Monthly Archives: April 2011

Perbaikan Ringan Pada Rangkaian_Sistem Kelistrikan

BAB. I

PENDAHULUAN

 

A. DESKRIPSI

 

Modul  Perbaikan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan dengan kode OPKR 50-002 B berisi  materi  dan informasi tentang dasar listrik, pemeriksaan kerusakan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan serta prosedur menghindari kerusakan ECU, penggantian sekering dan bohlam, perbaikan rangkaian kabel dan conector. Materi diuraikan dengan pendekatan praktis disertai ilustrasi yang cukup agar siswa mudah memahami bahasan yang disampaikan.

Modul ini disusun dalam 5 kegiatan belajar yaitu: Kegiatan belajar 1. Dasar listrik, kegiatan belajar 2. Memeriksa kerusakan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan dan prosedur menghindari kerusakan pada ECU,  kegiatan belajar 3. Mengganti sekering dan bohlam, Kegiatan belajar 4. Perbaikan rangkaian kabel, kegiatan belajar 5. Perbaikan conector.

Setiap kegiatan belajar berisi tujuan, materi, dan diakhir materi disampaikan rangkuman yang memuat intisari materi, dilanjutkan test formatif. Setiap siswa harus mengerjakan test tersebut sebagai indikator penguasaan materi, jawaban test kemudian diklarifikasi dengan kunci jawaban. Guna melatih keterampilan dan sikap kerja yang benar setiap siswa dapat berlatih dengan pedoman lembar kerja yang ada.

Diakhir modul terdapat evaluasi sebagai uji kompetensi siswa. Uji kompetensi dilakukan secara teroritis dan praktik. Uji teoritis siswa menjawab pertanyaan pada soal evaluasi, sedangkan uji praktik dengan meminta siswa mendemontrasikan kompetensi yang harus dimiliki dan guru/instruktur menilai berdasarkan lembar observasi yang ada. Melalui evaluasi tersebut dapat diketahui kompetensi siswa.

B. PRASYARAT

 

Sebelum mempelajari modul ini diharapkan siswa telah berhasil mencapai kompetensi tentang Pengujian, Pemeliharaan/Servis dan Penggantian Baterai  kode OPKR 50-001 B.

C. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

 

1.  Petunjuk Bagi Siswa

a.   Lakukan cek kemampuan untuk mengetahui kemampuan awal yang anda kuasai, sebelum membaca modul lebih lengkap.

b.   Bacalah modul secara seksama pada setiap kegiatan belajar,  bila ada uraian yang kurang tanyakan pada guru/instruktur.

c.   Kerjakan setiap tes formatif pada setiap kegiatan belajar, untuk mengetahui seberapa besar pemahaman anda terhadap materi yang disampaikan, klarifikasi hasil jawaban pada lembar jawaban yang ada.

d.   Lakukan latihan setiap sub kompetensi sesuai dengan lembar kerja yang ada.

e.   Perhatikan petunjuk keselamatan kerja dan pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan kerja yang termuat pada lembar kerja.

f.      Lakukan latihan dengan  cermat, teliti dan hati-hati. Jangan melakukan pekerjaan yang belum anda pahami dengan benar.

g.   Bila anda merasa siap mintalah guru/intruktur untuk menguji kompetensi anda.

2.  Petunjuk Bagi Guru/Istruktur

Guru/intruktur bertindak sebagai fasilitator, motivator, organisator dan evaluator. Jadi guru/intruktur  berperan:

a.  Fasititator yaitu menyediakan fasilitas berupa informasi, bahan, alat, training obyek dan media yang cukup bagi siswa sehingga kompetensi siswa cepat tercapai.

b.  Motivator yaitu memotivasi siswa untuk belajar dengan giat, dan mencapai kompetensi dengan sempurna

c.   Organisator yaitu bersama siswa menyusun  kegiatan belajar dalam mempelajari modul, berlatih keterampilan, memanfaatkan fasilitas dan sumber lain untuk mendukung terpenuhinya kompetensi siswa.

d.  Evaluator yaitu mengevaluasi kegiatan dan perkembangan kompetensi yang dicapai siswa, sehingga dapat menentukan kegiatan selanjutnya.

D. TUJUAN AKHIR

 

Tujuan akhir dari modul ini adalah siswa mempunyai kompetensi:

1.    Merangkai hubungan seri, parallel dan gabungan .

2.  Mengukur tegangan, tahanan dan arus

3.  Memeriksa kerusakan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan dan prosedur menghindari kerusakan ECU.

4.  Mengganti sekering dan bohlam

5.  Melakukan perbaikan pengkabelan

6.  Melakukan perbaikan konektor.


E.  KOMPETENSI

 

KOMPETENSI:  Melakukan  Perbaikan Ringan pada Rangkaian/Sistem Kelistrikan

KODE           :  OPKR 50-002B

B KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

1. Menguji dan mengiden-tifikasi kesalahan sistem/komponen.

§ Sistem/komponen diuji tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya.

§ Informasi yang benar di-akses dari spesifikasi pabrik dan dipahami.

§ Tes/pengujian dilakukan untuk menentukan kesalah-an/kerusakan dengan meng-gunakan peralatan dan teKnik yang sesuai.

§ Mengidentifikasi kesalahan dan menentukan langkah perbaikan yang diperlukan.

§ Seluruh kegiatan pengujian dilaksanakan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K 3 (Keselamatan dan Kese-hatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/kebijakan perusa-haan.

§ Prinsip kerja sistem ke-listrikan otomotif.

§ Prosedur pengukuran dan pengujian kelistrikan.

§ Jenis kerusakan sistem ke-listrikan dan metoda per-baikannya.

§ Standar prosedur keselamat-an kerja.

§ Cermat dan teliti dalam penggunaan alat ukur elektronik

§ Cermat dan teliti dalam proses penyambungan kabel

§ Undang-undang K 3

§ Prinsip-prinsip kelistrikan

§ Prosedur perbaikan.

§ Pengukuran kelistrikan dan prosedur pengujian.

§ Persyaratan keselamatan kendaraan.

§ Prosedur untuk menghindari kerusakan pada ECU (Electrical Control Unit) = unit pengontrol listrik.

§ Melepas, membongkar, memeriksa dan mengu-kur komponen sistem kelistrikan serta merakit kembali hingga sistem dapat berfungsi normal tanpa adanya kerusakan pada komponen

§ Melaksanakan pengujian sistem/komponen ke-listrikan

§ Mengidentifikasi kesalah-an/kerusakan sistem/ komponen untuk menen-tukan perbaikan yang di-perlukan

2. Perbaikan ringan pada rangkaian kabel.

§ Perbaikan ringan pada rang-kaian kabel dilaksanakan dengan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap kompo-nen atau sistem lainnya.

§ Informasi yang benar di-akses dari spesifikasi pabrik dan dipahami.

§ Perbaikan yang diperlukan, penggantian komponen dan penyetelan dilaksanakan dengan menggunakan per-alatan, tehnik dan material yang sesuai.

§ Seluruh kegiatan perbaikan dilaksanakan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K 3 (Keselamatan dan Kese-hatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/kebijakan perusa-haan.

§ Prinsip kerja sistem kelistrik-an otomotif.

§ Prosedur pengukuran dan pengujian kelistrikan.

§ Jenis kerusakan sistem ke-listrikan dan metoda per-baikannya.

§ Standart prosedur kesela-matan kerja

§ Cermat dan teliti dalam penggunaan alat ukur elektronik

§ Cermat dan teliti dalam proses penyambungan kabel

§ Undang-undang K 3

§ Prinsip-prinsip kelistrikan

§ Prosedur perbaikan.

§ Pengukuran kelistrikan dan prosedur pengujian.

§ Persyaratan keselamatan kendaraan.

§ Prosedur untuk menghindari kerusakan pada ECU (Electrical Control Unit) = unit pengontrol listrik.

§ Memperbaiki rangkaian kabel sistem kelistrikan serta merakit kembali hingga sistem dapat berfungsi normal tanpa adanya kerusakan pada komponen

 


F.    Cek Kemampuan

 

SubKompetensi

Pernyataan

Jawaban

Bila jawaban “Ya” kerjakan

Ya

Tidak

1.   Dasar Listrik

§ Mengukur tegangan, tahanan dan arus

1)     Saya dapat menggambarkan struktur benda dan electron bebas  dengan benar

2)     Saya dapat menjelaskan perbedaan listrik statis dengan listrik dinamis dengan benar

3)     Saya dapat menjelaskan teori aliran listrik dengan benar

4)     Saya dapat menjelaskan pengertian arus listrik dan cara mengukurnya dengan benar

5)     Saya dapat menjelaskan pengertian tegangan listrik dan cara mengukurnya dengan benar

6)     Saya dapat menjelaskan pengertian tahanan listrik dan cara mengukurnya dengan benar

7)     Saya dapat menjelaskan Hukum Ohm dengan benar

8)     Saya dapat menjelaskan daya listrik dengan benar

Test Formatif 1

2. Dasar Listrik

§ Merangkai hubungan seri, parallel dan gabungan

1)    Saya dapat merangkai seri dua atau lebih kompenen dan menentukan tahanan, arus dan tegangannya

2)    Saya dapat merangkai paralel dua atau lebih kompenen dan menentukan tahanan, arus dan tegangannya

3)    Saya dapat merangkai kombinasi tiga atau lebih kompenen dan menentukan tahanan, arus dan tegangannya

Test Formatif 2

4)    Saya dapat menjelaskan karakteristik rangkaian seri

5)    Saya dapat menjelaskan karakteristik rangkaian paralel

6)    Saya dapat menjelaskan karakteristik rangkaian kombinasi

3. Memeriksa kerusakan ringan pada rangkaian/system kelistrikan dan prosedur menghindari kerusakan ECU 1)   saya dapat menyebutkan tiga type gangguan   pada rangkaian/system kelistrikan

2)   Saya dapat menjelaskan penyebab nilai tahanan dalam rangkaian menjadi bertambah

3)   Saya dapat menyebutkan peralatan yang dapat digunakan untuk memeriksa gangguan pada rangkaian

4)    Saya dapat menggunakan jumper wires

5)    Saya dapat menggunakan tes lamp

6)    Saya dapat menyebutkan keuntungan menggunakan tes lamp disbanding jumper

7)    Saya dapat menjelaskan prosedur menghindari kerusakan ECU.

Test formatif 3

4. Penggantian sekering dan bohlam 1)    Saya dapat membedakan sekering type blade dan catridge

2)    Saya dapat menunjukkan kondisi sekering yang baik

3)    Saya dapat membaca kapasitas dari sekering

4)    Saya dapat mengganti sekering putus

5)    Saya dapat membedakan bohlam putus dan bohlam baik

6)    Saya dapat membaca daya dari bohlam

7)    Saya dapat mengganti bohlam

Test formatif 4

5. Perbaikan rangkaian kabel 1)     Saya dapat menyebutkan macam kabel yang digunakan pada kendaraan

2)     Saya dapat mengidentifikasi kode warna yang digunakan pada kabel

3)     Saya dapat menentukan ukuran kabel yang digunakan

4)     Saya dapat menjelaskan metode memperbaiki kabel

5)     Saya dapat menyambung kabel dengan benar

Test formatif 5

6. Perbaikan connector 1)      Saya dapat menyebutkan macam konnkctor

2)     Saya dapat melepas dan memasang  konnktor

3)     Saya dapat memelihara konnektor

4)     Saya dapat mengganti  konnektor

Test formatif 6

BAB. II

PEMBELAJARAN

 

A.  RENCANA BELAJAR

 

Rencanakan kegiatan belajar anda dengan baik, silakan konsultasi dengan guru/instruktur untuk menentukan jadwal sesuai tingkat kesulitan, berdasarkan hasil  cek kemampuan awal yang telah anda lakukan. Mintalah paraf guru/instruktur sebagai tanda persetujuan terhadap rencana belajar anda.

Jenis Kegiatan

Tgl

Waktu

Tempat

Alasan Perubahan

Paraf Guru

Dasar Listrik          
Memeriksa rangkaian kelistrikan serta prosedur menghindari kerusakan ECU          
Mengganti sekering dan bohlam          
Perbaikan rangkaian kabel          
Perbaikan konektor
Uji Kompetensi

B.   KEGIATAN BELAJAR

 

     Kegiatan Belajar 1.  Dasar Listrik

 

a. Tujuan Kegiatan Belajar

Setelah mempelajari modul ini siswa diharapkan dapat:

9)    Menjelaskan struktur benda dan electron bebas  dengan benar.

10) Menjelaskan perbedaan listrik statis dengan listrik dinamis dengan benar

11) Menjelaskan teori aliran listrik dengan benar

12) Menjelaskan arus listrik dan cara mengukurnya dengan benar

13) Menjelaskan tegangan listrik dan cara mengukurnya dengan benar

14) Menjelaskan tahanan listrik dan cara mengukurnya dengan benar

15) Menjelaskan Hukum Ohm dengan benar

16) Menjelaskan daya listrik dengan benar

17)   Merangkai seri dua atau lebih kompenen kelistrikan

18) Merangkai parallel dua atau lebih kompenen kelistrikan

19) Merangkai kombinasi  tiga atau lebih kompenen kelistrikan

20) Menjelaskan karakteristik rangkaian seri

21) Menjelaskan karakteristik rangkaian paralel

22) Menjelaskan karakteristik rangkaian kombinasi

 

b. Uraian Materi

 

Materi dan Atom

Semua benda yang mengisi dan membentuk dunia ini yang dapat dilihat dengan pancaindra disebut materi atau zat. Secara umum materi dikelompokkan menjadi tiga yaitu padat, cair dan gas.

 

 

Gambar 1.  Bentuk materi dan struktur

Suatu benda bila kita pecah tanpa meningggalkan sifat aslinya akan kita dapatkan partikel yang disebut molekul. Molekul kalau kita pecah lagi akan kita dapatkan beberapa atom. Jadi atom adalah bagian terkecil dari suatu partikel/benda.

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Struktur Atom

 

Atom terdiri dari inti (nucleus) yang dikelilingi oleh elektron yang berputar mengelilingi inti pada orbitnya masing-masing seperti susunan tata surya. Inti atom sendiri terdiri dari proton dan netron. Proton dan netron ternyata memiliki muatan listrik, dimana proton memiliki muatan (+) dan elektron memiliki muatan ( – ), sedangkan neutron tidak memiliki muatan atau netral. Atom yang memiliki jumlah proton dan elektron yang sama, dikatakan bermuatan netral. Sesuai dengan hukum alam, atom akan terjadi tarik menarik antara nucleus sehingga elektron akan tetap berada dalam orbitnya masing-masing.

 

Elektron Bebas

Elektron-elektron yang orbitnya paling jauh dari inti, memiliki daya tarik menarik yang lemah terhadap inti. Elektron-elektron ini bila terkena gaya dari luar, misalnya panas, gesekan atau reaksi kimia akan cenderung lepas dari ikatannya dan pindah ke atom lain. Elektron-elektron yang mudah berpindah ini disebut elektron bebas (free electron), gerakan dari elektron bebas inilah yang menghasilkan bermacam-macam fenomena kelistrikan (seperti loncatan bunga api, cahaya, pembangkitan panas, pembangkitan magnet dan reaksi kimia).

Gambar 3.   Elektron bebas

LISTRIK

Listrik merupakan salah satu energi yang banyak digunakan untuk menggerakkan berbagai peralatan atau mesin. Energi listrik tidak dapat dilihat secara langsung, namun dampak atau akibat dari energi listrik dapat dilihat seperti sinar atau cahaya bola lampu, dirasakan seperti saat orang tersengat listrik, dibauh seperti bauh dari kabel yang terbakar akibat hubung singkat, didengar seperti suara bel atau radio.                                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.  Efek listrik

Listrik merupakan sumber energi yang paling mudah dikonversi menjadi energi yang lain, sehingga sebagian besar komponen sistem kelistrikan otomotif merupakan konversi energi listrik menjadi energi yang dikehendaki. Contoh komponen kelistrikan:

1)  Baterai merubah energi listrik menjadi energi kimia

2)  Motor starter merubah energi listrik menjadi energi gerak

3)  Lampu merubah energi listrik menjadi cahaya dan panas

4)  Pematik rokok merubah energi listrik menjadi panas

5)  Solenoid merubah energi listrik menjadi magnet, dan sebagainya.

 

Jenis Listrik

Listrik dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu:

Listrik Statis

Listrik statis merupakan suatu keadaan dimana elektron bebas sudah terpisah dari atomnya masing-masing, tidak bergerak hanya berkumpul dipermukaan benda tersebut. Listrik statis dapat dibangkitkan dengan cara menggosokkan sebuah gelas kaca dengan kain sutra. Setelah digosok gelas kaca akan bermuatan positip dan kain sutra akan bermuatan negatip.

 

Gambar 5.  Listrik statis

Listrik Dinamis

Listrik dinamis merupakan suatu keadaan terjadinya aliran elektron bebas dimana elektron ini berasal dari elektron yang sudah terpisah dari inti masing-masing. Elektron bebas tersebut bergerak bolak-balik melewati suatu penghantar.

a).  Tipe DC

b).  Tipe AC

 

Gambar 6.    Listrik dinamis    a) Tipe DC    b). Tipe AC

Listrik dinamis dikelompokkan menjadi dua yaitu listrik arus searah (Direct Current) dan arus bolak-balik (Alternating Current). Listrik arus searah elektron bebas bergerak dengan arah tetap, sedangkan listrik arus bolak-balik elektron bergerak bolak-balik bervariasi secara  periodik terhadap waktu.  Baterai merupakan sumber listrik  arus searah, sedangkan alternator merupakan sumber arus bolak-balik.

 

 

 

 

 

Teori Aliran Listrik

Terdapat dua teori yang menjelaskan bagaimana listrik mengalir:

 

Teori Electron (Electron theory)

Teori ini menyatakan listrik mengalir dari negatip baterai ke positip baterai. Aliran listrik merupakan perpindahan elektron bebas dari atom satu ke atom yang lain.

Teori konvensional (Conventional theory)

Teori ini menyatakan listrik mengalir dari positip baterai ke negatip baterai. Teori ini banyak digunakan untuk kepentingan praktis, teori ini pula yang kita gunakan untuk pembahasan aliran listrik pada buku ini

A

B

 

Gambar 7.   Teori aliran listrik

 

Arus Listrik

Besar arus listrik yang mengalir melalui suatu konduktor adalah sama dengan jumlah muatan (elektron bebas) yang mengalir melalui suatu titik penampang konduktor dalam waktu satu detik. Arus listrik dinyatakan dengan simbol I (intensitas) dan besarnya diukur dengan satuan ampere (disingkat A). Bila dikaitkan dengan elektron bebas, 1 Ampere= Perpindahan elektron sebanyak 6,25 x 1018  suatu titik konduktor dalam waktu satu detik.

Gambar 8.     Aliran listrik

 

 

Tabel 1. Satuan arus listrik yang sangat kecil dan besar.

Satuan Dasar

Arus Kecil

Arus Besar

Simbol

A

µA

mA

kA

MA

  Dibaca

Ampere

Micro Ampere

Mili Ampere

Kilo Ampere

Mega Ampere

Perkalian

1

1 x 10-6

1 x 10 -3

1 x 103

1 x 106

1/ 1.000.000

1/1.000

1 x 1.000

1 x 1.000.000

 

Contoh Konversi:

1).  1.000. 000 µA =  1.000 mA =  1. A  =  0,001 kA

2).  0,5 MA = 500 kA  = 500. 000 A  =  500.000.000  mA

3).   5 A = 5.000 mA  = 5.000.000 µA

Gambar 9.  Mengukur arus listrik

 

Mengukur besarnya arus yang mengalir pada suatu rangkaian menggunakan amper meter, pemasangan amper meter dilakukan secara seri dengan beban.

 

Tegangan Listrik

Tabung A dan B berisi air, dimana permukaan air tabung A lebih tinggi dari permukaan air tabung B, dihubungkan melalui sebuah pipa maka air akan mengalir dari tabung A ke tabung B (gambar a). Besarnya aliran air ditentukan oleh perbedaan tinggi permukaan air kedua tabung, ini disebut dengan tekanan air.

Hal yang sama juga akan terjadi bila kutub listrik A  yang mempunyai muatan positip  dihubungkan dengan kutub B yang bermuatan negatif oleh kabel C (gambar b), maka arus listrik akan mengalir dari kutub A ke kutub B melalui kabel C. Hal ini terjadi karena adanya kelebihan muatan positip pada kutub A dan kelebihan muatan negatif pada  B yang menyebabkan terjadinya beda potensial (tegangan listrik). Perbedaan ini menyebabkan tekanan/tegangan  menyebabkan arus listrik mengalir. Beda tegangan ini biasa disebut Voltage.

Gambar (b)

 

 

Gambar 10.  Konsep Tegangan

Satuan tegangan listrik dinyatakan dengan Volt dengan simbol V.  1 Volt adalah tegangan listrik yang mampu mengalirkan arus listrik 1 A pada konduktor dengan hambatan 1 ohm. Tabel dibawah menunjukkan satuan tegangan listrik yang sangat besar dan kecil.

 

 

Tabel 2. Satuan Tegangan Listrik

Satuan Dasar

Tegangan Kecil

Tegangan  Besar

Simbol

V

µV

mV

kV

MV

Dibaca

Volt

Micro Volt

Mili Volt

Kilo Volt

Mega Volt

Perkalian

1

1 x 10-6

1 x 10 -3

1 x 103

1 x 106

1/ 1.000.000

1/1.000

1 x 1.000

1 x 1.000.000

 

Contoh Konversi:

1.700.000  µV =  1. 700 mV  = 1,7 V

0,78 MV           = 780 KV  = 780. 000 V = 780.000.000 mV

Mengukur besar tegangan listrik menggunakan volt meter, pengukuran dilakukan secara parallel, cara pemasangan alat ukur seperti gambar dibawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 11.   Mengukur tegangan baterai

 

Tahanan/Resistansi  Listrik

Air dengan tekanan yang sama akan mengalir lebih cepat bila dialirkan melalui pipa yang besar, pendek dan permukaan dalamnya halus dibandingkan dengan bila air dialirkan melalui pipa yang ukurannya kecil, panjang dan permukaan bagian dalamnya kasar. Hal ini karena kondisi dari pipa akan berpengaruh terhadap aliran air. Besarnya hambatan ini dikatakan sebagai tahanan pipa. Kejadian ini juga berlaku untuk listrik yang mengalir melalui suatu kabel, dimana listrik juga akan mengalami hambatan. Hambatan yang dialami listrik ini disebut tahanan/resistansi listrik.

 

 

 

 

Gambar 12. Konsep Tahanan

Satuan tahanan listrik dinyatakan dengan huruf R (Resistor) dan diukur dengan satuan OHM (W). Satu ohm adalah tahanan listrik yang mampu menahan arus listrik yang mengalir sebesar satu amper dengan tegangan 1 V.

 

Tabel 3. Satuan tahanan listrik yang sangat besar dan kecil.

 

Satuan Dasar

Tegangan Kecil

Tegangan  Besar

Simbol

W

µW

mW

kW

MW

Dibaca

Ohm

Micro Ohm

Mili Ohm

Kilo Ohm

Mega Ohm

Perkalian

1

1 x 10-6

1 x 10 -3

1 x 103

1 x 106

1/ 1.000.000

1/1.000

1 x 1.000

1 x 1.000.000

 

Contoh Konversi:

1.985 mW  = 1, 985 W

0,89 MW  = 890  kW  = 890.000 W

Mengukur tahanan suatu benda maupun rangkaian menggunakan Ohm meter. Amper meter, Volt meter dan Ohm meter merupakan besaran listrik yang sering diukur, untuk itu dibuat alat yang dapat mengukur ketiga parameter tersebut yaitu AVO meter atau multi meter.

Gambar 13. Mengukur tahanan relay

HUKUM OHM

Tahun 1827 seorang ahli fisika Jerman George Simon Ohm (1787-1854) meneliti tentang resistor. Hukum Ohm menjelaskan bagaimana hubungan antara besar tegangan listrik, besar tahanan dan besar arus yang mengalir. Hukum Ohm mengatakan bahwa besar arus mengalir berbanding lurus dengan besar tegangan dan berbanding terbalik dengan besar tahanan. Hukum ini dapat ditulis:

 ……….  (1)

V  =   I  x  R

Gambar 14.  Hukum Ohm

Contoh:

Tentukan besar arus (I) yang melewati  lampu  R= 2 W,  bila tegangan (V) berubah  dari 24 Volt menjadi 12 Volt, seperti gambar di bawah ini:

Gambar 15.   Hukum Ohm pada tahanan konstan

Gambar 16.   Hukum Ohm pada tahanan konstan

 

Solusi:

Gambar 15. Baterai dirangkai seri sehingga tegangan baterai 12 V + 12 V = 24 V , tahanan lampu tetap 2 Ohm, maka besar arus yang mengalir adalah  I = V/R = 24/2 = 12 Amper.

Gambar 16. Tegangan 12 V, tahanan lampu 2 Ohm, maka besar arus yang mengalir adalah I = V/R  = 12/ 2 =  6 Amper

 

Kesimpulan:

Bila tahanan tetap sedangkan  tegangan turun maka arus yang mengalir juga turun. Sebaliknya bila tahanan tetap tegangan naik maka arus juga naik.

Bila lampu untuk 24 V dipasang pada tegangan 12 V maka lampu redup karena arus yang melewati lampu menjadi kecil. Sebaliknya lampu 12 V dipasang pada sumber baterai 24 V, maka lampu akan putus kerena terbakar sebab arus yang mengalir terlalu besar.

DAYA LISTRIK

Hukum Joule menerangkan tentang daya listrik. Terdapat hubungan antara daya listrik dengan tegangan, arus maupun tahanan. Besar daya listrik diukur dalam watt. Satu watt merupakan besar arus mengalir sebesar 1 Amper dengan beda potensial 1 volt. Hukum Joule dapat ditulis

………………………………………… (2)

P        =  Daya listrik (watt)

V        =  Tegangan (Volt)

I         =  Arus listrik (Amper)

Bila di subtitusikan hukum Ohm dimana  V = I R , maka  daya listrik:

P =  Vx  I

=  IRx I

=  I 2 R

  P   = I 2 R

..……………………………………. (3)

 

 

Bila disubtitusikan hukum Ohm dimana  I  = V/R, maka:

P  = R x I 2

  P   = V 2 R

= R  x (V/R)2 =  V2 / R

……………………………  (4)

Dari ketiga rumusan tersebut daya listrik dapat dirumuskan:

P   =  V x I     P = I 2 R       P  =  V2 / R

Dalam banyak kasus pada komponen sistem kelistrikan hanya ditentukan tegangan dan daya.  Besar arus arus yang mengalir jarang ditentukan, misal bola lampu kepala tertulis 12 V  55/60 W.  Arti dari tulisan tersebut adalah bola lampu kepala menggunakan tegangan 12 V,  pada posisi jarak dekat daya yang diperlukan 55 watt, sedangkan saat jarak jauh daya yang diperlukan 60 watt.

Contoh:

Tentukan besar arus yang mengalir pada sebuah lampu kepala  12V  55/60 W, saat lampu jarak dekat maupun saat jarak jauh.

Solusi:

Dengan menggunakan rumus   I = P/ V     didapatkan besar arus

a. Jarak dekat       I dekat   =  Pdekat / V   =  55 / 12  =  4,58 A

b. Jarak jauh         I jauh   =  P jauh / V  =  60 / 12 = 5 A

 

   Rangkaian seri, paralel dan kombinasi

Rangkaian komponen dalam sistem kelistrikan ada tiga macam yaitu rangkaian seri, rangkaian paralel dan rangkaian seri paralel atau kombinasi.

Pemahaman jenis dan karakteristik rangkaian sangat penting sebagai dasar memeriksa dan menentukan sumber gangguan pada sistem kelistrikan.

1) Rangkaian Seri

Aplikasi rangkaian seri sangat banyak digunakan pada kelistrikan otomotif. Sistem starter, pengatur kecepatan motor kipas evaporator AC  merupakan beberapa contoh aplikasi rangkaian seri.

 

Gambar17.  Rangkaian seri

Karakteristik rangkaian seri:

a) Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan semua tahanan

(Rt )  =  R1 + R2            ………………………..     (1)

b) Arus yang mengalir  pada rangkaian sama besar

I  = I1  = I2           …………………………………    (2)

 

V

I   =

Rt

………………………………     (3)

c) Tegangan total (Vt)  merupakan penjumlahan tegangan :

V t  =  V1 + V2        ………………………………     (4)

Besar  V1dan V2 adalah:

R1

V1  =            x  V

Rt

…………………………………    (5)

R2

V2  =            x  V

Rt

……………………………….    (6)

Tentukan besar Rt,  I ,  I1 ,  I2,  V1 dan V2, pada rangkaian seri di atas bila diketahui  R1=10 W dan R2= 30 W, sedangkan sumber tegangan 12V.

Solusi:

a) Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan semua tahanan

(Rt )  =  R1 + R2

=  10 + 30

=  40 W

b)  Arus yang mengalir  pada rangkaian sama besar I  = I1  = I2

I  =  V / Rt

= 12/ 40 = 0,3 Amper

c) Tegangan   total merupakan penjumlahan dari tiap tegangan

V1  =  R1/ Rt x V  = 10/40 x 12  = 3 V

V2  =  R2/ Rt x V  =  30/40 x 12 = 9 V

V    =  V1 + V2      =  3 +9 = 12 V

Karena besar I sudah dicari maka besar V1 dan V2  dapat pula ditentukan dengan rumus:

V1  =  R1 x I  =  10 x 0,3  =  3 V

V2 =  R2 x I  = 30 x 0,3  =  9 V

V   =  V1 + V2 =  3 + 9 = 12 V

2) Rangkaian Paralel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 18.  Rangkaian parallel

Karakteristik rangkaian parallel:

a) Tegangan pada rangkaian sama yaitu :

V =     V1  =  V2        ……………………………………………      (7)

b) Besar arus mengalir adalah:

I  =   I1  + I               …………………………………………..     (8)

Besar arus mengalir pada rangkaian parallel mengikuti Hukum Kirchoff I, yang menyatakan  jumlah arus listrik yang masuk pada suatu titik cabang sama dengan jumlah arus yang keluar pada titik cabang tersebut.

c) Besar tahanan total  (Rt) adalah:

   V             V1          V2

=           +

Rt              R1         R2

karena  V =  V1 = V 2   maka

   1             1            1

=             +

Rt              R1         R2

Dengan menggunakan perhitungan aljabar  akan diperoleh persamaan ekuvalen:

R1  x R2

Rt  =                               ………………….      (9)

R1 + R2

Contoh 1:

Sistem kelistrikan mempunyai 2 klakson dengan daya berbeda. klakson LH  12V/ 60 W dan klakson RH  12V/ 36 W. Tentukan :

a)  Tahanan klakson LH dan RH

b)  Tahanan total

c)  Arus pada klakson LH dan RH

d)  Arus  yang melewati saklar klakson dan yang melalui sekering.

 

Gambar  19.   Sistem Klakson Tanpa Relay

Solusi:

a). Tahanan klakson adalah:

Klakson LH    R1 = V2 / P =   122 / 60  =   2,4 W

Klakson RH    R2 = V2 / P =   122 / 36  =   4 W

b). Besar tahanan total  (Rt) adalah:

Rt  = ( R1 x R2) : (R1 +R2)  =  (2,4 x 4) : (2,4 + 4)

=  9,6  : 6,4 = 1,5 W

c).  Besar arus yang mengalir melalui klakson

Horn  LH      I1 =  V/ R1  =  12 / 2,4  = 5 A

Horn RH       I2 =  V / R2 = 12 /  4     =  3 A

d).  Besar arus mengalir melalui saklar klakson maupun sekering merupakan total arus yang mengalir melalui kedua klakson, yaitu:

I  =   I1  + I2

=  5 +  3  =  8 A

atau

I  =  V / Rt  =  12 / 1,5  =  8 A

Arus yang mengalir pada saklar klakson sangat besar sehingga percikan api pada kontak saklar klakson  besar, saklar klakson  cepat kotor, tahanan kontak meningkat dan bunyi klakson lemah. Guna mengatasi permasalahan tersebut maka rangkaian klakson dipasang relay.  Bila diketahui tahanan lilitan relay sebesar 60 W, tentukan:

a)  Tahanan total

b)  Arus pada klakson LH dan RH

c)  Arus  yang melewati saklar klakson

d)  Arus  yang melalui sekering.

Gambar 20.    Sistem Klakson Dengan Relay

Solusi:

a)  Tahanan total  (Rt)

Tahanan  pada rangkaian terdiri dari:

R1 (tahanan klakson LH )  = 2, 4 W

R2 (tahanan klakson RH)   =  4 W

R3 (tahanan relay)         =   60 W

Dengan  rumus (14) besar Rt adalah

1/ Rt    =  1/R1 +  1/ R2  + 1/R3

1/Rt     =  1/2,4  +  1/ 4   + 1/ 60

=   25/ 60  + 15/ 60 + 1/ 60 =  41/60

Rt        =  60/ 41 = 1,463 W

b) Besar arus yang mengalir melalui klakson

Horn  LH      I1 =  V/ R1  =  12 /2, 4  = 5 A

Horn RH       I2 =  V / R2 = 12 / 4     =  3 A

c) Arus yang melalui saklar klakson merupakan arus yang melewati lilitan relay

I3  =   V/ R3  =  12/ 60  = 0,2 A

d) Arus melewati sekering merupakan total arus yang melewati   rangkaian

I    =   I1 + I2 + I 3  =  5 + 3 + 0,2  =  8,2 A

Atau

I  = V/ Rt   =  12 / 1,463 = 8,2 A

Tabel 5.    Perbandingan  besar arus yang melewati komponen dalam sistem                               klakson

No Parameter Tanpa relay Dengan relay Selisih
1 Klakson LH

  • Daya
  • Tahanan
  • Arus

60 W

2,4 W

5 A

60 W

2,4 W

5 A

0

0

0

2 Klakson RH

  • Daya
  • Tahanan
  • Arus

36 W

4 W

3 A

36 W

4 W

3 A

0

0

0

3 Horn switch 8 A 0,2 A 7,8 A
4 Fuse 8 A 8,2 0,2 A
5 Beban rangkaian 96 W 98,4 W 2,4 W

Dari pemasangan relay pada rangkaian tersebut mampu mengurangi arus yang melalui saklar klakson sebesar 7,8 A yaitu dari 8 A menjadi 0,2 A sehingga saklar klakson lebih awet. Dengan menambah relay arus listrik dari baterai bertambah  0,2 A atau beban listrik bertambah 2,4 W.

3). Rangkaian Seri–Paralel

Gambar 21. Rangkaian seri parallel

Tahanan total (Rt) :

Rt  =   R1  + Rp      ………………………………………………    (10)

Rp merupakan tahanan pengganti untuk R2 dan R3.

Rp  = ( R2 x R3) : (R2 +R3)   ………………………………..    (11)

Rt  =   R1  + ( R2 x R3) : (R2 +R3)

Tegangan pada rangkaian:

V  =   V1   +  VRp

V1  =  R1 / Rt  x V

VRp = Rp / Rt  x  V

Karena R2 dan R3 paralel maka

V2 = V3  =  Rp / Rt  x  V

Besar arus pada R1 = arus total

I   =  V/ Rt

Besar arus pada R2  adalah

I2    =  V2 /  R2

Besar arus pada R3  adalah

I3   = V3 / R3     ………………………………………………….   (12)

Contoh:

Tentukan besar tahanan total (Rt), tegangan pada R1, R2 dan R3 dan besar arus pada R1, R2 dan R3 pada rangkaian di bawah ini bila diketahui R1= 4,5 W  ,     R2=10 W    dan   R3= 30 W

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 22.  Menentukan arus dan tegangan pada rangkaian seri parallel

Solusi:

a)  Mencari tahanan total (Rt) ditentukan dahulu besar tahanan pengganti (Rp) untuk R2 dan R3.

Rp  = ( R2 x R3) : (R2 +R3)  =  (10 x 30) : (10 + 30)

=  300 : 40 = 7,5 W

Rt  =   R1  + Rp   =  4,5  + 7,5  =  12 W

b)  Mencari  V1 dengan rumus:

V1  =  R1 / Rt  x V  =  4,5 / 12  x 12  =  4,5 V

Karena R2 dan R3 paralel maka

V2 = V3  =  Rp/ Rt  x  V  =  7,5 / 12  x 12  = 7,5 V

c)  Besar arus pada R1 = arus total

I   =  V/ Rt  =  12/ 12         =  1 A

d)  Besar arus pada R2  adalah

I2    =  V2 /  R2  = 7,5 / 10 = 0,75 A

e)  Besar arus pada R3  adalah

I3   = V3/ R3    = 7,5 /  30 =  0,25 A

Jembatan Wheatstone merupakan rangkaian seri paralel yang sering digunakan. Penerapan rangkaian ini antara lain pada termometer, intensitas pengukur cahaya, air flow meter dan sebagainya.

Gambar 23.  Jembatan Wheatstone

Contoh:

Tentukan tegangan pada Volt meter pada gambar diatas.

Tegangan yang ditunjukkan volt meter merupakan selisih tegangan pada titik A dengan titik B.

Tegangan pada titik A adalah

Va =  R2/ (R1+R2)  x V  = 2/ (1+2)x 12=  8 V

Tegangan pada titik B adalah

Vb =  R4/ (R3+R4)  x V  = 4/ (4+4)x 12=  6 V

Tegangan pada Volt meter adalah

Va – Vb  =  8 – 6 = 2 V

Dengan konsep diatas bila salah satu nilai tahanan berubah maka tegangan pada Volt meter juga berubah.

 

 

c. Rangkuman

Semua benda yang mengisi dan membentuk dunia ini yang dapat dilihat dengan pancaindra disebut materi atau zat. Secara umum materi dikelompokkan menjadi tiga yaitu padat, cair dan gas.

Atom adalah bagian terkecil dari suatu benda/partikel. Atom terdiri dari inti (nucleus) yang dikelilingi oleh elektron yang berputar mengelilingi inti pada orbitnya masing-masing seperti susunan tata surya. Inti atom sendiri terdiri dari proton dan netron. Elektron-elektron yang mudah berpindah ini disebut elektron bebas (free electron).

Listrik dapat dikelompokkan menjadi listrik statis dan listrik dinamis, listrik dinamis sendiri terdiri dari listrik searah (DC) dan listrik bolak-balik (AC). Teori aliran listrik ada dua yaitu teori konvensional dan teori electron.

Arus listrik (I), tegangan (V) dan tahanan listrik (R) merupakan besaran utama pada listrik, Arus listrik diukur dengan amper meter, tegangan listrik dengan volt meter dan tahanan listrik dengan Ohm meter. Hubungan antara besar arus, tegangan dan tahanan  listrik digambarkan dalam hukum Ohm ,   dimana I =  V/R.  Daya listrik merupakan tehgangan kali arus listrik  P = V x I.

Dalam rangkaian kelistrikan terdapar 5 komponen utama, yaitu: Sumber, proteksi, beban, kontrol dan konduktor. Rangkaian komponen dalam sistem kelistrikan ada tiga macam yaitu: rangkaian seri, rangkaian paralel  dan rangkaian seri paralel atau kombinasi.

Rangkaian seri mempunyai karakteristik:

1)  Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan semua tahanan ( Rt = R1 + R2).

2)   Arus yang mengalir  pada rangkaian sama besar   (It = I1 = I2).

3)  Tegangan total (Vt)  merupakan penjumlahan tegangan  (Vt = V1 +V2).

Karakteristik rangkaian parallel:

1)  Tegangan pada rangkaian sama ,     V =  V1  =  V2

2)  Besar arus yang mengalir tergantung bebannya.

3)  Besar arus mengalir merupakan total arus yang mengalir setiap percabangannya       I  =   I1  + I

4)  Besar tahanan total  (Rt) atau tahanan pengganti adalah:

R1  x R2

Rt  =

R1 + R2

Karakteristik rangkaian Seri Paralel atau kombinasi

1)  Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan tahanan dengan tahanan pengganti.

Rt  =   R1  + Rp

2)  Tegangan total  pada rangkaian merupakan penjumlahan tegangan pada tahanan dan tahanan pengganti.

(V  =   V1   +  VRp)

3)  Besar arus pada rangkaian adalah tegangan dibagi tahanan total

(I   =  V/ Rt )

d. Tugas

§ Cari buku pedoman perawatan dan perbaikan salah satu mesin otomotip, buka bagian wiring diagramnya,  tentukan metode mengukur besar arus yang dibutuhkan untuk tiap sistem yang bekerja, tentukan titik-titik mengukur besar tegangan pada rangkaian.

§ Sebutkan contoh aplikasi rangkaian seri, parallel dan kombinasi pada sistem kelistrikan mobil. Gambarkan rangkaian sistem tersebut.

 

e. Test Formatif

1)  Apa yang dimaksud  electron bebas  berikan ilustrasi?

2)  Jelaskan apa perbedaan teori aliran listrik konvensional dengan electron!

3)  Jelaskan cara mengukur arus listrik, lengkap dengan nama alat ukurnya, satuan ukurannya,  serta jelaskan juga apa yang dimaksud dengan 1 amper?

4)  Jelaskan bagaimana mengukur tegangan listrik lengkap dengan nama alat ukurnya?, apa satuan ukurannya?,  apa yang dimaksud dengan 1 volt?

5)  Sebuah  lampu 12V/36W dirangkai seperti gambar dibawah ini,

a)  Tentukan berapa besar arus listrik secara teoritis?

b)  Bagaimana cara memasang amper meter untuk mengukur besar arus yang mengalir?

c)  Berapa tahanan lampu secara teoritis?

d)  Bagaiman cara mengukur tahanan lampunya?

e)  Bagaiman cara mengukur tegangan baterainya?

6.    Jelaskan karakteristik rangkaian seri, parallel dan kombinasi

7.    Dua resistor dirangkai secara seri. Harga R1= 60 Ω dan R2 = 180Ω, tentukan  besar arus  listrik yang mengalir dan besar tegangan pada masing masing resistor bila tegangan sumber sebesar 12V

8.        Tentukan besar arus listrik yang mengalir pada fuse bila diketahui tahanan lilitan relay 100 Ω, daya masing-masing horn 12V/36W  tegangan baterai 12V. Berapakah tegangan pada titik 5 pada saat horn switch atau tombol OFF dan saat ON?

9.        Tentukan besar tahanan total (Rt), tegangan pada R1, R2 dan R3 dan besar arus pada R1, R2 dan R3 pada rangkaian di bawah ini bila diketahui R1= 4 W,  R2=30 W  dan  R3= 60 W

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

f. Kunci Jawaban Formatif

1)  Elektron bebas yaitu electron yang orbitnya paling jauh dari inti, memiliki daya tarik menarik yang lemah terhadap inti. Elektron-elektron ini bila terkena gaya dari luar, misalnya panas, gesekan atau reaksi kimia akan cenderung lepas dari ikatannya dan pindah ke atom lain.

2)  Teori ini menyatakan listrik mengalir dari negatip baterai ke positip baterai. Aliran listrik merupakan perpindahan elektron bebas dari atom satu ke atom yang lain. Sedangkan teori ini menyatakan listrik mengalir dari positip baterai ke negatip baterai. Teori ini banyak digunakan untuk kepentingan praktis, teori ini pula yang kita gunakan untuk pembahasan aliran listrik pada buku ini

3)  Mengukur arus dengan merangkai secara seri, alat ukur arus listrik adalah Amper meter,  satuan amper, dan pengertian  1 Ampere adalah Perpindahan elektron sebanyak 6,25 x 1018  suatu titik konduktor dalam waktu satu detik.

