jupiter road race

Di kancah MotoPrix region I Sumatera, Yamaha Jupiter-Z ini sangat disegani di kelas MP 2. Pasalnya terkenal tangguh di setiap serinya. Ibarat mesin diesel, Semakin panas tenaganya makin ngisi. Enggak ada ngedropnya. Apa? Mesin diesel ikut balapan?

“Ah itu cuma perumpamaan, karena banyak yang penasaran dengan motor ini, tiap tambah lap malah makin susah dikejar. Awet sekali,” kata Vincent Apandi, pemilik tim Yamaha BAF IRC Eka Putra Kencana (YBAFIRCEPK) asal Labuhan Batu, Sumatera Utara ini. Karena kemampuan seperti itulah maka meskipun masih menyisakan 1 seri tapi Ferlando, sang joki sudah hampir dipastikan menjadi yang terbaik.

Tentu saja selain awet, sudah pasti motor ini kencang. Sang mekanik, Haris Sakti sengaja membuat motor untuk karakter sirkuit di Sumatera. “Kebanyakan trek di sini lurus-lurus saja, power sangat dibutuhkan baik di putaran atas maupun bawah,” lanjut Ayung, panggilan akrab Vincent.

“Supaya awet dan semua komponen aman, rasio kompresinya tidak terlalu tinggi. Cukup bermain di angka 13 : 1,” kata Haris yang beken disapa Mletis. Selain demi umur komponen, setingan begini juga membuat motor lebih lembut alias nggak liar.

Kompresi naik dari standar didapat dari dapur pacu motor yang sudah dibore up 125 cc. Menggunakan piston Izumi 55 mm yang jenong punya.

Namun agar didapat kompresi yang tidak terlalu melambung, ruang bakar tidak dibiarkan begitu saja. Bagian kubahnya diatur ulang. “Sebab bentuk piston sedikit lebih jenong dibandingkan standarnya,” tambah Ayung.

Selain bermain kompresi suplai gas bakar juga ikut diperbaiki. “Misalnya saja klep pakai punya Sonic dan per klepnya produk Jepang,” tambahnya lagi.

Oh ya ukuran klepnya in 28 dan ex 24 mm. Untuk kemnya dibuat Mletis mempunyai durasi 280 derajat baik in maupun ex.

Untuk karburator, dipilih yang familiar. “Cukup Keihin PWK 28 dengan pilot-jet 65 dan main-jet 105,” kata Mletis yang konon mempertahankan tipe itu karena gampang nyetingnya.

Hal terakhir yang membuat awet tentu kemampuan joki yang pintar jaga power. Ferlando tidak banyak selip kopling. Wah, pantas kalau begitu!

IKUT IP?

Dengan prestasinya saat ini di level MP, Ferlando sudah bisa dipastikan harus bermain di IndoPrix (IP) pada 2010 nanti. Tapi sampai sekarang juga, si pemilik tim masih gamang untuk itu. “Masih hitung budget,” kata Ayung.

Untuk wilayah Sumatera, bisa dipastikan pembalap asal Bengkulu ini menjadi yang terbaik. Namanya bisa mencuat di antara jagoan lama di wilayah ini seperti Jeffry Holly, Firman Farera dan Reza Pahlevi. Ditambah lagi umurnya yang baru 19 tahun, masih potensial menjadi yang terbaik di tingkat nasional. Semoga.

DATA MODIFIKASI

Ban : IRC Razzo 90/80×17
Sok : YSS
Piston : Izumi 55
Rem : TDR

Sejak musim balap 2009 bergulir, Waskito ‘Merit’ Ngubaini, termasuk salah satu mekanik yang rajin riset head silinder. Hanya saja, saat ini konsentrasi bukan lagi pada mencari sudut efektif posisi klep. Tapi bergeser pada uji coba besarnya diameter payung klep. Upayanya ditujukan untuk mencari ukuran paling optimal yang mampu mendukung masuknya gas bakar agar mencapai efisiensi volumetrik terbaik.

Riset terbaru tunner yang tangani pasukan Yamaha Kephoth FDR Federal Oil Indoparts KBC, Purwokerto, tampak pada Jupiter-Z MP1 (Bebek Tune-Up 110 cc 4-Tak seeded) yang disemplak Diaz Kumoro Jati. “Saya coba terus cari dengan berbagai ukuran. Hasilnya mulai tampak,” terang mekanik berbadan irit itu.

Seri terakhir MotoPrix region 2, Jawa, di Jogja, beberapa waktu lalu, tunggangan Diaz Kumoro Jati from Jogja itu, pakai klep isap ukuran 27 mm dan klep buang 22,5 mm. “Sebelumnya, saya pakai klep in 26,5 mm dan klep ex 23 mm. Hasilnya perubahan diameter itu lumayan beda,” papar wong Solo itu.

