. Prinsip kerja motor disel 4 langkah

 

e)   Perbedaan antara motor bensin dan disel

Dari  prinsip  kerja  engine dapat dilihihat perbedaan antara engine bensin  dengan disel.  Secara  garis  besar  komponen – komponen engine  bensin  dan  disel hampir sama, yang membedakan antara keduanya adalah seperti pada tabel berikut berikut:

Item

Motor Diesel

Motor Bensin

Siklus Pembakaran Siklus Sabathe Siklus Otto
Tekanan kompresi 16-22 Kg/cm2 9-12 Kg/cm2
Ruang bakar Rumit Sederhana
Percampuran bahan bakar Diinjeksikan pada akhir langkah Dicampur dalam karburator
Metode penyalaan Terbakar sendiri Percikan busi
Bahan bakar Solar Bensin
Getaran suara Besar Kecil
Efisiensi panas (%) 30-40 22-30

2.    Jenis-jenis engine

a)   Engine ditinjau dari jumlah silindernya

Bila  ditinjau  dari  jumlah  silindernya  ada  engine  dengan  silinder satu, dua, tiga, empat, enam, delapan dan seterusnya.

Gambar 6. Engine silinder 1

 

 

Gambar 7. Engine bersilinder 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8. Engine bersilinder 4

Gambar 9. Engine bersilinder 6

 

b)   Engine ditinjau dari susunan silindernya

Bila ditinjau dari susunan silindernya engine terbagi menjadi beberapa Tipe yaitu: tipe in-line, tipe V dan tipe horizontal berlawanan.

Gambar 10. Engine tipe In-line

Gambar 10. Engine tipe V

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 11. Engine tipe Horizontal berlawanan

c)    Engine ditinjau dari penempatan mekanisme katupnya

Bila ditinjau dari mekanisme katupnya engine  dibagi  menjadi: tipe Over Head Valve (OHV), tipe Over Head  Cam shaft  (OHC) dan tipe

Double Over Head Cam shaft (DOHC).

Gambar 12. Mekanisme katup tipe Over Head Valve (OHV)

Gambar 13. Mekanisme katup tipe Over Head Cam shaft (OHC)

 

 

 

 

 

Gambar 14. Mekanisme katup tipe Double Over Head Cam shaft (DOHC)

d)   Engine bila ditinjau dari penggerak mekanik katupnya

Bila  ditinjau  dari penggerak mekanik katupnya: dengan penggerak roda gigi, timing  chain dan timing belt.  Perhatikan gambar-gambar

berikut:

Gambar 15. Mekanik katup dengan penggerak roda gigi (timing gear)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

               Gambar 16. Mekanik katup dengan penggerak timing chain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 17. Mekanik katup dengan penggerak timing belt

e)   Engine bila ditinjau dari penggunaan bahan bakarnya

Bila ditinjau dari penggunaan bahan bakarnya engine dibagi:  Engine gasoline (motor bensin), engine diesel, engine cerosine (motor minyak tanah) dan engine LPG. Untuk keperluan kendaraan motor bensin dan disel relatif lebih banyak digunakan.

Gambar 18. Engine Gasoline (motor bensin)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 19. Engine Diesel (motor disel)

3.    Komponen-komponen Engine

Engine terdiri  dari  komponen-komponen  engine  dan   bagian-bagian pendukung kerja engine. Yang dimaksud  komponen-komponen  engine  meliputi: Blok silinder, kepala silinder, mekanik katup, kelengkapan  piston, poros engkol, poros nok dan roda penerus. Sedang bagian-bagian penunjang kerja engine meliputi: Sistem pendinginan, sistem pelumasan, sistem bahan bakar dan sistem pengapian.

a)   Blok silinder (cylinder block) 

Pada bagian linernya sebagai tempat terjadinya proses pembakaran. Selain itu juga sebagai tempat kerjanya komponen-komponen yang  lain seperti piston, poros engkol, poros nok. Pada bagian atas blok silinder dipasang kepala silinder dan pada bagian bawah dipasang panci oli.

Gambar 20. Blok silinder (Cylinder Block)

b)   Kepala silinder (Cylinder Head)   

Membentuk ruang bakar atau tempat ruang bakar tambahan. Pada kepala silinder juga digunakan untuk menempatkan kelengkapan   mekanik katup, saluran pemasukan dan juga saluran pembuangan.

                                                                   Gambar 21. Kepala silinder (cylinder head)

§  Keterangan gambar kepala silinder:

Spark plug (Busi): untuk meloncatkan api tegangan tinggi.

Adjusting shim: penyetel celah katup

Valve lifter: Sebagai pengangkat katup

Exaust valve: untuk membuka dan menutup saluran buang

Valve guide: Untuk penghantar gerakan katup

Gasket: sebagai perapat

Water jacket: untuk saluran air pendingin

Cylinder block: untuk tempat pembakaran/tempat bekerjanya Piston.

Piston : untuk merubah tenaga panas menjadi tenaga mekanik.

Combustion chamber : untuk tempat pembakaran                        Valve seat : sebagai tempat dudukan kepala katup                                    Oil seal : Sebagai perapat oli agar tidak masuk ke ruang bakar

Intake valve: untuk membuka dan menutup saluran pemasukan.

Valve keepers: sebagai pengunci antara katup dengan pegas katup.

To exhaust manifold : disambung dengan manifold buang

To intake manifold : disambung dengan manifold masuk

Pada kepala silinder juga diletakkan atau dibentuk ruang bakar (Combustion  Chamber). Ada beberapa jenis ruang bakar untuk motor bensin yaitu jenis: setengah  bulat, baji, bak mandi dan pent roof.

Gambar 22. Ruang bakar setengah bulat        Gambar 23. Ruang bakar Baji

 

 

 

                                                               

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 24. Ruang bakar Bak mandi      Gambar 25. Ruang bakar Pent Roof

Sedangkan jenis ruang bakar untuk motor disel Injeksi langsung (Direct Injection) ada: Multi Spherical, Hemispherical dan Spherical

Gambar 26. Ruang bakar Injeksi langsung

Ruang bakar untuk motor disel injeksi tidak langsung (indirect injection) ada: ruang bakar kamar depan (Pre combustion chamber, ruang bakar kamar pusar (Swirl chamber) dan model sel udara (Air cell)

Gambar 27. Ruang bakar kamar depan

Nozzle (injector): untuk menyemprotkan bahan bakar ke ruang Bakar.

Pre combustion chamber : untuk tempat pembakaran awal

Glow plug (Busi pijar) : untuk pemanas ruang bakar                          Combustion chamber : untuk tempat pembakaran utama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 28. Ruang bakar kamar pusar

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 29. Ruang bakar sel udara

c)    Mekanik katup (valve mekanism)

Katup pada umumnya diletakkan pada kepala silinder. Metode penggerak mekanik katup menggunakan: timing gear, timing chain   atau dengan timing belt. Adapun fungsi katup untuk membuka dan menutup ruang bakar sesuai proses yang terjadi di dalam silinder.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 30. Model Timing Gear

Model  timing  gear  digunakan  pada  motor jenis  OHV  (Over Head Valve) dan menggunakan lifter serta push rod.                                Timing gear : untuk  penghubung putaran  poros  engkol  dengan poros nok, sekaligus menepatkan posisi katup dengan piston.

Gambar 31. Model Timing Chain

Model timing chain digunakan  pada  motor  jenis  OHC  (Over Head Cam  shaft)  atau   DOHC  (Double  Over  Head  Cam  shaft).  Poros Noknya  terletak pada  kepala  silinder, digerakkan oleh rantai, serta Roda  gigi  sprocket sebagai pengganti timing gear. Tegangan rantai diatur oleh tensioner dan getarannya diredam oleh Vibration damper.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 32. Model Timing Belt

Pada model timing belt, poros nok digerakkan oleh sabuk yang Bergigi sebagai pengganti rantai. Jenis ini tidak memerlukan tensioner dan pelumasan. Cam shaft dan crank shaft timing pulley: untuk menepatkan posisi katup dengan piston.

d)   Kelengkapan Piston (Piston Assy)     

Piston berfungsi menghisap dan mengkompresi campuran bahan bakar dan udara pada motor bensin atau udara murni pada motor disel, juga sebagai pembentuk ruang bakar. Selain itu piston juga meneruskan tenaga panas hasil pembakaran menjadi tenaga mekanik pada poros engkol melalui batang piston. Kelengkapan piston terdiri dari: Piston, ring piston, pena piston dan batang piston.

Gambar 33. Konstruksi piston (Torak)

Compression ring grooves: untuk menempatkan ring kompresi

Oil ring grooves: untuk menempatkan ring oli

Piston pin boss: untuk bantalan dudukan pena piston

Piston pin hole: untuk menempatkan pena piston

Lands: sebagai pembatas ring piston

Skirt: sebagai penyerap panas.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 34. Ring piston dan alurnya pada piston

Ring piston terdiri dari ring kompresi (compression ring) dan ring Oli (oil ring). Ring kompresi sebagai perapat kompresi sekaligus Perapat agar pembakaran  tidak  merambat ke bawah  piston. Sedang ring oli untuk menyapu oli pelumas pada dinding silinder agar kembali ke panci oli. Untuk motor dua langkah tidak menggunakan ring oli karena panci oli terpisah dengan ruang  engkol.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 35. Pena piston (Piston Pin)

Pena piston berfungsi menyambung piston dengan batang piston agar dapat bergerak sesuai fungsinya masing-masing. Oleh sebab itu penyambungan pena piston ada beberapa tipe, antara lain: tipe Fixed, full floating dan semi floating

Gambar 36. Tipe penyambungan pena piston

Gambar 37. Batang piston (Conecting Rod)  Gambar 38. Conecting rod bearing

Batang piston berfungsi untuk merubah gerak lurus pada piston menjadi gerak putar pada poros engkol.

Small end : untuk menempatkan pena piston

Big end : untuk pemegang pin journal pada poros engkol

Conecting rod bearings : sebagai bantalan

Oil hole : untuk menyalurkan oli pendingin menuju piston

Conecting rod cap : sebagai penahan connecting rod dengan pin Journal.

e)   Poros engkol (Crank shaft)

Poros engkol menerima beban dari piston dan batang piston, akibat tenaga hasil pembakaran. Poros ini berfungsi untuk meneruskan tenaga/putaran ke roda penerus.

Gambar 39. Poros engkol (crank shaft)

Oil hole: Untuk saluran pelumasan

Crank pin: untuk tempat tumpuan big end batang piston

Crank journal: sebagai titik tumpu pada blok motor                                    Counter balance weight: sebagai bobot penyeimbang putaran

f)    Poros nok (Cam shaft)

Poros nok adalah sebuah poros yang dilengkapi dengan nok-nok sebagai penggerak mekanik katup. Poros nok sebagai penggerak mekanik katup ada yang hanya untuk katup buang atau katup  masuk saja, ada pula yang sekaligus menggerakkan katup masuk dan buang.

                             Gambar 40. Poros nok (Cam shaft)

Journal: sebagai titik tumpu putaran poros

Cam shaft drive gear: sebagai gigi pemutar

Cam shaft driven gear: sebagai gigi yang diputarkan

Intake cam shaft: penggerak mekanik katup masuk

Exhaust cam shaft: penggerak mekanik katup buang                      Cam shaft timing pulley: untuk menepatkan posisi katup dengan piston.

Cut-out groove: untuk menggerakkan didtributor

g)   Roda penerus (Fly wheel)                                  

Roda penerus   dipasang  pada  out put  poros engkol dan berfungsi sebagai  penerus  putaran/tenaga dari  mesin  ke  sistem  pemindah tenaga  kendaraan  (Power  train).  Kecual i itu  roda  penerus  juga untuk  meneruskan  putaran dari motor starter ke poros engkol agar mesin dapat distart.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 41. Roda penerus (Fly wheel)

 

h)   Panci oli (Oil punch)                                          

Panci oli dipasang pada blok motor paling bawah dan berfungsi sebagai penampung oli motor.

Gambar 42. Panci oli (Oil punch)

i)     Sistem pendinginan (Cooling System)

Secara umum sistem pendinginan engine bensin dan disel sama. Sedangkan fungsi utama sistem pendinginan adalah untuk mengontrol suhu kerja engine. Untuk dapat melaksanakan fungsinya, sistem pendinginan dilengkapi dengan komponen-komponen berikut:

Radiator: menampung air pendingin untuk didinginkan.

Slang bawah radiator: Untuk mengalirkan air ke engine.

Slang atas radiator: Untuk mengalirkan air panas dari engine.

Thermostaat: Sebagai pengontrol suhu kerja engine.

Pompa air/Water pump: untuk mensirkulasikan air.

Tali kipas/Fan belt: Untuk menggerakkan kipas pendingin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 43. Sistem Pendinginan air

 

j)    Sistem Pelumasan (Lubrycating System)

Sebagian besar mekanik engine yang bergerak memerlukan pelumasan, hal ini dimaksudkan agar komponen-komponen engine tidak cepat aus dan kinerja engine tetap terjaga. Adapun komponen sistem pelumasan meliputi: Saringan (strainer), pompa oli, saringan oli (Oil filter), saluran oli (hole).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                     Gambar 44. Sistem pelumasan (Lubrycating System)

k)   Sistem Bahan bakar (Fuel System)

Pada prinsipnya sistem  bahan bakar berfungsi menyuplai bahan bakar sesuai kebutuhan engine. Sistem  bahan  bakar engine bensin menggunakan karburator dan sistem bahan bakar engine disel menggunakan pompa injeksi dan nozel. Sistem bahan bakar engine bensin terdiri dari:

Tangki (Fuel tank): sebagai penampung bahan bakar

Pompa (Fuel pump): Menyuplai bahan bakar dari tangki ke Karburator.

Karburator: Untuk mencampur udara dan bahan bakar.

Saringan : Untuk menyaring bensin dari kotoran yang ada.

Gambar 45. Sistem bahan bakar engine bensin

Sedangkan sistem bahan bakar engine disel mempunyai komponen seperti berikut:

Tangki (Fuel pump): untuk menampung bahan bakar.

Pompa penyalur (Priming pump): Untuk menyalurkan bahan bakar ke dalam sistem saat membliding udara.

Pompa pemindah (Feed pump): menyuplai bahan bakar dari tangki ke pompa injeksi.

Pompa injeksi (Injection pump): untuk menyuplai bahan bakar ke nozel dengan tekanan tinggi.

Pengendap air (Water cendimeter): Untuk mengendapkan air yang ada pada bahan bakar.

Saringan (Fuel filter): menyaring bahan bakar.

Injektor (Nozzle): Menginjeksikan bahan bakar ke ruang bakar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

        Gambar 46. Sistem bahan bakar engine disel dengan Pompa In-line

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

         

 

Gambar 47. Sistem bahan bakar engine disel dengan pompa rotary

l)     Sistem Pengapian konvensional

Sistem pengapian digunakan pada engine bensin, adapun fungsinya memberikan api bertegangan tinggi ke dalam ruang bakar untuk pembakaran. Komponen-komponen sistem pengapian antara lain:

Baterai: sebagai penyimpan arus listrik.

Kunci kontak (Switch): Untuk memutus dan menghubungkan arus listrik dengan sistem.

Koil: Merubah arus primer menjadi arus skunder bertegangan Tinggi.

Distributor: Mendistribusikan/membagi arus tegangan tinggi ke busi-busi.

Kondensator: Menyimpan arus primer saat platina menutup, dan menyalurkan kembali saat platina membuka.

Busi: Meloncatkan api bertegangan tinggi ke dalam ruang bakar untuk pembakaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                    Gambar 48. Sistem pengapian engine bensin konvensional

 

c.    Rangkuman

1.    Motor bakar adalah motor yang merubah tenaga panas menjadi tenaga mekanik dengan proses pembakaran.

2.    Ditinjau dari tempat pembakarannya, motor terdiri dari motor pembakaran dalam dan motor pembakaran luar.

3.    Motor pembakaran dalam (internal combustion chamber) adalah motor yang proses pembakarannya terjadi di dalam motor itu sendiri.

4.    Ditinjau dari langkah (Stroke) motor terdiri dari motor 2 langkah dan motor 4 langkah.

5.    Yang dimaksud langkah piston (Stroke) adalah gerak piston dari TMA ke TMB atau sebaliknya.

6.    Motor 2 langkah adalah motor yang sekali usaha (menghasilkan tenaga) memerlukan 2 langkah piston sekali putaran crank shaft.

7.    Motor 4 langkah adalah motor yang sekali usaha (menghasilkan tenaga) memerlukan 4 langkah piston atau 2 putaran crank shaft.

8.    Ditinjau dari siklus pembakaran, metode pembakaran dan penggunaan bahan bakar motor terdiri dari motor bensin dan motor disel.

9.    Motor bensin menggunakan siklus otto sedang motor disel menggunakan siklus sabathe.

10. Bahan bakar motor bensin adalah bensin/premium/gasoline sedang motor disel menggunakan solar/light oil.

11. Metode pembakaran  motor  bensin dengan percikan api busi, sedang motor disel dengan kompresi tinggi (terbakar sendiri/self ignition).

12. Engine ditinjau dari jumlaah silindernya ada engine bersilinder Satu, dua,tiga,empat,enam,delapan dan seterusnyaa.

13. Engine bila ditinjau dari susunan silindernya: jenis in-line, jenis V dan jenis horizontal berlawanan.

14. Engine bila ditinjau dari mekanisme katupnya : tipe OHV, tipe OHC dan DOHC.

15. Engine bila ditinjau dari penggunaan bahan bakarnya: motor bensin, motor cerosine, motor LPG dan motor disel.

16. Komponen utama motor: Cylinder block, cylinder head, valve mekanism, piston  assy, crank shaft, fly wheel, cam shaft dan oil punch.

17. Cylinder block sebagai tempat bekerjanya piston, tempat pembakaran dan menopang komponen engine yang lainnya.

18. Cylinder head untuk menempatkan mekanik katup dan ruang bakar.

19. Jenis ruang bakar motor bensin: setengah bulat,baji, bak mandi dan pent roof.

20. Jenis ruang bakar motor disel: injeksi langsung dan tak langsung.

21. Ruang bakar injeksi langsung: model multi pherical, hemispherical dan pherical.

22. Ruang bakar injeksi tak langsung: model kamar depan, kamar pusar dan sel udara.

23. Metode penggerak katup: dengan timing gear, timing chain dan timing belt.

24. Kelengkapan piston:  piston,  piston ring,  connecting rod, piston pin, bearing cap dan insert bearing.

25. Piston berfungsi untuk mengkompresi  campuran gas atau udara murni, juga merubah tenaga panas menjadi tenaga mekanik.

26. Batang piston untuk meneruskan gerak lurus piston menjadi gerak putar pada poros engkol.

27. Piston ring kompresi untuk perapat kompresi, sedang oil ring untuk menyapu oli pada dinding silinder.

28. Pena piston untuk menyambung piston dengan connecting rod.

29. Macam  penyambungan  pena piston: Fixed, full floating dan semi floating.

30. Crank shaft untuk meneruskan putaran motor ke fly wheel.

31. Poros nok untuk menggerakkan mekanik katup

32. Roda penerus untuk  meneruskan putaran / tenaga motor ke power train dan putaran starter ke poros engkol.

33. Panci oli untuk menampung oli motor.

34. Sistem pendinginan terdari dari: radiator, slang radiator, tutup radiator, thermostaat, pompa air, mantel air, tali kipas dan kipas.

35. Sistem pelumasan terdiri dari: Pompa oli, strainer, saluran oli, saringan oli.

36. Sistem bahan bakar engine bensin terdiri dari: tangki, pompa, saringan dan karburator.

37. Sistem bahan bakar  engine disel terdiri dari: tangki, pompa priming, pompa pemindah, saringan, cendimeter, pompa injeksi dan injektor.

38. Sistem pengapian konvensional terdiri dari: baterai, kunci kontak, koil, kondensator, distributor dan busi.

d.    Tugas

1.    Siapkan model motor bensin dan disel 2 langkah dan 4 langkah, Pelajarilah  prinsip  kerjanya masing-masing secara cermat, catatlah perbedaan yang terlihat, dalam buku tugas. Diskusikan dengan teman atau minta penjelasan guru bila diperlukan.

2.    Carilah buku pada perpustakan bengkel yang sesuai dengan materi pada modul ini, pelajarilah dan catatlah hal-hal baru yang ditemukan, dalam buku tugas.

e.    Tes formatif

1.    Jelaskan secara singkat yang dimaksud dengan motor bakar.

2.    Jelaskan secara singkat yang dimaksud motor pembakaran luar dan motor pembakaran dalam.

3.    Jelaskan maksud motor 2 langkah dan motor 4 langkah

4.    Sebutkan 7 perbedaan motor bensin dengan disel

5.    Jelaskan yang terjadi di bawah dan diatas piston pada motor bensin dua langkah pada saat piston bergerak dari TMA ke TMB

6.    Jelaskan dua kemungkinan yang terjadii di dalam silinder motor bensin 4 langkah saat piston bergerak dari TMB ke TMA.

7.    Dengan gambar kerja motor disel 2 langkah berikut jelaskan proses  yang terjadi di dalam silinder

8.    Dengan gambar motor disel 4 langkah berikut jelaskan proses yang terjadi di dalam silinder

9.    Sebutkan 5 jumlah silinder motor yang paling banyak digunakan pada kendaraan.

10. Sebutkan 3 jenis engine ditinjau dari susunan silindernya.

11. Sebutkan 3 jenis engine ditinjau dari mekanisme katupnya.

12. Sebutkan 4 macam engine bila ditinjau dari penggunaan bahan bakarnya.

13. Sebutkan 8 komponen engine beserta fungsinya masing-masing.

14. Sebutkan 4 jenis ruang bakar motor bensin.

15. Sebutkan 3 jenis ruang bakar motor disel injeksi langsung.

16. Sebutkan 3 jenis ruang bakar motor disel injeksi tak langsung.

17. Sebutkan 3 jenis penggerak mekanik katup.

18. Sebutkan 6 komponen kelengkapan piston beserta fungsinya masing-masing.

19. Sebutkan 3 jenis penyambungan pena piston.

20. Sebutkan fungsi crank shaft dan cam shaft.

21. Sebutkan fungsi roda penerus.

22. Sebutkan 2 fungsi panci oli.

23. Sebutkan fungsi oil drain pada panci oli.

24. Sebutkan 5 komponen sistem pelumasan engine.

25. Sebutkan 7 komponen sistem pendinginan air

26. Sebutkan fungsi karburator pada engine bensin.

27. Sebutkan fungsi pompa priming pada pompa injeksi.

28. Sebutkan fungsi cendimeter pada sistem bahan bakar engine disel

29. Sebutkan fungsi nozel pada sistem bahan bakar engine disel

30. Sebutkan 7 komponen pada sistem pengapian konvensional engine bensin.

f.     Kunci jawaban

1.    Motor yang merubah tenaga  panas  menjadi  tenaga  mekanik  dengan proses pembakaran.

2.    Motor yang proses pembakarannya terjadi di luar motor tersebut dan Motor yang proses pembakarannya terjadi di dalam motor itu sendiri.

3.    Motor yang sekali usaha memerlukan 2 langkah piston atau sekali putaran crank shaft dan Motor yang sekali usaha memerlukan  4 langkah piston atau 2 kali putaran crank shaft.

4.    Item                        Motor bensin                 Motor disel

- Siklus                     Otto                              Sabathe

- Tekanan kompresi   9-12 Kg/cm2                          16-22 Kg/cm2

- Ruang bakar           sederhana                     rumit

- Percampuran          di karburator                 di ruang bakar

- Bahan bakar           Bensin                           Solar

- Suara                     halus                             kasar

- Efesiensi panas (%) s/d 30                           s/d 40

5.    Di bawah piston terjadi tekanan, campuran baru terkirim ke ruang bakar, karena diatas  piston  terjadi  isapan,  sebagian gas bekas akan terdorong keluar oleh gas baru saat lubang pembuangan mulai membuka.

6.    Kemungkinan pertama langkah buang apabila katup buang membuka, dan kemungkinan kedua  langkah kompresi apabila kedua katup menutup.

7.    A: langkah usaha dan pemasukan. Piston terdorong ke TMB akibat tekanan pembakaran, saat piston melewati lubang pemasukaqn, udara baru masuk.

B: Langkah buang. Saat piston bergerak ke atas dan saluran pembuangan membuka, maka gas bekas akan keluar melalui saluran buang.

C: Langkah kompresi.  Piston  bergerak semakin ke atas, saluran masuk buang tertutup, udara murni terkompresikan. Sebelum TMA bahan bakar disemprotkan, maka terjadi pembakaran

8.    A: piston bergerak ke  bawah, katup masuk membuka terjadilah pengisian udara murni

B: Piston bergerak ke atas, kedua katup menutup terjadilah pengkompresian udara murni

C: Sebelum TMA  bahan  bakar disemprotkan maka terjadi pembakaran dan piston terdorong ke bawah, maka terjadi langkah usaha

D:  Piston bergerak ke atas, katup buang membuka, maka gas bekas  terdorong keluar lewat saluran buang.

9.    1, 2, 3, 4 dan 6 silinder.

10. in-line, V dan horizontal berlawanan.

11. OHV, OHC dan DOHC.

12. Motor bensin, cerosine, LPG dan disel.

13. Blok motor: untuk tempat pembakaran, tempat kerja piston.

Kepala silinder: membentuk/menempatkan ruang bakar dan mekanik katup.

Kelengkapan piston: untuk mengkompresikan campuran gas atau udara murni, untuk merubah tenaga panas menjadi tenaga mekanik.

Mekanik katup: Membuka dan menutup ruang bakar sesuai posisi piston.

Poros engkol: Untuk meneruskan putaran motor ke fly wheel.

Poros nok: untuk menggerakkan mekanik katup

Fly whhel: untuk meneruskan putaran/tenaga ke power train, dan putaran starter ke poros engkol.

Panci oli: untuk menampung oli motor.

14. Setengah bulat, baji, bak mandi dan pint roof.

15. Multi spherical, hemispherical dan spherical.

16. Kamar depan, kamar pusar dan sel udara.

17. Dengan timing gear, timing chain dan timing belt.

18. Piston: untuk merubah tenaga panas menjadi tenaga mekanik, untuk mengkompresikan campuran gas/udara murni.

Ring piston: untuk perapat dan penyapu oli.

Conecting rod: untuk merubah gerak lurus piston menjadi gerak putar poros engkol.

Pena piston: untuk menyambung piston dan connecting rod.

Bearing cap: untuk menempatkan insert bearing dan untuk mengikat  connecting rod pada pin journal poros engkol.

Insert bearing : sebagai bantalan.

19. Fixed, full floating dan semi floating.

20. Penerus putaran ke fly wheel dan penggerak mekanik katup.

21. Untuk meneruskan tenaga ke power train,  dan putaran starter ke poros engkol.

22. Menampung oli motor, mengendapkan kotoran oli.

23. Untuk mengetap oli.

24. Panci oli,strainer,pompa oli,saringan oli, saluran oli pada engine.

25. Radiator, tutup radiator, slang radiator, thermostaat, pompa air, tali kipas dan kipas.

26. Untuk mencampur udara dan bahan bakar.

27. Untuk membliding udara.

28. Untuk mengendapkan air pada bahan bakar.

29. Untuk menginjeksikan bahan bakar ke ruang bakar.

30. Baterai, kunci kontak, koil, kondensator, distributor, kabel tegangan tinggi dan busi.

Kegiatan Belajar 2: Identifikasi jenis-jenis engine dan komponennya.

a.    Tujuan kegiatan belajar

Siswa dapat mengidentifikasi jenis-jenis engine dan komponennya.

b.    Uraian materi

1.    Identifikasi komponen engine bensin pada stand/unit kendaraan.

2.    Identifikasi komponen engine disel pompa rotary.

3.    Identifikasi komponen engine disel pompa in-line.

4.    Identifikasi komponen bongkaran engine bensin 2 langkah 1 silinder.

5.    Identifikasi komponen bongkaran engine bensin 4 langkah 4 silinder.

6.    Identifikasi komponen bongkaran engine disel 4 langkah 4/6 silinder.

c.    Rangkuman

d.    Tugas

1.    Siapkan engine stand/unit kendaraan engine bensin 4 langkah 4 silinder, tempelkan nomor urut pada komponen dan bagian utama engine secara acak.  Sebutkan nama komponen dan fungsinya masing-masing sesuai nomor urutnya dan catatlah dalam buku tugas.

2.    Siapkan  engine  stand / unit kendaraan  engine  disel dengan  pompa rotary, tempelkan nomor urut secara acak pada komponen dan bagian utama   engine  yang  nampak.  Catatlah   dalam  buku   tugas   nama komponen dan bagian utama engine   tersebut sesuai  nomor urutnya, dan jelaskan fungsunya masing-masing.

3.    Siapkan engine stand/unit kendaraan engine disel dengan pompa in-line, tempelkan nomor urut secara acak pada komponen sistem bahan bakarnya. Catatlah nama komponen beserta fungsinya masing-masing pada buku tugas.

4.    Siapkan   bongkaran  komponen  engine   bensin  2 langkah 1 silinder, tempelkan  nomor  urut  secara  acak    pada   komponen – komponen tersebut   dan  catatlah  nama  komponen   beserta fungsinya masing-masing sesuai nomornya dalam buku tugas.

5.    Siapkan  bongkaran  komponen  engine  bensin  4  langkah  4 silinder, tempelkan  nomor  secara  acak  pada  komponen-komponen tersebut. Catatlah  nama  komponen  beserta  fungsinya  masing-masing  sesuai nomornya dalam buku tugas.

6.    Siapkan bongkaran  komponen  engine  disel  4  langkah  4/6  silinder, tempelkan nomor   secara acak  pada  komponen-komponen  tersebut. Catatlah  nama  komponen  beserta  fungsinya  masing-masing  sesuai nomornya dalam buku tugas.

e.    Tes formatif (Guru menempelkan nomor urut sesuai kunci)

1.    Sebutkan  nama komponen  engine bensin berikut dan fungsinya sesuai nomor   urut   masing – masing.   (pada  engine  stand/unit kendaraan).

2.    Sebutkan  nama  komponen  engine  disel dengan pompa rotary berikutdan   fungsinya   sesuai   nomor  urut  masing – masing.   (pada engine stand/unit kendaraan).

3.    Sebutkan nama  komponen engine  disel  dengan pompa In-line berikut dan   fungsinya   sesuai   nomor   urut  masing – masing.  (pada engine stand/unit kendaraan).

4.    Sebutkan   nama   komponen   bongkaran  engine  bensin  2  langkah 1 silinder   berikut   beserta  fungsinya   masing – masing,   sesuai  nomor urutnya. (Bongkaran komponen lengkap).

5.    Sebutkan   nama   komponen   bongkaran   engine  bensin 4  langkah 4 silinder   berikut   beserta   fungsinya   masing – masing   sesuai  nomor urutnya.(Bongkaran komponen lengkap).

6.    Sebutkan  nama   komponen   bongkaran  engine   disel  4  langkah 4/6 silinder   berikut    beserta    fungsinya  masing – masing,  sesuai nomor urutnya. (Bongkaran komponen lengkap).

f.     Kunci jawaban

Soal praktik 1

1.    Kepala silinder  untuk  tempat ruang bakar dan  meletakkan komponen seperti mekanik  katup,  busi,   saluran pemasukan,  pembuangan dan lainnya.

2.    Blok  silinder:   tempat   terjadinya    proses    pembakaran,  kerjanya mekanik engine seperti piston, poros engkol, nok dan yang lainnya.

3.    Karter/panci oli: untuk menampung oli pelumasan.

4.    Radiator: menampung air pendingin untuk didinginkan.

5.    Tutup radiator: untuk mengontrol tekanan pada radiator.

6.    Tali kipas: untuk menggerakkan kipas pendingin

7.    Stik Oli: untuk memeriksa kondisi dan kapasitas oli pelumas.

8.    Oil filter: untuk menyaring oli.

9.    Saringan udara: untuk menyaring debu yang terdapat pada udara.

10. Karburator: untuk mencampur udara dan bahan bakar.

11. Baterai: untuk menyimpan arus listrik.

12. Kunci kontak: untuk memutus dan menghubungkan arus listri pada sistem pengapian.

13. Koil Untuk merubah arus primer menjadin arus skunder bertegangan tinggi.

14. Distributor: untuk membagi arus tegangan tinggi ke busi-busi.

15. Busi: untuk meloncatkan api ke ruang bakar.

Soal praktik 2

1.    Manifal pemasukan: Untuk memasukkan udara murni.

2.    Tutup katup: penutup katup.

3.    Saringan udara: menyaring udara.

4.    Saringan bahan bakar: menyaring bahan bakar.

5.    Pompa injeksi: untuk memompa bahan bakar dengan tekanan tinggi.

6.    Injektor/nozel: untuk menginjeksikan bahan bakar ke ruang bakar.

7.    Pipa tekanan tinggi: untuk mengalirkan bahan bakar bertekanan tinggi dari pompa injeksi ke nozel.

8.    Glow plug: untuk memanaskan ruang bakar.

Soal praktik 3

1.    Tangki: untuk menampung bahan bakar

2.    Pompa priming: untuk membliding udara

3.    Pompa pemindah: Untuk memindahkan bahan bakar dari tangki ke pompa injeksi.

4.    Sringan bahan bakar: untuk menyaring bahan bakar.

5.    Cendimeter: untuk mengendapkan air

6.    Pompa injeksi: untuk memompa bahan bakar dengan tekanan tinggi ke injektor/nozel.

7.    Nozel: untuk menginjeksikan bahan bakar ke ruang bakar.

8.    Reservoir: untuk menampung air pendingin kelebihan tekanan dari radiator, dan menyiapkan kembali saat radiator memerlukan.

9.    Pompa air: untuk Mensirkulasikan air ke sistem.

10. Stik oli: untuk memeriksa tinggi dan kondisi oli.

 

Soal praktik 4

1.    Sirip pendingin: untuk media pendinginan engine.

2.    Saluran pembilas: untuk mengalirkan gas baru ke ruang bakar.

3.    Saluran pemasukan: untuk memasukkan gas baru ke ruang engkol.

4.    Saluran pembuangan: untuk menyalurkan gas buang.

5.    Ruang bakar: untuk proses pembakaran.

6.    Lubang busi: untuk menempatkan busi.

7.    Piston: untuk menghisap dan mengompresikan campuran udara dan bahan bakar, dan merubah tenaga pembakaran menjadi tenaga mekanik.

8.    Batang piston: untuk merubah gerak lurus pada piston menjadi gerak putar pada poros engkol.

9.    Poros engkol: untuk memindahkan tenaga engine ke power train.

10. Blok motor: untuk tempat pembakaran dan kerja piston.

 

Soal praktik 5

1.    Valve seat: untuk dudukan kepala katup.

2.    Oil hole: Untuk saluran oli pelumas.

3.    Water jacket: untuk mengalirkan air pendingin.

4.    Valve guide: penghantar katup.

5.    Poros nok: untuk menggerakkan mekanik katup.

6.    Lifter: untuk menggerakkan psh rod.

7.    Push rod: untuk menggerakkan rokcer arm.

8.    Rocker arm: untuk menggerakkan katup.

9.    Roda gigi timing: untuk menepatkan timing katup dengan posisi piston.

10. Puli poros engkol: untuk meneruskan putara  ke puli pompa air dan alternator.

 

Soal praktik 6

1.    Ruang bakar muka: untuk pembakaran awal

2.    Lubang injektor: untuk menempatkan injektor/nozel.

3.    Lubang busi pijar: untuk menempatkan busi pijar.

4.    Timing belt : untuk penghubung putaran engkol ke poros nok.

5.    Sprocket : untuk menepatkan timing katup dengan posisi piston.

6.    Dudukan katup buang : untuk mendudukkan kepala katup buang.

7.    Saluran pemasukkan : untuk mengalirkan udara murni.

8.    Saluran pembuangan: untuk mengalirkan gas buang.

9.    Gasket: untuk perapat antara kepala dan blok silinder.

10. Pompa oli: untuk mensirkulasikan oli ke sistem.

 

 

 

 

 

 

 

 


LEMBAR KERJA

Kompetensi   : Pemeliharaan/servis engine dan komponennya

Sub kompetensi      : Identifikasi jenis engine dan komponennyal

TUJUAN:

1.    Siswa dapat mengidentifikasikan   perbedaan   komponen  engine    bensin dengan engine disel.

2.    Siswa dapat mengidentifikasi komponen engine bensin 2 langkah 1 silinder

3.    Siswa dapat mengidentifikasi komponen engine bensin 4 langkah 4 silinder

4.    Siswa dapat mengidentifikasi engine disel 4 langkah 4/6 silinder.

KESELAMATAN KERJA:

1.    Jangan menghidupkan motor tanpa seijin guru pembimbing

2.    Jangan merubah komponen pada engine tanpa seijin pembimbing.

3.    Pastikan hand rem aktif bila menggunakan unit kendaraan dalam belajar

ALAT:

1.    Alat-alat tulis

2.    Balok ganjal kendaraan

3.    Tempat komponen.

BAHAN:

1.    Model belahan motor bensin dan disel 2 langkah dan 4 langkah.

2.    Engine stand motor bensin atau unit kendaraan.

3.    Engine stand motor disel atau unit kendaraan.

4.    Bongkaran komponen engine bensin 2 langkah 1 silinder.

5.    Bongkaran engine bensin 4 langkah 4 silinder.

6.    Bongkaran engine disel 4 langkah 4/6 silinder.

LANGKAH KERJA:

1.    Siapkan peralatan dan bahan

2.    Pelajari model belahan motor secara cermat mengenai prinsip  kerja motor atau perbedaan komponennya.

3.    Mengidentifikasi perbedaan antara motor bensin dengan disel  pada engine stand atau pada unit kendaraan.

4.    Kembalikan  peralatan  dan  bahan    kerja seperti  serta  lingkungan  kerjaseperti semula.

5.    Buatlah laporan kerja pada buku tugas.

 

 

BAB III

EVALUASI

A.   Kriteria dan Instrumen Penilaian

1.    Kriteria Penilaian Pengetahuan (Tes formatif) :

a)    Siswa dapat skor 7 (tujuh) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 70 % s/d 80 %.

b)    Siswa dapat skor 8 (delapan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap  item soal antara 81 % s/d 90 %.

c)    Siswa dapat skor 9 (sembilan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 91 % s/d 100 %.

d)    Setiap item soal harus mendapat nilai minimal 7 (tujuh).

e)    Bila belum mencapai nilai tujuh siswa wajib belajar kembali dan mengulang pada item tersebut.

2.    Kriteria Penilaian Praktek

      

NO

ASPEK YANG DINILAI

INDIKATOR KEBERHASILAN

PENILAIAN

YA

TIDAK

7

8

9

 

1

2

3

4

5

6

7

1

 Engine bensin 4/6 silinder pada engine stand atau unit kendaraan. Dapat menyebutkan komponen utama engine yang nampak,                             komponen sistem pendinginan yang nampak, komponen sistem pelumasan yang nampak, komponen sistem bahan bakar dan komponen sistem pengapian.pengapian. sesuai nomor yang dipasangkan.

2

Engine disel dengan pompa rotary pada stand atau unit kendaraan Dapat menyebutkan komponen utama engine yang nampak, komponen sistem pendingin, komponen sistem pelumasan dan komponen sistem bahan bakar. Sesuai nomor yang dipasangkan.

3

Engine disel dengan pompa In-line pada stand atau unit kendaraan Dapat menyebutkan komponen sistem bahan bakar beserta fungsinya masing-masing. Sesuai nomor yang dipasangkan.

4

Bongkaran lengkap komponen utama engine bensin 2 langkah 1 silinder Dapat menyebutkan nama dan fungsi komponen utama. Sesuai nomor yang dipasangkan.

5

Bongkaran lengkap komponen engine bensin 4 langkah 4 silinder (OHC) Dapat menyebutkan nama dan fungsi bagian-bagian pada : kepala silinder, blok silinder,kelengkapan katup, kelengkapan piston,poros engkol, poros nok,roda penerus dan panci oli. Sesuai nomor yang dipasangkan.

6

Bongkaran lengkap komponen engine disel 4/6 silinder 4 langkah (OHV) Dapat menyebut nama dan fungsi bagian-bagian pada : kepala silinder, blok silinder, kelengkapan katup, kelengkapan piston, poros engkol, poros nok, roda penerus dan panci oli.

7

K3 dan SOP Dapat menerapkan K3 dan SOP.
JUMLAH :

 

CATATAN:

1.    Nilai 7,00 (lulus baik / YA), tepat waktu dan memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan.

2.    Nilai 8,00 (lulus amat baik / YA), waktu lebih cepat dan memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan.