4)  Mengukur tegangan dengan merangkai secara parallel, alat ukur dengan Volt meter,  satuan volt, pengertian 1 Volt adalah tegangan listrik yang mampu mengalirkan arus listrik 1 A pada konduktor dengan hambatan 1 ohm.

5)  Sebuah  lampu 12V/36W dirangkai seperti gambar dibawah ini,

a) Besar arus listrik adalah   I =  P/V  = 36/12 = 3 Amper

b) Cara memasang amper meter secara seri seperti gambar berikut ini:

c) Tahanan lampu sebesar R =  V/I  = 12/3 = 4 Ω?

d) Cara mengukur tahanan lampunya dengan melepas lampu, kemudian diukur menggunakan Ohm meter, posisi selector pada 1XΩ, kalibrasi Ohm meter, kemudian diukur seperti gambar berikut ini, besar tahanan seperti ditunjukkan pada Ohm meter.

e) Cara mengukur tegangan baterai adalah dengan menggunakan volt meter, bila menggunakan multi meter atur selector pada tegangan DC pada sekela pengukuran 50V, hubungkan colok ukur positip pada positip baterai dan colok negatip pada negatip baterai, baca hasil pengukuran.sebagai berikut:

6.        Rangkaian seri mempunyai karakteristik:

a)  Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan semua tahanan ( Rt = R1 + R2).

b)   Arus yang mengalir  pada rangkaian sama besar   (It = I1 = I2).

c)   Tegangan total (Vt)  merupakan penjumlahan tegangan  (Vt = V1 +V2).

Karakteristik rangkaian parallel:

a)  Tegangan pada rangkaian sama ,     V =  V1  =  V2

b)  Besar arus yang mengalir tergantung bebannya.

c)  Besar arus mengalir merupakan total arus yang mengalir setiap percabangannya       I  =   I1  + I

d)  Besar tahanan total  (Rt) atau tahanan pengganti adalah:

R1  x R2

Rt  =

R1 + R2

Karakteristik rangkaian Seri Paralel atau kombinasi

a)  Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan tahanan dengan tahanan pengganti.

Rt  =   R1  + Rp

b)  Tegangan total  pada rangkaian merupakan penjumlahan tegangan pada tahanan dan tahanan pengganti.

(V  =   V1   +  VRp)

c)  Besar arus pada rangkaian adalah tegangan dibagi tahanan total  (I   =  V/Rt )

7.    Besar arus yang mengalir

I =  V/Rt  = 12 / (60+180) = 0,05 A = 50 mA.

Tegangan pada  R1 yaitu

V1 = R1 x I  = 60 x 50 = 3000 mV =3 V

Tegangan pada R2 yaitu

V2 = R2 x I  = 180 x 50 = 9000 mV = 9 V.

8.  Besar arus yang mengalir pada fuse  merupakan total arus ke beban, dimana:

Beban 1 lilitan relay dengan

R= 100Ω berarti  I = V/R = 12/ 100 = 0,12 A

Beban 2 adalah horn dengan daya 36W, berarti

I = P/V = 36/12 = 3 A

Beban 3 sama dengan beban 2 yaitu horn 36 W jadi   I= 3 A.

Jadi besar arus yang mengalir adalah

It = 0,12 + 3 + 3 = 6,12 A

Tegangan titik 5 saat tombol OFF adalah 0 Volt, sedangkan saat tombol ON adalah 12Volt.

9. Mencari tahanan total (Rt) ditentukan dahulu besar tahanan    pengganti (Rp) untuk R2 dan R3.

Rp  = ( R2 x R3) : (R2 +R3) = (30 x 60) : (30 + 60) = 20

Rt  =   R1  + Rp   =  4  + 20  =  24 W

Mencari  V1 dengan rumus:

V1  =  R1 / Rt  x V  =  4 / 24  x 12  =  2 V

Karena R2 dan R3 paralel maka

V2 = V3  =  Rp/ Rt  x  V  =  20 / 12  x 12  = 10 V

Besar arus pada R1 = arus total

I   =  V/ Rt   =  12/ 24    =  0,5 A

Besar arus pada R2  adalah

I2    =  V2 /  R2  = 10/ 30 = 0,333 A

Besar arus pada R3  adalah

I3   = V3/ R3    = 10/  60 =  0,167 A

g. Lembar Kerja

Lembar Kerja 1a:  Mengukur Tegangan, Arus dan Tahanan

Tujuan:

Siswa dapat mengukur besar tegangan listrik, mengukur besar arus listrik dan mengukur besar tahanan.

Alat dan Bahan

1)  Papan percobaan yang dilengkapi bola lampu 12V/ 3 W,   bola lampu 12V/ 5W dan bola lampu 12V/ 8W.

2)  Papan percobaan yang dilengkapi resistor  1 K, 2 K dan 3 K

3)  Multimeter dan Amper meter 0-5 Amper

4)  Baterai

Keselamatan Kerja

Hati-hati dalam penggunaan multi meter, perhatikan hal-hal sebagai berikut:

1)  Mengukur arus pada posisi Amper dengan pengukuran maksimal 500 mA. Cara pemasangan secara seri.

2)  Mengukur tegangan pada posisi voltmeter, pastikan skala pengukuran diatas tegangan yang akan diukur, pastikan jenis tegangan yang diukur apakah tegangan AC ataui DC.

3)  Mengukur tahanan dengan Ohm meter, perhatikan skala tahanan yang akan diukur, kalibrasi alat sebelum digunakan

Langkah Kerja

1)   Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2)   Lakukan pengukuran tahanan pada komponen berikut ini:

Komponen Nilai Tahanan Komponen Nilai Tahanan
Bola lampu 12V/3W Tahanan   1KΩ
Bola lampu 12V/5W Tahanan   2KΩ
Bola lampu 12V/8W Tahanan   3KΩ

1)   Periksa tegangan baterai yang digunakan. Tegangan: V.

2)   Lakukan pengukuran arus listrik dengan memasang amper meter secara seri pada rangkaian lampu seperti gambar dibawah ini, baca hasil pengukuran, ganti bola lampu dengan ukuran yang berbeda.

3)   Lakukan pengukuran arus listrik dengan memasang amper meter secara seri, dengan mengganti lampu dengan resistor.

Beban

Arus

Beban

Arus

Bola lampu 12V/3W Tahanan   1KΩ
Bola lampu 12V/5W Tahanan   2KΩ
Bola lampu 12V/8W Tahanan   3KΩ

4)   Bersihkan tempat kerja dan Kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

Lembar Kerja 1b:  Merangkai Seri

Tujuan:

Setelah mencoba lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

1)  Merangkai 2 resistor  lebih secara seri

2)  Mengukur arus dan tegangan pada rangkaian seri

Alat dan Bahan

1)  Papan percobaan yang dilengkapi resistor  1 K, 2 K dan 3 K

2)  Multimeter dan Amper meter 0-1 Amper

3)  Power suplay

Keselamatan Kerja

Hati-hati dalam penggunaan multi meter maupun amper meter perhatikan hal-hal sebagai berikut:

1)  Mengukur arus pada posisi Amper dengan pengukuran maksimal 500 mA. Cara pemasangan secara seri.

2)  Mengukur tegangan pada posisi voltmeter, pastikan skala pengukuran diatas tegangan yang akan diukur, pastikan jenis tegangan yang diukur apakah tegangan AC ataui DC.

3)  Mengukur tahanan dengan Ohm meter, perhatikan skala tahanan yang akan diukur, kalibrasi alat sebelum digunakan

 

 

 

 

 

 

 

Langkah Kerja

1)  Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2)  Lakukan pengukuran tahanan pada komponen berikut ini:

Resistor

Hasil Pengukuran

R1 = 1KΩ
R2 = 2KΩ
R3 = 3KΩ

a)  Atur dan periksa tegangan power suplay yang digunakan pada tegangan 6 V.

b)  Hitung besar arus dan tegangan secara teoritis dari rangkaian percobaan

Hasil perhitungan

Tegangan Power Suplay

Arus

V1

V2

V3

6 V

3)  Buat rangkaian sebagai berikut, catat hasil pengukuran

Hasil Pengukuran

Tegangan Power Suplay

Arus

V1

V2

V3

Bersihkan tempat kerja dan Kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

Lembar Kerja 1c:  Merangkai Paralel

Tujuan:

Setelah mencobah lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

1)  Merangkai 2 resitor atau lebih secara paralel

2)  Mengukur arus dan tegangan pada rangkaian parallel

 

Alat dan Bahan

1)  Papan percobaan yang dilengkapi resistor  1 K, 2 K dan 3 K

2)  Multimeter dan Amper meter 0-1 Amper

3)  Power suplay

Keselamatan Kerja

Hati-hati dalam penggunaan multi meter maupun amper meter perhatikan hal-hal sebagai berikut:

1)  Mengukur arus pada posisi Amper dengan pengukuran maksimal 500 mA. Cara pemasangan secara seri.

2)  Mengukur tegangan pada posisi voltmeter, pastikan skala pengukuran diatas tegangan yang akan diukur, pastikan jenis tegangan yang diukur apakah tegangan AC ataui DC.

3)  Mengukur tahanan dengan Ohm meter, perhatikan skala tahanan yang akan diukur, kalibrasi alat sebelum digunakan

Langkah Kerja

1)  Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2)  Lakukan pengukuran tahanan pada komponen berikut ini:

Resistor

Hasil Pengukuran

R1 = 1KΩ

R2 = 2KΩ

R3 = 3KΩ

3)  Atur dan periksa tegangan power suplay yang digunakan pada tegangan 6 V.

4)  Hitung secara teoritis besar arus dan tegangan pada rangkian dibawah ini

Hasil perhitungan

Tegangan Power Suplay

V

A

A1

A2

A3

6 V

5)  Buat rangkaian seperti gambar diatas dengan skala Ampermeter dan volt meter diatas hasil perhitungan teoritis. Catat hasil pengukuran

Hasil pengukuran

Tegangan Power Suplay

V

A

A1

A2

A3

6)  Bersihkan tempat kerja dan Kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

 

Lembar Kerja 1d:  Merangkai Kombinasi

Tujuan:

Setelah mencobah lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

1)  Merangkai 3 resitor  lebih secara seri-paralel atau kombinasi

2)  Mengukur arus dan tegangan pada rangkaian seri-paralel

Alat dan Bahan

1)  Papan percobaan yang dilengkapi resistor  1 K, 2 K dan 3 K

2)  Multimeter dan Amper meter 0-1 Amper

3)  Power suplay

Keselamatan Kerja

Hati-hati dalam penggunaan multi meter maupun amper meter perhatikan hal-hal sebagai berikut:

1)  Mengukur arus pada posisi Amper dengan pengukuran maksimal 500 mA. Cara pemasangan secara seri.

2)  Mengukur tegangan pada posisi voltmeter, pastikan skala pengukuran diatas tegangan yang akan diukur, pastikan jenis tegangan yang diukur apakah tegangan AC ataui DC.

3)  Mengukur tahanan dengan Ohm meter, perhatikan skala tahanan yang akan diukur, kalibrasi alat sebelum digunakan

Langkah Kerja

1)  Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2)  Lakukan pengukuran tahanan pada komponen berikut ini:

Resistor

Hasil Pengukuran

R1 = 1KΩ
R2 = 2KΩ
R3 = 3KΩ

3) Atur dan periksa tegangan power suplay yang digunakan pada tegangan 6 V.

4) Hitung secara teoritis besar arus dan tegangan pada rangkian dibawah ini

Hasil perhitungan

 Tegangan Power Suplay

V1

V2

A1

A2

A3

6 V

4)   Buat rangkaian seperti gambar diatas dengan skala Ampermeter dan voltmeter diatas hasil perhitungan teoritis.

Hasil pengukuran

Tegangan Power Suplay

V1

V2

A1

A2

A3

6) Bersihkan tempat kerja dan Kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

 

    Kegiatan Belajar 2.  Prosedur menghindari kerusakan ECU dan     Memeriksa gangguan pada Rangkaian

 

 a. Tujuan kegiatan belajar

Setelah mempelajari modul ini, siswa dapat:

1)  Mengetahui prosedur menghindari kerusakan pada ECU.

2)  Menyebutkan penyebab terjadinya nilai tahanan membesar

3)  Menyebutkan penyebab terjadinya hubung singkat

4)  Menyebutkan peralatan yang biasa digunakan memeriksa gangguan pada rangkaian kelistrikan

5)  Menggunakan peralatan untuk memeriksa gangguan pada rangkaian kelistrikan

b. Uraian materi kegiatan belajar

 

Prosedur menghindari kerusakan ECU

 

ECU adalah rangkaian komputer yang dilengkapkan pada mobil-mobil modern untuk mengontrol kerja dari mesin agar optimal, sistem pengapian dan injeksi bahan bakar adalah bagian utama yang dikendalikan oleh ECU. Sensor-sensor memberikan sinyal pada ECU tentang keadaan atau kondisi dari mesin. Jika ada komponen yang mengalami gangguan secara cepat sensor akan memberikan sinyal pada ECU, sehingga ECU dapat memberikan peringatan dengan menyalakan lampu Indikator yang disediakan pada mobil sehingga pengemudi akan mengetahui bahwa ada gangguan pada mesin.

Pada umumnya ECU mempunyai program darurat yang dapat mengatasi masalah untuk sementara hingga mesin dibetulkan. Prosedur diagnosa dan pemeriksaan sistem yang dikendalikan oleh ECU menggunakan alat khusus yaitu scan tool, alat ini akan mendeteksi adanya ketidaknormalan kerja mesin dan memberikan informasi tentang bagian-bagian dari komponen yang memerlukan perbaikan atau penggantian.

Karena semua program dilakukan oleh ECU maka tidak diperkenankan mengutak-atik ECU tanpa petunjuk dari buku manual mesin yang bersangkutan.

Langkah-langkah menghindari kerusakan ECU:

a.     Jangan pernah melepas terminal baterei saat kunci kontak ON atau mesin hidup

b.     Jangan pernah memeriksa rangakaian ECU menggunakan alat yang tidak direkomendasikan oleh buku manual.

c.      Jangan pernah memberikan tegangan luar pada ECU.

d.     Jangan pernah menjumper pada pin-pin  ECU

e.     Hindari ECU dari tegangan induksi

f.      Hindari ECU dari terkena air.

g.     Jangan pernah melakukan pemeriksaan rangkaian ECU tanpa petunjuk buku manual.

Memeriksa gangguan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan

Gangguan pada rangkaian kelistrikan yang umum terjadi ada tiga macam yaitu:

1)   Gangguan pada rangkaian karena nilai tahanan membesar

2)   Gangguan karena hubung singkat

3)   Ganguan dari komponen-komponen kelistrikan itu sendiri.

Gangguan – gangguan ini jika tidak ditangani dengan benar, maka akan menyebabkan rangkaian kelistrikan tidak bekerja dengan normal atau bahkan akan berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih parah pada komponen–komponen rangkaian.

Agar rangkaian kelistrikan tersebut dapat bekerja secara normal kembali, maka diperlukan pemeriksaan pada komponen–komponen rangkaian. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan dimana gangguan itu terjadi dan penyebabnya. Jika letak dan penyebab gangguan sudah diketahui maka langkah berikutnya adalah melakukan perbaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan.

1). Gangguan rangkaian kelistrikan karena nilai tahanan membesar

Gangguan ini biasanya disebabkan Karena rangkaian terbuka atau terjadinya korosi pada bagian–bagian tertentu dari rangkaian,  dapat

juga disebabkan karena kontak saklar yang tidak baik/kotor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 24. Gangguan yang disebabkan nilai tahanan membesar

Gambar 24.a menunjukkan bahwa, lampu tidak menyala akibat rangkaian terputus atau terbuka, dan arus tidak dapat mengalir.

Sedangkan gambar b lampu tidak menyala/redup diakibatkan arus yang mengalir ke lampu terlalu kecil, karena nilai tahanan membesar. Nilai tahanan dapat membesar karena saklar kotor atau sambungan kabel berkarat/korosi.

 

Gangguan karena hubung singkat

Hubung singkat dapat terjadi apabila ada kabel penghantar yang berhubungan langsung dengan penghantar lain atau pada ground.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 25. Gangguan karena hubung singkat

Gambar 25.a  menunjukkan adanya hubung singkat diantara dua kabel penghantar. Lampu atas seharusnya tidak menyala, sedangkan lampu bawah menyala. Akibat adanya hubung singkat antara kabel lampu atas dan kabel lampu bawah, maka lampu atas ikut menyala.

Sedangkan gambar 25.b lampu pada rangkaian tidak menyala akibat adanya hubung singkat antara kabel dengan ground, sekering pada rangkaian dapat terputus karena arus yang mengalir terlalu besar.

Gangguan karena kerusakan komponen

Kerusakan pada komponen kelistrikan adalah penyebab utama rangkaian kelistrikan tidak dapat bekerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 26. Gangguan akibat kerusakan komponen

Gambar 26.a menerangkan lampu tidak menyala karena filamen lampu terputus.

Gambar 26.b menunjukan adanya kerusakan pada batere baik pada kotak batere ataupun korosi pada terminal–terminalnya dan ini menjadikan batere tidak dapat mensuplai kebutuhan energi pada rangkaian dan pada akhirnya rangkaian kelistrikan tidak dapat bekerja.

Peralatan untuk memeriksa gangguan pada rangkaian/ system kelistrikan.

Macam-macam peralatan yang dapat digunakan untuk memeriksa gangguan pada rangkaian kelistrikan seperti pada gambar dibawah. Peralatan ini biasa digunakan untuk memeriksa kontinuitas dari suatu rangkaian dan mengukur nilai tahanan, arus atau tegangan dari suatu rangkaian kelistrikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 27. Macam-macam peralatan pemeriksa rangkaian

 

Peralatan-peralatan yang biasa digunakan antara lain:

a)    Jumper wire

b)   Test lamp

c)    Self-Powered test light

d)   AVO Digital

e)    AVO Analog

f)     VOLT – AMP Tester

g)   Combination meter/Digital probe

 

Menggunakan Jumper wires untuk memeriksa kontinuitas rangkaian kelistrikan.

Sering kali rangkaian kelistrikan tidak dapat bekerja karena tidak adanya kontinuitas pada rangkaian tersebut, untuk memeriksa kontinutas dapat digunakan jumper wires seperti yang terlihat pada gambar 27.

Keselamatan kerja yang harus diperhatikan selama menggunakan jumper wires adalah:

Jangan pernah melakukan by-pass pada lampu, motor, coil atau beban kelistrikan lainnya. Karena hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada komponen lainnya.

Langkah pemeriksaan:

1). Pastikan saklar dalam posisi ON

2). Memby-pass rangkaian dari titik/bagian yang paling dekat dengan sumber

3).Jika dengan langkah ini rangkaian sudah bekerja, maka dapat dipastikan bahwa gangguan itu terjadi pada daerah yang kita periksa tadi (tidak ada kontinuitas pada posisi ini).

4). Jika pada langkah no.2 telah dikerjakan dan rangkaian tetap tidak bekerja maka, mulailah melakukan by-pass pada posisi selanjutnya. Begitu seterusnya sampai ditemukan dimana letak gangguannya.

Gambar 28. By-pass dengan Jumper wires

Menggunakan Tes lamp

Selain dengan jumper wires pemeriksaan kontinuitas dapat dilakukan dengan tes lamp, penggunaan tes lamp lebih menguntungkan dibandingkan jumper karena penggunaan tes lamp tidak menyebabkan terjadinya kerusakan pada komponen kelistrikan yang sedang diperiksa.

Gambar dibawah menunjukkan cara pemeriksaan kontinuitas pada rangkaian, jika tes lamp nyala berarti ada kontinuitas antara titik yang diperiksa dengan sumber arus/positip batere, sebaliknya jika tes lamp tidak nyala berarti tidak ada kontinuitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 29. Pemeriksaan kontinuitas dengan tes lamp

Langkah pemeriksaan :

1). Pastikan bahwa batere dalam kondisi baik

2). Pastikan saklar pada posisi ON

2). Hubungkan penjepit dari tes lamp dengan negatip batere/ground

3). Hubungkan colok tes lamp pada terminal sekring, jika lampu tes menyala berarti ada kontinuitas antara positip batere dengan kaki depan sekring jika lampu tidak nyala berarti jaringan kabel antara positip batere dengan kaki sekring terputus.

4). Lakukan pemeriksaan tahap berikutnya pada saklar, konektor seperti gambar 29. sampai menemukan tidak adanya kontinuitas dengan ditandai tes lamp tidak nyala.

c. Rangkuman kegiatan belajar

Tiga tipe gangguan yang sering terjadi pada rangkaian/system kelistrikan yaitu: Gangguan karena nilai tahanan naik, hubung singkat dan kerusakan komponen.

Ada beberapa alat yang dapat digunakan untuk memeriksa gangguan rangkaian diantaranya jumper wires, tes lamp, AVO digital ataupun analog. Pada saat pemeriksaan ganguan harus diperhatikan cara penggunaan alat yang digunakan sebab jika salah menggunakan alat dapat menyebabkan kerusakan pada komponen yang diperiksa.

d. Tugas kegiatan belajar

Buatlah tes lamp dari komponen-komponen yang mudah didapat

e. Test formatif kegiatan belajar

1)  Sebutkan prosedur menghindari kerusakan pada ECU

2)  Faktor apa saja yang menyebabkan nilai tahanan pada rangakaian kelistrikan bertambah.

3)  Jelaskan apa yang tidak boleh dilakukan saat pemeriksaan kontinuitas rangkaian menggunakan jumper wire.

4)  Bagamana cara menggunakan tes lamp untuk memeriksa kontinuitas rangkaian kelistrikan

5)  Jelaskan keuntungan menggunakan tes lamp disbanding jumper wire.

f. Kunci jawaban formatif kegiatan belajar

1)   Prosedur menghindari kerusakan ECU

a.     Jangan pernah melepas terminal baterei saat kunci kontak ON

b.     Jangan pernah memeriksa rangkaian ECU menggunakan alat yang tidak direkomendasikan oleh buku manual kendaraan

c.      Jangan pernah memberikan tegangan luar pada ECU

d.     Jangan pernah menjumper pada pin-pin  ECU

e.     Hindari ECU dari tegangan induksi

f.      Hindari ECU dari terkena air

g.     Jangan pernah melakukan pemeriksaan rangkaian ECU tanpa petunjuk buku manual.

2)  Faktor apa saja yang menyebabkan nilai tahanan pada rangakaian kelistrikan bertambah

a.    Gangguan karena nilai tahanan membesar

b.    Gangguan karena hubung singkat

c.    Gangguan karena kerusakan komponen

3)  Faktor penyebab nilai tahanan bertambah antara lain:

a)  Adanya rangkaian yang terbuka/terputus

b)  Timbulnya korosi/karatan pada sambungan

4)  Hal yang tidak diperbolehkan dalam pemerikaan kontinuitas dangan jumper wire adalah:

Membay-pass beban kelistrikan baik lampu,motor atau beban lain

5)  Cara menggunakan tes lamp untuk pemeriksaan kontinuitas rangkaian, adalah:

a)   Menghubungkan jepit tes lamp dengan negatip batere atau ground

b)   Menghubungkan colok tes lamp dengan titik pada rangkaian yang akan diperiksa.

5) Keuntungan menggunakan tes lamp dibandingkan jumper wire adalah: tes lamp tidak menyebabkan terjadinya kerusakan pada komponen rangkaian yang diperiksa.

g. Lembar kerja kegiatan belajar

Tujuan :

Setelah mencoba lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

1)  Menggunakan jumper wire

2)  Menggunakan tes lamp

3)  Menentukan letak gangguan dari hasil pemeriksaan.

4)  Menyimpulkan hasil pemeriksaan

Alat dan Bahan

4)  Trainer kelistrikan body standart

5)  Baterai 12V

6)  Jumper wire

7)  Tes lamp

Keselamatan Kerja

1)  Tidak diperkenankan Memby-pass batere karena dapat menyebakan kerusakan pada batere.

2)  Tidak diperkenankan memby-pass beban kelistrikan.

Langkah Kerja

4)  Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

5)  Lakukan pemeriksaan kontinuitas dengan jumper dan tes lamp.

Memeriksa kontinuitas dengan jumper:

1)  Rangkaikan kelistrikan body standart yang akan diperiksa

2)  By-pass dengan jumper pada bagian titik kabel yang terdekat dengan sumber arus.

3)  Perhatikan hasil pemeriksaan ada perubahan kerja atau tidak,

4)  Lanjutkan pemeriksaan pada titik–titik berikutnya.

Mengukur kontinuitas dengan tes lamp:

1)  Rangkaikan kelistrikan body standart yang akan diperiksa

2)  Hubungkan jepit tes lamp dengan negatip sumber arus.

3)  Hubungkan colok tes lamp pada titik yang terdekat dengan sumber arus positip.

4)  Perhatikan hasil pemeriksaan apakah lampu tes menyala atau tidak.

5)  Tarik kesimpulan dari hasil pemeriksaan

6)  Lanjutkan pemeriksaan pada titik berikutnya.

7)  Ambil kesimpulan akhir, tentukan letak gangguan rangkaian

8)Bersikah alat dan tempat kerja, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula

Tugas:

Analisisa data hasil pemeriksaan, buatlah laporan

 

     Kegiatan Belajar 3.   Mengganti Sekering dan Bohlam

 

 a. Tujuan kegiatan belajar

Setelah mempelajari modul ini, siswa dapat:

6)   Mengerjakan penggantian fuse/sekering

7)   Memeriksa kondisi fuse/sekering

8)   Memeriksa ukuran fuse/sekering

4) Mengerjakan penggantian bohlam lampu kepala dengan  benar

9)   Memeriksa kerja lampu kepala

10)Mengerjakan penggantian lampu belakang, lampu rem dan lampu mundur dengan benar.

11)Memeriksa kerja lampu belakang, lampu rem dan lampu mundur.

b. Uraian materi kegiatan belajar

 

1)   Mengganti Sekering yang putus

 

Sekering melindungi semua alat elektrik di dalam mobil: Pada saat aliran arus berlebih, sekering akan “putus” sedemikian sehingga arus listrik yang berlebih tidak mengalir pada peralatan. Karena arus yang berlebih itu dapat merusakkan peralatan atau menimbulkan percikan api. Dengan mengganti sekering yang putus  akan mengembalikan kerja peralatan seperti semula (sebagai contoh sekering klakson putus akibatnya klakson tidak bunyi, setelah sekering diganti klakson kembali bunyi). Jika sekering putus berulangkali, itu menandakan adanya suatu masalah dalam rangkaian dan ini memerlukan penanganan lebih serius.

Ada dua jenis sekering dilihat dari bentuknya yaitu type blade/pipih dan cartridge/tabung. Pada umumnya kendaraan sekarang banyak menggunakan type blade.

Gambar 30. Macam sekering

Langkah-langkah mengganti sekering

1. Matikan mesin

2. Mencari kotak sekering.

Kotak sekering  umumnya berbentuk segi empat yang diletakkan di bawah dashboard sebelah kanan.

Gambar 31. Kotak sekering

3. Amati tutup kotak sekering Pada tutup kotak sekering dilengkapi dengan denah lokasi masing-masing sekering dan kapasitas dari sekering.

Gambar 32. Denah letak sekering

4. Pada kotak sekering juga dilengkapi dengan catut pelepas dan sekering cadangan.

   Gambar 33. Catut sekering

5. Lepas sekering yang akan diganti dengan menariknya menggunakan catut sekering.

  Gambar 34. Melepas sekering

6. Jika tidak ditemukan catut gunakan tang lancip untuk melepas sekering.

Gambar 35. Melepas sekering dengan tang

7. Periksa kondisi sekering

Gambar 36. Sekering baik dan putus

8. Pastikan kapasitas sekering yang dipakai.

Gambar 37. Kapasitas sekering 15 A

9. Pasang sekering baru dengan kapasitas yang sama dengan sekering yang diganti.

Tekan pelan-pelan hingga sekering duduk dengan tepat pada slotnya.

Gambar 38. Memasang sekering

10. Pasang tutup sekering.

Keselamatan kerja:

1.    Jangan pernah mengganti sekering dengan ukuran amper yang lebih besar. Ini dapat merusakan peralatan yang seharusnya diamankan oleh sekering itu.

2.    Pada jenis tabung sekering mudah pecah, hati-hati saat melepas atau memasangnya, karena pecahan kacanya dapat melukai tangan.

2)   Mengganti bohlam lampu kepala

 

Lampu kepala berfungsi sebagai penerangan jalan saat kendaraan digunakan pada malam hari, jika lampu kepala mati maka kemungkinan penyebab utamanya dalah bohlam putus. Mengganti bohlam lampu kepala yang putus relatif gampang. Mobil-mobil sekarang pada umumnya menggunakan bohlam type halogen yang dapat dengan mudah dilepas dari bagian belakang lampu kepala. Tetapi masih ada juga yang menggunakan model sealed beam (khususnya pada mobil-mobil tua), pada lampu jenis ini penggantiannya harus satu set antara bola lampu dan kaca biasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                       Gambar 39. Bohlam halogen

Langkah-langkah mengganti bohlam lampu kepala:

1.  Pastikan bola lampu yang akan diganti

Gambar 40. Periksa lampu kepala

2.   Matikan saklar lampu kepala

Gambar 41. Saklar lampu kepala

3.   Lepas soket lampu kepala, dan buka karet pelindung serta lepas klip pengunci

Gambar 42. Melepas klip

4.    Keluarkan bohlam dari dudukanya dan siapkan bohlam baru.

 

Gambar 43. Mengeluarkan bohlam

5.   Pasang bohlam halogen Yang baru, pastikan tepat pada dudukannya.

6.    Pasang kembali klip pengikat pada tempatnya

7.    Pasang karet pelindung  pada dudukannya

8.    Pasang soket lampu kepala (pastikan menancap dengan kuat).                                Gambar   44.     Pasang bohlam baru

9.    Nyalakanlah  lampu kepala untuk mengujinya.

Keselamatan kerja:

1.    Jangan pernah menyentuh kaca pada bohlam halogen.

2.    Daya pada bohlam baru harus sama dengan bohlam lama.

3.    Saat pemasangan bohlam baru pastikan bohlam duduk dengan tepat pada tempatnya, persinggungan yang tidak tepat mengakibatkan getaran yang menimbulkan panas sehingga bohlam mudah putus.

 

 

3) Mengganti bohlam lampu belakang, lampu rem dan   mundur

Lampu yang dipasang pada mobil mempunyai fungsi yang penting bagi keselamatan berkendaraan di jalan raya. Jika ada salah satu lampu yang mati, maka segera harus diganti.

Gambar 45. Bohlam mati karena terbakar

a.     Langkah-Langkah:

1.    Tentukan bagian bohlam yang akan diganti: Pada beberapa type lampu belakang, cover lampu dibuka dari luar dengan melepas sekerup  pengikatnya.

2.    Lepaskan  sekerup pengikat.

Gambar 46. Melepas baut pengikat

3.    Lepas bohlam dengan cara menekan dan diputar.

Gambar 47. Melepas bohlam

4.    Periksa bohlam berapa ukuran daya yang dipakai.

5.    Bersihkanlah konektor dengan sikat kawat atau lap dari kotoran atau karatan.

Gambar 48.  Membersihkan konektor

6.    Ambil bohlam baru dengan ukuran sama dengan bohlam lama.

7.    Pasang bohlam baru dengan cara menekan masuk lalu diputar.

Gambar 49. Pasang bohlam

8.    Pasang cover lampu belakang.

9.    Uji kerja lampu dengan menginjak pedal rem dan memutar saklar lampu kota.

                                                                          Gambar 50. Menguji lampu belakang

 

 

Keselamatan kerja:

1.    Selalu gunakan ukuran bohlam yang sama dengan aslinya saat penggantian.

2.    Hati saat melepas atau memasang bohlam, tekanan yang terlalu kuat dapat memecahkan lampu.

 

c. Rangkuman kegiatan belajar

Sekering berfungsi untuk mengamankan jaringan dari kerusakan akibat, aliran arus yang berlebih. Sekering yang rusak/putus harus diganti agar peralatan kelistrikan yang ada pada rangkaian bekerja kembali. Sekering mempunyai ukuran kapasita arus yang berbeda, apabila ukuran arus pada sekering diganti lebih besar maka hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan kelistrikan yang ada.

Rangkaian sistem kelistrikan diantaranya adalah lampu kepala, lampu rem, lampu mundur, lampu kota. Apabila bohlam putus maka lampu tidak menyala, dengan mengganti bohlam baru maka rangkaian lampu akan menyala kembali.

Pasanglah bohlam baru dengan ukuran yang sama dengan aslinya agar tidak mengakibatkan gangguan pada rangakaian kelistrikan yang ada.

d. Tugas kegiatan belajar

Mencari contoh bohlam type sealed-beam dan bohlam halogen yang digunakan pada lampu kepala.

e. Test formatif kegiatan belajar

6)  Sebutkan ciri-ciri sekering putus?

7)  Faktor apa saja yang perlu diperhatikan saat mengganti sekering.

8)  Sebutkan ciri-ciri bohlam mati?.

9)  Jelaskan langkah perbaikan bohlam lampu rem.

10)     Apa yang harus diperhatikan saat memegang bohlam halogen.

f. Kunci jawaban formatif kegiatan belajar

6)  Ciri sekering putus, filamen kelihatan putus dan apabila dilakukan pemeriksaan kontinuitas diantara ke dua ujung sekering tidak ada kontinuitas.

7)  Faktor yang perlu diperhatikan saat mengganti sekering:

c)  Ukuran sekering harus sama dengan sekering yang asli

d)  Pemasangan harus benar pada tempatnya.

8)  Ciri-ciri bohlam mati:

a)   Filament putus,

b)   Dari warna kelihatan hitam habis terbakar

9)  Langkah perbaikan lampu rem:

a)   Pastikan terminal batere terlepas

b)   Pastikan posisi bohlam lampu rem yang akan diganti.

c)    Buka cover penutup bohlam.

d)   Lepas bohlam

e)   Periksa ukuran bohlam

f)    Bersihkan dudukan bohlam dari karat/kotoran

g)   Pasang bohlam baru

h)   Pasang kembali cover bohlam

i)     Pasang terminal batere

j)    Cek kerja lampu rem dengan menginjak pedal rem

5) Yang harus diperhatikan saat memegang bohlam halogen adalah tidak boleh memegang pada kacanya karena dapat menyebabkan cepat putus.

g. Lembar kerja kegiatan belajar

Tujuan :

Setelah mencoba lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

5)  Menentukan kondisi sekering baik atau rusak

6)  Menentukan ukuran sekering

7)  Mengganti sekering

8)  Menentukan ukuran bohlam

9)  Mengganti bohlam

 

Alat dan Bahan

8)  Mobil instruksi

9)  Test lamp

Keselamatan Kerja

3)  Lepas terminal batere sebelum pekerjaan penggantian dilakukan.

4)  Pastikan kunci kontak OFF saat melepas terminal batere.

5)  Hati-hati waktu melepas sekering atau bohlam, karena mudah pecah.

6)  Selalu gunakan ukuran yang sama saat penggantian sekering dan bohlam.

7)  Selalu dilakukan pemeriksaan kerja, saat selesai penggantian.

Langkah Kerja

6)  Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

7)  Lakukan Penggantian sekering

8)  Lakukan penggantian bohlam

Mengganti sekering:

5)  Pastikan kunci kontak off dan lepas terminal batere

6)  Lepas sekering dengan hati.

7)  Periksa ukuran sekering

8)  Pasang sekering baru dengan ukuran yang sama

9)  Pasang kembali terminal batere, cek kerja sekering dengan test lamp

Mengganti bohlam lampu rem:

8)  Pastikan letak bohlam yang akan ganti

9)  Lepas terminal batere

10)     Pada kendaraan yang dilengkapi dengan ECU posisi kunci kontak harus OFF saat terminal batere dilepas

11)     Lepas cover lampu rem

12)     Lepas bohlam lampu rem

13)     Periksa ukuran daya lampu rem

14)     Bersihkan dudukan bohlam dari kotoran ataupun karat

15)     Pasang bohlam baru dengan ukuran sama dengan yang diganti

16)     Pasang cover lampu rem

17)     Pasang terminal batere

18)     Periksa kerja lampu rem dengan menginjak pedal rem

Tugas:

Cari jenis-jenis sekering dan analisa kapasitas ampere yang dipakai untuk masing-masing komponen kelistrikan.

 

    Kegiatan Belajar 4.   Perbaikan Rangkaian Kabel

 

a. Tujuan Kegiatan Belajar

Setelah mempelajari modul ini siswa dapat:

6)   Menyebutkan macam kabel yang digunakan pada kendaraan

7)   Mengidentifikasi kode warna yang digunakan pada kabel

8)   Menentukan ukuran kabel yang digunakan

9)   Memperbaiki rangkaian kabel

 

b. Uraian materi kegiatan belajar

Kabel (Wires)

Kabel merupakan  konduktor digunakan sebagai media mengalirkan listrik. Terdapat beberapa tipe kabel, diataranya:

1)  Kabel yang terbungkus isolator tipe pejal dan tipe serabut. Kabel tipe serabut yang paling banyak digunakan pada kelistrikan otomotif.

2)  Kabel tanpa isolator, kabel jenis ini digunakan sebagai kabel bodi/ ground. Kabel ini menghubungkan antara blok mesin dengan bodi/ rangka kendaraan.

 

Gambar 51.  Macam kabel

Berdasarkan besar arus mengalir kabel dikelompokkan menjadi 2 yaitu :

1)   Kabel diameter kecil   yaitui kabel yang digunakan untuk beban lampu dan asesoris lainnya.

2)   Kabel diameter besar  yaitu kabel yang digunakan untuk kabel baterai.

Kode Warna Kabel

Guna mempermudah identifikasi maupun penelusuran bila terjadi kerusakan pada rangkaian kelistrikan maka isolator kabel dibuat warna.  Pada wiring diagrams warna kabel ditunjukkan dalam kode abjad, karena terbatasnya warna maka warna isolator kabel ada yang model diberi garis strip. Pengkode kabel model ini warna kabel yang dominan diletakan depan sedangkan strip diletakkan dibelakang. Contoh: kabel satu warna dengan kode  “B” berarti warna  kabel adalah hitam (black), sedangkan kode “B-W”  berarti warna kabel adalah hitam strip putih (white).

 

Tabel 1    Kode Warna Kabel

Warna

Kode

Warna

Kode

Black (hitam)

Brown (coklat)

Green (hijau)

Gray  (abu-abu)

Blue  (biru)

Light Blue

(hijau muda)

B

BR

G

GR

L

LG

Orange (oranye)

Pink(merah muda)

Red (merah)

Violet (ungu)

White (putih)

Yellow (kuning)

O

P

R

V

W

Y

Hubungan Antara Diameter dan Panjang Kabel dengan Tahanan Listrik

 

Tahanan listrik berbanding lurus dengan panjang kabel tetapi berbanding terbalik dengan diameter kabel. Ini berarti semakin panjang kabel listrik, semakin besar pula tahanannya, tetapi semakin besar diameter kabel listrik semakin kecil tahanannya. Berdasarkan pengertian diatas tahanan  suatu kabel listrik dapat dihitung dengan rumus berikut:

R   =  Tahanan listrik  ……………….   W

r   =  Tahanan jenis   ……………….   Wm

l    =  Panjang kabel   ……………….    m

A   =  Luas penampang kabel  ……..  m2

Tabel  2.   Tahanan jenis pada temperature 20 ºC

Bahan r    W/m Bahan r    W/m
Almunium

Besi

Emas

Perak

Platina

Tembaga

2,75 x 10-8

9,68 x 10-8

2,44 x 10-8

1,62 x 10-8

10,6 x 10-8

1,69 x 10-8

Tungsten

Mangan

Karbon

Germanium

Silikon

Kaca

5,25 x 10-8

48,2 x 10-8

3  x 10-5

5 x 10-1

0,1 -  60

10- 1012

 

 

Menentukan Ukuran Kabel

Dari rumus di atas dapat dilihat bahwa semakin panjang kabel   semakin besar tahanan listriknya, dan semakin kecil kabel tahanan semakin besar. Guna memudahkan pemakaian maka SAE ( Society  of Automotive  Engineer) mengeluarkan pedoman  AWG (American Wire Gauge) seperti table berikut ini:

Tabel 3.  Ukuran Kabel

Metric (mm2) SAE AWG (gage) Ohm per 1000 feet
0,5

0,8

1,0

2,0

3,0

5,0

8,0

13,0

19,0

32,0

40,0

50,0

62,0

20

18

16

14

12

10

8

6

4

2

1

0

00

10,0

6,9

4,7

2,8

1,8

1,1

0,7

0,4

0,3

0,2

0,14

0,11

0,09

 

Contoh:

Tentukan besar tahanan untuk kabel 14 gage, dengan  panjang 18 feet.

Dari table diatas dapat diketahui tahanan kabel 14 gage adalah 2,8 Ohm tiap 1000 feet atau 0,0028 ohm per feet, sehingga besar tahanan =  0,0028 x 18 = 0,05 Ohm.

Pemilihan kabel yang digunakan pada sistem kelistrikan tergantung dari besar arus yang akan mengalir atau beban. Semakin besar arus yang mengalir atau semakin besar beban semakin kesar ukuran kabel yang digunakan. Selain besar arus dan beban juga dipengaruhi jarak antara sumber dengan beban. Guna mempermudah pemilihan SAE mengeluarkan pedoman pemilihan kabel seperti table berikut ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.  Pedoman Pemilihan Ukuran Kabel (Wire Gage)

Arus Daya Panjang Kabel (feet)
Amp Watt 3 5 7 10 15 20 25 30
1 12 20 20 20 20 20 20 20 20
1,5 18 20 20 20 20 20 20 20 20
2 24 20 20 20 20 20 20 20 20
3 36 20 20 20 20 20 20 20 20
4 48 20 20 20 20 20 20 20 18
5 60 20 20 20 20 20 20 18 18
6 72 20 20 20 20 20 18 18 18
7 84 20 20 20 20 18 18 18 16
8 96 20 20 20 18 18 18 16 16
10 120 20 20 20 18 18 16 16 16
11 132 20 20 20 18 16 16 16 14
12 144 20 20 20 18 16 16 14 14
15 180 20 20 20 18 16 14 14 12
18 216 20 20 18 16 14 14 12 12
20 240 20 20 18 16 14 12 12 10
22 264 20 18 16 14 12 12 10 10

 

Contoh:

Tentukan ukuran kabel untuk lampu penerangan dengan daya 200 W,  bila jarak lampu sampai sumber listrik sejauh 18 feet. Tentukan pula penurunan tegangan akibat panjang kabel.

Besar arus yang mengalir adalah I = P/V  = 200 /12 = 16,6 A

Ukuran kabel untuk daya 200W dengan jarak 18 feet dari table diatas adalah 14 gage atau luas penampang 2,0 mm2 .

Dari table diatas dapat diketahui tahanan kabel 14 gage adalah 2,8 Ohm tiap 1000 feet atau 0,0028 ohm per feet, sehingga besar tahanan =  0,0028 x 18 = 0,05 Ohm.  Dengan demikian besar voltage drop sebesar  V = I x R  =  16,6 x 0,05 = 0, 83 Volt.

 

Hubungan Antara Temperatur dan Tahanan Listrik

Tahanan listrik pada konduktor akan berubah dengan adanya perubahan temperatur konduktor/kabel. Biasanya tahanan listrik akan naik bila temperatur naik. Hal tersebut dapat dipahami dengan cara berikut. Bila sebuah lampu yang dihubungkan denga baterai dengan sebuah kawat tembaga, kemudian kawat tersebut dipanaskan dengan api maka lampu tersebut semakin lama akan semakin redup.