Karena klep buang berubah, tentu bentuk leher knalpot juga ikuti disesuaikan. Dulu, Merit patok leher knalpot berdiameter 23 mm. “Sekarang saya ubah juga jadi kurang dari 22 mm. Lebih kecil sesuai ubahan klep buang yang lebih kecil juga,” kata pria yang juga sendiri merriset desain knalpotnya.

Meski perubahan klep hanya 0,5 mm, tapi toh efek muncul nyata. Power motor lebih mudah dikail pada rpm bawah dan tengah. Jadi angkatan putaran mesin saat baru nge-brake atau putar balik bisa lebih cepat. “Memang sih, belum dilihat perubahannya dari data angka di atas dyno. Untuk melihat ubahan grafik torsi dan powernya. Tapi, Diaz sudah merasakan. Terbukti, hasilnya di MP juga bagus,” paparnya sambil beberin fakta Diaz jadi runner-up di seri Jogja dan klasemen sementara MP region 2 Jawa.

Kebutuhan trek pasar senggol memang perlu pancingan rpm yang relatif lebih mudah. “Diameter klep buang yang lebih kecil, membuat sisa gas bakar lebih banyak. Memang jadi kurang bersih. Tapi untuk kebutuhan bukaan cepat, terbukti lebih efektif,” kilahnya.

Selain ubahan diameter klep, tentu saja Merit sedikit ubah pula pada durasi kem yang mengatur buka tutupnya klep. “Durasi lebih tinggi lagi dengan profil kem yang dibuat dari kem mentah yang memudahkan LSA dibentuk sesuai kebutuhan,” tambah pria yang murah senyum ini.

Pancingan agar torsi lebih tinggi diakali Merit dengan mengubah magnet seberat 8,5 ons. Sebelumnya biasa pakai 7 atau 8 ons. “Dengan balancer 4,5 ons. Cukup bagus untuk angkatan bawah menengah. Tenaganya langsung keluar,” ucapnya.

Merit juga tetap mempertahankan setingan perbandingan kompresi yang tidak terlalu tinggi. Karena, aspek durability tetap jadi perhatiannya. “Main di pasar senggol, mesin disiksa buka-tutup secara cepat. Kalau memaksakan lebih tinggi lagi, mungkin tenaga bisa lebih gede lagi. Tapi, takutnya mudah jebol. Makanya, saya tetap pakai perbandingan seperti biasa, yaitu 13,5 : 1,” kilah mekanik yang punya tahi lalat khas ini.

Diluar persoalan mesin, Merit juga melakukan penyesuaian dengan karakter Diaz yang cukup agresif di cara handling. Salah satunya aplikasi sok depan Yamaha 125Z. “Karena lebih besar, peredamannya juga lebih efektif. Diaz tetap bisa ngebrake dekat. Enggak takut goyah dengan dukungan setingan sok depan,” yakin Merit.

DATA MODIFIKASI

Knalpot : MCC
Rasio : I = 12/34,II = 16/34,III = 19/26, IV = 21.24
Sok belakang : YSS

Begitu Yudhistira mencetak prestasi manis seri I dan II di Sentul, motor tunggangan joki tim HRVRT ini langsung jadi sorotan. Disebut-sebut, Yamaha Jupiter-Z 110 besutannya kenceng. Tapi, yang nggak enak, waktu dibilang motor itu bikinan Benny Djatiutomo. Apalagi setelah Yudhistira naik podium ketiga pada seri III di sirkuit Kenjeran. “Nggak kok, motor ini semuanya bikinan saya,” tegas Risdianto, mekanik tim HRVRT.

Memang betul, tim kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya wilayah Binuang ini pernah membeli mesin dari tim Star Motor, asuhan Benny. “Tapi motor yang dibeli itu tidak pernah dipakai lagi. Motor itu sekarang dimuseumkan di Binuang. Biar jadi contoh. Lagipula sebenarnya kita juga bisa kok bikin sendiri,” yakin Risdianto lagi.

Buat Risdianto, yang akrab disapa Pak Endut itu, motor racikan Benny sudah bagus. Ia pun mengakui banyak belajar dari gawean Benny. Namun, bukan berarti ia tidak melakukan apa-apa. “Justru dari model yang tim ini punya, saya coba kembangkan dengan pengetahuan saya,” ungkap mekanik akrab disapa Endut itu. Yang jadi perhatian Endut desain kubah kepala silindernya. Endut melihat bentuk kubahnya sangat sempurna. Bisa menampung semburan bahan bakar. Selain itu, jalur aliran bahan bakar dari intake dan pembuangannya sudah sangat mulus. “Saya perhatikan arahnya sudah bagus. Jadi tidak ada hambatan. Ini yang menarik dan jadi acuan saya bikin mesin lagi,” ujar mekanik yang mengaku belajar dari Thole dan Gandhos itu.