3.    Nilai 9,00 (lulus istimewa / YA), waktu lebih cepat dan kwalitas melebihi standar minimal yang dipersyaratkan.


B.   DAFTAR KEMAJUAN SISWA        

NAMA SISWA  :

NIS                           :

NO TES FOR1 TES PRK1 TES PRK2 TES PRK3 TES PRK4 TES PRK5 TES PRK6 KETERANGAN
 

N1

N2

N3

N4

N5

N6

N7

N I =

(4xN1) +(N2+N3+N4+N5+N6+N7) dibagi 10

 

 

NI = Nilai akhir OPKR.20-001-1B

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   1                     
   2                     
   3                     
   4                     
   5                     
   6                     
   7                     
   8                     
   9                     
10                     
11                     
12                     
13                     
14                     
15                     
16                     
17                     
18                     
19                     
20                     
21                     
22                     
23                     
24                     
25                     
26                     
27                     
28                     
29                     
30                     
 

 

 

 

 

 

 

 

 

N I = ……….

 

CATATAN: Daftar kemajuan hanya diisi nilai materi yang sudah memenuhi standar minimal kelulusan.

BAB IV

PENUTUP

Bagi siswa yang belum memenuhi standar kelulusan yang ditentukan, wajib mengulangi belajar pada modul ini, terutama pada item-item soal yang belum memenuhi standar kelulusan. Bagi siswa yang sudah berhasil lulus akan mendapatkan nilai akhir minimal 7,00 (tujuh koma nol nol) dan dapat melanjutkan ke modul berikutnya Yaitu OPKR. 20-001-2 B dan OPKR. 20-001-3 B dimana modul tersebut merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari modul OPKR. 20. 001-1 B. Artinya siswa boleh mengajukan uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat apabila telah menyelesaikan modul OPKR. 20.001-1 B ,OPKR.20.001-2 B.

Dan OPKR. 20-001-3 B.

DAFTAR PUSTAKA

Abigain Pakpahan. (1998). Motor Otomotif jilid 1. Bandung: Angkasa

Anggiat Situmorang, Abigain P. (1999). Servis Kendaraan Ringan.    Bandung: Angkasa

Noname. (1995). New Step 1 Training Manual. Jakarta: PT Toyota Astra Motor.

Noname. (1984). GE Engine Servis Training Information: Toyota Motors Corporation

Noname. (1992). Training manual Motor bakar. Jakarta: PT United Tractor

Otim Suprapto. (1999). Motor Otomotif. Bandung: Angkasa

Yunan Ginting. (1999). Otomotif Dasar. Bandung: Angkasa

Pelaksanaan Operasi Penanganan Secara Manual

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Deskripsi

Modul Pelaksanaan operasi penanganan secara manual membahas tentang prosedur pengangkatan dan pemindahan material/komponen/part secara manual maupun mekanis dan penataan area tempat kerja.

Materi kompetensi yang terdapat pada modul ini merupakan pengetahuan dan keterampilan yang sangat menunjang pelaksanaan pekerjaan kompetensi yang lain di bengkel-bengkel industri, khususnya bengkel perotomotifan. Apabila siswa menguasai kompetensi ini, akan memberikan kemudahan bagi siswa dalam melaksanakan kompetensi yang lain yang membutuhkan teknik-teknik yang benar dan aman dalam pemindahan material/komponen ataupun part serta penyimpanannya.

Setelah melaksanakan modul ini diharapkan siswa dapat memahami  prosedur pengangkatan material secara manual, prosedur pengangkatan secara mekanis, prosedur pemindahan dan penyimpanan material/komponen/part yang aman, penanganan area tempat kerja.

Kompetensi yang terdapat dalam modul ini akan membekali siswa pengetahuan dan ketrampilan serta sikap yang benar yang terkait dengan setiap pekerjaan pengangkatan, pemindahan dan penyimpanan material yang terdapat di dunia industri perotomotifan.

Modul ini dibagi menjadi 2 kegiatan belajar yaitu: kegiatan belajar 1 pemahaman tentang prosedur pengangkatan dan pemindahan serta penyimpanan material/komponen ataupun part. Sedangkan kegiatan belajar 2: Melakukan pekerjaan pengangkatan dan pemindahan serta penyimpanan material/komponen atau part, sesuai prinsip penanganan area tempat kerja.

B.   Prasyarat

Sebelum memulai modul ini, siswa harus sudah menyelesaikan modul OPKR.10-016 B tentang Keselamatan dan kesehatan kerja,  serta modul lainnya yang harus dipelajari lebih awal sesuai dengan peta kedudukan modul.

C.   Petunjuk Penggunaan Modul

1.    Petunjuk Bagi Siswa

Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal dalam mempelajari materi modul ini, langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:

a.    Bacalah dan pahamilah dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada kegiatan belajar.

b.    Bila ada  materi yang kurang jelas, siswa dapat bertanya pada guru yang mengampu kegiatan belajar tersebut.

c.     Kerjakanlah setiap tugas formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatanbelajar.

d.    Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikanlah hal-hal berikut ini:

1)    Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang diberikan.

2)    Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik.

3)    Sebelum melaksanakan praktik, siapkan alat dan bahan yang diperlukan secara cermat (lihat lembar kerja).

4)    Gunakan alat sesuai prosedur dan pemakaian yang benar. Untuk melakukan kegiatan belajar praktik yang belum jelas, harus meminta ijin guru lebih dahulu.

5)    Setelah selesai praktik, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

e.    Siswa dinyatakan menguasai materi, bila sudah dapat menjawab seluruh soal dengan benar tanpa melihat buku atau kunci jawaban, serta dapat menyelesaikan praktik sesuai standar minimal yang ditentukan. Bila belum berhasil siswa wajib mengulangi.

f.     Bila siswa sudah dinyatakan berhasil, siswa bersama guru dapat membuat rencana uji kompetensi dengan menghadirkan lembaga sertifikasi profesi setempat yang telah diakui keberadaannya, untuk mendapatkan pengakuan kompetensi dengan sertifikat.

g.    Konsultasikan dengan guru pada saat merencanakan proses belajar, saat menemui kesulitan dalam menjawab soal-soal maupun pada waktu melaksanakan praktik, ataupun bila memerlukan sumber belajar yang lain. Dapat mengkomunikasikan dengan guru bila membutuhkan pendamping dari industri pada saat belajar, juga saat akan mengerjakan modul berikutnya.

2.    Petunjuk Bagi Guru

Dalam setiap kegiatan belajar guru berperan untuk:

a.    Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar.

b.    Membimbing siswa melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.

c.     Membantu siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan siswa mengenai proses belajarnya.

d.    Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.

e.    Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.

f.     Membantu siswa mencarikan pendamping dari industri bila diperlukan.

g.    Melaksanakan penilaian internal dan mencatat hasil kemajuan siswa.

h.    Menjelaskan pada siswa apabila ada yang perlu dibenahi dan merundingkan pada siswa rencana pemelajaran berikutnya.

D.   Tujuan Akhir

Setelah mempelajari secara keseluruhan  materi  kegiatan belajar dalam modul ini siswa diharapkan:

1.    Memahami prosedur pengangkatan secara manual, prosedur pengangkatan secara mekanis, prosedur  memuat  dan  menurunkan  material,  prosedur penyimpanan material/komponen/part secara aman.

2.    Dapat melakukan pekerjaan pemindahan, pemuatan dan penurunan Material/komponen atau part secara manual maupun mekanis dan Penyimpanan secara aman.


E.    KOMPETENSI

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETRAMPILAN

1.Mengangkat dan memindahkan material /

Komponen  /part.

*Pekerjaan dilaksanakan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem yang lain.

*Berat material ditentukan dengan benar dengan menggunakan teknik yang memadai.

*Perlengkapan yang tepat dipilih sesuai kebutuhsn.

*Material/part/komponen yang akan diangkat diperiksa dari kemungkinan bahaya yang timbul.

*Teknik pengangkatan dilakukan di bawah standar kerja Indonesia.

*Material/part/komponen ditempatkan dengan aman pada perlengkapan pemindahan dan penempatan kembali dengan memastikan keselamatan petugas dan keamanan dari material/part/komponen.

*Teknik penanganan secara manual yang benar dan aman.

*Teknik pemindahan dan pengangkatan material sesuai dengan standar tempat kerja.

*Cermat dan hati-hati dalam pelaksanaan pengangkatan dan pemindahan material/part/

Komponen.

*Mematuhi undang-undang keselamatan dan kesehatan kerja.

*Teknik-teknik penanganan secara manual yang benar/

Prosedur pengangkatan dan pemindahan yang aman.

*Persyaratan keamanan perlengkapan/material.

*Persyaratan keamanan diri.

*Melaksanakan pengangkatan dan pemindahan material/part/

Komponen.

*Menerapkan undang-undang keselamatan kerja.


F.    Cek Kemampuan

Sebelum siswa mempelajari modul ini, siswa dapat mencoba mengerjakan soal-soal yang ada pada lembar soal formatif tanpa melihat uraian materi atau kunci jawaban. Bila siswa sudah merasa bisa, guru pembimbing supaya melakukan pengetesan. Dan apabila siswa benar-benar sudah menguasai materi sesuai standar minimal yang ditentukan, guru pembimbing dapat menyediakan modul pemelajaran berikutnya untuk dipelajari siswa. Tetapi bila belum bisa, supaya siswa melanjutkan mempelajari modul ini.

BAB II

PEMELAJARAN

A.   Rencana Belajar Siswa

Rencanakanlah setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel dibawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.Teknik pengangkatan dan pemindahan material/komponen/part serta cara penyimpanannya.
2. Melakukan pengangkatan dan pemindahan material/ part / komponen dan penyimpanannya.

B.   Kegiatan Belajar

Kegiatan Belajar 1: Teknik pengangkatan dan pemindahan material / komponen / part dan penyimpanannya.

a.    Tujuan Kegiatan Belajar

1.    Siswa  dapat  memahami  prosedur  pengangkatan  dan  pemindahan material/komponen/part secara manual.

2.    Siswa dapat   memahami  prosedur  pengangkatan  dan  pemindahan material/komponen/part secara mekanis.

3.    Siswa dapat memahami prosedur penanganan area kerja,  dan teknik penyimpanan material/komponen atau part secara aman.

b.    Uraian Materi

1.    Pengangkatan dan pemindahan material/komponen/part secara manual.

Pengangkatan dan pemindahan material/komponen/part secara manual akan selalu melibatkan tenaga manusia. Dalam memindah material dari tempat yang satu ke tempat lain, seseorang akan mengeluarkan tenaga untuk mengangkat, membawa, menurunkan, mendorong, menarik,   menahan dan sebagainya. Untuk dapat melakukan pekerjaan tersebut   secara aman, seseorang harus memahami kekuatan tangan, kaki, badan  serta bagaimana cara mengambil posisi. Selain  itu seseorang juga harus   memahami pengetahuan tentang grafitasi bumi.

a)   Kekuatan badan/punggung saat mengangkat

Gaya tarik bumi yang sering disebut dengan grafitasi, akan cenderung menarik semua benda ke bawah. Apabila seseorang akan mengangkat material yang berupa komponen, part atau benda yang lain, posisi badan harus pada kekuatan maksimal untuk mengatasi gaya grafitasi. Hal tersebut dilakukan melalui tangan, punggung serta posisi kaki sebagai tumpuhan. Tangan sebagai tuas pemegang beban, punggung sebagai pusat tenaga penahan beban dan kaki sebagai tumpuhan.

Gaya Otot

Gambar 1. Kekuatan badan/punggung saat mengangkat

b)   Kekuatan pada tangan pada saat mengangkat

Sewaktu mengangkat beban, lengan tangan sebagai tuas mengandalkan kekuatan pada otot Bisep yang berkaitan dengan tulang hasta oleh ujung otot bisep yang disebut Tendon. Tenaga atau berat beban yang disangga akan disalurkan ke Tendon otot Bisep atas ke tulang belikat.

Gambar 2. Pusat kekuatan tangan saat mengangkat

c)   Kekuatan otot punggung saat tangan mengangkat

Pada saat tangan mengangkat beban, tenaga yang disangga oleh otot Bisep tangan akan disalurkan melalui tulang belikat ke otot punggung. Karena beban tersebut bekerja pada lengan yan cukup pendek, maka beban justru akan banyak disangga oleh otot punggung. Apabila beban terlalu berat, otot punggung dapat terkilir atau bahkan dapat merusakkan tulang belakang.

Gambar 3. Tulang belakang sebagai penyangga beban badan.

d)   Prinsip-prinsip pengangkatan secara manual:

a)    Upayakan beban sedekat mungkin dengan badan

b)    Upayakan kedua tangan dapat memegang kuat pada benda yang akan diangkat

c)    Hindarkan gerakan putar yang mendadak

d)    Upayakan konsentrasi beban berada pada kekuatan tumpuhan kaki

e)    Upayakan badan tetap lurus/tegap saat mengangkat

f)     Upayakan beban disekitar titik tengah badan

g)    Beban yang diangkat maksimal setengah berat badan.

Beban

Gambar 4. Pengangkatan secara manual

2.    Pengangkatan dan pemindahan material/komponen/part secara mekanis

Material/komponen/part dengan permukaan tidak rata dan berat yang tidak memungkinkan diangkat secara manual dapat diangkat ataupun dipindahkan dengan alat bantu.

a)    Prosedur pengangkatan secara mekanis

Dalam pengangkatan material dengan alat bantu, tetap harus diperhatikan titik pusat keseimbangan material atau benda tersebut atau yang sering disebut dengan pusat grafitasi benda. Hal tersebut dimaksudkan agar didapat keseimbangan saat benda tersebut diangkat dengan alat bantu pengangkatan. Material atau benda yang memiliki permukaan beraturan mudah ditemukan titik pusat keseimbangannya seperti: lingkaran, bujur sangkar, kotak dan sebagainya. Untuk material yang memiliki permukaan tidak beraturan memerlukan kecermatan dalam menentukan titik keseimbangannya, seperti: Engine, transmisi, unit kendaraan dan sebagainya. Khusus pada engine biasanya sudah disediakan tempat memasang tali atau seling sewaktu diperlukan pengangkatan.

Pusat grafitasi/keseimbangan

Gambar 5. Titik pusat keseimbangan lingkaran dan bujur  sangkar

 

 

 

 

 

 

                 

         Pusat grafitasi/keseimbangan

Gambar 6. Titik pusat keseimbangan kotak

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7. Titik pusat keseimbangan engine

b)    Alat bantu pengangkatan.

Material yang memiliki permukaan tidak beraturan dan berat yang berlebihan dimana tidak mungkin dapat diangkat secara manual dapat diangkat dengan peralatan bantu pengangkatan. Alat bantu pengangkatan yang digunakan pada bengkel perotomotifan antara lain: Pengungkit, forklift, tali/tambang, seling, hook, alat khusus pengangkat engine, kerek/kran, dongkrak, car lift dan sebagainya.

1)    Pengungkit.

Pengungkit adalah alat sederhana untuk memindahkan barang. Pengungkit dapat berupa kayu, bambu, besi atau bentuk lain yang dirancang secara khusus.

Gambar 8. Pemindahan material dengan pengungkit

2)    Forklift/garpu pembawa material

Forklift dapat berupa forklift dorong atau forklift kendaraan. Alat ini digunakan untuk membawa atau memindahkan material dari tempat satu ke tempat yang lain.

Gambar 9. Penggunaan forklift dorong

3)    Tali/tambang, seling dan hook.

Tali/tambang, seling dan hook digunakan untuk mengikat atau menahan material yang akan diangkat. Pemasangan tali/seling pada engine:

a)    Tali atau seling ditempatkan pada bagian bawah engine supaya tidak merusak engine saat diangkat.

b)    Upayakan tali/seling dapat menahan beban secara merata.

c)    Pusat pengangkatan sedekat mungkin dengan titik keseimbangan engine.

d)    Gunakan alat khusus bila ada.

 

 

Gambar 10. Pemasangan tali atau seling pada engine.

Pemasangan seling dan hook

Pada blok engine biasa dipasang pengait/hook untuk memasang tali atau seling sewaktu akan mengangkat engine guna perbaikan. Prosedur pemasangan hook:

a)    Bautkan hook pada sudut-sudut blok  paling  ujung   secara silang agar didapat keseimbangan.

b)    Kaitkan pengait  pada  seling  dengan  hook  secara   tepat, sehingga kaitan antara seling dan hook benar-benar kuat.

c)    Pastikan   bahwa   kaitan   benar – benar  mati / kuat, baru melakukan pengangkatan engine.

 

                 Seling

                  

 

 

                                                                 Hook

 

 

Gambar 11. Pemasangan seling dan hook

 

 

 

                                

 

 

 

 

Gambar 12. Pemasangan alat khusus pengangkat engine

4)    Kerek/kran dan Takel

Kerek/kran dan Takel adalah alat untuk mengangkat material/part atau komponen. Pada bengkel otomotif alat ini biasa digunakan untuk mengangkat engine, transmisi sewaktu akan diperbaiki dan memasangkan kembali sewaktu perbaikan sudah selesai. Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan Kran ataupun Takel:

a)    Memeriksa sumber tenaga yang digunakan untuk mengoperasikan peralatan pengangkat.

b)    Takel pengangkat harus benar-benar terpasang baik pada tempatnya.

c)    Jika pekerjaan tidak dapat dilakukan sendiri, perlu dilakukan secara tim.

d)    Upayakan jangan ada orang lalu-lalang dibawah alat  pengangkat.

e)    Upayakan material/komponen/part jangan sampai tergantung terlalu lama pada alat pengangkat.

f)     Upayakan perlahan-lahan dan berhati–hati sewaktu menurunkan material/komponen/part.

Gambar 13. Kran lantai dan kerek/takel

Gambar 14. Pengangkatan engine dengan kerek/takel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 15. Pengangkatan engine dengan Kran lantai

5)    Dongkrak

Dongkrak adalah alat pengangkat yang banyak digunakan dalam perawatan atau perbaikan bagian-bagian kendaraan misalanya: sewaktu mengganti oli engine, perbaikan roda,sistem rem dan bagian-bagian yang lain yang memerlukan pengangkatan kendaraan. Macam-macam dongkrak yang digunakan antara lain: Dongkrak botol, dongkrak troli/buaya, dongkrak pantograf, dongkrak samping, dongkrak bumper dan sebagainya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan dongkrak:

a)    Pastikan dongkrak benar-benar baik.

b)    Aktifkan rem parkir.

c)    Pasang ganjal pada bagian roda depan sebelah kiri bila akan mengangkat kendaraan dibagian belakang sebelah kanan atau sebaliknya.

d)    Pasang ganjal pada kedua roda belakang bila akan mengangkat kendaraan bagian depan dengan kedua roda terangkat atau sebaliknya.

e)    OFF kan kunci kontak.

f)     Jangan bekerja di bawah kendaraan saat kendaraan didongkrak.

g)    Turunkan kendaraan pelan-pelan bila pengangkatan sudah selesai.

Dongkrak botol dan penggunaannya.

Dongkrak botol adalah dongkrak yan paling banyak digunakan pada kendaraan karena bentuk fisiknya yang relatif kecil dan mudah dibawa atau disimpan pada kendaraan.

Gambar 16. Dongkrak botol

Penggunaan dongkrak botol:

a)    Pasang sadel   pada  titik  kendaraan  yang akan diangkat secara tepat dan kuat, jangan sampai tergelincir.

b)    Tepatkan sadel dengan sekrup penyetel.

c)    Pastikan klep pengontrol dalam keadaan tertutup rapat. Bila klep belum rapat putarlah klep searah jarum jam.

d)    Gerakkan handel dengan tuas dongkrak secara hati-hati.

e)    Bila akan menurunkan, kendorkan klep berlawanan arah jarum jam secara pelan, agar kendaraan tidak turun dengan keras.

Gambar 17. Pemasangan dongkrak botol pada kendaraan.

Dongkrak troli dan penggunaannya:

Dongkrak troli/dongkrak buaya adalah dongkrak yang dapat digeser-geser. Dongkrak ini selain digunakan untuk mengangkat kendaraan juga dapat digunakan sebagai alat bantu memindah material/komponen/part. Dongkrak Troli/buaya terdiri dari:

Handel: untuk menaikkan sadel/pengangkat pada pengangkatan beban berat.

Pompa kaki: untuk menaikkan sadel pengangkat pada pengangkatan beban ringan.

Klep pengontrol: untuk membocorkan tekanan saat menurunkan beban.

Sadel dudukan: untuk titik dukung beban yang akan diangkat.

Caster: untuk membelokkan dongkrak sewaktu menggeser beban/material.

Roda: untum memperingan dongkrak saat ditarik/digeser.

Gambar 18. Dongkrak Troli/dongkrak buaya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 19. Penggunaan dongkrak troli saat untuk

mengangkat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 20. Dongkrak troli saat untuk menggeser/membawa material/komponen/part

Dongkrak Pantograf dan penggunaannya:

Dongkrak pantograf digunakan untuk mengangkat beban ringan dan mudah dibawa di dalam kendaraan.

Gambar 21. Penggunaan dongkrak Pantograf

Dongkrak samping dan dongkrak bumper

Dongkrak samping dan dongkrak bumper digunakan untuk mengangkat kendaraan saat dilakukan perbaikan pada sistem rem, roda kendaraan yang hanya membutuhkan pengangkatan sebelah/pada sisi kendaraan.

Gambar 22. Penggunaan dongkrak samping

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 23. Penggunaan dongkrak bumper

6)    Car lift

Car lift adalah alat pengangkat khusus kendaraan. Mengangkat dengan car lift akan mempermudah mekanik dalam memperbaiki ataupun melakukan perawatan kendaraan terutama perbaikan di bawah kendaraan, karena mekanik dapat bergerak leluasa di bawah kendaraan. Jenis-jenis car lift: jenis penggerak mekanis, listrik dan hidrolis peneumatis.

Hal-hal yang perlu diperhatikan sewaktu mengangkat kendaraan dengan car lift:

a)    Pelajari petunjuk operasi alat pengangkat yang ada di bengkel sesuai jenisnya.

b)    Pastikan dudukan pengangkat benar-benar kering atau bebas dari minyak.

c)    Pastikan kendaraan tidak mempunyai beban yang tidak setabil.

d)    Pastikan alat pengangkat dapat bekerja normal.

Langkah pengangkatan:

a)    Tempatkan kendaraan tepat di tengah alat pengangkat.

b)    Aktifkan rem parkir.

c)    Tutup pintu kendaraan secara kuat.

d)    Operasikan alat pengangkat pelan-pelan sampai sadel dudukan bersentuhan dengan titik angkat kendaraan.

e)    Pastikan kendaraan tidak akan tergelincir.

f)     Operasikan alat pengangkat sampai ketinggian yang diinginkan.

Gambar 24. Penempatan kendaraan pada alat pengangkat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            Tempatkan telapak di bawah titik pengaman

Gambar 25. Penepatan sadeldudukan pada titik pengangkatan kendaraan

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 26. Pengangkatan kendaraan dengan Carlift

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 27. Pengangkatan dengan car lift 4 penopang

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 28. Pengangkatan kendaraan dengan Car lift hidrolis pneumatis.

3.    Penanganan Area kerja dan penyimpanan material / komponen / part secara aman.

Area  kerja  adalah  wilayah  atau  tempat  dimana  suatu  pekerjaan  dilakukan. Tempat kerja yang digunakan untuk melakukan pekerjaan perotomotifan   disebut  bengkel otomotif.   Bengkel  otomotif  sama seperti  bengkel – bengkel  yang lain memiliki resiko kecelakaan yang cukup  tinggi.   Oleh  sebab  itu  perlu  dilakukan  pemeliharaan  dan penataan agar resiko kecelakaan dapat ditekan menjadi sekecil mungkin.

Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait dengan area kerja :

a)    Area kerja harus ditata rapi dan bersih.

b)    Memiliki jalan yang memadai untuk lalu-lintas material atau kendaraan, juga untuk menghadapi resiko kebakaran.

c)    Bebas dari cairan licin oli, greas dan lainnya, juga bersih dari kotoran yang berserakan.

Gambar 29. Membersihkan oli dan cairan pada lantai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 30. Membersihkan kotoran pada lantai

d)    Simpan part-part bekas yang sudah tidak terpakai pada tempatnya.

e)    Bersihkan dan tempatkan kembali peralatan sehabis digunakan pada tempatnya.

Gambar 31. Penyimpanan part-part bekas

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 32. Penempatan peralatan sesudah digunakan

f)     Tempatkan material sesuai jenis pada tempat yang aman dengan selalu memperhatikan keselamatan barang dan pekerja.

Gambar 33. Penyimpanan material/part/komponen.

g)    Pastikan peralatan ventilasi udara dan penerangan semua bekerja dengan baik terutama pada area penggunaan atau penyimpanan material yang mengandung zat kimia berbahaya seperti: Bahan bakar, thiner, cat, bahan-bahan pelarut.

h)    Gunakan saluran gas buang secara kolektif bila pada ruang/bengkel kerja digunakan untuk menghidupkan kendaraan. Dalam hal ini paling tidak jendela, pintu dapat dibuka dan mememnuhi syarat sebagai media ventilasi.

i)     Memberikan tanda-tanda tulisan yang jelass pada gudang penyimpanan serta tulisan pada wadah penyimpanan terutama untuk material yang berbahaya.         

c.    Rangkuman

1.    Pengangkatan  dan   pemindahan  material / komponen / part  secara manual banyak mengandalkan tenaga manusia dalam penanganannya.

2.    Penanganan  secara  manual  meliputi:   mengangkat,    menurunkan, membawa, menarik, mendorong, menahan dan sebagainya.

3.    Grafitasi bumi adalah gaya tarik bumi yang akan menarik setiap  benda ke arah bawah.

4.    Beban yang diangkat oleh tangan  ditopang oleh otot bisep,  disalurkan ke tulang belikat oleh tandon dan  diteruskan ke  otot  punggung  atau tulang belakang.

5.    Prinsip-prinsip pengangkatan secara manual:

a)    Upayakan beban sedekat mungkin dengan badan

b)    Upayakan kedua tangan dapat memegang kuat pada benda yang akan diangkat

c)    Hindarkan gerakan putar yang mendadak

d)    Upayakan konsentrasi beban berada pada kekuatan tumpuhan kaki

e)    Upayakan badan tetap lurus/tegap saat mengangkat

f)     Upayakan beban disekitar titik tengah badan

g)    Beban yang diangkat maksimal setengah berat badan.

6.    Pengangkatan    secara    mekanis     menggunakan  alat – alat   bantu

pengangkatan antara lain: Pengungkit,  forklift, tali, seling,  hok, kran,

takel,alat bantu khusus, dongkrak, car lift dan sebagainya.

7.    Macam-macam dongkrak :  dongkrak  botol,  pantograf, dongkrak troli, dongkrak samping,dongkrak bumper, dongkrak ulur dan sebagainya.

8.    Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan Kran ataupun Takel:

a)    Memeriksa    sumber    tenaga    yang    digunakan    untuk mengoperasikan peralatan pengangkat.

b)    Takel pengangkat harus benar-benar  terpasang  baik pada tempatnya.

c)    Jika    pekerjaan   tidak   dapat   dilakukan   sendiri,   perlu dilakukan secara tim.

d)    Upayakan jangan   ada   orang   lalu – lalang  di bawah alat  pengangkat.

e)    Upayakan     material / komponen / part   jangan     sampai tergantung terlalu lama pada alat pengangkat.

f)     Upayakan     perlahan – lahan   dan  berhati – hati  sewaktu menurunkan material/komponen/part.

9.    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan dongkrak:

a)    Pastikan dongkrak benar-benar baik.

b)    Aktifkan rem parkir.

c)    Pasang ganjal pada bagian roda depan sebelah kiri bila akan mengangkat kendaraan dibagian belakang sebelah kanan atau sebaliknya.

d)    Pasang ganjal pada kedua roda belakang bila akan mengangkat kendaraan bagian depan dengan kedua roda terangkat atau sebaliknya.

e)    OFF kan kunci kontak.

f)     Jangan bekerja di bawah kendaraan saat kendaraan didongkrak.

g)    Turunkan kendaraan pelan-pelan bila pengangkatan sudah selesai.

10. Alat bantu untuk memindahkan material / komponen/part yang banyak digunakan pada bengkel otomotif adalah: dongkrak troli, kran beroda, forklift.

11. Hal-hal yang perlu diperhatikan sewaktu mengangkat kendaraan dengan car lift:

a)    Pelajari  petunjuk  operasi  alat  pengangkat  yang  ada  di bengkel sesuai jenisnya.

b)    Pastikan  dudukan   pengangkat  benar – benar kering atau bebas dari minyak.

c)    Pastikan  kendaraan  tidak  mempunyai  beban  yang  tidak setabil.

d)    Pastikan alat pengangkat dapat bekerja normal.

12. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan area kerja:

a)    Area kerja harus ditata rapi dan bersih

b)    Memiliki  jalan  yang  memadai  untuk  membawa  material, kendaraan dan jalan bila terjadi kebakaran.

c)    Bebas dari cairan oli, greas dan kotoran lainnya.

d)    Memiliki tempat penyimpanan part bekas yang memadai.

e)    Memiliki    tempat   penyimpanan   peralatan   servis   yang memadai.

f)     Memiliki tempat penyimpanan material sesuai jenisnya.

g)    Memiliki ventilasi dan penerangan yang memadai.

h)    Memiliki saluran gas buang secara kolektif.

i)     Memiliki    tanda – tanda    penyimpanan   material    sesuai jenisnya.

d.    Tugas             

1.    Siapkan    peralatan   pengangkat   yang  ada  di bengkel  sekolah  dan pelajarilah cara mengoperasikannya.

2.    Cermatilah material,    peralatan  dan   ruangan  yang  ada  di  bengkel Sekolah. Cobalah   membuat   lay-out  untuk   menempatkan / menata material,    peralatan   sesuai   ruangan   yang   ada   sesuai    dengan pengetahuan yang anda miliki.

e.    Tes formatif

1.    Jelaskan secara singkat yang dimaksud dengan pusat keseimbangan benda.

2.    Jelaskan secara singkat urutan anggota tubuh yang menahan beban pada waktu seseorang membawa beban pada kedua tangannya.

3.    Jelaskan secara singkat yang dimaksud gravitasi bumi.

4.    Sebutkan 7 hal yang perlu diperhatikan sewaktu seseorang akan mengangkat material secara manual.

5.    Sebutkan  10   macam  alat  bantu   pengangkatan   material   secara

mekanis.

6.    Sebutkan 6 macam jenis dongkrak.

7.    Sebutkan 6 hal yang perlu diperhatikan  sewaktu  menggunakan kran atau takel pengangkat.

8.    Sebutkan 6 hal yang perlu diperhatikan sewaktu  akan  menggunakan

dongkrak.

9.    Sebutkan 3 jenis alat  bantu untuk  menggeser  ataupun  memindah material yang banyak digunakan di bengkel otomotif.

10. Sebutkan 4 hal yang perlu diperhatikan saat akan menggunakan carlift.

11. Sebutkan 8 hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan area kerja.

12. Sebutkan 5 kemungkinan penyebab kecelakan yang dapat terjadi terkait dengan penanganan tempat kerja yang kurang baik.

f.     Kunci jawaban 

1.    Titik pusat gravitasi benda sebagai titik pusat atau titik berat benda saat diangkat.

2.    Beban di telapak tangan   akan disalurkan   melalui  tendon bawah, otot bisep, tendon otot bisep, tulang belikat ke otot punggung dan bermuara di tulang belakang.

3.    Gaya tarik bumi yang akan menarik setiap benda ke arah bawah.

4.    7 (tujuh) hal yang perlu diperhatikan:

a)    Upayakan beban sedekat mungkin dengan badan

b)    Upayakan kedua tangan dapat memegang kuat pada benda yang akan diangkat

c)    Hindarkan gerakan putar yang mendadak

d)    Upayakan konsentrasi beban berada pada kekuatan tumpuhan kaki

e)    Upayakan badan tetap lurus/tegap saat mengangkat

f)     Upayakan beban disekitar titik tengah badan

g)    Beban yang diangkat maksimal setengah berat badan.

5.    Pengungkit, forklift, tali, seling, hook,  kran, takel ,dongkrak, carlift dan alat khusus.

6.    Dongkrak botol, pantograf, ulir, troli, samping dan bumper

7.    6 (enam) hal yang perlu diperhatikan:

a)    Memeriksa  sumber  tenaga yang digunakan   untuk  mengoperasikan peralatan pengangkat.

b)    Takel pengangkat harus benar-benar terpasang baik pada tempatnya.

c)    Jika pekerjaan tidak dapat dilakukan sendiri,   perlu  dilakukan  secara tim.

d)    Upayakan jangan ada orang lalu-lalang di bawah alat   pengangkat.

e)    Upayakan material/komponen/part jangan sampai  tergantung  terlalu lama pada alat pengangkat.

f)     Upayakan perlahan-lahan dan berhati – hati sewaktu  menurunkan material/komponen/part.

8.    6 (enam) hal yang perlu diperhatikan:

a)    Pastikan dongkrak benar-benar baik.

b)    Aktifkan rem parkir.

c)    Pasang  ganjal  pada    bagian  roda  depan   sebelah   kiri   bila   akan mengangkat    kendaraan     dibagian    belakang  sebelah kanan  atau sebaliknya.

d)    Pasang ganjal pada kedua roda belakang bila akan mengangkat kendaraan bagian depan dengan kedua roda terangkat atau sebaliknya.

e)    OFF kan kunci kontak.

f)     Jangan bekerja di bawah kendaraan saat kendaraan didongkrak.

g)    Turunkan kendaraan pelan-pelan bila pengangkatan sudah selesai.

9.    Dongkrak troli, kran dan forklift.

10. 4 (empat) hal yang perlu diperhatikan:

a)    Pelajari petunjuk operasi alat pengangkat yang ada  di bengkel sesuai jenisnya.

b)    Pastikan dudukan pengangkat benar – benar  kering  atau  bebas  dari minyak.

c)    Pastikan kendaraan tidak mempunyai beban yang tidak setabil.

d)    Pastikan alat pengangkat dapat bekerja normal.

11. 8 (delapan) hal yang perlu diperhatikan:

a)    Area kerja harus ditata rapi dan bersih

b)    Memiliki jalan yang memadai untuk membawa  material,  kendaraan dan jalan bila terjadi kebakaran.

c)    Bebas dari cairan oli,greas dan kotoran lainnya.

d)    Memiliki tempat penyimpanan part bekas yang memadai.

e)    Memiliki tempat penyimpanan peralatan servis yang memadai.

f)     Memiliki tempat penyimpanan material sesuai jenisnya.

g)    Memiliki ventilasi dan penerangan yang memadai.

h)    Memiliki saluran gas buang secara kolektif.

i)     Memiliki tanda-tanda penyimpanan material sesuai jenisnya.

12. 5 (lima) kemungkinan penyebab kecelakaan:

a)    Adanya oli atau bahan licin yan tercecer dilantai.

b)    Penerangan yang kurang memadai.

c)    Tidak adanya tanda atau label pada penyimpanan bahan berbahaya.

d)    Peralatan pengangkat yang tidak pernah dirawat.

e)    Bahan mudah terbakar berceceran dilantai

f)     Penempatan peralatan pengangkat yang tidak standar.

Kegiatan Belajar 2: Melakukan pengangkatan/pemindahan material/komponen/part dan penataan area tempat kerja.

a.    Tujuan kegiatan belajar

1.    Siswa   dapat   melakukan   pekerjaan   pengangkatan /   pemindahan material/komponen/part secara manual.

2.    Siswa dapat melakukan pekerjaan pengangkatan pemindahan material/komponen/part secara mekanis.

3.    Siswa dapat melakukan penataan area   tempat  kerja   sesuai standar operasi kerja.

b.    Uraian materi

1.    Menata area tempat kerja dengan mengangkat dan memindahkan material/komponen/part secara manual.

2.    Menata area tempat kerja dengan mengangkat dan memindahkan material/komponen/part secara mekanis.

3.    Mengangkat kendaraan dengan alat-alat pengangkat.

4.    Menata material atau bahan-bahan berbahaya sesuai jenisnya.

c.    Rangkuman

 

d.    Tugas

1.    Tatalah material yang ada di bengkel sekolah sesuai tempat dan jenisnya dengan mengangkat dan memindahkan secara manual.

2.    Lakukan Pengangkatan material/komponen/part dengan peralatan pengangkat yang ada di bengkel sekolah.

3.    Lakukan pengangkatan kendaraan dengan macam-macam dongkrak yang ada di bengkel sekolah.

4.    Lakukan pengangkatankendaraan dengan carlift yang ada dibengkel sekolah.

5.    Tatalah material dan bahan – bahan  berbahaya yang ada di bengkel sekolah pada tempat yang sesuai dengan jenisnya.

6.    Infentarisaikan hal-hal yang kurang baik berkaitan denga penataan area tempat kerja di bengkel sekolah, lakukan perbaikan dan penataan bila diperlukan.

e.    Tes formatif            

f.     Kunci jawaban

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA 1

Kompetensi   : Pelaksanaan Operasi Penanganan secara manual.

Sub kompetensi      : Mengangkat dan memindahkan,menata material/komponen/part secara manual.

TUJUAN:

1.    Siswa dapat mengangkat dan memindah material / komponen / part secara manual.

2.    Siswa dapat menata material/komponen/part sesuai jenisnya.

KESELAMATAN KERJA:

1.    Jangan memaksakan diri sekiranya  material  tidak  dapat diangkat sendiri, angkat lah secara tim.

2.    Letakkan material/komponen/part yang paling berat di tempat yang paling bawah.

3.    Gunakan peralatan keselematan kerja sesuai jenis pekerjaan yang dilakukan.

ALAT:

1.    Kaos tangan.

2.    Rak/ meja untuk menempatkan material.

BAHAN:

1.    Macam-macam material/komponen/part otomotif.

2.    Kain majun/lap.

LANGKAH KERJA:

1.    Menyiapkan rak atau meja untuk menempatkan material.

2.    Membersihkan material/komponen/part yang akan diangkat atau dipindahkan.

3.    Melakukan pengangkatan/pemindahan material secara manual.

4.    Membuat laporan kerja berupa pencatan macam-macam material yang diangkat, dipindahkan atau disimpan, termasuk lokasi penyimpanannya.

LEMBAR KERJA 2

Kompetensi   : Pelaksanaan Operasi Penanganan secara manual.

Sub kompetensi      : Mengangkat dan memindahkan,menata material/komponen/part

secara mekanis.

TUJUAN:

1.    Siswa dapat mengangkat dan memindah material / komponen / part secara mekanis.

2.    Siswa dapat menata material/komponen/part sesuai jenisnya.

3.    Siswa dapat mengangkat kendaraan dengan macam-macam dongkrak.

4.    Siswa dapat mengangkat kendaraan dengan carlift.

KESELAMATAN KERJA:

1.    Pastikan alat pengangkat dapat bekerja normal.

2.    Hati-hati kendaraan jangan sampai tergelincir sewaktu diangkat.

3.    Jangan meninggalkan material/komponen/part tergantung pada alat pengangkat.

ALAT:

1.    Tali, seling, hook

2.    Rak/ meja untuk menempatkan material.

3.    Macam-macam jenis dongkrak.

4.    Alat pengungkit.

5.    Alat-alat pengangkat khusus.

6.    Forklift.

7.    Carlift.

BAHAN:

1.    Macam-macam material/komponen/part otomotif.

2.    Kain majun/lap.

3.    Unit kendaraan.

LANGKAH KERJA:

1.    Menyiapkan rak atau meja untuk menempatkan material.

2.    Membersihkan material/komponen/part yang akan diangkat atau dipindahkan.

3.    Melakukan pengangkatan/pemindahan material secara mekanis dengan tali,seling,hook, kran dan takel.

4.    Memindahkan barang dengan troli, forklift.

5.    Mengangkat unit kendaraan dengan carlift.

6.    Membuat laporan kerja berupa pencatan macam-macam material yang diangkat, dipindahkan atau disimpan, termasuk lokasi penyimpanannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA 3

Kompetensi   : Pelaksanaan Operasi Penanganan secara manual.

Sub kompetensi      : Mengangkat dan memindahkan,menata material/bahan berbahaya otomotif.

TUJUAN:

1.    Siswa dapat mengangkat, memindah material / bahan berbahaya otomotif sesuai jenisnya secara aman.

2.    Siswa dapat menata material/bahan berbahaya otomotif pada tempat yang sesuai standar operasi kerja.

KESELAMATAN KERJA:

1.    Hati-hati terhadap cairan berbahaya jangan mengenai kulit.

2.    Gunakan kaos tangan.

3.    Simpanlah material yang mudah terbakar menjadi satu dan berilah tulisan area bebas rokok.

4.    Pastikan tempat penyimpanan sesuai standar operasi kerja.

ALAT:

1.    Forklift dorong,kereta dorong.

2.    Rak/meja penyimpan material.

BAHAN:

1.    Macam-macam material/bahan berbahaya otomotif.

2.    Kain majun/lap.

LANGKAH KERJA:

1.    Menyiapkan rak atau meja untuk menempatkan material.

2.    Melakukan pengangkatan/pemindahan dan penataan material

3.    Membuatkan tulisan-tulisan pada jenis-jenis material berbahaya yang belum ada keterangannya.

4.    Membuatkan tulisan-tulisan peringatan di tempat atau gudang penyimpanan.

5.    Membuat laporan kerja berupa pencatan macam-macam material yang diangkat, dipindahkan atau disimpan, termasuk lokasi penyimpanannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

EVALUASI

A.   Kriteria dan Instrumen Penilaian

1.    Kriteria Penilaian Pengetahuan (Tes formatif):

a)    Siswa dapat skor 7 (tujuh) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 70 % s/d 80 %.

b)    Siswa dapat skor 8 (delapan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap  item soal antara 81 % s/d 90 %.

c)    Siswa dapat skor 9 (sembilan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 91 % s/d 100 %.

d)    Setiap item soal harus mendapat nilai minimal 7 (tujuh).

e)    Bila belum mencapai nilai tujuh siswa wajib belajar kembali dan mengulang pada item tersebut.

2.    Kriteria Penilaian Praktek

NO

ASPEK YANG DINILAI

INDIKATOR KEBERHASILAN

PENILAIAN

YA

TIDAK

7

8

9

 

1

2

3

4

5

6

7

1

Mengangkat,

memindahkan material/

komponen/part secara manual.

*  70 – 80 % Sesuai standar operasi kerja.

* 81-90 % sesuai standar operasi kerja.

* 91- 100 % sesuai standar operasi kerja.

2

Mengangkat,

memindahakan material/

komponen/part

memakai tali/

seling, hook,kran dan takel.

* 70-80 % sesuai standar operasi kerja.

* 81-90 % sesuai standar operasi kerja.

* 91-100 % sesuai standar operasi kerja.

3

Mengangkat,

memindahkan

material/

komponen/part

memakai pengungkit,

dongkrak troli dan forklift.

* 70-80 % sesuai standar operasi kerja.

* 81-90 % sesuai standar operasi kerja.

* 91-100 % sesuai standar operasi kerja.

4

Mengangkat kendaraan dengan macam-macam jenis dongkrak. * 70-80 % sesuai standar operasi kerja.

* 81-90 % sesuai standar operasi kerja.

* 91-100 % sesuai standar operasi kerja.

5

Mengangkat kendaraan dengan macam-macam jenis carlift. * 70-80 % sesuai dengan standar operasi kerja.

* 81-90 % sesuai standar operasi kerja.

* 91-100 % sesuai standar operasi kerja.

6

Memindahkan dan menyimpan material/bahan berbahaya otomotif pada area tempat kerja dan menata area tempat kerja. * 70-80 % sesuai standar operasi kerja.

* 81-90 % sesuai standar operasi kerja.

* 91-100 % sesuai standar operasi kerja.

7

K3 dan SOP Dapat menerapkan K3 dan SOP.
JUMLAH :

 

 

 

CATATAN :

1.    Nilai 7,00 (lulus baik / YA), tepat waktu dan 70-80 % memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan.

2.    Nilai 8,00 (lulus amat bai        k / YA), waktu lebih cepat dan 81-90 % memenuhi Standar minimal yang dipersyaratkan.

3.    Nilai 9,00 (lulus istimewa / YA), waktu lebih cepat dan 91-100 % memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan.

4.    Nilai Praktik = Jumlah perolehan nilai dibagi tujuh = ………………

B.   Tes Praktik : Berpedoman pada cek list kriteria penilaian Praktik yang ada pada modul ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR KEMAJUAN SISWA        

NAMA SISWA  :

NIS                           :

NO

NILAI FORMATIF 1

NILAI PRAKTIK

KETERANGAN

N1

N2

 

N= (4xN1)+(6xN2)

                        

                 10

1

   

2

   

3

   

4

   

5

   

6

   

7

   

8

   

9

   

10

   

11

   

12

   

Rata-rata

 

 

N = …………………………

 

CATATAN: Daftar kemajuan hanya diisi nilai materi yang sudah memenuhi standar minimal kelulusan.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

Bagi siswa yang belum memenuhi standar kelulusan yang ditentukan, wajib mengulangi belajar pada modul ini, terutama pada item-item soal yang belum memenuhi standar kelulusan.

Bagi siswa yang sudah berhasil lulus akan mendapatkan nilai akhir minimal 7,00 (tujuh koma nol nol) dan dapat melanjutkan ke modul berikutnya, atau bersama guru pengampu merencanakan uji eksternal untuk mendapatkan pengakuan kompetensi atau sertifikat kompetensi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (Th.   ). Perbaikan Kendaraan Ringan.  Bahan pelatihan Nasional.

Anonim. (2004). Modul Pelaksanaan Operasi Penanganan Secara Manual Jogyakarta : SMK N 2 Depok,

Daryanto. Drs. (2001). Keselamatan Kerja Bengkel Otomotif. Jakarta: Bumi Aksara.

Fatimah Sumanto,Noeraniah Akmaloedin. (1987). Biologi 2. Jakarta: Pustaka Ilmu.

PemeliharaanServis Engine dan Komponen-komponennya

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Deskripsi

Modul Pemeliharaan/servis Engine dan komponen-komponennya dengan kode OPKR. 20-001-2 B membahas tentang prosedur perawatan/servis engine gasoline/motor bensin secara berkala.

Materi kompetensi yang terdapat pada modul ini merupakan sub kompetensi dari kompetensi pemeliharaan/servis engine secara keseluruhan. Apabila siswa menguasai sub kompetensi ini, akan mudah mempelajari  kompetensi yang lainnya, terutama yang terkait dengan perbaikan engine. Dalam dunia perotomotifan, perawatan/servis engine secara berkala dikenal dengan sebutan Tune-up engine.

Setelah melaksanakan modul ini diharapkan siswa dapat memahami  prosedur perawatan/servis engine gasoline dan komponen-komponennya, serta dapat melakukan perawatan/servis engine dan komponen-komponennya secara berkala. Kompetensi yang terdapat dalam modul ini akan membekali siswa pengetahuan dan ketrampilan serta sikap yang benar yang terkait dengan setiap pekerjaan perawatan/servis engine secara berkala, sehingga siswa memiliki kemampuan yang dapat diterapkan di dunia industri perotomotifan.

Modul ini dibagi menjadi 2 kegiatan belajar yaitu: kegiatan belajar 1   prosedur perawatan/servis engine bensin dan komponen-komponennya secara berkala dan kegiatan belajar 2 prakteik perawatan/servis engine gasoline dan komponen-komponennya secara berkala.

 

B.   Prasyarat

Sebelum memulai modul ini, siswa harus sudah menyelesaikan modul OPKR.10-016 B tentang K3,  OPKR. 10-017 B tentang penggunaan peralatan dan perlengkapan tempat kerja, modul OPKR. 10-010 B Penggunaan dan pemeliharaan alat ukur modul OPKR. 20-001-1 B Prinsip kerja engine dan identifikasi komponen-komponen engine, serta modul lainnya yang harus dipelajari lebih awal sesuai dengan peta kedudukan modul.

C.   Petunjuk Penggunaan Modul

1.    Petunjuk Bagi Siswa

Untuk  memperoleh  hasil  belajar  secara  maksimal   dalam   mempelajari materi modul ini, langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:

a.    Bacalah dan pahamilah dengan seksama uraian-uraian  materi yang ada  pada  kegiatan  belajar.  Bila  ada   materi  yang  kurang jelas, siswa dapat bertanya pada guru yang  mengampu  kegiatan belajar tersebut. Kerjakanlah setiap  tugas  formatif  (soal  latihan)  untuk mengetahui   seberapa   besar   pemahaman   yang   telah  dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.

b.    Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikanlah hal-hal berikut ini:

1)    Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang diberikan.

2)    Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik.

3)    Sebelum melaksanakan praktik, siapkan alat dan bahan yang diperlukan secara cermat (lihat lembar kerja).

4)    Gunakan alat sesuai prosedur pemakaian yang benar

5)    Untuk melakukan kegiatan belajar praktik yang belum jelas, harus meminta ijin guru lebih dahulu.

6)    Setelah selesai praktik, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula.

c.     Siswa dinyatakan lulus,  bila  sudah  dapat  menjawab  seluruh  soal dengan benar tanpa melihat buku atau kunci jawaban, serta dapat melakukan praktik sesuai standar minimal  yang  ditentukan. Bila belum berhasil siswa wajib mengulang.

d.    Bila siswa sudah  dinyatakan  berhasil,  siswa  bersama  guru  dapat membuat rencana uji  kompetensi   dengan  menghadirkan  lembaga sertifikasi profesi setempat yang telah  diakui keberadaannya,  untuk mendapatkan pengakuan kompetensi dengan sertifikat.

e.    Konsultasikan dengan guru pada saat merencanakan proses belajar, saat menemui  kesulitan  dalam  menjawab  soal-soal  maupun saat  melakukan praktik,  ataupun  bila memerlukan sumber  belajar yang lain. Dapat mengkomunikasikan dengan guru bila membutuhkan pendamping dari industri pada saat belajar, juga saat akan mengerjakan modul berikutnya.

2.    Petunjuk Bagi Guru

Dalam setiap kegiatan belajar guru berperan untuk:

a.    Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar.

b.    Membimbing siswa melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.

c.     Membantu siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan siswa mengenai proses belajarnya.

d.    Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.

e.    Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.

f.     Membantu siswa mencarikan pendamping dari industri bila diperlukan.

g.    Mencatat hasil kemajuan belajar siswa.

h.    Melaksanakan penilaian internal.

i.      Menjelaskan pada siswa apabila ada yang perlu dibenahi dan merundingkan pada siswa rencana pemelajaran berikutnya.

 

D.   Tujuan Akhir

Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini siswa diharapkan:

1. Memahami prosedur perawatan/servis engine bensin dan komponennya.

2. Dapat melakukan pekerjaan perawatan/servis engine bensin secara berkala.

E.    KOMPETENSI

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETRAMPILAN

1.Memelihara/servis engine dan komponen-komponennya *Pemeliharaan/servis engine

dan komponen-komponennya

dilakukan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya.

*Informasi yang benar diakses dari spesifikasi pabrik.

*Seluruh kegiatan servise,baik proses,hasil data harus sesuai SOP,K3

*Komponen-komponen engine yang perlu diperiksa/ diservis.

*Data spesifikasi pabrik.

*Prosedur pemeliharaan/ servis.

*Menerapkan

SOP dalam pemeliharaan/servis engine dan komponennya.

*Menerapkan  K3.

*Melaksanakan kegiatan yang komplek dan tidak rutin, menjadi mandiri dan bertanggung jawab untuk pekerjaan yang lainnya.

*Prosedur pemeliharaan/

servis.

*Persyaratan keamanan peralatan/ komponen.

*Persyaratan keamanan  dan keselamatan diri.

*Melakukan perawatan/

servis engine dan komponennya.

 

F.    Cek Kemampuan AWAL

Sebelum siswa mempelajari modul ini, siswa dapat mencoba mengerjakan soal-soal yang ada pada lembar soal formatif. Bila siswa merasa dapat mengerjakan soal-soal formatif, guru pembimbing dapat melakukan tes kepada siswa yang bersangkutan dan bila hasilnya benar pembimbing dapat menyediakan bagi siswa tersebut modul berikutnya. Tetapi bila siswa belum bias, maka harus melanjutkan mempelajari modul ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMELAJARAN

A.   Rencana Belajar Siswa

Rencanakanlah setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.  Prosedur perawatan/servis engine bensin.
2.  Melakukan perawatan/servis engine bensin.

B.   Kegiatan Belajar

Kegiatan Belajar 1: Prosedur Perawatan/servis Engine Bensin

a.    Tujuan Kegiatan Belajar

Siswa dapat menjelaskan komponen-komponen yang memerlukan perawatan, serta prosedur perawatan engine bensin.

b.    Uraian Materi

Prosedur Perawatan Engine Bensin

Engine yang sudah  dioperasikan  akan  mengalami  perubahan fisik pada komponen-komponennya seperti pada: blok motor, kepala silinder, mekanik katup,  poros engkol,  kelengkapan piston,  poros nok dan  yang lainnya. Perubahan fisik tersebut  dapat mengganggu kinerja engine. Untuk mengatasi hal  tersebut perlu  dilakukan  perawatan  secara rutin/berkala, agar tingkat perubahan  yang  terjadi  dapat  ditekan   seminimal mungkin. Perawatan rutin komponen-komponen  engine  dilakukan  tidak secara langsung pada komponen-komponen tersebut di atas,  tetapi pada sistem-sistem   yang    mendukung    kinerja    engine.     Pada    industri perotomotifan perawatan  rutin  terhadap   komponen-komponen  engine disebut dengan Tune-up engine. Adapun perawatan yang dimaksud meliputi:

 

1.    Perawatan Sistem Pendinginan

Gangguan  pada  sistem  pendinginan  secara   umum  akan berakibat meningkatnya  suhu  kerja  engine  yang  akhirnya akan mengganggu kinerja engine. Gangguan langsung yang dirasakan antara lain: tenaga  berkurang, bahan bakar boros, komponen-komponen engine mengalami kerusakan pekerjaan perawatan berkala pada sistem pendinginan meliputi:

a)    Pemeriksaan tinggi permukaan air pendingin

Periksa ketinggian  air   pendingin   yang   terdapat   pada   tangki Penampungan (Reservoir). Jika tinggi air kurang isilah hingga garis FULL.

 

Gambar 1. Pemeriksaan tinggi air

 

 

 

b)    Memeriksa kondisi air pendingin

Periksalah air pendingin kemungkinan kotor terdapat karat atau tercemar oli.

Gambar 2. Pemeriksaan kondisi air pendingin

 

c)     Memeriksa sistem pendinginan

Periksalah kemungkinan terjadi:

1)    Kerusakan fisik pada radiator atau slang radiator.

2)    Kerusakan pada klem slang radiator.

3)    Kisi-kisi radiator berkarat.

4)    Kebocoran pada pompa air, pipa radiator (core),penguras.

Gambar 3. Pemeriksaan sistem pendinginan

 

d)    Memeriksa kerja tutup radiator

Dengan menggunakan alat tes tutup radiator (Radiator cap tester) periksalah kondisi pegas dan katup vakum dari tutup radiator. Tutup perlu diganti bila tekanan pembukaan dibawah angka spesifikasi pabrik, atau jika secara fisik rusak.

Tekanan pembukaan katup :

STD : 0,75 – 1,05 kg/cm2

Limit : 0,6 kg/cm2

(sesuaikan dengan ketentuan manual)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Pemeriksaan kerja tutup radiator

 

e)    Memeriksa tali kipas

1)    Tali kipas diperiksa secara visual kemungkinan terjadi: Retak, perubahan bentuk,  aus atau  terlalu keras. terkena oli atau paslin/grease.

2)    Persinggungan yang tidak sempurna antara tali dan puli.

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. Pemeriksaan tali kipas secara visual

f)     Memeriksa dan menyetel tegangan tali kipas

Dengan tekanan 10 kg/cm2, tekan tali seperti pada gambar defleksi/kelenturan tali :

Pompa air – Alternator : 7 – 11 mm

Engkol – Kompressor : 11 – 14 mm

Bila tidak memenuhi spesifikasi pabrik lakukan penyetelan tali kipas dengan SST penyetel tali kipas.

Tegangan tali kipas :

Baru : 100 – 150 Lbs

Lama          : 60 – 100 Lbs.

(sesuaikan dengan ketentuan manual)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6. Pemeriksaan tegangan tali kipas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7. Penyetelan tegangan tali kipas

 

2.    Membersihkan saringan udara/Air filter

Gangguan pada saringan udara akan berakibat tenaga engine berkurang dan bahan bakar boros. Adapun prosedur perawatannya seperti berikut:

a)    Melepas saringan udara dari engine. Jangan sampai ada benda yang masuk ke karburator.

b)    Hembuskan tekanan udara dari sisi dalam elemen.

c)    Bila elemen rusak atau terlalu kotor supaya diganti.

Gambar 8. Membersihkan elemen saringan udara

3.    Memeriksa Baterai

Kemampuan kerja baterai akan mengalami penurunan seiring dengan pemakaian. Kinerja baterai yang kurang baik akan menyebabkan: sulit untuk menstarter engine, gangguan pada sistem penerangan dan peralatan tambahan (assesoris).

Perawatan baterai meliputi:

a)    Pemeriksaan secara visual:

Periksa baterai kemungkinan:

1)    Penyangga baterai berkarat.

2)    Terminal longgar, berkarat atau rusak.

3)    Kotak baterai rusak atau bocor.

Gambar 9. Pemeriksaan baterai secara visual

 

b)    Mengukur berat jenis elektrolit

1)    Memeriksa berat jenis baterai dengan hydrometer

       Berat jenis : 1,25 – 1,27 pada suhu 200 C

2)    Periksa jumlah elektrolit pada setiap sel. Ketinggian elektrolit harus berada antara garis Uper level dan lower level.

 

 

 

Gambar 10. Pemeriksaan elektrolit baterai

 

4.    Memeriksa Sistem Pelumasan

Sistem pelumasan merupakan bagian vital pada engine. Gangguan pada sistem pelumasan akan berakibat: suhu engine meningkat berlebihan, komponen-komponen engine cepat aus dan tenaga mesin akan terasa berkurang. Perawatan pada sistem pelumasan meliputi:

a)    Memeriksa tinggi oli

Tinggi oli harus berada antara garis L dan F, bila kurang harus ditambah, periksalah kemungkinan ada kebocoran, dan   perbaikilah.

Gambar 11. Pemeriksaan tinggi oli

 

b)    Memeriksa kondisi oli

Periksa oli kemungkinan kotor, tercemar air atau sudah berubah warna karena terbakar.

Gambar 12. Pemeriksaan kondisi oli

 

c)     Mengganti saringan oli (oil filter)

1)    Membuka saringan oli dengan SST.

2)    Pasang saringan oli baru  dengan tangan sampai kencang.

3)    Hidupkan mesin dan periksa kebocoran.

4)    Matikan mesin dan periksa tinggi oli, bila kurang ditambah.

Gambar 13. Melepas saringan oli

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 14. Memasang saringan oli

5.    Memeriksa, membersihkan dan menyetel busi

Busi adalah komponen yang memberikan loncatan api untuk proses pembakaran. Bila busi kotor, rusak akan berakibat: tenaga engine kurang, engine tidak dapat idel, pincang dan sulit distarter. Perawatan busi meliputi:

a)    Pemeriksaan busi secara visual

1)    Kemungkinan retak, kerusakan pada ulir atau isolator.

2)    Keausan pada elektroda.

3)    Gasket rusak atau berubah bentuk.

4)    Elektroda terbakar atau kotor berlebihan.

 

 

 

Gambar 15. Pemeriksaan busi secara visual

b)    Membersihkan busi

1)    Jangan menggunakan pembersih busi terlalu lama.

2)    Hembuskan kompoun dan karbon pembersih dengan udara tekan

3)    Bersihkan ulir dan permukaan luar isolator.

 

Gambar 16. Membersihkan busi

 

c)    Menyetel celah busi

Memeriksa semua celah busi dengan alat pengukur celah. Jika diperlukan setelah celah busi dengan membengkokkan elektroda busi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 17. Penyetelan celah busi

6.    Memeriksa kabel tegangan tinggi

Gangguan kabel tegangan tinggi pengapian akan berakibat: engine sulit distarter, tidak dapat idel, pincang dan tenaga kurang. Hal ini dapat terjadi karena tahanan kabel menjadi sangat besar. Periksalah semua kabel tegangan tinggi tahanan kabel: kurang dari 25 kW.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 18. Cara melepas kabel busi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 19. Cara memeriksa tahanan kabel busi

 

7.    Distributor

Gangguan pada distributor akan berakibat kinerja sistem pengapian tidak sempurna, yang akhirnya akan mengganggu kinerja engine: engine sulit distart, tenaga kurang, panas berlebihan dan komponen-komponen utama engine cepat rusak. Adapun perawatannya meliputi:

a)    Memeriksa tutup distributor

Periksa tutup distributor serta rotor dari kemungkinan:

1)    Retak, berkarat, kotor atau terbakar.

2)    Terminal-terminal kotor atau terbakar.

3)    Pegas karbon terminal tengah lemah atau macet.

Gambar 20. Pemeriksaan tutup distributor

 

b)    Menyetel celah platina atau celah udara

1)    Jika platina aus, rusak atau terbakar ganti yang baru.

2)    Stel celah platina : celah blok : 0,45 mm

3)    Stel celah udara antara rotor dan proyeksi koil (pengapian elektronik). Celah udara : 0,2 – 0,4 mm

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 21. Cara penyetelan platina atau celah udara

 

c)     Memeriksa sudut Dwell

Periksa sudut dwell dengan Dwell tester.

Sudut dwell : 50 0 – 54 0

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 22. Pemeriksaan sudut dwell

d)    Memeriksa saat pengapian

Stel putaran mesin pada putaran idel, oktan selector pada posisi standar. Pada putaran maksimal 950 Rpm saat pengapian antara 50 –15 0 sebelum TMA (sesuaikan dengan spesifikasi pabrik).

Penyetelan pengapian dengan merubah posisi distributor serta menggunakan alat Timing light.

Jangan menyetel dengan Oktan selector.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 23. Penyetelan saat pengapian

 

e)    Memeriksa kerja governor advancer

1)    Rotor harus kembali dengan cepat setelah diputar searah putaran rotor dan dilepas.

2)    Rotor tidak boleh terlalu kendor.

 

Gambar 24. Pemeriksaan Governoor advancer

 

f)     Memeriksa governor advancer dengan engine hidup

Hidupkan engine dan lepaskan  slang  vakum  pada distributor. Saat pengapian berubah-ubah sesuai putaran engine.

Gambar 25. Pemeriksaan Governoor advancher dengan engine hidup

 

g)    Memeriksa kerja Vacum advancer

Hubungkan slang vakum pada distributor. Oktan selector akan berubah-ubah sesuai putaran engine.

Gambar 26. Pemeriksaan Vacum advancer

 

 

 

8.    Menyetel Celah Katup

Perubahan pada setelan celah katup akan berakibat pemasukan gas baru dan pengeluaran gas bekas terganggu dan akan menyebabkan tenaga engine berkurang, putaran idel terganggu dan suara berisik. Adapun prosedur penyetelannya sebagai berikut:

a)    Menepatkan tanda timing

1)    Panaskan engine kemudian matikan

2)    Tepatkan silinder no 1 pada TOP kompresi

b)    Mengencangkan baut-baut kepala silinder dan penumbuk katup.

1)    Baut kepala silinder: 5,4 – 6,6 kg.m

2)    Baut penumbuk katup: 1,8 – 6,6 kg.m

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 27. Pengencangan baut kepala silinder dan penumbuk katup.

 

c)     Menyetel Celah Katup

Celah katup diukur di antara batang katup dengan lengan penumbuk (Rocker arm).

Celah katup hisap: 0,20 mm, katup buang: 0,30 mm (sesuaikan dengan ketentuan manual)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 28. Penyetelan katup TOP kompresi silinder 1

 

Putar satu kali putaran (360 0), stel pada TOP kompresi silinder 4.

Gambar 29. Penyetelan katup TOP kompresi silinder 4

 

9.    Memeriksa Karburator

Untuk penyetelan karburator gunakan manual sesuai jenis karburator dan merek kendaraannya.

Gangguan pada sistem karburator akan berakibat: tenaga engine berkurang, putaran idel tidak baik dan bahan bakar boros. Perawatan pada sistem karburator meliputi:

a)    Memeriksa katup trotel

1)    Katup trotel harus membuka penuh saat pedal gas ditekan penuh.

2)    Penyetelan dilakukan melalui kabel gas atau baut penyetop pedal gas.

Gambar 30. Pemeriksaan katup trotel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 31. Penyetelan pembukaan katup trotel

 

b)    Memeriksa Pompa Akselerasi

Bensin harus menyemprot keluar dari Jet saat katup trotel terbuka.

Gambar 32. Pemeriksaan pompa akselerasi.

 

c)     Memeriksa Katup Cuk Konvensional

Katup cuk harus membuka penuh bila tombol cuk ditarik penuh dan menutup penuh bila tombol dilkembalikan.

Gambar 33. Pemeriksaan katup cuk saat tombol ditarik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 34. Pemeriksaan katup cuk saat tombol dilepas

d)    Memeriksa Pembuka Cuk Otomatis

1)    Memeriksa BVSV mesin dalam keadaan dingin, suhu air dibawah 30 0C, lepaskan slang vakum dari pembuka cuk.

Gambar 35. Pelepasan slang vakum penarik cuk

 

2)    Menarik tombol cuk, menekan pedal gas sekali dan menghidupkan engine.

Gambar 36. Penarikan tombol cuk engne hidup dan digas

 

3)    Pasang kembali slang vakum, penghubung cuk tidak bergerak.

 

Gambar 37. Pemeriksaan penghubung cuk

4)    Memeriksa BVSV keadaan engine panas. Hidupkan mesin sampai suhu kerja, matikan lalu lepaskan slang vakum dari pembuka cuk.

Gambar 38. Pelepasan slang vakum dari penghubung cuk

5)    Tarik tombol penuh, tekan pedal gas sekali, dan kembalikan tombol  posisi setengah.

Gambar 39. Tombol cuk posisi setengah

6)    Pastikan nok idel tinggi pada langkah kedua, dan hidupkan  engine.

 

 

 

 

 

Gambar 40. Pengecekkan nok idel tinggi pada langkah kedua

7)    Pasang kembali slang vakum, pastikan linkage cuk bergerak dan nok idel tinggi dibebaskan pada langkah ketiga. Pada saat tombolcuk ditekan habis, putaran engine kembal idel. Perhatikan gambar berikut:

 

 

 

Gambar 41. Nok idel tinggi pada langkah ketiga

10.         Penyetelan Putaran dan Campuran Idel (Gunakan selalu buku manual sesuai merek kendaraan dan Tahun pembuatannya).

Dalam penyetelan putaran dan campuran idel, perlu diperhatikan hal-hal berikut:

a)    Saringan udara dalam keadaan terpasang

b)    Suhu air pendingin normal (suhu kerja)

c)    Katup cuk terbuka penuh

d)    Semua perlengkapan tambahan dimatikan

e)    Semua saluran vakum terpasang

f)     Transmisi pada posisi netral

g)    Saat pengapian benar-benar tepat (sudah distel)

h)    Tachometer dan pengukur vakum terpasang

i)     Pengukur CO pada posisi NOL siap pakai.

a)   Lepaskan slang HIC dan sumbatlah ujung slangnya.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 42. Pelepasan slang HIC

 

b)   Membuka kap pembatas idel

Membuka kap pembatas idel pada skrup pengatur campuran idel jika terpasang seperti gambar berikut:

Gambar 43. Cara membuka kap pembatas idel

 

c)    Menyetel idel pada putaran spesifikasi

Menyetel putaran idel pada putaran spesifikasi (600-800 Rpm), dengan jalan menyetel sekrup pengatur seperti berikut:

Gambar 44. Penyetelan putaran idel

 

d)   Menyetel vakum maksimum

Stel hingga vakum maksimum dengan memutar sekrup pengatur campuran idel dengan SSTseperti berikut:

Gambar 45. Penyetelan vakum maksimum

e)   Menyetel putaran dan campuran idel

Ulangi penyetelan putaran dan campuran hingga vakum benar-benar maksimum seperti berikut:

Gambar 46. Penyetelan putaran dan campuran idel

 

f)    Cek putaran dan campuran idel

Pengecekan setelan putaran dan campuran idel dengan menarik link gas kemudian melepaskan kembali. Pastikan Rpm kembali ke posisi spesifikasi seperti berikut:

Gambar 47. Pengecekan setelan putaran dan campuran idel

11.    Mengukur Konsentrasi CO Pada Gas Buang

a)    Menaikkan putaran sekitar 200 Rpm selama 30 – 60 detik.

b)    Tunggu 1 menit, baru lakukan pengukuran. Pengukuran harus dilakukan selama 3 menit seperti berikut:

Gambar 48. Pengukuran konsentrasi CO

c)    Jika  seluruh  pekerjaan  penyetelan  sudah  selesai,   kembalikan slang katup HIC seperti semula dan pasang kap pembatas idel yang baru seperti berikut:

Gambar 49. Pemasangan slang katup HIC dan Kap pembatas idel.

 

12.    Memeriksa Tekanan Kompresi Engine

a)    Panaskan engine sampai suhu kerja

b)    Lepas semua busi

 

 

Gambar 50. Melepas busi

c)    Melepas kabel tegangan tinggi dari koil pengapian agar aliran skunder terputus.

 

Gambar 51. Pelepasan kabel tegangan tinggi koil

d)    Memasang kompresi tester pada  lubang busi, buka trotel penuh dan start engine pada putaran: 250 Rpm selama maksimal 3 detik. Baca hasil pengukuran antara 9 – 12 kg/cm2 (sesuaikan dengan manual merek kendaraan) yang diukur.

Gambar 52. Pemeriksaan tekanan kompresi

 

 

c.    Rangkuman

1.    Perawatan komponen-komponen engine dilaksanakan dengan pekerjaan Tune-up engine.

2.    Tune-up engine: mengembalikan kinerja engine secara maksimal dengan memelihara, menyetel dan mengganti komponen yang mendukung kinerja engine.

3.    Pekerjaan Tune-up meliputi:

a)        Sistem pendingin

b)        Tali kipas

c)        Saringan udara

d)        Baterai

e)        Oli mesin

f)         Busi

g)        Kabel tegangan tinggi

h)    Distributor

i)     Baut kepala silinder dan penumbuk katup

j)     Celah katup

k)    Karburator

l)     Putaran idel

m)  Konsentrasi CO

n)    Tekanan kompresi.

4.    Alat tes sistem pendinginan adalah Radiator tester.

5.    Pengukuran tegangan tali kipas antara pompa air dan alternator, antara engkol dan kompressor.

6.    Pengukuran baterai meliputi: kondisi terminal, kondisi kotak baterai dan berat jenis elektrolit.

7.    Perawatan sistem pelumasan: kondisi dan kapasitas oli, penggantian saringan oli.

8.    Perawatan busi: membersihkan , menyetel atau mengganti busi.

9.    Tahanan kabel tegangan tinggi kurang dari 25 kW.

10.     Pemeriksaan distributor meliputi: tutup dan terminal-terminal tutup distributor,rotor, governor advancer, vakum advancer, penyetelan celah platina dan sudut dwell.

11.     Prosedur menyetel pengapian: hidupkan engine, pasang timing light, lihat tanda penyesuai, tepatkan dengan menggerakkan distributor.

12.     Prosedur menyetel celah katup: Kencangkan baut kepalasilinder dan penunjang batang penumbuk, posisikan tanda timing pada TOP kompresi silinder 1, setel katup buang silinder 1 dan 3 dan katup masuk silinder 1 dan 2. Putar 360 0 Setel katup masuk dan buang yang belum disetel.

13.     Pemeriksaan Karburator meliputi: kerja trotel,pompa akselerasi, cuk,  pembuka cuk, putaran dan campuran idel.

14.     Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menyetel putaran dan campuran idel: air filter terpasang, suhu air normal, cuk membuka penuh, perlengkapan tambahan mati, semua slang vakum terpasang, transmisi netral, pengapian tepat, tacho dan pengukur vakum terpasang dan meteran CO posisi NOL siap pakai.

15.     Prosedur tes tekanan kompresi: Panaskan engine, membuka semua busi,  melepas kabel tegangan tinggi koil, memasang alat tes, menstarter engine dan membaca hasil pengukuran.

d.    Tugas

1.    Carilah dan pelajarilah minimal dua buku manual suatu kendaraan bermesin bensin, pelajarilah  pada  bagian  Tune-up engine.

2.    Catatlah dalam buku tugas merek kendaraan yang  dipelajari, dan bagian komponen yang memerlukan penyetelan serta spesifikasi penyetelannya.

e.    Tes formatif

1.    Jelaskan yang dimaksud dengan Tune-up engine.

2.    Sebutkan 15 pekerjaan Tune-up engine.

3.    Sebutkan 8 alat tester yang digunakan untuk pekerjaan Tune-upmotor bensin.

4.    Sebutkan 5 pekerjaan tune-up pada sistem pendingin.

5.    Sebutkan 4 pemeriksaan pada baterai.

6.    Apa akibatnya bila kapasitas oli kurang?

7.    Apa akibatnya bila busi kotor, tahanan kabel melebihi ketentuan?

8.    Sebutkan 8 pemeriksaan/penyetelan terkait dengan distributor.

9.    Engine 4 silinder FO 1342, pada  TOP  kompresi  silinder  4  katup mana saja yang bisa disetel?

10. Sebutkan 6 pemeriksaan pada karburator.

11. Sebutkan 9 ketentuan sebelum menyetel putaran dan  campuran idel.

12. Sebutkan 2 prasyarat pengetesan tekanan kompresi.

f.     Kunci Jawaban

1.    Mengembalikan kinerja engine secara maksimal dengan, memeriksa, menyetel, membersihkan dan mengganti komponen.

2.    Memeriksa kondisi air, kapasitas air, tali kipas, baterai, oli, saringan oli,  busi, kabel tegangan tinggi, tutup distributor, rotor, governor, vakum advancer, celah platina, pengapian, celah katup, karburator, putaran idel campuran idel dan tekanan kompresi.

3.    Radiator tester, Radiator   cap tester,  Hydro meter, Tacho meter, Dwell tester, Timing light, vakum meter, CO meter, Compression Tester.

4.    Memeriksa kondisi air, kapasitas air, sistem  pendingin, tutup radiator dan tali kipas.

5.    Terminal baterai, Berat jenis  elektrolit, tegangan dan kebocoran elektrolit.

6.    Engine panas, komponen engine cepat rusak.

7.    Engine sulit hidup, tenaga kurang.

8.    Kondisi tutup, terminal-terminal, rotor, vakum advancer, governoor, celah platina, pengapian dan pegas karbon.

9.    Katup masuk silinder 3 dan 4 serta katup buang silinder 2 dan 4.

10. Trotel, pompa akselerasi, cuk, pembuka cuk, putaran idel dan campuran idel.

11. Saringan udara terpasang, suhu air normal, cuk membuka penuh, perlengkapan tambahan mati, slang vakum terpasang, transmisi netral, pengapian tepat,Tacho dan pengukur vakum terpasang serta CO meter posisi NOL siap pakai.

12. Engine pada suhu kerja, Trotel membuka penuh.

Kegiatan belajar 2: Perawatan/servis Engine Bensin

 

a.            Tujuan Kegiatan Belajar

Siswa dapat melakukan perawatan/servis engine bensin sesuai ketentuan standar operasi kerja dan K3.

b.            Uraian Materi

1.    Melakukan praktik perawatan/servis engine bensin dengan engine yang ada di bengkel sekolah.

2.    Menggunakan buku manual sesuai engine  yang  digunakan untuk latihan.

3.    Menerapkan prosedur K3 dalam praktik.

4.    Gunakan lembar kerja yang ada pada modul  ini  untuk  pedoman praktik.

c.             Tugas

1.    Lakukan latihan  praktik   perawatan/servis  engine  bensin pada engine stand atau  pada unit  kendaraan  yang  ada pada bengkel sekolah berulang-ulang sampai benar-benar menguasai  materi/trampil.

2.    Catatlah   dalam   buku   tugas   setiap   hasil   pemeriksaan   dan perbaikan/penyetelan yang dilakukan serta kesimpulan hasilnya.

3.    Laporkan pada  guru pembimbing  bila  sudah  menguasai  materi untuk dilakukan tes praktik.

d.            Tes formatif

Lakukan   pekerjaan   Perawatan  engine   bensin   secara berkala sesuai prosedur standar dan prosedur Kesehatan dan keselamatan kerja.

e.            Kunci jawaban

Berpedoman pada kriteria penilaian praktik pada modul ini   dan pada buku manual sesuai yang digunakan untuk  praktikum, bila menggunakan buku manual.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA

Kompetensi             : Pemeliharaan/servis Engine dan Komponennya.                         

Sub kompetensi      : Perawatan Berkala Motor Bensin.

                  

TUJUAN:

1.    Siswa dapat melakukan pekerjaan perawatan berkala motor bensin.

KESELAMATAN KERJA:

1.    Pergunakan peralatan sesuai fungsinya.

2.    Elektrolit baterai jangan sampai kena anggota badan dan pakaian.

3.    Pastikan hand rem aktif bila menggunakan unit kendaraan dalam belajar.

ALAT:

1.    Peralatan tangan standar.

2.    Peralatan Tune-up motor bensin standar.

3.    SST untuk Tune-up.

4.    Fender cover.

5.    Tempat komponen.

6.    Kompresor udara.

7.    Buku manual sesuai jenis/merek engine yang digunakan.

BAHAN:

1.    Engine stand motor bensin atau unit kendaraan.

2.    Oli pelumas engine, Saringan oli, busi, baut-baut platina.

3.    Elektrolit baterai/air baterai.

4.    Air pendingin.

5.    Kertas gosok.

6.    Kain lap (majun).

7.    Tali kipas.

LANGKAH KERJA:

1.    Siapkan peralatan dan bahan.

2.    Pastikan hand rem aktif bila menggunakan unit kendaraan.

3.    Praktek Tune-up dengan langkah seperti pada manual.

4.    Diskusikan dengan teman atau Tanya pembimbing bila ada yang ragu.

5.    Catatlah hasil pemeriksaan dan penyetelan komponen pada buku tugas.

6.    Ulangi pekerjaan ini sampai benar-benar kompetensi.

7.    Kembalikan alat dan bahan seperti semula.

8.    Bersihkan lingkungan kerja seperti semula.

9.    Laporkan pada pembimbing bila sudah menguasai materi untuk bersama-sama merencanakan uji kompetensi internal.

                  

         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

EVALUASI

A.   Kriteria dan Instrumen Penilaian

1.                   Kriteria Penilaian Pengetahuan (Tes 1 dan Tes 2):

a.    Siswa dapat skor 7 (tujuh) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 70 % s/d 80 %.

b.    Siswa dapat skor 8 (delapan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap  item soal antara 81 % s/d 90 %.

c.     Siswa dapat skor 9 (sembilan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 91 % s/d 100 %.

d.    Setiap item soal harus mendapat nilai minimal 7 (tujuh). Bila belum mencapai nilai tujuh siswa wajib belajar kembali dan mengulang pada item tersebut.

 

2.    Kriteria Penilaian Praktik

      

NO

ASPEK YANG DINILAI

INDIKATOR KEBERHASILAN

PENILAIAN

YA

TIDAK

7

8

9

 

1

2

3

4

5

6

7

1

 Sistem Pendinginan Dapat memeriksa kondisi dan kapasitas air, kondisi radiator dan slang radiator, tes tekanan sistem dan kerja tutup radiator mengetes, serta dapat menguras dan mengganti air pendingin

Memeriksa dan menyetel tegangan tali kipas.

2

Saringan udara Dapat memeriksa kondisi dan membersihkan serta mengganti elemen saringan

3

Baterai Dapat memeriksa kondisi, penyangga, hubungan dan kondisi terminal, kebocoran, kapasitas dan berat jenis elektrolit

4

Sistem Pelumasan Dapat memeriksa kapasitas dan kondisi oli, mengganti oli, memeriksa dan mengganti saringan oli

5

Busi. Dapat memeriksa kondisi busi, membersihkan dan menyetel busi

6

Kabel tegangan tinggi. Dapat mengukur tahanan kabel tegangan tinggi.

7

Distributor Pengapian Dapat memeriksa kondisi tutup distributor,rotor, kerja governor dan vakum advancer, memeriksa dan menyetel celah platina, memeriksa dan menyetel sudut dwell, memeriksa dan menyetel saat pengapian.

8

Celah Ktup Dapat menepatkan timing katup,mengukur dan menyetel katup. Mengencangkan baut kepala silinder dan rocker arm.

9

Tekanan Kompresi Dapat mengukur tekanan kompresi serta menyimpulkan hasilnya

10

Karburator Dapat memeriksa dan menyetel trotel,pompa akselerasi, cuk, pembuka cuk dan menyetel campuran serta putaran idel.

11

K3 dan SOP Dapat menerapkan K3 dan SOP.

 

CATATAN:

1.    Nilai 7,00 (lulus baik/YA), tepat waktu dan memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan.

2.    Nilai 8,00 (lulus amat baik/YA), waktu lebih cepat dan memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan.

3.    Nilai 9,00 (lulus istimewa/YA), waktu lebih cepat dan kwalitas melebihi standar minimal yang dipersyaratkan.

DAFTAR KEMAJUAN SISWA   

NAMA SISWA :…………………………………

NIS                :…………………………………

 

NO SOAL

NILAI TES 1

NILAI TES PRAKTIK

KETERANGAN

 

N1

N2

 

Nilai = Rata-rata nilai Tes 1 (N1) dikalikan 4 ditambah nilai rata-rata tes praktik (N2) dikalikan 6 kemudian dibagi 10

 

         (4xN1) + (6xN2)

N II=      

                  10

NII= Nilai akhir

         OPKR.20-001-2 B

1      

   

2      

   

3      

   

4      

   

5      

   

6      

   

7      

   

8      

   

9      

   

10   

   

11   

   

12   

   

13   

   

14   

   

15   

   
RATA-RATA     N II = ………………

 

 

 

CATATAN:

Daftar kemajuan hanya diisi nilai materi yang sudah memenuhi standar minimal kelulusan.

 

B.   Kunci Jawaban

Tes 1

1.    Mengembalikan kinerja engine secara maksimal dengan, memeriksa,  menyetel, membersihkan dan mengganti komponen.

2.    Memeriksa kondisi air, kapasitas air, tali kipas, baterai, oli, saringan oli,  busi, kabel tegangan tinggi,  tutup distributor, rotor, governor, vakum advancer, celah platina, pengapian, celah katup, karburator, putaran idel campuran idel dan tekanan kompresi.

3.    Radiator tester, Radiator cap tester, Hydro meter, Tacho meter, Dwell tester, Timing light, vakum meter, CO meter, Compression Tester.

4.    Memeriksa kondisi air, kapasitas air, sistem pendingin, tutup radiator dan tali kipas.

5.    Terminal baterai, Berat jenis elektrolit, tegangan dan kebocoran elektrolit.

6.    Engine panas, komponen engine cepat rusak.

7.    Engine sulit hidup, tenaga kurang.

8.    Kondisi tutup, terminal-terminal, rotor, vakum advancer, governor, celah platina, pengapian dan pegas karbon.

9.    Katup masuk silinder 3 dan 4 serta katup buang silinder 2 dan 4.

10.     Trotel, pompa akselerasi, cuk, pembuka cuk, putaran idel dan campuran idel.

11.     Saringan udara terpasang, suhu air normal, cuk membuka penuh, perlengkapan tambahan mati, slang vakum terpasang, transmisi netral, pengapian tepat, Tacho  dan  pengukur  vakum  terpasang dan CO meter posisi NOL siap pakai.

12.     Engine pada suhu kerja, Trotel membuka penuh.

Tes 2

Berpedoman pada criteria penilaian praktik dan buku manual  sesuai  yang digunakan, bila menggunakan buku manual.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

Siswa yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke modul berikutnya. Sebaliknya bila siswa dinyatakan tidak lulus, maka siswa tersebut harus mengulang modul ini dan tidak diperkenankan untuk mengambil modul selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.  (t.th.). Pedoman Reparasi Toyota 2K,3K,4K,5K. Jakarta: PT. Toyota Astra  Motor.

Anonim.  (1995).   New Step 1 Training Manual.    Jakarta:    PT. Toyota Astra Motor.

Anonim.  (1983). 1 W Engine Service Training Information.   Jakarta: Toyota Motor Corporation

Anonim.  (2003). Job  Sheet Tune-up  Motor Bensin.    Yogyakarta:    SMKN 2 Depok

Perbaikan Sistem Rem

Bab. II

Pembelajaran

A.   Rencana Belajar Siswa

Sebelum anda melanjutkan mempelajari modul ini, sebaiknya anda membuat rencana belajar dan mendiskusikan dengan guru/ tutor yang berkaitan dengan modul pemelajaran ini. Untuk membuat perencanaan kegiatan belajar anda, maka isilah rencana kegiatan tersebut dalam format berikut ini.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Tanda Tangan Guru

Keg. Bel. 1
Keg. Bel. 2
Keg. Bel. 2
Evaluasi
Uji Komp.

B.   Kegiatan Belajar 1

1.   Kegiatan Belajar

a.    Tujuan Kegiatan Belajar

Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, diharapkan siswa dapat:

1)    Menjelaskan konstruksi dan cara kerja tangan.

2)    Mengidentifikasi macam-macam penyetel rem tangan.

3)    Memeriksa, memperbaiki dan menyetel rem tangan.

b.   Uraian Materi

1)  Rem Parkir

Rem parkir (parking brake) terutama digunakan untuk parkir kendaraan. Mobil penumpang dan kendaraan niaga yang kecil mempunyai rem parkir tipe roda belakang (rem kaki), atau rem parkir ekslusif yang dihubungkan dengan roda-roda belakang.

Kendaraan niaga yang besar menggunakan rem parkir tipe center brake yang dipasang antara propeller shaft dan transmisi. Sistem rem parkir terdiri dari tuas rem, stick atau pedal, kabel atau tipe mekanisme batang (rod) dan tromol rem dan sepatu yang membangkitkan daya pengereman.

fortuna

2) Cara Kerja

Mekanisme kerja (operating mechanism) pada rem parkir pada dasarnya sama untuk tipe rem parkir belakang dan tipe center brake. Tuas rem parkir ditempatkan berdekatan dengan tempat duduk pengemudi dengan menarik tuas rem parkir maka rem bekerja melalui kabel yang dihubungkan dengan tuas.

Ada beberapa tipe tuas rem parkir seperti diperlihatkan di bawah ini, yang digunakan bergantung pada design tempat duduk pengemudi dan sistem kerja yang dikehendaki.

Tuas rem parkir dilengkapi dengan ratchet utnuk mengatur tuas pada suatu posisi pengetesan. Pada beberapa tuas rem parkir mur penyetelannya dekat dengan tuas rem, dengan demikian penyetelan jarak tuas dapat dengan mudah distel.

Kabel rem parkir memindahkan gerakan tuas ke tromol rem sub-assembly. Pada rem parkir roda belakang, dibagian tengah kabel diberi equalizer untuk menyamakan daya kerjanya tuas pada kedua roda-roda. Tuas intermediate (intermediate lever) dipasang untuk menambah daya pengoperasian.

3) Body Rem Parkir

a)    Rem Parkir Tipe Roda Belakang

Bodi rem parkir dikelompokkan menjadi dua tipe structural bergantung pada andilnya tromol rem atau piringan rem (rem kaki) atau komponen rem yang terpisah.

  • Pelayanan Rem Tipe Sharing (Rem Kaki)

Tipe rem parkir ini digabungkan dengan rem kaki. Hubungannya dilakukan secara mekanik dihubungkan pada sepatu rem pada kendaraan yang mempunyai tromol rem, atau pada piston pada mobil yang menggunakan disc brake.

  • Kendaraan dengan tromol rem

Pada tipe rem parkir ini, sepatu rem akan mengembang oleh tuas sepatu rem dan shoe strut (lihat gambar). Kabel rem parkir dipasang pada tuas sepatu rem dan daya kerja dari tuas rem parkir dipindahkan melalui kabel rem parkir ke tuas sepatu rem.

  • Kendaraan dengan rem piringan

Dalam tipe rem parkir ini, mekanisme rem parkir disatukan dalam caliperr rem piringan. Seperti pada gambar di bawah, gerakan tuas menyebabkan poros tuas (lever shaft) berputar menyebabkan spindle menggerakkan piston. Hasilnya, pad terdorong menekan rotor piringan (disc rotor).

Pad menjadi aus dan langkah rem parkir akan bertambah dengan alasan ini, maka dilengkapi mekanisme penyetelan otomatis pada mekanisme rem parkir untuk menjaga langkah spindle agar tetap konstan setiap waktu.

  • Tipe rem parkir deveted

Pada tipe rem parkir ini, tromol rem parkir terpisah dari rem piringan belakang, seperti pada gambar. Cara kerjanya sama dengan tipe rem parkir seperti pada tromol rem.

b)   Tipe Center Brake

Tipe center brake ini banyak digunakan pada kendaraan komersil. Tipe ini salah satu dari tipe rem tromol tetapi dipasang antara bagian belakang transmisi dan bagian depan propeller shaft.

Pada rem parkir tipe center brake ini daya pengeremannya terjadi pada saat sepatu rem yang diam ditekan dari bagian dalam terhadap tromol yang berputar bersama out put shaft transmisi dan propeller shaft. Tipe rem ini bekerjanya sama dengan rem parkir tipe sharing pada kendaraan yang menggunakan rem tromol.

4)   Memperbaiki Rem Tangan
Masalah yang biasa terjadi pada rem tangan adalah ketika memarkir kendaraan. Pada tempat yang menurun, kendaraan masih juga bergerak. Hal umum sebagai penyebab masalah pengereman di antaranya adalah:
a)      Kawat penarik telah mulur/ kendor atau karat.
b)     Tempat sambungan kendor atau karat.
c)      Penyetelan kurang tepat.
d)     Jarak bidang pengereman antara kanvas rem/ pad dan tromol/ cakram terlalu besar.
Oleh karena itu, sebelum kegiatan perbaikan, pemeriksaan terhadap komponen dan cara kerjanya harus dilakukan, yaitu:
a.    Pastikan seluruh komponen berada pada kondisi normal dan dapat digunakan dengan baik.
b.    Periksa gerakan tuas rem dengan cara menarik sampai kedudukan pengerem, dan terdengar suara “klik” sesuai spesifikasi. Posisi tuas rem yang benar biasanya setengah dari keseluruhan gerakan tuas.
Apabila setelah dilakukan pemeriksaan, sedangkan kerja rem tidak memperoleh hasil yang memuaskan, lakukan perbaikan dan penyetelan.
a.    Bilamana tarikan kawat rem tidak lancar, berikanlah pelumasan jika masih memungkinkan.
b.    Bilamana tarikan kawat melebihi spesifikasi karena kawat mulur, gantilah kawat beserta kelengkapannya.
c.    Bila tarikan kawat melebihi spesifikasi karena setelan, lakukan penyetelan pada baut penyetel yang ada di tuas. Atau bilamana masih baik, dapat juga dilakukan penyetelan di bagian penyama (equalizer) di bagian bawah kendaraan.

Gambar tempat perbaikan rem tangan

 

d.    Untuk penyetelan jarak bidang pengereman pada rem tromol tanpa penyetel otomatis, melalui pemutaran bintang (star) penyetel yang ada dalam tromol. Sedangkan, pada rem tromol dengan penyetel otomatis, jarak bidang pengereman telah dijamin oleh penyetel otomatis.

1. Tuas penyetel

2. Silinder roda

3 dan 9: pegas pengembali

4. Mur penyetel dengan penghubung berulir

5 dan 11: Penahan

6. Tuas rem parkir

7  dan 10: Sepatu rem

8. Jangkar (Anchor)

12. Mur penahan sepatu rem

e.    Untuk penyetelan jarak bidang pengereman pada rem cakram, menggunakan sekrup penyetel (3) apabila dilakukan, pengereman, tuas rem (2) karena tarikan kabel rem akan menekan piston beserta padnya melawan cakram dengan baik.
Celah Sepatu Rem
Celah antara tromol dan kanvas yang besar akan menyebabkan kelambatan pada pengereman. Bila celah antara tromol dan kanvas terlalu kecil, rem akan terseret dan menyebabkan keausan pada tromol dan kanvas. Begitu juga, apabila celah sepatu pada keempat rodanya tidak sama pada semua roda-rodanya, maka kendaraan akan tertarik ke salah satu arah atau roda belakang kendaraan akan seperti ekor ikan (yang mengibas ke kanan dan ke kiri).
Untuk mencegah kejadian ini, penting sekali untuk menyetel secara tepat celah antara tromol dan kanvas sesuai spesifikasi yang dianjurkan dan melakukan perawatan setiap saat.
Pada beberapa tipe rem, penyetelannya bekerja secara otomatis, sedangkan untuk tipe lainnya celahnya harus dilakukan secara terbuka.

Penyetelan Rem Tangan

Stel pada bagian penyetel sampai tercapai keadaan sesuai dengan gambar-gambar di bawah ini;

Tarik penuh, gerak batang 10 – 20 gigi

Kontrol: tarik 3 gigi, roda masih harus dapat berputar bebas

Tarik penuh, gerak tuas harus 3 – 7 gigi

Kontrol: tarik 1 gigi, roda masih harus dapat berputar bebas

Kontrol Kesamaan Kerja Rem Kanan dan Kiri

Tarik tuas tangan, gigi per gigi, sampai rem tangan mulai berfungsi. Kalau kondisi rem baik, hambatan gesek sama pada kedua roda.

Tarik tuas rem tangan lagi, gigi per gigi, sampai roda tak dapat diputar. Kalau rem tangan berfungsi dengan baik, hal itu terjadi dalam waktu bersamaan pada kedua roda.

Ketidaksamaan kerja rem dapat berasal dari:

-          Nilai gesekan yang berbeda (tromol, kanvas)

-          Kelancaran jalan kabel rem tangan yang berbeda.

c.    Rangkuman

?  Rem parkir (parking brake) terutama digunakan untuk parkir kendaraan.

?  Sistem rem parkir terdiri dari tuas rem, stick atau pedal, kabel atau type mekanisme batang (rod), tromol rem dan sepatu rem.

?  Body rem parkir dikelompokkan menjadi 2 type:

§  Type sharing

§  Type deveted

?  Hal-hal yang menyebabkan masalah pada pengereman:

§  Kawat penarik molor/ kendur

§  Tempat sambungan kendur

§  Penyetelan kurang tepat

§  Jarak pengereman kanvas dan tromol/ cakram terlalu besar

d.    Tugas

Amati sistem rem parkir dan komponen pengoperasian yang dipergunakan pada salah satu mobil yang ada di bengkel otomotif. Jelaskan cara kerja sistem tersebut dengan disertai gambar!

e.    Test Formatif

1.    Jelaskan fungsi rem parkir pada mobil!

2.    Sebutkan hal-hal yang menyebabkan kendaraan masih bergerak pada waktu di parkir pada tempat yang menurun!

3.    Jelaskan fungsi tuas intermediate (intermediate lever)!

4.    Sebutkan komponen-komponen yang terdapat pada rem parkir!

5.    Sebutkan 3 type tuas rem parkir yang banyak dipergunakan pada mobil!

Perhatian

Sebelum melanjutkan pada kegiatan selanjutnya, cocokanlah jawaban anda dengan yang termuat pada halaman berikut.

 

 

 

 

 

 

 

f.     Kunci Jawaban Formatif

1.    Fungsi rem parkir untuk memarkir kendaraan agar tidak bergerak.

a)    Kawat penarik kendor

b)    Tempat sambungan kendor/ karat

c)    Penyetelan kurang tepat

d) Jarak bidang pengereman antara kanvas dan tromol/ cakram terlalu besar.

2.    Untuk menambah daya pengoperasian.

3.    Tuas rem, stick/pedal, kabel, tromol rem dan sepatu rem.

a)    Type Tuas

b)    Type Stick

c)    Type Pedal

Perhatian

1.    Apakah Anda puas dengan jawaban Anda, jika belum catat bagian yang Anda tidak puas. Diskusikan dengan Tutor Anda.

2.    Bila puas lanjutkan dengan kegiatan berikutnya.

g.    Lembar Kerja

1.    Memeriksa fungsi rem tangan

2.    Membedakan bermacam-macam sistem penyetel.

3.    Menyetel rem tangan

1.    Alat dan Bahan

a)        Alat pengangkat

b)        Penyangga

c)        Kotak alat

d)        Kunci roda

e)        Palu baja

f)         Kunci momen

g)        Mobil

h)        VET

i)     Kan oli/ Oil can

j)    Lap

2.    Keselamatan Kerja

§  Dilarang bekerja di bawah mobil yang diangkat tanpa penyangga yang baik.

§  Jangan menyetel rem yang panas, agar tidak terjadi kesalahan dalam penyetelan.

3.    Langkah Kerja

§  Siapkan alat dan bahan praktek.

§  Lakukan prosedur:

o   Memeriksa fungsi rem tangan

o   Membedakan bermacam-macam sistem penyetel

o   Menyetel rem tangan

§  Mintalah penjelasan pada instruktur hal yang belum jelas

§  Setelah selesai praktek bersihkan alat dan bahan serta kembalikan ke tempatnya semula.

4.    Tugas

§  Buat laporan praktek Anda secara ringkas dan jelas disertai gambar!

2.  Kegiatan Belajar 2

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

Setelah menyelesaikan kegiatan-kegiatan ini diharapkan siswa dapat:

1.    Menyebutkan komponen-komponen rem tromol

2.    Mengontrol fungsi penguat tenaga rem (booster)

3.    Memeriksa saluran dan slang rem

4.    Membongkar, memeriksa dan memperbaiki silinder master dan silinder roda

5.    Membongkar, memeriksa, memperbaiki dan menyetel sistem rem tromol.

b.   Uraian Materi 2

Rem Tromol

Pada tipe rem tromol kekuatan tenaga pengereman diperoleh dari sepatu rem yang diam menekan permukaan tromol bagian dalam yang berputar bersama-sama dengan roda.

Karena self – energizing efect ditimbulkan oleh tenaga putar tromol dan tenaga mengembangkan sepatu, kekuatan tenaga pengereman yang besar diakibatkan oleh usaha pedal yang relatif kecil.

Komponen-Komponen Rem Tromol

1.    Backing plate

2.    Silinder roda (Wheel cylinder)

3.    Sepatu rem dan kanvas (Brake shoe and lining)

4.    Tromol rem (Brake drum)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Backing Plate

Backing plate dibuat dari baja press yang dibaut pada axle housing atau axle carrier bagian belakang. Karena sepatu rem terkait pada backing plate maka aksi daya pengereman tertumpu pada backing plate.

  • Silinder Roda

Silinder roda (wheel cylinder) terdiri dari beberapa komponen seperti terlihat pada gambar di sebelah kanan. Setiap roda menggunakan satu atau dua buah silinder roda. Ada sistem yang menggunakan dua piston untuk menggerakkan kedua sepatu rem yaitu satu piston untuk setiap sisi silinder roda, sedangkan sistem yang lainnya hanya menggunakan satu piston untuk menggerakkan hanya satu sepatu rem.

Bila timbul tekanan hidraulis pada master cylinder maka akan menggerakkan piston cup. Piston akan menekan kearah sepatu rem kemudian bersama-sama menekan tromol rem.

Apabila rem tidak bekerja, maka piston akan kembali ke posisi semula dengan adanya kekuatan pegas pembalik sepatu rem .

Bleeder plug disediakan pada silinder roda gunanya untuk membuang udara dari minyak rem.

  • Sepatu Rem dan Kanvas Rem

Sepatu rem (brake shoes) seperti juga tromol (drum) memiliki bentuk setengah lingkaran.

Biasanya sepatu rem dibuat dari pelat baja. Kanvas rem dipasang dengan jalan dikeliling (pada kendaraan besar) atau dilem (pada kendaraan kecil) pada permukaan yang bergesekan dengan tromol.

Kanvas ini harus dapat menahan panas dan aus serta harus mempunyai koefisien gesek yang tinggi. Koefisien tersebut sedapat mungkin tidak mudah dipengaruhi oleh keadaan turun naiknya temperatur dan kelembaban yang silih berganti. Umumnya kanvas (lining) terbuat dari campuran fiber metalic dengan brass, lead, plastik dan sebagainya dan diproses dengan ketinggian panas tertentu.

  • Tromol Rem

Tromol rem (brake drum) umumnya terbuat dari besi tuang (gray cast iron) dan gambar penampangnya seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Tromol rem ini letaknya sangat dekat dengan sepatu rem tanpa bersentuhan dan berputar bersama roda.

Ketika kanvas menekan permukaan bagian dalam tromol bila rem bekerja, maka gesekan panas tersebut dapat mencapai suhu setinggi 200 0 C sampai 3000C.

Melepas dan Membongkar Silinder

-          Kosongkan tabung reservoir (dengan penyedot)

-          Lepaskan pipa-pipa tekanan

-          Lepaskan master dari booster

 

Lepaskan tabung reservoir dari silinder master (dengan menarik perlahan-lahan)

Lepaskan baut penyetop torak 2 sekunder piston (tekan torak dalam-dalam dan lepaskan baut penyetop)

Lepaskan ring penjamin (snap ring) dengan menekan torak dan melepas snap ring.

Keluarkan torak 1 dan 2 (ketok pada dua balok kayu beri alas kain, bila sudah menonjol dapat ditarik keluar)

Pemeriksaan

Bersihkan semua komponen dalam air

-          Jika korosi ringan dapat dihoning

-          Jika korosi berat harus diganti

Periksa ulir-ulir baut

Periksa sil

-          Jika keadaan rusak, sobek dan keras harus diganti

(Catatan: Pada setiap pembongkaran sebaiknya sil-sil diganti dengan yang baru)

Periksa torak dan pegas

-          Jika pegas korosi, kaku dan lemah harus diganti.

-          Jika torak korosi atau pecah harus diganti.

Perbaikan

Memperbaiki silinder master korosi

-          Dihoning dengan alat honing (menggunakan bor tangan)

-          Saat menghoning silinder dilumasi dengan air.

-          Setelah halus, bersihkan dengan udara kompresor.

Catatan:

-          Toleransi diamter silinder master + 1 mm.

-          Putaran honing = 1000 rpm

 

Awas….! Jangan  memutar honing di luar silinder master…!!!

 

 

 

 

 

Pemeriksaan Kebocoran pada Silinder Master

-          Periksa kebocoran pada sambungan pipa rem dan reservoir.

-          Periksa kebocoran pada sil sekunder. Jika ujung silinder dan kelilingnya basah oleh cakram rem, silinder harus dioverhaul atau diganti.

-          Jika mobil dilengkapi dengan penguat tenaga rem (booster), ujung silinder tidak dapat diperiksa tanpa melepas silinder. Untuk itu, lepas slang vakum penguat tenaga rem dan cium slang tersebut. Jika berbau cairan rem, lepas silinder pada flensnya untuk pemeriksaan pada sil sekundernya. Periksa juga di sekeliling flens silinder master pada penguat vakum. Jika basah oleh cairan rem, sil sekunder bocor. Jika ada cairan rem di dalam penguat tenaga rem, alat tersebut harus dibersihkan/dioverhaul.

Pemeriksaan Saluran dan Slang Rem

 

 

 

 

-          Periksa pipa-pipa rem. Apabila bocor atau berkarat keras, pipa rem harus diganti.

-          Periksa slang-slang rem. Jika permukaannya retak atau tergores, slang harus diganti. Perhatikan pada pemasangan slang rem, jangan bersinggungan dengan roda. Periksa hal tersebut. Juga sewaktu roda depan dalam posisi terbelok.

Kontrol Fungsi Penguat Tenaga Rem (Booster)

Kontrol ini harus dilaksanakan, kalau pedal rem harus ditekan keras sekali untuk mencapai perlambatan/ pengereman mobil yang cukup.

-          Tekan pedal rem beberapa kali, pada saat motor mati.

-          Hidupkan motor sewaktu pedal rem ditekan. Kalau penguat tenaga berfungsi, pedal akan menurun sedikit, selama tahap tersebut.

-          Matikan motor sewaktu pedal rem ditekan. Pada tahap ini pedal tidak boleh ada reaksi. Jika peda akan terdorong kembali, katup anti-balik pada penguat tenaga harus dibersihkan/diganti.

Pemeriksaan Fungsi Rem Tromol

Periksa apakah silinder rem macet. Lepas tromol hanya pada rem yang sedang diperiksa. Tromol roda-roda lain harus terpasang, agar torak-toraknya tidak tertekan keluar.

-          Minta tolong seseorang untuk menekan pedal rem, kedua kanvas ditahan dengan obeng. Torak-torak pada silinder rem yang diperiksa harus bergerak keluar tampa ada kebocoran di silinder roda. Jika terdapat kebocoran, semua silinder rem pada aksel yang diperiksa harus dioverhaul.

-          Periksa permukaan gesek pada tromol rem. Bila berwarna abu-abu sampai hitam, atau berkarat, nilai gesekannya kurang. Maka permukaan harus dibersihkan denga kertas gosok, atau lebih baik dengan dibubut/ digerinda.

Pemeriksaan/ Pembersihan Bagian-bagian Rem Tromol

-          Bersihkan bagian-bagian rem dengan kuas atau sikat. Dilarang menggunakan angin, pakai air sabun jika kotor keras.

-          Periksa kondisi dan pemasangan bagian pengikat sepatu rem:

1.    Kedudukan ujung sepatu

2.    Kedudukan pegas

3.    Pemasangan batang penghubung

4.    Pengunci sepatu

5.    Kedudukan pegas

6.    Kedudukan ujung sepatu

-          Periksa tebal kanvas. Jika kurang dari 1,5 mm atau keling kanvas sudah tercoret, kanvas harus diganti baru.

-          Periksa permukaan kanvas. Kalau permukaannya keras dan berkilat, nilai geseknya kurang. Kanvas harus digosok atau diganti baru agar tercapai efektifitas rem yang normal.

-          Permukaan kanvas yang kotor karena oli aksel atau cairan rem biasanya diganti baru.

-          Permukaan yang buram atau berkilat lemah menunjukkan kondisi kanvas yang normal. Tidak perlu digosok.

-          Periksa kebocoran pada sil poros aksel (hanya pada aksel rigid dengan penggerak roda). Kebocoran dapat dilihat pada piringan rem dan pada poros aksel yang basah karena oli. Sil yang bocor harus diganti baru.

-          Periksa kebocoran pada silinder rem. Jika ada, semua silinder rem pada aksel yang diperiksa harus dioverhaul atau diganti baru.

-          Untuk memeriksa kebocoran, lihat juga bagian dalam karet pelindung debu silinder rem.

 

Penyetelan Sepatu Rem

Pada sistem pengingkatan tromol dengan flens, roda harus dipasang untuk mendapat hasil penyetelan yang baik, (Jika roda tidak terpasang, tromol tertekan teratur pada flensnya)

Penyetelan rem biasanya dapat dilakukan melalui lobang paa piringan rem. Lubang-lubang tersebut biasanya tertutup dengan karet.

Juga ada mobil dengan lubang penyetel pada tromol (misal: VW, Suzuki). Pada sistem ini, roda harus terpasang dengan posisi lubang pelg pada lubang tromol.

Penyetelan dapat dilakukan dengan obeng, tetapi sering lebih sederhana dengan alat khusus atau obeng yang dibengkokkan sesuai dengan keperluan.

c.    Rangkuman

?  Komponen-komponen rem tromol:

§  Backing plate

§  Silinder roda

§  Sepatu rem dan kanvas

§  Tromol rem

?  Kanvas rem harus dapat menahan pana dan aus serta mempunyai koefisien gesek yang tinggi.

?  Pada waktu pemasangan selang rem, jangan sampai bersinggungan dengan roda.

d.    Tugas

Apa analisis Anda dan apa yang perlu Anda lakukan untuk mengatasi permasalahan di bawah ini:

Seorang pengemudi mengeluh saat kecepatan mobil tinggi kemudian direm, mobil selalu bergerak ke arah kiri.

e.    Test Formatif

1.    Sebutkan komponen-komponen yang terdapat pada rem tromol!

2.    Apa akibatnya apabila celah antara tromol dan kanvas terlalu besar dan terlalu kecil?

3.    Syarat-syarat apakah yang harus dipenuhi oleh kanvas rem?

4.    Apa fungsi bleeder plug pada silinder roda?

5.    Sebutkan bahan yang dipergunakan untuk membuat sepatu rem?

F.  Kunci Jawaban Formatif

1.    a. Backing plate

b. Silinder roda

c. Sepatu rem dan kanvas rem

d. Tromol rem

2.       Celah yang besar menyebabkan kelambatan pada pengereman. Celah yang kecil menyebabkan rem akan terseret dan menyebabkan keausan pada tromol dan kanvas.

3.       Tahan panas dan aus serta mempunyai koefisien gesek yang tinggi.

4.       Untuk membuang udara dari minyak rem.

5.       Pelat baja.

g.  Lembar Kerja

1)    Memeriksa kondisi dan fungsi rem tromol.

2)    Membersihkan rem tromol

3)    Menyetel rem tromol

1.   Alat dan Bahan

a)    Alat pengangkat

b)    Penyangga

c)    Kotak alat

d)    Kunci roda

e)    Palu baja

f)     Alat cuci (air)

g)    Sikat baja

h)    Pistol udara

i)     Kunci momen

j)     Mobil

k)    Kertas gosok

l)     Kan oli

m)  VET dan lap

2.   Keselamatan Kerja

a)    Dilarang bekerja di bawah mobil yang diangkat tanpa penyangga yang baik.

b)    Dilarang membersihkan rem dengan angin, debu asbes dari kanvas beracun.

3.   Langkah Kerja

a)    Siapkan Alat dan Bahan Praktek

b)    Lakukan prosedur:

1)   Memeriksa kondisi dan fungsi rem tromol

2)   Membersihkan rem tromol

3)   Menyetel rem tromol

c)    Mintalah penjelasan pada instruktur hal-hal yang belum jelas

d)    Setelah selesai praktek bersihkan alat dan bahan serta kembalikan ke tempatnya semula.

4.  Tugas

Buat laporan praktek Anda secara ringkas dan jelas disertai gambar!

2.   Kegiatan Belajar 3

a) Tujuan Kegiatan Belajar

Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini diharapkan siswa dapat:

6.    Menyebutkan komponen-komponen rem cakram.

7.    Menyebutkan jenis-jenis kaliper.

8.    Membongkar, memeriksa, memperbaiki dan menyetel rem cakram.

a.    Uraian Materi

Rem Cakram

Rem cakram (disc brake) pada dasarnya terdiri dari cakram yang terbuat besi tuang (disc rotor) yang berputar dengan roda dan bahan gesek (dalam hal ini disc pad) yang mendorong dan menjepit cakram. Daya pengereman dihasilkan oleh adanya gesekan antara  pad dan cakram (disc).

Karakteristik dari cakram hanya mempunyai sedikit aksi energi sendiri (self– energizing action), daya pengereman itu sedikit dipengaruhi oleh fluktuasi koefisien gesek yang menghasilkan ke stabilan tinggi. Selain itu karena permukaan bidang gesek selalu terkena udara, radiasi panasnya terjamin baik, ini dapat mengurangi dan menjamin dari terkena air.

Rem cakram mempunyai batasan pembuatan pada bentuk dan ukurannya. Ukuran disc pad agak terbatas, dan ini berkaitan dengan aksi self– energizing limited. Sehingga perlu tambahan tekanan hidraulis yang lebih besar untuk mendapatkan daya pengereman yang efisien. Juga pad akan lebih cepat aus dari pada sepatu rem tromol. Tetapi konstruksi yang sederhana mudah pada perawatannya serta penggantian pad.

 

 

 

 

 

 

Komponen-Komponen Rem Cakram

  • Piringan

Umumnya cakram atau piringan (disc rotor) dibuat dari besi tuang dalam bentuk biasa (solid) berlubang-lubang untuk ventilasi.

Tipe cakram lubang terdiri dari pasangan piringan yang berlubang untuk menjamin pendinginan yang baik, kedua-duanya untuk mencegah fading dan menjamin umur pad lebih panjang dan tahan lama.

  • Pad Rem

Pad (disc pad) biasanya dibuat campuran metalic fiber dan sedikit serbuk besi. Tipe ini disebut dengan “Semi Metalic disc pad”.

Pada pad diberi garis celah untuk menunjukkan tebal pad (batas yang diizinkan) dengan demikian dapat mempermudah pengecekan keausan pad.

Pada beberapa pad. Penggunaan metallic plate (disebut dengan anti-squel shim) dipasangkan pada sisi piston dari pad untuk mencegah bunyi saat berlaku pengereman.

Jenis-Jenis Kaliper

Caliper juga disebut dengan cylinder body, memegang piston-piston dan dilengkapi dengan saluran dimana minyak rem disalurkan ke silinder.

Caliper dikelompokkan sebagai berikut menurut jenis pemasangannya:

Ä  Tipe Fixed Caliper (Double Piston)

Caliper dipasangkan tepat pada axle atau strut. Seperti digambarkan di bawah ini, pemasangan caliper dilengkapi dengan sepasang piston. Daya pengereman didapat bila pad ditekan piston secara hidraulis pada kedua ujung piringan atau cakram.

Fixed caliper adalah dasar disain yang sangat baik dan dijamin dapat bekerja lebih akurat. Namun demikian radiasi panasnya terbatas karena silinder rem berada antara cakram dan velg,

menyebabkan sulit tercapainya pendinginan. Untuk ini membutuhkan penambahan komponen yang banyak. Untuk mengatasi hal tersebut jenis caliper fixed ini, sudah jarang digunakan.

 

Ä  Tipe Floating Caliper (Single Piston)

Seperti terlihat pada gambar piston hanya ditempatkan pada satu sisi kaliper saja. Tekanan hidraulis dari master silinder mendorong piston (A) dan selanjutnya menekan pada rotor disc (cakram). Pada saat yang sama tekanan hidraulis menekan sisi pad (reaksi B). ini menyebabkan kaliper bergerak ke kanan dan menjepit cakram dan terjadilah usaha tenaga pengereman.

Caliper tipe floating dapat digolongkan sebagai berikut:

1)    Tipe Semi-Floating à Tipe PS

2)    Tipe Full-Floating à (Tipe F, Tipe FS, Tipe AD dan Tipe PD)

Caliper tipe semi–floating menerima tenaga pengereman yang dibangkitkan pad bagian luar.

Pada caliper tipe full–floating, kemampuannya pengeremannya dibangkitkan oleh kedua pad dengan troque plate.

Caliper floating banyak digunakan pada kendaraan penumpang modern.

Susunan Rem Cakram Jenis Kaliper Luncur

1. Kaliper Luncur                             6. Tabung Pengantar

2. Rangka Tetap                              7. Baut Pengantar

3. Balok Rem (Pad)                          8. Karet Pelindung Kotoran

4. Batang Pengantar                         9. Klip

5. Busing Pengantar

Pembongkaran

-          Lepas baut pengunci kaliper

-          Angkat kaliper dan keluarkan balok-balok rem

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemeriksaan

-          Periksa kondisi balok rem. Jika kanvas mulai lepas dari plat dudukannya atau jika tebal kanvas kurang dari 2 mm, balok rem harus diganti baru.

-          Periksa kondisi cakram. Cakram yang berkarat atau hitam pada permukaan gesek, harus digerenda atau diganti baru. Permukaan gesek cakram yang beratur tidak mempengaruhi fungsi rem.

-          Cakram dengan tebal yang kurang harus diganti baru

-          Tebal baru = 7 – 12 mm, tebal minimal biasanya tebal baru dikurangi 1 mm.

-          Periksa fungsi torak. Minta tolong seseorang untuk menekan pedal rem. Pada waktu pedal ditekan, torak harus bergerak keluar. Jika torak macet, kaliper rem harus dioverhaul. Untuk mengembalikan posisi torak, pakai alat penekan khusus atau tang pompa air.

Pada waktu itu cairan rem yang penuh pada reservoir harus dikurangi, untuk menghindari tumpahan cairan rem. Jika menggunakan tang pompa air, perhatikan karet pelindung debu. Karet pelindung yang robek harus diganti baru.

-          Jangan menekan pedal beberapa kali, torak dapat keluar/ lepas. Kaliper kedua harus terpasang atau dipres dengan sebuah klem C.

-          Periksa busing batang dan tabung penghantar. Pasang

-          kaliper pada kerangka, keraskan baut pengikatnya. Kaliper harus dapat bergerak ke kanan dan ke kiri dengan baik.

-          Jika gerakannya berat atau macet, maka busing batang dan tabung pengantar harus diperbaiki.

Pembongkaran

Melepas rem luncur

-          Lepaskan kaliper dengan melepas batu pemegangnya.

-          Keluarkan pad dari dudukannya.

-          Lepaskan pemegang kaliper (Perhatikan pin pengunci pada baut pengantar)

Mengeluarkan piston dari kaliper

-          Keluarkan karet penutup. Awas ring pengunci penahan.

-          Keluarkan piston dengan udara tekan (kompresor)

-          Hadapkan piston ke lantai/ meja kerja agar tidak membahayakan.

-          Keluarkan sil piston dengan obeng. (Awas jangan sampai menggores silinder kaliper)

­

Bersihkan semua komponen kaliper rem luncur dengan air (bila perlu dengan sabun)

Awas jangan menggunakan oli, bensin atau solar.

 

 

Pemeriksaan

-          Periksa semua komponen kaliper rem luncur.

-          Periksa cakram kaliper rem luncur

A = Kerusakan kecil masih dapat diperbaiki (dibubut)

B = Kerusakan keras (sebaiknya diganti)

C = Kerusakan miring rusak (harus diganti)

Perbaikan

Silinder kaliper rem luincur

-          Silinder yang tergores dan korosi berat harus diganti!

-          Jika korosi ringan dapat dihoning hingga korosi hilang dari permukaan silinder.

(Gunakan air pada saat menghoning, Awas…! Jangan menghoning berlebihan. Alat honing tidak boleh diputar di luar silinder)

Piston kaliper rem luncur

-          Karet penutup yang rusak (keras mengembang atau sobek) harus diganti.

-          Seal piston harus diganti.

-          Piston yang rusak/ korosi berat harus diganti.

-          Jika korosi ringan dapat dibersihkan dengan amplas halus.

(Awas…! jangan mengamplas berlebihan. Batas limit 0,1 à lihat manual)

Pad kaliper rem luncur

-          Pad yang mengeras harus diganti dengan yang baru.

-          Ganti pad jika ketebalan di bawah batas limit (2 mm)

-          Pad yang berdebu dibersihkan dengan udara tekan

Pemegang kaliper

-          Jika pemegang kaliper rusak atau korosi berat harus diganti dengan yang baru.

Komponen lainnya yang rusak/ korosi berat juga harus diganti.

Cakram kaliper rem luncur

-          Cakram harus diganti jika tebal di bawah batas limit (kurang dari 1 mm) dari tebal stadart.

-          Run out cakram maksimum 0,1 mm jika lebih dapat dibubut kembali hingga batas limit ketebalan cakram.

-          Cakram tegak memanjang sebaiknya diganti.

à Dudukkan dial indikator pada bagian yang tetap (suspensi/ chasis)

b.   Rangkuman

?  Daya pengereman dihasilkan oleh adanya gesekan antara disc pad dan cakram (disc).

?  Untuk mencegah fading dan menjamin umur pad lebih panjang dan tahan lama maka pada piringan dibuat berlubang.

?  Pada pad diberi garis celah untuk menunjukkan tebal pad (batas yang diijinkan) dengan demikian dapat mempermudah pengecekan keausan pad.

c.    Tugas

Amati sistem rem cakram dan komponen pengoperasiannya pada mobil yang ada di bengkel otomotif kemudian jelaskan cara kerjanya.

d.    Test Formatif

1.    Sebutkan komponen utama rem cakram!

2.    Apa yang dimaksud dengan water fading?

3.    Jelaskan tujuan cakram dibuat berlubang!

4.    Sebutkan bahan yang dipergunakan untuk membuat pad rem!

5.    Sebutkan 3 type piringan yang digunakan pada mobil!

e.    Kunci Jawaban Formatif

1.    a. Piringan (Disc Rotor)

b. Pad rem

c. Calliper

2.    Berkurangnya koefisien gesek antara sepatu rem dan pad karena terkena air/ basah.

3.    Menjamin pendinginan yang baik, mencegah fading dan menjamin umur pad lebih panjang serta tahan lama.

4.    Campuran metalic fiber dan sedikit serbuk besi

5.    Type solid, type ventilasi dan type solid dengan tromol.

f.     Lembar Kerja

1.    Memeriksa fungsi rem cakram

2.    Memelihara kondisi balok rem, cakram dan kaliper.

3.    Membersihkan cakram

1.   Alat dan Bahan

a)   Pengangkat mobil

b)   Penyangga

c)    Kunci roda

d)   Kotak alat

e)   Sikat baja

f)    Mistar sorong

g)   Lampu kerja

h)   Kunci momen

i)     Mobil dengan rem cakram

j)    Cairan rem

k)   Kertas gosok

l)     VET temperatur tinggi

2.   Keselamatan Kerja

a)    Pemasangan penyangga mobil harus baik.

b)    Hindarkan cat mobil dari cairan rem, jika terjadi tumpah langsung dibersihkan dengan air.

3.   Langkah Kerja

a)    Siapkan alat dan bahan praktek

b)    Lakukan prosedur

1)   Memeriksa fungsi rem cakram

2)   Memeriksa kondisi balok rem, cakram dan kaliper

3)   Membersihkan cakram

c)    Mintalah penjelasan pada instruktur mengenai hal-hal yang belum jelas.

d)    Setelah selesai praktek bersihkan alat dan bahan serta kembalikan ke tempatnya semula.

4.  Tugas

Buat laporan praktek Anda secara ringkas dan jelas disertai gambar!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.