                    

 

Gambar 52.  Beberapa FaKtor Yang Mempengaruhi Nilai Tahanan

Tahanan Sambungan

Tahanan sambungan adalah tahanan yang diakibatkan oleh sambungan yang kendor atau kotor. Bila arus listrik melewati sambungan yang kendor akan menyebabkan sambungan menjadi panas. Panas ini akan memperbesar tahanan dan mempercepat timbulnya  korosi. Tahanan sambungan dapat diperkecil dengan membersihkan sambungan dan mengeraskan sambungan.

Terminal baterai merupakan terminal yang paling sering kendor dan kotor akibat korosi yang disebabkan asam sulfar dari uap elektrolit baterai. Akibat terminal kendor dan kotor menyebabkan tahanan meningkat sehingga menyebabkan gangguan suplai listrik terutama saat mesin distarter, oleh karena itu terminal ini harus sering diperiksa dan dibersihkan

Gambar 53.  Membersihkan terminal baterai

Tahanan Isolator

Seperti telah dijelaskan bahwa karet, vynil, plastik dan porselin  dapat digunakan untuk menghalangi arus listrik antara konduktor. Sifat dari bahan-bahan ini disebut kemampuan tahanan isolator dan dinyatakan dengan nilai tahanan. Dalam kondisi tertentu isolator dapat berubah menjadi penghantar listrik/konduktor, misalnya karena retak, bocoran arus listrik yang akan menimbulkan percikan bunga api dan menimbulkan kotoran, menempelnya air atau kotoran lain pada isolator.

 

Gambar 54.  Kerusakan isolator kabel listrik

Wire Harness

Wire harness merupakan sekumpulan kabel yang digunakan pada rangkaian kelistrikan, dimana sekumpulan kabel tersebut dijadikan satu dengan isolator, agar kabel lebih rapih. Pada ujung wire harness dipasang konektor sehingga pemasangan sistem perkabelan lebih mudah.

 

Gambar 55.  Wire Harnes

 

Memperbaiki Kabel

1)  Potong kabel yang rusak, kemudian kupas kabel dengan tang pengupas dengan panjang 10 mm

Gambar 56. Mengupas kabel

2)  Ukur diameter kabel untuk menentukan ukuran kabel penyambung yang akan digunakan.

Gambar 57.  Mengukur diameter

3)  Buat kabel penyambung yang akan digunakan, masukkan heat shrink tube ke kabel penyambung.

Gambar 58. Memasukkan heat shrink

4)  Sambung kedua kabel dengan Crimp mark, kemudian solder sambungan

Gambar 59.  Menyolder sambungan

5)  Geser heat shrink tube ke kabel yang disambung, kemudian panasi heat shrink tube dengan heater.

Gambar 60.  Memanaskan heat shrink

 

 

c. Rangkuman kegiatan belajar

Kabel merupakan  konduktor digunakan sebagai media mengalirkan listrik. Terdapat beberapa tipe kabel diantaranya :

1)  Kabel berisolator,  contoh kabel yang umum digunakan

2)  Kabel tanpa isolator, contoh kabel massa

3)  Kabel kecil, contoh kabel yang digunakan secara umum

4)  Kabel besar , contoh kabel baterai

Pada wiring diagrams warna kabel ditunjukkan dalam kode abjad, karena terbatasnya warna maka warna isolator kabel ada yang model diberi garis strip. Pengkode kabel model ini warna kabel yang dominan diletakan depan sedangkan strip diletakkan dibelakang. Contoh: kabel satu warna dengan kode  “B” berarti warna  kabel adalah hitam (black), sedangkan kode “B-W”  berarti warna kabel adalah hitam strip putih (white).

Guna memudahkan menentukan ukuran kabel yang akan digunakan  SAE ( Society  of Automotive  Engineer) mengeluarkan pedoman  AWG (American Wire Gauge) yang berisi nomor gage,  ukuran kabel dan tahanan tiap 1000 feet. Selain itu juga ada pedoman yang memuat hubungan arus, panjang kabel dan nomor gage yang digunakan.

Tiap ujung kabel dipasang konektor, bentuk konektor ada bebarapa macam diantara bentuk bulat maupun bentuk kotak. Jumlah kabel dalam satu konektor sangat bervariasi mulai dari satu kabel sampai puluhan kabel.

d. Tugas kegiatan belajar

Cari wiring diagram salah satu tipe kendaraan:

1)  Identifikasi ukuran dan warna kabel yang digunakan

2)  Identifikasi jenis konektor yang digunakan

e.  Test formatif kegiatan belajar

1)  Sebutkan macam kabel yang digunakan pada kendaraaan

2)  Tentukan ukuran kabel untuk horn, bila diketahui daya horn  12V/ 36 W dirangkai paralel, jarak antara horn dengan sumber 3 m.

3)  Sebutkan bahan yang sering digunakan untuk isolator kabel

4)  Dimana titik-titik yang menjadi sumber gangguan pada kabel

5)  Apa yang dimaksud heat shrink tube?

6)  Bagaimana cara menyambung kabel yang putus?

f. Kunci jawaban formatif kegiatan belajar

1)  Macam kabel yang digunakan pada kendaraan yaitu dilihat dari serabutnya ada dua yaitu kabel serabut dan kabel pejal, dari  penggunaan isolator yaitu kabel tanpa isolator dan kabel dengan isolator, dilihat dari ukurannya maka ada kabel kecil dan kabel besar.

2)  Ukuran kabel untuk horn, bila diketahui daya horn  12V/ 36 W dirangkai paralel, jarak antara horn dengan sumber 3 m.

Panjang kabel  :  1 meter= 3,28 feet   untuk 3 m = 3 x 3,28 =    9,84 feet

beban   :   12 V/36 W dirangkai paralel  sehingga beban 12 V/36 W +12 V/36 W = 12V/72 W . Dari data tersebut diklarifikasi dengan tabel diperoleh ukuran kabel 20, yaitu kabel dengan luasan 0,5 mm2

3)  Bahan yang sering digunakan untuk isolator kabel antara lain karet, vynil, atau plastik.

4)  Titik-titik yang menjadi sumber gangguan pada kabel antara lain pada sambungan, ujung konektor, klem kabel pada bodi dan terminal kabel

5)  Heat shrink tube merupakan salah satu model isolator sambungan kabel dengan metode pemanasan untuk menyusutkan isolator sehingga isolator dapat mengikat dengan kuat sambungan yang diisolasi.

6)  Cara menyambung kabel yang putus adalah :

a)  Putus bagian kabel yang rusak dan kupas isolator pada ujung kabel kurang lebih 10 mm.

b)  Ukur diameter kabel untuk menentukan diameter kabel penyambung.

c)  Ukur panjang kabel yang dibutuhkan dengan diameter sama dengan kabel yang disambung.

d)  Masukkan dua heat shrink tube pada kabel penyambung.

e)  Sambung kabel yang putus, dan solder sambungan kabel.

f)   Geser heat shrink pada sambungan kabel yang telah disolder dan panasi heat shrink tube.

 

g. Lembar kerja kegiatan belajar

Tujuan :

Setelah mencoba lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

3)  Menyambungkabel yang putus

4)  Memasang terminal kabel

 

Alat dan Bahan

10)     Solder

11)     Tang pengupas kabel

12)     Kabel, tenol, terminal kabel, heat shring tube

Keselamatan Kerja

Hati-hati terhadap ujung solder saat panas, tempatkan iujung solder pada tempatnya, hindari ujung solder mengenai kabel listrik.

Jangan memegang ujung solder untuk memastikan solder berfungsi atau tidak.

Langkah Kerja

9)  Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

10)     Latihan menyambung kabel

a)  Potong dua buah kabel dengan panjang 100 mm, kupas isolator pada ujung kabel kurang lebih 10 mm.

b)  Masukkan heat shrink tube pada salah satu kabel.

c)  Sambung kabel, kemudian  solder sambungan kabel.

d)  Geser heat shrink pada sambungan kabel yang telah disolder.

e)  Panasi heat shrink tube.

Menyolder sambungan

Memanasi heat shrink

11)     Latihan memasang terminal

a)  Potong kabel dengan panjang 100 mm, kupas isolator pada ujung kabel kurang lebih 10 mm.

b)  Masukkan heat shrink tube pada kabel.

c)  Pasang kabel pada terminal kabel, cepit dengan tang penjepit terminal,   solder sambungan kabel.

d)  Geser heat shrink pada sambungan kabel yang telah disolder.

e)  Panasi heat shrink tube.

4) Bersikan alat dan tempat kerja, kembalikan ketempat semula.

 

Tugas

Apa dampak kualitas sambungan kabel yang buruk pada sistem kelistrikan.

    Kegiatan 5.   Memperbaiki Konektor Kabel

 

a. Tujuan Kegiatan Belajar

Setelah membaca modul ini siswa dapat:

1)  Menyebutkan macam wire conector

2)  Menjelaskan model penguncian wire conector

3)  Melepas dan memasang wire conector

4)  Memperbaiki wire conector yang rusak

b. Uraian Materi                                      

Konektor kabel (Wire conector)

Konektor berfungsi tempat penyambungan kabel pada sistem kelistrikan, melindungi sambungan dari karat dan kotoran, dan memungkinkan sambungan dipisah lagi dengan mudah.

Konektor terdiri dari konektor laki-laki dan konektor perempuan, rumah konektor terbuat dari plastic, dalam rumah tersebut terdapat lubang untuk memasukkan terminal kabel. Jumlah terminal pada konektor sangat beragam mulai dari satu terminal sampai puluhan terminal.  Agar penyambungan konektor lebih mudah dan tidak salah maka pada konektor terdapat nok sehingga bila posisi tidak tepat maka konektor  tidak dapat masuk, sedangkan untuk menjamin agar sambungan  lebih kuat maka dipasang pengunci.

Bentuk Konektor

Bentuk konektor ada bebarapa macam diantara bentuk bulat maupun bentuk kotak. Jumlah kabel dalam satu konektor sangat bervariasi mulai dari satu kabel sampai puluhan terminal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 41.  Konektor

Saat melepas konektor harus  memperhatikan teknik penguncian yang digunakan, dan saat menarik  konektor tidak boleh menarik kabelnya. Bagian yang ditarik adalah bagian konektornya. Teknik melepas penguncian terminal ada beberapa macam diantaranya:

1)  Mengangkat pengunci kemudian rumah konektor ditarik

2)  Menekan pengunci kemudian rumah konektor ditarik

3)  Langsung menarik rumah konektor

Lokasi pengunci :

1)  Di tengah

2)  Disamping

 

Gambar 62. Bentuk dan Teknik Penguncian Pada Konektor Kabel.

 

 

Gambar 63. Macam Bentuk Konektor dan Jumlah Terminalnya

 

Melepas dan memasang konektor kabel

Melepas konektor harus hati-hati,  cara melepas yang salah dapat meyebabkan kabel putus. Perhatikan metode penguncian yang digunakan oleh konektor, jangan menarik kabel saat melepas.

Langkah melepas konektor kabel adalah sebagai berikut

1)  Tekan pengunci badan soket konektor dan pisahkan badan konektor laki dan perempuan (Male dan Famale)

2)  Jika sulit terlepas, angkat anti-back comb dari badan konektor dengan menggunakan obeng, lihat gambar 64.

3)  Menggunakan obeng, masukkan obeng ke dalam bagian depan badan konektor, angkat pengunci penahan dari terminal dan tarik kabelnya dari konektor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 64.  Melepas Terminal dari Konektor

Langkah memasang

1)  Perhatikan posisi pengunci maupun posisi nok

2)  Masukkan terminal konektor sampai pengunci bunyi  klik.

3)  Pastikan konektor telah terkunci dengan baik dengan cara  menarik konektor tanpa menekan pengunci, konektor tidak boleh terlepas.

Memperbaiki Kerusakan Konektor Kabel

Terminal konektor maupun kabel pada sambungan terminal sering mengalami gangguan. Gangguan pada terminal adalah karat dan terbakar, sedangkan pada sambungan sering kabelnya putus, untuk mengatasi hal tersebut maka perlu perbaikan konektor kabel.

Langkah perbaikan adalah sebagai berikut:

1)  Keluarkan terminal konektor dari rumah konenektor dengan cara menekan pengunci menggunakan kawat atau obeng (-)  ukuran kecil.

 

 

Gambar  65 . Melepas Terminal Konektor

2)  Dorong terminal konektor keluar.

3)  Potong kabel yang rusak, dan kupas isolatornya kurang lebih 10 mm.

4)  Ukur diameter kabel untuk menentukan ukuran kabel penyambung yang akan digunakan.
5)  Buat kabel penyambung dengan ukuran kabel yang sama, kupas ujung kabel, pasang terminal konektor.

 

Gambar 66. Menyambung Kabel Yang Putus

6)  Potong kabel penyambung dengan panjang sesuai kabel yang dibutuhkan, kupas isolator pada ujung kabel, sambung kedua kabel dengan Crimp mark, kemudian solder sambungan

7)  Geser heat shrink tube ke kabel yang disambung, kemudian panasi heat shrink tube dengan heater.

8)   Ungkit pengunci pada terminal konektor, masukkan terminal konektor ke rumah konektor sampai bunyi klik, kemudian tarik kabel untuk menguci apakah terminal konektor sudah terpasang dengan baik.

 

 

Gambar 67.  Memasang Terminal Konektor

c. Rangkuman

Sepasang konektor kabel terdiri dari dua buah, yaitu konektor laki-laki dan konektor perempuan. Bentuk konektor ada berberapa macam diantaranya bentuk  bulat dan persegi. Jumlah terminal mulai dari satu buah sampai puluhan buah. Teknik penguncian dengan  menekan maupun mengungkit.

Membuka konektor harus memperhatikan metode penguncianya, jangan menarik konektor pada kabelnya karena dapat menyebabkan kabel putus.

d. Tugas

Cari buku pedoman perawatan salah satu kendaraan, rangkum bentuk konektornya dan teknik penguncian yang diaplikasikan.

e. Test Formatif

1)  Sebutkan macam bentuk wire conector

2)  Jelaskan metode melepas penguncian pada wire conector

3)  Jelaskan yang harus diperhatikan saat melepas dan memasang wire conector.

4)  Bagaimana cara mengatasi bila terdapat satu atau lebih terminal konektor yang rusak?

f. Kunci Jawaban Formatif

1)  Bentuk konektor kabel ada berberapa macam diantaranya bentuk  bulat dan persegi. Jumlah terminal mulai dari satu buah sampai puluhan buah

2)  Metode melepas penguncian terminal ada beberapa macam diantaranya:

a)  Mengangkat pengunci kemudian rumah konektor ditarik

b)  Menekan pengunci kemudian rumah konektor ditarik

c)  Langsung menarik rumah konektor

Lokasi pengunci : Di tengah konektor dan disamping rumah konektor

3)  Yang harus diperhatikan saat melepas adalah melepas penguncian, menarik rumah konektor kabel dan tidak boleh menarik kabel. Sedangkan saat memasang perhatikan bentuk, posisi nok dan posisi pengunci.

4)  Mengatasi terminal konektor yang rusak adalah dengan mengganti terminal baru, dengan cara mengeluarkan terminal konektor lama, memotong kabel terminal yang rusak, membuat sambungan kabel dengan terminal konektor, menyambung kabel dan memasang terminal konektor pada rumahnya sampai bunyi klik.

g. Lembar Kerja

Tujuan :

Setelah mencobah lembar kerja ini maka siswa harus dapat :

5)  Menyambung kabel yang putus

6)  Memasang terminal konektor

7)  Memperbaiki terminal kabel

Alat dan Bahan

13)     Solder

14)     Tang pengupas kabel

15)     Kabel, tenol, terminal kabel, heat shring tube

16)     Konektor kabel

Keselamatan Kerja

Hati-hati terhadap ujung solder saat panas, tempatkan iujung solder pada tempatnya, hindari ujung solder mengenai kabel listrik.

Jangan memegang ujung solder untuk memastikan solder berfungsi atau tidak.

Langkah Kerja

Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

1)  Keluarkan terminal konektor dari rumah konenektor dengan cara menekan pengunci menggunakan kawat atau obeng (-)  ukuran kecil dan dorong terminal konektor keluar.

2)  Potong kabel yang rusak, dan kupas isolatornya ± 10 mm.

3)  Buat kabel penyambung dengan ukuran kabel yang sama, kupas ujung kabel, pasang terminal konektor.

4)  Potong kabel penyambung dengan panjang sesuai kabel yang dibutuhkan, kupas isolator pada ujung kabel, sambung kedua kabel dengan Crimp mark, kemudian solder sambungan.

5)  Geser heat shrink tube ke kabel yang disambung, kemudian panasi heat shrink tube dengan heater.
6)  Ungkit pengunci pada terminal konektor, masukkan terminal konektor ke rumah konektor sampai bunyi klik, kemudian tarik kabel untuk memastikan apakah terminal konektor sudah terpasang dengan baik.

7)  Bersihkan tempat kerja, kembalikan alat yang digunakan ke tempat semula.

Tugas:

1)  Identifikasi jenis dan penyebab kerusakan pada konektor kabel.

2)  Buatlah laporan kerja.

BAB. III

EVALUASI

 

A. SOAL

 

 1. Soal Uji Kompetensi Pengetahuan (Waktu 120 menit)

11)            Sebutkan bunyi hukum Ohm dan tuliskan hukum Ohm tersebut!

12)            Sebuah bohlam 12 V/23 watt dirangkai seri dengan baterei 12 Volt.

a.    Hitunglah berapa besar arus listrik secara teoritis yang mengalir pada bohlam.

b.    Terangkan cara memasang ampere meter, untuk mengukur arus listrik yang mengalir ke bohlam.

c.    Berapa tahanan bohlam secara teoritis?

d.    Terangkan cara mengukur tegangan baterei dengan Volt meter.

13)    Jelaskan karakteristik rangkaian seri, parallel dan kombinasi

14)    Dua resistor dirangkai secara seri. Harga R1= 60 Ω dan R2 = 180Ω, tentukan  besar arus  listrik yang mengalir dan besar tegangan pada masing masing resistor bila tegangan sumber sebesar 12V

15)    Sebutkan tiga hal yang sering menjadi gangguan pada rangkaian/system kelistrikan?

16)    Sebutkan macam sekring yang biasa digunakan pada mobil

17)    Terangkan ciri-ciri bohlam putus

18)    Jelaskan titik-titik yang sering menjadi sumber gangguan pada rangkaian kabel

19)    Tentukan ukuran kabel untuk klakson, bila diketahui daya klakson  12V/60 W dirangkai paralel, jarak antara klakson dengan sumber 3 m.

20)    Sebutkan macam bentuk konektor kabel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Soal Uji Kompetensi Keterampilan

 

Demonstrasikan dihadapan guru/instruktur kompetensi saudara dalam waktu yang telah ditentukan

No Kompetensi Waktu
1 Mengukur arus, tahanan  dan tegangan pada rangkaian yang disediakan. 10 menit
2 Membuat rangkaian kombinasi 3 resistor 10 menit
3 Memeriksa kontinuitas pada rangkaian yang disediakan 10 menit
4 Mengganti sekering pada rangkaian klakson 10 menit
5 Mengganti bohlam Halogen pada rangkaian lampu kepala 10 menit
6 Membuat sambungan kabel 10 menit
7 Mengganti konektor kabel 10 menit
Total 70 menit

B. KUNCI JAWABAN

10)  Hukum Ohm mengatakan: besar arus yang mengalir berbanding lurus dengan besar tegangan dan berbanding terbalik dengan besar tahanan.   V = I x R

11)  Sebuah bohlam 12 V/23 Watt dirangkai seri dengan baterei 12 Volt.

a)    Besar arus listrik adalah I=P/V = 23/12 =1,92 Ampere

b)    Ampere meter dipasang seri terhadap beban

c)    Tahanan bohlam secara teoritis adalah  R= V/I = 12 / 1,92      = 6,25 Ohm

d)    Mengukur tegangan baterei dengan volt meter atau multi meter

§  Atur selector pada DC Volt skala 50

§  Kalibrasi alat ukur

§  Hubungkan colok positip/merah ke positi baterei

§  Hubungkan colok negatip/hitam ke negatip baterei

§  Baca hasil pengukuran dengan teliti

3)     Rangkaian seri mempunyai karakteristik

a)  Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan semua tahanan

( Rt = R1 + R2)

b)   Arus yang mengalir  pada rangkaian sama besar

(It = I1 = I2)

c)  Tegangan total (Vt)  merupakan penjumlahan tegangan

(Vt = V1 +V2)

Karakteristik rangkaian parallel:

a)  Tegangan pada rangkaian sama ,     V =  V1  =  V2

b)  Besar arus yang mengalir tergantung bebannya.

c)  Besar arus mengalir merupakan total arus yang mengalir setiap percabangannya       I  =   I1  + I

d)  Besar tahanan total  (Rt) atau tahanan pengganti adalah:

R1  x R2

Rt  =

R1 + R2

   Karakteristik rangkaian Seri Paralel atau kombinasi

a)  Tahanan total (Rt)  merupakan penjumlahan tahanan dengan tahanan pengganti.

Rt  =   R1  + Rp

b)  Tegangan total  pada rangkaian merupakan penjumlahan tegangan pada tahanan dan tahanan pengganti.            (V  =   V1   +  VRp)

c)  Besar arus pada rangkaian adalah tegangan dibagi tahanan total  (I = V/ Rt )

4)     Besar arus yang mengalir  I =  V/Rt  = 12 / (60+180) = 0,05 A = 50 mA Tegangan pada  R1 yaitu  V1 = R1 x I  = 60 x 50 = 3000 mV =  3 V .Tegangan pada R2 yaitu   V2 = R2 x I  = 180 x 50 = 9000 mV = 9 V.

5)     Tiga hal yang sering menyebabkan gangguan pada rangkaian/system kelistrikan adalah:

a). Nilai tahanan dalam rangkaian membesar

b). Terjadinya hubung singkat

c). Kerusakan pada komponen kelistrikan.

6)     Sekering yang biasa digunakan pada mobil:

a)  Sekering type blade

b)  Sekering type cartridge

7)     Ciri-ciri bohlam putus.

a)  Jika diperiksa secara visual, maka pada vilamennya kelihatan terputus

b)  Jika dilakukan tes kontinuitas antara kutup positip dan negatip tidak ada.

8)     Titik-titik yang menjadi gangguan pada rangkaian kabel antara lain pada sambungan, ujung konektor, klem kabel pada bodi dan terminal kabel.

9)     Ukuran kabel untuk klakson, bila diketahui daya klakson  12V/ 36 W dirangkai paralel, jarak antara klakson dengan sumber 3 m. Panjang kabel  :  1 meter= 3,28 feet   untuk 3 m = 3 x 3,28 =    9,84 feet. Beban  klakson adalah   12 V/ 60 W dirangkai paralel  sehingga beban 12 V/ 60 W +12 V/ 60 W = 12V/ 120 W . Dari data tersebut diklarifikasi dengan tabel diperoleh ukuran kabel SAE 18, yaitu kabel dengan luasan 0,8 mm2

10)  Macam bentuk konektor kabel :

a)  Bentuk bulat

b)  Bentuk persegi


C. KISI-KISI SOAL PENGETAHUAN

 

NO

SUB KOMP.

INDIKATOR

SOAL

SKOR MAKS

SKOR PEROLEHAN

1

Dasar listrik

Dapat menjelaskan hukum Ohm Sebutkan bunyi hukum Ohm dan tuliskan hukum Ohm tersebut

0,5

2 Dapat mengukur dan menghitung secara teoritis besar Arus, Tahanan dan Tegangan Sebuah bohlam 12 V/23 watt dirangkai seri dengan baterei 12 Volt

a.Hitunglah berapa besar arus listrik secara teoritis yang mengalir pada bohlam

b. Terangkan cara memasang ampere meter, untuk mengukur arus listrik yang mengalir ke bohlam

c. Berapa tahanan bohlam secara teoritis?

d. Terangkan cara mengukur tegangan baterei dengan Volt meter

2

3 Dapat menjelaskan karakteristik rangkaian seri, parallel dan gubungan Jelaskan karakteristik rangkaian seri, parallel dan kombinasi

1

4 Dapat menghitung besar Arus dan tegangan pada rangkaian Dua resistor dirangkai secara seri. Harga R1= 60 Ω dan R2 = 180Ω, tentukan  besar arus  listrik yang mengalir dan besar tegangan pada masing masing resistor bila tegangan sumber sebesar 12V

1,5

5 Prosedur menghindari kerusakan ECU dan memeriksa gangguan pada rangkaian Dapat menyebutkan hal-hal yang sering menyebabkan gangguan pada ranagkaian Sebutkan tiga hal yang sering menjadi gangguan pada rangkaian/system kelistrikan

0,5

6 Mengganti sekering dan bohlam Dapat menyebutkan macam sekering Sebutkan macam sekring yang biasa digunakan pada mobil

0,5

7 Dapat menerangkan ciri bohlam putus Terangkan ciri-ciri bohlam putus

0,5

8 Rangkaian kabel Dapat menjelaskan titik-titik yang sering terjadi gangguan pada rangkaian kabel Jelaskan titik-titik yang sering menjadi sumber gangguan pada rangkaian kabel

1

9 Dapat menentukan ukuran kabel sesuai penggunaan Tentukan ukuran kabel untuk horn, bila diketahui daya horn  12V/60 Watt dirangkai paralel, jarak antara klakson dengan sumber 3 m.

2

10 Konektor Dapat menyebutkan bentuk konektor Sebutkan macam bentuk konektor kabell

0,5

 

 

Kisi-Kisi Penilaian Sikap

 

 

No

Komponen yang dinilai

Skor Maks

Skor Perolehan

1

Kelengkapan pakaian kerja

1

2

Penataan alat dan kelengkapan yang memperhatikan pekerja dan alat

2

3

Menggunakan alat sesuai fungsinya

6

4

Membersihkan alat dan tempat kerja

1

Nilai akhir

Kisi-Kisi Penilaian Keterampilan

 

 

No

Sub Kompetensi

Komponen yang dinilai

Skor Maks

Skor Perolehan

1

Dasar Listrik Mengukur arus, tahanan dan tegangan

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Mengkalibrasi alat ukur

§ Membaca hasil pengukuran

1,5

2

Dasar Listrik Membuat rangkaian kombinasi

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Rangkaian benar dan bekerja

1

3

Memeriksa kerusakan ringan pada rangkaian Memeriksa kontinuitas rangkaian

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Pemeriksaan dilakukan sesuai SOP

§ Menyimpulkan hasil pemeriksaan

1,5

4

Mengganti sekering dan bohlam Mengganti sekering

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Memeriksa kondisi sekering

§ Menentukan kapasitas sekering

§ Penggantian sekering sesuai SOP

1,5

5

Mengganti sekering dan bohlam Mengganti Bohlam

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Memeriksa kondisi Bohlam

§ Menentukan ukuran Bohlam

§ Penggantian Bohlam sesuai SOP

1,5

6

Rangkaian kabel Membuat sambungan kabel

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Memilih ukuran kabel

§ Menyolder kabel

1,5

7

Konektor Mengganti konektor

§ Menggunakan peralatan sesuai SOP

§ Memilih konektor

§ Memasang pin kabel

1,5

 

C. KRITERIA KELULUSAN

 

 

Aspek

Skor Perolehan

Bobot

Nilai

Keterangan

Sikap

2

Syarat kelulusan nilai minimal 7, dengan skor setiap aspek minimal 7

Pengetahuan

2

Keterampilan

6

Nilai Akhir

BAB. IV

PENUTUP

 

Kompetensi perbaikan ringan pada rangkaian/system kelistrikan  dengan kode OPKR 50-002B terdiri dari 6 sub kompetensi dengan durasi 60 jam pelajaran @ 45 menit. Sub kompetensi tersebut, yaitu :

1)   Merangkai hubungan seri, parallel dan gabungan .

2)  Mengukur tegangan, tahanan dan arus

3)  Pemeriksaan kerusakan ringan pada rangkaian/system kelistrikan dan prosedur menghindari kerusakan ECU

4)  Mengganti sekering dan bohlam

5)  Perbaikan rangkaian kabel

6)  Perbaikan konektor

Kompetensi ini merupakan kompetensi dasar guna mempelajari sistem kelistrikan sehingga  harus dikuasai dengan baik.

Setelah siswa merasa menguasai sub kompetensi yang ada, siswa dapat melaksanakan uji kompetensi, uji kompetensi dilakukan secara teroritis dan praktik.  Uji teoritis dengan cara siswa menjawab pertanyaan  soal evaluasi, sedangkan uji praktik dengan mendemontrasikan kompetensi yang dimiliki pada guru/instruktur. Guru/instruktur akan menilai berdasarkan lembar observasi yang ada, dari sini kompetensi siswa dapat diketahui.

Bagi siswa yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke modul berikutnya, namun bila syarat minimal kelulusan belum tercapai maka harus mengulang modul ini, atau bagian yang tidak lulus dan karena tidak diperkenankan mengambil modul berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Sullivan`s Kalvin R. (2004),  Diagnosis & Testing,  WWW. Autoshop 101. com

Sullivan`s Kalvin R. (2004),  Electric Circuit,  WWW. Autoshop 101. com

Sullivan`s Kalvin R. (2004),  Wire and Conectors,  WWW. Autoshop 101. com

Sullivan`s Kalvin R. (2004),  Electric Fundamentals,  WWW. Autoshop 101. com

Sullivan`s Kalvin R. (2004),  Wiring  Diagrams,  WWW. Autoshop 101. com

an.Replacing fuse blown,  WWW. ehow. com

an.How to replace a car headlight,  WWW. ehow. com

an.How to replace a tail, brake or reverse light,  WWW. ehow. Com

an.Halogen head light,  WWW.autolamp.Com

Toyota Astra Motor (t.th). Materi engine group step 2,  Jakarta , Toyota Astra Motor

TEAM (1995), New Step 1 Training Manual, Jakarta, Toyota Astra Motor

TEAM (1996), Electrical Group Step 2, Jakarta, Toyota Astra Motor

Pemeriksaan Sistem Suspensi

BAB  II

PEMELAJARAN

 

A. Rencana Belajar Peserta Diklat

Rencana setiap kegiatan belajar anda, dengan mengikuti tabel di bawah ini dan mintalah  bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf  Guru

1.    Mempelajari konstruksi dan cara kerja system suspensi

2.   Memeriksa sistem/komponen  suspensi dan menentukan kondisinya.

B.  Kegiatan  Belajar

  1. Menjelaskan konstruksi dan cara kerja system suspensi

Tujuan kegiatan belajar :

Menjelaskan  konstruksi system suspensi

Menjelaskan cara kerja system suspensi

  1. Memeriksa system/ komponen system suspensi

Memeriksa sistem / komponen suspensi dan menentukan kondisinya.

  1. Tujuan kegiatan belajar

a.   Peserta diklat mampu melaksanakan pemeriksaan system suspensi

b.    Peserta diklat mampu melaksanakan pemeriksaan system suspensi sesuai dengan SOP

  1. Uraian materi

Kenyamanan berkendaraan merupakan faktor utama yang harus diperhatikan oleh pengendara maupun penumpang. Namun demikian, kendaraan akan selalu mengalami getaran atau goncangan yang disebabkan oleh mesin itu sendiri atau karena kondisi jalan yang tidak rata. Untuk mengurangi getaran dan goncangan tersebut setiap kendaraan perlu dilengkapi dengan sistem suspensi.

Apabila salah satu komponen system suspensi mengalami gangguan, maka akan terjadi hal yang tidak diharapkan. Sehingga kenyamanan pengendaraan tidak akan dapat dicapai.

Gambar 1. Penggunaan sistem suspensi

Pada umumnya system suspensi kendaraan dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu suspensi independent dan suspensi rigid

Konstruksi dan kerja jenis ini roda sebelah kanan dan roda sebelah kiri dipasangkan secara terpisah, sehingga kedua roda dapat bekerja sendiri bila menerima kejutan dari permukaan jalan

Ada dua macam konstruksi suspensi independent depan yaitu suspensi wishbone dan suspensi mac pherson :

1). Suspensi wishbone pegas coil

Suspensi jenis ini menggunakan pegas koil yang dipasangkan diantara lengan bawah (lower arm) dan lengan atas (upper arm)

   Bodi (frame)

Lengan atas

Penahan benturan

Sambungan peluru bawah

Gambar 2 :  Suspensi wishbone dengan pegas koil

Suspensi ini mempunyai sifat :

a)    Dengan desain yang kompak dari pegas hasil , sangat cocok digunakan untuk system suspensi roda depan.

b)    Kedua ujung luar lengan atas dan lengan bawah yang dipasangkan pada knuckle kemudi menggunakan sambungan peluru, sehingga memungkinkan arm dapat bergerak ke atas dank ke bawah mengikuti gerakan roda.

c)   Knuckle kemudi dan spindle yang terpasang dibagian ujung lengan atas dan bawah dipasang menggunakan sambungan peluru, sehingga memungkinkan knucklekemudi dapat diarahkan.

Kerjanya bila roda-roda depan menerima kejutan dari permukaan jalan maka pegas koil menerima gaya dari lower arm sehingga mengakibatkan pegas mengalami pemendekan dan pemanjangan sesuai dengan kemampuan pemegasan (konstanta pemegasan)

2).  Suspensi wishbone pegas torsi

Suspensi wishbone menggunakan pegas batang torsi yang dipasangkan diantara lengan bawah (lower arm ) dan kerangka kendaraan.

    Peredam getaran

Pegas torsi

       stabiliser

Suspensi ini mempunyai sifat :

a).  Pegas batang torsi (torsion bar) digunakan pada kendaraan yang tidak menggunakan pegas koil ataupun pegas atau pegas daun pada suspensi depan

b)   Pegas batang torsi (torsion bar) pada ujung belakangnya dipasang pada kerangka kendaraan , sedangkan ujung depannya dipasangkan pada lengan bawah (lower arm) dan kedua tempat pemasangannya dibuat mati.

c).  Pegas batang torsi (torsion bar) bekerja secara puntiran karena batang torsi dibuat dari baja yang mempunyai elastisitas tinggi

Kerjanya : bila roda-roda depan menerima kejutan dari permukaan jalan dan diteruskan ke lower arm maupun upper arm melalui knuckle kemudi. Gaya yang diterima lower arm ditahan dengan kemampuan puntiran pegas torsi yang dipasangkan antara lower arm dengan kerangka (frame). Untuk memperhalus proses pemegasan (puntiran) pegas torsi maka peredam getaran dipasangkan untuk memperhalus proses pemegasan yang dipasangkan antara lower arm dengan frame kendaraan

3).     Suspensi Mac pherson

Suspensi ini pegas koil dipasangkan menjadi satu kesatuan dengan shock absorber menggunakan lengan bawah ( lower arm ) sebagai dudukan komponennya

Ada dua macam konstruksi suspensi mac pherson yaitu dengan lengan “melintang” dan lengan “L”

a).  Suspensi mac pherson lengan “melintang”

Suspensi jenis ini mempunyai lengan bawah (lower arm) berbentuk lurus , salah satu ujung lengan bawah dipasang knuckle kemudi dengan sambungan peluru sedangkan ujung yang lain dipasangkan pada kerangka kendaraan.

Lengan melintang dan kelengkapannya berfungsi meneruskan beban kendaraan keroda dan mengontrol gerakan samping, lengan ini bersama-sama batang penahan (strut bar ) berfungsi mencegah perubahan jejak roda-roda depan

Bantalan atas

Penutup debu

Bodi ( frame)

Batang piston

Gambar 4 : Suspensi mac pherson dengan lengan melintang

Kerjanya : bila roda-roda depan menerima kejutan dari permukaan jalan akan diteruskan ke lower arm melintang sehingga mengakinatkan terjadinya pemendekan dan pemanjangan pegas koil yang dipasangkan antara peredam getaran dengan kerangka ( frame ). Untuk memperhalus proses pemegasan agar tidak terjadi oksilasi yang berlebihan maka peredam kejut dipasangkan bersama pegas koil antara lower arm dengan rangka ( frame)

b)   Suspensi mac pherson lengan “L”

Penopang atas

Dudukan pegas

Suspensi jenis ini mempunyai lengan bawah ( lower arm ) berbentuk “L” yang digunakan pada roda sebagai penggerak ( front wheel drive) dengan engine di depan ( front engine)

Peredam getaran

Lengan bawah

Gambar 5 : Suspensi mac pherson dengan lengan “L”

Lengan bawah “ L “ mempunyai dua tempat pemasangan pada kerangka yang masing-masing dipasangkan menggunakan bushing karet, dengan dua tempat pemasangan terpisah yang berfungsi untuk mencegah gerakan dari arah samping dan gerakan aksial roda. Oleh karena itu suspensi jenis ini tidak memerlukan lagi batang penahan (sturt bar)

Kerjanya : bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan maka akan diteruskan ke lower arm “L” mengakibatkan terjadinya pemendekan dan pemanjangan pada pegas koil yang dipasangkan antara peredam getaran dengan rangka (frame) kendaraan.

Untuk memperhalus proses pemegasan agar tidak terjadi oksilasi yang berlebihan peredam getaran dipasangkan bersaman pegas koil antara lower arm “L” dengan rangka (frame) kendaraan .

b.  Konstruksi jenis suspensi independen belakang.

Suspensi jenis ini roda sebelah kanan dan roda sebelah kiri dipasangkan secara terpisah, sehingga roda dapat bekerja sendiri bila menerima kejutan dari permukaan jalan.

Ada dua macam konstruksi suspensi independent belakang yaitu : Suspensi mac pherson penggerak roda depan dan suspensi mac pherson penggerak roda belakang.

1)  Suspensi mac pherson penggerak roda depan.

Suspensi jenis ini dilengkapi lengan bawah ( lower arm) dan lengan penopang (strut bar)

Lengan bawah

Stabilisator

         Strut bar

Tromol rem

Gambar 6 :  Suspensi mac pherson bagian belakang

Suspensi ini mempunyai sifat :

a)   Pemasangan ujung lengan bawah (lower arm) dengan

rangka silang kendaraan menggunakan bhusing karet

sedangkan ujung yang lainnya dipasangkan pada knuckle kemudi.

b)   Batang penopang (strut bar) dipasangkan antara kerangka dengan lengan control bawah yang berfungsi untuk mengurangi terjadinya gaya lateral yang berlebihan.

Kerjanya : bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan akan diteruskan ke lower arm yang mengakibatkan terjadinya pemendekan dan pemanjangan pegas koil yang dipasang antara peredam getaran dengan rangka (frame) kendaraan.

Untuk memperhalus proses pemegasan agar tidak terjadi oksilasi yang berlebihan peredam getaran dipasangkan bersama pegas antara lower arm dengan rangka (frame ) kendaraan.

2)   Suspensi kombinasi mac pherson dan batang torsi

Suspensi jenis ini menggunakan poros kaku ( rigid) berbentuk “ U “ yang didalamnya dipasangkan batang tiorsi akan bekerja secara puntiran saat terjadi gerakan    roda.

Batang lateral

Penguat poros

Gambar 7: Suspensi mac pherson dengan batang torsi

Suspensi ini mempunyai sifat :

a) Poros semi rigid bersama batang pegas torsi bekerja secara aktif sebagai suspensi

b) Pegas koil berfungsi menyempurnakan momen suspensi agar dapat mengurangi roling body, hingga menghasilkan pengemudian yang stabil

c) Gerakan puntiran dari ujung lengan-lengan suspensi diteruskan kedalam gerakan puntiran aksel belakang. Puntiran ini sangat menghasilkan gaya reaksi yang berlawanan dengan lengan-lengan suspensi

Kerjanya : bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan akan diteruskan ke rumah poros, lengan suspensi sehingga mengakibatkan bagian ini bersama pegas koil berayun terhadap rangka (frame) kendaraan.

Untuk memperhalus proses pemegasan dan ayunan (oksilasi) yang berlebihan pegas koil bersama dengan peredam getaran dipasang antara rumah poros roda belakang dengan rangka (frame) kendaraan

3)   Suspensi mac pherson penggerak roda belakang.

Suspensi jenis ini dilengkapi dengan lengan control bawah ( lower arm) dan  lengan control atas  (upper arm) hingga dapat berayun secara bebas bila roda menerima kejutan dari permukaan jalan. Suspensi ini juga disebut aksel berayam

    Penopang

Pegas atas

Deferensial

Peredam

getaran

Lengan

atas

     Rangka silang

Lengan

Bawah

Gambar 8 : Poros berayun pada bagian belakang

Suspensi ini mempunyai sifat :

a)    Poros ( aksel ) roda dibuat terpisah, hingga poros dapat barayun bebas , pertemuan kedua bagian poros bekerja sebagai tumpuan.

b)    Differensial ditempatkan pada bagian rangka silang body kendaraan. Berat body kendaraan dan komponen yang lain ditopang oleh pegas suspensi

c)    Ujung bawah mac pherson dipasang pada lengan kontrrol atas dan bawah juga lengan jejak.

d)    Ujung lengan jejak, lengan control atas dan control bawah yang lain dipasangkan pada kerangka body kendaraan

Kerjanya : bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan akan diteruskan ke lower arm dan upper arm sehinga pegas koil mac pherson mengalami memendekan dan pemanjangan .

Untuk memperhalus proses pemegasan pegas koil dan ayunan  (oksilasi) yang berlebihan pegas koil bersama dengan kejut dipasang antara lower arm dengan rangka (frame)

a.    Konstruksi jenis suspensi rigid

1). Jenis suspensi rigit roda depan

Suspensi jenis ini biasanya dipasangkan pada poros rigit ( kaku) yang terbuat dari baja tempa pejal berbentuk I   Roda sebelah kanan dan kiri dipasangkan pada ujung poros tunggal. Pada bagian tengah poros berfungsi menahan beban kendaraan,sedangkan pada ujung poros berfungsi menahan momen punter karena gaya pengereman

Bagian ujung poros ini juga dipasangkan knuckle kemudi dengan menggunakan poros kingpin . Ada empat jenis knuckle kemudi yang dipasangkan pada suspensi rigid roda depan yaitu :

a)   Jenis reverse eliot

Jenis ini ujung poros sangat sederhana konstruksinya dan mudah untuk pemasangan komponen rem

Gambar 10 : Jenis Reverse Eliot

b).  Jenis eliot

Jenis ini ujung porosnya dibuat sangat komplek , knuckle kemudi dipasangkan ditengah ujung poros dengan menggunakan poros kingpin

Gambar 11: Jenis Eliot

c).  Jenis Lemoine :

Jenis tidak memerlukan poros kingpin, karena knuckle kemudi dipasangkan pada ujung poros bagian atas sehingga poros menjadi tambah tinggi

e)    Jenis marmon

Jenis ini juga tidak memerlukan poros kingpin kare knuckle kemudi dipasangkan pada bagian bawah ujung poros sehingga daya kekuatannya agak berkurang bila dibandingkan dengan jenis yang lain.

Gambar 13: Jenis Marmon

Kerjanya : bila roda-roda depan menerima kejutan dari permukaan jalan akan diteruskan keporos depan rigit yang berbentuk “ I  “ hingga mengakibatkan pegas daun terjadi pemanjangan atau pegas berubah bentuk dari elip mendekati lurus ( pemegasan pegas daun)

Untuk memperhalus proses pemegasan pegas daun / ayunan pegas daun yang berlebihan maka dipasangkan peredam getaran antara poros depan dengan rangka (frame).

2).  Jenis suspensi rigit roda belakang

Suspensi jenis ini biasanya roda-roda dipasangkan pada satu poros. Ada dua jenis pegas yang digunakan pada jenis ini yaitu

a).     Pegas daun

Pada umumnya pegas daun dipasangkan secara parallel antara rangka dengan poros belakang, sehingga tenaga yang dihasilkan oleh motor dipindahkan ke roda-roda melalui poros yang berputar dalam rumah.

Sedangkan beban kendaraan yang didukung oleh rangka mobil diteruskan ke rumah poros melalui pegas daun

Kerjanya : bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan maka diteruskan kerumah poros belakang yang mengakibatkan pegas daun terjadi pemanjangan atau pegas berubah bentuk dari elip mendekati lurus ( pemegasan pegas daun) yang konstruksinya dilengkapi dengan ayunan pegas

Untuk memperhalus proses pemegasan pegas daun yang berlebihan maka suspensi ini dilengkapi peredan getaran yang dipasangkan antara penopang pegas daun dengan (frame)

Ayunan

Pegas

Gambar 15: Suspensi pegas daun

b).        Pegas koil

Poros kaku dengan pegas koil untuk mengadakan pemegasan dan menahan beban tegak lurus, tetapi tidak dapat menahan gaya samping atau tekanan samping.

Apabila pegas koil digunakan pada suspensi belakang, harus dilengkapi komponen yang lain seperti : laterar rod dan stabilisator.

Kerjanya : bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan akan diteruskan kerumah poros roda belakang yang mengakibatkan pegas koil mengalami pemendekan dan pemanjangan ( konstanta pegas) untuk mengurangi ayunan pegas (oksilasi) yang berlebihan pada suspensi ini dilangkapi peredam getaran yang dipasangkan antara rumah poros dengan kerangka (frame) kendaraan.

Pegas koil

Rumah poros

belakang

Lengan kontrol atas

Batang

kontrol

Gambar 16: Suspensi pegas koil

Ini uraian materi kegiatan belajar 2:

Fungsi dan prosedur pemeriksaan, pengujian dan menentuan komponen system suspensi :

1.    Upper arm dan lower arm

Komponen ini berfungsi untuk menyangga pegas coil, pemasangan knuckle kemudi dan memelihara letak geometris body dan roda-roda.

Pemeriksaan :  Dalam keadaan terlepas lower arm dan upper arm, dengan cara disemprot menggunakan penetrant warna untuk menyakinkan bahwa komponen ini masih dalam keadaan baik atau retak.

2.    knuckle kemudi

Komponen ini berfungsi untuk pemasangan roda-roda depan / sumbu roda, sehingga memungkinkan kendaraan membelok kekanan dan kekiri.

Pemeriksaan  : Dalam keadaan terlepas dan bersih knuckle kemudi disemprotkan menggunakan penetrant warna untuk meyakinkan bahwa komponen ini masih dalam keadaan baik atau retak.

Upper arm

Knuckle kemudi

Gb. 17 Pemeriksaan Lower, Upper arm dan knuckle kemudi

.

                        Pengujian lower arm dan upper arm : dalam keadaan lower

arm dan upper arm terpasang dalam kerangka (frame) kendaraan komponen ini digerakkan kearah atas atau kearah bawah .

Bila tidak timbul suara yang aneh maka bias dipastikan  lower arm dan upper arm dalam keadan baik.

Pengujian knuckle kemudi : dalam keadaan terpasang pada lower arm maupun upper arm komponen ini digerakkan kearah samping kiri, kanan, atas dan bawah .

Bila tidak timbul suara aneh maka bias dipastikan knuckle kemudi dalam kondisi baik

3.    Ball Joint

Komponen ini berfungsi sebagai sumbu roda-roda saat kendaraan membentuk, pemasangannya antara lower arm dengan steering knuck dan upper arm dengan steering knuekle.

a)    Pemeriksaan kekendoran ball joint bawah terhadap lower arm.

  • Dongkrak bagian depan kendaraan dan di topang dengan penyangga.
  • Pastikan kendaraan sudah disangga dengan aman
  • Pastikan bahwa roda depan telah lurus posisinya dan tekan pedal rem.
  • Gerakkan lengan suspensi bawah ke atas dan kebawah dan pastikan tidak ada gerak bebas ball joint (berlebihan)
  • Gerakkan roda samping kanan samping kiri dan pastikan tidak ada gerakan yang berlebihan.

Gambar 18 : Pemerikasan ball joint terhadap lower arm dan upper arm

Pengujian ball joint : dalam keadaan roda terpasang gerakkan roda bagian atas kedalam dan bagian bawah keluar atau sebaliknya bila terjadi kekocakan yang berlebihan maka ball joint perlu diganti bila tidak terjadi kekocakan dapat dipastikan ball joint dalam keadaan baik.

4.    Pegas Koil (Coil Spring)

Komponen ini berfungsi untuk menyerap kejutan/gaya yang diakibatkan dari permukaan jalan tidak rata, penempatannya diantara lower arm dan upperr arm. Pemeriksaan pegas koil dalam keadaan terlepas dan bersih pastikan tidak ada bagian yang retak atau aus, ukur tinggi bebas pegas sesuai dengan buku manual sesuai dengan jenis mobil yang diperiksa .batas limit = 273 mm.

Gambar 19: Pemeriksaan pegas koil

Pengujian pegas koil dalam keadaan pegas koil terlepas ukur tinggi bebas pegas, kemudian tekan pegas dengan beban tertentu.

Ukur kembali tinggi bebas pegas , bila ukuran kurang dari batas limit spesifikasi sesuai yang ditentukan maka pegas perlu diganti, dan sebaliknya

Catatan :

a.    Bila pegas lemah dapat dirasakan ada kejutan tidak normal saat kendaraan melewati jalan yang rata.

b.    Bila pegas lemah, maka keausan ban menjadi tidak normal

5.    Shock absorber (peredam getaran )

Komponen ini berfungsi untuk mengurangi oksilasai yang berlebihan pada pegas bila kendaraan berjalan dijalan tidak rata. Pemeriksaan peredam getaran dalam keadaan terlepas dan bersih, pastikan tidak ada kebocoran minyak dan gas.

Gb. 21a Pemeriksaan Shock absorber

Gb. 21b Pemeriksaan Shock absorber

Pengujian : Dalam keadaan terlepas dengan cara ditekan dan ditarik bila dengan tahanan yang tetap pastikan kondisi peredam gataran dalam keadaan baik . bila ada bushing peredam getaran yang rusak perlu dilakukan penggantian

Dalam keadaan terpasang:

a.    goyangkan mobil kearah samping, dan goyangan   kesamping harus cepat berhenti

b.    Pada mobil sedan tekan pada bagian depan mobil kemudian lepas maka getaran tambah setengah dari tekanan semula dan kembali pada posisi sebelumnya.

6.    Strut bar

Komponen ini berfungsi untuk menahan lower arm agar tidak maju atau mundur pada saat menerima kejutan dari permukaan jalan maupun dorongan akibat terjadinya pengereman, atau saat pemindaan tenaga dari motor, strut bar berupa batangan baja yang dipasang pada lower arm dan frame kendaraan. Pemeriksaan strut bar dalam keadaan terlepas dan bersih pastikan tidak ada bagian yang retak.

Pemeriksaan kebengkokan  :

  • Letakkan strut bar pada v blok.
  • Ukur run out bagian tengah strut bar menggunakan dial indikator magnetik.
  • Kebengkokan tidak boleh melebihi batas limit yang sudah ditentukan pada buku manual dari jenis kendaraan tersebut

Pengujian : Dalam keadaan terpasang dan mobil di jack stand dengan aman :

  • Dengan rem kendaraan diinjak dorong bagian roda yang diuji kedepan atau kebelakang
  • Pastikan tidak ada bagian bushing strutbar yang aus atau rusak.
  • Bila ada bagian bushing yang aus/rusak lakukan penggantian.

7.    Stabilizer bar

Komponen ini berfungsi untuk mengurangi terjadinya kemiringan kendaraan akibat gaya sentrifugal pada saat membelok atau saat lurus mengurangi tenaga guling. Stabilizer ini di pasangkan pada lower arm kiri dan kanan, bagian tengahnya diikatkan pada frame / body kendaraan, sehingga beban yang diterima komponen ini saat kendaraan membelok adalah beban puntiran.

Pemeriksaan stabilizer bar :

1. dalam keadaan terlepas dan bersih pastikan komponen ini tidak ada bagian yang retak, aus atau patah.

2.   Karet-karet pengikat dalam keadaan terpasang pastikan karet-karet pengikat pada frame tidak ada yang retak

Pengujian : Dalam keadaan stabilizer terpasang tekan bagian depan mobil sebelah kanan atau tekan bagian mobil sebelah kiri secara bergantian .bila tekanan dilepaskan maka kondisi mobil cepat kembali seperti posisi semula pastikan stabilizer masih dalam kedaan normal

Bila pengujian diatas timbul suara yang aneh maka bushing pengikat stabilizer dengan rangka perlu diganti.

b.    Prosedur pemeriksaan komponen sistem suspensi rigid

Baut “U”

Peredam getaran

Pegas daun

Fungsi dan prosedur pemeriksaan komponen

1.    Pegas daun

Komponen ini berfungsi untuk menyerap kejutan yang ditimbulkan permukaan jalan, pegas jenis ini mampu menerima beban yang lebih besar bila dibanding dengan pegas koil maupun pegas torsi oleh karena itu pegas daun banyak digunakan pada sistem suspensi bagian belakang kendaraan.

Pemeriksaan pegas daun :

a).  Dalam keadaan terlepas dan bersih lembaran pegas tidak retak atau pada ujung – ujungnya tidak terjadi keausan yang berlebihan.

b).  Ujung- ujung pegas daun tidak terjadi keausan yang berlebihan

Gb. 25. Pemeriksaan pegas daun

Pengujian : Dalam keadaan terlepas :

  • Ukur NIP pada masing-masing lembaran pegas daun
  • Beri beban pada masing-masing lembara pegas daun sesuai dengan spesifikasi jenis mobilnya.
  • Ukur kembali NIP pada masing-masing lembaran pegas daun
  • Bandingkan pengukuran NIP setelah pembebanan dengan spesifikasi jenis mobilnya.
  • Bila ukuran NIP setelah pembebanan kurang dari batas limit maka perlu diganti lembaran pegas daunnya dan sebaliknya.

2.    Baut “U”

Komponen ini berfungsi untuk mengikat tumpukan/ susunan pegas daun dengan poros roda belakang dengan kuat agar tidak terjadi pergeseran bila roda menerima kejutaan dari permukaan jalan.  Pemeriksaan baut “U”:

a)   Dalam keadaan terlepas dan bersih pastikan tidak ada bagian ulir yang aus, bengkok maupun kerusakan pada ulirnya.

b)   Tidak terjadi kebengkokan pada bagian yang lain

c)   Tidak terjadi keausan pada ulir mur pengikat

Baut “U”

Ring

Mur pengikat

Gb. 26. Pemeriksaan baut “U”

`                 Pengujian : Dalam keadaan terpasang kencangkan mur pengikat baut “U” dengan momen yang sesuai spesifikasinya pada buku manual.

Cek/periksa kembali mur-mur pengikat baut “U” bila masih dalam keadaan kendor maka baut U perlu diganti dan sebaliknya.

3.    Ayunan Pegas

Komponen ini berfungsi untuk memungkinkan pegas memanjang dan memendek bila roda menerima kejutan dari jalan. Pemasangannya diantara pegas dan frame (kerangka) kendaraan. Pemeriksaan ayunan pegas daun:

Dalam keadaan terlepas dan bersih pastikan tidak ada bagian ulir baut dan mur pengikat yang aus.

Pengujian : Dalam keadaan ayunan pegas daun terpasang pada rangka kendaraan keraskan mur-mur pengikat ayunan pegas sesuai dengan spesifikasi buku manual

Cek / periksa kembali mur-mur pengikat ayunan pegas bila masih dalam keadaan kendor maka ayunan pegas perlu diganti

4.    Bhusing karet

Komponen ini berfungsi untuk meredan suara hubungan antara ayunan pegas daun dengan frame bila roda menerima kejutan dari permukaan jalan. Pemeriksaan bushing karet : dalam keadaan terlepas pastikan bhusing karet tidak pecah atau berubah konstruksinya.

Kerusakan dan keausan

Gb. 27 Pemeriksaan ayunan pegas dan Bhusing karet.

.

Pengujian : Bushing dalam terpasang gerakan ayunan pegas keatas dan kebawah bila pada bagian ini timbul suara yang aneh maka perlu diganti. Sebab sudah terjadi pengerasan

5.    Bumper karet

Komponen ini berfungsi untuk membatasi ayunan pegas yang berlebihan dan tidak terjadi tumbukan antara poros roda dengan frame/kerangka kendaraan. Pemeriksaan bumper karet :dalam keadaan terpasang pastikan tidak ada bagian yang pecah atau berubah bentuk

    Bumper karet

      Pengujian : Dalam keadaan terpasang beri beban pada bagian belakang kendaraan yang diuji bumper kemudian lepaskan bebannya  lakukan beberapa kali . bila pada bagian ini timbul suara aneh maka perlu diganti bumper karet tersebut atau sebaliknya

C.  Rangkuman

1.    Sistem suspensi berfungsi

a.    Bersama-sama dengan roda menyerap kejutan dan oksilasi dari permukaan jalan.

b.    Memindahkan gaya pengereman dan gaya gerak ke body melalui gesekan antara jalan dengan roda-roda.

c.    Menopang body / kerangka pada poros dan memelihara letak geometri antara body dengan roda.

2.    Sistem suspensi dapat digolongkan menjadi dua jenis

a.    Suspensi Independen (suspensi bebas)

b.    Suspensi Rigid ( Suspensi kaku )

  1. Suspensi independen menggunakan dua macam pegas

Yaitu : Pegas koil dan pegas torsi

  1. Suspensi rigid menggunakan dua macam pegas yaitu

a.    Pegas daun

b.    Pegas koil

  1. Komponen utama suspensi independen

a.    Pegas koil / torsi

b.    Shock absorber (peredam kejut)

c.    Stabilizer bar

d.    Strut bar

e.    Upper arm

f.     Lower arm

g.    Ball joint

  1. Komponen utama suspensi rigid

a.    Pegas daun

b.    Pegas koil

c.    Shock absorber ( peredam kejut )

d.    Lateral rod

e.    Bumper karet

7.   Prosedur pemeriksaan komponen.

D.  Tugas

1.    Sebutkan dua macam konstruksi suspensi poros independent pada kendaraan

2.    Sebutkan dua macam konstruksi suspensi poros rigit

E.  Test Formatif

1.    Jelaskan kerja suspensi wishbone pegas koil

2.    Jelaskan kerja suspensi rigid pegas daun

F.   Kunci Jawaban Test Formatif

1.    Bila roda-roda depan menerima kejutan dari permukaan jalan maka pegas koil menerima gaya dari lower arm sehingga mengakibatkan pegas koil mengalami pemendekan sesuai dengan kemampuan pemegasan (konstanta pegas)

2.    Bila roda-roda belakang menerima kejutan dari permukaan jalan dan diteruskan ke rumah poros belakang sehingga mengakibatkan pegas daun terjadi pemanjangan dari bentuk elip mendekati lurus

G.  Lembar Kerja

1.    Alat dan Bahan

a.    Dongkrak

b.    Jack stand

c.    Pengungkit

d.    Suspensi roda depan

e.    Suspensi roda belakang

f.     V blok

g.    Dial indicator magnetic

h.    Majun / kain lap

i.      Penetran warna

j.      Kuas

k.    Minyak pembersih

l.      Grease

  1. Keselamatan Kerja

a.    Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya.

b.    Ikuti intruksi dari instruktur / guru maupun prosedur kerja

c.    Jangan bekerja di bawah kendaraan yang tidak di jack stand dengan kuat.

  1. Langkah Kerja

a.    Persiapan alat dan bahan praktek secara cermat, efektif dan seefesien mungkin.

b.    Perhatikan instruksi praktek yang disampaikan oleh instruktur.

c.    Lakukan pemeriksaan sistem suspensi dan analisis kerusakan pada komponennya.

d.    Buatlah catatan penting kegiatan praktek secara ringkas.

e.    Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula.

  1. Tugas

a.    Buatlah laporan kegiatan praktek secara ringkas dan jelas.

b.    Buatlah ringkasan pengetahuan yang diperoleh setelah belajar / praktek.

BAB  III

EVALUASI

A.       TES TULIS

 

Jenis Pekerjaan       :

Nama Peserta          :

Nomor Induk             :

Program Keahlian   :

1.        Apa yang membedakan konstruksi suspensi wishbone dengan suspensi mac pherson ?

2.        Apa yang membedakan konstruksi suspensi independen dan suspensi rigid ?

3.        Jelaskan kerja suspensi independen wishbone roda depan dengan menggunakan pegas koil ?

4.        Jelaskan kerja suspensi poros rigid menggunakan pegas daun ?

B.       TES PRAKTIK

Lakukan prosedur pemeriksaan, pengujian dan penentuan kondisi komponen suspensi wishbone

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A.        Lembar penilaian Tes tulis

No

Pertanyaan

Kunci Jawaban

Skor

Maks

Skor

Perolehan

Keterangan
1 Apa yang membedakan konstruksi suspensi wishbone dengan suspensi mac pherson Independen :

Poros roda-rodanya bebas bergerak antara sebelah kiri dan sebelah kanan

Wishbone : pegas koil terpisah dengan peredam kejutnya

Mac pherson : pegas koil disatukan dengan peredam kejutnya

5

5

2 Apa yang membedakan konstruksi suspensi independen dan rigid Independen :

Poros roda-rodanya bebas bergerak antara roda sebelah kiri dan roda sebelah kanan

Rigid :

Poros roda sebelah kanan dan kiri satu rumah poros

5

5

3 Jelaskan kerja suspensi poros independen Bila roda berjalan dijalan tidak rata lower arm bebas bergerak bersama pegas koil

5

4. Jelaskan kerja suspensi poros rigid Bila roda berjalan dijalan tidak rata roda mendorong poros dan diteruskan ke pegas, maka pegas daun akan mengalami pemanjangan

5

                                                          Total Skor

30

 

B.     Lembar penilaian Tes Praktiks

No

Job praktik

Kunci Jawaban

Skor

Maks

Skor

Perolehan

Keterangan
1 Lakukan prosedur pemeriksaan , pengujian dan penentuan kondisi komponen sistem suspensi sesuai SOP 1 Persiapan :

a. Bahan

b. Alat

c. Tempat kerja

2.Cara menggu

nakan alat-alat tangan/ special tools dengan tepat dan benar

3.Cara menggunakan alat-angkat tepat dan benar

4.Penggunaan buku servis manual

Pemeriksaan dan pengujian

5.Pelaksanaan pemeriksaan, pengujian dan penentuan kondisi komponen sistem suspensi sesuai SOP

10

10

10

20

20

Total skor maksimal

70

BAB  IV

PENUTUP

 

Setelah menyelesaikan modul ini, maka Anda berhak untuk mengikuti tes paktik untuk menguji kompetensi yang telah dipelajari. Dan apabila Anda dinyatakan memenuhi syarat kelulusan dari hasil evalusi dalam modul ini, maka Anda berhak untuk melanjutkan ke topik/modul berikutnya. Mintalah pada pengajar/instruktur untuk melakukan uji kompetensi dengan sistem penilaiannya dilakukan langsung dari pihak dunia industri atau asosiasi profesi yang berkompeten apabila Anda telah menyelesaikan suatu kompetensi tertentu. Atau apabila Anda telah menyelesaikan seluruh evaluasi dari setiap modul, maka hasil yang berupa nilai dari instruktur atau berupa porto folio dapat dijadikan sebagai bahan verifikasi bagi pihak industri atau asosiasi profesi. Kemudian selanjutnya hasil tersebut dapat dijadikan sebagai penentu standard pemenuhan kompetensi tertentu dan bila memenuhi syarat Anda berhak mendapatkan sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh dunia industri atau asosiasi profesi.

DAFTAR  PUSTAKA

 

Anonim. (1987), Dasar-dasar Automotive, Jakarta : PT.Toyota–Astra – Motor.

Anonim. (1995), New Step 1 Training Manual, Jakarta : PT. Toyota – Astra- Motor.

Anonim. (1995), Materi Pelajaran chasis group step 2, Jakarta : PT. Toyota Astra-Motor.

Anonim, (1982), Mitsubishi L 300 Workshop Manual, Mitsubishi corporation.

Anonim, (1982), Mitsubishi Colt T120 Workshop Manual, Mitsubishi corporation.

Anonim, (1993), Servis Mobil, Pusat Pengembangan Guru Teknologi Malang

Perbaikan Poros Penggerak Roda

BAB. I

PENDAHULUAN

 

A.  DESKRIPSI

 

Modul ini mempelajari tentang “Perbaikan poros penggerak roda” yang meliputi perbaikan poros penggerak roda pada suspensi rigid maupun pada suspensi independent.

Macam-macam konstruksi poros penggerak roda yang dipelajari modul sebelumnya adalah sebagai penunjang untuk bisa menguasai modul ini. Setelah mempelajari modul ini siswa diharapkan dapat mengidentifikasi kerusakan, serta dapat mengganti poros penggerak roda beserta komponen-komponennya.

B.  PRASYARAT

 

Untuk menempuh kegiatan pembelajaran pada modul ini peserta diklat diharuskan menguasai OPKR-10-010B (penggunaan alat ukur) atau alat yang lain, serta telah menyelesaikan kompetensi sebelumnya yaitu OPKR-30-013B.

C.  PENUNJUK PENGGUNAAN MODUL

 

1.   Petunjuk  Bagi Siswa

Untuk mendapatkan hasil yang maksimum, maka perhatikan petunjuk-petunjuk berikut ini:

a.    Perhatikan arahan yang diberikan instruktor.

b.    Bacalah dengan teliti dan cermati modul ini secara keseluruhan.

c.    Konsultasikan pada instruktor hal-hal yang kurang jelas teori maupun praktek.

d.    Pada waktu praktek persiapkan hal-hal sebagai berikut:

1.    Siapkan alat dan bahan sesuai kebutuhan.

2.    Cermati langkah kerja dan perhatikan fungsi dan cara kerja masing-masing komponen.

3.    Setelah mendongkrak ganjal/topang mobil dengan jack stand atau kayu balok.

4.    Setelah selesai kembalikan alat dalam keadaan bersih.

2.   Petunjuk Bagi Guru

a.    Amati dan bantu setiap kegiatan siswa.

b.    Berikan tugas-tugas dalam pelatihan.

c.    Bimbing siswa dalam memahami konsep.

d.    Melaksanakan penilaian.

e.    Mencatat kemajuan siswa.

D.  TUJUAN AKHIR

 

Setelah mempelajari secara keseluruhan modul ini diharapkan:

1.    Siswa dapat membongkar, mengidentifikasi kerusakan, memperbaiki kerusakan, memasang kembali komponen poros penggerak roda sesuai dengan SOP (Standard Operasional Prosedur) yang berlaku pada akhir kegiatan evaluasi.

2.    Siswa terampil dalam memasang kembali komponen poros penggerak roda.


E.  KOMPETENSI

 

Modul OPKR-30-014B membentuk kompetensi memasang, menguji dan memperbaiki sistem penerangan dan wiring. Uraian kompetensi dan subkompetensi ini dijabarkan seperti di bawah ini.

KOMPETENSI               :    Perbaikan Poros Penggerak Roda

KODE                          :   OPKR-30-014 B

DURASI PEMELAJARAN:   40 Jam @ 45 menit

 

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

1. Memperbaiki poros penggerak roda/drive shafts dan komponen-komponennya.

§ Perbaikan poros penggerak roda/drive shafts, dan komponen-komponennya dilaksanakan tanpa menye-babkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lain-nya.

§ Informasi yang benar di-akses dari spesifikasi pabrik dan dipahami.

§ Perbaikan dan/atau peng-gantian pada poros peng-gerak roda/drive shafts dan komponen-komponennya dilaksanakan dengan menggunakan metode dan perlengkapan yang tepat, sesuai dengan spesifikasi dan toleransi terhadap pabrik/kendaraan.

§ Data yang tepat dilengkapi sesuai hasil pemeriksaan poros penggerak roda.

§ Konstruksi dan prinsip kerja poros penggerak.

§ Identifikasi kerusakan dan metoda perbaikan.

§ Pengukuran dan spesifikasi toleransi.

§ Standar prosedur keselamatan kerja.

§ Menerapkan prosedur kerja dalam proses pembongkaran dan pemasangan poros penggerak pada mobil

§ Penggunaan  alat dan perlengkapan  yang sesuai

§ Prosedur pembongkaran, penggantian dan perbaikan

§ Konstruksi dan kerja dari komponen/ sistem yang berhubungan pada final drive (sesuai pada penggunaan).

§ Prosedur pengujian.

§ Penilaian komponen .

§ Informasi teknik yang sesuai.

§ Persyaratan keamanan peralatan.

§ Persyaratan keamanan kendaraan/alat industri.

§ Kebijakan pabrik/ per-usahaan.

§ Persyaratan keselamatan diri.

§ Membongkar, memeriksa,  memperbaiki kerusakan pada poros penggerak roda/drive shaft dan komponen-nya

§ Menggunakan peralatan dan perlangkapan sesuai standar

§ Menguji kerja dari komponen/sistem yang berhubungan pada final drive

§ Seluruh kegiatan pemeliha-raan/servis poros penggerak roda/drive shafts dan komponen-komponennya dilaksanakan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K 3 (Keselamatan dan Kese-hatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/ kebijakan perusa-haan.

 


F.   CEK KEMAMPUAN

 

Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta diklat, maka jawablah pertanyaan pilihan ganda berikut ini dengan benar dan berikan tanda silang (X) pada jawaban yang betul:

1.    Bagian yang berfungsi menghubungkan putaran dari differential ke roda adalah:

a. Poros propelair.                                       c. Poros engkol.

b. Poros penggerak roda.                             d. Poros primair.

2.    Pada waktu bekerja dibawah mobil, seharusnya mobil ditumpu dengan:

a. Dongkrak hydrolik.                                  c. Garage jack.

b. Dongkrak ulir.                                         d. Jack stand.

3.    Untuk melepas poros roda mengunakan alat:

a. Sliding hamer.                                         c. Kunci roda.

b. Palu besar.                                              d. Kunci momen.

Catatan Pembimbing:

1.  Untuk soal nomor 1, apabila siswa menjawab ( b ) lanjutkan soal nomor

2

2.  Untuk soal nomor 2, apabila siswa menjawab ( d ) lanjutkan soal nomor

3

3.  Untuk soal nomor 3, apabila siswa menjawab ( a ) siswa telah mampu

mengerjakan test awal dengan benar.

Kesimpulan:

Karena siswa telah mampu mengerjakan test awal dengan benar, maka

siswa dapat mengerjakan modul ini.

BAB. II

PEMELAJARAN

A.   RENCANA BELAJAR SISWA

 

Kompetensi     : Perbaikan poros penggerak roda.

SubKompetensi: Perbaikan poros penggerak roda pada suspensi rigid (kaku) dan independent (bebas).

Mintalah bukti persetujuan guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

No.

Jenis Kegiatan

Hari

Tanggal

Waktu

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.

Perbaikan poros penggerak roda pada suspensi rigid

2.

Perbaikan poros penggerak roda pada suspensi independent

KEGIATAN BELAJAR

 

    Kegiatan Belajar 1.

 

Perbaikan poros penggerak roda pada suspensi rigid

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

 

1.    Siswa dapat memeriksa unit poros penggerak roda pada suspensi rigid apakah masih baik atau harus diganti.

2.    Siswa dapat melepas dan memasang kembali komponen-komponen yang rusak.

3.    Siswa dapat membongkar dan merakit kembali komponen-komponen poros penggerak roda pada suspensi rigid.

b.  Uraian Materi

 

Pada umumnya poros penggerak roda suspensi rigid yang dipaksa pada kendaraan ringan adalah jenis semi floating.

1.   Pembongkaran

Sebelum melakukan pembongkaran lakukan pemeriksaan awal dengan langkah-langkah sebagai berikut:

    1. Kendorkan mur roda
    2. Dongkrak mobil dan tumpu dengan jack stand
    3. Lepas roda dan tromol
    4. Pemeriksaan kebebasan arah aksial, Kebebasan maksimal adalah 1 mm. Dengan menggunakan alat dial indikator.

Gambar 1. Pemeriksaan Gerak Bebas Arsial Poros Roda Belakang.

Jika kebebasan terlalu besar ganti bantalan dan biasanya kebebasan bantalan yang terlalu besar akan terdengar suara gemuruh pada saat mobil berjalan.

Catatan:

Apabila bantalan roda rusak harus segera diganti, bila tidak

maka akan menyebabkan:

1. Bahaya terhadap pengereman

2. Bantalan roda bisa pecah atau terbakar

3. Boros pemakaian nahan bakar

Pembongkaran dan pemeriksaannya adalah sebagai berikut:

a.    Kendorkan mur roda.

b.    Angkat mobil dengan dongkrak dan tumpu dengan jack stand.

c.    Lepas roda dan tromol rem.

d.    Lepas baut pengikat backing plat dan pipa rem menggunakan SST.

Gambar 2. Melepas Baut Pengikat Backing Plat dan Pipa Rem.

e.    Dengan menggunakan SST lepas poros aksel belakang, hati-hati jangan sampai merusak perapat oli.

Gambar 3. Melepas Poros Aksel Belakang.

f.     Lepas gasket poros belakang.

2.   Pemeriksaan Dan Perbaikan Komponen Poros Roda Belakang

Periksalah dengan cermat dan teliti kemungkinan terjadi kerusakan pada komponen-komponen sebagai berikut:

a.    Periksa bantalan atau bearing terhadap keausan atau kerusakan, bila  bantalan aus atau rusak gantilah dengan yang baru.

Lepas bantalan dengan menggerinda penahan dalam, dengan menggunakan pahat dan palu potong penahan dan kepastian dari poros.

Gambar 4. Menggederenda Penahan Bantalan.

Dengan menggunakan SST dan hydrolik pres lepas bantalan dari poros.

Gambar 5. Melepas Bantalan Dengan Pres Hydrolis.

b.    Pemeriksaan Oli Seal

Kerusakan oli seal bisa menyebabkan kebocoran oli differensial/ gardan. Hal ini bisa dilihat sekitar backing plat terdapat tanda-tanda oli keluar.

Keausan oli seal bisa dilihat pada bagian yang berhubungan dengan poros, bila masih runcing berarti baik, bila sudah rata berarti aus, ganti oli seal dengan yang baru bila sudah aus.

Dengan menggunakan SST lepas oli seal.

Gambar 6. Melepas Perapat Oli Dari Rumah Poros.

              c.  Pemeriksaan Poros Roda Belakang

Periksa alur poros roda belakang dari kemungkinan aus, retak atau puntiran.

Periksa poros roda belakang pada bagian dudukan penahan dalam dan bantalan dari kemungkinan keausan.

Dengan menggunakan dial indikator periksa poros roda belakang dari kebengkokkan dan keolengan pada flensnya.

Kebengkokkan/kelengkungan poros maksimum 1,5 mm Keolengan flens maksimum 0,1 mm.

Gambar 6. Memeriksa Kebengkokan Poros & Flens.

Pada poros roda belakang dan komponennya bila terdapat kerusakan tidak dapat diperbaiki oleh karena itu harus kita ganti kecuali pada kebengkokkan ini bisa diperbaiki.

3.   Perakitan Dan Pemasangan Poros Roda Belakang

Persiapkan komponen-komponen yang telah diperiksa dari kerusakan dan yang baru.

Pemasangan kembali dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a.    Menggunakan SST dan pres hydrolik pasang penahan bantalan luar dan bantalan/bearing batu.

Gambar 7. Memasang Bantalan.

b.    Panaskan penahan bantalan dalam hingga kurang lebih 1500C didalam oli pemanas.

Gambar 8. Pemanas Penahan Bantalan.

c.    Menggunakan SST dan preshydrolik pasang penahan bantalan dalam saat masih panas.

Gambar 9. Pemasang Penahan Bantalan Dengan Pres Hydrolik.

d.    Menggunakan SST pasang oli seal yang telah diolesi gemuk pada kedalaman 6mm.

Gambar 10. Memasang Perapat Oli.

e.    Pasang poros penggerak roda pada housing axle beserta kelengkapannya yang telah diolesi perapat.

f.     Pasang dan kencangkan baud pengikat backing plat dengan momen pengencangan 670 Kg.cm.

g.    Pasang kembali pipa rem.

h.    Pasang tromol rem.

i.     Lakukan pembuangan udara pada sistem rem.

j.     Pasang roda kemudian turunkan mobil dan kencangkan baud-baud roda.

Catatan:

Pada saat memasukan poros roda belakang lakukan dengan hati-hati jangan sampai marusak oli seal maupun deflektor oli yang terdapat didalam housing axle.

c.   Rangkuman

 

1.    Poros jenis semi floating di pakai pada suspensi rigid penggerak roda belakang.

2.    Kegiatan ini meliputi bongkar, pemeriksaan dan pemasangan kembali.

3.    Komponen-komponen yang diperiksa dan diganti bila rusak adalah bearing, oli seal dan poros.

4.    Pemeriksaan poros penggerak roda meliputi alur poros yang berkaitan dengan side gear, kebengkokan poros, keolengan pada naf, keausan pada dudukan bantalan maupun penahan bantalan dalam.

d.  Tugas

 

1.    Pelajari uraian materi pada lembar kegiatan I tentang perbaikan poros penggerak roda.

2.    Lakukan pengamatan pada kendaraan/mobil yang supensi belakangnya sebagai penggerak roda jenis rigid.

3.    Gambarkan secara sederhana dan jelaskan cara kerjanya.

e.   Tes Formatif

 

1.    Gambarkan unit konstruksi poros roda belakang jenis semi floating dan sebutkan nama-nama komponennya.

2.    Pemeriksaan apa saja yang dilakukan pada unit poros penggerak roda belakang semi floating.

3.    Persyaratan apa saja yang diperlukan pada waktu bekerja dibawah mobil.

f.    Kunci Jawaban Formatif

 

1.

1. Gasket.                                      5. Bantalan.

2. Perabot oli.                                 6. Penahan bantalan luar.

3. Backing plat.                               7. Poros penggerak roda.

4. Penahan bantalan dalam.

2. Pemeriksaan yang dilakukan adalah:

a. Bearing/bantalan.

b. Oli seal.

c. Poros roda.

3.  Persyaratannya adalah sebagai berikut:

a. Lantai datar.

b. Mobil harus ditumpu dengan jack stand.

c. Lantai harus bersih dari minyak.

g.  Lembar Kerja

1. Alat dan Bahan

a. 1 unit mobil atau suspensi rigid jenis semi floaling.

b. Peralatan, dongkrak, kunci pas/ring (sesuai kebutuhan) SST (sesuai kebutuhan).

c. Alat ukur (jangka serong, dial indikator).

d. Alat pres (hydrolik pres).

e. Mesin gerinda

f. Gemuk, lem perapat, lap/ majun.

g. Pasir/serbuk gergaji.

2.  Keselamatan Kerja

a. Gunakan peralatan sesuai fungsinya.

b. Perhatikan dan ikuti petunjuk instruktur/guru.

c. Gunakan alat keselamatan kerja bila diperlukan.

d. Minta buku manual bila perlu.

e. Perhatikan bagian-bagian yang rawan terhadap benturan keras, oli dll.

3. Langkah Kerja

a. Persiapkan alat dan bahan.

b. Perhatikan petunjuk instruktur/guru.

c.  Lakukan pembongkaran unit poros penggerak roda secara cermat.

d.  Lakukan pemeriksaan dengan teliti komponen-komponen poros penggerak roda.

e.  Buat catatan penting kegiatan praktek secara ringkas.

f.   Diskusikan mengenai seluruh kondisi komponen, kemungkinan penyebab kerusakan, kemungkinan perbaikannya, kemungkinan yang terjadi bila kerusakan tidak diperbaiki.

g. Lakukan pemasangan kembali komponen-komponen yang telah dibongkar dengan baik dan benar.

h.  Diskusikan mengenai apa yang telah didapat tentang poros penggerak roda.

i.   Setelah selesai kegiatan bersihkan peralatan dan tempat kerja, kembalikan peralatan dan bahan ke posisi semula.

          4. Tugas

a. Buatlah laporan pratikum secara ringkas dan jelas, lengkapi dengan analisa dan kesimpulan.

b. Buatlah rangkuman tentang pengetahuan yang baru setelah mempelajari materi pada kegiatan ini.

     Kegiatan Belajar 2.

 

Perbaikan Poros Penggerak Roda Pada Suspensi Independent.    

a.   Tujuan Pemelajaran

 

1.    Siswa dapat memeriksa unit poros penggerak roda pada suspensi independent apakah masih baik atau harus diganti.

2.    Siswa dapat memperbaiki atau mengganti unit poros penggerak roda beserta komponen-komponennya pada suspensi independent.

b.  Uraian Materi

 

Kendaraan yang bersuspensi independent poros penggerak rodanya menggunakan jenis CV joint. CV joint bisa dipakai pada kendaraan tipe poros penggerak roda depan maupun poros penggerak roda belakang. Dalam pemelajaran ini kita menggunakan tipe poros penggerak roda depan. Service yang dilakukan sanggat jarang karena konstruksinya sangat sederhana.

1.   Pembongkaran

Untuk membongkar ikuti langkah-langkah sebagai berikut:

a.    Kendorkan mur roda.

b.    Angkat mobil dengan dongkrak dan tumpu dengan jack stand.

c.    Lepas roda.

d.    Lepas kaliper dan piringan rem.

Gambar 11. Pemeriksaan Kebebasan Bantalan.

e.    Periksa kebebasan bantalan dalam arah aksial dengan dial indikator. Kebebasan maksimum 0,05 mm.

Gambar 12. Melepas Mur Pengikat Bantalan.

f.     Lepas Conter pin dan mur pengikat bantalan.

Gambar 13. Melepas Tie-rod End.

g.    Lepas hubungan tie-rod dengan steering knucle SST.

Gambar 14. Melepas Steering Knucle Dari Lower Arm.

h.    Lepas steering knucle dari lower arm.

Gambar 15. Melepas Poros Penggerak Roda Dari Hub.

i.     Lepas poros penggerak roda dari hubungan.

2.   Pemeriksaan

Setelah unit poros penggerak roda terlepas lakukan pemeriksaan sebagai berikut:

a.    Pemeriksaan poros penggerak roda dari kemungkinan melengkung.

b.    Pemeriksaan out board tidak boleh ada kekocakan.

c.    Pemeriksaan inboard joint harus dapat meluncur dengan lembut arah aksial.

d.    Periksa kebebasan inboard joint kearah radial tidak terlalu besar.

e.    Periksa gigi alur dari kemungkinan kerusakan.

Gambar 16. Memeriksa Poros Penggerak.

Komponen-komponen dari CV joint tidak bisa diperbaiki bila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerusakan maka harus diganti 1 unit CV joint.

3.   Pemasangan Kembali/Perakitan

Pemasangan kembali/perakitan dapat dilakukan sebagai berikut:

a.    Masukkan poros penggerak roda secara pelan-pelan ujung yang satu ke transaxle ujung yang lain ke hub roda. Kencangkan mur pengikat bantalan dengan momen 800 kg cm.

b.    Pasang steering knucle pada lower arm dan kencangkan mur dengan momen 850 kg cm.

c.    Pasang tie-rod dengan momen 600 kg cm.

d.    Pasang kaliper dan piringan rem dengan momen pengencangan 200 kg cm.

e.    Pasang roda dan mur roda.

f.     Turunkan mobil dan kencangkan mur roda.

c.   Rangkuman  

 

1.    Suspensi independent menggunakan poros penggerak roda jenis Constan Velocity joint (CV joint).

2.    Unit CV joint sangat sederhana dan jarang dilakukan pemeriksaan atau perbaikkan.

3.    Bila CV joint rusak tidak bisa diperbaiki harus diganti.

d.  Tugas

 

1.    Lakukan pengamatan pada kendaraan dengan suspensi independent, buat gambar sederhana konstruksi dari poros penggerak rodanya!

2.    Jelaskan cara kerja secara singkat poros penggerak rodanya?

e.   Test Formatif

 

1.    Gambarkan konstruksi dari CV joint dan sebutkan komponen-komponen utamanya?

2.    Pemeriksaan apa saja yang dilakukan pada CV joint?

f.    Kunci Jawaban

 

1.

2.  Pemeriksaan pada CV joint adalah

a.  Kekocakan out board joint

b.  kelengkungan poros.

c.  Gerakan inboard

d.  Kebebasan inboard kearah radial.

e.  Alur-alur pada ujung poros.

g.  Lembar kerja

 

1.  Alat dan bahan:

a.    1 unit mobil dengan suspensi independent.

b.    Peralatan: dongkrak, kunci pas/ring(sesuai kebutuhan), SST (sesuai kebutuhan).

c.    Alat ukur (jangka sorong, dial indikator).

d.    Gemuk, lap/marjun, pasir serbuk gergaji.

2.   Keselamatan kerja:

a.    Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya.

b.    Perhatikan dan ikuti petunjuk instruktur/guru.

c.    Gunakan alat keselamatan kerja bila digunakan.

d.    Minta buku manual bila perlu.

e.    Perhatikan bagian-bagian yang rawan terhadap benturan keras.

f.     Jaga lantai dari genangan oli.

3.   Langkah kerja:

a.    Persiapkan alat dan bahan.

b.    Perhatikan petunjuk instruktur/guru.

c.    Lakukan pembongkaran unit poros penggerak roda secara cermat.

d.    Lakukan pemeriksaan dengan teliti komponen-komponen poros penggerak roda.

e.    Buat catatan penting kegiatan praktek secara ringkas.

f.     Diskusikan mengenai seluruh kondisi komponen, kemungkinan penyebab kerusakan, kemungkinan perbaikkannya, kemungkinan yang terjadi bila kerusakan tidak diperbaiki.

g.    Lakukan pemasangan kembali komponen-komponen yang telah diperbaiki atau diganti dengan baik dan benar.

h.    Diskusikan mengenai apa yang telah didapat tentang CV joint.

i.     Setelah selesai kegiatan dan tempat kerja, kembalikan peralatan dan bahan keposisi semula.

4.   Tugas

a.    Buatlah laporan pratikum secara ringkas dan jelas? Lengkapi dengan analisa dan kesimpulan!

b.    Buatlah rangkuman tentang pengetahuan yang baru setelah mengetahui kegiatan ini?

BAB. III

EVALUASI

    

A.  Pertanyaan

 

1.    Jelaskan pemakaian poros penggerak roda jenis semi floating dan jenis CV joint?

2.    Gambarkan dan sebutkan komponen-komponen dari poros penggerak roda jenis semi floating?

3.    Pada unit poros penggerak roda belakang pemeriksaan-pemeriksaan apa saja yang dilakukan?

4.    Gambarkan konstruksi dari CV joint dan sebutkan bagian-bagian utamanya?

B.  Kunci Jawaban

 

1.    Poros penggerak roda semi floating dipakai pada kendaraan bersuspensi rigid dan penggerak rodanya adalah roda belakang. Sedangkan CV joint biasanya dipakai pada kendaraan bersuspensi independent penggerak rodanya depan.

2.    Gambar poros penggerak roda jenis semi floating:

3.    Pemeriksaan yang dilakukan pada unit poros penggerak roda belakang semi floating adalah

a.    Bearing/bantalan roda.

b.    Oli seal.

c.    Poros roda meliputi perlengkungan, puntiran, keausan.

4.    Gambar konstruksi dari CV joint.

C.   Kriteria Kelulusan

Aspek

Skor (1-10)

Bobot

Nilai

Keterangan

Kognitif (soal no 1 s/d 4)

3

Syarat lulus, nilai minimal 70 dengan skor setiap aspek minimal 7

Ketelitian pemeriksaan pendahuluan

1

Ketepatan prosedur praktik

2

Ketepatan analisis hasil praktik

2

Ketepatan waktu

1

Keselamatan kerja

1

Nilai Akhir

Kriteria Kelulusan:

 

70 s.d 79  :   memenuhi kriteria minimal dengan bimbingan

80 s.d 89  :   memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan

90 s.d 100:   di atas minimal tanpa bimbingan

BAB. IV

PENUTUP

 

Setelah menyelesaikan modul ini diharapkan siswa mempunyai kemampuan dan ketrampilan mengenai perbaikan poros penggerak roda serta dapat melaksanakan tugas-tugas dalam modul ini.

Dengan menyelesaikan modul kompetensi dan melaksanakan tugas-tugas serta evaluasinya dengan kriteria yang telah ditentukan siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak lulus. Apabila siswa dinyatakan lulus maka siswa dapat melanjutkan modul berikutnya sesuai dengan peta kompetensi. Sedangkan siswa yang dinyatakan tidak lulus maka siswa harus mengulangi modul ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim (1994). Training Manual Drive Train Group, Jakarta: Penerbit PT. Toyota-Astra Motor.

Anonim (tt). Step 2 Materi Pelajaran Chassis Group, Jakarta: Penerbit PT. Toyota-Astra Motor.

Anonim (2003). N-Step Step 2 Chasis Training Materials Text, Jakarta: Penerbit PT. NISSAN.

Pemasangan, Pengujian dan Perbaikan Sistem Penerangan dan Wiring

                                       BAB. I

PENDAHULUAN

A.    DESKRIPSI

Pemasangan, pengujian dan perbaikan sistem penerangan dan wiring merupakan modul kompetensi yang berisi tentang materi jaringan kabel, saklar dan sistern penerangan.

Modul ini membahas tentang komponen kelistrikan yang terpasang pada body kendaraan (mobil) yang terdir dari tiga (3) kegiatan pemelajaran, yaitu:

Kegiatan 1:  berisi tentang pemasangan sistem penerangan dan wiring

Kegiatan 2:  berisi tentang pengujian sistem penerangan dan wiring

Kegiatan 3:  berisi tentang perbaikan sistem penerangan dan wiring

Dengan menguasai modul ini diharapkan Anda mampu menjelaskan prinsip pemasangan, pengujian dan perbaikan sistem penerangan dan wiring.

B.    PRASYARAT

Untuk menempuh kegiatan pemelajaran modul pemasangan, pengujian dan perbaikan sistem penerangan dan wiring Anda dipersyaratkan untuk mempelajari terlebih dahulu modul:

1.   Pengujian, pemeliharaan/servis dan penggantian battery Kode= OPKIR-50-001–B

2.   Perbaikan ringan pada rangkaian sistem kelistrikan Kode= OPKR- 50-002-B

C.    PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

 

1.   Petunjuk Bagi Peserta Diklat

Anda diharapkan mampu berperan aktif dan berinteraktif dengan sumber belajar yang digunakan oleh karena itu anda harus  melaksanakan hal-hal sebagai berikut:

a.     Langkah-langkah belajar yang ditempuh yaitu:

1)   Menyiapkan alat dan bahan

2)   Membaca dengan seksama uraian materi pada setiap kegiatan belajar

3)   Mencermati langkah-langkah kerja pada setiap kegiatan belajar dan apabila belum jelas benar ditanyakan pada instruktur

4)   Jangan menghubungkan alat/bahan ke sumber tegangan secara langsung sebelum disetujui oleh instruktur

5)   Mengembalikan semua peralatan yang digunakan pada tempat yang sudah disediakan

b.    MenyiapIkan perlengkapan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan sistem modul maka beberapa perangkat harus disiapkan supaya kegiatan proses belajar mengaiar berlangsung sesuai yang diharapkan oleh guru dan siswa.

2.   Petunjuk Bagi Guru

a.   Membantu siswa dalam merencanakan kegiatan belajar

b.   Membantu mempersiapkan kegiatan praktikum setelah melaksanakan kegiatan belajar

c.    Membantu siswa dalam mengkoordinasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.

d.   Membimbing siswa dengan tugas/kerja dan evaluasi setelah materi dijelaskan.

e.   Membantu siswa dalam memahami hasil evaluasi yang ditempuh dalam setiap kegiatan belajar.

f.    Membantu siswa supaya mampu mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan calambelajar

g.   Membantu siswa dalam menentukan perbedaan jenis-jenis penerapan dari hasil kegiatan belajar.

D.    TUJUAN AKHIR

Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini siswa diharapkan:

1.   Terampil memasang sistem penerangan dan wiring dengan baik.

2.   Menguji sistem penerangan dan wiring dengan baik.

3.   Memperbaiki sistem penerangan dan wiring dengan tepat.

E.    KOMPETENSI

 

Modul OPKR-50-007 B membentuk kompetensi memasang, menguji dan memperbaiki sistem penerangan dan wiring. Uraian kompetensi dan subkompetensi ini dijabarkan seperti di bawah ini.

KOMPETENSI                : Memasang, Menguji dan Memperbaiki Sistem Penerangan dan Wiring

KODE                           : OPKR-50-007B

DURASI PEMELAJARAN  : 60 Jam @ 45 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

1.  Memasang sistem penerangan dan wiring kelistrikan.

§ Pemasangan dilaksanakan tanpa menyebabkan keru-sakan terhadap komponen atau sistem lainnya.

§ Informasi yang benar di-akses dari spesifikasi pabrik dan dipahami.

§ Pemasangan/bahan yang sesuai.

§ Sistem kelistrikan dipasang dengan menggunakan per-alatan dan tehnik yang sesuai.

§ Seluruh kegiatan instalasi/ pemasangan dilaksanakan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K 3 (Kese-lamatan dan Kesehatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/ kebijakan perusa-haan.

§Wiring diagram sistem pene-rangan otomotif

§Prinsip kerja sistem pene-rangan

§Identifikasi kerusakan dan metoda perbaikan

§Standar prosedur keselamat-an kerja

§ Cermat dan teliti dalam penggunaan alat ukur elektronik

§  Cermat dan teliti dalam proses penyambungan kabel

§  Undang-undang K 3.

§  Pemahaman peratuan pemerintah.

§  Prosedur pemasangan

§  Cara kerja sistem kelistrikan dan komponen yang sesuai untuk penggunaan.

§  Prinsip-prinsip kelistrikan dan penerapan pada wiring/ penerangan.

§  Prosedur perbaikan sistem kelistrikan .

§  Memasang dan merangkai sistem penerangan dan wiring

§  Melaksanakan perbaikan sistem kelistrikan

2. Menguji sistem kelistrikan.

§ Sistem kelistrikan diuji tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem.

§ Informasi yang benar di-akses dari spesifikasi pabrik dan dipahami.

§ Tes/pengujian dilakukan untuk menentukan kesalah-an/kerusakan dengan menggunakan peralatan dan teknik yang sesuai.

§ Mengidentifikasi kesalahan dan menentukan tindakan perbaikan yang diperlukan.

§ Seluruh kegiatan pengujian dilaksanakan berdasarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K 3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/ kebijakan perusa-haan.

§ Prosedur pengujian sistem penerangan dan sistem kelistrikan

§ Prinsip kerja sistem penerangan

§ Identifikasi kerusakan dan metoda perbaikan

§ Standar prosedur keselamatan kerja

§ Cermat dan teliti dalam pengujian sistem kelistrikan §  Prinsip-prinsip kelistrikan dan penerapan pada wiring/ penerangan.

§  Memahami pengujian sistem kelistrikan

§ Melaksanakan pengujian sistem penerangan dan kelistrikan
3. Memperbaiki sistem kelistrikan

§ Sistem kelistrikan diperbaiki tanpa menyebabkan keru-sakan terhadap komponen atau sistem lainnya.

§ Informasi yang benar di-akses dari spesifikasi pabrik dan dipahami

§ Perbaikan yang perlu dilak-sanakan menggunakan per-alatan, teknik dan bahan yang sesuai.

§ Seluruh kegiatan perbaikan/ repair dilaksanakan berda-sarkan SOP (Standard Operation Procedures), undang-undang K3 (Kesela-matan dan kesehatan Kerja), peraturan perundang-undangan dan prosedur/ kebijakan perusahaan

§ Prosedur pemeriksaan sistem kelistrikan

§ Prosedur perbaikan sistem kelistrikan.

§ Standar prosedur keselamat-an kerja.

§ Cermat dan teliti dalam pemeriksaan dan per-baikan sistem kelistrikan

§ Semangat tinggi dan bekerja keras untuk mencapai hasil terbaik

§ Penggunaan alat ukur kelistrikan

§ Identifikasi kerusakan

§ Prosedur pemeriksaan keru-sakan sistem kelistrikan

§ Prosedur perbaikan sistem kelistrikan

§  Memeriksa kerusakan sistem kelistrikan

§  Memperbaiki sistem kelistrikan


F.    CEK KEMAMPUAN

 

Sebelum mempelajari modul OPKR-50-007B, isilah dengan cek list (Ö) kemampuan yang telah dimiliki siswa dengan sikap jujur dan dapat dipertanggung jawabkan :

Sub Kompetensi

Pernyataan

 Jawaban

Bila jawaban ‘Ya’, kerjakan 

Ya

Tidak

Pemasangan ,pengujian dan perbaikan sistem penerangan dan wiring 1. Saya mampu memasang sistem penerangan dan wiring Soal Tes Formatif 1
2. Saya mampu menguji sistem penerangan dan wiring Soal Tes Formatif 2
3. Saya mampu memperbaiki sistem penerangan dan wiring Soal Tes Formatif 3

Apabila siswa menjawab Tidak,  pelajari modul ini

BAB. II

PEMELAJARAN

A.    RENCANA BELAJAR SISWA

Rencanakan setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

1.  Memasang sistem penerangan dan wiring
2.  Menguji   sistem penerangan dan wiring
3.  Memperbaiki sistem penerangan dan wiring

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.    KEGIATAN BELAJAR

Kegiatan Belajar 1. Memasang Sistem Penerangan dan Wiring

 

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

 

Siswa diharapkan mampu mengetahui dan memasang sistem penerangan dan wiring.

b.   Uraian Materi  

 

Sistem penerangan (lighting sistem) sangat diperlukan untuk keselamatan pengendara dimalam hari. Sistem ini dinagi 2 sistem penerangan:

a.   Sistem penerangan luar dan

b.   Sistem penerangan dalam

Untuk jenis-jenis lampu yang terdapat dibagian luar dan dalam sebuah kendaraan adalah sebagai berikut:

1.    Lampu Besar

Sistem lampu besar merupakan lampu penerangan untuk menerangi jalan dibagian depan kendaraan. Pada umumnya lampu besar ini dilengkapi dengan lampu jauh dan lampu dekat (high beam dan low beam) dan dapat dihidupkan dari salah satu switch oleh dimmer switch.

a.    Tipe lampu besar

Ada 2 (dua) tiPe lampu besar yang digunakan Pada kendaraan, yaitu:

1)  Lampu Besar Tipe Sealed Beam

Di dalam lampu besar tipe sealed beam, penggunaan bola lampunya tidak terpisah, keseluruhan terpasang menjadi satu seperti bola lampu dan filament terpasang di depan kaca pemantul untuk menerangi kaca lensa.

2)  Lampu Besar Tipe Semisealed Beam

Perbedaan antara semisealed beam dan sealed beam ialah pada konstruksinya, dimana pada sernisealed beam bola lampunya dapat diganti dengan mudah sehingga tidak di perlukan penggantian secara keseluruhan bila bola lampunya putus atau terbakar. Lagi pula bila menggantinya dapat langsung diganti dengan cepat. Bola lampu besar semi sealed beam tersedia dalam tipe seperti berikut:

¡ Bola lampu biasa dan

¡ Bola lampu Quartz–halogen

Gambar 1.3  Bola Lampu Jenis Biasa dan Halogen

Cara memasang pada seat mengganti bole lampu Quartz Halogen:

Bola lampu quartz halogen lebih panas dibandingkan dengan bola lampu biasa saat digunakan, umur lampu ini akan lebih pendek bila oli atau gemuk menempel pada permukaannnya. Lagi pula garam dalam keringat manusia dapat menodai kacanya (quartz). Untuk mencegah ini peganglah bagian flange bila mengganti bola lampu untuk mencegah jari-jari menyentuh quartz.

Gambar 1.4  Cara memasang bola lampu

2.    Lampu-lampu lainnya

a.   Lampu Jarak dan Lampu Belakang

Lampu kecil untuk dalam kota ini memberi isyarat adanya serta lebarnya dari sebuah kendaraan pada malam hari bagi kendaraan lainnya, baik yang ada di depan maupun di belakang. Lampu-lampu tersebut untuk yang bagian depan disebut dengan lampu jarak (clearence light) dan yang dibagian belakang disebut dengan lampu belakang (tail light).

Gambar 1.5  Letak lampu jarak dan lampu belakang beserta saklarnya

b.   Lampu Rem

Lampu rem (brake light) dilengkapi pada bagian belakang kendaraan  sebagai isyarat untuk mencegah terjadinya benturan dengan kendaman di bedakang yang mengikuti seat kendaraan mengerem.

Gambar 1.6 lampu rem

c.    Lampu tanda belok (turn sighal light)

Lampu tanda belok yang dipasang di bagian ujung kendaman sepert! pada fender depan, untuk memberi isyarat pada kendaraan yang ada di depan, belakang dan sisi kendaman bahwa pengendara bermaksud untuk membelok atau pindah jalur. Lampu tanda belok mengedip secara tetap antara 60 sampai 120 kaii setiap menitnya.

Gambar 1.7 lampu tanda belok

d.   Lampu hazard (hazard warning light)

Lampu hazard digunakan untuk memberi isyarat keberadaan kendaman dari bagian depan, belakang dan kedua sisi selama berhenti atau parkir dalam keadaan darurat. Yang digunakan adalah lampu tanda belok, tapi seluruh lampu mengedip serempak.

Gambar 1.8 Lampu Hazard

e.   Lampu Plat Nomor

Lampu ini menerangi plat nomor bagian belakang. Lampu plat nomor menyala bila lampu belakang menyala.

Gambar 1.9 Lampu Plat Nomor

f.    Lampu Mundur

Lampu mundur (back up light) dipasang pada bagian belakang kendaraan untuk memberikan penerangan tambahan untuk melihat kebelakang kendaman saat mundur di malam hari, dan memberikan isyarat untuk kendaman yang mengikutinya bahwa pengendara bermaksud untuk mundur/sedang mundur. Lampu mundur akan menyala bila Luas transmisi diposisikan mundur dengan kunci kontak ON.

Gambar 1.10 Lampu Mundur

g.   Lampu Kabut

Lampu kabut digunakan pada saat cuaca berkabut, jalanan berdebu atau hujan !ebat.

Penggunaan lampu harus mengikuti aturan yang         berlaku yakni:

Pemasangan kedua lampu harus berjarak sama baik yang kanan dari titik tengah kendaran. Lampu kabut dihubungkan bersama-sama lampu jarak dekat (pada saklar dim). Lampu kabut.tidak dihidupkan bersama-sama dengan lampu jarak dan hanya dihidupkan bersama lampu kota. Lampu kabut boleh menggunakan lensa wama putih atau warna kuning.

Gambar 1.11 Rangkaian lampu kabut

Bila lampu kabut akan diaktifkan maka saklar larnpu kepala harus pada posisi lampu jarak dekat. Saat saklar lampu basket diaktifkan, anus listrik dari saklar lampu kepala akan mengalir ke relay melalui saklar lampu kabut. Dengan aktifnya relay maka arus listrik dari baterai akan mengalir ke lampu kabut melalui sekering dan relay.

h.   Lampu Ruangan

Lampu ruangan (dome light) menerangi interior ruangan penumpang yang dirancang agar tidak menyilaukan pengemudi pada malam hari. Umumnya lampu ruangan (interior) letaknya dibagian tengah ruang penumpang kendaraan untuk menerangi interior dengan merata. Lampu ini disatukan dengan switchnya yang mempunyai 3 (tiga) posisi yaitu: ON, DOOR dan OFF. (untuk memberi kemudahan keluar masuk pada malam hari, lampu ruangan dapat disetel hanya menyala bila salah satu pintunya dibuka. Ini dapat dilakukan dengan menyetel switch pada posisi DOOR.

Gambar 1.12  Lampu ruangan

i.     Lampu Instrumen Panel (lampu meter)

Lampu instrumen panel digunakan untuk menerangi meter-meter pada instrumen panel pada malam hari dan memungkinkan pengemudi membaca meter-meter dan gauge dengan mudah dan cepat pada saat mengemudi. Lampu instrumen panel akan menyala bila lampu belakang (tail light) menyala.

Ada beberapa model yang dilengkapi dengan lampu pengontrol rheostat yang memungkinkan pengendara mengontrol terangnya lampu-lampu pada instrumen panel.

£ Flasher tanda belok (Lampu sein)

Flasher tanda belok adalah suatu alat yang menyebabkan lampu belok mengedip secara interval. Turn signal flasher bekela pada prinsip yang bervariasi. Pada umumnya menggunakan tipe semi – transistor yang kompak, ringan dan dapat diandalkan. Dalam flasher tanda belok tipe semi-transistor, bila bola lampunya putus, maka mengedipnya mulai cepat dari yang normal, dan ini merupakan tanda kepada pengemudi untuk menggantinya.

£ Flasher Lampu hazard

Flasher lampu hazard pada prinsipnya mirip dengan flasher lampu sein. sebab ia juga menyebabkan lampu berkedip-kedip secara teratur. Dan biasanya disatukan dengan flasher lampu sein.

3.    Macam-macam Bola Lampu dan Titik Pengunci dalam Mengganti Bola Lampu

Tipe bola lampu bervariasi yang digunakan pada sebuah kendaraan, dapat dikiasifikasikan dalam beberapa cara. Pada modul kompetensi ini dijelaskan beberapa titik pengund pada saat mengganti bola lampu, yang dapat dikiasifikasikan berdasarkan bentuk base capnya yaitu:

a.    Bola lampu model single-end

Tipe bola lampu ini hanya mempunyai satu base cap yang juga sebagai penghubung ke massa.

Bola lampu singie-end selanjutnya diklasifikasikan ke dalam dua jenis sesuai dengan jumlah dari filament. Single filament pada bola lampu model single-end dan double filament pada bo!a lampu  single end.

Gambar 1.13  Jenis bola lampu single-end

Bola lampu dipasang pada socket dengan menempatkan pin pada base cap.

1)   Mengganti bola lampu:

tekan bola lampu kedepan socket untuk melepas pin base cap tidak mengunci pada tarikan socket, putar bola lampu tersebut dan tarik keiuar untuk melepasnya.

2)   Memasang bola lampu

Dalam rnemasang bola lampu yang baru urutannya adalah kebalikan dari cara melepasnya.

Gambar 1. 14. Mengganti bola lampu

Pin pada bola lampu double filament single-end letaknya tidak segaris (offset) dalam pengaturan tingginya. Hal ini Untuk mencegah kesalahan posisi pernasangan lampu.

b.   Bola lampu widge-base (socket gepeng).

Tipe bole lampu ini mempunyai satu filament dan filamennya berhubungan langsung dengan socket terminal.

Gambar 1.15 Bola lampu wigde-base

1)    Mengganti bola lampu

tarik bola lampu keluar dengan menggunakan jari tangan

2)    Memasang bola lampu

Dorong/tekan bola lampu pada lubang socket.

Gambar 1.16 Memasang dan melepas bola lampu

c.    Bola lampu dengan ujung ganda

Tipe bola lampu ini mempunyai satu filament dan dua base-cap. Seperti pada gambar berikut:

Gambar 1.17 Bola lampu dengan ujung ganda

1.    Memperbaiki/mengganti bola lampu:

Tekan salah satu den terminal socket dam untuk membuka tarik keluar bola lampu tersebut.

2.    Memasang bola lampu

Tempatkan salah satu ujungnya ke dalarn lubang kemudian dorong/tekan yang           lainnya sehingga kedua ujung masuk pada lubangnya masing-masing.

Gambar 1. 18. Cara memasang bola lampu

c.    Rangkuman

Dengan mempelajari lembar kegiatan 1 diharapkan siswa dapat menyebutkan jenis-jenis lampu penerangan,dan cara memasang  jenis-jenis lampu pada sistem penerangan dalam kendaraan.

d.   Tugas

1.    Pelajarilah uraian materi pada lembar kegiatan 1 tentang sistem penerangan, jenis-jenis lampu sistem penerangan dan cara memasangnya.

2.    Lakukan survey ke bengkel, pelajari dan perhatikan cara pemasangan sistem penerang. Buatlah laporan survey tersebut.

e.   Test Formatif

 

1.   Sebutkan macam-macam lampu pada sistem penerangan yang terdapat pada kendaraan!

2.   Berfungsi untuk apakah lampu jarak dan lampu belakang?

3.   Apakah fungs! lampu Hazard (Hazard Warning Light)?

4.   Bagaimana cara mengganti bola lampu widge-base (socked gepeng)

f.    Kunci Jawaban Test Formatif

 

1.    ~  Penerangan luar meliputi:

a.    Lampu besar

b.   Lampu belakang

c.    Lampu rem

d.   Lampu jarak

e.    Lampu tanda belok

f.     Lampu hazard

g.   Lampu plat nomer

h.   Lampu mundur

~  Penerangan dalam meliputi:

a.    Lampu meter

b.   Lampu ruangan

2.    Untuk memberi isyarat adanya serta lebarnya dari sebuah kendaraan pada malam hari.

3.    Untuk memberi isyarat keberadaan kendaraan dari bagian depan, belakang dan kedua sisi selama berhenti atau parkir dalam keadaan darurat.

4.    Tarik bola lampu keluar dengan menggunakan jari tangan dan pada saat memasang tekan bola lampu pada lubang socket.

g.   Lembar kerja

 

1.    Alat dan Bahan

a.    Peralatan pemeliharaan system kelistrikan

b.   Peralatan tangan, kunci pas/ring atau tang

c.    Tester

d.   Teslamp

e.    Kabel

f.     Bolam / lampu

g.   Stand Kelistrikan

h.   Sekering

i.     Relay

2.    Keselamatan Kerja

a.    Hati-hati pada saat merangkai komponen

b.   Letakkan alat dan bahan praktek pada tempat yang aman

c.    Jangan menyalakan rangkaian kelistrikan sebelum disetujui oleh instruktur/pembirnbing/guru praktek

d.   Berikan ventilasi yang cukup dalam ruang praktek

e.    Ruang praktek harus bersih dan tidak berdebu dan tidak bermiyak

f.     Ruang praktek harus terang

g.   Setelah melakukan kegiatan praktik, kembalikan alat dan bahan pada tempat yang sudah disediakan

3.    Langkah Kerja

a.    Persiapkan alat dan bahan praktikum secara cermat, efektif dan seefisien mungkin.

b.   Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh guru/ instruktur.

c.    Lakukan pengamatan terhadap seluruh rangkaian listrikan pada masing-masing sistem penerangan

d.   Operasikan rangkaian lampu sesuai prosedur pengoperasian (SOP)

e.    Setelah selesai, bereskan kembali peralatan dan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula.

4.    Tugas

a.    Buatlah laporan praktikum secara ringkas dan jelas.

b.   Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan berlajar 1.

Kegiatan Belajar 2. Menguji Sistem Penerangan dan Wiring

 

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

 

Setelah mempelajari kegiatan belajar 2 ini diharapkan siswa mampu menguji pada sistem penerangan yaitu mengenai pengujian komponen-komponen  sistem penerangan dan wiring.

b.   Uraian Materi 

 

Selain pemasangan komponen-komponen sistem penerangan yang tidak kalah pentingnya itu pengujian sistem penerangan. Komponen-komponen yang perlu kita periksa pada sistem penerangan dan wiring adalah:baterai, saklar utama, sekering, lampu-lampu, relay, wiring atau pengkabelan.

1.    Baterai

Baterai dapat kita periksa dengan baterai checker, sehingga kita dapat mengetahui kondisi baterai apakah masih baik atau sudah jelek. Jika hasilnya masih baik berarti masih dapat kita gunakan sedangkan apabila kondisinya kurang baik maka perlu ditambah air accu atau perlu dicharger.

2.    Saklar utama

Dengan menggunakan avometer kita dapat mengidentifikasi dan sekaligus memeriksa kondisi saklar utama.

Apabila kerja dari saklar utama sudah benar  maka tugas selanjutnya tinggal menyambungkan dengan komponen-komponen sistem penerangan yang lain. Apabila hubungan-hubungannya tidak baik maka perlu adanya perbaikan.

3.    Fuse

Fuse berfungsi untuk menyalurkan dan membatasi arus listrik yang mengalir pada sustui rangkaian dalam suatu sistem. Untuk itu fuse perlu diuji kondisinya apakah masih dapat digunakan ataukah harus diganti. Kita dapat menguji kodisi fuse secara visual, kalau tidak dapat dengan cara visual, kita dapat menggunakan alat yaitu  avometer. Apabila kita lihat filamen pada fuse terputus berarti kondisi fuse jelek. Apabila terlihat tidak putus maka kita perlu memastikannya dengan bantuan avometer. Apabila kita hubungkan kedua ujung fuse dengan Ohmmeter jarum menunjuk berarti kondisi fuse masih baik dan apabila jarum tidak menunjuk (pada posisi hambatan terbesar) berarti kondisi fuse jelek. Maka perlu diadakan penggantian.

4.   Lampu

Pengujian lampu apabila dalam kondisi terpasang tidak menyala, maka terlebih dahulu lampu kita lepas dari dudukannya. Kemudian kita gunakan ohmmeter untuk memeriksanya. Kita hubungkan kedua colok ohmmeter dengan kedua kaki filamen lampu. Apabila jarum menunjuk berarti lampu tidak putus dan kita periksa komponen yang lain. Apabila jarum tidak menunjuk berarti lampu putus, maka harus diganti.

5.   Relay

Sistem penerangan tidak bekerja sakah satu penyebab diantaranya adalah relay rusak. Kerusakan relay ini biasa disebabkan oleh lamanya pemakaian. Untuk selang yang menggunakan 4 kaki, terminal-terminal yang ada yaitu terminal 30,85,86,87. Cara pengujian relay kita dapat menggunakan ohmmeter dan baterai. Pertama kita hubungkan kedua colok ohmmeter dengan terminal 85 dan 86. Apabila jarum menunjuk berarti kumparan penghasil medan magnet tidak putus. Untuk memastikan kerja dari relay kita bisa menggunakan baterai. Terminal 30 dan 86 kita hubungkan dengan terminal (+) baterai dan terminal 85 kita hubungkan dengan (-) baterai sementara tes lamp kita hubungkan antara (-) baterai dengan terminal 87 relay, bila tes lamp menyala berarti relay dalam keadaan baik, Bila tidak menyala berarti relay harus diganti.

6.   Wiring (Pengkabelan)

Kerusakan pada wiring ini biasanya disebabkan karena keteledoran mekanik dan usia mobil. Pemasangan pengkabelan yang tidak rapi setelah proses perbaikan mesin ataupun body sering menjadi penyebab kesalahan ataupun kerusakan wiring. Apabila pemasangan tidak rapi maka kabel-kabel akan mudah tersentuh oleh pengguna ataupun alat pada saat proses perbaikan, hal ini akan berakibat kabel putus atau hubungan singkat. Karena usia mobil juga dapat menimbulkan kerusakan pada kabel-kabelnya. Sebagai contoh mobil yang sudah tua maka pada pengkabelannya akan timbul kerak-kerak putih dan bila sering terjadi tekukan-tekukan maka kabel akan cepat putus. Untuk itu perlu diadakan pengecekan dan pengujian pada wiring jika terjadi sistem penerangan tidak bekerja dengan baik. Untuk melakukan pengujian wiring maka kita memerlukan alat bantu Avometer. Untuk mengetahui putus tidaknya suatu kabel dan untuk melihat ada tidaknya tegangan pada suatu kabel. Cara memeriksa / menguji suatu kabel yaitu dengan jalan menghubungkan kedua colok ohmmeter dengan kedua ujung kabel. Bila ada hubungan (jarum bergerak) berarti kabel putus, maka perlu kita perbaiki.

Setelah kita memahami cara pengujian atau memeriksa kerja atau tidaknya masing-masing komponen di dalam sistem penerangan. Selanjutnya kita harus bisa menguji kerja keseluruhan sistem penerangan. Cara menguji sistem penerangan pada setiap mobil yang ada tidak sama persis, tetapi pada prinsipnya sama hanya letaknya yang berbeda. Caranya yaitu dengan mengoperasikan saklar utama sistem penerangan. Pada saat saklar utama sebelah kanan kita putar sekali maka lampu kota harus hidup, dan bila kita putar dua kali maka lampu kota dan lampu kepala harus hidup. Pada saat lampu kota hidup maka lampu-lampu yang lain yang harus hidup diantaranya lampu pada meter kombinasi, lampu plat nomer, lampu kota belakang. Kalau saklar sebelah kanan kita geser ke belakang maka lampu tanda belok sebelah kanan harus menyala dan bila digeser ke depan maka lampu tanda belok sebelah kiri menyala. Apabila digeser ke atas maka lampu jarak jauh akan menyala sesaat sesuai lampunya kita geser ke atas. Apabila kita geser ke bawah, walaupun kita lepas maka lampu kepala yang menyala adalah lampu jarak jauh. Untuk menghidupkan lampu hazard biasanya disebelah depan saklar utama dilengkapi saklar untuk lampu hazard. Untuk saklar yang sebelah kiri biasanya digunakan untuk wiper dan washer. Pada saat posisi kunci kontak ON dan posisi transmisi pada kecepatan mundur maka lampu mundur akan menyala. Begitu juga pada saat pedal rem diinjak maka lampu rem akan menyala. Untuk lampu ruangan dapat menyala pada saat pintu terbuka atau memang saklarnya dihidupkan oleh penumpang ataupun sopir. Jika yang terjadi tidak seperti di atas atau lampu-lampu ad yang tidak bekerja maka kita harus cek per komponen dan kita perbaiki.

c.    Rangkuman

 

Setelah mempelajari lembar kerja belajar 2 ini diharapkan siswa mengetahui cara menguji sistem penerangan dan wiring diantaranya adalah pengujian:

1.   Baterai

Baterai dapat kita uji dengan menggunakan baterai checker, apabila baik maka dapat kita gunakan lagi, apabila jelek maka harus kita perbaiki dengan cara diisi air aki atau dicharger.

2.   Saklar utama

Dengan menggunakan avometer kita dapat menguji saklar utama, jika kondisinya masih baik maka dapat kita gunakan, namun jika kondisinya jelek dapat kita perbaiki atau diganti.

3.   Fuse

Dengan bantuan avometer kita juga bisa menguji fuse. Apabila jarum ohmmeter bergerak maka fuse baik.

4.   Lampu

Dengan menggunakan ohmmeter kita dapat memeriksa apakah lampu putus atau baik.

5.   Relay

Untuk mengecek relay kita perlu baterai dan teslamp, jika kondisi masih  baik maka bisa kita gunakan, tetapi kalau jelek harus kita ganti.

6.   Wiring (Pengkabelan)

Untuk memeriksa wiring kita bisa menggunakan ohmmeter ataupun teslamp. Dengan alat itu kita dapat mengetahui apakah kondisi pengkabelan baik atau tidak.

d.   Tugas

1.   Pelajarilah uraian materi kegiatan belajar 2

2.   Untuk rnemperdalam pengetahuan tentang pegujian sistem penerangan dan wiring, harus lebih banyak berlatih dan mempelajari sistem penerangan dan wiring pada bermacam–macam kendaraan.

e.   Tes Formatif                                                                           

1.   Jelaskan cara memeriksa lampu!

2.   Jelaskan cara memeriksa wiring!

f.    Kunci Jawaban Tes Formatif

1.    Kita hubungkan kedua colok ohmmeter dengan kedua kaki filamen lampu. Apabila jarum menunjuk berarti lampu tidak putus dan kita periksa komponen yang lain. Apabila jarum tidak menunjuk berarti lampu putus.

2.    Cara memeriksa/menguji suatu kabel yaitu dengan jalan menghubungkan kedua colok ohmmeter dengan kedua ujung kabel. Bila ada hubungan (jarum bergerak) berarti kabel putus

g.   Lembar kerja 2

a.   Alat dan Bahan

a.     Peralatan pemeliharaan system kelistrikan

b.     Peralatan tangan, kunci pas/ring atau tang

c.     Tester

d.     Teslamp

e.     Kabel

f.     Bolam/lampu

g.     Stand Kelistrikan

h.     Sekering

i.     Relay

b.   Keselamatan Kerja

a.     Hati-hati pada saat merangkai komponen

b.     Letakkan alat dan bahan praktek pada tempat yang aman

c.     Jangan menyalakan rangkaian kelistrikan sebelum disetujui oleh instruktur/pembirnbing/guru praktek

d.     Berikan ventilasi yang cukup dalam ruang praktek

e.     Ruang praktek harus bersih dan tidak berdebu dan tidak berminyak

f.      Ruang praktek harus terang

g.     Setelah melakukan kegiatan praktek, kembalikan alat dan bahan pada tempat yang sudah disediakan

c.    Langkah Kerja

a.     Persiapkan alat dan bahan praktikum secara cermat, efektif dan seefisien mungkin.

b.     Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh guru/ instruktur.

c.     Lakukan pengamatan terhadap seluruh rangkaian listrikan pada masing-masing sistem penerangan

d.     Operasikan rangkaian lampu sesuai prosedur pengoperasian (SOP)

e.     Setelah selesai, bereskan kembali peralatan dan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula.

d.  Tugas

a.     Buatlah laporan praktikum secara ringkas dan jelas.

b.     Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan berlajar 2.

Kegiatan Belajar 3. Memperbaiki Sistem Penerangan dan Wiring

a.   Tujuan Kegiatan Belajar

 

Diharapkan siswa mempunyai ketrampilan dalam melakukan  perbaikan sistem penerangan dan wiring setiap gangguan-gangguan yang ada dalam kendaraan.

b.   Uraian Materi

 

Dalam melakukan perbaikan sistem penerangan dan wiring harus mengetahui sirkuit/diagram atau jaringan-jaringan kabel kelistrikannya, sehingga untuk melakukan perbaikan adanya gangguan-gangguan pada sistem penerangan dengan mudah dapat ditelusuri.

Adapun gangguan-gangguan pada sistem penerangan biasanya dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:

1.   Lampu tidak menyala

2.   Lampu menyala tidak terang

3.   Lampu menyala terang apabila mesin berputar cepat, dan tidak terang waktu mesin berputar lambat.

Gangguan-gangguan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal. Adapun bagaimana cara menguji dan mencari gangguan tersebut akan dijelaskan dalam uraian ini.

1.   Lampu Tidak menyala

Peristiwa ini dapat terjadi pada sernua lampu atau sebagian saja. Tidak menyalanya lampu dapat disebabkan oleh:

Ø  Putusnya filamen dari lampu tersebut

Ø  Tidak adanya aliran arus

a.     Semua lampu tidak menyala

Apabila semua lampu tidak menyala, maka kemungkinan besar yang dapat terjadi adalah tidak adanya aliran arus pada sakelar lampu (gambar 3.1). Untuk itu, maka lakukanlah hal-hal sebagai berikut:

1)   Periksalah sekering yang menghubungkan saklar lampu dengan baterai

a)    Apabila sekering putus, maka gantilah sekering. Hidupkan lampu-tampu. Kalau sekarang lampu menyala, berarti gangguan disebabkan oleh sakering yang putus

b)    Apabila sekering tidak putus, maka periksalah terminal sekering yang menuju ke lampu tester (gambar 3.2) kalau lampu tester tidak menyala berarti hubungan sekering ke bated lewat ammeter putus. Untuk itu, periksalah sambungannya dari kemungkinan kendor atau terlepas. Kemudlan keraskan dan betulkan.

Gambar 3.1 Instalasi penerangan pada mobil

Keterangan Gambar:

1. Lampu kepala      8. Lampu indikator jarah jauh

2. Lampu parkir       9. Ammeter

3. Regulator            10. Lampu dashboard

4. Baterai               11. Sakelar fampu

5. Kotak sekering    12. Lampu belakang den lampu parkir

6. Motor starter      13. Lampu plat nomer

7. Sakelar dim

c)     Apabila temyata pada terminal sekering ke baterai ada aliran listrik, maka selanjutnya periksa terminal sekering yang menuju ke sakelar lampu dengan menggunakan lampu tester. Apabila ternyata pada terminal tersebut tidak ada aliran, berarti kedudukan sekering kendor atau jepitannya berkarat. Untuk ini keraskan duduknya sekering dan bersihkan kotoran atau karat yang ada, hingga terminal dapat mengeluarkan arus listrik. Sekarang hidupkan lampu, apabila lampu menyala, berarti gangguan disebabkan oleh duduknya sekering tadi.

Gambar 3.2  Teslamp ( lampu tester )

2)   Periksalah terminal B pada sakelar lampu dengan menggunakan lampu tester

a)    Kalau lampu tester tidak menyala, berarti ada kebocoran atau hubungan putus di antara kotak sekering dengan sakelar lampu. Periksa hubungannya dari kemungkinan kendor berkarat, hubungan terbuka dan hubungan singkat. Jika demikian, maka perbaiki terlebih dahulu.

b)    Kalau lampu tester menyala, berarti pada terminal tersebut terdapat aliran arus. Selanjutnya hidupkan lampu. Bila lampu-lampu tetap tidak menyala, maka perbaiki atau ganti sakelar lampu.

b.     Lampu Besar Tidak Menyala

Kalau semua lampu besar tidak menyala, berarti tidak ada aliran arus pada sakelar dim. Untuk menentukan di manakah letak gangguan, maka lakukanlah pemeriksaan sebagai berikut:

1)   Hidupkan lampu parkir

a)    Kalau lampu parkir tidak menyala, berati gangguan terletak di antara baterai dengan sakelar lampu.

b)    Kalau lampu parkir menyala, berarti gangguan terletak di antara sakelar lampu dan sakelar lampu dan sakelar dim. Maka lanjutkan pemeriksaan.

2)   Periksa terminal L pada sakelar lampu yang menghubungkan sakelar dalam dengan sakelar lampu

Sakelar harus dalam posisi hidup dan hubungkan terminal tersebut dengan masa melalui lampu tester.

a)    Apabila lampu tester ticak menyala, berarti tidak ada aliran listrik. Maka bongkar dan perbaiki sakelar lampu atau ganti dengan sakelar baru.

b)    Apabila lampu tester menyala, maka lanjutkan dengan pemeriksaan sakelar dim.

3)   Periksa terminal L yang  masuk sakelar dim dengan menggunakan lampu tester

a)    Kalau lampu tester tidak menyala, berarti ada hubungan terbuka atau hubungan singkat di antara sakelar lampu dan sakelar dim. Periksa hubungannya dan kemungkinan putus, kendor, berkarat atau hubungan singkat. Jika demikian,  maka lakukanlah perbaikan.

b)    Kalau lampu tester menyala, berarti ada arus masuk. Selanjutnya periksa terminal ke lampu-lampu dengan menggunakan lampu tester. Apabila pada terminal tersebut tidak keluar arus, berarti sakelar dim rusak. Selanjutnya bongkar dan perbaiki atau ganti dengan yang baru. Apabila dari terminal keluar arus, maka periksa dan perbaiki hubungan antara sakelar dim dan lampu, hingga lampu menyala.

c.     Sebuah Lampu Tidak Menyala

Kalau sebuah lampu tidak menyala, maka kemungkinannya adalah putusnya hubungan antara lampu dengan sakelar dim. Untuk ini lakukan pemeriksaan sebagal berikut:

1)   Periksa bola lampu

a)    Kalau bola lampu putus, maka ganti dengan lampu yang baru.

b)    Kalau bola lampu tidak putus, maka periksa hubungan masa pada dudukan lampu dari kemungkinan longgar dan berkarat. Jika demikian, maka perbaiki terlebih dahulu, hingga hubungan masa lampu baik. Kalau sekarang lampu menyala, berarti gangguan terletak pada masa lampu tadi. Kalau lampu masih belum menyala, maka lanjutkan dengan pemeriksaan.

2)   Periksa hubungan antara lampu

Periksa hubungan antara lampu dengan sakelar dim, dari kemungkinan putus, sambungan kendor atau hubungan singkat. Jika demikian, maka perbaiki sambungan atau ganti kabel hingga lampu menyala.

Gb. 3.3.  (a) Rangkaian sistem lampu besar dengan relay

(b) Rangkaian sistem lampu besar tanpa relay

2.    Lampu Menyala Tidak Terang

a.    Semua Lampu Menyala Tidak Terang

Kalau semua lampu menyala tidak terang, berarti arus yang mengalir kelampu-lampu adalah kecil. Maka lakukanlah pemeriksaan sebagai berikut:

1)    Periksa lampu tanda pengisian atau jarum ammeter pada dashbord

a)   Kalau lampu tanda pengisian atau ammeter menunjukkan tidak ada pengisian (discharge), berarti tidak terangnya nyala lampu disebabkan oleh pemakaian arus yang tidak seimbang terhadap kapasitas sumber arus. Untuk ini, maka kurangi pemakaian alat-alat listrik atau percepat putaran mesin.

Apabila dengan mengurangi pemakaian alat atau penambahan putaran mesin, masih belum ada pengisian, maka perbaiki sistem pengisian terlebih dahulu, hingga terjadi pengisian.

b)   Kalau lampu tanda pengisian atau jarum ammeter menunjukkan adanya pengisian, maka gangguan terdapat pada sistem penerangan. Untuk ini, maka lanjutkan pemeriksaan pada sistem penerangan.

2)    Lepaskan semua bola lampu, memeriksa duduknya bola lampu dari kemungkinan kendor dan berkarat.

Jika ternyata demikian, maka perbaiki dudukannya bola lampu hingga baik hubungan masanya.

3)    Periksa dari kemungkinan terjadi hubungan singkat sebagai berikut:

a)   Setelah semua bola lampu terlepas, tempatnya sakelar lampu pada OFF. Periksa hubungan kabel lampu dengan masa dengan menggunakan ohmmeter atau multitester. Apabila jarum tester bergerak ke kanan, berarti terdapat hubungan pendek dan bila jarum tester, tidak bergerak, berarti tidak terdapat hubungan singkat.

b)   Apabila semua lampu menyala tidak terang, maka hubungan singkat terjadi antara sekering dengan ammeter.

c)   Apabila tidak terdapat hubungan pendek, maka periksa sambungan-sambungan. Bersihkan dan keraskan sambungan yang kotor dan longgar.

d)   Periksa pula sakelar lampu dan sakelar dim dari aus dan kotor. Perbaiki dan bersihkan kausan dan kotoran karena dapat menjadi hambatan yang besar.

b.    Salah satu lampu menyala tidak terang

Apabila terjadi keadaan seperti ini, maka lakukanlah pemeriksaan sebagai berikut:

1)   Periksa duduknya bola lampu dari kemungkinan kendor dan berkarat

Bila demikian, kokohkan duduknya bola lampu dan bersihkan karatnya. Apabila sekarang lampu menyala terang, berarti gangguan pada dudukan bola lampu tadi.

2)   Apabila dengan demikian nyala lampu masih tidak terang, maka periksalah hubungan kabel lampu tersebut yang menuju ke sakelarnya.

Keraskan hubungan yang longgar, bersihkan karat dan kotoran yang menempel pada sambungan. Bila dengan demikian lampu masih menyala tidak terang, maka periksalah kabel dan kemungkinan hampir putus. Gantilah kabel yang hampir putus, supaya lampu menyala terang kembali.

3.    Lampu menyala terang apabila mesin berputar cepat dan tidak terang apablia mesin berputar lambat

Pada peristiwa ini, besarnya aliran listirik pada lampu-lampu tergantung putaran mesin. Makin cepat putaran, makin besar arus yang mengalir ke alat-alat, dan sebaliknya. Jadi tidak stabil, berarti alat penyetabil arus yaitu baterai tidak bekerja. Baterai tidak dapat menampung kelebihan arus dari sistem pengisian dan tidak dapat menambah kekurangan arus ke alat-alat, sewaktu sistem pengisian menghasiikan arus kecil.

Untuk itu, maka periksa elektrolit dalam baterai. Kalau elektrolitnya habis, maka tambah accu. Kalau Jumlah elektrolit cukup, tetapi nyala lampu tidak terang, menandakan baterai tidak dapat menyimpan arus lagi. Pada sel-seinya sudah terjadi hubungan singkat. Oleh karenanya ganti baterai.

4.    Lampu-lampu lekas putus

Apabila terjadi umur lampu yang pendek, rnenandakan bahwa kekuatan lampu berada jauh di bawah kekuatan sumber arus. Jadi tegangan arus terlalu tinggi. Untuk ini, maka periksa regulator tegangannya, dan setelah hingga tegangan listrik pengeluaran dinamo/alternartor tidak lebih dari 14,8 volt. Kalau dengan menyetel regulator tegangan, tidak diperoleh penurunan tegangan, maka periksa dinamo/alternator.

Menguji dan memperbaiki lampu tanda belok (lampu sein)

Sistem lampu tanda belok, mempunyai komponen-komponen yang tersusun seperti pada, gambar berikut:

Gambar 3.4 Rangkaian sistem lampu tanda belok

1. Baterai                  6. Sakelar lampu tanda belok

2. Kunci kontak          7. Lampu tanda belok kanan depan

3. Kotak sekering       8. Lampu tanda belok kirl depan

4. Flaser                    9. Lampu tanda belok kanan belakang

5. Lampu indikator     10. Lampu tanda belok kiri belakang

Dalam kerjanya sistem ini dapat mengalami berbagai gangguan yang disebabkan oleh beberapa hal yaitu:

1.   Adanya kerusakan pada bagian-bagian sistem pada rangkaian tersebut, misalnya sekering putus, flaser rusak, saklar/switch rusak atau bola lampunya putus dan sebagainya.

2.   Adanya tahanan yang terialu tinggi, hal ini bisa terjadi pada jaringan kabel, sambungan berkarat atau connectornya juga mungkin berkarat dan longgar.

3.   Tegangan, listrik yang terlalu rendah.

Hal-hal tersebut dapat langsung kita saksikan dengan panca indera kita seperti:

a.    Lampu tidak menyala

b.   Lampu tidak berkedip.

Untuk mengatasi gangguan tersebut dengan cara yang mudah, perlu kita tinjau gangguan tersebut satu persatu terlebih dahulu dan juga harus mengetahui sirkuit atau diagram dari lampu tanda belok (lampu sein) itu sendiri. Sirkuit / diagram dari lampu tanda belok dapat dlihat pada gambar berikut:

Gambar 3.5 Rangkaian diagram lampu belok

1.   Gangguan pada bagian-bagian sistem lampu belok

a.    Menguji kunci kontak

Dalarn hal ini kunci kontak berfungsi sebagai penghubung antara batere dengan sekering untuk komponen pada rangkaian kelistrikan. Gangguan yang terjadi adalah kunci kontak tidak dapat menghubungkan arus dengan baik. Dari hal tersebut dapat menyebabkan:

1)    Adanya sambungan yang longgar antara kabel penyalur dengan terminal kunci kontak.

2)    Adanya kerusakan pada kunci kontak itu sendiri, misainya telah mengalami keausan yang banyak.

Sambungan yang kendor dapat langsung kita periksa dengan mudah menggunakan tangan. Kalau ternyata kendor maka perbaikan yang harus diiakukan yaitu dengan mengeraskan sekrup-sekrupnya.

Untuk kerusakan pada kunci itu sendiri tidak dapat diperiksa dengan panca indra namun harus menggunakan sebuah multitester atau Ohmeter. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur besarnya tahanan antara terminal B (AM) dengan, terminal St kunci kontak dalam keadaan starter den netral. Dalarn keadaan starter, tahanannya harus nol. Dan dalam keadaan netral, tahanan kedua terminal haruslah tak terhingga.

Gangguan-gangguan yang terjadi dalam kunci kontak maupun pada kunci sambungan selain kendor sebagian besar disebabkan oleh adanya karatan. Dengan membersihkan karat gangguan akan teratasi.

Gb. 3.6. (a) Mengukur tahanan kunci kontak sewaktu kunci     kontak dalam keadaan netral

(b) Mengukur tahanan kunci kontak sewaktu kunci kontak dalam keadaan starter.

b.   Gangguan Pada Sekering

Hal-hal pada sekering yang dapat merupakan gangguan ialah sekering putus, dudukannya sekering kurang kuat dan dudukan yang berkarat. Keadaan ini dapat mengakibatkan hal-hal sebagai berikut:

1)    Tidak mengalirkan arus listrik dari baterai ke alat-alat bantu listrik.

2)    Tegangan listrik yang bekerja pada alat-alat bantu menjadi terlalu rendah.

Apabila terjadi hal yang demikian, berarti alat-alat bantu tidak dapat bekerja dengan sempurna. Untuk itu, maka sekering yang putus harus segera diganti, dudukan yang longgar dan berkarat harus segora di kokohkan dan dibersihkan.

c.    Gangguan pada flaser

Kalau kita khat konstruksinya, maka flaser ada tiga macam yaitu:

  • Flaser Induksi
  • flaser bimetal
  • Flaser kawat pijar

Gambar 3.7 Tiga macam flaser

1)   Flaser Induksi

Ketiga jenis flaser tersebut, sama-sama mempunyai kontak platina. Pada jenis a dan b lampu indikator dihubungkan dengan sakelar tanda belok. Tetapi pada jenis c lampu indikator dihubungkan dengan flaser.

Kerusakan yang biasa terjadi ialah kumparan K atau K1 dan K2 terbakar maka medan magnet yang terjadi adalah kecil, sehingga tidak kuat untuk menarik kontak platina membuka. Akibatnya lampu tanda belok menyala terang tanpa berkedip. Apabila kumparan K2 terbakar, maka sewaktu kontak platina membuka, pada kumparan K2 tidak terjadi medan magnet yang berlawanan dengan medan K1, sehingga kontak platina agak lambat untuk membuka kembali. Akibatnya lampu berkedip pelan-pelan. Apabila kontak platina kotor, maka arus yang mengalir melalui kumparan K1 ke lampu-lampu menjadi kecil. Medan magnet yang kecil, membuka dan menutupnya kontak platina lambat, nyala lampu tidak terang, lampu berkedip pelan-pelan.

Pada flaser kawat pijar, bila kumparan K terbakar, maka tidak dapat timbul medan magnet lagi, sehingga kontak platina tidak menutup. Akibatnya lampu menyala tidak berkedip. Bila resistor R atau kawat pijar KP putus, maka flaser tidak dapat mengalirkan arus lagi. Lampu tanda belok tidak bekerja.

d.   Gangguan pada sakelar tanda belok

Kadang-kadang lampu tanda belok tidak dapat bekerja karena kerusakan pada sakelarnya. Hal ini dapat terjadi karena plat-plat kontak di dalam sakelar sudah aus, sehingga tidak dapat menempel dengan baik dan tidak dapat menghantarkan arus. Atau kadang-kadang disebabkan oleh karat/kotoran yang menempel pada plat kontak. Untuk kedua hai tersebut di atas, maka sakelar harus diganti atau dibersihkan.

e.    Gangguan pada lampu

Hal-hal pada lampu tanda belok yang dapat merupakan gangguan ialah:

  • Putusnya filamen lampu
  • Hubungan masa yang kurang bak

Apabila filamen lampu putus, maka    lampu itu sendiri tidak menyala, juga menyebabkan pasangan lampu yang searah tidak berkedip, karena arus yang mengalir pada flaser menjadi kecil.

Sedang hubungan masa yang kurang baik, akan menyebabkan kecilnya aliran arus, sehingga lampu menyala tidak terang dan tidak berkedip, adanya  hubungan masa yang tidak baik, dapat disebabkan oleh adanya karat atau duduknya lampu yang kurang kuat.

2.   Gangguan Arus

Apabila tegangan listrik yang  bekerja pada sstem lampu tanda belok rendah. Akibatnya lampu tidak, dapat bekerja dengan baik. Arus yang mengalir rendah pula. Lampu-lampu, menyala tidak terang dan tidak berkedip. Rendahnya tegangan ini disebabkan oleh dua faktor yaitu:

§  Sistem pengisian tidak bekerja.

§  Adanya tahanan yang besar pada sistem.

Selanjutnya tegangan, yang besar dapat disebabkan oleh tiga faktor yaitu:

  • Sambungan yang berkarat atau kotor.
  • Sambungan yang kurang sempurna.
  • Kabel hampir putus.

Apabila pada sambungan-sambungan, terdapat hal yang demikian, maka harus segera diperbaiki karena dapat menimbulkan kerugian tegangan yang besar, sehingga tegangan yang bekerja pada sistem lampu tanda belok menjadi kecil.

3.   Cara Menentukan Gangguan.

a.    Semua lampu tidak menyala

Kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan semua lampu tidak menyala ialah:

  • Kunci kontak rusak
  • Sekering putus atau kendor
  • Flaser rusak

Untuk ini, maka lakukanlah pemeriksaan sebagai berikut:

1)    Periksa sekering dari kemungkinan putus, duduk nya kendor dan berkarat.

a)   Apabila sekering putus, maka ganti sekering. Kemudian hidupkan lampu tanda belok. Bila lampu menyala berkedip, berarti kerusakan disebabkan oleh sekering. Apabila lampu tidak menyala, maka periksa terminal arus masuk, dan keluar sekering dari ada tidaknya aliran arus.

b)   Kalau pada terminal arus masuk sekering, tidak ada aliran listrik, berarti gangguan ada pada kunci kontak. Untuk ini, periksa sambungan kabel-kabel pada terminal AM dan ACC dari kemungkinan terlepas, kendor atau berkarat dan jika demikian maka perbaikilah. Kemudian periksa hubungan terminal AM-ACC kunci kontak dengan menggunakan lampu tester atau multitester. Dalam keadaan ON kedua terminal harus berhubungan dan dalam keadaan OFF harus tidak berhubungan. Kalau ternyata kunci kontak rusak, maka gantilah dengan kunci kontak yang baik. Kemudian hidupkan lampu-lampu tanda belok. Bila lampu-lampu menyala, berarti gangguan ada pada kunci kontak.

c)    Apabila pada terminal keluar sekering terdapat tegangan, tetapi lampu tidak menyala, berarti gangguan terletak pada flaser. Selanjutnya periksa sambungan-sambundan pada terminal flaser, dari kemungkinan lepas, kendor dan berkarat. Perbaiki jika ternyata demikian. Hidupkan lampu-lampu. Bila sekarang lampu-lampu menyala, berartl gangguan disebabkan oleh sambungan yang tidak baik. Bila lampu tetap tidak menyala, maka periksa hubungan terminal B dan L dari flaser dengan menggunakan multitester atau lampu tester. Bila lampu tester menyala, berarti ganguan terletak pada sakelar tanda belok. Bila lampu tester tidak menyala berarti gangguan pada flaser. Unituk ini gantilah fiaser.

2)    Periksa sambungan-sambungan pada terminal sakelar dari kemungkinan lepas, kendor dan berkarat.

Bila temyata demikian, perbaikilah. Bila setelah diperbaiki lampu menyala, berarti gangguan terletak pada sambungan. Tetapi bila sambungan baik dan lampu tetap tidak menyala, berarti sakelar rusak. Untuk ini, maka perbaiki atau ganti sakelar.

b.    Lampu sebelah tidak menyala

Apabila semua lampu sebelah tidak  menyala, maka kemungkinan besar gangguan terletak pada sakelar. Untulk ini, maka perbaiki atau.ganti sakelar.

c.    Sebuah lampu tidak menyala

Kejadian ini biasanya disebabkan oleh gangguan di dalarn lampu itu sendiri. Untuk ini, maka periksa bola lampu dari kemungkinan putus dan hubungan masanya yang tidak baik. Untuk ini, gantilah bola lampu yang putus dan perbaiki hubungan masa yang kurang baik, sehingga lampu menyala dan berkedip kembali dengan baik.

d.    Semua lampu menyala tidak berkedip

Kejadian ini dapat disebabkan oleh dua hal yaitu:

      • Tegangan masuk flaser rendah
      • Kerusakan di dalam flaser

Tegangen masuk flaser yang rendah dapat disebabkan oleh sambungan kendor dan berkarat, serta kunci kontak yang kurang baik. Untuk ini, maka perbaiki sambungan pada terminal AM dan ACC pada kunci kontak serta terminal B den L pada flaser. Bila sambungan-sambungan ternyata baik dan lampu-lampu masih tidak berkedip, maka untuk menyakinkan penyebab gangguannya, hubungan terminal B flaser langsung dengan baterai yang isi penuh. Hidupkan lampu-lampu. Bila lampu tanda belok menyala dan berkedip, berarti kerusakan ada pada kunci kontak. Bila lampu tanda belok tetap menyala tidak berkedip, berarti ganggguan di dalam flaser.

e.    Lampu sebelah menyala tidak berkedip

Apabila lampu sebelah menyala tidak berkedip, sedang lampu sebelah yang lain menyala dengan berkedip baik, maka gangguan dapat dipastikan ada pada sakelar tanda belok atau pada lampu-lampu itu sendiri.

Untuk ini, maka pertarna periksalah hubungan masa dari lampu-lampu terhadap kemungkinan kendor atau berkarat. Keraskan duduknya masa. Bila lampu-lampu sekarang menyala dan berkedip, berarti gangguan disebabkan oleh hubungan mesa yang kurang balk. Bila lampu-1ampu tidak berkedip, maka periksa kapasitas (watt) dari lampu-lampu tersebut, ada kemungkinan lebih kecil dari kapasitas yang telah ditentukan oleh flasernya. Gantilah bola lampu yang ternyata kapasitasnya lebih kecil dengan bola lampu yang sesuai besar kapasitasnya.

Bila hal-hal tersebut, di atas ternyata baik, lampu-lampu tetap tidak berkedip, maka gangguan ada  pada sakelar. Untuk memastikan rusak atau tidaknya sakelar, maka hubungkan langsung kabel masuk sakelar dengan kabel yang menuju ke lampu-lampu yang tidak berkedip. Bila sekarang lampu-lampu berkedip, berarti sakelar rusak. Untuk ini gantilah sakelar.

Gambar 3.8 Skema lampu flaser

Berikut tabel perbaikan untuk, mengatasi gangguan pada sistem penerangan dalam kendaraan

GANGGUAN

KEMUNGKINAN SEBAB

CARA MENGATASI

Hanya satu lampu tidak menyala (lampu luar) Bola lampu putus, soket rangkaian kabel atau masa rusak Ganti bola lampu Perbaiki seperlunya
Lampu besar tidak me-nyala Sekreing ”HEAW” putus

Relay kontrol lampu besar, rusak,

Swit kontrol lampu besar,rusak

Rangkaian kabel atau masa, rusak

Ganti sekring dan periksa

Hubungan singkat Periksa relay

Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Lampu besar jauh atau kilatan lampu besar tidak menyala Swit kontrol lampu rusak Rangkaian kabel, rusak Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Lampu belakang lampu parkir dan lampu plat nomor tidak menyala Sekering “TAIL”putus Relay kontrol lampu kecil rusak

Swit kontrol lampu, rusak

Rangkaian kabel atau masa, rusak

Ganti sekering dan periksa hubungan singkat

Periksa relay

Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Lampu rem tidak menyala Sekering “STOP” putus Swit lampu rem, rusak. Rangkaian kabel atau masa, rusak Ganti sekring dan periksa

hubungan singkat

Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Lampu rem tetap rnenyala Swit lampu rem, rusak Setel atau ganti swit
Lampu instrumen tidak menyala (lampu belakang menyala) Rangkaian kabel atau masa rusak Perbaiki seperlunya
Salah satu arah (lampu tanda belok tidak berkedip) Swit lampu tanda belok, rusak

Rangkaian kabel atau masa, putus

Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Lampu tanda belok tidak bekerja Sekering “ENGINE” putus

Flasher, rusak

Swit lampu tanda belok, rusak

Rangkaian kabel atau masa, rusak

Ganti sekring dan periksa

hubungan singkat

Periksa flasher

Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Lampu peringatan darurat tidak bekerja Sekering “Hazard” putus

Swit lampu peringatan darurat rusak, Flasher, rusak

Rangkalan kabel atau masa, rusak

Ganti sekering dan periksa

hubungan singkat

Periksa flasher

Periksa swit

Perbaiki seperlunya

Tabel 3.1 Gangguan dan perbaikan pada sistem penerangan

c.    Rangkuman

Pada dasarnya dalam perbaikan suatu komponen pada sistem penerangan diperlukan pengetahuan tentang jaringan. kabel (sirkuit.) diagram dari rangkaian dan juga sirkuit diagram komponen itu sendiri, sehingga dengan model kompetensi ini diharapkan mampu melakukan perbaikan dengan melakukan pemeriksaan dan pengujian dari masing-masing kamponennya. Maka dengan dasar tersebut mampu melakukan perbaikan sistem penerangan dan wiring itu sendiri.

d.   Tugas

1.    Analisa dan telusuri jaringan kabel pada mobil/kendaraan yang ada dalann ruangan praktikum (stand penerangan)

2.    Buatlah dalam bentuk gambar diagram pada kertas A4 setelah mengetahui hasil pengamatan jaringan kabel dari (stand penerangan)

e.   Test Formatif

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan tepat!

1.    Sebutkan 3 gangguan pada sistem penerangan yang  biasanya sering terjadi!

2.    Sebutkan 2 cara pengujian apabila semua lampu tidak menyala!

3.    Bagaimana cara memeriksa apabila sebuah lampu besar tidak menyala?

4.    Apakah yang menyebabkan lampu hanya menyala terang apabila mesin berputar dengan cepat dan lampu tidak menyala terang apabila mesin berputar lambat?

5.    Jelaskan apa saja yang menyebabkan lampu tanda  belok mengalami gangguan!

f.    Kunci Jawaban Test Formatif

1.   3 gangguan pada sistem penerangan yang biasanya terjadi:

a.     Hanya satu lampu tidak menyala (lampu luar)

b.     Lampu besar tidak menyala

c.     Lampu rem tidak menyala

2.   2 cara pengujian apabila semua lampu tidak menyala:

a.     Periksa sekering dari kemungkinan putus, duduk nya kendor dan berkarat.

b.     Periksa sambungan-sambungan pada terminal sakelar darl kemungkinan lepas, kendor dan berkarat.

3.   Cara memeriksa sebuah lampu besar apabila tidak menyala:

a.     Ganti sekring dan periksa

b.     Hubungan singkat Periksa relay

c.     Periksa swit

d.     Perbaiki seperlunya

4.   Aki sudah swak (tekor)

5.   Sekering putus, hubungan singkat, flaser rusak, switch rusak

g.   Lembar Kerja

1)  Alat dan Bahan

a.     Peralatan pemeliharaan system kelistrikan

b.     Peralatan tangan, kunci pas/ring atau tang

c.     Tester

d.     Teslamp

e.     Kabel

f.     Bolam/lampu

g.     Stand Kelistrikan

h.     Sekering

i.     Relay

2)   Keselamatan Kerja

a.     Hati-hati pada saat merangkai komponen

b.     Letakkan alat dan bahan praktik pada tempat yang aman

c.      Jangan menyalakan rangkaian kelistrikkan sebelum disetujui oleh instruktur/pembimbing/guru praktik

d.     Berikan ventilasi yang cukup dalam ruang praktik

e.     Ruang praktik harus bersih, tidak berdebu dan tidak berminyak

f.      Ruang praktik harus terang

g.     Setelah melakukan kegiatan praktik, kembalikan alat dan bahan pada tempat yang sudah disediakan

3)   Langkah Kerja

a.     Persiapkan alat dan bahan praktikum secara cermat, efektif dan efisien

b.     Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh gur/instruktur

c.     Lakukan pengamatan terhadap seluruh rangkaian listrik pada masing-masing sistem penerangan

d.     Operasikan rangkaian lampu Sesuai Prosedur Pengoperasian (SOP)

e.     Setelah selesai, bereskan kembali peralatan bahan yang telah digunakan seperti keadaan semula

4)   Tugas

a.    Buatlah laporan praktikum secara singkat dan jelas

b.    Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang Anda peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan belajar 3

 

BAB. III

EVALUASI

A. PERTANYAAN

1. Sebutkan macam-macam lampu pada sistem penerangan yang terdapat pada kendaraan!

2. Berfungsi untuk apakah lampu jarak dan lampu belakang?

3. Apakah fungs! lampu Hazard (Hazard Warning Light)?

4. Bagaimana cara mengganti bola lampu widge-base (socked gepeng)

5. Jelaskan cara memeriksa lampu!

6. Jelaskan cara memeriksa wiring!

7. Sebutkan 3 gangguan pada sistem penerangan yang  biasanya sering terjadi!

8. Sebutkan 2 cara pengujian apabila semua lampu tidak menyala!

9. Bagaimana cara memeriksa apabila sebuah lampu besar tidak menyala?

10. Apakah yang menyebabkan lampu hanya menyala terang apabila mesin berputar dengan cepat dan lampu tidak menyala terang apabila mesin berputar lambat?

B. KUNCI JAWABAN

1. – Penerangan luar meliputi:

a) Lampu besar

b) Lampu belakang

c ) Lampu rem

d) Lampu jarak

e) Lampu tanda belok

f) Lampu hazard

g) Lampu plat nomer

h) Lampu mundur

-    Penerangan dalam meliputi:

g.   Lampu meter

h.   Lampu ruangan

2. Untuk memberi isyarat adanya serta lebarnya dari sebuah kendaraan pada malam hari.

3. Untuk memberi isyarat keberadaan kendaraan dari bagian depan, belakang dan kedua sisi selama berhenti atau parkir dalam keadaan darurat.

4. Tarik bola lampu keluar dengan menggunakan jari tangan dan pada saat memasang tekan bola lampu pada lubang socket.

5. Kita hubungkan kedua colok ohmmeter dengan kedua kaki filamen lampu. Apabila jarum menunjuk berarti lampu tidak putus dan kita periksa komponen yang lain. Apabila jarum tidak menunjuk berarti lampu putus.

6. Cara memeriksa/menguji suatu kabel yaitu dengan jalan menghubungkan kedua colok ohmmeter dengan kedua ujung kabel. Bila ada hubungan (jarum bergerak) berarti kabel putus.

7.    a. Hanya satu lampu tidak menyala (lampu luar)

b. Lampu besar tidak menyala

c. Lampu rem tidak menyala

8. a. Periksa sekering dari kemungkinan putus, duduk nya kendor dan berkarat.

b. Periksa sambungan-sambungan pada terminal sakelar darl kemungkinan lepas, kendor dan berkarat.

9.      - Ganti sekring dan periksa

- Hubungan singkat Periksa relay

- Periksa swit

- Perbaiki seperlunya

10.  Aki sudah swak ( tekor )

  1. KRITERIA KELULUSAN

 

Aspek Skor

(1-10)

Bobot Nilai Keterangan

Kognitif (soal no 1 s.d 10)

5 Syarat lulus nilai minimal 70 dengan skor setiap aspek minimal 7

Ketepatan prosedur perbaikan

2

Hasil pemeriksaan

1

Ketepatan waktu

1

Keselamatan kerja

1
Nilai Akhir

Keterangan:

Tidak             =       0 (nol)                             (tidak lulus)

Ya                 =       70 s.d. 100             (lulus)

Kategori kelulusan:

70 s.d. 79      :  memenuhi kriteria minimal dengan bimbingan

80 s.d. 89      :  memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan

90 s.d. 100    :  di atas minimal tanpa bimbingan

BAB. IV

PENUTUP

Peserta diklat yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke modul berikutnya. Sebaliknya, apabila peserta diklat dinyatakan tidak lulus, maka peserta diklat tersebut harus mengulang modul ini dan tidak diperkenankan untuk mengambil modul selanjutnya.


DAFTAR  PUSTAKA

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1979). Petunjuk Praktek Kelistrikan Dan Bahan Bakar Otomotif Jilid 1

Soemadi, Drs. Soejono B.Sc (1979). Sistem Kelistrikan dan Bahan Bakar Otomotif jilid 1 dan 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Step one

Toyota, Penerbit PT. Toyota Astra Internasional.

Yunan Ginting, (1998). Listrik Otomotif Jilid 1, Penerbit Angkasa Bandung.

Overhoul Komponen Sistem Rem

BAB. I

PENDAHULUAN

A.   DESKRIPSI

Dimasa kini kendaraan merupakan sarana transportasi yang sangat vital dibutuhkan dalam kehidupan manusia baik dikota maupun dipedesaan. Mekanisme sebuah kendaraan baik roda dua maupun roda empat dilengkapi oleh sistem rem yang berfungsi untuk mengatur lajunya kendaraan sesuai dengan yang diinginkan oleh pengemudi. Sistem rem ini bekerja melalui mekanisme gesekan antara tromol dan kanvas yang dihubungkan dengan roda yang berputar.

Modul ini membahas tentang overhoul sistem rem yang didalamnya meliputi antara lain: kontruksi  dan cara kerja sistem rem, macam-macam cairan minyak rem, overhoul sistem rem dan bagian-bagian serta peralatan yang digunakan dalam melaksanakan overhoul sistim rem tersebut.

Dalam kegiatan belajar modul ini diuraikan menjadi 2 (Dua) kegiatan belajar, yaitu:

  1. Kegiatan Belajar 1. Membahas tentang Sistem Rem. (Kontruksi dan cara kerja sistem Rem Tromol, Cakram, serta macam-macam Cairan Rem)
  2. Kegiatan Belajar 2. membahas tentang overhoul sistem rem dan bagian-bagiannya (pelaksanaan overhoul sistem rem dan peralatan yang digunakannya). Setelah mempelajari modul ini peserta diklat diharapkan dapat memahami dan melaksanakan cara Overhoul Sistem Rem dengan baik dan benar.

B.   PRASYARAT

Sebelum memasuki modul Overhoul komponen sistem ini peserta diklat/Siswa pada program keahlian mekanik otomotif harus sudah menyelesaikan modul-modul prasyarat seperti tertulis dalam diagram pencapaian kompetensi maupun peta kedudukan modul. Prasyarat mempelajari modul OPKR 40.004 B adalah antara lain OPKR 40.003B.

C.   PETUNJUK PENGGUNAN MODUL

1.   Petunjuk Bagi Siswa

Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal, dalam menggunakan modul ini maka langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:

a.    Bacalah dan pahami dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada masing-masing kegiatan belajar. Bila ada materi yang kurang jelas, peserta diklat dapat bertanya pada guru atau instruktur yang mengampu kegiatan belajar.

b.    Kerjakan setiap tugas formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan.

c.    Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikan hal-hal berikut:

1)   Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang berlaku.

2)   Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik.

3)   Sebelum melaksanakan praktikum, siapkan peralatan yang diperlukan dengan cermat.

4)   Gunakan alat sesuai prosedur pemakaian yang benar.

5)   Untuk melakukan kegitan praktikum yang belum jelas, harus meminta ijin guru atau instruktur terlebih dahulu.

6)   Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan ketempat semula.

d.    Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada guru atau instruktur yang mengampu kegiatan belajar yang bersangkutan.


2.   Petunjuk Bagi Guru

Dalam setiap kegiatan belajar guru atau instruktur berperan untuk:

a.    Membantu peserta diklat/Siswa dalam merencanakan proses belajar.

b.   Membimbing peserta diklat/Siswa melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.

c.    Membantu peserta diklat/Siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan peserta diklat/Siswa mengenai proses belajar peserta diklat.

d.   Membantu peserta diklat/Siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.

e.    Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.

f.     Merencanakan seorang ahli/pendamping guru dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan.

D.   TUJUAN AKHIR

Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini peserta diklat di harapkan:

1)   Menjelaskan sistem rem (konstruksi dan cara kerja) rem tromol, cakram.

2)   Menjelaskan macam-macam cairan rem.

3)   Melaksanakan overhoul sistem rem dan bagian-bagiannya.

4)   Menjelaskan peralatan yang digunakan dalam melaksanakan overhoul sistem rem.

E.   Kompetensi

KOMPETENSI                         : Overhoul Komponen Sistem Rem

KODE                                   : OPKR–40-004 B

DURASI PEMELAJARAN          : 40 Jam @ 45 Menit

Level Kompetensi Kunci

A

B

C

D

E

F

G

1

3

1

-

-

2

2

Kondisi Kerja 1.    Batasan konteks

-         Standar Kompetensi ini digunakan untuk kendaraan ringan

2.    Sumber informasi/dokumen dapat termasuk:

-         Spesifikasi pabrik kendaraan

-         SOP (Standar Operastion Procedur)

-         Kebutuhan Pelanggan

-         Kode area tempat area

-         Spesifikasi produk/komponen pabrik

-         Perundang–undangan pemerintah

-         Lembaga data keamanan bahan

3.    Pelaksanaan K3 harus memenuhi:

-         Undang–undang tentang K3

-         Penghargaan dibidang industri

4.    Sumber–sumber dapat termasuk:

-         Peralatan tangan/hand tools, peralatan bertenaga/hand power tools, peralatan khusus/special tools

-         Instrument pengukuran

-         Perlengkapan machining overhoul sistem rem

5.    Kegiatan

Kegiatan harus dilaksanakan dibawah kondisi kerja normal dan harus termasuk:

-         Penguji tekanan

-         Penilaian pendengaran, visual dan fungsi (meliputi: kebocoran oli keausan  dan korosi)

6.    Variabel lain dapat termasuk:

-         Pengoperasian rem dengan cairan, elektris dan mekanis, tenaga penguat, sistem ABS (Anti lock Brake System) sistem komputer

-         Sistem Rem ganda

-         Sistem kesetabilan

-         Brake pad, silinder, sepatu rem, kaliper rem, pipa/selang rem, perlengkapan penggerak mekanis rem

-         Surat izin mengemudi yang berlaku.

SUB KOMPETENSI

KRITERIA KINERJA

LINGKUP BELAJAR

MATERI POKOK PEMELEJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

1.    Overhoul komponen sistem rem dan bagian- bagiannya Overhoul komponen/ bagian–bagian sistem rem dilaksanakan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya.

Informasi yang benar diakses dari sfesifikasi pabrik dan dipahami

Overhoul komponen sistem rem dilaksanakan dengan metode yang ditetapkan, perlengkapan dan bahan dan yang berdasarkan spesifikasi pabrik

Prosedur overhoul komponen sistem rem

Konstruksi dan cara kerja sistem rem

Macam –macam cairan rem

Data spesifikasi

Prosedur pengujian dan pengukuran komponen

Menerapkan prosedur kerja sesuai dengan SOP

Menerapkan keselamtan kerja dan lingkungan , semangat tinggi dan bekerja keras untuk mencapai hasil terbaik.

Prosedur overhoul

Prosedur pengujian dan pengukuran komponen

Tanda peringatan

Informasi teknik yang sesuai

Persyaratan keamanan perlengkapan kerja

Persyaratan keamana komponen

Persyaratan keselamatan diri

Kebijakan perusahaan/industri

Melaksanakan overhoul sistem rem dan komponen nya

Menggunakan peralatan dan perlengkapan standar

Melaksanakan pengujian dan pengukuaran komponen

Melaksanakan tes pengujian jalan.

F.    CEK KEMAMPUAN

Sebelum mempelajari modul OPKR-40-004B, isilah dengan cek list (Ö) kemampuan yang telah dimiliki peserta diklat dengan sikap jujur dan dapat dipertanggung jawabkan:

Sub Kompetensi

Pernyataan

Jawaban

Bila jawaban ‘Ya’, kerjakan

Ya

Tidak

Overhoul Komponen Sistem Rem dan bagaian–bagiannya 1.    Saya mampu menyebutkan peralatan yang digunakan pada waktu Overhoul Sistem Rem

2.    Saya mampu menjelaskan cara Overhoul Komponen Sistem Rem dan bagian–bagiannya

3.    Saya mampu menjelaskan cara Overhoul Sistem Rem Tromol dan bagian–bagiannya

4.    Saya mampu menjelaskan cara Overhoul Sistem Rem Piringan (Disc) dan bagian–bagiannya.

Soal Test Formatif 1

Soal Test Formatif 2

 

Apabila peserta diklat menjawab Tidak, maka pelajari kembali modul ini


BAB. II

PEMELAJARAN

A.   Rencana Belajar Siswa

Rencanakan setiap kegiatan belajar Anda dengan mengisi tabel dibawah ini dan mintalah buku belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Paraf Guru

-          Pengujian komponen sistem rem

-          Overhoul komponen sistem rem

-          Overhoul rem tromol

-          Overhoul rem piringan


B.   Kegiatan Belajar

Kegiatan Belajar 1. Sistem Rem

a.   Tujuan Kegiatan Pemelajaran

1.    Peserta diklat/Siswa dapat menjelaskan konstruksi sistem rem tromol dengan benar

2.    Peserta diklat/Siswa dapat menjelaskan konstruksi sistem rem cakram dengan tepat

3.    Peserta diklat dapat menjelaskan cara kerja dari sistem rem

4.    Peserta diklat dapat menyebutkan macam–macam cairan rem/klasifikasi minyak rem

b.   Uraian Materi

1.   Sistem Rem

Rem merupakan salah satu bagian kendaraan yang sangat penting pada sebuah kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat dari perkotaan sampai pedesaaan. Rem ini dapat mengatur kecepatan ataupun menghentikan lajunya kendaraan sesuai dengan yang kita harapkan, pengaturan kecepatan ataupun diberhentikannya lajunya kendaraan ini diatur melalui suatu gesekan antara komponen rem dengan roda yang berputar.

Syarat–syarat sebuah rem adalah sebagai berikut:

1)   Dapat bekerja dengan cepat.

2)   Apabila beban pada semua roda sama, maka daya pengereman harus sama dengan atau gaya pengereman seimbang dengan beban yang di terima oleh masing-masing roda.

3)   Dapat dipercaya dan mempunyai daya tahan cukup.

4)   Mudah disetel dan diperbaiki pengemudi waktu pengereman.

Adapun jenis rem ditinjau dari:

1)   Pelayananya:

a)    Rem Tangan

b)   Rem Kaki

2)   Mekanismenya:

a)    Rem Mekanik

b)   Rem Hidrolik

c)    Rem Vacum

d)   Rem Booster

e)    Rem Udara

3)   Konstruksinya:

a)    Internal Ekspander Brake (rem pengembangan dari dalam)

b)   Eksternal Contrakting Brake

c)    Disc Brake (rem piringan)

4)   letaknya:

a)    Rem pada roda

b)   Rem pada propellershaft (poros penggerak belakang)

Cara kerja rem adalah pengubah tenaga mekanik menjadi tenaga gesekan dengan jalan menekan sepatu rem (kanvas) terhadap tromol yang berputar.Jenis rem jika ditinjau dari beberapa hal diatas ternyata begitu banyak tetapi pada kegiatan (1) di modul ini akan di jelaskan hanya sebagian saja (dalam hal ini pembahasan akan di batasi pada beberapa hal) antara lain:

§  Sistem Rem Tromol

§  Model Rem Tromol

§  Sistem Rem Cakram

§  Cairan Rem/Minyak Rem

§  SISTEM  REM TROMOL

Rem tromol adalah salah satu konstruksi rem yang cara pengereman kendaraan dengan menggunakan tromol rem  (brake drum), sepatu rem (brake shoe), dan silider roda (wheel cylinder). Pada dasarnya jenis rem tromol yang digunakan roda depan dan belakang tidak sama, hal ini dimaksudkan supaya system rem dapat berfungsi dengan baik dan sesuai dengan persyaratan. Adapun bagian–bagian utama rem tromol adalah sebagai berikut:

a)   Silinder Roda (Wheel cylinder)

Fungsi dari silinder roda adalah untuk menekan brake shoe (sepatu rem) ke brake drum (Tromol rem). Didalam silinder roda terpasang satu atau dua buah piston beserta seal tergantung dari konstruksi rem tromolnya.Bila brake pedal diinjak, tekanan minyak rem dari master silinder disalurkan kesemua wheel silinder, tekanan didalam wheel silinder menekan piston kearah luar dan selanjutnya piston menekan menekan brake shoe menggesek tromol sehingga roda berhenti. Bila brake pedal dilepas maka, brake shoe kembali keposisi semula oleh tarikan pegas, roda bebas.

b)   Sepatu Rem (Brake shoe)

Sepatu rem (brake shoe) berfungsi untuk menahan putaran brake drum melalui gesekan. Pada bagian luar brake shoe terbuat dari asbes dengan tembaga atau campuran plastik yang tahan panas.

c)   Pegas pengembali (Return Spring)

Pegas pengembali berfungsi untuk mengembalikan sepatu rem (Brake shoe) ke posisi semula pada saat tekanan silinder roda turun.

 

d)   Backing Plate

Backing  plate  berfungsi sebagai tumpuan untuk menahan putaran drum sekaligus sebagai dudukan silinder roda.

 

 

§  MODEL REM TROMOL

Rem tromol pada dasarnya terbagi dalam lima model, tiap model prinsipnya berbeda satu sama lain.

a)   Model leading trailling Shoe

Konstruksi–kontruksi sepatu primer dan sekunder dijamin oleh silinder yang mempunyai dua buah piston dan bagian bawahnya dijamin oleh pin. Pada saat tromol berputar sepatu trailling cenderung menahan putaran tromol. Pada saat sepatu leading mengerem baik sedangkan sepatu trailling cenderung menahan putaran tromol. Sepatu kiri disebut leading dan sepatu kanan disebut trailling.

Kedua leading trailing shoe menahan pengereman yang sama dimana saat tromol berputar kearah berlawanan maka leading shoe menjadi trailling shoe dan sebaliknya

b)   Model two–leading

Kontruksi model ini pada bagian atas sepatu primer dan sekunder di pasang sebuah silinder roda dengan penyetel sepatu rem menjadi leading jika berputar sebaliknya maka kedua sepatu rem menjadi trailling.

c)   Model dual two–leading

Kontruksi model ini dilengkapi dengan dua buah silinder roda yang dipasang di atas dan di bawah sepatu primer dan sekunder. Pada model ini baik maju maupun mundur kedua sepatu menjadi trailling.

d)   Model Uni Servo

Konstruksi model ini dilengkapi dengan dua buah silinder di bagian atas sepatu primer dan sekunder. Bila pedal rem ditekan maka piston bergerak mendorong sepatu rem searah putaran tromol. Akibatnya timbul gesekan dan diteruskan ke sepatu sekunder. Gerakan sepatu trailling dijaga silinder roda dan tenaga rem yang dihasilkan besar. Bila putaran tromol terbalik, maka kedua sepatu rem akan menjadi trailling dan efek pengereman jelek.

e)   Model Duo Servo

Kontruksi model ini dilengkapi sebuah silinder roda dengan dua buah piston. Tekanan dari silinder rem diseimbangkan oleh penyetel sepatu rem.

§  REM CAKRAM

Penggunaan rem cakram dewasa ini sangat banyak digunakan, pada umumnya dipasang pada roda depan dan sudah merupakan standar pada kendaran pada model baru. Konstruksi pada rem cakram hampir sama dengan rem tromol, dimana tromolnya ditiadakan dan sebagai gantinya dipasang sekeping cakram. Pada rem cakram terdapat sepatu-sepatu rem yang dilengkapi dengan pelapis sepatu rem, cara kerja rem ini secara hidrolik. Daya pengereman terjadi karena adanya gesekan antara cakram dengan pad, sehingga pengereman terjadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelebihan dari sistem rem ini adalah cakram yang merupakan pengganti tromol  rem secara langsung berhubungan dengan udara luar, sehingga pendingin  jauh lebih sempurna dan lebih efektif. Cakram yang tipis sangat mudah dan cepat meneruskan penyebaran panas yang timbul. Perawatan dan perbaikan sangat mudah. Keburukan jenis rem ini adalah  cakram dalam  keadaan terbuka dan berhubungan  langsung dengan udara luar menyebabkan mudah  sekali kena  kotoran, debu dan  Lumpur.

Adapun  komponen-komponen utama  rem cakram  adalah sebagai berikut:

a)   Cakram

Pada rem cakram komponen cakram atau piringan merupakan bagian yang secara langsung menghasilkan pegereman dengan adanya gesekan  dengan pad. Cakram atau piringan terbesar dari besi tuang yang mampu menahan panas akibat gesekan dan tahan korosi.

b)   Caliper

Bagian yang tidak bergerak dari rem pad cakram adalah caliper, dimana terdapat silinder–silinder rem berikut sepatu rem dan pirodonya. Apabila pedal rem diinjak maka silinder–silinder rem akan bekerja secara hidrolik sehingga sepatu–sepatu rem atau pad akan menjepit, manahan dan menghentikan cakram rem yang sedang berputar. Caliper terbagi dalam dua type fixed (type tetap) dan type floating caliper (type meluncur).

Ada 3 type beragam:

1.   Type Fixed caliper (type tetap)

Type caliper ini konstruksinya terpasang dua silinder yang bekerja secara hidroponik menekan pad dari dua arah.

Prinsip Kerjanya

Pada saat terjadi tekanan akibat hidropolik oil pres-sure maka piston akan mendorong

kedua pad dan pegas karet hingga pad menekan cakram. Pada saat tekanan hilang maka pegas karet akan mengembang (reaksi) dan kedudukan pad rem kembali pada keadaan semula.

2.   Type floating caliper dan cara kerjanya

Pada type ini hanya dilengkapi satu silinder yang terpasang pada slide pins yang bekerja secara hidrolik. Piston akan bergerak menekan dari sisi dalam, sedangkan caliper terpasang tetap pada knakel kemudi. Akibat tekanan ini maka pad akan terdorong dengan pegas karet. Ketika tekanan hilang maka pad akan kembali ke posisi semula.

3.   Pad rem

Pad rem dalam sistem rem cakram merupakan bagian yang secara langsung berhubungan atau bergesekan dengan cakram yang akhirnya menghasilkan pengereman. Pad terbuat dari metallic fiber dicampur serbuk tembaga yang mampu menahan panas akibat gesekan serta memiliki

kekerasan yang cukup tinggi. Untuk mengetahui Keausan maksimum suatu pad akibat gesekan maka pada pad diberi celah pembatas agar diketahui keausan pad.

Bila pedal sudah aus maka perlu diganti, hal ini untuk mengetahui pengereman kendaraan yang baik. Keausan pad menyababkan clearance antara pad dan rotor terlalu renggang sehingga saat rem bekerja melalui penekanan piston maka gesekan akan berkurang dan cakram akan kurang terjepit pad. Hal ini menyebabkan pengereman tidak berlangsung baik.

§  MINYAK REM

Diperlukan untuk menjamin kondisi kerja kendaraan dalam waktu yang lama tetapi yang utama dalam sistem rem diantaranya ialah harus dapat di percaya. Minyak rem adalah cairan yang tidak mengandung minyak bumi yang sebagian besar terdiri dari alkohol dan susunan kimia dan ester (zat yang membuat orang tidak sadar)

a)   Persyaratan Khusus Minyak Rem

 

Berikut ini persyaratan kualitas minyak rem yang diperlukan

 

1.    Titik didih yang rendah

Rem akan menjadi panas dengan adanya gesekan karena penggunaan yang berulangkali. Adakalanya minyak rem dapat menjadi uap menyebabkan fluida berbusa. Bila ini terjadi injakan yang berlaku pada pedal rem hanya menekan minyak rem yang sudah menjadi uap dan tidak ada tenaga yang bekerja pada silinder silinder roda. Kejadian ini disebut vapor load = terhalang uap untuk mencegah hal ini diperlukan titik didih yang tinggi.

2.    Mecegah karat pada logam dan karet

Kerapatan akan berkurang bila minyak rem merusak seal dan ini akan menyebabkan kebocoran, hal ini akan berlanjut dengan hilangnya tenaga hidraolis. Minyak rem dibuat dari bahan sintetis dengan maksud agar tidak merusak dan menghindari karat pada logam.

3.    Viscositas

Minyak rem harus memiliki kekentalan (viscositas) untuk  meneruskan tekanan dengan perubahan temperatur yang bervariasi.

b)   Tipe Minyak Rem

Minyak rem mempunyai 4 klasifikasi FMVSS (Federal Motor Vihicle Safety Standart). Kesemuanya ini didasarkan titik didih.

Klasifikasi dasar titik didih

Dot 3

(SAE J1703)

DOT 4

DOT 5

SAE J1702 (Extremely cold areas)

Boiling point (ERBP) 0

C (0 F)

205

(401) or greater

230

(446)or

Greater

260

(500)or

Greater

150

(302) or

Greater

Wet boiling point

0 C (0 F)

1400

(284) or

Greater

155

(311)or

Greater

180

(356) or

Greater

-


c)   Tindakan Pencegahan Penanganan Minyak Rem

1.   Jangan mencapur minyak rem

Mencapur minyak rem dengan kemampuan yang berbeda akan menurunkan titik didih minyak. Dan juga reaksi kimia suatu  saat akan terjadi, menyebabkan komposisinya berubah atau memburuknya minyak rem.

2.   Jangan tercemar oleh air

Bila minyak rem tercemar dengan air atau minyak lain yang tidak sejenis maka akan menurunkan titik didih dan memburuknya minyak rem.

3.   Jangan tercemar dengan oli atau pembersih oli

Mineral oli dan pembersih oli mempengaruhi komponen karet. Saat anda membongkar komponen rem, hati–hati membuka oli mesin atau pembersih oli pada tempatnya.

4.   Simpanlah minyak rem ditempat yang sesuai

Untuk mencegah minyak rem dari penyerapan air, ia harus ditempatkan dikaleng yang tertutup rapat selama penyimpanan. Hal ini juga mencagah tercemar dari debu dan kotoran.

c.    Rangkuman

SISTEM REM

1.    fungsi rem: mengurangi kecepatan kendaraan atau menghentikan kendaraan melalui suatu mekanisme gesekan antara komponen rem dengan roda yang berputar.

2.    Jenis rem ditinjau dari:

a.     Pelayanannya

b.     Mekanismenya

c.     Konstruksinya

d.     Letaknya

3.    Cara kerja rem: mengubah tenaga mekanik menjadi tenaga gesekan dengan jalan menekan sepatu rem (kanvas) terhadap tromol yang berputar.

4.    Rem Tromol: adalah salah satu konstruksi rem yang cara pengereman                      kendaraan dengan menggunakan tromol rem (Break Drum), sepatu rem (Break Shoe) dan silinder roda (Wheel silinder).

5.    Bagian–bagian utama rem Tromol:

a.    Silinder roda (Wheel silinder)

b.    Sepatu rem (Break Shoe)

c.    Pegas pengembali (Return Spring)

d.    Break Plate

6.    Model dari rem tromol:

a.    Model Leading Trailling

b.    Model Two Leading

c.    Model Dual Two Leading

d.    Model Uni Servo

e.    Model Duo Servo

7.    Rem cakram adalah salah satu konstruksi rem yang cara pengereman kendaraan terjadi karena ada gesekan antara cakram dengan pad.

8.    Bagian–bagian utama rem cakram:

a.    Cakram

b.    Caliper

c.    Pad Rem

9.    Type Caliper:

a.    Type Fixed Caliper (type berayun)

b.    Type Floating Calliper (type meluncur)

10. Minyak rem: adalah cairan yang tidak mengandung minyak bumi yang sebagian besar terdiri dari alkohol, susunan kimia dan ester (zat yang membuat orang tidak sadar).

11. Syarat kualitas minyak rem yang digunakan:

a.    Titik didih yang rendah

b.    Mencegah karat pada logam dan karet

c.    Viskositas

12. Tindakan pencegahan pada minyak rem:

a.    Jangan mencampur minyak rem

b.    Jangan tercemar dengan air

c.    Simpanlah minyak rem ditempat yang sesuai

d.   Tugas

1.    Jelaskan fungsi rem pada kendaraan!

2.    Sebutkan jenis–jenis rem ditinjau  dari konstruksinya?

3.    Jelaskan macam model rem tromol pada kendaraan?

4.    Terangkan cara kerja dari rem cakram?

5.    Sebutkan syarat kualitas minyak rem yang digunakan?

e.   Test formatif

1.    Jelaskan konstruksi dari sistem rem tromol?

2.    Jelaskan konstruksi dari sistem rem cakram?

3.    Jelaskan cara kerja dari sistem rem?

4.    Sebutkan persyaratan dari minyak rem?

f.     Kunci jawaban

1.    Rem Tromol merupakan salah satu konstruksi rem yang cara pengeremannya pada kendaraan dengan menggunakan tromol rem (Break Drum), Sepatu rem (Break Shoe), dan Silinder roda (Wheel Silinder).

Bagian–bagian dari rem tromol antara lain:

a.    Silinder roda (Wheel Silinder)

Berfungsi untuk menekan sepatu rem ke tromol rem.

b.    Sepatu rem (Break Shoe)

Berfunngsi untuk menahan putaran break drum melalui gesekan.

c.    Pegas kembali (Return Spring)

Berfungsi untuk mengembalikan sepatu rem keposisi semula pada saat tekanan silinder roda turun.

d.    Backing Plate

Berfungsi sebagai tumpuan untuk menahan putaran drum sekaligus sebagai dudukan roda.

2.    Rem cakram merupakan salah satu konstruksi yang cara kerjanya karena adanya gesekan antara cakram dengan pad sehingga pengereman terjadi.

Bagian–bagian rem cakram antara lain:

a.    Cakram/piringan (Disc Rotor)

Berfungsi menghasilkan penngereman dengan adanya gesekan pada pad.

b.    Caliper

Caliper yang di dalam terdapat silinder–silinder rem berikut sepatu rem  dan periodonya berfungsi untuk menahan dan menghentikan cakram rem yang sedang berputar.

c.    Pad rem

Berfungsi untuk menahan panas akibat gesekan.

3.    Cara kerja rem

Mengubah tenaga mekanik menjadi tenaga gesekan dengan jalan menekan sepatu rem (Kanvas) terhadap roda yang berputar.

4.    Syarat–Syarat kualitas minyak rem yang digunakan:

    1. Titik didih yang rendah

b.    Mencegah karat pada logam dan karet

c.    Viscositas/kekentalan

g.   Lembar Kerja

1.    Alat dan Bahan

a.    Kendaraan/Mobil lengkap

b.    Alat–alat tangan, kunci–kunci pas, ring (disesuaikan dengan     kebutuhan)

c.Minyak rem

d.    Gemuk

e.    Lap/Majun

f.   Dongkrak (Jack Stand)

g.    Tempat mur dan baut

2.    Keselamatan Kerja

1)   Gunakanlah peralatan yang sesuai dengan fungsinya

2)   Ikutilah instruktur ataupun prosedur kerja yang tertera pada    lembar kerja

3)   Mintalah ijin dari instruktur anda apabila hendak melakukan   pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja

4)   Bila perlu mintalah buku petunjuk yang sesuai dengan job pekerjaan

3.    Langkah Kerja

a)    Persiapkan alat dan bahan praktek secara cermat, efektif dan seefesien mungkin

b)   Perhatikan penjelasan prosedur penggunaan alat, baca lembar kerja dengan teliti

c)    Lakukan pemeriksaan dan penyetelan terhadap komponen sistem rem dan bagian–bagiannya

d)   Mintalah penjelasan pada instruktur mengenai hal yang belum jelas

e)    Buatlah catatan–catatan penting kegiatan praktek secara ringkas

f)     Setelah selesai, bersihkan dan kembalikan semua peralatan dan bahan yang telah digunakan kepada petugas

4.    Tugas

a.    Buatlah laporan praktek secara ringkas dan jelas!

b.    Buatlah rangkuman pengetahuan yang anda peroleh setelah mempelajari kegiatan 1!

 


Kegiatan Belajar 2. Overhoul Komponen Sistem Rem dan Bagian-Bagiannya

   

a.   Tujuan kegiatan Pemelajaran

1.    Peserta diklat dapat menjelaskan fungsi dari masing-masing alat yang digunakan pada overhoul komponen sistem rem dan bagian-bagiannya.

2.    Pesrta diklat dapat melakukan pemeriksaan dan penyetelan  komponen sistem rem.

3.    Peserta diklat dapat melaksanakan overhoul komponen sistem rem tromol  dan bagian – bagiannya dengan baik dan benar.

4.    Peserta  diklat  dapat  melaksanakan  overhoul komponen rem piringan dan bagian-bagiannya dengan  baik dan benar.

5.    Peserta diklat dapat melaksanakan overhoul  rem piringan dan bagian-bagiannya dengan baik dan benar.

6.    Peserta diklat dapat menguji dan mengetes komponen sistem rem dan bagian-bagianya dengan baik.

 

b.   Uraian materi

Pada saat ini kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat  merupakan alat transportasi yang sangat vital dalam kehidupan masyarakat kita, oleh karena itu komponen-komponen yang ada pada kendaraan tersebut pasti akan mengalami kerusakan. Hal ini pun akan terjadi pada komponen sistem rem dan bagian-bagiannya. Jika kerusakan pun terjadi maka kita harus segera melaksanakan overhoul terhadap kerusakan tersebut dengan menggunakan alat bantu yang tepat.

 

Peralatan yang digunakan pada overhoul komponen sistem rem dan bagian-bagiannya:

1.   SST (special service tool dan spesifikasi)

09704-10010            Alat penyetel sepatu rem

09709-29015            LSPV Gauge set

09717-20010            Pembuka pegas pembalik sepatu  rem

09718-00010            Pembuka pegas penegang sepatu rem

09718-20010            Pengganti pegas pembalik sepatu rem

09736-30020            Pembuka dan pengganti penahan diagram booster

09737-00010            Alat penyetel push rod booster rem

09738-20010            Alat untuk overhoul booster

09753-22011            Stand untuk overhoul booster

09738-22012            Alat untuk overhoul booster

09608-30011            Pengganti bantalan hub depan

Gambar 15. special service tool dan spesifikasi

2.   Alat–alat tangan

a.    Kunci-kunci

b.    Obeng

c.    Tang

d.    Pahat

e.    Penitik

f.     Klematra

a.    Kunci-kunci

Kunci-kunci yang digunakan dalam perbaikan rem Brake Disc yang berfungsi untuk membuka atau memasang baut atau mur.

Macam-macam kunci:

1)    Kunci Pas atau Ring

2)    Kunci Shock

3)    Kunci Inggris

4)    Kunci Momen

1)   Kunci Pas atau Ring: untuk memasang atau melepas baut dan mur sesuai dengan lebar kunci.

2)   Kunci Shock: Digunakan untuk melepas atau memasang baut dan mur yang letaknya tidak dapat dicapai dengan kunci pas atau ring.

3)   Kunci Inggris: Digunakan untuk melepas atau memasang baut atau mur dengan mulut kunci dapat disetel sesuai dengan ukuran.

4)   Kunci Momen: Digunakan untuk pengerasan baut atau mur sesuai dengan besar momen yang di tentukan.

b.    Obeng: Digunakan untuk membuka baut sekrup, dalam sistem rem obeng digunakan untuk mencongkel brake pad selain menggunakan alat khusus S.S.T.

c.    Tang: Digunakan untuk memotong atau menjepit suatu benda. Tang digunakan menurut fungsinya.

Macam-macam tang:

(1) Tang Potong

(2)  Tang Penggunting Sisi

(3)  Tang Kombinasi

(4)  Tang Pengupas

d.    Pahat: Digunakan untuk memotong benda kerja menjadi dua bagian atau lebih. Pahat dibagi menjadi dua bagian yaitu :

(1)   Pahat Ceper

(2)   Pahat tepi

e.    Penitik: Digunakan untuk membuat titik pada benda kerja

f.     Klematra: Digunakan untuk menghentikan aliran minyak rem yang mengalir pada selang rem.

3.   Alat Ukur

Alat ukur yang digunakan untuk pemeriksaan pada saat perbaikan sistem rem brake disc antara lain:

a.   Micrometer

Micrometer digunakan untuk pengukuran yang teliti, micrometer terbagi menjadi dua:

(1) Micrometer Luar (Outside micrometer)

Digunakan   untuk  mengukur bagian luar suatu benda kerja dari 0–25 mm.

(2)  Micrometer Dalam (Inside micrometer)

Digunakan untuk mengukur bagian dalam suatu benda kerja.

b.   Mistar Geser

Mistar geser adalah sutu alat ukur yang teliti digunakan mengukur diameter luar dan dalam serta mengukur kedalaman dari benda kerja.

PELAKSANAAN OVERHOUL KOMPONEN SISTEM REM DAN BAGIAN–BAGIANNYA

Setelah mepersiapkan seluruh peralatan untuk digunakan dalam overhoul sistem rem, maka langkah kerja berikutnya adalah:

1.   PEMERIKSAAN DAN PENYETELAN

A.   PEMERIKSAAN DAN PENYETELAN PEDAL REM

1.    Periksa tinggi pedal

Tinggi pedal dari lantai :  154,7–164,7 mm (6,091–6,484 In). bila perlu setel tinggi pedal

2.    Bila perlu, setel tinggi pedal

a.    Kendorkan swit lampu rem secukupnya

b.   Setel tinggi pedal dengan memutar batang pendorong pedal

c.    Kembalikan swit lampu rem sampai bodi swit menyinggung pembatas pedal

d.   Setelah penyetelan tinggi pedal, periksa dan setel gerak bebas pedal

3.    Periksa gerak bebas pedal

a.    Matikan mesin dan tekan pedal rem beberapa kali sampai tidak ada kevakuman di dalam booster rem

b.   Tekan pedal rem sampai pada awal hambatan terasa gerak bebas pedal: 3-6 mm (0,12-0,24 in)

4.    Bila perlu setel gerak bebas pedal

a.    Bila ada kerusakan/kesalahan setel gerak bebas pedal dengan memutar batang pendorong pedal

b.   Start mesin dan pastikan adanya gerak pedal

c.    Setelah penyetelan gerak bebas  pedal periksa tinggi pedal

5.    Periksa bahwa jarak cadangan pedal rem benar

Bebaskan rem parkir sambil mesin dihidupkan tekan pedal rem dan ukur jarak cadangan pedal. Jarak cadangan pedal dari lantai pada penekan 50 kg (110 lb, 490 N).

Rem sepan tromol        : lebih dari 70 mm (2,76 in)

Rem sepan piringan      : lebih dari 65 mm (2,56 in)

Bila ada kesalahan carilah kerusakan pada sistem rem.

 

B.   TES BEKERJANYA BOOSTER REM

1.    Pemeriksaan bekerjanya booster rem

a.    Tekan pedal rem beberapa kali saat mesin mati dan periksa tidak terjadinya perubahan jarak cadangan pedal rem

b.   Tekan pedal rem star mesin. Bila tinggi pedal sedikit menurun, booster rem bekerja normal

2.    Kekedapan udara

a.    Star mesin dan matikan setelah satu atau dua menit. Tekan pedal rem perlahan–lahan beberapa kali. Bila pada injakan pertama terasa dalam dan sedikit demi sedikit naik pada injakan kedua dan ketiga, berarti kekedapan udara dari booster rem baik.

b.    Tekan pedal rem sambil mesin hidup dan kemudian matikan mesin sambil pedal rem tetap ditekan. Bila tidak ada perubahan tinggi pedal dalam 30 detik, berarti kekedapan dari booster rem baik.

C.   PEMBUANGAN UDARA SISTEM REM

1.    Isilah tangki cadangan minyak rem

Periksa tangki cadangan sesudah pembuangan udara dari setiap silinder. Tambahkan minyak rem bila perlu.

2.    Lakukan pembuangan udara master silinder

a.    Lepas pipa rem dari master silinder

b.    Tekan pedal rem dan tahanlah pedal rem

c.    Sumbat lubang keluaran pada master silinder

d.    dengan jari dan bebaskan pedal rem

e.    Mengulangi kegiatan tersebut sampai tiga kali

3.    Pasang selang plastik pada nepel pembuangan udara silinder roda

Masukan ujung lain dari selang plastik kedalam kaleng atau sejenisnya yang berisi minyak rem setengah bagian.

4.    Buang udara saluran rem

a.    Pompalah pedal rem beberapa kali, perlahan–lahan.

b.    Sambil pedal rem ditekan, kendorkan nepel pembuangan udara sampai minyak rem keluar. Kencangkan kembali nepel pembuangan udara.

c.    Ulangi prosedur tersebut beberapa kali sampai tidak ada lagi gelembung udara didalam minyak rem.

d.    Pengencangan nepel pembuangan udara rem depan (rem tromol) 110 kg-cm (8 ft-11 N.m). Rem depan (rem piringan) 85 kg-cm (74 in-lb, 8,3 N.m). rem belakang 85 kg-cm (74 in-lb, 8,3N.m)

e.    Ulangi prosedur di atas, untuk setiap  roda.

D.   PEMERIKSAAN DAN PENYETELAN REM PARKIR

1.    Periksa langkah tuas rem parkir

Tarik sepenuhnya tuas rem parkir dan hitung jumlah suara “klik”. Langkah tuas rem parkir pada penariakn 20 kg (44 lb, 196 N) 10-18 klik.

2.    Bila perlu, setel langkah rem parkir

Setel langkah rem parkir dengan memutar penyetel rem.

E.   PENYETELAN CELAH SEPATU REM UNTUK TIPE REM TROMOL DEPAN

1.    Dongkrak dan topanglah kendaraan

2.    Lepas sumbat lubang penyetalan sepatu dari backing plat

3.    Menggunakan SST atau obeng putar mur penyetel sampai roda   terkunci, SST: 09704–30010

4.    Menggunakan SST atau obeng putar mur penyetel sampai roda bebas, SST: 09704–30010

5.    Pasang sumbat lubang penyetel sepatu rem

6.    Ulang step (b) sampai (e) untuk roda yang lain

7.    Periksa ulir terhadap kerusakan

F.    PERIKSA SELANG DAN PIPA REM

1.    Periksa selang rem

a.                        Periksa selang terhadap kerusakan, keretakan atau pembengkakan

b.                        Periksa ulir terhadap kerusakan

2.    Periksa pipa rem

a.    Periksa pipa terhadap, keretakan, lekukan atau karat

b.    Periksa ulir terhadap kerusakan

G.   PEMERIKSAAN DAN PENYETELAN TEKANAN MINYAK REM

1.    Beban belakang termasuk beban kendaraan

KF40R–MD650 kg (1.433 lb)

KF50R–MD650 kg (1.433 lb)

KF40R–MD7 700 kg (1.543 lb)

KF50R–D7 900 kg (1.984 lb)

2.    Pasang LSVP Gauge (SST) dan lakukan pembuangan udara SST: 09709–29017.

3.    Naikan tekanan rem depan sampai 50 kg/cm² (711 psi, 4.903 Kpa) dan periksa tekanan rem belakang. Tekanan rem belakang: 46,7 +  5 kg/cm² (664 + 71 psi, 4.580 + 490 Kpa)

4.    Naikan tekanan rem depan sampai 100 kg/cm² (1.422 psi, 9.807 Kpa) dan periksa tekanan rem belakang. Tekanan rem belakang : 65,2 + 7 kg/cm² (927 + 100 psi, 6.394 + 684 Kpa). Bila tekanan minyak rem tidak benar setel tekanan minyak rem.

5.    Bila perlu setel tekanan minyak rem.

6.    Bila perlu pewriksa bodi katup.

2.   OVERHOUL KOMPONEN  REM

A.                                                   MASTER  SILINDER

1.   Pelepasan Master Silinder

a.    Keluarkan minyak rem dengan penyedotnya

b.    Lepas kedua pipa rem.  Dengan

menggunakan SST, Lepas kedua   pipa   rem  dari master silinder SST 09751–  36011

c.    Lepas master silinder

1)                                                                                           Lepas dua atau empat mur

2)                                                                                           Lepas master silinder dan gasket dari  booster rem

2.   Pembongkaran master Silinder

a.    Jepitlah silinder pada ragum (vice)

b.    Lepas tangki cadangan dan selang, lepas tutup, pelampung dan saringan, baut  dan selang

c.    Lepas snap ring  dan elbaow

d.    Lepas baut penahan  piston menggunakan      obeng, tekan piston sepenuhnya dan lepas baut pembatas piston dan gasket

e.    Lepas piston dan pegas

3.   Pemeriksaan Komponen Master Silinder

a.                                                                                                            Pemeriksaan dinding silinder terhadap karat atau goresan

b.                                                                                                            Periksa silinder dari keausan atau rusak bila perlu ganti silinder

4.   Perakitan Master Silinder

a.    Oleskan gemuk lithium soap base glykol pada bagian karet

b.    Pasang dua pegas dan piston:

1)   Masukan dua pegas dan piston dengan lurus

2)   Tekan piston dengan obeng dan pasang snap ring dengan tang snap ring

c.    Pasang baut pembatas piston menggunakan obeng, tekan piston sepenuhnya dan pasang baut pembatas piston dengan gasketnya, kencangkan baut

Momen: 100 Kg-cm (7 ft-lb, 10 N-m)

d.    Pasang tangki cadangan

1)   Pasang tangki cadangan pada master silinder, pasang baut dengan gasketnya dan kencangkan.

2)   Momen:  250 Kg-cm (18 ft-lb, 25 N-m)

3)   Pasang saringan pelampung dan tutup

e.    Pasang elbow dan snap ring

f.     Pasang slang tangki cadangan

5.   Pemasangan Master silinder

a.     Bersihkan alur pada bagian bawah permukaan pemasangan master silinder

b.    Pastikan tanda “UP” (atas) pada boot master silinder benar posisinya

c.     Setel panjang batang pendorong booster sebelum memasang master silinder

d.    Pasang master silinder

e.     Pasang master silinder, gasket, dan dua bracket pada booster rem dengan empat atau dua mur

f.      Pasang dua pipa rem

g.    Isilah tangki cadangan dengan minyak rem dan lakukan pembuangan udara sistem rem

h.    Periksa kebocoran minyak rem

i.      Periksa dan stel pedal rem

B.                                                   BOOSTER  REM

1.   PEMBONGKARAN BOOSTER REM

a.                       Pembongkaran Booster Rem

1)   Lepas klevis dan mur pengunci

2)   Pisahkan bodi depan dan belakang

a.    Berilah tanda pada bodi depan dan belakang

b.    Pasang booster pada SST

c.    Putar roda depan searah jarum jam, sampai bodi depan dan belakang saling berpisah

d.    Kendorkan mur atas kiri dan kanan dari SST dan pasangkan balok kayu diantara bodi depan dan plat atas

e.    Kencangkan dengan merata empat mur pengikat booster untuk memisahkan bodi depan dan belakang

f.     Lepas pegas diafragma dan batang pendorong booster

3)   Lepas boot dari bodi belakang

4)   Lepas rakitan pegas diafragma dari bodi belakang

5)   Lepas perapat bodi dari bodi belakang menggunakan SST, lepas perapat bodi

6)   Lepas bodi katup (valve bodi) dan diafragma dari piston booster

a.    Jepitlah SST  pada ragum (vice)

SST: 09736-27010

b.    Letakkan rakitan diafragma pada SST dan putaralah untuk memisahkan bodi katup dan piston booster

c.Lepas diafragma dari piston booster

7)   Lepas batang pendorong pedal dari bodi katup

a.    Tekan batang pendorong pedal kedalam bodi katup dan lepas kunci pembatas

b.    Tarik batang pendorong pedal keluar dengan tiga elemen saringan

8)   Lepas plat reaksi dari bodi katup

9)   Lepas perapat dari bodi depan menggunakan obeng, ungkit ring strikuler keluar, dan lepas perapat bodi

10)Bila perlu, lepas katup cek

Lepas katup cek dan grommet

b.                       Pemeriksaan Komponen Booster Rem

Periksa bekerjanya katup

1)   Periksa, udara agar dapat mengalir dari sisi booster ke sisi mesin

2)   Periksa, udara agar udara tidak dapat mengalir dari sisi mesin ke sisi booster

3)   Bila perlu, ganti katup cek

Perakitan Booster Rem

1)   Oleskan gemuk silikon pada bagian yang dapat ditunjukan berikut

2)   Pasang bodi katup pada bodi depan

a)    Pasang perapat bodi pada posisinya

b)   Ikat perapat bodi dengan ring sirkular

3)   Bila perlu, pasang katup cek, pasang grommet dan katup cek

4)   Pasang batang pendorong pedal pada bodi katup

a)    Pasang batang pendorong pedal pada katup

b)   Tekan batang pendorong pedal kedalam bodi katup dan pasang      kunci pembatas

c)    Tarik batang pendorong pedal, untuk memastikan bahwa kunci pembatas bekerja

5)   Pasang plat reaksi pada bodi katup

6)   Pasang bodi katup pada diafragma pada piston booster

a)    Pasang diafragma pada piston booster

b)   Pasang bodi katup pada piston booster

c)    Jepitlah SST pada ragum (vice)

SST:  09376-27101

d)   Letakkan rakitan diafragma pada SST dan putarkan untuk memasangnya

7)   Pasang perapat bodi pada bodi belakang, menggunakan SST, pasang perapat bodi  SST  :  09515 – 30010 dan 09608 – 20012 (09608 – 00030, 09608 – 03020)

8)   Pasang rakitan diafragma pada bodi belakang

9)   Pasang komponen berikut pada bodi belakang

a.    Element serat

b.    Element spons

c.    Karet debu (boot)

10)Rakit bodi depan dan belakang

a)    Letakkan pegas dan batang pendorong pedal pada bodi depan

b)   Menggunakan SST, tekan pegas diantara bodi depan dan belakang

SST:  09753 – 00013

c)    Rakit bodi depan depan dan belakang dengan memutar bodi depan berlawanan arah jarum jam, sampai tandanya tepat

11)  Pasang mur pengunci dan klevis

3.   REM TROMOL (TYPE LEADING-TRAILLING SHOE)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

a.                                                                                                                   Pelepasan Rem Tromol

 

 

 

 

 

 

 

1.    Lepas roda

2.    Lepas tromol rem

Lepas skrup, dan kemudian lepas tromol rem

a.    Lepas penyumbat dari backing plat

b.    Masukkan SST atau obeng melalui lubang, dan kurangi penyetelan sepatu rem dengan memutar mur penyetel

3.    Lepas pegas pembalik

4.    Lepas sepatu rem

a.    Menggunakan SST, lepas pegas penahan sepatu rem atas, dua mangkuk mankuk dan pen, kemudian lepas sepatu rem

b.    Dengan cara yang sama, sepatu bawah

5.    Bila perlu, lepas silinder roda

Menggunakan SST, lepas pipa rem dari silinder roda

Lepas nepel pembuang udara dari silinder roda

Lepas tiga baut pengikat silinder roda

6.    Bila perlu, bongkar silinder roda

Lepas komponen berikut dari silinder

a.    Karet pelindung (boot)

b.    Piston

c.    Karet rem (cups)

d.    Sekrup dan pegas pengunci penyetel

e.    Baut dan mur penyetel

 


b.                                                                                                                   Pemeriksaan komponen

1.    Periksa komponen yang dibongkar

2.        Ukur pelapis sepatu rem

Ketebalan minimum: 1,0 mm (0,039 in)

Ketebalan standart: 6,0 mm (0,236 in)

Bila ketebalan pelapis sepatu kurang dari nilai minimum atau terlihat dari tanda-tanda keausan yang tidak merata, gantilah sepatu rem.

3.        Ukur diameter dalam tromol rem

Diameter Maksimum: 230,6 mm (9,079 in)

Diameter standart: 228,6 mm (9,000 in)

Bila tromol rem tergores atau aus, tromol rem di bubut sampai pada batas diameter maksimum.

4.    Periksa persinggungan pelapis sepatu rem dan tromol rem

5.    Periksa silinder roda terhadap karat atau kerusakan

6.    Periksa backing plat terhadap kerusakan atau keausan

c.                                                                                                                    PERAKITAN REM TROMOL

1.    Rakit silinder roda

a.    Oleskan gemuk lithium soap base glycol pada karet rem (cup) dan piston

b.    Oleskan gemuk temperatur tinggi pada baut dan mur penyetel

c.    Rakit silinder roda

d.    Pasang baut penyetel dan mur penyetel pada  silinder

e.    Pasang pegas pengunci penyetelan dengan skrup  pengikat

2.    Pasang nepel pembuangan udara pada silinder roda

Pasangkan untuk sementara, nepel pembuangan udara pada silinder roda

3.    Pasang silinder roda pada backing plat

a.    Pasang silinder roda depan dengan penyetel menghadap ke atas dan silinder roda belakang  dengan penyetel menghadap ke bawah

b.    Kencangkan tiga baut pengikat

c.    Momen: 175 kg-cm (13ft-lb 17 N.m)

4.    Pasang pipa rem pada silinder roda

a.    Setelah pengencangan dengan tegangan, kencangkan mur dengan SST

b.    SST   : 09751 – 36011

c.Momen: 155 kg-cm (11 ft-lb 69 N.m)

5.    Oleskan gemuk temperatur tinggi pada backing plat

6.    Pasang sepatu rem

a.    Letakkan sepatu rem atas pada posisinya dan menggunakan SST

b.    Pasang pegas penahan sepatu, dua mangkuk dan pen

c.    Dengan cara yang sama, pasang sepatu rem bawah

d.    Menggunakan SST, pasang pegas pembalik sepatu depan dan belakang

7.    Bersihkan pelapis sepatu dan bagian dalam tromolmenggunakan kertas amplas

8.    Pasang tromol rem

Pasang tromol rem dan kencang skrup

Momen: 70 kg-cm (61 in-lb 69 N.m)

9.    Isi tangki cadangan dengan minyak rem dan lakukan pembuangan udara

10.  Periksa kebocoran rem

11.  Stel celah sepatu rem

12.  Pasang roda depan

 

 

 

 

 

 

 

4.   REM TROMOL TYPE TWO LEADING SHOE

a.       Pelepasan Rem Tromol

1.    Lepas roda tromol

a.    Lepas penyumbat dari backing plat dan         masukan obeng melalui lubang pada backing plat, tekan tuas otomatis menjauhi baut penyetel

b.    Menggunakan SST atau obeng yang lain, kurangi tinggi penyetelan dengan memutar penyetel searah jarum jam

2.    Lepas sepatu depan

a.    Menggunakan SST, lepas pegas pembalik

b.    Menggunakan SST, lepas pegas penahan sepatu, dua mangkuk dan pen

c.    Lepas sepatu depan dan pegas angkur

3.    Lepas sepatu belakang

a.    Menggunakan SST, lepas pegas panahan sepatu, mangkuk dan pen

b.    Lepas sepatu belakang bersama dengan penyetel

c.    Lepas kabel rem parkir dari tuas

4.    Lepas penyetel dari sepatu belakang

a.    Lepas pegas tuas penyetel

b.    Lepas penyetel

5.    Bila perlu, lepas silinder roda

a.    Menggunakan SST, lepas pipa rem

b.    Lepas dua baut pengikat silinder roda

6.    Bongkar silinder roda

a.    Menggunakan kaleng untuk menyimpan rem

b.    Lepas komponen komponen-komponen  berikut dari silinder roda

  • Dua karet pelindung
  • Dua piston
  • Dua karet rem (piston cup)
  • Pegas

 

b.       Pemeriksaan dan Perbaikan Komponen

1.    Periksa komponen yang dibongkar

Periksa komponen yang dibongkar, yang terjadi keausan, karat, atau kerusakan

2.    Ukur ketebalan sepetu rem

Ketebalan   minimum: 1,0 mm (0,039 in)

Ketebalan standart: 5,0 mm (0,197 in)

3.    Ukur diameter dalam rem

Diameter maksimum: 230,6 mm (0,039 in)

Diameter standar: 228,6 mm (9,000 in)

4.    Periksa persinggungan pelapisan sepetu dan rem tromol

5.    Periksa silinder roda terhadap karat atau kerusakan

6.    Periksa backing plat terhadap keausan atau kerusakan

7.    Ukur celah antara sepatu rem dan tuas menggunakan feeler gauge ukur celah-celah standart kurang dari 0,35 mm (0,138 in). Bila celah diluar spesifikasi gantilah shim dengan ukuran yang tepat

8.    Bila perlu, gantilah shim

a.    Lepas cincin C dan sepatu belakang

b.    Pasang shim dengan ukuran yang tepat

c.    Pasang tuas rem parkir dengan cincin C yang baru


c.        Perakitan Rem Tromol

1.    Bila perlu rakit dan pasang silinder roda

a.    Oleskan emuk lithium soap bae glycol pada karet rem

b.    Pasang pegas dua karet rem didalam  silinder   pastikan bahwa flens karet menghadap kedalam

c.    Pasang dua piston, oleskan gemuk lithium soap base glycol dan pasang dua karet pelindung (boot)

d.    Pasang silinder roda pada backing plat dengan dua baut pengikat

Momen: 100 mm (7 ft-lb 10 N.m)

e.    Menggunakan SST, pasang pipa rem   Momen: 115 kg-cm (11 ft-lb 15 N.m)

2.    Oleskan gemuk pada backing plat seperti ditunjukan pada gambar

3.    Oleskan gemuk pada ulir baut penyetel dan kedua ujung penyetel

4.    Pasang penyetel pada sepatu belakang

5.    Pasang sepatu depan

6.    Pasang sepatu belakang

7.    Periksa mekanisme penyetel otomatis

a.    Periksa bahwa baut penyetel berputar bila tuas rem parkir diatrik

b.    Bila tuas tida berputar periksa kembali adanya kesalahan pemasangan pada rem belakang

8.    Periksa celah antara sepatu rem dan tromol rem

a.    Lepas tromol rem

b.    Ukur diameter dalam romol rem dan sepatu rem

9.    Bersihkan permukaan tromol dan sepatu rem menggunakan kertas amplas

10. Pasang tromol rem dan roda belakang

11. Isilah tangki cadangan minyak rem dan lakukan pembuangan udara sistem rem

12. Periksa kebocoran minyak rem

5.    REM PIRINGAN

a.   PENGGANTIAN PAD REM

1.    Periksa ketebalan pada rem

Ketebalan minimum: 1,0 mm

Ketebalan maksimum: 10,0 mm

2.    Lepas baut pengikat silinder

3.    Angkat silinder

4.    Lepas pad dan shim anti – cicit

5.    Lepas anti berisik plat pengantar pad dan plat penahan pad

6.    Pasang plat penahan pad, plat pengantar pad, dan pegas anti berisik

7.    Pasang pad yang baru dan pegas anti cicit

8.    Turunkan silinder

9.    Pasang baut pengikat

b.   PELEPASAN SILINDER

1.    Lepas slang dan pipa rem

2.    Lepas slang rem dari silinder rem

3.    Lepas silinder

4.    Lepas komponen-komponen berikut

a.    Shim anti-cicit

b.    Dua pad rem

c.    Dua pegas anti berisik

d.    Dua pengantar pad

e.    Plat penahan pad

c.    PEMBONGKARAN SILINDER REM

1.    Lepas bhusing peluncur karet pelindung (boot)

2.    Lepas Karet pelindung pen utama (boot)

3.    Lepas ring pengikat

4.    Lepas piston dari silinder

5.    Lepas karet dari pelindung piston

6.    Lepas perapat piston

d.   PEMERIKSAAN KOMPONEN REM PIRINGAN

1.    Ukur ketebalan pelapis pad

a.    Ketebalan minimum        : 1,0 mm

b.    Ketebalan maksimum      : 10,0 mm

2.    Ukur ketebalan piring rotor

a.    Ketebalan minimum        : 19,0 mm

b.    Ketebalan maksimum      : 20,0 mm

3.    Ukur keolengan piringan rotor

Keolengan maksimum : 0,15 mm

4.    Bila perlu ganti piringan rotor

e.   PERAKITAN SILINDER REM

1.    Oleskan gemuk lithium soap base glycol pada bagian-bagian yang berikut

a.    Karet pelindung pen utama

b.    Pen peluncur dan karet pelindung

c.    Perapat piston dan piston

d.    Karet pelindung silinder

2.    Pasang perapat piston dan piston kedalam silinder

3.    Pasang karet pelindung silinder dan ring pengikat pada silinder

4.    Pasang karet pelindung pen utama

5.    Pasang karet pelindung dan bushing peluncur

f.      PEMASANGAN SILINDER

1.    Pasang komponen-komponen silinder

2.    Pasang silinder

3.    Pasang baut pengikat silinder

4.    Pasang slang rem pada rem

5.    Pasang slang dan pipa rem

6.    Isi tangki cadangan minyak rem dan lakukan pembuangan udara sistem rem

7.    Periksa kebocoran minyak rem

6.   PENGETESAN KOMPONEN UTAMA

A.   PETUNJUK UMUM

Ada beberapa kondisi yang akan mempengaruhi gerakan rem, kondisi ini harus dicek sebelum tes secara intensif atau kontinyu dilakukan pada sistem rem.

1.   Ban

a.    Ban harus dipompa pada tekanan yang tepat

b.   Jenis dan kondisi ban harus sama

2.   Beban Kendaraan

a.    Beban harus tidak boleh melebihi batas sfesifikasi pabrik pembuatnya

b.   Beban harus didistribusikan sehingga poros dengan pengaruh pengereman harus membawa beban lebih

3.   Bantalan Roda Depan

Gerakan pedal rem yang berlebihan mungkin mengakibatkan kelonggaran bantalan roda

4.   Pengaruh Roda Depan

Ketidakrataan atau ketidaktepatan sudut Canber dan penyetelan infikasi kemudi akan memberikan pengaruh sama seperti tarikan rem.

Alasan untuk pengetesan sistem rem adalah:

a.    Untuk memenuhi peraturan penggunaan jalan raya dan untuk memberikan syarat keamanan

b.   Untuk  mendiagnosis masalah bagi pengendara kendaraan

c.    Untuk memastikan bahwa perbaikan telah dilakukan secara efektif

B.   TES KONDISI JALAN

Untuk tes sistem pengereman, prosesnya adalah sebagai berikut:

1.   Lakukan pemeriksaan rem, catat hasil pembacaan dalam keadaan yang tepat, jika menggunakan deselorometer untuk mengukur efek pengereman, maka yang harus dilakukan adalah dengan permukaan jalan harus kering dan kondisinya rata.

2.   Posisi pada netral harus dipilih sebelum rem digunakan.

3.   Kendaraan direm pada jalan yang lurus

4.   Pembacaan deselorometer harus memberikan dengan keadaan relevan

1.    Mengetes Rem Sistem Hidrolik

Untuk mengetes rem sistem hidrolik pada kendaraan caranya sebagai berikut:

a.    Gunakan gaya penekanan yang ringan pada pedal rem, suatu pedal rem yang ditekan dengan pelan akan menunjukan kebocoran pada sistem hidrolik, kelebihan udara dalam sistem kerusakan penutup primer dalam silinder master.

b.   Gunakan gaya penekanan yang tinggi pada pedal rem, gerakan pedal yang berlebihan menunjukan ketidaktepatan penyetelan rem, kerusakan pada sistem rem ganda, lampu tanda peringatan akan menyala. Pedal yang penekanannya akan menunjukan hal–hal berikut:

-         Ada udara dalam sistem

-         Cairan rem rendah

-         Cairan rem berkualitas rendah

-         Menyimpangnya sepatu rem

Pedal yang ditekan dengan cepat menunjukkan ada sistem hidrolik yang bocor.

2.    Mengetes Booster Rem

Untuk mengetes booster rem , prosesnya adalah sebagai berikut:

a.    Dengan motor putaran tekan pedal rem beberapa waktu untuk mengosongkan memberi kevakuman

b.    Gunakan tekanan vakum medium untuk pedal rem

c.    Star motor bila booster dioprasikan secara tepat pedal akan menekan dengan ringan.

3.    Mengetes Rakitan Unit Rem Roda

Untuk mengetes rakitan unit rem roda, prosesnya adalah sebagai berikut:

a.                        Pilih permukaan jalan yang kering dan kondisi yang baik

b.    Gunakan rem dengan baik ketika kendaraan pada kecepatan 35 Km/jam

c.    Kendaraan harus direm pada arah jalan yang lurus, jika kendaraan digerakan atau ditarik pada satu arah, kerusakan rem akan berlawanan pada sisi yang mana kendaraan akan tertarik, mengandalkan permukan jalan dan tekanan yang digunakan untuk mengerem, tanda–tanda ban dan sepatu rem yang mungkin akan terlihat.

d.    Setelah rem dilepas, pedal tidak ditekan kendaraan harus dapat meluncur dengan bebas (berjalan sendiri atau meluncur dijalan).

4.    Mengetes Rem Parkir

Untuk mengetes rem parkir, prosesnya adalah sebagai berikut:

a.    Hentikan kendaraan pada jalan yang menurun pada permukaan jalan yang kering.

b.    Gunakan rem parkir

c.    Lepaskan rem kaki tetapi rem parkir dipasang, kendaraan harus tetap ditempatnya

C.   MENGETES KOMPONEN PERALATAN KHUSUS

Komponen rem yang perlu dites, yaitu pengoprasian peralatan khusus adalah:

a.    Klep tambahan/klep pembanding

b.    Booster rem (dalam beberapa hal)

1.    Mengetes Klep Pembanding Silinder Master

Untuk mengetes suatu klep pembanding dikombinasikan dalam silinder master, prosesnya sebagai berikut:

a.    Lepaskan dua pipa dari silinder master

b.    Hubungkan pada suatu pengukur tekanan tinggi untuk masing–masing lubang saluran silinder master, penyumbat ketiga lubang dengan sekrup pelimpah.

c.    Kuras sistem rem.

d.    Perintahkan pada asisten/pembantu anda untuk menekan pedal rem sampai pengukur penghubung pada lubang saluran rem dengan mencapai nilai spesifikasi yang diinginkan.

e.    Ambil pembacaan dari pengukuran yang lain, pembacaan dapat terjadi 80 % dari pembacaan pengukur rem depan.

2.    Mengetes Klep Pembanding Standar

 

 

 

 

 

 

a.    Lepaskan hubungan pipa dari klep dan masukan dua buah penyambung T, masing–masing satu antar ujung klep dan pipa.

b.    Hubungkan ke suatu tekanan tinggi untuk masing–masing sambungan T.

c.    Kuras cairan rem dari sistem.

d.    Perintahkan pada asisten anda untuk menekan pedal rem sampai mengukur dihubungkan antara silinder master dan klep, mencapai batas nilai limit spesifikasi yang diijinkan.

e.    Ambil pembacaan dari pengukur yang lain, pembacaan dapat menjadi 80 % dari pembacaan pertama.

f.     Ganti komponen jika batas ukur tidak diperoleh.

g.    Tes tekan booster

h.    Gunakan kevakuman yang sama dan gaya pada booster dengan kran terbuka, catat pembacaan pada pengukur, ulangi tes ini beberapa kali untuk memperoleh hasil yang tetap/konsisten.

D.   MENGETES REM SETELAH DIPERBAIKI

Untuk mengets rem setelah diperbaiki/perbaikan caranya sebagai berikut:

a.    Pada waktu menggunakan penekanan rem dengan ringan dan dengarkan bunyi yang tidak normal.

b.    Gunakan beberapa tes penghentian/stop, rem harus dapat menghentikan kendaraan pada jalan yang lurus apakah bidang permukaan gesek panas atau dingin. Pedal rem harus tetap ditahan, rem harus lepas ketika pedal atau rem parkir dikembalikan pada posisi netral, jika bidang permukaan gesek dingin atau kedua rem dilepaskan, kendaraan harus bebas bergerak/dapat meluncur sendiri.

c.    Jangan mengulangi penyetelan rem jika permukaan bidang gesek menjadi panas karena tromol akan berlawanan sebagai penurun sehingga menjadi dingin jadi menghasilkan celah tromol pada kanvas rem, rem akan tertarik atau terkunci.

d.    Jangan menyetel kepala rakitan unit roda rem jika permukaan gesek menjadi panas karena akan membakar tangan anda.

e.    Terakhir, periksa kebocoran komponen bodi bawah atau cek cairan rem dalam silinder master.

c.    Rangkuman

1.    Peraturan yang digunakan pada pelaksanaan overhoul sistem rem dan bagian–bagiannya:

a.    Kunci–kunci

b.    Obeng

c.    Tang

d.    Pahat

e.    Penitik

f.     Dongkrak

g.    Micrometer

h.    Jangka sorong

2.    Langkah–langkah dalam pelaksanaan overhoul sistem rem:

a.    Membongkar atau melepas

b.    Melaksanakan pembongkaran atau melepas komponen–komponen sistem rem dan bagian–bagiannya dengan menggunakan peralatan yang sesuai.

c.    Pemeriksaan atau pengukuran

d.    Melaksanakan pemeriksaan atau pengukuran pada komponen yang mengalami kerusakan

e.    Perbaikan

f.     Melakukan perbaikan pada komponen yang mengalami kerusakan atau menggantinya dengan komponen yang baru.

g.    Penyetelan dan pemasangan

h.    Melaksanakan penyetelan atau pemasangan kembali komponen–komponen yang dilepas tadi

d.   Tugas

1.    Jelaskan fungsi dari alat berikut:

a.    Kunci momen

b.   Klematra

c.    Mikrometer

2.    Buatlah laporan hasil praktek secara ringkas dan jelas!

e.   Tes Formatif

1.    Jelaskan fungsi alat yang digunakan pada pelaksanaan overhoul komponen sistem rem dan bagian–bagiannya!

2.    Jelaskan langkah–langkah kita ketika melaksanakan overhoul sistem rem dan bagian–bagiannya!

f.     Kunci Jawaban

1.    Fungsi alat–alat:

Kunci            : untuk membuka atau memasang baut dan mur

Obeng          : untuk membuka baut sekrup

Tang            : untuk memotong atau menjepit suatu benda

Pahat           : untuk memotong benda kerja menjadi dua bagian atau lebih

Klematra       : untuk menghentikan aliran minyak rem yang mengalir pada selang rem

Micrometer   : untuk mengukur (sebagai alat ukur)

2.    Langkah–langkah pelaksanaan overhoul

a.    Pelepasan atau pembongkaran

b.    Pemeriksaan atau pengukuran

c.    Perbaikan atau penggantian

d.    Penyetelan atau pemasangan

g.   Lembar Kerja

1.    Alat dan Bahan

a.    Tool Box

b.   Alat ukur

c.    Jack Stand

d.   Dongkrak

e.    Lap/Majun

f.     Minyak pembersih

g.   Tempat mur dan baut

2.    Keselamatan Kerja

a.    Gunakan peralatan yang sesuai dengan fungsinya

b.   Ikutilah Instruktur ataupun prosedur kerja yang tertera pad lembar kerja.

c.    Mintalah ijin dari instruktur bila hendak melakukan pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja.

d.   Sediakan tempat baut dan mur

e.    Bila perlu gunakan buku petunjuk yang sesuai dengan job pekerjaan

3.    Langkah Kerja

a.    Persiapkan alat dan bahan praktek secara cermat, efektif dan seefesien mungkin

b.   Perhatikan penjelasan prosedur penggunaan alat, baca lembar kerja dengan teliti

c.    Lakukan pekerjaan mengoverhoul komponen sistem rem dan bagian–bagiannya sesuai dengan prosedur yang benar

d.   Mintalah penjelasan pada instruktur mengenai hal yang belum jelas

e.    Buatlah catatan–catatan penting kegiatan praktek secara ringkas

f.     Setelah selesai, bersihkan dan kembalikan semua peralatan dan bahan yang telah digunakan kepada petugas

4.    Tugas

a.    Buatlah laporan praktek secara ringkas dan jelas!

b.   Buatlah rangkuman pengetahuan yang anda peroleh setelah mempelajari kegiatan 2!


BAB. III

EVALUASI

A.   Pertanyaan Teori

No.

Pertanyaan

Skor

1.

Jelaskan rem ditinjau dari konstruksinya!

0.5

2.

Jelaskan perbedaan antara sistem rem tromol dan sistem rem cakram yang anda ketahui!

1

3.

Jelaskan prosedur membleeding/membuang udara!

1

4.

Sebutkan minimal 5 peralatan yang digunakan pada overhoul sistem rem!

0.5

Total

3

B.   Uji kompetensi

Peserta diklat melakukan demonstrasi/praktik dihadapan Guru/Instruktur dengan waktu yang sudah ditentukan.

Soal

Disediakan sebuah kendaraan bermotor roda empat, lakukanlah overhoul pada sistem rem bagian boster rem (Urutkanlah langkah–langkahnya dengan tepat).

Blangko Penilaian Praktik

No.

Kegiatan yang dinilai

Waktu

Nilai

Ket

1.

2.

3.

4.

Pembongkaran Pelepasan

Komponen

Pemeriksaan/Pengukuran

Perbaikan/Pengetesan

Pemasangan Komponen

201

201

301

201

1

2.5

2.5

1

Total

901

7


KUNCI JAWABAN

 

A.   Teori

1.   Jenis rem ditinjau dari konstruksinya adalah:

a.    Internal expander brake (Rem Pengembangan dari dalam)

b.    External Contracting Brake

c.    Disc Brake (Rem Piringan)

2.   Perbedaan rem tromol dan cakram

a.    Rem Tromol

Salah satu konstruksi rem yang cara kerja pengeremannya dengan menggunakan rem tromol breke drum, sepatu rem, brake shoe, dan silinder roda (Wheel Cylinder) pengunaanya diantara roda belakang tidak sama maksudnya agar system rem berfungsi dengan baik dan sesuai dengan persyaratanya

b.    Rem Cakram

Salah satu konstruksi rem yang cara kerjanya karena adanya gesekan antara cakram dengan pad sehingga pengereman terjadi. Mayoritas digunakan pada roda depan dimana tromol diganti dengan ckram/ piringan.

3.   Peralatan yang digunakan pada pelaksanaan overhoul:

a.    Kunci–kunci

b.    Dongkrak

c.    Tang

d.    Obeng

e.    Jangka sorong/mikro meter

 

B.   Praktik

1.    Langkah–langkah pelaksanaan overhoul antara lain:

a.    Pelepasan/pembongkaran komponen

b.    Pemeriksaan/pengukuran

c.    Perbaikan/pengetesan

d.    Pemasangan/penyetelan kembali

Þ    Pembongkaran/pelepasan komponen

Þ    Dengan dibantu peralatan dongkrak & kunci roda kita membongkar roda dari kendaraan.

Pemeriksaan/pengukuran

Þ    Melakukan pemeriksaan terhadap komponen–komponen utama dari system rem tersebut.

2.    Perbaikan/pengetesan.

Þ    Dengan motor putaran stationer tekan pedal rem beberapa saat untuk mengosongkan pemberi kevakuman.

Þ    Gunakan tekanan vakum medium untuk pedal rem

Þ    Start mesin bila booster dioperasikan secara tepat, pedal akan menekan dengan ringan.

C.   Kriteria kelulusan

Batas minimal kompetensi diberi nilai 7.0

Grade nilai adalah sebagai berikut:

7.00 (Baik)           : Dengan tepat waktu dapat mencapai kompetensi sesuai kualitas standar minimal

8.00 (Amat Baik)  : Lebih cepat dari ketentuan waktu dapat mencapai kompetensi sesuai kualitas standar minimal

9.00 (Istimewa)    : Lebih cepat dari ketentuan waktu dapat mencapai kompetensi melebihi kualitas standar minimal

BAB. IV

PENUTUP

Peserta diklat/Siswa yang telah menyelesaikan modul Overhoul Komponen Sistem Rem berhak mengikuti tes praktik untuk menguji kompetensi yang telah dipelajari dan apabila dinyatakan memenuhi syarat kelulusan dari hasil evaluasi dalam modul ini, maka berhak untuk melanjutkan ke topik modul berikutnya. Mintalah pada Pengajar atau Instruktur untuk melakukan uji kompetensi dengan sistem penilaiannya yang dilakukan langsung dari pihak Dunia Industri atau Asosiasi Profesi yang berkompetensi. Apabila peserta diklat telah menyelesaikan suatu kompetensi tertentu.

Apabila peserta diklat telah menyelesaikan seluruh evaluasi dari setiap modul, maka hasil yang berupa nilai dari instruktur atau berupa porto polio dapat dijadikan sebagai bahan verifikasi bagi pihak Industri atau Asosiasi Profesi. Kemudian hasil tersebut dapat dijadikan sebagai penentu standar pemenuhan kompetensi dan bila memenuhi syarat peserta diklat berhak mendapatkan sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh Dunia Industri atau Asosiasi Profesi.

DAFTAR PUSTAKA

 

1.    A.M. Saleh, 1984 Kamus Teknik Inggris. Indonesia Jakarta, CV Pajar Abadi.

2.    Bagyo Sucahyo .Drs, Darmanto Drs, Soemarsono, B.sc, 1997, Otomotif Mesin Tenaga, Surakarta, PT TIGA SERANGKAI

3.    Daryanto Drs. 2002 Teknik Merawat Auto Mobil lengkap, Bandung, CV YRAMA WIDYA.

4.    I. Solihin. Drs, Mulyadi. S.Pd., 2002 Perbaikan Chasis dan pemindahan tenaga, SMK. Tingkat 2, Bandung, CV. ARMICO.

5.    Standar kompetensi Guru, SMK. 2004 Bidang Keahlian Otomotif, Jakarta, Departemen Pendidkan Nasional.

6.    Toyota Astra Motor 1995, New Step I  Training Manual, Jakarta PT.  TAM Training Center.

7.    Toyota 1992. Pedoman Reparasi Chasis dan Body Kijang. Jakarta PT. Toyota Astra Motor.

wiring diagram

spesifikasi motor yamaha

Product Name : MIO SPORTY CW
Product Type : Automatic
Product Price : Rp. 12,230,000
Harga On The Road untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.
MESIN
Tipe Mesin 4 langkah, SOHC 2-Klep pendingin udara
AIS (Air Induction System) EURO 2 Ready
Diameter x Langkah 50.0 x 57.9 mm
Volume Silinder 113.7 CC
Perbandingan Kompresi 8.8 : 1
Kopling Kering, Sentrifugal Otomatis
Susunan Silinder Tunggal
Karburator NCV24x1 (Keihin)
Sistem Pengapian DC-CDI
Pelumas Wet Sump
Kapasitas Oli Mesin 0.9 Liter
Transmisi V-Belt Otomatis
Rasio Gigi 2.399 – 0.829
Caster / Trail 26.5 derajat/ 100 mm
Sistem Rem Depan Hydraulic Single Disc
Sistem Rem Belakang Drum
CHASIS
Berat Kosong 87 Kg
Tipe Rangka Steel Tube
Kapasitas Tangki 3,7 Liter
Jarak Sumbu Roda 1,240 mm
Jarak ke Tanah 130 mm
Tinggi Tempat Duduk 745 mm
SUSPENSI / BAN
Suspensi Depan Teleskopik
Suspensi Belakang Teleskopik
Ukuran Ban Depan 70/90-14MC 34P
Ukuran Ban Belakang 80/90-14MC 34P
PERFORMA
Dimensi (P x L x T) 1,820 x 675 x 1,050 mm
Sistem Starter Kick & Electric
Daya Maksimum 6.54 Km (8.9 ps) / 8,000 rpm
Torsi Maksimum 7.84 Nm (0.88 kgf.m) / 7,000 rpm
GARANSI
3 tahun/ 36.000 Km : Mesin (Sesuai ketentuan)
2 tahun : kelistrikan (Rotor, Stator, CDI, Ignition Coil, Motor Starter Assy)
6 bulan/ 6.000 Km : Umum (Diluar kelistrikan)
SERVIS GRATIS : 4 kali + 2 kali oli mesin

Other Colors

SPESIFIKASI YAMAHA MIO SOUL

Product Name : MIO SOUL
Product Type : Automatic
Product Price : Rp. 13,425,000
Harga On The Road untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.
MESIN
Tipe Mesin 4 langkah, SOHC 2-Klep pendingin udara
AIS (Air Induction System) EURO 2 Ready
Diameter x Langkah 50.0 x 57.9 mm
Volume Silinder 113.7 CC
Perbandingan Kompresi 8.8 : 1
Kopling Kering, Sentrifugal Otomatis
Susunan Silinder Tunggal
Karburator NCV24x1 (Keihin)
Sistem Pengapian DC-CDI
Pelumas Wet Sump
Kapasitas Oli Mesin 0.9 Liter
Transmisi V-Belt Otomatis
Rasio Gigi 2.399 – 0.829
Caster / Trail 26.5 derajat/ 100 mm
Sistem Rem Depan Hydraulic Single Disc
Sistem Rem Belakang Drum
CHASIS
Berat Kosong 87 Kg
Tipe Rangka Steel Tube
Kapasitas Tangki 3,7 Liter
Jarak Sumbu Roda 1,240 mm
Jarak ke Tanah 130 mm
Tinggi Tempat Duduk 745 mm
SUSPENSI / BAN
Suspensi Depan Teleskopik
Suspensi Belakang Teleskopik
Ukuran Ban Depan 70/90-14MC 34P
Ukuran Ban Belakang 80/90-14MC 34P
PERFORMA
Dimensi (P x L x T) 1,820 x 675 x 1,050 mm
Sistem Starter Kick & Electric
Daya Maksimum 6.54 Km (8.9 ps) / 8,000 rpm
Torsi Maksimum 7.84 Nm (0.88 kgf.m) / 7,000 rpm
GARANSI
3 tahun/ 36.000 Km : Mesin (Sesuai ketentuan)
2 tahun : kelistrikan (Rotor, Stator, CDI, Ignition Coil, Motor Starter Assy)
6 bulan/ 6.000 Km : Umum (Diluar kelistrikan)
SERVIS GRATIS : 4 kali + 2 kali oli mesin

Other Colors

SPESIFIKASI YAMAHA V-IXION

Product Name : V-IXION
Product Type : Sport
Product Price : Rp. 19,630,000
Harga On The Road untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.
MESIN
Model 3C11
Tipe Mesin Liquid Cooled, 4T, SOHC
Diameter x Langkah 57 x 58,7 (mm)
Volume Silinder 149.8 cc
Perbandingan Kompresi 10.4 : 1
Sistem Starter Kick & Electric Starter
Putaran Langsam 1300 � 1500 rpm
Power 11.10 kw (14.88 HP) / 8,500 rpm
Torsi 13.10 nm (1.34 Kgf.m)/ 7,500 rpm
BAHAN BAKAR
Bahan baker disarankan Unleaded Gasoline (Premium tanpa timbal)
Kapasitas tangki 12 Ltr
OLI MESIN
Oli disarankan SAE 20W40 / SAE 20W50 API SERVICE SJ
Sistem pelumasan Tipe basah
Jumlah Oli Mesin
- Penggantian berkala (tanpa melepas filter) 0.95 Ltr
- Penggantian berkala (dengan melepas filter) 1.00 Ltr
- Penggantian total 1.15 Ltr
THROTLE BODY
Tipe AC 28/1
Merk / Buatan MIKUNI
Cam Chain Silent Chain / 96
Tensioner Automatic
Celah Katup
- Masuk 0.10 ~ 0.14 mm
- Buang 0.20 ~ 0.24 mm
DIMENSI
Lebar 705 mm
Tinggi 1,035 mm
Panjang 2,000 mm
Tinggi Tempat Duduk 790 mm
Jarak Sumbu Roda 1,282 mm
Sudut Caster 260
Trail 100 mm
Jarak terendah ke tanah 167 mm
Berat Bersih 114 Kg
Berat Kotor (+ cairan) 125 Kg
FILTER UDARA
Tipe Tipe Kering
BUSI
Tipe / Buatan CR 8 E (NGK) / U 24 ESR-N (DENSO)
Gap Busi 0.7 ~0.8 mm
KELISTRIKAN
Timing pengapian 100 / 1,400 rpm
Tahanan pick up coil 248 ~ 372 ohm
Tahanan primary coil 2.16 ~ 2.64 ohm
Tahanan secondary coil 8.64 ~ 12.96 ohm
Fuse (Sekring) 20 Ampere
Bulb (bohlam) lampu depan 12V 35/35W, 12V 5W (Lampu senja)
Bulb (bohlam) lampu belakang 12V 5/21W
BATERRY
Tipe YTZ5S MF BATTERY
Kapasitas 12V 3.5 Ampere

SPESIFIKASI YAMAHA SCORPIO-Z CW

Product Name : SCORPIO-Z CW
Product Type : Sport
Product Price : Rp. 20,775,000
Harga On The Road untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.
MESIN
Tipe Mesin 4 langkah, SOHC pendingin udara
Diameter x Langkah 70 x 58 mm
Volume Silinder 223 cm
Perbandingan Kompresi 9.5 : 1
Kopling Manual
Susunan Silinder Silinder Tunggal Tegak
Gigi Transmisi 5 kecepatan
Pola Pengoperasian Gigi 1-N-2-3-4-5
Sistem Pengapian DC-CDI
CHASIS
Berat 125 Kg
Tipe Rangka Double Cradle
Kapasitas Tangki 13.5 liter
Jarak Sumbu Roda 1,295 mm
Jarak ke Tanah 165 mm
Tinggi Tempat Duduk 770 mm
SUSPENSI / BAN
Suspensi Depan Teleskopik
Suspensi Belakang Monocross
Ukuran Ban Depan 80/100-18-47 P
Ukuran Ban Belakang 100/90-18-56 P
PERFORMA
Dimensi (P x L x T) 2,020 x 770 x 1,090 mm
Sistem Starter Kick & Electric
Daya Maksimum 19 PS / 8,000 RPM
Torsi Maksimum 1.86 KGF.M / 6,500 RPM
DIMENSI
Rem Depan Cakram double piston
Rem Belakang Tromol

SPESIFIKASI YAMAHA JUPITER MX135LC CW Hand Clutch

Product Name : JUPITER MX135LC CW Hand Clutch
Product Type : Moped
Product Price : Rp. 15,225,000
Harga On The Road untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.
MESIN
Tipe Mesin 4 Langkah, SOHC, 4 Klep (Berpendingin Cairan)
Diameter x Langkah 54.0 x 58.7 mm
Volume Silinder 135 CC
Perbandingan Kompresi 10.9 : 1
Power Max 8,45kW (11,33HP) pada 8500 rpm
Torsi Max 11,65N.m (1,165 kgf.m) pada 5500 rpm
Sistem pelumasan Pelumasan Basah
Kapasitas Oli Mesin Penggantian Berkala 800cc
Penggantian Total 1000cc
Kapasitas Air Pendingin Radiator dan Mesin 620cc
Tangki Recovery 280cc, Total 900cc
Karburator Mikuni VM 22 x 1, Setelan Pilot Screw 1-5/8 putaran keluar
Putaran Langsam mesin 1.400 rpm
Saringan Udara Mesin Tipe kering
Sistem Starter Motor Starter dan Starter Engkol
Tipe Transmisi Tipe ROTARY 4 Kecepatan, dengan kopling manual
CHASIS
Tipe Rangka Diamond Frame
Suspensi Depan Telescopic Fork
Suspensi Belakang Tunggal / Monocross
Rem Depan Cakram Tunggak 220 mm
Rem Belakang Tromol dengan Bahan “Non Asbestos”
Ban Depan 70/90 – 17 dengan Velg Racing
Ban Belakang 80/90 – 17 dengan Velg Racing
Ukuran Rantai 428
KELISTRIKAN
Lampu Depan 12 Volt, 32 W / 32 W
Lampu Sein Depan 12 Volt, 10 W x 2 buah
Lampu Sein Belakang 12 Volt, 10 W x 2 buah
Lampu Rem 12 Volt, 5 W / 21 W x 1 buah
Battery GM5Z – 3B / YB 5L-B 12 Volt 5,0 Ah
Busi / Spark Plug NGK CPR 8 EA-9 / DENSO U 24 EPR-9
Sistem Pengapian DC CDI
Sekring 10 Ampere
DIMENSI
Panjang x Lebar x Tinggi 1.945 mm x 705 mm x 1.065 mm
Tinggi Tempat Duduk 770 mm
Jarak Sumbu Roda 1.245 mm
Jarak Terendah ke Tanah 140 mm
Kapasitas Tangki Bahan Bakar 4 Liter
Berat Isi 109 kg
Berat Kosong 104 kg

Other Colors

SPESIFIKASI YAMAHA SCORPIO-Z

Product Name : SCORPIO-Z
Product Type : Sport
Product Price : Rp. 19,375,000
Harga On The Road untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.
MESIN
Tipe Mesin 4 langkah, SOHC pendingin udara
Diameter x Langkah 70 x 58 mm
Volume Silinder 223 cm
Perbandingan Kompresi 9.5 : 1
Kopling Manual
Susunan Silinder Silinder Tunggal Tegak
Gigi Transmisi 5 kecepatan
Pola Pengoperasian Gigi 1-N-2-3-4-5
Sistem Pengapian DC-CDI
CHASIS
Berat 125 Kg
Tipe Rangka Double Cradle
Kapasitas Tangki 13.5 liter
Jarak Sumbu Roda 1,295 mm
Jarak ke Tanah 165 mm
Tinggi Tempat Duduk 770 mm
SUSPENSI / BAN
Suspensi Depan Teleskopik
Suspensi Belakang Monocross
Ukuran Ban Depan 80/100-18-47 P
Ukuran Ban Belakang 100/90-18-56 P
PERFORMA
Dimensi (P x L x T) 2,020 x 770 x 1,090 mm
Sistem Starter Kick & Electric
Daya Maksimum 19 PS / 8,000 RPM
Torsi Maksimum 1.86 KGF.M / 6,500 RPM
DIMENSI
Rem Depan Cakram double piston
Rem Belakang Tromol
Karena usaha yang terus menerus untuk membuat sepeda motor YAMAHA yang lebih baik, data data diatas dapat berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

SPESIFIKASI YAMAHA MIO

Product Name : MIO
Product Type : Automatic
Product Price : Rp. 11,800,000
Harga On The Road untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.
MESIN
Tipe Mesin 4 langkah, SOHC 2-Klep pendingin udara
Diameter x Langkah 50.0 x 57.9 mm
Volume Silinder 113.7 CC
Perbandingan Kompresi 8.8 : 1
Kopling Kering, Sentrifugal Otomatis
Susunan Silinder Tunggal
Karburator NCV24x1 (Keihin)
Sistem Pengapian DC-CDI
Pelumas Wet Sump
Kapasitas Oli Mesin 0.9 Liter
Transmisi V-Belt Otomatis
Rasio Gigi 2.399 – 0.829
Caster / Trail 26.5 derajat/ 100 mm
Sistem Rem Depan Hydraulic Single Disc
Sistem Rem Belakang Drum
CHASIS
Berat Kosong 87 Kg
Tipe Rangka Steel Tube
Kapasitas Tangki 3,7 Liter
Jarak Sumbu Roda 1,240 mm
Jarak ke Tanah 130 mm
Tinggi Tempat Duduk 745 mm
SUSPENSI / BAN
Suspensi Depan Teleskopik
Suspensi Belakang Teleskopik
Ukuran Ban Depan 70/90-14MC 34P
Ukuran Ban Belakang 80/90-14MC 34P
PERFORMA
Dimensi (P x L x T) 1,820 x 675 x 1,050 mm
Sistem Starter Kick & Electric
Daya Maksimum 6.54 Km (8.9 ps) / 8,000 rpm
Torsi Maksimum 7.84 Nm (0.88 kgf.m) / 7,000 rpm
GARANSI
3 tahun/ 36.000 Km : Mesin (Sesuai ketentuan)
2 tahun : kelistrikan (Rotor, Stator, CDI, Ignition Coil, Motor Starter Assy)
6 bulan/ 6.000 Km : Umum (Diluar kelistrikan)
SERVIS GRATIS : 4 kali + 2 kali oli mesin

Other Colors

SPESIFIKASI YAMAHA JUPITER MX 135 LC AT

Product Name : JUPITER MX 135LC
Product Type : Moped
Product Price : Rp. 15,275,000
Harga On The Road untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.
MESIN
Tipe 4 Langkah, SOHC, 4 Klep (Berpendingin Cairan)
Volume Cylinder 135 cc
Diameter x Langkah 54 x 58,7 mm
Perbandingan Kompresi 10,9 : 1
Power Max 8,45kW (11,33HP) pada 8500 rpm
Torsi Max 11,65N.m (1,165 kgf.m) pada 5500 rpm
Sistem pelumasan Pelumasan Basah
Kapasitas Oli Mesin Penggantian Berkala 800cc
Penggantian Total 1000cc
Kapasitas Air Pendingin Radiator dan Mesin 620cc
Tangki Recovery 280cc, Total 900cc
Karburator Mikuni VM 22 x 1, Setelan Pilot Screw 1-5/8 putaran keluar
Putaran Langsam mesin 1.400 rpm
Saringan Udara Mesin Tipe kering
Sistem Starter Motor Starter dan Starter Engkol
Tipe Transmisi Tipe ROTARY 4 Kecepatan
RANGKA
Tipe Rangka Diamond Frame
Suspensi Depan Telescopic Fork
Suspensi Belakang Tunggal / Monocross
Rem Depan Cakram Tunggak 220 mm
Rem Belakang Tromol dengan Bahan “Non Asbestos”
Ban Depan 70/90 – 17
Ban Belakang 80/90 – 17
Ukuran Rantai 428
KELISTRIKAN
Lampu Depan 12 Volt, 32 W / 32 W
Lampu Sein Depan 12 Volt, 10 W x 2 buah
Lampu Sein Belakang 12 Volt, 10 W x 2 buah
Lampu Rem 12 Volt, 5 W / 21 W x 1 buah
Battery GM5Z – 3B / YB 5L-B 12 Volt 5,0 Ah
Busi / Spark Plug NGK CPR 8 EA-9 / DENSO U 24 EPR-9
Sistem Pengapian DC CDI
Sekring 10 Ampere
DIMENSI
Panjang x Lebar x Tinggi 1.945 mm x 705 mm x 1.065 mm
Tinggi Tempat Duduk 770 mm
Jarak Sumbu Roda 1.245 mm
Jarak Terendah ke Tanah 140 mm
Kapasitas Tangki Bahan Bakar 4 Liter
Berat Isi 109 kg
Berat Kosong 104 kg

SPESIFIKASI YAMAHA JUPITER Z

Product Name : JUPITER Z
Product Type : Moped
Product Price : Rp. 13,160,000
Harga On The Road untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.
MESIN
Tipe Mesin 2P2, 4 Langkah, SOHC, 2 Klep (Berpendingin Udara)
Diameter x Langkah 51.0 x 54.0 mm
Volume Silinder 110,3 CC
Perbandingan Kompresi 9.3 : 1
Power Max 8,8 HP pada putaran 8000 rpm
Torsi Max 0,92 kgf.M) pada putaran 5000 rpm
Sistem pelumasan Pelumasan Basah
Kapasitas Oli Mesin Penggantian Berkala 800cc
Penggantian Total 1000cc
Karburator Mikuni VM 17 x 1, Setelan Pilot Screw 1-3,8 putaran keluar
Putaran Langsam mesin 1.500 rpm
Saringan Udara Mesin Tipe kering
Sistem Starter Motor Starter dan Starter Engkol
Tipe Transmisi Tipe ROTARY 4 Kecepatan (N-1-2-3-4-N)
CHASIS
Tipe Rangka Pipa “Under-bone”
Suspensi Depan Telescopic
Suspensi Belakang Lengan Ayun
Rem Depan Cakram Tunggal 220 mm
Rem Belakang Tromol dengan Bahan “Non Asbestos” O 130mm
Ban Depan 70/90 – 17,38P (dengan ban dalam)
Ban Belakang 80/90 – 17,44P (dengan ban dalam)
Ukuran Rantai 428
KELISTRIKAN
Lampu Depan 12 Volt, 32 W / 32 W (2 bh)
Lampu Sein Depan 12 Volt, 10 W x 2 buah
Lampu Sein Belakang 12 Volt, 10 W x 2 buah
Lampu Rem 12 Volt, 5 W / 21 W x 1 buah
Battery GM5Z – 3B / YB 5L-B 12 Volt 5,0 Ah
Busi / Spark Plug NGK C6-HSA / DENSO U 20 FS-U
Sistem Pengapian DC CDI
DIMENSI
Panjang x Lebar x Tinggi 1.910 mm x 680 mm x 1.045 mm
Tinggi Tempat Duduk 760 mm
Jarak Sumbu Roda 1.230 mm
Jarak Terendah ke Tanah 140 mm
Kapasitas Tangki Bahan Bakar 4,2 Liter
Berat Kosong 98 kg

SPESIFIKASI YAMAHA VEGA ZR DB

Product Name : Vega ZR DB
Product Type : Moped
Product Price : Rp. 11,850,000
Harga On The Road untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.
MESIN
Tipe Mesin 4 Langkah SOHCberpendingin udara
Diameter x Langkah 50.0 x 57.9 mm
Volume Silinder 113.7 cc
Susunan Silinder Satu silinder mendatar
Gigi Transmisi 4 Kecepatan
Pola Pengoperasian Gigi N-1-2-3-4 (Return)
Kopling Manual, Basah, Multiplat
Karburator VM 17 SH x 1 MIKUNI
Sistem Starter Motor Starter & Starter Engkol
Daya Maksimum 6.5 Kw / 7.500 rpm
Torsi Maksimum 8.3 N.m / 4.500 rpm
KELISTRIKAN
Baterai 12V5AH
Busi C6HSA/W20FS-U
Sistem Pengapian DC-CDI
RANGKA
Tipe Rangka Pipa Besi
Suspensi Depan Telescopic Fork
Suspensi Belakang Swing Arm
Ban Depan 70/90-17M/C38P
Ban Belakang 80/90-17M/C44P
Rem Depan Cakram Hidrolik / Tromol
Rem Belakang Tromol
DIMENSI
Panjang x Lebar x Tinggi 1930 mm x 675 mm x 1055 mm
Jarak Sumbu Roda 1235 mm
Jarak Terendah Ke Tanah 126 mm
Berat Isi 97 Kg
Kapasitas Tangki 4.2 lt
Karena usaha yang terus � menerus untuk membuat sepeda motor YAMAHA yang lebih baik, data � data diatas dapat berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

SPESIFIKASI YAMAHA VEGA R DB

Product Name : VEGA-R DB
Product Type : Moped
Product Price : Rp. 11,600,000
Harga On The Road untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.
MESIN
Tipe Mesin 4 Langkah Air Cooled, SOHC
Diameter x Langkah 51.0 x 54.0 mm
Volume Silinder 110.3 CC
Perbandingan Kompresi 9.30 : 1
Kopling Wet, Multiple Disc & Centrifugal Automatic
Susunan Silinder Forward-Inclined Single Cylinder
Gigi Transmisi Constant Mesh 4-Speed
Karburator VM 17SH x 1 MIKUNI
Sistem Starter Electric Starter & Kickstarter
Saringan Udara Mesin Dry Element
KELISTRIKAN
Lampu Depan 12V, 32.0W / 32.0W x 1
Lampu Belakang 12V, 5.0W / 21.0W x 1
Lampu Sein Depan 12V, 10.0W x 2
Lampu Sein Belakang 12V, 10.0W x 2
Baterai YB5L-B/GM5Z-3B / 12V, 5.0Ah
Busi NGK/C6HSA / 0.6-0.7 mm
Sistem Pengapian DC. CDI
Sekring 10.0A
RANGKA
Tipe Steel Tube Underbone
Suspensi Depan Suspensi Belakang
Rem Depan Cakram Hidrolik
Rem Belakang Tromol
Ukuran Ban Depan 70/90-17 38P
Ukuran Ban Belakang 80/90-17 44P
DIMENSI
P x L x T 1890 x 675 x 1030 mm
Tinggi Tempat Duduk 770 mm
Jarak Sumbu Roda 1195 mm
Jarak Terendah Ke Tanah 135 mm
Berat (Dengan Bensin dan Oli Penuh) 99.0 kg
Kapasitas Tangki 4.2 lt
Karena usaha yang terus � menerus untuk membuat sepeda motor YAMAHA yang lebih baik, data � data diatas dapat berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

SPESIFIKASI YAMAHA JUPITER Z CW

Product Name : JUPITER Z CW
Product Type : Moped
Product Price : Rp. 13.925.000
Harga On The Road untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.
MESIN
Tipe Mesin 2P2, 4 Langkah, SOHC, 2 Klep (Berpendingin Udara)
Diameter x Langkah 51.0 x 54.0 mm
Volume Silinder 110,3 CC
Perbandingan Kompresi 9.3 : 1
Power Max 8,8 HP pada putaran 8000 rpm
Torsi Max 0,92 kgf.M) pada putaran 5000 rpm
Sistem pelumasan Pelumasan Basah
Kapasitas Oli Mesin Penggantian Berkala 800cc
Penggantian Total 1000cc
Karburator Mikuni VM 17 x 1, Setelan Pilot Screw 1-3,8 putaran keluar
Putaran Langsam mesin 1.500 rpm
Saringan Udara Mesin Tipe kering
Sistem Starter Motor Starter dan Starter Engkol
Tipe Transmisi Tipe ROTARY 4 Kecepatan (N-1-2-3-4-N)
CHASIS
Tipe Rangka Pipa “Under-bone”
Suspensi Depan Telescopic
Suspensi Belakang Lengan Ayun
Rem Depan Cakram Tunggal 220 mm
Rem Belakang Tromol dengan Bahan “Non Asbestos” O 130mm
Ban Depan 70/90 – 17,38P (dengan ban dalam)
Ban Belakang 80/90 – 17,44P (dengan ban dalam)
Ukuran Rantai 428
KELISTRIKAN
Lampu Depan 12 Volt, 32 W / 32 W (2 bh)
Lampu Sein Depan 12 Volt, 10 W x 2 buah
Lampu Sein Belakang 12 Volt, 10 W x 2 buah
Lampu Rem 12 Volt, 5 W / 21 W x 1 buah
Battery GM5Z – 3B / YB 5L-B 12 Volt 5,0 Ah
Busi / Spark Plug NGK C6-HSA / DENSO U 20 FS-U
Sistem Pengapian DC CDI
DIMENSI
Panjang x Lebar x Tinggi 1.910 mm x 680 mm x 1.045 mm
Tinggi Tempat Duduk 760 mm
Jarak Sumbu Roda 1.230 mm
Jarak Terendah ke Tanah 140 mm
Kapasitas Tangki Bahan Bakar 4,2 Liter
Berat Kosong 99 kg

Setting Karburator Setelah Ganti Knalpot


gbr.1 gbr.2

OTOMOTIFNET – Dari beberapa email yang kami terima, banyak yang mengeluh lari motor mulai gak enak, muncul gejala aneh seperti knalpot nembak, larinya di putaran atas ngedrop setelah mengaplikasi knalpot free flow dan sebagainya.

Nah, biasanya yang kerap jadi sumber permasalahan dari problem-problem tadi adalah di komponen pengabut bahan bakar. “Kalau lari motor mulai enggak enak, bisa jadi settingan karburator berubah. Untuk motor standar, coba setel ulang sekrup udaranya (gbr.1),” kata Nuri Fatoni, mekanik general work shop AHRS di Depok, Jabar.

Caranya gampang kok. Yaitu setelah mesin dipanaskan kurang lebih 5 menit, lalu coba pelintir gas sedikit sampai putaran mesin mencapai 4.000–5.000 rpm dan tahan sembari sekrup udara atau pilot air screw diputar mentok ke kanan (searah jarum jam). Bila sudah mentok, langsung putar kembali sekrup udara tadi berlawanan arah jarum jam (ke kiri) sambil mendengarkan perubahan putaran mesin.

gbr.3
gbr.4
gbr.5

“Sampai pada titik putaran tertinggi, tandanya setelan udara sudah pas,” ujar Rere, mekanik Ahau Motor di kawasan Jl. Akses UI, Kelapa Dua, Depok. Untuk memastikannya, coba blayer gas dengan cara diurut sampai putaran tinggi sekitar 2-3 kali. Lalu lepas grip gas tiba-tiba. Sembari mendengarkan apakah ada gejala mbrebet, knalpot nembak atau putaran mesin seperti tersendat.

“Kalau mbrebet, artinya setelan udara masih terlalu menutup. Sedang kalau knalpot nembak, suplai udara kebanyakan alias setelan udara terlampau membuka. Sebaliknya kalau tersendat, ada beberapa kemungkinan. Setelan udara belum tepat atau posisi jarum skep terlampau turun,” tukas Nuri. Bila kejadiannya begitu, coba turunkan 1 ulir posisi klip jarum skepnya (gbr.2), lalu coba jajal putaran mesinnya lagi.

Oh iya, pada motor yang karburatornya mengusung jarum skep tanpa ulir kayak di Honda Tiger Revo, Kawasaki ZX130 atau motor berkarburator model vakum pada umumnya, untuk menaikkan posisi jarum skepnya bisa diakali dengan menambah ring kecil setebal 1–1,5 mm ke dalam batang jarum (gbr.3).

“Trik ini cukup ampuh mengatasi problem Tiger Revo yang mesinnya suka terserang overheat atau susah hidup kala dingin,” beber M. Irwan, juragan bengkel modifikasi SMS di Bekasi yang juga mantan mekanik Honda beberapa waktu lalu pada OTOMOTIF.

Selain itu, setelan ketinggian pelampung (gbr,4) yang tidak tepat juga dapat menimbulkan hal yang sama. “Di samping bisa bikin tarikan di putaran menengah tersendat (kalau terlalu tinggi), juga bisa mengakibatkan knalpot nembak,” timpal Puguh Nuryanto, tunner bengkel racing Overtune di Cimanggis, Depok. Kejadian ini pernah ditemuinya pada Yamaha Scorpio Z.

Menurut Puguh, hal tersebut lantaran volume bensin dalam mangkuk kurang bisa memenuhi kebutuhan saat terisap. Nah, dengan menurunkan ketinggian pelampung pada karbu Scorpio sekitar 1-2 mm, kendala nembak bisa teratasi lantaran suplai bensin tercukupi. Namun bila semua langkah itu tidak membuahkan hasil, baru deh lakukan penggantian pilot jet (gbr.5).

Umumnya, ukuran pilot jet (pj) dinaikkan 1 step. Langkah ini juga biasa diterapkan mekanik saat knalpot diganti pakai jenis free flow. “Sedang main jet tak perlu bila mesin masih standar. Kecuali bila hasil pembakaran di busi menunjukkan pasokan gas terlalu kering di atas (busi berwarna putih). Tandanya main jet minta dinaikkan,” terang Rere.

Tapi pada beberapa kasus, terutama di motor berkarburator vakum yang knalpotnya masih standar, “Bila knalpotnya nembak, pilot jet malah minta dikecilin 1 step. Itu gue temui di beberapa Suzuki Satria FU150,” aku Puguh. Sebab dari beberapa kali uji coba, kendala nembak pada ayam jago berlambang S tersebut langsung hilang kala ukuran pilot jet diturunkan 1 step.

Rumus menentukan venturi


Rumus Dr. Gordon P.Blair (Universitas Queen Belvast Irlandia):

D=K x√(CxN)

D = Diameter ventury Karburator (mm)

K = Angka Ketetapan yaitu antar 0.65 s/d 0.9 (mm)

C = Volume Silinder (liter)

N = Putaran Maksimum mesin yang diinginkan (rpm)

Sebagai contoh,

Kita ambil sebuah motor standar Jupiter z missal, dengan kapasitas 107cc, ingin mencapai tenaga di putaran 7500 RPM. Varian yang dipakai adalah 0.6

Sehingga ketika dimasukkan ke dalam rumusan tersebut adalah sebagai berikut :

D = 0.6 x  √ ( 0.107 x 7,500 )

Didapat hasil D adalah 16.9 atau jika dibulatkan adalah 17mm

Rahasia Bentuk Inlet & Outlet Cylinder Block

Fokus porting pada Intake port bukan hanya pada membesarkan, tapi merapihkan bentuk dasar dengan luasan mengikuti 85 % diameter klep in sehingga bahan bakar tetap padat saat masuk ke dalam silinder, dan menggembungkan port di samping bos klep, area mangkok klep, bertujuan menjadikan campuran udara bahan bakar lebih homogen dan air flow tinggi. Sifat udara tidak menyukai lekukan yang terlalu tajam, karena itu kontur porting dibuat memiliki kelokan lembut, dari sini diharapkan terciptanya SWIRL masuk ke dalam silinder.

Porting Pada Outlet Port(Lubang Keluar) Cylinder

Exhaust port kita bentuk D-Shaped + Full high polished biar kerak gak gampang ngendap dan flow keluar jadi lebih lancar Pada sisi exhaust diperlukan penggeseran porting mengikuti kontur terdorongnya gas buang dari silinder menuju leher knalpot. Usahakan pertemuan antara lubang porting dengan lubang knalpot match, dan arah pembuangannya selaras. D-Shaped exhaust port dipercaya Graham Bell sebagai evolusi kontur porting yang paling efisien. Bisa dilihat pada porting motor BAJAJ PULSAR. Polished diperlukan pada sisi ini agar kerak arang atau sisa karbon pembakaran tidak lekas menempel di area porting dan mengganggu flow.

Porting Pada Inlet Port(Lubang Masuk) Cylinder

Hi-Velocity for SIAMESED PORT

Ini adalah cara tuning kepala silinder ala MOTOTUNE USA, yang dipelopori oleh pemikiran luar biasa Motoman. Penyempurnaan porting tidak selalu membesarkan lubang pemasukan campuran udara/bahan-bakar. Motoman melawan logika alat ukur FLOWBENCH yang biasa digunakan untuk mengembangkan sebuah geometri porting, dalam buku petunjuk Flowbench dikatakan setiap peningkatan CFM ( jumlah udara yang mengalir dalam setiap menit) maka akan terdapat peningkatan tenaga kuda.

Oleh karenanya Motoman mengambil halauan “KIRI” , porting tidak lagi ia besarkan, justru ia modifikasi dengan menyempitkan Area porting hingga 30 %. Menurut penelitiannya ada beberapa area yang ternyata tidak terlewati oleh aliran udara, sehingga dirasa justru tidak efektif membesarkan porting. Dan dia mengkreasikan porting dengan cara sendiri.

Beda lagi dengan porting dengan geometri berbentuk persegi, kemungkinan cara membentuk porting yang sesuai adalah menghitung konfersi dari nilai luasan area porting ke dalam bentuk lingkaran, sehingga kita dapat mengukur luasan efisiensi porting yang ingin dikejar.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.