Nah, dalam pengerjaannya, Endut nggak mau sembrono. Ia memanfaatkan alat yang namanya flowbench. Alat ini dimiliki bengkel MBG Jogja dan BRT (Bintang Racing Team). Gunanya untuk mengukur debit atau kecepatan gas bahan bakar yang masuk ke dalam ruang bakar. Dengan alat ini, aliran dan kecepatan gas bakar jadi terukur. “Saya jadi terbantu. Dengan alat itu, saya jadi tahu apakah korekan sudah benar atau masih ngaco,” jujur mekanik yang buka bengkel Pusaka Racing di kawasan Jl. Kebun Raya, Yogyakarta itu.

Risdianto berpatokan pada regulasi untuk klep in ukuran 27 mm dan out 23 mm. Hanya saja, berdasarkan flowbench, diameter lubang intake maksimal hanya 24 mm. Sementara lubang exhaust jadi 20 mm. “Ukuran ini memang agak kecil. Tapi menurut flowbench ini ukuran yang pas. Di semprot seperti angin keliatan maksimal semburannya,” bilang mekanik 35 tahun itu.

Dengan mengacu kompresi 13,8 : 1, Endut merasa mesin cukup aman berlaga di sirkuit Kenjeran sebanyak 30 putaran. Angka itu diukur dengan perbandingan volume ruang bakar. “Kita pernah coba sampai 14 : 1, bahkan lebih. Tapi setelah riset, untuk di Kenjeran jika lebih dari 14 : 1 motor malah nggak mau lari. Di atasnya nahan,” bahas Endut.

Untuk kem, Endut juga percaya pada ‘kerajinan tangannya’. Kem dibikin sendiri. Namun diakuinya desain poros bubungan kira-kira hampir sama dengan bawaan Benny bikinan Star Motor. “Saya aplikasi durasi sekitar 270º untuk waktu bensin masuk dan buang. Hanya waktu buka-tutupnya yang dibedain. Sebab kalau disamain, Yudhis bilang power motor di rpm atas terasa ngambang,” papar mekanik yang menerapkan tinggi bukaan klep masuk dan buang 8,5 mm itu.

Jadi perhatian Endut, sang joki, Yudhistira yang masih 15 tahun sendiri dirasa perlu belajar banyak. Toh Yudhis cukup cerdik. Pelajar 1 SMA itu belajar karakter motor dari para senior. Jupiter disesuaikan kondisi sirkuit. Di Kenjeran, power bawah diminta tidak terlalu besar.

“Menurut Yudhis, kalau power bawahnya terlalu besar, motor jadi liar. Lagipula postur Yudhis terhitung imut. Jadi kontrolnya agak sulit. Sehingga power puncaknya dikeluarkan di rpm menengah ke atas. Sebab di Surabaya kalau kuat bawahnya, justru susah buat pembalap. Malah time-nya nggak bagus,” tutup Endut.

Selain itu, Yudhis juga tanggap dengan setelan mesin. Apalagi di Kenjeran kemarin, motor disiksa sebanyak 30 putaran. Makanya ia minta setelan mesin Jupiter-Z 110 dibikin agak basah. Karburator Mikuni kotak 24 mm yang jadi andalan diisi dengan pilot-jet 25 dan main-jet 155. “Memang awalnya Yudhis mengaku akslerasi motor agak telat waktu keluar tikungan. Tapi setelah beberapa lap, pas mesin panas, power rpm atas terus ngisi,” tutup tutup Endut. Benar-benar kreasi sendiri!

VORTEX LEBIH AKRAB

Soal pengapian, Risdianto belum ingin mencoba merek lain. Sementara ini menggunakan CDI Vortex, seperti yang digunakan Benny Djatiutomo. Menurutnya, CDI ini lebih akrab dengan gayanya. “CDI ini tidak rewel. Saya pun bisa memprogram sendiri grafiknya sensuai keinginan pembalap,” jujur Risdianto.

Untuk setelannya, mekanik berputra 1 ini memilih waktu pengapian tertinggi untuk setiap grafiknya. Saya pengin maksimal dengan setelan seperti itu. Toh, dengan acuan dari flowbench kita tahu kapan dan berapa banyak bahan bakar diledakkan. Jadi tidak takut meletus,” yakin Endut.

Selain itu, Vortex memang sudah akrab dengan Jupiter. Endut bisa menggunakan koil dan magnet dari Yamaha YZ125. Komponen ini mudah dicari dan harganya pun tak seberapa. Apalagi buat tim sebesar HRVRT, he..he..he….

Namun Endut tidak menutup kemungkinan menggunakan pengapian buatan dalam negeri seperti BRT atau Rextor. Tapi, tergantung kedua produsennya. Mau nggak sponsorin tim luar Jawa.

DATA MODIFIKASI

Rem depan: Kaliper Standar Jupiter
Cakram depan : Daytona
Karburator: Mikuni kotak 24 mm
Intake manifold : Koso Custom
Knalpot : Hung
Piston : Izumi 52 mm
Ring Piston : Orisinal Jupiter
Klep : Honda Sonic

Di Motor balap 4-tak, pasti ngomongin camshaft alias kem. Jangan bocen! Itu pengatur jumlah makanan yang masuk ke dalam silinder. Sama, kayak cerita cewek. Sampeyan juga enggak bosen kan ngomongin wajah cantik dan bodi sexy he..he..he….

Benjolan di badan, eh, salah! Maksudnya benjolan kem jadi penentu buka-tutup klep. Sementara klep yang menentukan gas bakar keluar-masuk. Jadi, ubahan durasi kem sudah pasti membawa efek pada perubahan performa mesin.

Wiyanto, mekanik Yamaha TDR Indoparts FDR Yonk Jaya, membuktikan hal itu. Ubahan kem yang dilakukan membuat Teguh Nugroho, melejit di MP4 U Mild U Bikers Festrack 2009. “Baru ketemu dengan ubahan kem baru,” sambil menjelaskan mesin MP4 Teguh baru bisa bersuara di seri balap U Mild. Pada 2 seri kejurnas yang sudah dilalui, masih belum ketemu setingan kem yang pas.

Sejak didukung pengapian Rextor Programmable, Ronny alias Suneo, panggilan akrabnya, berani main durasi lebih tinggi. Lho kok didukung TDR pake pengapian Rextor. Kenapa tidak pake CDI TDR aja? Kan buatan luar, lebih mantap.

“Saat main pakai CDI standar, paling optimal pada durasi di kisaran 268°. Sekarang bisa lebih eksplore, Makanya coba lebih berani lagi menaikkan durasi,” terangnya.

Riset terbaru, Suneo mencoba durasi klep in di 272°. Membuka 32° sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan nutup 60° setelah TMB (Titik Mati Bawah). Sedang durasi klep ex 273°, membuka 60° sebelum TMB nutup 33 setelah TMA.

Namun tetap pertahankan agar Lobe Separation Angle (LSA) masih di kisaran 105-106°. “Jadi biar imbang antara bawah dan atasnya. Ini kan setingan pasar senggol,” terang Suneo.

Makin nendang karena Suneo juga ubah piston. Sebelumnya, memakai piston yang diameternya 54,7 mm. “Sekarang pakai piston TDR yang diameternya 55,25 mm,” terangnya. Naiknya volume jadi 129,8 cc itu tentu lumayan ada efeknya.

“Biar aman, kompresi diturunkan. Tadinya 14,8 : 1, jadi 14,5 : 1. Apalagi, seting timing pengapian kan bisa mendukung. Jadi tak perlu patok kompresi tinggi-tinggi dari desain head,” kilahnya.

Suneo menambal turunnya kompresi dengan mematok timing pengapian yang efektif lewat sejumlah uji coba. Timing tertinggi dipasang pada 37,1° pada 8.000 rpm. Setelah itu grafik menurun sampai di 14.000 rpm hanya 32° .

Untuk rasio. Teguh nyaman dengan setingan lama. Gigi I = 13/36, II = 16/29, III = 21/29, IV = 20/22. “Untuk sirkuit macam Mandala Krida, cocok dengan final gear 14/42,” tambah cowok berkulit putih ini.

DATA MODIFIKASI

Karburator : Mikuni Sudco 24
Pilot-jet : 35
Main-jet :180
Sok belakang : YSS
Klep : Honda Sonic

Posted on April 21, 2011, in ilmu, otomotif. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. bos almt bengkel mcc/merit dmn? ada yg bs bntu tlng hbgi w… bs jg via sms 087876386333…. ane puya jupi 03 mo riset ulang… klep da pke sonic piston np stndr coz bru jebol piston izumi pcah cop slinder jg pcah.. 2x op name klep msih ja nabrak bengkel ga jls omongya doang….. tlong sobat pncinta kecpatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: