Perbaikan Sistem Pengapian

BAB. I

PENDAHULUAN

A.   Deskripsi

Modul perbaikan sistem pengapian dan komponennya bertujuan untuk mempersiapkan Siswa menjadi pelaksana pemeriksaan sistem pengapian yang memiliki pengetahuan dan keterampilan melakukan rutinitas pemeriksaan sistem pengapian.

Modul ini terdiri atas tiga kegitan belajar. Kegiatan belajar 1 membahas tentang fungsi dan cara kerja komponen sistem pengapian konvensional. Kegiatan belajar 2 membahas sistem pengapian elektronik dan macam­macamnya. Kegiatan belajar 3 membahas tentang: Perbaikan dan penyetelan komponen sistem pengapian.

Setelah mempelajari modul diharapkan peserta diklat memperoleh pengetahuan dan keterampilan sebagai berikut:

–          Memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan tentang pekerjaan pemeriksaan sistem pengapian.

–          Sasarannya adalah segala macam pekerjaan yang menggunakan proses pemeriksaan sistem pengapian yang ada di industri maupun dibengkel­bengkel kerja meliputi:

a)    Menyiapkan peralatan

b)   Mengoperasikan paralatan dan menyiapkan alat-alat Bantu

c)    Melakukan pemeriksaan sistem pengapian

–          Penekanan pembelajaran dari unit ini adalah hal-hal Araktik tentang melakukan rutinitas pemeriksaan sistem pengapian sesuai dengan spesifikasi pabrik.

–          Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja yang selalu diperhatikan.

–          Penggunaan alat-alat yang sesuai dengan fungsi dan kegunaannya.

–          Bekerja berdasarkan prosedur operasi standar

–          Lingkungan kerja yang sehat dan aman dengan sirkulasi tata udara yang memadai.

B.   Prasyarat

Sebelum memulai modul ini, peserta diklat pada Bidang Keahlian Mekanik Otomotif harus sudah menyelesaikan modul-modul prasyarat seperti terlihat dalam diagram pencapaian kompetensi maupun peta kedudukan modul. Prasyarat mempelajari modul OPKR-50-011B antara lain adalah OPKR-50-008B.

C.   Petunjuk Penggunaan Modul

1.   Rambu-rambu belajar bagi Peserta Diklat

Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal, dalam menggunakan modul ini maka langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:

a.    Bacalah dan pahami dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada masing-masing kegiatan belajar. Bila ada materi yang kurang jelas, peserta diklat dapat bertanya pada Guru atau Instruktur yang mengampu kegiatan beiajar.

b.    Kerjakan tugas test formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.

c.    Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori clan praktik, perhatikanlah hal-hal berikut ini:

1)   Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang berlaku

2)   Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik

3)   Sebelum melaksanakan praktikum, identifikasi (tentukan) peralatan dan bahan yang diperlukan dengan cermat

4)   Gunakan alat sesuai prosedur pemakaian yang benar

5)   Untuk melakukan kegiatan praktikum yang belum jelas, harus meminta izin Guru atau Instruktur terlebih dahulu

6)   Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan ke tempatnya.

d.     Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada Guru atau Instruktur yang mengampu kegiatan pembelajaran yang bersangkutan.

2.   Peran bagi Guru/Instruktur pengampu:

1.    Membantu peserta diklat dalam merencanakan proses belajar

2.    Membimbing peserta diklat melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar

3.    Membantu peserta diklat dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan peserta diklat mengenai proses belajar peserta diklat

4.    Membantu peserta diklat untuk menentukan clan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar

5.    Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok

6.    Merencanakan seorang ahli/pendamping Guru dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan

7.    Mencatat kemajuan belajar Siswa

8.    Melakukan penilaian

9.    Menjelaskan kepada Siswa, bagian-bagian yang perlu diulang/ diperbaiki dan merundingkan rencana pemelajaran selanjutnya.

D.   Tujuan Akhir

Tujuan akhir dari kegiatan belajar pada modul ini adalah:

1.    Memberikan dasar-dasar pengetahuan clan keterampilan tentang melakukan pemeriksaan sistem pengapian.

2.    Sasarannya adalah segala macam pekerjaan yang berhubungan dengan melakukan pemeriksaan sistem pengapian, yang terdiri dari:

a.   Menyiapkan peralatan yang akan digunakan

b.   Menyiapkan seperangkat sistem pengapian/Analiyzer engine

c.    Menentukan peralatan tambahan yang akan digunakan

d.   Melakukan kegiatan pemeriksaan sistem pengapian

3.    Penekanan pembelajaran adalah pada hal-hal praktik tentang melakukan kegiatan pemeriksaan sistem pengapian sesuai buku manual kendaraan.

4.    Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja yang selalu diperhatikan.

5.    Penggunaan alat-alat yang sesuai dengan fungsi clan kegunaannya.

6.    Bekerja berdasarkan prosedur operasi standar.

7.    Lingkungan kerja yang sehat dan aman dengan sirkulasi tata udara yang memadai.

 

E.   Kompetensi

Bidang Keahlian           : Teknik Mesin

Program Keahlian         : Teknik Mekanik Otomotif

Kompetensi                 : Perbaikan Sistem Pengapian

Kode                           : OPKR-50-011B

Alokasi Waktu              : 60 Jam Pembelajaran @ 45 menit

SUB

KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK

KERJA

LINGKUP

BELAJAR

MATERI POKOK PEMBELAJARAN

SIKAP

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

Memperbaiki Sistem Pengapian dan Komponennya

 

  • Sistem Pengapian diperbaiki tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya
  • Mengakses informasi yang benar tentang spesifikasi pabrik yang dapat dipahami
  • Perbaikan, penyetelan dan penggantian komponen dilaksanakan dengan menggunakan peralatan, teknik dan material yang sesuai
  • Sistem pengapian diuji dan hasilnya dicatat menurut prosedur dan kebijakan perusahaan
  • Perbaikan seluruhnya dilaksanakan sesuai dengan SOP, Undang-undang K3 dan Prosedur/kebijakan Pemerintah
  • Konstruksi dan prinsip sistem kerja pengapian
  • Analisa kerusakan komponen sistem pengapian
  • Prosedur perbaikan sistem pengapian
  • Standar prosedur keselamatan kerja
  • Melaksanakan tugas rutin dengan prosedur yang ditetapkan dimana kemajuan, keterampilan seseorang diawasi secara berkala oleh pengawas
  • Melaksanakan tugas yang lebih luas dan sulit dengan peningkatan kemandirian dan tanggung jawab individu. Hasil pekerjaan diperiksa oleh pengawas
  • Melaksanakan tugas kompleks dan non rutin
  • Menjadi mandiri dan tanggung jawab pada pekerjaan lain
  • Konstruksi dan cara kerja sistem pengapian sesuai penggunaanya
  • Prosedur pengukuran dan pengujian
  • Persyaratan keamanan kendaraan, perlengkapan dan keselamatan diri
  • Pola pengapian
  • Mengumpulkan, menganalisa dan mengorganisasi-kan informasi
  • Merencanakan dan mengorganisasi-kan kegiatan
  • Penggunaan gagasan teknis dan matematis
  • Pemecahan masalah
  • Penggunaan teknologi

F.    Cek Kemampuan

Sebelum mempelajari modul OPKR-50-011B, isilah dengan cek list (√) kemampuan yang telah dimiliki peserta diklat dengan sikap jujur dan dapat dipertanggungjawabkan:

KOMPETENSI/ SUB KOMPETENSI

PERNYATAAN

JAWABAN

BILA JAWABAN “YA” KERJAKAN

YA

TIDAK

Memperbaiki sistem pengapian dan komponennya Saya dapat menjelaskan fungsi dan cara kerja komponen sistem pengapian elektronik.

 

 

Soal Tes Formatif 1.

Saya dapat menjelaskan macam-macam dan cara kerja sistem pengapian elektronik.

 

 

Soal Tes Formatif 2.

Saya dapat melakukan perbaikan dan penyetelan sistem pengapian.

 

 

Soal Tes Formatif 3.

Apabila peserta diklat menjawab Tidak, pelajari modul ini.

 

BAB. II

PEMELAJARAN

A.     RENCANA BELAJAR PESERTA DIKLAT

Suatu kegiatan pendidikan clan latihan (Diklat) menjadi jelas dan terlihat titik bidiknya hingga dapat membuahkan hasil kompetensi clan sub kompetensi yang baik bagi para peserta Diklat, maka peserta Diklat terlebih dahuiu harus menentukan sasaran dengan menjabarkan sebuah rencana kegiatan belajar.

Untuk itu isilah format berikut ini sesuai maksud dari masing-masing kolom pada table di bawah ini. lakukanlah konsultasi secara kontinyu kepada Guru/Pembimbing.

Kompetensi           : Perbaikan Sistem Pengapian

Sub Kompetensi     : Memperbaiki Sistem Pengapian dan Komponennya

Kode Modul           : OPKR 50.011B

Alokasi Waktu               : 60 Jam Pembelajaran

Tahun Pelajaran     : …………/……………..

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat

Belajar

Alasan

Perubahan

Paraf

Guru

Memperbaiki Sistem  Pengapian dan Komponennya

1.1.    Sistem Pengapian

Diperbaiki tanpa menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya.

1.2.    Mengakses

Informasi yang benar dari spesifikasi pabrik dan dapat dipahami.

1.3.    Pelaksanaan

perbaikan, penyetelan dan penggantian komponen dilaksanakan dengan menggunakan peralatan, teknik dan material yang sesuai.

PesertaDiklat harus selalu mengkonsultasikan setiap pengisian uraian pada Guru/pembimbing tentang “Jenis Kegiatan, Tanggal, Waktu, Tempat, dan alasan perubahaan” untuk mendapatkan kompetensi atau sub kompetensi yang sesuai dengan standard kompetensi prosedur pelaksanaan/SOP.

 

B.       KEGIATAN BELAJAR

 

Kegiatan Belajar 1. Sistem Pengapian Diperbaiki Tanpa Menyebabkan Kerusakan Terhadap Komponen Atau Ssistem Lainnya

 

a.   Tujuan Kegiatan Pembelajaran

Setelah selesai pembelajaran modul ini tanpa bantuan Guru/Pembimbing para peserta diklat diharapkan dapat:

1.        Menjelaskan fungsi sistem pengapian

2.        Menjelaskan fungsi komponen-komponen pengapian

3.        Menjelaskan cara kerja koil pengapian

4.        Menjelaskan cara kerja kondensor

5.        Menjelaskan cara kerja mekanisme sistem edvancer pengapian

6.        Menjelaskan pengertian sudut dwell

7.        Membedakan nilai panas busi

b.   Uraian Materi

1.                                   Tujuan Sistem Pengapian

Tujuan penggunaan system pengapian pada kendaraan adalah menyediakan percikan bunga api bertegangan tinggi pada busi untuk membakar campuran udara/bahan bakar di dalam ruang bakar engine.

Gambar 1. Sistem Pengapian Konvesional


2.                                   Fungsi bagian-bagian komponen Baterai

a.    Baterai

Menyediakan arus listrik tegangan rendah untuk ignation coil.

b.    Ignation Coil

Menaikan tegangan yang di terima dari baterai menjadi tegangan tinggi yang diperlukan untuk pengapian.

c.    Distributor

Berfungsi membagikan (mendistribusikan) arus tegangan tinggi yang dihasilkan (dibangkitkan) oleh kumparan skunder pada ignation coil ke busi pada tiap-tiap selinder sesuai dengan urutan pengapian.

Bagian-bagian ini terdiri dari:

–                                   Cam (nok)

Membuka Kontak point (platina) pada sudut cam shaftt yang tepat untuk masing-masing selinder.

–                                   Kontak point

Memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer dari ignation coil untuk menghasilkan arus listrik tegangan tinggi.

–                                   Capasitor (condensor)

Menyerap lompatan bunga api yang terjadi antara breaker point pada Saat membuka dengan tujuan menaikan tegangan coil skunder.

–                                   Centrifugal governor advancer

Memajukan saat pengapian sesuai dengan putaran mesin.

–                                   Vacuum Advancer

Memajukan saat pengapian sesuai dengan beban mesin (vacuum Intake manifold)

–                                   Rotor

Membagikan arus listrik tegangan tinggi yang di hasilkan oleh ignation coil ke tiap-tiap busi.

–                                   Distributor Cap

Membagikan arus listrik tegangan tinggi dari rotor ke kabel tegangan tinggi untuk masing- masing selinder.

d.    Kabel tegangan tinggi

Mengalirkan arus listrik tegangan tinggi dari ignation coil ke busi.

e.    Busi

Mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menajdi loncatan bunga api melalui elektroda.

 

3.       Prosedur Cara Kerja dan Karakteristik Komponen Pengapian

a.   Coil Pengapian

Konstruksi

Gambar 2. Konstruksi Coil Pengapian yang umum

Coil pengapian terdiri dari rumah logam yang meliputi lembar pelapis logam untuk mengurangi kebocoran medan magnet. Lilitan sekunder, yamg mempunyai lilitan lebih kurang 20.000 lilitan kawat tembaga halus dililitkan secara langsung ke inti besi yang dilaminasi dan disambungkan ke terminal tegangan tinggi yang terdapat pada bagian tutup coil. Karena tegangan tinggi diberikan pada inti besi, inti harus diisolasi oleh tutup dan insolator tambahan diberikan di bagian dasar.

Lilitan primer, terdiri dari 200-500 lilitan kawat tembaga yang relatif tebal, di tempatkan dekat dengan bagian luar sekelililng lilitan sekunder. Panjang dan lebar kawat akan menyebabkan resistansi lilitan primer berubah tergantung pada penggunaannya.

Coil pengapian adalah transformator peningkat tegangan. Coil menghasilkan pulsa-pulsa tegangan tinggi yang dikirimkan ke busi-busi untuk menyulut campuran bahan bakar/udara di tabung engine.

Lilitan primer coil, menyimpan energi dalam bentuk medan magnet. Pada waktu yang ditentukan kontak poin terbuka, arus primer berhenti mengalir dan medan magnet kolap memotong coil sekunder menghasilkan tegangan tinggi ke dalamnya. Tegangan sekunder menyalakan busi.

Cara Kerja Sistem Pengapian

§  Rangkaian Primer

Gambar 3. Rangkaian Primer Sistem Pengapian

Rangkaian primer merupakan jalur untuk arus tegangan rendah dari baterai (lihat diagram) dan terdiri dari komponen-komponen berikut:

–          Saklar Pengapian Lilitan

–          Lilitan Primer Coil

–          Kontak Poin Distributor

–          Kondensor

§  Rangkaian Sekunder

 

 

 

Gambar 4. Rangkaian Sekunder Sistem Pengapian

Rangkaian sekunder merupakan jalur untuk arus tegangan tinggi yang ditingkatkan oleh coil dan terdiri dari komponen-komponen berikut:

–                                   Lilitan Sekunder Coil

–                                   Lengan Rotor Distributor

–                                   Tutup Distributor

–                                   Busi-Busi

§  Cara Kerja Pengapian induktif

a.    Cara Kerja Kontak Poin tertutup

Arus dari baterai mengalir melalui lilitan-lilitan primer coil, membentuk medan magnit, metalui kontak poin ke massa.

Distributor

Gambar 5. Cara Keya Pengapian Poin-Poin Tertutup

b.    Cara Kerja Pengapian Kontak Poin Terbuka

Pada saat poin-poin terbuka oleh bubungan pemutus yang berputar, aliran arus primer terputus. Medan magnit di sekitar lilitan primer coil kolap dan menyebabkan tegangan tinggi (4000-30.000 volt) pada lititan-lilitan sekunder. Sentakan tegangan tinggi ini ‘mendorong’ arus melalui kabel coil tegangan tinggi ke distributor dan kemudian ke busi-busi. Siklus keseluruhan ini terjadi 50 sampai 150 kali per detik tergantung pada kecepatan engine.

Distributor

                    Gambar 6. Cara Kerja Pengapian Kontak-Poin Terbuka

b.   Kondensor

Kondensor

Gambar7. Kondensor Dipasang Pada Distributor

Kondensor mencegah percikan bunga api pada poin-poin pada saat poin­-poin tersebut mulai membuka. Arus yang berlebihan mengalir ke dalam kondensor pada saat poin-poin terpisah.

Sebuah Kondensor terdiri dari beberapa lembar kertas timah masing-­masing lapisan diberi isolasi kertas paraffin, lembar tersebut digulung dengan ketat sehingga berbentuk silinder, masing-masing kumpulan plat dihubungkan dengan satu kawat sebagai kutub positif dan negatif. Kondensor biasanya dipasang didalam distributor dan ada juga yang dipasang diluar distributor.

Kondensor itu diperlukan karena:

–          Poin-poin membuka dan menutup secara mekanis; gerakan tersebut sangat lambat dibandingkan dengan kecepatan aliran arus

–          Poin-poin tersebut hanya membuka sedikit

–          Tegangan di dalam coil dapat menjadi sangat tinggi

Tanpa kondensor, yang terjadi adalah:

–          Tegangan induksi di dalam lilitan primer menjadi sangat tinggi mendorong arus meloncati celah membakar permukaan kontak poin. Aliran arus tidak dapat cepat berhenti, dan medan magnit kolap sangat lambat. Karenanya tegangan sekunder terlalu rendah untuk menyalakan busi.

Cara Kerja Kondensor

Tahap 1. Poin Tertutup

 

Gambrar 8. Cara Kerja Kondensor Kontak-Poin Tertutup. Dan Osiloskop MenunjukkanTegangan Kondensor

Arus mengalir melalui lilitan primer ke masa melalui poin yang tertutup. Medan magnit terbentuk di sekeliling coil pengapian. Pola osiloskop mengilustrasikan perubahan polaritas tegangan pada rangkaian kondensor coil. Tingkat tegangan adalah 12 V pada satu arah.

Tahap 2.  Poin Terbuka

Gambar 9. Cara Kerja Kondensor Poin Terbuka. Dan Ositoskop Tegangan Kondenwr Naik

Medan magnit kolap, menginduksi tegangan ke dalam lilitan sekunder. Karena medan magnit juga kolap memotong lilitan primer maka tegangan tinggi (kira-kira 300 V) diinduksi kedalamnya juga. Tegangan ini akan menyebabkan arus mengalir ke dalam kondensor. Tegangan kondensor akan naik sampai tegangannya sama dengan tegangan coil.

Tahap 3.

Gambar 10. Pengosongan Kondensor dan Osiloskop Tegangan Kondensor turun

Tegangan primer mulai menurun. Tegangan kondensor sekarang akan mendorong balik arus listrik kembali ke lilitan primer coil, hal ini memaksa medan magnet yang kolap mengalami kolap lebih cepat yang akan menghasilkan percikan bunga api sekunder yang lebih besar. Gaya medan magnet yang kolap menghasilkan tegangan induksi dengan arah yang berlawanan.

 

Tahap 4

 

 

 

Gambar 11. Langkah Pengisian/dan Osiloskop Pengosongan Kondensor

Berkaitan dengan pengaruh medan magnet kondensor dan arus pada lilitan sekunder, gerak gaya listrik balik dihasilkan pada lilitan primer beberapa kali. Arus akan mengalir masuk dan keluar pada kondensor melalui lilitan sampai energi listriknya hilang. Hal ini menimbulkan efek osilasi.

c.    Pengendali Pengapian Sentrifugal

Untuk mendapatkan saat pemajuan yang diperlukan saat putaran engine naik, distributor mempunyai mekanisme sentrifugal yang terdiri dari dua buah pemberat yang mempunyai titik tumpu di bagian bawah distributor. Kedua pemberat ini ditahan pada dudukannya oleh pegas dan berputar dengan sumbu distributor. Jika kecepatan putar naik, pemberat terlempar ke arah luar (karena pengaruh gaya sentrifugal) melawan tarikan pegas dan akhirnya memajukan bubungan kontak point.

 

 

Gambar 12. Salah satu contoh Mekanisme Pemaju Pengapian Jenis Sentrifugal

Bubungan dapat bergerak bebas pada poros distributor dan saat pemberat bergerak ke arah luar akibat gaya sentrifugal, bubungan bergeser, atau berputar, searah dengan perputaran poros. Hal ini membuat bubungan kontak poin bersinggungan lebih cepat dengan kontak poin, dengan demikian terjadilah pemajuan pengapian.

d.  Pengendali Pengapian Vacuum

Interval waktu antara saat terjadinya penyalaan dan saat diperoleh tekanan kompresi maksimum adalah tidak tetap, tetapi berubah-ubah sesuai kecepatan pembakaran.

–      Jika campuran kaya dan tekanan kompresi tinggi, dia akan terbakar dengan sangat cepat sewaktu di sulut

–      Jika campuran miskin dan tekanan kompresi rendah, campuran akan terbakar dengan lambat

Walaupun perbandingan kompresi tidak berubah-ubah pada suatu engine, jumlah campuran udara/bahan bakar di dalam silinder (pada awal langkah kompresi) berubah-ubah sesuai posisi pembukaan katup throttle, dengan demikian terjadi perubahan pada tekanan kompresi pada rentang kerja engine.

Mekanisme pengendali pemajuan pengapian vacuum terdiri dari unit diafragma vacuum, dihubungkan dengan pelat dudukan distributor dan sisi lain diafragma dihubungkan dengan saluran vacuum karburator melalui  selang vacuum.

Diafragma ditahan pada posisinya oleh pegas. Pelat dudukan dan kontak poin akan berputar saat diafragma berhubungan dengan kevacuuman saluran masuk engine.

§  Cara Kerja

Pembukaan katup throttle yang kecil akan memberikan tingkat kevacuuman yang tinggi pada diafragma yang mengakibatkan pelat dudukan berputar mempercepat saat pengapian. Saat pembukaan katup throttle membuka semakin lebar, pengaruh kevacuuman akan menurun mengurangi pemajuan saat pengapian. Pembukaan penuh katup throttle akan memberikan tekanan udara luar (tidak ada kevacuuman) terhadap diafragma mengakibatkan tidak terjadi pemajuan saat pengapian.

Catatan:

Kerjasama antara pemaju pengapian sentrifugal dan kevacuuman secara otomatis memberikan perubahan yang pasti terhadap saat pengapian pada setiap rentang kerja engine.

Sudut Dwell

Sudut Dwell adalah besarnya sudut putaran bubungan distributor saat kontak poin menutup. Sudut Dwell yang tepat sangat penting pada coil pengapian. Coil pengapian, agar dapat bekerja dengan baik memerlukan waktu aliran arus yang mengalir pada lilitan primer cukup lama agar mampu membangkitkan medan magnet yang kuat di sekitarnya. Kekuatan medan magnet digunakan untuk memotong liiitan sekunder agar menghasilkan tegangan yang diperlukan untuk menyalakan busi.

a.

b.

 

 

c.                 

 

 

 

Gambar 13.  Sudut Dwell

Keterangan:

a)        Kontak Poin Tertutup

b)       Celah Kontak Poin Besar, sudut Dwell kecil

c)        Celah kontak Poin kecil, sudut Dwell besar

Celah kontak poin dapat merubah sudut dwell. Celah kontak poin yang sempit akan menaikkan sudut dwell. Ini berarti kontak poin tertutup lebih cepat dan menutupnya terlambat dan ini meningkatkan sudut dwell.

Besarnya sudut dwell dapat di tentukan dengan rumus:

60% x 360/n.

n = jumlah selinder.

Sudut dwell yang terlalu besar dapat menimbulkan kerugian. Kontak poin menutup lebih cepat dapat mempengaruhi kerja coil pengapian dan kondensor menyebabkan pembakaran yang jelek dan kontak poin terbakar karena percikan yang berlebihan. Celah yang besar atau sudut dwell yang kecil, menyebabkan kontak poin menutup lambat dan membuka lebih cepat, coil tidak punya waktu untuk memperoleh kejenuhan medan magnet dengan demikian menimbulkan pembakaran yang jelek.

e.  Busi

Busi berguna untuk menghasilkan bunga api dengan menggunakan tegangan tinggi yang dihasilkan oleh koil. Bunga api yang dihasilkan oleh busi kemudian di pergunakan untuk memulai pembakaran campuran bahan bakar dengan udara yang telah di kompresikan di dalam selinder.

§    Konstruksi busi

 

Gambar 14. Konstruksi Busi

Pada busi terdapat dua buah elektroda yaitu elektroda tengah dan samping elektroda tengah mengalirkan arus listrik dari distributor yang kemudian akan melompat menuju elektroda samping.

Isolator yang ada pada busi untuk mencegah bocornya arus listrik tegangan tinggi, sehingga tetap mengalir melalui elektroda tengah dan elektroda samping terus ke masa sambil menghasilkan bunga api dari elektroda tengah ke elektroda samping.

§    Nilai panas busi

Yang dimaksud dengan nilai panas busi adalah kemampuan meradiasikan sejumlah panas oleh busi. Busi yang meradiasikan panas yang lebih banyak disebut busi dingin sebab busi tersebut akan tetap dingin, sedangkan busi yang meradiasikan panas sedikit disebut dengan busi panas.

Busi dingin mempunyai ujung isolator yang lebih pendek karena permukaan persinggungan dengan api lebih kecil dan jalur radiasi panasnya pendek, maka perambatan panas sangat baik dan temperatur elektroda tengah tidak akan naik terlalu tinggi.

Sedangkan busi panas mempunyai ujung isolator yang panjang dan permukaan singgung dengan api yang luas sehingga jalur perambatan panas menjadi panjang dan radiasi panas menjadi kecil. Akibatnya temperatur elektroda tengah menjadi naik.

Nilai panas busi juga dapat ditentukan dengan nomor yang ada pada busi, semakin tinggi angka atau nomor suatu busi maka semakin tinggi nilai panas busi.

c.    Rangkuman

Distributor berfungsi membagikan (mendistribusikan) arus tegangan tinggi yang dihasilkan (dibangkitkan) oleh kumparan sekunder pada ignation coil ke busi pada tiap-tiap selinder sesuai dengan urutan pengapian. Coil pengapian terdiri dari rumah logam yang meliputi lembar pelapis logam untuk mengurangi kebocoran medan magnet. Lilitan sekunder, yang mempunyai lilitan lebih kurang 20.000 lilitan kawat tembaga halus dililitkan secara langsung ke inti besi yang dilaminasi dan disambungkan ke terminal tegangan tinggi yang terdapat pada bagian tutup coil.

Lilitan primer, terdiri dari 200-500 lilitan kawat tembaga yang relatif tebal, ditempatkan dekat dengan bagian luar sekeliling lilitan sekunder. Panjang dan lebar kawat akan menyebabkan resistansi lilitan primer berubah tergantung pada penggunaannya.

Rangkaian primer merupakan jalur untuk arus tegangan rendah dari baterai (lihat diagram) dan terdiri dari komponen-komponen berikut:

–          Saklar Pengapian

–          Lilitan Primer Coil

–          Kontak Point Distributor

–          Kondensor

Rangkaian sekunder merupakan jalur untuk arus tegangan tinggi yang ditingkatkan oleh coil dan terdiri dari komponen-komponen berikut:

–          Lilitan Sekunder Coil

–          Lengan Rotor Distributor

–          Tutup Distributor

–          Busi-busi

Kondensor mencegah percikan bunga api pada kontak poin pada saat kontak poin tersebut mulai membuka. Arus yang berlebihan mengalir ke dalam kondensor pada saat kontak point terpisah.

Sudut Dwell adalah besarnya sudut putaran bubungan distributor saat kontak poin menutup. Besarnya sudut dwell dapat ditentukan dengan rumus:

Sudut Dwell = 60 % x 360

n

n = jumlah selinder

Sudut dwell yang terlalu besar, Kontak poin menutup lebih cepat dan dapat mempengaruhi kerja coil pengapian. Yang menyebabkan pembakaran yang jelek dan kontak poin terbakar karena percikan yang berlebihan.

Celah kontak point yang besar atau sudut dwell yang kecil, menyebabkan kontak poin menutup lambat dan membuka lebih cepat, coil tidak punya waktu untuk memperoleh kejenuhan medan magnet dengan demikian menimbulkan pembakaran yang jelek.

Mekanisme sentrifugal advancer berfungsi untuk memajukan saat pengapian sesuai dengan pertambahan putaran mesin. Mekanisme Vacuum advancer berfungsi memajukan saat pengapian pada saat beban mesin bertambah atau berkurang.

Busi mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncatan bunga api melalui elektroda.

Nilai panas busi adalah kemampuan meradiasikan sejumlah panas oleh busi. Nilai panas busi dapat ditentukan dengan nomor yang ada pada busi, semakin tinggi angka atau nomor suatu busi maka semakin tinggi nilai panas busi.

d.   Tugas

1.    Pelajari modul sistem pengapian konvensional secara seksama!

2.    Gambarkan rangkaian sistem pengapian konvensional!

3.    Buatlah analisa gangguan sistem pengapian!

4.    Lakukan kegiatan praktik sesuai dengan buku panduan (manual book)!

5.    Diskusikan dengan teman tentang hal-hal yang baru Anda dapatkan!

e.   Tes Formatif

1.    Jelaskan fungsi dari sistem pengapian pada kendaraan?

2.    Gambarkan rangkaian sistem pengapian konvensional?

3.    Sebutkan fungsi dari komponen sistem pengapian berikut:

a.    Baterai

b.    Coil

c.    Distributor

d.    Busi

4.    Sebutkan komponen-komponen dari rangkaian sekunder merupakan jalur untuk arus tegangan tinggi yang ditingkatkan oleh coil?

5.    Jelaskan cara kerja Coil pangapian pada tertutup dan terbuka?

6.    Apa fungsi dari kondensor pada sistem pengapian?

7.    Jelaskan cara kerja Vacuum advancer?

8.    Jelaskan fungsi sentrifugal advancer?

9.    Jelaskan kerugian yang diakibatkan jika sudut dwell terlalu besar?

10. Jelaskan perbedaan busi panas dengan busi dingin?

f.      Kunci Jawaban

1.    Fungsi sistem Pengapian adalah menyediakan percikan bunga api bertegangan tinggi pada busi untuk membakar campuran udara/bahan bakar di dalam ruang bakar engine.

2.    Gambar rangkaian sistem pengapian konvensioal.

3.    Fungsi komponen pengapian:

–                                                                                                          Baterai menyediakan arus listrik tegangan rendah untuk ignition coil

–          Ignition Coil menaikan tegangan yang di teria dari baterai  menjadi tegangan tinggi yang diperlukan untuk pengapian

–          Distributor membagikan (mendistribusikan) arus tegangan tinggi yang dihasilkan (dibangkitkan) oleh kumparan sekunder pada ignation coil  ke busi pada tiap-tiap selinder sesuai dengan urutan pangapian

–          Busi mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncatan bunga api melalui elektroda

4.    Rangkaian sekunder merupakan jalur untuk arus tegangan tinggi yang ditingkatkan oleh coil dan terdiri dari komponen-komponen berikut:

–          Lilitan Sekunder Coil

–          Rotor

–          Tutup Distributor

–          Busi-busi

5.    Cara kerja coil pengapian pada saat:

a.                                                                                    Cara kerja-Poin tertutup

Arus dari baterai mengalir melalui lilitan-lilitan primer coil, membentuk medan magnit, melalui kontak poin ke masa.

b.                                                                                    Cara kerja Pengapian Poin-poin terbuka

Pada saat poin-poin terbuka oleh bubungan pemutus yang berputar, aliran arus primer terputus. Medan magnit di sekitar lilitan primer coil kolap dan menyebabkan tegangan tinggi pada lilitan-lilitan sekunder. Sentakan tegangan tinggi ini ‘mendorong’ arus melalui kabel coil tegangan tinggi ke distributor dan kemudian ke busi-busi.

6.  Fungsi kondensor adalah mencegah percikan bunga api pada kontak  poin pada saat kontak poin tersebut mulai membuka, dengan  cara menyerap arus induksi dini dari kumparan primer coil.

7.  Cara kerja vacuum adalah:

Pada saat pembukaan katup throttle kecil akan memberikan tingkat ­kevacuuman yang tinggi pada diafragma yang mengakibatkan pelat dudukan berputar mempercepat saat pengapian.

Saat pembukaan katup throttle membuka semakin lebar, pengaruh kevacuuman akan menurun mengurangi pemajuan saat pengapian. Pembukaan penuh katup throttle akan memberikan tekanan udara luar (tidak ada kevacuuman) terhadap diafragma mengakibatkan tidak terjadi pemajuan saat pengapian.

8.  Sentrifugal advancer berfungsi Untuk memajukan pengapian yang diperlukan saat putaran engine naik.

9.  Akibat Sudut dwell yang terlalu besar adalah:

Kontak poin menutup lebih cepat dan dapat mempengaruhi kerja coil pengapian. Yang menyebabkan pembakaran yang tidak sempurna dan kontak poin terbakar karena percikan yang berlebihan.

10.      Perbedaan Busi panas dengan busi dingin adalah:

–      Busi panas adalah busi yang mempunyai ujung isolator yang panjang dan permukaan singgung dengan api yang luas sehingga jalur perambatan panas sangat lambat sehingga meradiasikan panas yang lebih sedikit ke kepala selinder.

–      Busi dingin busi yang mempunyai ujung insulator yang lebih pendek sehingga permukaan persinggungan dengan api lebih kecil dan jalur radiasi panasnya pendek, maka perambatan panas sangat baik dan temperatur elektroda tengah tidak akan naik terlalu tinggi.


g.  Lembar Kerja

1.  Alat dan bahan

a)  1 Unit engine stand

b)  Peralatan tangan

c)   Tool box

d)  Avo meter

e)  Lap/majun

f)   Dwell tester

g)  Tacho meter

h)  Timming light

 

2.   Keselamatan kerja

a)    Gunakanlah peralatan sesuai dengan fungsinya

b)   Ikuti instruksi dari Instruktur

c)    Ataupun prosedur kerja yang tertera pada lembar kerja

d)   Mintalah izin dari Instruktur Anda bila hendak melakukan pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja

e)    Bila perlu mintalah buku manual

 

3.   Langkah kerja

a)    Persiapkan alat dan bahan praktik sesuai yang dibutuhkan

b)   Perhatikan instruksi praktik yang disampaikan oleh Guru/Instruktur

c)    Lakukan pemeriksaan dan pemeliharaan sistem pengapian

d)   Perhatikan komponen-komponen sistem pengapian

e)    Gambarkan wearing sistem pengapian sesuai dengan bahan yang dipraktikkan

f)     Diskusikan dan buatlah catatan penting kegiatan praktik

g)   Setelah selesai praktik bereskan kembali peralatan dan bahan yang telah digunakan.

4.   Tugas

a)        Buatlah laporan praktikum secara ringkas dan jelas!

b)       Buatlah rangkuman pengetahuan yang baru Anda peroleh setelah mempelajari materi kegiatan pelajaran

c)        Jika belum mengerti tanyakan pada Instruktur dan pelajari kembali materi


Kegiatan Belajar 2. Mengakses Informasi Yang Benar Dari Spesifikasi Pabrik Dan Dapat Dipahami

a.   Tujuan Kegiatan Pembelajaran

Setelah mempelajari kegiatan belajar ini, peserta diklat diharapkan dapat:

1.    Membedakan rangkaian     pengapian elektronik         dengan pengapian konvensional

2.    Memjelaskan keuntungan sistem pengapian elektronik

3.    Menyebutkan macam-macam pegapian elektronik

4.    Menjelaskan kontruksi clan cara kerja sistem pengapian elektronik

b.   Uraian materi

1.                                                                               Perbandingan Rangkaian Pengapian

Perbedaan utama antara pengapian elektronik dengan yang menggunakan kontak poin adalah pada bagian rangkaian primer. Kontak poin digantikan oleh pembangkit sinyal elektronik dlan sebuah unit pengendaii pengapian elektronik.

Pembangkit sinyal digunakan untuk memberikan impuls listrik untuk memberikan sinyal saat pengapian pada inti pengendali pengapian elektronik.

Unit pengendali akan mensaklarkan rangkaian primer pengapian sebagai sinyal oleh pembangkit sinyal.

 

 

 

 

 

                                                   

Gambar 15. Perbandingan Rangkaian

Keuntungan sistem pengapian elektronik:

§  Tidak menggunakan kontak poin

§  Tidak memerlukan perawatan kontak poin

§  Sudut Dwell ditetapkan oleh unit pengapian

§  Saat pengapian lebih tepat

§  Percikan bunga api lebih besar dan lebih lama sangat berguna untuk mengendalikan emisi gas buang.

Pembangkit Pulsa sistem pengapian elektronik

Ada beberapa cara untuk  menghasilkan pulsa sinyal pada distributor:

1.                    Pembangkit pulsa

2.                    Pembangkit efek Hall

3.                    Sensor optik

1.   Sensor Penghimpun Magnet (Pembangkit Pulsa)

a.    Konstruksi

Sensor penghimpun magnet (Magnetic Pick-Up Sensor) terdiri dari lilitan kawat dan inti magnet permanen. Magnet permanen membentuk medan magnet di sekeliling lilitan kawat.

b.    Cara kerja

Ketika benda logam mengganggu keseimbangan medan magnet, tegangan listrik terbentuk pada lilitan kawat. Tegangan ini dibangkitkan pada lilitan kawat. Sinyal tegangan ini diperkuat oleh mikrokomputer.

Gambar 16. konstruksi Sensor posisi poros engkol

Sensor posisi poros engkol (CP, Crankshaft position) adalah salah satu contoh dari penghimpun magnet. Sensor CP mempunyai perangkat penghimpun magnet. Sensor CP biasanya di tempatkan pada blok engine. Cincin pulsa poros engkol ditempatkan pada poros engkol. Tonjolan logam ditempatkan di bagian pinggiran cincin pulsa.

Saat cincin pulsa berputar, tonjolan sejajar dengan ujung sensor posisi poros engkol. Tonjolan logam tersebut memotong medan magnet. Gangguan terhadap medan magnet membangkitkan tegangan sinyal tegangan pada lilitan kawat. Sinyal tegangan ini diperkuat oleh ECU. Penghimpun magnet yang digunakan pada system pengendali elektronik mencakup:

–          Sensor posisi poros engkol

–          Sensor kecepatan kendaraan

–          Penghimpun saat pengapian

Tegangan yang dihasilkan pembangkit pulsa adalah arus bolak-balik (AC). Saat kecepatan meningkat, tegangan dan frekuensinya juga meningkat. CPU memantau frekuensi sinyal untuk menghitung kecepatan poros dan posisinya.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 17. Bentuk gelombang pembangkit pulsa

Perubahan terjadi dalam perencanaan pembangkit pulsa, tetapi semuanya menggunakan dasar kerja yang sama.

                             Gambar 18. Perubahan Rancangan Pembangkit Pulsa

 

2.   Pembangkit Efek Hall

a.            Dasar Kerja efek Hall

Efek hall adalah nama yang diberikan berdasarkan E.H. Hall yang menemukan efek ini pada tahun 1879.

Bahan semi konduktor tipis yang berbentuk garis (pembangkit hall) mempunyai aliran arus konstan yang mengalirinya. Ketika medan magnet didekatkan pada pembangkit hall sehingga medan magnet tegak lurus terhadap bahan semi konduktor (pembangkit hall), akan muncul tegangan rendah pada sisi semi konduktor yang berbentuk garis. Tegangan ini disebut “Tegangan Hall”. Saat magnet dijauhkan tegangan hall akan turun pada titik nol. Kedua hal tersebut di atas, arus yang konstan dan medan magnet yang tegak lurus terhadap bahan semi konduktor diperlukan untuk membangkitkan tegangan hall. Jika salah satu atau keduanya tidak ada maka tegangan hall tidak akan dapat dihasilkan.

 

 

 

 

Gambiar 19. Tidak ada magnet, tidak ada efek hall

Gambar 20. Kemagnetan 900 tegangan hall muncul

Bentuk gelombang output sensor hall disebut gelombang digital sebab perubahan magnet terhadap bahan semi konduktor yang berbentuk garis dari 90° akan mematikan tegangan hall. Tegangan keluaran adalah “Ada atau tidak Ada”.

 

Signal Output:

V= Kecepatan Rendah

V2   = Kecepatan Tinggi

Gambar 21. Prinsip Kerja Sensor Kecepatan dan Sinyal Keluarannya

Sensor yang ditempatkan pada distributor digunakan untuk menentukan putaran engine dan saat pengapian. Saat poros distributor berputar, sensor memberikan sinyal kepada mikrokomputer informasi tentang posisi poros distributor.

Gambar 22. Konstruksi/Tempat Sensor PenghimpunPengapian

Sensor ini terdiri dari tutup sudu yang berputar dan saklar efek Hall. Tutup sudu yang berputar di tempatkan di bagian atas poros distributor. Saklar efek Hall berada di bagian dasar distributor.

 

 

Gambar 23. Tutup Sudu berputar, sakelar efek hall

Tutup sudu berputar clan sakelar efek Hall ditempatkan sedemikian rupa sehingga sudu-sudu dapat melalui celah sakelar saat sudu-sudu berputar. Bila tidak ada sudu yang berada di celah medan magnet menyebabkan munculnya tegangan hall.

Bila sudu berada diantara celah, medan magnet terhalang dari bagian sensor. Tidak akan ada tegangan Hall yang muncul. Frekuensi (kecepatan) tegangan sinyal akan tergantung pada putaran poros dan jumlah sudu-sudu. Lebar sinyal akan beragam tergantung pada ukuran sudu.

3.   Sensor Posisi Poros Engkol Optik

Hampir sama dengan sensor Hall, sensor posisi poros engkoi optik menggunakan piringan yang secara langsung dihubungkan dengan poros pemutar. Sebagai pengganti sudu, piringan dilengkapi dengan lubang-lubang yang posisinya berhubungan dengan derajat perputaran.

Contoh:

–                              90° untuk engine 4 silinder

–                              60° untuk engine 6 silinder

–                              45° untuk engine V 8 silinder

Sensor-sensor modern mungkin mempunyai perputaran poros 360°.

Gambar 24. Sensor Posisi Poros Engkol Optik

Ditempatkan pada setiap sisi piringan sebuah LED (Light Emitting Diode) dan sebuah Phototransistor. Lubang pada piringan memungkinkan cahaya dari LED mencapai phototransistor, digunakan sebagai sensor. Output phototransistor diperkuat untuk memberikan sinyal tegangan ke ECU.

Gambar 25. Output Pulsa

 

2.                                                                               Sistem Pewaktu Pengapian Elektronik (EST)

Sistem pewaktu pengapian elektronik menggantikan system pemaju saat pengapian konvensional yaitu sistem sentrifugal dan vacuum. Ini memberikan saat pengapian yang optimum yang diperlukan oleh engine yang dipengaruhi oleh kecepatan, beban, temperatur pendingin engine, posisi throttle dan kondisi kerja motor starter dan kompresor system penyejuk udara.

Sistem ini terdiri dari:

1)   Distributor dengan pembangkit sinyal

2)   Sensor Tekanan mutlak manifold (MAP)

3)   Sensor Temperatur pendingin engine

4)   Sakelar posisi throttle

5)   Modul Pengendali Elektronik

6)   Coil Pengapian

7)   Kabel Tegangan Tinggi

8)   Busi

9)   Masukan dari rangkaian solenoid motor starter

10)        Masukan dari rangkaian kompling kompresor AC

Gambar 26. Sistem EST

Sensor-sensor memberikan informasi kerja engine kepada modul, yang akan menghitung saat pengapian yang diperlukan dan merubah sinyal keluaran kepada coil pengapian untuk memberikan pengendaiian saat pengapian.

§  Alternatif Sistem Pengapian

a)                Capacitor Discharge Ignition (CDI)

CDI berkerja dengan prinsip kerja yang berbeda dengnan system pengapian yang telah dijelaskan sebelumnya. Ini dikembangkan untuk engine yang mempunyai unjuk kerja yang tinggi.

Perbedaan utama dengan system pengapian elektronik adalah pada kapasitor penyimpan dan cara kerja modul elektronik.

Cara Kerja

Modul elektronik mengendalikan perubahan catudaya 12 V ke 400 V yang digunakan untuk mengisi kapasitor penyimpan yang besar. 400 V diperlukan untuk mencapai tingkat energi yang diperlukan untuk mengoperasikan system.

1.Batere 2.Kunci Kontak 3. Kotak Pemicu 3a.Bagian Pengisian 3b.Bagian Pengendali 3c.Pembentuk Pulsa 4.Transfarmator Pengapian 5. Pembangkit Pulsa jenis Induksi 6.Distributor D.Dioda C.Kaparitor Penyimpan The.Theristar dengan gerbang G L1. Lilitan Primer L2. Lilitan Sekunder

Gambar 27. Diagram Rangkaian. CDI yang tidak memakai kontak poin dengan Pulsa Induktif System Generator dalam Distributor

Pada titik pengapian theristor dipicu, muatan kapasitor dikosongkan melalui lilitan utama coil pengapian. Kecepatan pertumbuhan medan magnit jauh lebih cepat daripada system pengapian tradisional dengan efek tegangan yang cepat terjadi pada lilitan sekunder untuk menghasilkan bunga api untuk busi. Begitu muatan kapasitor dikosongkan theristor mati untuk kemudian memulai kembali siklus pengapian.

v  Keuntungan-keuntungan:

a)    System  CDI tidak tergantung waktu (sudut dwell) untuk memastikan magnetic coil pengapian  terpenuhi sepenuhnya.

b)   Dapat beroperasi pada frekuensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan system pengapian elektronik dan kontak tradisional.

b)               Sistem Pengapian Magnet

§  Tujuan

Sistem pengapian magnet bekerja tidak tergantung pada sumber baterai dan memberikan tegangan tinggi yang diperlukan untuk membakar campuran udara/bahan bakar di dalam ruang pembakaran.

§  Penerapan

Sistem magnet dikenal sangat kompak, bobotnya ringan dan sangat sesuai untuk digunakan pada engine yang dirancang untuk menggerakkan:

(a)      Kendaraan kecil

(b)     Perangkat daya

(c)      Sepeda motor

(d)     Kendaraan salju

(e)      Pemotong rumput

(f)       Mesin gergaji

(g)     Engine untuk perahu motor

(h)     Mesin pertanian

(i)       Engine stasioner

§  Konstruksi

Gambar 28. Konstruksi Fly Wheel Magnet

Sistem magnet ini terdiri dari:

(a)      Fly-wheel baja yang berputar yang dilengkapi dengan magnet permanen, dipasangkan pada poros engkol engine.

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                            Gambar 29. Pelat dudukan Magnet

(b)      Pelat dudukan yang tidak bergerak (tetap) menyangga armatur pengapian (coil), kontak poin clan kapasitor. (Sistem yang dikendalikan elektronik mempunyai pembangkit pulsa yang dipasangkan pada pelat dudukan.

Cara Kerja

Medan magnet yang terdapat pada fly-wheel sejajar dengan inti armatur pengapian. Pada saat fly-wheel berputar tegangan AC diinduksikan pada rangkaian primer.

 

 

 

Gambar 30. Kerja magnet saat kontak poin tertutup

Saat kontak poin tertutup arus induksi mengalir pada lilitan primer armatur pengapian menghasilkan medan magnet.

Gambar 31. Kerja Magnet saat kontak poin terbuka

Dalam waktu yang singkat kontak poin terbuka dan aliran arus induksi berhenti, medan magnet kolap dan menghasilkan induksi tegangan tinggi pada lilitan sekunder coil, menghasilkan percikan bunga api pada busi.

Catatan:

Untuk mendapatkan output yang maksimal, system magnet dirancang untuk membuka kontak poin saat arus induksi maksimum mengalir pada lilitan primer coil.

Beragam bentuk rancangan akan kita temui sesuai dengan bentuk rancangan engine dan penggunaan perangkat pemicu elektronik. Sistem magnet juga dapat digunakan pada engine bersilinder banyak, menggantikan distributor tradisional atau digerakkan oleh poros bubungan engine.

 

 

 

 

 

Gambar 32. Unit Magnet untuk engine bersilinder banyak

 

c.    Rangkuman

Perbedaan utama antara pengapian elektronik dengan yang menggunakan kontak poin adalah pada bagian rangkaian primer. Kontak poin digantikan oleh pembangkit sinyal elektronik dan sebuah unit pengendali pengapian elektronik. Pembangkit sinyal digunakan untuk memberikan impuls listrik untuk memberikan sinyal saat pengapian pada inti pengendali pengapian elektronik. Unit pengendali akan mensaklarkan rangkaian primer pengapian sebagai sinyal oleh pembangkit sinyal.

Keuntungan system pengapian elektronik:

1.    Tidak menggunakan kontak poin

2.    Tidak memerlukan perawatan kontak poin

3.    Sudut Dwell ditetapkan oleh unit pengapian

4.    Saat pengapian lebih tepat

5.    Percikan bunga api lebih besar dan lebih lama sangat berguna untuk mengendalikan emisi gas buang

cara untuk menghasilkan pulsa sinyal pada distributor:

1.    Pembangkit pulsa

2.    Pembangkit efek hall

3.    Sensor optik

Sensor penghimpun magnet (Magnetic Pick-up Sensor) terdiri dari lilitan kawat dan inti magnet permanen. Magnet permanen membentuk medan magnet di sekeliling lilitan kawat.

Ketika benda logam mengganggu keseimbangan medan magnet, tegangan listrik terbentuk pada lilitan kawat. Tegangan ini dibangkitkan pada lilitan kawat. Sinyal tegangan ini diperkuat oleh mikrokomputer.

Bahan semi konduktor tipis yang berbentuk garis (pembangkit hall) mempunyai aliran arus konstan yang mengalirinya. Ketika medan magnet didekatkan pada pembangkit hall sehingga medan magnet tegak lurus terhadap bahan semi konduktor (pembangkit hall), akan muncul tegangan rendah pada sisi semi konduktor yang berbentuk garis. Tegangan ini disebut “Tegangan Hall”. Saat magnet dijauhkan tegangan hall akan turun pada titik nol. Kedua hal tersebut di atas, arus yang konstan dan medan magnet yang tegak lurus terhadap bahan semi konduktor diperlukan untuk membangkitkan tegangan hall. Jika salah satu atau keduanya tidak ada maka tegangan hall tidak akan dapat dihasiikan.

Sistem pengapian CDI berkerja dengan prinsip kerja yang berbeda dengan system pengapian elektronik yang lain. Sistem ini dikembangkan untuk engine yang mempunyai unjuk kerja yang tinggi. Perbedaan utama dengan sistem pengapian elektronik adalah pada kapasitor penyimpan dan cara kerja modul elektronik.

d.   Tugas

1.                                                                                Pelajari sistem pengapian elektronik secara seksama!

2.                                                                                Gambarkan rangkaian sistem pengapian elektronik!

3.                                                                                Buatlah analisa gangguan pada sistem pengapian elektronik!

4.    Diskusikan dengan teman tentang hal-hal yang baru Anda dapatkan mengenai sistem pengapian dan kendala-kendalanya!


e.   Test Formatif

1.                                                                                Sebutkan keuntungan pengapian elektronik?

2.    Sebutkan komponen sensor penghimpun magnet (Magnetic Pick-up Sensor)?

3.    Sebutkan macam-macam sensor pengendali elektronik ECU menghimpun magnet?

4.                                                                                Jelaskan cara kerja pembangkit hall efek!

5.                                                                                Sebutkan keunggulan dan kelemahan sistem pengapian CDI!

f.     Kunci Jawaban

1.                                                                                        Keuntungan system pengapian elektronik:

–          Tidak menggunakan kontak poin

–          Tidak memerlukan perawatan kontak poin

–          Sudut Dwell ditetapkan oleh unit pengapian

–          Saat pengapian tebih tepat

–          Percikan bunga api lebih besar dan lebih lama sangat berguna untuk mengendalikan emisi gas buang

2.                                                                                        Komponen Sensor penghimpun magnet (Magnetic Pick-up Sensor) adalah:

lilitan kawat dan inti magnet permanen. Magnet permanen membentuk medan magnet di sekeliling lilitan kawat.

3.    Sinyal tegangan ini diperkuat oleh ECU.Penghimpun magnet yang digunakan pada system pengendali elektronik mencakup:

–          Sensor posisi poros engkol

–          Sensor kecepatan kendaraan

–          Penghimpun saat pengapian

4.    Cara kerja pembangkit pulsa Hall efek adalah tutup sudu berputar dan sakelar efek Hall ditempatkan sedemikian rupa sehingga sudu-sudu dapat melalui celah sakelar saat sudu-sudu berputar. Bila tidak ada sudu yang berada di celah medan magnet menyebabkan munculnya tegangan hall. Bila sudu berada diantara celah, medan magnet terhalang dari bagian sensor. Tidak akan ada tegangan Hall yang muncul. Frekuensi (kecepatan) tegangan sinyal akan tergantung pada putaran poros dan jumlah sudu-sudu. Lebar sinyal akan beragam tergantung pada ukuran sudu.

5.    Keungulan dan kelemahan sistem pengapian CD:

Keunggulan-keunggulan:

a)    System CDI tidak tergantung waktu (sudut dwell) untuk memastikan magnetic coil pengapian terpenuhi sepenuhnya.

b)   Dapat beroperasi pada frekuensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan system pengapian elektronik dan kontak tradisional.

Kelemahan-Kelemahan:

Untuk banyak aplikasi durasi bunga api terlalu singkat untuk memperoleh pengaian yang dapat diandalkan.

g.   Lembar Kerja

1.                                                                                   Alat dan bahan

–          1 Unit engine stand

–          Peralatan tangan

–          Avo meter

–          Lap/majun

–          Tool box

–          Tacho meter

–          Dwell tester

–          Timming light

2.                                                                                   Keselamatan kerja

–          Gunakanlah peralatan sesuai dengan fungsinya

–          Ikuti instruksi dari Instruktur

–          Ataupun prosedur kerja yang tertera pada lembar kerja

–          Mintalah izin dari Instruktur Anda bila hendak melakukan pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja

–          Bila perlu mintalah buku manual

3.                                                                                   Langkah kerja

–          Persiapkan alat dan bahan praktik sesuai yang di butuhkan

–          Perhatikan instruksi Praktik yang disampaikan oleh oleh Guru/Instruktur

–          Lakukan pemeriksaan dan pemeliharaan sistem pengapian

–          Perhatikan komponen-komponen sistem pengapian

–          Gambarkan wiring sistem pengapian sesuai dengan bahan yang dipraktikkan

–          Diskusikan dan buatlah catataan penting kegiatan praktik

–          Setelah selesai praktik bereskan kembali peralatan dan bahan yang telah digunakan

4.                                                                                   Tugas

1.    Buatlah laporan praktikum secara ringkas dan jelas!

2.    Buatlah rangkuman pengetahuan yang baru Anda peroleh setelah mempelajari materi kegiatan pelajaran

3.    Jika belum mengerti tanyakan pada Instruktur dan pelajari kembali materi

Kegiatan Belajar 3. Pelaksanaan Perbaikan, Penyetelan Dan Penggantian Komponen Dilaksanakan Dengan Menggunakan Peralatan, Teknik Dan Material Yang Sesuai

a.       Tujuan Kegiatan Pembelajaran

Setelah selesai pemelajaran modul ini tanpa bantuan Guru/Pembimbing para peserta diklat diharapkan dapat:

1.      Melakukan pemeriksaan sitem pengapian

2.      Melakukan penyetelan sistem pengapian berdasarkan SOP

3.      Melakukan service/perbaikan sistem pengapian

4.      Melepas dan memasang distributor

5.      Memeriksa urutan pengapian (FO)

6.      Menggunakan alat uji sistem pengapian

b.       Uraian materi

Sistem pengapian kendaraan bermotor sangatlah tahan uji, tetapi sebagaimana ditetapkan pabrik pembuatnya, pemeliharaannya harus dilakukan secara berkala agar tetap tahan uji. Untuk memeriksa system pengapian lakukan hal berikut:

1.   Secara visual periksalah

–          Kabel-kabel tegangan tinggi, apakah isolasinya robek, terbakar atau aus

–          Kabel-kabel tegangan rendah, apakah terbakar, aus atau retak dan rusak atau bagian-bagian tengah pada terminal-terminalnya berjuntai

–          Koil pengapian oli bocor, retak atau isolasinya teriris dan kontainer bagian luarnya rusak

–          Tutup distributornya retak, isolasinya teriris dan lemah atau klip (jepitan) pengkelemnya patah

–          Selang-selang vacuumnya retak, terbakar atau ada tanda-tanda aus

2.   Secara phisik periksalah sambungan-sambungan

–          Perlahan-lahan tarik atau tekan masing-masing kabel listrik (baik yang bertegangan tinggi maupun yang bertegangan rendah) untuk memastikan bahwa kabel-kabel tersebut terpasang dengan kuat pada sambungannya

–          Dengan  cara yang sama periksalah sambungan-sambungan selang vacuum

–          Pastikan bahwa coil pengapian dan resistor ballast terkelem kuat pada engine atau pada panel di bawah bonet

–          Periksalah saklar pengapian

–          Haruslah dipasang dengan kencang di panel instrument

–          Kuncinya tidak boleh longgar pada barrelnya dan gerakan untuk semua tahap pengoperasian harus positif

3.   Menservis bagian system pengapian yang berbegangan tinggi

–          Lepaskan tutup distributor dan kabel-kabel tegangan tinggi

–          Lepaskan tombol rotor

Gambar 33. Servis Rotor Button (tombol rotor)

Cabutlah secara langsung dari distributor shaftnya, periksalah rotor button bila:

a.    Bilahnya aus atau longgar

b.    Karbon tracking atau isolasinya retak

c.    Lug atau locating clip atau atau rusak

–          Bersihkan rotor button

–          Keriklah karbon dari ujung bilahnya tetapi jangan melepaskan logamnya

–          Laplah buttonnya dengan kain yang bersih

 

 

 

 

 

 

Gambar 34. Pemeriksaan Cap (Tutup) Bagian Dalam

–          Periksalah bagian dalam dari distributor cap

a.   Bila terminal-terminalnya aus atau terbakar

b.   Bila kontak karbonnya rusak, aus atau longgar

c.    Karbon tracking

–          Bersihkan distributor cap dan kabel-kabel tegangan tinggi.

 

 

 

 

 

 

Gambar 35. Pemeriksaan Kontak-Kontak Tegangan tinggi

–          Periksalah kontak diantara kabel tegangan tinggi dan terminal distributor cap

–          Bebaskan peiindung kabel dengan memelintirnya pada cap tower

–          Cabutlah kabel keluar tower sambil memegang pelindungnya

–          Periksalah bagian dalam dari cap tower dan terminal kabel tegangan tinggi bila terjadi korosi

–          Dengan hati-hati keriklah setiap karat dari contact points

–          Pasanglah kabel dan pelindung ke distributor cap. Pastikan bahwa kabel terpasang dengan kuat di dalam capnya

–          Ulangi proses sepera ini pada kabel-kabel yang lain

Catatan;

Ceklah dan gantilah satu kabel setiap saat untuk mencegah susunan pengapian tertukar. Inhibitor uap lembab seringkali tersemprot ke kabel-kabel dan konektor-konektomya.

–          Periksalah resistasi kabel-kabel tegangan tinggi

–          Ganti kabel-kabel bila resistansinya telah melampaui batas yang ditentukan

–          Pasanglah rottor button

–          Luruskan locating lug atau klip di bagian dalam rotor dengan alur pada poros distributornya

–          Tekanlah rotor pada porosnya dan pastikan bahwa rotor tersebut terpasang dengan kuat pada cam lobes

–          Periksalah apakah rotor berada tepat pada porosnya dan harus kencang

Catatan;

Beberapa distributor mempunyai penutup debu diantara bagian sekunder dan bagian primernya. Penutup debu ini harus dipasang sebelum rotor dipasang.

–          Pasangfah tutup distributor tetapi jangan menghubungkan kabel­kabel tegangan tinggi ke busi

–          Lepaskan busi

–          Periksalah busi terhadap:

1.    Isolasinya rusak atau retak

2.    Kerusakan elektroda-elektrodanya

3.    Jumlahnya, wamanya, penampilan endapan karbon

4.    Kerusakan seal atau thread (ulir)nya

 

 

 

 

 

 

 

Gambiar 36. Kerusakan Busi Yang Dapat Dilihat

Catatan;

Kondisi engine dapat ditentukan dengan cara membedakan busi dengan tabel kondisi busi.

Warna dan Kondisi Elektroda

Kondisi Engine yang dapat diindikasi

Bersih, kekuning-kuningan, coklat atau putih kusam Kondisi baik, tingkat panas stekernya pas
Lapisan permukaan melepuh Campuran bahan baker terlalu encer; steker tidak terpasang dengan tepat; katup-katup engine bocor
Elektroda-elektroda dan permukaan steker kotor oleh oli Stekernya macet; silinder-silindernya, kendali katup dan piston-pistonnya aus
Elektroda-elektroda dan permukaan steker tercemar/kotor oleh jelaga Campuran bahan baker terlalu pekat, celah terlalu lebar diantara elektroda-elektroda busi, tingkat panas stekernya tidak tepat

–          Bersihkan busi

Gambar 37. Mengikir Elektroda Busi

–          Kikirlah elektroda-elektroda busi

–          Gunakan kikir dengan ujung-ujungnya yang kecil untuk menipiskan kedua elektroda

–          Buanglah busi bila pengikiran ringan (kedalaman 0.10 mm) gagal menghilangkan erosinya

 

Gambar 38. Pengaturan Celah Busi

–          Aturlah celah-celah busi

a)        Pilihlah ukuran kawat yang telah direkomendasi pabrik pembuatnya

b)       Bengkokkan elektroda massa sampai sight resistance (resistansi yang terlihat) terasa pada wire gauge pada saat elektroda tersebut melewati celah.

Peringatan:

 

Jangan mengetok elektroda pusat atau mengaturnya.

–          Cuci dan keringkan busi

a)    Cucilah busi-busi dengan solvent dan keringkanlah busi-busi tersebut dengan udara tekan

b)   Lindungi mata anda dengan kacamata las bila menggunakan penyemprot udara

–          Pasanglah busi-busi tersebut ke dalam kepala silinder. Hubungkan kabel-kabel tegangan tinggi.

–          Tekan kabel-kabel tegangan tinggi ke penjepit-penjepitnya. Masukkan pelindung-pelindung pada busi dan tekanlah pelindung tersebut kuat pada tempatnya.

–          Ceklah firing order (susunan pembakaran) pada kabel-kabel tegangan tinggi untuk memastikan bahwa kabel-kabel tersebut telah dipasang pada busi yang sesuai/tepat.

–          Pasanglah koil kabel tegangan tinggi.

4.   Memeriksa susunan pembakaran

–          Pastikan firing order dari engine.

–          Seringkali firing order tersebut timbul pada inlet manifold tetapi bila tidak dapat ditemukan, baca lagi manual bengkelnya.

–          Pastikan posisi silinder nomor satu dalam balok silinder.

–          Untuk kebanyakan deretan engine-engine, silinder nomor satu berada di depan balok dan silinder-silinder lainnya ada di bagian belakang. Pada beberapa engine nomor silinder menyembul pada kepala silinder, atau pada manifold dekat dengan businya masing­masing. Bila meragukan, bacalah kembali manual bengkel dari pabriknya.

–          Ikuti alur kabel tegangan tinggi yang dihubungkan pada busi nomor satu kembali menuju tutup distributor.

–          Dalam mengarahkan rotasi rotor, ikuti alur kabel tegangan tinggi berikutnya ke busi.

 

Gambar 39. Pemeriksaan Firing Order

–          Nomor silinder harus cocok dengan nomor berikutnya pada firing order.

–          Periksalah arah rotasi dari rotor.

–          Lepaskan kabel tegangan tinngi dan sambunglah kabel terebut ke busi dari silindernya.

–          Ulangi sampai semua silinder tetah diperiksa.

5.   Menservis bagian system pengapian yang bertegangan rendah

Catatan:

Servis ini dapat dilakukan pada saat bagian (section) bertegangan tinggi sedang diservis. Servis tersebut dilakukan sebelum rotor dan tutup distributornya diganti.

–          Lepaskan tutup distributur dengan kabel-kabel tegangan tingginya

–          Lepaskan rotor

–          Lepaskan penutup debu bila dilengkapi

–          Lepaskan contact breaker points

–          Lepaskan skrup-skrup yang mengencangkan point-point pada plat breaker

–          Lepaskan sambungan kabel tegangan rendah dari point-pointnya. Kunci pas pengapian atau obeng mungkin diperlukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 40. Memeriksa kontak poin

Catatan:

Pada beberapa distributor, terminal pada sisi badan harus dilonggarkan agar kabelnya dapat dilepaskan.

–          Tariklah kontak point dari distributor.

Gambar 41. Memeriksa Kontak Poin

Catatan:

Gantilah kontak point sesuai jadwal waktu servisnya.

–          Periksalah kontak point.

–          Kontak point bila lebih dari 1/3 daerah permukaan kontak terbakar atau pitted.

–          Pastikan bahwa pegasnya dengan kuat terpasang pada lever moving kontak point. Jangan mencoba untuk mengkeling ulang pegas ke lever, pasang point baru.

–          Bila kabel tegangan rendah disambungkan ke kontak point, pastikan bahwa kabel tersebut tidak telanjang, terjuntai atau putus dan karenanya harus dengan tepat diisolasi dari point yang tepat.

–          Pastikan bahwa moving points bebas bergerak pada pivotnya.

–          Periksalah kabel-kabel tegangan rendah dalam distributor.

–          Kabel plat breaker tidak boleh terjuntai atau putus dab secara kuat harus disambungkan pada badan dan plat breakernya.

–          Periksalah bila cam aus atau kasar.

–          Pastikan bahwa kapasitornya kencang, kondisi kabelnya baik dan kontak listrik mounting clampnya baik.

6.   Mengetes alat advance mekanik

Jepit cam dengan jari-jarimu dan cobalah memutarnya. Cam tersebut hanya boleh berputar pada satu arah saja.

Pada waktu cam berputar, resistansi pegas dapat terasa dan akan meningkat bersamaan dengan meningkatnya rotasi.

Gerakan cam tanpa resistansi menunjukkan bahwa alat tersebut aus dan harus diperbaiki.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 42. Mengetes Alat Advance

Alat tersebut harus diperbaiki bila camnya dapat bergerak secara berlebihan ke atas dan ke bawah porosnya. Oli yang berlebihan di seputar alat advance menunjukkkan bushes pada poros distributornyaaus. Untuk memastikan bahwa olinya berasal dari engine clan bukan karena pelumasan yang berlebihan lakukan pemeriksaan dengan sangat hati-hati.

 

 

 

 

 

 

Gambar 43. Pelumasan

–          Bersihkan clan lumasilah distributornya.

–          Laplah plat breaker clan cam dengan kain yang sudah dibasahi solvent.

–          Keringkanlah dengan lap lainnya.

–          Teteskan satu atau dua kali oli cair untuk melumasi bagian­bagiannya (parts).

Gambar 44. Membersihkan Point-point

–          Membersihkan kontak point

–          Kikirlah merata masing-masing permukaan kontak dengan kikir pengapian clan kemudian gosoklah dengan kain ampelas atau batu carborundum

–          Cucilah point-point dengan solvent dan keringkanlah dengan kain bersih

–          Pastikan bahwa permukaan-permukaan kontak seluruhnya bersih

7.   Pemasangan point-point ke dalam distributor

–          Berikan sedikit gemuk yang titik cairnya tinggi pada rubbing block dari moving point.

–          Tempatkan kontak poin pada posisinya yang tepat, masukkan skrup­skrup penahan dan kencangkan perlahan-lahan.

–          Hubungkan kabel tegangan rendah ke kontak poin untuk memastikan bahwa semua terminalnya kencang.

–          Tempatkan kabel-kabel tegangan rendah sehingga kabel-kabel tersebut tidak menggesek komponen/part lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 45. Pemeriksaan Point Alignment (kesejajaran point)

a)    Periksalah penjajaran pennukaan-permukaan kontak. Bengkokkan point-point yang telah pas terpasang dengan alat khusus atau sepasang tang berhidung panjang untuk mensejajarkannya dengan moving point.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 46. Mengatur Celah  Point

 

b)   Atur celah point

–    Putarlah engine sampai rubbing block pada moving point berada pada point tertinggi dari cam lobe

–    tempatkan feeler gauge diantara kontak point atau rubbing block sebagaimana ditentukan oleh pabriknya dan longgarkan skrup-skrup penguat

–    Aturlah kontak-kontaknya

–    Kencangkan skrup-skrup dan periksalah celahnya dengan feeler gauge.

–    Feeler gauge tersebut harus masuk tepat diantara kontak pointnya

–    Untuk mengatur kembali celah, longgarkan skrup sebagian (hanya dengan jari) dan gerakkan point yang telah ditentukan tersebut sehingga menghasilkan celah yang sesuai

–    Kencangkan skrup-skrupnya.

c)    Pasanglah rotor button.

Paskan penutup debu (bila terpasang) sebelum memasang button.

d)   Pasanglah tutup distributor dan kabel-kabel tegangan tinggi. Pastikan tutupnya ditempatkan dengan benar pada badan distributor.

Catatan:

Servis system pengapian belumlah selesai sampai sudut dwell dan timing (waktu) pengapian telah diperiksa dan disetel.

 

8.   Memeriksa dan mengatur sudut dwelt

     Lakukan hal berikut:

a)        Pastikan bahwa semua alat dan perlengkapan tidak ada di sekitar engine

b)       Hidupkan engine dan biarkan sampai mencapai temperatur pengoperasiannya

c)        Matikan engine dan hubungkan meter dwell ke system pengapian sesuai dengan instruksi pabrik pembuatnya

d)       Hidupkan engine dan bacalah bacaan sudut dwellnya

e)        Aturlah sudut dwell bila sudut tersebut tidak sesuai dengan spesiflkasi dari pabriknya

Catatan:

Untuk memperbesar sudut dwell kecilkan celah point. Untuk memperkecil dwell besarkan celah point.

 

9.   Pengaturan Saat Pengapian (Ignition Timing)

 

 

 

Gambar 47. Menentukan tanda timing (Timing Marks)

Ignition timing dapat dicek dan diatur dengan cara:

–          Metoda Statis

–          Metoda Stroboscope (timing Light)

1)       Untuk mengecek dan mengatur waktu dengan menggunakan metoda statis

–          Putar puli engine sampai tanda timing sejajar dengan tanda yang telah ditentukan pada engine. Aturlah sesuai dengan spesifikasi pabrik pembuatnya.

–          Sambungkan satu kabel dari lampu pengetes ke terminal distributor dari coil pengapian dan kabel lainnya ke massa (earth) yang sesuai.

-Kunci kontak di “ON”.

-Longgarkan klem distributor dan putarlah badan terminal distributor dari koil pengapian dan kabel lain ke pembumian yang sesuai.

-Pindahkan distributor ke arah rotasi sampai lampu hidup dan kencangkan klem.

-Matikan pengapian dan lepaskan lampu test.

2)       Untuk mengecek dan mengatur saat pengapian dengan menggunakan metoda stroboscope (timing light)

-Hidupkan engine dan biarkan sampai mencapai temperatur pengoperasian.

-Matikan engine dan hubungkan timing light dan tachometer ke system pengapian sesuai dengan instruksi pabrik pembuatnya.

-Lepaskan sambungan dan sambungkan selang vacuum yang ada di distributor.

-Bersihkan tanda-tanda timing dengan sehelai kain.Bila perlu perbaiki graduation lines (alur-alur graduasi) dengan cat.

-Hidupkan engine dan aturfah kecepatan idle ke jarak yang telah ditentukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 48. Pengecekan Saat Pengapian

-Arahkan timing light ke tanda-tanda timing

Penanganannya harus sangat berhati-hati agar jangan sampai tanganmu, atau timing light bersinggungan dengan bagian-bagian yang berputar.

-Periksalah dan aturlah saat pengapian

Longgarkan klem distributor dan putarlah badan distributor sesuai dengan arah rotasinya sampai saat pengapian yang ditetapkan tercapai. Kencangkan klem dan cek kembali saat pengapiannya.

Gambar 50. Mengatur Saat

 

 

 

Gambar 49. Mengatur saat pengapian

Catatan:

Saat pengapiannya tepat bila tanda timing segaris dengan tanda trining yang terdapat pada badan engine sesuai spesifikasi pabriknya.

-Matikan engine

-Lepaskan selang vacuum dan hubungkan selang tersebut ke distributor

-Hidupkan engine dan aturlah putaran idle (langsam) sesuai putaran yang ditetapkan

-Matikan engine dan lepaskan tachometer dan timing light. Lakukan road test terhadap kendaraan

Catatan:

Dengarkan bila ada suara yang tidak normal, seperti ‘ketukan'(‘pinking’).

c.        Rangkuman

Ceklah dan gantilah satu kabel setiap saat untuk mencegah susunan pengapian tertukar. Inhibitor uap lembab seringkali tersemprot ke kabel-kabel dan konektor-konektornya. Beberapa distributor mempunyai penutup debu diantara bagian sekunder dan bagian primernya. Penutup debu ini harus dipasang sebelum rotor dipasang. Kondisi engine dapat ditentukan degan cara membedakan busi dengan tabel kondisi busi.

Servis ini dapat dilakukan pada saat bagian (section) bertegangan tinggi distributornya diganti pada beberapa distributor, terminal pada sisi badan harus dilonggarkan agar kabelnya dapat dilepaskan. Selalulah mengganti point-point sesuai jadwal waktu servisnya. Pada hampir semua kasus perangkat point yang sangat berkarat atau pitted harus diperbaharui. Jangan memutar engine pada kipas angin bila businya terpasang karena kipas anginnya dapat rusak. Saat pengapiannya tepat bila tanda timing segaris dengan tanda timing yang terdapat pada badan engine sesuai spesifikasi pabriknya. Bila kompresi engine menyebabkan pengengkolan engine sulit dilakukan, lepaskan semua busi. Metoda pelepasan dan pemasangan distributor juga diterapkan pada system pengapian elektronik. Pada beberapa kasus poros penggerak distributor harus dilepaskan sebelum cam assembly dibongkar. Cara melepaskan shaft akan dijelaskan kemudian.

Jangan melepaskan pad sebelum melepaskan cam assembly karena pad tsb, berfungsi untuk mencegah circlip terlepas keluar. Beberapa distributor tidak mempunyai bushing dan badannya bertindak sebagai permukaan bantalan. Bila celahnya terlalu besar badan distributornya harus diganti.  Lumasi semua titik tumpu dengan pelumas yang sesuai.  Pastikan bandul-bandul, pegas-pegas dan pena tumpu dipasang mengikuti tanda yang telah dibuat, feeler gauge yang digunakan harus jenis non-magnetik.

 

d.       Tugas

Pada penilaian unjuk kerja yang akan dilakukan Siswa dipersyaratkan menampilkan kemampuan sesuai dengan urutan tugas yang disusun dalam analiisis pokok bahasan, untuk itu disarankan kepada Siswa selalu berkonsultasi dengan Guru/Pembimbing dalam melaksanakan suatu tugas dan revisi terhadap teori yang dipelajari.

Untuk mendapatkan kemampuan yang sesuai dengan kriteria standar yang harus di capai oleh Siswa yang dianggap kompeten adalah Persyaratan Memperbaiki System Pengapian dan komponennya dimana sistem perbaikan ditentukan berdasarkan spesifikasi pabrik. Memperbaiki Sistem Pengapian dan Komponennya sesuai dengan Prosedur Operasi Standar dimana dalam pengerjaannya sesuai dengan undang-undang K 3 (keselamatan dan kesehatan kerja).


e.       Tes Formatif

1.    Bagaimana cara mengatur celah dari Busi?

2.    Sebutkan langkah-langkah menyetel kontak poin?

3.    Jelaskan cara mengetes advance mekanik?

4.    Jelaskan langkah menyetel sudut dwell?

5.    Jelaskan mengatur waktu pengapian dengan metode statis?

f.         Kunci Jawaban

1.    Cara mengatur celah busi:

(a)      Pilihlah ukuran kawat yang telah direkomendasi pabrik pembuatnya.

(b)     Bengkokkan elektroda massa sampai sight resistance (resistansi yang terlihat) terasa pada wire gauge pada saat elektroda tersebut melewati celah.

2.    Cara mengatur celah point adalah:

(a)      Putarlah engine sampai rubbing block pada moving point berada pada point tertinggi dari cam lobe.

(b)     Tempatkan feeler gauge diantara kontak point atau rubbing block sebagaimana ditentukan oleh pabriknya dan longgarkan skrup-skrup penguat.

(c)      Aturlah kontak-kontaknya.

(d)     Kencangkan skrup-skrup dan periksalah celahnya dengan feeler gauge.

(e)      Feeler gauge tersebut harus masuk tepat diantara kontak pointnya.

(f)       Untuk mengatur kembali celah, longgarkan skrup sebagian (hanya dengan jari) dan gerakkan kontak point yang telah ditentukan tersebut sehingga menghasilkan  celah yang sesuai.

(g)     Kencangkan skrup-skrup.

3.    Cara mengetes advancer mekanik

Jepit cam dengan jari jarimu dan cobalah memutarnya. Cam tersebut hanya boleh berputar pada satu arah saja.

Pada waktu cam berputar, resistansi pegas dapat terasa dan akan meningkat bersamaan dengan meningkatnya rotasi.

Gerakan cam tanpa resistansi menunjukkan bahwa alat tersebut aus dan harus diperbaiki.

Alat tersebut harus diperbaiki bila camnya dapat bergerak secara berlebihan ke atas dan ke bawah porosnya. 0li yang berlebihan di seputar alat advance menunjukkan bushing pada poros distributomya aus. Untuk memastikan bahwa olinya berasal dari engine dan bukan karena pelumasan yang berlebihan lakukan pemeriksaan dengan sangat hati-hati.

4.    Langkah memeriksa dan mengatur sudut dwell adalah:

(a)         Pastikan bahwa semua alat dan perlengkapan tidak ada di sekitar engine.

(b)         Hidupkan engine dan biarkan sampai mencapai temperatur pengoperasiannya.

(c)         Matikan engine dan hubungkan meter dwell ke system pengapian sesuai dengan instruksi pabrik pembuatnya.

(d)         Hidupkan engine dan bacalah bacaan sudut dwellnya.

(e)         Aturlah sudut dwell bila sudut tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi dari pabriknya.

5.    Langkah mengecek dan mengatur waktu dengan menggunakan metoda statis:

(a)         Putar puli engine sampai tanda timing sejajar dengan tanda yang telah ditentukan pada engine. Aturlah sesuai dengan spesifikasi pabrik pembuatnya.

(b)         Sambungkan satu kabel dari lampu pengetes ke terminal distributor dari coil pengapian dan kabel lainnya ke massa (earth) yang sesuai.

(c)         Kunci kontak di “ON”.

(d)         Longgarkan klem distributor dan putarlah badan terminal distributor dari koil pengapian dan kabel lain ke massa yang sesuai.

(e)         Pindahkan   distributor    ke      arah   rotasi  sampai         lampu hidup  dan kencangkan klem.

(f)          Matikan pengapian dan lepaskan lampu test.

g.       Lembar Kerja

1.   Alat dan Bahan

–          Volt meter

–          Obeng + (Kembang ) dan – (Min)

–          Kunci Pas

–          Kunci Ring

–          Dial gauge

–          Dwell tester

–          Timing Light

–          Feeler gauge

–          Ware gauge (pengukur celah busi)

–          Satu unit died Engine

2.   Keselamatan kerja

–          Persiapkan tempat kerja yang bersih

–          Gunakan pakaian kerja

–          Simpan alat pada tempat yang aman

–          Gunakan alat sesuai dengan fungsinya

 

3.   Langkah Kerja

a.    Persiapkan alat dan bahan yang akan dipergunakan praktik

b.    Lakukan pemeriksaan dan penyetelan komponen sistem pengapian

c.        Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh Guru/Instruktur

d.        Lakukan sesuai dengan buku manual

e.        Lakukan diskusi tentang pemeriksaan dan penyetelan komponen sistem pengapian

f.         Buatlah catatan penting tentang kegiatan praktik secara ringkas dan jelas

g.        Setelah selesai bereskan kembali alat-alat dan bahan yang telah di gunakan

4.   Tugas

a.                           Buatlah laporan praktik secara ringkas clan jelas!

b.                           Buatlah rangkuman pengetahuan yang baru Anda peroleh

c.                            Jika belum mengerti pelajari kembali dan tanyakan pada Instruktur

 

 

BAB. III

 EVALUASI

 

A.     KRITERIA DAN INSTRUMEN PENILAIAN

1.                                                                                                      Kriteria Penilaian Pengetahuan (Tes formatif):

a.             Siswa dapat skor 7 (tujuh) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 70 % s/d 80 %.

b.            Siswa dapat skor 8 (delapan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 81 % s/d 90 %.

c.             Siswa dapat skor 9 (sembilan) bila tingkat kebenaran jawaban tiap item soal antara 91 % s/d 100 %.

d.            Setiap item soal harus mendapat nilai minimal 7 (tujuh).

e.             Bila belum mencapai nilai tujuh Siswa wajib belajar kembali dan mengulang pada item tersebut.

B.   PERTANYAAN

1.                                                                                                                                                      Jelaskan tujuan system pengapian pada kendaraan?

2.                                                                                                                                                      Gambarkan rangkaian system pengapian konvensional?

3.      Jelaskan fungsi setiap komponen system pengapian berikut!

a.       Coil Pengapian

b.      Distributor

c.       Kondensor

d.      Busi

4.      Jelaskan kerja coil pengapian saat kontak poin tertutup dan saat kontak poin terbuka!

5.      Jelaskan mengapa sudut Dwell yang tepat penting untuk mendapatkan pengapian yang baik!

6.      Jelaskan keuntungan system pengapian elektronik!

7.      Pada gambar di bawah ini tunjukkan komponen yang digunakan pada kontruksi sensor posisi poros engkol dudukan distributor.

8.      Jelaskan cara kerja sensor Hall yang mengacu pada sudu rotary untuk menghasilkan sinyal out-put!

9.      Jelaskan bagaimana system EST mengendalikan saat penyalaan!

10.  Jelaskan cara kerja Sistem pengapian CDI!

11.  Jelaskan cara kerja flywheel system pengapian magneto!

12.  Jelaskan mengapa system pengapian harus distel sesuai dengan jadwal dan spesifikasi yang ditetapkan pabrik!

13.  Identifikasi hal-hal apa saja yang perlu diperiksa selama prosedur servis untuk semua komponen yang ada dalam daftar

–   Tutup didistributor

–   Rotor

–   Busi

14.  Jelaskan langkah-langkah menyetel saat pengapian dengan menggunakan timing light!

15.  Jelaskan langkah-langkah penggantian distributor!

Kunci Jawaban

1.    Tujuan system pengapian pada kendaraan.

Jawaban:

–          Untuk menyediakan percikan bunga api untuk membakar bahan bakar di dalam ruang pembakaran.

–          Untuk menyediakan percikan bunga api pada saat yang paling tepat untuk mendapatkan unjuk kerja engine terbaik pada seluruh kondisi engine.

2.    Gambar di bawah ini menunjukan komponen sistem pengapian konvensional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan:

1. Batere          2. Kunci Kontak                                3. Coil Pengapian 4. Distributor     5. Kapasitor          6. Kontak poin

7. Busi              8. Kabel Busi

Jawaban:

Agar secara otomatis merubah saat pengapian sesuai perubahan putaran engine.

3.  Jelaskan fungsi setiap komponen system pengapian berikut!

Jawaban:

a.      Coil Pengapian: Untuk merubah tegangan rendah menjadi tegangan tinggi untuk dapat menghasiljan percikan bunga api.

b.     Distributor: Dudukan Cam dan kontak poin. Dudukan untuk perangkat pemaju pengapian. Mendistribusikan listrik tegangan tinggi pada busi yang tepat (sesuai urut-urutan pengapian).

c.      Kondensor: Menbantu kolapnya medan magnet dan mencegah terjadinya percikan bunga api pada kontak poin.

d.     Busi: Menghasilkan percikan bunga api untuk menyulut/membakar campuran udara/bahan bakar.

4.  Jelaskan kerja coil pengapian saat kontak poin tertutup dan terbuka!

Jawaban:

Arus (istrik mengalir melalui rangkaian primer dan tiiitan primer coil menghasilkan induksi medan magnet di sekeliling lilitan coil (inti coil)

Pada saat kontak poin terbuka arus primer berhenti, medan magnet kolap. kolapnya medan magnet menghasilkan induksi tegangan tinggi pada lilitan sekunder.

5.  Jelaskan mengapa sudut Dwelt yang tepat penting untuk mendapatkan pengapian yang baik!

Jawaban:

Sudut Dwell yang tepat penting untuk menghasilkan kejenuhan medan magnet coil pengapian dan mengurangi kerusakan kontak poin.

6.  Jelaskan keuntungan system pengapian elektronik!

Jawaban:

a.      Tidak menggunakan kontak poin

b.     Tidak memerlukan perawatan kontak poin

c.      Sudut Dwell ditentukan oleh unit pengapian

d.     Saat penyalaan lebih tepat

e.      Percikan bunga api lebih lama dan lebih besar

7.  Pada gambar di bawah ini tunjukkan komponen yang digunakan pada kontruksi sensor posisi poros engkol dudukan distributor.

Jawaban:

 

 

 

 

 

8.    Jelaskan cara kerja sensor Hall yang mengacu pada sudu rotary untuk menghasilakan sinyal out-put!

Jawaban:

Jika tidak ada sudu yang berada di cefah medan magnet menyebabkan munculnya tegangan Hall. Jika sudu berada pada celah elemen Hall terlindung dari medan magnet, tidak muncul tegangan Hall.

9.    Jelaskan bagaimana system EST mengendalikan saat penyalaan!

Jawaban:

Sistem EST menggunakan beberapa sensor untuk memantau kondisi kerja engine. Modul menghitung saat pengapian yang dibutuhkan dan memberikan sinyal ke coil pengapian untuk memberikan pengendalian pengapian.

10. Jelaskan cara kerja Sistem pengapian CDI!

Jawaban:

Transformator meningkatkatkan tegangan sumber 12 volt menjadi 400 volt untuk mengisi kapasitor penyimpan. Pada saat penyalaan therystor dipicu, kapasitor mengosongkan muatannya melalui lilitan primer menghasilkan pembentukan medan magnet yang sangat cepat, yang menyebabkan kenaikan tegangan pada lilitan sekunder yang menghasilkan tegangan tinggi yang diaiirkan ke busi.

11. Jelaskan cara kerja flywheel system pengapian magneto!

Jawaban:

Saat flywheel berputar magnet menginduksi tegangan pada liiitan primer, arus mengalir membentuk medan magnet di sekeliling coil pengapian. Saat kontak poin terbuka arus terhenti, medan magnet kolap menginduksi tegangan tinggi pada iilitan sekunder dan menghasilkan tegangan tinggi yang dialirkan ke busi.

12. Jelaskan mengapa system pengapian harus disetel sesuai dengan FO dan spesifikasi yang ditetapkan pabrik!

Jawaban:

Untuk menjamin kemampuan kerja sistem

13. Identifikasi hal-hal apa saja yang perlu diperiksa selama prosedur servis untuk semua komponen yang ada dalam daftar

Jawaban:

–          Kabel tegangan tinggi

Keretakan, terbakar, atau insulasi rusak

–          Kabel tegangan rendah

a)                                                                                                    Terbakar, insulasi retak atau rusak

b)                                                                                                   inti kawat terurai atau rusak pada terminalnya

c)                                                                                                    Kekuatan sambungan terminal terhadap dudukannya

–          Coil Pengapian

a)                                                                                                    Kebocoran oli

b)                                                                                                   Insulasi atau retak pecah

c)                                                                                                    Kerusakan eksternal

–          Tutup distributor

a)                                                                                                    Retak, insulasi pecah, clip rusak atau lemah

b)                                                                                                   Terminal terbakar atau rusak

c)                                                                                                    Sambungan karbon kendor atau rusak

d)                                                                                                   Memeriksa korosi pada puncak tutup bagian dalam

–          Rotor

a)                                                                                                    Blade kendor atau rusak

b)                                                                                                   Insulasi retak atau karbon retak

c)                                                                                                    Klip pengikat patah atau rusak

–          Busi

a)                                                                                                    Kerusakan Insulator

b)                                                                                                   Ekektroda eroded

c)                                                                                                    Sil rusak

d)                                                                                                   Ulir rusak

e)                                                                                                    Insulasi retak

14. Jelaskan langkah-langkah menyetel saat timing light!

Jawaban:

1.    Operasikan engine sampai mencapai temperatur kerja

2.    Matikan engine dan pasang timing light

3.     Lepas sambungan selang vacuum

4.    Bersihkan tanda timing pada poros pulley

5.    Hidupkan engine

6.     Arahkan timing light pada tanda timing, Periksa dan stel saat pengapian

7.     Kencangkan baut pengikat distributor dan periksa ulang saat pengapian

15. Jelaskan langkah-langkah penggantian distributor!

Jawaban:

1.    Posisikan rotor sehingga balde-nya berada tepat segaris dengan bagian puncak badan disributor

2.    Bila rotor bergerak saat busi dikeluarkan, tentukan posisi baru penunjukan rotor

3.    Sejajarkan tanda yang terdapat di badan didtributor dan blok engine dan masukkan distributor

4.    Mungkin perlu menggerakkan sedikit badan rotor maju atau mundur untuk memungkinkan penggerak distributor terkait

5.    Tepatkan posisi klem dan masukkan baut pengikat

6.    Kencangkan baut pengikat dengan tangan

7.    Sambungkan kabel tegangan rendah ke distributor

8.    Pasang kembali tutup distributor dan kabel tegangan tinggi

9.     Sambungkan kembali kabel negatip ke batere

10. Stel saat pembakaran sesuai spesifikasi pabrik

11. Kencangkan baut pengikat distributor sesuai spesifikasi pengencangan

12. Pastikan   pipa    vacuum dihubungkan  ke    unit advanver setelah saat pengapian di setel.

 

C.   KRITERIA KELULUSAN

ASPEK

SKOR (0-10)

BOBOT

NILAI

KETERANGAN

Sikap

2

Syarat kelulusan, nilai minimal 70 dengan nilai setiap aspek, minimal 7

Pengetahuan

4

Keterampilan

4

Nilai Akhir

Kriteria kelulusan:

70 s/d 79       : Memenuhi kriteria minimal dengan bimbingan

80 s/d 89       : Memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan

90 s/d 100      : Diatas minimal tanpa bimbingan

Kriteria Unjuk Kerja

Aspek yang harus dilakukan

Hasil pemeriksaan dan pengukuran

Kesimpulan

Memeriksa ignition coil

1.1.  Melepas

rangkaian kelistrikan pada ignition coil

1.2.  Memeriksa

tahanan external resistor

1.3.  Memeriksa

tahanan primary

1.4.  Memeriksa

nilai tahan secondary coil

1.5.  Memeriksa

tahanan body

Melepas dan

Membongkar distributor

2.1.                                  Melepas

selang-selang vacuum

2.2.                                  Melepas

distributor dari mesin

2.3.                                  Melepas

kabel tegangan tinggi

–  Memeriksa

nilai tahanan kabel coil

–  Memeriksa

Nilai tahanan kabel busi No.1

–  Memeriksa

Nilai tahanan busi No.2

–  Memeriksa

Nilai tahanan busi No.3

–  Memeriksa

Nilai tahanan busi No.4

2.4.                                  Melepas

tutup distributor

–  Memeriksa

tutup distributor dari keretakan

2.5.                                  Melepas

Rotor

–  Memeriksa

Rotor terhadap keretakan

2.6.                                  Melepas

Condensor

–  Memeriksa

Condensor

2.7.                                  Melepas

Platina

–  Memeriksa

Permukaan platina

2.8.                                  Melepas

Vacum advancer

–  Memeriksa

Vacum advancer (utama & tambahan)

2.9.                                  Memeriksa

plat dudukan platina

–  Memeriksa

Kerja gerak dari plat dudukan platina

2.10.Memeriksa

Kerja sentrifugal advance

Melepas semua busi

3.1.   Memeriksa

Kondisi busi

–  Memeriksa keausan elektrode busi

–  Memeriksa keretakan isolator busi

3.2.   Membersihkan

Endapan karbon pada busi

3.3.   Mengukur

celah busi

Memasang busi

4.1.   Memasang

busi dengan benar (torsi kekencangan sesuai, tidak miring)

Merakit distributor sesuai SOP

5.1.   Memasang

Plat dudukan platina dengan benar

5.2.   Memasang

vacum

5.3.   Memasang,

memeriksa kontak platina dan menyetel celah platina sesuai SOP

5.4.   Memasang

condensor

5.5.   Memasang

Distributor ke mesin (sesuai SOP & repair manual)

5.6.   Memasang

Selang-selang vacum

5.7.   Memasang

tutup distributor

5.8.   Memasang

Kabel busi sesuai FO dengan benar

Memasang rangkaian coil

6.1.   Memasang

Kabel-kabel dengan benar

–  Positif coil

–  Negatif coil

–  Kabel external resistor coil

6.2.   Memasang

Kabel tegangan tinggi dari coil ke distributor

Menyetel dan mengukur sudut dwell & timing

7.1.       Membaca,

Mengukur & menyetel sudut dwell sesuai spesifikasi

7.2.      Menyetel

Timming pengapian sesuai SOP & repair manual = dwell OK RPM OK timming

BAB. IV

PENUTUP

 

Peserta diklat yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke modul berikutnya, sebaliknya apabila peserta diklat dinyatakan tidak lulus maka, peserta diklat tersebut harus mengulang modul ini clan tidak di perkenankan untuk melanjutkan ke modul yang selanjutnya.

 


DAFTAR PUSTAKA

–                Automotive Mechanics-Fifth Edition-Volume 2-May and Crouse. ISBN: O­-07-452920-X

–                Automotive Electricity and Electronics-Gregory’s Scientific Publication. ISBN: 0-85566669-2

–                Electronics for Motor Mechanics-Stackpoole, Morrison and Gregory. ISBN: 0-582-86821-1

–                Anonim. 1995 new step 1 iraning manual. Jakarta, PT. Toyota astra motor

–                Wardan Suyanto (1989) Teori Motor Bensin. Jakarta depdikbud: dirjen Dikti, proyek pengembangan LPTK.

Posted on April 21, 2011, in ilmu, otomotif. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: